Anda di halaman 1dari 149

PERANAN BAHAN DAN

PERENCANAAN PADA
INDUSTRI
Aktifitas-aktifitas yang dilakukan dalam
memperkenalkan produk baru:

1. Studi kelayakan;
2. Membuat perencanaan;
3. Pencapaian keputusan ekonomi;
4. Pemilihan bahan dan proses optimum;
5. Perencanaan dan penjadwalan akifivitas manufaktur;
6. Perkembangan pasar;
7. Penjualan produk;
8. Menyusun pelayanan purna jual



LANGKAH-LANGKAH
PENGEMBANGAN PRODUK
Konsep pengembangan dan definisi fungsi;
Studi kelayakan;
Pemilihan rancangan, bahan, dan proses;
Perencanaan dan penjadwalan;
Persiapan prototipe, pengujian pasar, produksi
percontohan;
Produksi skala besar, perkembangan pasar,
penjualan;
Modifikasi produk dan pengembangan;
Kuno, dibuang, dan di daur ulang
LANGKAH-LANGKAH
PENGEMBANGAN PRODUK FIG. 1.1

Contoh perbandingan parameter
rancangan mobil 2 dan 4 penampang

STUDI KELAYAKAN
Riset pasar
Aspek-aspek teknik;
Analisis ekonomi;
Membandingkan beberapa solusi;
Pemilihan rancangan optimum;
a.karakteristik fisik dan berat;
b.umur yang diharapkan dan reliabilitas pada
kondisi operasi;
c.kebutuhan energi;
d.kebutuhan pemeliharaan dan biaya operasi;
e.kesediaan dan biaya bahan;
f. kesediaan dan biaya proses operasi;
g. jumlah produksi;
h. tanggal penyampaian yang diharapkan



NILAI JUAL SEBUAH PRODUK


KEUNTUNGAN BERSIH
Keuntungan bersih = (jumlah unit x
keuntungan/unit) pajak pendapatan
Pajak pendapatan dihitung dari
prosentase keuntungan total
Skema tipikal sediaan dan permintaan
ditunjukkan pada Fig. 1.3
Skema tipikal sediaan dan
permintaan
PERKEMBANGAN RANCANGAN DAN
PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES
Rancangan detail;
Pemilihan bahan dan proses manufaktur
optimum;
Peninjauan kembali rancangan
PERENCANAAN DAN PENJADWALAN PROYEK
CONTOH STUDI KASUS PEMASANGAN DAN
PENYIAPAN OPERASI MESIN MOLDING INJEKSI

LAUNCHING PRODUK
Aktifitas pembuatan produk, pemasaran, dan pelayanan purna jual:
Aktifitas manufaktur setiap pembuatan komponen produk
menggunakan lembar proses seperti Fig.1.6


LAUNCHING PRODUK
Kontrol kualitas :
untuk memastikan produk melakukan fungsinya
sesuai dengan spesifikasi
Pengepakan :
melindungi produk akhir selama pengiriman
sampai ke konsumen
Pemasaran :
diperlukan publikasi/promosi yang akan
membantu penjualan produk
Pelayanan purna jual :
pelayanan selama pemakaian produk misalnya
servis, sediaan suku cadang, dan masukan
komsumen untuk pengembangan produk baru
SIKLUS UMUR PRODUK
Umur produk didefisikan sbg lama waktu antara
kenampakan produk di pasar pertama kali
sampai produksinya dihentikan.
Siklus umur sebuah produk yang berhasil
umumnya dapat dilukiskan dengan kurve
ditunjukkan pada gambar 1.7
Tidak cukup keberhasilan perencanaan dan
manufaktur tetapi seorang engineer sebaiknya
mampu memperbaiki produknya dan
memanfaatkan teknologi baru supaya
produknya selalu bisa kompetitif (bersaing)
GAMBAR SIKLUS UMUR SEBUAH PRODUK


DAUR ULANG BAHAN

Tabel 1.3 Energi yang digunakan untuk produksi
beberapa bahan teknik
Metal Logam utama Logam sekunder
GJ/ton % GJ/ton % dr logam utama
Mg
Al
Ni
Cu
Zn
Pb
Baja
370
350
150
120
70
30
35
100
100
100
100
100
100
100
10
15
15
20
20
10
15
2,9
4,3
10
17
29
33
43
DAUR ULANG BAHAN

PENYORTIRAN DAUR ULANG BAHAN

STUDI KASUS
ALUMINIUM WADAH MINUMAN
Analisis
Kandungan logam dari 15-20 gr menjadi 10-11 gr
Ketebalan pelat dari 0,38 mm menjadi 0,3 mm
Diamater lid dari 68,3 mm menjadi 60,3 mm
Body dibuat dari paduan 5182 (0,18 Si; 0,45 Fe; 0,13
Cu; 1,1 Mn; dan 1,1 Mg)
Lid dibuat dari paduan 5182 ( 0,1 Si; 0,24; 0,03Cu; 0,35
Mn; dan 4,5 Mg)
Bahan ini dapat ditukar komposisinya merupakan faktor
penting dalam melakukan daur ulang. Sedikit
pengaturan komposisi bahan dapat didaur ulang untuk
membuat baik body atau lid
STUDI KASUS
ALUMINIUM WADAH MINUMAN
Tabel I.4 Perbandingan biaya manu-
faktur wadah minuman 355 ml (cents)
Elemen
biaya
Al Glas
s
Plas-
tik
Baja
Bahan
baku
Biaya
manufak-
tur
Biaya
distribusi
Kredit daur
ulang
Biaya
bersih total
4,5

3,19


0,05

1,29

6,55



1,7

7,80


0,50

2,25

7,75
1,71

6,27


0,05

0,00

8,03
3,18

3,81


0,08

0,33

6,74

LIFE CYCLE COSTING (LCC)
LCC merupakan biaya total sebuah produk
sampai batas umurnya, termasuk :
a. nilai jual produk,
b. biaya running,
c. biaya post-use.
Studi kasus : Perbandingan LCC untuk
membuat body kendaraan bermotor

Tabel 1.5 Perbandingan parameter LCC
untuk bodi terbuat dari aluminium dan baja
untuk 200 unit/tahun
Parameter Bodi aluminium Bodi baja
Berat struktur (kg)
Berat panel (kg)
Kandungan baja pd
struktur
Kandungan baja pd panel
Fabrikasi
Perakitan
Biaya relatif ekstrusi dan
cor
Biaya relatif pelat
Nilai jual relatif skrap

225
79
100%

100%
Stamping
Spot welding
1

1
1
135
39
60%

50%
Stamping
Spot welding
2

4
10
PERBANDINGAN LCC BAJA DAN
ALUMINIUM PADA BODI KENDARAAN
BERMOTOR
Keberhasilan LCC
bergantung pada:
a. Semua elemen biaya
utama yang akan
datang
b. Lama umur manfaat
yang diharapkan
c. Biaya kerugian produksi
dipengaruhi oleh
ketersediaan,
kehandalan,
karakteristik,
ketahanannya, dan
d. Laju penyusutan
BAGIAN I UNJUK KERJA BAHAN
DALAM OPERASI
Level unjuk kerja komponen dalam operasi
tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat bahan
itu sendiri tetapi juga tegangan yang terjadi
pada sistem dan lingkungan operasi
Penyebab kegagalan komponen teknik
disebabkan oleh :
a. Ketidakmampuan perancang,
b. Pemilihan bahan kurang tepat
c. Cacat manufaktur
d. Melebihi batas perencanaan dan pembebanan
berlebihan

KEGAGALAN DISEBABKAN
BEBAN MEKANIK
Jenis-jenis kegagalan mekanik:
a. Luluh bahan komponen disebabkan beban statik,
b. Tekukan,
c. Kegagalan creep,
d. Kegagalan disebabkan keausan berlebihan,
e. Patah disebabkan beban overload statik
f. Patah fatik disebabkan overstressing, cacat bahan ,
atau stress raisers,
g. Kegagalan disebabkan pengaruh kombinasi tegangan
dan korosi,
h. Patah disebabkan beban impak.
KETANGGUHAN PATAH DAN
MEKANIKA PATAH
KETANGGUHAN PATAH DAN
MEKANIKA PATAH
KETANGGUHAN PATAH DAN
MEKANIKA PATAH
KETANGGUHAN PATAH DAN
MEKANIKA PATAH
KETANGGUHAN PATAH DAN
MEKANIKA PATAH
PATAH ULET DAN GETAS
PATAH ULET DAN GETAS
PATAH ULET DAN GETAS
PATAH ULET DAN GETAS
KEGAGALAN FATIK
KEGAGALAN FATIK
JENIS PEMBEBANAN
KEGAGALAN FATIK
KEKUATAN FATIK
KEGAGALAN FATIK
KEKUATAN FATIK
PERBANDINGAN KEKUATAN FATIK DAN STATIK
BEBERAPA MATERIAL TEKNIK
KEGAGALAN FATIK
Retak awal,


Perambatan retak,
KEGAGALAN FATIK
LAJU PERAMBATAN RETAK FATIK
KEGAGALAN PADA
TEMPERATUR TINGGI
Dibagi menjadi 3 katagori utama :
1. Pengaruh mekanik, misalnya : creep
dan stress rupture
2. Pengaruh kimia, misalnya : oksidasi
3. Pengaruh struktur mikro, misalnya :
pertumbuhan butir dan overaging
KURVE CREEP
ANALISIS KEGAGALAN
CARA EKSPERIMENTAL
1. Informasi background
2. Pengamatan visual
3. Pengujian destruktif dan non destruktif
4. Pelaporan
ANALISIS KEGAGALAN
TEKNIK ANALITIK, FAULT TREE ANALYSIS
(FTA)
KEGAGALAN PADA GEAR
BOX
FAILURE LOGIC MODEL
FAILURE LOGIC MODEL

MATRIX PENGALAMAN
KEGAGALAN
DEGRADASI BAHAN
TERHADAP LINGKUNGAN
Dapat dibagi menjadi 3 katagori :
1. Korosi dan oksidasi
2. Keausan
3. Kerusakan radiasi
PRINSIP KOROSI
ELEKTROKIMIA
JENIS-JENIS KOROSI
ELEKTROKIMIA
1. Korosi umum
2. Korosi galvanik
3. Korosi crevice
4. Korosi pitting
5. Korosi intergranular
6. Peluruhan selektif

DERET GALVANIK
KOROSI GALVANIK
KOROSI BESI DALAM AIR YANG
MENGANDUNG OKSIGEN
KOROSI CREVICE
KOROSI INTERGRANULAR
GABUNGAN KERJA
TEGANGAN DAN KOROSI
Stress corrosion cracking
Corrosion fatigue
Erosion corrosion
Cavitation damage
Fretting corrosion
KOROSI PLASTIK DAN
KERAMIK : Korosi plastik
KOROSI PLASTIK DAN
KERAMIK : Korosi plastik
OKSIDASI MATERIAL
Oksidasi logam
Oksidasi plastik
Oksidasi keramik
PENGENDALIAN KOROSI
Menggunakan proteksi galvanik
Menggunakan inhibitor korosi
Memilih bahan yang tepat
Menggunakan protective coatings
Mengacu hukum-hukum desain tertentu
PROTEKSI GALVANIK
KEGAGALAN KEAUSAN
Keausan adesif
Keausan abrasif, erosif, dan kavitasi
Surface fatigue
Kerusakan radiasi oleh partikel
KEAUSAN ADESIF
KERUSAKAN RADIASI
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
MENAHAN KEGAGALAN
Sumber kegagalan :
1. Rancangan tidak tepat
2. Cacat manufaktur
3. Beban berlebihan
4. Kurang pemeliharaan
5. Pemilihan bahan tidak sesuai
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
KEKUATAN STATIK
Aspek kekuatan statik
Kekuatan statik didefinisikan sebagai
kemampuan untuk menahan beban
mantap waktu pendek pada temperatur
moderat.
Menahan beban diukur dari kekuatan
luluh, kekuatan tarik maksimum, kekuatan
tekan, dan kekerasan
PERBANDINGAN BEBERAPA MATERIAL
TEKNIK BERDASARKAN KEKUATAN TARIK
PERBANDINGAN BEBERAPA MATERIAL TEKNIK
BERDASARKAN KEKUATAN TARIK SPESIFIK
CONTOH 4.1
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
KEKAKUAN
Sebuah
balok yang
ditumpu
pada kedua
ujungnya,
menahan
defleksi
maksimum
(y) di
tengah saat
dibebani
beban
terpusat
(L),
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
KEKAKUAN
Bila komponen logam
dibebani tarik,
kompresi, atau
bending, modulus
Youngs E digunakan
untuk menghitung
kekakuan. Bila
pembenanan geser
atau tarik, modulus
kekakuan, G,
digunakan utk
menghitung kekakuan,
PERBANDINGAN KEAKAKUAN UNTUK
MATERIAL TEKNIK YANG TERPILIH
RUMUS UNTUK MENGHITUNG I (MOMEN
LUAS) BEBERAPA BENTUK PENAMPANG
KEKAKUAN SPESIFIK (KEKAKUAN/BERAT)
Defleksi balok yang ditumpu sederhana


KEKAKUAN SPESIFIK
Berat balok, w,
PENGARUH KEKAKUAN BAHAN THD
TEGANGAN BUCKLING (TEKUKAN)
Beban kompresif, Lb, yang dapat menyebabkan
tekukan strut (topangan) dinyatakan dengan
rumus Euler :




Dgn, l = panjang strut
PENGARUH KEKAKUAN BAHAN THD
TEGANGAN BUCKLING (TEKUKAN)
Momen luas kedua, I,
PENGARUH KEKAKUAN BAHAN THD
TEGANGAN BUCKLING (TEKUKAN)
Berat strut (topangan), w, dinyatakan dengan;
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
KETANGGUHAN
Bahan logam
Ada inverse antara kekuatan dan
ketangguhan (Fig. 4.4) dan tabel 2.1
Ketangguhan bahan dipengaruhi oleh
komposisi kimia dan struktur mikro.
Contoh : baja menjadi kurang tangguh
dengan bertambahnya kandungan karbon,
ukuran butir lebih besar, dan inklusi
kerapuhan lebih banyak.
BAHAN LOGAM
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
KETANGGUHAN
Berkurangnya temperatur umum
menyebabkan kebanyakan material teknik
ketangguhannya berkurang (Fig. 4.5).
Pada temperatur kriogenik material BCC
kebanyakan menjadi rapuh.Contoh patah
rapuh Fig. 4.6
Untuk aplikasi kriogenik dapat digunakan
material : paduan Al, Ti, dan nikel base.
PEMILIHAN BAHAN UNTUK KETANGGUHAN
Contoh patah rapuh
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
KETANGGUHAN
Komposit dan plastik :
Umumnya material plastik yang tidak
diperkuat mempunyai ketangguhan impak
rendah dari pada logam.
Keramik :
Patahnya keramik tergantung pada ukuran
retak kritis, sebagai fungsi keangguhan
patah (KIC)
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
MENAHAN FATIK
Ketahanan fatik material sangat
dipengaruhi oleh : lingkungan kerja,
kondisi permukaan komponen, cara
fabrikasi, dan detail desain
1. Baja dan besi cor
2. Paduan non fero
3. Plastik
4. Material komposit


PEMILIHAN BAHAN UNTUK TAHAN
TEMPERATUR
1. Ketahanan creep logam
2. Kinerja plastik pada temperatur tinggi
Temperatur kamar sampai 150 C
150-400 C
400-600 C
600-1000 C
3. Baja tahan karat
Paduan super Ni-base, Co-base, logam
refraktori.
4. Keramik




PEMILIHAN BAHAN UNTUK
TAHAN KOROSI
Faktor utama yang dapat mempengaruhi
bahan tahan korosi dapat diklasifikasikan
sbb. :
1. Parameter media korosi,
2. Parameter desain,
3. Parameter material
PARAMETER MEDIA KOROSI
1. Komposisi kimia dan adanya
ketidakmurnian,
2. Keadaan fisik : benda padat, cair, atau
kombinasi,
3. Aerasi, kandungan oksigen, dan ionisasi
4. Kandungan bakteri
PARAMETER DESAIN
1. Kerja tegangan pada material dalam
operasional,
2. Temperatur operasi
3. Gerakan relatif media terhadap material,
4. Kontinuitas ekpos material terhadap media,
5. Kontak material dan material,
6. Kemungkinan arus bocor,
7. Geometri komponen.
PARAMETER MATERIAL
1. Komposisi kimia,
2. Adanya ketidak murnian,
3. Distribusi susunan struktur mikro,
4. Kondisi permukaan dan endapan/deposit.
5. Sejarah proses produksi
Tahanan korosi relatif beberapa
bahan logam tidak dilapisi
COATING UNTUK PROTEKSI
MENAHAN KOROSI
Coating biasanya dipakai untuk
memodifikasi kualitas warna permukaan,
brightness, refleksitas, atau opasitas;
memberi proteksi tahan korosi atau
oksidasi ; memberi proteksi tahan abrasi
dan keausan; dan atau memberi
konduktivitas atau isolasi panas dan listrik.
Untuk mencegah korosi dapat dilakukan 2
cara : (a) isolasi permukaan dari
lingkungan, dan (b) kerja elektrokimia.
COATING UNTUK MELAWAN
KOROSI
1. METALLIC COATING,
2. ORGANICS COATING,
3. VITREOUS ENAMEL
BEBERAPA COATING ORGANICS
KOMPOSISI BEBERAPA ENAMEL PORSELIN
UNTUK BAJA DAN BESI COR
PEMILIHAN BAHAN UNTUK
TAHAN KEAUSAN
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi
kelakuan keausan material dapat
dikelompokkan sbb.:
1. Variabel metalurgi adalah kekerasan,
ketangguhan, komposisi kimia, dan
struktur mikro,
2. Variabel operasional adalah kontak
material, tekanan kontak, kecepatan
luncur, temperatur operasi, pengakhiran
permukaan, lubrikasi, dan korosi.
SURFACE TREATMENT (PERLAKUAN
PERMUKAAN)
1. Perlakuan panas permukaan (surface heat
treatment): pemanasan indusksi dan nyala
yang memberikan pengerasan permukaan
tanpa mempengaruhi material bulk (tabel 4.6)
2. Pemaduan permukaan (surface alloying) :
carburizing, nitriding, dan carbonitriding yang
meningkatkan kekerasan permukaan dengan
bertambahnya kandungan karbon dan atau
nitrogen (tabel 4.6)
PERLAKUAN PENGERASAN
PERMUKAAN UNTUK BAJA
PEMILIAHAN BAHAN UNTUK
TAHAN AUS
1. Tahanan aus baja,
2. Tahanan aus besi cor,
3. Paduan non fero untuk aplikasi wear
(keausan),
4. Tahanan aus plastik,
5. Tahanan aus keramik.
SIFAT-SIFAT AUS BEBERAPA PLASTIK YANG
DILUMASI PADA BAJA
WEAR-RESISTANT COATINGS
Hard-facing coating umumnya digunakan untuk
proteksi melawan keausan.
Pada umumnya tahanan impak paduan hard-
facing berkurang bila kandungan karbida
bertambah.
Paduan hard-facing dipasaran dikelompokkan
sbb.:
1. Baja paduan rendah,
2. material fero paduan tinggi,
3. Paduan nickel-base dan cobalt-base,
4. Karbida.
ELEMEN-ELEMEN
PERANCANGAN TEKNIK
Kerja perancangan teknik biasanya
dilakukan pada 3 level :
1. Pengembangan produk yang telah ada,
2. Adaptasi produk yang telah ada,
3. Kreasi total rancangan baru.

FASE-FASE UTAMA PERANCANGAN
STANDAR DAN KODE-KODE PERANCANGAN
VARIASI STATIK SIFAT-SIFAT
BAHAN
PARAMETER STATISTIK
Sifat-sifat bahan dapat diterangkan secara statistik
dengan nilai rata-rata (x), deviasi standar ( ), dan
koefisien variasi ( ). X1, x2, x3 nilai-nilai
pengukuran berbeda pada beberapa sifat bahan,
dan n jumlah pengukuran yang diambil.
PARAMETER STATISTIK
Koefisien variasi merupakan besaran tanpa
dimensi. Berguna dalam menaksir variabilitas
relatif data dari sumber berbeda. Nilai lebih kecil
standar deviasi dan koefisien variasi
menunjukkan bahan lebih homogen.
DISTRIBUSI NORMAL SIFAT-SIFAT BAHAN
STANDAR DEVIASI JUMLAH SAMPEL
TERBATAS
Perhitungan ini berdasarkan pada pengandaian
batas-batas yang diberikan, dibatasi pada
standar deviasi 3 antara plus dan minus (lihat
contoh 3.1).
FAKTOR KEAMANAN
Parameter utama yang mempengaruhi
nilai faktor keamanan, yang selalu lebih
besar 1, dapat dikelompokkan menjadi 2
katagori ;
1. Ketidaktentuan sifat-sifat bahan dan
proses manufaktur,
2. Ketidaktentuan kondisi pembebanan
dan operasional.
FAKTOR KEAMANAN
Kekuatan nominal (S) dan kekuatan yang
diijinkan (Sa), dapat dinyatakan dengan
persamaan ;



Dengan ns : faktor keamanan untuk
mempertimbangkan ketidaktentuan kekuatan
bahan
FAKTOR KEAMANAN
Dalam menentukan ketidaktentuan
pembebanan, 2 jenis kondisi operasional
harus dipertimbangkan ;
1. Kondisi kerja normal, umur operasional
dapat ditetapkan,
2. Kondisi kerja terbatas, misalnya
overloading, dapat menyebabkan umur
komponen menjadi lebih pendek.
FAKTOR KEAMANAN
Faktor keamanan (n
L
)
untuk kondisi kerja
terbatas ;


L : beban maksimum,
La : beban yang
diijinkan
FAKTOR KEAMANAN
Faktor keamanan total (n), gabungan ketidaktentuan
kapasitas pembebanan dapat ditentukan ;


Faktor keamanan bervariasi antara 1,1 sampai 20.
Nilai yang biasa digunakan antara 1,5-10.
Dalam aplikasi perancang diminta untuk mengikuti
codes tertentu yang telah ditetapkan, saat membuat
perancangan. Misalnya :tanki2 bertekanan, sistem
perpipaan, etc., faktor keamanan tidak spesifik
dinyatakan tetapi digunakan tegangan kerja yang
diijinkan.
DERATING FACTORS
Derating factors adalah nilai yang lebih kecil
satu dan digunakan untuk mengurangi nilai
kekuatan bahan dengan memperhitungkan
ketidaksempurnaan manufaktur dan beberapa
kondisi operasional yang diharapkan. Bila
komponen dibebani fatik, beberapa derating
factors dapat digunakan untuk
memperhitungkan ketidaksempurnaan
permukaan, ukuran komponen, kosentrasi
tegangan, dsb.
PERANCANGAN
PROBALILISTIK
Dalam perancangan komponen2 kritis,
diperlukan estimasi kehandalan, oleh
karena itu memerlukan perancangan
probabilistik untuk memperhitungkan
ketidaktentuan kapasitas membawa beban
(S), yang dipengaruhi oleh variasi
kekuatan material dan beban yang
digunakan (L). Contoh pada Fig. 5.3,
kegagalan akan terjadi bila beban melebihi
kekuatan.
PERANCANGAN
PROBABILISTIK
PERANCANGAN
PROBABILISTIK
Fig.5.3 menunjukkan bahwa beban rata2 lebih rendah
kekuatan rata2, komponen paling lemah akan rusak
bila dikenai beban lebih tinggi. Probabilitas kegagalan
dapat ditaksir dengan mengurangi distribusi kekuatan
dan beban, dan dinyatakan dengan persamaan :

PERANCANGAN
PROBABILISTIK
Dari Fig. 5.3, nilai z pada saat terjadi kegagalan
adalah :


Untuk kehandalan yang diinginkan, atau
probabilitas kegagalan yang diijinkan, nilai z
dapat ditentukan dari fungsi distribusi kumulatif
untuk standard normal distribution (SND).
Tabel 5.2 disajikan beberapa nilai z yang akan
menghasilkan kemungkinan kegagalan yang
berbeda.
NILA I z, level kehandalan, dan
probabilitas kegagalan.
TINJAUAN UMUM DALAM
PERANCANGAN MEKANIK
Dalam perancangan elemen2 mekanik dan
sistem dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang dapat diklasifikasikan menjadi 5
katagori :
1. Kebutuhan fungsional,
2. Tinjauan manufaktur,
3. Kebutuhan lingkungan dan keselamatan,
4. Parameter estetika dan pemasaran,
5. Faktor ekonomi.
PENGARUH SIFAT-SIFAT BAHAN DAN
PERANCANGAN
1. Faktor2 yang mempengaruhi kelakuan bahan
dalam komponen.
Berhasilnya perancangan sebaiknya
memperhitungkan fungsi, sifat2 bahan, dan
proses pembuatan, seperti ditunjukkan pada
Fig.6.1. Pada gambar menunjukkan ada
hubungan sekunder antara sifat2 bahan dan
proses manufaktur, antara fungsi dan proses
manufaktur, dan antara fungsi dan sifat2 bahan.
Faktor2 yang sebaiknya ditinjau dalam
perancangan komponen
Faktor2 yang sebaiknya ditinjau dalam
mengantisipasi kelakuan bahan dalam komponen
Faktor2 yang sebaiknya ditinjau dalam
mengantisipasi kelakuan bahan dalam komponen
1. Faktor konsentrasi tegangan,(K
t
), tabel
6.1
2. Kosentrasi tegangan dalam fatik, (K
f
),
Fig.6.3

NILAI PENDEKATAN FAKTOR KOSENTRASI TEGANGAN (K
t
)
Petunjuk rancangan untuk poros yang dikenai beban fatik
Petunjuk untuk perancangan
1. Hindari perubahan mendadak penampang potongan,
2. Hindari slot dan grooves,
3. Pada ujung ulir dan spline hindari grooves dan
undercuts,
4. Hindari sisi2 tajam dibagian sudut dan sisi luar,
5. Lubang2 oli dan serupa sebaiknya di champer dan bor
halus,
6. Pelemahan lubang2 baut dan oli, tanda2 identifikasi,
dan nomor komponen sebaiknya tidak ditempatkan
dalam daerah tegangan tinggi.
7. Pelemahan sebaiknya di stagered untuk mengurangi
tambahan pengaruh kosentrasi tegangan.

PERANCANGAN UNTUK
KEKUATAN STATIK
Perancangan berdasarkan pada kekuatan
statik biasanya bertujuan untuk
menghindari luluh pada komponen pada
bahan lunak, ulet, dan menghindari patah
pada bahan kuat, ketangguhan rendah
PERANCANGAN UNTUK PEMBEBANAN AKSIAL
SEDERHANA
Luas penampang kritis, A, dapat dihitung :





PERENCANAAN UNTUK PEMBEBANAN TORSI
Luas penampang kritis poros bulat yang dikenai
beban torsi dapat ditentukan dengan pers. :



PERNCANGAN UNTUK
BENDING
Modulus penampang dapat dihitung dengan
persamaan :
Contoh kekakuan rendah plastik diatasi dengan menambah
momen luas kedua pada penampang kritis
KEKAKUAN TORSI PADA POROS

PERANCANGAN UNTUK
KEKAKUAN
Selain untuk cukup kuat menahan beban
operasional yang diharapkan, konstruksi
juga harus kaku menahan defleksi
sehingga tidak melebihi batas yang telah
ditentukan. Diberikan example 6.2.
CONTOH 6.2
Pada kondisi awal balok lurus dibebani, menjadi
lengkung akibat defleksi. Radius lengkungan, r,
pada suatu titik diberikan dengan persamaan :



CONTOH 6.2
Perhitungan luas :
1. Berdasarkan kekuatan luluh = load/YS,
2. Berdasarkan defleksi = (load x length)/(Ex
deflection)
KEKAKUAN PADA POROS
Kekakuan torsi sebuah komponen biasanya
diukur dengan sudut puntir, , tiap unit panjang,
ditunjukkan pada Fig. 6.5

KEKAKUAN TORSI PADA
POROS
Untuk sebuah poros bulat, , dinyatakan dalam
radian (Fig.6.5) :
KEKAKUAN TORSI
PERANCANGAN KOLOM
Ketidakstabilan elastik menjadi penting pada kriteria
perancangan kolom, struts, dan silinder berdinding tipis
yang terkena beban aksial kompresif yang menyebabkan
terjadinya tekukan (buckling). Buckling terjadi bila beban
aksial kompresif yang bekerja melebihi nilai kritis, P
cr
:

Dengan I = momen inersia paling kecil
penampang potongan kolom,
L = panjang kolom.
Faktor keamanan 3,5 direkomendasikan untuk
kolom L(A/I)
1/2
> 100, A = luas penampang


PERANCANGAN BAHAN KEKUATAN
TINGGI, KETANGGUHAN RENDAH
Bahan kekuatan tinggi semakin banyak digunakan
dalam perancangan komponen kritis untuk memenuhi
kondisi operasional. Untuk itu diperlukan perhitungan
lebih teliti sampai level cacat dapat diterima, dan
bertambahnya menggunakan NDT dalam manufaktur.
Cacat diakibatkan oleh :
1. Cacat awal bahan, misalnya : inklusi dan rongga,
2. Ketidaksempurnaan produksi, misalnya : cacar las,
3. Kondisi operasi, misalnya : retak fatik atau retak korosi
tegangan
PERANCANGAN GAGAL AMAN (FAIL-SAFE
DESIGN)
Perancangan gagal
aman pada struktur
artinya memberikan
toleransi kerusakan
pada struktur sampai
cacat yang bisa
dideteksi belum
sampai pada ukuran
yang berbahaya
(Fig.6.6).

PETUNJUK UNTUK
PERANCANGAN
Pada kondisi kegagalan plain-strain, panjang
retak 2 a kearah tebal pelat, pd pelat amat
besar, dinyatakan dengan :


Dengan, f = tegangan patah yang tergantung
pada pembebanan dan bentuk komponen, a =
parameter kontrol (panjang retak) yang dapat
diukur dengan NDT, Y = faktor bentuk tanpa
dimensi.
NILAI Y UNTUK BEBERAPA GEOMETRI RETAK
CONTOH RANCANGAN 6.5
Perancangan bejana tekan dengan
spesifikasi sbb.:
1. Tekanan dalam p = 35 MN/m
2
2. Diameter dalam D = 800 mm
3. Bejana tekan akan dibuat dengan pelat2
sambungan di las, kemudian diinspeksi
menggunakan NDT yang mampu
mendeteksi panjang retak lebih besar 15
mm.
JAWABAN CONTOH 6.5
Bejana tekan dibuat dgn pelat AISI 4340.
Ditemper 260 C yang mempunyai kekuatan
luluh 1640 Mpa dan K
IC
= 50 MPam
1/2
. Tebal
pelat dapat dihitung:


Dengan
w
= tegangan kerja
Ambil faktor keamanan 2, tegangan kerja = 820
Mpa, didapatkan ketebalan dinding 17,1 mm

JAWABAN CONTOH 6.5
Ukuran retak permukaan dapat dihitung :