Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Efisiensi energi dalam industri sangat diperlukan untuk meningkatkan


dayasaing industri tersebut.
Semakin tinggi tingkat daya saing industri, maka posisiindustri
tersebut semakin kompetitif di pasar global (Bappenas, 2011).
Beberapa faktor yang menjadi sumber inefisiensi perusahaan
(Rasio ini juga disebut dengan istilah intensitas energi)
Ukuran perusahaan yang diklasifikasikan berdasarkan jumlah tenaga kerjanya (Wu, 1995).
Rasio kapital labor yang menggambarkan industri tersebut tergolong padat modal atau
padat karya (Piesse dan Thirtle, 2000)
Share output perusahaan tertentu terhadap output total pada industri yang sama (Kimet al, 2007)
konsumsi energi yang ditunjukkan dengan menghitungrasio antara konsumsi energi dengan
output yang dihasilkan (Kounetas danTsekouras, 2009).
Konsumsi
Energi pada industri hulu baja juga berpengaruh pada tingkat efisiensi t
eknis perusahaan untuk mencapai output maksimum dengan
kombinasi input tertentu.
Perubahan atau pengurangan konsumsi energi pada industri hulu baja
harus mempertimbangkan faktor efisiensi teknis agar tujuan dari
penghematan energimenjadi tepat sasaran.
Pengurangan konsumsi energi yang tidak tepat sasaran justru akan
menjauhkan perusahaan pada industri baja dari tingkat efisiensi
teknisyang maksimum.
Klasifikasi Industri Baja Padat Energi
Menurut Kode KBLI 2005
Kode
KBLI 05
Keterangan
27101 Industri Besi dan Baja Dasar (Iron and Steel Making)
Mencakup pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar,seperti pellet bijih besi, besi spons, besi kasar (pig iron), dandalam bentuk baja
kasar (ingot baja, billet baja, baja bloom,dan baja slab). Termasuk pembuatan besi dan baja paduan.
27102 Industri Penggilingan Baja (Steel Rolling)
Mencakup usaha penggilingan baja, baik penggilingan panas maupun dingin, yang membuat produk-produk gilingan batang
kawat baja, baja tulangan, baja profil, baja strip, bajarel, pelat baja, baja lembaran hasil gilingan panas (hot
rolled sheet) dan baja lembaran hasil gilingan dingin (cold rolled sheet) dilapisi atau tidak dilapisi dengan logam atau non logam
lainnya termasuk penggilingan baja scrap.

27103 Industri Pipa dan Sambungan Pipa dari Baja dan Besi.Mencakup usaha pembuatan tabung, pipa dan sambunganpipa dari besi
dan baja.
Studi Kasus
Kapasitas produksi baja mentah di Indonesia masih rendah. Padahal
baja mentah merupakan bahan baku bagi industri pengolahan baja
berikutnya. Indonesia hanya mampumencukupi 24,8% bahan baku baja
mentah sehingga jumlah impor bahan bakubaja mentah sebesar 75,2%.
Impor bahan baku tersebut terdiri dari impor bijihbesi sebesar 56.34%
dan impor besi bekas sebesar 43,66%.
Perbandingan Konsumsi baja mentah, Produksi baja
mentah dan Impor baja mentah dalam memenuhi
kebutuhan nasional
0
1
2
3
4
5
6
7
2005 2006 2007 Category 4
Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), 2012
KonsumsiBajaMentah ProduksiBajaMentah ImportBajaMentah