Anda di halaman 1dari 6

Menurut rekomendasi AAO-HNS (American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery)

indikasi klinik pengangkatan amandel/tonsil dengan atau tanpa adenoid adalah :


1. Pasien dengan serangan tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun yang tidak mendapat
manfaat dengan pengobatan medikamentosa yang adekuat.
2. Pembesaran tonsil yang mengakibatkan maloklusi gigi-geligi atau adanya efek samping
gangguan pertumbuhan mulut/wajah (orofacial growth) yang terdokumentasi oleh doker
gigi.
3. Pembesaran tonsil yang mengakibatkan sumbatan jalan nafas atas seperti ngorok, bicara
sengau, gangguan/kesulitan menelan, henti nafas saat tidur (sleep apnea syndrom), atau
komplikasi penyakit kardiopulmonal (endokarditis bakterialis dsb).
4. Abses peritonsil yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa.
5. Bau mulut atau nafas menetap akibat tonsilitis kronik yang tidak responsive dengan
pengobatan.
6. Tonsilitis kronik yang diasosiasikan dengan infeksi kuman streptokokus yang tidak
responsive dengan pengobatan antibiotik.
7. Pembengkakan tonsil satu sisi yang dicurigai keganasan.
8. Otitis media akut atau otitis media supurative kronik berulang yang diakibatkan oleh
tonsilitis.
9. Tonsilitis Akut Dengan Komplikasi Multipel
10. 14.37
11. Share
12.
13.
14. Abses retrofaring sering dijumpai pada anak namun jarang pada orang dewasa. Penyebab pada
orang dewasa adalah trauma dinding retrofaring, TBC servikal dan infeksi banal yang berasal
dari struktur sekitarnya seperti: tonsil, faring dan sinus paranasalis. Dilaporkan satu kasus
tonsilitis peritonsilitis akut dengan komplikasi multipel berupa abses retrofaring dan pneumonia
masif yang jarang terjadi pada seorang laki-laki, 22 tahun. Kasus ini berhasil ditangani dengan
insisi transoral dan pemberian berbagai macam antibiotik mulai dari cefuroxime axetil,
ciprofloxacin dan ceftazidine penthahydrate.
15.
16. Diambil dari artikel oleh:
17. Sutji Pratiwi Rahardjo
18. Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL - Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassa
19.
20. Abses retrofaring adalah timbuan nanah pada ruang retrofaring.

Ruang retrofaring terletak di
antara dinding posterior faring (fascia buccopharyngealis) dan fascia prevertebralis.

Abses
retrofaring dapat terjadi pada semua umur tetapi lebih banyak ditemukan pada bayi dan anak
kecil, biasanya dalam bentuk akut sedangkan bentuk kronis lebih sering pada orang
dewasa.

Pada umumnya dengan penanganan yang optimal adekuat, abses retrofaring biasanya
dapat disembuhkan dengan baik tetapi bila terjadi komplikasi maka penanganan dan
kesembuhan akan menjadi lebih sulit.

Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi adalah abses
yang pecah spontan sehingga menyebabkan pneumonia dan asfiksia. Selain itu bila terjadi
perdarahan masif membutuhkan ligasi arteri karotis. Infeksi dapat meluas ke mediastinum
mengakibatkan terjadinya mediastinitis.
21.
22. ANATOMI
23. Ruang retrofaring terletak di antara dinding posterior faring dan fascia prevertebralis dan
merupakan rongga potensial yang mengelilingi faring dan esofagus di bagian anterior dan
bagian luar lapisan dalam fasia servikal profunda di bagian posterior. Ruang retrofaring ini
meluas dari permukaan anterior dasar oksiput kira-kira setinggi prominensia vertebra servikal
dua ke bawah sampai mediastinum posterior. Di sebelah lateral berhubungan dengan ruang
parafaring. Kelenjar limfa retrofaring umumnya terdiri dari 2 sampai 5 kelenjar, terletak di
belakang dinding posterior faring. Kelenjar limfa retrofaring ini menampung aliran limfa dari
otot-otot dan tulang-tulang yang berdekatan, sinus paranasal, faring, telinga tengah, telinga
dalam serta tuba eustachius.
24.
25. INSIDENS
26. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur namun jarang pada orang dewasa. Pada anak
ditemukan usia antara 3 bulan hingga 5 tahun. Pada orang dewasa kelenjar limfa retrofaring
sudah mengalami atrofi.
27.
28. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
29. Abses retrofaring akut pada bayi dan anak kecil terjadi dari limfadenitis retrofaring sebagai
komplikasi dari infeksi saluran napas atas seperti faringitis akut dan tonsilitis akut yang hebat.
Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa biasanya disebabkan oleh trauma penetrasi
benda asing misalnya tulang ikan atau tindakan medis seperti anestesia lokal (jarum tidak
steril), intubasi endotrakea dan tindakan endoskopik. Abses ini terdapat di depan fascia
prevertebralis dan menonjol ke dalam faring. Penyebab infeksi biasanya karena ditemukan
kuman aerob dan anaerob secara bersamaan. Abses retrofaring kronik terletak di bagian dorsal
fascia prevertebralis dengan kuman tuberkulosis.
30.
31. DIAGNOSIS
32. Secara anamnesis abses retrofaring pada anak biasanya didahului oleh infeksi saluran napas
atas, demam, kesukaran menelan disertai nyeri dan pembengkakan pada leher. Pada
pemeriksaan tenggorok dapat terlihat dinding retrofaring menonjol (bombans) dan tampak
berwarna merah. Pada keadaan lanjut keadaan umum anak menjadi kurang baik, terdapat
kekakuan otot leher, leher sedikit hiperekstensi disertai nyeri pada penekanan. Jika
pembengkakan dinding posterior faring semakin besar dapat timbul perubahan suara,
hipersalivasi, sendi leher menjadi kaku dan kesukaran bernafas. Keadaan di atas menjadi tanda
kegawatan yang harus segera ditangani. Bila terjadi ruptur spontan dari abses tersebut akan
terjadi sesak napas berat oleh karena aspirasi pus yang dapat menimbulkan pneumonia aspirasi,
abses paru dan sepsis.
33. Pada orang dewasa biasanya didahului riwayat tertusuk benda asing pada dinding posterior,
pasca tindakan endoskopi atau riwayat batuk kronik. Gejala yang timbul tidak begitu berat,
biasanya terdapat sakit menelan, kesukaran menelan yang ringan, nyeri leher dan keterbatasan
gerak leher serta gejala lain sesuai penyebabnya.
34.
35. Pemeriksaan Penunjang
36. R-leher pada abses retrofaring akibat proses akut tampak soft tissue yang tebal di depan
vertebra servikalis sehingga terdapat pertambahan jarak antara rongga faring dengan korpus
vertebra dan mungkin terlihat gambaran air fluid level pada jaringan lunak retrofaring. Abses
retrofaring akibat proses kronis didapatkan adanya klasifikasi pada kelenjar limfa dan
kerusakan pada korpus vertebra servikalis serta jarak dinding faring dan korpus vertebra
bertambah. R-toraks untuk mengetahui adanya pneumonia aspirasi, mediastinitis dan
tuberkulosis.1,3 Punksi aspirasi merupakan tindakan diagnostik yang penting. Kultur dan uji
kepekaan.
37.
38. Diagnosis Banding
39. 1. Malformasi oleh penonjolan korpus vertebra.
40. 2. Aneurisma arteri.
41.
42. PENATALAKSANAAN
43. Pada abses retrofaring akut harus segera diberikan antibiotik yang adekuat secara parenteral.
Trakeostomi bila terdapat obstruksi jalan napas, selanjutnya disiapkan untuk tindakan insisi
dan drainase pus. Insisi vertikal dilakukan pada titik di mana terdapat pembengkakan yang
paling menonjol secara transoral atau eksternal pada posisi trendelenberg dan kepala
hiperekstensi untuk mencegah terjadinya aspirasi, selanjutnya insisi diperlebar dengan
hemostat. Pada abses retrofaring kronik umumnya dilakukan insisi eksternal untuk drainase pus
melalui bagian posterior dari muskulus sternocleidomastoideus kemudian diberikan terapi
spesifik dengan tuberkulostatik.
44.
45. KOMPLIKASI
46. 1. Aspirasi, abses yang pecah spontan dapat mengakibatkan asfiksia, pneumonia dan empiema.
47. 2. Perdarahan
48. 3. Mediastinitis
49. 4. Septikemia
50.
51. PROGNOSIS
52. Prognosis ditentukan oleh kecermatan diagnosis dan ketepatan tindakan. Bila pemberian
antibiotik dan tindakan insisi yang tepat dan adekuat, maka prognosis umumnya baik, tetapi
bila keadaan di mana sudah terdapat komplikasi berupa pneumonia aspirasi, abses paru
ataupun mediastinitis, prognosis akan menjadi kurang baik apalagi bila kuman penyebabnya
fulminans


Pendahuluan
Adenotonsilitis kronis adalah radang kronis pada tonsila palatina dan adenoid.Tonsilitis adalah
peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin waldeyer terdiri atas susunan
kelenjar limfa yang terdapat didalam rongga mulut, yaitu : tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina
(tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba eustachius (supardi,2007). Hipertrofi
dari tonsil bisa menyebabkan tidur ngorok, nafas melalui mulut, gangguan tidur, dan sleep apnoe
syndrom, selama pasien berhenti bernafas dan pasokan oksigen dalam darah berkurang,
tonsilektomi bisa menjadi pengobatan.(Bambang,1991)
Adenoid merupakan kumpulan jaringan limfoid sepanjang dinding posterior nasofaring diatas batas
palatum mole. Adenoid biasanya mengalami hipertrofi selama masa anak-anak, mencapai ukuran
terbesar pada usia pra sekolah dan usia sekolah awal. Diharapkan dapat terjadi resolusi spontan,
sehingga pada usia 18-20 th jaringan adenoid biasanya tidak nyata pada pemeriksaan nasofaring
tidak langsung. Hipertrofi adenoid dihubungkan dengan obstruksi dapat mengganggu pernafasan
hidung. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan dalam kapasitas suara.(adams,1997)
Faktor predisposisi tonsillitis kronis adalah rangsangan kronis (rokok, makanan), pengaruh cuaca,
pengobatan radang akut yang tidak adekuat, dan higiene mulut yang buruk. Sedangkan faktor
predisposisi untuk adenoiditis kronik adalah sering terjadinya infeksi saluran nafas bagian atas, yang
dapat menimbulkan sumbatan koana dan sumbatan tuba eustachius.(mansjoer,2001)
Tujuan pembuatan laporan tentang adenotonsilitis kronis adalah melaporkan suatu kasus sehingga
mengetahui dan dapat mendiagnosa hingga mengelola penderita dengan kasus serupa, sehingga
diharapkan dapat memberikan masukan pengetahuan tentang penyakit adenotonsilitis kronis dari
mulai anamnesa, dan pemeriksaan fisik untuk penulis khususnya dan klinisi pada umumnya.
Anatomi dan Fisiologi Adenoid dan Tonsil
ANATOMI
1.Adenoid
Adenoid merupakan kumpulan jaringan limfoid sepanjang dinding posterior nasofaring di atas batas
palatum mole. Adenoid terletak postero-superior dinding nasofaring di antara basis tengkorak dan
dinding belakang nasofaring pada garis media. Permukaan bebasnya dilapisi epitel pseudo kompleks
kolumner bersilia, permukaan dalamnya tidak berkapsul. Permukaan bebasnya mempunyai celah-
celah (kripte) yang dangkal seperti lekukan saja.(gothlieb,2005)
2. Tonsil
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang terletak di fosa tonsilaris pada kanan kiri orofaring. Batas
fosa tonsilaris adalah bagian depan plika anterior yang dibentuk oleh otot-otot palatoglosus dan
bagian belakang plika posterior yang dibentuk oleh otot palatofaringeus terdapat 3 macam tonsil
yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina dan tonsil lingual yang ketiga-tiganya membentuk
lingkaran yang disebut cincin Waldeyer.(gothlieb,2005)
FUNGSI
1.Adenoid
Lokasi adenoid sangat memungkinkan paparan benda asing dan pathogen, yang selanjutnya
ditransport ke sel limfoid. Gambaran struktur imonulogis adenoid menunjukkan elemen yang
dibutuhkan untuk system imunologis mukosa. Proses imunologi pada adenoid dimulai ketika
bakteri, virus atau antigen makanan memasuki nasofaring mengenai epitel kripte yang merupakan
kompartemen adenoid pertama sebagai barier imunologis. Kemudian akan diabsorbsi secara selektif
oleh makrofag, sel HLA dan sel M dari tepi adenoid. Antigen selanjutnya diangkut dan
dipresentasikan ke sel T pada area ekstra folikuler dan ke sel B pada sentrum germinativum oleh
follicular dendritic cells (FDC). Interaksi antara sel T dengan antigen yang dipresentasikan oleh APC
bersama dengan IL-1 akan mengakibatkan aktifasi sel T yang ditandai oleh pelepasan IL-2 dan
ekspresi reseptor IL-2. Antigen bersama-sama dengan sel Th dan IL-2, IL-4, IL-6 sebagai aktifator
dan promotor bagi sel B untuk berkembang menjadi sel plasma. Sel plasma akan didistribusikan
pada zona ekstrafolikuler yang menghasilkan immunoglobulin (IgG 65%, IgA 20%, sisanya IgM, IgD,
IgE) untuk memelihara flora normal dalam kripte individu yang sehat.
Adenoid merupakan jaringan limfoid yang pada keadaan normal berperan membantu sistem
imunitas tetapi bila telah terjadi infeksi kronis maka akan terjadi pengikisan dan fibrosis dari
jaringan limfoid. Pada penyembuhan jaringan limfoid tersebut akan diganti oleh jaringan parut yang
tidak berguna.(Bambang,1991)
2. Tonsil
Fungsi tonsil yang sesungguhnya belum jelas diketahui tetapi ada beberapa teori yang dapat
diterima antara lain : Membentuk zat-zat anti dalam sel plasma pada waktu terjadi reaksi
seluler.Mengadakan limfositosis dan limfositolisis. Menangkap dan menghancurkan benda-benda
asing maupun mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan
hidung.(Gothlieb,2005)

B. Adenotonsilitis Kronis
Adenotonsilitis kronis adalah infeksi yang menetap atau berulang dari tonsil dan adenoid. Definisi
adenotonsilitis kronis yang berulang terdapat pada pasien dengan infeksi 6x atau lebih per tahun.
Ciri khas dari adenotonsilitis kronis adalah kegagalan dari terapi dengan antibiotik.
1. Etiologi
Penyebab yang tersering pada adenotonsilitis kronis adalah bakteri Streptococcus hemoliticus
grupA, selain karena bakteri tonsilitisdapat disebabkan oleh virus. Kadang-kadang tonsillitis dapat
disebabkan oleh bakteri seperti spirochaeta, dan Treponema Vincent.(mansjoer,2001)
2. Patofisiologi dan Patogenesis
Adenoid merupakan kumpulan jaringan limfoid di sepanjang dinding posterior dan nasofaring,
fungsi utama dari adenoid adalah sebagai pertahanan tubuh, dalam hal ini apabila terjadi invasi
bakteri melalui hidung yang menuju ke nasofaring, maka sering terjadi invasi sistem pertahanannya
berupa sel-sel leucosit. Apabila sering terjadi invasi kuman maka adenoid semakin lama akan
membesar karena sebagai kompensasi bagian atas maka dapat terjadi hiperplasi adenoid, akibat dari
hiperplasi ini akan timbul sumbatan koana dan sumbatan tuba eustachius. Akibat sumbatan tuba
Eustachius akan terjadi otitis media akut berulang, otitis media kronik dan akhirnya dapat terjadi
otitis media supuratif kronik. Akibat hiperplasia adenoid juga akan menimbulkan gangguan tidur,
tidur ngorok, retardasi mental dan pertumbuhan fisik berkurang.
Pada tonsillitis kronis karena proses radang yang berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid
diganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripte melebar. Secara klinik
kripte tampak diisi oleh detritus, proses ini berjalan terus sampai menembus kapsul dan terjadi
perlekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.(Gothlieb,2005)

C. Gejala dan Tanda Klinik
Gejala adenotonsilitis kronis adalah sering sakit menelan, hidung tersumbat sehingga nafas lewat
mulut, tidur sering mendengkur karena nafas lewat mulut sedangkan otot-otot relaksasi sehingga
udara menggetarkan dinding saluran nafas dan uvula, sleep apnea symptoms, dan maloklusi. Facies
adenoid : mulut selalu membuka, hidung kecil tidak sesuai umur, tampak bodoh, kurang
pendengaran karena adenoid terlalu besar menutup torus tubarius sehingga dapat terjadi
peradangan menjadi otitis media, rhinorrhea, batuk-batuk, palatal phenamen negatif. Pasien yang
datang dengan keluhan sering sakit menelan, sakit leher, dan suara yang berubah, merupakan
tanda-tanda terdapat suspek abses peritonsiler.

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan radiologi x-foto soft tissue nasofaring radio adenoid, untuk melihat adanya
pembesaran pada adenotonsilitis kronis.
2. Pemeriksaan ASTO.

E. Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan :
1. Tanda dan gejala klinik
2. Pemeriksaan Rinoskopi anterior : untuk melihat tertahannya gerakan palatum mole pada waktu
fonasi.
3. Pemeriksaan Rinoskopi Posterior.
4. Pemeriksaan palatal phenomen.
5. X-foto Soft Tissue Nasofaring.
6. Pemeriksaan ASTO.

F. Terapi
Pada keadaan dimana terdapat adenotonsilitis kronis berulang lebih dari 6 kali per tahun selama
dua tahun berturut-turut, maka sangat dianjurkan melakukan operasi adenotonsilektomi dengan
cara kuretase.(Gothlieb,2005)
Indikasi adenotonsilektomi :
- Fokal infeksi
- Keberadaan adenoid dan tonsil sudah mengganggu fungsi-fungsi yang lain, contoh : sakit
menelan.

G. Komplikasi
Komplikasi tindakan adenoidektomi adalah perdarahan bila pengerukan adenoid kurang bersih. Bila
terlalu dalam menguretnya akan terjadi kerusakan dinding belakang faring. Bila kuretase terlalu ke
lateral maka torus tubarius akan rusak dan dapat mengakibatkan oklusi tuba eustachius dan akan
timbul tuli konduktif.( Kornblut,1991)
Komplikasi adenoiditis kronik adalah : faringitis, bronkitis, sinusitis kronik, otitis media akut
berulang, otitis media kronik, dan akhirnya terjadi otitis media supuratif kronik.
Sedangkan komplikasi Tonilitis kronik : Rinitis kronis, sinusitis, otitis media secara
perkotinuitatum, dan komplikasi secara hematogen atau limfogen (endokarditis, miositis, nefritis,
uveitis, iridosiklitis, dermatitis, furunkulosis).(mansjoer,2001)


DAFTAR PUSTAKA
Supardi, E.A., Iskandar, N, Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, ed.
6, Balai FKUI, Jakarta, 2007, hal : 221.
Bambang, H.S, Ilmu Penyakit THT FK UNDIP, Semarang, 1991, hal 90.
Adams, George L., dkk, BOEIS, Buku Ajar Penyakit THT, ed. 6, 1997, EGC, Jakarta.
Gotlieb, J, The Future Risk Of Child Hood Sleep Disordered Breathing, SLEEP, vol 28, No.7, 2005.
Mansjoer Arief,dkk.,2001, Tonsilitis Kronis, dalam Kapita Selekta Kedokteran. Media Aeskulapius,
FKUI,Jakarta,halaman :120-121.
Kornblut A,Kornblut AD. Tonsillectomy and adenoidectomy. In: Paparella,Gluckman S,Mayerhoff,
eds. Otolaryngology head and neck surgery. Philadelphia, WB Saunders 3rd edition,1991:2149-56