Anda di halaman 1dari 11

Sensor Curah Hujan

Pranata Ari Baskoro


2207100120

Abstrak – Pengukuran curah hujan pada saat ini menggunakan dua metode secara
garis besar yaitu metode manual dan automatis. Metode yang dimaksud adalah
dalam hal pencatatan (recording) banyaknya curah hujan sepanjang tahun. Metode
manual hanya mengandalkan catatan tangan pengamat saja. Metode pencatatan
otomatis ada yang memerlukan suplai listrik ke instrumen (yang lebih modern)
namun ada juga yang tidak memerlukan listrik.
Perkembangan sensor curah hujan dimulai dari penggunaan penakar curah
hujan tipe tipping bucket yang menggunakan reed switch untuk mencatat berapa
kali terjadi clock yang kemudian dikalkulasikan oleh rangkaian counter dan
dicatat di dalam logger atau ditampilkan di display. Tentu saja instrument seperti
itu memiliki kelemahan dan kelemahan tersebut membuat orang mengembangkan
curah hujan yang memanfaatkan teknologi sensor pendeteksi objek yang berada di
sekeliling instrument atau yang lebih dikenal sebagai proximity sensor.
Pengembangan sensor curah hujan dengan sinar laser dan infra merah
tidak lepas dari aplikasi proximity sensor ini. Instrumen sensor curah hujan
dengan sinar laser ini lalu diintegrasikan dengan perangkat Digital Signal
Processor yang lebih dari sekedar rangkaian IC-IC counter karena memungkinkan
integrasi dengan perangkat terkomputerisasi bahkan terhubung ke jaringan.
Dengan jaringan ini, data-data curah hujan di-upload ke pusat cuaca secara real
time sehingga dengan akses internet data curah hujan tadi dapat kita akses.

Kata kunci: penakar curah hujan, rain gauge, rain gauge sensor, laser
precipitation monitor, precipitation optical detector.

1. Pendahuluan

Curah hujan (presipitasi) merupakan salah satu aspek terpenting dalam


bidang meteorologi, klimatologi dan geofisika. Dengan data-data yang didapat
dari pengukuran curah hujan, kita dapat mengetahui pola cuaca yang terjadi di
suatu daerah yang lingkupnya tidak terlalu luas misalnya wilayah kabupaten.
Secara umum, alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan disebut penakar
hujan atau istilah lainnya rain gauge (penakar hujan).
Satuan curah hujan yang umum digunakan oleh Badan Meteorologi,
Klimatologi dan Geofisika adalah millimeter (mm). Jadi jumlah curah hujan yang
diukur sebenarnya adalah tebal atau tingginya permukaan air hujan yang menutupi
suatu area di permukaan bumi. Curah hujan 1 mm artinya dalam area 1 m 2 (1
meter persegi) pada tempat yang datar tertampung air setinggi 1 mm atau
tertampung sebanyak 1 liter atau 1000 ml.
Diperkirakan volume air hujan yang jatuh di seluruh dunia setiap tahunnya
adalah sekitar 505.000 km3 dan sekitar 398,000 km3-nya jatuh di lautan. Jika

1
dirata-ratakan, seluruh permukaan daratan di bumi mengalami curah hujan sekitar
1 meter (39 inci) dan di lautan sekitar 1,1 meter (43 inci) [15].
Presipitasi dapat berarti bukan hanya sesuatu yang biasa kita sebut air
hujan, namun bisa pula salju, air yang membeku ketika menyentuh daratan,
maupun es.
Alat penakar hujan yang sederhana adalah sebuah
tabung plastik yang menampung maksimal 25 mm air hujan
seperti ilustrasi di samping. Air hujan ditampung di silinder
dalam dan silinder luar. Silinder dalam berkapasitas 25 mm
sedangkan silinder luar antara 100-200 mm. Jika penuh,
maka air akan meluap ke silinder luarnya, lalu isi silinder
dalam dibuang dan air hujan di silinder luar diisikan ke
dalam silinder 25 mm tadi. Total air hujan di silinder dalam
dengan silinder luar yang tercatat adalah curah hujan
totalnya. Air hujan di silinder luar dikosongkan dan
pengukuran dilanjutkan lagi. Saat musim dingin tiba,
corong dan silinder dalam dikeluarkan dan hanya silinder
luar yang besar itu yang dibiarkan sehingga salju-salju
dapat masuk ke dalamnya. Saat mencapai maksimum, salju
dicairkan.
Prinsip dari penakar hujan sederhana ini dapat
ditemukan aplikasinya di hampir semua penakar hujan baik
yang manual maupun otomatis.
Gambar 1. Penakar hujan sederhana [15]

2. Tipe-tipe Penakar Hujan dan Cara Kerjanya

Secara garis besar, alat penakar hujan terbagi menjadi 2 yaitu:


a. Penakar hujan biasa tipe observatorium atau non-recording (pencatatannya
manual).
b. Penakar hujan otomatis/ penakar hujan yang dapat mencatat sendiri (self-
recording).

Penakar hujan yang akan dibahas lebih lanjut di sini adalah penakar hujan
otomatis. Penakar hujan otomatis terbagi lagi menjadi 2 tipe yaitu:
a. Penakar hujan otomatis tipe Hellmann yaitu penakar hujan yang
menggunakan sistem pelampung (floating).
Cara kerjanya yaitu jika hujan turun, air hujan akan masuk kedalam
tabung yang berpelampung melalui corongnya, air yang masuk kedalam
tabung mengakibatkan pelampung beserta tangkainya terangkat (naik ke
atas). Pada tangkai pelampung terdapat tangkai pena yang bergerak
mengikuti tangkai pelampung, gerakan pena akan menggores pias yang
diletakkan/digulung pada silinder jam yang dapat berputar dengan
sendirinya.
Penunjukkan pena pada pias sesuai dengan jumlah volume air yang
masuk ke dalam tabung, apabila pena telah menunjuk angka 10 mm. maka
air dalam tabung akan keluar melalui gelas siphon yang bentuknya
melengkung

2
Gambar 3. Prinsip kerja penakar
hujan tipe Hellmann [1]

Gambar 2. Penakar hujan otomatis tipe Hellmann [1]

Seiring dengan keluarnya air maka pelampung akan turun, dan dengan
turunnya pelampung tangkai penapun akan bergerak turun sambil menggores pias
berupa garis lurus vertikal. Setelah airnya keluar semua, pena akan berhenti dan
akan menunjuk pada angka 0, yang kemudian akan naik lagi apabila ada hujan
turun.

Gambar 4. Penakar hujan tipe Tipping Bucket elektrik [1]

b. Penakar hujan otomatis yang menggunakan sistem tipping bucket.


Penakar hujan dengan system tipping bucket ada yang dioperasikan
secara mekanis dan ada pula yang elektrik. Penakar hujan di atas hanya
menggunakan listrik untuk memanaskan air hujan saat musim dingin
sedangkan pencatatannya masih menggunakan sistem mekanis. Model seperti
ini mulai digunakan BMG di Indonesia sejak tahun 1976 [1] dan sekarang
sudah jarang digunakan lagi. Luas permukaan corong penakar hujan ini 400
Cm2. Silinder jam untuk meletakkan pias, serta perlengkapan bucketnya

3
berada pada satu kotak, dan dapat diangkat keluar dari badan penakar hujan
saat penggantian pias. piasnya berskala 50 mm. Pada saat penggantian pias
kedudukkan pena tidak perlu dirubah atau diturunkan, sebagaimana halnya
pada penakar hujan type Hellman. Dalam pemasangan alat ini, tinggi
permukaan corongnya 140 Cm dari permukaan tanah [1]. Cara kerjanya
sebagai berikut:
Air hujan akan masuk melalui permukaan corong penakar, kemudian
mengalir untuk mengisi salah satu bucket. Setiap jumlah air hujan yang masuk
sebanyak 0.5 mm. atau sejumlah 20 ml maka bucket akan berjungkit, dimana
bucket yang satunya akan terangkat dan siap untuk menerima air hujan yang
akan masuk berikutnya. Pada saat bucket berjungkit maka pena akan
menggores pias 0.5 skala (0,5 mm.), pena akan menggores pias dengan
gerakan naik ataupun turun. Demikianlah seterusnya bucket akan bergantian
berjungkit bila ada air hujan yang masuk, dari goresan pena pada skala pias
dapat diketahui jumlah curah hujannya.
Pada umumnya peralatan Automatic Weather Station (AWS) yang
kini banyak dioperasikan di Stasiun Meteorologi, perangkat sensor penakar
hujannya menggunakan Tipping Bucket. Dimana pada saat bucketnya saling
berjungkit, secara elektrik terjadi kontak dan menghasilkan keluaran nilai
curah hujan yang displaynya dapat dilihat pada monitor.
Penakar hujan type tipping bucket, nilai curah hujannya tiap bucket
berjungkit tidak sama, serta luas permukaan corongnya beragam tegantung
dari merk pembuatnya. Jadi dalam kita mengoperasikan penakar hujan jenis
tipping bucket, kita harus pula mengetahui secara teliti dasar dari perhitungan
data yang
dihasilkannya.

Gambar 5. Penakar
hujan tipe Tipping
Bucket elektrik [1].

Untuk itu perlu


dilakukan pengetesan
atau mengkalibrasinya,
dengan cara menuangkan sejumlah air sesuai dengan luas permukaan corong
dan nilai curah hujan tiap jungkit / tip bucketnya. Jadi nilai curah hujan 1 mm
yang masuk pada luasan permukaan corong yang berbeda, maka volume air
yang tertampung pun berbeda contohnya : Masing-masing penakar hujan yang
berbeda merk, dan luas permukaan corongnya tersebut, berbeda pula nilai tiap
jungkit / tip bucketnya, misalnya ada yang 0,1 mm, 0,2 mm dan 0,5 mm.
Sebagai contoh untuk luas corong 200 Cm2 dan nilai tiap jungkit / tip bucket
0.2 mm, maka volume air yang dituangkan 4 Cc akan menjungkitkan bucket
sesaat setelah airnya tercurah semua, keadaan ini akan berulang lagi pada
giliran bucket berikutnya. Apabila saat air telah dituangkan semua tapi
bucketnya belum berjungkit, atau air belum tertuang semua tapi bucketnya
telah berjungkit, maka dalam keadaan ini kita harus mengupayakan penyetelan

4
kedudukan tinggi rendahnya penyangga bucket. Upaya ini dilakukan sampai
mendapatkan hasil yang benar-benar tepat, sesuai dengan perhitungannya.

3. Pengembangan Penakar Hujan Tipping Bucket Memanfaatkan Sensor

3.1 Tipping bucket rain gauge dengan reed switch

Tipping bucket rain gauge seperti ini terdiri atas:

• Sebuah corong untuk mengumpulkan air hujan.


• Jungkat-jungkit (bucket) yang terkalibrasi dengan baik.
• Sensor pendeteksi gerakan bucket.
• Display banyaknya gerakan bucket.

Gambar 6. Bagan tipping bucket rain gauge


dengan reed switch [4]

Air hujan yang ditampung corong jatuh


ke dalam salah satu sisi jungkat-jungkit.
Jungkat-jungkit haruslah dikalibrasi
dengan hati-hati agar dapat menahan
sampai 0,001 inci air hujan (0,03 mm)
sebelum jungkat-jungkit bergerak ke
arah lainnya sehingga air hujan tumpah
dan jungkat-jungkit dapat terisi air hujan kembali di sisi yang berlawanan.
Setiap kali jungkat-jungkit menyentuh dasar, magnet kecil akan
menggerakkan reed switch. Reed switch mengirimkan sinyal ke counter.
Counter akan mengalkulasi banyaknya sinyal tadi dikalikan dengan satuan
yang telah ditetapkan atau dikalibrasi misalnya satu sinyal atau satu ‘clock’
bernilai 0,2 mm. Banyaknya clock tadi akan disimpan di dalam logger.

Gambar 7. Tipping bucket rain


gauge dengan reed switch yang
sedang bekerja [7]

Logger adalah sistem


pengolah sinyal menjadi data,
penyimpan data dan
pendistribusi data. Di dalam
logger, setiap terjadinya clock
dapat juga diprogram agar
waktu terjadinya juga dicatat

5
sehingga nantinya hasilnya akan jelas terlihat di grafik history atau dalam
database di memori. Penyajian data dapat menggunakan display seven
segment, LCD, monitor PC melalui RS232/wireless maupun print-out.

3.2 Optical Precipitation Sensor

1). Precipitation Optical Detector

Cara kerja sensor ini mirip dengan promixity sensor. Proximity sensor
mampu mengenali keberadaan suatu objek yang berada di sekitarnya tanpa
adanya kontak fisik dengan objek tersebut. Objek tersebut dikenali pula
sebagai targetnya. Perbedaan tipe sensor yang digunakan proximity sensor
memengaruhi perbedaan targetnya / objek yang bisa dikenalinya pula.
Dalam aplikasi
precipitation optical
detector ini, proximity
sensor mengeluarkan
gelombang
elektromagnetik dalam
bentuk sinar infra merah
yang digunakan untuk
mengenali objek tetesan
air hujan.

Gambar 8.
Precipitation optical detector dengan IR

Gambar 9. Cara kerja sensor infra merah mengukur curah hujan

Gambar 10. Sebuah proximity


sensor

6
Penakar curah hujan ini memanfaatkan sensor infra red (IR-light
barrier) untuk mendeteksi butiran air hujan yang melewati celah yang
diaktifkan

Gambar 11. Laser precipitation monitor [8]

cahaya infra red dan selanjutnya dikonversi menjadi besaran


intensitas air hujan .Biasa dilengkapi pula dengan Contact Relay (on/off
sensor bila ada hujan) dan alat pemanas untuk menghindari
pembekuan/salju pada musim dingin. Perkembangannya, sensor infra red
tersebut dapat pula membedakan mana yang tetesan air hujan, gumpalan
salju atau butiran es.

2). Laser Precipitation Monitoring

Prinsip kerja dari laser precipitation monitoring hampir sama


dengan infra red precipitation optical detector hanya saja cahaya yang
dikeluarkan adalah sinar laser (gambar 9).

Laser precipitation monitor pada dasarnya adalah sebuah


disdrometer. Disdrometer adalah sebuah instrument yang digunakan untuk
mengukur distribusi ukuran dari hydrometeor (semua jenis partikel air
yang jatuh ke bumi termasuk air hujan, salju, es) [2]. Disdrometer yang
menggunakan laser ini mampu membedakan air hujan (deras maupun
gerimis), butiran es & gumpalan salju yang diamatinya.

7
Gambar 12. Cara kerja laser mengukur curah hujan [1]

Sinar laser memancarkan gelombang horizontal yang lebar dan


dangkal dimana partikel hydrometeor jatuh di antara rentangan sinar
tersebut. Setelah melaluinya, pancaran sinar tadi
difokuskan ke sebuah garis photodiode. Photodiode
adalah sejenis photodetector yang mampu mengubah
cahaya ke dalam arus atau tegangan tergantung dari mode
operasinya [10]. Partikel hydrometer yang jatuh di antara
area pengukuran (sepanjang rentangan sinar laser tadi)
mengakibatkan variasi dalam intensitas radiasi yang
terdeteksi. Dengan begitu instrument dapat mengenali
partikel apa yang jatuh di rentangan sinar laser tersebut
misalnya partikel air hujan, salju dan lain-lain.

Gambar 13. Photodiode [10]

Unit DSP (Digital Signal Processor) dalam disdrometer laser ini


akan mengalkulasikan ukuran partikel dan kecepatan partikel serta
mengategorikan presipitasi ke dalam beberapa kelas.

Gambar 14. Disdrometer laser dalam


cuaca ekstrem

Keunggulan disdrometer
yang menggunakan laser ini
adalah hasil pengukurannya yang
paling akurat, handal untuk segala
cuaca (reliable) , hampir tidak
memerlukan perawatan
instrument lasernya, mempunyai
pengatur temperature, penangkal petir, biaya pengoperasian yang relatif
rendah, dapat digunakan untuk pengendalian jarak jauh (remote access)
dan real time [17]. Data yang dikumpulkan di logger dapat ditransfer ke

8
PC melalui serial interface. Sering pula disdrometer seperti ini
diintegrasikan dengan perangkat meteorologi lainnya seperti sensor
kecepatan angin, arah angin, temperature dan kelembapan.

4. Pembahasan

Hal-hal berikut ini harus diperhatikan dalam penggunaan penakar curah


hujan agar instrumen dapat berfungsi secara baik:
a. Instrumen penakar hujan harus diletakkan di tempat yang benar-benar rata,
datar dan bebas dari getaran yang dapat memengaruhi pembacaan
pengukuran. Getaran yang tidak diinginkan dapat menggerakkan jungkat-
jungkit yang sangat ringan pada penakar curah hujan tipe tipping bucket
sehingga dapat memanipulasi banyaknya clock.
b. Alat penakar hujan seperti tipe tipping bucket, Hellmann maupun tipe
lainnya yang memanfaatkan sensor sebaiknya diletakkan di tempat lapang,
atau paling tidak, memiliki jarak dengan bangunan terdekat sepanjang satu
kali tinggi bangunan tersebut.
c. Penempatan alat penakar hujan di atap bangunan atau di tempat yang sulit
dijangkau tidak dianjurkan.
d. Debu dapat menyumbat penakar hujan tipe tipping bucket sehingga harus
dibersihkan, sekecil apapun. Debu dapat pula memengaruhi keseimbangan
jungkat-jungkit pada penakar hujan tipping bucket.
e. Penakar hujan sebaiknya memiliki pelindung untuk melindungi dari
binatang.
f. Penakar hujan sebaiknya secara rutin dikaliberasi.

Gambar 15. Alat kaliberasi penakar hujan yang


alirannya diukur dengan presisi flow meter [1].

g. Pada penakar curah hujan tipe tipping


bucket, ada hal penting yang harus diperhatikan
terutama pada saat terjadi hujan yang sangat
deras. Jika hujan terlampau deras, jungkat-jungkit
bisa jadi tidak dapat berfungsi dengan baik karena
jungkat jungkit dihujani air terus menerus
sehingga sulit untuk mengembalikan ke posisi
semula. Hal ini menjadi kelemahan penakar curah
hujan tipe tipping bucket.

5. Kesimpulan

• Secara garis besar terdapat dua metode pengukuran curah hujan yaitu
metode pencatatan manual dan metode pencatatan otomatis.

9
• Yang termasuk metode pencatatan otomatis yaitu: metode penakar hujan
otomatis tipe Hellmann, tipping bucket dan menggunakan sensor.
• Tipping bucket rain gauge dengan reed switch dan magnet kecil sebagai
konektor ke rangkaian counter-nya merupakan sensor curah hujan paling
sederhana.
• Sensor curah hujan yang lebih modern menggunakan aplikasi proximity
sensor. Proximity sensor adalah sensor yang dirancang untuk mengenali
objek tertentu yang berada di sekeliliingnya.
• Laser precipitation monitor dan Precipitation optical detector memiliki
cara kerja yang sama namun berbeda dalam medium partikel
hidrometeornya. Precipitation optical detector menggunakan pancaran
sinar infra merah dimana dalam rentangan radiasi sinar tersebut,
hydrometeor akan mengenainya sehingga proximity sensor dapat
mendeteksi adanya objek yang melewati medium tersebut dengan
mencatat perubahan pancaran sinar ketika objek lewat. Digital Signal
Processor akan mengolah dan menganalisis pola-pola tersebut sehingga
dapat diidentifikasi mana yang air hujan, mana yang salju dan sebagainya
beserta ukuran partikelnya. Hasil identifikasi dikirim ke unit logger dan
data disimpan sebagai database curah hujan. Database dapat diakses pula
melalui jaringan oleh Pusat Cuaca.
• Penggunaan proximity sensor dapat mempercepat dan mempermudah ahli
meteorologi dalam menganalisis pola cuaca dan membuat ramalan cuaca
yang lebih akurat dengan penyajian data yang lebih cepat dan lebih mudah
diakses langsung dari pusat cuaca.

Daftar Referensi

[1] Alat ukur curah hujan. http://cocio.co.cc


[2] Disdrometer – Wikipedia, the free encyclopedia.
http://en.wikipedia.org/wiki/Disdrometer
[3] Electronic Rain Sensor. http://www.edcheung.com/automa/rain.htm
[4] How does a tipping bucket work?
http://www.weatherhut.com/site/1298901/LearningCenter/RainGauge.ht
ml
[5] Rain gauge – Wikipedia, the free encyclopedia.
http://en.wikipedia.org/wiki/Rain_gauge
[6] Snow gauge – Wikipedia, the free encyclopedia.
http://en.wikipedia.org/wiki/Snow_gauge
[7] Tipping bucket rain gauges (animation).
http://z.about.com/d/weather/1/0/w/0/-/-/Rain-gauge-animation.gif
[8] Laser precipitation monitor.
http://www.tjqx.com/UploadFiles/2008825181528427.jpg
[9] Laser precipitation monitor (disdrometer).
http://www.thiesclima.com/disdrometer.html
[10] Photodiode – Wikipedia, the free encyclopedia.
http://en.wikipedia.org/wiki/Photodiode
[11] Capacitive Proximity Sensors – Theory of Operation.
http://www.sea.siemens.com/step/pdfs/snrs_3.pdf

10
[12] Tipping bucket rain gauge.
http://www.weathershack.com/education/tipping-bucket-rain-gauge.html
[13] How to measure precipitation.
http://www.ecokids.ca/pub/eco_info/topics/climate/weather/media/pdf/ra
in.pdf
[14] Precipitation.
http://geography.about.com/od/physicalgeography/a/precipitation.htm
[15] Precipitation (meteorology) - Wikipedia, the free encyclopedia.
http://en.wikipedia.org/wiki/Precipitation
[16] Deskripsi Sensor Tipping Bucket.
http://www.bmg.go.id/share/dokumen/deskripsisensorlintek.pdf
[17] ParsivelBroshure – Optical Precipitation Sensor.
http://www.iihr.uiowa.edu/facilities/Parsivel/ParsivelBroshure.pdf

11

Anda mungkin juga menyukai