Anda di halaman 1dari 5

Tugas Individu

Drh.Dini
ILMU PENYAKIT DALAM II


Muhtadin Wahyu
O111 101 121





PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014



Paralisa yang terjadi dibedakan menjadi kelumpuhan yang bersifat spastik bila letak
(topis) kerusakan (lesi) pada sistem piramidal yang tidak lain adalah komponen upper
motoneuron (UMN), dan kelumpuhan yang bersifat flaksid apabila kerusakan terjadi pada
serabut saraf tepi yang membentuk komponen lower motoneuron (LMN). Kelumpuhan yang
bersifat spatik (lesi UMN) adalah kelumpuhan yang bersifat menegang (menjadi lebih kaku)
secara klinis ditandai oleh adanya :
Peningkatan tonus otot
Peningkatan refleks fisiologis
Munculnya refleks patologi
Kelumpuhan yang bersifat flaksid (lesi LMN) adalah kelumpuhan yang melemas, ditandai
dengan :
Menurun atau hilangnya tonus otot
Menurunnya refleks fisiologis
Tidak timbul refleks patologis

Komponen penting dalam sistem muskuloskeletal meliputi otot dan perlekatannya,
tulang dan sendi. Fungsi utama sistem ini adalah mendukung tubuh dalam berbagai cara
untuk menampilkan gerakan dan postur yang normal. Selain dari pada itu struktur tulang
tertentu juga terlibat dalam beberapa fungsi tertentu, seperti respirasi, mastikasi, urinasi dan
defekasi.Beberapa penyakit otot, tulang atau sendi akan memiliki gejala klinis utama berupa
lokomosi yang abnormal (pincang) dan atau postur yang mengalami perubahan.
Gangguan lokomosi akan ditemukan pada saat hewan bergerak atas kemauan sendiri
atau bilamana hewan tersebut diberi perlakuan dengan suatu latihan. Gangguan fungsi
lokomosi dapat muncul akibat adanya penyakit pada sistem syaraf dan juga penyakit-
penyakit lain yang tidak mengenai alat gerak. Penyakit sistemik yang sangat berat sering
menimbulkan kelemahan otot, tremor, inkoordinasi akibat terjadinya toksemia. Demikian
pula halnya, perubahan postur tubuh berupa kyphosis dapat terjadi akibat adanya nefritis
akut.
Tulang
Pemeriksaan klinis terhadap tulang dapat dilakukan dengan cara inspeksi dan palpasi
pada bagian tubuh tempat tulang muncul ke superfisial tubuh dan tidak tertutup oleh massa
otot. Beberapa penyakit tulang dapat menyebabkan hewan memiliki postur tubuh dan cara
berjalan yang khas dan perubahan-perubahan pada tulang yang dapat ditemukan pada saat
palpasi seperti abnormalitas konsistensi, bentuk dan sensitifitas. Dengan inspeksi dan palpasi
dapat pula diambil suatu kesimpulan tentang penyakit tulang yang terjadi apakah bersifat
lokal pada suatu tulang atau bersifat umum/menyeluruh. Selain dari pada itu, pemeriksaan
radiologik terhadap tulang dapat pula memberikan informasi yang sangat bernilai karena
pemeriksaan ini dapat mengungkap struktur tulang yang diperiksa.
Beberapa perubahan patologik/penyakit tulang yang sering ditemukan pada hewan antara
lain berupa defek perkembangan tulang, degenerasi tulang yang berkaitan dengan faktor
nutrisi, agen toksik dan keturunan, penyakit keradangan dan penyakit proliferatif.

Otot
Otot-otot bagian superfisial diperiksa dengan methoda inspeksi dan palpasi. Fungsi dan
tonus otot dapat dievaluasi dengan methoda tersebut. Untuk keperluan pemeriksaan otot
sebaiknya juga dilakukan observasi pada saat hewan menjalani latihan. Suatu perubahan
ukuran lokal pada otot secara mudah dapat ditemukan bilamana dapat dilakukan
pembandingan suatu atau sekelompok otot pada satu sisi dengan sisi tubuh yang lain.
Penurunan ukuran suatu otot (atrophy) dapat terjadi akibat penggunaan otot yang terbatas,
seperti pada kasus kelumpuhan syaraf radial yang persisten, rasa sakit berlebihan pada tulang
dan sendi yang menimbulkan keterbatasan gerakan, dan pada kasus ankylosis. Selain dari
pada itu, kerusakan pada otot dapat pula dievaluasi dengan pemeriksaan ekskresi kreatin
dalam urin, pemeriksaan kadar serum glutamic oxalacetic transaminase (SGOT) dan
pemeriksaan histopatologik.
Peningkatan tonus otot mungkin bersifat kontinyu (spasmus tonik) sebagaimana pada
kasus tetanus atau bersifat intermittent (spasmus klonik) seperti pada kasus keracunan
strychnine. Peningkatan tonus ini dapat pula berkembang menjadi sangat berat dan bersifat
menyeluruh sehingga hewan yang menderita akan mengalami ambruk rebahlateral dan
opisthotonus (ekor dan kepala yang mengarah keatas, punggung mengalami depresi dan kaki
mengalami ekstensi). Bilamana spasmus otot meningkat hebat, dapat ditemukan adanya otot
yang kaku dan keras pada saat palpasi dan otot-otot superfisial akan dapat dilihat dengan jelas
secara individual. Spasmus otot juga dapat menimbulkan adanya eksitasi dan peningkatan
respirasi. Tremor, suatu kontraksi otot volunter yang berulang-ulang, mudah diamati dan
dapat diketahui secara palpasi. Gangguan dapat terjadi akibat adanya dehidrasi,
ketidakseimbangan elektrolit tubuh dan gangguan fungsi syaraf.


Sendi
Pemeriksaan klinis terhadap sendi dilakukan dengan cara yang sama sebagaimana yang
digunaan untuk pemeriksaan tulang. Inspeksi dan palpasi sendi tulang-tulang apendikular
dapat pula ditambah dengan observasi rentang fleksi dan ekstensi sendi-sendi yang
bersangkutan selama latihan atau dapat pula dilakukan dengan cara-cara manual. Pada
hewan-hewan yang kecil pemeriksaan sendi-sendi pada tulang belakang dapat pula
dilakukan dengan cara palpasi secara tidak langsung tehadap columna vertebralis. Dengan
inspeksi yang dilakukan pada scat hewan istirahat dan latihan dan palpasi dapat
dimungkinkan untuk menemukan abnormalitas contour, bentuk dan fungsi sendi.
Sebagaimana pada pemeriksaan tulang, pemeriksaan radiologik terhadap sendi mempunyai
makna yang cukup besar. Bilamana diketahui adanya timbunan cairan di dalam rongga
sendi, maka dapat dilakukan pengambilan cairan sendi unuk keperluanpemeriksaan
kimiawisitologik/mikroskopik dan mikrobiologik.
Gangguan/penyakit sendi yang dapat dijumpai pada hewan antara lain defek kongenital
(seperti scoliosis, torticolis, ankylosis, arthrogryosis), arthritisinflamatorik, dan arthropati
degenerativ yang berkaitan dengan abnormalitas postur atau defek strukturan seperti pada
kasus rakhitis, osteomalacia, osteodistrofia dan defisiensi nutrisi.
Foot
Dengan cara inspeksi dan palpasi dapat dilakukan pemeriksaan terhadap kuku, kulit
daerah interdigiti, bantalan kaki (pada anjing/kucing) dan metakarpal pada kaki depan atau
metatarsal pada kaki belakang. Pada saat palpasi metakarpal/metatarsal perlu diperhatikan
adanya kesakitan, krepitasi dan abnormalitas pada persendiaannya. Disamping dengan
inspeksi, pemeriksaan kuku pada hewan besar (kuda dan sapi) dapat pula dilakukan dengan
palpasi dan menjepit kuku yang bersangkutan dengan tang (visiter tang). Pemeriksaan
radiologik mempunyai arti yang cukup penting untuk meneguhkan adanya beberapa
perubahan patologik pada bagian tubuh ini. Gangguan patologik/penyakit yang mengenai
bagian telapak kaki antara lain laminitis, fibroma interdigital dan pododermatitis/footrot
infeksiosa.
Pemeriksaan yang penting
Pemeriksaan terhadap muskuloskeletal meliputi pemeriksaan terhadap otot, tulang, sendi dan
foot. Metoda yang digunakan antara lain adspeksi, palpasi, radiologik, dan pemeriksaan
kimia klinik. Pemeriksaan sistem lokomosi yang disebabkan penyakit dilakukan dengan
melihat gerak refleks.