Anda di halaman 1dari 5

Memperkokoh Persaudaraan dan Membangun Jaringan

Allah swt memberikan bakat yang berbeda-beda dalam diri manusia. Ada olahragawan, ada
petani, ada budayawan, ada agamawan, ada seniman dan lain seterusnya. Semua itu Allah
ciptakan demi keberlangsungan hidup umat manusia, sekaligus menjadi cobaan bagi mereka.
apakah yang diperbuatnya dengan modal bakat yang diberikan oleh Allah swt kepadanya?
.
. . .
. .
.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama berusaha menaikkan derajat ketaqwaan kita dengan memperkokoh
bangunan persaudaraan sesama muslim dan juga menjalin hubungan yang luas dengan umat lain.
Sesungguhnya yang demikian itu sangat diridhai Allah swt.
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu hidup bersama. Tidak seorangpun kuasa hidup
sendiri tanpa ada yang lainnya. Keterbatasan seorang individu baik dalam kuasa maupun karya,
mau tidak mau akan membawanya berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini menjadikan
seseorang sangat tergantung dengan orang lain. Mata rantai ketergantungan ini terus menerus
bersambung tiada putus dan tiada kenal batas agama, ideologi maupun kepercayaan.
Demikianlah seseorang selalu memerlukan orang lain dalam rangka memenuhi keperluan
hidupnya. Sekecil apapun keperluan itu, selalu saja ada tangan orang lain disana. Sekedar conoth
saja, untuk menikmati sepeiring nasi seseorang harus berhubungan dengan penjual beras, kuli
pasar pemikul beras, alat transportasi, petani, penggilingan padi, pupuk, pabrik pupuk, dan
demikikanlah seterusnya.
Demikianlah hikmah Allah swt memberikan bakat yang berbeda-beda dalam diri mausia. Ada
olahragawan, ada petani, ada budayawan, ada agamawan, ada seniman dan lain seterusnya.
Semua itu Allah ciptakan demi keberlangsungan hidup umat manusia, sekaligus menjadi cobaan
bagi mereka. apakah yang diperbuatnya dengan modal bakat yang diberikan oleh Allah swt
kepadanya? demikianlah Allah menerangkan dalam al-Maidah 48

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah
hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat
kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu
apa yang telah kamu perselisihkan itu,
Hadirin Jamaah Jumah yang Mulia
Namun demikian harmonisme yang secara teori sangat dibutuhkan dalam menjaga
keberlangsungan kehidupan umat manusia ini, terkadang susah sekali ditemukan. Ketamakan
dan keserakahan seringkali merusak harmoni kehidupan ini. Bukankah ketamakan para pedagang
Eropa yang dulu melahirkan kolonialisme di bumi Nusantara. Tingginya harga rempah-rempah
(cengkeh, lada,fuli, dll) di Eropa menggiurkan nafsu mereka untuk memonopoli perdagangan di
Nusantara. Dengan memaksa pribumi menjual hasil buminya dengan harga serendah mungkin,
untuk kemudian dijual di Eropa dengan harga yang melangit? Keuntungan yang berilipat ganda
itulah yang memunculkan setan tamak dalam diri mereka sehingga tega merusak harmoni
kehidupan di Nusantara. itulah ketamakan .
Ketamakan dan kerakusan selalu ingin menghapus jasa orang lain dalam kehidupannya. Seolah
dia dapat hidup sendiri tanpa ada orang lain. Entah dengan kekuatan yang dimilikinya maupun
dengan harta bendanya. Sekali lagi manusia sering tidak sadar bahwa antara satu dengan yang
lainnya ibarat mesin arloji yang saling berhubungan. Apabila satu rusak, maka rusaklah
segalanya. Demikianlah adanya kehidupan didunia ini saling berhubungan dengan sangat
eratnya. Tidak hanya dalam kehidupan sosial manusia tetapi juga dalam ekosistem alam dunia.
Bukankah adanya banjir yang disebabkab oleh air, selalu berhubungan dengan gundulnya hutan?
Sejarah selalu mencatat seringnya kegagalan manusia mengelola hubungan antar sesama, hanya
karena ketidak mampuan mereka mengekang nafsu ketamakan dan keserakahan. Dan itulah
drama kehidupan dalam dunia ini yang cerita utamanya selalu muncul dari perbedaan dan
kesenjangan. Oleh karena itulah Allah swt menurunkan kitab-kitabnya dan Rasulnya sebagai
buku petunjuk merajut kebersamaan. Karena pada dasarnya manusia adalah satu kelompok besar
yang saling bertautan. Al-Baqarah 213 telah menegaskan hal ini

...

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para
nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar,
untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.
Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka
Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,
Akan tetapi perbedaan yang diciptakan Allah sebagai sebuah anugrah untuk saling melengkapi
malah sering kali disalah pahami dan disalah gunakan menjadi alat saling bersaing, saling
menindas dan saling unjuk kekuatan. Dan itulah realita kehidupan semenjak generasi Adam
pertama (Qabil dan Habil) hingga hari ini.
Oleh kerena itulah Rasulullah saw selalu menghimbau kepada umatnya agar bersatu-padu dalam
berbagai keadaan. Al-muslimu kaljasadil wahid orang Islam bagaikan satu tubuh utuh yang kalau
terjadi kesakitan salah satu organnya yang lainpun merasa sakit. Kaki terkilir akan menyebabkan
tubuh meriang dan kepala pusing. Itulah ibaratnya sebuah kesatuan yang utuh.
Dalam hdits yang amat terkenal Rasulullah saw bersabda
"

Orang muslim bagaikan satu bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu dan
lainnya.
Bata, batu, semen, pasir, kusen, jendela, pintu, dan seterusnya adalah bagian tak terpisahkan
dalam sebuah bangunan rumah. Itulah tamsil yang diambil Rasulullah saw untuk menunjukkan
kesatuan umat Islam.
Jamaah yang Berbahagia
Demikianlah pentingnya persatuan diantara umat manusia dan bagi komunitas muslim
khususnya. Oleh karena itulah membangun persatuan sesama muslim adalah kewajiban dan
menjalin hubungan dengan umat manusia seluruhnya adalah sebuah kepentingan yang tak
terelakkan. Hanya saja hubungan ini haruslah didasari dengan peraturan-peraturan dan kaedah
syariah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Tentunya berbeda model kerjasama sesama muslim
dengan umat agama lain. Kerjasama boleh saja dijalin dengan umat agama lain asalkan tidak
dalam masalah aqidah dan ubudiyah. Kerjasama harus tertulis dengan perjanjian yang tidak
merugikan kedua belah pihak tentunya. Demikian perintah Allah sebagaimana termaktub dalam
Ali Imran 112


Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada
tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia
Jikalau kebersamaan telah tercipta maka pastilah hamoni kehidupan pun terlaksana.
Harmonisme kehidupan ini merupakan berkah langsung dari Allah swt. sebagaimana yang
dijanjikan oleh Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi

Tangan Allah berada diatas kebersamaan.
Namun sebaliknya, sungguh Allah dengan nyata telah mengancam manusia yang dengan sengaja
meruntuhkan harmonisme kehidupan ini dengan merusak persatuan yang telah terbangun dengan
rapih.


Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah
datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa
yang berat.
Demikianlah khutbah jumah kali ini semoga memberikan inspirasi bagi kita semua untuk
menyadari beberapa hal pertama, kompleksitas kehidupan yang sangat tinggi tidak
memungkinkan manusia hidup sendiri saja ataupun mengandalkan kelompoknya saja. Oleh
karena itu fanatisme tidak dapat lagi diberlakukan di sini. Kedua, pentingnya membangun
persatuan antar umat muslim sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw. ketiga, perlunya
menjalin hubungan dengan umat lain dengan tatacara dan tatatertib sesuai aqidah Islam.

Khutbah II