Anda di halaman 1dari 140

1

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB I
PERSIAPAN (PREPARASI)


1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk membuat sampel dari semen dan
batu pasir yang kemudian digunakan untuk percobaan selanjutnya.

1.2 Teori Dasar
1.2.1 Mekanika Tanah
Ilmu Mekanika Tanah adalah ilmu yang alam perkembangan
selanjutnya akan mendasari dalam analisis dan desain
perencanaan suatu pondasi. Sehingga para siswa disini dituntut
untuk dapat membedakan antara mekanika tanah dengan teknik
pondasi.
Mekanika tanah adalah suatu cabang dari ilmu teknik yang
mempelajari perilaku tanah dan sifatnya yang diakibatkan oleh
tegangan dan regangan yang disebabkan oleh gaya-gaya yang
bekerja. Sedangkan Teknik Pondasi merupakan aplikasi prinsip-
prinsip Mekanika Tanah dan Geologi. , yang digunakan dalam
perencanaan dan pembangunan pondasi seperti gedung, jembatan,
jalan, bendung clan lain-lain. Oleh karena itu perkiraan dan
pendugaan terhadap kemungkinan adanya penyimpangan
dilapangan dari kondisi ideal pada mekanika tanah sangat penting
dalam perencanaan pondasi yang benar.
Agar suatu bangunan dapat berfungsi secara sempurna, maka
seorang insinyur harus bisa membuat perkiraan dan pendugaan
yang tepat tentang kondisi tanah dilapangan.
1.2.2 Mekanika Batuan
Banyak para ahli yang mendefinisikan mekanka batuan,
contohnya menurut Tablore dan Coates. Menurut Tablore
Mekanika batuan adalah sebuah teknik yang juga sebuah sains
yang tujuannya adalah mempelajari perilaku batuan ditempat
2

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
asalnya untuk dapat mengendalikan pekerjaan-pekerjaan yang
dibuat pada batuan tersebut, sedangkan menurut Coates
Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari efek dari gaya
atau tekanan pada sebuah benda. Secara umum Mekanika batuan
adalah ilmu yang mempelajari sifat dan perilaku batuan bila
dikenakan gaya atau tekanan.
1.2.3 Uji Kuat Tekan Uniaksial ( UCS )
Penekanan uniaksial terhadap contoh batuan selinder merupakan
uji sifat mekanik yang paling umum digunakan. Uji kuat tekan
uniaksial dilakukan untuk menentukan kuat tekan batuan (t ),
Modulus Young (E), Nisbah Poisson (v) , dan kurva tegangan-
regangan dengan cara contoh batuan berbentuk silinder ditekan
atau dibebani sampai runtuh. Perbandingan antara tinggi dan
diameter contoh silinder yang umum digunakan adalah 2 sampai
2,5 dengan luas permukaan pembebanan yang datar, halus dan
paralel tegak lurus terhadap sumbu aksis contoh batuan. Dari hasil
pengujian akan didapat beberapa data seperti ; Kuat Tekan
Batuan (
c
), Modulus Young ( E ), dan Nisbah Poisson ( Poisson
Ratio ).
1.2.4 Uji Geser Langsung
Kekuatan geser tanah (soil shear strength) dapat di definisikan
sebagai kemampuan maksimum tanah untuk bertahan terhadap
usaha perubahan bentuk pada kondisi tekanan (pressure) dan
kelembapan tertentu (Head, 1982). Kekuatan geser dapat diukur
dilapangan maupun dilaboratorium. Pengukuran dilapangan
antara lain dapat dilakukan menggunakan vane shear, plate load
dan test penetrasi. Pengukuran dilaboratorium meliputi
penggunaan miniatur vane shear, direct shear, triaxial
compression dan unconfined compression (sallberg, 1965) dan
fall-cone soil shear strength.
1.2.5 Uji Point Load ( Point Load Test )
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan ( strength )
dari percontoh batu secara tidak langsung dilapangan. Percontoh
3

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
batuan dapat berbentuk silinder. Peralatan yang digunakan mudah
dibawa-bawa, tidak begitu besar dan cukup ringan.
1.2.6 Uji Sifat Fisik
Tujuan dari pengujian sifat fisik diantaranya : Untuk Mendapatkan
sifat-sifat fisik batuan di laboratorium dengan peralatan yang
tersedia, seperti :
Bobot isi asli ( natural density )
Bobot isi kering ( dry density )
Bobot isi jenuh ( saturated density )
Berat jenis sejati ( apparent specific gravity )
Berat jenis sejati ( true specific gravity )
Kadar air asli ( natural water content )
Kadar air jenuh ( saturated water content )
Derajat kejenuhan ( degree of saturation )
Porositas
Void ratio

1.3 Alat dan Bahan
1.3.1 Membuat Sampel Semen
Adapun alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
Paralon Plastik
Ember
Adukan
Tali Rapia
Bahan-bahan yang digunakan sebagai berikut :
Semen
Pasir
Air
1.3.2 Pemotongan Sampel Semen
Peralatan yang digunakan pada pemotongan sampel semen
adalah mesin pemotong ( cutting machine ) dengan panjang
diameter pemotongan 4 kali diameter core, digerakan dengan
4

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
motor 3 fase. Dilengkapi dengan aliran air yang berfungsi sebagai
pembilas dan untuk mendinginkan edge.
1.3.3 Mengukur Kerataan Sampel
Peralatan yang akan digunakan alat uji kerataan permukaan yang
dilengkapi dengan dial guage
1.3.4 Mengukur Diameter dan Tinggi Sampel
Alat yang digunakan adalah jangka sorong dengan ketelitian
tertentu

1.4 Prosedur
1.4.1 Pembuatan Sampel Semen
a. Siapkan paralon yang sebelumnya sudah diukur dengan
ukurannya masing-masing
b. Campur pasir dengan semen dan air untuk membuat adonan
semen
c. Masukkan adonan semen tersebut kedalam paralon, sesuai
dengan ukuran dan perbandingan komposisi semennya.
Untuk sampel besar berbanding 1 bagian pasir dengan 5
bagian semen, sampel sedang berbanding 1 bagian pasir
dengan 3 bagian semen, dan sampel kecil berbanding 1
bagian pasir dengan 1 bagian semen.
d. Diamkan selama satu minggu, untuk selanjutnya dikeluarkan
dari cetakan paralaon
e. Maka hasil akhirnya adalah sampel yang terbuat dari
campuran semen dan pasir dengan perbandingan yang
berbeda-beda dan berbentuk silinder.
1.4.2 Pemotongan Sampel Semen
a. Letakkan core dengan posisi horizontal dan disesuaikan
dengan alas yang ada pada setting mesin.
b. Kemudian batuan dijepit supaya sewaktu melakukan
pemotongan core silinder tidak bergerak
c. Alirkan air dengan debit konstan sesuai dengan jenis batuan
yang akan dipotong
5

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
d. Injak pedal pemotong untuk mendekatkan cutting edge
dengan batuan secara langsung perlahan-lahan
memperlihatkan kemajuan edge dalam pemotongan specimen
e. Perhatikan kondisi pemotongan sampai samprl yang akan
diambil sesuai dengan ukuran yang dikehendaki
f. Maka hasil akhir yang didapat adalah core dengan panjang
minimal dua kali diameter.

Foto 1.1
Pemotongan Sampel Menggunakan cutting machine

1.4.3 Mengukur Kerataan Sampel
a. Core diletakan horizontal disesuaikan dengan bentuk letak
roda-roda yang ada pada alat tersebut.
b. Kemudian core dihimpitkan dengan panel kerataan yang ada
dekat dial gauge.
c. Perhatikan angka yang ditunjukan dengan dial gauge,
kemudian setel gauge sehingga menunjukan angka 0.
d. Putar core sedikit demi sedikit dan perhatikan perubahan
kerataannya dilihat dari jarum gauge.
e. Syarat utama, jangan sampai dial gauge melebihi satu
putaran atau kemiringan sample lebih dari 1 mm.
6

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
f. Jika dari uji kerataan diperoleh nilai melebihi 2 mm atau lebih,
maka dilakukan peralatan dengan diampelas atau jika terlalu
besar dilakukan pemotongan ulang.
g. Lakukan prosedur a hingga e sampai didapat kerataan sample
maksimal kurang dari 1 mm.
h. Maka hasil yang didapatkan adalah core yang mempunyai
kerataan yang benar-benar sesuai dengan syarat uji
selanjutnya.

Foto 1.2
Perataan Sampel Menggunakan Gerinda

1.4.4 Mengukur Diameter dan Tinggi Sampel
a. Lakukan pengukuran panjang sample sebanyak 3 kali
pengukuran untuk setiap sample.
b. Kemudian lakukan pengukuran diameter sample, minimal 3
kali pengukuran setiap ujungnya.
c. Hasil pengukuran dilihat kembali, jika ada yang melebihi dari
dari ukuran yang diizinkan, maka harus dilakukan
pemotongan kembali atau cukup diampelas jika hanya sedikit.
d. Maka hasil yang didapatkan core yang mempunyai kerataan
yang benar-benar sesuai dengan syarat uji selanjutnya.





7

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1.5 Hasil Pengamatan
Sampel Semen
Tabel 1.1
Data Sampel Semen Ukuran Besar
Besar
Pengukuran Ke Panjang (Cm) Diameter (Cm)
1 14,48 7,24
2 11,44 5,72

Tabel 1.2
Data Sampel Semen Ukuran Kecil
Kecil
Pengukuran Ke Panjang (Cm) Diameter (Cm)
1 14,62 7,31
2 11,52 5,76


Foto 1.3
Sampel Semen Ukuran Besar,dan kecil


Sampel Batu Pasir
Tabel 1.3
Data Sampel Batu Pasir Uji Sifat Fisik 1 dan 2
Pengukuran ke
Sifat Fisik 1 Sifat Fisik 2
Diameter (Cm) Diameter (Cm)
1 6,1 6
2 6,05 6
8

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG


Foto 1.4
Sampel Batu Pasir Uji Sifat Fisik 1 dan 2

Tabel 1.4
Data Sampel Batu Pasir Uji Kuat Tarik 1 dan 2
Pengukuran Ke
Kuat Tarik 1 Kuat Tarik 2
Diameter (Cm) Diameter (Cm)
1 6,1 6
2 6,05 6



Foto 1.5
Sampel Batu Pasir Uji Kuat Tarik 1 dan 2

Tabel 1.5
Data Sampel Batu Pasir Uji Point Load 1 dan 2
Pengukuran Ke
Point Load 1 Point Load 2
Diameter (Cm) Diameter (Cm)
1 5,25 5,5
2 5,12 5,34

9

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Foto 1.6
Sampel Batu Pasir Uji Point Load 1 dan 2


Tabel 1.6
Data Sampel Batu Pasir Uji Kuat Geser 1 dan 2
Pengukuran
Ke
Kuat Geser 1 Kuat Geser 2
Diameter (Cm) Diameter (Cm)
1 10,2 10,7
2 10,17 10,62


Foto 1.7
Sampel Batu Pasir Uji Kuat Geser 1,dan 2






10

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1.6 Analisa
Pada praktikum kali ini hanya melakukan persiapan untuk melakukan
percobaan selanjutnya. Untuk sampel semen digunakan pada saat
melakukan percobaan uji kuat tekan uniaksial ( UCS ). Pada saat
pembuatan sampel semen harus rata dan rapi sehingga sampai harus
digerinda, yang bertujuan untuk meratakan bagian dari permukaan
sampel, agar sampel bisa didirikan atau bisa berdiri tegak dengan
permukaannya yang halus.
Untuk sampel dari batu pasir digunakan untuk percobaan sifat fisik, kuat
tarik, kuat geser, dan point load. Pada sampel uji kuat geser, sampel
harus dibagi dua, yang bertujuan untuk bisa mengetahui seberapa kuat
geser tanah.

1.7 Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum ini dapat disimpulkan bahwa, praktikum ini
hanya mempersiapkan untuk percobaan selanjutnya dengan cara
membuat sampel dari semen dan sampel dari batu pasir. Untuk sampel
semen digunakan untuk percobaan uji kuat tekan uniaksial atau UCS.
Untuk sampel dari batu pasir digunakan untuk percobaan kuat geser, kuat
tekan, kuat tarik, dan pont load.













11

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB II
SIFAT FISIK BATUAN

2.1 Tujuan
Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisik dari
batuan. Cara ini dapat digunakan terhadap batuan yang tidak mudah hancur,
mengembang dan melekat satu dengan yang lainnya, serta tidak meresap air
bila dipanaskan.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Definisi Sifat Fisik Batuan
Terdapat dua jenis sifat yanga ada pada batuan, yaitu sifat fisik dan sifat
mekanik. Sifat mekanik hanya bias kita ketahui melalui pengujian pengujian
pada sampel batuan yang ingin kita ketahui informasinya. Informasi ini
diantaranya data kekuatan sampel apabila diberi gaya atau diberi tegangan. Data
inilah yang dinamakan sifat mekanik, karena untuk mengetahui data mekanik kita
harus memberikan gaya untuk mengujinya. Sementara itu sifat yang kedua
adalah sifat fisik dimana data yang kita cari informasinya bisa kita peroleh dari
sampel tanpa melakukan gaya atau tekanan terhadap sampel batuan tersebut.
Berikut adalah sifat Fisik Batuan :
a. Bobot isi asli ( Natural Density ) = Wn / ( Ww Ws )
b. Bobot isi kering ( dry density ) = Wo / ( Ww Ws )
c. Bobot isi jenuh ( saturated density ) = Ws / ( Ww Ws )
d. Apparent Specific gravity = (Bobot isi kering / bobot isi air )
e. True Specific gravity = [ Wo / (Wo-Ws) ] / bobot isi air
f. Kadar air asli = [ (Wn-Wo) / Wo ] x 100 %
g. Derajat Kejenuhan = {(Wn-Wo) / (Ww-Wo)} x 100 %
h. Porositas n = { (Ww-Wo) / (Ww-Ws) } x 100 %
i. Void Ratio : e = n / ( 1 n )


12

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2.2.2 Porositas
Porositas didefinisikan sebagai perbandingan volume pori-pori (volume
yang ditempati oleh fluida) terhadap volume total batuan. Jadi semakin tinggi nilai
porositas akan menunjukan semakin banyak rongga atau ruang kosong di dalam
batuan. Terdapat dua jenis porositas yaitu porositas antar butir dan porositas
rekahan. Sebagai contoh, apabila batuan mempunyai media berpori dengan
volume 0,001 m3, dan media berpori tersebut dapat terisi air sebanyak 0,00023
m3, maka porositasnya adalah: 0.23 x 100% = 23 %
Pada kenyataannya, porositas didalam suatu sistem panasbumi sangat
bervariasi. Contohnya didalam sistem reservoir rekah alami, porositas berkisar
sedikit lebih besar dari nol, akan tetapi dapat berharga sama dengan satu (1)
pada rekahannya. Pada umumnya porositas rata-rata dari suatu sistem media
berpori berharga antara 5 30%.
2.2.3 Kecepatan Aliran Fluida
Kecepatan aliran darcy atau flux velocity (v) adalah laju alir rata-rata
volume flux per satuan luas penampang di media berpori. Sedangkan kecepatan
rata-rata fluida yang melalui media berpori dikenal sebagai interstitial velocity (u).
Hubungan antara kedua parameter kecepatan tersebut adalah sebagai berikut:
Harga flux velocity pada umumnya sekitar 10-6 m/s. Besarnya interstitial
velocity digunakan untuk kecepatan suatu partikel (partikel kimia penjejak atau
tracer) yang mengalir pada media berpori.
2.2.4 Permeabilitas
Permeabilitas adalah parameter yang memvisualisasikan kemudahan
suatu fluida untuk mengalir pada media berpori. Parameter ini dihubungkan
dengan kecepatan alir fluida oleh hukum Darcy.
Tanda negatif dalam persamaan di atas menunjukkan bahwa apabila
tekanan bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya berlawanan arah
dengan pertambahan tekanan tersebut. Dari persamaan (2.3) dapat dinyatakan
bahwa kecepatan alir fluida (kecepatan flux) berbanding lurus dengan k/m,
dimana didalam teknik perminyakan, k/m dikenal sebagai mobility ratio.
Permeabilitas mempunyai arah, dimana ke arah x dan y biasanya mempunyai
permeabilitas lebih besar dari pada ke arah z. Sistem ini disebut anisotropic.
13

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Apabila permeabilitas tersebut seragam ke arah horizontal maupun
vertikal disebut sistem isotropik. Satuan permeabilitas adalah m2. Pada
umumnya pada reservoir panasbumi, permeabilitas vertikal berkisar antara 10-14
m2, dengan permeabilitas horizontal dapat mencapai 10 kali lebih besar dari
permeabilitas vertikalnya (sekitar 10-13 m2). Satuan permeabilitas yang umum
digunakan didunia perminyakan adalah Darcy (1 Darcy = 10-12 m2).
2.2.5 Densitas Batuan
Densitas batuan dari batuan berpori adalah perbandingan antara berat
terhadap volume (rata-rata dari material tersebut). Densitas spesifik adalah
perbandingan antara densitas material tersebut terhadap densitas air pada
tekanan dan temperatur yang normal, yaitu kurang lebih 103kg/m3.
2.2.6 Sampel Uji Sifat Fisik
Pada umumnya sifat fisik batuan seperti bobot isi Spesific Gravity,
porositas, dan absorbsi Void Ratio dapat digunakan untuk menentukan kedua
sifat batuan. Pertama-tama adalah penetuan sifak fisik batuan yang merupakan
pengujian tanpa merusak (Non Destructive Test), kemudian dilanjutkan dengan
penentuan sifat mekanik batuan yang merupakan pengujian merusak
(Destructive Test) sehingga contoh fasture (hancur).
Pembutan contoh batuan dapat dilakukan dilaboratorium maupun
dilapangan (insitu). Pembuatan percontohan dilaboratorium dilakukan dari blok
batuan yang diambil dilapangan hasil pemboran Core (inti). Sampel yang didapat
berbentuk selinder dengan diameter pada umumnnya antara 50-70 mm dan
tingginya dua kali diameter tersebut. Ukuran percontohan dapat lebih kecil dari
ukuran yang disebut diatas tergantung maksud pengujian.
Batu Pasir terbentuk dari sementasi dari butiran-butiran pasir yang
terbawa oleh aliran sungai, angin, dan ombak dan akhirnya terakumulasi pada
suatu tempat. Ukuran butiran dari batu pasir ini 1/16 hingga 2 milimeter.
Komposisi batuannya bervariasi, tersusun terutama dari kuarsa, feldspar atau
pecahan dari batuan, misalnya basalt, riolit, sabak, serta sedikit klorit dan bijih
besi.Batu pasir tahan terhadap cuaca tapi mudah untuk dibentuk. Hal ini
membuat jenis batuan ini merupakan bahan umum untuk bangunan dan jalan.
Karena kekerasan dan kesamaan ukuran butirannya, batu pasir menjadi bahan
yang sangat baik untuk dibuat menjadi batu asah (grindstone) yang digunakan
untuk menajamkan pisau dan berbagai kegunaan lainnya. Bentukan batuan yang
14

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
terutama tersusun dari batu pasir biasanya mengizinkan perkolasi air dan
memiliki pori untuk menyimpan air dalam jumlah besar sehingga menjadikannya
sebagai akuifer yang baik selain itu batu pasir kuarsa berguna pencampur
semen.
Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket apabila
basah terkena air dan sulit diolah. Ini disebabkan lempung mengandung partikel
yang berukuran sangat kecil sehingga lebih padat karena ikatan partikel di
dalamnya lebih erat. Karena memiliki sifat seperti itu, tanah akan terasa berat
dan susah diolah terutama di musim penghujan, namun tanah ini akan menjadi
sangat keras dan pecah di musim kemarau. Bahkan karena sifatnya itu, air lebih
sulit meresap sehingga mempunyai kemampuan untuk menahan air dan unsur
hara cukup baik, tidak terlalu lekat dan keras sehingga mudah untuk dikerjakan
sebagai usaha tani padi sawah. batu lempung atau tanah liat adalah untuk
digunakan sebagai bahan baku pembuatan keramik, genteng, batu bata.

2.3 Alat-Alat yang Digunakan
a. Desikator, digunakan untuk menyedot udara yang ada pada pori-
pori specimen
b. Pemanas (oven) dengan temperatur 105 C s/d 110 C, digunakan
untuk memanaskan specimen selama kurang lebih 24 jam
c. Jangka sorong, untuk mengukur diameter dan panjang specimen
d. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
e. Pompa vacum, untuk menjenuhkan specimen
f. Stopwatch

2.4 Prosedur
1. Siapkan 6 7 spesimen yang berbentuksilinder
2. Volume batuan diukur dengan menentukan dimensinya
menggunakan jangka sorong
3. Spesimen dijenuhkan dalam tabung vacum dengan daya isap
kurang dari 0,008 kg/cm
2
selama 24 jam
4. Batuan diangkat dari tempat pemvacuman setelah penjenuhan 24
jam
15

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
5. Batuan dicuci untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada
batuan tersebut dan dikeringkan dengan lap bersih dan kering
6. Kemudian dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat jenuh
tergantung pada tiap-tiap batuan dengan terlebih dahulu
menimbang cawan timbangan
7. Dilakukan penimbangan berat jenuh tiap-tiap batuan
8. Selanjutnya batuan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105C
-110 C selama kurang lebih 24 jam
9. Setelah di oven selama 24 jam batuan diangkat dari oven untuk
melakukan penimbangan berat kering, dilakukan setelah batuan itu
didinginkan terlebih dahulu.

2.5 Data Percobaan
Sampel I
Berat Container : 14,2 gram
Berat Pasir : 155,6 gram
Berat Jenuh : 159,1 gram
Berat Jenuh Tergantung : 39,1 gram
Berat Container Kering Tergantung : 6,4 gram
Berat Kering : 153,5 gram

Sampel II
Berat Container : 13,4 gram
Berat Pasir : 156,4 gram
Berat Jenuh : 165,8 gram
Berat Jenuh Tergantung : 50 gram
16

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Berat Container Kering Tergantung : 6,3 gram
Berat Kering : 160,5 gram

2.6 Pengolahan Data
Sampel I
Wn = Berat Pasir - Berat Container
= 155,6 gram 14,2 gram
= 141,4 gram
Ww = Berat Jenuh Berat Container
= 159,1 gram -14,2 gram
= 144,9 gram
Ws = Berat Tergantung Jenuh - Berat Container Kering Tergantung
= 39,1 gram 6,4 gram
= 32,7 gram
Wo = Berat kering - Berat Container Kering Tergantung
= 1533,5 gram 14,2 gram
= 139,3 gram

Berat isi asli
n =


=



=


= 1,26 gram

Berat isi jenuh
s =


=



17

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
=


= 1,291 gram

Bobot isi kering
d =


=



=


= 1,241 gram
Apparen =



=



= 0,984 gram/cc

True =

/ bobot asli
=


/ 1,26 gram
=



= 1,037 gram/cc

Kadar air asli
W =

x 100%
=


x 100%
=


x 100%
= 1,507 %
18

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Kadar air jenuh
A =

x 100%
=

x 100%
=


x 100%
= 4,02%

Derajat kejenuhan
S =


x 100%
=


x 100%
=


x 100%
= 37,5%

Porositas
n =


x 100%
=


x 100%

=


x 100%
= 0,04991x 100%
= 4,991%

Void ratio
e =


19

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
=


= 0,0525

Sampel II
Wn = Berat Pasir - Berat Container
= 156,4 gram 13,4 gram
= 143 gram
Ww = Berat Jenuh Berat Container
= 165,8 gram -13,4 gram
= 152,4 gram
Ws = Berat Tergantung Jenuh - Berat Container Kering Tergantung
= 50 gram 6,3 gram
= 43,7 gram
Wo = Berat kering - Berat Container Kering Tergantung
= 160,5 gram 13,4 gram
= 147,1 gram

Berat isi asli
n =


=



=



= 1,315 gram
Berat isi jenuh
s =


=



=


= 1,402 gram
20

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Bobot isi kering
d =


=



=


= 1,353 gram

Apparen =



=



= 1,02 gram/cc

True =

/ bobot asli
=


/ 1,315 gram
=



= 1,082 gram/cc

Kadar air asli
W =

x 100%
=


x 100%
=


x 100%
= 2,787 %



21

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Kadar air jenuh
A =

x 100%
=

x 100%
=


x 100%
= 3,602%

Derajat kejenuhan
S =


x 100%
=


x 100%
=


x 100%
= 77,358%

Porositas
n =


x 100%
=


x100%
=


x 100%
= 0,04875 x100%
= 4,875%







22

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2.7 Analisa
Pada percobaan ini sampel yang digunakan adalah batu pasir yang telah
dipersiapkan pada percobaan sebelumnya. Untuk melakukan percobaan
ini sampel harus divakum terlabih dahulu, yang bertujuan untuk menyedot
atau menghilangkan udara yang berada didalam rongga-rongga sampel.
Pada saat sampel divakum harus berada didalam air, agar udara-udara
yang berada didalam sampel hilang dan rongga-rongga udara tadi
langsung tergantikan oleh air, dengan demikian maka akan didapatkan
berat jenuh. Setelah divakum sampel di oven selama 24 jam yang
bertujuan untuk menghilangkan atau membuang air didalam sampel,
dengan demikian sampel menjadi kering dan berat kering dari sampel
bisa diketahui.
Percobaan ini menggunakan 2 sampel yang sama untuk melihat
perbandingan yang terdapat pada kedua sampel tersebut. Pada sampel
pertama dan kedua selisih berat sampel tidak jauh berbeda. Faktor
kemungkinan kesalahan data mungkin terdapat pada penimbangan
sampel. Mungkin pada saat penimbangan, ada bagian sampel yang patah
atau pecah sehingga sampel tidak tertimbang semua.

2.8 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa sifat fisik
batuan bisa diketahui dengan cara menimbang sampel dalam keadaan
jenuh, menimbang sampel dalam keadaan jenuh tergantung, menimbang
berat kering sampel, dan menimbang sampelnya saja.










23

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB III
SIFAT MEKANIS BATUAN


3.1 Uji Kuat Tekan Uniaxial
3.1.1 Tujuan
Untuk mengukur kuat tekan tertinggi yang bisa diterima batuan yang
membebaninya pada sumbu axial, mengukur deformasi axial dan diameteral
untuk bisa mendapatkan nilai sifat elastisitas dan karakteristik dari batuan.

3.1.2 Landasan Teori
Pada pengujian ini dengan mempergunakan mesin tekan gunanya untuk
menekan contoh sampel batuan yang berbentuk silinder, balok ataupun prisma
dari satu arah atau uniaxial. Sebaran tegangan pada contoh sampel batuan
secara teoritis yaitu searah dengan gaya yang di kenakan pada contoh sampel
tersebut, tapi juga dalam aslinya arah tegangan tidak searah deangan gaya yang
di kenakan pada contoh sampel karena diakibatkan adanya pengaruh dari plat
penekan mesin tekan yang menghimpit sampel.
Ada beberapa istilah dan definisi yang berkaitan dengan uji kuat tekan
uniaxial yaitu :
Kondisi runtuh benda uji
Suatu peristiwa yang ada pada pengujian kuat tekan batu dimana pada
pembacaan manometer beban sumbu sudah dapat menghasilkan
penurunan beban sumbu pada saat setelah pembacaan maksimum sudah
tidak mampu dapat dicapai lagi.
Kuat tekan
Besarnya beban pada sumbu maksimum per satuan luas yang bisa ditahan
oleh benda uji tersebut sehingga terjadi keruntuhan dan dinyatakan dalam
satuan MPa. Antara batuan dengan sinar matahari, air dan perubahan
cuaca bisa mengakibatkan adanya pelapukan ataupun perapuhan pada
batuan maupun mineral penyusunnya. Pelapukan dan perapuhan ini
mengakibatkan kekuatan pada batuan menurun. Kejadian berhubungan
24

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
antara kuat tekan uniaksial (UCS) atau porositas batuan dengan Slake
Durability Index pada contoh batuan, adalah batu lempung dan batu
lempung kelanauan. Batasan masalah yang terjadi contoh batuan yang
akan diuji yaitu batu lempung dan batu lempung kelanauan hal ini dititik
beratkan kepada porositas, kuat tekan batuan (UCS), dan ketahanan
contoh batuan terhadap slaking. Pengujian dilakukan untuk dapat
mengetahui hubungan antara kuat tekan batuan (UCS) dan porositas
dengan Slake Durability Index. Pelapukan batuan Slake Durability Index
Sifat Fisik Bobot isi spesifik gravity kadar air porositas yaitu merupakan
perbandingan antara dari volume rongga di dalam batuan dengan volume
total batuan. Porositas suatu batuan dinyatakan dalam persen (%). Void
ratio (e) Kuat Tekan Batuan (UCS) Kekuatan contoh pada batuan dengan
pembebanan sampai dengan batas kekuatan maksimum dari batuannya itu
sendiri dipengaruhi oleh dimensi contohnya batuan. Pelapukan perusakan
batuan di kulit bumi karena adanya pengaruh cuaca (suhu, curah hujan,
kelembaban, atau angin), penghancuran batuan dari bentuk gumpalan
menjadi bentuk butiran yang lebih kecil bahkan bisa menjadi hancur
ataupun larut dalam air. Adapun macam-macam elapukan yaitu pelapukan
mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis. Pelapukan mekanis
yaitu proses penghancuran batuan secara fisik tanpa adanya perubahan
kimiawi. Pelapukan kimiawi yaitu proses pelapukan dimana pada batuan
mengalami perubahan kimiawi yang pada umumnya berupa pelarutan.
Pelapukan biologis atau biasa disebut juga pelapukan organis yaitu terjadi
akibat adanya proses organis Slake Durability Index.
Stabilisasi Tanah Dengan Semen
Stabilisasi tanah dengan semen yaitu suatu campuran berasal dari tanah
yang dihancurkan, semen dan air yang kemudian dikerjakan proses
pemadatan yang dapat memperoleh suatu bahan yang baru yang disebut
tanah semen ( soil cement ). Pada stabilisasi tanah dengan semen, semen
tidak hanya berperan untuk mengisi pori-pori tanah, tetapi juga semen
menempel pada bagian bidang-bidang kontak antara butiran-butiran tanah
dan fungsinya yaitui sebagai bahan pengikat yang kuat. Proses interaksi
antara tanah dengan semen yaitu sebagai Absorpsi air dan reaksi
pertukaran ion bahwa sebuah partikel semen yang kering yang tersusun
25

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
secara heterogen dan memiliki isi kristal-kristal 3CaO.SiO2, 4CaO.SiO4,
3CaO.Al2O3 dan dari bahan-bahan yang padat yang berupa
4CaO.Al2O3Fe2O3. Jika semen dicampurkan pada tanah, ion kalsium
Ca+++ akan dilepaskan melalui proses hidrolisa dan pertukaran ion akan
berlanjut pada permukaan partikel-partikel lempung. Dengan melalui reaksi
ini partikel-partikel lempung akan menggumpal sehingga mengakibatkan
konsistensi tanah akan menjadi lebih baik, pada reaksi terbentuknya
kalsium silikat dari reaksi-reaksi kimia yang berlangsung, maka pada reaksi
utama yang berkaitan dengan kekuatan yaitu hidrasi dari A-lite
(3CaO.SiO2) dan B-lite (2CaO.SiO2) yang terdiri dari kalsium silikat dan
melalui proses hidrasi tadi hidrat-hidrat seperti contohnya kalsium silikat
dan aluminat terbentuk. Senyawa-senyawa seperti ini berperan dalam
pembentukan ataupun pengerasan, reaksi pozzolan kalsium hidroksida
yang dihasilkan pada proses hidrasi akan bisa membentuk reaksi dengan
tanah (reaksi pozzolan) yang sifatnya memperkuat ikatan antara partikel,
karena berfungsi sebagai pengikat.
Reaksi Pertukaran Ion
Butiran lempung pada kandungan tanah memiliki bentuk halus dan
bermuatan negatif. Ion positif seperti contohnya ion hidrogen, ion sodium,
ion kalsium serta air yang berpolarisasi, semuanya melekat di permukaan
butiran-butiran lempung. Jika kapur dicampurkan dengan tanah dengan
kondisi seperti diatas tersebut, maka pertukaran ion akan segera terjadi
dan ion sodium yang berasal dari kapur akan diserap oleh permukaan
butiran lempung. Hal ini diikuti oleh flokulasi butir-butir lempung menjadi
bentuk gumpalan-gumpalan butir kasar yang gembur. Efeknya yaitu pada
umumnya dap[at menambah batas plastis dan memperkecil batas cair.
Efek dari keseluruhan yaitu memperkecil indeks plastis.
Penekanan Uniaksial
Penekanan uniaxial terhadap contoh batuan silinder yaitu salah satu
merupakan uji sifat mekanik yang biasa umum digunakan. Uji kuat tekan
uniaksial dikerjakan untuk bisa menentukan kuat tekan batuan (t ),
Modulus Young (E), Nisbah Poisson (v) , dan kurva tegangan-regangan.
Contoh dari batuan berbentuk silinder yang ditekan ataupu dibebani
sampai runtuh. Perbandingan dari tinggi dan diameter contoh silinder yang
26

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
biasa dipakai yaitu 2 sampai 2,5 dan luas permukaan pembebanan harus
yang datar, halus dan paralel tegak lurus dengan sumbu aksis contoh
batuan.
Modulus Young ( E )
Modulus Young atau modulus elastisitas yaitu merupakan faktor yang
sangat penting dalam untuk mengevaluasi deformasi dari batuan pada
kondisi pembebanan yang bervariasi. Nilai dari modulus elastisitas batuan
sangat bervariasi dari satu contoh batuan dari satu daerah geologi yang
satu ke daerah geologi yang lainnya dikarenakan adanya perbedaan dalam
hal formasi batuan dan genesa atau mineral pembentuknya. Modulus
elastisitas yang dipengaruhi oleh tipe batuan, porositas, ukuran partikel,
dan kandungan air. Modulus elastisitas akan lebih tinggi nilainya apabila
diukur dengan tegak lurus perlapisan daripada diukur sejajar dengan arah
perlapisan. Modulus elastisitas biasa dihitung dari perbandingan tegangan
aksial dengan regangan aksial. Modulus elastisitas bisa ditentukan yang
didasarkan pada persamaan :
=:a
Keterangan: E = Modulus elastisitas (MPa)
. = Perubahan tegangan (MPa)
a = Perubahan regangan aksial (%)
Terdapat tiga cara yang bisa dipakai untuk bisa menentukan nilai modulus
elastisitas yaitu : Tangent Youngs Modulus, yaitu suatu perbandingan
antara tegangan aksial dengan regangan aksial yang dihitung dengan
persentase yang tetap dari nilai kuat tekan. Umumnya biasa diambil 50%
dari nilai kuat tekan uniaksial. Youngs Modulus, adalah perbandingan
tegangan aksial dengan perbandingan regangan aksial yang dihitung
dengan pada bagian linier dari kurva tegangan- tegangan. Secant Youngs
Modulus, adalah perbandingan antara tegangan aksial dengan regangan
aksial yang dihitung dengan membuat garis lurus yang dimulai dari
tegangan nol ke suatu titik pada kurva regangan-tegangan dalam
persentase yang tetap dari nilai kuat tekan. Yang umumnya biasa diambil
50% dari nilai kuat tekan uniaksial.


27

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Nisbah Poisson ( Poisson Ratio )
Nisbah Poisson yaitu sebagai suatu perbandingan negatif antara regangan
lateral dan regangan aksial. Nisbah Poisson bisa menunjukkan adanya
suatu pemanjangan ke arah lateral (lateral expansion) akibat dari adanya
tegangan didalam arah aksial. Sifat pada mekanik ini bisa ditentukan
dengan memakai persamaan :
V=l:a
Keterangan: V = Nisbah Poisson
l = regangan lateral (%)
a = regangan aksial (%)
Pada pengujian kuat tekan uniaksial ini terdapat suatu tipe pecah contoh
pada batuan saat runtuh. Tipe pecah pada batuan tergantung pada tingkat
ketahanan contoh pada batuan dan kualitas permukaan contoh batuan yang
bersentuhan secara langsung dengan permukaan alat penekan pada saat
pembebanan. Uji kuat tekan uniaksialdapat menghasilkan tujuh tipe pecah, yaitu
diantaranya :
a. Cataclasis
b. Belahan arah aksial
c. Hancuran kerucut
d. Hancuran geser
e. Hancuran geser dari sudut ke sudut
f. Kombinasi belahan aksial dan geser
g. Serpihan mengulit bawang dan menekuk

3.1.3 Alat dan Bahan Percobaan
a. Alat
Mesin kuat tekan untuk menekan percontoh yang berbentuk silinder,
balok atau prisma dari satu arah secara menerus/kontinu hingga
spesimen pecah.
Sepasang plat baja berbentuk silinder yang diletkan pada kedua ujung
spesimen dengan diameter yang sama.
Dial gague untuk mengukur deformasi axial dan diameteral.


28

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
b. Bahan
sampel yang akan di uji

Foto 3.1
Sampel UCS

3.1.4 Prosedur
a. Contoh batuan yang akan digunakan dalam uji ini disiapkan dengan
ukuran dimensi panjang minimal dua kali diameter perconto.
b. Spesimen diletakan diantara plat baja dan diatur agar tepat dengan
platform penekanan alat, kemudian mesin dinyalakan sehingga spesimen
berada ditengah-tengah apitan plat baja dan pastikan bahwa kedua
permukaan spesimen telah menyentuh plat baja tersebut.

Foto 3.2
Pemasangan Sampel Pada alat
29

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
c. Skala pengukuran bebas harus ditetapkan pada keadaan netral (nol).
d. Pada alat kuat tekan dipasang tiga buah dial gauge, pemasangan alat
inidimaksudkan untuk mengukur deformasi aksial, deformasi lateral kiri dan
pengukuran deformasi lateral kanan.

Foto 3.3
Pemasangan Alat Dial Gauge

e. Baca jarum penunjuk pembebanan pada axial dial gauge per 30 detik dan
catat hasil pengukuran.
f. Selama pembebanan berlangsung, secara periodik dicatat nilai deformasi
axial dan deformasi lateral yang ditunjukan oleh dial gauge. Pembacaan
ini dilakukan dalam selang waktubper 30 detik.
g. Pemberian pembebanan dilakukan sedikit demi sedikit hingga spesimen
pecah.

Foto 3.4
Proses Penambahan Beban

30

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
h. Pembebanan dihentikan setelah spesimen mengalami pecah dan hasilnya
dibuat sketsa bentuk pecah serta catat sudut pecahnya






















31

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.1.5 Data Percobaan
Tabel 3.1.1
Hasil data
Sampel
Beban
( kg )
Waktu
(detik)
Tegangan
(Kg/cm
2
)
Regangan
(mpa)
Pembacaan Dial Gauge
Regangan
Axial
Regangan
diameteral
Axial
Diameter
Kiri Kanan Rata
sedang
1 : 3
250 30 9,906 0,991 11 3,5 1 2,25
9,909 x 10
-
4
4,409 x 10
-4

450 30 17,831 1,783 19 4,5 2 3,25
1,712 x 10
-
3

5,732 x 10
-4

500 30 19,812 1,981 95 60,5 26 43,25
8,559 x 10
-
3

7,628 x 10
-3

Kecil
1 : 1
250 30 16,450 1,645 1 1 1 1
1,053 x 10
-
4

1,764 x 10
-4

500 30 32,899 3,289 1,5 1,5 4 2,75
1,579 x 10
-
4

4,850 x 10
-4

650 30 42,769 4,277 23 22,5 14 18,25
2,421 x 10
-
3

3,219 x 10
-3

750 30 49,349 4,935 55 24 30 27 5,789x 10
-3
4,762 x 10
-3

Besar 250 30 6,093 0,609 0 0 0 0 0 0
32

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1 : 5
500 30 12,185 1,219 5 4 -1 1,5
3,425 x 10
-
4

2,075 x 10
-4

750 30 18,278 1,828 19 12 -2 5
1,301 x 10
-
3

6,916 x 10
-4

1000 30 24,370 2,437 27 14 -1 6,5
1,849 x 10
-
3

8,990 x 10
-4

1250 30 30,463 3,046 36 16 0 8
2,466 x 10
-
3

1,107 x 10
-3

1500 30 36,155 3,656 40 18 0 9
2,739 x 10
-
3

1,245 x 10
-3

1800 8 43,866 4,387 33 11 9 10
2,260 x 10
-
3

1,383 x 10
-3

33

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.1.6 Perhitungan
1. Tegangan =


Sampel sedang ( 1 : 3 )
Tegangan 1 =


= 9,909 kg/cm
2

Tegangan 2 =


= 17,8319 kg/cm
2
Tegangan 3 =


= 19,812 kg/cm
2

Sampel kecil ( 1 : 1 )
Tegangan 1 =


= 16,450 kg/cm
2
Tegangan 2 =


= 32,899 kg/cm
2
Tegangan 3 =


= 42,763 kg/cm
2
Tegangan 4 =


= 49,349 kg/cm
2
Sampel besar ( 1 : 5 )
Tegangan 1 =


= 6,039 kg/cm
2
Tegangan 2 =


= 12,185 kg/cm
2
Tegangan 3 =


= 18,278 kg/cm
2

Tegangan 4 =


= 24,370 kg/cm
2

Tegangan 5 =


= 30,463 kg/cm
2

Tegangan 6 =


= 36,555 kg/cm
2

Tegangan 7 =


= 43,866 kg/cm
2

2. Regangan =


Sampel sedang ( 1 : 3 )
Regangan 1 =



= 9,909 . 10
-4

Regangan 2 =



= 1,712 . 10
-3
Regangan 3 =



=8,559 . 10
-3


34

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Sampel kecil ( 1 : 1 )
Regangan 1 =



= 1,053 . 10
-4
Regangan 2 =



= 1,579 . 10
-4
Regangan 3 =



= 2,421 . 10
-3
Regangan 4 =



= 5,789 . 10
-4
Sampel besar ( 1 : 5 )
Regangan 1 =



= 0
Regangan 2 =



= 3,425 . 10
-4

Regangan 3 =



= 1,301 . 10
-3

Regangan 4 =



= 1,849 . 10
-3

Regangan 5 =



= 2,466. 10
-3

Regangan 6 =



= 2,738 . 10
-3

Regangan 7 =



= 2,260 . 10
-3

3. Regangan Diameteral =


Sampel sedang ( 1 : 3 )
Diameteral 1 =



= 4,409 . 10
-4

Diameteral 2 =



= 5,732 . 10
-4

Diameteral 3 =



= 7,628 . 10
-3

Sampel kecil ( 1 : 1 )
Diameteral 1 =



= 1,764 . 10
-4

Diameteral 2 =



= 4,850 . 10
-4

Diameteral 3 =



= 3,219. 10
-4

Diameteral 4 =



= 4,762 . 10
-3



35

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Sampel besar ( 1 : 5 )
Diameteral 1 =



= 0
Diameteral 2 =



= 2,025 . 10
-4

Diameteral 3 =



= 6,916 . 10
-4

Diameteral 4 =



= 8,990 . 10
-4

Diameteral 5 =



= 1,107 . 10
-3

Diameteral 6 =



= 1,245 . 10
-3
Diameteral 7 =



= 1,383 . 10
-3

4. Regangan Volumetri ( a 2. lateral )
Sampel sedang ( 1 : 3 )
= 125 .10
-2
mm 2. (0,4875 mm)
= 1,25 mm 0,975 mm
= 0,275 mm
Sampel kecil ( 1 : 1 )
= 80,5 .10
-2
mm 2. (49 .
10-2
mm)
= 0,805 mm 0,98 mm
=- 0,175 mm
Sampel besar ( 1 : 5 )
= 160 .10
-2
mm 2. (40.10
-2
mm)
= 1,6 mm 0,8 mm
=- 0,8 mm








36

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

3.1.7 Analisa
Pada saat melakukan uji kuat tekan unaxial atau UCS pemberian beban
pada sample harus dilakukan secara bertahap hal ini dilakukan agar kita biasa
mengetahui berapa daya tahan sample atau kekuatan sample menahan beban
yang diberikan, disini ada tiga sample yang di uji dengan ukuran yang berbeda
mulai dari yang keci sedang dan besar. Untuk menguji sample yang kecil karena
lunak jadi pengujiannya harus dilakukan dengan pelan-pelan, apabila sample ini
diberikan beban sekaligus maka kita tidak akan tahu berapa kekuatan sample
dalam menahan beban yang sesungguhnya, untuk sample yang kedua sample
ini lebih kuat dari sample yang pertama jadi ketika dilakukan penekanan
prosesnya lumayan lama yang terakhir yaitu sample yang ketiga saat dilakukan
pengujian pada sample ini prosesnya lama karena samplenya lebih besar dan
kuat dari sample satu dan dua.

3.1.8 Kesimpulan
Jadi kesimpulan pada uji kuat tekan unaxial ini adalah kita bisa
mengetahui daya tahan dan kekuatan yang dimiliki oleh suatu sample dalam
menahan suatu beban, sample yang kecil kekuatan atau daya tahannya lebih
besar dari sample yang paling besar.













37

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.2 Point Load Test
3.2.1 Tujuan
Point load test dilakukan untuk mengukur kekuatan (strength) dari
perconto batu secara tidak langsung di lapangan.

3.2.2 Landasan Teori
Pada semua material geologi mempunyai kemampuan untuk menahan
tegasan (stress) yang diberikan. Kemampuan ini dikatakan sebagai kekuatan
material tersebut. Kebanyakan nilai yang diukur sebagai kekuatan batuan adalah
nilai tegasan ketika batuan ini gagal menahan tegasan yang diberikan. Biasanya
ujicoba dilakukan memakai sampel kecil pada laboratorium. Tes viral titik
dikembangkan sebagai alat tangan portabel tes kecil untuk memberikan indeks
untuk klasifikasi kekuatan batuan dilapangan.
Pada dasarnya metode pengujian ini bergantung pada prinsip
menginduksi tegangan tarik menjadi batu dengan penerapan gaya
tekan.Tegangan tarik maksimum pada pusat spesimen mungkin berhubungan
dengan beban yang diterapkan. Peralatan pengujian terdiri dari sistem untuk
mengukur beban yang dibutuhkan untuk memecahkan spesimen dan untuk
mengukur jarak antara dua titik kontak pelat. Batu spesimen dalam bentuk inti,
potong balok, atau benjolan yang tidak teratur yang rusak oleh aplikasi beban
terkonsentrasi melalui sepasang bola terpotong, platens kerucut. Ada pula
pengujian kekuatan kompresif.
Salah satunya metoda mengetahui kekuatan batuan apabila diberi
kompresi adalah memakai metoda Point load (Uji beban titik). Memakai sistem
pembebanan berupa frame pembebanan, pompa hidrolik, dan silinder penekan
yang berbentuk konus. Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik batuan dan
massa batuan dilakukan berbagai macam uji coba baik itu dilaboratorium
maupun dilapangan langsung atau secara insitu.
Pada point load test ini, akan dilakukan pengujian dengan menggunakan
mesin uji point load dan dari pengujian ini dapat mengetahui kekuatan batuan.
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan batuan. Pengujian ini
dilakukan untuk mengetahui kekuatan ( strength ) dari percontoh batu secara
tidak langsung dilapangan. Percontoh batuan dapat berbentuk silinder.
38

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Pengujian ini menggunakan mesin uji point load dengan perconto berupa
silinder atau bentuk lain yang tidak beraturan. Pengujian point load ini merupakan
pengujian yang dapat dilakukan langsung dilapangan, dengan demikian dapat
diketahui kekuatan batuan dilapangan sebelum pengujian diloboratorium
dilakukan. Perconto yang disarankan untuk pengujian ini adalah batuan
berbentuk silinder dengan diameter kurang lebih 50 mm.
Dari uji ini akan didapatkan nilai point load strength index (Is) yang akan
menjadi patokan untuk menentukan nilai kuat tekan batuan (c). Nilai-nilai
tersebut didapatkan dari perhitungan sebagai berikut :



Dimana :
Is = Point load strength index ( Index Franklin )
P = Beban maksimum sampai percontoh pecah
D = Jarak antara dua konus penekan
Hubungan antara index franklin (Is) dengan kuat tekan (
t
) menurut
Bieniawski sebagai berikut:


Rumus tersebut digunakan untuk diameter percontoh minimal 50 mm,
tetapi jika Is = 1 MPa maka index tersebut tidak lagi mempunyai arti sehingga
disarankan untuk menggunakan pengujian lain dalam penentuan kekuatan
batuan.

3.2.3 Alat-alat yang digunakan
1. Mesin pengujian point load test, untuk menekan perconto yang berbentuk
silinder, balok atau bentuk tidak beraturan lainnya dari satu arah secara
menerus/ kontinu hingga perconto pecah.
2. Mistar, untuk mengetahui jarak perubahan axial antara dua konsus
penekan pada alat point load.
3. Dial gauge, untuk mengukur beban maksimum yang dapat diterima
contoh batuan, hingga contoh tersebut pecah.

c
= 23 Is

Is = P
D
2


39

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Foto 3.2.1
Alat Uji Point load

3.2.4 Prosedur
a. Contoh batuan yang digunakan dalam uji ini disiapkan dengan ukuran
diameter 50 mm.

Foto 3.2.2
Sampel Point Load

b. Contoh diletakkan diantara dua konsus penekan alat point load, kemudian
dongkrak hidrolik diberikan tekanan sehingga kedua ujung konsus
penekan tepat menekan permukaan contoh yang akan diuji.
c. Catat ukuran mistar pengukuran pada awal kedudukan kedua konsus
penekan mulai menekan contoh.
d. Pemberian tekanan dilakukan sedikit demi sedikit hingga specimen
pecah.
e. Pembebanan dihentikan setelah specimen mengalami pecah dan matikan
alat penekan apabila perconto batuan sudah pecah.
40

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
f. Baca jarum penunjuk pembebanan maksimal (dial gauge) yang diberikan
alat sehingga perconto pecah.
g. Catat ukuran mistar pada akhir kedudukan, maka akan didapatkan nilai
jarak antara dua konsus penekan.

3.2.5 Data Percobaan
3.2.5 Data Percobaan
Tabel 3.2.1
Data Hasil Pengamatan
Sampel Diameter (Cm) Beban (Kg) Tinggi (Cm)
D
Axial 6,3 30 3,8
0,4
Diameteral 6,8 50 3,6
0,8

3.2.6 Pengolahan Data
Sampel 1
D = 0,4
IS =



= 187,5 Kg/Cm
2

C = 23 x IS
= 23 x 187,5
= 4312,5 Kg/cm
2

Tegangan =


=

()

= 0,9 Kg/Cm
2
=

= 0,09 mpa
Sampel 2
D = 0,8 Cm
IS =


41

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
=



= 78,125 Kg/Cm
2


C = 23 x IS
= 23 x 78,125 Kg/Cm
2

= 1796,875 Kg/Cm
2

Tegangan =


=

()

= 1,3775 Kg/Cm
2
=

= 0,13775 mpa
Tabel 3.2.2
Data Hasil Perhitungan
Sampel
Beban
(Kg)
D Is c Tegangan

Axial 30 0,4 187,5 4312,5 11,1111
Diameteral 50 0,8 78,125 1796,875 11,1111













42

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.2.7 Analisa
Pada percobaan ini hasil point load index dan kuat tekan tidak ada
perbedaan antara sampel 1 dengan sampel 2. Hal ini dikarenakan
menggunakan sampel yang sama. Ada pun perbedaan itu hanya pada
pengukuran diameter sampel yang hanya 0,1 perbedaannya, sehingga
pada perhitungan tegangan dan luas terdapat sedikit perbedaan.

3.2.8 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa parameter
yang didapat adalah data berupa point load indeks dan kuat tekan dari
batuan. Dan hasil yang didapat sama antara sampel 1 dengan sampel
2.Berikut adalah data yang dihasilkan.
Sampel 1 :
Point load indexks (IS) : 187,5 Kg/cm
2

Kuat tekan (C) : 4312,5 Kg/cm
2

Sampel 2 :
Point load indexks (IS) : 78,125 Kg/Cm
2

Kuat tekan (C) : 1796,875 Kg/Cm
2












43

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.3 Triaxial
3.3.1 Tujuan Pengujian Triaxial Batuan
Untuk menentukan kekuatan suatu batuan di bawah tekanan triaxial yang
mengahasilkan nilai kohesi ( C ), kuat geser (shear strength), dan sudut geser
dalam () .

3.3.2 Landasan Teori
Triaxial merupakan metode umum untuk mengukur sifat mekanik padatan
mampudeformasi, terutama tanah yang biasanya dilakukan. Terutama Untuk
batu pengujian lengan mungkin merupakan lembaran logam tipis daripada
lateks. Pengujian triaksial di atas batu ini cukup jarang dilakukan karena
kekuatan tinggi dan tekanan yang dibutuhkan untuk memecah sampel batuan
menyiratkan pengujian peralatan yang sangat mahal dan rumit tersedia di
beberapa laboratorium di dunia.
Pada tes triaksial dapat diklasifikasikan sebagai tiga jenis, yaitu, UU, CU, dan tes
CD. Jenis pengujian yang akan diadopsi tergantung pada bagaimana cara
terbaik kita dapat mensimulasikan kondisi lapangan. Dengan kata lain, tujuan
melakukan tes tertentu untuk mensimulasikan kondisi lapangan sejauh
mungkin. Sebagai contoh, karena permeabilitas tinggi pasir, konsolidasi terjadi
relatif cepat dan biasanya selesai pada aplikasi beban. Parameter kuat geser dari
tes CD karena itu umumnya digunakan dalam desain
Pengujian ini adalah salah satu pengujian yang terpenting di dalam
mekanika batuan untuk menentukan kekuatan batuan di bawah tekanan triaxial.
Percontoh yang digunakan pada uji ini berbentuk silinder dengan syarat syarat
contoh ui sama dengan pengujian kuat tekan. Pengujian triaxial yang dilakukan
dapat ditentukan parameter parameter yang menunukan kekuatan batuan
diantarany adalah :
Nilai tegangan puncak (1) yang didapatkan dari hasil uji batuan dengan
nilai tegangan kelililng (3) yang berbeda beda.
Strength envelope curve ( kurva selubung kekuatan batuan ), dari kurva
ini dapat menentukan parameter kekuatan batuan yaitu :
1. Kuat geser batuan (shear strength)
2. Sudut geser dalam
3. Kohesi ( C )
44

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.3.3 Alat alat yang digunakan
a. Mesin kuat tekan
b. Bearing plate
c. Rubber jacket
d. System hidrolik untuk memberikan tegangan keliling pada conto saat
pengujian.

3.3.4 Prosedur
1. Contoh batuan yang digunakan dalam uji ini disiapkan dengan ukuran
dimensi panjang minimal dua kali diameter percontoh.

Foto 3.3.1
Sampel Triaxial

2. Masukan percontoh batuan kedalam rubber jacket, setelah dimasukkan
ke rubber jacket kemudian contoh dimasukkan ke dalam silinder besi
yang berfungsi untuk menahan tegangan keliling yang diberikan kepada
contoh uji, contoh uji kemudian ditutup oleh flat dan dipasangkan di mesin
uji kuat.
45

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Foto 3.3.2
Sampel dan Rubber Jacket


Foto 3.3.3
Sampel dan Rubber Jacket di Dalam Silinder Besi

3. Specimen diletakkan diantara plat baja dan diatur agar tepat dengan plat
form penekan alat, kemudian mesin dinyalakan sehingga specimen
berada di tengah tengah apitan plat baja dan pastikan bahwa kedua
permukaan specimen telah menyentuh plat baja tersebut.
4. Tegangan kelililng (3) diberikan kepada contoh uji dengan menggunakan
system hidrolik, usahakan tegangan ini konstan selama pengujian
dilakukan.
5. Skala pengukuran beban harus ditetapkan pada keadaan netral (nol).
6. Baca jarum penunjuk pembebanan pada axial dial gauge per 30 detik dan
catat hasil pengukuran.
7. Pemberian pembebanan dilakukan sedikit demi sedikit hingga specimen
pecah.
46

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
8. Pembebanan dihentikan setelah specimen mengalami pecah dan
hasilnya dibuat sketsa bentuk pecah serta catat sudut pecahnya.

3.3.5 Data Percobaan
3.3.5 Data Percobaan
Tabel 3.3.1
Data Hasil Pengamatan

Do
1
= 5,3Cm Do
2
= 5,6 Cm Do
3
= 5,3 Cm
Lo
1
= 10,6 Cm Lo
2
= 11,2 Cm Lo
3
= 10,6 Cm
3.3.6 Pengolahan Data
Regangan Axial = Perpendekan Axial x 0,01
Lo
Sampel 1
Lo = 10,6 Cm = 106 mm
Regangan Axial
1
=

= 2,35 x 10
-5

Regangan Axial
2
=

= 9,71 x 10
-5

No
Kg/Cm
2

Waktu
(menit)
Perpendekan
Axial
X0,01 mm
Beban
(kg)
10
0,5 0,25 100
1 1,03 200
1,5 1,41 300
20
0,5 6,2 100
1 6,8 300
1,5 7,15 400
30
0,5 31 100
1 50 200
1,5 63 250
2 72 300
2,5 80 350
47

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Regangan Axial
3
=

= 1,33 x 10
-5

Sampel 2
Lo = 11,2 Cm = 112 mm
Regangan Axial
1
=

= 5,53 x 10
-4

Regangan Axial
2
=

= 6,07 x 10
-4

Regangan Axial
3
=

= 6,38 x 10
-4

Sampel 3
Lo = 10,6 Cm = 106 mm
Regangan Axial
1
=

= 2,92 x 10
-3

Regangan Axial
2
=

= 4,71 x 10
-3

Regangan Axial
3
=

= 5,94 x 10
-3

Regangan Axial
4
=

= 6,79 x 10
-3

Regangan Axial
5
=

= 7,54 x 10
-3

1
-
2
=


Sampel 1
o =


2

= x 3,14 x (5,3)
2

= 22,05 Cm
2

1.
1

3
=


= 4,53 Kg/Cm
2

2.
1

3
=


= 4,53 Kg/Cm
2

3.
1

3
=


= 4,53,Kg/Cm
2

Sampel 2
o =


2

= x 3,14 x (5,6)
2

48

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
= 24,617 Cm
2

1.
1

3
=


= 4,06 Kg/Cm
2

2.
1

3
=


= 0,82 Kg/Cm
2

3.
1

3
=


= 4,06 Kg/Cm
2

Sampel 3
o =


2

= x 3,14 x (5,3)
2

= 22,05 Cm
2

1.
1

3
=


= 4,53Kg/Cm
2

2.
1

3
=


= 4,53 Kg/Cm
2

3.
1

3
=


= 2,26 Kg/Cm
2

4.
1

3
=


= 2,26 Kg/Cm
2

5.
1

3
=


= 4,53 Kg/Cm
2

1
= Beban + Tekanan Samping
Sampel 1
1.
1
= 10 + 4,53 = 14,53 Kg/Cm
2

2.
1
= 10 + 4,53= 14,53 Kg/Cm
2

3.
1
= 10 + 4,53 = 14,53 Kg/Cm
2

Sampel 2
1.
1
= 20 + 4,06= 24,06 Kg/Cm
2

2.
1
= 20 + 0,81 = 20,81 Kg/Cm
2

3.
1
= 20 + 4,06 = 24,06 Kg/Cm
2

Sampel 3
1.
1
= 30 + 4,53 = 34,53 Kg/Cm
2

49

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2.
1
= 30 + 4,53 = 34,53 Kg/Cm
2

3.
1
= 30 + 2,26 = 32,26 Kg/Cm
2

4.
1
= 30 + 2,26 = 32,26 Kg/Cm
2

5.
1
= 30 + 4,53 = 34,53 Kg/Cm
2

n
= (
1+

3
)/2
1.
n
=

(14+10)/2
= 12,265
2.
n
=

(24,06+20)/2
= 22,03
3.
n
=

(34,53+30)/2 = 32,26

Tabel 3.3.2
Data Hasil Perhitungan
No
Kg/Cm
2

Waktu
(menit)
Perpendekan
Regangan
X0,01 mm
Regangan
Axial
Beban
(Kg)

1

Kg/Cm
2

1
-
2

Kg/Cm
2

10
0,5 0,25 2,35x 10
-5
100
14,53 4,53
1 1,03 9,71 x 10
-5
200
14,53 4,53
1,5 1,41
1,33 x10
-4

300
14,53 4,53
- - - -
- -
- - - -
- -
- -
-
-
- -
20
0,5 6,2
5,53 x 10
-4

100
24,06 4,06
1 6,8
6,07 x 10
-4

300 24,06
0,81
1,5 7,15
6,38 x 10
-4

400
24,06 4,06
- -
-
-
- -
30
0,5 31
2,92 x 10
-3

100
34,53 4,53
1 50
4,17 x 10
-3

200
34,53 4,53
1,5 63 5,94 x 10
-3
250
32,26 2,26
2 72
6,97 x 10
-3

300
32,26
2,26
2,5 80
7,54 x 10
-3

350
34,56
4,56

50

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.3.7 Analisa
Untuk percobaan ini data yang diambil yaitu nilai kekuatan sampel untuk
menahan beban yang diberikan. Jika data sudah dicatat,maka dengan demikian
regangan axial,
1
, dan
1
-
2
dari batuan dapat diketahui dengan cara
melakukan perhitungan dengan rumus. Untuk mengetahui tegangan geser,
tegangan normal, dan sudut dalam harus menggunakan grafik, untuk
pembuatan grafik data yang dplot yaitu data yang terbesar.

3.3.8 Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum ini,disimpulkan bahwa untuk mengetahui
tegangan geser, dan sudut pada sebuah batuan dapat diketahui dengan cara
melihatnya dari grafik yang telah ada.sudut geser yang dibentuk oleh sampel
sebesar 26,56
o
dan tegangan gesernya 2,2 Kg/Cm
2
.













51

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.4 Kuat Geser
3.4.1 Tujuan Pengujian Kuat Geser
Pengujian kuat geser dilakukan untuk mengetahui sifat mekanik dari
batuan yang menjadi specimen yaitu dari segi berapa kekuatan specimen
terhadap suatu geseran disertai adanya pembebanan yang masih mampu
ditahan oleh specimen tersebut. Hal ini banyak digunakan dalam analisis
stabilitas lereng pada tambang terbuka, analisis stabilitas batuan samping pada
lubang bukaan bawah tanah, dan lain sebagainya.

3.4.2 Pengujian Kuat Geser
Pengujian ini untuk mengetahui kekuatan batuan terhadap suatu geseran
pada tegangan normal tertentu. Dari hasil pengujian kuat geser ini dapat
ditentukan :
Garis Coulombs shear strength
Nilai kuat geser (shear strength) batuan
Sudut geser dalam ()
Kohesi

3.4.3 Landasan Teori
Mekanika batuan adalah salah satu cabang disiplin ilmu geomekanika.
Mekanika batuan merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat mekanik batuan
dan massa batuan. Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki peran yang
dominan dalam operasi penambangan, seperti pekerjaan penerowongan,
pemboran, penggalian, peledakan dan pekerjaan lainnya.
Tanah merupakan suatu bagian yang sangat menentukan dalam
perencanaan suatu konstruksi, karena menentukan kestabilan konstruksi
tersebut. Kekuatan tanah tersebut tidak sama untuk tempat-tempat yang
berbeda, sehingga hal ini mengharuskan para perencana untuk memperhatikan
kondisi tanah sebagai suatu elemen kestabilan konstruksi yang sangat
menentukan keadaan konstruksi pada masa penggunaannya.
Untuk menentukan kondisi tanah yang akan digunakan sebagai tempat
dibangunnya suatu konstruksi, tidak cukup dilakukan perhitungan tanpa suatu
pemeriksaan yang mendalam atau spesifik. Terutama untuk mengetahui
parameter-parameter dari sifat fisis dan mekanis dari tanah tersebut. Jadi
52

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
diperlukan pengujian atau percobaan yang dilakukan secara ilmiah yakni melalui
pengujian laboratorium.
Kekuatan suatu tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sangat komplek
dari parameter-parameter yang didapatkan dari suatu pemeriksaan yang
mendalam. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat tanah
tersebut, yang meliputi sifat fisis dan mekanis tanah.
Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik batuan dan massa batuan
dilakukan berbagai macam uji coba baik itu dilaboratorium maupun dilapangan
langsung atau secara insitu.
Untuk mengetahui sifat mekanik batuan dilakukan beberapa percobaan
seperti uji kuat tekan uniaksial, uji kuat tarik, uji triaksial dan uji tegangan insitu.
Mekanika batuan sendiri mempunyai karakteristik mekanik yang diperoleh dari
penelitian ini adalah kuat tekan batuan (t), kuat tarik batuan (c ), Modulus
Young (E), Nisbah Poisson (v), selubung kekuatan batuan (strength envelope),
kuat geser (), kohesi (C), dan sudut geser dalam ().
Untuk pengujian kuat geser ini yang mana berfungsi untuk mengetahui
kekuatan batuan terhadap suatu geseran pada tegangan normal tertentu.
nantinya dari hasil pengujian akan dapat ditentukan:
garis Coulumbs shear strength
kuat geser (shear strength)
sudut geser dalam ()
kohesi (C)
Percobaan ini mencakup metode pengukuran kuat geser tanah
menggunakan uji geser langsung UU. Interpretasi kuat geser dengan cara ini
bersifat langsung sehingga tidak dibahas secara rinci. Beberapa definisi yang
berkaitan dengan percobaan ini antara lain:
Gaya Normal adalah gaya yang bekerja tegak lurus terhadap bidang yang
ditinjau.
Gaya geser adalah gaya yang bekerja secara menyinggung atau sejajar
bidang yang ditinjau.
Tegangan normal adalah gaya normal per satuan luas.
Tegangan geser adalah gaya geser per satuan luas.
53

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Peralihan (displacement) adalah perpindahan horizontal suatu bidang
geser relatif terhadap bidang lain dalam arah kerja gaya geser.
Kohesi (cu) adalah kuat geser tanah akibat gaya tarik antar partikel.
Sudut geser dalam adalah komponen kuat geser tanah akibat geseran
antara partikel.
Kuat geser adalah tegangan geser maksimum yang dapat ditahan oleh
suatu bidang (dalam tanah) di bawah kondisi tertentu.
Kuat geser puncak (peak strength) adalah kuat geser tertinggi pada suatu
rentang peralihan atau regangan tertentu.
Kuat geser residual adalah tahanan geser tanah pada regangan atau
peralihan yang besar yang bersifat konstan. Kuat geser residual ini
dicapai setelah kuat geser puncak dilampaui.
Dilantasi adalah pengembangan volume tanah saat dikenai tegangan
geser.
Hasil uji geser langsung dapat digunakan untuk analisis kestabilan dalam
bidang geoteknik, diantaranya untuk analisis kestabilan lereng, daya dukung
pondasi, analisis dinding penahan, dan lain-lain.
Uji geser langsung tidak dapat mengukur tekanan air pori yang timbul
saat penggeseran dan tidak dapat mengontrol tegangan yang terjadi di sekeliling
contoh tanah. Di samping itu keterbatasan uji geser langsung yang lain adalah
karena bidang runtuh tanah ditentukan, meskipun belum tentu merupakan bidang
terlemah.

3.4.4 Alat-alat yang digunakan
1. Satu set alat untuk uji kuat geser dari suatu batuan

54

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Gambar 3.4.1
Alat Kuat Geser

2. Satu specimen dengan bentuk segiempat atau ketupat dan specimen
yang diujinya berada di tengah-tengah segiempat yang tengahnya dibuat
belah
3. Pompa pembebanan serta penunjuknya dalam satuan KN, dengan skala
satu stripnya 1 KN
4. Penunjukkan keadaan gesernya specimen dengan skala 0,5 per strip
5. Jumlah specimen yang diuji adalah 1 buah specimen dengan 3 kali uji

3.4.5 Prosedur
1. Ukur terlebih dahulu panjang dan lebar contoh lalu catat pada form yang
ada.
2. Masukkan specimen ke dalam box penyimpanan di alat shear box,
kemudian beri beban normal sesuai dengan perhitungan.

Gambar 3.4.2
Pemasangan Sampel Kedalam Alat
55

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

3. Pasang selang oli pressure pada saat posisi maju saat pengukuran maju,
demikian pula pada saat pengukuran mundur selang dipindahkan.
4. Pompa beban yang digunakan (1 KN, 2 KN, 3 KN) dan ditahan supaya
konstan selama pengujian masih dilakukan.
5. Baca pressure gauge sesuai waktu yang diminta sebanyak 12 mm
perubahan.
6. Beban yang diberikan jangan sampai berubah. Apabila berubah maka
pressure gaugenya pun berubah. Penunjuk keadaan geser specimen
dengan skala 1 strip bernilai 0,5 KN.
7. Pompa untuk menggeser specimen, digerak-gerakkan selama alat
penunjuk geser maju atau mundur itu berputar satu putaran penuh
8. Setelah satu putaran dicatat data yang dihasilkan dari alat penunjuk
kekuatan geser (yang letaknya di dekat pompa yang berfungsi untuk
menggeser).
9. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali dengan keadaan menggeser ke arah
maju dan ke arah mundur.

Gambar 3.4.3
Pengujian Geser Maju








56

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.4.6 Data Percobaan
Tabel 3.4.1
Hasil Percobaan Sampel 1
Kondisi /
Waktu
Perubahan
Geser (mm)
Gaya
Geser (Kg)
Perubahan
Geser (Cm)





Maju
1 2,5 0,25
2 2,5 0,5
3 2,5 0,75
4 2,5 1
5 2,5 1,25
6 2,8 1,68
5 Kg
7 3 2,1
8 4 2,4
9 4 3,6
10 4 4
11 4 4,4
12 4,5 5,4
Mundur
12 0 0
11 3 3,3
10 3 3
9 3,5 3,15
8 4 3,2
7 4 2,8
57

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
6 5 3
5 6 3
4 7 2,8
3 7,5 2,25
2 8 1,6
1 8 0,8

Tabel 3.4.2
Hasil Percobaan Sampel 2
Kondisi /
Waktu
Perubahan
Geser (mm)
Gaya
Geser (Kg)
Perubahan
Geser (Cm)
Maju
10 Kg
1 0 0,5
2 5 1
3 5 1,5
4 5 2
5 5 2,5
6 5 3
7 5 3,5
8 5,5 4,4
9 5,5 4,95
10 5,5 5,5
11 5,5 6,05
12 5 6
58

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Mundur
12 0 0
11 7 7,7
10 9 9
9 11 9,9
8 12 9,6
7 12 8,4
6 10 6
5 10 5
4 10 4
3 10 3
2 11 2
1 11 1,1

Tabel 3.4.3
Hasil Percobaan Sampel 3
Kondisi /
Waktu
Perubahan
Geser (mm)
Gaya
Geser (Kg)
Perubahan
Geser (Cm)
Maju
20 Kg
1 0 1,5
2 15 2,8
3 14 3
4 10 5,2
5 13 6
6 12 7,2
59

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
7 12 7
8 10 8
9 10 9
10 12 12
11 12 13,2
12 14 16,8

Mundur
12 0 0
11 23 25,3
10 10 10
9 10 9
8 10 8
7 11 7,7
6 11 6,6
5 11 5,5
4 11 4,4
3 13 3,9
2 13 2,6
1 13 1,3
Beban Sampel 1 = 5 Kg
Beban Sampel 2 = 10 Kg
Beban Sampel 3 = 20 Kg
3.4.7 Pengolahan Data
60

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Tegangan normal = Beban
Luas
Luas
1
= r
2

= 3,14 x 6,1
2

= 29,268 Cm
2

Luas
2
= r
2

= 3,14 x 6,1
2

= 29,268 Cm
2

Luas
3
= r
2

= 3,14 x 6,2
2

= 30,17Cm
2

Tegangan normal
1
= 5 = 0,771 Kg/Cm
2

29,268
Tegangan normal
2
= 10 = 0,520 Kg/Cm
2
29,268
Tegangan normal
3
= 20 = 0,662 Kg/Cm
2

30,17







61

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.4.8 Analisa
Pada grafik sampel dua dengan beban 10 Kg, gambar grafik tidak saling
berpotongan antara garis grafik maju dengan garis grafik mundur. Secara umum
grafik tersebut tidak mungkin terjadi, karena setiap grafik pasti memiliki satu titik
perpotongan antara garis maju dengan garis mundur.

3.4.9 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat mengetahui nilai kohesi dari
sampel. Dari ketiga sampel tersebut nilai kohesi yang didapat adalah sebesar
0,28 Mpa.





















62

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.5 Kuat Tarik Tidak Langsung
3.5.1 Tujuan Pengujian Kuat Tarik
Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui kuat tarik batuan secara
tidak langsung, pengertian secara tidak langsung ini, dikarenakan specimen
diberikan pembebanan terhadap arah diameteral sehingga gaya yang diberikan
akan didistribusikan secara diametral (ditarik).

3.5.2 Landasan Teori
Mekanika batuan adalah salah cabang disiplin ilmu geomekanika.
Mekanika batuan merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat mekanik batuan
dan massa batuan. Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki peran yang
dominan dalam operasi penambangan, seperti pekerjaan penerowongan,
pemboran, penggalian, peledakan dan pekerjaan lainnya. Sehingga untuk
mengetahui sifat mekanik batuan dan massa batuan dilakukan berbagai macam
uji coba baik itu dilaboratorium maupun dilapangan langsung atau secara insitu.
Mekanika batuan sendiri mempunyai karakteristik mekanik yang diperoleh dari
penelitian ini adalah kuat tekan batuan (t), kuat tarik batuan (c ), Modulus
Young (E), Nisbah Poisson (v), selubung kekuatan batuan (strength envelope),
kuat geser (), kohesi (C), dan sudut geser dalam ().
Masing-masing karakter mekanik batuan tersebut diperoleh dari uji yang
berbeda. Kuat tekan batuan dan Modulus Young diperoleh dari uji kuat tekan
uniaksial. Pada penelitian ini nilai kuat tekan batuan dan Modulus Young diambil
dari nilai rata-rata hasil pengujian lima contoh batuan. Untuk kuat tarik batuan
diperoleh dari uji kuat tarik tak langsung (Brazillian test). Sama dengan uji kuat
tekan uniaksial, uji kuat tarik tak langsung menggunakan lima contoh batuan
untuk memperoleh kuat tarik rata-rata. Sedangkan selubung kekuatan batuan,
kuat geser, kohesi, dan sudut geser dalam diperoleh dari pengujian triaksial
konvensional dan multitahap. Selain mengamati sifat mekanik atau dinamik dari
batuan dalam praktikum ini juga akan diamati sifat fisik batuan tersebut, dengan
mengamati bobot dan masa jenisnya dalam beberapa keadaan.
Sifat mekanik batuan yang diperoleh dari uji ini adalah kuat tarik batuan
(t). Ada dua metode yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kuat tarik
contoh batuan di laboratorium, yaitu metode kuat tarik langsung dan metode kuat
tarik tak langsung. Metode kuat tarik tak langsung merupakan uji yang paling
63

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
sering digunakan. Hal ini disebabkan uji ini lebih mudah dan murah daripada uji
kuat tarik langsung. Salah satu uji kuat tarik tak langsung adalah Brazilian test.
Kuat tarik batuan adalah merupakan salah satu parameter yang sangat
penting pada sifat dan karakteristik massa dari batuan, dan ini perlu menjadi
perhatian didalam perhitungan kestabilan pada atap lubang bukaan. Kuat tarik
pada batuan umumnya diperoleh dari uji kuat tarik tidak langsung, yang sampai
pada saat ini masih tetap dipakai karena adanya faktor kemudahan didalam
untuk mempersiapkan contoh dari uji dan kesederhanaan dari metode pengujian
dan pada taraf kepercayaannya yang masih tetap bisa dianggap memenuhi
syarat. Penelitia seperti ini dikerjakan untuk bisa melihat perbandingan dari nilai
kuat tarik yang sudah diperoleh dari pengujian kuat tarik tidak langsung melalui
pengujian brazilian pada nilai uji kuat tarik langsung, terhadap contoh batu
gamping dan batu andesit lapuk. Yang didahulukan pada awalnya dengan
merancang dan membuat alat uji kuat tarik langsung. Untuk bisa menentukan
bentuk dari geometri contoh dari uji tak langsung, dilakukan studi terhadap
permodelan numerik dengan cara mempergunakan paket program rheo staub
terhadap model contoh uji bentuk silinder dog bone linier, dog bone semi circle,
dan bentuk do bone circle. Dari hasil permodelan yang ada, maka dipilihlah
bentuk silinder dan ` dog-bone circle, untuk bisa dijadikan contoh pada uji kuat
tarik langsung, dan di dalam pelaksanaannya ditarik dengan melalui pada
metode pembebanan end full.

3.5.3 Alat dan Bahan
a. Alat
Mesin kuat tekan (Unaxial Compression Test MachineI).
Sistem pengukuran beban, dengan ketelitian 2 kali.
Sepasang plat baja.
Jangka sorong dan stopwatch.
b. Bahan
Sampel batuan yang akan diuji

3.5.4 Prosedur
Contoh batuan yang akan digunakan dalam uji ini disiapkan dengan
ukuran dimensi panjang = setengah kali diameter.
64

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Gambar 3.5.1
Sampel Batu Uji Kuat Tarik

Plat baja bagian bawah diletakkan ditengah tengah platform mesin kuat
tekan.
Specimen diletakkan ditengahnya (diantara plat baja atas dan plat baja
bawah), kemudian sedikit demi sedikit ditekan dengan platform atas
dengan mesin kuat tekan dengan memberikan pembebanan.

Gambar 3.5.2
Pemasangan Sampel Pada Alat

Pasang Dial Gauge untukl mengukur deformasi axial.
Conto batuan diberikan pembebanan, diusahakan laju pembebanan
tersebut konstan yaitu 200 N/detik.
Pembacaan pembebanan dilakukan setiap penambahan gaya 2 KN dan
catat angka pembebanan axial hingga dicapai gaya maksimum (specimen
pecah).
65

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.5.5 Data Percobaan
3.5.5 Data Percobaan
Tabel 3.5.1
Data Hasil Percobaan
Specimen Diameteral (Cm) Tebal (Cm) Beban (Kg)
Lempung 6 3 300
Lanau 6,8 3,4 1000



Gamabr 3.1
Sampel Batu Lempung Sebelum dan Sesudah pecah

3.5.6 Pengolahan Data
Lempung
t =


=



=


= 10,615 Kg/Cm
2
= 1,0615 MPa
Batu Lanau
t =


66

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
=



=


= 27,552 Kg/Cm
2
= 2,7552 Mpa


Tabel 3.5.2
Data Hasil Pengolahan Data
Specimen
Diameteral
(Cm)
Tebal (Cm) Beban (Kg)
Kuat Tarik
Kg/Cm
2
MPa
Lempung 6 3 300 10.615 1,0615
Lanau 6,8 3,4 100 27,552 2,7552


3.5.7 Analisa
Pada percobaan ini batu Lanau lebih lama pecah dibandingkan dengan
lempung terlihat pada saat dilakukan percobaan di mesin kuat tekan.Pada saat
diberi beban, batuan pasir bisa menahan sampi 1000 kg, sedangkan lempung
hanya bisa menahan beban 300 kg. Keduahal ini dikarenakan batu lanau lebih
kuat, dan lebih padat dibandingkan dengan batu lempung.

3.5.8 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa untuk
mengetahui kuat tarik pada batuan bisa dilakukan dengan cara memberikan
beban dibagian diameteralnya, dan hasil percobaan ini menunjukkan bahwa
sampel batu Lanau lebih kuat dibandingkan dengan sampel batu Lempung.




67

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB IV
UJI MASSA JENIS (DENSITY), KADAR AIR, DERAJAT
KEJENUHAN, ANGKA PORI DAN POROSITAS


4.1 Tujuan Percobaan
Bertujuan untuk mengukur massa jenis dan kadar air alami tanah yang
menunjukkan sifat fisik tanah.

4.2 Teori Dasar
Dalam pengertian teknik secara umum, tanah didefinisikan sebagai
material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak
tersementasikan (terikat secara kimia) satu sama lain dari bahan-bahan organik
yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas
mengisi ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut. Tanah
berguna sebagai bahan bangunan pada berbagai macam pekerjaan teknik sipil,
disamping itu tanah berfungsi juga sebagai pendukung pondasi dari bangunan.
Istilah Rekayasa Geoteknis didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan dan
pelaksanaan dari bagian teknik sipil yang menyangkut material-material alam
yang terdapat pada (dan dekat dengan) permukaan bumi. Dalam arti umumnya,
rekayasa geoteknik juga mengikutsertakan aplikasi dari aplikasi-aplikasi dasar
mekanika tanah dan mekanika batuan dalam masalah-masalah perancangan
pondasi.
Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme,
membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah
dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai
tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah.
Berdasarkan asal-usulnya, batuan dapat dibagi menjadi tiga tipe dasar yaitu:
batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Batuan beku Batuan ini
terbentuk dari magma mendingin. Magma batu mencair jauh di dalam bumi.
Magma di kerak bumi disebut lava. Batuan sedimen dibentuk sebagai didorong
bersama-sama atau disemen oleh berat air dan lapisan-lapisan sedimen di
atasnya. Proses penyelesaian ke lapisan bawah terjadi selama ribuan
68

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
tahun. Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan yang sudah
ada, seperti batuan beku atau batuan sedimen, kemudian mengalami perubahan
fisik dan kimia sehingga berbeda sifat dengan sifat batuan induk (asal)nya.
Perubahan fisik meliputi penghancuran butir-butir batuan, bertambah
besarnya butir-butir mineral penyusun batuan, pemipihan butir-butir mineral
penyusun batuan, dan sebagainya. Perubahan kimia berkaitan dengan
munculnya mineral baru sebagai akibat rekristalisasi atau karena adanya
tambahan/pengurangan senyawa kimia tertentu. Faktor penyebab dari proses
malihan (proses metamorfosis) adalah adanya perubahan kondisi tekanan yang
tinggi, suhu yang tinggi atau karena sirkulasi cairan. Tekanan dapat berasal dari
gaya beban atau berat batuan yang menindis atau dari gerak-gerak tektonik
lempeng kerak bumi di saat terjadi pembentukan pegunungan. Kenaikan suhu
dapat terjadi karena adanya intrusi magma, cairan atau gas magma yang
menyusup ke kerak bumi lewat retakan-retakan pemanasan lokal akibat gesekan
kerak bumi atau kenaikan suhu yang berkaitan dengan Gradien geothermis
(kenaikan temperature sebagai akibat letaknya yang makin ke dalam). Dalam
proses ini terjadi kristalisasi kembali (rekristalisasi) dengan dibarengi kenaikan
intensitas dan juga perubahan unsur kimia.

4.3 Alat-alat yang Digunakan
Cylinder Ring
Timbangan (ketelitian 0,01 gr)
Oven
Desikator
Alat Dongkrak
Stickmaat (Jangka Sorong)
Pisau

4.4 Prosedur Percobaan
1. Cylinder ring dibersihkan, kemudian dengan stickmaat diukur diameter
(d), tinggi (t) dan beratnya ditimbang.
69

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2. Cylinder ring ditekan masuk ke dalam tanah dan kemudian demgan alat
dongkrak silinder dikeluarkan, dipotong dengan pisau kemudian tanah
disekitar ring dibersihkan dan permukaan tanah diratakan.
3. Ring + contoh tanah ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam oven
selama 24 jam dengan suhu 105
0
C.
4. Sesudah itu, contoh tanah yang sudah kering dimasukkan kedalam
desikator 1 jam.
5. Contoh tanah yang sudah dingin ditimbang, maka didapatlah berat kering.

4.5 Data Percobaan
Tabel 4.5.1
Data Hasil Pengamatan
Sampel
Pengukuran

Atas
Bawah
Diameter (Cm)
2,3
Tinggi (Cm)
6,9
Berat Ring (Cm)
93,4
Berat Container Kosong
(gram)
13,1
14
Berat Container + Tanah
(gram)
68,7
57,5
Berat Tanah Kering (gram) 52,5
56,6

70

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Foto 1
Sampel Tanah



Foto 2
Sampel yang Dipotong Menjadi Dua


71

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Foto 3
Sampel Selesai Dioven

4.6 Pengolahan Data
Massa Jenis (Density)
=


Volume Sampel Besar
V = r
2

= 3,14 x 1,15
2
Cm x 6,9 CM
= 28,65 Cm
3

Sampel Atas
M = 68,7 gr 13,1 gr
= 55,6 gr
=


= 1,94 gr/cm
3

Sampel Besar Bawah
M = 57,5 gr 14 gr
= 43,5 gr
72

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
=


= 1,518 gr/cm
3

Kadar Air
W =

x 100%
Sampel atas
Md = 52,25 gr 13,1 gr
= 39,4 gr
Mw = 55,6 gr 39,4 gr
= 16,2 gr
W =


x 100%
= 41,12%
Sampel Bawah
Md = 56,6 gr 14 gr
= 42,6 gr
Mw = 43,5 gr 42,6 gr
= 0,9 gr
W =


x 100%
= 2,11%
Derajat kejenuhan
Sr =

)
x 100%
Angka Pori (Void Ratio)
E =


Porositas

n =

x100%
73

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

4.7 Analisa
Pada percobaan ini nilai kadar air, dan massa jenis bagian atas sampel
menunjukkan nilai yang lebih besar, dibandingkan dengan bagian bawah sampel.
Ini menunjukkan bahwa air masih terkumpul banyak dibagian atas sampel.pada
sampel ini setelah dihitung menghasilkan derajat kejenuhan yang lebih dari 100%
sebenarnya tanah tidak perlu dijenuhkan karena apabila dijenuhkan maka tanah
tersebut akan menjadi lumpur oleh sebab itu kita mendapatkan derajat kejenuhan
yang lebih dari 100% untuk itu hanya menghitung kadar air dan massa jenisnya .
4.8 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa, nilai massa
jenis,dan kadar air sampel bagian atas akan lebih besar dibandingkan bagian
bawah sampel,. Hal ini bisa dilihat dari data hasil perhitungan yang ada.












74

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB V
UJI KONSOLIDASI


5.1 Tujuan Percobaan
Tujuan konsolidasi adalah menentukan sifat kemampatan tanah dan
karakteristik konsolidasinya yang merupakan fungsi dari permeabilitas tanah,
dengan memberikan beban secara bertahap kepada tanah dan mengukur
perubahan volume (atau perubahan tinggi) contoh tanah terhadap waktu.
a. Sifat kemampatan tanah dinyatakan dengan koefisien kemampatan
volume (m
v
) atau dengan indeks kompresi (Cc).
b. Karakteristik konsolidasi dinyatakan oleh koefisien (Cv) yang
menggambarkan kecepatan kompresi tanah terhadap waktu.

5.2 Teori Dasar Percobaan
Suatu beban statis pada tanah pasir akan memampatkan pasir secara
cepat, sedangkan beban statis akan bekerja pada tanah lempung menyebabkan
penurunan sangat lambat. Ada dua penyebab utama mengenai lambatnya waktu
penurunan dari tanah lempung yaitu:
1. Kelambatan Hidrodinamik
2. Kelambatan kekentalan
Meskipun lapisan lempung mempunyai sedikit sifat kompresi elastis
berupa sedikit perubahan volume pada partikel-partikel tanah dan air, secara
pasti bagian yang lebih besar dari penurunan harus terjadi karena diperas
keluarnya air dari rongga pori. Beban statis menghasilkan suatu gradien tekanan
dalam air pori dan menyebabkan aliran menuju permukaan drainase. Akan tetapi,
aliran ini lambat karena adanya permeabilitas dari tanah lempung. Sehingga laju
penurunan merupakan fungsi dari permeabilitas. Kelambatan waktu penurunan
ini disebut sebagai kelambatan hidrodinamik.
Agar partikel-partikel lempung bergerak saling mendekat bersama-sama
akibat suatu beban statis, maka air lapis ganda yang tersesun mengelilingi
partikel-partikel lempung harus mengalami deformasi. Deformasi ini bisa
disebabkan oleh beban-beban yang dapat cenderung memaksa keluarnya air
75

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
lapis ganda dan /atau oleh beban-beban geser yang menyebabkan suatu
deformasi geser dalam air yang mengelilingi partikel tersebut. Kelambatan waktu
yang berkaitan dengan perlawanan kekentalan disebut kelambatan kekentalan.
Kompresi pada lapisan-lapisan lempung jenuh akibat suatu beban statis
disebut konsolidasi, dan teori-teori mengenai konsolidasi yang berkaitan dengan
kelambatan hidrodinamik maupun kelambatan kekentalan terdapat pada literatur
mekanika tanah. Metode mengenai estimasi dari konsolidasi lempung yang biasa
digunakan pada saat ini adalah didasarkan pada teori konsolidasi satu dimensi
yang diajukan oleh Terzaghi ( 1925 ), yang hanya mengenal kelambatan
hidrodinamik yang bertanggung jawab kepada kelambatan waktu penurunan.
Dengan alasan ini maka teori tersebut harus digunakan dengan sangat hati-hati
dan mengikuti prosedur-prosedur standar yang telah diuji selama bertahun-
tahun. Meskipun teori Terzaghi tidak mempertimbangkan kelambatan kekentalan,
pada saat teori itu disajikan telah merupakan suatu perbaikan yang cepat pada
prosedur-prosedur guna mengestimasi konsolidasi lempung dan dapat
dipandang sebagai pelapor dari banyak teori-teori yang istimewa dalam
mekanika tanah pada saat ini (Bowles, 1984).
Uji konsolidasi dilakukan pada tanah lempung atau lanau jenuh dengan
interpretasi berdasarkan teori Terzaghi. Pengujian secara khusus untuk tanah
ekspansif dan tanah organik tidak termasuk dalam lingkup pengujian ini.
Beberapa defenisi yang berkaitan dengan percobaan ini antara lain:
a. Konsolidasi
adalah proses dimana tanah mengalami kompresi akibat beban dalam
suatu periode waktu tertentu, dimana kompresi berlangsung akibat
pengaliran air keluar dari pori-pori tanah.
b. Tekanan air pori ekses
adalah tekanan air pori tanah akibat pemberian beban seketika. Dengan
mengalirnya air dari pori-pori tanah, tekanan air pori ekses ini akan
menurun secara berangsur-angsur, peristiwa ini disebut dengan didipasi
tekanan air pori. Bila suatu lapisan tanah mengalami pembebanan akibat
beban di atasnya, maka tanah di dibawah beban yang bekerja tersebut
akan mengalami kenaikan tegangan, ekses dari kenaikan tegangan ini
adalah terjadinya penurunan elevasi tanah dasar (settlement).
Pembebanan ini mengakibatkan adanya deformasi partikel tanah, relokasi
76

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
partikel tanah, dan keluarnya air pori dari tanah yang disertai
berkurangnya volume tanah. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya
penurunan tanah.
Pada umumnya tanah, dalam bidang geoteknik, dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu tanah berbutir dan tanah kohesif. Pada tanah berbutir (pasir/sand),
air pori dapat mengalir keluar struktur tanah dengan mudah, karena tanah
berbutir memiliki permeabilitas yang tinggi. Sedangkan pada tanah
kohesif (clay), air pori memerlukan waktu yang lama untuk mengalir
keluar seluruhnya. Hal ini disebabkan karena tanah kohesif memiliki
permeabilitas yang rendah.
c. Derajat konsolidasi
Adalah rasio antara tekanan air pori yang menurun setelah beberapa
waktu berdisipasi terhadap tekanan air pori ekses mula-mula selama
proses konsolidasi. Disebut juga sebagai persentase disipasi tekanan air
pori.
d. Derajat konsolidasi rata-rata
Adalah rata-rata derajat konsolidasi sepanjang ketinggian contoh tanah.
Dapat dibuktikan bahwa derajat konsolidasi rata-rata sama dengan rasio
pemampatan tanah pada saat tertentu terhadap pemampatan final dari
contoh tanah.
e. Kompresi awal
adalah pemampatan yang terjadi seketika setelah beban diberikan
kepada contoh tanah, sebelum proses disipasi berlangsung.
f. Konsolidasi primer
adalah bagian dai kompresi tanah akibat pengaliran air hingga seluruh
proses disipasi selesai.
g. Konsolidasi sekunder
adalah pemampatan tanah yang berlangsung setelah konsolidasi
selsesai.
h. Koefisien konsolidasi (Cv)
adalah parameter yang menghubungkan perubahan tekanan air pori
ekses terhadap waktu.


77

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
5.3 Manfaat
Hasil uji konsolidasi ini dapat digunakan untuk menghitung penurunan
tanah akibat proses konsolidasi dan secara tidak langsung dapat digunakan
untuk menentukan permeabilitas tanah, dengan rumus:

k = m
v
x p
w
x C
v

dimana:
k = permeabilitas tanah
m
v
= massa pori (gr)
p
w
= massa jenis air (1 gr/cm2)
C
v
= Koefisien konsolidasi

5.4 Keterbatasan
Uji ini hanya untuk konsolidasi 1 dimensi (arah verrikal saja).

5.5 Peralatan
a. Alat konsolidasi terdiri dari 2 bagian, yaitu alat pembebanan dan alat
konsolidasi
b. Arloji ukur
c. Peralatan untuk meletakkan contoh tanah ke dalam ring konsolidas
d. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr dan 0,1 gr
e. Oven
f. Stopwatch
g. Penggaris (Scale)

5.6 Ketentuan
a. Untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan kadar air, contoh tanah harus
secepatnya diuji. Contoh tanah tidak boleh dipasang dan dibiarkan terlalu
lama sebelum beban pertama diberikan.
b. Selama percobaan sel konsolidasi harus tetap penuh air. Pada beberapa
macam tanah tertentu ada kemungkinan pada pembebanan pertama
akan terjadi pengembangan (swelling) setelah sel konsolidasi diisi dengan
air. Bila hal ini terjadi, segeralah pasang beban kedua dan baca arloji
78

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
penurunan seperti prosedur. Jika pada pembebanan kedua masih terjadi
pengembangan maka beban ketiga harus dipasang, demikian seterusnya
sampai tidak terjadi pengembangan.

5.7 Prosedur Percobaan
1. Ukur tinggi dan diameter dan berat (dengan ketelitian 0,1 gram) ring
konsolidasi.

Foto 5.1
Sampel Konsolidasi

2. Ambil contoh tanah dengan diameter yang sama dengan diameter ring, di
sini dipakai diameter 6,5 cm dan tinggi 2 cm.
3. Masukkan contoh tanah tadi ke dalam ring dengan hati-hati, lapisan atas
harus terletak di bagian atas.
4. Contoh tanah dan ring ditimbang.

Foto 5.2
Penimbangan Sampel Konsolidasi
79

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
5. Tempatkan batu pori pada bagian atas dan bawah ring sehingga contoh
tanah yang sudah dilapisi kertas pori terapit oleh kedua batu pori.
Kemudian masukkan dalam sel konsolidasi.
6. Pasang pelat penumpu di atas batu pori.

Foto 5.3
Pemasangan Sampel Pada Alat

7. Letakkan sel konsolidasi yang sudah berisi contoh tanah pada alat
konsolidasi, bagian yang runcing dari pelat penumpu tepat menyentuh
alat pembebanan.
8. Aturlah kedudukan arloji pengukur penurunan, kemudian dibaca dan
dicatat.
9. Pasanglah beban pertama sehingga tekanan pada contoh tanah
mencapai besar 0,25 kg/cm
2
. Lakukan pembacaan pada detik ke 6, 15,
30, dan pada menit ke 1, 2, 4, 8, 15, 30, 60, 90, 120, 180, 330, 420, 1140
setelah beban dipasang. Sesudah pembacaan 1 menit sel konsolidasi
diisi air.
10. Setelah beban bekerja 24 jam pembacaan arloji yang terakhir dicatat.
Pasang beban kedua sebesar beban pertama sehingga tekanan menjadi
2 kali semula. Kemudian baca dan catat arloji seperti pada butir 9.
11. Lakukan butir 9 dan 10 untuk beban-beban selanjutnya. Contoh tanah
diberi beban-beban kg/cm
2
, kg/cm
2
, 1 kg/cm
2
, 2 kg/cm
2
, 4 kg/cm
2
, 8
kg/cm
2
, dst. Besarnya beban maksimum yang diberikan tergantung pada
beban yang akan bekerja pada lapisan tanah tersebut.
12. Setelah beban 8 kg/cm
2
dikerjakan selama 24 jam, beban dikurangi
hingga mencapai 2 kg/cm
2
dan kemudian kg/cm
2
. Beban-beban
80

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
tersebut dibiarkan selama 4 jam dan dibaca besar pengembangannya
dari masing-masing beban tersebut.
13. Setelah pembacaan terakhir dicatat, keluarkan contoh tanah dan ring dari
sel konsolidasi, kemudian batu pori diambil dari permukaan atas dan
bawah.
14. Timbang ring yang berisi contoh tanah setelah dibersihkan dari genangan
air yang terdapat pada sel konsolidasi.
15. Masukkan ring yang berisi contoh tanah tersebut ke dalam oven selama
24 jam untuk mengetahui berat kering contoh tanah.

5.8 Data Hasil Percobaan
Tabel 5.5.1
Data Hasil Percobaan
Pressure

Elap.
Time
t
1/2

Dial Reading x 10exp-2 mm
Penurunan Pengembangan
0.5 1 2 4 8 2 0.5
0 0.0 0 - - - - - -
0.25 0.5 92 79 63,5 51 93
80,09 86
1 1.0 91 78,9 62,1 51 89
2.25 1.5 90,5 78,1 60,05 50,5 85
4 2.0 89 78,1 59,5 50,01 83,2
6.25 2.5 88,9 78 58,9 49,8 82
9 3.0 88,1 77,9 58 49,1 81,1
16 4.0 87,8 77,5 57 48,4 86
20.25 4.5 87,5 77,1 56,9 48,1 79
25 5.0 87,1 77,1 56,5 48 78,2
43 6.6 86,5 76,9 55,9 47 77,1
68 8.2 86,3 76 55 46,1 76
93 9,6 86 76 53,4 45,9 75
130 11,4 86 76 53 45,9 75
190 13,8 86 53 45,9 75
304 17,4 53
Z
1
= 1,9 Cm M
5
Konsolidasi = 61,2 gr
Z
2
= 5,1 Cm M
5
= 77,8 gr
81

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
5.9 Perhitungan
Luas Sampel = r
2

= 3,14 x 2,55
2

= 20,417
2H

= Z
1
- Z
2
+ Z
3

2H
0,5 gr
= 1,9 - 5,1 + 0,05
= -3,15 gr
2H
1gr
= 1,9 - 5,1 + 0,05
= -3,15 gr
2H
2gr
= 1,9 - 5,1 + 0,1
= -3,1 gr
2H
4gr
= 1,9 - 5,1 + 0,1
= -3,1 gr
2H
8gr
= 1,9 - 5,1 + 0,15
= -3,05 gr
Pengembangan
2H
2gr
= 1,9 - 5,1 + 0,21
= -2,99 gr
2H
0,5gr
= 1,9 - 5,1 + 0,21
= -2,99 gr
2H
0
=



2H
0
=



Void Ratio
e =


e
0,5 gr
=


= -2,23 Pengembangan
e
1gr
=

e
2 gr
=


= -3,820 = -3,682
e
2gr
=

e
0,5 gr
=


= -3,799 = -3,520
82

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
e
4 gr
=

e
8gr
=


= -3,773 = -3,261
Koefisien Konsolidasi
CV =


CV
0,5 gr
=

CV
0,5 gr
=


= 0,218 = 0,074
CV
1gr
=

CV
1gr
=


= 0,306 = 0,05
CV
2gr
=

CV
0,5 gr
=


= 0,114 = 0,063
CV
4gr
=

CV
0,5 gr
=


= 0,08 = 0,033
CV
8gr
=

CV
0,5 gr
=


= 0,186 = 0,118














83

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
5.10 Analisa
Pada percobaan ini, jka beban ditambahkan maka perubahan dial gauge
akan semakin menurun, begitu juga dengan beban 8 Kg yang penurunannya
sangat cepat dan jauh dibandingkan dengan penambahan beban yang lainnya,
hal ini disebabkan karena beban 8 Kg memiliki berat yang angat berbeda dengan
beban yang sebelumnya dengan demikian perubahan pada dial gauge akan
cepat berubah dan perubahan =nya sangat jauh.

5.11 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan uji konsolidasi data yang dihasilkan dapat
untuk menghitung penurunan tanah akibat terjadinya proses konsolidasi, dan
bisa juga untuk menentukan permeabilitas dari suatu tanah. Data-data yang
dihasilkan tersebut adalah void ratio dari setiap beban dan koefisien konsolidasi.
















84

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB VI
UJI KUAT TEKAN BEBAS
(UNCONFINED COMPRESSION TEST)


6.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengukur kuat tekan bebas
(unconfiden compressive strength) dari lempeng/lanau. Dari kuat tekan bebas
dapat diketahu :
a. Kekuatan geser undrained (C
U
)
b. Derajat kepekaan (degree of sensitivity)

6.2 Teori Dasar Percobaan
Ada beberapa definisi yang berkaitan dengan percobaan ini antara lain :
a. Kuat tekan bebas (q
u
) adalah harga tegangan aksial maksimum yang dapat
ditahan oleh benda uji silindris sebelum mengalami keruntuhan geser.
b. Derajat kepekaan/sensitivitas (S
T
) adalah rasio antara kuat tekan bebas
dalam kondisi asli (undistrubed) dan dalam kondisi teremas (remolded)
Kuat tekan bebas merupakan suatu tekanan aksial benda uji pada saat
mengalami keruntuhan atau pada saat regangan aksial mencapai 20%.Pengujian
kuat tekan bebas termasuk hal khusus dari pengujian Triaksial Unconsolidated
Undrained.Pengujian Unconfined Compression pada tanah lempung jenuh air,
biasanya menghasilkan harga cu yang sedikit lebih kecil dari harga yang didapat
dari pengujian uu (untuk test triaksial) tegangan aksial yang diterapkan diatas
benda uji berangsur-angsur ditambah sampai benda uji mengalami
keruntuhan.Pemeriksaan kuat tekan bebas yang dilakukan befungsi untuk
menentukan dan mengetahui nilai kuat tekan bebas (qu) dari suatu tanah

6.3 Manfaat
Hasil uij kuat bebas dapat digunakan untuk menentukan kuat geser tanah
kohesif dengan cepat dan ekonomis.
85

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
6.4 Keterbatasan
Uji ini tidak dapat dilaksanakan pada tanah pasiran.
6.5 Peralatan
a. Alat unconfined compression
b. Silinder untuk mengambil contoh tanah
c. Stopwatch
d. Piston Plunger
e. Oven
f. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gr dan 0,01 gr
g. Membran Karet remolding
h. Container
i. Deskilator
j. Sticmat/ jangka sorong
6.6 Ketentuan
Contoh tanah berbentuk silinder ditekan dengan peningkatan regangan
vertical
v
yang konstan sehingga mencapai keruntuhan. Tekan vertical
v
diukur
pada setiap peningkatan
v
.

6.7 Prosedur Percobaan
a. Contoh tanah diambil dengan pengukuran tinggi 3 dan diameter 3/2,
kedua permukaannya diratakan.
b. Keluarkan contoh tanah dari silinder dengan menggunakan piston plunger.
c. Letakkan contoh tanah tersebut pada alat Unconfined Compression Test
kemudian dicatat pembacaan mula-mula dari proving ring dial,arloji
pengukur regangan vertikal dan waktu
d. Mulai diberikan tekanan vertikal dengan kecepatan regangan 1% per menit.
Dilakukan pembacaan proving ring dial setiap regangan 0,01 inci
e. Pemberian regangan vertikal ditingkatkan sampai terjadi kelongsoran pada
contoh tanah, dimana pembacaan proving ring dial telah mencapai nilai
maksimum. Percobaan dihentikan setelah pembacaan proving ring dial
mulai turun beberapa kali (minimum 3 kali)
f. Kemudian contoh tanah digambar bidang longsornya dari
depan,belakang,tengah (3 tampak)
86

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
g. Contoh tanah yang telah longsor kita remas-remas dalam kantong dan kita
masukkan dalam silinder, dengan ketentuan volumenya sama, untuk
menentukan kekuatan geser tanah teremas. Prosedur 1 sampai 6 diulangi.

6.8 Perhitungan dan Pelaporan
Penerapan hasil uji meliputi :
a. Nama instansi/ perusahaan
b. Nama proyek
c. Lokasi
d. Deskripsi Tanah
e. Tanggal Pengujiaan
f. Kedalaman Tanah
g. Nama Operator
h. Nama engineer yang bertanggung jawab
Perhitungan :
a. Kuat Tekan bebas
Nilai kuat tekan bebas (unconfined compressive strength), qu, didapat dari
pembacaan proving ring dial yang maksimum.



Dimana :
q
u
= kuat tekan bebas (kg/cm2)
k = kalibrasi proving ring
R = pembacaan maksimum pembacaan awal
A = luas penampang contoh tanah pada saat pembacaan RT (yang
dikoreksi)
b. Kuat Geser Undrained
Kuat geser Undrained (C
U
) adalah setengah kuat tekan bebas.

87

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
c
u
=


c
u
= kuat geser undrained (kg/cm2)
q
u
= kuat tekan bebas (kg/cm2)


c. Derajat Kepekaan
Derajat kepekaan (St) didapat dari perbandingan qu undisturbed dengan qu
remolded
S
t
=



6.9 Hasil Percobaan
a. Dinyatakan dalam grafik, hubungan antara tegangan vertikal dengan
regangan
b. Dinyatakan dalam nilai nilai q
u
, c
u
, s
t

6.10 Hasil Pengamatan
Tabel 6.1
Data Hasil Percobaan
Undisturbed Remolded
Vertical (mm) Proving Dial Vertical (mm) Proving Dial
0 0 0 0
0,2 1 0,2 1
0,4 1,5 0,4 1,5
0,6 1,75 0,6 2
0,8 2,1 0,8 2,8
1,0 2,5 1,0 3
1,2 3 1,2 3,5
1,4 3,5 1,4 4
1,6 4 1,6 4,5
88

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG


Undisturbed Remolded
t = 6,61 Cm t = 6,2 Cm
r = 3,45 Cm r = 3,3 Cm


6.11 Perhitungan
Undisturbed
Strain =


Strain
1
=

x 100%= 0%
Strain
2
=

x 100%= 0,30%
Strain
3
=

x 100%= 0,60%
Strain
4
=

x 100%= 0,90%
Strain
5
=

x 100%= 1,21%
Strain
6
=

x 100%= 1,51%
1,8 4,5 1,8 5
2,0 5 2,0 5,5
2,2 5,5 2,2 6
2,4 6 2,4 7
2,6 7 2,6 7,5
2,8 8 2,8

3,0

8,5

3,0


3,2


9

3,2




3,4


9,5


3,4



3,6

10

3,6

89

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Strain
7
=

x 100%= 1,81%
Strain
8
=

x 100%= 2,11%
Strain
9
=

x 100%= 2,42%


Strain
10
=

x 100%= 2,72%
Strain
11
=

x 100%= 3,02%
Strain
12
=

x 100%= 3,32%
Strain
13
=

x 100%= 3,63%
Strain
14
=

x 100%= 3,93%
Strain
15
=

x 100%= 4,23%
Strain
16
=

x 100%= 4,53%
Strain
17
=

x 100%= 4,84%
Strain
18
=

x 100%= 5,14%
Strain
19
=

x 100%= 5,44%

Remolded

Strain =



Strain
1
=

x 100%= 0%
Strain
2
=

x 100%= 0,32%
90

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Strain
3
=

x 100%= 0,64%
Strain
4
=

x 100%= 0,96%
Strain
5
=

x 100%= 1,29%
Strain
6
=

x 100%= 1,61%
Strain
7
=

x 100%= 1,93%
Strain
8
=

x 100%= 2,25%
Strain
9
=

x 100%= 2,58%
Strain
10
=

x 100%= 2,90%
Strain
11
=

x 100%= 3,22%
Strain
12
=

x 100%= 3,54%
Strain
13
=

x 100%= 3,87%
Strain
14
=

x 100%= 4,19%
Strain
15
=

x 100%= 4,51%

Axial Load = Proving Dial x Kalibrasi

Undisturbed
Axial Load
1
= 1,5 x 0,604
= 0,906 Kg
Axial Load
2
= 1,75 x 0,604
= 1,057 Kg
Axial Load
3
= 2,1 x 0,604
= 1,268 Kg
Axial Load
4
= 2,5 x 0,604
= 1,51 Kg
91

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Axial Load
5
= 73 x 0,604
= 1,812 Kg
Axial Load
6
= 3,5 x 0,604
= 2,114 Kg
Axial Load
7
= 4 x 0,604
= 2,716 Kg

Axial Load
8
= 4,5 x 0,604
= 2,718 Kg
Axial Load
9
= 5 x 0,604
= 2,78 Kg
Axial Load
10
= 5,75 x 0,604
= 3,02 Kg
Axial Load
11
= 6 x 0,604
= 3,473 Kg
Axial Load
12
= 7 x 0,604
= 3,624 Kg
Axial Load
13
= 8 x 0,604
= 4,228 Kg
Axial Load
14
= 8,5 x 0,604
= 4,832 Kg
Axial Load
15
= 8 x 0,604
= 5,135 Kg
Axial Load
16
= 9 x 0,604
= 5,436 Kg
Axial Load
17
= 9,5 x 0,604
= 5,738 Kg
Axial Load
18
= 10 x 0,604
92

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
= 6,04 Kg

Remolded
Axial Load = Proving Dial x Kalibrasi

Axial Load
1
= 1,5 x 0,604
= 0,906 Kg
Axial Load
2
= 1,75 x 0,604
= 1,057 Kg
Axial Load
3
= 2 x 0,604
= 1,268 Kg
Axial Load
4
= 2,5 x 0,604
= 1,51 Kg
Axial Load
5
= 2,8 x 0,604
= 1,691 Kg
Axial Load
6
= 3 x 0,604
= 3,5,114 Kg
Axial Load
7
= 3,5 x 0,604
= 2,114 Kg
Axial Load
8
= 4 x 0,604
= 2,416 Kg
Axial Load
9
= 4,5 x 0,604
= 2,718 Kg
Axial Load
10
= 5, x 0,604
= 3,02 Kg
Axial Load
11
= 5,5 x 0,604
= 3,322 Kg
Axial Load
12
= 6 x 0,604
= 3,624 Kg
Axial Load
13
= 7 x 0,604
= 4,228 Kg
93

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Axial Load
14
= 7,5 x 0,604
= 4,53 Kg
Corectin Factor = 1 +



Undisturbed

Corection Factor
1
= 1 +


= 1,003
Corection Factor
2
= 1 +


= 1,006
Corection Factor
3
= 1 +


= 1,009
Corection Factor
4
= 1 +


= 1,0121
Corection Factor
5
= 1 +


= 1,0151
Corection Factor
6
= 1 +


= 1,0181
Corection Factor
7
= 1 +


= 1,0211
Corection Factor
8
= 1 +


= 1,0242
Corection Factor
9
= 1 +


= 1,0272
Corection Factor
10
= 1 +


94

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
= 1,0302
Corection Factor
11
= 1 +


= 1,0332
Corection Factor
12
= 1 +


= 1,0363
Corection Factor
13
= 1 +


= 1,0393
Corection Factor
14
= 1 +


= 1,042
Corection Factor
15
= 1 +


= 1,0453
Corection Factor
16
= 1 +


= 1,0484
Corection Factor
17
= 1 +


= 1,0514
Corection Factor
18
= 1 +


= 1,0544

Remolded
Corectin Factor = 1 +



Corection Factor
1
= 1 +


= 1,0032
Corection Factor
2
= 1 +


= 1,0064
Corection Factor
3
= 1 +


95

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
= 1,0096
Corection Factor
4
= 1 +


= 1,0129
Corection Factor
5
= 1 +


= 1,0161
Corection Factor
6
= 1 +


= 1,0193
Corection Factor
7
= 1 +


= 1,0225
Corection Factor
8
= 1 +


= 1,0258
Corection Factor
9
= 1 +


= 1,0290
Corection Factor
10
= 1 +


= 1,0322
Corection Factor
11
= 1 +


= 1,0354
Corection Factor
12
= 1 +


= 1,0387
Corection Factor
13
= 1 +


= 1,0419
Corection Factor
14
= 1 +


= 1,0451



96

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Corection Area = Corection Factor x Luas
Undisturbed
Luas = r
2

= 3,14 x 1,725
2

= 9,34 cm
2
Corection Area
1
= 1,0003 x 9,34
= 9,36
Corection Area
2
= 1,006 x 9,34
= 9,39
Corection Area
3
= 1,009 x 9,34
= 9,42
Corection Area
4
= 1,0121 x 9,34
= 9,45
Corection Area
5
= 1,0151 x 9,34
= 9,48
Corection Area
6
= 1,0181 x 9,34
= 9,50
Corection Area
7
= 1,0211 x 9,34
= 9,53
Corection Area
8
= 1,0292x 9,34
= 9,56
Corection Area
9
= 1,0272 x 9,34
= 9,59
Corection Area
10
= 1,0302 x 9,34
= 9,62
Corection Area
11
= 1,0332 x 9,34
= 9,65
Corection Area
12
= 1,0363 x 9,34
= 9,67
Corection Area
13
= 1,0393 x 9,34
= 9,70
Corection Area
14
= 1,0423 x 9,34
= 9,73
97

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Corection Area
15
= 1,0453 x 9,34
= 9,76
Corection Area
16
= 1,0484 x 9,34
= 9,79
Corection Area
17
= 1,0514 x 9,34
= 9,82
Corection Area
18
= 1,0544 x 9,34
= 9,84

Corection Area = Corection Factor x Luas
Remolded
Luas = r
2

= 3,14 x 1,65
2

= 8,54 cm
2

Corection Area
1
= 1,00032 x 8,54
= 8,56
Corection Area
2
= 1,0064 x 8,54
= 8,59
Corection Area
3
= 1,0096 x 8,54
= 8,62
Corection Area
4
= 1,0129 x 8,54
= 8,65
Corection Area
5
= 1,0161 x 8,54
= 8,67
Corection Area
6
= 1,0193 x 8,54
= 8,70
Corection Area
7
= 1,0225 x 8,54
= 8,73
Corection Area
8
= 1,0292x 8,54
= 8,76
Corection Area
9
= 1,0322 x 8,54
= 8,78
Corection Area
10
= 1,0354 x 8,54
98

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
= 8,81
Corection Area
11
= 1,0387 x 8,54
= 8,87
Corection Area
12
= 1,0419 x 8,54
= 8,89
Corection Area
13
= 1,0451 x 8,54
= 8,92

Shear Stress =




Undisturbed
Shear Stress
1
=


= 0,064
Shear Stress
2
=


= 0,096
Shear Stress
3
=


= 0,112
Shear Stress
4
=


= 0,134
Shear Stress
5
=


= 0,159

Shear Stress
6
=


= 0,190
Shear Stress
7
=


= 0,221
Shear Stress
8
=


= 0,252

99

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Shear Stress
9
=


= 0,283

Shear Stress
10
=


= 0,313
Shear Stress
11
=


= 0,359
Shear Stress
12
=


= 0,329
Shear Stress
13
=


= 0,496
Shear Stress
14
=


= 0,496

Shear Stress
15
=


= 0,526
Shear Stress
16
=


= 0,555
Shear Stress
17
=


= 0,584

Shear Stress
18
=


= 0,613
Remolded
Shear Stress
1
=


= 0,070

100

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Shear Stress
2
=


= 0,105
Shear Stress
3
=


= 0,140
Shear Stress
4
=


= 0,174
Shear Stress
5
=


= 0,195

Shear Stress
6
=


= 0,208
Shear Stress
7
=


= 0,292
Shear Stress
8
=


= 0,275

Shear Stress
9
=


= 0,309

Shear Stress
10
=


= 0,342
Shear Stress
11
=


= 0,375
Shear Stress
12
=


= 0,408
Shear Stress
13
=


= 0,475
101

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Shear Stress
14
=


= 0,507



Qu =


Qu
Undisturbed
=


= 0,058
Qu
Remolded
=


= 0,468
St =


= 0,123











102

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
6.13 Analisa
Pada percobaan ini, sampel undesturbed lebih cepat hancur
dibandingkan dengan sampel remolded. Hal ini dikarenakan sampel
undisturbed masih berupa sampel alami yang kemudian langsung
diletakan pada alat Unconfined Compression Test sedangkan sampel
remolded sisa dari sampel undisturbed yang kemudian dihancurkan dan
dipadatkan, sehingga saat di uji coba sampel remolded lebih lama hancur,
karena sampel remolded lebih padat dibandingkan dengan sampel
undesturbed.


6.14 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa sampel yang
sudah dipadatkan akan lebih kuat dibandingkan dengan sampel yang
masih alami.dan juga Kekuatan geser undrained (C
U
) didapatkan hasil
undisturbed sebesar 0,058 dan pada remolded sebesar 0,468 Derajat
kepekaan (degree of sensitivity) didapatkan sebesar 0,123
















103

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB VII
UJI GESER LANGSUNG UU
(UNCONSOLIDATED UNDRAINED DIRECT SHEAR TEST)


7.1 Tujuan Percobaan
Maksud dari uji geser langsung adalah untuk memperoleh besarnya
tahanan geser tanah pada tegangan normal tertentu. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan kuat geser tanah.

7.2 Teori Dasar Percobaan
Kuat geser langsung merupakan perlawanan geser maksimum pada
tanah uji geser langsung. Pedoman ini mencakup metode pengukuran kuat geser
tanah menggunakan uji geser langsung UU. Interpretasi kuat geser dengan cara
ini bersifat langsung sehingga tidak dibahas secara rinci. Beberapa defenisi yang
berkaitan dengan percobaan ini antara lain :
a. Gaya Normal adalah gaya yang bekerja tegak lurus terhadap bidang yang
ditinjau.
b. Gaya Geser adalah gaya yang bekerja secara menyinggung atau sejajar
bidang yang ditinjau.
c. Tegangan Normal (
n
) adalah gaya normal per satuan luas.
d. Tegangan Geser adalah gaya geser per atuan luas.
e. Peralihan (displacement) adalah perpindahan horizontal suatu bidang
geser relatife terhadap bidang lain dalam arah kerja gaya geser.
f. Kohesi (C
U
) adalah kuat geser tanah akibat gaya tarik antar partikel.
g. Sudut geser dalam () adalah komponen kuat geser tanah akibat geseran
antara partikel.
h. Kuat geser adalah tegangan geser maksimum yang dapat ditahan oleh
suatu bidang (dalam tanah) di bawah kondisi tertentu.
i. Kuat geser puncak (peak strength) adalah kuat geser tertinggi pada suatu
rentang peralihan atau regangan tertentu.
104

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
j. Kuat geser residual adalah tahanan geser tanah pada regangan atau
peralihan yang besar yang bersiat komstan. Kuat geser residual ini
dicapai setelah kuat geser puncak dilampaui.
k. Dilatansi adalah pengembangan volume tanah saat dikenai tegangan
geser.

7.3 Peralatan yang Digunakan
a. Shear box / kotak geser
b. Bagian untuk menggeser shear box
c. Proving ring.
d. Dial untuk mengukur deformasi vertical dan horizontal.
e. Beban konsolidasi
f. Batu pori dari bahan yang tidak berkarat (k = 0,1 cm/det).
g. Plat untuk menjepit contoh tanah.
h. Ring untuk mengambil / mencetak contoh tanah dari tabung sampel.
i. Dolly, untuk memindahkan contoh tanah dari ring ke shear box.
j. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr.
k. Kertas filter.
l. Oven.
m. Stopwatch.
n. Pisau atau palet.

7.4 Prosedur Percobaan
a. Siapkan semua peralatan yanh diperukan.
b. Keluarkan shear box dari tempat airnya.
c. Masukkan contoh tanah ke dalam shear box dengan memasang baut
penguncinya.
d. Atur agar pelat pendorong tepat menempel pada shear box bagian bawah
e. Piston proving diatur agar tepat menyinggung shear box bagian atas, ini
berarti proving ring belum menerima beban.
f. Atur kedudukan loading yoke dalam posisi kerja, tempatkan juga
kedudukan dial untuk mengukur deformasi vertical. Atur kedudukan dial
ini pada posisi tertentu.
105

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
g. Siapkan eban konsolidasinya. Lengan pembebana ini mempunyai
perbadingan panjang 1 : 10, jadi beban yang bekerja juga mempunyai
perbandingan 1 : 10.
h. Contoh tanah siap digeser, dengan lebih dahulu meentukan kecepatan
penggeserannya.
i. Atur susunan gigi agar kecepatan penggeseran sesuai denga yang
diinginkan. Kecepatan penggeseran yang umumnya dipakai ialah : 0,30
mm/menit.
j. Hidupkan tombol POWER, lampu indicator akan menyala. Pengeseran
dapat dimulai dengan menekan tombol B D, karena posisi gigi pada D.
k. Matikan alat jika jarum sudah tidak bergerak
l. Keluarkan contoh tanah dari shear box, timbang berat contoh tanah ini
dan masukkan oven selama 24 jam dalam suhu 105 C, untuk
mengetahui kadar air akhirnya.
m. Ulangi semua prosedur di atas dengan dua buah contoh tanah lagi, tetapi
dengan menggunakan tegangan normal yang lain

7.5 Data Percobaan
Tabel 7.1
Data Hasil Percobaan
Beban
(Kg)
Perubahan
Horizontal
Loading Dial
Perubahan
Vertical
Div mm Div Div
mm
2
20 0,2
6
8
11
12
14
15
16
17
18
3
0,03
40 0,4 6
0,06
60 0,6 12
0,12
80 0,8 18
0,18
100 1 24
0,24
120 1,2 30
0,30
106

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
140 1,4
18
18
18
35
0,35
160 1,6 37
0,37
180 1,8 40
0,40
200 2 41
0,41
220 2,2 43
0,43
240 2,4 44
0,44
4
20 0,2
7
13
15
17
18
21
24
25
26
27
29
30
31
32
5
0,05
40 0,4 10
0,10
60 0,6 14
0,14
80 0,8 16
0,16
100 1 19
0,19
120 1,2 20
0,20
140 1,4 22
0,22
160 1,6 23
0,02
180 1,8 26
0,26
200 2 27
0,27
220 2,2 29
0,29
240 2,4 31
0,31
260 2,6 39
0,39
280 2,8 40
0,40
107

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
8
20 0,2
4
13
19
24
28
31
34
36
38
40
42
43
7
0,07
40 0,4 8
0,08
60 0,6 12
0,12
80 0,8 28
0,28
100 1 31
0,31
120 1,2 37
0,37
140 1,4 40
0,40
160 1,6 43
0,43
180 1,8 46
0,46
200 2 48
0,48
220 2,2 51
0,51
240 2,4 54
0,54

Tabel 7.2
Data Hasil Pengamatan
2 Kg 4 Kg
8 Kg
Diameter (Cm) 6,3 6,1
6,3
Tinggi (Cm) 1,88 1,8
2,1
Massa Alami (gr) 90 111,1
116,25
Massa Kering (gr) 64,3 59,3
80,1



108

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
7.6 Perhitungan
Beban 2 Kg
Luas = ..d
2

= .3,14 x 6,3
2

= 31,2 Cm
2

Beban Horizontal = Loading Dial x Kalibrasi
BH
1
= 6x 0,605
= 3,63 Kg
BH
2
= 8 x 0,605
= 4,48 Kg
BH
3
= 11 x 0,605
= 6,7 Kg
(sisanya terlampirkan)
Tegangan Geser =


TG
1
=

TG
2
=


= 0,116 Kg/Cm
2
= 0,115 Kg/Cm
2

(sisanya terlampirkan)

Tegangan Normal =


Tegangan Normal =


= 0,641 Kg/Cm
2

109

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Beban 4 Kg
Luas = ..d
2

= .3,14 x 6,1
2

= 29,21 Cm
2


Beban Horizontal = Loading Dial x Kalibrasi
BH
1
= 7 x 0,605 BH
2
= 13 x 0,605
= 4,24 Kg = 7,9 Kg
(sisanya terlampirkan)
Tegangan Geser =


TG
1
=

TG
2
=


= 0,145 Kg/Cm
2
= 0,270 Kg/Cm
2

Tegangan Normal =


Tegangan Normal =


= 1,369 Kg/Cm
2

Beban 8 Kg
Luas = ..d
2

= .3,14 x 6,3
2

= 31,2 Cm
2

Beban Horizontal = Loading Dial x Kalibrasi
110

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BH
1
= 4 x 0,605 BH
2
= 43 x 0,605
= 2,42 Kg = 26,02 Kg
(sisanya terlampirkan)
Tegangan Geser =


TG
1
=

TG
9
=


= 0,077 Kg/Cm
2
= 0,253 Kg/Cm
2

(sisanya terlampirkan)
Tegangan Normal =


Tegangan Normal =


= 2,564 Kg/Cm
2

Sifat Fisik Batuan
Sampel 2 Kg Sampel 4 Kg
W =

x 100% W =

x 100%
Mw = Massa asli Masaa kering Mw = Massa asli Masaa kering
= 90 64,3 = 87,36 49,5
= 25,7 gr = 51,8 gr
W = =

x 100% W =

x 100%
= 39,96% = 87,35%
Sampel 8 Kg
111

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
W =

x 100%
Mw = Massa asli Masaa kering
= 116,25 80,1
= 36,15 gr
W =

x 100%
= 45,3%









112

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG




0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Grafik beban terhadap penurunan
sampel 1
sampel 2
sampel 3
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
Grafik pergerakan vertikal dan
peralihan horizontal
sampel 1
sampel 2
sampel 3
0
0
0
1
1
1
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
Grafik terhadap tegangan geser
maksimal terhadap teganga normal
sampel 1
sampel 2
sampel 3
113

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
7.7 Analisa
Pada percobaan ini, terlihat dari grafik tegangan geser terhadap peralihan
horizontal, dimana dapat membandingkan besarandari ketiga sampel tersebut.
Sampel yang mengalami peralihan lebih jauh terdapat pada sampel 1 (2Kg), dan
sampel yang memiliki tegangan tertinggi yaitu terdapat pada sampel 2 (4 Kg).

7.8 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini, maka didapatkan besaran tahanan
geser dari suatu sampel tanah yang masih sangat alami pada tegangan normal
tertentu. Selain itu didapatkan nilai kuat geser dari tanah tersebut.















114

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB VIII
UJI CALIFORNIA BEARING RATIO (CBR)


8.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk megetahui kekuatan tanah dasar
yang dikompaksi di laboratorium yang akan digunakan dalam perancangan
perkerasan. Hasil percobaan dinyatakan sebagai nilai CBR (dalam %) yang
nantinya dipakai untuk menentukan tebal perkerasan.

8.2 Teori Dasar Percobaan
California Bearing Ratio (CBR) merupakan suatu perbandingan atau rasio
dari gaya perlawanan penetrasi (penetrasi resistance) dari tanah pada sebuah
piston yang ditekan secara berlanjut terhadap gaya perlawanan penetrasi serupa
pada contoh tanah standard berupa batu pecah di California. Rasio tersebut
diambil pada penetrasi 2,5 dan 5,0 mm (0,1 dan 0,2 in) dengan ketentuan angka
tertinggi yang digunakan.
Gaya perlawanan penetrasi adalah gaya yang diperlukan untuk menahan
penetrasi konstan dari suatu piston ke dalam tanah. Pengerasan jalan adalah
lapisan lapisan bahan yang dipasang di atas dasar untuk menerima beban lalu
lintas sehingga beban tersebut ditambah berat perkerasan sendiri dapat dipikul
oleh tanah dasar.
Tebal perkerasan jalan bergantung pada kekakuan tanah dasar, kekuatan
bahan perkerasan, muatan roda, dan intensitas lalu lintas. Untuk menentukan
tebal perkerasan secara umum biasanya kekuatan tanah dasar dinyatakan dalam
nilai CBR dimana nilai CBR adalah perbandingan kekuatan tanah dasar atau
bahan lain yang dipakai untuk pembuatan perkerasan terhadap nilai CBR yang
didapat dari percobaan, baik untuk contoh tanah asli (undisturbed sample)
maupun contoh tanah yang dipadatkan (compacted sample). Percobaan CBR
juga dapat dilakukan secara langsung di lapangan.
Pada perencanaan jalan baru, tebal perkerasan biasanya ditentukan dari
nilai CBR tanah dasar yang dipadatkan. Nilai CBR yang dipergunakan untuk
115

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
perencanaan disebut rancangan CBR (CBR Design). Design CBR didapat dari
percobaan di laboratorium dengan memperhitungkan dua faktor, yaitu:
Kadar air tanah serta beratisi kering pada waktu dipadatkan.
Percobaan pada kadar air yang mungkin terjadi setelah perkerasan selesai
dibuat.

8.3 Alat Alat Yang Digunakan
Peralatan untuk percobaan kompaksi, lengkap.
Peralatan untuk percobaan CBR
Mold ukuran tinggi 7, diameter 6 berikut collar (3 buah)
Spacer disc tinggi 2 2,5, diameter 6
Hammer, berat 5,5 atau 10 lb, tinggi jatuh 12 atau 18
Surcharge load berat 10 lb (2 buah)
Alat pengukur CBR
Ayakan ukuran 3/4 dan no. 4
Sprayer untuk menyemprot air ke tanah
Pisau, scoop, tali karet
Timbangan dengan ketelitian 0,1 gr
Ember untuk merendam mold + tanah
Alat pengukur swelling

8.4 Prosedur Percobaan
1. Siapkan contoh tanah kering seperti pada percobaan kompaksi sebanyak 3
contoh masing masing 5 kg.
2. Tanah disaring dengan ayakan ukuran 20 mm.
3. Contoh tanah tersebut kemudian disemprot dengan air sehingga kadar
airnya menjadi w
optimum
dari percobaan kompaksi yang dilakukan
sebelumnya, dengan toleransi yang diijinkan 3% dari w
optimum
tersebut.
4. Kemudian contoh tanah tersebut didiamkan selama 24 jam (curing period)
agar kadar airnya merata dan ditutup rapat rapat agar airnya tidak
menguap.
5. Mold CBR disiapkan, spacer dish diletakkan di bawah, selanjutnya mold
diisi dengan contoh tanah tadi sedemikian banyaknya sehingga setelah
116

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
ditumbuk mempunyai ketinggian 1/5 tinggi mold (modified) atau 1/3 tinggi
mold (standard). Penumbukkan dilakukan setiap lapis seperti pada
percobaan kompaksi (tetapi dengan jumlah tumbukan yang berbeda untuk
ketiga contoh). Penumbukan pada setiap contoh adalah:
Contoh tanah I : 5 lapis (modified), w lapis (standard), 10x/lapis
Contoh tanah II : 5 lapis (modified), 3 lapis (standard), 25x/lapis
Contoh tanah III : 5 lapis (modified), 3 lapis (standard), 56x/lapis
6. Mold dibalikkan, spacer dish dikeluarkan, lalu ditimbang. Dengan
menimbang mold kosong bersih maka
d
dari setiap contoh tanah dapat
dihitung.
7. Kemudian kedua permukaan tanah diberi kertas pori, dalam keadaan
terbalik bagian bawah diberi perforated based plate di atas diberi surcharge
load minimum 10 lb, yang terdiri dari 2 bagian masing masing 5 lb.
8. Mold + tanah yang sudah dipadatkan kemudian direndam dalam air selama
4 x 24 jam, air harus dapat masuk baik lewat atas (swell plate) maupun dari
bawah (perforated plate) ke dalam tanah yang direndam. Perendaman ini
disebut Soaking.
9. Selama perendaman setiap hari dibaca besarnya swelling yang terjadi
akhirnya dihitung swelling totalnya dalam % terhadap tinggi tanah semula.
Syarat swelling total adalah 3%, yang baik adalah 1%.
10. Mold + contoh tanah diangkat dari dalam air, buang air yang tergenang di
atas contoh tanah yang ada di dalam mold.
11. Dengan beban yang sama berat seperti pada perendaman tadi, contoh
tanah diperiksa CBR nya, yaitu dengan penekanan penetration piston
yang luas bidang penekanannya = 3 inci
2
. Kecepatan penetrasi 0,05
in/menit. Dibaca penetrasi itu setiap menit atau setiap penetrasi 0,025 in.

8.5 Perhitungan dan Pelaporan
1. Hitung besarnya beban (load) yang diperlukan untuk setiap penetrasi.
Beban ini dihitung dengan mengalikan pembacaan proving ring dengan
faktor kalibrasinya.
2. Gambar grafik hubungan antara penetrasi dengan beban, dimana penetrasi
sebagai absis dan beban sebagai ordinatnya. Dalam hal ini akan didapat 3
buah grafik yang mana masing masing dipergunakan untuk menentukan:
117

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
CBR
10
= CBR sehubungan dengan 10 tumbukan.
CBR
25
= CBR sehubungan dengan 25 tumbukan.
CBR
56
= CBR sehubungan dengan 56 tumbukan.
Jika bagian awal grafik ini cekung ke atas maka harus diadakan koreksi
terhadap titik nol. Cara melakukannya adalah sebagai berikut:
Luruskan bagian grafik mulai dari bagian yang cekung ke atas sehingga
memotong sumbu x (absis) di titik 0.
Titik 0 dijadikan pusat sumbu baru sehingga semua titik pada sumbu x
bergeser sepanjang 00.
Harga CBR dihitung pada harga penetrasi 0,1 dan 0,2 dengan rumus
sebagai berikut:




Jadi,



Dimana:
A dan B adalah beban beban untuk penetrasi 0,1 dan 0,2 dalam satuan
lbs. Dari kedua nilai di atas diambil yang terbesar.
3. Hitung
d
dari setiap contoh tanah dengan cara:



118

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
4. Grafik kompaksi (

), dengan skala

yang sama.
5. Nilai Desain
Hasil percobaan dinyatakan dengan membuat grafik tanah

terhadap
CBR dengan ketentuan CBR sebagai absis dan

sebagai ordinat.

8.6 Data Percobaan
Tabel 8.1
Berat Sampel 10x Penumbukan
Container (gr)
Sampel+Container (gr)
Atas 14,1
44,9
Tengah 10,3
34,4
Bawah 10
23,75

Tabel 8.2
Berat Sampel 25x Penumbukan
Container (gr)
Sampel+Container (gr)
Atas 13,2
27,8
Tengah 9,8
21,4
Bawah 11,9
33

Tabel 8.3
Berat Sampel 56x Penumbukan
Container (gr)
Sampel+Container (gr)
Atas 13,4
53
Tengah 13,5
24,1
Bawah 13,2
26

Berat nampan = 310 gr
Berat sampel = 3 kg
119

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Berat nampan + sampel = 3,310 Kg
Pengukuran mold
Diameter = 15,2 Cm
Tinggi = 16,2 Cm
Berat = 7,6 Kg

V mold = .r
2
.t
= 3,14.(7,62)
2
.(16,2) = 2938,13cm
2


Tabel 8.4
Data Hasil Pengamatan
Penurunan
(mm)
Penurunan
(inch)
Standar
Beban
Pembebanan
Axial
Pembacaan Arloji
10x
25x
56x
10x 25x 56x
0,32 0,01 1
0
3
0,01 0 0,03
0,64 0,025 2
0
3
0,02 0 0,03
1,27 0,05 3
1
3
0,03 0,01 0,03
1,91 0,075 4
1
3
0,04 0,01 0,03
2,54 0,1 3000 4
1
3,5
0,04 0,01 0,035
3,8 0,15 5
1,1
4
0,05 0,011 0,04
5,08 0,2 4500 5
1,5
4
0,059 0,015 0,04
7,62 0,3 5,9
2
4
0.06 0,02 0,042
10,16 0,4 6
2,5
4,2
0,062 0,025 0,042
12,1 0,5 6,2
3
4,2
0,03

8.7 Pengolahan Data
Beban = Kalibrasi x Pebacaan Arloji
10x tumbukan
120

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Beban = 28,7082 x 0,01 Beban = 28,7082 x 0,062
= 0,287 lb = 1,779 lb
25x tumbukan
Beban = 28,7082 x 0 Beban = 28,7082 x 0,03
= 0 lb = 0,861 lb
56 x tumbukan
Beban = 28,7082 x 0,03 Beban = 28,7082 x 0,42
= 0,861 lb = 1,205 lb

Nilai CBR =


x 100%
10x tumbukan
Nilai CBR =

x 100% Nilai CBR =

x 100%
= 0,038% = 0,031%
Nilai CBR rata-rata =


= 0,345%
25x tumbukan
Nilai CBR =

x 100% Nilai CBR =

x 100%
= 0,009% = 0,009%
Nilai CBR rata-rata =


= 0,009%
56x tumbukan
Nilai CBR =

x 100% Nilai CBR =

x 100%
= 0,033% = 0,025%
Nilai CBR rata-rata =


= 0,038%
Bawah =


x 100% = 59,16%


121

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Massa Jenis
No mold I
Tinggi mold 16,2
Diameter mold 15,2
Volume mold 2938,13
Massa mold 8034
Massa tanah basah+mold 12124
Massa tanah basah 4090
Massa jenis tanah basah 1,392
Massa jenis tanah kering


Massa jenis tanah kering

=1,392 gr/cm
3
10x tumbukan


= 0,079 gr/cm
3

25x tumbukan


= 0,081 gr/cm
3
56x tumbukan


= 0,015 gr/cm
3







122

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Tabel 8.5 Hasil Pengamatan
Penumbukan 10x 25x 56x
Container Atas Tengah Bawah Atas Tengah Bawah Atas Tengah Bawah
Massa container 14,1 10,3 10 13,2 9,8 11,9 13,4 13,5 13,2
Massa tanah basah+container 44,9 34,4 23,75 27,8 21,4 33 53 24,1 26
Massa tanah kering+container 40 32 21,5 26 19,6 29,8 47 24,1 23,5
Massa tanah basah 30,8 24,1 13,75 14,6 11,6 21,1 39,6 22,5 12,8
Massa tanah kering 25,9 21,7 11,5 12,8 9,8 17,9 33,6 10,6 10,3
Mair 4,9 2,4 2,25 1,8 1,8 3,2 6 9 2,5
Kadar air 18,91 11,05 19,56 14,06 18,36 17,87 17,85 17,78 24,27
Kadar air rata-rata 16,51 16,76 19,97
123

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG












-0.5
0
0.5
1
1.5
2
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
b
e
b
a
n


penurunan
grafik antara pembebanan terhadap
penurunan
10x
25x
56x
0
0.01
0.02
0.03
0.04
0.05
0.06
0.07
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1
Grafik CBR terhadap berat isi kering
10x
25x
56x
Linear (10x)
124

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
8.8 Analisa
Dari percobaan ini dapat dianalisa dari melihat grafik yang terbentuk dari
beban terhadap penurunan inchi.pada grafik terlihat bahwa penumbukan 10x
lebih besar pembebanannya dibandingkan dengan 25x dan 56x seharusnya
semakin banyak tumbukan pada sampel maka semakin besar juga beban dan
penurunannya.ini dikarenakan menggunakan sampel tanah seharusnya
digunakan

8.9 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini, diketahui bahwa nilai rata-rata CBR dari
sampel pasir, serta bagaimana kekompakan dari suatu pasir yang telah
terkompakkan (tumbukan). Pada 10x tumbukan diketahui bahwa nilai dari rata-
rata CBR nya sebesar 0,0345%, untuk 25x tumbukan bernilai 0,009%,
sedangkan untuk 56x tumbukan nilai CBR nya lebih besar yaitu 0,058%.



















125

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BAB IX
UJI TRIAXIAL UU


9.1 Tujuan Percobaan
Maksud uji triaxial UU adalah untuk mengetahui kekuatan geser tanah;l
yaitu c (kohesi) dan (sudut geser dalam), dalam tegangan total ataupun efektif
yang mendekati keadaan aslinya di lapangan.
Tujuannya adalah untuk digunakan dalam analisis kestabilan jangka
pendek (short term stability analysis).

9.2 Teori Dasar Percobaan
Uji triaxial UU adalah uji kompresi triaxial dimana tidak diperkenankan
perubahan kadar air dalam contoh tanah. Sampel tidak dikonsolidasikan dan air
pori tidak teralir pada saat pemberian tegangan geser.
Bidang-bidang tegangan utama adalah 3 bidang yang saling tegak lurus
dimana bekerja tegangan-tegangan normal dan tanpa tegangan geser.
Tegangan-tegangan utama
1
,
3
adalah tegangan normal yang bekerja pada
bidang-bidang tegangan utama. Tegangan deviator adalah selisih antara
tegangan utama terbesar (
1
) dan teganagan utama terkecil (
3
). Lingkaran Mohr
adalah representasi secara grafis kondisi tegangan-tegangan pada suatu bidang
dinyatakan dalam tegaangan normal dan tegangan geser.
Garis keruntuhan adalah garis atau kurva yang menyinggung lingkaran-
lingkaran Mohr pada kondisi keruntuhan pada sampel yang memiliki tegangan-
tegangan keliling yang berbeda. Mempunyai persamaan T
f
= c + tan
Bidang keruntuhan adalah bidang dimana kuat geser maksimum dari
tanah telah termobilisasi saat keruntuhan. Secara teoritis pada uji triaxial, bidang
tersebut menyudut (45 + /2) terhadap bidang horizontal. Kriteria keruntuhan
Mohr-Coulomb adalah kuat geser tanah yang diperoleh dari ui triaxial. Kohesi (c),
adalah kuat geser tanah bila tidak diberikan tegangan keliling. Sudut geser dalam
() adalah komponen kuat geser tanah yang berasal dari gesekan antarbutir
tanah.
126

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
9.3 Peralatan yang Digunakan
Alat triaxial
Membran karet
Stretcher
Stopwatch
Alat untuk mengeluarkan tanah dari tabung (piston plunger)
Silinder untukmengambil contoh tanah
Oven
Timbangan dengan ketelitian 0,1 gr
Cawan (container)
Desikator
Pisau

9.4 Prosedur Percobaan
1. Contoh tanah diambil dengan tabung bor ukuran tinggi 76 mm dan
diameter 38 mm, kedua permukaannya diratakan.
2. Keluarkan contoh tanah dari silinder dengan menggunakan piston
plunger.
3. Ukur tinggi dan diameter sampel secara lebih akurat.
4. Timbang sample.
5. Dengan bantuan stretcher, contoh tanah diselubungi membran karet.
6. Pasang batu pori di bagian bawah.
7. Membran bagian bawah dan atas diikat dengan karet membran.
8. Letakkan contoh tanah tersebut pada alat triaxial.
9. Sel triaxial diisi air destilasi hingga penuh dan meluap, tegangan air pori
dinaikkan hingga sesuai tegangan keliling yang diinginkan.
10. Tekanan vertikal diberikan dengan jalan menekan tangkai beban dibagian
atas contoh tanah yang dijalankan oleh mesin dengan kecepatan tertentu.
11. Pembacaan diteruskan sampai pembacaan proving ring dial
memperlihatkan penurunan sebanyak 3 kali atau sampai regangan
mencapai 15 %.
12. Keluarkan contoh tanah dari sel triaxial kemudian digambar bidang
runtuhnya.
127

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
13. Contoh tanah dibagi menjadi 3 bagian untuk ditentukan kadar airnya.
14. Percobaan dilakukan lagi dengan tegangan sel yang lebih besar dengan
prosedur seperti di atas.

9.5 Data percobaan
Tabel 9.1
Data Hasil Percobaan 0,5 Kg
Dial reading Reading (div)
20 12
40 16
60 18
80 20
100 21
120 21,5
140 23
160 23,5
180 24
200 24,5
220 26
240 26,5
260 27,5
280 28,5
300 29,5
320 30
340 30,5
360 31
380 31
400 31,5
420 31,5
440 31,5

Tabel 9.2
Data Hasil Percobaan 1 Kg
Dial reading Reading div
20 9
128

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
40 15
60 20
80 22
100 23
120 24
140 26
160 28
180 29
200 29,5
220 30
240 30,5
260 31
280 31,5
300 32
320 32
340 32

Tabel 9.3
Data Hasil Percobaan 2 Kg
Dial reading Reading div
20 6,5
40 9,5
60 11,5
80 12
100 13
120 21,5
140 30,5
160 42,5
180 47
200 50
220 52
240 53
260 54
129

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
280 55
300 56
320 57
340 58
360 59
380 60
400 61
420 61,5
440 62
460 62,5
480 63
500 63
520 63
Pengolahan Data
Perhitungan L
L = Deformatian load/1000
L (0,5) => 20/1000
= 0,02 cm
=> 400/1000
= 0,4 cm
=> 700/1000
= 0,7 cm
L (1) => 40/1000
= 0,04 cm
=> 100/1000
= 0,1 cm
=> 80/1000
= 0,08 cm
L (2) => 200/1000
= 0, 2 cm
=> 240/1000
= 0,24 cm
=> 360/1000
= 0,36 cm
Perhitungan L/Lo = Strain
(0,5) L/Lo = 0,02/6,15
= 0,0033
L/Lo = 0,04/6,15
130

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
= 0,0065
L/Lo = 0,68/6,15
= 0,1106
(1) L/Lo = 0,04/6,39
= 0,0031
L/Lo = 0,1/6,39
= 0,0156
L/Lo = 0,12/6,39
= 0,488
(2) L/Lo = 0,2/5,9
= 0,0039
L/Lo = 0,26/5,9
= 0,0407
L/Lo = 0,3/5,9
= 0,0508
Perhitungan Correction Factor = 1 + strain
(0,5) CF = 1 + 0,0033
= 1,0033
CF = 1 + 0,0065
= 1,0065
CF = 1 + 0,1106
= 1,1106
(1) CF = 1 + 0,0031
= 1,0031
CF = 1 + 0,0156
= 1,0156
CF = 1 + 0,488
= 1,488
(2) CF = 1 + 0,0339
= 1,0339
CF = 1 + 0,0407
= 1,0407
CF = 1 + 0,0508
= 1,0508
Perhitungan Correction Area = CF X A
(0,5) CA = 1,0033 X 58,47
= 58,66 cm
2
CA = 1,0065 X 58,47
= 58,85 cm
2
CA = 1,1106 X 58,47
= 64,93 cm
2
(1) CA = 1,0031 X 60,75
= 60,94 cm
2
131

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
CA = 1,0156 X 60,75
= 61,7 cm
2
CA = 1,488 X 60,75
= 61,89 cm
2
(2) CA = 1,0339 X 59,41
= 58,32 cm
2
CA = 1,0407 X 59,41
= 58,7 cm
2
CA = 1,0508 X 59,41
= 59,28 cm
2
Beban = Kalibrasi X Pembacaan Dial
(0,5) Beban = 0,18 X 5
= 0,9 kg
Beban = 0,18 X 33
= 5,94 kg
Beban = 0,18 X 61
= 10,98 kg
(1) Beban = 0,18 X 13
= 2,34 kg
Beban = 0,18 X 15
= 2,7 kg
Beban = 0,18 X 25
= 4,5 kg
(2) Beban = 0,18 X 30
= 5,4 kg
Beban = 0,18 X 40,5
= 7,29 kg
Beban = 0,18 X 90
= 16,2 kg
Tegangan = Beban/A
(0,5) Tegangan = 0,9/58,47
= 0,02 kg/cm
2

Tegangan = 6,57/58,47
= 0,11 kg/cm
2
Tegangan = 9,72/58,47
= 0,17 kg/cm
2
(1) Tegangan = 2,34/60,35
= 0,04 kg/cm
2
Tegangan = 3,6/60,35
= 0,06 kg/cm
2
Tegangan = 4,14/60,35
= 0,07 kg/cm
2
(2) Tegangan = 5,4/59,41
132

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
= 0,1 kg/cm
2
Tegangan = 15,03/59,41
= 0,27 kg/cm
2
Tegangan = 17,82/59,41
= 0,32 kg/cm
2

Perhitungan Deviator Stress = Beban/CA
(0,5) Deviator stress = 0,9/58,66
= 0,015 kg/cm
2

Deviator stress = 7,47/60,18
= 0,124 kg/cm
2
Deviator stress = 11,7/62,46
= 0,188 kg/cm
2
(1) Deviator stress = 2,34/60,94
= 0,038 kg/cm
2
Deviator stress = 2,7/61,13
= 0,044 kg/cm
2
Deviator stress = 4,5/59,42
= 0,073 kg/cm
2
(2) Deviator stress = 5,4/56,6
= 0,095 kg/cm
2
Deviator stress = 16,2/58,32
= 0,278 kg/cm
2
Deviator stress = 18,9/58,32
= 0,314 kg/cm
2

1
=
3
X (
3
-
1)

(0,5)
1
= 0,5 X (0,015)
= 0,008

1
= 0,5 X (0,124)
= 0,062

1
= 0,5 X (0,188)
= 0,094
(1)
1
= 1 X (0,038)
= 0,038

1
= 1 X (0,044)
= 0,044

1
= 1 X (0,073)
= 0,073
(2)
1
= 2 X (0,095)
= 0,19

1
= 2 X (0,278)
= 0,556

1
= 2 X (0,314)
= 0,628
133

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

9.10 Hasil Perhitungan
Tabel 9.2
Hasil Perhitungan
Load Dial (div) L (cm) Strain L/Lo
0,5 1 2 0,5 1 2 0,5 1 2
5 13 30 0,02 0,02 0,02 0,0033 0,0031 0,0034
10 15 40,5 0,04 0,04 0,04 0,0065 0,0063 0,0068
19,5 20 56 0,06 0,06 0,06 0,0098 0,0094 0,0102
23 23 69 0,08 0,08 0,08 0,0130 0,0125 0,0136
27,5 25 74,5 0,1 0,1 0,1 0,0163 0,0156 0,0169
33 28 79,5 0,12 0,12 0,12 0,0195 0,0188 0,0203
36,5 30 83,5 0,14 0,14 0,14 0,0228 0,0219 0,0237
38,5 30 85,5 0,16 0,16 0,16 0,0260 0,0250 0,0271
41,5

88 0,18

0,18 0,0293

0,0305
43,5

90 0,2

0,2 0,0325

0,0339
45,5

92 0,22

0,22 0,0358

0,0373
49

93 0,24

0,24 0,0390

0,0407
52

95 0,26

0,26 0,0423

0,0441
54

97 0,28

0,28 0,0455

0,0475
57

99 0,3

0,3 0,0488

0,0508
59

100,5 0,32

0,32 0,0520

0,0542
61

102 0,34

0,34 0,0553

0,0576
63

103,5 0,36

0,36 0,0585

0,0610
63,5

104 0,38

0,38 0,0618

0,0644
65

105 0,4

0,4 0,0650

0,0678
67

106 0,42

0,42 0,0683

0,0712
70

107 0,44

0,44 0,0715

0,0746
71

108 0,46

0,46 0,0748

0,0780
73

0,48

0,0780

75

0,5

0,0813

77

0,52

0,0846

79,5

0,54

0,0878

81

0,56

0,0911

82

0,58

0,0943

83

0,6

0,0976

85

0,62

0,1008

90

0,64

0,1041

92,5

0,66

0,1073

95

0,68

0,1106

95

0,7

0,1138

134

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Correction Factor Correction Area Beban (kg)
0,5 1 2 0,5 1 2 0,5 1 2
1,0033 1,0031 1,0034 58,66 60,94 56,60 0,9 2,34 5,4
1,0065 1,0063 1,0068 58,85 61,13 56,79 1,8 2,7 7,29
1,0098 1,0094 1,0102 59,04 61,32 56,98 3,51 3,6 10,08
1,0130 1,0125 1,0136 59,23 61,51 57,17 4,14 4,14 12,42
1,0163 1,0156 1,0169 59,42 61,70 57,37 4,95 4,5 13,41
1,0195 1,0188 1,0203 59,61 61,89 57,56 5,94 5,04 14,31
1,0228 1,0219 1,0237 59,80 62,08 57,75 6,57 5,4 15,03
1,0260 1,0250 1,0271 59,99 62,27 57,94 6,93 5,4 15,39
1,0293

1,0305 60,18

58,13 7,47

15,84
1,0325

1,0339 60,37

58,32 7,83

16,2
1,0358

1,0373 60,56

58,51 8,19

16,56
1,0390

1,0407 60,75

58,70 8,82

16,74
1,0423

1,0441 60,94

58,90 9,36

17,1
1,0455

1,0475 61,13

59,09 9,72

17,46
1,0488

1,0508 61,32

59,28 10,26

17,82
1,0520

1,0542 61,51

59,47 10,62

18,09
1,0553

1,0576 61,70

59,66 10,98

18,36
1,0585

1,0610 61,89

59,85 11,34

18,63
1,0618

1,0644 62,08

60,04 11,43

18,72
1,0650

1,0678 62,27

60,23 11,7

18,9
1,0683

1,0712 62,46

60,43 12,06

19,08
1,0715

1,0746 62,65

60,62 12,6

19,26
1,0748

1,0780 62,84

60,81 12,78

19,44
1,0780

63,03

13,14

1,0813

63,22

13,5

1,0846

63,41

13,86

1,0878

63,60

14,31

1,0911

63,79

14,58

1,0943

63,98

14,76

1,0976

64,17

14,94

1,1008

64,36

15,3

1,1041

64,55

16,2

1,1073

64,74

16,65

1,1106

64,93

17,1

1,1138

65,13

17,1

Defiator Stress 1
0,5 1 2 0,5 1 2
0,015 0,038 0,095 0,008 0,038 0,191
0,031 0,044 0,128 0,015 0,044 0,257
135

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
0,059 0,059 0,177 0,030 0,059 0,354
0,070 0,067 0,217 0,035 0,067 0,434
0,083 0,073 0,234 0,042 0,073 0,468
0,100 0,081 0,249 0,050 0,081 0,497
0,110 0,087 0,260 0,055 0,087 0,521
0,116 0,087 0,266 0,058 0,087 0,531
0,124 0,272 0,062 0,545
0,130 0,278 0,065 0,556
0,135 0,283 0,068 0,566
0,145 0,285 0,073 0,570
0,154 0,290 0,077 0,581
0,159 0,295 0,080 0,591
0,167 0,301 0,084 0,601
0,173 0,304 0,086 0,608
0,178 0,308 0,089 0,615
0,183 0,311 0,092 0,623
0,184 0,312 0,092 0,624
0,188 0,314 0,094 0,628
0,193 0,316 0,097 0,632
0,201 0,318 0,101 0,635
0,203 0,320 0,102 0,639
0,208 0,104
0,214 0,107
0,219 0,109
0,225 0,112
0,229 0,114
0,231 0,115
0,233 0,116
0,238 0,119
0,251 0,125
0,257 0,129
0,263 0,132
0,263 0,131

136

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Grafik 9.1
Hubungan Defiator Stress terhadap Strain



Grafik 9.2
Hubungan Defiator Stress Terhadap Strain Untuk Tegangan Keliling 0,5


0.000
0.050
0.100
0.150
0.200
0.250
0.300
0.350
0.0000 0.1000 0.2000 0.3000 0.4000
d
e
f
i
a
t
o
r

S
t
r
e
s
s

Strain
Grafik Hubungan Antara Defiator Stress terhadap
Strain
Teg Keliling 1
Teg Keliling 0,5
Teg Keliling 2
0.000
0.050
0.100
0.150
0.200
0.250
0.300
0.0000 0.0200 0.0400 0.0600 0.0800 0.1000 0.1200
d
e
f
i
a
t
o
r

S
t
r
e
s
s

Strain
Grafik Hubungan Antara Defiator Stress terhadap
Strain untuk Beban 0,5
Teg Keliling 0,5
Linear (Teg Keliling 0,5)
137

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Grafik 9.3
Hubungan Defiator Stress Terhadap Strain Untuk Tegangan Keliling 1





0.000
0.010
0.020
0.030
0.040
0.050
0.060
0.070
0.080
0.090
0.100
0.0000 0.0050 0.0100 0.0150 0.0200 0.0250 0.0300
d
e
f
i
a
t
o
r

S
t
r
e
s
s

Strain
Grafik Hubungan Antara Defiator Stress terhadap Strain
untuk Beban 1
Teg Keliling 1
Linear (Teg Keliling 1)
0.000
0.050
0.100
0.150
0.200
0.250
0.300
0.350
0.400
0.0000 0.0200 0.0400 0.0600 0.0800 0.1000
d
e
f
i
a
t
o
r

S
t
r
e
s
s

Strain
Grafik Hubungan Antara Defiator Stress
terhadap Strain untuk Beban 2
Teg Keliling 2
Linear (Teg Keliling 2)
138

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
9.10 Analisa
Dalam pengujian triaxial UU ini, kita mendapatkan nilai correction area
dengan deviator stress, dimana nilai tersebut berbeda-beda antara lead dial
reading yang satu dengan read dial reading yang lainnya, dimana nilai correction
area dengan deviator stress berbanding lurus dengan nilai lead dial reading,
semakin besar nilai lead dial reading, maka semakin besar pula nilai correction
area dan deviator stress. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan kekuatan
tegangan keliling yang dibebankan kepada sampel yang kita uji tersebut, dimana
semakin besar tegangan keliling yang diberikan terhadap sampel maka makin
besar pula nilai deviator stress serta correction area nya, itulah yang
menyebabkan nilai correction area dengan deviator stress berbanding lurus
dengan nilai lead dial reading.

9.11 Kesimpulan
Pada praktikum kali ini kita dapat menentukan nilai corection area,
corection factor, dan nilai deviator stress dengan output yang dihasilkan seperti
tertera pada tabel berikut ini :
Tabel 9.3
Output Dari Perhitungan
Correction Factor Correction Area Defiator Stress
0,5 1 2 0,5 1 2 0,5 1 2
1,0033 1,0031 1,0034 58,66 60,94 56,60 0,015 0,038 0,095
1,0065 1,0063 1,0068 58,85 61,13 56,79 0,031 0,044 0,128
1,0098 1,0094 1,0102 59,04 61,32 56,98 0,059 0,059 0,177
1,0130 1,0125 1,0136 59,23 61,51 57,17 0,070 0,067 0,217
1,0163 1,0156 1,0169 59,42 61,70 57,37 0,083 0,073 0,234
1,0195 1,0188 1,0203 59,61 61,89 57,56 0,100 0,081 0,249
1,0228 1,0219 1,0237 59,80 62,08 57,75 0,110 0,087 0,260
1,0260 1,0250 1,0271 59,99 62,27 57,94 0,116 0,087 0,266
1,0293 1,0305 60,18 58,13 0,124 0,272
1,0325 1,0339 60,37 58,32 0,130 0,278
1,0358 1,0373 60,56 58,51 0,135 0,283
1,0390 1,0407 60,75 58,70 0,145 0,285
1,0423 1,0441 60,94 58,90 0,154 0,290
1,0455 1,0475 61,13 59,09 0,159 0,295
1,0488 1,0508 61,32 59,28 0,167 0,301
1,0520 1,0542 61,51 59,47 0,173 0,304
1,0553 1,0576 61,70 59,66 0,178 0,308
1,0585 1,0610 61,89 59,85 0,183 0,311
139

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1,0618 1,0644 62,08 60,04 0,184 0,312
1,0650 1,0678 62,27 60,23 0,188 0,314
1,0683 1,0712 62,46 60,43 0,193 0,316
1,0715 1,0746 62,65 60,62 0,201 0,318
1,0748 1,0780 62,84 60,81 0,203 0,320
1,0780 63,03 0,208
1,0813 63,22 0,214
1,0846 63,41 0,219
1,0878 63,60 0,225
1,0911 63,79 0,229
1,0943 63,98 0,231
1,0976 64,17 0,233
1,1008 64,36 0,238
1,1041 64,55 0,251
1,1073 64,74 0,257

















140

LABORATORIUM TAMBANG
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
DAFTAR PUSTAKA


Laboratorium Tambang, Staff Assisten. 2014. Diktat Praktikum
Geomekanika. Bandung : Universitas Islam Bandung
Kaffi, Ashabul, 208, Praktikum Mekanika Batuan, http://bumih. wordpress.
com/about/, wordpress, diakses pada 14 maret 20.50 WIB 2014.
Heriyadi, Bambang, 2004, Studi Perbandingan Kuat Tarik Uniakasial
Langsung Dan Tidak Lansung, http://digilib.itb.ac.id/gdl. php?mod=
browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-s2-1998-bambangher-1744, digilib,
diakses pada 14 maret 21.12 WIB 2013.
Rudi, braja, 2010, UJI KUAT TEKAN, Blogger, Diakses 7 Maret 2014,
pukul 14.00 WIB
Rafik 201,YOUNG MODULUS, blogspot.com, Diakses 7 Maret 14. 30
WIB
Nugraha, Rifki, 2012, KUAT TEKAN UNIAXIAL, Blogger, Diakses 7
Maret 13.45 WIB
Afardy. 2009. Sifat Fisik Batuan. Allcoma Blogspot. Diakses tanggal 25
Februari 2014. Pukul 19.37 WIB.
Ahmad. 2011. Sifat Fisik Batuan. Wordpress. Diakses tanggal 25
Februari 2014. Pukul 19.35 WIB.
Arief. 1977. Pengujian Pada Batuan. Ariefgeo Blogspot. Diakses
tanggal 25 Februari 2014. Pukul 19.25 WIB.
Wijayanto, Andika. 2014. Uji Sifat Fisik. Blogspot. Diakses tanggal 25
Februari 2014. Pukul 19.30 WIB
Subroto, Jusuf. 2011. Sifat Fisik Batuan. Wordpres. Diakses tanggal 20
Februari 2014. Pukul 19.40 WIB.