Anda di halaman 1dari 11

1.

Perbedaan antara Pump dan Compressor



Secara singkat dalam bahasa inggris pengertian secara umum Pump adalah
"A machine or device for raising, compressing, or transferring fluids."
Artinya sebuah alat mekanik atau perangkat yang digunakan untuk
meningkatkan energi, menekan, atau mengalirkan fluida dari suatu tempat ke
tempat lain. Namun kenyataannya sekarang terdapat perbedaan antara Pump
dan Compressor (sebagian sumber juga menambahkan Blower dan Fan).

Perbedaan utama tersebut adalah karena perbedaan sifat fluidanya terhadap
tekanan. Ada fluida yang compressible artinya fluida yang dapat berubah
volumenya jika mendapat tekanan (mampu mampat) dan ada fluida yang
incompressible, yaitu fluida yang tidak berubah volumenya jika mendapat
tekanan (tidak mampu mampat).

Pump (pompa) adalah alat mekanik yang hanya dapat digunakan untuk
mengalirkan fluida yang incompressible ke tempat yang bertekanan lebih
tinggi. Fluida incompressible ini berbentuk cairan (dan adonan). Contohnya
pompa air yang digunakan dalam rumah tangga sehari-hari.

Compressor (kompresor) adalah alat mekanik yang hanya dapat digunakan
untuk mengalirkan/menekan fluida yang compressible ke tempat yang
bertekanan lebih tinggi. Fluida compressible yaitu udara dan gas. Contohnya
kompresor yang digunakan untuk mengisi udara/gas kedalam ban kendaraan.

Cara pompa dan kompresor mengalirkan fluida adalah sama yaitu dengan
menaikkan tekanan disisi hisapnya dan menurunkan tekanan pada sisi
keluarnya menggunakan motor penggerak. Perbedaannya hanya terdapat
pada fluida yang dialirkan.

2. Klasifikasi Pump (Pompa)
Secara umum pompa dapat diklasifikasikan dalam dua jenis kelompok
besar yaitu :
A. Pompa Tekanan Statis (Positive Displacement Pump)
B. Pompa Tekanan Dinamis (Rotodynamic Pump)
A. Pompa Tekanan Statis
Pompa jenis ini bekerja dengan prinsip memberikan tekanan secara periodik
pada fluida yang terkurung dalam rumah pompa. Pompa ini dibagi menjadi
dua jenis.
Pompa Putar (Rotary Pump)
Pada pompa putar, fluida masuk melalui sisi isap, kemudian dikurung
diantara ruangan rotor dan rumah pompa, selanjutnya didorong ke ruang
tengah dengan gerak putar dari rotor, sehingga tekanan statisnya naik dan
fluida akan dikeluarkan melalui sisi tekan. Contoh tipe pompa ini adalah :
screw pump, gear pump dan vane pump.
Pompa Torak (Reciprocating Pump)
Pompa torak mempunyai bagian utama berupa torak yang bergerak bolak-
balik dalam silinder. Fluida masuk melalui katup isap (suction valve) ke
dalam silinder dan kemudian ditekan oleh torak sehingga tekanan statis
fluida naik dan sanggup mengalirkan fluida keluar melalui katup tekan
(discharge valve). Contoh tipe pompa ini adalah : pompa diafragma dan
pompa plunyer.

B. Pompa Tekanan Dinamis
Pompa tekanan dinamis disebut juga rotodynamic pump, turbo pump atau
impeller pump. Pompa yang termasuk dalam kategori ini adalah : pompa jet
dan pompa sentrifugal.
Ciri-ciri utama dari pompa ini adalah:
- Mempunyai bagian utama yang berotasi berupa roda dengan sudu-sudu
sekelilingnya, yang sering disebut dengan impeler.
- Melalui sudu-sudu, fluida mengalir terus-menerus, dimana fluida berada
diantara sudu-sudu tersebut. Prinsip kerja pompa sentrifugal adalah : energi
mekanis dari luar diberikan pada poros untuk memutar impeler. Akibatnya
fluida yang berada dalam impeler, oleh dorongan sudu-sudu akan terlempar
menuju saluran keluar. Pada proses ini fluida akan mendapat percepatan
sehingga fluida tersebut mempunyai energi kinetik. Kecepatan keluar fluida
ini selanjutnya akan berkurang dan energi kinetik akan berubah menjadi
energi tekanan di sudu-sudu pengarah atau dalam rumah
pompa.

Pompa tekanan dinamis dapat dibagi berdasarkan beberapa kriteria berikut,
antara lain :
a. Klasifikasi Menurut Jenis Impeler
1. Pompa sentrifugal
Pompa ini menggunakan impeler jenis radial atau francis. Konstruksinya
sedemikian rupa (gambar 2.4) sehingga aliran fluida yang keluar dari
impeler akan melalui bidang tegak lurus pompa. Impeler jenis radial
digunakan untuk tinggi tekan (head) yang sedang dan tinggi, sedangkan
impeler jenis francis digunakan untuk head yang lebih rendah dengan
kapasitas yang besar. Impeler dipasang pada ujung poros dan pada ujung
lainnya dipasang kopling sebagai penggerak poros pompa.
2. Pompa aliran campur
Pompa ini menggunakan impeler jenis aliran campur (mix flow), seperti
pada gambar 2.5. Aliran keluar dari impeler sesuai dengan arah bentuk
permukaan kerucut rumah pompa.
3. Pompa aliran aksial
Pompa ini (gambar 2.6) menggunakan impeler jenis aksial dan zat cair
yangmeninggalkan impeler akan bergerak sepanjang permukaan silinder
rumah pompa ke arah luar. Konstruksinya mirip dengan pompa aliran
camput, kecuali bentuk impeler dan difusernya.

b. Klasifikasi menurut bentuk rumah pompa
1. Pompa volut
Pompa ini khusus untuk pompa sentrifugal. Aliran fluida yang
meninggalkan impeler secara langsung memasuki rumah pompa yang
berbentuk volut (rumah siput) sebab diameternya bertambah besar.
2. Pompa diffuser
Konstruksi pompa ini dilengkapi dengan sudu pengarah (diffuser) di
sekeliling saluran keluar impeller (gambar 2.7). Pemakaian diffuser ini akan
memperbaiki efisiensi pompa. Difuser ini sering digunakan pada pompa
bertingkat banyak dengan head yang tinggi.
3. Pompa vortex
Pompa ini mempunyai aliran campur dan sebuah rumah Pompa ini tidak
menggunakan diffuser, namun memakai saluran yang lebar. Dengan
demikian pompa ini tidak mudah tersumbat dan cocok untuk pemakaian
pada pengolahan cairan limbah.

c. Klasifikasi menurut jumlah tingkat
1. Pompa satu tingkat
Pompa ini hanya mempunyai sebuah impeler . Pada umumnya head yang
dihasilkan pompa ini relative rendah, namun konstruksinya sederhana.
2. Pompa bertingkat banyak
Pompa ini menggunakan lebih dari satu impeler yang dipasang secara
berderet pada satu poros (gambar 2.9). Zat cair yang keluar dari impeler
tingkat pertama akan diteruskan ke impeler tingkat kedua dan seterusnya
hingga ke tingkat terakhir. Head total pompa merupakan penjumlahan head
yang dihasilkan oleh masing-masing impeler. Dengan demikian head total
pompa ini relative lebih tinggi dibanding dengan pompa satu tingkat, namun
konstruksinya lebih rumit dan besar.

d. Klasifikasi menurut letak poros
1. Pompa poros mendatar
Pompa ini mempunyai poros dengan posisi horizontal. pompa jenis ini
memerlukan tempat yang relative lebih luas.
2. Pompa jenis poros tegak
Poros pompa ini berada pada posisi vertikal. Poros ini dipegang di beberapa
tempat sepanjang pipa kolom utama bantalan. Pompa ini memerlukan
tempat yang relative kecil dibandingkan dengan pompa poros mendatar.
Penggerak pompa umumnya diletakkan di atas pompa.

e. Klasifikasi menurut belahan rumah
1. Pompa belahan mendatar
Pompa ini mempunyai belahan rumah yang dapat dibelah dua menjadi
bagian atas dan bagian bawah oleh bidang mendatar yang melalui sumbu
poros. Jenis pompa ini sering digunakan untuk pompa berukuran menengah
dan besar dengan poros mendatar.
2. Pompa belahan radial
Rumah pompa ini terbelah oleh sebuah bidang tegak lurus poros. Konstruksi
seperti ini sering digunakan pada pompa kecil dengan poros mendatar. Jenis
ini juga sesuai untuk pompa-pompa dengan poros tegak dimana bagian-
bagian yang berputar dapat dibongkar ke atas sepanjang poros.
3. Pompa jenis berderet .
Jenis ini terdapat pada pompa bertingkat banyak, dimana rumah pompa
terbagi oleh bidang-bidang tegak lurus poros sesuai dengan jumlah tingkat
yang ada.

f. Klasifikasi menurut sisi masuk impeller
1. Pompa isapan tunggal
Pada pompa ini fluida masuk dari sisi impeler. Konstruksinya sangat
sederhana, sehingga sangat sering dipakai untuk kapasitas yang relative
kecil.
2. Pompa isapan ganda
Pompa ini memasukkan fluida melalui dua sisi isap impeler. Pada dasarnya
pompa ini sama dengan dua buah impeler pompa isapan tunggal yang
dipasang bertolak belakang dan dipasang beroperasi secara parallel. Dengan
demikian gaya aksial yang terjadi pada kedua impeler akan saling
mengimbangi dan laju aliran total adalah dua kali laju aliran tiap impeler.
Oleh sebab itu pompa ini banyak dipakai untuk kebutuhan dengan kapasitas
yang besar.

3. Rangkaian Utama (tanpa pengasutan)

Rangkaian control



Tata letak sistem pengendalian





4. A. Kurva pompa & Karakteristik pipa

A.1. Kurva pompa
Kurva pompa sangat penting, karena dari kurva tersebut dapat terbaca
kemampuan suatu pompa disetiap titik kerja sehingga dapat ditentukan
debit, total head, effisiensi, NPSHr, dan daya penggerak yang diperlukan (P1
maximum).



A.1.1. Debit pompa
Debit atau flow pompa ditentukan sesuai dengan kebutuhan untuk masing-
masing aplikasi. Ditinjau dari konstruksi pompa, debit pompa sangat
dipengaruhi oleh diameter impeller, semakin besar diameter impeller maka
akan semakin besar kemampuan debit pompa. Seperti pada gambar diatas,
nilai debit pompa terbaca pada sumbu garis mendatar dengan lambang huruf
Q dan biasanya menggunakan satuan m3/jam, liter/menit (lpm), liter/detik
(lps), gallon/menit (gpm) dengan konversi sebagai berikut :

1m3/jam = 1/0,06 lpm = 1/3,6 lps = 1/0,227 gpm.

A.1.2. Total head
Total head atau pressure pompa ditentukan dari system pemipaan yang
digunakan dilapangan. Ditinjau dari konstruksi pompa, besarnya tekanan
pompa tergantung dari besar diameter impeller dan bayaknya impeller yang
tersusun seri. Semakin besar diameter impeller dan semakin banyak impeler
maka akan semakin tinggi tekanan suatu pompa. Seperti pada gambar 4.1.1.
nilai total head pompa terbaca pada sumbu garis tegak dengan lambang
huruf H dan biasanya menggunakan satuan meter, feet (ft), bar, atm
(atmosfir), psig, dengan konversi satuan sebagai berikut :

1m(H2O) = 3,28 feet (H2O) = 1/10,2 bar = 1,45 psig

A.2. Karakteristik Pipa

A.2.1. Sistem terbuka
Ilustrasi pemipaan dengan sistem terbuka adalah seperti pada gbr. dibawah
dan terlihat pada gbr. 4.1.2.1b bahwa titik awal kurva pipa dimulai dari H1 =
Hg + Hs (Statik head = geodetic head + suction head) atau dengan kata lain
bahwa pada saat pompa mati/hidup, sistem pipa sudah menerima tekanan
sebesar H1 meter



A.2.2. Sistem tertutup
Ilustrasi sistem tertutup seperti pada gbr. dibawah(sirkulasi air panas dari
heater ke tanki penyimpan), dan pada gbr yang lain adalah kurva pipa sistem
tertutup yang menunjukan tidak ada tekanan pada saat pompa mati/hidup.



B. Daya pompa

Untuk menghindari kesalahan dalam pemilihan daya penggerak pompa
(motor listrik & diesel engine), maka perlu diperhatikan daya yang terjadi
pada pompa. Daya pompa bedakan menjadi 4 sebagai seperti pada gbr.



B.1.Daya penggerak pompa
Daya penggerak pompa atau sering disebut P1 (lihat gbr.), merupakan daya
yang diperlukan untuk menggerakan pompa. Penggerak pompa dapat berupa
motor listrik atau diesel engine. Formulasi P1 ditulis sebagai berikut :

P1 = P2 x motor Watt
P2 = P3 Watt
dimana :
P1 : daya penggerak (motor listrik/diesel engine)
P2 : daya poros penggerak
motor : effisiensi motor
P3 : daya poros pompa

B.2.Daya hidrolik pompa
Seperti pada gbr. daya hidrolik pompa atau P4 ditulis formulasinya sebagai
berikut :

P3 = P4 x pompa Watt
P4 = x g x H x Q Watt

dimana :
P3 : daya poros pompa
P4 : daya hidrolik pompa
pompa : efisiensi pompa
: berat jenis air : 1000 kg/m3
g : percepatan grafitasi : 9,8 m/sec2
H : total head pompa : .. meter
Q : kapasitas pompa : .. m3/jam

B.2.3 Daya penggerak pompa maximum (P1 max.)
Untuk menentukan besarnya daya penggerak pompa (motor listrik/ diesel
engine) harus dipilih daya maximum (P1 max.), yaitu daya yang ditentukan
pada titik kerja kurva Q & H paling kanan (lihat gbr.), hal ini untuk
mencegah terjadinya overload daya penggerak atau mencegah berkurangnya
pressure pada pipa karena adanya throtle/cekikan yang berlebihan.
Pemilihan daya pompa P1 max. harus disesuaikan dengan standart daya
penggerak motor listrik atau diesel engine yang ada dipasaran.
Seperti contoh kurva dibawah, bahwa pada titik kerja pompa pada 140
m3/jam @ 45.2 meter terpilih daya P1 = 25,4 kW, akan tetapi daya yang
harus digunakan adalah daya pada titik kerja Qmax yaitu titik kerja pada
kurva sebelah kanan, sehingga penggerak yang digunakan adalah motor
listrik dengan daya P1 = 30 kW.