Anda di halaman 1dari 51

1

A. Pemicu
Cinta, umur 26 tahun belum menikah datang dengan keluhan nyeri pada
pinggang dan bibir kering, mual ada, muntah ada. Cinta terobsesi dengan artis
pujaannya sehingga ia mengkonsumsi obat diet untuk mencapai berat badan
ideal. Cinta membeli obat diet herbal di toko obat. Cinta bekerja sebagai
sekretaris perusahaan ternama, dan karena kesibukannya Cinta jarang
mengkonsumsi air putih dan rutin jogging sore hari di GOR Pangsuma. Untuk
menjaga stamina Cinta juga mengkonsumsi tablet vitamin C 500 mg.

B. Klarifikasi dan Definisi
-

C. Kata Kunci
Wanita 26 tahun
Nyeri pinggang dan bibir kering
Mual (+), muntah (+)
Konsumsi obat diet herbal
Jarang mengkonsumsi air putih
Rutin olahraga
Konsumsi vitamin C 500 mg

D. Rumusan Masalah
Wanita 26 tahun datang dengan keluhan nyeri pinggang dan bibir kering
disertai mual dan muntah, riwayat mengkonsumsi obat diet herbal, vitamin C,
dan jarang minum.

2

E. Analisis Masalah

3

F. Hipotesis
Cinta 26 tahun dicurigai mengalami penyakit batu ginjal disertai dehidrasi dan
kelelahan akibat pola diet yang tidak seimbang dan perlu pemeriksaan lebih
lanjut.

G. Pertanyaan Diskusi
1. Keseimbangan energi
a. Fisiologi
b. Hormon yang mempengaruhi
2. Obat diet herbal
a. Kandungan
b. Mekanisme kerja
c. Efek samping
d. Bentuk racikan
e. Khas KalBar
f. Bentuk sediaan
g. Keamanan
h. Uji klinik hingga boleh digunakan
i. Uji oleh BPOM
j. Uji oleh BPOM
3. Vitamin C
a. Fungsi
b. Aturan pakai
c. Efek samping
4. Bagaimana cara kerja obat pelangsing secara umum?
5. Penyakit dengan gejala klinis nyeri pinggang?
6. Manfaat meminum air putih
7. Mengapa pada kasus terjadi bibir kering, mual, muntah, sakit pinggang?
8. Bagaimana pola diet sehat (mencakup makanan dan olahraga)?
9. Apakah ada kemungkinan bulimia dan anoreksia?
10. Gangguan ginjal:
4

a. Gagal ginjal akut
b. Batu ginjal
11. Tatalaksana awal dan lanjutan pada kasus?

5

H. Pembahasan
1. Keseimbangan energi
a. Fisiologi
1,2

Energi dibutuhkan oleh setiap sel dalam tubuh untuk
mempertahankan kehidupannya dan melaksanakan fungsinya dengan baik.
Sumber enrgi berasal dari makanan yang dimakan, diserap dan kemudian
diolah oleh tubuh

Energi masuk merupakan energi yang berasal dari makanan yang
dimakan yang merupakan sumper energi. Energi didapatkan dari ikatan
kimia pada makanan yang diuraikan untuk kemudian digunakan dalam
bentuk ikatan fosfat berenergi tinggi pada ATP. Energi ini dapat
digunakan untuk melakukan kerja biologis atau disampan di dalam tubuh
untuk kebutuhan nanti.

Kerja dapat dibagi dua yaitu kerja etsternal dan kerja internal.
Kerja eksternal merupakan energi yang dikeluarkan saat otot rangka
berkontraksi untuk menggerakkan objek eksternal atau menggerakkan
tubuh terhadap lingkungan lingkungan, sedangkan kerja internal
merupakan pengeluaran energi biologis yangtidak berhubungan dengan
kerja mekanik di luar tubuh. Kerja internal mencangkup dua tipe aktivitas
yaitu kerja otot rangka selain kerja mekanik, seperti postural dan
menggigil, dan energi untuk mempertahankan hidup, seperti kerja jantung
dan bernafas, yang biasa disebut juga metabolic cost of living.
Tidak semua energi yang keluar tubuh merupak suatu kerja. Energi
keluar yang tidak digunakan untuk mendukung kerja merupakan panas
yang dilepaskan atau energi termal. Dari total energi yang masuk ke dalam
tubuh, sekitar 75% menjadi panas dan hanya 25% yang dimanfaatkan
untuk kerja internal. Akan tetapi panas yang dihasilakn tersebut tidak sia-
6

sia, karena sebagian besarnya digunakan untuk mempertahankan
temperatur tubuh.
Terdapat tiga kemungkinan bentuk keseimbangan energi, antara
lain:
Keseimbangan energi netral
Keseimbangan yang terjadi apabila energi yang masuk ke
dalam tubuh sama persis dengan energi yang keluar. Pada kondisi ini
berat badan akan tetap.
Keseimbangan energi positif
Keseimbangan yang terjadi apabila umlah energi yang masuk
tubuh lebih besar daripada energi yang keluar. Energi yang masuk ke
dalam tubuh dan tidak digunakan akan disimpan di dalam tubuh,
terutama sebagai jaringan adiposa, sehingga berat badan bertambah
Keseimbangan energi negatif
Keseimbangan yang terjadi apabila energi yang masuk tubuh
lebih kecil dari pada energi yang keluar. Komdisi ini mengakibatkan
tubuh harus menggunakan energi cadangan untuk memenuhi
kebutuhan aktivitas, sehingga berat badab akan berkurang.

b. Hormon yang mempengaruhi
2

Laju metabolik dan, karenanya, jumlah panas yang diproduksi
bervariasi bergantung pada beragam faktor, misalnya olahraga, rasa cemas,
menggigil, dan asupan makanan. Peningkatan aktivitas otot rangka adalah
faktor yang dapat meningkatkan laju metabolik paling besar. Bahkan
peningkatan ringan tonus otot menyebabkan peningkatan laju metabolik
yang nyata. Karena itu, laju metabolik seseorang ditentukan di bawah
kondisi basal terstandar yang diciptakan untuk mengontrol sebanyak
mungkin variabel yang dapat mengubah laju metabolik. Dengan cara ini,
aktivitas metabolik yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi tubuh
dasar saat istirahat dapat ditentukan. Karena itu, apa yang disebut sebagai
7

laju metabolik basal (basal metabolic rate, BMR) adalah laju pengeluaran
energi internal minimal saat terjaga.
Hormon tiroid adalah penentu utama meskipun bukan satu-satunya
penentu laju metabolisme basal. Peningkatan hormon tiroid menyebabkan
peningkatan BMR. Selain itu epinefrin, suatu hormon yang dikeluarkan
sebagai respons terhadap stres juga meningkatkan BMR.
Kontrol keseimbangan energi dan asupan makanan terutama adalah
fungsi hipotalamus. Nukleus arkuatus hipotalamus berperan sentral dalam
kontrol jangka panjang keseimbangan energi dan berat tubuh serta kontrol
jangka pendek asupan makanan sehari-hari. Nukleus arkuatus memiliki
dua subset neuron yang berfungsi saling berlawanan. Satu subset
mengeluarkan neuropeptida Y, dan yang lain mengeluarkan melanokortin.
Neuropeptida Y (NPY), salah satu perangsang nafsu makan paling kuat
yang pernah ditemukan, menyebabkan peningkatan asupan makanan
sehingga mendorong pertambahan berat. Melanokortin, sekelompok
hormon yang secara tradisional dikenal penting dalam menentukan warna
kulit untuk tujuan kamuflase pada sebagian spesies, dibuktikan memiliki
peran yang mengejutkan dalam homeostasis energi. Melanokortin tidak
berperan dalam menentukan warna kulit pada manusia. Pentingnya
hormon ini pada spesies kita sebagian terletak pada kemampuannya
menekan nafsu makan sebagai respons terhadap peningkatan simpanan
lemak.
Tetapi NPY dan melanokortin bukan efektor akhir dalam kontrol
nafsu makan. Pembawa-pembawa pesan kimiawi nukleus arkuatus ini,
selanjutnya, mempengaruhi pelepasan neuropeptida di bagian-bagian otak
lain yang memiliki efek kontrol lebih langsung pada asupan makanan.
Adiposit mengeluarkan beberapa hormon, secara kolektif dinamai
adipokin, yang berperan penting dalam keseimbangan energi dan
metabolisme. Salah satu adipokin yang terpenting adalah leptin, suatu
hormon yang esensial bagi regulasi berat tubuh normal (leptin artinya
"kurus"). Jumlah leptin dalam darah adalah indikator yang baik jumlah
8

total lemak trigliserida yang disimpan di jaringan lemak: semakin besar
simpanan lemak, semakin banyak leptin dibebaskan ke dalam darah.
Sinyal dalam darah ini, adalah sinyal molekular penanda kenyang.
Sinyal dalam darah lainnya di luar leptin yang berperan penting
dalam kontrol jangka panjang berat badan adalah insulin. Insulin, suatu
hormon yang disekresikan oleh pankreas sebagai respons terhadap
peningkatan konsentrasi glukosa dan nutrien lain di darah setelah makan,
merangsang penyerapan, pemakaian, dan penyimpanan nutrien-nutrien ini
oleh sel. Karena itu, peningkatan sekresi insulin yang menyertai
kelimpahan, pemakaian, dan penyimpanan makanan secara tepat
menghambat sel penghasil NPY nukleus arkuatus, menekan asupan
makanan lebih lanjut.
Baru-baru ini diidentifikasi dua peptida yang penting dalam kontrol
jangka pendek asupan makan: ghrelin dan peptida YY (PYY), yang
masing-masing menandakan lapar dan kenyang. Keduanya disekresi oleh
saluran cerna. Ghrelin, yang disebut sebagai hormon lapar, adalah
perangsang nafsu makan poten yang dihasilkan oleh lambung dan diatur
oleh status makan (ghrelin adalah kata Hindu untuk 'tumbuh'). Sekresi
perangsang nafsu makan ini memuncak sebelum makan dan menyebabkan
orang ingin makan, kemudian turun setelah hidangan dimakan. Ghrelin
merangsang nafsu makan dengan mengaktifkan neuron penghasil NPY di
hipotalamus.
PYY adalah mitra ghrelin. Sekresi PYY, yang dihasilkan oleh usus
halus dan besar, berada dalam kadar terendah sebelum makan tetapi
meningkat selama makan dan memberikan sinyal rasa kenyang. Peptida ini
bekerja dengan menghambat neuron-neuron penghasil NPY perangsang
makan di nukleus arkuatus. Dengan menghilangkan nafsu makan, PYY
dipercayai berperan penting dalam penghentian makan.
Dua daerah hipotalamus menerima banyak akson dari neuron
penghasil NPY dan melanokortin nukleus arkuatus. Daerah-daerah neuron
ordo kedua yang terlibat dalam keseimbangan energi dan asupan makanan
9

ini adalah daerah hipotalamus lateral (lateral hypothalamic area, LHA)
dan nukleus hipotalamus paraventrikel (paraventricular hypothalamic
nucleus, PVN). LHA dan PVN mengeiuarkan pembawa-pembawa pesan
kimiawi sebagai respons terhadap masukan dari neuron-neuron nukleus
arkuatus. Pembawa-pembawa pesan ini bekerja di sebelah hilir dari sinyal
NPY dan melanokortin untuk mengatur nafsu makan. LHA menghasilkan
dua neuropeptida yang berhubungan erat yang dikenal sebagai oreksin,
yaitu stimulator kuat asupan makanan (oreksin artinya "nafsu makan").
NPY merangsang dan melanokortin menghambat pelepasan oreksin,
sehingga terjadi peningkatan nafsu makan dan asupan makanan.
Sebaliknya, PVN mengeluarkan pembawa-pembawa pesan kimiawi,
misalnya corticotropin-releasing hormone, yang mengurangi nafsu makan
dan asupan makanan.
Kolesistokinin (CCK), salah satu hormon gastrointestinal yang
dikeluarkan dari mukosa duodenum sewaktu pencernaan makanan, adalah
sinyal kenyang penting untuk mengatur jumlah makanan yang disantap.
CCK dikeluarkan sebagai respons terhadap adanya nutrien di usus halus.
Melalui beragam efek di saluran cerna, CCK mempermudah pencernaan
dan penyerapan nutrien.

2. Obat diet herbal
a. Kandungan
The American Journal of Clinical Nutrition dengan judul Dietary
supplements for body-weight reduction diketahui bahwa tanaman dan
senyawa mineral berikut biasa digunakan sebagai obat penurun berat
badan. Dalam penjelasan juga dijelaskan penelitian klinis yang
menyertai.
3
Bahan-bahan tersebut yaitu
3
:
1. Bahan sediaan Ayurverdict. Pada penelitian ini dilakukan double blind
Randomized clinical trial dengan pasien yang berat badannya diatas
20% dari berat badan ideal yang dinilai berdasarkan kriteria Life
Insurance Corporation of India. Pasien tersebut setiap hari menerima
10

sediaan obat Ayurverdic dengan 750 mg Triphala/d dan plasebo.
Pasien dengan kelompok perlakuan mengalami penurunan berat badan
berkisar 7,9 dan 8,2 kg yang secara berbeda jauh dengan plasebo.
2. Chitosan. Chitosan merupakan polisakarida kationik yang diproduksi
melalui kitin, yang merupakan substansi dari eksoskeleton krustasea.
Diketahui bahwa bahan chitosan dapat menurunkan absorpsi lemak.
3. Chromium picolinate. Merupakan mineral esensial dan kofaktor
insulin yang meningkatkan kerja enzim insulin. Dilaporkan bahwa zat
ini menurunkan berat badan, menurunkan presentase lemak dalam
tubuh dan meningkatkan basal metabolic rate. Chromium picolinate
merupakan senyawa organik dari kromium trivalen dan asam pikolinat
yang muncul secara alami dari turunan asam amini triptofan. Hasil
penelitian 10 randomized clinical trial menunjukkan penurunan berat
badan 1,1-1,2 kg selama 6-14 minggu pada orang dengan indeks berat
tubuh 28-33.
4. Ephedra sinica atau ma-huang bersal dari sentral Asia. Ephedrine yang
merupakan bahan aktif dari tanaman ini telah diteliti penggunaannya
secara mandiri ataupun dengan kombinasi kafein. Pada 5 penelitian
double blind trial disimpulkan bahwa kombinasi ephedrine dan kafein
efektif dalam menurunkan berat badan dan menyingkirkan efek dari
kelebihan berat badan.
5. Garcinia cambogia. Mengandung asan hidroksisitrat yang diketahui
menginhibisi pembelahan enzim sitrat, menekan pembentukan asam
lemak dan jumlah ambilan makanan serta menurunkan berat badan.
Tetapi dalam penelitian klinis tidak didapatkan perbedaan penurunan
berat badan yang signifikan bila dibandingkan dengan plasebo.
6. Glukomanan. Glukomanan merupakan komponen yang didapatkan
dari akar konjac yang berasal dari Amorphophallus konjac C. Koch.
Struktur kimia glukomanan mirip dengan galaktomanan yang berasal
dari getah guar dan memiliki rantai polisakarida glukosa dan manosa.
Pada penelitian klinis dengan pasien yang berat badannya 20% diatas
11

berat badan terdapat penurunan berat badan yang signifikan
dibandingkan dengan kelompok plasebo.
7. Getah guar yang berasal dari Cyamopsis tetragonolobus efektif
menurunkan masa tubuh berdasarkan 11 uji klinis yang dilakukan.
Tetapi getah ini dapat menimbulkan masalah penncernaan.
8. Hydroxy-methylbutyrate merupakan metabolit leusin yang diketahui
memiliki aksi antikatabolik melalui pencegahan pemecahan protein.
Senyawa ini tersedia sebagai suplemen makanan dan digunakan
terutama padaa orang yang ingin membentuk tubuh untuk mengubah
komposisi tubuh.
9. Plantago psyllium merupakan serat larut air yang didapatkan dari
Plantago ovata.
10. Piruvat dibentuk oleh tubuh melalui glikolisis dan suplementasi zat ini
nampaknya digunakan untuk meningkatkan erforma dalam olahraga
dan memperbaiki komposisi tubuh. Pada penelitian klinis dengan
subjek yang memiliki BMI>25 tidak didapatkan perubahan berat badan
yang signifikan bila dibandingkan dengan plasebo meskipun diketahui
terdapat penurunan berat badan sebanyk 1,2 kg.
11. Yerba mate atau Ilex paraguariensis yang berasal dari Amerika selatan
dikombinasikan dengan guarana atau Paullinia cupana dan damiana
atau Turnera diffusa diberikan kepada subjek dengan BMI 26-30. I.
Paraguariensis dan P.cupana mengandung jumlah kafein yang besar
dan melalui pemeriksaan ultrasound dan scanning diketahui
memperpanjang pengosongan isi lambung yang mengindikasikan
efektif dalam menurunkan berat badan.
12. Yohimbe atau Pausinystalia yohimbe berasal dari sentral afrika
mengandung zat aktif antagonis reseptor alfa-2 yang efektivitasnya
masih belum bisa disimpulkan dalam menurunkan berat badan.



12

b. Mekanisme kerja
Para peneliti menunjukkan bahwa bahan-bahan makanan alami dan
tanaman obat dapat meningkatkan rasa kenyang, meningkatkan
metabolisme, dan mempercepat penurunan berat badan. Berdasarkan
inhibisi dari aktivitas lipase pankreas, beberapa taman herbal akan
mencegah terjadinya penyerapan lemak pada usus halus. Hal ini berakibat
pada lemak-lemak yang tidak diserap akan dikeluarkan melalui feses yang
berminyak. Selain itu, beberapa komponen bioaktif dapat meningkatkan
pengeluaran energi atau energy expenditure melalui peningkatan basal
metabolic rate, yang akan meningkatkan pembentukan termogenesis.
Fungsi ini akan membantu tubuh untuk membakar kalori tambahan dan
kelebihan lemak tubuh. Melalui pencegahan diferensiasi adiposit,
konsumsi tanaman herbal akan meginhibisi adipogenesis dan
pembentukan sel-sel lemak dalam jaringan lemak. Lebih jauh lagi,
berdasarkan mekanisme kerja peningkatan metabolisme lipid (lipolisis),
beberapa produk obat herbal dapat meningkatkan lipolisis melalui induksi
beta-oksidasi atau pengeluaran noradrenalin dalam sel lemak. Obat herbal
penurun berat badan lainnya berguna dalam menekan nafsu makan dan
menginduksi rasa kenyang, yang akan menolong individu untuk
mengontrol nafsu makannya.
4

No Mekanisme penurun berat
badan
Obat herbal terkait
1 Menginhibisi aktivitas lipase
pankreas
Chitosan, levan, teh mate, teh
oolong, teh melati, teh hijau
2 Meningkatkan termogenesis Rumput laut, jeruk nipis, kedelai
3 Menghindari diferensiasi
adipokin
Kunyit, capsium, minyak kelapa,
daun pisang, alga cokelat,
bawang, kedelai hitam
4 Meningkatkan metabolisme
lemak
Segala jenis teh herbal, kayu
manis
13

5 Menurunkan nafsu makan Kacang pinus, daun delima,
ginseng, Hoodia gordonii
Banyak diantara bahan obat herbal lain sering digunakan yaitu
Garcinia cambogia, Gymnema silvestris, Cola nitida, Orthosiphon
stamineus, Citrus aurantinum yang bekerja dengan cara menginhibisi
sitrat liase, inhibisi amilase, inhibisi fosfodiesterase, dan meningkatkan
diuresis. Dimana obat herbal ini biasanya mengandung bahan aktif
hidroksisitrat, flavons, dan metilxanthin.
5
Diantara semua itu Camellia sinensis atau daun teh merupakan
tanaman herbal yang banyak digunakan dalam produk penurun berat
badan. Bahan aktif yang ditemukan dalam daun teh hijau yang tidak
difermentasi adalah struktur polifenol yang berasal dari keluarga flavanol.
Zat aktif flavanol dapat diidentifikasi melalui HPLC-MS yaitu
mengandung senyawa turunan epigallocathenin, cathenin,
epigallocathenin-3-O-gallate (EGCG), gallocathenin-3O-gallate, epigallo-
3-O-methylgammate dan epicathenin-3-O-gallate. Komponen seyawa-
senyawa ini biasa disebut dengan chatenin teh hijau.
6
Penggunaan
270mg EGCG secara oral yang didapatkan dari ekstrak teh hijau
diketahui
6
:
1. Meningkatkan energy expenditure sebanyak 4%
2. Menurunkan hasil bagi pernafasan atau respiratory quotient sebanyak
3,4%
3. Oksidasi sel lemak meningkat 35%
4. Dan konsentrasi norefinefrin dalam uring meningkat sebanyak 40%
Pada tanaman herbal lain seperti Hoodia gordonii yang
menurunkan nafsu makan diketahui mengandung zat aktif glikosida
steroid dengan inti steroid, rantai karbohidrat dan grup senyawa tigloyl.
Tanamanini berasal dari Afrika tenggara dengan molekul aktif yang
disebut dengan P57 yang mempengaruhi bagian pada otak atau nukleus
arkuata dengan berespon terhadap peningkatan gula darah. Pada percobaan
14

dengan manusia, tanaman ini menekan nafsu makan hingga menurunkan
konsumsi kalori hingga 1000 kalori.
7

Tamarin indica dan Curcuma longa yang diketahui sebagai asam
jawa dan kunyit menurunkan konsentrasi kolesterol, HDL dan LDL
dengan meningkatkan ekskresi lemak melalui empedu ke dalam feses.
Bahan mengandung kandungan bahan aktif utama kurkumin yang juga
berfungsi dalam menurunkan glukoneogenesis dalam hepatosit.
8

Tanaman Murraya paniculata L. Atau daun kemuning memiliki
kemampuan untuk meningkatkan metabolisme lipid dan menurunkan gula
darah, kolesterol serum dan trigliserida. Kandungan bahan aktif minyak
esensial ini sebanyak 58 senyawa yang diantaranya adalah caryophyllene
oksida, beta-caryophyllene, spathulenol, beta-elemene, germacrene D,
cyclooctene, 4-methylene-6-(propenylidene).
9

Cissus quadrangularis merupakan tanaman herbal yang berasal
dari Afrika dan Asia. Menurut penelitian di Iran penggunaan tanaman
herbal ini secara signifikan menurunkan ketebalan lemak yang berada pada
otot trisep yang mengindikasikan adanya penurunan lemak tubuh yang
cukup signifikan. Selain itu juga diketahui didapatkan penurunan lingkar
pinggang.
10
Melon pahit atau Momordica charantia merupakan tanaman herbal
yang digunakan untuk mengobati sindrom metabolik, terutama diabetes.
Tanaman ini juga diketahui dapat menurunkan berat badan. Penelitian dari
Taiwan yang dipublikasi pada British Journal of nutrition, menunjujjan
bahwa tanaman ini mengandung senyawa bioaktif yang mengaktifasi
enzim AMPK, yaitu protein yang mengatur kecepatan metabolisme dan
memperbaiki ambilan glukosa dalam tubuh. AMPK menekan akumulasi
lemak tubuh dan menurunkan jumlah sel-sel lemak.
7
Garcinia cambogia atau buah manggis merupakan tanaman herbal
yang tumbuh di daerah Asia tenggara dan sebagian negara Afrika. Pada
pengobatan tradisional indian tanaman ini digunakan untuk memperbaiki
edema, rematik, menstruasi yang terlambat dan gangguan pencernaan.
15

Asam hidroksisitrat yang merupakan bahan aktif tanaman ini berfungsi
dalam menurunkan nafsu makan dan mengurangi kemampuan tubuh untuk
membentuk lemak tubuh dengan menginhibisi konversi dari kelebihan
kalori menjadi lemak tubuh yang selanjutnya mencegah terjadinya
obesitas.
10

c. Efek samping
Secara umum penggunaan obat herbal yang salah bisa
menyebabkan gangguan pada jantung, hati, darah, ginjal, sistem saraf
pusat, kulit, dan menyebabkan pembentukan kanker.
11
Contohnya saja
pada negara-negara seperti Kanada, Israel, Italia diketahui adanya
kerusakan hepar akut yang diinduksi pemakaian obat herbal penurun berat
badan akibat kombinasi antara Camellia sinensis dan herbal lain yang
tidak tepat, dibuktikan dengan biopsi hati yang konsisten dengan adanya
drug induced acute liver injury yang bercirikan adanya infiltrasi dari
sinusiod, metaplasia duktal dan toksik nekrosis.
12
Pada ginjal diketahui
obat-obat herbal penurun berat badan yang tidak diuji secara baik dapat
menimbulkan gagal ginjal akut, penyakit kronis tubulointerstisial dan
urotelial karsinoma.
13

Hal ini bisa disebabkan akibat adanya toksisitas intrinsik,
adulterasi, substitusi, kontaminasi, misidentifikasi, inhetraksi dari obat
herbal dan rendahnya standarisasi obat herbal. Pada manusia terdapat
human cytochrome P450 (CYP)(EC 1.14.14.1) superfamily, yang
mengandung 57 gen, dimana semua gen ini berkontribusi pada
metabolisme berbagai macam xenobiotik termasuk obat-obat dalam terapi,
karsinogen, steroid, dan eikosanoid. Akibat yang dihasilkan yaitu
peningkatan polaritas xenobiotik yang berguna dalam memfasilitasi
ekskresi dan biasa disebut sebagai proses detoksifikasi, tetapi dalam
beberapa keadaan, senyawa asing dapat dikonversikan kedalam produk
yang memiliki tingkat toksisitas yang lebih besar, lebih mutagen, atau
menjadi karsinogen. Aktivasi metabolik dari prokarsinogenesis biasanya
dikatalisasi melalui beberapa sitokrom manusia yang terbatas seperti
16

CYP1A1, 1A2, 1B1, 2A6, 2B6, dan 3A4. Diantara semuanya, enzim
CY1PA dan 1B bioaktif polisiklik arilamin, poliaromatik hidrokarbon dan
afla toksin B1. Kesemua enzim tersebut digunakan sebagai target dalam
menghambat inisiasi tumor dan inhibitor CYP spesifik atau inaktivator
yang dapat berguna dalam mencegah pembentukan tumor. Dapat
diperkirakan bahwa kandungan pada sediaan obat-obat herbal dapat
menjadi substrat, inhibitor, ataupun penginduksi dari CYP dan memiliki
dampak terhadap farmakokinetik pada obat herbal maupun kombinasinya
yang akan dimetabolisme oleh sistem ini.
11

Obat herbal dimetabolisme oleh CYP menjadi metabolit nontoksik
dan diekskresikan, tetapi pembentukan dari metabolit toksik juga mungkin
terjadi. Selain itu penghambatan CYP oleh zat-zat aktif dari bahan herbal
memerankan peran penting dalam aktivasi prokarsinogen. Pada beberapa
kasus, pembentukan intermediat reaktif oleh CYP bisa menyebabkan
terjadinya inaktivasi enzim.
11

Substrat CYP, yang dimetabolisme menjadi intermediat reaktif
yang menginaktivasi enzim, diklasifikasikan berdasarkan mekanisme
inhibisinya. Mekanisme toksisitas obat herbal ini masih sulit untuk di
simpulkan, tetapi menurut akumilasi data menelitian mengindikasikan
peran dati pembentukan metabolit reaktif/intermediat melalui bioaktivasi
kandungan obat herbal utama diikuti dengan adanya bioaktivitas obat
herbal yang mengikat protein selular dan DNAA, menyebabkan terjadinya
toksisitas melalui berbagai mekanisme seperti sititoksisitas langsung,
aktivasi onkogen, dan reaksi hipersensitivitas.
11

Berdasarkan riset sebelumnya, penggunaan obat herbal yang tidak
dicampur dengan obat herbal alinnya tidak menyebabkan adanya efek
samping yang berbahaya. Dipihak lain, efek yang tidak diinginkan pada
tubuh manusia bisa terjadi pada interaksi beberapa zat fitokimia yang
berbeda pada tanaman herbal yang dikombinasikan.
13


17

Medicin
al plant
ingridie
nt
Hasil
efek
fermako
logis
dalam
menuru
nkan
berat
badan
Efek
samping
Formula
kommbin
asi herbal
Hasil efek
fermakolo
gis dalam
menurun
kan berat
badan
Efek samping
Rhubab
(rheum)
Positif Tidak
dilaporka
n
Jahe,
astragulus,
sage
merah,
kunyit,
asam
gallic
Menurunk
an berat
badan
lebih
banyak
Gangguan
muskuloskeletal,
gastrointestinal,
oral, kulit, iritasi
vagina, sakit
kepala
Camellia
sinensis
Positif
(p<0,05)
Tidak
dilaporka
n
Asparagus
, teh
hitam,
guarana,
kidney
bean,
Garcinia
cambogia,
chromium
Tidak
menurunk
an berat
badan
lebih
banyak
Keluhan
gastrointestinal
Citrus
aurantiu
m
Positif Tidak
dilaporka
n
Asam
pantoteat,
ekstrak
daun teh
hijau,
Menurunk
an berat
badan
lebih
banyak
Hipertensi,
gangguan
muskuloskeletal,
neurologis,
anxietas, migren
18

guarana,
kulit kayu
willow,
jahe
(p<0.04)
Kidney
bean
(phaseol
us
vulgaris)
Positif
(p=0,7)
Tidak
dilaporka
n
Dikombin
asi dengan
ekstrak teh
hijau
Terdapat
penurunan
berat
badan
lebih
banyak
Sering buang
angin, feses
lembek,
konstipasi
Garcinia
cambogi
a
Positif
(p=0,03)
Tidak
dilaporka
n
Dikombin
asikan
dengan
kafein
alami
Tidak
didapatkan
penurunan
berat
badan
yang lebih
banyak
(p=0,3)
Tidak dilaporkan
Serat
Glucoma
nnan
Positif
(p<0,05)
Tidak
dilaporka
n
Dikombin
asi dengan
chitosan,
fenugreek,
Gymemna
sylvestre,
vitamin C
Terdapat
penurunan
berat
badan
lebih
banyak
(p<0.01)
Konstipasi, sakit
kepala, indigesti

d. Bentuk sediaan
Pendekatan preparat tanaman herbal penurun berat badan dalam
memaksimalkan efikasi dan keamanan bergantung pada sampel bahan
yang diambil pada tanaman herbal tersebut. Pada obat tradisional, ramuan
obat tradisional dapat dilakukan dengan beberapa cara
14
:
19

1. Dicampur, ditumbuk, direbus, dan diambil air sarinya
2. Dicampur, ditumbuk, tanpa direbus, dan diambil air sarinya
3. Dicampur, ditumbuk, dan dikeringkan
4. Dicampur, dipotong-potong, dan dikeringkan
5. Tanpa dicampur dan langsung digunakan
Berikut merupakan contoh ramuan penurun berat badan secara
tradisional
11
:
1. Tumbukan halus dari satu buah mengkudu (Morinda citifolia L.), 10g
bangle hantu (Zingiber ottensi Val.), 7g daun kemuning (Murraya
paniculata L.), 5 g asam jawa (Tamarindus Indica), dan 8g lempuyang
wangi (Zingiber aromaticum Val.) diseduh dengan air matang
secukupnya dan disaring. Diminum setengah gelas dua kali sehari pagi
dan sore.
2. Ramuan teh yaitu terdiri dari tiga sendok makan Camellia sinensis dan
satu buah jeruk nipis (Citrus aufolia) dengan cara diseduh dengan air
panas yang diminum setengah gelas dua kali sehari pagi dan sore.
Sedangkan pada sediaan tanaman herbal pelangsing yang berupa
ekstrak, bahan tanaman dapat diambil dari keseluruhan tanaman atau dari
bagian tanaman tertentu seperti batang, kulit kayu, daun, bunga dan akar.
Bahan-bahan ini selanjutnya akan dibuat menjadi tepung ataupun kapsul.
Akan tetapi, hampir semua tanaman herbal yang diketahui memiliki efek
sebagai antiobesitas biasanya disiapkan dalam bentuk larutan air yang
berbentuk ramuan atau ekstrak alkohol. Hal ini dikarenakan jamu-jamuan,
distilasi, dan infusa dapat mengkonsentrasikan bahan-bahan yang
bertanggung jawab terhadap efikasi terapi pada tanaman tersebut.
Beberapa bahan dalam tanaman herbal menginhibisi fungsi bioaktif dari
zat penurun berat badan dan hal ini dihilangkan dengan prosedur ekstraksi.
Ektraksi dan pemurnian parsial atau isolasi dari bahan aktif dapat
meningkatkan bioavailibilitas dari bahan bioaktif dalam tanaman herbal
yang berakibat pada peningkaatan efikasi dalam penurunan berat badan.
13


20

e. Persyaratan Keamanan
15

Untuk serbuk (berupa butiran homogen dengan derajat halus yang
cocok, bahan bakunya berupa simplisia/bahan kering), harus memenuhi
beberapa persyaratan:
1. Kadar air tidak lebih dari 10%.
2. Angka kapang (semacam jamur yang biasanya tumbuh pada
permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak di
olah), dan khamir (ragi) tidak lebih dari 10.
3. Mikroba patogennya negatif/nol.
4. Aflatoksin tidak lebih dari 30 bpj (bagian per juta).
5. Serbuk dengan bahan baku simplisia dilarang ditambahkan bahan
pengawet.
6. Wadah tertutup baik, disimpan pada suhu kamar, ditempat kering
dan terlindung dari sinar matahari.
Untuk kapsul (obat tradisional yang terbungkus cangkang keras
atau lunak), harus memenuhi beberapa persyaratan :
1. Waktu lunak tidak lebih dari 15 menit
2. Isi kapsul harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
3. Kadar air isi kapsul tidak lebih dari 10%
4. Angka kapang dan khamir tidak lebih dari 10
5. Aflatoksis tidak lebih dari 30 bpj
6. Dalam wadah tertutup baik, disimpan pada suhu kamar, ditempat
kering dan terlindung dari sinar matahari.
f. Uji klinik hingga boleh digunakan
16

Agar fitofarmaka dapat dipertanggung jawabkan keamanan dan
khasiatnya dalam pemakaiannya pada manusia, maka pengembangan obat
tradisional tersebut harus mencakup berbagai tahap pengujian dan
pengembangan secara sistematik. Tahap-tahap ini meliputi:
1. Pemilihan.
Pemilihan jenis obat tradisional yang akan mengalami pengujian
dan pengembangan kearah fitofarmaka berdasarkan prioritas yang
21

digariskan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia Prioritas
pemilihan diberikan kepada:
a. Jenis obat tradisional yang diharapkan mempunyai khasiat untuk
penyakit-penyakit yang menduduki urutan atas dalam morbiditas
(pola penyakit).
b. Jenis obat tradisional yang diperkirakan mempunyai khasiat untuk
penyakit-penyakit tertentu berdasarkan inventarisasi pengalaman
pemakaian.
c. Jenis obat tradisional yang diperkirakan merupakan alternatif yang
jarang (atau satu satunya alternatif ) untuk penyakit tertentu.
Misalnya untuk obat kencing batu (kalkuli).
2. Pengujian Farmakologik
a. Penapisan aktivis farmakologik diperlukan bila belum terdapat
petunjuk mengenai khasiat.
b. Bila telah ada petunjuk mengenai khasiat maka langsung dilakukan
pemastian khasiat.
3. PengujianToksisitas, terdiri dari:
A. Uji toksisitas akut.
Uji toksisitas akut menyangkut pemberian beberapa dosis tunggal yang
meningkat secara teratur pada beberapa kelompok hewan dari jenis yang
sama.
Pengamatan kematian dalam waktu 24 jam digunakan untuk
menghitung LD
50
, dan hewan dipelihara selama 14 hari. Uji toksisitas akut
merupakan prasyarat formal keamanan calon fitofarmaka (obat) untuk
pemakaian pada manusia. Secara ideal uji toksisitas akut dilakukan pada
beberapa jenis hewan, sekurang-kurangnya jenis hewan pengerat dan satu
jenis hewan bukan pengerat. Namun karena berbagai pertimbangan uji
toksisitas akut pada saat ini sudah cukup memadai , bila dilakukan pada
tikus dari kedua jenis kelamin, menggunakan minimal hewan dari tiap
kelamin perdosis. Yang perlu dicari disini adalah :
22

a. Spektrum toksisitas akut Sistem biologik yang paling peka terhadap
calon Fitofarmaka.
b. Cara kematian (mode of death).
c. Nilai dosis lethal median( LD
50
) yang dihitung dengan metode
statistic baku.
B. Uji toksisitas sub akut.
Rancangan uji toksisitas sub akut dibuat berdasarkan hasil uji
toksisitas akut.
Uji toksisitas sub akut. Dapat memberikan gambaran tentang
toksisitas calon fitofarmaka pada penggunaan berulang untuk jangka
waktu yang relatif lama. Kecenderungan kumulasi dan reversibilitas efek
toksik calon fitofarmaka dapat dinyatakan dari hasil uji toksisitas sub akut.
- Hewan coba ideal tiga jenis, yaitu 2 rodent dan 1 non rodent, untuk
sementara cukup memadai menggunakan satu jenis yaitu tikus, minimal 3
dosis, salah satu dosis adalah dosis ekivalen yang akan digunakan pada
manusia, 10 hewan per dosis, dua jenis kelamin.
- Route pemberian sama dengan route yang digunakan pada manusia.
- Jangka waktu uji pemberian calon fitofarmaka pada toksisitas sub akut 3
(tiga) bulan.
Pemeriksaan organ-organ vital seperti hepar, ginjal, paru, otak, system
hematologik , di kerjakan dengan metode standar (baku), termasuk
pemeriksaan histopatologik .
C. Uji toksisitas kronik.
Uji toksisitas kronik diprioritaskan pada calon fitofarmaka yang
penggunaannya berulang/ berlanjut dalam jangka waktu sangat lama (lebih
dari 6 bulan). Uji toksisitas kronik memberikan gambaran tentang
toksisitas atau keamanan calon fitofarmaka pada penggunaan dosis lazim
secara berulang selama hayat hewan.
- Rancangan uji toksisitas kronik dibuat berdasarkan hasil uji toksisitas sub
akut.
23

- Jumlah hewan coba yang digunakan harus cukup banyak, minimal 20
ekor per dosis, agar hasil uji toksisitas kronik masih dapat ditafsirkan
dengan cermat, walaupun terjadi kematian hewan yang tidak berkaitan
dengan hal-hal teknis percobaan selama waktu pengujian.
Lama Pemberian Calon Fitofarmaka ada Uji Toksisitas. Lama
pemberian fitofarmaka pada hewan coba untuk uji toksisitas dianjurkan
agar disesuaikan dengan lamanya pemakaian obat pada manusia. Tabel
berikut memperlihatkan skema lama pemberian yang diperlukan pada uji
toksisitas dihubungkan dengan pemberian pada manusia. Tabel ini
merupakan modifikasi dari pedoman FDA untuk evaluasi obat yang akan
digunakan pada manusia ( 1975).
Lama penggunaan
Oleh manusia
Lama uji toksisitas pada
hewan
Dosis tunggal atau
beberapa dosis
1 jenis, tidak kurang
dari 2 minggu
Beberapa hari 1 jenis, 2 minggu
2 minggu 1 jenis, 3 bulan
3 minggu 1 jenis, 6 bulan
6 bulan atau lebih 1 jenis,
- 12 bulan = hewan bukan
Pengerat
- 18 bulan = hewan pengeral


D. Uji toksisitas spesifik
Toksisitas Spesifik Uji toksisitas ini misalnya uji teratogenisitas, uji
karsinogenisitas , uji mutegenisitas, uji toksisitas terhadap janin, uji
terhadap fungsi-fungsi reproduksi dan lain-lain. Perlu tidaknya uji-uji ini
dilakukan tergantung pada kemungkinan terjadinya efek-efek toksik
tersebut, sehubungan dengan pemakaiannya pada manusia.
4. Pengujian Farmakodinamik
24

Tahap ini dimaksudkan untuk lebih mengetahui secara lugas
pengaruh farmakologik pada berbagai system biologik. Bila diperlukan ,
penelitian dikerjakan pada hewan coba yang sesuai, baik secara invitro atau
invivo.
5. Pengembangan Sediaan (formulasi).
Yang perlu mendapat perhatian , sediaam calon fitofarmaka yang
diberikan harus :
1. Tidak memberikan bau dan rasa yang menyebabkan kegagalan
pengujian (contoh pada bawang putih).
2. Mempunyai ketersediaan hayati yang baik, hasil uji farmakologi dab uji
klinik meragukan, kadang-kadang disebabkan ketersediaan hayati calon
fitofarmaka yang tidak memadai.
6. Penapisan Fitokimia dan Standarisasi Sediaan.
Jika sebelum diketahui kandungan aktifnya, tahap pertama yang
harus dilakukan bersamaan dengan pengujian klinik dalam pembuatan profil
kromatogram bertahap dengan pelarut non polar, semi polar dan polar.
Slanjutnya dilkukan standarisasi sediaan dengan menggunakan zat
identitas. Penelitian fitokimia lebih lanjut adalah penentuan kandungan
kimia aktif. Jika kandungan kimia aktif sediaan sudah diketahui, maka dapat
dilakukan standarisasi sediaan berdasarkan atas kadar kandungan aktif
tersebut.
7. Pengujian klinik.
Uji klinikdibagiempat fase yaitu:
- Fase I : dilakukan pada sukarelawan sehat, untuk menguji keamanan dan
tolerabilitas obat tradisional
- Fase II awal: dilakukan pada pasien dalam jumlah terbatas, tanpa
pembanding
- Fase II akhir: dilakukan pada pasien jumlah terbatas, dengan pembanding
- Fase III : ujik linik definitive
- Fase IV : pasca pemasaran,untuk mengamati efek samping yang jarang
atau yang lambat timbulnya
25

d. Uji oleh BPOM
17

Berdasarkan PERMENKES NOMOR 007 TAHUN 2012 tentang
registrasi obat tradisional, obat tradisional yang dapat diberikan izin edar
harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Menggunakan bahan yang memenuhi persyaratan keamanan dan
mutu;
b. dibuat dengan menerapkan CPOTB;
c. memenuhi persyaratan Farmakope Herbal Indonesia atau persyaratan
lain yang diakui;
d. berkhasiat yang dibuktikan secara empiris, turun temurun, dan/atau
secara ilmiah; dan
e. penandaan berisi informasi yang objektif, lengkap, dan tidak
menyesatkan.
Obat tradisional dilarang mengandung:
a. etil alkohol lebih dari 1%, kecuali dalam bentuk sediaan tingtur yang
pemakaiannya dengan pengenceran;
b. bahan kimia obat yang merupakan hasil isolasi atau sintetik
berkhasiat obat;
c. narkotika atau psikotropika; dan/atau
d. bahan lain yang berdasarkan pertimbangan kesehatan dan/atau
berdasarkan penelitian membahayakan kesehatan.

3. Vitamin C
a. Fungsi
18

Vitamin C (asam askorbat) merupakan laktone dengan 6 karbon
yang disintesis dari glukosa di hepar pada kebanyakan spesies mamalia,
kecuali manusia, primate non-manusia, dan marmot. Spesies-spesies
tersebut tidak mempunyai enzim gulonolaktone oksidase yang esensial
untuk sintesis asam askorbat prekursor 2-keto-1-gulonolaktone. DNA yang
mengkode gulonolaktone oksidase telah mengalami mutasi substansial,
menghasilkan hilangnya enzim yang fungsional. Akibatnya, ketika
26

manusia tidak mengkonsumsi vitamin C dalam makanannya, maka akan
timbul defisiensi dengan manifestasi klinis berspektrum luas.
Vitamin C adalah donor elektron dan merupakan agen pereduksi.
Aksi fisiologis dan biokimia vitamin C berhubungan dengan aksinya
sebagai donor elekron. Asam askorbat mendonasikan 2 elektron dari
sebuah ikatan ganda di antara karbon kedua dan ketiga pada molekul 6-
karbon. Vitamin C disebut sebagai antioksidan karena mencegah senyawa
lain berikatan dengan radikal bebas. Dengan demikian, vitamin C sendiri
akan teroksidasi selama proses tersebut.
Penting untuk diingat bahwa ketika vitamin C mendonasikan
elektronnya, kedua elektron tersebut hilang secara berurutan. Spesies yang
terbentuk setelah kehilangan 1 elektron adalah sebuah radikal bebas, yaitu
semidehydroascorbic acid atau radikal askorbil. Dibandingkan dengan
radikal bebas lainnya (spesies dengan elektron tidak berpasangan), radikal
askorbil relatif stabil dengan masa paruh 10
-5
detik dan cukup tidak reaktif.
Penurunan radikal bebas reaktif dengan membentuk senyawa yang lebih
kurang reaktif terkadang disebut free radical scavenging atau quenching.
Radikal askorbil, dengan elektron tidak berpasangan, adalah
senyawa yang tidak bertahan lama. Setelah kehilangan elektron keduanya,
senyawa tersebut berubah dan membentuk dehydroascorbic acid.
Stabilitas dehydroascorbic acid tergantung pada berbagai faktor seperti
temperatur dan pH, tetapi seringnya hanya bertahan beberapa menit.
Pembentukan radikal askorbil dan dehydroascorbic acid dimediasi oleh
berbagai macam oksidan dalam sistem biologis tubuh, termasuk molecular
oksigen, superoksida, radikal hidroksil, asam hipoklorus, spesies nitrogen
reaktif, dan sisa logam seperti besi dan tembaga.
Setelah terbentuk, radikal askorbil dan dehydroascorbic acid dapat
direduksi kembali menjadi asam askorbat dengan sekurang-kurangnya 3
jalur enzim berbeda. Pada manusia, hanya ada reduksi parsial untuk
kembali menjadi asam askorbat. Beberapa dehydroascorbic acid
dimetabolisme melalui hidrolisis ireversibel menjadi 2,3 diketogulonic
27

acid, yang lebih jauh akan dimetabolisme menjadi xylose, xylonate, dan
oksalat. Pembentukan oksalat memiliki makna klinis yang signifikan
terhadap hiperoksaluria (eksresi oksalat berlebihan) dan menyebabkan
batu ginjal oksalat pada beberapa orang.
b. Aturan pakai
19

Asupan vitamin C yang ditetapkan Recommended Daily
Allowance (RDA) untuk remaja usia 11-14 tahun adalah 50 mg/hari dan
usia 15-18 tahun 60 mg/hari. Peningkatan kebutuhan vitamin C dalam
keadaan stress psikologik atau fisik, seperti pada luka, panas tinggi, atau
suhu lingkungan tinggi.

c. Efek samping
19

Kebanyak orang percaya bahwa vitamin C tidak bersifat toksik dan
bermanfaat bagi kesehatan. Oleh karena itu, vitamin C sering digunakan
dalam dosis besar. Belum ada penelitan yang mengatakan bahwa vitamin
C dapat bersifat karsinogenik atau teratogenik. Efek samping vitamin C
28

dilaporkan pertama kali muncul setelah dosis yang sangat besar, yaitu
lebih dari 3 g/hari. Beberapa efek samping yang berhubungan dengan
konsumsi vitamin dalam dosis sangat besar antara lain diare dan gangguan
gastrointestinal lainnya (mual dan kram abdomen), peningkatan ekskresi
oksalat dan pembentukan batu ginjal, peningkatan ekskresi asam urat, efek
prooksidan, rebound scurvy, peningkatan absorpi besi berakibat overload
besi, berkurangnya vitamin B12 dan tembaga, peningkatan ketergantungan
oksigen, dan erosi enamel gigi.

4. Bagaimana cara kerja obat pelangsing secara umum?
20

Secara umum, cara kerja obat-obat diet terdapat beberapa target
kerja, diantaranya berfungsi sebagai peningkat hormon neuroendokrin
untuk sinyal kepuasan, seperti hormon CCK yang diproduksi untuk
menekan nafsu makan. Selain itu juga terdapat obat diet yang berfungsi
untuk mengubah kadar dari neurotransmitter CNS, seperti mempengaruhi
kadar NPY dan melanokortins.

5. Penyakit dengan gejala klinis nyeri pinggang?
21,22,23

a. Osteoartritis
Penyakit tulang belakang tie osteoartritis yang lebih sering terjadi
ini biasanya ditemukan pada usia lanjut dan dapat melibatkan sembarang
tulang belakang. Namun demikian, keadaan ini paling prevalen pada
daerah servikal serta lumbal dan lokasi yang tepat menentukan lokalisasi
gejalanya. Pasien sering mengeluhkan rasa nyeri yabg berpusat pada
tulang belakang dan bertambah berat ketika bergerak; rasa nyeri ini hampir
selalu disertai dengan keluhan rasa kaku dan keterbatasan gerakan. Gejala
sistemik seperti perasaan mudah lelah, malaise serta demam tidak
dijumpai, dan rasa nyeri biasanya dapat diredakan dengan istirahat. Gejala
sering memiliki hubungan dengan penemuan radiologik, nyeri bisa
terdapat pada saat terdapat penemuan-penemuan minimal pada suatu foto
sinar-X, dan sebaliknya, pertumbuhan osteofitik yang mencolok dengna
29

pertumbuhan spur dari vertebra dapat tampak pada pasien asimtomatik
pada usia pertengahan dan lanjut.
b. Artritis rematoid dan ankilosing spondilitis
Penyakit artritis tulang belakang mempunyai dua bentuk berbeda,
yaitu ankilosing spondilitis dan artritis reumatoid. Pasien ankylosing
spondylitis (disebut pula artritis Marie-Strumpell) biasanya laki-laki usia
muda dengan keluhan nyeri yang ringan hingga sedang; rasa nyeri ini pada
awal perjalanan penyakitnya berpusat di daerah punggung bagian tengah
serta bawah dan kadang-kadang menjalar ke bagian posterior paha.
Gejalanya pada mulanya mungkin tidak jelas, dan diagnosisnya dapat
terlewatkan untuk periode waktu yang cukup lama. Meskipun serangn
nyeri tersebut sering hilang timbul, gejala keterbatasan gerakan selalu
ditemukan serta progresif dan sesudah suatu periode waktu cenderung
mendominasi gambaran klinis tersebut. Gambaran ini pada awal
perjalanan penyakitnya digambarkan sebagai gejala rasa kaku di pagi
hari (morning stiffness) atau meningkatnua kekakuan sesudah masa-masa
tanpa aktivitas; keadaan semacam ini berlangsung lama sebelum
manifestasi penyakitnya muncul dalam hasil pemeriksaan radiologi.
Keterbatasan ekspansi dada, nyeri tekan daerah sternum, dan
berkurangnya gerakan serta kontraktur fleksi di daerah pangkal paha juga
dapat ditemukan pada awal perjalanan penyakit. Ciri utama gambaran
radiologik berupa perubahan dekstruktif periartikuler dan selanjutnya
obliterasi sendi sakroiliaka, timbulnya sindesmofit pada margo korpus
vertebra serta tampak bamboo spine yang khas. Keseluruhan tulang
belakang mengalami imobilisasi yang sering dalam posisi fleksi, dan
sesudah itu rasa nyeri biasanya mereda.
c. Artritis rematoid vertebra cenderung terlokalisir pada persendian apofise
servikal dan atlantoaksial. Dengan demikian, rasa nyeri, kaku, dan
keterbatasan gerakan hanya terdapat di bagian belakang kepala serta leher.
Tidak seperti spondilitis ankilosa, artritis reumatoid jarang ditemukan
terbatas pada tulang belakang dan tidak menimbulkan intervertebral
30

bridging dalam derajat yang bermakna. Karena lesi yang utama mengenai
pula sendi lainnya, diagnosis penyakit ini relatif mudah ditegakkan tetapi
kelainan yang signifikan pada leher sering terlewatkan. Pembuatan foto
rontgen dalam posisi fleksi dan ekstensi yang dilakuan dengan hati-hati
kadang diperlukan untuk melihat dislokasi atau subluksasi.
d. Penyakit neoplastik
Karsinoma metastatik (payudara, paru, prostat, tiroid, ginjal,
traktus gastrointestinal), multiel mieloma dan limfoma hodgkin serta non-
hodgkin merupakan jenis tumor maligna yang paling sering mengenai
tulang belakang. Karena lokasi primer yang dapat tidak terdeteksi atau
asimtomatik, keluhan yang ditemukan pada pasien tersebut berupa rasa
nyeri di daerah punggung. Rasa nyeri cenderung bersifat konstan serta
tumpul dan sering tidak mereda ketika pasien beristirahat. Biasanya
serangan nyeri bisa lebih berat pada malam harinya. Perubahan radiografik
mungkin belum terdapat pada awal perjalanan penyakitnya, tetapi ketika
terlihat pada hasil foto rontgen, perubahan tersebut biasanya
bermanifestasi sebagai lesi destruktif pada salah satu atau beberapa korpus
vertebra dengan keterlibatan rongga diskus yang sedikit atau terbatas
bahkan setelah terjadi suatu fraktur kompresi.
e. Infeksi
Infeksi yang mengenai kolumna vertebralis biasanya terjadi akibat
organisme piogenik (stafilokokus atau basilus koliformis) atau oleh basil
tuberkulosis yang kini sudah tidak begitu sering dijumpai lagi. Rasa nyeri
yang bersifat subakut atau kronik pada punggung akan kambuh ketika
pasien bergerak tetapi tidak banyak mereda dengan istirahat. Pada keadaan
ini terdapat keterbatasan gerakan, nyeri tekan tulang belakang di daerah
segmen yang sakit serta rasa nyeri ketika terjadi guncangan pada tulang
belakang, seperti yang terdapat pada saat berjalan dengan menggunakan
tumit. Biasanya pasien ini afebril dan sering tidak memperlihatkan
leukositosis kendati laju endap darahnya hampir selalu meninggi. Foto
rontgen dapat menunjukkan adanya penyempitan rongga intervertebralis
31

dengan erosi dan dekstruksi pada dua buah vertebra yang berdekatan.
Massa jaringan lunak dengan kontras dapat ditemukan, dan gambaran ini
menunjukkan suatu abses.
f. Pielonefritis Akut
Pielonefritis akut (PNA) adalah radang akut dari ginjal, ditandai
primer oleh radang jaringan interstitial sekunder mengenai tubulus, dan
akhirnya dapat mengenai kapiler glomerulus; disertai manifestasi klinik
dan bakteriuri tanpa ditemukan kelainan-kelainan radiologik.
Pielonefritis akut ditemukan pada setiap umur, laki-laki atau wanita
walaupun lebih sering ditemukan pada wanita dan anak-anak. Pada laki-
laki usia lanjut, pielonefritis akut biasanya disertai hipertrofi prostat.
Pada pemeriksaan fisik diagnosis tampak sakit berat, panas
intermiten disertai menggigil dan takikardi. Frekuensi nadi dapat dijadikan
pedoman klinik untuk derajat penyakit. Bila infeksi disebabkan oleh
E.Coli biasanya frekuensi nadi kira-kira 90 kali permenit, tetapi infeksi
oleh kuman stapilokokus atau sterptokokus dapat menyebabkan takikardi
lebih dari 140 kali permenit. Sakit sekitar ginjal dan pinggang sulit diraba
karena spasmeotot-otot.
g. Sistitis
Cystitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering
disebabkan oleh infeksi asenden dari uretra. Penyebab lainnya mungkin
aliran balik urine dari uretra kedalam kandung kemih. Kontaminasi fekal
atau penggunaan kateter atau sistoskop. Infeksi ini berkaitan juga dengan
penggunaan kontrasepsi spermasida-diafragma karena kontrsepsi ini dapat
menyebabkan obstruksi uretra parsial dan mencegah pengosongan
sempurna kandung kemih. Cistitis pada pria merupakan kondisi sekunder
akibat bebarapa faktor misalnya prostat yang terinfeksi, epididimitis, atau
batu pada kandung kemih.
Manifestasi klinis:
1. Urgensi (terdesak rasa ingin berkemih)
2. Sering berkemih
32

3. Rasa panas dan nyeri saat berkemih
4. Nokturia (sering berkemih pada malam hari)
5. Nyeri atau spasme pada area kandung kemih dan suprapubik
6. Piuria (adanya sel darah putih dalam urine)
7. Hematuria (adanya sel darah merah dalam urine)
8. Seringnya berkemih, namun urinnya dalam jumlah sedikit
(oliguria)
9. Urin berwarna gelap dan keruh, serta adanya bau yang menyengat
dari urin
10. Ketidaknyamanan pada daerah pelvis renalis
11. Rasa sakit pada daerah di atas pubis
12. Perasaan tertekan pada perut bagian bawah
13. Demam
14. Anak anak yang berusia di bawah lima tahun menunjukkan gejala
yang nyata, seperti lemah, susah makan, muntah, dan adanya rasa
sakit pada saat berkemih.
15. Pada wanita yang lebih tua juga menunjukkan gejala yang serupa,
yaiu kelelahan, hilangnya kekuatan, demam
h. Batu saluran kemih
Keluhan yang disampaikan oleh pasien tergantung pada posisi atau
letak batu, besar batu, dan penyulit yang telah terjadi. Keluhan yang paling
dirasakan oleh pasien adalah nyeri pinggang. Nyeri ini mungkin bisa
merupakan nyeri kolik ataupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena
aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises ataupun ureter meningkat
dalam usaha untuk mengeluarkan batu dari saluran kemih. Peningkatan
peristaltik itu menyebabkan tekanan intraluminalnya meningkat sehingga
terjadi peregangan dari terminal saraf yang memberikan sensasi nyeri.
Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi
hidronefrosis atau infeksi pada ginjal.
Batu yang terletak di sebelah distal ureter dirasakan oleh pasien
sebagai nyeri pada saat kencing atau sering kencing. Batu dengan ukuran
33

kecil mungkin dapat keluar spontan setelah melalui hambatan pada
perbatasan uretero-pelvik, saat ureter menyilang vasa iliaka, dan saat
ureter masuk ke dalam buli-buli. Hematuria sering kali dikeluhkan oleh
pasienakibat trauma pada mukosa saluran kemih yang disebabkan oleh
batu. Kadang-kadang hematuria didapatkan dari pemeriksaan urinalisis
berupa hematuria mikroskopis.

i. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi akibat
terbentuknya koloni kuman di saluran kemih. Beberapa istilah penting
yang sering dipergunakan dalam klinis mengenai ISK adalah:
1. ISK sederhana, yaitu ISK pada pasien tanpa disertai kelainan
anatomi maupun kelainan struktur saluran kemih.
2. ISK kompleks, yaitu ISK yang terjadi pada pasien yang menderita
kelainan anatomis/ struktur saluran kemih, atau adanya penyakit
sistemik. Kelainan ini akan menyulitkan pemberantasan kuman
oleh antibiotika.
3. First infection (infeksi pertama kali) atau isolated infection, yaitu
ISK yang baru pertama kali diderita atau infeksi yang didapat
setelah sekurangkurangnya 6 bulan bebas dari ISK.
4. Infeksi berulang, yaitu timbulnya kembali bakteriuria setelah
sebelumnya dapat dibasmi dengan pemberian antibiotika pada
infeksi yang pertama. Timbulnya infeksi berulang ini dapat berasal
dari re-infeksi atau bakteriuria persisten. Pada re-infeksi kuman
berasal dari luar saluran kemih, sedangkan bakteriuria persisten
bakteri penyebab berasal dari dalam saluran kemih itu sendiri.
Gambaran klinis infeksi saluran kemih sangat bervariasi mulai dari
tanpa gejala hingga menunjukkan gejala yang sangat berat. Gejala yang
sering timbul adalah disuria, polakisuria, dan urgensi yang biasanya
terjadi bersamaan,disertai nyeri suprapubik dan daerah pelvis. Pada bayi
34

baru lahir, dapat terjadi ikterik. Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian
saluran kemih yang terinfeksi, yaitu :
- Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa nyeri supra
pubik, disuria, frekuensi, hematuri, urgensi, dan stranguria.
- Pada ISK bagian atas, dapat ditemukan gejala demam, kram, nyeri
punggung, muntah, dan penurunan berat badan. Pada ISK bagian
atas, terkadang dapat pula ditemukan skoliosis.

6. Manfaat meminum air putih
24,25

1. Kandungan flouride yang terdapat dalam air putih dapat melindungi
dari karies gigi.
2. Pada air putih dapat menormalkan tekanan darah dan melancarkan
metabolisme lipid dalam tubuh
3. Sulfat alkaline di dalam air mineral dapat digunakan sebagai terapi
hidroponik untuk mengontrol kolesterol dan level lipid dalam tubuh
dengan cara meningkatkan metabolisme lipoprotein.
4. Kalsium yang ada di dalam air dapat digunakan sebagai hidrasi.
5. Air dengan kadar kalsium yang lebih rendah (<20mg liter)

7. Mengapa pada kasus terjadi bibir kering, mual, muntah, sakit pinggang?
Bibir kering bisa dikarenakan adanya kekurangan cairan akibat
tidak dikonsumsi air minum yang seharusnya sesuai dengan kebutuhan per
hari atau delapan gelas perhari belum lagi ditambah faktor penggunaan
obat herbal dan vitamin C meskipun tidak diketahui berapa banyak dan
seberapa sering penggunaan obat dan tanaman herbal apa yang digunakan.
Sakit pinggang bisa mengindikasikan adanya gangguan pada ginjal yang
harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan kemungkinan kelelahan otot
yang diakibatkan pekerjaan pasien sebagai sekretaris. Mual dan muntah
atau emesis/vomitus, ekspulsi paksa isi lambung, seperti yang mungkin
terjadi katena peristaltik terbalik dilambung, seperti yang mungkin
diperkirakan. Sebenarnya lambung itu sendiri tidak secara aktif berperan
35

dalam muntah. Lambung, esofagus, dan sfingter terkait semua melemas
sewaktu muntha. Gaya utama penyebab ekspulsi, yang mengejutkan,
berasal dari kontraksi otot-otot pernapasan-yaitu diafragma (otot inspirasi
utama) dan otot abdomen (otot ekspirasi aktif).
2
Tindakan kompleks muntah dikoordinasikan oleh pusat muntah di
medula batang otak. Muntah dimulai dengan inspirasi dalam dan
penutupan glotis. Kontraksi diafragma menekan ke bawah ke lambung
sementara secara bersamaan kontraksi otot-otot perut menekan rongga
abdomen, meningkatkan tekanan intra abdomen dan memaksa visera
abdomen bergerak ke atas. Sewaktu lambung yang melemas terperas
antara diafragma di atas dan rongga abdomen yang mengecil di bawah, isi
lambing terdorog ke atas melalui sfingter-sfingter yang melemas dan
esofagus serta keluar melalui mulut. Glotis tertutup, sehingga bahan
muntah tidak masuk ke saluran napas. Uvula juga terangkat untuk
menutup saluran hidung. Siklus muntah dapat berulang beberapa kali
sampai lambung kosong. Muntah biasanya didahului oleh pengeluaran liur
berlebihan, berkeringat, peningkatan denyut jantung, dan sensasi mual,
yang semuanya khas untuk lepas muatan generalisasi sistem saraf
otonom.
2
Muntah dapat dipicu oleh sinyal aferen ke pusat muntah dari
sejumlah reseptor di selurruh reseptor tubuh. Penyebab muntah
mencakup
2
:
a. Stimulasi taktil dibagian belakang tenggorokan, yaitu salah satu
rangsangan paling kuat. Sebagai contoh, yaitu salah satu rangsangan
paling kuat.
b. Iritasi atau peregangan lambung dan duodenum
c. Peningkatan tekanan intrakranium
d. Rotasi atau akselerasi kepala yang menyebabkan pusing bergoyang
misalnya mabuk perjalanan
e. Bahan kimia, termasuk obat atau bahan berbahaya yang memicu
muntah (yaitu, emetik) dengan bekerja pada bagian atas saluran cerna
36

atau dengan merangsang kemoreseptor di chemprreceptor trigger zone
khusus disamping pusat muntah di otak. Pengaktifan zona ini memicu
refleks muntah. Sebagai contoh, obat kemoterapi yang digunakan
untuk mengobati kanker sering menyebabkan muntah dengan bekerja
pada chemoreceptor trigger zone.
f. Muntah psikogenik akibat faktor emosi.

8. Bagaimana pola diet sehat (mencakup makanan dan olahraga)?
19

Diet sering disalahartikan sebagai usaha mengurangi makan untuk
mendapatkan berat tubuh yang ideal, atau untuk mendapatkan bentuk
tubuh yang ideal. Padahal, berdasarkan asal serapan katanya, arti ini yang
sebenarnya adalah mengatur pola makan. Tentu saja, saat ini masih banyak
orang yang menyalah artikan arti berat badan sendiri. Oleh karena itu perlu
diluruskan mengenai arti menurunkan berat badan yang sebenarnya.
Diet sangat akrab di kalangan kaum wanita, karena memang
sebagian besar wanita tentu saja menginginkan tubuh yang ideal. Cara ini
dipercaya dapat membantu mereka untuk mengkonsumsi makanan dengan
porsi cukup yang dibutuhkan oleh tubuh, sehingga berat badan mereka
juga tetap terkontrol dan terjaga
Dalam kamus Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga 2009 keluaran
Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Diet memiliki arti sebagai
pengaturan pola dan konsumsi makanan serta minuman yang dilarang,
dibatasi jumlahnya, dimodifikasi, atau diperolehkan dengan jumlah
tertentu untuk tujuan terapi penyakit yang diderita, kesehatan, atau
penurunan berat badan .
Oleh karena itu Diet dapat di defenisikan sebagai usaha seseorang
dalam mengatur pola makan dan mengurangi makan untuk mendapatkan
berat badan yang ideal . Sekarang diet memiliki banyak jenis dari diet
rendah kalori, diet rendag protein, diet jantung, diet rendah gula, diet
rendah garam, hingga diet rendah purin (untuk penderita gout atau asam
37

urat).Adapun demikian macam-macam diet dan definisinya akan
dirangkum dibawah ini :
- Diet rendah kalori rendah karbohidrat .
Tidak berarti orang lantas tidak makan semua jenis karbohidrat.
Asupan karbohidrat hanya dikurangi. Konsumsilah beras merah atau roti
gandum. Asupan protein dan lemak tetap diperhatikan, namun tidak terlalu
tinggi.
- Diet rendah kalori tinggi protein
Bagi yang ingin melakukan diet ini, dia harus benar-benar fit,
terutama ginjal dan lever. Jika tidak, organ tubuh akan makin terbebani
dan kondisi tubuh justru melemah. Diet ini banyak mengonsumsi protein,
seperti daging atau telur.
- Diet rendah kalori rendah lemak
Orang dengan diet seperti ini harus pintar-pintar menghitung
asupan kalori. Semua jenis makanan biasanya dikonsumsi, hanya saja
dikurangi kalori dan lemak. Perlu diingat, satu gram lemak sama dengan
sembilan kalori. Diet jenis ini memang tidak bisa berlangsung dengan
cepat, paling-paling dua kilogram sebulan. Namun, hal ini sudah cukup
jika dilakukan secara konsisten.
- Diet rendah kalori tinggi lemak dan protein
Di sini yang dilakukan adalah mengurangi asupan karbohidrat.
Diet ini akan berlangsung lebih lama lagi, itu pun jika orang yang berdiet
mampu makan sedikit nasi atau bahkan tidak sama sekali.
- Food Combining.
Cara ini adalah mengatur pola makan yang melibatkan teori asam
dan basa, juga PH netral. Meskipun semua makanan bisa dipilih, baik
karbohidrat, protein, maupun lemak, biasanya jenis makanannya tetap
harus diatur. Misalnya, makan pagi hanya dengan buah-buahan atau susu
kedelai, lalu siang dengan nasi tiga sendok dipadu sayur mayur dan tempe-
tahu. Makan malam, karbohidrat juga dikurangi. Meski bias menurunkan
38

berat badan cukup lumayan, sampai sekitar lima kilogram sebulan, namun
cara ini cukup rumit.

9. Apakah ada kemungkinan bulimia dan anoreksia?
26

Menurut DSM-IV, anoreksia nervosa (AN) dimaksudkan dengan
keengganan untuk menetapkan berat badan kira-kira 85% dari yang
diprediksi, ketakutan yang berlebihan untuk menaikkan berat badan, dan
tidak mengalami menstruasi selama 3 siklus berturut-turut.
AN terbagi kepada dua jenis. Dalam jenis restricting-tye anorexia,
individu tersebut menurunkan berat badan dengan berdiet sahaja tanpa
makan berlebihan (binge eating) atau muntah kembali (purging). Mereka
terlalu mengehadkan konsumsi karbohidrat dan makan mengandung
lemak. Manakala pada tipe binge-eating/purging, individu tersebut makan
secara berlebihan kemudian memuntahkannya kembali secara segaja
Kebanyakan orang dengan AN melihat diri mereka sebagai orang
dengan kelebihan berat badan, walaupun sebenarnya mereka menderita
kelaparan atau malnutrisi. Makan, makanan dan kontrol berat badan
menjadi suatu obsesi. Seseorang dengan AN akan sentiasa mengukur berat
badannya berulang kali, menjaga porsi makanan dengan berhati-hati, dan
makan dengan kuantiti yang sangat kecil dan terhadap pada sebagian
makanan.
Kebanyakan pasien dengan AN juga akan mempunyai masalah
psikiatri dan macam-macam penyakit fisik, termasuk depresi, ansietas,
perilaku terasuk (obsessive), penyalahgunaan zat, komplikasi
kardiovaskular dan neurologis, dan perkembangan fisik yang terhambat.
Gejala lain yang mungkin terlihat dari waktu ke waktu termasuk penipisan
tulang (osteopenia atau osteoporosis), rambut dan kuku yang rapuh, kulit
yang kering dan kekuningan, perkembangan rambut halus dikeseluruhan
tubuh (misalnya, lanugo), anemia ringan, kelemahan dan kehilangan otot,
konstipasi berat, tekanan darah rendah, pernafasan dan pols yang
39

melemah, penurunan suhu tubuh internal; menyebabkan orang tersebut
sering merasa dingin, dan kelesuan.
Bulimia nervosa (BN) digambarkan dengan episode berulang
makan berlebihan (binge eating) dan kemudian dengan perlakuan
kompensatori (muntah, berpuasa, beriadah, atau kombinasinya). Makan
berlebihan disertai dengan perasaan subjektif kehilangan kawalan ketika
makan. Muntah yang dilakukan secara sengaja atau beriadah secara
berlebihan, serta penyalahgunaan pencahar, diuretik, amfetamin dan
tiroksin juga boleh terjadi DSM-IV membagikan BN kepada dua bentuk
yaitu purging dan nonpurging. Pada tipe purging, individu tersebut
memuntahkan kembali makanan secara sengaja atau menyalahgunakan
obat pencahar, diuretik atau enema. Pada tipe nonpurging, individu
tersebut menggunakan cara lain selain cara yang digunakan pada tipe
purging, seperti berpuasa atau beriadah secara berlebihan.
BN digolongkan pada orang yang mengalami episode konsumsi
makanan dengan jumlah yang sangat banyak (misalnya, binge-eating)
secara rekuren dan sering, dan merasakan kurangnya penguasaan terhadap
makan. Perilaku binge-eating diikuti dengan perilaku yang
mengkompensasi binge dengan menyingkirkan makanan yang dimakan
(misalnya, muntah, penggunaan obat cuci perut atau diuretik yang
berlebihan), berpuasa dan/atau senaman yang berlebihan.
Berdasarkan gejala klinis yang muncul pada kasus, tidak dapat
dipastikan apakah mual dan muntah yang terjadi pada pasien disebabkan
oleh AN ataupun BN. Selain itu, tidak ditemukan gejala umum AN
maupun BN pada kasus sehingga sulit untuk menyimpulkan apakah pasien
mengalami AN atau BN.

10. Gangguan ginjal:
1. Gagal ginjal akut
Cedera Ginjal Akut (AKI), sebelumnya dikenal sebagai gagal ginjal
akut,(ARF) adalah penurunan fungsi ginjal secara cepat dalam jangka
40

waktu kurang dari 3 bulan, dinilai melalui peningkatan serum kreatinin
dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab termasuk penyakit ginjal
tertentu (interstitial akut nefritis, glomerulus akut); kondisi tidak spesifik
(iskemia, keracunan); serta sebagai kelainan pada extrarenal (azotemia
prerenal, dan obstruktif nefropati akut postrenal).
27,30

Etiologi AKI dibagi menjadi tiga yaitu prerenal, renal, atau postrenal.

a. AKI Prerenal
Merupakan kelainan sekunder berupa penurunan fungsi perfusi dari
ginjal.Ciri AKI prerenal adalah pengembalian fungsi perfusi secara
cepat.AKI prerenal dapat terjadi karena deplesi volume penyerapan cairan
atau penurunan tekanan perfusi seperti pada gagal jantung, sirosis, atau
sepsis.Untuk pasien dengan AKI prerenal, pada pemeriksaan urin
didapatkan silinder hialin, natrium urin rendah (1%), dan osmolalitas urin
yang tinggi.
28

Ditemukan gejala yang berhubungan dengan hipovolemiaseperti
(haus, penurunan pengeluran urin, pusing, dan hipotensi ortostatik), tanda-
tanda kehilangan cairan karena muntah, diare, berkeringat, poliuria, atau
perdarahan. Ortopnea dan paroksismal nokturnal dispnea dapat ditemukan
pada pasien dengan gagal jantungdengan penurunan perfusi ginjal.Pada
pasien geriatri, dapat ditemukan penurunan status mental.
29

b. AKI Renal
Penyebab AKI renal dapat dikategorikan melalui anatomi ginjal yaitu
tubular, interstitial, glomerulus, dan pembuluh darah.Pemeriksaan
mikroskopis urin dapat menentukan lokasi kerusakan.Kerusakan tubulus
menghasilkan urin berwarna lumpur coklat muddy brown, silinder
granular.Pada kerusakan interstisial dapat ditemukan silinder sel darah
putih.Analisis mikroskopis dari kerusakan glomerulus dan mikrovaskuler
dapat ditemukan sedimen sel darah merah dan sel darah merah
dismorfik.
28

Manifestasi klinis dibagi menjadi glomerulus AKI dan tubular AKI
.Hematuria pada sindrom nefritis, edema, dan hipertensi menunjukkan
41

etiologi AKI glomerulus. Nekrosis tubular akut ( ATN ) terjadi pada
pasien dengan hipotensi pada serangan jantung, perdarahan, sepsis,
overdosis obat atau operasi .Untuk menentukan paparan nefrotoksin
dilakukan daftar perinci dari semua obat yang dikonsumsi dan paparan
dengan agen kontras pada pemeriksaan radiologis. Perubahan pigmen kulit
yang disebabkan oleh AKI dapat disebabkan oleh rhabdomyolysis (nyeri
otot, kejang, keracunan, olahraga berlebihan, iskemia ekstremitas) atau
hemolisis (transfusi darah). Nephritis interstitial memberikan gejala
demam, ruam, arthralgia, dan konsumsi obat tertentu (NSAID dan
antibiotik).
29

c. AKI Postrenal
Penyebab10% dari kasus AKI kelainan pada postrenal.Sumbatan pada
saluran kemih dapat terjadi didalam saluran kemih (misalnya, batu, tumor)
atau di luar saluran kemih (misalnya, tumor, fibrosis retroperitoneal).
28

AKI postrenal biasanya terjadi pada pria yang lebih tua dengan
obstruksi prostat dengan gejala urgensi, frekuensi, dan hesistensi.Obstruksi
juga dapat ditemukan pada pasien dengan riwayat operasi ginekologi atau
keganasan pada abdominopelvis.Nyeri pinggang dan hematuria oleh batu
ginjal atau nekrosis papiler dapat menjadi sumber obstruksi
kemih.Pembentukkan kristral urin dapat ditemukan pada penggunaan obat-
obatan (asiklovir, metotreksat, triamterene, indinavir, atau sulfonamide)
yang dapat menyebabkan obstruksi tubular.
29


2. Batu ginjal
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa
keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran
kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih
dan uretra), yang dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan
aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu
ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Batu ini
terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat, atau
42

sistein. BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah
anggur. Batu yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan
biasanya dapat keluar bersama dengan urine ketika berkemih.
31
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium
oksalat atau kalsium fosfat (75%), asam urat (8%), magnesium-amonium-
fosfat (MAP) (15%), xanthyn, dan sistin, silikat dan senyawa lain (1%).
32

1. Batu Kalsium
Batu jenis ini dijumpai lebih dari 80% batu saluran kemih, baik
yang berikatan dengan oksalat maupun fosfat.
32









2. Batu Struvit
Batu ini disebut juga batu infeksi karena pembentukannya
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab adalah
kuman golongan pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan
enzim urease dan mengubah pH urine menjadi basa melalui hidrolisis urea
menjadi amoniak, seperi pada reaksi : Suasana basa ini memudahkan
garam-garam magnesium, amonium, fosfat dan karbonat untuk
membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP). CO(NH2)2 + H2O
2NH3 + CO2.
32

3. Batu asam urat
Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih.
Di antara 75 80% batu asam urat terdiri atas asam urat murni dan sisanya
merupakan campuran kalsium oksalat.
32

43

Penyakit ini banyak diderita oleh pasien dengan penyakit gout,
penyakit mieloproliferatif, pasien yang mendapatkan terapi antikanker, dan
yang banyak menggunakan obat urikosurik, seperti sulfinpirazone,
thiazide, dan salisilat. Obesitas, peminum alkohol, dan diet tinggi protein
mempunyai peluang besar untuk mendapatkan penyakit ini. Asam urat
relatif tidak larut dalam urine, sehingga pada keadaan tertentu mudah
sekali membentuk kristal asam urat, dan selanjutnya membentuk batu
asam urat.
32

Faktor yang menyebabkan terbentuknya batu asam urat adalah :
1. urine yang terlalu asam (pH urine < 6),
2. volume urine yang jumlahnya sedikit (< 2 liter/hari) atau dehidrasi,
3. hiperurikosuri atau kadar asam urat yang tinggi.
Batu asam urat bentuknya halus dan bulat, sehingga seringkali
keluar spontan. Bersifat radiolusen, sehingga pada pemeriksaan PIV
tampak sebagai bayangan filling defect pada saluran kemih sehingga harus
dibedakan dengan bekuan darah.
32

4. Batu jenis lain
Batu sistin (Gambar 4), batu xanthin, batu triamteren, dan batu
silikat sangat jarang dijumpai. Batu sistin didapatkan karena kelainan
metabolisme sistin, yaitu kelainan absorpsi sistin di mukosa usus. Batu
xantin terbentuk karena penyakit bawaan berupa defisiensi enzim xanthin
oksidase.
32

Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu:
33

a. Rasa Nyeri
Lokasi nyeri tergantung dari letak batu. Rasa nyeri yang berulang
(kolik) tergantung dari lokasi batu. Bila nyeri mendadak menjadi akut,
disertai nyeri tekan diseluruh area kostovertebratal, tidak jarang disertai
mual dan muntah, maka pasien tersebut sedang mengalami kolik ginjal.
Batu yang berada di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut,
dan kolik yang menyebar ke paha dan genitalia. Pasien sering ingin merasa
44

berkemih, namun hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya air kemih
disertai dengan darah, maka pasien tersebut mengalami kolik ureter.
b. Demam
Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah
sehingga menyebabkan suhu badan meningkat melebihi batas normal.
Gejala ini disertai jantung berdebar, tekanan darah rendah, dan pelebaran
pembuluh darah di kulit.
c. Infeksi
BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder
akibat obstruksi dan statis di proksimal dari sumbatan. Infeksi yang terjadi
di saluran kemih karena kuman Proteus spp, Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus.
d. Hematuria dan kristaluria
Terdapatnya sel darah merah bersama dengan air kemih
(hematuria) dan air kemih yang berpasir (kristaluria) dapat membantu
diagnosis adanya penyakit BSK.
e. Mual dan muntah
Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali
menyebabkan mual dan muntah.

11. Tatalaksana awal dan lanjutan pada kasus
34,35,36

Tatalaksana awal adalah terapi rehidrasi intravena yang diberikan
pada pasien dengan kehilangan cairan >10% berat badan atau yang tidak
dapat minum karena muntah atau perubahan status mental. Ringers lactate
(RL) merupakan larutan dengan kadar elektrolit yang hampir sama dengan
cairan tubuh yang hilang. Untuk orang dewasa dapat diberikan cairan
sebanyak 30 ml/kg berat badan selama 30 menit pertama, dilanjutkan 70
ml/kg berat badan untuk 2,5 jam berikutnya.
1
Untuk terapi gagal ginjal akut
penegakkan diagnosis perlu dilakukam (Dari pemeriksaan urinalisis, dapat
ditemukan berbagai penanda inflamasi glomerulus, tubulus, infeksi saluran
kemih, atau uropati kristal).
45

Pada dasarnya tata laksana AKI sangat ditentukan olehpenyebab AKI
dan pada tahap apa AKI ditemukan. Jika ditemukan pada tahap prarenal dan
inisiasi (kriteria RIFLE R dan I), upaya yang dapat dilakukan adalah tata
laksana optimal penyakit dasar untuk mencegah pasien jatuh pada tahap AKI
berikutnya. Upaya ini meliputi rehidrasi bila penyebab AKI adalah
prarenal/hipovolemia, terapi sepsis, penghentian zat nefrotoksik, koreksi
obstruksi pascarenal, dan menghindari penggunaan zat nefrotoksik.
Pemantauan asupan dan pengeluaran cairan harus dilakukan secara rutin.
Selama tahap poliuria (tahap pemeliharaan dan awal perbaikan), beberapa
pasien dapat mengalami defisit cairan yang cukup berarti, sehingga
pemantauan ketat serta pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit harus
dilakukan secara cermat. Substitusi cairan harus diawasi secara ketat dengan
pedoman volume urin yang diukur secara serial, serta elektrolit urin dan
serum. Pada keadaan tanpa fasilitas dialisis, diuretik dapatmenjadi pilihan
pada pasien AKI dengan kelebihan cairan tubuh. Beberapa hal yang harus
diperhatikan pada penggunaan diuretik sebagai bagian dari tata laksana AKI
adalah:
1. Pastikan volume sirkulasi efektif sudah optimal, pastikan pasien tidak
dalam keadaan dehidrasi. Jika mungkin, dilakukan pengukuran CVP atau
dilakukan tes cairan dengan pemberian cairan isotonik 250-300 cc dalam
15-30 menit. Bila jumlah urin bertambah, lakukan rehidrasi terlebih
dahulu.
2. Tentukan etiologi dan tahap AKI. Pemberian diuretik tidak berguna pada
AKI pascarenal. Pemberian diuretik masih dapat berguna pada AKI tahap
awal (keadaan oligouria kurang dari 12 jam).
Pada awalnya, dapat diberikan furosemid i.v. bolus 40 mg. Jika
manfaat tidak terlihat, dosis dapat digandakan atau diberikan tetesan cepat
100-250 mg/kali dalam 1-6 jam atau tetesan lambat 10-20 mg/kgBB/hari
dengan dosis maksimum 1 gram/hari. Usaha tersebut dapat dilakukan
bersamaan dengan pemberian cairan koloid untuk meningkatkan
translokasi cairan ke intravaskuler. Bila cara tersebut tidak berhasil
46

(keberhasilan hanya pada 8-22% kasus), harus dipikirkan terapi lain.
Peningkatan dosis lebih lanjut tidak bermanfaat bahkan dapat
menyebabkan toksisitas.

Indikasi-indikasi yang telah diterima luas untuk dialisis pada pasien
ARF secara umum termasuk:
1. Kelebihan (overload) cairan refrakter;
2. Hiperkalemia (konsetrasi kalium plasma >6,5 meq/L) atau
peningkatan kadar kalium plasma secara cepat;
3. Tanda-tanda uremia seperti perikarditis, neuropati dan penurunan
kesadaran; atau Asidosis metabolik (pH < 7,1).
3,4


47

I. Kesimpulan
Cinta 26 tahun suspect gagal ginjal akut akibat konsumsi obat herbal
dan diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

48

J. Daftar Pustaka
1. Silverthorn DU, Human Physiology: An integrated Approach. 5th ed. San
Fransisca: Pearson Education, Inc. 2010; ch 22. Metabolism and Energy
Balance.
2. Sherwood, L. 2011. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. Ed ke-6.
Jakarta: EGC.)
3. Max H Pittler, Edzard Ernst. Dietary supplements for body-weight
reduction: a systemic review. Am J Clin Nutr April 2004 vol. 79 no. 4 529-
536.
4. Cordell, Geoffrey A. Safety, Efficacy And Metabolism of Traditional
Medicinal Plants in the Management of Obesity: A Review. International
Journal of Chemival Engineering and Applications Vol.3, No.4, August
2012
5. Neeru Vasudeva, Neerja Yadav, Surendra Kumar Sharma. Natural
Products: A safest approach for Obesity. Chinese Journal of Integrative
Medicine. Vol. 18, Issue6, June 2012. Pp 473-480.
6. Francesco Di Pierro, Anna Borsetto Menghi, Angela Barreca, Maurizio
Laucarelli, Andrea Calandrelli. High Bioavailability of A Standarized
Green Tea Extract, A clinical study on anti-obesity activity. Nutrifoods.
7(4),21-28.2008.
7. Janssen HG et al. QAUANTIFICATION OF APPETITE SUPPRESSING
STEROID GLYCOSIDES FROM Hoodia gordornii in dried plant
material, purified extracts and food products using HPLV-UV and HPLC-
MS methods. NCBO.9;617(1-2):200-7. Doi: 10.1016/j.aca.2008.01.022.
Juni 2008.
8. E.y. Sukandar, Nurdewi dan Elfahmi. Antihypercholesterolemic Effect of
Combination of Guazuma Lamk. Leaves and Curcuma xanthorrhiza
Extract in Wistar Rats. International Journal of Pharmacology, 8:277-282.
2012. DOI:10.3923/iip.2012.277.282
9. Jiu li xiang. Philippine Medicinal Plants, Kamuning. Stuartexchange.org
diakses 13 Oktober 2014 pukul 20.00
49

10. Mediindia.com Herbal Supplements for Weight Loss and Their Mode of
Action, diakses 13 Oktober 2014 pukul 20.00
11. Zhou Shufeng. Herbal bioactivation: The good, the bad, and the ugly.
Elsevier. Vol 74. Pp 935-968. 2004.
12. Gary C Chen, et al. Acute liver injury induced by weight-loss herbal
supplements. Pub Med. World J Hepatol. 2(11):410-415.2010.
doi:10.4254/wjh.v2.i11.410
13. Marc E De Broe. Chenese herbs nephopaty and Balkan endemic
nephropat: toward a single entitiy, aristolochic acid nephropaty. Kidney
International (2012)81,513-515;doi: 10.1038/ki.2011.428
14. Abdul Latief. Obat tradisional. EGC: Jakarta. 2012. Hal 283-285.
15. BPOM. Persyaratan Teknis Obat Tradisional. http: //www.pom.go.id/
ppid/ reg/ Reg_OT_2.htm. Diakses tanggal 13 Oktober 2014.
16. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 761/Menkes/Sk/Ix/1992 Tentang Pedoman
Fitofarmaka.
17. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 Tentang Registrasi Obat
Tradisional.
18. Padayatty, Sebastian J., Arie Katz, Yaohui Wang, et al. 2003. Vitamin C
as an Antioxidant: Evaluation of Its Role in Disease Prevention. Journal of
the American College of Nutrition 22(1): 18-35.
19. Devi, N. 2010. Nutrition and Food: Gizi Untuk Keluarga. Jakarta :
Penerbit Buku Kompas.
20. Rang, H. P., M. M. Dale, J. M. Ritter, and R. J. Flower. (2007).
Pharmacology. London: Elseviers Health Sciences Rights Department.
21. Anthony S. Fauci, 2008. Harrisons Internal Medicine, 17
th
Edition, USA:
McGraw-Hill.
22. Bahdarsyam. 2003. Spektrum Bakteriologik Pada Berbagai Jenis Batu
Saluran Kemih Bagian Atas. Bagian Patologi Klinik: Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
50

23. McBryde C, Redington J. Diagnosis and management urinary tract
infections : asymptomatic bacteriuria, cystitis and pyelonephritis. Primary
Care Case Review 2010 (4) ; 3 14.
24. Maria Cristina dan Maria Dacha. 2007. Drinking mineral waters:
biochemical effects and health implications the state-of-the-art. Int. J.
Environmental Health.
25. WHO. 2004. Flouride in Drinking Water. WHO/SDE/WSH/03.04/96.
26. Steiner H, Lock J. Anorexia Nervosa and Bulimia Nervosa in Children and
Adolescent: a review of the past ten years. Journal of the Amrican
Academy of Child and Adolescent Psychiatry, 1998;37:352-359.
27. Joseph, V, Yang L,.Cellular pathophysiology of ischemic acute kidney
injuryinJ Clin Invest. 2011;121(11):42104221. doi:10.1172/JCI45161
28. Lattanzio , M, R, Kopyt N,. Acute Kidney Injury: New Concepts in
Definition, Diagnosis, Pathophysiology, and Treatment. JAOA Vol 109
No 1 January 2009.
29. Workeneh, B, T. Acute Kidney Injury. Editor: Vecihi Batuman. Medscape
2013.
30. Novoa, L, et al,.Common pathophysiological mechanisms of chronic
kidney disease: Therapeutic perspectives in Pharmacology & Therapeutics
128 (2010) 6181)
31. Hassan, Rusepno. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 2. Jakarta :
Penerbit UI, 1985. 840-843.
32. Shires, Schwartz. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Ed-6. Jakarta : EGC,
2000. 588-589.
33. Purnomo, B, Basuki. Dasar-dasar Urologi. Ed-2. Jakarta : CV.Sagung
Seto.
34. Sinto, Robert dan Ginova Nainggolan. Acute Kidney Injury: Pendekatan
Klinis dan Tata Laksana. Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2010
35. Liu, KD, Chertow G. Dialysis in the Treatment of Renal Failure. In
Harrison's Internal Medicine, 17th ed. Chapter 275. McGraw Hill. 2008
51

36. Cambi V, David S, Tagliavini D. Dialysis strategies. In Oxford Textbook
of Clinical Nephrology, 3rd ed. Oxford University Press.2005