Anda di halaman 1dari 23

LEMBAR PENUGASAN

Judul Peraktikum : Pengendalian Level Cairan


Laboraturium : Komputasi dan Pengendalian Proses
Jurusan/Prodi : Teknik Kimia/ TK DIII
Nama : Ahmadi Fachry
Nim : 1224401024
Kelas/Semester : 3C-RP/ V

Anggota kelompok : 1. Astried Tanya
2. Muhammad Adlan Adam
3. hafizh Maulana

Uraian Tugas :

1. Kalibrasi Rotameter.
2. Uji karakteristik pengosongan dan pengisian tanki.
3. Zona netral pada pengendali On-Off pada titik minimum : 65% dan
maksimum : 85%.
4. Gambar grafik pengosongan dan pengisian.
5. Daerah netral.







Ka Laboraturium Dosen Pembimbing

Ir. Syafruddin, M.si Ir. Syafruddin, M.si
Nip : 19650819 199802 1001 Nip : 19650819 199802 1001

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum : Pengendalian Level Cairan
Mata kuliah : Instrumen Dan Pengendalian Proses
Nama : Ahmadi Fachry
Nim : 1224401024
Kelas/Semester : 3C-RP/ V
Nama Ka. Laboraturium : Ir. Syafruddin, M.si
Nip : 19650819 199802 1001
Nama Dosen Pembimbing : Ir. Syafruddin, M.si
Nip : 19650819 199802 1001
Tanggal Pengesahan :








Mengetahui
Ka.Laboraturium Dosen Pembimbing

Ir. Syafruddin, Msi Ir. Syafruddin, Msi
Nip : 19650819 199802 1001 Nip : 19650819 199802 1001


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan

Mempelajari Karakteristik Pengendalian On-Off.
Dapat Mengeetahui Konsep- Konsep Dasar Pengendalian Level.
Dinamika Proses Pengisian Dan Pengosongan Tangki.
Dapat Mengetahui Unit-Unit Pengendalian Level.

1.2 Alat Dan Bahan
1.2.1 Alat yang Di gunakan

Seperangkat Alat Pengendali Level CRL (Control Regulation Level)
Stopwatch
Beaker Glass
Piknometer

1.2.2 Bahan Yang Digunakan

Air ( Aquadest)
Udara

1.3 Prosedur Percobaan

1. Cek Power Supplay ke CRL dan PC, Kebelnya dalam keadaan tidak tersambung
2. Cek semua modul pada CRL berada pada rangkainnya
3. Masukan air ke dalam tangki
4. Hubungkan kabel controller CRL ke A/D D/A card yang ada pada computer
5. Hubungkan kabel power controller CRL unit ke panel listrik kemudian hidupkan
main switch pada controller CRL unit.
6. Buka katup tekanan dan atur tekanan sesuai dengan penunujuk pembimbing
praktikum.
7. Hidupkan personal computer buka program computer CRL.
8. Masukan harga set point sesuai tugas yang diberi pembimbing prakek.
9. Start dan amati proses kendali pada layar monitor.





A. Atur switch Pengendalian On-Off

Atur switch ke pengisian tangki dan catat waktu On dan Off pengendalian
level cairan dan tinggi levelnya pada saat On-Off.
Gambarkan Zona Netral yang di peroleh dari data.

B. Amati Karakteristik Pengisian Tangki

Kosongkan tangki terlebih dahulu dengan membuka kran pembuangan
cairan dan matikan power pompa.
Tutup kran pembuangan dan hidupkan kembali power pompa.
Catat waktu pengisian tangki tiap kenaikan 5% level.
Ulangi percobaan sampai 3x .
Gambarkan grafiknya dan ukur densitas cairan.

C. Amati Karakteristik Pengosongan Tangki

Isi tangki terlebih dahulu dengan menutup kran pembuangan cairan dan
hidupkan power pompa.
Buka Kran pembuangan dan hidupkan kembali power pompa.
Catat waktu pengosongan tangki tiap kenaikan 5% level cairan.
Ulangi percobaan sampai 3x.
Gambarkan grafik dan ukur densitas cairannya.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengendalian level
Unit ini memungkinkan untuk menganalisis perilaku loop control, dimana kuantitas
yang dikontrol adalah tingkat (level) air dalam tangki. Perilaku kuantitas dikontrol dapat
diikuti secara visual sehingga mahasiswa dapat memahami konsep-konsep dasar kontrol dan
teknik pengontrolan secara intuitif.
Mahasiswa dapat memeriksa efek dari parameter kontrol yang berbeda terhadap
kinerja rantai kontrol dan stabilitas sistem, selanjutnya, mereka dapat menjadi lebih akrab
dengan komponen yang umumnya dipakai dalam aplikasi industri moderen, karena sistem
yang seluruhnya terbuat dari komponen kualitas industri .
Unit ini memiliki dua versi, di mana elemen kontrol terdiri dari katup pneumatik
(CRL) atau katup listrik bermotor (CRL / E).

1. Komposisi
Unit CRL terdiri dari:
Proses rig dengan katup pneumatik dan peralatan listrik
Kontrol dan monitoring software CRS
Opsional minireg regulator elektronik
Opsional MRRP pneumatik mengendalikan dan merekam modul
Opsional listrik-kompresor dengan peredam
Unit CRL/E terdiri dari:
Proses rig dengan katup listrik dan peralatan listrik
Kontrol dan monitoring software CRS
Opsional MiniReg regulator elektronik
Komponen opsional dijelaskan dalam lembaran data terpisah

2.2 Algoritma Pengontrolan dari Controller
2.2.1. Alat Pengendali On-Off atau Tidak Kontinyu
Cara pengendali yang paling dasar adalah mode pengendali On-Off atau yang sering
disebut dengan mode dua posisi. Jenis pengendali On-Off merupakan conoh dari mode
pengendali tidak menerus. Mode ini paling sederhana, murah dan sering kali bias dipakai
untuk mengendalikan proses-proses yang penyimpangannya dapat ditoleransi sebagai contoh
adalah pengendali tempratur ruangan memakai AC. Secara matematis penegndali On-Off
bias dituliskan.

P = 100% untuk E< 0
0% untuk E > 0
Dengan P adalah keluaran sedangkan E adalah Galat
Dari pernyataan maematis diatas dapat di simpulkan bahwa jenis pengendali On-Off
hanya dapat mengeluarkan keluaran 0 dan 100% .Pemakaian Jenis pengendali On-Off jarang
di jumpai pada industry karena pengendalian dengan menggunakan jenis pengendalian ini
menghasilkan penyimpangan-penyimpangan yang cukup besar.Pada industry Kimia
perubahan yang di kendalikan , Pada umumnya tidak boleh memiliki galat yang terlalu besar.
Pada jenis pengendalian On-Off untuk memberikan batas rentang maksimum dan minimum
pada saat pengendali bekerja dibatasi oleh daerah netral. (http://. Slide Share. Net/Eka
Migas / Alat- kendali untuk final -2011) Diakses Tanggal 8 Oktober 2014.

2.2.2 Proportional Control
Dalam aksi pengontrolan proporsional, alat pengoreksi akhir memiliki suatu daerah
posisi yang kontinu. Posisi tepatnya sebanding dengan besarnya kesalahan, dengan kata
lain, output dari controller sebanding dengan inputnya.
Kontroler ini memiliki output untuk aktuasi (actuating output) yang proporsional
terhadap error:
m(t) = K
c
(t)+m
s

m(t) = sinyal aktuasi Kc = proportional gain dari kontroler
(t) = error m
s
= sinyal bias (sinyal aktuasi ketika error (t) = 0)
Kontroler proportional dicirikan oleh proportional gain K
c
atau dengan
nilai proportional band PB, dengan PB = 100
K
c


K
c
= Perubahan Output / Perubahan Input

Dengan demikian, Proporsional Band adalah perbandingan antara perubahan
input terhadap perubahan output.

Efek dari kontrol proporsional adalah menghilangkan osilasi yang timbul di sekitar
set point bila proportional band-nya diset (tuning) pada nilai atau keadaan yang
tepat.
Efek lain dari kontrol ini adalah adanya offset pada hasil pengontrolannya. Offset
ini terjadi akibat harga setpoint tidak dapat dicapai sesudah suatu perubahan beban
terjadi. Besarnya offset ini tergantung pada harga proportional band-nya. Semakin
besar harga proportional bandnya maka akan semakin besar offsetnya, sebaliknya
semakin kecil harga proportional bandnya maka semakin besar kemungkinan osilasi
terjadi (peredaman osilasi kecil).

Respon untuk jenis proporsional controller terhadap perubahan beban dapat dilihat
pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Respon Proportional Controller terhadap Perubahan Beban
( Sumber;BPST,2007;133)

Di dalam prakteknya, proportional control akan berfungsi baik untuk sistem yang
proses perubahan bebannya secara lambat dan variasi set point-nya kecil, karena dengan
demikian proportional band-nya dapat diambil cukup kecil. (BPST, 2007; 133)

2.2.3. Proportional Integral Control (PI Control)

Dalam aksi pengontrolan proporsional plus integral, posisi alat pengoreksi
akhir
(control valve) ditentukan oleh dua hal :
Besarnya sinyal kesalahan, ini adalah bagian proporsional
Integral waktu dari sinyal kesalahan, artinya besarnya kesalahan dikalikan
dengan waktu dimana kesalahan tersebut terjadi, ini adalah bagian integral.
Kontroler tipe ini juga dikenal sebagai kontroler proportional-plus-reset.Hubungan antara
sinyal aktuasi dengan error adalah sebagai berikut:

m (t) =k
c
(t)+

(t)dt + m
s
Dengan I adalah konstanta integral time atau reset time dalam satuan menit.
Karakteristik penting pada controller jenis ini adalah konstanta waktu integral.
Konstanta ini merupakan parameter yang dapat diatur dan kadang-kadang mengacu sebagai
minutes per repeat. Tetapi didalam industri yang digunakan sebagai acuan adalah kebalikan
dari konstanta waktu yang dikenal sebagai reset rate.
Untuk mengerti cara kerja kontroler PI, misalkan terdapat perubahan error sebagai
fungsi step dengan besar . Pada awalnya, error = 0, karena itu output dari kontroler adalah
K
c
sebagai akibat kontribusi dari bagian integral adalah nol. Setelah periode I , kontribusi
bagian integral adalah:

()

k
c



ini berarti aksi kontrol integral telah mengulang respon dari aksi kontrol proporsional.
Pengulangan ini terjadi setiap periode I menit seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut
ini. Inilah yang menyebabkan
I
dinamakan reset time.

Efek dari penambahan Integral pada controller ini akan menghilangkan offset yang
terjadi akibat proportional control, karena adanya integral terhadap waktu. Jadi offset
akan terkoreksi dengan berjalannya waktu, artinya untuk menghasilkan respon yang tidak
mempunyai offset maka memerlukan selang waktu tertentu.


Efek lain dari penambahan integral adalah lebih lambatnya respon sistem, selain itu
pada sistem ini akan terjadi osilasi pada saat bagian integral menghilangkan offset, serta
timbulnya overshoot apabila ada perubahan beban.

Respon untuk jenis proportional + integral controller terhadap perubahan beban dapat
dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Respon PI Controller terhadap Perubahan Beban

( Sumber;BPST,2007;135)

Jenis PI controller ini dalam aplikasinya pada industri dapat menangani hampir
setiap situasi kontrol proses. Perubahan beban yang besar dan variasi yang besar pada set
point dapat dikontrol dengan baik tanpa osilasi yang berkepanjangan, tanpa offset
permanen dan cepat ke keadaan seharusnya setelah gangguan terjadi. (BPST,2007;135)

2.2.4 Proportional Integral Derivative Control (PID Control)

Dua karakteristik proses yang sangat sulit pengontrolannya, dimana control PI tidak
lagi memadai, yaitu: proses dengan beban berubah dengan sangat cepat dan proses yang
memiliki kelambatan yang besar antara tindakan korektif dan hasil yang muncul dari
tindakan tersebut.
Dalam aksi pengontrolan proportional plus integral plus derivative (PID), posisi alat
pengoreksi akhir (control valve) ditentukan oleh dua hal:
Besarnya sinyal kesalahan, ini adalah bagian proporsional
Integral waktu dari sinyal kesalahan, artinya besarnya kesalahan
dikalikan dengan waktu dimana kesalahan tersebut terjadi, ini adalah bagian
integral.
Laju perubahan kesalahan terhadap waktu. Perubahan kesalahan yang
cepat menyebabkan suatu aksi korektif yang lebih besar dari perubahan
kesalahan. Ini adalah bagian derivative.

Kontroler jenis ini dikenal juga sebagai kontroler proportional-plus-reset-plus-
rate. Output dari kontroler ini dinyatakan sebagai:

m(t) =k
c
(t)+

(t)dt + k
c

D


+ m
s

dengan T
D
adalah konstanta derivative time dalm satuan menit.
Karekteristik tambahan dengan adanya derivative control dikenal sebagai rate
time(konstanta waktu derivative).
Walaupun demikian , aksi kontrol derivative memiliki beberapa kelemahan seperti
berikut ini :
1. Untuk respon dengan error konstan dan tidak nol, kontroler ini tidak
memberikan aksi kontror karena

= 0.
2. Untuk respon ynag bergejolak, dengan error yang hampir nol,kontroler ini
dapat memperoleh nilai derivatif yang besar, yang menghasilkan aksi
kontrol yang besar, meskipun seharusnya tidak perlu.


Respon proportional + integral + derivatif (PID) controller terhadap perubahan beban
dapat di lihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4. Respon PID Controller terhadap Perubahan
Beban.

(BPST, 2007; )
2.3 Zona Netral
Pada jenis pengendali on-off untuk memberikan batas rentang maksimum dan minimum
saat pengendali bekerja dibatasi daerah netral.

Gambar 2.5 Daerah netral on-off kendali
(http://. Slide Share. Net/Eka Migas / Alat- kendali untuk final -2011)Diakses
Tanggal 8 Oktober 2014.

Pengertian daerah netral dapat dijelaskan sebagai berikut:
Misalkan pengendali off pada posisi E = 0 (Gambar 4.5). apabila pengedali off,
peubah yang dikendalikan turun ke bawah harga yang diinginkan galat bergerak dari
E = 0 menuju daerah E yang bertanda (-). Pada saat tepat mencapai titik yang
bertanda (-) pengendali akan on menyebabkan yang dikendalikan mulai naik. Galat
berubah dari titik yang bertanda (-) menuju titik yang bertanda (+). Tepat pada saat E
mencapai titik (+) alat pengendali off, demikian seterusnya. Daerah rentang
bekerjanya alat mulai titik E(-) sampai E(+) disebut Daerah Netral atau Daerah
Diferensial. Makin sempit daerah netral semakin cepat pengendali bekerja dari posisi
on ke posisi off, demikian juga sebaliknya. (http://. Slide Share. Net/Eka Migas /
Alat- kendali untuk final -2011)Diakses Tanggal 8 Oktober 2014.

2.4 Alat Ukur Level (Level Measurement Device)
A. Displacemant Device

1. Prisip Operasi
Prinsip kerja alat ini yaitu jika sebuah pelampung diapungkan pada
permukaan fluida, maka pelampung akan naik dan turun mengikuti gerakan dari
permukaan fluida yang bersangkutan. Selanjutnya dengan suatu mekanisme,
pergerakan pelampung ini dapat ditranslasikan kedalam alat ukur displacer
levelberdasarkan prinsip Archimedes.







Gambar 2.6 Displacemant Level Measurement
(Sumber BPST, 2007)

Displacement atau buoyancy method pada gambar di atas, adalah metode
pengukuran tinggi permukaan fluida yang paling banyak digunakan sejak beberapa tahun
yang lalu. Metode ini masih tetap popular untuk fluida yang bersih, namun banyak
proses yang mengandung slurry yang cenderung. Mengakibatkan coat pada alat ukur
jenis tersebut. Sehingga diperlukan metodelain yang lebih dapat diterima. (BPST, 2007 hal
;56)

B. Differential Pressure Type
1. Prisip Operasi
Pengukuran level jenis differential pressure (DP) didasarkan pada prinsip
hydrostatic head. Prinsip ini mengatakan bahwa pada setiap titik di dalam fluida
yang diam (static), gaya yang bekerja padanya adalah sama untuk semua arah dan tidak
tergantung pada volume fluida maupun bentuk ruang atau tempat dimana fluida berada,
tetapi hanya bergantung pada tinggikolom fluida di atas titik yang bersangkutan. Oleh karena
itu hydrostatic head sering dinyatakan dalam satuan tekanan.

Gambar 2.7 Differential Pressure Measurement

Sumber (BPST, 2007)


Hydrostatic head dapat dinyatakan dalam betuk persamaan :

P = . g. h

Dimana :
P = tekanan hydrostatic head
= fluid density
g = gravity acceleration constant (9.81 m/s
2
) or 32.2 ft/s
2
)
h = level fluid

Aplikasi pengukuran level dengan menggunakan metoda perbedaan tekanan
atau tekanan hidrostatik telah mengalami kemajuan yang signifikan beberapa
tahun lalu. Peralatan D/P ini memungkinkan untuk mengukur level dengan
range yang lebar pada services yang bersih, korosif, slurry dan high viscous.
Hampir semua jenis peralatan D/P dapat digunakan untuk mengukur level jika
peralatan tersebut tersedia dalam range yang diperlukan untul level yang
dimaksud. Pada umumnya range D/P untuk level adalah sekitar (10 ~ 150)
inchesH20. (BPST , 2007 hal 57).






C.Capacity Type
1. Prinsip Operasi
Sebuah kapasitor terbentuk ketika elektroda sensor level dipasang
didalam sebuah vessel. Tangkai metal dari elektroda bertindak sebagai satu plate dari
kapasitor dan dinding tangki bertindak sebagai plate yang lain (untuk non metallic
vessel dibutuhkan reference elektroda sebagai plate yang lain dari kapasitor).








Gambar 2.8 Capacitance Level Measurement
(Sumber BPST, 2007)

Ketika level fluida naik, udara atau gas yang semula melingkupi electroda akan
digantikan oleh material (fluida) yang mempunyai konstanta dielektik (dielectric constant)
yang berbeda, sehingga suatu perubahan didalam nilai kapasitor terjadi sebab
dielektrikum antara plat telah berubah. RF (Radio Frequerncy) capacitance instrument
mendeteksi perubahan tersebut dan mengkonversinya kedalam suatu sinyal keluaran secara
proporsional.
Hubungan kapasitansi digambarkan dengan persamaan sebagai berikut :
C = 0.225 K ( A / D )
Dimana :
C = Capacitance (picoFarads)
K = Dielectric constant dari material
A = Area of plates (square inches)
D = Distance between the plates (inches). (BPST, 2007 hal; 60)


D. Ultra Sonic Type
1.Prisip Operasi
Ultrasonic transmitter bekerja dengan prinsip pemancaran gelombang suara
dari peizo electric transducer kedalam vessel yang berisi material proses. Alat ini mengukur
lama waktu yang dibutuhkan gelombang suara yang dipantulkan kembali ke transducer.
Pengukuran yang baik tergantung pada pantulan gelombang suara dari material proses
secara garis lurus yang kembali ke transducer. Ultrasonic level detectors pada gambar di
bawah digunakan terutama untuk point measurement. Alat ini sudah digunakan sejak tahun
1960, hampir sama seperti capacitance probe, alat ini juga sering digunakan untuk
mengukur level pada service dimana sering timbul permasalahan bilaman menggunakan
metoda pengukuran tradisional. (BPST, 2007 hal; 62)

Gambar 2.9 Prinsip Kerja Ultra Sonic Level Measurement
(Sumber BPST, 2007)

E. Radar Type
1. Prinsip Operasi
Teknologi radar untuk aplikasi pengukuran level yang ada dipasaran adalah
Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW) atau Pulse Wave Time of Flight.
Sistem Pulsed Wave bekerja dengan memancarkan suatu gelombang mikro (microwave)
ke arah material proses, gelombang ini dipantulkan oleh permukaan dari material
proses dan dideteksi oleh sensor yang sama yang bertindak sebagai penerima
(receiver). Level ditentukan dari waktu tempuh dari sinyal gelombang mikro dari
transmitter ke receiver. Sistem FMCW bekerja dengan memancarkan suatu signal
frekuensi secara terus menerus dan jarak ditentukan dari perbedaan frekwensi antara
sinyal transmitter dan receiver pada setiap titik pada waktunya.







Gambar 2.10 Prinsip Kerja Radar Level Measurement
(Sumber BPST, 2007)
Secara umum prinsip kerja dari radar leveladalah sebagai berikut; Level dari cairan
diukur dengan radar pulsa yang pendek yang dipancarkan dari antena di bagian puncak
tanki ke arah cairan. Setelah radar pulsa dipantulkan oleh permukaan cairan, maka
antena menerima pulsa tersebut. Jarak dari meter gauge ke permukaan cairan (d) adalah
sebanding dengan waktu tempuh pulsa gelombang micro (t). Frekuensi yang digunakan
radar adalah 5.8 GHZ ( 6.3 GHZ di AS). (BPST, 2007 hal; 63)
F. Radiation Type
1. Prinsip Operasi
Seperti beberapa metoda pengkukuran level lainnya, jenis radioactive (nucleonic)
digunakan juga sebagai continuous measurement dan point measurement. Pada
continuous measurement, radiation level menyediakan persentase dari penurunan
transmisi sesuai level, dan untuk point measurement, radiation level menyediakan suatu
fungsi switch on/off. Radio isotop yang digunakan pada pengukuran level akan
memancarkan energi pada suatu tingkat rate yang konstan secara acak. Radiasi gamma
adalah sumber yang secara umum digunakan untuk nucleonic level gauging. Panjang
gelombang pendek dan energi yang tinggi dari radiasi gamma menembus dinding vessel
dan media proses.

Sebuah detektor di sisi yang lain dari vessel mengukur kekuatan bidang radiasi dan
menyimpulkan level didalam vessel. Secara umum, radioactive level adalah metoda
pengukuran level yang mahal dan perlu dipertimbangkan secara serius bilamana akan
diimplementasikan. Bukan hanya hardware yang mahal, tetapi calibration dan testing
juga membutuhkan waktu yang lama serta biaya opearasi yang tinggi. Oleh karena alat ini
sering digunakan sebagai metoda terakhir yang dipilih bila semua metode gagal
digunakan pada suatu aplikasi, maka biaya keseluruhan tetap dipertimbangkan secara
ekonomis dalam pemilihannya. (BPST, 2007 hal; 65)

Gambar 2.11 Radioactive (Nucleonic)Level Measurement
(Sumber BPST, 2007)



















BAB III
DATA PENGAMATAN

3.1. Data Kalibrasi Rotameter
No Skala Volume Waktu (s)
1 1 250 72
2 2 250 47
3 3 250 34
4 4 250 22
5 5 250 16
6 6 250 15
7 7 250 14

3.2. Pengosongan Tanki
3.2.1. Skala 1
No % Level Waktu (s) T
1 90 0 0
2 85 107 107
3 80 96 -11
4 75 80 -16
5 70 111 31
6 65 114 3
7 60 102 -12
8 55 93 -9
9 50 134 41
10 45 114 -20
11 40 103 -11
12 35 130 27
13 30 122 -8
14 25 136 14
15 20 128 -8
16 15 135 7
17 10 112 -23
18 5 107 -5
19 0 115 48

3.2.2. Skala 3
No % Level Waktu (s) T Flow (ml/s)
1 90 0 0 3
2 85 18 18 3
3 80 44 26 3
4 75 56 12 3
5 70 36 -20 2,9
6 65 55 19 2,9
7 60 49 -6 2,9
8 55 38 -11 2,8
9 50 55 17 2,5
10 45 31 -24 2,5
11 40 45 14 2,4
12 35 51 6 2,4
13 30 58 7 2,4
14 25 64 6 2,4
15 20 68 4 2,4
16 15 56 -12 2,4
17 10 52 -4 2,4
18 5 64 12 2,4
19 0 73 9 2,4

3.2.3. Skala 4
No % Level Waktu (s) T Flow (ml/s)
1 90 0 0 4
2 85 42 42 4
3 80 33 -9 4
4 75 35 2 4
5 70 40 5 4
6 65 30 -10 4
7 60 38 8 3,8
8 55 40 2 3,8
9 50 44 4 3,6
10 45 40 -4 3,6
11 40 43 3 3,6
12 35 39 -4 3,4
13 30 48 9 3,4
14 25 39 -9 3,2
15 20 48 9 3,2
16 15 38 -10 3,2
17 10 42 4 3
18 5 55 13 2,9
19 0 47 -8 2,9

3.2.4. Skala 5
No % Level Waktu (s) T Flow (ml/s)
1 90 0 0 5
2 85 33 33 5
3 80 24 -9 5
4 75 24 0 4,7
5 70 33 9 4,7
6 65 28 -5 4,7
7 60 31 3 4,7
8 55 33 2 4,6
9 50 33 0 4,5
10 45 33 0 4,5
11 40 36 3 4,5
12 35 29 -7 4,5
13 30 33 4 4,4
14 25 30 -3 4,3
15 20 31 1 4,3
16 15 34 3 4,3
17 10 34 0 4
18 5 40 6 4
19 0 44 4 4

3.2.5. Skala 6
No % Level Waktu (s) T Flow (ml/s)
1 90 0 0 6
2 85 22 22 6
3 80 26 4 6
4 75 21 -5 5,5
5 70 24 3 5,5
6 65 24 0 5,5
7 60 25 1 5,5
8 55 29 4 5,5
9 50 26 -3 5,3
10 45 26 0 5,3
11 40 29 3 5,3
12 35 25 -4 5,3
13 30 28 3 5,3
14 25 29 1 5,2
15 20 25 -4 5,1
16 15 31 6 5,1
17 10 28 -3 5,1
18 5 29 1 4,9
19 0 38 9 4,9





3.2.6. Skala 7
No % Level Waktu (s) T Flow (ml/s)
1 90 0 0 7
2 85 20 20 7
3 80 21 1 7
4 75 18 -3 7
5 70 18 0 7
6 65 20 2 7
7 60 20 0 7
8 55 21 1 6,9
9 50 20 -1 6,5
10 45 21 1 6,5
11 40 21 0 6,5
12 35 22 1 6,5
13 30 22 0 6,3
14 25 21 -1 6,3
15 20 25 4 6,3
16 15 25 0 6,3
17 10 24 -1 5,9
18 5 25 1 5,9
19 0 25 0 5,9

3.3. Pengisian Tanki
No % Level Waktu (s) T
1 0 32 32
2 5 33 1
3 10 30 -3
4 15 25 -5
5 20 26 3
6 25 23 -3
7 30 22 -1
8 35 22 0
9 40 21 -1
10 45 21 0
11 50 23 2
12 55 28 5
13 60 15 -13
14 65 23 8
15 70 26 3

3.4. Daerah Netral Pengendalian On-Off
Titik Maksimum = 85%
Titik Minimum = 65%






y = 0.6151x + 79.637
R = 0.331
y = 0.4632x + 27.211
R = 0.5409
y = 0.2495x + 27.774
R = 0.4031
y = 0.2039x + 21.511
R = 0.4266
y = 0.1758x + 17.616
R = 0.4701
y = 0.2039x + 21.511
R = 0.4266
0
20
40
60
80
100
120
140
160
0 20 40 60 80 100
W
a
k
t
u

(
s
)

Level (%)
Grafik Pengosongan Tanki
Skala 1
Skala 3
Skala 4
Skala 5
Skala 6
Skala 7
Linear (Skala 1)
Linear (Skala 3)
Linear (Skala 4)
Linear (Skala 5)
Linear (Skala 6)
Linear (Skala 7)
No Maximum (s) Minimum (s)
1 77 51
2 82 57
3 91 65




y = -0.1279x + 29.142
R = 0.3699
0
5
10
15
20
25
30
35
0 20 40 60 80
W
a
k
t
u

(
s
)

Level (%)
Grafik Pengisian Tanki
Grafik Pengisian Tanki
Linear (Grafik Pengisian Tanki)
y = 0.9868x - 24.563
R = 0.9934
0
10
20
30
40
50
60
70
75 80 85 90 95
M
a
k
s
i
m
u
m

(
s
)

Minumum (s)
Grafik On-Off
Grafik On-Off
Linear (Grafik On-Off)

Anda mungkin juga menyukai