Anda di halaman 1dari 9

Tepung Tapioka, Manfaatnya, dan Cara Pembuatannya

Oleh yis pada Manfaatnya, Manfaatnya dan Cara Pembuatannya, Tepung Tapioka, Tepung
Tapioka Manfaatnya dan Cara Pembuatannya. Ditandai:kandungan gizi tepung tapioka,
manfaat tepung tapioka, pembuatan tepung, pembuatan tepung tapioka, tepung, Tepung
Tapioka. & Komentar

Tapioka kaya karbohidrat dan energi. Tapung ini juga tidak mengandung

gluten, sehingga aman bagi yang alergi. Karena mengandung linamarin, tapioka

dapat menangkal pertumbuhan sel kanker. Apa bedanya dengan tepung singkong?

Ibu rumah tangga yang gemar memasak ataupun membuat kue, tentu akrab dengan

tapioka. Secara awam, tapioka sering disebut sebagai tepung. Walaupun sama-

sama berasal dari singkong, sesungguhnya tapioka sangat berbeda dengan tepung

singkong.

Tapioka bersifat larut di dalam air, sedangkan tepung singkong tidak larut. Tapioka

biasanya digunakan sebagai bahan pengental kuah ataupun sebagai bahan pengisi

pada kue-kue kering.

Bahan pangan ini merupakan pati yang diekstrak dengan air dari umbi

singkong (ketela pohon). Setelah disaring, bagian cairan dipisahkan dengan

ampasnya.

Cairan hasil saringan kemudian diendapkan. Bagian yang mengendap tersebut

selanjutnya dikeringkan dan digiling hingga diperoleh butiran-butiran pati halus

berwarna putih, yang disebut tapioka.


Tepung singkong diperoleh dengan cara menggiling umbi singkong yang

telah dikeringkan (gaplek) dan kemudian diayak hingga diperoleh butiran-butiran

kasar dalam ukuran tertentu.

Ragam penggunaan

Ditilik dari sejarahnya, penggunaan tapioka pertama kali diduga berasal

dari Amerika Selatan. Kata tapioka berasal dari bahasa Brasil, tipi’oka, yang

berarti makanan dari singkong. Di Inggris, tapioka diidentikkan dengan rice

pudding karena paling umum digunakan sebagai bahan baku untuk membuat

puding.

Tapioka baru populer di kalangan ibu rumah tangga Indonesia pada tahun 1980-an,

ketika pemerintah mulai menggalakkan program penganekaragaman pangan. Di

beberapa belahan dunia, tapioka dikenal dengan sebutan mandioca, aipim,

macaxeira, manioca, boba, dan yuca.

Selain digunakan sebagai bahan memasak di rumah tangga, tapioka sering

diolah menjadi sirop glukosa dan dekstrin yang sangat diperlukan oleh berbagai

industri, antara lain industri kembang gula, pengalengan buah, pengolahan es krim,

minuman, dan industri peragian.

Tapioka digunakan sebagai bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan

pengikat dalam industri pangan, seperti dalam pembuatan puding, sup, makanan

bayi, es krim, pengolahan sosis daging, industri farmasi, dan lain sebagainya.
Tapioka juga banyak digunakan sebagai bahan baku pewarna putih alami pada

industri pangan dan industri tekstil.

Umumnya tapioka digunakan sebagai pengental pada tumisan karena

efeknya bening dan kental saat dipanaskan. Tepung sagu juga dapat digunakan

untuk mengentalkan, hanya saja warna yang di hasilkan sedikit keruh. Tapioka

tidak cocok digunakan untuk gorengan karena menyerap minyak dan mengeras

setelah dingin beberapa lama.

Selain sebagai pengental, tapioka juga digunakan untuk pengenyal pada

bakso, pengganti sagu pada pempek palembang, juga sebagai bahan baku kerupuk.

Ada juga yang membuat cendol berbahan baku tapioka. Bila kita jalan-jalan ke

mal, sering kali kita menemukan penjual minuman bubble drink yang sebenarnya

terbuat dari tepung tapioka.

Tapioka juga dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu pada

pembuatan kue yang tidak memerlukan pengembangan, seperti pada pembuatan

kue kering. Untuk kue yang membutuhkan pengembangan, seperti roti dan keik,

dapat digunakan sebagai bahan campuran, misalnya menggantikan 10-30 persen

keberadaan tepung terigu.

Pati termodifikasi

Di pasaran akhir-akhir ini juga mulai ditemukan tapioka termodifikasi

(modified tapioca starch). Tapioka termodifikasi bukanlah varietas baru, tetapi


dimodifikasi untuk memaksimalkan fungsinya di industri pangan.

Kelemahan dalam penggunaan tapioka adalah tidak larut dalam air dingin,

pemasakannya memerlukan waktu cukup lama, dan pasta yang terbentuk cukup

keras. Karena itu, perlu dilakukan modifikasi pada tapioka.

Modifikasi tapioka umumnya dilakukan dengan merendamnya dengan asam

klorida, sehingga menghasilkan pati yang strukturrnya lebih renggang. Hal tersebut

menyebabkan tapioka termodifikasi lebih mudah dicampur dalam proses

mencampur adonan dan mempercepat proses penguapan air pada saat dipanggang.

Kue yang dihasilkan akan menjadi lebih padat, kering, dan gurih.

Selain dalam pembuatan kue, pati termodifikasi juga dapat digunakan sebagai

bahan pengisi, pengental, pengemulsi, dan pemantap pada berbagai makanan.

Dengan penambahan pati termodifikasi, produk makanan akan mempunyai

keunggulan kualitas, baik dari penampakan secara fisik, rasa, warna, maupun

proses pengolahan yang lebih mudah dan cepat.

Aman bagi yang Alergi

Salah satu keunggulan tapioka bila dibandingkan dengan terigu adalah

tidak mengandung gluten. Pada sebagian kecil masyarakat, gluten dapat

menyebabkan alergi. Mereka yang alergi protein gluten sebaiknya menghindari

konsumsi terigu dan berbagai produk olahannya.

Alergi gluten (dikenal sebagai penyakit celiac) disebabkan tubuh tidak dapat

menoleransi protein gluten, yang banyak terdapat di dalam gandum. Sebagian

besar penyakit ini disebabkan pengaruh genetik.


Selain itu, juga disebabkan pemberian diet gluten pada anak bayi yang

terlalu dini atau terlalu banyak, serta infeksi Rotavirus saluran cerna pada bayi.

Respon tubuh tiap orang terhadap komponen alergen ini berbeda-beda. Ada yang

ketika bayi sudah terkena penyakit ini. Namun, ada pula ketika beranjak dewasa

atau ketika berusia lanjut baru merasakan alergi ini.

Tapioka juga mempunyai keunggulan lain, yang tidak dimiliki jenis tepung

lainnya. Sebuah penelitian yang dilakukan Prof. Monica Hughes dari Newcastle

University, menemukan bahwa tapioka berpotensi melawan sel kanker. Hal

tersebut disebabkan tanaman singkong segar, termasuk olahannya, mengandung

komponen linamarin.

Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Spanyol menunjukkan linamarin

mempunyai kemampuan untuk mengurangi sel tumor pada otak tikus percobaan,

yaitu setelah diberi asupan secara teratur selama satu minggu.

Meski demikian, penemuan tersebut masih dalam tahap awal dan masih memicu

kontroversi. Sebab, linamarin dapat diubah menjadi asam sianida di dalam tubuh

oleh enzim linamarase. Kehadiran asam sianida justru dapat bersifat racun bagi

tubuh.

Hingga saat ini Prof. Hughes bersama peneliti lainnya sedang berupaya

memodifikasi gen pada tanaman singkong agar dapat menghasilkan linamarin yang

tidak dapat diubah oleh enzim linamarase, sehingga kehadirannya justru akan

sangat bermanfaat, terutama untuk penyembuhan penyakit tumor dan kanker.

Sumber Karbohidrat dan Energi


Dilihat dari nilai gizinya, tapioka merupakan sumber karbohidrat dan

energi yang sangat baik. Di lain pihak, tapioka mengandung sangat sedikit protein

dan lemak. Kandungan gizi tapioka per 100 gram dapat di lihat pada tabel.

Komposisi zat gizi per 100 g Tapioka

Zat gizi Kadar


Energi (kkal) 358
Protein (g) 0,19
Lemak total (g) 0,02
Karbohidrat (g) 88,69
Serat pangan (g) 0,9
Kalsium (mg) 20
Besi (mg) 1,58
Magnesium (mg) 1
Fosfor (mg) 7
Kalium (mg) 11
Natrium (mg) 1
Seng (mg) 0,12
Tembaga (mg) 0,02
Mangan (mg) 0,11
Selenium (mg) 0,8
Asam folat (µg) 4

Sumber: http://www.nutritionanalyser.com

Nilai energi dan karbohidrat tapioka tidak kalah dari nasi atau olahan tepung

terigu. Konsumsi 100 gram makanan olahan tapioka setara dengan 100 gram nasi

atau roti. Karena itu, kurang tepat mengonsumsi makanan olahan tapioka sebagai

camilan.

Minuman bubble drink yang seringkali dikonsumsi anak-anak sebagai camilan,


ternyata memiliki nilai energi yang cukup tinggi karena terbuat dari tapioka. Hal

tersebut boleh saja dilakukan, mengingat anak-anak yang sedang dalam masa

pertumbuhan memerlukan energi yang cukup tinggi.Namun, bila bubble drink

dikonsumsi secara berlebihan, dapat menyebabkan anak menjadi kehilangan selera

terhadap makanan lain yang lebih bergizi. Padahal, anak juga membutuhkan zat

gizi lain berupa protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Makanan olahan tapioka sebaiknya dikonsumsi dengan makanan lain yang kaya

protein, vitamin, dan mineral. Konsumsi makanan olahan tapioka secara

berlebihan, tanpa diimbangi zat gizi lain, akan menyebabkan tubuh mengalami

defisiensi beberapa zat gizi. Pencampuran tapioka bersama telur dan susu (dalam

pembuatan kue), atau tapioka dengan daging dan ikan (dalam pembuatan bakso

dan empek-empek), serta tapioka dengan irisan sayuran (dalam pembuatan aneka

kudapan), akan sangat bermanfaat dalam perbaikan komposisi gizi produk olahan

tapioka.

Bisa Dibuat Sendiri

Membuat tapioka tidak terlalu sulit. Ibu-ibu yang gemar memasak dapat membuat

tapioka sendiri di rumah dengan peralatan sederhana.

1. Pilih umbi singkong yang baik, yaitu yang manis dan tidak terlalu tua supaya

kadar patinya banyak.

2. Umbi singkong dikupas lalu dicuci hingga bersih.

3. Singkong diparut halus menjadi bubur umbi.


4. Tambahkan air dengan perbandingan umbi dan air adalah 1:2.

5. Aduk-aduk agar pati lebih banyak yang terlepas dari sel umbi.

6. Saring adonan pati atau diperas dengan kain saring, seperti halnya memeras

kelapa.

7. Biarkan suspensi pati mengendap di dalam wadah pengendap selama 12 jam.

Pati kemudian akan mengendap sebagai pasta.

8. Buang cairan di atas endapan, dan pasta dijemur di atas tampah.

9. Produk yang telah kering akan berbunyi gemerisik bila diremas-remas. Hasil

pengeringan ini disebut tapioka kasar.

10. Untuk menghasilkan tapioka halus, tapioka kasar ditumbuk hingga menjadi

halus. Agar awet, tapioka dikemas di dalam karung plastik atau kotak kaleng

dalam keadaan tertutup rapat.

Kita juga dapat membuat tapioka termodifikasi sendiri. Caranya juga cukup

mudah.

1. Tapioka direndam dengan larutan asam klorida (HCI) konsentrasi 7,5 g asam

klorida per 100 g air, selama 3 hari pada suhu 40 derajat celsius. Bila dilakukan

pada suhu kamar (23-29 derajat celsius), perendaman dilakukan selama seminggu.

2. Setelah itu tapioka dibilas dengan air dan kemudian dijemur kembali. Proses
pembilasan dan penjemuran dilakukan berulang kali untuk memastikan tidak ada

asam klorida yang masih tersisa di dalam tapioka.

Kualitas tapioka yang baik dapat dilihat dari warnanya. Tapioka yang baik akan

benvarna putih cerah. Selain itu, kandungan air tapioka yang baik tidak terlalu

tinggi. Tapioka harus dijemur sampai kering benar, sehingga kandungan airnya

rendah.

Tapioka sebaiknya dibuat dari singkong yang umurnya kurang dari satu tahun

karena zat patinya masih sangat banyak. Supaya menghasilkan daya pengental

yang tinggi, dalam proses produksi sebaiknya hindari penggunaan air secara

berlebihan.

Oleh:
Prod. DR. Made Astawan
Ahli Teknologi Pangan dan Gizi