Anda di halaman 1dari 25

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Osteoartritis (OA) adalah suatu kelainan sendi kronis (jangka lama) dimana
terjadi proses pelemahan dan disintegrasi dari tulang rawan sendi yang disertai dengan
pertumbuhan tulang dan tulang rawan baru pada sendi. Kelainan ini merupakan suatu
proses degeneratif pada sendi yang dapat mengenai satu atau lebih sendi. Osteoartritis
terutama menyebabkan perubahan - perubahan biomekanika dan biokimia di dalam
sendi; penyakit ini bukan suatu peradangan. Namun, seringkali perubahan di dalam sendi
ini disertai oleh sinovitis, menyebabkan nyeri dan perasaan tidak nyaman (Sanghi, 2009).
Data menunjukkan bahawa prevalensi di Indonesia pada tahun 2008 sebanyak
23.6-31.3% (Sanghi, 2009). Didapati bahwa 13% dari wanita dan 10% dari pria umur 60
tahun ke atas mengalami osteoarthritis. Peningkatan prevalensi osteoarthritis disebabkan
oleh yaitu faktor resiko dari berat badan yang tinggi (obesitas) dan umur. Wanita
menderita persentasi lebih tinggi dibandingkan pria. Meta analisa menunjukkan bahawa
insidensi pria menderita osteoarthritis pada usia lebih dari 55 tahun cepat dari wanita.
Pada wanita menderita osteoarthritis akut pada usia lebih dari 55 tahun kerana mereka
akan mengalami usia menopause (Heidari, 2011).
Menurut organisasi kesehatan dunia (World Health Organization), prevalensi
penderita osteoartritis di dunia pada tahun 2004 mencapai 151,4 juta jiwa dan 27,4 juta
jiwa berada di Asia Tenggara. Prevalensi osteoartritis di Indonesia sampai saat ini belum
ada laporan yang jelas. Namun Handono dan Kusworini pada tahun 2000, melaporkan
bahwa prevalensi osteoartritis di Malang pada usia dibawah 70 tahun cukup tinggi, yaitu
21,7% menyerang pada usia antara 49-60 tahun, yang terdiri dari 6,2% laki-laki dan
15,5% perempuan (Tanna, 2004).
Gaya hidup yang sehat merupakan kunci utama kepada kesejahteraan manusia.
Gaya hidup sehat didefinisikan sebagai suatu keadaan fizik, pikiran dan sosial yang
sehat, cerdas serta bebas dari setiap penyakit berlandaskan keadaan sosial dan
masyarakat. Definisi ini menegaskan bahwa status gaya hidup yang sehat ditunjang oleh
faktor fizik, mental dan sosial yang sehat, berfungsi, cerdas serta tidak diancam oleh
2

penyakit yang dapat merugikan manusia (WHO, 1948). Gaya hidup yang kurang sehat
seperti kurang berolah raga, merokok, pekerjaan ynag tidak agronomic dan pola makan
yang kurang baik menjadi faktor utama terjadinya osteoartiritis (Horton, 2011).
Dari penelitian tersebut di atas, Maka, peneliti ingin melakukan peneltian di
RSUD Dr. Pirngadi Medan, pada pasien rawat jalan di Poliklinik Rheumatology untuk
mengetahui gambaran gaya hidup pada penderita osteoarthritis pada tahun 2014.

1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran gaya hidup pada penderita osteoarthritis yang merawat
jalan di Poliklinik Rheumatology, RSUD Dr. Pringadi Medan pada tahun 2014.

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran gaya hidup pada osteoarthritis yang merawat jalan di
Poliklinik Rheumatology, RSUD Dr. Pringadi Medan pada tahun 2014.
1.3.2. Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pola pekerjaan pada penderita osteoarthritis.
2. Untuk mengetahui kebiasaan merokok dan pola makanan pada penderita
osteoarthritis.
3. Untuk mengetahui pola olahraga yang dilakukan oleh penderita osteoarthritis.

1.4. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:
1. Bagi para dokter dapat digunakan sebagai prediktor yang baik untuk
mendeteksi dini apakah akan terjadinya penyakit osteoartiritis.

3

2. Bagi pemerintah informasi dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
sebagai salah satu acuan data untuk program-program pemerintah serta penelitian-
penelitian berikutnya.
3. Bagi masyarakat dapat meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat
mengenai gaya hidup dan pentingnya pengetahuan tersebut untuk menangani
osteoarthiritis serta pencegahannya.
4. Bagi peneliti muda dapat digunakan sebagai wadah untuk mengembangkan
kemampuan peneliti dalam menulis Karya Tulis Ilmiah serta daya analisa peneliti.
















4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi osteoarthiritis.
Osteoarthiritis merupakan penyakit kegagalan sendi dan keseluruhan struktur dari
sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan
kartilago, hialin dan sendi. (Felson, 2008).
2.2 Epidemiologi osteoarthiritis.
Osteoarthritis(OA) adalah tipe dari arthritis yang disebabkan oleh kerusakan dan
akhirnya kehilangan tulang muda (cartilage) dari satu atau lebih sendi-sendi. Didapati
bahawa 13% dari wanita dan 10% dari pria umur 60thn ke atas mengalami osteoarthritis.
Peningkatan prevalensi osteoarthiritis kerana faktor resiko dari berat badan yang
tinggi(obesitas), dan umur. Wanita menderita persentasi lebih tinggi dibandingkan pria.
Meta analisis menunjukkan bahawa insidensi pria menderita OA pada usia <55thn cepat
dari wanita. Pada wanita menderita OA akut pada usia >55thn kerana mereka akan
mengalami usia menopause. (Heidari, 2011). Studi menunjukkan bahawa usia adalah
salah satu faktor yang menyebabkan OA. Hasil penelitian Framingham menunjukkan
bahawa 27% dari usia antara 63-70 mempunyai bukti radiografi OA dan meningkat
sebanyak 44% pada usia >80thn. (Haq , 2003).
2.3 Etiologi Osteoarthiritis.
Etiologi osteoarthiritis belum diketahui. Terdapat beberapa faktor mempengaruhi
OA iaitu:
1) Usia
Semakin lanjut usia seseorang, pada umumnya semakin besar faktor resiko
terjadinya osteoarthritis lutut. Hal ini disebabkan karena sendi lutut yang digunakan
sebagai penumpu berat badan sering mengalami kompresi atau tekanan dan gesekan,
sehingga dapat menyebabkan kartilago yang melapisi tulang keras pada sendi lutut
tersebut lama-kelamaan akan terkikis dan rentan terjadi degenerasi. (Mahajan, 2005).

5

2) Jenis kelamin
Pada orang tua yang berumur lebih dari 55 tahun, prevalensi terkenanya osteoartritis
pada wanita lebih tinggi dari pria. Usia kurang dari 45 tahun osteoartritis lebih sering
terjadi pada pria dari wanita. (Mahajan, 2005). Pada wanita menderita osteoarthritis akut
pada usia lebih dari 55 tahun kerana mereka akan mengalami usia menopause. (Heidari,
2011).
3) Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis. Adanya mutasi dalam
gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti
kolagen, proteoglikan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada
osteoartritis. (Mahajan, 2005).
5) Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan mekanik pada
sendi penahan beban tubuh, dan lebih sering menyebabkan osteoartritis lutut.
Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang
menanggung beban, tetapi juga dengan osteoartritis sendi lain, diduga terdapat faktor lain
(metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut antara lain penyakit jantung
koroner, diabetes melitus dan hipertensi.
6) Cedera sendi (trauma)
Trauma pada sendi dan kerusakan pada sendi sebelumnya terjadinya trauma,
benturan atau cedera pada sendi lutut juga dapat menyebabkan kerusakan atau kelainan
pada tulang-tulang pembentuk sendi tersebut.
7) Pekerjaan
Pekerjaan dan akifitas yang banyak melibatkan gerakan lutut juga merupakan salah satu
penyebab osteoarthritis pada lutut.
8) Olahraga Berat
Osteoartritis juga behubungan dengan berbagai olahraga yang membebani lutut
dan atau panggul, seperti lari maraton, sepak bola dan sebagainya. (Haq, 2003).
6


2.4 Klasifikasi Osteoarthiritis.
Osteoarthiritis primer (idiopatik) setempat: tangan,pinggul,tulang belakang dan lutut.
1.sendi perifer,
2. sendi pusat,
3. tulang belakang.
Osteoarthiritis sekunder 1.Kelainan bawaan dan perkembangan, tulang displasia.
2) Pasca operasi / cedera - meniscectomy.
3) Endokrin - diabetes mellitus, acromegaly,
hipotiroidisme, hipertiroidisme, hiperparatiroidisme,
sindroma Cushing.
4) Metabolik - hemachromatosis, ochronosis, Marfan
syndrome, sindrom Ehler-Danlos, penyakit Paget,
gout, pseudogout, penyakit Wilson, penyakit Hurler,
Penyakit Gaucher.
5) Rematologi-arthritis.
6)Hematologi - hemoglobinopathies.
7) Iatrogenik - steroid intra-artikular (Mahajan, 2005).


2.5 Patogenesis Osteoarthiritis
Berdasarkan penyebabnya, OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan OA
sekunder. OA primer, atau dapat disebut OA idiopatik, tidak memiliki penyebab yang
pasti ( tidak diketahui ) dan tidak disebabkan oleh penyakit sistemik maupun proses
perubahan lokal pada sendi. OA sekunder, berbeda dengan OA primer, merupakan OA
yang disebabkan oleh inflamasi, kelainan sistem endokrin, metabolik, pertumbuhan,
faktor keturunan (herediter), dan immobilisasi yang terlalu lama. Kasus OA primer lebih
7

sering dijumpai pada praktik sehari-hari dibandingkan dengan OA sekunder. Selama ini
OA sering dipandang sebagai akibat dari proses penuaan dan tidak dapat dihindari.
Namun telah diketahui bahwa OA merupakan gangguan keseimbangan dari metabolisme
kartilago dengan kerusakan struktur yang penyebabnya masih belum jelas diketahui.
Kerusakan tersebut diawali oleh kegagalan mekanisme perlindungan sendi serta diikuti
oleh beberapa mekanisme lain sehingga pada akhirnya menimbulkan cedera.
Mekanisme pertahanan sendi diperankan oleh pelindung sendi yaitu : Kapsula
dan ligamen sendi, otot-otot, saraf sensori aferen dan tulang di dasarnya . Kapsula dan
ligamen-ligamen sendi memberikan batasan pada rentang gerak (Range of motion) sendi
Cairan sendi (sinovial) mengurangi gesekan antar kartilago pada permukaan sendi
sehingga mencegah terjadinya keletihan kartilago akibat gesekan. Protein yang disebut
dengan lubricin merupakan protein pada cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas.
Protein ini akan berhenti disekresikan apabila terjadi cedera dan peradangan pada sendi.
Ligamen, bersama dengan kulit dan tendon, mengandung suatu mekanoreseptor
yang tersebar di sepanjang rentang gerak sendi. Umpan balik yang dikirimkannya
memungkinkan otot dan tendon mampu untuk memberikan tegangan yang cukup pada
titik-titik tertentu ketika sendi bergerak.
Otot-otot dan tendon yang menghubungkan sendi adalah inti dari pelindung
sendi. Kontraksi otot yang terjadi ketika pergerakan sendi memberikan tenaga dan
akselerasi yang cukup pada anggota gerak untuk menyelesaikan tugasnya. Kontraksi otot
tersebut turut meringankan stres yang terjadi pada sendi dengan cara melakukan
deselerasi sebelum terjadi tumbukan (impact). Tumbukan yang diterima akan
didistribusikan ke seluruh permukaan sendi sehingga meringankan dampak yang
diterima. Tulang di balik kartilago memiliki fungsi untuk menyerap goncangan yang
diterima.
Kartilago berfungsi sebagai pelindung sendi. Kartilago dilumasi oleh cairan sendi
sehingga mampu menghilangkan gesekan antar tulang yang terjadi ketika bergerak.
Kekakuan kartilago yang dapat dimampatkan berfungsi sebagai penyerap tumbukan yang
diterima sendi. Perubahan pada sendi sebelum timbulnya OA dapat terlihat pada
kartilago sehingga penting untuk mengetahui lebih lanjut tentang kartilago.
8

Terdapat dua jenis makromolekul utama pada kartilago, yaitu Kolagen tipe dua
dan Aggrekan. Kolagen tipe dua terjalin dengan ketat, membatasi molekul molekul
aggrekan di antara jalinan-jalinan kolagen. Aggrekan adalah molekul proteoglikan yang
berikatan dengan asam hialuronat dan memberikan kepadatan pada kartilago (Felson,
2008). Kondrosit, sel yang terdapat di jaringan avaskular, mensintesis seluruha elemen
yang terdapat pada matriks kartilago.
Kondrosit menghasilkan enzim pemecah matriks, sitokin { Interleukin-1 (IL-1),
Tumor Necrosis Factor (TNF)}, dan faktor pertumbuhan. Umpan balik yang diberikan
enzim tersebut akan merangsang kondrosit untuk melakukan sintesis dan membentuk
molekul-molekul matriks yang baru. Pembentukan dan pemecahan ini dijaga
keseimbangannya oleh sitokin faktor pertumbuhan, dan faktor lingkungan (Felson,
2008). Kondrosit mensintesis metaloproteinase matriks (MPM) untuk memecah kolagen
tipe dua dan aggrekan. MPM memiliki tempat kerja di matriks yang dikelilingi oleh
kondrosit. Namun, pada fase awal OA, aktivitas serta efek dari MPM menyebar hingga
ke bagian permukaan (superficial) dari kartilago.
Stimulasi dari sitokin terhadap cedera matriks adalah menstimulasi pergantian
matriks, namun stimulaso IL-1 yang berlebih malah memicu proses degradasi matriks.
TNF menginduksi kondrosit untuk mensintesis prostaglandin (PG), oksida nitrit (NO),
dan protein lainnya yang memiliki efek terhadap sintesis dan degradasi matriks. TNF
yang berlebihan mempercepat proses pembentukan tersebut. NO yang dihasilkan akan
menghambat sintesis aggrekan dan meningkatkan proses pemecahan protein pada
jaringan. Hal ini berlangsung pada proses awal timbulnya OA.
Kartilago memiliki metabolisme yang lamban, dengan pergantian matriks yang
lambat dan keseimbangan yang teratur antara sintesis dengan degradasi. Namun, pada
fase awal perkembangan OA kartilago sendi memiliki metabolisme yang sangat aktif.
Pada proses timbulnya OA, kondrosit yang terstimulasi akan melepaskan
aggrekan dan kolagen tipe dua yang tidak adekuat ke kartilago dan cairan sendi.
Aggrekan pada kartilago akan sering habis serta jalinan-jalinan kolagen akan mudah
mengendur.
Kegagalan dari mekanisme pertahanan oleh komponen pertahanan sendi akan
meningkatkan kemungkinan timbulnya OA pada sendi (Felson, 2008).
9







Gambaran osteoartritis

2.6 Diagnosis Osteoartirits.
Diagnosa OA ditegakkan dari pemeriksaan klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan gerak,
dan gambaran radiologi.
Untuk diagnosa OA sendi lutut digunakan kriteria dan klasifikasi dari American Collage
of Reumatology (ACR) dengan langkah sebagai berikut :
Klinik dan Laboratorik
Nyeri lutut + 5 sampai 9
kriteria berikut:
Klinik dan Radiografik
Nyeri lutut + minimal 1
dari 3 kriteria berikut :
Klinik
Nyeri lutut + minimal 3 dari
6 kriteria berikut :
1. Umur > 45 tahun
2. Krepitasi
3. Nyeri tekan
4. Pembesaran tulang
5. Sedikit hangat saat
palpasi
6. LED < 40mm/jam
7. Analisi cairan sendi
normal
8. Kaku pagi hari < 30
menit
1. Umur > 45 tahun
2. Kaku pagi hari <
30 menit
3. Krepitasi + osteofit
1. Umur > 45 tahun
2. Kaku pagi hari < 30
menit
3. Krepitasi
4. Nyeri tekan
5. Pembesaran tulang
6. Sedikit hangat saat
palpasi

10


2.7 Tanda dan Gejala Klinis.
Gejala klinis osteoartritis bervariasi, bergantung pada sendi yang terkena, lama
dan intensitas penyakitnya, serta respon penderita terhadap penyakit yang dideritanya.
Pada umumnya pasien osteoartritis mengatakan bahwa keluhan-keluhannya sudah
berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahan-lahan.
Secara klinis, osteoartritis dapat dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu :
1. Subklinis
Pada tingkatan ini belum ada keluhan atau tanda klinis lainnya. Kelainan baru
terbatas pada tingkat seluler dan biokimiawi sendi.
2. Manifest
Pada tingkat ini biasanya penderita datang ke dokter. Kerusakan rawan sendi
bertambah luas disertai reaksi peradangan.
3. Dekompensasi
Rawan sendi telah rusak sama sekali, mungkin terjadi deformitas dan kontrak.
Keluhan-keluhan umum yang sering dirasakan penderita osteoarthiritis adalah sebagai
berikut:
1. Nyeri Sendi
Keluhan nyeri merupakan keluhan utama yang seringkali membawa penderita ke
dokter, walaupun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya. Biasanya
nyeri sendi bertambah oleh gerakan, dan sedikit berkurang bila istirahat. Pada
gerakan tertentu (lutut digerakkan ke medial) menimbulkan rasa nyeri yang lebih
dibandingkan gerakan yang lainnya. Nyeri pada osteoartritis dapat juga berupa
penjalaran (refered pain), misal pada osteoartritis lumbal, yang menimbulkan
keluhan nyeri pada betis (claudicatio intermitten). Korelasi antara nyeri dan tingkat
perubahan struktur pada osteoartritis sering ditemukan pada panggul, lutut.

11


2. Kekakuan
Pada beberapa penderita, kaku sendi dapat timbul setelah inmobilitas, seperti duduk
lama di kursi, di mobil, bhakan setelah bangun tidur. Kebanyakan penderita
mengeluh kaku karena inaktivitas, kekakuan biasanya kurang dari 30 menit.
3. Hambatan Gerakan Sendi
Kelainan ini ditemukan pada osteoartritis sedang sampai berat. Hambatan gerak ini
disebabkan oleh nyeri, inflamasi, fleksi kontraktur kelainan sendi, atau deformitas.
Hambatan gerak sendi biasanya dirasakan pada saat berdiri dari kursi, bangun dari
tempat periksa, menulis, atau berjalan. Semua gangguan aktivitas tergantung pada
lokasi dan beratnya kelainan sendi yang terkena.
4. Krepitasi
Penderita mengatakan sendinya berbunyi kalau digerakkan. Krepitasi pada sendi
yang degeneratif lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat pada artritis
rheumatoid yang krepitasinya lebih halus.

5. Pembengkakan Sendi
Sendi membengkak / membesar bisa disebabkan oleh efusi sinovitis atau kombinasi
dari kelainan-kelainan ini. Sangat jarang merasa panas dan merah sendi
(Felson, 2008).
2.8 Penatalaksanaan osteoartritis
2.8.1 Terapi Non Farmakologis
Terapi ini meliputi :
a. Konseling, Informasi dan Edukasi Pasien
Pemberian informasi dan edukasi pasien diperlukan agar pasien mengerti tentang
kondisi penyakit yang dihadapi dan dapat melakukan perubahan gaya hidup kearah
yang positif.

12


b. Latihan Kekuatan dan Senam Aerobik
Latihan bermanfaat untuk menguatkan otot sekitar sendi yang akhirnya akan
membantu pengurangan berat badan. Berenang, jalan kaki, bersepeda stasioner atau
latihan beban ringan sangat dianjurkan karena terbukti mampu mengurangi rasa
nyeri dan memperbaiki kekakuan sendi.
c. Penurunan Berat Badan
Berkurangnya berat badan mengurangi beban yang disangga oleh sendi sehingga
mengurangi nyeri sendi dan memperbaiki fungsi sendi.
d. Penggunaan Alat Bantu
Alat bantu seperti sepatu penyerap goncangan, tongkat dll dipertimbangkan sebagai
tambahan terapi untuk mengurangi rasa nyeri saat beraktivitas.

2.8.2 Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis Penanganan terapi farmakologi melingkupi penurunan rasa nyeri
yang timbul, mengoreksi gangguan yang timbul dan mengidentifikasi manifestasi-
manifestasi klinis dari ketidakstabilan sendi ( Felson, 2008 ).
a. Obat Antiinflamasi Nonsteroid ( AINS ), Inhibitor Siklooksigenase-2 (COX-2), dan
Asetaminofen Untuk mengobati rasa nyeri yang timbul pada OA lutut, penggunaan
obat AINS dan Inhibitor COX-2 dinilai lebih efektif daripada penggunaan
asetaminofen. Namun karena risiko toksisitas obat AINS lebih tinggi daripada
asetaminofen, asetaminofen tetap menjadi obat pilihan pertama dalam penanganan
rasa nyeri pada OA. Cara lain untuk mengurangi dampak toksisitas dari obat AINS
adalah dengan cara mengombinasikannnya dengan menggunakan inhibitor COX-2 (
Felson, 2008 ).
b. Chondroprotective Agent adalah obat obatan yang dapat menjaga atau merangsang
perbaikan dari kartilago pada pasien OA. Obat obatan yang termasuk dalam
13

kelompok obat ini adalah : tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin sulfat,
glikosaminoglikan, vitamin C, dan sebagainya ( Felson, 2008 ).

2.3 Gaya Hidup Dan Osteoarthiritis.
2.3.1 Gaya hidup
Gaya hidup yang sehat merupakan kunci utama kepada kesejahteraan manusia.
Manusia yang sehat pastinya dapat memainkan peranan aktif terhadap pembangunan
agama, bangsa dan negara. Gaya hidup sehat didefinisikan sebagai suatu keadaan fizik,
pikiran dan sosial yang sehat, cerdas serta bebas dari setiap penyakit berlandaskan
keadaan sosial dan masyarakat. Definisi ini menegaskan bahwa status gaya hidup yang
sehat ditunjang oleh faktor fizik, mental dan sosial yang sehat, berfungsi, cerdas serta
tidak diancam oleh penyakit yang dapat merugikan manusia. (WHO, 1948)
2.3.1.1 Pekerjaan.
Pekerjaan adalah sekelompok posisi (posisi) yang memiliki persamaan kewajiban
atau tugas-tugas pokoknya. Dalam kegiatan analisis jabatan, satu pekeIjaan dapat
diduduki oleh satu orang, atau beberapa orang yang tersebar di berbagai tempat.
(Pujangkoro, 2004)
Penelitian Haq mendapatkan bahwa pekerja yang banyak membebani sendi lutut
akan mempunyai risiko terserang osteoartritis lebih besar disbanding yang tidak banyak
membebani lutut. Pekerjaan dan akifitas yang banyak melibatkan gerakan lutut juga
merupakan salah satu penyebab osteoarthritis pada lutut. (Haq, 2003).
2.3.1.2 Berolah raga.
Definisi olahraga menurut Wann (1997) adalah aktivitas fisik yang melibatkan
power (tenaga) dan skill (keterampilan) dan suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana
dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk
meningkatkan kebugaran jasmani
Osteoartritis juga behubungan dengan berbagai olah raga yang membebani lutut
dan atau panggul, seperti lari maraton, sepak bola dan sebagainya. (Haq, 2003).

14

2.3.1.3 Pola makan.
Menurut (Hardani 2002) pola makan (dietary pattern) adalah cara yang ditempuh
seseorang atau sekelompok untuk memilih makanan dan mengkonsumsinya sebagai
reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan social.
Pola makanan yang teratur dapat mengurangi resiko OA. Pasien OA dapat
mengurangi berat badan dengan pola makanan yang teratur seperti vitamin, folacin,
vitamin B6, zinc, pantothenic acid. (Sanghi, 2009)
2.3.1.4 Merokok.
Rokok adalah salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya
bagi kesehatan individu dan masyarakat. Kemudian ada juga yang menyebutkan bahwa
rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bahan lainya yang
dihasilkan dari tanamam Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya atau
sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan.
Merokok merupakan overt behavior dimana perokok menghisap gulungan tembakau.
(WHO, 2004)
Hasil penelitian Eustice, 2008 menunjukkan bahawa telah dilaporkan pengaruh
pelindung pada Osteoarthiritis lutut. Hasil studi menunjukkan bahwa perokok lebih dari
dua kali untuk memiliki kehilangan tulang rawan yang signifikan dibandingkan dengan
tidak perokok.








15


BAB 3
KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL


3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, maka kerangka konsep
pada penelitian ini adalah:







3.2. Definisi Operasional dan Variable
Osteoartritis (OA) adalah suatu kelainan sendi kronis (jangka lama) dimana terjadi
proses pelemahan dan disintegrasi dari tulang rawan sendi yang disertai dengan
pertumbuhan tulang dan tulang rawan baru pada sendi. Kelainan ini merupakan suatu
proses degeneratif pada sendi yang dapat mengenai satu atau lebih sendi. Pada penelitian
ini, dilakukan survey pada penderita rawat jalan di Poliklinik Rheumatologi yang telah
didiagnosa dengan penyakit Osteoarthritis yang telah tegakkan menggunakan kriteria
American Collage of Reumatology (ACR).
Gaya hidup.
Gaya hidup sehat didefinisikan sebagai suatu keadaan fizik, pikiran dan sosial
yang sehat, cerdas serta bebas dari setiap penyakit berlandaskan keadaan sosial dan
masyarakat. (WHO, 1948). Pada penelitian ini, pasien rawat jalan di Poliklinik
Gaya Hidup
-Pekerjaan
-Merokok
-Berolah raga
-Pola makan
Osteoarthiritis
16

Rheumatologi dilakukan survey untuk mengetahui pola pekerjaan, pola merokok, pola
olahraga dan pola makanannya yang menjadi predileksi osteoartiritis.
Pekerjaan.
Pekerjaan adalah sekelompok posisi (posisi) yang memiliki persamaan kewajiban
atau tugas-tugas pokoknya. Pada penelitian ini, pasien rawat jalan di Poliklinik
Rheumatologi dilakukan survey untuk mengetahui bidang dan rawat pekerjaan.
Berolah raga.
Definisi olahraga menurut Wann (1997) adalah aktivitas fisik yang melibatkan
power (tenaga) dan skill (keterampilan) dan suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana
dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk
meningkatkan kebugaran jasmani. Pada penelitian ini, pasien rawat jalan di Poliklinik
Rheumatologi dilakukan survey untuk mengetahui jenis, intensitas dan pola olahraga.
Pola makan.
Menurut (Hardani 2002) pola makan (dietary pattern) adalah cara yang ditempuh
seseorang atau sekelompok untuk memilih makanan dan mengkonsumsinya sebagai
reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial. Pada penelitian ini,
pasien rawat jalan di Poliklinik Rheumatologi dilakukan survey untuk mengetahui pola
makannya.
Merokok.
Merokok adalah satu tabiat yang digemari sebahagian manusia pada zaman serba
moden ini.Rokok adalah salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan
bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat.(WHO 2004). Pada penelitian ini, pasien
rawat jalan di Poliklinik Rheumatologi dilakukan survey untuk mengetahui riwayat
merokok.
3.3. Cara Pengukuran
Pengukuran dilakukan dengan metode wawancara


17

3.4. Alat Ukur
Alat Ukur yang digunakan adalah kuesioner, pertanyaan yang diajukan sebanyak 18
pertanyaan.
Jawaban yang benar diberi skor 1
Jawaban yang salah diberi skor 0
3.5. Kategori
pengetahuan responden :
1. Pengetahuan baik bila nilai yang diperoleh 18-24
2. Pengetahuan sedang bila nilai yang diperoleh 10-17
3. Pengetahuan kurang baik bila nilai yang diperoleh 0-9
Pengetahuan responden secara keseluruhan :
1. Pengetahuan baik apabila terdapat > 75% dari total responden
2. Pengetahuan sedang apabila terdapat 40-75% dari total responden
3. Pengetahuan kurang apabila terdapat < 40% dari total responden
(Pratomo, 1990)
3.6. Skala Pengukuran
Gambaran gaya hidup yang dinyatakan dalam skala ordinal









18

BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1.Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yang bersifat
deskriptif dengan desain cross sectional study dimana tiap subjek hanya diobservasi satu
kali, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran gaya hidup pada penderita
Osteoartritis rawat jalan di Poliklinik Rheumatologi, RSUD Dr. Pringadi, Medan pada
tahun 2014.
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian
4.2.1. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dari bulan Agustus - November 2014 atau sampai jumlah
sampel terpenuhi.
4.2.2. Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah Poliklinik Rheumatologi, RSUD Dr. Pirngadi, Medan.
Tempat penelitian ini dipilih karena RSUD Dr. Pirngadi, Medan adalah Rumah Sakit tipe
A dan merupakan tempat rujukan dari berbagai sarana pelayanan kesehatan khususnya di
provinsi Sumatera Utara.
4.3. Populasi dan Sampel
4.3.1. Populasi
Populasi yang menjadi sasaran pada penelitian ini adalah pasien penyakit
Osteoarthiritis yang kontrol di Poliklinik Rheumatologi, RSUD Dr. Pirngadi, Medan.


19

4.3.2. Sampel
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling
yaitu setiap sampel yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian
sampai kurun waktu tertentu hingga jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi. Adapun
kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini adalah :
Kriteria inklusi
1. Penderita Osteoarthiritis yang kontrol di Poliklinik Rheumatologi,
RSUD Dr. Pirngadi Medan.
2. Bersedia menjadi sampel penelitian dengan menandatangani lembar
persetujuan setelah penjelasan
Kriteria eksklusi
1.Keluarga yang mendampingi responden tidak menyetujui responden
menjadi subjek penelitian
2.Pasien yang menjalani rawat inap
Perkiraan besar sampel minimal dalam penelitian ini dihitung berdasarkan rumus besar
sampel penelitian deskriptif kategorik, yaitu sebagai berikut :

N = ZPQ
d

Dimana:
N = jumlah sampel minimal
Z = peneliti menetapkan sebesar 5% sehingga nilai Z=1,96
P = Prevalensi ditetapkan sebesar 0,5
Q = (1P) = (1-0,5) = 0,5
d = ketepatan absolut yang di kehendaki (ditentukan peneliti) = 10% = 0,1

N = ZPQ
d



20

N = (1,96) (0.5) (0.5)
(0.1)

N = 97 (digenapkan menjadi 100)

4.4.Teknik Pengumpulan Data
4.4.1Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data
yang didapat langsung dari responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara
langsung dengan kuesioner kepada sampel penelitian. Responden diminta mengisi
kuesioner mengenai gaya hidup mereka. Bagi responden yang tidak bisa membaca atau
tidak memahami, peneliti akan membacakan pertanyaan dalam kuesioner yang kemudian
dijawab secara lisan oleh responden.
4.4.2. Alat Pengumpulan Data
Instrumen penelitian ini berupa kuesioner sebagai alat bantu dalam pengumpulan
data yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tertutup dan terbuka untuk mengumpulkan
data mengenai gambaran gaya hidup penderita osteoarthiritis yang kontrol di Poliklinik
Rheumatologi, RSUD Dr. Pirngadi Medan
4.4.3. Teknik Skoring dan Skala
Dalam penelitian ini, kuesioner yang digunakan adalah kuesioner untuk mengetahui
tingkat pengetahuan pasien penyakit jantung koroner tentang penyakit yang dideritanya.
Kuesioner berisi 18 pertanyaan, yang terdiri dari 18 pertanyaan tertutup.




21

Penentuan Nilai dari Kuesioner Pengetahuan:

Berdasarkan skala pengukuran di atas, maka kategori pengetahuan pasien dapat dilihat
pada tabel berikut ini :

4.4.4. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas untuk kuesioner yang digunakan sebagai instrumen pengumpulan
data, telah dijalankan di lokasi yang berlainan dengan lokasi penelitian. Sampel terdiri
dari 20 orang yang mempunyai karekteristik yang sama dengan responden yaitu pasien
penyakit Osteoarthritis yang merawat jalan di RSU Haji Adam Malik. Tujuan dari uji
validitas ini adalah untuk mengetahui kesesuaian dan ketepatan bahasa khususnya
perkataan dan struktur kata dalam kuesioner agar dapat dipahami oleh reponden.
pertanyaan No. 1 s.d. 18 :
Jawaban benar bernilai 1
Jawaban salah bernilai 0
Kategori dari Kuesioner Pengetahuan
Tingkat Pengetahuan Nilai
Baik >75% dari nilai tertinggi
Sedang 40-74% dari nilai tertinggi
Kurang baik <40% dari nilai tertinggi
22

Uji reliabilitas telah dilakukan untuk melihat indeks yang menunjukkan sejauh
mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Kuesioner yang
digunakan seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran relatif
konsisten dari waktu ke waktu. Uji reliabilitas dapat dilakukan apabila seluruh butir
pertanyaan dinyatakan telah valid. Kuesioner dikatakan reliabel jika indeks reliabilitas
yang diperoleh paling tidak mencapai 0,60. Dalam penelitian ini kuesioner yang
digunakan mirip dengan kuesioner di journal Faktor-faktor resiko osteoarthiritis yang
telah dilakukan uji realibilitas oleh Maharani, 2007.

4.5.Pengolahan dan Analisis Data
4.5.1 Pengolahan data
a) Editing
Editing adalah pengecekan jumlah kuesioner, kelengkapan data, di antaranya
kelengkapan identitas, lembar kuesioner dan kelengkapan isian kuesioner, sehingga
apabila terdapat ketidaksesuaian dapat dilengkapi segera oleh peneliti.
b) Coding
Coding adalah melakukan pemberian kode berupa angka. Coding bertujuan untuk
mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat entry data.

c) Entry data
Entry adalah memasukkan data yang diperoleh menggunakan fasilitas komputer dengan
mengunakan sistem atau program komputer.

d) Tabulasi
Tabulasi adalah mengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian kemudian
dimasukkan dalam tabel yang sudah di siapkan. Setiap pertanyaan yang sudah diberi
23

nilai, hasilnya di jumlahkan dan diberi kategori sesuai dengan jumlah pertanyaan pada
kuesioner.

e) Cleaning
Cleaning adalah mengecek kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau
tidak. Kesalahan tersebut mungkin terjadi pada saat mengentry data ke komputer.

4.5.2.Analisis data
Setelah dilakukan pengumpulan data, Data yang lengkap dari kuesioner tersebut
dimasukkan ke dalam komputer. Metode pengolahan data pada penelitian ini adalah
dengan menggunakan program SPSS yang dianalisa dan disajikan bentuk tabel distribusi
frekuensi.














24

DAFTAR PUSTAKA

Aigner 2004, Cartilage and Osteoarthiritis- VOL 13:1741-1759

Eustice, 2008. Smoking Worsens Knee Osteoarthritis in Men. Asscessed From: http: //
osteoarthritis. about. Com /od/ Osteoarthritisresearch/a/smoking_and_OA.htm
[Asscessed 2008].

Felson, 2008. Osteoarthritis. Harrisions Principle of Internal Medicine, 17
th
Edition:
2158-2165.

Fransen et al., 2011 The epidemiology of osteoarthritis in Asia. International Journal of
Rheumatic Diseases; 14: 113121.

Haq et al., 2003. Review Osteoarthritis. Postgrad Med J 79: 377383.

Heidari, 2011. Knee osteoarthritis prevalence, risk factors, pathogenesis and features.
Caspian J Intern Med: 2(2): 205212.

Horton, 2011. Major Cause of Osteoarthritis: No Exercise, Sedentary Lifestyle.
Asscessed From : http://voices.yahoo.com/major-cause-osteoarthritis-no-exercise-
sedentary-8399317.html?cat=70. [ Accesed May 5, 2014 ]

Imayati, 2014. Laporan Kasus Osteoartritis. Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.
Karya Tulis ilmiah: Universitas Udayana.

Inawati, 2014. OSTEOARTRITIS. Karya tulis ilmiah: Universitas Wijaya Kusuma,
Surabaya

Mahajan et al., 2005. Osteoarthritis. Japi, VOL. 53: 634 - 641

25

Pujangkoro et al., 2004. Analisis Jabatan (Job Analysis). Karya Tulis Ilmiah: Universitas
Sumatera Utara, Medan

Sanghi et al., 2009. Nutritional Factors and Osteoarthritis. Internet Journal of Medical
Update, Vol.4 , No. 1.

Tanna, 2004. Osteoarthritis Opportunities to address pharmaceutical gaps".
Osteoarthiritis. Vol 6.12:1-25

Wann,1997. Psikologi Olahraga. Karya tulis ilmiah: Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Yogyakarta