Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dunia pendidikan terus bergerak secara dinamis dalam menciptakan

metode pendidikan, media pembelajaran dan sumber belajar yang semakin

interaktif dan komprehensif. Hal ini dapat dilihat banyaknya para ahli pendidikan

yang telah menciptakan metode-metode belajar yang baru, seperti Cara Belajar

Siswa Aktif (CBSA), Cara Belajar Siswa Mandiri (CBSM), Metode Belajar

Kumon, Sempoa, dan masih banyak lagi metode yang dirumuskan pada akhir-

akhir ini (Oetomo, 2002:119). Berkembangnya media pembelajaran yang

digunakan juga demikian, hal ini dapat dilihat dari beberapa jenis media

pembelajaran yang digunakan antara lain media teks, grafis, foto, video, audio,

dan animasi dan terakhir adalah teknologi komputasi multimedia (Triarso,

2004:9). Hal senada juga berkembang pada sumber belajar yang diciptakan, di

antaranya sumber cetak, sumber belajar non-cetak, sumber belajar yang berupa

fasilitas, sumber belajar yang berupa kegiatan, dan jenis sumber belajar yang

berupa lingkungan dari masyarakat (Rohani, 1997:111). Semuanya itu

dirumuskan dengan tujuan agar siswa dapat lebih mudah dan sederhana untuk

mencernakan secara logis materi pendidikan yang sudah ditetapkan.

Seiring dengan dinamisnya dunia pendidikan dalam menciptakan metode

pendidikan, media pembelajaran dan sumber belajar, dewasa ini juga terjadi

perkembangan yang tidak kalah pesat dari tiga hal di atas, yaitu format sajian dari
2

proses belajar mengajar. Beberapa format sajian pembelajaran yang sedang

berkembang menurut Triarso (2004:5) yaitu format sajian sistem drill dan

practice, tutorial, problem solving, permainan, simulasi, ensiklopedi dan jenis

sajian lainnya atau yang dikenal dengan sebutan proses belajar berbasis

multimedia.

Proses belajar mengajar berbasis multimedia yang menggunakan media

teks, grafis, foto, video, audio, dan animasi, dan komputasi (Triarso, 2004:9) ini,

secara umum diartikan sebagai kombinasi teks, gambar, seni grafik, animasi,

suara dan video (Oetomo, 2002:120). Aneka media tersebut digabungkan menjadi

satu kesatuan kerja yang akan menghasilkan suatu informasi yang memiliki nilai

komunikasi yang tinggi, artinya informasi tidak hanya dapat dilihat sebagai

cetakan, melainkan juga dapat didengar, membentuk simulasi dan animasi yang

dapat membangkitkan selera dan memiliki nilai seni grafis yang tinggi dalam

penyajiannya.

Berkembangnya model proses belajar mengajar berbasis multimedia di

dunia pengajaran bukanlah tanpa alasan, hal ini dapat dilihat dari beberapa studi

yang dilakukan oleh beberapa ahli, proses belajar mengajar berbasis multimedia

terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa

(Werti, 2004:21). Selain efektif dalam menjelaskan banyak persoalan yang

kompleks (Saraswati, 2005:60), cara belajar baru ini juga dipandang hemat waktu

(Saraswati, 2002:12), meningkatkan minat siswa, mengurangi kebosanan, dan

lebih bersemangat untuk mengembangkan bahan pelajarannya (Rohani, 1997:50).


3

Pada kenyataannya penemuan model pembelajaran di atas belum

semuanya digunakan oleh setiap guru mata pelajaran di sekolah-sekolah. Studi

terdahulu yang dilakukan oleh Wahyu (2004:92) menyimpulkan bahwa tingkat

kreativitas pengelolaan sumber belajar dan media pembelajaran pada guru di

tingkat SMA se-Jawa Tengah masih rendah. Padahal untuk mencapai mutu

pendidikan yang berkualitas, dalam Undang-Undang Guru dan Dosen tahun 2005

menyatakan dengan tegas bahwa setiap guru harus memiliki beberapa kompetensi

meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan

kompetensi profesional.

Berdasarkan hasil penelitian terkini tentang profesionalitas guru dan

mutu pendidikan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa

Tengah (2006:20) menyimpulkan bahwa kompetensi guru se Jawa Tengah juga

masih rendah. Permasalahan masih rendahnya kompetensi guru di Jawa Tengah

antara lain dilatarbelakangi; kualifikasi pendidikan formal guru belum sesuai

dengan ketentuan undang-undang, kompetensi guru masih jauh dari apa yang

dikehendaki oleh undang-undang, uji sertifikasi guru menunggu pengesahan RPP

menjadi PP, kekurangan guru pada semua jenis dan jenjang pendidikan masih

cukup banyak, distribusi guru belum merata, masih banyak guru yang mengajar

tidak sesuai dengan bidang studinya, kesejahteraan pendidik belum optimal, dan

penghargaan terhadap pendidik sangat minim serta peran KKG, MGMP, MGP,

MKKS, KKS dan KKP belum optimal.

Dalam penelitian di atas juga dinyatakan bahwa telah terjadi missmatch

atau ketidaksesuaian guru Sosiologi di Jawa Tengah dalam mengajar mata


4

pelajaran yang bersangkutan. Dilaporkan terdapat 479 Guru Sosiologi yang

missmatch dalam mengajar mata pelajaran Sosiologi. Secara detail data missmatch

Guru Sosiologi di Jawa Tengah dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Data Missmatch Guru Sosiologi di Jawa Tengah tahun 2006


Keadaan Guru Sosiologi di SMA se Jawa Tengah Pada Tahun 2006

800
664
600 479
400 303

200 78
0
Jumlah guru Jumlah guru ideal Guru sesuai lulusan Missmatch Kekurangan guru
-200

-400
-361
-600

Sumber: Laporan Profesionalitas Guru dan Mutu Pendidikan Dinas Pendidikan


dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah tahun 2006 hal; 25.

Menurut Hartoyo (2006:1) ketersediaan media dan alat peraga

merupakan faktor penting terhadap keberhasilan dalam mengimplementasikan

Kurikulum Pendidikan Nasional. Dalam hasil penelitiannya yang melibatkan

sekolah mulai dari jenjang SD, SMP dan SMA se Indonesia menyimpulkan bahwa

semakin tinggi ketersediaan media dan alat peraga, semakin baik pula kesiapan

guru dalam melaksanakan kurikulum nasional khususnya pada Kurikulum Tingkat

Satuan Pelajaran (KTSP). Salah satu lokasi penelitian di atas yaitu di propinsi

Jawa Tengah. Dari tujuh SMA yang diteliti kesiapannya dalam hal

ketersediaannya media dan alat peraga, tujuh SMA tersebut adalah SMA N 1

Surakarta, SMA N Surakarta, SMA N 1 Ungaran, SMA N 2 Ungaran, SMA

Tunas Patria, dan SMA Puraworejo. Temuan dalam penelitian di atas adalah
5

sebagai berikut; telah tersedianya media dan alat peraga dalam menunjang setiap

mata pelajaran yang ada, media dan alat peraga yang ada dalam keadaan baik,

tersedianya jenis penunjang media lainnya. Namun dalam penelitian yang

dilakukan secara acak pada tujuh SMA di propinsi Jawa Tengah belum

menjelaskan secara mendalam tentang bagaimana potensi dan kendala yang di

alami guru dari mata pelajaran yang ada dalam mengembangkan media dan alat

peraga untuk proses belajar mengajar.

Penelitian tentang kajian mutu dan efisiensi pengelolaan pendidikan di

jenjang pendidikan SMA juga menunjukkan hal yang demikian. Hartoyo

(2006:200) menyimpulkan bahwa pada Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang

yang memiliki sarana dan prasarana media pembelajaran minimal sesuai dengan

standar teknis yang ditetapkan secara nasional dari 26 jenjang pendidikan SMA

negeri terdapat sekolah negeri terdapat 11 sekolah yang memiliki sarana dan

prasarana media pembelajarannya. Sedangkan dari 15 SMA swasta yang diteliti

terdapat 7 SMA yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai dengan

standar teknis yang ditetapkan secara nasional. Kemudian untuk Dinas Pendidikan

Kota Semarang, jumlah SMA yang diteliti sebesar 76 sekolah yang terdiri dari 16

SMA negerti dan 65 SMA swasta. Dari 16 SMA negeri yang diteliti memiliki

sarana dan prasarana disimpulkan memiliki media pembelajaran dengan lengkap

dari ukuran minimal sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan secara nasional.

Hal senada juga demikian, dari 65 SMA swasta dinyatakan telah memiliki sarana

dan prasarana media pembelajaran sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan

secara nasional. Dari penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa media


6

pembelajaran yang tersedian pada SMA baik di tingkat Dinas Kabupaten

Semarang dan maupun di tingkat Dinas Kota Semarang memiliki sarana dan

prasarana minimal sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan secara nasional.

Namun dalam penelitian yang dilakukan belum menjelaskan secara mendalam

tentang bagaimana potensi dan kendala yang dialami guru dalam mengembangkan

media pembelejaran berbasis multimedia dari setiap mata pelajaran.

Berdasarkan latar belakang di atas, sangat penting kiranya dilakukan

penelitian tentang potensi dan kendala guru dalam mengembangkan proses belajar

mengajar berbasis multimedia. Mengingat pentingnya peran dan fungsi proses

belajar mengajar berbasis multimedia dalam meningkatkan hasil belajar siswa dari

mata pelajaran tersebut.

Pada penelitian ini dilakukan di sekolah dua lembaga pendidikan negeri

dan swasta yang secara kelembagaan telah memiliki peralatan multimedia untuk

proses belajar mengajar. Setelah dilakukan observasi di lapangan, maka dipilih

SMA Semesta Gunungpati Semarang sebagai lembaga pendidikan swasta dan

SMA Negeri 1 Semarang sebagai lembaga pendidikan negeri.

Pemilihan SMA Negeri 1 Semarang sebagai lokasi penelitian karena

beberapa alasan. Pertama, secara kelembagaan sekolah tersebut telah memiliki

peralatan multimedia. Kedua, sekolah tersebut merupakan salah satu lembaga

pendidikan di tingkat menengah atas di Jawa Tengah yang dibangun pertama kali

saat pemerintah kolonial Belanda dan memiliki hubungan historis dengan

berkembangnya SMA se Jawa Tengah. Ketiga, sekolah tersebut merupakan

lembaga pendidikan yang menuju pada kualitas sekolah unggulan standar


7

nasional. Ke-empat, sekolah tersebut terletak pada jantung kota Semarang yang

dapat diakses oleh masyarakat dari berbagai macam kelas sosial.

Pemilihan SMA Semesta Gunungpati Semarang sebagai lokasi

penelitian yang kedua karena beberapa alasan. Pertama, secara kelembagaan

sekolah tersebut telah memiliki peralatan multimedia. Kedua, sekolah tersebut

merupakan salah satu lembaga pendidikan di tingkat menengah atas yang

dibangun pertama kali oleh pihak swasta dengan model sekolah asrama dengan

kurikulum nasional. Ketiga, sekolah tersebut merupakan lembaga pendidikan

yang memiliki sekolah unggulan. Ke-empat, sekolah tersebut terletak di sebelah

selatan dari jantung kota Semarang yang dapat diakses oleh masyarakat dari kelas

sosial atas.

B. Identifikasi Masalah

Masalah pendidikan Indonesia dewasa ini sangat kompleks. Persoalan

besar antara lain menyangkut mutu pendidikan, pemerataan pendidikan, dan

manajemen pendidikan. Terkait dengan mutu pendidikan adalah masalah

mengenai kurikulum, proses pembelajaran, evaluasi, buku ajar, mutu guru, sarana

dan prasarana pendidikan (Drost, 2005:ix).

Tanpa adanya pengembangan proses belajar mengajar yang digunakan

oleh seorang guru secara tepat pada mata pelajaran tertentu, arah pengembangan

mutu pendidikan di Indonesia tidak akan lebih baik walaupun konsep kurikulum

yang dirancang, evaluasi yang digunakan, sumber belajar yang dipakai, dan

ketersediaan sarana-prasarana yang ada, serta komponen pendidikan yang lainnya

telah dipayakan secara maksimal.


8

Berdasarkan persoalan pendidikan dan latar belakang di atas, penelitian ini

dibatasi dengan persoalan proses pembelajaran. Untuk itu, pada penelitian ini

difokuskan lagi pada permasalahan tentang proses belajar mengajar, khususnya

persoalan tentang potensi dan kendala guru mata pelajaran Sosiologi dalam

mengembangkan proses belajar mengajar berbasis multimedia.

C. Perumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam

penelitian ini adalah bagaimana potensi dan kendala guru mata pelajaran

Sosiologi dalam mengembangkan proses belajar mengajar berbasis multimedia di

SMA Negeri 1 Semarang dan SMA SEMESTA Gunungpati Kota Semarang?

Untuk itu akan dikaji potensi dan kendala yang berkaitan dengan jenis sumber

belajar dan media pembelajaran yang digunakan, pengadaan sumber belajar dan

media pembelajaran yang digunakan, penggunaan sumber belajar dan media

pembelajaran dan ketrampilan guru Sosiologi dalam mengembangkan proses

belajar mengajar berbasis multimedia di SMA Negeri 1 Semarang dan SMA

Semesta Gunungpati Semarang.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang dan pokok permasalahan di atas,

tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk menjelaskan potensi

dan kendala yang berkaitan dengan jenis sumber belajar dan media pembelajaran

yang digunakan, pengadaan sumber belajar dan media pembelajaran yang

digunakan, penggunaan sumber belajar dan media pembelajaran dan keterampilan


9

guru Sosiologi dalam mengembangkan proses belajar mengajar berbasis

multimedia di SMA Negeri 1 Semarang dan SMA Semesta Gunungpati

Semarang.

E. Manfaat Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini diharapkan memiliki manfaat

teoretis dan manfaat praktis sebagai berikut;

1. Manfaat Teoretis

a. Menambah pengetahuan tentang pengajaran Sosiologi meliputi sumber

belajar yang digunakan, media pembelajaran yang disediakan dan

keterampilan yang diperlukan dalam penyajian materi Sosiologi pada

proses belajar mengajar berbasis multimedia .

b. Menambah khazanah pengetahuan tentang proses belajar mengajar

berbasis multimedia pada mata pelajaran Sosiologi di jenjang

pendidikan SMA berdasarkan potensi dan kendala gurunya.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan informasi kepada guru dan calon guru mata pelajaran

Sosiologi dalam mengembangkan proses belajar mengajar berbasis

multimedia.

b. Memberikan informasi kepada pihak Jurusan atau Prodi Pendidikan

Sosiologi di LPTK dalam inovasi kurikulum perkuliahan.

c. Sebagai bahan perbandingan studi mengenai pembelajaran Sosiologi di

waktu mendatang.
10

F. Penegasan Istilah

1. Potensi

Potensi adalah menemukan perubahan dan kecenderungan seseorang

dalam menggunakan media pada proses tertentu untuk mencapai tujuan

tertentu (Djohani, 1996:78). Adapun penggunaan istilah potensi dalam skripsi

ini adalah kekuatan, kesanggupan, kemampuan, dan kecenderungan guru

dalam menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia pada proses

belajar mengajar mata pelajaran Sosiologi.

2. Kendala

Menurut Pareno (2005:30) kendala adalah segala halangan,

hambatan dan gangguan untuk mewujudkan sesuatu. Adapun penggunaan

istilah kendala dalam skripsi ini yang dimaksud adalah halangan, rintangan,

dan gangguan yang dialami oleh guru dalam menggunakan media

pembelajaran berbasis multimedia pada proses belajar mengajar mata

pelajaran Sosiologi.

3. Guru Sosiologi

Berdasarkan jenisnya, Hamalik (2004:26-30) membagi guru dalam

empat jenis, yaitu; guru pelaksana, guru profesional, guru kader, dan guru

khusus. Hamalik menambahkan, guru profesional adalah orang yang telah

menempuh program pendidikan guru, telah mendapatkan ijazah negara dan

telah berpengalaman dalam mengajar di kelas-kelas.


11

Selain itu kategori guru juga dibedakan berdasarkan tipikalnya.

Menurut Mustofa (2006:20), tipikal guru yang menjadi prioritas menuju

pendidikan yang berkualitas dapat dikategorikan menjadi; Guru PNS, Guru

Bantu, Guru Honorarium Daerah, Guru Wiyata Bakti dan Guru Swasta.

Mustofa juga menjelaskan keadaan guru dapat dikelompokkan menjadi guru

berpendidikan SMA, D1, D2, D3, S1, S2, dan S3. Dalam sumber yang sama

pula dijelaskan, guru dapat dibedakan menjadi dua yaitu guru yang

mengajarnya sesuai dengan bidang ilmunya dan yang tidak sesuai dengan

bidang ilmunya. Adapun berdasarkan ruang tempat mengajarnya, klasifikasi

guru dapat dibedakan menjadi guru yang mengajar di ruang kelas dan guru

yang mengajar di luar kelas (ruang multmedia, ruang laboratorium, lapangan,

aula dan jenis ruang yang dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar).

Adapun istilah guru Sosiologi yang dimaksud dalam penelitian ini

adalah orang yang telah menempuh program pendidikan guru, mendapatkan

ijazah negara, berpengalaman dalam mengajar siswa baik di ruang kelas

maupun di luar kelas, dan mengampu mata pelajaran Sosiologi di jenjang

pendidikan SMA pada kelas X, XI, dan XII. Kemudian untuk tipikal guru

yang diteliti, mengacu pada batasan-batasan dari Mustofa (2006:20) tentang

tipikal guru yang menjadi prioritas menuju pendidikan yang berkualitas.

4. Mengembangkan

Menurut Triarso (2004:9), mengembangkan dalam kepentingan

pengajaran diartikan sebagai melakukan analisis kebutuhan, merancang

desain, menyusun naskah, membuat format, merencanakan produk. Adapun


12

penggunaan istilah mengembangkan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah

kegiatan yang disengaja mulai dari membuka, menyiapkan, merancang,

menciptakan menggunakan, membentangkan dan meluaskan.

5. Proses Belajar Mengajar (PBM)

Istilah Proses Belajar Mengajar (PBM) atau proses pembelajaran

yang dimaksud dalam penelitian ini mengacu Sudjana (2002:1), yaitu suatu

kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat

mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah di tetapkan.

6. Multimedia

Arifin (2004:9) mengatakan bahwa multimedia merupakan sebuah

media pembelajaran yang secara terintegrasi menggabungkan teks, grafik,

gambar, foto, suara (audio), video, animasi dan lain-lain dengan melibatkan

interaksi antara pengguna (user) dan program tersebut dengan menggunakan

komputer sebagai piranti penggunaannya.

Uraian multimedia juga terdapat dalam Kamus Istilah Teknologi

Informasi dalam Keen (2000:157), multimedia adalah suatu istilah serba guna

bagi transmini dan manipulasi semua bentuk informasi, baik dalam bentuk

kata-kata, gambar, video, musik, angka, atau tulisan tangan. Dalam

penggunaannya, multimedia memerlukan kemampuan komputer dan kapasitas

komunikasi tinggi. Dalam perkembangannya, multimedia tidak hanya

digunakan dalam bidang perawatan kesehatan, namun pemanfaatan

multimedia telah sampai pada bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan.


13

Adapun multimedia yang dimaksud dalam penelitan ini adalah

sebuah media pembelajaran secara terintegrasi menggabungkan teks, grafik,

gambar, foto, suara (audio), video, animasi, dan lain-lain yang melibatkan

interaksi antara pengguna (guru dan siswa) dan program tertentu dengan

menggunakan komputer sebagai piranti penggunaannya.

7. SMA Negeri 1 Semarang

SMA Negeri 1 Semarang adalah suatu lembaga pendidikan tingkat

menengah atas yang dikelola oleh negara yang beralamatkan di Jalan Menteri

Supeno No. 1 Semarang, atau sebelah barat laut gedung DPRD Jawa Tengah.

8. SMA SEMESTA Gunungpati

SMA SEMESTA Gunungpati Semarang adalah lembaga pendidikan

tingkat menengah atas yang beralamatkan di Jalan Raya Gunungpati Kota

Semarang. Sekolah ini dikelola dari hasil kerjasama dua yayasan yaitu

Yayasan Al-Firdaus (Indonesia) dan Yayasan Pesiad (Turki).

G. Sistematika Penulisan Skripsi

Untuk memperoleh gambaran dan memudahkan pembahasan, maka

skripsi ini dikelompokkan menjadi tiga bagian dengan sistematika sebagai berikut.

Bagian awal skripsi terdiri atas halaman sampul, lembar berlogo, halaman judul,

persetujuan pembimbing, pengesahan kelulusan, pernyataan, motto dan

persembahan, prakata, sari, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar

lampiran.
14

Bagian isi skripsi ini terdiri atas lima bab. Bab pertama terdiri dari bagian

pendahuluan yang di dalamnya terdapat latar belakang, identifikasi dan

pembatasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah dan

sistematika penulisan. Selanjutnya, bab dua berisikan tentang tinjauan pustaka dan

kerangka berpikir, yaitu konsep-konsep serta pandangan ahli yang mendukung

pemecahan masalah dalam penelitian serta kerangka teoritiknya. Uraian

kepustakaan dalam bagian ini meliputi; konsep proses belajar mengajar, konsep

media pembelajaran, konsep sumber belajar, serta konsep pengembangan proses

belajar mengajar berbasis multimedia. Pada bab tiga berisikan tentang metode

penelitian yaitu menjelaskan tentang dasar penelitian, lokasi penelitian, fokus

penelitian, sumber data penelitian, metode pengumpulan data, validitas data,

model analisis data dan prosedur penelitian. Pada bab empat berisikan tentang

hasil penelitian dan pembahasan, yaitu menguraikan hasil penelitian dan

pembahasan hasil penelitian. Serta pada bab lima atau bagian penutup berisi

tentang simpulan dan saran.

Adapun bagian akhir dari skripsi ini berisikan daftar pustaka dan

lampiran-lampiran yang dianggap relevan. Lampiran-lampiran yang dimaksud

meliputi; surat izin penelitian, daftar nama informan, instrumen penelitian, dan

beberapa data cetak yang dipandang perlu untuk dilampirkan.