Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

VOLUME MOLAL PARSIAL















Nama : Linda Faiqotul Himmah
NIM : 121810301024
Kelompok : 2
Asisten : Yuda A










LABORATORIUM KIMIA FISIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Volume larutan ideal adalah jumlah volum komponen-komponennya. Banyak hal yang
berhubungan dengan volume molal parsial hanya saja tidak menyadarinya. Contoh yang paling
sederhana yaitu sirup dan air dimana keduanya berinteraksi. Campuran ini juga merupakan
larutan biner yang mempunyai komposisi tertentu. Campuran dapat dibedakan menjadi
campuran homogen dan campuran heterogen secara molekulernya. Campuran cair-cair atau
larutan-larutan tentunya juga memiliki sifat-sifat parsial seperti halnya yang terjadi pada
campuran gas. Sifat-sifat ini yang membantu dalam menjelaskan bagaimana nantinya komposisi
dari suatu campuran dan dapat digunakan untuk menganalisis sifat-sifatnya. Sifat parsial lain
yang paling mudah digambarkan adalah volume molar gas. Mempelajari volume molar parsial,
dapat membantu kita menentukan seberapa banyak zat A atau zat B yang ada dalam suatu
campuran (Dogra, 1990).
1.2 Tujuan
Percobaan ini mempunyai tujuan, yaitu menentukan volume molal parsial komponen dalam
larutan.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Material Safety Data Sheet (MSDS)
2.1.1. Akuades
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H
2
O, satu molekul air tersusun atas dua
atom hidrogen yang terikat secara kovalen. Air memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak
zat kimia lainnya, seperti garam, gula, asam, beberapa jenis gas, dan banyak macam molekul
organik. Nama lain dari air adalah dihidrogen monoksida atau hidrogen hidroksida. Air
merupakan jenis senyawa liquid yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau pada
keadaan standar. Massa molar dari air adalah 18,01528 g/mol. Titik didih air sebesar 100 C
(373,15 C) sedangkan ttik lelehnya 0 C ( 273,15 C). Massa jenis air sebesar 1000 kg/cm3 dan
viskositasnya 0,001 Pa/s (20 C). Sifat dari bahan ini adalah non-korosif untuk kulit, non-iritasi
untuk kulit, tidak be untuk kurbahaya untuk kulit, non-permeator oleh kulit, tidak berbahaya
dalam kasus konsumsi. Bahan ini juga tidak berbahaya dalam kasus inhalasi. Identifikasi yang
lainnya yaitu non-iritasi untuk paru-paru dan non-korosif terhadap mata (sciencelab, 2014).
2.1.2. NaCl
Natrium klorida mempunyai wujud cairan pada suhu ruang, mempunyai bau yang khas.
Garam ini mempunyai berat molekul sebesar 119.38 g/mol serta tidak berwarna. Titik didih dan
titik lelehnya berturut turut yaitu 1413 C atau setara dengan 2575,4 F dan 801 C yang setara
dengan 1473,8 F. zat ini juga mempunyai suhu kritis sebesar 263.33 C (506 F). Gravitasi
spesifik bahan ini yaitu 1.484 serta tekanan uapnya sebesar 21.1 kPa pada suhu 20 C. garam ini
sangat larut dalam air dingin. Kasus terjadi kontak , segera basuh mata dengan banyak air selama
setidaknya 15 menit. Kasus kontak kulit harus segera siram kulit dengan banyak air (sciencelab,
2014).
2.2. Pustaka
Molalitas atau molal dapat di definisikan sebagai jumlah mol solute per kg solven. Berarti
merupakan perbandingan antara jumlah mol solute dengan massa solven dalam kilogram




Larutan 1,00 molal maka larutan tersebut mengandung 1,00 mol zat terlarut dalam 1,00 kg
pelarut ( Brady, 1990).
Volum molar parsial adalah kontribusi pada volum dari satu komponen dalam sampel
terhadap volum total. Volum molar parsial komponen suatu campuran berubah ubah
tergantung pada komposisi, karena lingkungan setiap jenis molekul berubah jika komposisinya
berubah dari murni ke b murni. Perubahan lingkungan molekuler dan perubahan gaya yang
bekerja antara molekul inilah yang menghasilkan variasi sifat termodinamika campuran jika
komposisinya berubah ( Atkins,1993).
Termodinamika terdapat 2 macam larutan yaitu larutan ideal dan larutan tidak ideal. Suatu
larutan dikatakan ideal jika larutan tersebut mengikuti hukum Roult pada seluruh kisaran
komposisi sistem tersebut. Untuk larutan tidak ideal di bagi menjadi 2 yaitu:
1. Besaran molal parsial misalnya volume molal parsial dan entalpi
2. Aktivitas dan koefisien aktivitas
Secara matematis sifat molal parsial di definisikan sebagai berikut


Dimana J1 adalah sifat molal parsial dari komponen ke i. Secara fisik J n1J1 berarti
kenaikan dalam besaran termodinamik J yang di amati bila satu mol senyawa I ditambahkan ke
suatu sistem yang besar sehingga komposisinya tetap konstan ( Dogra,1990).
Secara matematik, volume molal parsial didefinisikan sebagai
(


dimana

adalah volume molal parsial dari komponen ke-i. Secara fisik

berarti kenaikan
dalam besaran termodinamik V yang diamati bila satu mol senyawa i ditambahkan ke suatu
sistem yang besar, sehingga komposisinya tetap konstan (Dogra.1990)..
Pada temperatur dan tekanan konstan, persamaan di atas dapat ditulis sebagai


, dan dapat diintegrasikan menjadi



Arti fisik dari integrasi ini adalah bahwa ke suatu larutan yang komposisinya tetap, suatu
komponen n
1
, n
2
,..., n
i
ditambah lebih lanjut, sehingga komposisi relatif dari tiap-tiap jenis tetap
konstan. Karenanya besaran molal ini tetap sama dan integrasi diambil pada banyaknya mol
(Dogra, 1990).
Massa jenis suatu zat dapat ditentukan dengan berbagai alat, salah satunya piknometer.
Piknometer adalah suatu alat yang terbuat dari kaca, bentuknya menyerupai botol parfum atau
sejenisnya. Jadi, piknometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa jenis
atau densitas fluida. Beberapa macam ukuran piknometer, tetapi umumnya volume piknometer
yang banyak digunakan adalah 10 ml dan 25 ml, dimana nilai volume ini valid pada
temperatureyang tertera pada piknometer tersebut. Piknometer terdiri dari 3 bagian, yaitu:
Tutup pikno : bagian tutup mempunyai lubang berbentuk saluran kecil.
Termometer : mengamati bahwa zat yang diukur memiliki suhu yang tetap.
Labu dari gelas: tempat meletakkan zat yang akan di ukur massa jenisnya.
Penerapan atau aplikasi penentuan volume molal parsial yakni berfungsi dalam volume molar
parsial protein, analisis dekomposisi volume, Perubahan volume pada transisi struktural protein,
dan perubahan volume pada ligan mengikat protein (Imai, 2007).

BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Piknometer
Erlenmeyer
Labu ukur
Gelas beaker
Gelas ukur
3.1.2 Bahan
NaCl 3,0 M
Akuades
3.2 Cara Kerja

diencerkan lrutan dengan konsentrasi 1,5 M; 0,75 M; 0,375 M; 0,1875 M dari
konsentrasi semula.
ditimbanglah piknometer kosong (We), piknometer penuh dengan aquades (W0),
ditimbang piknometer yang berisi larutan NaCl (W) dan dicatat massa masing-masing
dicatat temperatur di dalam piknometer serta densitas larutan


200 ml larutan NaCl 3,0 M
aquades
Hasil
aquades
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data
No. Konsentrasi Massa piknometer
kosong
Massa Piknometer
+ zat
Suhu
1. 0,1875 M
31,901 g
41,883 g 28,0C
41,934 g 28,5C
41,907 g 28,2C
Rata-rata 41,908 g 28,2C
2. 0,375 M
32,126 g
41,927 g 28,5C
41,914 g 29,0C
41,968 g 28,5C
Rata-rata 41,936 g 28,7 C
3. 0,75 M
32,118
42,053 g 28,5C
42,042 g 29,0C
42,153 g 28,5C
Rata-rata 42,083 g 28,7 C
4. 1,5 M
31,973 g
42,300 g 29,0 C
42,214 g 28,5 C
41,732 g 29,0 C
Rata-rata 42,082 g 28,8 C
5 Aquades
31,95 g
41,740 g 29,0 C
41,830 g 28,0 C
41,860 g 28,0 C
Rata-rata 41,810 g 28,3 C

4.2 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan untuk menentukan volume molal parsial komponen suatu
larutan. Volume molal parsial merupakan kontribusi pada volume dari suatu komponen dalam
sampel terhadap volume total.
Percobaan menggunakan larutan NaCl dan akuades. Alasan penggunaan NaCl dikarenakan
NaCl merupakan larutan elekrolit kuat yang akan terurai menjadi ion Na
+
dan Cl
-
di dalam air
dan mampu menyerap air tanpa adanya penambahan volume suatu larutan, sehingga disebut
dengan volume molal parsial semu.
Percobaan diawali dengan menimbang berat piknometer kosong dan berat piknometer yang
berisi akuades. Tujuan mengukur berat piknometer disini karena hasil berat piknometer kosong
dan berat piknometer berisi akuades akan digunakan dalam proses penghitungan volume
piknometer nantinya, dimana berat piknometer kosong diasumsikan sebagai We dan berat
piknometer berisi akuades diasumsikan sebagai Wo.
Hal yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu melakukan pengenceran dari 3,0 M NaCl
menjadi larutan dengan konsentrasi 1,5 M; 0,75 M; 0,375 M; 0,1875 M dari konsentrasi semula.
Langkah selanjutnya yaitu penimbangan 10 mL larutan untuk masing masing konsentrasi
dengan piknometer. Penimbangan ini dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Proses
penimbangan piknometer yang berisi larutan dimulai dari konsentrasi larutan rendah ke
konsentrasi tinggi, sehingga saat selesai ditimbang piknometer tidak perlu dicuci terlebih dahulu
hingga benar-benar bersih. Hal ini dikarenakan konsentrasi yang kecil tidak akan mempengaruhi
banyaknya zat atau pengaruhnya diabaikan karena terlalu kecil. Konsentrasi larutan yang besar
dapat mempengaruhi konsentrasi yang kecil dimana dimungkinkan akan menambah konsentrasi
menjadi lebih besar walaupun tidak terlalu besar.
Penimbangan dilakukan triplo sehingga menghasilkan nilai massa rata-rata piknometer dan
zat pada konsentrasi 1,5 M ; 0,75 M; 0,375 M dan 0,1875 M masing-masing adalah 41,908 g;
41,936 g; 42,083 g dan 42,082 g. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa semakin tinggi
konsentrasi larutan maka semakin berat pulapiknometer. Hal ini dapat terjadi karena penyusun
dari larutan NaCl yang memiliki konsentrasi besar lebih banyak mengandung zat NaCl daripada
air sehingga beratnya menjadi lebih besar.
Massa yang diperoleh ini tentunya akan mempengaruhi berat jenis larutan, dimana berat
jenis dapat diperoleh dari proses penghitungan pembagian antara berat larutan dengan volume
larutan. Perbedaan konsentrasi larutan NaCl juga pasti akan menghasilkan densitas yang
berbeda-beda pula, dimana semakin tinggi konsentrasi larutan maka densitasnya juga semakin
besar. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, menunjukkan jumlah
partikel dalam larutan tersebut semakin banyak. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan hasil
percobaan yang menyatakan bahwa saat konsentrasi larutan NaCl tertinggi yaitu 1,5 M, larutan
memiliki nilai densitas 1,0237 g/ml. Konsentrasi 0,75 M densitas yang diperoleh sebesar 1,0242
g/ml, pada konsentrasi 0,375 M densitasnya 1,009 g/ml, dan pada konsentrasi terendah yakni
0,1875 M densitasnya 1,006 g/ml. Kesalahan terjadi pada konsentrasi 1,5 M dan 0,75 M dimana
densitas konsentrasi 0,75 M lebih besar. Hal ini terjadi dikarenakan pengukuran volume yang
kurang teliti sehingga massa yang didapatkan mempengaruhi densitas yang diperoleh. Uraian
tersebut secara garis besar menyatakan bahwa nilai densitas suatu larutan berbanding lurus
dengan nilai konsentrasi larutan tersebut.
Langkah selanjutnya yaitu menghitung molalitas larutan untuk mengetahui nilai molalitas
yang dapat diketahui menggunakan rumus
1000
Mr
M
d
1
M


Hasil dari pehitungan molalitas larutan NaCl dengan variasi konsentrasi 0,188 M ; 0,375 M ;
0,75 M dan 1,5 M adalah 0,188 mol.g
-1
; 0,379 mol.g
-1
; 0,765 mol.g
-1
dan 1,60 mol.g
-1
. Hasil
yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka molalitasnya juga semakin
tinggi. Hal ini disebabkan karena semakin besarnya konsentrasi maka mol zat terlarut yang
terdapat dalam larutan semakin banyak sehingga berpengaruh pada kenaikan molalitasnya.
Perhitungan berikutnya yaitu perhitungan nilai yaitu volume molal semu. Pengertian
volume molal semu adalah volume yang digunakan untuk menentukan volume molal komponen
larutan. Volume molal semu yang didapatkan dari yang kecil hingga besar berturut turut
109,86 cm
-3
/mol; 91,24 cm
-3
/mol; 91,45 cm
-3
/mol; dan 72,41 cm
-3
/mol. Hasilnya kemudian
diplotkan pada grafik.

y = -39.854x + 123.01
R = 0.885
0
20
40
60
80
100
120
0 0.5 1 1.5


m
1/2

lawan kkkk

Series1
Linear (Series1)



Grafik 1. hubungan antara dengan konsentrasi
Persamaan yang diperoleh yaitu y = -39,85x + 123,0 dan nilai R
2
= 0.885. Nilai R
2
ini
menunjukkan tingkat keakuratan dan kebenaran dari suatu percobaan. Nilai R
2
yang mendekati
1 menunjukkan bahwa hasil dari percobaan tersebut mendekati yang sempurna. Nilai R yang
didapatkan yaitu mendekati satu sehingga data yang dihasilkan mendekati kebenaran. Nilai


(slope) yang didapatkan sebesar -39,85. Nilai ini kemudian digunakan untuk mencari nilai
volume molal parsial V
1
.

Grafik 2. Hubungan antara volume molal pelarut dengan molaritas

Grafik 3. Hubungan antara volume molal pelarut dengan molaritas
y = -38.285x + 104.33
R = 0.9363
0
20
40
60
80
100
120
0 0.5 1 1.5 2
V
1


m
Grafik V
1
lawan m
Series1
Linear (Series1)
y = -41.189x + 69.11
R = 0.9196
0
10
20
30
40
50
60
70
80
0 0.5 1 1.5 2
V
2

m
Grafik V
2
lawan m
Series1
Linear (Series1)
Grafik hubungan antara volume molal pelarut dengan molalitas yaitu menghasilkan
sebuah persamaan y = -38,28 + 104,3 dan R
2
= 0.936. Grafik ini menjelaskan bahwa molalitas
berbanding terbalik dengan volume molal suatu zat. Sedangkan grafik hubungan antara volume
molal zat terlarut dengan molalitas y = -41,18x + 69,11 dan R
2
= 0.919. Grafik ini menjelaskan
bahwa molalitas berbanding terbalik dengan volume molal suatu zat. Hal ini tidak sesuai dengan
literature dimana semakin besar konsentrasinya maka semakin besar pula volume molal zat
terlarutnya
Hubungan antara suhu dengan dengan volume molal menurut literatur yaitu semakin
tinggi suhu maka kelarutan zat dalam larutan tersebut juga semakin besar. Maka semakin tinggi
suhu volume molal parsialnya juga akan semakin besar. Hal ini bisa dibuktikan jika kelarutan
suatu zat akan bertambah jika suhu dinaikkan dimana menyebabkan konsentrasinya juga
bertambah (Atkins, 1994). Percobaan kali ini tidak menghitung pengaruh suhu terhadap volume
molalitas, hanya data berupa suhu sampel pada saat ditimbang dimana suhu yang didapatkan
hampir sama pada setiap konsentrasi. Hal ini menyebabkan pengaruh terhadap suhu tidak dapat
diketahui.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini
a. Volume molal parsial merupakan suatu konstribusi volume suatu komponen dalam
sampel terhadap volume total pada tekanan, dan temperatur tetap.
b. Semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula berat jenis dan molalitasnya.
c. Semakin besar konsentrasi maka semakin besar juga volum molal parsial zat terlarut dan
berbanding terbalik dengan volume molal zat pelarut.
d. Volume molal parsial yang didapatkan untuk zat terlarut dari konsentrasi besar ke kecil
yaitu 5,51; 35,56; 44,36; 70,48.
e. Volume molal parsial berbanding terbalik dengan molalitas
5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum ini yaitu penambahan prosedur untuk mengetahui faktor
faktor apa saja yang memepengaruhi volume molalitas.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, PW. 1994. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.
Basuki, Atastrina Sri. 2003. BUKU PANDUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA. Depok:
Laboratorium Dasar Proses Kimia Departemen Teknik Gas dan Petrokimia Fakultas
Teknik Universitas Indonesia
Brady, Tony.1993. Kimia Untuk Universitas.Jakarta: Universitas Indonesia.
Dogra,SK.1990.Kimia Fisik dan soal soal.Jakarta:Universitas Indonesia.
Imai, T. 2007. Molecular Theory Of Partial Molar Volume and Its Applications To Biomolecular
Systems. Journal Of Condensed Matter Physics. Vol. 10, No 3(51). Hal 343-361.
Sciencelab. 2014. MSDS akuades [serial online]. www.sciencelab.com [diakses tanggal 30
September 2014]
Sciencelab. 2014. MSDS aspirin [serial online]. www.sciencelab.com [diakses tanggal 30
September 2014]

LAMPIRAN

No. Konsentrasi Massa piknometer
kosong
Massa Piknometer
+ zat
Suhu
1. 0,1875 M
31,901 g
41,883 g 28,0C
41,934 g 28,5C
41,907 g 28,2C
Rata-rata 41,908 g 28,2C
2. 0,375 M
32,126 g
41,927 g 28,5C
41,914 g 29,0C
41,968 g 28,5C
Rata-rata 41,936 g 28,7 C
3. 0,75 M
32,118
42,053 g 28,5C
42,042 g 29,0C
42,153 g 28,5C
Rata-rata 42,083 g 28,7 C
4. 1,5 M
31,973 g
42,300 g 29,0 C
42,214 g 28,5 C
41,732 g 29,0 C
Rata-rata 42,082 g 28,8 C
5 Aquades
31,95 g
41,740 g 29,0 C
41,830 g 28,0 C
41,860 g 28,0 C
Rata-rata 41,810 g 28,3 C




1. Perhitungan pengenceran NaCl
a. Volume NaCl 3 M yang dibutuhkanuntukpengencerankonsentrasi 0,1875 M
mL 125 , 3 V
M 3
mL 0 5 M 0,1875
V
M
V M
V
V M V M
1
1
1
2 2
1
2 2 1 1


b. Volume NaCl 3 M yang dibutuhkanuntukpengencerankonsentrasi 0,375 M
mL 25 , 6 V
M 3
mL 0 5 M 0,375
V
M
V M
V
V M V M
1
1
1
2 2
1
2 2 1 1


c. Volume NaCl 3 M yang dibutuhkanuntukpengencerankonsentrasi 0, 75 M
mL 5 , 12 V
M 3
mL 0 5 M 0,75
V
M
V M
V
V M V M
1
1
1
2 2
1
2 2 1 1


d. Volume NaCl 3 M yang dibutuhkanuntukpengencerankonsentrasi 1,5 M
mL 25 V
M 3
mL 0 5 M 1,5
V
M
V M
V
V M V M
1
1
1
2 2
1
2 2 1 1


2. PerhitunganNilai d (berat jenis larutanNaCl) pada setiap konsentrasi
g 810 , 41
3
g 41,860 g 41,830 g 41,740
w rata - Rata
0



a. Konsentrasi 0,1875 M
908 , 41
3
g 41,907 g 41,934 g 41,883
w rata - Rata

g
-
3
3
0
0
/ 0060 , 1
901 , 31 810 , 41
901 , 31 908 , 41
g/cm 99612 , 0
d d
cm g
g g
g g
w w
w w
e
e



b. Konsentrasi 0,375 M
g 936 , 41
3
g 41,968 g 41,914 g 41,927
w rata - Rata


-
3
3
0
0
/ 009 , 1
126 , 32 810 , 41
126 , 32 936 , 41
g/cm 99612 , 0
d d
cm g
g g
g g
w w
w w
e
e



c. Konsentrasi 0,75 M
083 , 42
3
g 42,153 g 42,042 g 42,053
w rata - Rata


3
3
0
0
/ 0242 , 1
118 , 32 810 , 41
118 , 32 083 , 42
g/cm 99612 , 0
d d
cm g
g g
g g
w w
w w
e
e



d. Konsentrasi 1,5 M
082 , 42
3
g 41,732 g 42,214 g 42,300
w rata - Rata


3
3
0
0
g/cm 0237 , 1
973 , 31 810 , 41
973 , 31 082 , 42
g/cm 99612 , 0
d d


g g
g g
w w
w w
e
e

3. Perthitungan nilai molalitas pada setiap konsentrasi
a. Konsentrasi 0,1875 M
188 , 0
1000
g/mol 58,5
M 0,1875
g/cm 1,006
1
1000
Mr
M
d
1
M
3


b. Konsentrasi 0,375 M
379 , 0
1000
g/mol 58,5
M 0,375
g/cm 1,009
1
1000
Mr
M
d
1
M
3


c. Konsentrasi 0,75 M
765 , 0
1000
g/mol 58,5
M 0,75
g/cm 1,0242
1
1000
Mr
M
d
1
M
3



d. Konsentrasi 1,5 M
603 , 1
1000
g/mol 58,5
M 1,5
g/cm 1,0237
1
1000
Mr
M
d
1
M
3



4. Perhitungan nilai (volume molal semu zat terlarut) pada setiap konsentrasi
a. Konsentrasi 0,1875 M
86 , 09 1
006 , 1
)
901 , 31 810 , 41
810 , 41 908 , 41
)(
188 , 0
1000
5 , 58 ( 5 , 58

) )(
1000
(
0
0

d
w w
w w
m
Mr Mr
e


b. Konsentrasi 0,375 M
24 , 91
009 . 1
)
126 , 32 810 , 41
810 , 41 936 , 41
)(
379 , 0
1000
5 , 58 ( 5 , 58

) )(
1000
(
0
0

d
w w
w w
m
Mr Mr
e


c. Konsentrasi 0,75 M
45 , 91
0242 . 1
)
118 , 32 810 , 41
810 , 41 083 , 42
)(
765 , 0
1000
5 , 58 ( 5 , 58

) )(
1000
(
0
0

d
w w
w w
m
Mr Mr
e



d. Konsentrasi 1.5 M
41 , 72
0237 . 1
)
973 , 31 810 , 41
810 , 41 082 , 42
)(
603 , 1
1000
5 , 58 ( 5 , 58

) )(
1000
(
0
0

d
w w
w w
m
Mr Mr
e



5. Perhitungan m
a. Konsentrasi 0,1875
m =0,434
b. Konsentrasi 0,375
m =0,615
c. Konsentrasi 0, 75
m =0,874
d. Konsentrasi 1,5
m =1,266


Dari persamaan garis tersebut diperoleh
m d
d
= -39,854
6. Perhitungan Nilai V
1
(volume molalpelarut) pada setiap konsentrasi
a. Konsentrasi 0,1875 M
16 , 104
) -39,854 ( ) 434 , 0
2
0,434
( 109,86
) )(
2
( V
1



m d
d
m
m


b. Konsentrasi 0,375 M
62 , 81
) 854 , 39 ( ) 615 , 0
2
0,615
( 91,24
) )(
2
( V
1



m d
d
m
m


c. Konsentrasi 0,75 M
17 , 75
) 854 , 39 ( ) 874 , 0
2
0,874
( 91,45
) )(
2
( V
1



m d
d
m
m


d. Konsentrasi 1,5 M
y = -39.854x + 123.01
R = 0.885
0
20
40
60
80
100
120
0 0.5 1 1.5


m
1/2

lawan m
1/2
Series1
Linear (Series1)
02 , 44
) -39,854 ( ) 266 , 1
2
1,266
( 72,41
) )(
2
( V
1



m d
d
m
m


Grafik v1 vs m










7. Perhitungan Nilai V
2
(volume molar zatterlarut ) pada setiap konsentrasi
a. Konsentrasi 0,1875 M
48 , 70
) 854 , 39 )(
2
434 , 0 3
( 86 , 109
) )( 2 3 ( V
2


m d d m

b. Konsnetrasi 0,375 M
36 , 44
) 854 , 39 )(
2
615 , 0 3
( 24 , 91
) )( 2 3 ( V
2


m d d m

c. Konsentrasi 0,75 M
56 , 35
) 854 , 39 )(
2
874 , 0 3
( 45 , 91
) )( 2 3 ( V
2


m d d m


y = -38.285x + 104.33
R = 0.9363
0
20
40
60
80
100
120
0 0.5 1 1.5 2
v

1

m
GRAFIK V1 vs m
Series1
Linear (Series1)
d. Konsentrasi 1,5 m
15 , 5
) 854 , 39 )(
2
266 , 1 3
( 41 , 72
) )( 2 3 ( V
2


m d d m

Grafik v2 vs m






y = -41.189x + 69.11
R = 0.9196
0
20
40
60
80
0 0.5 1 1.5 2
v

2

m
GRAFIK V2 vs m
Series1
Linear (Series1)