Anda di halaman 1dari 15

1

TEORI KARIR DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI


Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah
Perkembangan Bimbingan dan Konseling Karir
Dosen Pengampu Dr. Edi Purwanta, M. Pd.






Disusun oleh:
Mint Husen Raya Aditama
14713251017

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
PROGRAM PENDIDIKAN PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
OKTOBER 2014
2

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Yang paling populer diantara pandangan-pandangan sosiologis tentang karier
adalah yang menyatakan kalau manusia sampai di pekerjaan tertentu lebih karena
kebetulan semata dan bukannya hasil perencanaan bebas atau kemajuan teratur menuju
tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Laporan di koran dan televisi terus
mengingatkan kita kisah-kisah orang yang awalnya sudah berada di tempat dan waktu
yang tepat kemudian tanpa alasan jelas berakhir disebuah karier yang sama sekali tak
terduga, hal ini seperti yang telah dialami choirul dalam kisah hidupnya yang dijuluki
sebagai si anak singkong. Dalam pengertian yang lebih luas, bisa saja kita memasukan
faktor kebetulan atau peruntungan/kesialan ini sebagai pengaruh yang turut membentuk
pilihan karier selain lingkungan, kelas sosial, budaya dan kondisi lain yang di dalamnya
seseorang diasuh/dibesarkan.
Namun dalam pengertian yang lebih sempit, kita dapat melihat kalau faktor yang
disebut kebetulan, kesempatan atau peruntungan ini tak lebih merupakan pilihan kerja
yang dihasilkan oleh sebuah ledakan impuls atau reaksi emosi mendadak yang di
dalamnya kekuatan-kekuatan bawah sadar ikut menentukan perilaku seseorang dan
menentukan pilihan karirnya. Contohnya, individu yang tampaknya baik-baik saja
selama ini saat bekerja di sebuah kantor bahkan kariernya lebih cepat menanjak
ketimbang rekan sebayanya, entah kenapa suatu hari tiba-tiba memilih berangkat sebagai
sukarelawan kemanusiaan ke Palestina.
Selama bertahun-tahun sosiolog dan psikolog telah mengemukakan pendapat
kalau kesempatan, kebetulan atau keberuntungan memainkan peranan penting dalam
perubahan arah hidup individu. Teori sosiologis juga mencatat perubahan yang sama di
3

rumah, sekolah, kelas sosial, komunitas dan kelompok-kelompok sebaya. Bedasarkan
pemaparan diatas, maka pemakalah perlu membahas mengenai teori-teori karir dalam
perspektif sosiologi.

















4

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengenalan Teori Karir dalam Perspektif Sosiologi
Menurut Gibson dkk. (1995: 305) Karir adalah rangkaian sikap dan perilaku yang
berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan
seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Pemilihan karir
seseorang dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya yakni kondisi
lingkungan sosial. Pilihan karir adalah penentu kuat status seseorang dalam masyarakat,
pendapatan, kekayaan, dan gaya hidup. Sampai-sampai orang-orang muda mengikuti
pekerjaan yang sama atau serupa dengan orang tua mereka. Ketidaksetaraan terkait karir
akan diabadikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian minat
sosiologis dalam pilihan karir awalnya difokuskan pada mekanisme antargenerasi
mobilitas apa yang kemudian disebut proses stratifikasi karir (Duane Brown, 2002:37).
Dalam penelitian yang telah dilakukan Kerckhoff, 1995 (Duane Brown,
2002:37) tradisi pencapaian status karir telah menyelidiki cara-cara di mana jenis
kelamin, ras, etnis, ukuran komunitas, dan fitur dari keluarga asal, seperti karakter utuh,
jumlah saudara kandung, dan urutan kelahiran, mempengaruhi proses stratifikasi karir.
Seiring waktu, kompleksitas proses pencapaian itu semakin dikenal. Sebagai contoh,
karena diskriminasi di pasar tenaga kerja, kesempatan yang tidak sama untuk pria dan
wanita, kulit putih dan minoritas, dan ini harus diperhitungkan dalam model yang
dimaksudkan untuk mewakili proses pencapaian kerja.
Paradigma Blau-Gustad-Jessor-Parnes-and-Wilcox (Zunker Vernon, 1986).
Hubungan antara Proses Pemilihan dan Proses Seleksi karir, merupakan sintesis
pengaruh institusi sosial terhadap pilihan dan perkembangan karir. Model ini meletakkan
penekanan pada hubungan timbal-balik antara faktor-faktor psikologis, ekonimis, dan
sosiologis sebagai penentu dalam pemilihan dan perkembangan okupasi. Karakteristik
5

individu yang menentukan pilihannya bersifat biologis dan dikondisikan secara sosial
melalui pengaruh keluarga, posisi dan hubungan social, dan karakteristik peran
sosialnya. Pada akhirnya, individu mencapai suatu hierarkhi kesukaan yang salah satu di
antaranya menjadi pilihannya.
Proses seleksi karir berkembang karena pengaruh-pengaruh yang terkait dengan
kondisi sosial dan fisik seperti sumber-sumber yang tersedia, topografi dan iklim.
Misalnya, seorang individu yang dibesarkan dalam lingkungan pedesaan yang
keluarganya memiliki keadaan financial yang terbatas akan cenderung memilih sebuah
okupasi pertanian, yang terkait dengan iklim (musim hujan yang panjang) dan topografi
(dataran tinggi yang subur). Faktor-faktor tersebut dipandang berada di luar kontrol
individu tetapi merupakan penentu dalam proses seleksi.
Asumsi-asumsi dasar karir lain dari pendekatan ini adalah:
a. Terdapat struktur sosial yang menanamkan pola-pola kegiatan, identifikasi
terhadap model, dan memberikan aspirasi di kalangan berbagai kelompok
sosial.
b. Perkembangan karir merupakan proses yang berkelanjutan.
c. Kondisi situasional juga berpengaruh terhadap pola perkembangan karir.
Model ini efektif untuk mengklarifikasi unsure-unsur situasi dalam proses
perkembangan karir. Pilihan karir dipandang sebagai serangkaian keputusan yang saling
terkait yang melibatkan warisan biologis individu, lingkungan sosialnya, dan kondisi
lingkungan.



6

B. Teori Karir Berdasarkan Perspektif Sosiologi Menurut Samuel H. Osipow
Pendekatan Sosiologis Menurut Osipow (1983) dalam teori ini secara
fundamental didasarkan kepada pemikiran bahwa elemen-elemen di luar individu
memiliki pengaruh kuat terhadap individu dalam sepanjang hidupnya, termasuk
pendidikan dan keputusaan karir. Para pendukung teori ini juga berpandangan bahwa
derajat kebebasan individu dalam pilihan karir/jabatan adalah jauh dari apa yang semula
diasumsikan dan harapan diri seseorang tidaklah bebas dari harapan masyarakatnya.
Sebaliknya, masyarakat menyajikan peluang karir/jabatan dalam suatu pola-pola yang
berhubungan dengan keanggotaan kelas sosial.
Berkaitan dengan kelas sosial dan perkembangan karir, Lipsett (Osipow, 1983)
menyatakan bahwa keanggotaan kelas sosial berpengaruh terhadap pilihan karir tertentu
ketika ia mencapai usia remaja. Sejalan dengan itu Sewell dan Shah (Osipow, 1983) juga
menyatakan bahwa walaupun tahapan dalam pengambilan keputusan pendidikan atau
karir secara mendasar tidak berbeda dari kelas ke kelas, namun waktu dan pilihannya
tampaknya berbeda. Pada remaja dari kelas sosial yang lebih rendah, disamping
pengambilan keputusan dilakukan pada usia yang lebih muda, pilihan karirnya juga
berbeda, dibandingkan dengan kelas sosial yang lebih tinggi. Sedangkan menurut Gibson
dan Mitchell (1995) bahwa pilihan karir lebih berhubungan dengan kesempatan dari pada
sesuatu yang sengaja direncanakan. Kesempatan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh
kelas sosial, disamping faktor-faktor lain seperti budaya, kondisi-kondisi yang dibawa
sejak lahir atau muncul kemudian, kesempatan pendidikan, dan observasi terhadap
model.



7

C. Teori Karir Berdasarkan Perspektif Sosiologi dalam buku Career Choice and
Development from a Sociological Perspective Duane Brown & Associates
Studi sosiologis telah demikian fokus selama beberapa dekade terakhir hampir
secara eksklusif membahas vertikal (prestise) dimensi pilihan pekerjaan, karena hal ini
terkait erat dengan penempatan seseorang dalam hierarki sosial ekonomi. Sejauh
motivasi dan tujuan individu dianggap, ini cenderung dibatasi aspirasi untuk pencapaian
pendidikan dan tingkat prestise aspirasi kerja. Sebaliknya, studi yang berorientasi
psikologis dari pilihan karir memberikan penekanan utama dengan karakteristik
kepribadian yang mempengaruhi seorang individu untuk mencari karir dari jenis tertentu.
Secara historis, psikolog telah menunjukkan minat yang lebih besar daripada
kepentingan seseorang, nilai-nilai, tipe kepribadian, dan orientasi, serta selfconcept,
sebagai penentu pilihan pekerjaan tertentu (Duane Brown, 2002:38).
Sosiolog telah mengakui bahwa yang jauh lebih luas dari orientasi psikologis,
selain aspirasi pendidikan dan pekerjaan dan rencana, adalh pengaruh arah kejuruan dan
kapasitas untuk menjadi sukses di dunia kerja (Mortimer dalam Duane Brown, 2002). Ini
termasuk nilai-nilai kerja, yaitu preferensi terhadap intrinsik, ekstrinsik, dan orang-orang
yang berorientasi imbalan untuk etos kerja tertentu dan rasa keberhasilan pribadi.
Sebagai contoh, para peneliti menganggap penentu keberhasilan khususnya yang
berkaitan dengan masalah ekonomi masa depan, seperti memiliki pekerjaan bergaji
tinggi dan memiliki rumah terletak di keluarga, sekolah, dan tempat kerja remaja
(Grabowski, Mortimer & call, dalam Duane Brown, 2002)
Menurut Brown Pilihan karir dan pengembangannya sangat dipengaruhi oleh
luas perbedaan lintas-nasional dalam struktur pendidikan dan pekerjaan dan hubungan
antara lembaga-lembaga. Struktur lembaga pendidikan dan pasar tenaga kerja
mempengaruhi seseorang dalam membentuk karir, sehingga diperlukan cara-cara untuk
8

pengaturan kelembagaan agar dapat memberikan pengalaman pribadi, peluang, dan hasil
karir bagi seseorang. Pengaturan kelembagaan menghubungkan latar belakang keluarga
dan tingkat pendidikan, serta penempatan awal dan kemudian dalam struktur pekerjaan.
Selain itu ketidak setaraan ras, kelas, dan jenis kelamin terus mempengaruhi penempatan
track atau kemampuan kelompok dalam pemilihan karir. Fitur-fitur struktural sekolah,
seperti sektor, ukuran, dan kategori dan komposisi ras, diperkirakan menghasilkan
ketidakadilan dalam lingkungan belajar dan kesempatan kerja berikutnya.
Konteks Pembuatan Keputusan Karir, Brown menjelaskan ada 6 faktor yang
mempengaruhi seseorang dalam menentukan keputusan karirnya. Yaitu keluarga,
pekerjaan, masyarakat, pendidikan, masa depan dan pilihan karir.
1. Keluarga
Posisi sosial ekonomi keluarga memiliki implikasi penting untuk
pengembangan nilai-nilai reward kerja. Nilai-nilai ini, juga disebut bekerja atau nilai
pekerjaan, adalah penilaian dari pentingnya berbagai manfaat yang ditawarkan
melalui kerja. Dalam penelitian sosiologis pada pilihan pekerjaan dan pencapaian
pekerjaan telah difokuskan pada pemilihan pekerjaan orangtua sebagai konteks
pengembangan kejuruan anak. Ciri-ciri pekerjaan orangtua diperkirakan akan
mempengaruhi nilai-nilai dan kepribadian anak, yang pada gilirannya akan
membentuk perilaku meniru orangtua. Melalui orientasi kondisi kerja orangtua
dalam membesarkan anak mempengaruhi perilaku anak-anak dan remaja untuk
mengembangkan minat, nilai-nilai, dan aspirasinya.
Menurut Kohn & Schooler (Duane Brown, 2002) kesuksesan pekerjaan
orangtua akan melahirkan ketertarikan dalam pekerjaan yang sesuai keinginan
orangtua ataupun sama dengan pekerjaan orangtua. Selain itu posisi ekonomi
orangtua mempengaruhi nilai-nilai kerja anak dan pada akhirnya akan sampai pada
9

pencapaian pekerjaan anak (Mortimer, Lorence, & Kumka, 1986). Vondracek, dan
Crouter (1984) menyimpulkan bahwa pengaruh keluarga pada pengembangan karir
anak terletak di sepanjang dua dimensi:
a. dengan memberikan kesempatan (misalnya, pendidikan, keuangan, informasi),
b. melalui sosialisasi (misalnya, melalui praktik pengasuhan dan hubungan
orangtua-anak)
2. Pekerjaan
Pengalaman kerja remaja penting sebagai salah satu bagian dari konfigurasi
yang lebih besar dari kegiatan di luar sekolah. Kerja remaja memiliki potensi untuk
mempengaruhi pilihan karir dan pengembangan dalam berbagai cara. Pekerjaan awal
berfungsi sebagai perkenalan pertama-tangan untuk pekerjaan dan dengan demikian
memiliki potensi untuk membentuk kebiasaan kerja, sikap, dan kepentingan kerja.
Misalnya, kerja dapat membantu memperjelas kepentingan pekerjaan seorang
remaja dan nilai-nilai dan mendorong remaja untuk mempertimbangkan apa yang
dia anggap "baik." Bahkan pekerjaan yang tidak diinginkan dapat menginspirasi
berpikir tentang jenis pekerjaan yang ingin dilakukan dan kredensial yang
dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan atau karir yang memuaskan. Selain itu,
pengalaman kerja dapat membangun modal manusia, memungkinkan orang muda
untuk memikirkan upah yang lebih tinggi ketika mereka bergerak dari satu pekerjaan
ke pekerjaan lain, dan dapat berfungsi sebagai penyangga terhadap pengangguran
karena mereka belajar bagaimana untuk mencari dan mempertahankan pekerjaan.
Selain hasil-hasil sosial-psikologis remaja yang kerja, kerja dapat
mengajarkan remaja mengenai penting keterampilan jobseeking, seperti di mana dan
bagaimana untuk mencari pekerjaan dan bagaimana berperilaku selama wawancara
pekerjaan. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengumpulkan pengalaman kerja
10

dan dalam hal ini remaja yang sudah bekerja memiliki efek positif pada pencapaian
kerja dewasa, yang diukur dengan jam kerja dan upah yang diterima.
3. Masyarakat
Pilihan pekerjaan dan pencapaian yang dibentuk oleh kondisi pasar tenaga
kerja masyarakat ini sangat penting pada saat masuk angkatan kerja, seperti
penempatan awal mempengaruhi lintasan karir kerja berikutnya. Jenis-jenis industri
yang ada di masyarakat sangat bervariasi, dan danya industri tertentu dan berbagai
industri mempengaruhi pekerjaan di mana pria dan wanita dapat digunakan segai
bagian dari industri tersebut.
Tumbuh di berbagai jenis masyarakat mempengaruhi apa yang orang-orang
muda mencari dalam kehidupan kerja mereka, sebagai nilai-nilai mereka dibentuk
oleh orang-orang di sekitar mereka, serta kondisi hidup lokal. Untuk pemuda
pedesaan yang ingin melanjutkan bekerja setelah lulus dari sekolah, mereka lebih
erat dipusingkan dengan keputusan tentang apakah akan meninggalkan komunitas
rumah atau masyarakat sekitarnya. Penduduk pedesaan sering merasa ikatan yang
kuat kepada masyarakat dan keluarga mereka, dan bergerak mengganggu tujuan
utamanya tersebut. Namun orang-orang muda yang ingin "maju" cenderung
meninggalkan komunitas rumahnya. Bagi banyak pemuda pedesaan yang ingin
mengejar gelar sarjana, mereka harus menghadapi keputusan untuk keluar dari
komunitas mereka untuk mencapai tujuan ini, dan mereka mungkin tidak dapat
kembali jika mereka ingin mencari pekerjaan yang cocok.
Pilihan Koneksi kerja sering dibuat bersama-sama dengan keputusan
mengenai arena kehidupan lainnya, termasuk sekolah dan keluarga. Pilihan karir,
seperti yang kita ketahui, tidak hanya melibatkan pengambilan keputusan tentang
apa jenis pekerjaan di mana untuk bekerja, tetapi juga melibatkan keputusan yang
11

menyertai tentang pendidikan dan pelatihan, di mana, berapa banyak, dan kapan
harus bekerja. Semua keputusan ini mungkin dibentuk oleh peran orang lain,
termasuk pasangan dan orang tua. Sebagian besar hubungan sosiologi dengan
pekerjaan telah difokuskan pada cara di mana kehidupan keluarga mempengaruhi
kerja (Perry-Jenkins, Repetti, & Crouter, 2000).
Aspirasi remaja dan orientasi lain menuju masa depan mencerminkan
beberapa kesadaran tentang bagaimana karir dan kehidupan keluarga mempengaruhi
satu sama lain. Dalam berbagai cara, orang-orang muda dengan ambisi tinggi
berharap untuk mengkoordinasikan waktu pembentukan keluarga mereka dengan
investasi karir mereka. Mengejar beberapa karir dapat difasilitasi dengan menunda
pembentukan keluarga, dan keputusan dapat dibuat dengan pikiran ini. Perempuan
muda yang memiliki ambisi prestasi pendidikan dan pekerjaan yang lebih tinggi,
merencanakan untuk menikah pada usia yang lebih tua daripada rekan-rekan pria
mereka.
4. Pendidikan
Jalur pembentukan karir dan keluarga yang dijalin bersama di tahun-tahun
dewasa awal membentuk keterbatasan seseorang akan pemilihan karirnya. Pada
kasus perempuan biasanya orangtua akan membatasi pencapaian pendidikan
perempuan. Usia di mana pria dan wanita muda memasuki peran keluarga secara
historis memiliki konsekuensi penting bagi pencapaian kerja. Untuk wanita dengan
tingkat pendidikan yang lebih rendah, dan bagi wanita yang melahirkan anak yang
relatif awal. Selain tanggung jawab mengasuh anak, banyak pekerja merawat orang
tua mereka yang sudah mulai menua atau anggota keluarga yang lebih tua lainnya,
dan ini juga membentuk kinerja dan kepuasan mereka dengan pekerjaan.

12

5. Melihat Masa Depan
Dalam era sebelumnya, pilihan karir dan pengembangan karir diharapkan
terjadi selama masa remaja. Masa remaja dianggap waktu eksplorasi kejuruan dan
pembentukan identitas vokasional setelah menyelesaikan sekolah menengah,
kebanyakan orang memasuki angkatan kerja penuh waktu dan setelah beberapa
eksplorasi lebih lanjut, tertarik ke arah pekerjaan yang akan menjadi karir penuh
waktu mereka.
6. Pilihan
kesulitan pemuda dalam membuat transisi dari sekolah ke dunia kerja telah
semakin diakui dan terkait dengan tidak adanya jembatan institusional. Sekolah
belum mengambil keuntungan penuh dari fakta bahwa sebagian besar remaja pada
kenyataannya memiliki potensi kesiapan kerja. Banyak lagi yang bisa dilakukan
untuk mengintegrasikan pengalaman mereka di tempat kerja dan di sekolah.
Misalnya, orang-orang muda mungkin akan didorong untuk membahas imbalan dan
tantangan, serta masalah-masalah yang mereka hadapi pada pekerjaan mereka, untuk
meningkatkan kesadaran akan berbagai peluang yang hadir di tempat kerja. Mereka
mungkin akan ditawarkan kesempatan untuk menulis tentang pengalaman mereka
bekerja dalam makalah mereka dan tugas-tugas sekolah lainnya, untuk
mencerminkan, khususnya, pada apa yang mereka suka dan tidak suka tentang
pekerjaan mereka, sehingga menjadi semakin sadar akan kepentingan kejuruan yang
relevan mereka sendiri, preferensi, dan kemampuan.

Dengan Bimbingan dan karir konselor dapat mengenali, dan membantu klien
mereka, bahwa pilihan karir bukanlah peristiwa satu kali tapi beberapa keputusan
memiliki implikasi jangka panjang untuk peluang karir yang sedang berlangsung.
13

Dengan perubahan yang cepat di sektor ketenagakerjaan, pilihan pekerjaan tidak dapat
diprediksi jauh ke masa depan. Kepentingan kerja dan nilai-nilai juga dapat mengubah
cukup selama hidup (Johnson, 2001b).
Perpanjangan transisi ke masa dewasa, seperti yang kita ketahui, telah dikaitkan
dengan keterlambatan dalam kejuruan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang
serius. Akibatnya, banyak kaum muda yang tersisa untuk membuat keputusan
konsekuensial pada saat peluang telah menyempit dan mereka telah pindah dari lembaga
pelindung dari masa kanak-kanak dan remaja-keluarga dan sekolah-mana ada orang
dewasa yang tujuan utama itu adalah untuk membimbing mereka. Melibatkan orang-
orang muda dalam berpikir tentang pekerjaan dan membuat eksplorasi tentatif (tetapi
tidak harus memutuskan jalur karier) lebih awal daripada yang diinginkan kemudian.
Bimbingan dan karir konselor dapat bekerja untuk membangun pengetahuan
klien mereka tentang pendidikan, pelatihan, dan persyaratan keterampilan pekerjaan
yang berbeda. Penelitian sosiologis dalam tradisi pencapaian status mengidentifikasi
aspirasi untuk masa depan sebagai pusat penting bagi keberhasilan karier. Generasi
kontemporer dari remaja memiliki aspirasi tinggi untuk pencapaian pendidikan dan
pekerjaan tetapi mengalami kesulitan yang lebih besar membuat rencana yang jelas
untuk mencapai ambisi mereka (Schneider & Stevenson, 1999).
Melalui Bimbingan dan karir konselor dapat mendorong kaum muda untuk
mengambil pendekatan konstruktif untuk pengalaman kerja awal mereka dengan
memberikan kesempatan untuk mendiskusikan apa yang mereka suka dan tidak suka
tentang pekerjaan mereka, serta keterampilan apa atau mengalami pekerjaan
menyediakan yang mungkin berguna bagi mereka dalam masa depan. Jika
memungkinkan, konselor dapat mendorong remaja untuk memilih pekerjaan yang
memberikan pengalaman yang berarti dengan cara ini. Seperti yang kita catat
14

sebelumnya, peluang yang ada bagi sekolah untuk mengambil keuntungan yang lebih
besar dari fakta bahwa siswa mereka bekerja dengan mengintegrasikan pekerjaan dan
sekolah pengalaman untuk kepentingan pengembangan kejuruan remaja.
Bimbingan dan karir konselor dapat membantu individu dalam posisi tidak
diuntungkan dengan menavigasi jalur karir dan menghadapi hambatan umum untuk
mencapai tujuan pendidikan dan pekerjaan mereka. Individu menghadapi banyak
hambatan struktural dalam mengejar tujuan kerja mereka, beberapa dari kami yang telah
dijelaskan dalam bab ini; ada pula yang terkait dengan ras siswa atau etnis, latar
belakang kelas, dan jenis kelamin. Meskipun struktur pasar tenaga kerja tidak berada di
bawah kontrol langsung dari konselor karir, bantuan dapat diberikan, misalnya, dalam
hal:
a. mengidentifikasi sumber-sumber bantuan keuangan untuk pendidikan dan pelatihan
kerja dan membantu klien dengan materi aplikasi dan prosedur,
b. membahas dan melatih berbagai strategi pekerjaan-mencari,
c. mendorong akumulasi keterampilan bermakna dan identitasnya, termasuk
penyelesaian SMA dan sertifikat berpotensi postsecondary atau derajat.
Pemilihan karir dalam perspektif sosiologi dan pengembangannya menjadi
semakin diperlukan sebagai wahana untuk memahami masyarakat, kelembagaan, dan
mikro kontekstual lingkungan yang beragam dari dunia modern yang mempengaruhi
proses ini. Mekanisme mobilitas antargenerasi dan intragenerational, dan faktor-faktor
penentu sosial ekonomi baik dewasa menjadi hal ini juga diperlukan untuk
menginformasikan kebijakan sosial yang akan memungkinkan orang untuk membuat
pilihan pekerjaan yang memuaskan dan untuk mendapatkan memenuhi karir kerja yang
akan memperpanjang sepanjang hidup.

15

BAB III
DAFTAR PUSTAKA

Brown, Duane and Associates. 2002. Career Choice and Development. 4th Edition. John
Wiley &Sons, Inc.
Gibson, R. L. & Mitchell, M. H. (1995). Introduction to Counseling and Guidence. 4th
Edition. Boston: Allyn and Bacon.
Samuel H. Osipow. 1983. Theories Of Career Developmen. Edisi ke-3. New Jersey: Prentice
Hall, Inc.
Zunker, Vernon G. (1986). Career Counseling: Applied Concepts of Life Planning. Second
Edition. Chapter 2: Theories of Career Development. Monterey. California:
Brooks/Cole Publishing Company

Anda mungkin juga menyukai