Anda di halaman 1dari 6

Yan Andika(1101564/2011)_Geografi

Koreksi Geometrik dengan Menggunakan ENVI 4.x


Oleh :
Yan Andika 1101564_2011

A. Koreksi Geometrik
Koreksi geometrik atau biasa juga disebut transformasi geometrik citra, yang
paling mendasar adalah penempatan kembali nilai-nilai piksel sedemikian rupa,
sehingga hasilnya dapat dilihat Gambaran onyek di permukaan bumi yang
terekam sensor. Perubahan bentuk kerangka liputan dari bujur sangkar menjadi
jajaran genjang merupakan hasil dari transformasi ini.
Ada beberapa cara untuk melakukan koreksi geometrik, yaitu rektifikasi dan
registrasi geometrik, Jensen (1986). Rektifikasi adalah proses dimana citra dibuat
planimetrik berdasarkan rujukan pada peta yang mempunyai proyeksi standar,
cara ini dikenal dengan rektifikasi citra ke peta (image to map rectification). Cara
yang kedua adalah regristrasi geometrik citra, yaitu registrasi citra ke citra (image
to image registration) dengan menggunakan citra lain pada daerah yang sama
yang udah dikoreksi terlebih dahulu.
Koreksi ini mencakup perujukan titik-tititk tertentu pada citra ke titik-titik yang
sama ke medan maupun di peta. Pasangan titik-titik kemudian digunakan untuk
membangun fungsi matematis yang menyatakan hubungan antara posisi
sembarang titik pada citra dengan titik onyek yang sama pada peta maupun
lapangan. Posisi piksel yang dimaksud adalah posisi pusat piksel. Pada koreksi
ini, telah dipertimbankan bahwa perubahan posisi piksel itu juga mencakup
perubahan informasi nilai spektralnya. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan
interpolasi nilai spektral baru selama transformasi geometri, sehinggan dihasilkan
geometri baru dengan nilai baru. Proses interpolasi nilai spektral selama
transformasi geometri disebut resampling. Interpolasi spasial adalah penentuan
hubungan geometrik antara lokasi piksel pada citra masukan dan peta. Pada proses
ini dibutuhkan beberapa titik kontrol medan (Ground Control Point/GCP) yang
dapat diidentifikasi pada citra dan peta. Apabila persamaan transformasi koordinat
diterapkan pada titik-titik kontrol maka diperoleh residual x dan residual y.
Residual adalah penyimpangan posisi titik yang bersangkutan terhadap posisi
yang diperoleh melalui transformasi koordinat yang kemudian dinyatakan sebagai
nilai Residual Means Square Error atau RMS(error).
Yan Andika(1101564/2011)_Geografi

Gambar : Penentuan titik ikat (GCPs) antara peta dan citra
Tingkat keberhasilan dalam tahap ini biasanya ditentukan dengan besarnya
nilai ambang RMS(error) total, atau yang dikenal dengan istilah sigma. Menurut
ketelitian baku peta nasional Amerika Serikat (US National Map Standard), nilai
sigma citra harus lebih kecil daripada setengah resolusi spasial citra yang
bersangkutan (Eastman, 1997, dalam Like Indrawati, 2001), sehingga rata-rata
pergeseran posisi yang dapat diterima dari hasil koreksi ini nantinya adalah 0,5 x
ukuran piksel.
Dalam melakukan transformasi koordinat, terdapat beberapa macam
transfromasi polinomial yang satu dengan yang lain memberikan ketelitian yang
berbeda-beda (Jensen, 1996) yaitu :
Transformasi affine, yaitu memerlukan minimal 4 titik kontrol untuk
mengubah posisi geometrik citra sama dengan posisi geometerik referensi
(peta). Transformasi ini lebih sesuai untuk daerah yang bertopografi relatif
datar atau landai.
Transformasi orde dua, yang dapat dijalankan minimal dengan 6 titik
kontrol (atau 12 parameter), dengan ketelitian yang pada umumnya lebih
akurat dibandingkan dengan transformasi affine.
Transformasi orde tiga, yang dapat dijalankan minimal dengan 10 titik
kontrol (20 parameter), dan lebih tepat untuk daerah dengan variasi
topografi yang besar.
Interpolasi intensitas dilakukan dengan proses resampling. Resampling
merupakan proses penentuan kembali nilai piksel sehubungan dengan koordinat
baru setelah interpolasi spasial. Secara umum terdapat tiga macam teknik untuk
resampling, yaitu :
Interpolasi nearest neighbor, dimana nilai baru untuk piksel dengan posisi
baru diambil dari nilai piksel lama pada posisi lama yang terdekat.
Yan Andika(1101564/2011)_Geografi
Interpolasi bilinear, dimana nilai piksel baru pada posisi baru dihitung
dengan mempertimbangkan 4 nilai piksel lama pada posisi lama yang
terdekat.
Interpolasi cubic-convolution, yang memperhitungkan 16 nilai piksel lama
pada posisi lama terdekat.
B. Langkah Kerja
1. Buka Envi terlebih dahulu. Setelah itu buka file citra yang akan dikoreksi,
pada contoh ini digunakan citra landsat wilayah semarang.
2. Pada bar menu, klik Map > Registration > Select GCPs : Image to Map

3. Maka akan muncul jendela Image to Map Regeistration, tentukan system
koordinat yang akan dipakai/digunakan pada proses registrasi.

4. Setelah memasukkan system koordinat yang akan digunakan, maka akan
muncul jendela GCPs. Dikarenakan kita menggunakan metode Image to
Yan Andika(1101564/2011)_Geografi
Map, maka kita akan menggunakan peta sebagai acuan koordinat, maka
perlu kita membuka file peta yang akan digunakan sebagai acuan
5. Setelah file peta dibuka maka cocokkan kedua daerah yang akan
digunakan sebagai titik acuan.


Citra yang akan dikoreksi Peta yang digunakan sebagai acuan

6. Setelah menemukan lokasi yang sama di peta maupun di citra yang akan
dikoreksi, klik kanan pada peta pilih Pixel Locator. Copy-kan nilai yang
ada pada pixel locator dan pastekan kedalam jendela GCPs., kemudian
klik Add Point. Maka titik acuan berhasil dimasukkan, Lanjutkan
masukkan ke titk acuan secara menyebar di seluruh citra dengan cara yang
sama.

Yan Andika(1101564/2011)_Geografi

Posisi yang sama di citra maupun di peta acuan

Jendela GCPs Pixel Locator

Contoh titik acuan yang telah dimasukkan
Yan Andika(1101564/2011)_Geografi


Citra belum terkoreksi Citra yang telah dikoreksi


Norma Polynomial RST Triangulasi