Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH CRITICAL NURSING B

VENTILATOR



Reineke Praticilia Kolle
462012042

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2014


Kata Pengantar
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-NYA
makalah yang berjudul VENTILATOR ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulisan makalah
ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengajar mata kuliah
Critical in Nursing. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pengajar mata kuliah Critical
in Nursing atas arahan dan bimbingan dalam penulisan makalah ini. Penyusun berharap makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam mata kuliah Critical in Nursing yang sementara kita
tempuh. Makalah ini juga masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun,
mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih
baik.


Salatiga, 13 Oktober 2014


Penulis










BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi yang semakin maju dan berkembang pesat, kini mempengaruhi
semua bidang kehidupan manusia di berbagai belahan dunia. Dampak dari hal ini akhirnya
menuntut setiap orang untuk memiliki pengetahuan yang memadai atau cukup agar dapat
menggunakan ataau beradaptasi dengan tuntutan global ini. Hal ini juga berlaku untuk Profesi
keperawatan, khususnya area keperawatan kritis dan Intensif Care Unit (ICU).
Di ruang perawatan kritis, pasien yang dirawat disana adalah pasien-pasien yang
memerlukan mesin-mesin yang dapat menyokong kelangsungan hidup mereka, diantaranya
mesin ventilator, monitoring, infus pump, syringe pump, dll. Dengan adanya keadaan tersebut
maka tenaga kesehatan terutama perawat yang ada di ruang perawatan kritis, seharusnya
menguasai dan mampu menggunakan teknologi yang sesuai dengan mesin-mesin tersebut,
karena perawat yang akan selalu ada di sisi pasien selama 24 jam.
Ventilator salah satu contohnya. Penggunaan Ventilator sendiri merupakan suatu
tindakan yang sangat invasive dan akan merubah homeostasis system pernafasan dan
mempengaruhi system yang lainnya. Perawat yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan
mengenai mesin ventilasi mekanik, hal tersebut akan membantu perawat menghemat tenaganya
dalam mengawasi pernafasan pasien, karena tugasnya mengawasi secara langsung keadaan
pasien sudah dilakukan oleh mesin ventilasi. Bahkan apabila ada keterbatasan tenaga perawat,
maka 1 orang perawat dapat mengawasi dua atau lebih pasien yang juga sama-sama
menggunakan mesin ventilasi mekanik. Dalam makalah ini kemudian akan membahas lanjut
mengenai Ventilator / Ventilasi Mekanik.





BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
Ventilator mekanis adalah alat pernafasan bertekanan negative atau positif yang dapat
mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen selama waktu yang lama (Smeltzer, 2001 :
655)
1
Ventilasi mekanik merupakan terapi defenitif pada pasien kritis yang mengalami
hipoksemia dan hiperkapnia (Tanjung, 2007).
2

Merawat pasien pada ventilator mekanis telah menjadi bagian integral dari asuhan
keperawatan di unit perawatan kritis, di unit medikal bedah umum, di fasilitas perawatan yang
luas, dan bahkan di rumah. Perawat, dokter, dan ahli terapis pernapasan harus mengerti masing-
masing kebutuhan pernapasan spesifik pasien dan bekerja bersama untuk membuat tujuan yang
realistis. Rumusan penting untuk hasil pasien yang positf termasuk memahami prinsip-prinsip
ventilasi mekanis dan perawatan yang dibutuhkan dari pasien, juga komunikasi terbuka diantara
tim perawatan kesehatan tentang tujuan terapi, rencana penyapihan (weaning), dan toleransi
pasien terhadap perubahan dalam pengesetan ventilator
2. FISIOLOGI SISTEM RESPIRASI
Pemahaman akan proses respirasi pada manusia akan sangat membantu dalam
pemahaman terhadap prinsip kerja ventilator . Proses respirasi terdiri dari 4 aspek diantarannya
ventilasi-difusi-perfusi-transportasi.
Ventilasi, sebagai proses keluar masuknya udara dari atmosfir kedalam aveoli, atau
sebaliknya dari elveoli menju atmosfir
Difusi, sebagai proses pertukaran gas yang berada di alveoli dengan pembuluh kapiler
Perfusi, menunjukan besarnnya aliran daarah kapiler pulmonal yang melewati membrane
alveoli
Transportasi diangkutnya oksigen yang sudah diperfusi oleh darah untuk dibawa menuju
sel dan dibuangnnya karbondioksida dari sel menuju atmosfer ( melalui alveoli)

1
Smeltzer, Suzanne C.2001.Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Volume I.Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
2
Azhar Tanjung. 2007. Prosedur Diagnostik Penyakit Alergi. Dalam: Slamet Suyono, editor: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hal. 16-20.
3. CARA KERJA VENTILATOR
Pada prinsipnya ventilator adalah suatu alat yang bisa menghembuskan gas (dalam hal ini
oksigen) ke dalam paru-paru pasien. Saat menghembuskan gas, ventilator bisa tidak tergantung
otot pernapasan (ventilator menggantikan sepenuhnya kerja otot pernapasan), atau ventilator
bersifat membantu otot pernapasan sehingga kerja otot pernapasan diperkuat. Jumlah gas yang
ditiupkan tergantung dengan pengaturan yang kita kehendaki. macam-macam ventilator.
A. Menurut Sifatnya Ventilator Dibagi Tiga Type Yaitu:
a. Volume Cycled Ventilator.
Perinsip dasar ventilator ini adalah cyclusnya berdasarkan volume. Mesin berhenti bekerja
dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai volume yang ditentukan. Keuntungan volume cycled
ventilator adalah perubahan pada komplain paru pasien tetap memberikan volume tidal yang
konsisten.
b. Pressure Cycled Ventilator
Perinsip dasar ventilator type ini adalah cyclusnya menggunakan tekanan. Mesin berhenti
bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai tekanan yang telah ditentukan. Pada titik
tekanan ini, katup inspirasi tertutup dan ekspirasi terjadi dengan pasif. Kerugian pada type ini
bila ada perubahan komplain paru, maka volume udara yang diberikan juga berubah. Sehingga
pada pasien yang setatus parunya tidak stabil, penggunaan ventilator tipe ini tidak dianjurkan.
c. Time Cycled Ventilator
Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah cyclusnya berdasarkan wamtu ekspirasi atau
waktu inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi ditentukan oleh waktu dan kecepatan
inspirasi (jumlah napas permenit) Normal ratio I : E (inspirasi : ekspirasi ) 1 :2.
B. Mode-Mode Ventilator.
Pasien yang mendapatkan bantuan ventilasi mekanik dengan menggunakan ventilator tidak
selalu dibantu sepenuhnya oleh mesin ventilator, tetapi tergantung dari mode yang kita setting.
Mode mode tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mode Control.
Pada mode kontrol mesin secara terus menerus membantu pernafasan pasien. Ini diberikan
pada pasien yang pernafasannya masih sangat jelek, lemah sekali atau bahkan apnea. Pada mode
ini ventilator mengontrol pasien, pernafasan diberikan ke pasien pada frekwensi dan volume
yang telah ditentukan pada ventilator, tanpa menghiraukan upaya pasien untuk mengawali
inspirasi. Bila pasien sadar, mode ini dapat menimbulkan ansietas tinggi dan ketidaknyamanan
dan bila pasien berusaha nafas sendiri bisa terjadi fighting (tabrakan antara udara inspirasi dan
ekspirasi), tekanan dalam paru meningkat dan bisa berakibat alveoli pecah dan terjadi
pneumothorax. Contoh mode control ini adalah: CR (Controlled Respiration), CMV (Controlled
Mandatory Ventilation), IPPV (Intermitten Positive Pressure Ventilation)
b. Mode IMV / SIMV: Intermitten Mandatory Ventilation/Sincronized Intermitten Mandatory
Ventilation.
Pada mode ini ventilator memberikan bantuan nafas secara selang seling dengan nafas
pasien itu sendiri. Pada mode IMV pernafasan mandatory diberikan pada frekwensi yang di set
tanpa menghiraukan apakah pasien pada saat inspirasi atau ekspirasi sehingga bisa terjadi
fighting dengan segala akibatnya. Oleh karena itu pada ventilator generasi terakhir mode
IMVnya disinkronisasi (SIMV). Sehingga pernafasan mandatory diberikan sinkron dengan
picuan pasien. Mode IMV/SIMV diberikan pada pasien yang sudah bisa nafas spontan tetapi
belum normal sehingga masih memerlukan bantuan.
c. Mode ASB / PS : (Assisted Spontaneus Breathing / Pressure Suport)
Mode ini diberikan pada pasien yang sudah bisa nafas spontan atau pasien yang masih bisa
bernafas tetapi tidal volumnenya tidak cukup karena nafasnya dangkal. Pada mode ini pasien
harus mempunyai kendali untuk bernafas. Bila pasien tidak mampu untuk memicu trigger maka
udara pernafasan tidak diberikan.
d. CPAP : Continous Positive Air Pressure.
Pada mode ini mesin hanya memberikan tekanan positif dan diberikan pada pasien yang
sudah bisa bernafas dengan adekuat. Tujuan pemberian mode ini adalah untuk mencegah
atelektasis dan melatih otot-otot pernafasan sebelum pasien dilepas dari ventilator.

C. Cara Kerja Alat
a. Penggerak awal alat
Penggerak awal bisa berupa pneumatik atau elektrik (AC atau DC), yang kemudian
diteruskan kompresor. Letak kompresor bisa di luar ventilator (eksternal) atau menyatu di
dalam (internal).


b. Pengontrolan Variabel
Dengan adanya dorongan dalam sistem sirkuit ventilator, maka akan dihasilkan aliran
udara yang akan menghembus paru-paru pasien. Hembusan ke pasien akan menghasilkan
beberapa variabel yaitu tekanan, volume dan aliran. Berdasarkan pengontrolan terhadap
variabel-variabel tersebut maka dikenal pressure control, volume control dan flow control
disamping juga ada time control. Pada awalnya kebanyakan ventilator hanya bisa mengontrol
satu variabel saja sehingga variabel lainnya akan bervariasi tergantung dari kondisi paru-paru.
Namun dalam perkembangannya, banyak ventilator yang bisa mengontrol lebih dari satu
variabel. Pengontrolan tersebut bisa dalam satu periode napas ke napas berikutnya atau dalam
periode satu kali napas saja.

D. Fase Dalam Pernapasan Dengan Ventilator
Fase bernapas dengan ventilator adalah sebagai berikut:
a. Awal bernapas (initiating/triggering)
Awal bernapas bisa terjadi secara otomatis karena pengaturan waktu pada ventilator
(machine triggering) atau atas picuan (rangsangan/usaha bernapas) pasien yang merangsang
mesin (patient triggering) sehingga mesin memulai menghembuskan gas ke pasien. Rangsangan
napas dari pasien bisa atas dasar perubahan flow atau tekanan yang terjadi pada mesin.
Perubahan flow atau tekanan berapa yang bisa merangsang mesin (sensitivity/trigger) tergantung
pengaturan kita. Artinya bisa dibuat lebih sensitif atau kurang sensitif. tekanan atau flow) akan
terbatasi dan tetap dipertahankan (sesuai dengan pengaturan) sebelum inspirasi berakhir.
b. Siklus perpindahan (cycling)
Cycling adalah perpindahan dari fase inspirasi ke fase awal ekspirasi. Perpindahan ini
akan terjadi sesuai dengan pengaturan. Pengaturan tersebut bisa berdasar atas waktu (time
cycle), tekanan (pressure cycle), volume (volume cycle) atau aliran udara (flow cycle).
Time cycle, artinya fase inspirasi berakhir setelah alokasi waktu inspirasi berdasarkan
pengaturan sudah terlampaui.
Pressure/volume cycle, artinya inspirasi berakhir setelah tidak ada flow yang masuk (flow
berhenti). Flow akan berhenti kalau pressure/volume sesuai pengaturan sudah tercapai
Flow cycle, artinya inspirasi berakhir kalau flow mencapai pengaturan yang dibuat. Agar
lebih menyelaraskan dengan pola napas pasien, pengaturan pada flow cycle bisa diatur
berbeda dengan pengaturan pabrik.
Pengaturan ini sering disebut sebagai ETS (expiratory trigger sensitivity) atau inspiratory
cycling off. Misalnya pengaturan ETS 40%, artinya bila flow mencapai 40% dari peak flow maka
akan terjadi cycling.

c. Pengontrolan variabel base line
Pada akhir ekspirasi, tekanan di jalan napas bisa dikontrol. Bisa dibuat sama dengan
tekanan atmosfer atau lebih. Pengaturan pengontrolan itu disebut dengan PEEP (positive end
expiratory pressure). Bila PEEP = 0, berarti tekanan di jalan napas pada akhir ekspirasi sama
dengan tekanan atmosfer, dan bila positif ,misalnya 5, berarti pada akhir ekspirasi tekanan di
jalan napas 5 cmH
2
O lebih tinggi dibandingkan tekanan udara atmosfer.

d. Pengontrolan Sistem dalam Ventilator.
Ada dua macam cara pengontrolan sistem kerja ventilator:
Pengontrolan terbuka (open loop control)
Dalam sistem ini, semua perintah yang diperintahkan akan dikerjakan oleh efektor dan
menghasilkan variabel. Yang dimaksud efektor dalam hal ini bisa berupa pompa piston atau
pengatur katup aliran udara pada ventilator. Secara skematik cara pengontrolan terbuka pada
ventilator adalah sebagai berikut:






Pengontrolan tertutup (closed loop control)
Pada sistem ini, hasil keluaran yang dihasilkan dipakai sebagai umpan / masukan balik
(feed back control). Dari perbedaan antara masukan balik dan masukan awal, akan
mengubah pengontrol dan efektor dalam ventilator yang selanjutnya akan menghasilkan
data baru (yang disesuaikan dengan kondisi pasien). Secara skematik cara pengontrolan
tertutup pada ventilator adalah sebagai berikut:


E. Gambaran Ventilasi Mekanik Yang Ideal

Sederhana, mudah dan murah
Dapat memberikan volume tidak kurang 1500cc dengan frekuensi nafas hingga 60X/menit
dan dapat diatur ratio I/E.
Dapat digunakan dan cocok digunakan dengan berbagai alat penunjang pernafasan yang
lain.
Dapat dirangkai dengan PEEP
Dapat memonitor tekanan , volume inhalasi, volume ekshalasi, volume tidal, frekuensi
nafas, dan konsentrasi oksigen inhalasi
Mempunyai fasilitas untuk humidifikasi serta penambahan obat didalamnya
Mempunyai fasilitas untuk SIMV, CPAP, Pressure Support
Mudah membersihkan dan mensterilkannya.






4. INDIKASI VENTILASI MEKANIK (VENTILATOR)
a. Hiperkapnia
Adalah peningkatan PCO2 dengan ketidakmampuan mempertahankan ventilasi
alveolar yang adekuat. Penyebab hiperkapnia yang dapat diobati harus dicari (misalnya
narkotik). Beberpa pasien dengan penyakit paru kronik akan mentoleransi peningkatan
PACO2 pasien tersbut tetap sadar danmersa nyaman. Namun, pH arteri dibawah 7,1
dianggap sebagai indikasi untuk ventilasi mekanik
b. Peninggian tekanan intracranial
Hipokapnia yang disengaja dengan ventilasi tekanan positif intermitten ( IPPV ;
intermittent positive-pressure ventilation) dapat diidikasikan untuk menurunkan tekanan
cranial pada keadaan-keadaan tertentu
c. Hipoksemia
PAO2 biasanya ajan diperbaiki dengan IPPV. Criteria khusus untuk melakukan
ventilasi mekanik adalah
PAO2 , 40 torr pada O2 inspirasi yang maksimal
Semakin lemah
Penyakit pernapasan yang cepat meburuk
Peningkatan kera pernapasan (mislanya retraksi interkostal selama inspirasi)
Peningkatan PACO2
d. Kriteria pemasangan ventilator
Seseorang perlu mendapat bantuan ventilasi mekanik (ventilator) bila :
Frekuensi napas lebih dari 35 kali per menit.
Hasil analisa gas darah dengan O
2
masker PaO
2
kurang dari 70 mmHg.
PaCO
2
lebih dari 60 mmHg
AaDO
2
dengan O
2
100 % hasilnya lebih dari 350 mmHg.
Vital capasity kurang dari 15 ml / kg BB.

5. KOMPLIKASI VENTILASI MEKANIK (VENTILATOR)
Ventilator adalah alat untuk membantu pernafasan pasien, tapi bila perawatannya tidak tepat
bisa, menimbulkan komplikasi seperti:
1. Pada paru
a. Baro trauma: tension pneumothorax, empisema sub cutis, emboli udara vaskuler.
b. Atelektasis/kolaps alveoli diffuse
c. Infeksi paru
d. Keracunan oksigen
e. Jalan nafas buatan: king-king (tertekuk), terekstubasi, tersumbat.
f. Aspirasi cairan lambung
g. Tidak berfungsinya penggunaan ventilator
h. Kerusakan jalan nafas bagian atas
2. Pada sistem kardiovaskuler
Hipotensi, menurunya cardiac output dikarenakan menurunnya aliran balik vena akibat
meningkatnya tekanan intra thorax pada pemberian ventilasi mekanik dengan tekanan
tinggi.
3. Pada sistem saraf pusat
a. Vasokonstriksi cerebral
Terjadi karena penurunan tekanan CO2 arteri (PaCO2) dibawah normal akibat dari
hiperventilasi.
b. Oedema cerebral
Terjadi karena peningkatan tekanan CO2 arteri diatas normal akibat dari
hipoventilasi.
c. Peningkatan tekanan intra kranial
d. Gangguan kesadaran
e. Gangguan tidur.

4. Pengaruh pada ginjal
a. Pengaruh pada ginjal karena pH, PaC)2, dan PaO2 yang abnormal
b. Respon humoral antara lain perubahan pada hormone antidiuretik (ADH), peptide
antidiuretik atrial (ANP) dan Renin-angiotensin aldosteron (RAA)
c. Respon renal terhadap perubahan hemodinamik yang timbul karena peningkatan
tekanan intralokal

5. Pada sistem gastrointestinal dan fungsi hepar
a. Distensi gaster, illeus
b. Perdarahan gaster.
c. Iskemia pada jaringan hepar

6. PROSEDUR PEMBERIAN VENTILATOR
Sebelum memasang ventilator pada pasien. Lakukan tes paru pada ventilator untuk
memastikan pengesetan sesuai pedoman standar. Sedangkan pengesetan awal adalah sebagai
berikut:
a. Fraksi oksigen inspirasi (FiO2) 100%
b. Volume Tidal: 4-5 ml/kg BB
c. Frekwensi pernafasan: 10-15 kali/menit
d. Aliran inspirasi: 40-60 liter/detik
e. PEEP (Possitive End Expiratory Pressure) atau tekanan positif akhir ekspirasi: 0-5
Cm, ini diberikan pada pasien yang mengalami oedema paru dan untuk mencegah
atelektasis. Pengesetan untuk pasien ditentukan oleh tujuan terapi dan perubahan
pengesetan ditentukan oleh respon pasien yang ditujunkan oleh hasil analisa gas
darah (Blood Gas)

















DAFTAR PUSTAKA

Nawawi.M dkk. Ventilasi Mekanik .Bagian Anestesiologi dan Reanimasi. Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran (dalam bentuk pdf. )

Marrelli TM. (2008). Buku Saku Dokumentasi Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC

Raber,Mark A,1998.Buku Saku Kedokteran university of IOWA. Penerbit : EGC,Jakarta.

Sundana,Krisna. Ventilator : Pendekatan Praktis Di Unit Perawatan Klinis. Edisi I. Penerbit :
CICU Bandung

Anonim, 2013. Askep Ventilator Mekanik. Diunduh dari sofaners.files.wordpress.com/2013/03/,
pada tanggal 15 oktober 2014

Arvin , Behrman Klirgman.2000.Ilmu Kesehatan Anak.,Jakarta : EGC. Diunduh dari
http://books.google.co.id/books?id=0dRhHnfPpBgC&pg=PA305&dq=indikasi+ventilator+
mekanik&hl=id&sa=X&ei=PGM9VP7vO9GgugTm7IHwBQ&redir_esc=y#v=onepage&q=
indikasi%20ventilator%20mekanik&f=false , pada tanggal 15 oktober 2014