Anda di halaman 1dari 51

1

Skenario 1
KEPUTIHAN
Seorang pasien usia 36 tahun, G3P2A0H2 gravid 20 minggu datang dengan keluhan keputihan
banyak, warna kehijauan, berbau amis dan disertai gatal sejak awal kehamilannya. Pasien
memiliki siklus menstruasi normal dan riwayat pemakaian IUD selama 3 tahun yang dimulai
setelah kelahiran anak kedua. Suaminya seorang PNS dan menyangkal melakukan hubungan
seksual dengan wanita lain. Pada pemeriksaan genitalia eksterna didapatkan pada labium mayus
dan minus tampak eritema dan erosi. Dari ispekulo didapatkan discharge vagina homogen warna
kehijauan dan tampak melekat pada dinding vagina, dan portio erosi. Pasien disarankan untuk
melakukan pemeriksaan swab vagina dan pap smear untuk penatalaksanaan lebih lanjut.





















2

Kata-kata sulit :
1. IUD : Intra Uterine Device, yaitu alat kontrasepsi berbentuk spiral yang
dimasukan kedalam rahim untuk mencegah kehamilan
2. Eritema : Kemerahan pada kulit akibat kongesti pembuluh kapiler
3. Erosi : Kerusakan kulit sampai stratum spinosum (lapisan keempat dari
epidermis) atau suatu pengikisan pada jaringan.
4. Keputihan : Cairan yang keluar secara berlebihan dari vagina baik secara fisiologis
maupun secara patologis.
5. PAP smear : Pemeriksaan sitologi serviks untuk mengetahui perubahan perkembangan
sel serviks dengan spatula kayu untuk bagian ektoserviks dan sitobrush untuk bagian
endoserviks.
6. Inspekulo : Alat spekulum yang dimasukan kedalam liang senggama sehingga
vagina terbuka dan terlihat kondisi bagian dalam untuk mencari penyebab keputihan atau
untuk mengetahui bentuk hymen dan posisi IUD yang dipasang.
7. Portio : Bagian serviks yang menonjol ke puncak vagina
8. Discharge Vagina : Keluarnya secret dari vagina yang berupa transudate atau eksudat.
9. Swab Vagina : Tes yang dilakukan dengan cara mengambil sampel sekresi vagina
dengan menggunakan alat seperti cotton bud.
















3

Pertanyaan :
1. Mengapa keputihan berwarna hijau (Patologis) pada penggunaan IUD?
2. Mengapa tampak eritema dan erosi pada Labium mayus dan minus?
3. Apa tujuan pemeriksaan swab vagian dan PAP smear pada pasien ini?
4. Mengapa dokter menanyakan tentang riwayat suami pernah berhubungan seksual dengan
wanita lain atau tidak?
5. Bagaima jika keputihannya tidak segera diobati?
6. Apa saja yang dapat menyebabkan keputihan?
7. Bahayakah PAS smear pada wanita hamil?
8. Mengapa keputihannya berbau amis dan terasa gatal?
9. Apakah berbahaya apabila pasien ini melahirkan dalam konisi seperti ini?
10. Bagaimana hukum Islam tentang penggunaan IUD?

Jawaban Pertanyaan :
1. Karena kemungkinan diakibatkan pemasangan atau pelepasan IUD yang tidak steril.
2. Bakteri Trichomonas Vaginalis menyebabkan terjadinya invasi jaringan yang kemudian
mengakibatkan inflamasi oleh karena adanya migrasi leukosit kemudian terjadi dilatasi
pembuluh darah sehingga terjadi eritema yang menyebakan rasa gatal dan apabila
digaruk akan terjadi erosi.
3. Swab vagian bertujuan untuk mengambil specimen untuk diperiksa yang bertujuan untuk
mengetahui etiologi dan mendeteksi adanya keganasan, sedangkan PAP smear adalah
nama pemeriksaannya.
4. Karena dikhawatirkan suami dari pasien ini mendapatkan STD dari pasangan seksual
lain.
5. Apabila keputihannya Fisiologis makan tidak berdampak buruk dan akan sembuh sendiri.
Namun jika keputihannya patologis dapat menyebabkan terjadinya radang saluran telur,
infeksi kelenjar dalam bibir vagina dan infertil.
6. - Konstitusional : Anemia, nefritis, hepatitis, dll.
- Kelainan endokrin : kadar estrogen yang meningkat pada masa kehamilan.
- Infeksi : salphingitis, Vaginitis.
- Adanya keganasan/kanker
- Infeksi Gonorrhoe
- Penyebab lain : obat kontrasepsi, corpus alineum, dan adanya benda asing.
7. Bahaya, dikhawatirkan terjadinya kontraksi uterus yang dapat membahayakan
keselamatan janin.
8. Karena adanya parasit Trichomonas Vaginalis dan bau amis disebakan adanya amino
yang menguap pada cairan vagina yang basah.
9. Bahaya, karena apabila anaknya perempuan dapat ditularkan dari hormone ibunya.
10. Tidak diperbolehkan.

4

Hipotesis
Seorang pasien dengan riwayat penggunaan IUD yang tidak steril dan disertai etiologi lain yang
menyebabkan keputihan. Kemudian dilakukan pemeriksaan swab vagina dan PAP smear dan
ditemukan adanya parasit Trichomonas Vaginalis. Pemasangan IUD menurut hukum Islam tidak
dianjurkan.
























5

SASARAN BELAJAR
LI.1. Mampu memahami dan menjelaskan sistem reproduksi wanita
LO.1.1. Memahami dan menjelaskan makroksopik sistem reproduksi wanita
LO.1.2. Memahami dan menjelaskan mikroskopik sistem reproduksi wanita
LI.2. Mampu memahami dan menjelaskan Keputihan (Leukorea)
LO.2.1. Memahami dan menjelaskan Definisi Keputihan (Leukorea)
LO.2.2. Memahami dan menjelaskan Epidemiologi Keputihan (Leukorea)
LO.2.3. memahami dan menjelaskan Etologi Keputihan (Leukorea)
LO.2.4. Memahami dan menjelaskan Klasifikasi Keputihan (Leukorea)
LO.2.5. Memahami dan menjelaskan Patofisiologi dan pathogenesis Keputihan
(Leukorea)
LO.2.5. Memahami dan menjelaskan Manifestasi klinis Keputihan (Leukorea)
LO.2.6. Memahami dan menjelaskan Diagnosis dan diagnosis banding Keputihan
(Leukorea)
LO.2.7. Memahami dan menjelaskan Pemeriksaan pada Keputihan (Leukorea)
LO.2.8. Memahami dan menjelaskan Penatalaksanaan Keputihan (Leukorea)
LO.2.9. Memahami dan menjelaskan Pencegahan Keputihan (Leukorea)
LO.2.10. Memahami dan menjelaskan Komplikasi Keputihan (Leukorea)
LO.2.11. Memahami dan menjelaskan Prognosis Keputihan (Leukorea)
LI.3. Mampu memahami dan menjelaskan Keputihan menurut pandangan Islam.









6

LI.1. Mampu memahami dan menjelaskan sistem reproduksi wanita
LO.1.1. Memahami dan menjelaskan makroksopik sistem reproduksi wanita

GENITALIA EKSTERNA
Yaitu alat kandungan yang dapat dilihat dari luar bila wanita dalam posisi litotomi, fungsinya
adalah untuk kopulasi.
Yang termasuk genetalia eksterna :
1. Mons Veneris
Daerah yang menggunung di atas simfisis, yang akan ditumbuhi rambut kemaluan (pubis)
apabila wanita berangkat dewasa. Rambut ini membentuk sudut lengkung (pada wanita)
sedang pria membentuk sudut runcing ke atas. Terdiri dari jaringan lemak yang berada
pada dinding depan abdomen diatas simfisis pubis.
2. Labia Mayora (bibir besar)
Berada pada kanan dan kiri, berbentuk lonjong, yang pada wanita menjelang dewasa di
tumbuhi rambut lanjutan dari mons veneris.bertemunya labia mayor membentuk
komisura posterior . Terdiri dari 2 buah lipatan kulit memanjang dari mons pubis kearah
postero-inferior dan menyatu dibagian posterior membentuk commisura posterior. Secara
morfologis struktur ini identik dengan skrotumpada laki-laki.
3. Labia Minora (bibir Kecil)
Bagian dalam dari bibir besar yang berwarna merah jambu. Merupakan suatu lipatan
kanan dan kiri bertemu diatas preputium klitoridis dan dibawah klitoris. Bagian belakang
kedua lipatan setelah mengelilingi orifisium vagina bersatu disebut faurchet (hanya
7

nampak pada wanita yang belum pernah melahirkan). Berupa dua buah lipatan kulit yang
berjalan dari klitoris dan menyatu dibagian posterior untuk membentuk frenulum labia
minora atau fourchette.
4. Klitoris (kelentit)
Identik dengan penis pria, kira-kira sebesar kacang hijau sampai cabe rawit dan ditutupi
frenulum klitorodis. Glans klitoris berisi jaringan yang dapat berereksi, sifatnya amat
sensitif karena banyak memiliki serabut saraf.. Berada di ujung anterior labia minor.
Terdiri dari 2 buah corpus cavernosum yang merupakan jaringan erektil di dalam selaput
tipis jaringan ikat dan sebagian diantaranya menyatu sepanjang tepi medial untuk
membentuk korpus klitoris.
5. Vestibulum
Merupakan rongga yang sebelah lateral dibatasi oleh kedua labia minora, anterior oleh
klitoris dan dorsal oleh faurchet. Pada vestibulum juga bermuara uretra dan 2 buah
kelenjar skene dan 2 buah kelenjar bartholin, yang mana kelenjar ini akan mengeluarkan
sekret pada waktu koitus. Introitus vagina juga terdapat disini. Vestibulum vaginae,
berupa cekungan memanjang antara labia minor dan orifisium vaginae. Lokasi klitoris
berada dibagian ujung anterior vestibulum yang berbentuk segitiga. Pada orang dewasa
memiliki 6 buah lubang yaitu :
urethra
vagina
Saluran musculo-membrane yang terbentang dari vestibulum sampai uterus.
Berjalan kearah postero-superior dan membentuk sudut tajam dengan servik uteri
sehingga dinding posterior vagina akan lebih panjang (sekitar 1.5 3 cm) dibandingkan
dengan dinding anterior (6 7.5 cm).
Penonjolan servik kedalam vagina akan membentuk Cavum Douglassi dan
membagi puncak vagina menjadi fornix anterior posterior dan lateralis.
2 buah saluran kelenjar Bartholine
2 buah saluran kelenjar paraurethral (Skene)
6. Vulva
Bagian dari alat kandungan yang berbentuk lonjong, berukuran panjang mulai dari
klitoris, kanan kiri diatas bibir kecil, sampai ke belakang di batasi perineum. Pudenda
sering disebut sebagai vulva dan meliputi semua struktur yang terlihat diantara pubis
sampai perineum.
7. Meatus urethra eksternus.
Terletak 2 2.5 cm dibagian posterior basis klitoris. Pada kedua sisi MUE terdapat 2
pasang saluran kelenjar paraurethralis (Skenes) yang mempunyai arti klinis dalam
infeksi Gonococcus atau infeksi non-spesifik lain.
Ductus paraurethralis identik dengan kelenjar Prostate pada laki-laki.
8. Bulbus vestibule
Struktur jaringan erektil yang berada dikedua sisi orofisium vaginae yang menempel
dengan permukaan inferior diafragma urogenitalis dan tertutup oleh muskulus
Bulbocavernosus (sfingter vaginae). Bulbus vestibuli berukuran panjang 3 4 cm dan
8

diameter 1 2 cm. Mudah cedera saat persalinan dan menyebabkan hematoma vulva atau
perdarahan eksternal.
9. Glandula Bartholine
Sepasang kelenjar yang terletak pada kedua sisi orifisium vaginae. Berupa masa bulat
dengan ukuran bervariasi antara 0.5 1 cm. Masing-masing kelenjar memiliki saluran
sepanjang 2 cm dengan orifisum yang terletak diantara labia minor dan orifisium vagina.
Fungsinya adalah menghasilkan sekret pada saat libido meningkat. Mudah mengalami
infeksi dengan kuman Gonococcus. Struktur ini identik dengan glandula Bulbourethral
(Cowpers) pada laki-laki. Struktur ini homoloog dengan corpus cavernosus urethrae
pada laki-laki.
10. Perineum
Sebagian besar fungsi penyangga perineum merupakan tugas dari diafragma pelvik dan
diafragma urogenitalis
Diafragma pelvik terdiri dari :
M. Levator Ani
M. Coccygeus (dibagian posterior)
Diafragma urogenitalis terletak diluar diafragma pelvis dan meliputi daerah segitiga
antara tuberischiadica dan simfisis pubis.
Diafragma urogenitalis terdiri dari :
M. Tranversus perinealis profunda
M. Constrictor urethrae
fascia penutup bagian superfisial dan profunda
Pasokan darah pada perineum terutama berasal dari arteri Pudenda Interna dan
percabangannya antara lain a.rectalis inferior dan a.labialis posterior.
Inervasi perineum terutama melalui n.Pudendus dan percabangannya.
N.Pudendus berasal dari S 2-3-4
Genitalia Eksterna Wanita memiliki 3 fungsi utama :
1. Jalan masuk sperma kedalam tubuh
2. Melindungi organ genitalia interna dari mikroorganism
3. Seksual

GENITALIA INTERNA
Merupakan alat kelamin yang tidak dapat dilihat dari luar, terletak disebelah dalam dan hanya
dapat dilihat dengan alat khusus atau dengan pembedahan.
9

1. Vagina (liang sanggama)
- Bentuk tabung muskular, muali servix sampai genitalia externa.
- Panjang antara 8-12 cm.
- Bagian distal cervix menonjol ke dalam rongga vagina disebut portio vaginalis
Cervicis uteri. Bagian cervix proximalnya disebut portio supravaginalis
cervicis uteri.
- Rongga vagina yang mengelilingi portio vaginalis cervicis disebut fornix yang
dapat dibedakan fornix lateralis dextra dan sinistra, fornix anterior dan
posterior.
- Tunika mukosa membentuk rugae yang transversal pada dinding vebtral dan dorsal
disebut columna rugarum.
- Fascia endopelvis memadat menjadi ligamentum fasialis yang berfungsi menunjang
servix dan vagina.
- Ligamentum-ligamentum yang ikut memfiksasi uterus diantaranya :
- Lig.Cardinale (Mackenrodts)/lig.cervicalis lateralis : melewati sebelah lateral servix dan
bagian atas vagina ke dinding pelvis.
- Lig.utero-sacrale/lig.recto uterina : melewati bagian belakang servix dan fornix vagina ke
fascia yang melapisi sendi sacro-iliaca. Mulai dari isthmus ke jaringan pengikat disebelah
lateral dari rectum setinggi vertebrata sacralis III, mengandung otot polos.
- Lig,puboservicale : meluas ke anterior dari lig.cardinale ke pubis (puboprostatica pada
pria).
- Lig.pubovesicale : dari belakang symphisis pubis menuju collum vesica urinaria.
- Fiksasi yang utama pada uterus ke vagina adalah : lig.cardinale & utero-sacrale.
- Fungsi : alat bersenggama, jalan lahir waktu partus, saluran keluar uterus yang dapat
mengalirkan darah pada waktu menstruasi dan sekret dari uterus.
- Pada virgo intacta introitus vaginae sebagian ditutupi oleh suatu selaput yang disebut
hymen. Menurut bentuknya dapat dibedakan :
Hymen anularis (cincin)
Hymen semilunaris (bulan sabit)
Hymen cribriformis (berlubang-lubang sebagai saringan)
Hymen fimbriatus ( dengan tepi sebagai jari-jari)
Hymen imperforatus (tidak berlubang)

- Setelah diadakan coitus berulang-ulang hanya terdapat sisa-sisanya sebagai tonjolan-
tonjolan yang disebut carunculae hymenales yang hilang setelah melahirkan.
10

- A.uterina pergi ke ventrocaudal setinggi isthmus uteri, membeok ke medial berjalan di
pangkal lig.latum, cranial lig.cardinale uteri membentuk cabang a.vaginalis ke dinding
vagina, pangkalnya kearah fundus kemudian bercabang-cabang menjadi :
- r. Ovaricus, melalui lig.ovarii proprium menuju ovarium.
- A.ligamenti teretis uteri, mengikuti lig.teres uteri.
- r.tubarius, mengikuti tuba uterina.
- Saraf-saraf otonom system urogenitale wanita :
N.Pudendus, meninggalkan pelvis melalui foramen infrapiriformis, dorsal
spina ischiadica, masuk ke foramen ischiadicum minus sebagai
n.clitoridis. Cabang yang lain : n.hemorrhoidalis inferior untuk sphincter
ani externus dan ke kulit pada regio analis. N.perinealis berakhir sebagai
n.labialis untuk labium majus, ia memberi ke rr.cutanei ke kulit.
- Vasa lymphatica dan nodi lymphatici (lymphonodi)
- Bagian proximal mengikuti kembali r.vaginalis a.uternae ke Inn.Iliaci interni.
- Bagian medial mengikuti kembali r.vaginali a.vesicalis inferior ke Inn sepanjang
a.vesicalis inferior ke Inn.Iliaci interni.
- Bagian dari vagina distal, dinding vestibulum vagina, labium minora, labium majora
pergi ke Inn inguinale superficialis.


2. Uterus (rahim)
Adalah suatu struktur otot yang cukup kuat, bagian luarnya ditutupi oleh peritoneum,
sedangkan rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa rahim. Dalam keadaan tidak hamil,
rahim terletak dalam rongga panggul kecil diantara kandung kencing dan rektum.
Bentuknya seperti bola lampu yang gepeng atau buah alpukat yang terdiri dari 3 bagian
yaitu :
Badan rahim (korpus uteri) berbentuk segitiga, bagian tengah uterus yang
berbentuk bulat melebar. Batas antara corpus uteri dan cervix uteri dibentuk oleh
isthmus uteri, suatu penyempitan di dalam uteri, terletak antara ostium uteri
internum anatomicum dengan ostium uteri histologicum. Distal dari istmus uteri
terdapat ruangan melebar disebut cervix uteri.
Leher rahim (serviks uteri) berbentuk silinder, bagian yang paling sempit dan
menonjol ke dalam rongga vagina. Pada bagian ujung distal cervix ada bagunan
yang menyempit disebut ostum uteri externum. Rongga di dalam cervix uteri
disebut canalis cervicis.
Fundus uteri, bagian yang terletak di atas (proximal) osteum tuba uterina.
Bagian rahim antara kedua pangkal tuba disebut fundus uteri, merupakan bagian
proksimal rahim. Besarnya rhim berbeda-beda, tergantung pda usia dan pernah
melahirkan anak atau belum. Ukurannya kira-kira sebesar telur ayam kampung. Pada
nulipara ukurannya 5,5-8 cm x 3,4-4 cm x 2-2,5 cm, multipara 9-9,5 cm x 5,5-6 cm x 3-
3,5 cm. Beratnya 40-50 gram pada nulipara dan 60-70 gram pada multipara. Serviks uteri
terbagi 2 bagian yaitu pars supravaginal dan pars vaginal (portio) saluran yang
menghubungkan orifisium uteri interna (oui) dan orifisium uteri eksterna (oue) disebut
kanalis servikalis. Bagian rahim antara serviks dan korpus disebut isthmus atau segmen
bawah rahim (SBR), bagian ini penting dalam kehamilan dan persalinan karena akan
mengalami peregangan.
11

Dinding rahim terdiri dari 3 lapisan yaitu :
lapisan serosa (lapisan peritoneum), di luar
lapisan otot (lapisan miometrium)di tengah
lapisan mukosa (endometrium) di dalam
Dalam siklus menstruasi yang selalu berubah adalah endometrium.
Sikap dan letak uterus dalam rongga panggul terfiksasi dengan baik karena disokong dan
dipertahankan oleh :
tonus rahim sendiri
tekanan intra abdominal
otot-otot dasar panggul
ligamentum-ligamentum
Ligamentum-Ligamentum Uterus
a. Ligamentum Latum
Terletak di kanan kiri uterus meluas sampai dinding rongga panggul dan dasar
panggul, seolah-olah menggantung pada tuba. Ruangan antar kedua lembar dari
lipatan ini terisi oleh jaringan yang longgar disebut parametrium dimana berjalan
arteria, vena uterina pembuluh limpa dan ureter.
b. Ligamentum Rotundum (Ligamentum Teres Uteri)
Terdapat pada bagian atas lateral dari uterus, kaudal dari insersi tuba, kedua ligamen
ini melelui kanalis inguinalis kebagian kranial labium mayus. Terdiri dari jaringan
otot polos dan jaringan ikat ligamen. Ligamen ini menahan uterus dalam antefleksi.
Pada saat hamil mengalami hypertrophi dan dapat diraba dengan pemeriksaan luar.
c. Ligamentum Infundibulo Pelvikum ( Ligamen suspensorium)
Ada 2 buah kiri kanan dari infundibulum dan ovarium, ligamen ini menggantungkan
uterus pada dinding panggul. Antara sudut tuba dan ovarium terdapat ligamentum
ovarii propium.
d. Ligamentum Kardinale ( lateral pelvic ligament/Mackenrodts ligament)
Terdapat di kiri kanan dari serviks setinggi ostium internum ke dinding panggul.
Ligamen ini membantu mempertahankan uterus tetap pada posisi tengah
(menghalangi pergerakan ke kanan ke kiri) dan mencegah prolap.
e. Ligamentum Sakro Uterinum
Terdapat di kiri kanan dari serviks sebelah belakang ke sakrum mengelilingi rektum.
f. Ligamentum Vesiko Uterinus
Dari uterus ke kandung kencing.
Letak Uterus
Ante dan retrofleksio uteri
Sumbu serviks dan sumbu korpus uteri membentuk sudut, jika membuka ke depan
disebut : antefleksio, jika membuka ke belakang disebut : retrofleksio.
Ante dan retroversio uteri
12

Sumbu vagina dan uterus membentuk sudut, jika membuka ke depan disebut : ante
versio, jika membuka ke belakang disebut : retro versio.
Positio
Uterus tidak terletak pada sumbu panggul, bisa lebih ke kiri (sinistro), ke kanan
(dextro), ke depan (antero) dan bisa lebih ke belakang (dorso positio).
Torsio
Letak uterus biasanya agak berputar
Vaskularisasi Uterus
1. Arteri uterine
Berasal dari arteria hypogastrica yang melalui ligamentum latum menuju ke sisi uterus
kira-kira setinggi OUI dan memberi darah pada uterus dan bagian atas vagina dan
mengadakan anastomose dengan arteria ovarica.
2. Arteri ovarica
Berasal dari aorta masuk ke ligamen latum melalui ligamen infundibulo pelvicum dan
memberi darah pada ovarium, tuba dan fundus uteri.
Darah dari uterus dialirkan melalui vena uterina dan vena ovarica yang sejalan dengan
arterinya hanya vena ovarica kiri tidak masuk langsung ke dalam vena cava inferior,
tetapi melalui vena renalis sinistra.
Persyarafan Uterus
Kontraksi dinding uterus adalah autonom, uterus dipengaruhi serat-serat saraf sympathis
maupun parasympatis yang menuju ke ganglion cervicale dari Frankenhauser yang terletak
dipangkal ligamen sacro uterinum.
Fungsi Utama Uterus
a) Setiap bulan berfungsi dalam pengeluaran darah haid dengan adanya perubahan
dan pelepasan dari endometrium
b) Tempat janin tumbuh dan berkembang
c) Tempat melekatnya plasenta
d) Pada kehamilan, persalinan dan nifas mengadakan kontraksi untuk lancarnya
persalinan dan kembalinya uterus pada saat involusi.

3. Tuba Falopii (saluran telur)
- Jumlah sepasang kanan dan kiri
- Merupakan saluran muscular, panjang 10cm, diameter 3-8 cm.
- Menjulur dari uterus kearah ovarium dengan ujung distal terbuka ke dalam rongga
peritoneum disebut ostium abdominal.
- Tuba ini dibagi 4 bagian :
1. Pars Interstisialis (intramuralis)
Bagian tuba yang berjalan dalam dinding uterus mulai dari ostium tuba.
2. Pars ismika
13

Bagian tuba setelah keluar dari dinding uterusa, merupakan bagian tuba yang
lurus dan sempit.
3. Pars ampullaris
Bagian tuba antara pars ismika dan infundibulum merupakan bagian tuba yang
paling lebar dan berbentuk S, disini biasanya terjadi konsepsi.
4. Infundibulum
Merupakan ujung dari tuba dengan umbai-umbai yang disebut fimbriae,
lubangnya disebut ostium abdominale tuba.
- Fungsi tuba yaitu untuk menangkap, membawa ovum yang dilepas ovarium ke
jurusan cavum uteri, serta tempat terjadinya konsepsi.
4. Ovarium (indung telur)
- Jumlah sepasang
- Terletak di dalam pelvis minor
- Berbentuk bulat memenjang, agak pipih (seperti buah almond dengan ukuran
3x1,5x1 cm)
- Terdiri dari cortex, dan medulla (berisikan pembuluh darah, limf dan saraf)
- Dilekatkan oleh mesovarium pada lig latum (berupa lipatan peritoneum sebelah
lateral kiri dan kanan uterus. Meluas sampai dinding panggul dan dasar panggul,
sehingga seolah-olah menggantung pada tubae)
- Fungsi ovarium adalah :
mengeluarkan hormon estrogen dan progesterone
mengeluarkan telur setiap bulan.
- Difiksasi oleh
- Lig suspensorium ovarii (lig infundibulopelvicum) : lig ini menggantungkan
uterus pada dinding panggul antara sudut tuba.
- Pada yang ke ovarium terdapat lig ovarii propium
- Lig teres uteri (lig rotundum) : terdapat d bag atas lateral dari uterus, caudal dari
tuba, kedua lig ini melalui canalis inguinalis ke bag cranial labium majus. Pada
saat kehamilan mengalami hipertrofi dan dapat diraba dengan pemeriksaan luar.
5. Parametium
Jaringan ikat yang terdapat diantara kedua lembar ligamentum latum disebut
parametrium. Parametrium ini dibatasi oleh :
Bagian atas terdapat tuba falopii dengan mesosalphing
Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri
Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium
Bagian belakang terdapat ligamentum ovarii propium
Ke samping berjalan ligamentum suspensorium ovarii. Pada parametrium ini terdapat uretra
kanan dan kiri dan pembuluh darah arteria uterina.
Pertumbuhan alat genetalia wanita berasal dari duktus Muller (tuba falopii, uterus, vagian bagian
atas) dan kloaka (vagina bagian bawah, hymen, kandung kemih, anus.
berbatasan dengan trigonum vesicalis ; dan di bagian posterior dengan rektum.
14

Dibagian posterior, bagian distal vagina terpisah dari saluran anus dengan
corpus perinealis ; 2/4 bagian tengah vagina berhimpitan dengan ampula recti ;
bagian proksimal vaenana dibelakang fornix posterior tertutup dengan
peritoneum membentuk Cavum Douglassi.
Lendir yang membasahi vagina berasal dari servik yang menjadi asamakibat
fermentasi glikogen epitel oleh bakteri vagina.
Vagina terdiri dari lapisan epitel pipih bertatah, otot dan jaringan ikat dibagian
luar.
Fungsi vagina : organ copulasi, saluran keluar (darah haid), dan sebagai jalan
lahir.











http://healthfavo.com/wp-content/uploads/2013/08/female-reproductive-system.jpg

LO.1.2. Memahami dan menjelaskan mikroskopik sistem reproduksi wanita
Uterus
Dari segi histologi, uterus terdiri dari tiga lapisan:
1. Lapisan serosa atau peritoneum viseral yang terdiri dari sel mesotelial.
2. Lapisan muscular atau miometrium yang merupakan lapisan paling tebal di uterus dan
terdiri dari serat otot halus yang dipisahkan oleh kolagen dan serat elastik. Berkas otot
polos ini membentuk empat lapisan yang tidak berbatas tegas. Lapisan pertama dan
keempat terutama terdiri atas serat yang tersusun memanjang, yaitu sejajar dengan sumbu
panjang organ. Lapisan tengah mengandung pembuluh darah yang lebih besar.
3. Lapisan endometrium yang terdiri atas epitel dan lamina propia yang mengandung
kelenjar tubular simpleks. Sel-sel epitel pelapisnya merupakan gabungan selapis sel-sel
15

silindris sekretorus dan sel bersilia. Jaringan ikat lamina propia kaya akan fibroblas dan
mengandung banyak substansi dasar. Serat jaringan ikatnya terutana berasal dari kolagen
tipe III.
Lapisan endometrium dapat dibagi menjadi dua zona, (1) Lapisan fungsional yang merupakan
bagian tebal dari endometrium. Perubahan siklik dibagi menjadi beberapa tahap:

http://www.ouhsc.edu/histology/Glass%20slides/19_01.jpg
http://www.ouhsc.edu/histology/Glass%20slides/20_01.jpg
http://www.ouhsc.edu/histology/Glass%20slides/96_01.jpg

- Proliferatif (atau folikular), dibawah pengaruh estrogen ovarium, stratum functionale
semakin tebal dan kelenjar uterus memanjang dan berjalan lurus di permukaan. Arteri
spiralis memanjang berkelok-kelok.
- Sekretorik (atau luteal), dimulai setelah folikel matur. Perubahan d endometrium
disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang disekresi oleh korpus luteum
fungsional, akibatnya stratum functionale dan stratum basale endometrium menjadi lebih
tebal karena bertambahnya sekresi kelenjar dan edema lamina propria, epitel kelenjar
uterus mengalami hipertrofi akibat adanya akumulasi sekretorik yang kaya karbohidrat.
Arteri spiralis terus berjalan ke bagian atas endometrium dan tampak jelas karena
dindingnya tebal. Selama fase sekretori, stratum functionale endometrium ditandai oleh
perubahan epitel permukaan silindris, kelenjar uterus dan lamina propria. Stratum basale
menunjukkan perubahan minimal.
- Menstruasi, endometrium di stratum functionale mengalami degenerasi dan terlepas.
Endometrium yang terlepas mengandung kepingan-kepingan stroma yang hancur, bekuan
darah, dan kelenjar uterus beserta produknya. Stratum basal endometrium tetap tidak
terpengaruh selama fase ini. Bagian distal arteri spiralis mengalami nekrosis, sedangkan
bagian arteri yang lebih dalam tetap utuh.
(2) Lapisan basal yang paling dalam dan berdekatan dengan miometrium. Lapisan ini
mengandung lamina propia dan bagian awal kelenjar uterus. Lapisan ini berperan sebagai bahan
regenerasi dari lapisan fungsional dan akan tetap bertahan pada fase menstruasi. Endometrium
adalah jaringan yang sangat dinamis pada wanita usia reproduksi. Perubahan pada endometrium
terus menerus terjadi sehubungan dengan respon terhadap perubahan hormon, stromal, dan
vaskular dengan tujuan akhir agar nantinya uterus sudah siap saat terjadi pertumbuhan embrio
pada kehamilan. Stimulasi estrogen dikaitkan erat dengan pertumbuhan dan proliferasi
endometrium, sedangkan progesteron diproduksi oleh korpus luteum setelah ovulasi
mengahmbat proliferasi dan menstimulasi sekresi di kelenjar dan juga perubahan predesidual di
stroma.
16

Tuba uterine (tuba falopii)
Tuba uterina (tuba falopii), terdiri atas 4 segmen yaitu bagian Intramural (Pars Interstitial),
Istmus, Ampula, Infundibulum . Jari2/jumbai melebarke arah ovarium disebut fimbriae. Secara
histologi, dinding tuba uterina terdiri dari 3 lapisan: tunika mukosa, tunika muskularis, tunika
serosa. (Junqueira, L. C. and Carneiro, J., 2007. Histologi dasar. 10th ed. Jakarta: EGC.)

http://www.lab.anhb.uwa.edu.au/mb140/corepages/femalerepro/images/uem021he.jpg
http://www.ouhsc.edu/histology/Glass%20slides/21_01.jpg

Ovarium
Permukaan ovarium ditutupi oleh epitel selapis gepeng atau kuboid, yakni epitel germinal. Di
bawah lapis epitel germinal terdapat sebuah lapisan jaringan ikat padat yang tidak berbatas jelas
membentuk tunika albuginea. Jaringan korteks ovarium berada di bawah tunika albuginea. Di
sini terdapat sejumlah besar folikel ovarium sedang berkembang pada fase yang berbeda-beda.
Sebuah folikel ovarium terdiri atas sebuah oosit yang dikelilingi oleh satu atau lebih lapisan sel
folikel. Folikel dibagi ke dalam tiga fase perkembangan, yaitu folikel primordial, folikel
berkembang, dan folikel de Graaf atau matang.
Folikel primordial paling banyak dijumpai saat sebelum kelahiran. Terdiri atas sebuah oosit
primer dengan inti dan anak inti besar yang dibungkus oleh selapis sel folikel gepeng. Sementara
folikel berkembang, stroma ovarium yang mengelilingi folikel akan berdeferensiasi menjadi teka
interna dan teka eksterna. Teka interna kaya akan vaskular dan teka eksterna terutama terdiri atas
jaringan ikat. Tidak ada pembuluh darah dalam lapisan granulosa.
Sewaktu folikel berkembang pula, terbentuk ruang-ruang kecil di antara sel folikel yang berisi
cairan folikel. Folikel ini disebut folikel sekunder. Kemudian ruang-ruang ini menyatu dan
akhirnya hanya membentuk satu ruang besar yang disebut antrum. Sel-sel dari lapisan granulosa
berkumpul pada satu bagian dinding folikel, membentuk bukit kecil sel-sel, yaitu kumulus
ooforus, yang mengandung oosit. Kumulus ooforus ini menonjol kedalam antrum. Oosit tidak
akan bertumbuh lagi dan dilapisi oleh sel granulosa tipis yang disebut korona radiata.
Folikel ini kini benama folikel de Graaf atau matang.
17

Proses ovulasi terdiri atas pecahnya folikel matang dan pelepasan ovum. Ovum bersama zona
pelucida, sel-sel yang meliputinya, dan beberapa cairan antrum meninggalkan ovarium dan
masuk ke dalam tuba uterina. Setelah ovulasi, sel granulosa dan sel-sel dari teka interna yang
menetap dalam ovarium membentuk kelenjar endokrin sementara yang disebut korpus luteum
yang mensekresikan progesteron dan estrogen.
Struktur ovarium terdiri dari:
a) Korteks di bagian luar, terdiri dari:
- Stroma padat, mengandung folikel ovarium. Stroma berbentuk jala retikulin dengan sel
bentuk gelendong.
- Sebelum pubertas hanya tdpt folikel primitif atau primer.
- Kematangan seks: adanya folikel yang berkembang dan hasil akhirnya berupa korpus
luteum, folikel atretis.
- Saat menopause folikel menghilang dan korteks jadi tipis dan terdiri dari jaringan ikat
fibrosa
b) Medula dibagian dalam,tdd:
- Jaringan ikat fibroelastis berisi pembuluh darah besar, limf dan saraf.
Korpus Luteum
Bila tidak terjadi fertilisasi maka korpus luteum hanya bertahan 10-14 hari dan berdegenerasi
disebut korpus luteum menstruasi.
Bila terjadi fertilisasi, plasenta menghasilkan HCG dan menstimulasi korpus luteum untuk
bertahan selama 6 bulan dan akan menurun tapi tidak hilang dan masih mensekresi progesteron
sampai akhir kehamilan disebut korpus luteum pregnans.
(Fawcett DW. 2004. Buku Ajar Histologi Bloom & Fawcett. 12
th
ed. Trans Tambayong J.
Jakarta: EGC)

http://legacy.owensboro.kctcs.edu/gcaplan/anat2/histology/a%20ovary%203.jpg
https://secure.health.utas.edu.au/intranet/cds/cam202/Images/98-9824x200a.jpg

Vagina
18

Vagina adalah tabung fibromuskular dengan dinding yang terdiri
dari tiga lapisan: mukosa, muskularis dan adventitia dari vagina.
MukosaEpitel skuamosa bertingkat (dalam stratum basalis,
intermediate stratum spinosum, lapisan dangkal sel eosinofilik
datar yang memang mengandung keratin tetapi biasanyatidak
membentuk lapisan tanduk yang benar) terletak pada lamina
propria yang sangatseluler (leukosit banyak). Menjelang
muskularis beberapa ruang kavernosa vaskular dapat dilihat
(jaringan ereksi yang khas).
Muskularis Batin lapisan membujur melingkar dan luar otot
polos yang hadir. Inferior, otot, bulbo spongiosus lurik sukarela
membentuk sphincter sekitar vagina.
AdventitiaBagian dari adventitia berbatasan dengan
muskularis cukup padat dan berisi banyak seratelastis. Jaringan ikat longgar dengan pleksus vena
menonjol membentuk bagian luar adventitia.
http://www.lab.anhb.uwa.edu.au/mb140/corepages/femalerepro/images/vag02he.jpg

Labia
Labia mayor terdiri dari lipatan-lipatan kulit yang menutupi kumpulan jaringan adiposa.Pada
orang dewasa, permukaan luar ditutupi oleh rambut kasar dengan kelenjar keringat dansebasea.
Labia majora adalah homolog dengan skrotum pada pria. Labia minora terdiri dari intiyang
sangat vaskular, jaringan ikat longgar tertutup oleh epitel skuamosa berlapis yang
sangatmenjorok oleh papilla jaringan ikat. Kedua permukaan labia minora tidak terdapat
rambut,tetapi banyak terdapat kelenjar sebasea besar.

Klitoris
Klitoris adalah suatu badan yang terbentuk dari dua corpora cavernosa yang tertutupdalam
lapisan jaringan ikat fibrosa dan dipisahkan oleh septum yang tidak lengkap. Ujung bebas dari
klitoris berakhir dalam tuberkulum, kecil membulat,serta kelenjar clitoridis. Klitorisdibungkus
oleh lapisan tipis epitel skuamosa berlapis nonkeratinized , juga terkait dengan banyak ujung
saraf khusus. Klitoris tidak memiliki korpus spongiosum , oleh karena itu tidak dilalui oleh
uretra.

Kelenjar vestibular/ kelenjar Bartholin
Vestibulum adalah celah antara labia minora yang di dalamnya merupakan bukaanvagina dan
uretra. dibatasi oleh epitel skuamosa berlapis dan mengandung banyak kelenjar vestibular kecil.
Terdapat kelenjar lendir tubuloalveolar yang mengeluarkan cairan, pelumas jelas berlendir.
Kelenjar utama sesuai dengan kelenjar bulbourethral dari laki-laki.(Junqueira, 2007).
19



LI.2. Mampu memahami dan menjelaskan Keputihan (Leukorea)
LO.2.1. Memahami dan menjelaskan Definisi Keputihan (Leukorea)
Leukorea (duh tubuh, keputihan, flour albus, white discharge) adalah nama gejala yang diberikan
pada cairan yang dikeluarkan dari alat genital yang tidak berupa darah. Leukorea adalah cairan
yang keluar dari vagina. Dalam keadaan biasa, cairan ini tidak sampai keluar, namun belum tentu
bersifat patologis. Sumber cairan ini dapat berasal dari sekresi vulva, cairan vagina, sekresi
serviks, sekresi uterus, atau sekresi tuba falopii, yang dipengaruhi fungsi ovarium.
Keputihan (flour albus) adalah cairan yang berlebihan yang keluar dari vagina. Keputihan
bisa bersifat fisiologis (dalam keadaan normal) namun bisa juga bersifat patologis (karena
penyakit) dan keputihan tidak mengenal batasan usia. Berapa pun usia seorang wanita, bisa
terkena keputihan. (Sugi Suhandi, 2009)
Secara definisi keputihan adalah cairan tubuh (bukan darah) yang keluar dari organ reproduksi
wanita. Keadaan ini dapat bersifat fisiologis atau patologis. Keputihan yang fisiologis dapat
timbul saat terjadi perubahan siklus hormonal, seperti sebelum pubertas, stress psikologis,
sebelum dan setelah datang bulan, kehamilan, saat menggunakan kontrasepsi hormonal, atau saat
menopause. (Moctar R, 1986)

LO.2.2. Memahami dan menjelaskan Epidemiologi Keputihan (Leukorea)
Hampir semua perempuan pernah mengalami keputihan. Pada umumnya, orang menganggap
keputihan pada wanita sebagai hal yang normal. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena ada
berbagai sebab yang dapat mengakibatkan keputihan, bukan tentang kebersihan daerah intim saja
tapi juga cara membersihkannya. Keputihan yang normal memang merupakan hal yang wajar.
Namun, keputihan yang tidak normal dapat menjadi petunjuk adanya penyakit yang harus
diobati.
Meskipun termasuk penyakit yang sederhana kenyataanya keputihan adalah penyakit yang
tak mudah di sembuhkan. Penyakit ini menyerang sekitar 50 % populasi perempuan dan
mengenai hampir pada semua umur. Data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita
menunjukkan 75 % wanita di dunia pasti menderita keputihan paling tidak sekali umur
20

hidup dan 45 % di antaranya bisa mengalaminya sebanyak dua kali atau lebih. Di
Indonesia, wanita yang mengalami keputihan ini sangat besar, 75 % wanita Indonesia pasti
mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya. Angka ini berbeda tajam dengan
eropa yang hanya 25 % saja. Kondisi cuaca Indonesia yang lembab menjadi salah satu
penyebab banyaknya wanita Indonesia yang mengalami keputihan, hal ini berbeda dengan
eropa yang hawanya kering sehingga wanita dapat tidak mudah terinfeksi jamur.
Keputihan adalah gejala awal dari kanker mulut rahim. Di seluruh dunia, kini terdapat
sekitar 2,2 juta penderita kanker serviks. Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah
tumor ganas yang menyerang leher rahim yang di sebabkan virus (HPV) human papilonia
virus, pada awalnya kanker serviks tidak menimbulkan gejala, namun bila sudah berkembang
menjadi kanker serviks barulah muncul gejala-gejala klinis, seperti keputihan yang berbau
dan bercampur darah, pendarahan di luar haid, sakit saat buang air kecil dan rasa sakit yang
luar biasa pada panggul.
(Andrew G.(2009).Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita,Edisi 2.Jakarta.EGC)
Dari penelitian yang dilakukan oleh Yusrawati pada 2007 melibatkan 228 responden,
didapatkan 90,7% responden mengalami leukorea, dimana 38,7% di antaranya mengalami
leukorea fisiologis, 31,9% patologis dan 29,4% mengalami kedua jenis leukorea, baik patologis
maupun fisiologis. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara leukorea patologis dengan cara cebok dan frekuensi
penggantian celana dalam.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh IGA Manik Karuniadi pada 2009 menunjukkan
kesimpulan bahwa, berdasarkan karakteristik umur diperoleh data sebagian besar remaja putri
berusia 14-16 tahun tidak tahu perihal penyebab keputihan (90,91%). Berdasarkan pendidikan
didapatkan bahwa seluruh responden lulusan perguruan tinggi (100%) tidak mengetahui
secara pasti cara mencegah keputihan. Dari segi akses informasi didapatkan seluruh remaja
(100%) yang tidak mendapat sumber informasi tidak mengetahui mengenai dampak buruk
keputihan.
(IGA Manik Karuniadi.(2009).Pengetahuan dan Sikap Remaja Perempuan Mengenai Cara
Mencegah dan Mengatasi Keputihan Di Klinik Remaja Kisara Pada Tahun 2009.

LO.2.3. memahami dan menjelaskan Etologi Keputihan (Leukorea)
Beberapa etiologi dari leukorea antara lain:

1. Non infeksi (noninfective)
Fisiologi
Perubahan hormonal estrogen dan progesteron yang terjadi dapat dikarenakan
adanya perubahan konstitusi dalam tubuh wanitu itu sendiri atau karena pengaruh
dari luar misalnya karena obat/cara kontrasepsi, dapat juga karena penderita
sedang dalam pengobatan hormonal. Estrogen turun vagina menjadi kering dan
lapisan sel tipis, kadar glikogen berkurang, dan basil doderlein berkurang
memudahkan infeksi karena lapisan sel epitel tipis, mudah menimbulkan luka
flour albus.
21

Pada wanita yang telah mengalami menopouse terjadi penurunan aktivitas
hormonal seperti estrogen yang berdampak pada penurunan aktivitas organ
genital. Seperti vagina menjadi lebih keras, menipisnya epitel dan kurangnya
degenerasi sel epitel. Hal ini dapat mempermudah terjadinya infeksi yang pada
akhirnya dapat menimbulkan keputihan.
Stressor dapat merangsang sekresi adenokorteks yang berakibat meningkatkan
glukokortikoid dan aktivitas saraf simpatis, diikuti pelepasan katekolamin.
Hipotalamus bereaksi mengontrol sekresi Adrenocorticopin (ACTH) yang
berhubungan dengan sekresi hormon peptida termasuk vasopresin, oksitosin, dan
Corticotropin Releasing Factor (CRF). Hormon peptida ini berperan mengatur
fungsi imun. Dalam keadaan stres, sekresi Growth Hormone (GH) juga
meningkat, stress yang lama dapat menekan fungsi gonad. Reseptor spesifik yang
terdapat pada neuroendokrin dapat mempengaruhi aktifitas sel. Sel makrofag yang
telah aktif akan melepaskan suatu mediator yaitu interleukin 1 (IL-1). Mediator
ini sangat bermanfaat bagi limfosit lain sehingga dapat membunuh sel-sel asing.
Bahwa ada impuls langsung dari stressor yang mengenai hipotalamus yang
diteruskan ke resptor estrogen di vagina melalu Nerve Pathway khusus sehingga
terjadi supresi estrogen yang berakibat pergeseran pH vagina.
Penggunaan obat-obat imunosupresan seperti kortikosteroid dan penggunaan
antiseptik genital secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan imunitas
organ genital dan juga menyebabkan kematian flora normal organ genital. Hal ini
menyebabkan mudahnya terjadi infeksi daerah vagina yang dapat menimbulkan
keputihan.
Kelainan alat genitalia, kongenital atau didapat
Kadang-kadang pada wanita ditemukan cairan dari vagina yang tercampur dengan
urine atau feses. Hal ini dapat terjadi akibat adanya fistel uterovagina, fistel
rektovagina yang disebabkan kelainan kongenital, cedera persalinan, radiasi pada
kanker alat kandungan atau akibat kanker itu sendiri.
Polip servikal dan ektopi
Benda asing seperti tampon yang tertinggal (retained tampon).
Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak ataupun
tertinggalnya tampon maupun kondom pada wanita dewasa, adanya cincin
pesariumpada wanita yang menderita prolaps uteri serta pemakaian alat
kontrasepsi seperti IUD dapat merangsang pengeluaran sekret yang jika
berlebihan menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi infeksi penyerta dari
flora normal dalam vagina.
Dermatitis vulva
Lichen planus erosive
Daerah merah sekitar ostium uteri internum yakni epitel kolumner endoserviks
terkelupas, mudah terjadi infeksi penyerta dari flora normal di vagina sehingga
timbul fluor albus.
22

Keganasan traktus genitalia (kanker servik,kanker uterus, kanker ovarium)
Pada kanker terdapat gangguan dari pertumbuhan sel normal yang berlebihan
sehingga mengakibatkan sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah
rusak, akibatnya terjadi pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh
darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker
tersebut. Pada Ca cerviks terjadi pengeluaran cairan yang banyak disertai bau
busuk akibat terjadinya proses pembusukan tadi, dan acapkali disertai adanya
darah yang tidak segar.
Fistula
Vaginitis atropi
Usia pra pubertas, masa laktasi, pasca menopause dan beberapa keadan yang
menyebabkan kurangnya estrogen, akan menyebabkan meningkatnya pH vagina.
Naiknya pH akan menyebabkan pertumbuhan bakteri normal dalam vagina
menjadi berkurang, tetapi sebaliknya pH yang meningkat akan memicu
pertumbuhan bakteri patogen di vagina. Kurangnya estrogen akan menyebabkan
penipisan mukosa vagina sehingga mudah terluka dan terinfeksi
2. Infeksi:
Penyebab leukorrhea terbanyak adalah infeksi pada vagina (vaginitis) dan seviks
(servisitis). Ada atau tidaknya bau, gatal dan warna dapat membantu menemukan
etiologinya. Sekret yang disebabkan oeh infeksi biasanya mukopurulen, warnanya
bervariasi dari putih kekuningan hingga berwarna kehijauan. Vaginitis paling sering
disebabkan oleh Candida spp., Trichomonas vaginalis, Vaginalis bakterialis. Sedangkan
servisitis paling sering disebabkan oleh Chlamidia trachomatis dan Neisseria
gonorrhoeae. Selain itu penyebab infeksi yang lain adalah infeksi sekunder pada luka,
abrasi (termasuk yang disebabkan oleh benda asing), ataupun terbakar.
Nonsexually transmitted infection:
Vaginosis bakteri, paling sering terjadi pada wanita seksual aktif yang
memiliki riwayat penyakit menular seksual berulang.
Gardnerella vaginalis
Gardnerella vaginalis pada keadaan normal
ditemukan dalam saluran pernapasan.
Namun, bakteri ini terdapat pada kira-kira
30% flora normal vagina wanita normal.
Organisme ini merupakan basil gram negatif
yang biasanya ditemukan bersamaan dengan
keberadaan bakteri anaerob. Mungkin terjadi
penularan melalui hubungan seksual, karena
90% laki-laki terinfeksi.
Menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap
sebagai bagian dari mikroorganisme normal dalam vagina karena sering
ditemukan. Bakteri ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina dengan
membentuk bentukan khas dan siebut dengan clue cell. Gardnerella
menghasilkan asam amino yang diubah menjadi senyawa amin yang
23

menimbulkan bau amis seperti ikan. Cairan vagina tampak warna keabu-
abuan.
Infeksi kandida, disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan dari candida
albicans.
Secara normal dapat ditemukan di mulut,
tenggorokan, usus, dan kulit laki-laki dan pada
perempuan sehat sering di jumpai di vagina
perempuan asimtomatik. Candida albicans
merupakan spesies penyebab pada lebih dari
80% kasus infeksi kandida pada genitalia.
Pertumbuhan berlebihan candida albicans
adalah penyebab tersering vaginitis dan
vulvovaginitis. C.tropicalis dan C.glabrata
adalah dua spesies lain yang menyebabkan vulvovaginitis. Secara ketat,
kandidiasis tidak dianggap ditularkan secara seksual, namun Candida
albicans dapat dibiak dr penis 20% laki-laki pasangan perempuan yang
mengidap vulvovaginitis kandida rekurens.
Candida albicans bersifat dimorfik, selain ragi-ragi dan pseudohifa, ia juga
bisa menghasilkan hifa sejati. Dalam media agar atau dalam 24 jam pada
suhu 37 C atau pada suhu ruangan, spesies candida menghasilkan koloni
halus, berwarna crem dengan aroma ragi. Dua tes morfologi sederhana
membedakan Candida albicans yang paling patogen dari spesies candida
lainnya yaitu setelah inkubasi dalam serum selama sekitar 90 menit pada
suhu 37, sel-sel ragi candida albicans akan mulai membentuk hifa sejati
atau tabung benih, dan pada media yang kekurangan nutrisi, candida
albicans menghasilkan chlamydospora bulat dan besar.

Sexually transmitted infection:
Chlamydia trachomatis
Chlamydia trachomatis merupakan salah satu
dari empat spesies genus chlamydia yang
merupakan bakteri khusus yang hidup
sebagai parasit intrasel. Chlamydia
trachomatis adalah infeksi bakteri menular
seksual yang ditemukan diseluruh dunia.
Chlamydia trachomatis bersifat dimorfik
yaitu organisme ini terdapat dalam dua
bentuk, dalam bentuk infeksiosa, Chlamydia
trachomatis merupakan sferoid berukuran kecil, tidak aktif secara
metabolis, dan mengandung DNA dan RNA serta di sebut badan
elementer. Sferoid-sferoid ini memperoleh akses ke sel penjamu melalui
endositosis dan setelah berada didalam berubah menjadi organisme yang
secara metabolis aktif yang bersaing dengan sel penjamu memperebutkan
nutrien. Organisme ini memicu timbulnya siklus replikasi dan setelah
kembali memadat menjadi EB sampai sel penjamu pecah, terjadi ratusan
EB untuk menginfeksi sel-sel sekitarnya. Chlamydia trachomatis memiliki
24

afinitas terhadap epitel uretra, serviks, dan konjungtiva mata. Pada laki-
laki uretritis,epididimitis dan prostatitis adalah manifestasi infeksi
tersering. Pada perempuan yang tersering adalah servisitis, diikuti oleh
uretritis, bartolinitis dan akhirnya penyakit radang panggul.dapat juga
menginfeksi faring dan rektum orang yang melakukan hubungan seks oral
atau anal reseptif. Bayi dapat terinfeksi sewaktu dilahirkan dan mengalami
konjungtivitis dan pneumonia. Infeksi oleh Chlamydia trachomatis tidak
menimbulkan imunitas terhadap infeksi di kemudian hari.

Neisseria gonorrhoeae
Gonokokus adalah bakteri yang umumnya menginfeksi karena kontak
seksual. Biasanya pada wanita mengenai membrane mukosa uretra dan
endoserviks, selanjutnya infeksi akan
menyebar ke jaringan yang lainnya.
Neisseria gonorrhoeae ini merupakan
bakteri gram negatif, diplokokkus,
berdiameter 0,6 1,0 m, koloni
berbentuk cembung, berkilau, sifat
mukoid, transparan, tidak berpigmen.
Bersifat fakultatif aerobik. Bakteri ini
dapat ditemukan ekstraseluler dan intraseluler dalam leukosit
polimorfonuklear (neutrofil).
Treponema pallidum
Bakteri ini merupakan penyebab penyakit sifilis.
Sifilis termasuk penyakit akibat hubungan
seksual yang disebabkan oleh Treponema
pallidum dan mempunyai beberapa sifat, yaitu :
perjalanan penyakitnya sangat kronis, dalam
perjalannya dapat menyerang semua organ
tubuh, mempunyai masa laten, dapat kembali
kambuh ( rekuren ), dan dapat ditularkan dari
ibu ke janinnya.
Bakteri berbentuk spiral yang ramping. Lengkung spiralnya secara teratur
terpisah satu dengan yang lain. Organisme ini bergerak aktif pada
mikroskopis lapangan gelap. Berotasi dengan cepat disekitar
endoflagelnya bahkan setelah menempel pada sel melalui ujungnya yang
lancip. Aksis panjang spiral biasanya lurus tetapi kadang-kadang
melingkar, yang membuat organisme tersebut kadang-kadang membentuk
lingkaran penuh dan kemudian akan kembali lurus ke posisi semula.

Trichomonas vaginalis
Trikomiasis disebabkan oleh protozoa
parasitik tricomonas vaginalis. T.vaginalis
adalah organisme oval berflagela yang
berukuran setara dengan sebuah leukosit.
Organisme terdorong oleh gerakan-gerakan
25

dari flagelnya. Trigomonad mengikat dan akhirnya mematikan sel-sel
penjamu, memicu respon imun humoral dan seluler yang tidak bersifat
protektif terhadap infeksi berikutnya. Agar dapat bertahan hidup,
trikomonad harus berkontak langsung dengan eritrosit, dan hal ini dapat
mejelaskan mengapa perempuan lebih rentan terhadap infeksi daripada
laki-laki. Trichomonas vaginalis tumbuh paling subur pada pH antara 4,9
dan 7,5 dengan demikian haid, kehamilan, pemakaian kontrasepsi oral,
dan tindakan sering mencuci vagina merupaka predisposisi timbulnya
trikomoniasis. Bayi perempuan yang lahir dari ibu yang terinfeksi dapat
mengalami infeksi Trikomonas vaginalis. Bayi perempuan rentan karena
pengaruh hormon ibu pada epitel vagina bayi. Dalam beberapa minggu,
seiring dengan dimetabolismenya hormon-hormon ibu, epitel vagina bayi
menjadi resisten terhadap Trichomonas vaginalis dan infeksi sembuh
bahkan tanpa pengobatan.
Infeksi Trichomonas vaginalis ditularkan hampir secara eksklusif melalui
hubungan seksual. Walaupun trikomonad diketahui dapat bertahan hidup
sampai 45menit pada fomite, namun cara penularan fomite ini sangat
jarang terjadi. Risiko terinfeksi Trichomonas vaginalis meningkat seiring
dengan jumlah pasangan seks dan lama aktivitas seksual.

HSV (Herpes Simpleks Virus)
Terdapat dua tipe virus herpes yang berbeda tipe 1 dan tipe 2. Susunan
genom mereka sama dan menunjukan kesesuaian
urutan substansi. Tetapi mereka dapat dibedakan
melalui analisis pembatasan enzim dari DNA
virus. Keduanya secara serologis bereaksi silang,
tetapi terdapat beberapa protein unik pada setiap
tipe. Cara penularan mereka berbeda, HSV-1
menyebar melalui kontak, biasanya melibatkan air
liur yang terinfeksi sementara HSV-2 ditularkan secara seksual atau
melalui infeksi genitalia maternal kepada bayi yang baru lahir. Ini
menimbulkan gambaran klinis yang berbeda pada infeksi manusia.
Adalah penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit, selaput lendir
dan system syaraf.Macamnya ada HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 menyerang
daerah orofaring, menyebabkan lesi di wajah, mulut dan bibir.Walaupun
virus ini dapat juga menyebabkan harpes genitalis primer. HSV-2
pterdapat di daerah genital. HSV tidak dapat di sembuhkan.Pada orang
yang imunokompeten.Infeksi biasanya ringan dan swasirna.
HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa
atau setiap kerusakan di kulit.Virus herpes tidak dapat hidup di luar
lingkungan yang lembab. HSV mempunyai kemampuan untuk menginvasi
beragam sel melalui fusi langsung dengan membrane sel. Untuk dpat
masuk ke dalam sel, tidak memerlukan proses endositosis.
HSV-1 dan HSV-2 menanyebabkan infeksi kronik yang di tandai dengan
masa-masa infeksi aktif dan latensi. Pada infeksi primer aktif, virus
menginvasi sel penjamu dan cepat berkembang biak menghancurkan sel
26

penjamu dan melepaskan lebih banyak virion untuk menginfeksi sel-sel di
sekitarnya. Dan virus menyebar melalui saluran limfe ke kelenjar limfe
regional dan menyebabkan limfadenopati.Tubuh melakukan imunitas
seluler dan humoral yang menahan infeksi tetapi tidak dapat mencegah
kekambuhan infeksi aktif.
Setelah infeksi awal, timbul masa laten. Selama masa ini, virus masuk ke
dalam sel-sel sensorik yang mensyarafi daerah yang terinfeksi dan
bermigrasi di sepanjang akson untuk bersembunyi di dalam ganglion
radiksdorsalis tempat virus berdiam tanpa menimbulkan sitotosisitas atau
gejala pada manusia pejamunya. Virion dapat menular baik, dalam fase
aktif maupun masa laten.
HSV lebih sering di jumpai pada wanita, mungkin karena luas permukaan
mukosa saluran genitalia perempuan yang lebih luas dan terjandinya
kerusakan mikro di mukosa selama hubungan kelamin.Dibandingkan
dengan populasi umum, orang yang terinfeksi HIV lebih rentan terhadap
infeksi HSV dan menularkan penyakit ini. Karena infeksi HSV tidak
mengancam jiwa dan sering ringan atau asimtomatik, sehingga banyak
orang yang tidak menyadari akan besarnya penyakit ini.
Pada awal infeksi tampak kelainan kulit sepert melepuh terkena air panas
yang kemudian pecah dan menimbulkan luka seperti borok, dan pasien
merasa sakit.

HPV (Human Papilloma Virus)
Salah satu anggota grup papilovirus, dapat
menyebabkan kondiloma akuminata. Virus
ini ditularkan secara seksual umumnya
mengenai kedua pasangan dan menyerang
kelompok umur yang sama dengan penyakit
lainnya.
HPV diketahui sebagai penyebab kanker
kongenital, termasuk karsinoma serviks.
Papillomavirus menggambarkan konsep bahwa strain virus alamiah bisa
berbeda dalam potensi onkogenik. Yang paling sering di temukan HPV-16
atau HPV-18, walaupun beberapa kanker mengandung DNA dari HPV
tipe 31 atau tipe 45.
Adalah suatu pathogen DNA yang menyebabkan timbulnya berbagai
tumor jinak, (kutil), dan beberapa lesi pramaligna dan maligna. Ditandai
dengan kutil-kutil yang kadang sangat banyak dan dapat bersatu
membentuk jengger ayam yang berukuran besar. Cairan di vagina sering
berbau tanpa rasa gatal.
Virus ini mampu berikatan dengan beragam sel dan subtype-subtipe
tertentu, memperlihatkan preferensi untuk tempat-tempat anatomis
tertentu. Infeksi HPV dapat menyebabkan kanker serviks, penis dan anus.
HPV tipe-6 dan 11 merupakan penyebab utama kutil genital dan tidak
berkaitan dengan keganasan.
27

HPV sangat menular yang sering terjadi di amerika. Penularan HPV
genital hanya semata-mata melalui hubungan kelamin, walaupun
autoinokulasi dan penularan melalui fomite juga dapat terjadi. Infeksi
dapat di tularkan kepada neonates saat persalinan. Factor resiko terbesar
untuk timbulnya HPV adalah jumlah pasangan seks, merokok, pemakaian
kontrasepsi oral (KO) dan kehamilan dapat meningkatkan kerentanan
terhadap infeksi HPV. Sebagian besar infeksi HPV akan sembuh dan tidak
terdeteksi setelah 2 tahun. Imunitas yang terbentuk bersifat spesifik-tipe,
sehingga individu masih rentan terhadap infeksi oleh HPV tipe lain.

LO.2.4. Memahami dan menjelaskan Klasifikasi Keputihan (Leukorea)
1. Leukorea Fisiologis
Yaitu sekret dari vagina normal yang berwarna jernih atau putih, menjadi kekuningan bila
kontak dengan udara yang disebabkan oleh proses oksidasi. Normalnya hanya ditemukan
pada daerah porsio vagina. Secara mikroskopik terdiri dari sel-sel epitel vagina yang
terdeskuamasi, cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus,
sekresi dari saluran yang lebih atas dalam jumlah bervariasi serta mengandung berbagai
mikroorganisme terutama Lactobacillus doderlein. Memiliki pH < 4,5 yang terjadi karena
produksi asam laktat oleh Lactobacillus dari metabolisme glikogen pada sel epitel vagina.
Leukorea fisiologis terdapat pada keadaan sebagai berikut :
- Bayi baru lahir sampai dengan usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh estrogen di
plasenta terhadap uterus dan vagina bayi.
- Premenarche, mulai timbul pengaruh estrogen
- Saat sebelum dan sesudah haid
- Saat atau sekitar ovulasi, keadaan sekret dari kelenjar pada serviks uteri menjadi lebih
encer
- Adanya rangsangan seksual pada wanita dewasa karena pengeluaran transudasi dinding
vagina
- Pada kehamilan, karena pengaruh peningkatan vaskularisasi dan bendungan di vagina
dan di daerah pelvis
- Stress emosional
- Penyakit kronis, penyakit saraf, karena pengeluaran sekret dari kelenjar serviks uteri
juga bertambah
- Pakaian (celana dalam ketat, pemakaian celana yang jarang ganti, pembalut)
- Leukorea yang disebabkan oleh gangguan kondisi tubuh, seperti keadaan anemia,
kekurangan gizi, kelelahan, kegemukan, dan usia tua > 45 tahun

2. Leukorea Patologis
Leukorea dikatakan tidak normal jika terjadi peningkatan volume (khususnya membasahi
pakaian), bau yang khas dan perubahan konsistensi atau warna. Penyebab terjadinya
leukorrhea patologis bermacam-macam, dapat disebabkan oleh adanya infeksi (oleh bakteri,
28

jamur, protozoa, virus) adanya benda asing dalam vagina, gangguan hormonal akibat
menopause dan adanya kanker atau keganasan dari alat kelamin, terutama pada serviks.
Penyebab leukorrhea patologis :
1) Infeksi
Penyebab leukorea terbanyak adalah infeksi pada vagina (vaginitis) dan seviks
(servisitis). Ada atau tidaknya bau, gatal dan warna dapat membantu menemukan
etiologinya. Sekret yang disebabkan oeh infeksi biasanya mukopurulen, warnanya
bervariasi dari putih kekuningan hingga berwarna kehijauan. Vaginitis paling sering
disebabkan oleh Candida spp., Trichomonas vaginalis, Vaginalis bakterialis. Sedangkan
servisitis paling sering disebabkan oleh Chlamidia trachomatis dan Neisseria
gonorrhoeae. Selain itu penyebab infeksi yang lain adalah infeksi sekunder pada luka,
abrasi (termasuk yang disebabkan oleh benda asing), ataupun terbakar.
a. Chlamydia trachomatis
b. Candida albicans
c. Gardnerella vaginalis
d. Human papillomavirus
e. Herpes simplek virus
f. Trichomonas vaginalis
2) Noninfeksi
a. Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan
Kadang-kadang pada wanita ditemukan cairan dari vagina yang tercampur dengan
urine atau feses. Hal ini dapat terjadi akibat adanya fistel uterovagina, fistel
rektovagina yang disebabkan kelainan kongenital, cedera persalinan, radiasi pada
kanker alat kandungan atau akibat kanker itu sendiri.
b. Benda asing
Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak ataupun
tertinggalnya tampon maupun kondom pada wanita dewasa, adanya cincin
pesariumpada wanita yang menderita prolaps uteri serta pemakaian alat kontrasepsi
seperti IUD dapat merangsang pengeluaran sekret yang jika berlebihan menimbulkan
luka akan sangat mungkin terjadi infeksi penyerta dari flora normal dalam vagina.
c. Hormonal
Perubahan hormonal estrogen dan progesteron yang terjadi dapat dikarenakan adanya
perubahan konstitusi dalam tubuh wanitu itu sendiri atau karena pengaruh dari luar
misalnya karena obat/cara kontrasepsi, dapat juga karena penderita sedang dalam
pengobatan hormonal.Estrogen turun vagina menjadi kering dan lapisan sel tipis,
kadar glikogen berkurang, dan basil doderlein berkurang memudahkan infeksi
karena lapisan sel epitel tipis, mudah menimbulkan luka flour albus
d. Kanker
Pada kanker terdapat gangguan dari pertumbuhan sel normal yang berlebihan
sehingga mengakibatkan sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah
rusak, akibatnya terjadi pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh
darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker
tersebut. Pada Ca cerviks terjadi pengeluaran cairan yang banyak disertai bau busuk
29

akibat terjadinya proses pembusukan tadi, dan disertai adanya darah yang tidak
segar.
e. Vaginitis atrofi
Usia pra pubertas, masa laktasi, pasca menopause dan beberapa keadan yang
menyebabkan kurangnya estrogen, akan menyebabkan meningkatnya pH vagina.
Naiknya pH akan menyebabkan pertumbuhan bakteri normal dalam vagina menjadi
berkurang, tetapi sebaliknya pH yang meningkat akan memicu pertumbuhan bakteri
patogen di vagina. Kurangnya estrogen akan menyebabkan penipisan mukosa vagina
sehingga mudah terluka dan terinfeksi
f. Menopouse
Pada wanita yang telah mengalami menopouse terjadi penurunan aktivitas hormonal
seperti estrogen yang berdampak pada penurunan aktivitas organ genital. Seperti
vagina menjadi lebih keras, menipisnya epitel dan kurangnya degenerasi sel epitel.
Hal ini dapat mempermudah terjadinya infeksi yang pada akhirnya dapat
menimbulkan keputihan
g. Erosi
Daerah merah sekitar ostium uteri internum yakni epitel kolumner endoserviks
terkelupas, mudah terjadi infeksi penyerta dari flora normal di vagina sehingga
timbul fluor albus
h. Stress
Stressor dapat merangsang sekresi adenokorteks yang berakibat meningkatkan
glukokortikoid dan aktivitas saraf simpatis, diikuti pelepasan katekolamin.
Hipotalamus bereaksi mengontrol sekresi Adrenocorticopin (ACTH) yang
berhubungan dengan sekresi hormon peptida termasuk vasopresin, oksitosin, dan
Corticotropin Releasing Factor (CRF). Hormon peptida ini berperan mengatur fungsi
imun. Dalam keadaan stres, sekresi Growth Hormone (GH) juga meningkat, stress
yang lama dapat menekan fungsi gonad. Reseptor spesifik yang terdapat pada
neuroendokrin dapat mempengaruhi aktifitas sel. Sel makrofag yang telah aktif akan
melepaskan suatu mediator yaitu interleukin 1 (IL-1). Mediator ini sangat bermanfaat
bagi limfosit lain sehingga dapat membunuh sel-sel asing
i. Penggunaan obat-obatan
Penggunaan obat-obat imunosupresan seperti kortikosteroid dan penggunaan
antiseptik genital secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan imunitas organ
genital dan juga menyebabkan kematian flora normal organ genital. Hal ini
menyebabkan mudahnya terjadi infeksi daerah vagina yang dapat menimbulkan
keputihan.

LO.2.5. Memahami dan menjelaskan Patofisiologi dan pathogenesis Keputihan (Leukorea)
Flora vagina normal mencakup Streptokokus alfa hemolitik, Streptokokus anaerob (
peptostreptokokus ), spesies prevotella, klostridia, Gardnerella vaginalis, Ureaplasma
urealyticum, dan kadang-kadang listeria atau spesies mobilunkus. Lactobacillus acidophilus
(Doderleins bacillus) yang paling dominan.
30

Gangguan keseimbangan flora normal atau perubahan suasana asam menjadi alkalis memicu
kolonisasi mikroorganisme lain. Keadaan ini dapat mengakibatkan kelainan berupa vaginosis
bakterialis, vaginitis, dan servisitis sehingga sekret vagina menjadi abnormal dan jumlahnya
berlebihan. Pada vaginosis bakterialis terjadi pertumbuhan berlebihan bakteri Gardnerella
vaginalis akibat peningkatan pH asam vagina alkalis dan pertumbuhan berlebihan bakteri
anaerob lainnya, Bacteroides spp, dan Mobiluncus spp. Vaginitis dapat disebabkan oleh jamur
Candida albicans ( kandidosis, kandidiasis ), serta dapat disebabkan oleh protozoa Trichomonas
vaginalis ( trikomoniasis ). Sevisitis dapat disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae dan
parasit Chlamydia trachomatis.
Pada keadaan normal, cairan yang keluar dari vagina wanita dewasa sebelum menopause terdiri
dari epitel vagina, cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus,
sekresi dari saluran yang lebih atas dalam jumlah yang bervariasi serta mengandung berbagai
mikroorganisme terutama Laktobasilus doderlein.
Peranan basil Doderlein dianggap sangat penting dalam menjaga suasana vagina dengan
menekan pertumbuhan mikroorganisme patologis karena basil Doderlein mempunyai
kemampuan mengubah glikogen dari epitel vagina yang terlepas menjadi asam laktat, sehingga
vagina tetap dalam keadaan asam dengan pH 3,0 4,5 pada wanita masa reproduksi.
Suasana asam inilah yang mencegah timbulnya mikroorganisme.Bila terjadi suatu
ketidakseimbangan suasana flora vagina yang disebabkan oleh beberapa faktor maka terjadi
penurunan fungsi basil Doderlein dengan berkurangnya jumlah glikogen karena fungsi proteksi
basil Doderlein berkurang maka terjadi aktifitas dari mikroorganisme patologis yang selama ini
ditekan oleh flora normal vagina. Progresifitas mikroorganisme patologis secara klinis akan
memberikan suatu reaksi inflamasi di daerah vagina. Sistem imun tubuh akan bekerja membantu
fungsi dari basil Doderlein sehingga terjadi pengeluaran leukosit PMN, maka terjadilah leukorea.

A. Sumber Cairan
1. Vulva
Cairan yang berasal dari vulva tidak termasuk sekret vagina akan tetapi penderita mengeluh
keputihan karena tidak mengetahui asal cairan tersebut. Cairan ini dapat berasal dari kelenjar
Bartholin yang mempunyai peranan penting dalam pelumasan introitus dan mukosa vulva berupa
lendir yang meningkat pada aktifitas seksual. Lendir juga berasal dari daerah periurethral tempat
bermuaranya saluran Skene.
2. Vagina
Walau vagina tidak mempunyai kelenjar akan tetapi cairan dapat keluar dari permukaan secara
transudasi. Cairan bersifat asam karena adanya asam laktat yang diproduksi oleh
mikroorganisme terutama bakteri Doderlein.
3. Serviks
Kelenjar mukosa serviks adalah penghasil lendir utama. Lendir jernih, basah, jumlah dan
kekentalannya bervariasi bergantung dari fase siklus menstruasi. Jumlah terbanyak ialah saat
ovulasi, selain karena pengaruh hormon, juga disebabkan oleh hiperemia.
4. Uterus
31

Kelenjar endometrium yang sebelumnya tidak aktif, baru aktif pada fase post ovulasi dan sedikit
dari cairan ini dapat turun ke vagina, jumlahnya kecil sekali kecuali bila terjadi kelainan dalam
hal vaskularisasi, kelainan faktor endokrin, adanya neoplasma atau infeksi.
5. Tuba
Walau jarang tetapi mungkin terjadi dalam keadaan tertentu misal salpingitis yang kemudian
cairannya masuk uterus dan selanjutnya turun ke vagina.

B. Komponen Sekret Vagina yang Normal
Sekret vagina terdiri dari beberapa komponen yang meliputi air, elektrolit, mikroorganisme, sel-
sel epitel dan senyawa organik seperti asam lemak, protein dan karbohidrat. Komponen-
komponen ini bergabung untuk menghasilkan sekret vagina dengan pH kurang dari 4,5. Sel
epitel berasal dari epitel toraks serviks dan epitel gepeng vagina. Flora vagina yang normal
terdiri dari mikroorganisme yang mengkolonisasi cairan vagina dan sel epitel. Leukosit,
meskipun normalnya terdapat pada fase sekresi siklus menstruasi, biasanya hanya ditemukan
dalam jumlah kecil.
C. Pengaruh Hormon Seks
Cairan vagina dan flora mikroba dipengaruhi oleh hormon-hormon seks. Peningkatan volume
dan penurunan viskositas cairan vagina terjadi setelah ovulasi, dalam hal ini hormon progesteron
memegang peranan. Estrogen meningkatkan kadar glukosa dalam cairan vagina. Tidak jelas
apakah estrogen meningkatkan pergantian glikogen atau kandungan glikogen sel-sel epitel, yang
kemudian dapat mempengaruhi jenis organisme yang mengkolonisasi epitel. Sehingga wanita
premenarche dan pasca menopause lebih banyak mempunyai bakteri anaerob daripada wanita
menstruasi. Wanita dalam masa reproduksi mempunyai lebih banyak bakteri fakultatif yang
sebanding termasuk laktobasilus daripada wanita dengan kadar estrogen rendah.
D. Pengaruh pH dan Glukosa atas Flora Vagina
Dua faktor lain yang mempengaruhi jenis organisme yang terdapat dalam flora vagina adalah pH
dan terdapatnya glukosa. Kandungan glikogen epitel vagina pasti meningkat pada wanita yang
menstruasi (dalam masa reproduksi) dibandingkan wanita yang tidak dalam masa reproduksi.
Kandungan asam laktat dalam vagina menimbulkan pH yang sangat asam (kurang dari 4,5).
Asam laktat diproduksi tidak hanya oleh metabolisme laktobasilus yang menggunakan glukosa
sebagai substrat tetapi juga oleh metabolisme bakteri lain yang menggunakan glikogen sebagai
substrat dan oleh metabolisme sel-sel epitel vagina yang juga menggunakan glikogen sebagai
substrat. Kemudian pH rendah ini menyokong pertumbuhan organisme asidofilik seperti
laktobasilus. Terdapatnya laktobasilus mungkin menjadi pusat pembatasan pertumbuhan bakteri
lainnya. Kolonisasi laktobasilus vagina yang berat menghambat pertumbuhan organisme lain
melalui metabolisme sendiri dengan mempertahankan pH yang rendah dengan menggunakan
glukosa untuk menghasilkan asam laktat, dengan memproduksi hidrogen peroksida yang
menghambat pertumbuhan bakteri anaerob, dan dengan menggunakan glukosa tersebut
memusnahkan organisme lain karena substrat untuk metabolismenya telah dipergunakan. Di
antara wanita pasca menopause, kandungan glikogen sel yang rendah karena pengurangan kadar
estrogen diperkirakan bertanggung jawab terhadap peningkatan pH vagina. Pada lingkungan pH
yang tinggi ini efek penghambatan dan persaingan laktobasilus dihilangkan dengan demikian
organisme-organisme lain terutama yang anaerob akan berproliferasi.
32

E. Mikro-Ekosistem Epitel Vagina
Sel-sel epitel mempunyai tempat bagi perlekatan bakteri dan kemampuan bakteri tertentu untuk
menempati tempat tersebut berbeda-beda di antara pasien yang satu dengan lainnya. Beberapa
wanita sangat rentan terhadap infeksi karena selnya mengandung tempat yang mudah dilekati
bakteri. Flora normal yang menempel pada sel-sel epitel vagina dan merupakan mikro-
ekosistem epitel vagina akan menghambat pertumbuhan organisme patologik yang berlebihan
dengan paling sedikit dua mekanisme. Pertama flora normal pasti menggunakan kedua zat gizi
substrat yaitu glukosa dan glikogen. Kedua dengan menghasilkan produk metabolik yang
menghambat penempelan dan proliferasi organisme yang berpotensi patogen. Analog dengan
mikro flora oral, vagina mungkin mengandung banyak ekosistem mikroba tersendiri, yang
bervariasi dalam jarak beberapa milimeter di dalam epitel vagina.
F. Mikroorganisme yang Terdapat dalam Sekret Vagina yang Normal
Organisme yang ditemukan pada sekret vagina dalam konsentrasi setinggi 10 satuan pembentuk-
koloni/mm
3
cairan. Konsentrasi organisme anaerob biasanya kira-kira 5 kali konsentrasi
organisme aerob. Rata-rata 5-10 organisme ditemukan dari vagina, meskipun pengambilan
bahan contoh ulangan dapat menemukan lebih banyak bakteri. Organisme fakultatif yang paling
menonjol adalah spesies laktobasilus, korinebakteria, streptokokus, stafilokokus epidermis dan
Gardnerella vaginalis. Sebenarnya semua wanita paling sedikit mempunyai satu organisme
fakultatif dan salah satu organisme fakultatif ini dapat ditemukan pada 40-80% wanita. E. coli,
merupakan organisme koliformis virulen yang tersering ditemukan, dapat ditemukan dari hanya
kira-kira 20% wanita dan pada wanita inipun hanya terdapat secara sepintas. Organisme anaerob
yang paling menonjol adalah peptostreptokokus, peptokokus, laktobasilus anaerob, eubakteria;
Bacteroides sp., yang ditemukan secara keseluruhan atau sendiri-sendiri pada 20-60% wanita.
Candida albicans, organisme jamur tersering ditemukan, terdapat 5-10% wanita. Mycoplasma
hominis terdapat pada 20-50% dan Ureaplasma urealyticum terdapat pada 50-70% wanita
asimtomatik yang aktif berhubungan seksual. Jadi sulit sekali menentukan kapan keadaan
disebut patologis bila hanya berdasarkan ditemukannya suatu jenis kuman tertentu.
G. Mekanisme Infeksi Vagina
Jika keseimbangan kompleks mikroorganisme berubah, maka organisme yang berpotensi
patogen, yang merupakan bagian flora normal misalnya C. albicans pada kasus monilia serta G.
vaginalis dan bakteri anaerob pada kasus vaginitis nonspesifik, berproloferasi sampai suatu
konsentrasi yang berhubungan dengan gejala. Pada mekanisme infeksi lainnya, organisme yang
ditularkan melalui hubungan seksual dan bukan merupakan bagian flora normal seperti
Trichomonas vaginalis dan Neisseria gonorrhoeae dapat menimbulkan gejala. Gejala yang
timbul bila hospes meningkatkan respon peradangan terhadap organisme yang menginfeksi
dengan menarik leukosit serta melepas prostaglandin dan komponen respon peradangan lainnya.
Gejala ketidaknyamanan dan pruritus vagina berasal dari respon peradangan vagina lokal
terhadap infeksi T. vaginalis dan C. albicans. Organisme tertentu yang menarik leukosit
termasuk T. vaginalis, menghasilkan sekret purulen. Di antara wanita dengan vaginitis
nonspesifik, baunya disebabkan oleh terdapatnya amina yang dibentuk sebagai hasil
metabolisme bakteri anaerob. Amina tertentu, khususnya putresin dan kadaverin, sangat berbau
busuk. Lainnya seperti histamin dapat menimbulkan ketidaknyamanan oleh karena efek
vasodilatasi lokal. Produk metabolisme lain yang dihasilkan pada wanita dengan non spesifik
vaginitis seperti propionat dan butirat dapat merusak sel-sel epitel dengan cara yang sama seperti
33

infeksi ginggiva. Eksudat serviks purulenta tersering disebabkan oleh N. Gonorrhoeae, C.
Trachomatis atau Herpesvirus hominis, karena organisme penginfeksi ini menarik leukosit.
Adanya AKDR dapat menimbulkan endometritis ringan dan atau servisitis, tempat leukosit
dikeluarkan ke dalam vagina melalui serviks.

LO.2.5. Memahami dan menjelaskan Manifestasi klinis Keputihan (Leukorea)
1. Infeksi Protozoa: Trichomoniasis
- Asimtomatis pada sebagian wanita penderita trichomoniasis
- Bila ada keluhan, biasanya berupa cairan vagina yang banyak, sekitar 50% penderita
mengeluh bau yang tidak enak disertai gatal pada vulva dan dispareunia.
- Pada pemeriksaan, sekitar 75% penderita dapat ditemukan kelainan pada vulva dan
vagina. Vulva tampak eritem, lecet dan sembab. Pada pemasangan spekulum terasa
nyeri, dan dinding vagina tampak eritem
- Sekitar 2-5% serviks penderita tampak gambaran khas untuk trichomoniasis, yaitu
berwarna kuning, bergelumbung, biasanya banyak dan berbau tidak enak
- Pemeriksaan pH vagina >4,5.
- Bila ditemukan pada trimester kedua menyebabkan prematur ruptur membran,bayi berat
lahir rendah (BBLR) dan abortus.

2. Infeksi Jamur: Kandidiosis vulvovaginal (KV)
- Pada pemeriksaan spekulum tampak duh tubuh vagina dengan jumlah yang bervariasi,
konsistensi dapat cair atau seperti susu pecah
- Disuria eksternal dan dipareunia superfisial
- Penderita mengeluh adanya adanya pruritus pada vagina,iritasi, disuria dan fluor albus
yang tidak berbau, atau berbau asam
- Keputihan dapat banyak, putih keju atau seperti gumpalan susu, tetapi kebanyakan
sedikit dan cair.
- Pada dinding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju ( cottage cheese).
- Gejala nonspesifik meliputi soreness,eritema dinding vulva, rasa terbakar, dispareunia,
dan penderita pria mengeluh adanya penile rash.

3. Infeksi Bakteri: Vaginosis Bakterial (VB)
- Asimtomatik pada sebagian penderita vaginosis bakterialis
- Bila ada keluhan umumnya berupa cariran yang berbau amis seperti ikan terutama
setelah melakukan hubungan seksual, disebabkan oleh adanya amin yang menguap bila
cairan menjadi basa dan kemungkinan gatal.
- Pada pemeriksaan didapatkan jumlah duh tubuh vagina tidak banyak, berwarna putih,
keabu-abuan, homogen, cair, dan biasanya melekat pada dinding vagina
- Pada vulva atau vagina jarang atau tidak ditemukan inflamasi
34

- Pemeriksaan pH vagina >4,5 , penambahan KOH 10% pada duh tubuh vagina tercium
bau amis (whiff test)
- Pada sediaan apus vagina yang diwarnai dengan pewarnaan gram ditemkan sel epitel
vagina yang ditutupi bakteri batang sehingga batas sel menjadi kabur (clue cells).
- Kuman-kuman penyebab vaginosis bakterial memproduksi enzim fosfolipase A2 dalam
jumlah besar, merangsang pembentukan prostaglandin yang merupakan perangsang
kontraksi uterus potensial, sehingga wanita hamil dapat terjadi kelahiran praterm atau
ketuban pecah dini.

4. Servisitis Gonore
- Asimtomatik pada lebih dari sebagian penderita gonore
- Bila ada keluhan umunya cairan vagina jumlahnya meningkat, menoragi atau
perdarahan intermenstrual
- Pada penderita yang menunjukan gejala biasanya ditemukan duh tubuh serviks yang
mukopurulen. Serviks tampak eritem, edem, ektopi dan mudah berdarah saat
pengambilan bahan pemeriksaan

5. Servisitis Chlamidia trachomatis
- Bila penderita yang mempunyai keluhan, biasanya tidak khas dan serupa dengan
keluhan servisitis gonore, yaitu adanya duh tubuh vagina
- Pada pemeriksaan inspekulo sekitar 1/3 penderita dijumpai duh tubuh serviks yang
mukopurulen, serviks tampak eritem, ektopi dan mudah berdarah pada saat pengambilan
bahan pemeriksaan dari mukosa endoserviks

6. Gejala keputihan bukan karena penyakit:
- Cairan dari vagina berwarna bening (jernih)
- Tidak berwarna, Tidak berbau, Tidak gatal
- Jumlah cairan bisa sedikit, bisa cukup banyak
- Gejala keputihan karena penyakit:

7. Gejala keputihan karena penyakit:
- Cairan dari vagina keruh dan kental
- Warna kekuningan, keabu-abuan, atau kehijauan
- Berbau busuk, anyir, amis
- Terasa gatal & rasa panas pada vulva & vagina
- Jumlah cairan banyak
- Sakit saat kencing (disuria).
- Nyeri saat berhubungan intim (dispareunia)
- Apapun gejalanya, bila kita mengalaminya, kewaspadaan dini dengan cara bertanya
kepada dokter, adalah tindakan yang bijaksana.

35

LO.2.6. Memahami dan menjelaskan Diagnosis dan diagnosis banding Keputihan
(Leukorea)
Diagnosis
- Anamnesis
Dalam anamnesis yang harus diperhatikan :
a. Usia
Harus dipikirkan pengaruh estrogen. Pada bayi wanita atau wanita dewasa, flour
albus yang terjadi mungkin karena pengaruh estrogen yang tinggi dan merupakan
flour albus yang fisiologis. Wanita pada usia reproduksi kemungkinan suatu PHS
dan penyakit infeksi lainnya. Pada wanita yang lebih tua harus dipikirkan
kemungkinan terjadinya keganasan terutama kanker serviks.
b. Metode kontrasepsi
Pemakaian IUD juga dapat menyebabkan infeksi atau iritasi pada serviks yang
mmerangsang sekresi kelenjar serviks menjadi meningkat.
c. Kontak seksual
Untuk mengantisipasi flour albus akibat PHS seperti GO, kondiloma akuminata,
herpes genitalia, dsb. Perlu ditanyakan kontak seksual terakhir dan dengan siapa.
d. Perilaku
Kemungkinan tertular penyakit infeksi karena kebiasaan kurang baik seperti tukar
menukar alat mandi atau handuk.
e. Sifat flour albus
Jumlah, bau, warna dan konsistensinya, keruh/jernih, ada/tidaknya darah,
frekuensi dan telah berapa lama berlangsung.
f. Tanya hamil atau menstruasi
Pada keadaan ini flour albus yang terjadi merupakan hal yang fisiologis.
g. Masa inkubasi
Bila flour albus timbulnya kut dapat diduga akibat infeksi atau pengaruh zat kimia
ataupun pengaruh rangsangan fisik.

- Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang khusus harus dilakukan adalah pemeriksaan genitalia yang
meliputi : inspeksi dan palpasi genitalia eksterna, pemeriksaan spekulum untuk melihat
vagina an serviks, pemeriksaan pelvil bimanual. Untuk melihat cairan dining vagina,
hindari kontaminasi dengan lendir serviks.
Pada pemeriksaan gonokokus, pada orifisium urethra eksternus merah, edema,
sekret yang mukopurulen, labia mayor dapat bengkak, merah, nyri tekan. kadang-kadang
kel. Bartolini ikut meradang dan terasa nyeri saat berjalan dan duduk.
Pada Trikomonas vaginalis, dinding vagina merah dan sembab. Kadang terbentuk
abses kecil pada dinding vagina dan serviks yang tampak sebagai granulasi berwarna
merah yang dikenal sebagai strawberry appearence. Bila sekret banyak dikeluarkan dapat
menimbulkan iritasi pada lipat paha atau sekitar genitalia eksterna.
Warna kuning kehijauan berbusa: parasite
Warna kuning, kental : GO
Warna putih : jamur
Warna merah muda : bakteri non spesifik
36

Infeksi Gardnerella vaginalis, vulva dan vagina hiperemis, sekret melekat pada
dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis/berkilau. Pada pemeriksaan serviks
dapat ditemukan erosi yang disertai lendir bercampur darah yang keluar dari ostium
uteri internum.
Pada Herpes genitalis terlihat adanya vesikel-vesikel pada vulva, labia mayor,
minor, vagina dan serviks. Pada keadaan lebih lanjut dapat dilihat adanya ulkus-ulkus
pada vagina dan serviks.
Adanya benda asing dapat dilihat dengan adanya benda yang mengiritasi seperti
IUD, tampon vagina, pesarium, kondom yang tertinggal, dsb.

- Pemeriksaan penunjang
a. Penentuan pH
Penentuan pH dengan kertas indikator pH (normal : 3 - 4,5)
b. Penilaian sediaan basah
Trikomonas vaginalis terlihat jelas dengan garam fisiologis sebagai parasit
berbentuk lonjong dengan flagel adn gerakannya cepat. Kandida albicans terlihat
jelas dengan KOH 10% tampak sel ragi (blastospora) atau hifa semu.
Gardnerella vaginalis, berkelompok basil, leukosit tidak banyak, sel epitel sebagian
besar permukaannya berbintil-bintil. Sel ini disebut clue cell yang merupakan ciri
khas infeksi Gardnerella vaginalis.
c. Pewarnaan gram
Neisseria gonorrhoeae memberikan gambaran adanya gonokokus intra dan ekstra
seluler. Gardnerella vaginalis memberikan gambaran batang kecil gram negatif
yang tidak dapat dihitung jumlahnya dann banyak sel epitel dengan kokobasil tanpa
ditemukan laktobasil.
d. Kultur
Dapat ditemukan etiologi secara pasti tapi seringkali tidak tumbuh sehingga harus
berhati-hati dalam penafsiran.
e. Pemeriksaan serologis
Untuk mendeteksi Herpes genitalis dan HPV.
f. Pap smear

Dagnosis Banding
- Ca Cervix
- infeksi Chlamydia
- atropik vaginitis
- gonorrhea

LO.2.7. Memahami dan menjelaskan Pemeriksaan pada Keputihan (Leukorea)
PAP SMEAR
37

Tes Pap Smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat adanya
perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio (displasia) sebagai tanda awal
keganasan serviks atau prakanker.
Pap Smear merupakan suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan
kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pap Smear merupakan tes yang aman dan murah dan
telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-
sel leher rahim.
Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat, dan tidak sakit, serta bisa dilakukan setiap saat,
kecuali pada saat haid. Pap Smear pertama kali diperkenalkan tahun 1928 oleh Dr. George
Papanicolou dan Dr. Aurel Babel, namun mulai populer sejak tahun 1943.

Manfaat
Pemeriksaan Pap Smear berguna sebagai pemeriksaan penyaring (skrining) dan pelacak adanya
perubahan sel ke arah keganasan secara dini sehingga kelainan prakanker dapat terdeteksi serta
pengobatannya menjadi lebih murah dan mudah.
Pap Smear mampu mendeteksi lesi prekursor pada stadium awal sehingga lesi dapat ditemukan
saat terapi masih mungkin bersifat kuratif. Manfaat Pap Smear secara rinci dapat dijabarkan
sebagai berikut:
a. Diagnosis dini keganasan
Pap Smear berguna dalam mendeteksi dini kanker serviks, kanker korpus endometrium,
keganasan tuba fallopi, dan mungkin keganasan ovarium.
b. Perawatan ikutan dari keganasan
Pap Smear berguna sebagai perawatan ikutan setelah operasi dan setelah mendapat
kemoterapi dan radiasai.
c. Interpretasi hormonal wanita
Pap Smear bertujuan untuk mengikuti siklus menstruasi dengan ovulasi atau tanpa ovulasi,
menentukan maturitas kehamilan, dan menentukan kemungkunan keguguran pada hamil
muda.
d. Menentukan proses peradangan
Pap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi bakteri dan
jamur.
Klasifikasi pemeriksaan Pap Smear
Pemeriksaan cytologis dari smear sel-sel yang diambil dari serviks, untuk melihat perubahan-
perubahan sel yang mengindikasikan terjadinya inflamasi, displasia atau kanker. Klasifikasi
pemeriksaan pap smear, sistem Bethesda adalah :
a. Atypical Squamous Cell of Underterminet Significance (ASC-US) yaitu sel skuamosa
atipikal yang tidak dapat ditentukan secara signifikan. Sel skuamosa adalah datar, tipis
yang membentuk permukaan serviks.
b. Low-grade Squamous Intraephitelial Lesion (LSIL) , yaitu tingkat rendah berarti
perubahan dini dalam ukuran dan bentuk sel. Lesi mengacu pada daerah jaringan
abnormal, intaepitel berarti sel abnormal hanya terdapat pada permukaan lapisan sel-sel.
38

c. High-grade Squamosa Intraepithelial (HSIL) berarti bahwa terdapat perubahan yang jelas
dalam ukuran dan bentuk abnormal sel-sel (prakanker) yang terlihat berbeda dengan sel-
sel normal.
d. High-grade Squamosa Intraepithelial atypical glandular cel (HSIL AGC)
e. Adenocarsinoma in situ (AIS)

Wanita yang Diperiksa
Wanita yang perlu melakukan pap smear adalah : (a) wanita menikah atau melakukan hubungan
seksual pada usia < 20 tahun, (b) wanita muda memiliki mulut rahim yang belum matang, ketika
melakukan hubungan seksual terjadi gesekan yang dapat menimbulkan luka kecil, yang dapat
mengundang masuknya virus, (c) wanita sering berganti-ganti pasangan seks, akan menderita
infeksi di daerah kelamin, sehingga dapat mengundang virus HPV dan herves genitalis, (d)
wanita yang sering melahirkan, kanker serviks banyak dijumpai pada wanita yang sering
melahirkan disebabkan oleh trauma persalinan, perubahan hormonal dan nutrisi selama
kehamilan, (e) wanita perokok, memiliki risiko dibandingkan dengan wanita tidak merokok,
karena rokok akan menghasilkan zat karsinogen yang menyebabkan turunnya daya tahan di
daerah serviks.
Rekomendasi terbaru dari American Collage of Obstetricions and gynecologist adalah
melakukan pemeriksaan pelvis dan penapisan pulasan pap setiap tahun bagi semua perempuan
yang telah aktif secara seksual atau telah berumur 21 tahun. Setelah tiga kali atau lebih secara
berturut-turut hasil pemeriksaan tahunan ternyata normal, uji pap dapat dilakukan dengan
frekuensi yang lebih jarang atas kebijakan dokter.
Menurut The American Cancer Society 2004 (dalam Depkes 2007) pap smear dapat dilakukan
secara rutin pada seorang wanita 3 tahun sesudah melakukan hubungan seksual pertama kali atau
tidak melebihi 21 tahun. Pemeriksaan dilakukan setiap tahun (peralatan pap smear konvensional)
atau setiap 2 tahun (dengan peralatan liquid-based) sampai umur 30 tahun. Pemeriksaan
dilakukan setiap 2-3 tahun, bila 3 kali berturut-turut hasil normal pemeriksaan dapat dilakukan
dengan frekuensi yang lebih jarang.
Pap smear pada wanita yang berumur 35-40 tahun minimal dilakukan sekali, kalau fasilitas
tersedia dilakukan setiap 10 tahun pada umur 35-55 tahun, bila fasilitas tersedia lebih maka dapat
dilakukan setiap 5 tahun pada wanita berumur 35-55 tahun. Idealnya atau jadwal yang optimal
setiap 3 tahun pada wanita yang berumur 25-60 tahun.
Sasaran skrining ditentukan oleh Departemen Kesehatan masing-masing negara, WHO (2002)
merekomendasikan agar program skrining pada wanita dengan beberapa persyaratan sebagai
berikut:
a) Usia 30 tahun ke atas dan hanya mereka yang berusia lebih muda manakala program
telah mencakup seluruh sasaran vaksinasi.
b) Skrining tidak perlu dilakukan pada perempuan usia kurang 25 tahun.
c) Apabila setiap wanita hanya dapat dilakukan pemeriksaan sekali selama umur hidupnya
(misalnya karena keterbatasan sumber dana yang dimiliki pemerintah atau swasta), maka
usia paling ideal untuk melakukan skrining adalah pada usia 35-45 tahun.
d) Pada perempuan berusia diatas 50 tahun tindakan skrining perlu dilakukan setiap 5 tahun
sekali.
39

e) Pada perempuan berusia 25-49 tahun tindakan skrining dilakukan setiap 3 tahun sekali.
f) Pada usia berapapun skrining setiap tahun tidak dianjurkan.
g) Bagi mereka yang berusia diatas 65 tahun tidak perlu melakukan skrining apabila 2 kali
skrining sebelumnya hasilnya negatif.

Prosedur pemeriksaan
Prosedur pemeriksaan Pap Smear adalah:
1. Persiapan alat-alat yang akan digunakan, meliputi spekulum bivalve (cocor bebek), spatula
Ayre, kaca objek yang telah diberi label atau tanda, dan alkohol 95%.
2. Pasien berbaring dengan posisi litotomi.
3. Pasang spekulum sehingga tampak jelas vagina bagian atas, forniks posterior, serviks uterus,
dan kanalis servikalis.
4. Periksa serviks apakah normal atau tidak.
5. Spatula dengan ujung pendek dimasukkan ke dalam endoserviks, dimulai dari arah jam 12
dan diputar 360 searah jarum jam.
6. Sediaan yang telah didapat, dioleskan di atas kaca objek pada sisi yang telah diberi tanda
dengan membentuk sudut 45 satu kali usapan.
7. Celupkan kaca objek ke dalam larutan alkohol 95% selama 10 menit.
8. Kemudian sediaan dimasukkan ke dalam wadah transpor dan dikirim ke ahli patologi
anatomi.

Interpretasi Hasil
Terdapat banyak sistem dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan Pap Smear, sistem
Papanicolaou, sistem Cervical Intraepithelial Neoplasma (CIN), dan sistem Bethesda.
Klasifikasi Papanicolaou membagi hasil pemeriksaan menjadi 5 kelas (Saviano, 1993), yaitu:
a. Kelas I : tidak ada sel abnormal.
b. Kelas II : terdapat gambaran sitologi atipik, namun tidak ada indikasi adanya
keganasan.
c. Kelas III : gambaran sitologi yang dicurigai keganasan, displasia ringan sampai sedang.
d. Kelas IV : gambaran sitologi dijumpai displasia berat.
e. Kelas V : keganasan.
Sistem CIN pertama kali dipublikasikan oleh Richart RM tahun 1973 di Amerika Serikat
(Tierner & Whooley, 2002). Pada sistem ini, pengelompokan hasil uji Pap Semar terdiri dari
(Feig, 2001):
a. CIN I merupakan displasia ringan dimana ditemukan sel neoplasma pada kurang dari
sepertiga lapisan epitelium.
b. CIN II merupakan displasia sedang dimana melibatkan dua pertiga epitelium.
c. CIN III merupakan displasia berat atau karsinoma in situ yang dimana telah melibatkan
sampai ke basement membrane dari epitelium.
Klasifikasi Bethesda pertama kali diperkenalkan pada tahun 1988. Setelah melalui beberapa kali
pembaharuan, maka saat ini digunakan klasifikasi Bethesda 2001. Klasifikasi Bethesda 2001
adalah sebagai berikut (Marquardt, 2002):
40

1. Sel skuamosa
f. Atypical Squamous Cells Undetermined Significance (ASC-US)
g. Low Grade Squamous Intraepithelial Lesion (LSIL)
h. High Grade Squamous Intraepithelial Lesion (HSIL)
i. Squamous Cells Carcinoma
2. Sel glandular
a. Atypical Endocervical Cells
b. Atypical Endometrial Cells
c. Atypical Glandular Cells
d. Adenokarsinoma Endoservikal In situ
e. Adenokarsinoma Endoserviks
f. Adenokarsinoma Endometrium
g. Adenokarsinoma Ekstrauterin

Bahan Pemeriksaan Sitologi Pap Smear
Bahan pemeriksaan terdiri atas sekret vagina, sekret servikal (eksoserviks), sekret endo servikal,
sekret endometrial, sekret fornik posterior (Depkes, 2007). Jangan melakukan pap smear pada
saat menstruasi karena sel-sel darah merah mengaburkan sel-sel epitel pada pemeriksaan
mikroskop

LO.2.8. Memahami dan menjelaskan Penatalaksanaan Keputihan (Leukorea)
Farmakologi
Fisiologis: Tidak ada pengobatan khusus, penderita diberi penerangan untuk menghilangkan
kecemasannya.
Patologis
1. Antiseptik : Povidone Iodin
Sediaan ini berbentuk larutan 10% povidon iodin dan ada yang diperlengkapi dengan alat
douche-nya sebagai aplikator larutan ini. Selain sebagai antiinfeksi yang disebabkan jamur
Kandida, Trikomonas, bakteri atau infeksi campuran, juga sebagai pembersih.
Tidak boleh digunakan pada ibu hamil dan menyusui. Bila terjadi iritasi atau sensitif
pemakaian harus dihentikan.
2. Antibiotik
Clotrimazole
- Memiliki aktivitas antijamur dan antibakteri. Untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis
yang disebabkan oleh Candida albicans.
- Efek samping: pemakaian topikal dapat terjadi rasa terbakar,eritema, edema ,gatal
dan urtikaria
- Sediaan dan posologi : Tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1%
dioleskan 2 kali sehari . Krim vagina 1% untuk tablet vagina 100 mg digunakan
sekali sehari pada malam hari selama 7 hari atau tablet vagina; 500 mg, dosis
tunggal.
41

Tinidazole
- Tinidazole adalah obat antiparasit yang digunakan untuk membrantas infeksi
Protozoa, Amuba.
- Efek samping obat ini sama seperti Metronidazole tetapi dengan kelebihan tidak
perlu minum dengan waktu yang panjang sehingga mengurangi efek sampingnya.
- Tinidazole sebagai preparat vaginal digunakan untuk infeksi Trichomonas. Biasa
dikombinasi dengan Nystatin sebagai anti jamurnya. Bentuk sediaan yang ada adalah
vaginal tablet.
Metronidazole
- Diberikan peroral ( 2 gram sebagai dosis tunggal , 1gr setiap 12 jam x 2 atau 250 mg
3xsehari selama 5-7 hari) untuk infeksi Trichomonas vaginalis
- Diberikan 500 mg 2xsehari selama seminggu dan lebih baik secara mitraseksual.
Untuk infeksi Gardnerella vaginalis
- Efek samping : mual kadang kadang muntah, rasa seperti logam dan intoleransi
terhadap alkohol.
- Metronidazol tidak boleh diberikan pada trimester pertama kehamilan.
Nimorazole
- Nimorazole merupakan antibiotika golongan Azol yang terbaru. Selain dalam
sediaan tunggal dalam bentuk tablet oral (diminum) juga ada kombinasinya
(Chloramphenicol dan Nystatin) dalam bentuk vaginal tablet.
Penisilin
- Ampisilin pada pemberian oral dipengaruhi besarnya dosis dan ada tidaknya
makanan dalam saluran cerna
- Amoksisilin lebih baik diberikan oral ketimbang ampisilin karena tidak terhambat
makanan dalam absorbsinya.
- Efek samping : Reaksi alergi , nefropati, syok anafilaksis, efek toksik penisilin
terhadap susunan saraf menimbulkan gejala epilepsi karena pemberian IV dosis besar
- Sediaan dan posologi :
Ampisilin
- Tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul 125mg, 250mg, 500mg
- Dalam suntikan 0,1 ; 0,25 ; 0,5 dan 1 gram pervial
Amoksisilin
- Dalam bentuk kapsul atau tablet ukuran 125, 250, 500 gram dan sirup125mg/5mL
dosis diberikan 3 kali 250-500 mg sehari

4. Anti jamur : Nystatin
Nystatin adalah obat antijamur polien untuk jamur dan ragi yang sensitif terhadap obat ini
termasuk Candida sp. Di dalam darah sangat berbahaya bagi tubuh, tetapi dengan sifatnya
yang tidak bisa melewati membran kulit sangat baik untuk digunakan sebagai obat
pemakaian luar saja. Tetapi dalam penggunaannya harus hati-hati jangan digunakan pada
luka terbuka.
42

5. Anti Virus : Asiklovir
- Hambat enzim DNA polimerase virus. Sediaan dalam bentuk oral, injeksi dan krim
untuk mengobati herpes dilabia.
- Efek samping :
o Oral : pusing, mual, diare,sakit kepala
o Topikal : Kulit kering dan rasa terbakar dikulit.
- Kontraindikasi : tidak boleh digunakan pada ibu hamil

Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :
Candida albicans
Topikal
- Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu
- Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari
- Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 14 hari
Sistemik
- Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari
- Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari- Nimorazol 2 gram dosis tunggal
- Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal
- Pasangan seksual dibawa dalam pengobatan

Chlamidia trachomatis
- Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari (Illustrated of textbook gynecology)
- Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila
- Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari
- Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
- Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari

Gardnerella vaginalis
- Metronidazole 2 x 500 mg
- Metronidazole 2 gram dosis tunggal
- Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari
- Pasangan seksual diikutkan dalam pengobatan
Neisseria gonorhoeae
- Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau
- Amoksisiklin 3 gr im atau
- Ampisiillin 3,5 gram im
Ditambah :
- Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama
7 hari
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
- Tiamfenikol 3,5 gram oral
- Kanamisin 2 gram im
43

- Ofloksasin 400 mg/oral
Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase :
- Seftriaxon 250 mg im atau
- Spektinomisin 2 mg im atau
- Ciprofloksasin 500 mg oral
Ditambah:
- Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau
- Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari

Virus herpeks simpleks
Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
- Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
- Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
- Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder

Non-farmakologi
1. Perubahan Tingkah Laku
Keputihan (Fluor albus) yang disebabkan oleh jamur lebih cepat berkembang di
lingkungan yang hangat dan basah maka untuk membantu penyembuhan menjaga
kebersihan alat kelamin dan sebaiknya menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari
katun serta tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat (Jones,2005). Keputihan bisa
ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan yang terinfeksi oleh karena itu
sebaiknya pasangan harus mendapat pengobatan juga.
2. Personal Hygiene
Memperhatikan personal hygiene terutama pada bagian alat kelamin sangat membantu
penyembuhan, dan menjaga tetap bersih dan kering, seperti penggunaan tisu basah atau
produk panty liner harus betul-betul steril. Bahkan, kemasannya pun harus diperhatikan.
Jangan sampai menyimpan sembarangan, misalnya tanpa kemasan ditaruh.
3. Pengobatan Psikologis
Pendekatan psikologik penting dalam pengobatan keputihan. Tidak jarang keputihan yang
mengganggu, pada wanita kadang kala pemeriksaan di laboratorium gagal menunjukkan
infeksi, semua pemgujian telah dilakukan tetapi hasilnya negatif namun masalah atau
keluhan tetap ada. Keputihan tersebut tidak disebabakan oleh infeksi melainkan karena
gangguan fsikologi seperti kecemasan, depresi, hubungan yang buruk, atau beberapa
masalah psikologi yang lain yang menyebabkan emosional. Pengobatan yang dilakukan
yaitu dengan konsultasi dengan ahli psikologi. Selain itu perlu dukungan keluarga agar
tidak terjadi depresi

LO.2.9. Memahami dan menjelaskan Pencegahan Keputihan (Leukorea)
Pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:
44

a. Memakai alat pelindung. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan tertularnya
penyakit karena hubungan seksual, salah satunya dengan menggunakan kondom.
Kondom dinilai cukup efektif dalam mencegah penularan PHS.
b. Pemakaian obat atau cara profilaksis. Pemakaian antiseptik cair untuk membersihkan
vagina pada hubungan yang dicurigai menularkan penyakit kelamin relatif tidak ada
manfaatnya jika tidak disertai dengan pengobatan terhadap mikroorganisme penyebab
penyakitnya. Pemakaian obat antibiotik dengan dosis profilaksis atau dosis yang tidak
tepat juga akan merugikan karena selain kuman tidak terbunuh juga terdapat
kemungkinan kebal terhadap obat jenis tersebut. Pemakain obat mengandung estriol baik
krem maupun obat minum bermanfaat pada pasien menopause dengan gejala yang berat.
c. Pemeriksaan dini. Kanker serviks dapat dicegah secara dini dengan melakukan
pemeriksaan pap smear secara berkala. Dengan pemeriksaan pap smear dapat diamati
adanya perubahan sel-sel normal menjadi kanker yang terjadi secara berangsur-angsur,
bukan secara mendadak.
Kebersihan organ kewanitaan hendaknya sejak bangun tidur dan mandi pagi. Berikut tip yang
dapat dilakukan :
1. Bersihkan organ intim dengan pembersih yang tidakmenggangu kestabilan pH di sekitar
vagina. Salah satunya produk pembersih yang terbuat dari bahan dasar susu. Produk
seperti ini mampu menjaga keseimbangan pH sekaligus meningkatkan pertumbuhan flora
normal dn menekan pertumbuhan bakteri yang tak bersahabat. Sabun antiseptik biasa
umumnya bersifat keras dan terdapat flora normal di vagina. Ini tidak menguntungkan
bagi kesehatan vagina dalam jangka panjang.
2. Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina harum dan
kering sepanjang hari. Bedak memiliki partikel-partikel halus yang mudah terselip di sana
sini dan akhirnya mengundang jamur dan bakteri bersarang di tempat itu.
3. Selalu keringkan bagian vagina sebelum berpakaian.
4. Gunakan celana dalam yang kering. Seandainya basah atau lembab, usahakan cepat
mengganti dengan yang bersih dan belum dipakai. Tak ada salahnya anda membawa
cadangan celana dalam untuk berjaga-jaga manakala perlu menggantinya.
5. Gunakan celana dalam yang bahannya menyerap keringat, seperti katun. Celana dari
bahan satin atau bahan sintetik lain membuat suasana di sekitar organ intim panas dan
lembab.
6. Pakaian luar juga diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena pori-porinya sangat
rapat. Pilihlah seperti rok atau celana bahan non jeans agar sirkulasi udara di sekitar
organ intim bergerak leluasa.
7. Ketika haid sering-seringlah berganti pembalut.
8. Gunakan panty liner di saat perlu saja. Jangan terlalu lama. Misalkan saat bepergian ke
luar rumah dan lepaskan sekembalinya anda di rumah. Selain itu untuk mencegah
keputihan, wanita pun harus selalu menjaga kebersihan dan kesehatan daerah
kewanitaannya. Antara lain adalah :
Selalu cuci daerah kewanitaan dengan air bersih setelah buang air, jangan hanya
di seka dengan tisu. Membersihkannya pun musti dilakukan dengan cara yang
benar yaitu dari depan ke belakang, agar kotoran dari anus tidak masuk ke vagina.
Hindari pemakaian sabun vagina berlebihan karena justru dapat mengganggu
keseimbangan flora normal vagina.
45

Jaga daerah kewanitaan tetap kering. Hal ini karena kelembapan dapat memicu
tumbuhnya bakteri dan jamur. Selalu keringkan daerah tersebut dengan tisu atau
handuk bersih setelah dibersihkan. Karena tidak semua toilet menyediakan tisu,
bawalah tisu kemana pun anda pergi. Selain itu buatlah celana dalam yang terbuat
dari katun agar dapat menyerap keringat dan gantilah secara teratur untuk
menjaga kebersihan.
Bila sedang mengalami keputihan atau menstruasi tinggal sedikit, boleh saja
menggunakan pelapis celana panty liner. Tetapi sebaiknya tidak digunakan setiap
hari. Panty liner justru dapat memicu kelembapan karena bagian dasarnya terbuat
dari plastik. Pilih panty liner yang tidk mengandung parfum, terutama buat yang
berkulit sensitif.
Hindari bertukar celana dalam dan handuk dengan teman atau bahkan saudara kita
sendiri karena berganti-ganti celana bisa menularkan penyakit.
Bulu yang tumbuh di daerah kemaluan bisa menjadi sarang kuman bila dibiarkan
terlalu panjang. Untuk menjaga kebersihan, potonglah secara berkala bulu di
sekitar kemaluan dengan gunting atau mencukurnya dengan hati-hati

LO.2.10. Memahami dan menjelaskan Komplikasi Keputihan (Leukorea)
Komplikasi yang sering adalah bila kuman telah menaiki panggul sehingga terjadi
penyakit yang dikenal dengan radang panggul. Komplikasi jangka panjang yang lenih
mengerikan, yaitu kemungkinan wanita tersebut akan mandul akibat rusak dan lengketnya organ-
organ dalam kemaluan terutama tuba falopi dan juga dapat menyebabkan infertilitas.Komplikasi
juga dapat terdapat pada pria yaitu komplikasi non spesifikndapat menjalar ke prostat dan
menimbulkan infeksi buah zakar dan saluran kemih
Terinfeksinya kelenjar yang ada di dalam bibir vagina. Bisul kelenjar tersebut harus
disedot keluar karena tidak dapat disembukan dengan obat. Komplikasi pada wanita sering
menimbulkan radang saluran telur. Infeksi nonspesifik pada wanita sering tanpa keluhan maupun
gejala.

LO.2.11. Memahami dan menjelaskan Prognosis Keputihan (Leukorea)
Prognosis baik, baik penyebab bakteri, parasit, dan jamur, hal ini apabila penaganan diaksanakan
dengan cepat dan tepat. Komplikasi dapat terjadi dalam penanganan yang lamban, begitu juga
prognosis yang buruk pada penyebab virus seperti pada HPV dan HSV.
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap
pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan
kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih efektif
- Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata rata 70 80% dengan regimen
pengobatan
- Kandidiasis mengalami kesembuhan rata rata 80 -95 %
- Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata rata 95 %

46

LI.3. Mampu memahami dan menjelaskan Keputihan menurut pandangan Islam.
Keputihan bisa terjadi dalam keadaan tidak normal, yang umumnya dipicu kuman penyakit dan
menyebabkan infeksi. Akibatnya, timbul gejala-gejala yang sangat mengganggu, seperti
berubahnya warna cairan menjadi kekuningan hingga kehijauan, jumlah berlebih, kental, lengket,
berbau tidak sedap, terasa sangat gatal atau panas. Dalam khazanah Islam, keputihan jenis ini
biasa disebut dengan cairan putih kekuningan (sufrah ) atau cairan putih kekeruhan
(kudrah ). Terkait dengan kedua hal ini, di kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa Sahabat
bernama Ummu Athiyyah radhiallahu anha berkata:


Kami tidak menganggap al-kudrah (cairan keruh) dan as-sufrah (cairan kekuningan) sama
dengan haidh
Berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan :
1. Hukum orang yang mengalami keputihan tidak sama dengan hukum orang yang
mengalami menstruasi. Orang yang sedang keputihan tetap mempunyai kewajiban
melaksanakan shalat dan puasa, serta tidak wajib mandi.
2. Cairan keputihan tersebut hukumnya najis, sama dengan hukumnya air kencing. Oleh
karenanya, apabila ingin melaksanakan shalat, sebelum mengambil wudhu, harus istinjak,
dan membersihkan badan atau pakaian yang terkena cairan keputihan terlebih dahulu.
Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullaahu
Fadhilatusy Syaikh ditanya:
Apakah cairan yang keluar dari kemaluan wanita suci atau najis? Apakah membatalkan wudhu?
Sebagian wanita meyakini bahwa keluarnya cairan tersebut tidak membatalkan wudhu.
Beliau menjawab:
Yang nampak setelah saya melakukan pembahasan bahwa cairan yang keluar dari kemaluan
wanita, jika keluarnya bukan dari kandung kemih tetapi dari rahim maka hukumnya suci, akan
tetapi membatalkan wudhu meskipun ia suci. Karena tidak dipersyaratkan pembatal wudhu itu
harus sesuatu yang najis. Contohnya kentut yang keluar dari dubur manusia, tidak ada bentuknya
akan tetapi membatalkan wudhu.
Oleh karena itu, jika keluar cairan tersebut dari kemaluan seorang wanita sedangkan dia dalam
keadaan suci (dengan wudhu), maka wudhunya batal dan dia wajib memperbaharui wudhunya.
Jika terus-menerus keluar, maka dihukumi tidak membatalkan wudhu, akan tetapi jika dia
hendak maka tidak boleh berwudhu kecuali setelah masuk waktu shalat yang akan dia
laksanakan, baik untuk shalat wajibnya maupun sunnahnya ataupun jika hendak membaca Al-
Quran, serta dibolehkan baginya melakukan perkara-perkara yang mubah.
Para ulama berpendapat demikian juga bagi mereka yang terkena penyakit salasul baul (kencing
yang terus menerus keluar).
Inilah hukum cairan (dari kemaluan wanita) tersebut ditinjau dari sisi sucinya, maka cairan
tersebut tidak menajisi pakaian tidak pula badan.
Adapun hukumnya dari sisi wudhu, maka membatalkannya, kecuali jika terus-menerus keluar.
Akan tetapi jika dia hendak shalat maka jangan berwudhu sebelum masuk waktu, dan hendaknya
dia menjaga cairan tersebut (agar jangan tercecer kemana-kemana).
47

Adapun jika keluarnya terputus-putus, misalnya biasa terhenti pada waktu-waktu shalat, maka
dia mengakhirkan shalatnya pada waktu cairan tersebut terhenti, selama dia tidak khawatir keluar
waktu. Jika khawatir keluar waktu, maka dia sumbat saluran cairan tersebut, kemudian (wudhu)
dan shalat. Tidak ada bedanya keluarnya sedikit atau banyak, karena semuanya keluar dari
lubang kemaluan, maka sedikit ataupun banyak tetap membatalkan wudhu.
Adapun keyakinan sebagian wanita bahwa keluarnya cairan tersebut tidak membatalkan wudhu,
maka aku tidak mengetahui sandaran pendapat ini kecuali ucapan Ibnu Hazm rahimahullaah, di
mana beliau berkata: Sesungguhnya dia tidak membatalkan wudhu.
Akan tetapi beliau tidak menyebutkan dalil akan pendapatnya tersebut. Kalau seandainya ada
dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah ataupun pendapat para shahabat niscaya ucapan beliau bisa
dijadikan hujjah.
Dengan itu, wajib bagi seorang wanita untuk bertakwa kepada Allah dan bersemangat untuk
menjaga thaharahnya, karena shalat tidak akan diterima tanpa thaharah, walaupun shalat seratus
kali.
Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang shalat tanpa thaharah hukumnya kafir
karena dia termasuk telah mengolok-olok ayat-ayat Allah.
Madzi dan Wadi
Madzi adalah cairan bening, halus dan lengket yang keluar ketika adanya dorongan syahwat,
seperti bercumbu, mengingat jima (persetubuhan) atau menginginkannya. Keluarnya
madzi tidak memancar dan tidak diakhiri dengan rasa lemas atau kendornya syahwat, bahkan
terkadang seseorang tidak merasakan keluarnya madzi.Air ini terjadi pada kaum lelaki maupun
kaum wanita, akan tetapi lebih sering pada kaum wanita. Air tersebut adalah najis berdasarkan
kesepakatan ulama.
Sedangkan wadi adalah cairan berwarna putih dan kental, biasanya keluar setelah buang air
kecil. Air tersebut najis berdasarkan ijma. (Al-Wajiz, hal. 58; Ensiklopedi Fiqh Wanita,
I/25; Ensiklopedi Shalat, I/19; Fiqhus Sunnah, I/48)
Cara membersihkan madzi dan wadi adalah dengan mencuci kemaluan, berdasarkan riwayat dari
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu yang menyuruh Miqdad bin al-Aswadradhiyallahu
anhu untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam perihal dirinya yang
sering mengeluarkan madzi, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda,

(Hendaklah) dia mencuci kemaluannya dan berwudhu. (Shahih, riwayat Bukhari (no. 269),
dalam Fat-hul Baari (I/230 no. 132) dan Muslim (no. 303))
48

Dan apabila air madzi mengenai pakaian, maka cukup dibersihkan dengan menyiramkan air
setelapak tangan ke pakaian yang terkena madzi tersebut. Hal ini berdasarkan riwayat Sahl bin
Hunaif radhiyallahu anhu, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam mengenai madzi yang mengenai pakaiannya, maka Rasulullahshallallahu alaihi wa
sallam menjawab,

Cukuplah bagimu mengambil air satu telapak tangan, lalu tuangkanlah ke pakaianmu (yang
terkena madzi) sampai engkau lihat air tersebut mengenainya (membasahinya). (Hasan, riwayat
Abu Dawud (no. 215), Tirmidzi (no. 115) dan Ibnu Majah (no. 506)
Macam-Macam Najis dan Tata Cara Thaharahnya

Najis dapat mencegahnya sahnya sholat ada kemungkinan pada badan,pakaian atau
tempat yang dipergunakan untuk sholat. Najis-najis itu terbagi dalam 3 macam yaitu: najis
mukhafafah,najis mutawasitah dan najis mugalazzah.

1. Najis Mukhafafah
Yang termasuk najis mukhafafah (najis ringan) ialah kecing anak laki-laki yang
belum berumur 2 tahun dan belum makan atau minum sesuatu kecuali air susu ibu
(ASI).
Cara mensucikan najis mukhafafah ialah dengan memercikan air pada benda
yang terkena najis mukhoffafah itu. Yang di maksud dengan memercikkan air ialah
cukup dengan percikan air yang tidak di tuntut air itu sampai menimbulkan air
mengalir.
Hal ini berbeda dengan membasuh karena membasuh di tuntut air iu sampai
mengalir.
Rusululloh saw, bersabda yang artinya : Di basuh karena kencing perempuan dan di
percikkan karena air kencing anak laki-laki."[HR. Abu Dawud dan An-Nasai]
2. Najis Mutawassitoh
Yang termasuk najis mutawassitoh [najis sedang ] ialah:
- Bangkai binatang darat yang berdarah sewaktu hidupnya.
Allah swt. Berfirman:
Artinya: Di haramkan bagiu (memakan) bangkai.(QS. Al-Maidah/5:3 )
Yang di maksud dengan bangkai adalah binatang yang mati karena tidak di
sembelih, atau di sembelih tetapi tidak menurut aturan syariat islam.
Yang termasuk golongan bangkai ialah daging yang di potong dari inatang
yang masih hidup seperti memotng paha suatu binatang.
Rasulullah saw. bersabda:
Artinya: Daging yang di potong dari binatang yang masih hidup termasuk
bangkai.(HR. Abu Dawud dan Turmudzi dari Abu Waqid Al-Laits).
Yang tidak termasuk najis ialah bangkai belalang dan ikan, tanduk, bulu dan
kulit binatang, seperti; belalai, bulu domba, dan semacamnya.
49

- Darah
Semua macam darah adalah najis. Allah swt. Berfirman:
Artinya: Di haramkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi.[QS.
Al-Maidah/5:3]
Jika darah itu sedikit maka dapat dimaafkan seperti darah nyamuk yang
melekat pada badan atau pakaian, darah bisul, darah karena luka kecil.
- Nanah
Nanah pada hakekatnya adalah darah yang tidak sehat dan sudah membusuk.
Nanah yang kental atau yang cair hukumnya adalah najis
- Muntah
Muntah merupakan najis namun kalau sedikit dapat di maafkan
- kotoran manusia dan binatang
Semua benda yang padat dan cair yang keluar dari kubul dan dubur manusia
maupun binatang ialah najis kecuali air mani.Walaupun air mani tidak
termasuk najis akan tetapi di sunahkan untuk membersihkanya.
- Arak(khamr)
Semua minuman keras yang memabukan termasuk benda najis.Hal ini
berdasarkan firman Allah swt.sebagai berikut: Wahai orang-orang yang
beriman sesungguhnya minuman keras,berjudi,(berqurban untuk berhala)
dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk
perbuatan setan(QS.Al-Maidah:90)
Najis Mutawwasitah di bagi menjadi 2, yaitu :
1. Najis Ainiyah
Yaitu najis yang masih kelihatan wujud,bau dan warnanya. Cara mensucikan ais
mutawassitah ainiyah ialah dengan menghilangkan najis tersebut dengan air sampai
bau,warna dan wujudnya menghilang.Jika najis itu terdapat di tengah-tengah masjid
misalnya, cara menghilangkan najis tersebut dengan membuang dan menggosok sampai
benar-benar bersih dan tidak ada warna,rasa dan baunya.Dengan demikian pekerjaan tadi
dalam rangka mengubah najis ainiyah menjadi najis hukmiyah.
2. Najis Hukmiyah
Yaitu najis mutawassitah yang di yakini ada tetapi sudah tidak kelihatan wujud,bau dan
warnanya.Contohya air kencing yang sudah kering yang berada pada pakaian
Cara mensucikan najis hukmiyan ialah dengan menggenangi air mtklak pada tempat najis
tersebut.Dengan demikian seseorang tidak perlu membasuh seluruh lantai di masjid itu. Jika
bekas najis yang sudah di cuci sampai berulang-ulang juga tidak dapat hilang semua,maka
dengan demikian itu dapat di maafkan dan di anggap suci.
3. Najis Mugalazzah
Yang termasuk najis Mugalazzah(najis berat) ialah air liur serta kotoran babi.Cara
mensucikanya ialah dengan mencuci najis tersebut tujuh kali dengan air,salah satu
diantarang dengan memakai debu suci.Rosulullah bersabda: sucinya tempat dan
peralatansalah seorang kamu,apabila di jilat anjing hedaklah di cuci tujuh kali itu harus
dengan tanah dan debu(HR Muslim dari Abu Hurairah).


50
















Daftar Pustaka
Jawetz, Melnick, &Adelbergs. Vaginosis Bacterial, Trichomonas: Jawetz, Melnick,
&Adelbergs. Vaginosis Bacterial, Trichomonas: Medical Microbiology Medical
Microbiology Ed. 22nd.
Sofwan, Achmad. Sistem Reproduksi. 2011. FK YARSI: Jakarta
S. Bickley, Lynn (2009). Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan
ed.8. EGC: Jakarta
51

Juanda ed. Dkk. VaginosisBakterial: AdhiJuanda ed. Dkk. VaginosisBakterial:
IlmuPenyakitKulitdanKelamin Ed. 5. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Ed. 5. Jakarta. UI
Press; 2007; 386 Jakarta. UI
Gartner & Hiatt. Vagina. Gartner & Hiatt. Vagina. Textbook Histology. Textbook
Histology. Saunders; 2004
S. Snel, Richard. 2006. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta.
EGC.
Arif M, Kuspuji T, Rakhmi S, Wahyu I W, Wiwiek S, Keputihan, Kapita Selekta
Kedokteran, Ed ke- 3, Jilid 1, Jakarta: Media Aesculapius F.K.U.I, 2001: 376-378.
Murtiastutik D. 2008. Penyakit dengan gejala flour albus atau duh tubuh vagina. Buku
ajar Infeksi Menular Seksual. Cet-ke1. Surabaya: Airlangga University press.
Emanuel G, Lorrence H G. 2009. Practical Handbook of Microbiologi, Ed ke-2 : CRP
press Taylor & Francis grup
Frederick S S. 2007. Genitourinary tract infectious and Sexually Transmitted Disease.
Dalam: Infectious diseases a clinical short course, Ed ke-2 : Mc Graw-Hill
Sarwono, P. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
http://aqidah-islami.blogspot.com/2011/02/pengertian-najis.html