Anda di halaman 1dari 8

Prinsip dasar Electroplating adalah melapisi permukaan benda kerja dengan logam jenis lain untuk

memperbaiki kualitas permukaan dari benda kerja tersebut. Proses pelapisan tersebut bisa berlangsung
dengan bantuan arus listrik DC dengan media larutan elektrolit (larutan penghantar).

1. Bak Plating.
2. Anoda (+).
3. Katoda / benda kerja (-).
4. Lapisan logam yang terbentuk.
5. Larutan Elektrolit.
6. Rectifier (Sumber arus DC).
7. Voltmeter.
8. Amperemeter.
9. Tembaga untuk penghantar listrik.
1. Bak Plating
Bak Plating harus terbuat dari bahan yang tahan dengan larutan elektrolit yang digunakan.
Umumnya terbuat dari PVC atau PP. Untuk ukuran yang besar bisa menggunakan besi atau
semen yang dilapisi PVC atau PP. Ukuran bak menentukan ukuran dan jumlah barang yang bisa
diproses.
2. Anoda
Anoda dihubungkan dengan kutub positip dari rectifier.
Anoda biasanya terbuat dari logam yang akan dilapiskan. Dengan adanya arus listrik anoda
tersebut bisa larut ke dalam larutan elektrolit . Dalam waktu bersamaan ion logam dalam larutan
yang dekat dengan benda kerja, berubah menjadi logam dan melapisi benda kerja. Contohnya
anoda Nickel, Copper, Zinc, Tin, dan Brass.
Ada juga anoda yang tidak bisa larut. Jadi untuk menggantikan ion logamnya harus ditambahkan
bahan kimia ke dalam larutan elektrolit, seperti anoda chrom, carbon, Platinize Titanium, dan
Stainless Steel.
3. Katoda
Katoda atau benda kerja dihubungkan dengan kutub negatip dari rectifier. Permukaan benda
kerja yang dekat dengan anoda akan lebih mudah terlapisi dibandingkan dengan yang lebih jauh
atau terhalang.
Dengan mengatur posisi benda kerja terhadap anoda akan membantu meratakan lapisan dan
mempercepat proses plating.
4. Lapisan logam
Lapisan logam yang terbentuk mempunyai karakteristik yang khusus. Tergantung dari kadar
kandungan bahan kimia dalam elektrolit, kondisi proses, dan kualitas arus listrik. Diperlukan
pengetahuan yang lebih dalam tentang elektroplating untuk bisa menghasilkan lapisan logam
dengan karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan.
Lapisan logam ini dalam satuan micron, dan bisa diukur dengan menggunakan thickness meter.
5. Larutan Elektrolit
Larutan elektrolit berfungsi sebagai penghantar listrik dan media pelarutan dari ion logam.
Larutan elektrolit ini biasanya terdiri garam yang mengandung ion logam, buffer (pengatur pH),
dan aditif (Surfactant, Brightener dan Katalis). Volume larutan elektrolit yang menyusut karena
penguapan bisa dikembalikan lagi ke volume semula dengan menambahkan air bilasan dari
proses plating tersebut. Untuk mempertahankan kadar dari larutan elektrolit, bisa dilakukan test
secara berkala, dan menambahkan bahan kimia yang berkurang.
6. Rectifier
Rectifier merupakan sumber arus DC dari Proses Electroplating. Rectifier sebaiknya yang bisa
diatur Volt DC nya, sehingga bisa disesuaikan dengan ukuran benda kerja dan jenis Platingnya.
7. Volt meter
Volt meter disini untuk mengukur Volt yang sedang digunakan dalam proses Plating. Volt diatur
untuk mendapatkan ampere yang diinginkan atau sesuai dengan perhitungan standar. Pengaturan
Volt yang tidak tepat akan mempengaruhi kualitas lapisan dan lamanya proses kerja.
8. Ampere meter
Ampere meter untuk mengukur ampere dari arus listrik selama proses Plating. Ampere ini sangat
penting, karena bisa digunakan untuk menghitung jumlah logam yang melapisi, sehingga bisa
digunakan untuk menghitung biaya produksi.
Ampere meter idealnya yang digital agar lebih akurat dalam pembacaannya. Ampere ini juga
sebagai parameter standar dari Plating, sebab setiap proses Plating mempunyai standar ampere
per-desimeterpersegi yang berbeda-beda.
9. Tembaga
Tembaga untuk penghantar listrik dari Rectifier ke anoda atau katoda. Ukuran dari tembaga
disesuaikan dengan ampere yang digunakan. Sebisa mungkin jangan banyak sambungan, karena
dapat memperburuk aliran arus listrik. Setiap sambungan yang ada harus sering di cek dan
dibersihkan agar arus listrik tetap lancar.












ANODISING
Proses anodising adalah proses pembentukan lapisan oksida dari bahan logam itu sendiri. Untuk
bahan aluminium akan terbentuk lapisan aluminium oksida, dan untuk bahan titanium terbentuk
titanium oksida.
Proses pembentukan oksida itu disebabkan karena karakteristik lapisan oksida tersebut memiliki
keunggulan dibanding logam aslinya sendiri. Seperti ketahanan korosi (oksidasi) dan abrasi
(hardness).
Setelah proses pembentukan oksida (anodising), dapat dilanjutkan dengan proses pewarnaan,
untuk tujuan dekoratif.
Partikel warna tersebut bisa masuk dan mengisi pori-pori dari lapisan aluminium oksida.
Proses anodising bisa terjadi dengan bantuan arus DC (rectifier) dan cairan electrolit untuk
penghantar listriknya.
Ada 3 bahan kimia dasar yang bisa digunakan sebagai cairan electrolit untuk anodising, yaitu :
- Asam sulfat
- Asam Phosphat
- Chromic Acid
Cairan electrolit yang banyak digunakan adalah asam sulfat, karena dari segi harga lebih murah
dari asam phosphat dan lebih mudah menangani limbahnya dibanding chromic acid.
Bahan aluminium yang bisa dianodising adalah aluminium murni atau yang tidak terlalu banyak
campuran dengan logam lain (aluminium alloy).
Untuk aluminium alloy yang kandungan zinc, silika, tembaga, besi, dan magnesium tinggi perlu
penanganan khusus.
Kami menyediakan bahan-bahan untuk anodising, seperti :
- electrobrightening (electropolishing)
- Warna anodising (Hitam, biru, biru torquis, hijau, merah, orange, kuning/gold, dan coklat)
- Cold sealing
- Antimist (anti bau)
Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi kami.
Anodizing adalah sebuah proses elektrokimia yang bertujuan untuk mempertebal atau
memperkuat lapisan protektif alami pada logam. Lapisan anodik adalah bagian dari
logam yang dilapisi, namun memiliki struktur berpori yang memberikan reaksi
sekunder seperti pewarnaan. Proses ini juga dapat mengubah permukaan logam
menjadi lebih dekoratif, andal, tahan terhadap korosi. Aliminium adalah logam yang
paling sesuai untuk anodizing. Logam non-ferrous lainnya yang dapat dipergunakan
untuk anodizing adalah magnesium dan titanium.
Struktur lapisan oksida anodik terbentuk dari substrat aluminium dan terdiri seluruhnya dari
oksida aluminium. Lapisan oksida tersebut tidak diaplikasikan pada permukaan logam seperti
pada saat mengaplikasikan cat maupun plating, tetapi sepenuhnya terintegrasi dengan substrat
aluminium, sehingga tidak dapat terkelupas.
Anodizing dilakukan dengan mencelupkan aluminium ke dalam larutan elektrolit
asam dan mengalirkan arus listrik melalui medium tersebut. Sebuah katoda
dipasangkan pada bagian dalam tanki anodizing. Aluminium bertindak sebagai anoda
sehingga ion oksigen dilepaskan dari larutan elektrolit untuk dikombinasikan dengan
atom-atom aluminium pada permukaan logam yang di-anodizing.
Berikut adalah kelebihan proses pelapisan logam dengan cara anodizing :
- Keandalan
Pada umumnya produk yang mengalami anodisasi memiliki umur pakai yang lebih lama
dan memiliki keandalan yang baik. Hal ini merupakan implikasi positif dari sifat lapisan
yang terikat dengan kuat dengan substrat logam dasarnya.
- Stabilitas warna
Warna yang diaplikasikan pada lapisan hasil anodisasi tahan terhadap sinar ultraviolet
sehingga tidak mudah pudar.
- Kemudahan perawatan
Goresan dan cacat pada permukaan akibat logam melewati proses produksi, pemindahan,
instalasi, atau bahkan kesalahan akibat pembersihan yang terlalu sering bukanlah suatu
masalah besar. Goresan maupun cacat tersebut dapat segera dihilangkan dengan
menggunakan sabun dan air yang dapat mengembalikan permukaan logam seperti
semula. Untuk endapan yang lebih sulit, dapat digunakan mild abrasive cleaners.
- Estetika
Anodizing dapat menghasilkan kilap yang sangat baik dan juga pilihan warna yang
menarik. Tidak seperti proses surface treatment lainnya, anodizing tetap mengizinkan
aluminium mempertahankan tampilan khasnya sebagai logam.
- Biaya
untuk jangka waktu yang lama, anodizing merupakan pilihan surface treatment yang
dapat memberikan nilai awal dan nilai perawatan yang lebih rendah dibandingkan proses
lainnya.
- Kesehatan dan keselamatan
Anodizing merupakan proses yang sangat aman dan tidak membahayakan kesehatan
manusia. Hasil dari proses anodizing, lapisan anodik, memiliki stabilitas kimia yang baik,
tidak mudah terdekomposisi, tidak beracun, dan tahan terhadap suhu tinggi mencapai titik
leleh aluminium itu sendiri.





Anodizing
11 Mei
A. Penjelasan Umum Tentang Anodizing
Anodizing adalah proses pelapisan secara elektrokimia yang bertujuan untuk mempertebal atau
memperkuat lapisan protektif alami pada logam. Melalui proses elektrokimia ini akan terbentuk
lapisan oksida berpori yang memungkinkan untuk dilakukan proses sekunder yaitu pewarnaan.
Proses anodizing ini dapat meningkatkan keandalan dari permukaan material serta dapat
meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Aluminium merupakan logam yang sering di
anodizing. Logam non-feros lain yang biasa di anodizing adalah Magnesium dan Titanium.
B. Anodizing Aluminium
Anodizing dilakukan dengan mencelupkan logam ke dalam larutan elektrolit asam dan
mengalirkan arus listrik melalui media tersebut. Sebuah katoda dipasang pada tangki elektrolit
tersebut dan logam yang akan di anodizing berlaku sebagai anodanya, sehingga ion oksigen
dilepaskan dari larutan elektrolit untuk dikombinasikan dengan atom-atom aluminium pada
permukaan logam yang di anodizing.
C. Kelebihan Proses Anodizing
Adapun kelebihan dari proses anodizing ini antara lain :
Keandalan
Pada umumnya produk yang mengalami anodisasi memiliki umur pakai yang lebih lama dan
memiliki keandalan yang baik. Hal ini merupakan implikasi positif dari sifat lapisan yang terikat
dengan kuat dengan substrat logam dasarnya.
Stabilitas Warna
Warna yang diaplikasikan pada lapisan hasil anodazing tahan terhadap sinar ultraviolet sehingga
tidak mudah pudar.
Estetika
Anodizing dapat menghasilkan warna kilap yang sangat baik dan warna yang menarik. Tidak
seperti proses surface treatment lainnya, anodizing tetap mengizinkan mempertahankan tampilan
logam dasarnya.
Biaya
Untuk jangka panjang, anodizing merupakan pilihan surface treatment yang dapat memberikan
nilai awal dan perawatan yang lebih rendah dibanding surface treatment yang lain.
Kesehatan dan Keselamatan
Proses anodizing menghasilkan permukaan berupa lapisan oksida yang efeknya tidak berbahaya
terhadap lingkungan.
D. Tipe Anodizing
Chromic Acid Anodizing
Tipe ini menggunakan elektrolit Chromic Acid, menghasilkan lapisan hanya sekitar 0,5 hingga
2,5 mikron. Pada saat proses berlangsung, 50 % lapisan oksida terintegrasi ke dalam substrat dan
50% pertumbuhan lapisan keluar. Lapisan yang dihasilkan cenderung lebih ulet dibanding tipe
lain.
Sulfuric Acid Anodizing
Tipe ini merupakan tipe yang umum dilakukan yaitu menggunakan Asam Sulfat sebagai
elektrolit. Menghasilkan lapisan protektif sampai 25 mikron. 67% lapisan terintegrasi ke dalam
sisanya keluar. Lapisan yang dihasilkan permeable dan bersifat porous sehingga dapat dilakukan
pewarnaan. Bisa diaplikasikan untuk aplikasi arsitektur, bagian pesawat terbang, otomotif,
maupun komputer.
Hard Anodizing
Elektrolit sama dengan tipe 2 tetapi menggunakan konsentrasi yang lebih pekat pada temperatur
yang lebih rendah. Menghasilkan lapisan protektif sampai 75%. Menghasilkan lapisan dengan
ketahanan korosi dan ketahanan abrasi yang sangat baik, anti pudar, tahan terhadap suhu tinggi.
Diaplikasikan pada komponen yang membutuhkan ketahanan korosi yang tinggi seperti pada
piston dan hydraulic gear