Anda di halaman 1dari 15

Materi Studium General SORem 2005

Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM



-1-
GLOBALISASI DAN ISU-ISU STRATEGIS
DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA
1

Subejo
2

A. PENDAHULUAN
Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mencapai masyarakat yang
berkehidupan modern, di berbagai negara-negara berkembang termasuk di di Indonesia tumbuh
adanya suatu keyakinan bahwa semua itu akan dapat dicapai melalui industrilasasi. Strategi
pembangunan melalui industrialisasi menjadi paradigma pembangunan yang amat populer
dengan saran dapat menyejajarkan negara berkembang dengan negara-negara yang maju dan
modern di negara-negara barat.
Akibat dominanya paradigma pembangunan dengan prioritas utama industrialisasi
menyebabkan sektor pertanian menjadi sektor yang hanya mendapat prioritas kedua bahkan
relatif menjadi sektor yang terlantar. Bahkan menurut Soetrisno (1999:1-2) muncul suatu
anggapan bahwa indikator keberhasilan suatu pembangunan adalah mengecilnya sumbangan
sektor pertanian pada total pendapatan negara. Sebaliknya, apabila kontribusi dan
ketergantungan suatu negara pada sektor pertanian masih tinggi dianggap sebagai negara yang
terbelakang.
Apabila dicermati dari data statistik, memang kontribusi sektor pertanian di Indonesia
semakin mengecil. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi Produk Domestik
Bruto (PDB) dan juga kemampuan penyerapan terhadap tenaga kerja di sektor pertanian dari
waktu ke waktu relatif mengalami penurunan. Secara lebih rinci hal tersebut dilaporkan oleh
Yudohusodo (1999) seperti terlihat pada Tabel 1.
Namun menjelang abad-21, paradigma pembangunan seperti tersebut sebelumnya tiba-
tiba mengalami suatu perubahan. Perekonomian negara-negara yang sedang berkembang
termasuk Indonesia yang sempat dijuluki sebagai newly industrial country/negara industri baru

1
Paper untuk Studium General Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian
UGM, Tema : Belajar dan Bergerak dari Pinggiran, Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta 25 J anuari 2005

2
Staf pengajar PS. Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM, Menyelesaikan S-1 (1990) di
Fak. Pertanian UGM, S-2 (2004) dari Dept. of Agriculture and Resource Economics, The University of Tokyo, e-
mail address: Subejo@Lycos.com atau Subejo@hotmail.com

Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-2-
dilanda krisis moneter yang sangat dahsyat. Industri-industri yang telah dibangun dengan
investasi sangat besar runtuh karena imbas krisis ekonomi.
Tabel 1. Kontribusi Sektor terhadap PDB dan Tenaga Kerja (%)
Kontribusi Sektor (%)
Pertanian Industri Jasa

Tahun
PDB TK PDB TK PDB TK
1961 51,8 79,9 15,2 7,9 33,0 20,2
1980 26,8 55,9 37,3 13,2 35,9 30,9
1995 17,2 44,0 32,6 13,4 50,2 42,6
Sumber: Diolah dari Statistik Indonesia oleh Yudohusodo (1999)
Dalam situasi krisis ekonomi, banyak industri di Indonesia mengalami kebangkrutan
serta banyak terjadi kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang akhirnya mengakibatkan
bertambahnya jumlah pengangguran di berbagai sektor industri. Namun gejala tersebut tidak
banyak terjadi pada sektor pertanian, khususnya sub-sektor perkebunan baik perkebunan besar
maupun perkebunan rakyat. Dalam kondisi krisis ekonomi banyak buruh pabrik dan industri
banyak yang pulang ke desa asalnya karena kehilangan pekerjaan akibat PHK namun justru
terjadi fenomena yang berlawanan dimana petani perkebunan memperoleh manfaat positif atas
kenaikan harga komoditi perkebunannya. Sebagai contoh hal tersebut dialami oleh antara lain
petani kakao di Sulawesi Selatan; petani cengeh di Sulawesi Utara dan Maluku; petani kelapa
sawit dan karet di Sumatera dan Kalimantan; petani kopi di Lampung dan J awa Timur; serta
komoditi perkebunan lainnya wilayah yang lain. Mereka menikmati panen raya dengan harga
jual komoditas perkebunannya sangat tinggi sehingga taraf kehidupannya meningkat pesat.
Ketahanan sektor pertanian dalam menghadapi krisis menyebabkan terjadinya perubahan
pola pikir para perencana pembangunan di negara-negara sedang berkembang. Pembangunan
pertanian menjadi harapan baru bagi pembangunan di negara-negara sedang berkembang.
Namun walaupun sektor pertanian terbukti cukup ampuh dalam menghadapi krisis ekonomi,
untuk menjadikan sektor pertanian sebagai leading sector dalam proses pembangunan bukanlah
hal yang mudah. Dibutuhkan langkah-langkah besar dan kebijakan yang berpihak pada
pengembangan sektor agro-industri untuk mewujudkan hal tersebut.

Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-3-
B. REVOLUSI HIJAU SEBAGAI STRATEGI MODERNISASI SEKTOR PERTANIAN
Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an pemerintah Indonesia meluncurkan suatu
program pembangunan pertanian yang dikenal secara luas sebagai program revolusi hijau,
yang di tingkat masyarakat petani dikenal dengan dengan nama program Bimbingan Massal
(BIMAS). Tujuan utama program revolusi hijau adalah untuk menaikkan produktivitas sektor
pertanian, khususnya sub-sektor pertanian pangan melalui penerapan paket modern.
Menurut Soemarjan (1993), inti dari program BIMAS adalah penerapan suatu inovasi
pertanian atau paket teknologi baru pada produksi padi yang dikenal dengan panca usaha tani.
Panca usaha tani mencakup lima paket teknologi usahatani modern yang terdiri dari (1)
pembangunan fasilitas dan sistim irigasi, (2) penyediaan bibit varietas unggul seperti IR-64 dan
VUTW, (3) penggunaan pupuk kimia, (4) penggunaan pestisida dan (5) penanaman dengan
cara tanam larikan dan sejajar.
Meskipun memakan waktu yang relatif lama yakni kurang lebih 20 tahun, revolusi hijau
atau program BIMAS telah berhasil mengubah sikap para petani yang khususnya para petani
sub-sektor pangan, dari sikap anti teknologi ke sikap yang mau memanfaatkan teknologi
pertanian modern, misalnya pupuk kimia, pestisida dan bibit unggul. Perubahan sikap petani
tersebut sangat berpengaruh terhadap kenaikan produktivitas pertanian pangan, akhirnya
Indonesia mampu mencapai swasembada pangan di tahun 1984. Kemajuan dan perkembangan
program BIMAS yang utamanya dilakukan di daerah dataran rendah Pulau J awa (Soemarjan,
1993) dapat diperjelas dengan data tentang luasan areal yang tercakup dalam program serta
jumlah petani yang mendapatkan kredit seperti disajikan pada Tabel 2 sebagai berikut:
Revolusi hijau dilakukan di daerah-daerah dataran rendah. Di kawasan ini pemerintah
membangun prasarana untuk menunjang program swasembada pangan seperti dam atau
bendungan serta kanal-kanal/saluran irigasi. Sebagai akibatnya terjadi kesenjangan antara
kawasan dataran rendah dan dataran tinggi atau kawasan non-padi. Akibat kurangnya perhatian
pemerintah terhadap kawasan dataran tinggi berakibat pula pada kelestarian infrastruktur
penunjang revolusi hijau. Dam-dam yang dibangun oleh pemerintah berumur lebih pendek
karena lebih cepat tergenang endapan tanah yang terbawa oleh proses erosi yang berlangsung
dengan sangat cepat.


Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-4-
Tabel 2. Areal Penanaman dan Peserta Program BIMAS Tahun 1971-1979

Realisasi Areal Penanaman Petani Penerima Kredit
Tahun
Juta ha % di Jawa Petani (Juta) % di Jawa
1971 1.305 86.2 1.683 87.6
1972 1.199 86.8 1.458 87.3
1973 1.867 82.1 2.263 81.3
1974 2.936 79.1 3.546 79.7
1975 3.057 79.8 3.630 81.4
1976 3.018 78.9 3.391 80.4
1977 2.474 73.7 2.275 78.0
1978 2.206 74.2 2.442 76.2
1979 1.803 72.4 1.895 74.3
Source: Adapted from Mears in (Soemarjan, 1993:84)

Revolusi hijau atau BIMAS telah mampu mendongkrak produktivitas sub-sektor pangan
sehingga untuk kurun waktu tertentu Indonesia telah mampu mencapai swasembada pangan
khususnya beras. Akan tetapi revolusi hijau juga menyebabkan sistim sub-sektor tanaman
pangan rentan terhadap hama dan penyakit. Disamping itu, revolusi hijau juga memunculkan
kesenjangan antara daerah/kawasan padi dan non-padi, yakni daerah pegunungan. Konsentrasi
pembangunan pertanian pada sub-sektor tanaman pangan juga menimbulkan keterbelakangan
pada pembangunan sub-sektor pertanian hortikultura.
Meskipun revolusi hijau mampu mencapai tujuan makro-nya yakni peningkatan
produktivitas sub-sektor tanaman pangan, namun pada tingkat mikro revolusi hijau tersebut telah
menimbulkan berbagai masalah tersendiri. Salah satu masalah yang sangat penting ialah
terjadinya uniformitas bibit padi di Indonesia. Bibit padi yang boleh ditanam adalah bibit padi
unggul yang disediakan oleh pemerintah, sementara itu bibit lokal yang semula banyak ditanam
oleh petani dilarang untuk ditanam.
Uniformitas bibit padi yang digunakan mengakibatkan timbulnya kerentanan dalam
tubuh sub-sektor pangan, hal ini muncul dalam dua bentuk:
(1) Sub-sektor pangan rentan terhadap berbagai hama. Meskipun memiliki produktifitas yang
tinggi, namun bibit padi unggul tidak memiliki ketahanan hidup yang lama. Pada tahun
1970-an sub-sektor pangan Indonesia terserang wereng coklat (brown plant hopper/BPH)
yang memusnahkan tanaman padi dan mengancam Indonesia dengan bahaya kelaparan.
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-5-
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah harus sering mengadakan pergantian bibit padi
yang diharapkan dapat lebih memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit tanaman.
(2) Revolusi hijau membuat petani Indonesia menjadi tidak kreatif. Banyak pengetahuan
lokal yang menyangkut pertanian telah banyak dilupakan oleh petani. Para petani lebih
menggantungkan diri pada paket-paket teknologi pertanian produk industri.
Ketergantungan tersebut menimbulkan kerentanan baru, yakni petani Indonesia menjadi
obyek permainan harga-harga produk-produk tersebut. Hal ini sangat menganggu proses
produksi pangan. Apabila harga pupuk naik, maka petani terpaksa mengurangi pemakaian
pupuk, sehingga produksi menurun.

Gerakan-gerakan untuk mengurangi ketergantungan pada produk-produk teknologi
pertanian memang telah muncul di kalangan petani, dengan cara menanam bibit padi lokal dan
melakukan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

C. GLOBALISASI DAN KRISIS PANGAN
Suatu kebijakan pembangunan yang baik harus mengandung tiga unsur yaitu ecological
security, livelihood security dan food security. Suatu sustainable agriculture adalah suatu sistim
pertanian yang mendasarkan dirinya pada pemanfaatan sumberdaya alam (lahan, air dan
keanekaragaman hayati lainnya) secara lestari. Keanekaragaman hayati merupakan kekuatan
petani dalam upaya melestarikan ketahanan pangan. Keanekaragaman hayati dapat menjadi
sumber alternatif dalam penganekaragaman jenis-jenis tanaman budidaya.
Praktek-praktek pertanian yang demikian akan berubah pada era globalisasi, dengan
munculnya berbagai kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh badan-badan internsional, misalnya
World Trade Orgazation (WTO) yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan praktek
pertanian di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kebijakan tentang Trade Related Intelllectual
Property Right (TRIPs) dan berbagai keputusan lain yang menyangkut pertanian, akan
mengubah ketiga aspek dasar kebijakan ketahanan ekologis suatu sistim pertanian, karena
keputusan seperti itu akan mendorong terciptanya konsentrasi pemilikan sumberdaya alam,
dengan cara menghilangkan batasan kepemilikan terhadap sumber alam tersebut (tanah, air dan
keanekaragaman hayati).
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-6-
Dalam rangka menggalakan ekspor dari sektor pertanian, umumnya pemerintah negara
berkembang akan menggalakan pembangunan perkebunan besar. Kehadiran perkebunan tersebut
akan mengubah ketiga aspek kebijaksanaan pertanian yang sehat. Perkebunan besar akan
menguasai lahan pertanian yang sangat luas yang hanya ditanami satu jenis tanaman, sehingga
melemahkan ketahanan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. Selain menutup
kemungkinan bagi petani untuk diversifikasi usatani mereka, lemahnya ketahanan hayati juga
menyebabkan pertanian di wilayah itu mudah terserang hama dan penyakit. Keberadaan
perkebunan besar juga akan menghambat terpenuhinya kebutuhan dasar bagi penduduk
setempat, demi ekspor dan keuntungan bagi petani bagi pemilik perkebunan.
Nampaknya liberalisasi pardagangan produk-produk pertanian tidak menjadikan
pertanian menjadi bebas. Sebaliknya liberalisasi perdagangan justru memperkuat sentalisme
pembangunan pertanian. Dalam era globalisasi perdagangan bebas, ketika negara tidak lagi
mencampuri urusan pengembangan sektor pertanian, negara tidak mengembalikan kekuasaan
dan fungsi petani untuk mengatur usaha tani mereka, tetapi justu memfasilitasi penyerahan
penguasaan sumber-sumber alam, sistim produksi, serta sistim pemasaran dan perdagangan
kepada perusahaan agribisnis global.
Terkait dengan aspek perdagangan internasional, menurut Yustika (Suara
Pembaharuan,12 Oktober 2003), pemerintah justru banyak meliberalisasi pasar produk pertanian
padahal aturan WTO masih memberi kesempatan pemerintah untuk melindungi pasar domestik.
Lebih lanjut Yustika mengemukakan bahwa untuk subsidi pertanian, telah lama subsidi
input dikurangi dengan sangat drastis oleh pemerintah padahal negara-negara maju masih
memberikan subsidi sampai 300 milliar US$ tiap tahunnya kepada sektor pertanian (The New
York Times, 2 Desember 2002). Berita mutakhir mengabarkan bahwa Koferensi Tingkat Menteri
V WTO di Cancun Meksiko gagal menghasilkan suatu konsensus apapun mengenai
pengurangan hambatan dalam perdagangan produk-produk pertanian. Hal ini terjadi karena
negara-negara maju, seperti AS, Uni Eropa dan J epang menolak untuk memangkas secara drastis
subsidi ekspor dan subsidi jenis lain yang selama ini diberikan kepada para petani dan
peternaknya
Selain ketidak-fair-an dalam hal subsidi input dan subsidi ekspor, hal lain yang sangat
terasa pada lemahnya perlindungan petani kita adalah rendahnya penerapan tariff produk
pertanian impor. Heri Soba (Suara Pembaharuan Daily, 8 September, 2003) menyatakan bahwa
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-7-
proteksi yang luar biasa pada sektor pertanian di negara-negara maju ditunjukkan dengan
perlindungan produk dalam negeri melalui penerapan tariff impor yang tinggi. Bahkan di
sejumlah negara eksportir beras, gula, dan produk pertanian lainnya tariff impor-nya sangat
tinggi. Untuk gula, Uni Eropa menerapkan 297 persen, J epang 361 persen, sedangkan Indonesia
hanya 30 persen (gula putih Rp 700 per kg dan gula mentah Rp 550 per kg).

D. PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN PERTANIAN
Dalam perubahan-perubahan yang terjadi dalam sektor pertanian negara-negara yang
sedang berkembang, baik pada lingkungan internal maupun eksternal, terdapat tiga masalah
pokok yang harus diperhatikan dalam penyusunan paradigma baru pembangunan pertanian.
Pertama, di tengah-tengah perubahan-perubahan eksternal dan internal tersebut,
bagaimana kita dapat menciptakan kebijaksanaan pertanian yang menjamin agar petani dapat
memperoleh hak mereka atas air dan bibit, yang mereka butuhkan untuk mengelola usahatani
secara lestari. Air merupakan sarana produksi yang utama bagi petani untuk membangun
usahataninya. Pada saat ini bukan lagi hanya terkait dengan kebutuhan pertanian, tetapi telah
menjadi kebutuhan atau milik sektor perekonomian yang ada di negara kita. Bertambahnya
peminat yang ingin memanfaatkan air mendorong terjadinya persaingan. Umumnya sektor
pertanian menjadi sektor yang relatif lemah dalam kancah persaingan tersebut, birokrasi
umumnya melihat industri lebih maju dari agraris sehingga mendapat prioritas yang lebih untuk
mendapatkan hak atas air.
Terkait dengan pemanfaatan sumber daya air di Indonesia, meskipun ratifikasi atas UU
No 7 Juli 2004 tentang Sumber Daya Air telah selesai dilakukan. Saat ini masih terus terjadi
kontraversi diantara para stakeholders yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air. UU
tersebut saat ini pun masih dalam proses judicial review oleh Mahkamah Konstitusi dalam
rangka upaya revisi untuk memberikan akses yang lebih layak kepada para petani kecil
pengguna sumber daya air. Nampaknya memang kepentingan petani akan air terasa terus
tersisihkan dengan kepentingan pihak lain utamanya kalangan industri besar, apalagi UU No 7
2004 tersebut memberikan peluang yang cukup besar kepada kalangan swasta termasuk industri
besar dalam pengelolaan sumber daya air. Fauzi (Kompas 15 Maret 2004) menyatakan bahwa air
merupakan barang ultra-esensial bagi kelangsungan hidup manusia yang menyangkut hayat
hidup orang banyak, bahkan para ahli memprediksi bahwa air akan menjadi sumber konflik di
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-8-
abad ke-21 ini. Bocoran laporan dari Pentagon yang dikutip The Observer menyebutkan bahwa
akan terjadi cathastropic shortage (kekurangan yang dahsyat) terhadap air di masa mendatang
yang akan mengarah pada menyebarnya perang sekitar tahun 2020.
Terkait dengan akses terhadap bibit, seperti halnya air, bibit merupakan salah satu sarana
produksi utama dalam produksi pertanian. Petani semestinya memperoleh akses bibit yang
murah, hal ini dapat dicapai bila pemerintah memberikan kembali hak kepada petani untuk
memproduksi bibit bagi kepentingan komunitas pertanian mereka. Departemen Pertanian
hendaknya melakukan penelitian bersama petani di lapangan atau di lahan petani dan dapat
difokuskan dalam program penangkaran benih desa yang dapat mendukung otonomi petani
dalam menyediakan bibit.
Kedua, masalah pertanian tersebut berkaitan dengan masalah kedua, yakni bagaimana
membangun suatu pertanian yang dapat menjamin adanya suatu sistim ketahanan pangan bagi
negara-negara yang sedang berkembang.
Ketiga, bagaimana kita dapat melindungi dan memanfaatkan kekayaan alam yang berupa
plasma nuftah yang dimiliki oleh negara-negara sedang berkembang, tidak hanya untuk
kepentingan pembangunan sektor pertanian, tetapi juga sektor-sektor yang lain dalam
perekonomian nasional negara-negara tersebut, demi kesejahteraan rakyat.
Berbagai masalah tersebut merupakan hal yang saling berkaitan, yang pemecahannya
akan menjamin munculnya sebuah sistim pertanian baru yang perkebangannya tidak tergantung
pada teknologi yang berasal dari luar dan menjamin terjadinya peningkatan kesejahteraan
masyarakat tani.
Paradigma pembangunan pertanian baru yang dapat mencapai tujuan tersebut adalah
paradigm pembangunan pertanian yang melihat bahwa pembangunan suatu negara adalah
pembangunan yang mencerminkan kesejahteraan dari mayoritas penduduk negara itu.
Mayoritas penduduk negara-negara sedang berkembang adalah petani. Paradigma pembangunan
pertanian baru harus bertujuan untuk lebih menjamin keamanan pangan secara mandiri dan
berkelanjutan.
Ide dasar pengembangan ekonomi dengan memberikan prioritas utama pada kehidupan
mayoritas penduduk tersebut sejalan dengan saran yang diberikan oleh nobel laureat pada
bidang ekonomi tahun 2001--J osep E. Stiglitz pada saat memberikan kuliah umum tentang isu
ekonomi terkini dan dampaknya pada negara berkembang pada tanggal 14 Desember 2004 di
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-9-
J akarta atas prakarsa ISEI. Kebijakan apapaun yang diambil oleh pemerintah Indonesia
semestinya haruslah berkaitan dengan kepentingan mayoritas. Mayoritas penduduk Indonesia
masih tinggal di pedesaan dan mayoritas adalah petani. Kebijakan pertanian semestinya harus
didasarkan pada dinamika yang ada, yang menjadi fokus bukan lagi sekedar memproduksi
komoditi tetapi harus dilengkapi dengan penciptaan nilai tambah. Sehingga kalau akan
dikembangkan industrialisasi pun mestinya harus terkait dengan kepentingan petani itu.
Agar paradigma baru tersebut dapat mencapai tujuannya, dibutuhkan perubahan visi dan
kebijaksanaan dari pemerintah dan aparat pelaksanan dalam memahami proses-proses yang
hakiki dari suatu pembangunan pertanian.
Menurut Bahari (Kompas, 15 Maret 2994), persoalan pangan tidak hanya berkait dengan
konsumsi dan produksi tetapi juga soal daya dukung sektor pertanian yang komprehensif. Ada
empat aspek yang menjadi prasyarat melaksanakan pembangunan pertanian: (1) akses terhadap
kepemilikan tanah, (2) akses input dan proses produksi, (3) akses terhadap pasar dan (5)
akses terhadap kebebasan.
Dari ke-empat prasyarat tersebut, nampaknya yang belum dilaksanakn secara konsisten
adalah membuka akses petani dalam kepemilikan tanah dan membuka ruang kebebasan untuk
berorganisasi dan menentukan pilihan sendiri dalam berproduksi. Pemerintah hingga kini selalu
menghindari kedua hal itu karena dianggap mempunyai resiko tinggi. Kebijakan pemerintah
lebih banyak difokuskan pada produksi dan pasar.
Bahari lebih lanjut menjelaskan bahwa Orde Baru sejak kelahirannya yang menganut
ideologi ekonomi kapitalis cenderung melaksanakan pembangunan pertanian melalui
pendekatan jalan pintas (by pass approach), yaitu revolusi hijau tanpa reformasi
agrarian/pembaruan agraria. Karena itu, pembangunan tersebut lebih dikenal sebagai
development without social transition. Pertanian nampaknya tidak dipandang dalam aspek
menyeluruh, tetapi direduksi sekedar persoalan produksi, teknologi dan harga. Tanah sebagai
alas pembangunan pertanian tidak dianggap sebagai faktor amat penting. Kebijakan politik-
ekonomi orde baru menggunakan surplus pertanian guna mensubsidi sektor indutri lewat politik
pangan murah untuk menjaga stabilitas upah buruh demi mepercepat proses industrialisasi.
Namun ketika industri telah maju dan menghasilkan surplus, keuntungan tidak dikembalikan ke
sektor pertanian namun manfaat justru lebih banyak dinikmati oleh sektor industri.
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-10-
Apabila kita bercermin pada kisah sukses pembangunan pertanian J epang, Thailand,
Korea Selatan, Taiwan, China dan Vietnam, semuanya tidak terlepas dan diawali dengan
perombakan dan penataan kembali struktur panguasaan tanah yang timpang melalui program
reformasi agraria. Sektor pertanian mendapat manfaat dari surplus yang diinvestasikan kepada
sektor industri. Reformasi agraria sendiri mencakup redistribusi tanah kepada petani gurem dan
buruh tani, penataan produksi melalui pembangunan infra struktur pertanian, fasilitas
permodalan dan teknologi tepat guna, penguatan kelembagaan/organisasi petani dalam bentuk
koperasi atau asosiasi petani, dan proteksi terhadap produk-produk pertanian.

E. PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DAN PERMASALAHAN PETANI
Ibrahim (2002:169) merumuskan bahwa agribisnis adalah suatu sistim pertanian yang
menyangkut sub-sistim industri hulu, sub-sistim industri primer, sub-sistim industri hilir, dan
sub-sistim jasa-jasa yang melayani ketiga subsistim tersebut.
Subsistim agribisnis yang merupakan indutri hulu antara lain produsen sarana produksi,
sub-sistim produksi primer menyangkut budidaya pertanian atau produksi barang pertanian, sub-
sistim indutri hilir meliputi indutri pengolahan barang pertanian, dan subsistim jasa-jasa yang
terkait dengan pertanian seperti jasa perbankan, dan perdagangan barang pertanian.
Konsep agribisnis saat ini merupakan konsep yang cocok untuk melihat permasalahan
pertanian karena maju mundurnya pertanian semata-mata tidak hanya diakibatkan oleh
permasalahan teknis produksi saja namun banyak juga disebabkan oleh faktor diluar hal tersebut.
Pada akhirnya permasalahan kesejahteraan petani tidak hanya dipengaruhi oleh on-farm
agribusiness tetapi juga olah off-farm agribusiness.
Arifin (2001:100) menyatakan bahwa dunia agribisnis di negara-negara berkembang
termasuk di Indonesia umumnya merupakan suatu sistim pertanian rakyat dan hanya sedikit
saja yang berupa sistim perusahaan pertanian. Walaupun keduanya tidak dapat dipisahkan dan
sangat menentukan kinerja secara keseluruhan pertanian Indonesia, akan tetapi perbedaan pada
skala usaha, penguasaan teknologi, kemampuan manajemen, dan pespektif pemasaran sudah
cukup mewakili kenyataan bahwa keduanya merupakan entitas yang sangat berbeda.
Lebih lanjut Arifin menunjukkan bahwa walaupun jumlah dan nilai investasi di bidang
agribisnis di Indonesia menunjukkan kecenderungan peningkatan selama Pelita V, akan tetapi
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-11-
secara persentase masih sangat kecil. Kredit yang dikeluarkan pihak perbankan untuk investasi
di bidang agribisnis pada tahun 1995 hanya tercatat 7 persen dari total kredit yang disalurkan.
Permasalahan off-farm agribusiness yang dihadapi petani saat ini adalah mengalirnya
arus globalisasi. Makna globalisasi pada dasarnya adalah semakin menipisnya batas-batas
hubungan antar negara yang satu dengan negara yang lain dalam berbagai hal, antara lain dalam
hal ekonomi, politik, migrasi, komunikasi dan transportasi.
Pihak-pihak yang mendapat banyak keuntungan dari globalisasi berpendapat bahwa
globalisasi adalah kehidupan yang nyaman karena kehidupan antar negara hampir tanpa batas
ibaratnya sebuah desa saja (global village), tetapi sebaliknya pihak yang dirugikan berpendapat
bahwa kehidupannya penuh dengan kerugian dan mengalami banyak kehilangan sehingga
merasa mengalami sebagai penjarahan global (global pillage).
Nampaknya masyarakat tani di Indonesia juga tidak dapat menghindari arus perubahan
besar globalisasi oleh karena itu nampaknya tidak ada pilihan lain bagi petani kita, salah satu
cara yang biasa ditempuh adalah mengikuti dan memanfaatkan arus perubahan besar untuk
mengambil kesempatan secara maksimal.
Dampak arus globalisasi dalam bidang pertanian adalah ditandai dengan masuknya
produksi pertanian impor yang relatif murah karena diproduksi dengan cara efisien dan
pemberian subsidi yang besar pada petani di negara asalnya, produk tersebut membanjiri di
pasar-pasar domestik di Indonesia. Gejala perdagangan bebas ditandai dengan mengalirnya
beras, gula, kedele, jagung, ayam potong dari beberapa negara tetangga, bahkan akhir-akhir ini
udang-pun masuk dari China ke Indonesia.
Dalam prakteknya, meskipun ada ketentuan dan kesepahaman dasar bahwa dalam sistim
perdagangan bebas, diberlakukan larangan subsidi input maupun output, namun masih banyak
negara yang melanggar sehingga menciptakan persaingan yang tidak fair. Sebagai contoh
banyak petani-petani di Eropa dan Amerika mendapat subsidi yang sangat besar untuk
meproduksi jagung, gandum, produk hortikultura serta ternak unggasnya, selain itu J epang juga
memberikan proteksi yang luar biasa pada petani padinya. Sementara Indonesia dibawah tekanan
negara-negara donor dipaksa untuk menghapusakan berbagai subsidi termasuk di dalamnya
subsidi untuk sektor pertanian. Sebagai akibatnya sektor pertanian di Indonesia mendapatkan
tekanan baik dari dalam negeri sendiri dengan segala kebijakannya serta dari luar negeri dengan
masuknya produk pertanian impor yang murah karena disubsidi oleh negaranya.
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-12-
Beberapa masalah mendasar yang masih banyak dihadapi oleh petani dan sektor
pertanian di Indonesia adalah masih lemahnya interlinkage antara penyedia input, pasar, industri
pengolahan dan lembaga keuangan dengan para petani kita. Sebenarnya negara kita memiliki
potensi pertanian dan sumber bahan baku yang luar biasa namun belum dikelola dengan efisien.
Komoditas perikanan, perkebunan, tanaman pangan dan hutan yang luar biasa belum dikelola
secara profesional dan efisien untuk meningkatkan daya saing dan memberikan nilai tambah bagi
petani yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh petani pekebun kakao kita masih menjualnya
dalam bentuk biji kering serta perkebunan kelapa sawit kita yang merupakan produsen kelapa
sawit nomor dua di dunia (Kompas, 7 J uli 2004) juga masih menjual dalam bentuk produk
primer yang sudah barang tentu memiliki nilai tambah yang sangat rendah jika dibandingkan
dengan penjualan produk olahan.
Nampaknya secara garis besar kondisi pertanian kita masih harus mendapatkan perhatian
dan dukungan kebijakan yang jauh lebih serius oleh semua pihak sehingga mampu mencapai
kemandirian dan kelayakan sebagi sumber gantungan penghidupan sebagian besar masyarakat
kita. Keprihatinan kita akan kondisi pertanian secara mencolok dapat dilihat dari fakta meskipun
kita sebagai negara agraris dengan potensi sumberdaya yang luar biasa namun fakta
menunjukkan bahwa kita merupakan salah satu negara importir produk-produk pertanian
terbesar di dunia. Sebagai gambaran tentang impor negara kita atas produk-produk pertanian
seperti yang telah dilaporkan Kompas (7 Juli 2004) dapat dilihat pada Tabel 3.

F. PENGEMBANGAN SDM PETANI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TANI
Bagi negara-negara yang sedang berkembang, pembangunan pertanian pada abad 21
selain bertujuan untuk mengembangkan sistim pertanian yang berkelanjutan juga harus mampu
meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang akan menunjang sistim tersebut. Peningkatan
SDM tidak hanya dibatasi peningkatan produktivitas petani namun juga peningkatan
kemampuan petani agar dapat lebih berperan dalam proses pembangunan.
Salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian alam peningkatan SDM adalah
rendahnya partisipasi petani dalam pengambilan keputusan pembangunan pertanian. Hal ini
disebabkan oleh tidak adanya suatu organisasi petani yang memiliki kekuatan politik untuk
memperjuangkan kepentingan petani di forum nasional di negara-negara berkembang.
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-13-
Rendahnya produktivitas juga disebabkan adanya ketimpangan dalam pemilikan dan penguasaan
tanah tanah untuk proses produksi pertanian.
Tabel 3. Impor Indonesia atas Berbagai Produk Pertanian Tahun 2003
Nama Produk Jumlah Impor Keterangan
Beras 3,7 juta ton/tahun Nomor satu di dunia
Gula 1,6 juta ton/tahun Nomor dua di dunia
Kedele 1,3 juta ton/tahun
Bungkil 1 juta ton/tahun
Gandum 4,5 juta ton/tahun
J agung 1,2 juta ton/tahun
Ternak Sapi 4500.000 ekor/tahun
Tepung telur 30.000 ton/tahun
Susu bubuk 170.000 ton/tahun
Makanan olahan 1,5 miliar dolar US
Garam 1,5 juta ton/tahun
Singkong 0,85 juta ton/tahun
Kacang tanah 100.000 ton/tahun
Sumber: Kompas Halaman 15, Rabu 7 Juli 2004
Peningkatan sumberdaya manusia (SDM) dalam sektor pertanian mestinya tidak hanya
diarahkan pada peningkatan produktifitas petani, namun harus diarahkan pula pada peningkatan
partisipasi politik petani dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut
kepentingan mereka melalui organisasi petani yang mandiri. Peningkatan SDM juga terkait
dengan demokratisasi sistim politik, sosial dan ekonomi bagi para petani. Salah satu isu yang
perlu mendapatkan perhatian serius adalah land reform untuk meningkatkan akses petani
terhadap lahan dan produksi pertanian yang lebih efisien yang akhirnya juga akan meningkatkan
kesejahteraan petani.
Peran aktif pemerintah dalam hal ini aparat birokrasi dalam upaya peningkatan SDM
petani dapat diwujudkan dalam bentuk reorientasi sistim penyediaan layanan dan pendanaan
pada sistim penyebaran pengetahuan dan informasi pertanian. Revitalilsasi dan peningkatan
kinerja kelembagaan dan petugas penyuluh pertanian lapangan nampaknya akan memberikan
Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-14-
kontribusi positif bagi peningkatan SDM pertanian. Selain itu pemberian ruang yang cukup
untuk sektor swasta/private yang oleh para ahli sedang gencar didengungkan dan dikenal denga
privatization of agricultural extension dalam distribusi informasi pertanian akan mendorong
terciptanya penyediaan dan penyampaian informasi pertanian yang lebih efisien dan efektif
dalam suasana yang lebih kompetitif namun sehat. Hal ini secara lebih rinci dibahas pada paper
Subejo (2002).
Selain peningkatan SDM petani dan pertanian, dalam rangka menuju pembangunan
pertanian yang lestari perlu didukung oleh upaya pemberdayaan masyarakat pedesaan khususnya
yang terkait dengan pertanian (community empowerment). Subejo dan Supriyanto (2004:2-3)
secara sederhana mendefinisikan pemberdayaan masyarakat sebagai berikut: Pemberdayaan
masyarakat merupakan upaya yang disengaja untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam
merencanakan, memutuskan dan mengelola sumberdaya lokal yang dimiliki melalui collective
action dan networking sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian
secara ekonomi, ekologi, dan sosial.
Dalam pengertian yang lebih luas, pemberdayaan masyarakat merupakan proses untuk
memfasilitasi dan mendorong masyarakat agar mampu menempatkan diri secara proporsional
dan menjadi pelaku utama dalam memanfaatkan lingkungan strategisnya untuk mencapai
suatu keberlanjutan dalam jangka panjang. Pemberdayaan masyarakat memiliki keterkaitan erat
dengan sustainable development dimana pemberdayaan masyarakat merupakan suatu prasayarat
utama serta dapat diibaratkan sebagai gerbong yang akan membawa masyarakat menuju suatu
keberlanjutan secara ekonomi, sosial dan ekologi yang dinamis.
Lingkungan strategis yang dimiliki oleh masyarakat lokal antara lain mencakup
lingkungan produksi, ekonomi, sosial dan ekologi. Melalui upaya pemberdayaan, warga
masyarakat didorong agar memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sumberdaya yang
dimilikinya secara optimal serta terlibat secara penuh dalam mekanisme produksi, ekonomi,
sosial dan ekologi-nya untuk mencapai derajat kesejahteraan yang lebih tinggi.

G. REFERENSI

Arifin, Bustanul, 2001, Spektrum Kebijakan Pertanian Indonesia,: Telaah Struktur, Kasus, dan
Alternatif Strategi, Penerbit Erlangga.

Materi Studium General SORem 2005
Study on Rural Empowerment (SORem)--Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

-15-
Bahari, Samsul, 2004, Kegagalan Pembangunan Pertanian Indonesia, Kompas Edisi 15 Maret
2004.

Fauzi, Akhmad, Mencermati Implementasi UU Sumberdaya Air, Kompas Edisi 15 J uni 2004.

Ibrahim, J abal Tarik, 2002, Sosiologi Pedesaan, UMM Press

Kompas,2004, Industri Manufaktur Nasional: Merana di Negeri yang Kaya Bahan Baku,
Kompas Halaman 15, Edisi 7 J uli 2004

Kompas,2004, Stiglitz: Indonseia agar Fokus pada Kepentingan Jutaan Warga, Kompas Edisi 7
15 Desember 2004

Soetrisno, Loekman, 1999, Paradigma Baru Pembangunan Pertanian: Sebuah Tinjauan
Sosiologis, Penerbit Kanisius

Soba, Heri, 2003, Apa yang Bisa Dicapai dari WTO? Suara Pembaharuan Daily Edisi 8
September 2003

Soemarjan, Selo. 1993. Cultural Change in Rural Indonesia: Impact of Village Development.
Sebelas Maret University Press.

Subejo, 2002, Penyuluhan Pertanian Indonesia: Isu Privatisasi dan Implikasinya, J urnal Agro
Ekonomi Vol.9 (2):27-36, Desember 2002.

Subejo dan Supriyanto, 2004, Metodologi Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat, Short paper
disampaikan pada Kuliah Intensif Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan, Study on Rural
Empowerment (SoREM)--Dewan Mahasiswa Fak. Pertanian UGM tanggal 16 Mei 2004.

Yudohusodo, Siswono, 1999, Modernisasi Pertanian Merupakan Harga Mati, Kompas Edisi 22
Maret 1999.

Yustika, Ahmad Erani, 2003, Tragedi Petani dan Involusi Kebijakan Pertanian, Suara
Pembaharuan Daily Edisi 10 Oktober 2003.