Anda di halaman 1dari 24

IDENTIFIKASI PERAN PNPM MANDIRI PEDESAAN

TERHADAP PENINGKATAN PEMBANGUNAN WILAYAH


KECAMATAN PRAMBON KABUPATEN NGANJUK

Proposal Penelitian
Oleh:
RIMA DWI SHINTA
110721435145/B



UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
Maret 201
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tujuan negara Indonesia dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara
lain memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kesejahteraan umum dapat ditingkatkan apabila kemiskinan dapat dikurangi, sehingga
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat dilakukan melalui upaya
penanggulangan kemiskinan.
Permasalahan utama dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia adalah
dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang tidak merata di seluruh wilyah Indonesia
yang menyebabkan pembangunan tidak merata. Karena adanya tingkat pendapatan
antar daerah berbeda dan kemiskinan merupakan hubungan sebab akibat, artinya tingkat
kemiskinan yang tinggi terjadi karena rendahnya pendapatan perkapita
Salah satu program penanggulangan kemiskinan di Indonesia adalah PNPM
Mandiri yang dimulai sejak tahun 2007. PNPM Mandiri sebagai salah satu kebijakan
nasional penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja yang dilaksanakan
dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dimaksudkan untuk memperbaiki
stabilitas sosial, membuka lapangan kerja, dan menciptakan aset untuk kelompok
miskin. Kelompok masyarakat yang dimaksudkan untuk menghilangkan pembedaan
penduduk miskin dan menjadi model jaringan pengaman sosial.
Melalui PNPM Mandiri masyarakat dituntut untuk dapat berpartisipasi aktif dalam
setiap tahapan pelaksanaan program mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan
kegiatan sampai tahap evaluasi maupun pemeliharaan, untuk mencapai tujuan tersebut
tentu dibutuhkan kerjasama dari semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat.
Pelaksanaan PNPM Mandiri pada 2007 dimulai dengan Program Pengembangan
Kecamatan (PPK)

sebagai dasar pengembangan pemberdayaan masyarakat di pedesaan
beserta program pendukungnya seperti PNPM Generasi, Program Penanggulangan
Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) sebagai dasar bagi pengembangan pemberdayaan di
perkotaan; dan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK)
untuk pengembangan daerah tertinggal, pasca bencana, dan konflik. Mulai tahun 2008
PNPM Mandiri diperluas dengan melibatkan Program Pengembangan Infrastruktur
Sosial Ekonomi (PISEW) untuk mengintegrasikan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
dengan daerah disekitarnya dan Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) ,
yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui perbaikan akses
masyarakat miskin terhadap infrastruktur perdesaan. Selain itu ada PNPM Agribisnis
Perdesaan, PNPM Mandiri kelautan dan perikanan, PNPM Mandiri Pariwisata dan
PNPM Mandiri Perumahan Permukiman. Kegiatan PNPM Mandiri Pedesaan ini yaitu
kegiatan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, Simpan Pinjam kelompok Perempuan
(SPP) dan kegiatan peningkatan kapasitas Usaha Ekonomi Produktif (UEP).
PNPM Mandiri pada tahun 2009 dilaksanakan di 33 propinsi, 465 kabupaten/kota
dan 6.408 kecamatan sedang pada tahun 2010 6.328 kecamatan atau berkurangnya 80
kecamatan. Pengurangan ini disebabkan karena kecamatan sudah menerima Bantuan
Langsung Masyarakat (BLSM) selama tiga tahun berturut-turut yang dipandang telah
mandiri.
Visi PNPM Mandiri Perdesaan adalah tercapainya kesejahteraan dan kemandirian
masyarakat miskin perdesaan.Kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar
masyarakat. Kemandirian berarti mampu mengorganisir diri untuk memobilitas sumber
daya yang ada di lingkungannya, mampu mengakses sumber daya di luar
lingkungannya, serta mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah
kemiskinan. Misi PNPM Mandiri Perdesaan adalah : 1. Peningkatan kapasitas
masyarakat dan kelembagaannya, 2. Pelembagaan sistem pembangaunan pastisipatif, 3.
Pengektifan fungsi dan peran pemerintah lokal; 4. Peningkatan kualitas dan kuantitas
prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi masyarakat; 5 . pengembangan jaringan
kemitraan dalam pembangunan. PNPM Mandiri ini dihaparkan memberikan hasil antara
lain, PNPM Mandiri sebagai kerangka kebijakan nasional yang menjadi acuan
pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat,
meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat bahwa PNPM merupakan
program yang berusaha memandirikan masyarakat miskin sehingaa bisa keluar dari
lingkaran kemiskinan melalui program dari, oleh dan untuk masyarakat.
Strategi yang dikembangkan PNPM Mandiri Perdesaan dalam rangka mancapai
visi dan misi PNPM Mandiri Perdesaan yaitu menjadikan masyarakat miskin sebagai
kelompok sasaran, menguatkan sistem pembangunan partisipatif, serta mengembangkan
kelembagaan kerja sama antar desa. Berdasarkan visi, misi dan strategi yang
dikembangkan, maka PNPM Mandiri Perdesaan lebih menekankan pentingnya
pemberdayaan sebagai pendekatan yang dipilih. Melalui PNPM Mandiri Perdesaan
diharapkan masyarakat dapat menuntaskan tahapan pemberdayaan yaitu tercapainya
kemandirian dan berkelanjutan setelah tahapan pembelajaran dilakukan melalui
Program Pembangunan Kecamatan.
Kabupaten Nganjuk merupakan daerah yang memiliki potensi pada bidang
pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Dengan demikian
diharapakan adanya PNPM Mandiri dapat menjadi sarana dalam memecahkan
permasalahan pembangunan wilayah. Dengan adanya pengadaan pemberdayaan
tersebut membawa pengaruh positif terhadap kondisi ekonomi dan sosial masyarakat
kabupaten Nganjuk. Sehingga kabupaten Nganjuk dapat dikembangkan dengan baik,
tidak hanya pada potensi pertaniannya saja tetapi juga potensi pariwisata dan
kebudayaan sehingga meningkatkan pembangunan wialayah yang membawa dampak
pada perekonomian masyarakat. Kabupaten Nganjuk terdiri dari 20 kecamatan dan 284
desa/kelurahan.
Kecamatan Prambon merupakan salah satu kecamatan yang berada di perbatasan
antara Kabupaten Nganjuk dengan Kabupaten Kediri. Di kecamatan Prambon Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan dilaksanakan hampir
diseluruh wilayah kecamatan yang terdiri dari 14 desa yang dimulai sejak Tahun 2008.
Sebagaimana yang telah ditentukan dalam PTO maka prinsip pelaksanaan PNPM-MP
di kecamatan Prambon yaitu: (a) bertumpu pada pembangunan manusia; (b) otonomi;
(c) desentralisasi; (d) berorientasi pada masyarakat miskin; (f) partisipasi; (g)
kesetaraan dan keadilan gender; (h) transparansi dan akuntabel; (i) prioritas; (j) dan
keberlanjutan.
Prosedur pelaksanaan PNPM-MP di Desa Watudandang kecamatan Prambon
meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian kegiatan. Sebelum tahapan-
tahapan tersebut, melakukan orientasi atau pengenalan kondisi desa yaitu dengan: (a)
mengidentifikasi potensi dan sumber daya yang dapat mendukung pelaksanaan PNPM-
MP di tingkat desa; (b) kondisi kegiatan atau bangunan yang telah dibiayai melalui
PNPM-MP; (c) inventarisasi dokumen rencana pembangunan desa; (d) inventarisasi
data kependudukan. Beberapa program yang dilaksanakan yaitu PNPM Generasi,
Pemberdayaang Perempuan, bantuan modal kepada masyarakat dan perbaikan
infrastuktur. Melalui beberapa program tersebut diharapkan PNPM Mandiri Perdesaan
ini dapat dilakukan dengan baik dan memiliki manfaat bagi masyarakat, namun ada
beberapa desa di kecamatan Prambon ini masih belum terlihat secara maksimal
pencapaian visi dan misi dari PNPM Mandiri Perdesaan.
Tahap perencanaan ini dimulai dengan adanya musyawarah antar desa untuk
mensosialisasikan tujuan, prinsip, kebijakan, prosedur maupun kepengurusan PNPM-
MP. Setelah adanya musyawarah ini dilakukan pelatihan setiap kader desa dan adanya
penulisan usulan. Setelah itu, verifikasi usulan yang selnajutnya dilakukan desain
kegiatan dan rencana anggaran biaya. Penetapan usulan dilanjutkan dengan persiapan
pelaksanaan yaitu dengan rekruitmen tenaga kerja, pelatihan Pengelola Unit, Unit
Pengelola Kegiatan. Kemudian dilakukan pencairan dana, pelaksanaan kegiatan dan
supervisi pelaksanaan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah :
1. Bagaimana permasalahan pembangunan wilayah Kecamatan Prambon
Kabupaten Nganjuk?
2. Bagaiamana peran PNPM Mandiri Pedesaan terhadap pembangunan wilayah
Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan pengaruh PNPM Mandiri Perdesaan dalam perluasan
pekerjaan bagi rumah tangga miskin di Desa Watudandang Kecamatan Prambon
Kabupaten Nganjuk.
2. Mendiskripsikan pengaruh PNPM Mandiri Perdesaan terhadap kondisi
kesejahteraan masyarakat Desa Watudandang Kecamatan Prambon kabupaten
Nganjuk.
1.4 Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka
yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai PNPM Mandiri Perdesaan
mempunyai pengaruh terhadap perubahan kondisi kesejahteraan masyarakat Desa
Watudandang Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini diantaranya sebagai berikut.
1. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan informasi bagi masyarakat tentang kebijakan pemberdayaan
masyarakat sehingga pemahaman ini berlanjut pada pengembangan kesejahteraan
masyarakat Desa Watudandang Kecamatan Prambon kabupaten Nganjuk.
2. Bagi pemerintah daerah
Memberikan gambaran mendalam tentang Dampak PNPM Mandiri
Perdesaan sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan kebijakan
selanjutnya.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada peran PNPM dalam perubahan
kondisi sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Prambon kabupaten Nganjuk.
Adapun jabaran variabel penelitian adalah sebagai berikut:
Variabel
Sub Variabel
Indikator Sumber Data
Metode
Pengambilan
Data
Teknik Analisis
Data
Kondisi sosial
masyarakat
Kecamatan
Prambon
Kabupaten
Nganjuk



Tingkat
kesejahteraan
keluarga
penerima
bantuan
PNPM-MP















Pendidikan








Keluarga
Sejahtera
Tahap I



Pendidikan
Formal

Pada umumnya
anggota
keluarga makan
dua kali sehari
atau lebih
Anggota
keluarga
memilik pakaian
yang berbeda
untuk dirumah,
bekerja/sekolah
dan berpergian
Rumah yang
ditempati
keluarga
mempunyai
atap, lantai dan
dinding yang
baik
Bila ada
anggota
keluarga yang
sakit dibawa ke
sarana
kesehatan
Bila pasangan
usia subur ingin
Primer








Primer dan
sekunder




Angket








Angket,
wawancara
dan
dokumentasi

Tabulasi
tunggal dan
regresi




























































Keluarga
sejahtera tahap
II










Keluarga
sejahtera tahap
III





ber KB pergi ke
sarana
pelayanan
kontrasepsi
Semua anak
umur 7-15 tahun
dalam kelurga
bersekolah
Keluarga
sejahtera tahap I
Pada umumnya
anggota
keluarga
melaksanakan
ibadah sesuai
dengan agama
dan kepercayaan
masing-msing
Paling kurang
sekali seminggu
seluruh anggota
keluarga makan
daging, ian/
telur
Seluruh anggota
keluarga
memperoleh
paling kurang
satu stel pakaian
baru dalam
setahun
Luas lantai
rumah paling
kurang 8 m
2

untuk setiap
penghuni
rumah.
Tiga bulan
terakhir
keluarga dalam
keadaan sehat
sehingga dapat
melaksanakan
tugas/fungsi
masing-masing
Ada seorang
atau lebih
anggota
keluarga yang
bekerja untuk
memperoleh
penghsilan
Seluruh anggota
keluarga umr































Program
PNPM-MP
dalam
pengembanga
n prasarana
sosial dasar
bidang
pendidikan



















Peningkatan
kualitas
Sarana
prasarana
pendidikan



10-60 tahun bisa
baca tulisan
latin
Pasangan usia
subur dengan
anak dua atau
lebih
menggunakan
alat/obat
kontrasepsi
Keluarga
sejahtera tahap I
dan II
Keluarga
berupaya
meningkatkan
pengetahuan
agama
Sebagian
penghasilan
ditabung dalam
bentuk uang
maupaun barang
Kebiasaan
keluarga makan
bersama paling
kurang
seminggu sekali
dimanfaatkan
untuk
berkomunikasi
Keluarga sering
ikut dalam
kegiatan
masyarakat
dilingkungan
tempat tinggal
Keluarga
memperoleh
informasi dari
surat
kabar/majalah/r
adio/TV

Ketersediaan
prasarana sosial
dasar
pendidikan

Peningkatan
kualitas
prasarana
sekolah







Penambahan
fasilitas Sekolah




Kondisi
Ekonomi
Peran PNPM
MP dalam
pengembanga
n prsarana
ekonomi
pada
pemberian
dana simpan
pinjam
Peran PNPM-
MP dalam
peningkatan
pendapatan
masyarakat
kecamatan
Prambon
Kabupaten
Nganjuk
Terbentuknya
Usaha baru
Peningkatan
produksi pada
usaha yang
dimiliki



Peningkatan
Pendapatan
masyarakat
penerima SPP
Tercukupi
kebutuhan
hidup
Peningkatan
aset barang
Primer








Primer
Sekunder

Interview
Dokumentasi










Interview
Dokumentasi


Tabulasi Tunggal
dan Regresi











1.6 Definisi Operasional
1. PNPM adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat yang diwujudkan
untuk penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat. PNPM
dilaksanakan melalui harmoinisasi dan pngembangan system serta mekanisme dan
prosedur program dengan indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat
penerima bantuan.
2. PNPM Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) adalah program nasional penanggulangan
kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat.
3. Kondisi sosial ekonomi adalah karakteristik karakter sosial dan status sosial
responden serta pendapatan masyarakat penerima bantuan PNPM.
4. Kondisi sosial terdiri dari tiga variabel yaitu pendidikan , tingkat kesejahteraan
masyarakat dan Program PNPM-MP dalam pengembangan prasarana sosial dasar
bidang pendidikan.
5. Kondisi ekonomi terdiri dari Peran PNPM MP dalam pengembangan prsarana
ekonomi pada pemberian dana simpan pinjam dan Peran PNPM-MP dalam
peningkatan pendapatan masyarakat kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk.
6. Peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi dapa dilihat dari peningkatan
pendapatan, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
7. Kesejahteraan merupakan keadaan ekonomi dan sosial masyarakat yang dicirikan
dengan masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.





BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kesejahteraan Masyarakat
kesejahteraan merupakan istilah yang digunakan dalam mengungkapkan
keadaan yang lebih baik. Secara spesifik; kata kesejahteraan menurut kamus Besar
Bahasa Indonesia; berasal dari kata sejahtera yang memiliki ciri aman, sentosa, dan
makmur, selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Dalam praktisnya,
kesejahteraan tidak terlepas dari keadaaan, kondisi, ilmu, atau gerakan tertentu
tentang kemasyarakatan atau sosial. Sehingga kesejahteraan dan masyarakat
merupakan suatu kesatuan yang sering digunakan dalam berbagai bahasan. Disisi
lain, untuk menggunakan istilah kesejahteraan masyarakat dalam menganalisa
permasalahan maka diperlukan pemahaman mengenai istilah tersebut secara teoritis.
Langkah pertama terkait hal tersebut adalah konteks definisi yang merupakan
batasan tertentu agar pemahaman dapat fokus dan mudah dimengerti. Peningkatan
kesejahteraan dapat dilihat dari semakin banyaknya kebutuhan yang dapat dipenuhi
(Soetomo, 2010:20).
B. Kebijakan Publik
Sebelum mengkaji definisi kebijakan publik maka diperlukan pemahaman
terhadap definisi kebijaksanaan atau kebijakan. Kebijakan merupakan tindakan
yang dilakukan oleh seseorang, sekelompok atau pemerintah untuk mencapai tujuan
tertentu dalam memecahkan suatu masalah sehingga mempunyai sistem program
tertentu yang berkesinambungan. Maka hal tersebut terdiri dari beberapa elemen
sebagai berikut yaitu (a) adanya tujuan atau rencana, (b) adanya aktor yang
berperan, (c) adanya sistem program yang terkoordinasi, (d) adanya masalah atau
hambatan dalam lingkungan.
Paradigma yang berkembang di masyarakat menganggap bahwa sebuah
kebijakan adalah peraturan tertulis yang dibuat oleh eksekutif dan legislatif yang
berupa undang-undang, peraturan pemerintah dan peraturan tertulis lainnya.
Sedangkan sifat kebijakan publik merupakan suatu proses di dalam kebijakan publik
yang menjadi dasar pemahaman bahwa kebijakan publik adalah proses yang tidak
mampu dipisahkan antara perumusan, implementasi, evaluasi dan analisisnya.
C. Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan berdasarkan istilah asing merupakan empowerment
yang juga bermakna pemberian daya/kekuasaan. Secara awam yaitu membuat hal
yang tidak berdaya (powerless) menjadi berdaya (empowered). Di sisi lain,
terdapat pihak yang mengartikan empowerment menjadi dua arti yaitu (1) to give
power or authority to atau memberi kekuasaan atau mendelegasikan otoritas ke
pihak lain. (2) to give ability to atau enable atau usaha untuk memberi kemampuan
atau keberdayaan.
Pemberdayaan masyarakat merupakan usaha yang diawali kebijakan politik
untuk menghasilkan kemandirian masyarakat berdasarkan potensi yang dimiliki dan
dukungan dari berbagai pihak sehingga meningkatkan kesejahteraan di berbagai
bidang terutama kebutuhan dasar. Hakekat pemberdayaan masyarakat merupakan
suatu usaha menjadikan mayarakat sebagai subjek kebijakan; bukan sebagai objek.
Sehingga masyarakat mampu berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Peran
masyarakat sebagai subjek dalam pemberdayaan merupakan kegiatan pemberian
wewenang bagi masyarakat untuk membuat kebijakan micro berdasarkan masalah
yang dihadapi di lingkungannya. Peran pemerintah hanya memberikan batasan
secaraumum (makro); dan pihak pendamping kebijakan dan LSM sebagai
pembimbing dalam perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan yang dibuat
masyarakat. Dewasa ini, konsep pemberdayaan merupakan jawaban atas
permasalahan di masyarakat yang belum teratasi oleh kebjakan kesejahteraan sosial.
Pemberdayaan masyarakat mempunyai beberapa tahap, antara lain:
a. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan
peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
b. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan
ketrampilan agar mampu mengambil peran pembangunan.
c. Tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan ketrampilan sehingga
terbentuk inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantar pada tahap
kemandirian.
Tahap-tahap pemberdayaan juga ditunjang oleh adanya prinsip-prinsip
pemberdayaan. Proses pemberdayaan msyarakat mendasarkan pada 4 prinsip
yaitu:
1. Partisipatif, adalah proses pemberdayaan harus dilakukan secara demokratis
dengan melibatkan semua baik pemerintahan, swasta, masyarakat termasuk
masyarakat miskin itu sendiri. Sehingga masyarakat tidak lagi menjadi objek
namun subjek dalam perencanaan pemberdayaan.
2. Transparansi, adalah adanya keterbukaan di antara stakeholders sehingga
setia tahapan akan direncanakan, mulai dilaksanakan sampai dengan evaluasi
dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggung jawabkan.
3. Akuntabilitas, adalah perencanaan pemberdayaan nantinya dapat
diimplementasikan dan tercapai tujuan serta sasarannya.
4. Manfaat bersama, adalah proses pemberdayaan ini dapat memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya kepada upaya pembangunan masyarakat
sebagai kontribusi untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional.
D. Kondisi Sosial
Faktor pendidikan seseorang sangat menentukan dalam pola pengambilan
keputusan dan menerima informasi dari pada seseorang yang berpendidikan rendah.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan pengetahuan dan
persepsi seseorang terhadap suatu hal.
Pendidikan menurut H. Home (1999), pendidikan adalah proses yang terus menerus
(abadi) dari penyesuain yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang
secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanisfertasi
dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusian dari manusia. Sehingga pola
interaksi antara manusia dan manusia juga dipengaruhi oelh tingkat pendidikan.
Pendidikan sangat berperan dalam peningkatan sumber daya manusia maka
pembangunan dibidang pendidikan dilaksanakan melalui pendidikan formal/ non
formal. Pendidikan yang diupayakan diharapkan merupakan pendidikan yang
berkualitas dengan sistem pengelolaan yang efisien. Pendidikan yang berkualitas adalah
pendidikan yang terdidik yang bermutu dan handal sesuai kebutuhan jaman sedangkan
dimaksud efisien pendidikan adalah pendidikan yang diselenggarakan diharapkan dapat
berdaya guna dan berhasil guna.
E. Kondisi Ekonomi
Program Pemberdayaan masyarakat miskin memberikan dampak yang dinilai
positif yaitu dampak yang diharapkan, peningkatan pendapatan, peningkatan
kesempatan kerja dan peluang berusaha. Kondisi ekonomi dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya mata pencaharian dan pendapatan. Masing-masing faktor tersebut
memiliki keterkaitan yang erat dan bersifat saling mempengaruhi antara yang satu
dengan yang lainnya.
1. Mata pencaharian
Kebutuhan manusia yang utama adalah kebutuhan akan makanan. Kebutuhan
yang dikenal juga sebagai kebutuhan primer yang bersifat mendesak harus segera
dipenuhi dan berlangsung secara terus menerus selama manusia yang bersangkutan
masih hidup. Dari kebutuhan ini pula muncul aktivitas yang dinamakan mata
pencahrian. Wujud usaha yang dilakukan adalah dengan adanya aktvitas kerja, karena
dengan bekerja seseorang dapat memperoelh upah baik dalam bentuk uang maupun
barang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
2. Kesejahteraan
Setiap keluarga pasti mendambakan kehidupan yang sejahtera baik secara
materi maupun non materi. Karena dengan tercapainya hidup sejahtera maka
ketentraman, ketenangan dan kebahagian dalam hidup akan tercapai pula. Tingkat
kesejahteran menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
mengelompokkan berdasarkan tahapan pencapaian tingkat kesejahteraan menjadi
lima yaitu:
Keluarga Pra Sejahtera yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan akan pengajaran
agama, pangan, sandang, papan dan kesehatan.
Keluarga sejahtera Tahap I yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat
memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat
memenuhi seluruh kebutuhan sosial psikologinya seperti kebutuhan akan
pendidikan, kelurga berencana, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan
lingkungan tempat tinggal dan transportasi
KeluargaSejahtera Tahap II yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat
memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat memenuhi selurh
kebutuhan psikologinya akan tetapi belum dapat memenuhi seluruh
kebutuhan perkembangannya seperti menabung dan memperoleh informasi
Keluarga Sejahtera Tahap III yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya juga telah memenuhi kebutuhan psikolginya dan
kebutuhan perkembangannya, namun belum dapat memberikan sumbangan
yang maksimal terhadap masyarakat secara teratur memebrikan sumbangan
dalam bentuk material dan keuangan untuk kepentingan sosial
kemasyarakatan serta berperan aktif dengan menjadi pengurus lembaga
kemasyarakatan atau yayasan sosial, keagamaan, kesenian, oahraga,
pendidikan dan sebagainya.
Keluarga Tahap III Plus yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi
kebutuhan dsarnya, juga telah memenuhi kebutuhan sosial psikologinya
dan kebutuhan pengembangan serta telah dapat pula memberikan
sumbangan atau kontribusi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Secara umum untuk menentukan ststus suatu keluarga sejahtera digunakan
indikator yang dibagi menjadi lima tahapan keluarga sejahtera, yaitu:
1. Keluarga Pra Sejahtera
Belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator keluarga
sejahtera (KS I)
2. Keluarga Sejahtera I (KS I)
Melakukan ibadah
Makan dua kali sehari atau lebih
Memiliki pakaian yang berbeda untuk aktivitas
Bagian terluas lantai rumah bukan dari tanah dan,
Bila anak sakit dibawa kesarana kesehatan
3. Keluarga Sejahtera Tahap II (KS II)
Ibadah teratur
Daging atau ikan atau telur satu kali seminggu
Satu stel pakaian baru per tahun
Luas lantai kurang dari 8 meter perjiwa
Sehat tiga bulan terakhir
Punya penghasilan tetap
Usia 10-60 tahun bisa baca tulis huruf latin
Usia 7-15 tahun bersekolah
Anak kurang dari dua ber KB
4. Keluarga Sejahtera III (KS III)
Meningkatkan pengetahuan agama
Sebagian penghasilan ditabung
Makan bersamaan dimanfaatkan untuk berkomunikasi
Ikut kegiatan masyarakat dilingkungan tempat tinggal
Rekreasi bersama minimal satu kali dalam enam bulan
Memperoleh informasi
Mampu menggunakan sarana transportasi
5. Keluarga sejahtera III Plus
Secara sukarela memberikan sumbangan secara teratur
Aktif sebagai pengurus perkumpulan atau yayasan atau institusi
3. Taraf dan Pola Konsumsi Rumah Tangga
Berkurangnya jumlah penduduk miskin mencerminkan bahwa secara
keseluruhan pendapatan penduduk meningkat, sedangkan meningkatnya jmlah
penduduk miskin mengindikasikan menurunnya pendapatan penduduk.
Data pengeluaran dapat mengungkapkan tentang pola konsumsi rumah
tangga secara umum dengan menggunakan indikator proporsi pengeluaran
makanan dan non makanan. Semakin tinggi pendapatan maka proporsi
pengeluaran untuk makanan bergeser ke pengeluaran non makanan.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi dengan
sampel jumlah masyarakat miskin di Desa Watudandang Kecamatan Prambon
Kabupaten Nganjuk yang mendapat bantuan PNPM Mandiri sebanyak 1380
orang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kesejahteran masyarakat
miskin sebelum dengan sesudah ada program PNPM Mandiri. Teknik analisis
data yang digunakan adalah tabulasi Tunggal dan Tabulasi Silang.
3.2 Populasi dan Sampel
1. Populasi adalah kumpulan seluruh elemen yang membentuk kelompok dengan
karakteristik yang jelas. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa
Watudandang Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk yang mendapat bantuan
dari PNPM Mandiri Pedesaan.
2. Sampel adalah sebagian objek yang diambil dari populasi.
a. Sampel Daerah
Sampel dari penelitian ini adalah masyarakat miskin penerima
bantuan PNPM Mandiri Pedesaan Desa Watudandang Kecamatan Prambon
Kabupaten Nganjuk. Pengambilan sampel dilakukan kepad a masyarakat
penerima bantuan secara acak.

b. Sampel Responden
Sampel Responden harus respentatif maka ditetapkan karakteristik
pupulasi yaitu masyarakat miskin penerima bantuan di masing-msing desa
dengan bantuan yang diberikan. Perhitungan Sampel dengan menggunakan
Purposive Sample dengan melihat ciri-ciri indikator yang sesuai dengan
karakteristik Kesejahteraan masyarakat.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
3.3.1 Teknik Angket
Teknik angket yaitu menyebar sejumlah pertanyaan yang telah disusun oleh
peneliti kepada orang yang dimintai pendapat. Metode angket yang dipakai oleh
peneliti bersifat angket terbuka. Artinya responden dapat menentukan alternatif
jawaban sendiri yang lebih luas sehingga data yang didapatkan lebih kompleks
dibandingkan alternatif jawaban dari metode angket tertutup.
3.3.2 Teknik wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data dan pencatatan
data, info atau pendapat yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab baik
langsung maupun tidak langsung dengan sumber data.
3.3.3 Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi yang dipakai dapat diperoleh melalui pemotretan objek
yang diteliti.

3.4 Analisis Data
a. Analisis Deskriptif Kualitatif
Untuk menguji hipotesis pertama menggunakan teknik analisis
deskriptif kulaitatif yaitu data yang diperoleh disusun secara sistematis
kemudian disimpulkan sehingga dapat diperoleh gambaran yang baik
dan jelas mengenai pelaksanaan Program PNPM Mandiri Pedesaan
Desa Watudandang Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk.
b. Uji beda Dua Mean Untuk Sampel Berpasangan
Uji beda dua mean sampel berpasangan ini digunakan untuk
menguji sampel dengan subyek yang sama namun mengalami perlakuan
yang berbeda, dalam hal ini tingkat kesejahteraan masyarakat miskin di
Desa Watudandang sebelum memperoleh bantuan dari program PNPM
mandiri Pedesaan dan tingkat kesejahteraan setelah mendapat bantuan
dari program PNPM Mandiri Pedesaan.
Perumusan Hipotesis sebagai berikut:
a. Uji Hipotesis
H
0
: tidak terjadi perbedaan tingkat kesejahteraan sebelum dan
sesudah diberikan bantuan atau
H
0
: p = 0,5
H
1
: terjadi perbedaan peningkatan kesejahteraan sebelum dan
sesudah diberikan bantuan
H
1
: p 0
DAFTAR PUSTAKA
BAPEMAS PEMDS.2010. Profil Kabupaten Nganjuk. http://pnpm-nganjuk.blogspot.com/
(diakses 1 maret 2013)
Nawawi, H. Hadadari.2012.Metode Penelitian Bidang Sosial.UGM Press, Yogyakarta
Ningnurati,Dewi. 2011.Dampak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
Perdesaan (PNPM-MP) dalam Meningkatkan Kesejahteran Masyarakat di Kecamatan
Wonosari Kabupaten Malang.UM. Skripsi tidak diterbitkan
Muntiana,Ririn.2012.Peranan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dalam
Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan Untuk Meningkatkan Kemajuan Desa
Balesono Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung.
PNPM GENERASI.2013.http://pnpm-nganjuk.blogspot.com/2012/03/bantuan-sepeda-
ontel-pnpm-generasi.html ( diakses 1 Maret 2013)
PNPM MANDIRI.2013.www.pnpm-mandiri.org/ (diakses 1 Maret 2013)
Soetomo. 2010. Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat.Pustaka Belajar, Yogyakarta