Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kritik merupakan salah satu dari ilmu sastra. Kritik sastra meneliti atau menganalisis
teks karya sastra itu sendiri. Kritik dapat diterapkan pada semua bentuk karya sastra, baik
yang berupa puisi, prosa maupun drama. Kritik adalah karangan yang menguraikan tentang
pertimbangan baik atau buruk suatu karya sastra. Kritik biasanya diakhiri dengan kesimpulan
analisis.
Kritik bersangkut paut dengan puisi, prosa, drama, novel bahkan kritik sendiri. Bila
kesustraan kreatif dapat didefinisikan sebagai suatu tafsir (interpretasi) kehidupan dalam
berbagai bentuk seni sastra, kritik sastra dapatlah didefinisikan sebagai suatu penafsiran
kepada suatu penafsiran itu dan kepada bentuk bentuk seni yang memberikan tafsiran
kehidupan tersebut. (Rachmat Pradopo,1994:12).
Selain itu, tujuan kritik bukan hanya menunjukkan keunggulan, kelemahan,
kebenaran, dan kesalahan sebuah karya sastra berdasarkan sudut tertentu, tetapi mendorong
sastrawan tuntuk mencapai penciptaan sastra tertinggi dan untuk mengapresiasi karya sastra
secara lebih baik. Kehadiran kritik sastra akan membuat sastra yang dihasilkan berikutnya
menjadi lebih baik dan berbobot karena kritik sastra akan menunjukkan kekurangan sekaligus
memberikan perbaikan.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa sajakah yang termasuk ke dalam jenis jenis sastra?
2. Bagaimana fungsi kritik sastra itu sendiri?


1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui jenis jenis kritik sastra
2. Untuk mengetahui fungsi kritik sastra
2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis jenis Kritik Sastra
Jenis jenis kritik sastra antara lain :
1. Kritik Yudisial
Kritik yudisial atau kritik penghakiman ini ialah suatu kritik yang berusaha
mengemukakan penilaian atau penghakiman terhadap sesuatu karya sastra, serta
menghubungkannya dengan standar standar atau norma norma teknik penulisan
ataupun standar standar tujuan penulisan karya tersebut. (Henry Guntur,1971 : 26)
Rene Wellek dan Austin menegaskan bahwa kritik yudisial menaruh perhatian pada
hukum hukum atau prinsip yang dianggap sebagai suatu yang objektif.
Dalam kritik yudisial , karya sastra yang menjadi objek kajian lebih dispesialisasikan
tapi dengan penjelasan yang seluas mungkin. Disini dituntut pengklasifikasian yang lebih
terperinci dan tajam terhadap para pengarang dan karyanya.
2. Kritik Induktif
Kritik induktif adalah suatu jenis kritik yang bertujuan untuk mengumpulkan fakta
fakta yang ada hubungan atau referensinya dengan suatu karya seni,metode metodenya
hubungannya dengan waktu atau masa masa dimana dia dihasilkan serta menyusunnya
menjadi suatu urutan atau susunan yang rapih dan akhirnya menuliskannya dengan
teratur. Hal ini sesuai dengan metode induksi dalam ilmu pengetahuan yang mengambil
kesimpulan umum dari fakta fakta yang khusus . (Henry Guntur,1971 : 27)
3. Kritik Impresionistik
Kritik impresionistik adalah kritik sastra yang muncul sebagai produksi dari aliran
individualisme romantik dan kesadaran akan diri yang lebih modern . Kritik ini
menghubungkan pengalaman penulis dengan karyanya. Sebaiknya, seorang kritikus
mempunyai gaya yang bisa membuat hati pembaca terpikat dengan kedudukannya
sebagai pembimbing juga penghubung antara pembaca dan karya sastra.
3

Kritikus impresionistik sangat sensitif terhadap efek efek sastra, dan kalau karyanya
tersebar luas dibaca oleh masyarakat apalagi jika dia seorang penulis kritik yang pintar
dan berpengalaman serta mempunyai gaya bahasa yang dapat memikat hati para
pembaca. Dengan demikian dia dapat memperkaya pengalaman pembaca, terutama
pegalaman imajinatif. (Henry Guntur,1971 : 28)
4. Kritik Historis
Sejarah singkat dapat dikatakan bahwa kritik sejarah dapat mengikuti segala sesuatu
yang terjadi atas suatu bentuk sastra ataupun mengadakan survey terhadap kegiatan sastra
pada suatu periode sejarah tertentu ataupun menempatkan seorang pengarang dalam
kelompoknya serta menunjukkan hubungannya dengan kelompok tersebut.
Setiap karya sastra harus diteliti dan ditelaah dengan hal hal yang berhubungan
dengan karya sastra tersebut. Hal hal yang dapat menjadi bahan acuan anatara lain :
naskah, bahasa, dan komposisi karya satra, serta perbandingan karya sang pengarang
dengan teman teman seangkatannya.
Seorang kritikus harus paham bahwa karya sastra merupakan refleksi pengarang pada
kehidupan dan kebudayaannyadan pengelompokan jenis karya sastra tersebut serta
hubungannya dengan karya yang sejenis.
Poin poin penting yang masih perlu mendapat perhatian sehubungan dengan kritik
sejarah ini, antara lain yaitu ;
a) Dalam mengahadapi atau menggarap bahasa suatu karya sastra, sang kritikus
sejarah dapat mempertimbangkan dua hal:
Mengembalikan para pembaca masa kini pada keadaan bahasa pada saat
karya tersebut ditulis
Memandang bahasa itu sebagai suatu media komunikasi penting saat itu.
b) Keterangan keterangan yang berupa riwayat hidup adalah merupakan jenis
yang bernilai dan amat berharga bagi kritikus sejarah. Karena kritikus sejarah
menilai kesuksesan atau kegagalan karya seni tersebut terhadap konteks
tujuan sang pengarang, maka sudah jelas bahasa sang kritikus akan berusaha
mendapatkan segala informasi yang berhubungan dengan itu.
4

c) Kritikus sejarah berusaha mendapatkan segala korelasi anatara kehidupan sang
penulis dan karyanya bukan saja untuk menentukan isi tetapi juga untuk
menentukan bentuk yang lebih jelas.
d) Bagi kritikus sejarah atau historical critic sastra adalah suara kemanusiaan
dam melalui sastra itu sang kritikus bukan hanya berhubungan atau menaruh
perhatian pada kecakapan membaca dan menulis tetapi juga pada kecakapan
membaca dan menulis dari seluruh masyarakat manusia.
e) Silsilah sastra atau geanologi suatu karya temapt kedudukannya dalam tardisi
dan konvensi yang tertentu adalah merupakan salah satu perhatian utama dari
para kritikus sejarah
f) Di atas segalanya itu sang kritikus sejarah dalam kritik sastranya berhasrat
benar benar memperoleh hasil atau kesuksesan yang gemilang dalam bidang
pemaduan belajar dan penilaian.
Joseph. T.Shipley mengatakan bahwa kritik sejarah dapat menempatkan suatu
karya pada tempatnya dapat memulihkan warnanya yang sejatisehingga kita
melihat nilai nilainya dengan lebih jelas.(Henry Guntur,1971 : 29-30)

5. Kritik Filosofis
Kritik filosofis adalah sejenis kritik yang berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan
suatu dasar yang paling sesuai atau dasar yang adekwat bagi pertimbangan atau penilaian
karya sastra, melalui analisa terhadap hakekat dan fungsi sastra sebagai suatu falsafah
hidup atau sebagai cara berpikir mengenai kehidupan.(Henry Guntur,1971 : 30)
Kritik filosofis berusaha menentukan prinsip prinsip pokok yang dapat
dipergunakan dalam kritik sastra agar pedoman yang digunakan dalam suatu kritik jelas
dan tegas.
6. Kritik Formalis
Merupakan kritik sastra yang berpedoman pada teori dasar estetika yang meletakkan
tekanan pada bentuk karya sastra, struktur, gaya dan efek psikologisnya. Aristoteles
adalah pencetusnya. Kritik ini bertentangan dengan teori dari Plato yang menekankan
pada aspek isi dan efek moral/sosial. Kritik formalis disamakan dengan the new criticism,
karena memang dia merupakan suatu kritik yang masih muda, lebih lebih kalau
dibandingkan dengan kritik kritik yang lainnya.
5

7. Kritik Sosiokultural
Menurut Edmund Wilson kritik sosiokultural adalah interpretasi sastra dalam aspek
aspek sosial ekonomi dan politiknya. Yang merupakan pusat perhatian utama dari kritik
ini adalah interaksi karya sastra dengan kehidupan dan interaksi, ini bukan hanya
mencakup implikasi social, ekonomi, dan politik karya tersebut tetapi juga dalam
pengertian yang amat luas mencakup implikasi implikasi moral dan kulturalanya.
Kritik sosiokultural ini sebenarnya banyak sekali mendapat pengaruh dari Matthew
Arnold, lebih lebih dalam penekanannya pada aspek moral,intelektual dan aspek sosial
sastra dan kritik sastra .(Henry Guntur ,1971 : 34)
8. Kritik Psikologis
Kritik psikologis adalah salah satu cabang atau jenis kritik sastra yang mendalami segi
segi kejiwaan dari suatu karya sastra yang mencakup segi segi kejiwaan penulis,
karya dan pembaca. Kita tahu bahwa hubungan antar psikologi dengan kritik sastra sama
tuanya dengan usia kedua cabang ilmu tersebut. Dan yang paling berpengaruh terhadap
kritik sastra adalah Sigmund Freud dengan psikoanalisanya.(Henry Guntur,1971 : 37)
9. Kritik Mitopoeik
Kata mitopoeik berasal dari bahasa grika mythopoeic yang berarti pembuatan mitos.
Dengan demikian kritik mitopoeik adalah sejenis kritik sastra yang ada sangkut pautnya
dengan pembuatan atau penciptaan mitos dalam suatu karya sastra. Mitos adalah cerita
cerita kuno yang isinya diaggap bertuah dan dipertanya. Kritik mitopoeik ini adalah kritik
yang paling baru dan yang paling ambisius diantara kritik kritik kontemporer dan
barangkali juga paling propokatif dalam tindakan tindakan dan kemungkinan
kemungkinannya.(Henry Guntur,1971 : 37)
10. Kritik Relativistik
Relativisme adalah suatu ajaran atau doktrin dalam estetika dan kritik, yang
mengatakan bahwa keindahan atau nilai estetika suatu karya seni merupakan suatu
relation property. Jenis kritik ini berpedoman pada anggapan relativisme, yaitu bahwa
penilaian terhadap karya sastra tergantung pada subjek yang menikmati dan menilainya.
6

Hal ini terjadi karena selera individu berbeda beda , begitu juga dalam hal
menikmati karya sastra sehingga tidak ada yang bersifat mutlak. Jika pendapat dari
seseorang lebih mendominasi akan muncul suatu teori yang absolut meski tidak disadari.
Relativisme berpendapat bahwa pernyataan seperti puisi ini indah mengandung
suatu referensi implisit pada beberapa orang pendengar, sebab sebenarnya arti yang
sesungguhnya adalah puisi ini indah bagi si x dimana x adalah orang tertentu.
Demikianlah relativisme yakin benar benar bahwa nilai estetika tidak berhubungan erat
dengan karya, tetapi bergantung pada keyakinan atau pendirian sesuatu individu
kelompok sosial, periode sejarah dan kebudayaan.(Henry Guntur,1971 :41)
11. Kritik Absolutistik
Kritik ini berpendapat bahwa satu satunya alternatif bagi hukum kritik adalah
anarki, bahwa kalau setiap kritikus menghakimi dan mengadakan penilaian dan
pertimbangan bagi dirinya sendiri, maka mau tak mau muncullah kebingungan.
Pengalaman membuktikan bahwa keadaan atau posisi yang begini salah sama sekali.
(Henry Guntur,1971 : 42)
Ini dapat disiasati dengan tetap menggunakan pendapat masyarakat agar tetap bisa
terwujud komunikasi yang baik.
12. Kritik Interpretatif
Interpretatif adalah bersifat adanya kesan, pendapat, dan pandangan berhubungan
dengan adanya penafsiran. (KBBI)
Semua jenis kritik sastra bisa digolongkan sebagai jenis kritik ini karena hakekat
kritik sastra sendiri adalah memberikan interpretasi/penafsiran terhadap suatu karya
sastra. Maka, pengkhususan kritik sastra jenis ini adalah memperkenalkan standar yang
secara relative tidak ada hubungannya dengan orang atau hal tertentu. Disini akan terlihat
keterkaitan antara teori, sejarah dan kritik sastra. Tiada satupun ilmu yang dapat berdiri
sendiri seratus persen tanpa bantuan orang lain.



7

13. Kritik Tekstual
Kritik tekstual atau kritik naskah ini adalah sejenis kritik sastra yang memusatkan
perhatiannya terutama sekali pada naskah suatu karya sastra. Kritik ini berusaha untuk
membawa para pembaca lebih dekat kepada apa yang sebenarnya telah ditulis secara
aktual.
Dalam dunia sastra sering terjadi bahwa atas suatu karya sastra terdapat beberapa teks
atau naskah. Dengan kata lain terdapat beberapa versi atas suatu cerita atau novel
misalnya. Tentu orang ingin mengetahui mana teks yang asli dan mana teks yang bukan
asli. Dengan bantuan para ahli sastra, ahli sejarah misalnya,maka para kritikus dapat
memberi bimbingan pada para pembaca khususnya masyarakat ramai pada umumnya
untuk menentukan naskahnya yang aslinya.(Henry Guntur,1971 : 43)
14. Kritik Linguistik
Kritik linguistik dalam sastra menitik beratkan perhatiannya pada masalah masalah
linguistik dalam karya sastra tersebut. Kritik linguistik dapat menghindarkan kita dari
salah pengertian baik dalam bidang fonologi,morfologi, sintaksis maupun dalam bidang
semantik.
Kita tahu bahwa itu tetap berkembang dan dalam proses perkembangan itu banyak
mengalami perubahan. Hal ini akan nampak jelas dalam karya sastra yang ditulis dalam
periode yang berlainan.
Misalnya, banyak kata kata yang sama yang terdapat dalam buku buku hikayat
hasil sastra klasik dan juga dalam buku buku modern yang tidak sama lagi artinya.
Untuk mengetahui perbedaan fonologis, morfologi, sintaksis dan semantik itu diperlukan
bantuan linguistik, lebih lebih linguistik historis dan linguistik komparatif. (Henry
Guntur,1971 : 44)
15. Kritik Biografi
Biografi adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. (KBBI)
Kritik ini sebenarnya dekat sekali hubungannya denagn kritik historis, hanya
bidangnya lebih sempit dan terarah khusus pada biografi atau riwayat hidup pengarang
beserta karyanya.
8

Menurut Joseph T. Shipley, adapun tugas pokok dari kritik biografis ini adalah
menentukan hubungan yang signifikan antara pengarang dengan karyanya, menantikan
asal usul genetis kekuatan yang mendorong ataupun tujuan yang konkrit dari suatu
karya sastra. (Henry Guntur,1971 : 44-45)
16. Kritik Komparatif
Banyak hal dalam kritik komparatif yang segar dan menarik serta member harapan,
kritik ini memperoleh polanya bukan dari kejadian kejadian yang berhubungan dengan
waktu, tetapi justru dari pengelompokan jenis yang berguna serta gagasan atau ide yang
berpengaruh. Hal hal yang dapat diperbandingkan saja yang digarap. Dalam kritik ini
yang diterapkan pada nada, tujuan, dan cara, bahkan penerapan pada ketiga hal tersebut
lebih daripada terhadap pokok masalahnya sendiri .
17. Kritik Etika
Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan
kewajiban moral (akhlak). (KBBI)
Bila seorang kritikus moral bertindak secara ideal sebagai seorang kritikus sastra,
maka ia akan menerapkan norma-norma moral yang lainnya yang terdapat diluar karya itu
tidak turut dia terapkan. Dalam gerakan atau tindakan selanjutnya, maka dia akan
menerapkan norma norma yang bersesuai serta yang simpatik saja. Dengan perkataan
lain sang kritikus tidak akan menghakimi Rosseau dengan norma Aristoteles atau
menghakimi dengan norma kritik Injil.
Jika seorang kritikus menghakimi seorang penulis berdasarkan keyakinan etika yang
secara radikal bertentangan dengan norma yang sebenarnya maka jelas dia menyatakan
keyakinannya sendiri secara tajam dan jelas, sehingga sipembaca dapat menentukan
apakah dia itu bertindak selaku hakim yang sebenarnya ataukah seorang protokol bambu
saja. Hubungan antara kritik etika erat kaitannya dengan falsafah,keyakinan serta
agama.(Henry Guntur,1971 : 46)



9

18. Kritik Perspektif
Kritik perspektif ini adalah merupakan suatu studi terhadap reputasi sang pengarang
dengan kata lain dapat dianggap sebagai suatu jenis biografi kesastraan yang mencakup
masalah interpretasi dan penilaian terhadap orang beserta karyanya seperti yang tercermin
dalam kalbu dan hati para pembacanya baik secara kontemporer maupun setelah
meninggalnya sang pengarang. (Henry Guntur,1971 : 48)
Kritik ini berusaha untuk menyelediki seorang pengarang dari karya yang dihasilkan,
apakah patut menerima penghargaan atau patut diabaikan.
19. Kritik Pragmatik
Kritik pragmatik adalah suatu jenis kritik yang mengarahkan perhatian kebergunaan
ide-ide, ucapan-ucapan, dalil-dalil, atau teori teori yang terdapat pada suatu hasil karya
sastra pada masyarakat. Reputasi seorang pengarang ditentukan oleh berhasil atau
tidaknya, berguna atau tidaknya karya sastra ciptaannya bagi masyarakat.
Betapapun indahnya karya sastra itu, betapapun muluknya teori yang terkandung di
dalamnya, apapun temanya, tetapi kalau ternyata tiada kegunaannya bagi masyarakat
dalam praktek kehidupan maka karya sastra tersebut tetap tidak berhasil bagi kaum
pragmatis.(Henry Guntur,1971 : 49)
20. Kritik Elusidatori
Kritik ini disebut juga denag kritik penjelasan. Kritik ini adalah sejenis kritik sastra
yang sifatnya memberi penjelasan. Memang sebenarnya semua jenis kritik sastra bersifat
memberi penjelasan hanya saja pengarahannya yang berbeda. (Henry Guntur, 1971 )
21. Kritik Praktis
Yang dimaksud dengan kritik praktis adalah sebagai lawan dari kritik teoritis atau
yang lebih cenderung kearah ilmiah. Jadi yang menjadi tugas dan tujuan kritikus ialah
menentukan atau menilai apakah suatu karya sastra itu ada nilai praktisnya bagi
masyarakat atau tidak.
Sebenarnya kritik praktis ini pada prinsipnya sama saja dengan kritik pragmatik
,sebab segala yang berguna bagi kehidupan masyarakat tentu mempunyai nilai praktis dan
segala yang mempunyai nilai praktis tentu bersifat pragmatis. (Henry Guntur,1971:50)
10

22. Kritik Baru (The New Criticism)
Bagi kritikus aliran kritik baru,tujuan pokok seni adalah menghasilkan analisis sang
kritikus mengenai seni itu sendiri. Fungsi kritik adalah melatih kritikus lainnya untuk
melatih kritikus yang lain dalam suatu urutan akademik bagi para cendikiawan.
Kecenderungan yang dilakukan para kritikus jenis ini adalah pemanfaatan sarana sarana
ilmiah, epigraf,dan statistik yang tidak begitu diperhatikan orang saat memberikan kritik
sastra.

2.2 Fungsi Kritik Sastra
Fungsi kritik sastra adalah untuk menentukan nilai baik dan atau nilai tidak baik
terhadap suatu karya sastra dengan menafsirkan, menguraikan, dan memberikan penilaian
sesuai dengan hakikat sastra, unsur-unsur sastra dan unsur-unsur lain di luar sastra. Berikut
fungsi kritik sastra :
1. Bagi Penulis
Kiranya sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan bahwa orang lebih senang
melihat kebaikan daripada keburukan atau kekurangan yang terdapat dalam dirinya
dan karyanya. Begitu juga halnya dengan penulis telah begitu lena dibuai oleh hasil
karyanya yang dia anggap telah sempurna tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Dalam tugasnya mengamati dengan teliti, memperbandingkan dengan tepat serta
mempertimbangkan dengan adil baik buruknya kualitas,nilai,kebenaran suatu hasil
sastra, maka jelaslah bahwa kritikus sastra akan menunjukkan dimana letak
kebaikan,keburukan atau kekurangan suatu hasil sastra yang dia teliti. Sang kritikus
bertindak secara objektif deskriptif .
Ada dua kategori penulis yaitu:
a) Golongan yang tidak tahan menerima kritikan
Cepat putus asa karena melihat bahwa banyak kekurangan yang terdapat
dalam karyanya yang justru dia tidak duga sebelumny. Karena itu dia tidak
mau lagi menulis.

11

b) Golongan yang tahan menerima kritikan
Tidak cepat putus asa, bahkan gembira melihat kekurangan kekurangan serta
kelemahan kelemahan. Kritik dan kecaman yang disodorkan dia pergunakan
sebagai modal untuk memperbaiki serta mempersempurna karya karyanya
selanjutnya.
Bagi golongan kedua inilah fungsi kritik dan kritikus itu sangat besar. Dia
justru berterimakasih kepada kritikus, yang secara tidak langsung telah bertindak
sebagai guru dan pelatihnya sehingga nilai dan kualitas karyanya selalu
menanjak.(Henry Guntur,1971 : 18-19)
2. Bagi masyarakat
Bahwa kritik itu penting bagi masyrakat,kiranya tak perlu kita sangsikan lagi.
Kita dapat melihat dan menyaksikan dalam kehidupan sehari hari bahwa minat
membaca masyarakat makin hari makin bertambah. Semakin banyak kita membaca
semakin tinggi apresiasi kita. Semakin tinggi apresiasi kita semakin tajam pula daya
kritikus kita. Sungguh sangat ideal sekali bila setiap pembaca merupakan kritikus
pula,paling sedikit buat dirinya sendiri. Kita harus berani mengakui terus terang
bahwa daya kritis masyarakat kita terhadap apa yang mereka baca,sebagaian terbesar
masih sangat kurang dan lemah. Untuk mengurangi kelemahan dan kekurangan itu
diperlukan bimbingan dan petunjuk petunjuk. Dan disinilah sang kritikus harus
tampil maju kedepan bertindak sebagai pelatih dan sebagai guru terhadap masyarakat
ramai.(Henry Guntur,1971 : 19)
3. Bagi Kritikus Sendiri
Membuat kritik bagi seorang kritikus adalah merupakan suatu problem, seperti
halnya guru yang mempunyai profesi mengajar. Bagi seorang kritikus profesionalnya
merupakan suatu tuntutan hidup,hal itu telah membudaya dalam hidupnya.
Dengan membaca kembali kritik kritik yang pernah dia tulis sang kritikus dapat
lebih mengenal dirinya sendiri. Dia dapat melihat dan mengetahui dimana letak
kekurangan serta kelemahan yang pernah dibuatnya. Sebaliknya diapun dapat pula
mengenal dimana letak kekuatannya sendiri.
12

Dengan perkataan lain, dari kreasinya yang berbentuk kritik itu sang kritikus dapat
bercermin melihat dirinya sendiri. Hal ini sungguh perlu, sebab dengan demikian dia
dapat mengoreksi diri sendiri atau self control.
Walaupun pada umumnya sang kritikus mengkritik karya orang lain, tetapi
alangkah baiknya kalau diapun berani mengkritik diri sendiri. Nampak nampaknya
hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat gampang, namun sebenarnya
merupakan suatu pekerjaan yang sulit. Dalam kehidupan sehari hari sering kita
dengar ucapan : kenallah dirimu, sebab memang jauh lebih mudah mengenal orang
lain daripada mengenal diri kita sendiri.(Henry Guntur,1971 : 22)
















13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kritik merupakan salah satu dari ilmu sastra. Kritik sastra meneliti atau menganalisis
teks karya sastra itu sendiri. Kritik dapat diterapkan pada semua bentuk karya sastra, baik
yang berupa puisi, prosa maupun drama. Kritik adalah karangan yang menguraikan tentang
pertimbangan baik atau buruk suatu karya sastra. Kritik biasanya diakhiri dengan kesimpulan
analisis.
Dimana kritik sastra terdiri dari jenis jenis kritik sastra yaitu: kritik judicial, kritik
induktif, kritik historis, kritik impresionis, kritik filosofi, kritik formalis, kritik sosiokultural,
kritik psikologis, kritik mitopoeik, kritik relative, kritik absolut, kritik interpretatif, kritik
tekstual, kritik linguistik, kritik biografi, kritik komparatif, kritik etika, kritik perspektif,
kritik elusidatori, kritik praktis, dan kritik baru
Fungsi kritik sastra adalah untuk menentukan nilai baik dan atau nilai tidak baik
terhadap suatu karya sastra dengan menafsirkan, menguraikan, dan memberikan penilaian
sesuai dengan hakikat sastra, unsur-unsur sastra dan unsur-unsur lain di luar sastra. Dan kritik
sastra memiliki fungsi diantaranya fungsi bagi penulis, bagi masyarakat, dan bagi kritiku
sendiri.
3.2 Kritik dan Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang tulisan di atas dengan sumber - sumber
yang lebih banyak yang tentu dapat di pertanggungjawabkan.Untuk saran bisa berisi kritik
atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan
makalah yang telah di jelaskan.