Anda di halaman 1dari 5

Asy-Syifa Al-Adawiyah: Shahabiyah Mulia Pakar Pengobatan Ruqyah

http://www.voa-islam.com/read/mujahid/2010/08/16/9235/asysyifa-aladawiyah-shahabiyah-
mulia-pakar-pengobatan-ruqyah/#sthash.hU1qYRnG.dpbs
Allah SWT telah mewahyukan kepada Nabi Muhammad SAW berbagai macam ilmu di dalam Al-
Quran dan hadits. Semua ajaran itu menjamin kebaikan manusia, baik secara akal, fisik, maupun
jiwa. Salah satunya adalah mengenai kesehatan. Rasulullah SAW mengamalkan ajaran-ajaran yang
berkaitan dengan masalah kesehatan secara kontinyu.
Dalam haditsnya, Rasulullah menekankan pentingnya kesehatan bagi manusia. Beliau bersabda,
Mintalah kesehatan kepada Allah karena tidak ada pemberian yang lebih baik bagi seseorang
setelah keimanan daripada kesehatan. (HR. An-Nasai, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim)
Suatu hari, seorang Arab Baduy bertanya kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya
saya mohonkan kepada Allah setelah selesai mengerjakan shalat? Beliau menjawab, Mintalah
kesehatan kepada Allah. (HR. At-Tirmidzi)
Begitu pentingnya persoalan kesehatan, tak sedikit para sahabat dan shahabiyah yang
mendedikasikan diri menjadi tabib atau tabibah untuk membantu memelihara kesehatan orang-
orang ketika itu. Begitu banyak para tabib yang sangat masyhur pada masa permulaan Islam. Pun
demikian, tak sedikit pula para tabib dari kalangan wanita yang menguasai masalah kesehatan, salah
satunya adalah Asy-Syifa binti Abdullah.
Begitu banyak para tabib dari kalangan shahabat yang masyhur pada masa permulaan Islam, salah
satunya adalah Asy-Syifa binti Abdullah
Wanita bernama lengkap Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdu Syams Al-Qurasyiyah Al-Adawiyah ini
dikenal sebagai salah satu sahabiyah yang memiliki kecerdasan dan keterampilan dalam bidang
kedokteran, khususnya dalam hal kejiwaan. Dia terkenal dengan pengobatan ruqyahnya.
Kedudukan dan Keutamaannya
Shahabiyah yang dijuluki dengan Ummu Sulaiman dan istri dari Abu Hutsmah bin Khudzaifah bin
Ghanim Al-Qurasyi Al-Adawi ini memiliki kedudukan terhormat di kalangan para shahabiyah lainnya.
Ini mengingat, ibunda dari Sulaiman bin Abu Hutsmah ini memiliki kedudukan khusus di sisi
Rasulullah, dikarenakan keimanannya yang kokoh kepada Allah dan Rasul-Nya.
Asy-Syifa masuk Islam sejak sebelum hijrah. Dia termasuk salah seorang wanita yang bergabung
dalam rombongan hijrah pertama, dan telah berbaiat kepada Rasulullah. Bahkan Rasulullah sering
mengunjunginya dan istirahat siang di rumahnya.
Mengetahui bahwa Rasulullah kerap singgah di rumahnya, Asy-Syifa pun menyediakan kasur dan
sarung khusus untuk tidur beliau. Wajar jika kemudian Asy-Syifa pun memiliki kedudukan yang tinggi
di sisi para istri Nabi Muhammad. Dia juga sering berkunjung ke rumah Ummul Mukminin Hafshah
untuk mengajarinya baca-tulis.
Bahkan Rasulullah juga menyuruh Asy-Syifa untuk mengajari Hafshah cara meruqyah penyakit eksim.
Sebagaimana di-takhrij oleh Abu Dawud dengan sanad dari Asy-Syifa, bahwasanya dia berkata,
Rasulullah datang kepadaku ketika aku berada di rumah Hafshah. Beliau lalu bersabda kepadaku,
Tidakkah engkau mengajari dia (Hafshah) cara meruqyah eksim sebagaimana engkau
mengajarinya baca-tulis?
...Karenan pengetahuannya yang mumpuni dalam bidang kesehatan dan kedokteran, Asy-Syifa pun
cukup dihormati Rasulullah
Dikarenakan pengetahuannya yang mumpuni dalam bidang kesehatan dan kedokteran, Asy-Syifa
pun cukup dihormati Rasulullah yang selalu menyambung tali silaturahmi dengannya. Rasul bahkan
memperkenankan Asy-Syifa untuk menempati sebuah rumah di Madinah. Dia tinggal di rumah
tersebut bersama putranya, Sulaiman bin Abu Hatsmah.
Izin Meruqyah dari Rasulullah
Dikarenakan kelebihannya dalam bidang kedokteran, Asy-Syifa menjadi salah seorang wanita
masyhur di antara wanita kaumnya. Dengan kemampuannya, dia tampil sebagai salah seorang yang
menguasai berbagai rahasia kedokteran dan ruqyah, serta segala hal yang berkaitan dengannya.
Ketika cahaya Islam telah menyeruak ke berbagai negeri, Rasulullah membolehkan penggunaan
ruqyah untuk menyembuhkan keracunan karena sengatan binatang, sakit mata, dan eksim. Karena
Asy-Syifa telah biasa melakukan ruqyah, dia mendatangi Rasulullah untuk meminta izin beliau
melanjutkan profesinya demi berkontribusi dalam bidang kesehatan.
Ibnu Qayyim menerangkan bahwa Asy-Syifa binti Abdullah meruqyah sejak zaman Jahiliyah,
khususnya untuk mengobati penyakit eksim. Ketika dia berhijrah kepada Rasulullah, lalu berbaiat
kepada beliau saat di Makkah, dia berkata, Wahai Rasulullah, aku biasa meruqyah sejak zaman
Jahiliyah untuk mengobati penyakit eksim, dan kini aku hendak menunjukkannya kepada engkau.
Asy-Syifa lantas menunjukkan kemampuannya dalam meruqyah kepada Nabi SAW, Dengan nama
Allah, sesat sehingga kembali dari mulutnya dan tidak mengganggu seseorang. Ya Allah, hilangkan
kesulitan, wahai Rabb sekalian manusia.
Asy-Syifa bukan tipikal egois dan pelit dalam mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada para
wanita lainnya
Asy-Syifa bukan tipikal seseorang yang egois dan pelit dalam mengajarkan ilmu yang dimilikinya.
Dengan izin dari Rasulullah, dia melanjutkan profesinya dan mengajarkannya kepada para wanita
lainnya.
Asy-Syifa dan Hadits Rasulullah
Tak hanya piawai dalam masalah kesehatan dan kedokteran, Asy-Syifa juga meriwayatkan berbagai
peristiwa dari Nabi Muhammad SAW dan Umar bin Al-Khatthab. Sebagian dari riwayat tersebut
adalah bahwa Rasulullah ditanya tentang amal-amal yang paling mulia. Beliau bersabda, Iman
kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, dan haji yang mabrur.
Asy-Syifa mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, amal, zuhud, ibadah, dan berkontribusi kepada
orang lain. Semua itu dilakukannya sampai dia kembali kepada Allah SWT
Demikianlah, Asy-Syifa mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, amal, zuhud, ibadah, dan berkontribusi
kepada orang lain. Semua itu dilakukannya sampai dia kembali kepada Allah SWT. Dia meninggal
dunia pada masa Khalifah Umar bin Al-Khatthab, sekitar tahun 20 Hijriyah. Semoga Allah
meridhainya. Amin. [ganna pryadha/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/mujahid/2010/08/16/9235/asysyifa-aladawiyah-
shahabiyah-mulia-pakar-pengobatan-ruqyah/#sthash.hU1qYRnG.dpuf

Syifa menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi. Ia dikarunia seorang anak bernama
Sulaiman bin Abi Hatsmah.

Asy-Syifa dikenal sebagai guru membaca dan menulis sebelum datangnya Islam. Sehingga,
ketika cahaya Islam singgah dikalbunya, ia tetap mendedikasikan dirinya untuk mengajar para
Muslimah dengan mengharapkan ganjaran dan pahala dari Allah SWT.

Itulah yang membuatnya ditabalkan sebagai 'guru wanita pertama dalam Islam'. Di antara wanita
yang dididik oleh Asy-Syifa adalah Hafshah binti Umar bin Khatthab RA, yang tak lain adalah istri
Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW meminta kepada Asy-Syifa untuk
mengajarkan Hafshah RA menulis dan sebagian Ruqyah (pengobatan dengan doa-doa).

Asy-Syifa berkata, "Suatu ketika Rasulullah SAW pernah datang menemuiku, saat aku berada di
samping Hafshah. Lalu beliau bersabda, ''Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya (Hafshah)
ruqyah sebagaimana engkau mengajarkan kepadanya menulis." (HR Abu Daud).

Sebelum ajaran Islam datang, Asy-Syifa memang dikenal sebagai ahli ruqyah di masa Jahiliyah.
Ketika ia memeluk Islam dan berhijrah dia berkata kepada Rasulullah SAW, "Aku adalah ahli
ruqyah di masa Jahliliyah dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda."

Lalu Nabi SAW bersabda, "Perlihatkanlah kepadaku!"

Asy-Syifa berkata, "Maka, aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau yakni meruqyah
penyakit bisul."

Kemudian, Rasulullah SAW bersabda, "Obatilah dengan ruqyah, dan ajarkanlah hal itu kepada
Hafshah!"

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah saat melakukan ruqyah adalah: "Ya Allah Tuhan
manusia, Yang Mahamenghilangkan penyakit, sembuhkanlah, karena Engkau Mahapenyembuh,
tiada yang dapat menyembuhkan selain Engkau, sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi."
(HR Abu Daud).
Asy-Syifa Binti Al-Harits (Wafat 20 H)
Nama lengkapnya adalah Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah
bin Qirath bin Razah bin Adi bin Kaab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah.
Asy-Syifa radhiyallahu anha masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan
beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berbaiat kepada
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Beliaulah yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu
wa taala:
Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji
setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan
mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang
mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan
yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk
mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah: 12)
Asy-Syifa termasuk wanita yang cerdas dan utama, beliau seorang ulama di antara ulama dalam
Islam dan tanah yang subur bagi ilmu dan iman. Asy-Syifa radhiyallahu anha menikah dengan Abu
Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi dan Allah mengaruniakan seorang anak kepada beliau yang bernama
Sulaiman bin Abi Hatsmah. Asy-Syifa dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis sebelum
datangnya Islam, sehingga tatkala beliau masuk Islam beliau tetap memberikan pengajaran kepada
wanita-wanita muslimah dengan mengharapkan ganjaran dan pahala. Oleh karena itulah, beliau
disebut sebagai guru wanita pertama dalam Islam. Di antara wanita yang dididik oleh Asy-Syifa
adalah Hafshah binti Umar bin Khatthab radhiyallahu anha istri Rasulullah Shallallahu alaihi
wasallam .
Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam meminta
kepada Asy-Syifa untuk mengajarkan kepada Hafshah tentang menulis dan sebagian Ruqyah
(pengobatan dengan doa-doa). Asy-Syifa berkata,
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam masuk sedangkan saya berada di samping
Hafshah, beliau bersabda: Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya ruqyah sebagaimana engkau
ajarkan kepadanya menulis.(HR Abu Daud).
Sebagaimana telah dimaklumi bahwa asy-Syifa adalah ahli ruqyah di masa Jahiliyah, maka tatkala
beliau masuk Islam dan berhijrah beliau berkata kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, Aku
adalah ahli ruqyah di masa Jahliliyah dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda. Lalu
Nabi Shallallahu alaihi wasalam bersabda,Perlihatkanlah kepadaku. Asy-Syifa berkata, Maka,
aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau yakni meruqyah penyakit bisul. Kemudian,
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, Meruqyalah dengan cara tersebut dan ajarkanlah
hal itu kepada Hafshah.
Di antara yang termasuk ruqyah adalah doa: Ya Allah Tuhan manusia, Yang Maha menghilangkan
penyakit, sembuhkanlah, karena Engkau Maha Penyembuh, tiada yang dapat menyembuhkan selain
Engkau, sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi. (HR Abu Daud).
Inilah, Asy-Syifa telah mendapatkan bimbingan yang banyak dari Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam . Sungguh Asy-Syifa sangat mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi
wasallam sebagaimana kaum mukminin dan mukminat yang lain, beliau belajar dari hadis-hadis
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang banyak tentang urusan dien (agama) dan dunia. Beliau
juga turut menyebarkan Islam dan memberikan nasihat kepada umat dan tidak kenal lelah untuk
menjelaskan kesalahan-kesalahan. Di antara yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah putranya
yaitu Sulaiman dan cucu-cucunya, hamba sahayanya yaitu Ishak dan Hafshah Ummul Mukminin
serta yang lain-lain. Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapat beliau, menjaganya dan
mengutamakannya dan terkadang beliau mempercayakan kepadanya dalam urusan pasar.
Begitu pula sebaliknya, asy-syifa juga menghormati Umar, beliau memandangnya sebagai seorang
muslim yang shadiq (jujur), memiliki suri teladan yang baik dan memperbaiki, bertakwa dan berbuat
adil. Suatu ketika asy-Syifa melihat ada rombongan pemuda yang sedang berjalan lamban dan
berbicara dengan suara lirih, beliau bertanya,Apa ini? Mereka menjawab, Itu adalah ahli
ibadah. Beliau berkata: Demi Allah, Umar adalah orang yang apabila berbicara suaranya
terdengar jelas, bila berjalan melangkah dengan cepat, dan bila memukul mematikan.
Asy-Syifa menjalani sisa-sisa hidupnya setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi
wasallam dengan menghormati dan menghargai pemerintahan Islam hingga beliau wafat pada
tahun 20 Hijriyah.

Syifa binti Abdullah RA

Syifa binti Abdullah bin Abdu Syams termasuk sahabiah (sahabat wanita) yang memeluk Islam
pada masa-masa awal, yakni sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah. Ia menikah dengan Abu
Hatsmah bin Hudzaifah dan memiliki seorang anak bernama Sulaiman bin Abu Hatsmah. Ia seorang
wanita yang terpelajar, sedikit dari wanita yang mengerti baca tulis pada masa jahiliah. Ia juga
mempunyai keahlian meruqyah penyakit gatal yang disebut namlah (artinya : semut, karena orang
yang menderita penyakit tersebut merasa ada semut yang merayap di sekujur tubuhnya).
Dalam keislamannya, ia ditugaskan Nabi SAW untuk mengajar baca tulis kepada wanita-wanita
muslim, termasuk kepada Hafshah binti Umar, salah satu dari ummahatul mukminin. Suatu ketika
Syifa menunjukkan kemampuannya meruqyah penyakit namlah di hadapan Nabi SAW. Saat itu
beliau sedang berada di rumah Hafshah, maka beliau bersabda, Tidakkah engkau Hafshah
meruqyah penyakit namlah sebagaimana engkau menhajarinya baca tulis??
Karena kemampuannya tersebut, Nabi SAW menempatkan Syifa di suatu rumah di Madinah, yang
penduduk sekitarnya sering mengalami penyakit gatal-gatal. Ia tinggal di sana bersama putranya,
Sulaiman, dan Nabi SAW sering mengunjunginya.
Suatu ketika Syifa binti Abdullah datang kepada Nabi SAW meminta sesuatu untuk memenuhi
kebutuhannya, tetapi beliau tidak bisa memberikan apapun karena memang sedang tidak ada. Ia
sempat menggerutu karena tidak memperoleh apa-apa dari beliau.
Pada waktu ashar, ia pergi ke rumah menantunya, Syurahbil bin Hasanah. Didapatinya menantunya
tersebut masih berada di rumah, tidak bergegas ke masjid, langsung saja ia mencela sikapnya itu,
tetapi Syurahbil malah berkata, "Wahai bibi, jangan memarahiku. Aku hanya mempunyai sehelai
pakaian (untuk shalat), dan itu sedang dipinjam Rasulullah SAW."
Mendengar penuturan itu Syifa jadi menyesal, ia berkata,"Demi ibu dan bapakku sebagai tebusannya,
aku baru saja datang kepada Nabi SAW dan mencela beliau, padahal hari ini beliau tidak memiliki
pakaian dan aku tidak tahu."
"Wahai bibi, itu hanya pakaian panjang yang baru saja kami tambal," Kata Syurahbil. Mendengar
penuturan menantunya tersebut, Syifapun makin menyesali sikapnya kepada Rasulullah SAW.