Anda di halaman 1dari 7

Khutbah Jumat: Amal Jariyah, Amal yang Tidak Terputus

Diposkan oleh Admin BeDa pada Jumat, 30 Maret 2012 |


10.00 WIB


Khutbah Jumat: Amal Jariyah, Amal yang Tidak Terputus Kita kini berada di Jum'at
pertama bulan Jumadil Awal 1433 H, tepatnya tanggal 7 Jumadil Awal.

Khutbah Jum'at edisi 7 Jumadil Awal 1433 H bertepatan 30 Maret 2012 ini, Bersamadakwah
mengambil tema Amal Jariyah, Amal yang Tidak Terputus.

***

KHUTBAH PERTAMA


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya
milik-Nya yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan
diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan
nikmat itu, nikmat yang lain menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat
yang lain menjadi berharga di sisi Allah. Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain
bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana, kehidupan sementara, kehidupan yang sebentar
saja. Jika kita dikaruniai usia yang sama dengan Rasulullah, hidup kita di dunia sekitar 63 tahun
lamanya. Mungkin ada yang lebih lama dari itu, tetapi banyak juga yang kurang dari itu. Betapa
banyak saudara dan teman kita yang meninggal di usia muda; entah didahului oleh sakit maupun
kematian yang tiba-tiba. Melalui kecelakaan atau bencana alam, misalnya. Pendek kata, jika
waktunya telah tiba, kematian tak bisa ditunda.


Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat
mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (QS. An Nahl : 61)

Maka hidup yang sangat singkat ini harus diisi dengan memperbanyak bekal. Selagi kematian
belum datang maka hidup ini harus dipenuhi dengan amal. Dan diantara amal kebaikan yang
dilakukan oleh manusia, ada tiga amal istimewa yang tidak akan terputus pahalanya meskipun
sang pelaku telah berada di alam barzakh. Pahala tiga amal itu akan tetap mengalir kepadanya
meskipun ia tak lagi hidup di dunia.

Apa saja tiga amal jariyah yang tidak terputus itu? Rasulullah SAW bersabda :


Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendoakannya. (HR. Muslim dan Ahmad)

Hadits yang sama, dengan matan sedikit berbeda diriwayatkan juga oleh Tirmidzi, Abu Dawud,
dan An-Nasa'i)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Amal pertama yang tidak terputus meskipun mukmin itu telah meninggal adalah sedekah jariyah.
Yaitu sedekah yang kemanfaatannya terus mengalir. Selama ia bermanfaat, selama itu pula
pahalanya mengalir kepada orang yang bersedekah itu, walaupun ia telah meninggal.

Dalam sebuah atsar yang diriwayatkan dari Anas r.a. disebutkan contoh sedekah jariyah ini;
yakni membangun masjid, membuat saluran air, membuat sumur, menanam pohon, dan
menulis/mencetak mushaf. Selama masjid yang dibangunnya itu ditempati shalat, ia
mendapatkan pahala itu. Selama saluran air yang ia buat dimanfaatkan orang lain entah air
minum ataupun irigasi, ia mendapatkan pahala itu. Selama sumur yang ia buat dimanfaatkan oleh
orang lain, ia pun tetap mendapatkan pahala itu. Selama pohon yang ia tanam, buahnya dimakan
orang lain bahkan binatang atau menjadi tempat berteduh dan penyimpan air, ia mendapatkan
pahalanya. Selama mushaf yang ia cetak atau ia sedekahkan masih dibaca, ia juga mendapatkan
pahalanya. Tentu, lima hal itu adalah contoh dan tidak membatasi sedekah jariyah pada itu saja.
Membangun sekolah, lembaga pendidikan, rumah sakit, jalan, jembatan dan seterusnya selama
manfaatnya masih terus dirasakan, orang yang bersedekah membangunnya terus mendapatkan
pahalanya. Mengalir.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Amal kedua yang tidak terputus meskipun mukmin itu telah meninggal adalah ilmu yang
bermanfaat. Yaitu ilmu yang diajarkan kepada orang lain, lalu orang itu mengalamkan dan
mengajarkannya kepada orang lain, dan demikian seterusnya. Maka sepanjang ilmu itu terus
bergulir, diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan diamalkan, orang yang
mengajarkannya mendapatkan limpahan pahala yang terus mengalir itu.

Orang-orang yang dikaruniai harta lalu mensedekahkannya, termasuk dengan sedekah jariyah,
dan orang yang dikaruniai ilmu lalu menjadikannya ilmu manfaat dengan mengalamkan dan
mengajarkan, kedua tipe orang itulah yang boleh diiri agar kita juga bisa seperti itu.


Tidak boleh hasad (iri) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya
harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu, lalu ia
menunaikan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Amal ketiga yang tidak terputus meskipun mukmin itu telah meninggal adalah anak shalih yang
mendoakan kedua orang tuanya. Anak di sini tidak terbatas anak keturunan pertama, tetapi juga
anak dari anak dan seterusnya. Maka di sinilah pentingnya bagi orang tua untuk mendidik putra-
putrinya menjadi anak-anak yang shalih sehingga mereka mendoakan orang tuanya tatkala orang
tuanya telah meninggal. Demikian pula anak-anak itu nantinya mendidik putra-putrinya untuk
menjadi shalih dan shalihah lalu mendoakan orang tua serta kakek dan neneknya.

Karenanya salah satu doa yang sangat penting untuk kita panjatkan adalah seperti doanya Nabi
Ibrahim:


Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
(QS. Ash Shafat : 100)

Doa ibadurrahman yang tercantum dalam QS. Al furqan ayat 74 secara implisit juga
mengharapkan anak dan keturunan yang mendoakan orang tuanya.


Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al
Furqan : 74)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kesimpulannya adalah, mari kita berusaha untuk memperbanyak sedekah jariyah yakni sedekah
yang kemanfaatannya berjangka panjang bahkan "permanen" tentu saja tanpa mengesampingkan
sedekah lainnya; kita berusaha untuk terus dan terus mencari ilmu (thalabul ilmi) disertai dengan
mengamalkan dan mendakwahkan/mengajarkan ilmu tersebut; kita juga terus berusaha mendidik
putra-putri kita serta mendoakan mereka agar menjadi anak yang shalih dan shalihah yang nanti
secara sadar akan mendoakan kita. Sebab sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak
shalih yang mendoakan kedua orangtuanya itulah tiga investasi utama, yang pahalanya terus
mengalir meskipun kita meninggal dunia.



KHUTBAH KEDUA