Anda di halaman 1dari 27

1

BAGIAN 1
PENDAHULUAN


Skripsi adalah salah satu syarat kelulusan yang ditetapkan di Fakultas Hukum
Universitas Trisakti. Dalam struktur kurikulum yang berlaku, skripsi bukan merupakan
tugas akhir. Persyaratan penyusunan skripsi adalah telah memiliki 120 sks dan lulus
mata kuliah yang terkait dengan pembahasan skripsi minimal B. Dengan demikian dapat
terjadi, seorang mahasiswa yang telah dinyatakan lulus sidang skripsi, namun diminta
untuk mengundurkan diri atau drop out karena telah melampui batas masa studi.

Skripsi merupakan salah satu komponen utama dalam proses pembelajaran
mahasiswa, meskipun bukan sebagai tugas akhir dan hanya salah satu penentu
kelulusan mahasiswa. Pada skripsi ini mahasiswa diharapkan dapat menerapkan
seluruh kemampuan akademik yang dimilikinya. Sebagai suatu karya ilmiah, skripsi
harus disusun melalui kajian yang mendalam dan obyektif dengan menggunakan
metode ilmiah yang sesuai. Selain itu skripsi juga harus ditulis sesuai dengan kaidah
penulisan yang baku dan tentunya merupakan representasi karya ilmiah produk
Fakultas Hukum Universitas Trisakti, sehingga skripsi tersebut memiliki ciri tertentu yang
dengan mudah dikenali jika dibandingkan produk-produk ilmiah dari perguruan tinggi
lainnya.

Untuk memberikan keseragaman bentuk dan penetapan kaidah baku penulisan,
serta memberikan bimbingan mengenai prosedur penulisan skripsi, maka pedoman ini
diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan. Sebagai suatu pedoman, maka buku ini
merupakan ketentuan wajib yang harus diikuti oleh para mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Trisakti yang sedang menyusun skripsi. Namun perlu diperhatikan pula,
bahwa pedoman ini hanya terbatas pada format penulisan. Sedangkan penggunaan
metode penelitian adalah sangat tergantung pada sifat, obyek, dan subyeknya, sehingga
akan sangat bervariasi. Dengan demikian pada pedoman ini tidak ditentukan
penggunaan metode yang baku. Contoh-contoh penerapan metode penelitian yang
dikemukakan pada bagian lampiran tentang abstrak, hanya merupakan contoh yang
tidak mengikat. Dalam hal ini sangat dimungkinkan bagi penyusun skripsi untuk
menggunakan metode lain yang sesuai dengan obyek kajiannya.


2
BAGIAN 2
KETENTUAN PENYUSUNAN SKRIPSI


A. Pengertian
1. Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang disusun oleh seorang mahasiswa untuk
memenuhi salah satu syarat kelulusan untuk menyelesaikan Program Studi
Sarjana (S1).
2. Bimbingan Skripsi merupakan proses pengarahan dosen kepada seorang
mahasiswa dalam menyusun skripsi.
3. Pembimbing Skripsi adalah dosen yang diberi tugas oleh Dekan untuk
memberikan bimbingan skripsi.
4. Pembimbing Skripsi dapat terdiri dari :
a. Pembimbing Utama
b. Asisten Pembimbing
5. Pembimbing
a. Pembimbing mempunyai jabatan akademik sesuai Surat Keputusan Rektor
Nomor 316/USAKTI/SKR/X/2004 tentang Pedoman Usulan Pengangkatan
dan Kenaikan Jabatan Fungsional serta Kenaikan Pangkat Dosen
Universitas Trisakti, yaitu memiliki jabatan akademik paling rendah Asisten
Ahli bagi yang berpendidikan Magister (S2) atau Doktor (S3), dan Lektor bagi
yang berpendidikan S1.
b. Mengasuh mata kuliah yang relevan atau sesuai dengan judul/materi skripsi,
sekurang-kurangnya 2 (dua) semester, atau sesuai dengan latar belakang
pendidikan formal S2/S3.
6. Asisten Pembimbing
a. Apabila diperlukan, Ketua Bagian dapat menunjuk seorang Asisten
Pembimbing atas usulan Pembimbing Utama dalam hal:
1) Pembimbing Utama adalah seorang Guru Besar;
2) Pembimbing Utama berhalangan untuk sementara waktu; atau
3) Isi/materi skripsi mencakup 2 (dua) materi hukum yang berbeda.
b. Syarat Asisten Pembimbing adalah telah mengasuh mata kuliah yang
berkaitan dengan materi skripsi minimal 2 semester.

B. Persyaratan Penyusunan Skripsi
Seorang mahasiswa dapat menyusun skripsi, apabila telah memenuhi persyaratan :
1. Akademik
a. Telah memiliki sekurang-kurangnya 120 sks (lulus dengan nilai minimal C)
dan IPK minimal 2.00.
b. Telah lulus mata kuliah Metode Penulisan Karya Ilmu Hukum minimal C.
c. Lulus mata kuliah yang berkaitan langsung dengan materi/topik skripsi
minimal B.

2. Administrasi Keuangan
a. Tidak mempunyai tunggakan dan telah membayar uang heregistrasi, BPP
Pokok, BPP Tambahan untuk semester berjalan, Dana Kegiatan Mahasiswa
(DKM), serta Dana Kesehatan Mahasiswa dan Karyawan (DKMK).
b. Telah membayar biaya Bimbingan Penyusunan Skripsi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

3
C. Prosedur Pengajuan Penyusunan Skripsi
1. Administrasi Keuangan
a. Mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam huruf B angka 1, dapat mengambil slip pembayaran penyusunan
skripsi di Sub Bagian Administrasi Umum dan Keuangan, dengan
melampirkan KRS manual yang telah diisi mata kuliah Skripsi dan disetujui
oleh Dosen Wali.
b. Mahasiswa melakukan pembayaran di Bank dan melaporkan Slip
pembayaran ke Sub Bagian Administrasi Umum dan Keuangan untuk
diberikan paraf oleh Sub Bagian Administrasi Umum dan Keuangan.


2. Pengajuan judul sementara dan proposal
a. Mahasiswa menghubungi Koordinator Program Kekhususan (KPK) untuk
berkonsultasi mengenai Judul dan prasyarat mata kuliah yang terkait,
kemudian mengisi Surat Permohonan Judul Skripsi (Formulir 1), dengan
melampirkan proposal skripsi dan transkrip nilai sementara. Sistematika
penulisan proposal skripsi terdiri dari: nama, NIM, program kekhususan, judul
sementara, latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, metode
penelitian, kerangka konsepsional/teori/tinjauan pustaka, sistematika
penulisan dan daftar pustaka. Contoh proposal skripsi terdapat dalam
lampiran IV. b.
b. Setelah disetujui oleh Koordinator Program Kekhususan, mahasiswa mengisi
Judul Sementara di academic on-line Fakultas Hukum.
c. Tujuh hari kerja setelah persetujuan judul skripsi, mahasiswa mengambil
Surat Penugasan Pembimbing Skripsi di Sekretaris Bagian untuk kemudian
diserahkan kepada dosen pembimbing.

D. Prosedur Bimbingan Skripsi
1. Proses bimbingan dimulai setelah penunjukan pembimbing skripsi disetujui oleh
Dekan.
2. Penyusunan skripsi harus sesuai dengan Buku Pedoman Penyusunan Skripsi
yang berlaku di Fakultas Hukum Universitas Trisakti.
3. Bimbingan dilaksanakan dalam bentuk tatap muka paling sedikit 12 (dua belas
kali) dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan.
4. Setiap proses bimbingan dicatat dalam buku bimbingan skripsi yang
ditandatangani oleh Pembimbing.
5. Jika dalam jangka waktu 6 (enam) bulan mahasiswa belum dapat menyelesaikan
skripsinya, maka harus dilakukan perpanjangan masa bimbingan skripsi (lihat
ketentuan perpanjangan waktu penyusunan skripsi).
6. Penunjukan pembimbing dinyatakan batal jika dalam jangka waktu 2 (dua) bulan
setelah ditandatanganinya Surat Penunjukan Pembimbing Skripsi mahasiswa
tidak melakukan konsultasi dengan Pembimbing.
7. Terhadap Surat Penunjukan Pembimbing yang dinyatakan batal, harus dilakukan
proses pengajuan judul baru.
8. Proses bimbingan dinyatakan selesai dengan ditandatanganinya skripsi oleh
Pembimbing pada lembar persetujuan skripsi.





4

E. Perpanjangan Waktu Penyusunan Skripsi

1. Persyaratan :
Mahasiswa yang belum menyelesaikan skripsi dalam batas waktu yang telah
ditentukan yaitu 6 (enam) bulan sejak tanggal penunjukan bimbingan oleh
Dekan, dapat memperpanjang waktu penyusunan skripsi dengan persyaratan:
a. Telah menyelesaikan 3 (tiga) bab dan mendapat persetujuan Dosen
Pembimbing.
b. Telah melaksanakan minimal 6 (enam) kali bimbingan (dibuktikan dengan
bukti bimbingan skripsi).
c. Menyelesaikan administrasi keuangan untuk membayar biaya perpanjangan
penyusunan skripsi.

2. Prosedur :
Perpanjangan waktu penyusunan skripsi diberikan kepada mahasiswa yang
telah memenuhi persyaratan di atas dan telah mendapat persetujuan
Pembimbing.
a. Mahasiswa mengambil slip pembayaran perpanjangan waktu penyusunan
skripsi di Sub Bagian Administrasi Umum dan Keuangan, dengan
menunjukkan bukti persetujuan perpanjangan skripsi.
b. Mahasiswa melakukan pembayaran ke Bank dan melaporkan bukti
pembayaran tersebut ke Sub Bagian Administrasi Umum dan Keuangan
untuk diparaf oleh Staf Sub Bagian Administrasi Umum dan Keuangan.
c. Mahasiswa menghubungi Sekretaris Bagian untuk mengambil Surat
Permohonan Perpanjangan Waktu Penyusunan Skripsi (Formulir 6).
d. Mahasiswa menghubungi Pembimbing dengan membawa Surat Permohonan
Perpanjangan Waktu Penyusunan Skripsi untuk meminta persetujuan
perpanjangan waktu penyusunan skripsi dan melampirkan Bab 1 sampai
dengan Bab 3 dari skripsi yang telah disusun.
e. Surat Permohonan Perpanjangan Waktu Penyusunan Skripsi yang telah
ditanda tangani oleh Pembimbing dikembalikan ke Sekretaris Bagian berikut
Bukti Bimbingan.
f. Mahasiswa dapat mengambil surat Persetujuan Perpanjangan Skripsi
(Formulir 7) pada Sekretaris Bagian dalam waktu 3 (tiga) hari setelah
penyerahan Permohonan Perpanjangan Waktu Penyusunan Skripsi.
g. Waktu perpanjangan penyusunan skripsi adalah 6 (enam) bulan sejak
perpanjangan masa penyusunan skripsi disetujui.
h. Jika dalam jangka waktu tersebut mahasiswa belum menyelesaikan skripsi,
wajib mengajukan judul baru.
i. Apabila mahasiswa tidak melakukan konsultasi dengan Pembimbing selama
2 (dua) bulan sejak tanggal Surat Permohonan Perpanjangan Waktu
Penyusunan Skripsi disetujui dan Pembimbing telah melaporkannya pada
Ketua Bagian maka Skripsi tersebut dinyatakan batal dan mahasiswa
tersebut wajib mengajukan proses skripsi dari awal.


F. Perubahan Judul dan/atau Materi Skripsi
Mahasiswa yang akan mengadakan perubahan Judul dan/atau Materi Skripsi harus
mengikuti prosedur sebagai berikut:

5
1. Apabila ada perubahan pada materi skripsi, mahasiswa harus mengikuti proses
awal penyusunan skripsi.
2. Mahasiswa menghubungi Koordinator Program Kekhususan untuk mengajukan
Surat Permohonan Perubahan Judul/Materi Skripsi.
3. Apabila perubahan pada Judul pada masa bimbingan, maka mahasiswa
memohon persetujuan Pembimbing pada Surat Permohonan Perubahan
Judul/Materi Skripsi
4. Mahasiswa menyerahkan Surat Permohonan Perubahan Judul/Materi Skripsi
yang telah ditanda tangani Dosen Pembimbing kepada Koordinator Program
Kekhususan dan tembusan kepada Sekretaris Bagian.
5. Bagi mahasiswa yang melakukan perubahan Judul tanpa persetujuan
Koordinator Program Kekhususan, maka skripsi tersebut dinyatakan batal dan
mahasiswa tersebut wajib mengikuti proses penyusunan skripsi dari awal.







































6
BAGIAN 3
KERANGKA DAN FORMAT


A. BAGIAN AWAL

1. SAMPUL
Sampul skripsi berisi: Judul, Tujuan Penulisan, Nama Mahasiswa, Nomor Induk
Mahasiswa, Program Kekhususan, Logo Universitas Trisakti, Nama Fakultas,
dan tahun selesai disusunnya skripsi.

Soft cover
Sampul skripsi yang akan diajukan untuk disidangkan dibuat dalam bentuk soft
cover dengan jenis kertas Buffalo warna merah tua, dan dibuat rangkap 3 (tiga).

Judul skripsi : Jenis huruf besar Arial ukuran 14 warna hitam
Jika lebih dari dua baris dibuat menurut piramida terbalik
Kata Skripsi : Jenis huruf Arial ukuran 12 warna hitam
Tujuan penulisan : Ditulis dengan kalimat sebagai berikut:
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan
Untuk Menyelesaikan Program Studi Strata Satu
dalam Ilmu Hukum
Jenis huruf Arial ukuran 12 warna hitam
Kata Oleh : Jenis huruf Arial ukuran 12 warna hitam
Identitas penulis : Nama, NIM, PK
Jenis huruf Arial ukuran 12 warna hitam
Logo Universitas
Trisakti
: Ukuran 4 cm diagonal warna hitam
Tempat dan tahun
penyusunan
: Jenis huruf Arial ukuran 14 warna hitam

Hard cover
Sampul skripsi yang telah disetujui oleh Tim Penguji dibuat dalam bentuk hard
cover dengan jenis kertas Sakura warna merah tua dan dilapisi plastik.
Spesifikasi sampul sama dengan sampul soft cover, hanya seluruhnya ditulis
dalam huruf warna emas, termasuk Logo Universitas Trisakti juga dibuat
dengan warna emas. Hard cover dibuat dalam rangkap 2 (dua).


2. HALAMAN JUDUL
Halaman judul adalah kutipan sampul. Perbedaannya, pada halaman judul,
Logo Universitas Trisakti tidak perlu dicantumkan.


3. HALAMAN PERSETUJUAN
Berisi tanggal dan tanda tangan Pembimbing Skripsi serta Ketua Bagian,
sebagai tanda persetujuan bahwa skripsi tersebut telah disetujui untuk diuji oleh
Tim Penguji yang ditunjuk oleh Dekan.
Halaman persetujuan ditulis dalam huruf Arial ukuran 12 warna hitam.


7
4. HALAMAN PENGESAHAN
Halaman ini harus tercantum dalam skripsi yang telah dijilid dalam bentuk hard
cover, dan berisi identitas mahasiswa (Nama, NIM, PK), Judul skripsi,
hari/tanggal sidang skripsi, tanda tangan Ketua dan Anggota Tim Penguji
(sebagai tanda skripsi tersebut telah lulus diuji dan tidak memerlukan revisi lagi)
serta tanda tangan Dekan.
Halaman ini harus dicantumkan pada skripsi yang telah diuji oleh Tim Penguji.


5. HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto berisi kutipan kitab suci, kata-kata bijak, puisi atau bentuk lain yang
bersifat renungan, menggugah dan membangkitkan semangat, atau ungkapan
penulis. Motto ditulis pada sudut kiri atas.

Persembahan berisi nama-nama keluarga atau pihak lain yang perlu
dicantumkan oleh penulis. Persembahan ditulis pada sudut kanan bawah.

Motto dan persembahan ditulis dalam 1 spasi dengan huruf Bookman Old Style
ukuran 12 warna hitam dicetak miring (Italic).


6. KATA PENGANTAR
Kata pengantar berisi ungkapan Penulis tentang rasa syukur, tujuan penulisan,
serta ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang oleh Penulis dirasakan
membantu hingga selesai disusunnya skripsi tersebut. Kata Pengantar dibuat
secara singkat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan tepat,
maksimal 2 (dua) halaman.


7. DAFTAR ISI
Berisi sistematika skripsi serta penunjukkan halaman. Daftar isi dimaksudkan
untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang isi skripsi. Penulisan bab dan
sub bab, diatur sehingga judul dimulai pada titik urut yang sama. Sebelah
kanan atas ditulis kata Halaman. Angka-angka petunjuk halaman ditempatkan
sedemikian rupa sehingga membentuk garis lurus vertikal sejajar dengan huruf
n dari kata halaman.


8. ABSTRAK
Merupakan sari dari skripsi yang menampilkan sebanyak mungkin data
kualitatif dan kuantitatif sehingga pembaca tidak perlu lagi membaca dokumen
aslinya, kecuali jika ingin mendalaminya.
Isi abstrak meliputi latar belakang, permasalahan, metode penelitian,
pembahasan dan kesimpulan. Abstrak ditempatkan di bagian awal setelah
daftar isi sebelum Bagian Isi dengan ketentuan maksimal 300 (tiga ratus) kata
atau maksimal satu halaman secara keseluruhan.

Abstrak ditulis dengan huruf Arial ukuran 12 warna hitam. Jarak antar baris 1
(satu) spasi, sedangkan jarak antar uraian adalah 2 (dua) spasi.


8
B. BAGIAN ISI
Bagian isi skripsi merupakan bagian utama dari skripsi yang terdiri dari:
1. Pendahuluan,
2. Hasil kajian pustaka/Studi dokumen,
3. Hasil kajian empiris (jika ada),
4. Pengolahan dan analisis, dan
5. Penutup berupa kesimpulan dan saran.

Bagian ini terdiri dari bab-bab yang ditulis dalam angka romawi besar (biasanya
terdiri dari 4 (empat) sampai 6 (enam) bab.

1. BAB PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian mengenai latar belakang masalah, permasalahan, tujuan
penulisan, metode penelitian, kerangka teori/kerangka konsep/tinjauan
pustaka, dan sistematika penulisan.

Latar belakang masalah memaparkan alasan-alasan ilmiah (baik faktual
maupun yuridis) yang menyebabkan munculnya permasalahan. Latar
belakang masalah ini harus relevan dengan permasalahan dan judulnya.

Permasalahan/identifikasi masalah merupakan penajaman permasalahan
secara umum, yang biasanya berbentuk pertanyaan. Dalam perumusan
masalah harus diperhatikan bahwa permasalahan harus relevan dengan
judul dan sifat penelitiannya. Selain itu permasalahan harus merupakan
permasalahan di bidang hukum.

Tujuan penulisan menguraikan mengenai tujuan disusunnya skripsi. Tujuan
ini dapat berupa tujuan subyektif dan tujuan obyektif (misalnya untuk
menggambarkan mengenai suatu peristiwa hukum tertentu).

Metode penelitian adalah uraian mengenai metode yang digunakan untuk
menjawab permasalahan. Metode ini meliputi penjelasan mengenai data
yang digunakan, sumber data, cara pengumpulan data, cara pengolahan
data, metode analisis yang digunakan, serta cara melakukan pengambilan
kesimpulan.

Kerangka teori/konsep/tinjauan pustaka adalah uraian mengenai teori atau
konsep yang dijadikan sebagai kerangka acuan penyusunan skripsi.
Kerangka teori lebih menitik beratkan pada dasar filosofi dari kajian
hukumnya, sedangkan kerangka konsep terkait dengan konsep-konsep yang
telah dan biasa dipergunakan secara umum (contoh: konsep-konsep
sebagaimana terdapat dalam peraturan perundang-undangan).
Sedangkan tinjauan pustaka adalah uraian mengenai hasil-hasil penelitian
yang pernah dilakukan sebelumnya mengenai permasalahan yang sama.

Sistematika penulisan merupakan uraian singkat mengenai isi dari bab
pendahuluan sampai dengan bab penutup. Sistematika ini merupakan
gambaran dari alur pikir penyusunan skripsi.




9
2. BAB KAJIAN PUSTAKA
Bab ini merupakan uraian hasil kajian pustaka (penelusuran literatur) yang
telah dilakukan. Sumber-sumber hukum baik tertulis maupun tidak tertulis
yang relevan dengan permasalahan penelitian disajikan selengkap mungkin
dalam bab ini.

3. BAB HASIL KAJIAN EMPIRIS (Jika ada)
Jika bab hasil kajian pustaka merupakan uraian hasil penelitian kepustakaan
(library research), maka bab ini berisi uraian dari data yang diperoleh dari
penelitian di lapangan atau empiris (field research). Dengan demikian, bab ini
tidak terdapat pada penelitian hukum yang bukan penelitian hukum
empiris/sosiologis.
Hasil survey (wawancara, pengamatan, kuesioner) dapat dikemukakan
dalam bab ini. Namun dokumen-dokumen hukum (seperti perjanjian,
peraturan, perijinan, company profile, dan monograf) suatu institusi bukan
merupakan hasil kajian empiris, meskipun data tersebut diperoleh dengan
mendatangi secara langsung institusi tersebut. Karena kegiatan tersebut
masih merupakan kegiatan pengumpulan dokumen hukum (hasil kajian
pustaka)

4. BAB PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Data yang telah terkumpul dan disajikan dalam bab hasil kajian pustaka
maupun bab hasil kajian empiris, kemudian diolah dan dianalisis pada bab
ini. Pengolahan data dapat dilakukan melalui dua cara:
a) Metode kualitatif, yaitu analisis data dengan lebih menekankan pada
kualitas atau isi dari data tersebut. Misalnya untuk penelitian hukum yang
obyeknya norma, maka teknik interpretasi dari isi norma tersebut adalah
teknik yang paling sesuai untuk menjawab permasalahan. Sedangkan
untuk penelitian hukum yang obyeknya masyarakat, maka interpretasi
terhadap hasil wawancara yang lebih mengutamakan isi wawancara
dibandingkan frekuensinya akan lebih tepat menggunakan analisis
secara kualitatif.
b) Metode kuantitatif, yaitu analisis data yang mengutamakan kuantitas dari
data tersebut. Misalnya penelitian hukum yang bertujuan untuk
mengetahui frekuensi peristiwa hukum di suatu wilayah, atau untuk
mengetahui persepsi hukum dari suatu komunitas, maka jawaban atas
permasalahan yang diajukan perlu dilakukan analisis terhadap frekuensi
jawaban responden. Dalam analisis kuantitatif pemahaman mengenai
statistik sangat diperlukan.

5. BAB PENUTUP
Bab ini berisi uraian mengenai kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran
yang diajukan. Kesimpulan dapat diperoleh melalui dua metode penalaran,
yakni penalaran deduktif dan penalaran induktif.
Kesimpulan merupakan jawaban dari permasalahan yang diajukan pada bab
pendahuluan dan merupakan hasil analisis dari bab-bab sebelumnya.
Dengan demikian kesimpulan harus relevan dengan judul dan permasalahan.

Saran-saran yang diajukan sebagai akibat atau konsekuensi dari kesimpulan
yang diambil di atas, diajukan berdasarkan pemikiran yang sehat, jelas dan

10
secara tegas ditujukan kepada siapa. Saran-saran harus mengacu pada
kondisi ideal yang seharusnya.


C. BAGIAN AKHIR
Yang harus dimasukkan dalam Bagian Akhir dari suatu Skripsi adalah:
1. Daftar Pustaka;
2. Daftar Riwayat Hidup (curriculum vitae) penulis;
3. Lampiran-lampiran (jika ada).
Lampiran yang dimasukkan adalah yang relevan dengan masalah yang
diteliti yang tidak mudah diperoleh oleh setiap orang, seperti peraturan
perundang-undangan, dokumen-dokumen hukum suatu instansi, Keputusan
pejabat administratif, dll.
4. Surat keterangan telah melakukan penelitian dari instansi terkait;
Surat ini berisikan keterangan bahwa penulis telah melakukan penelitian di
instansi tersebut berkaitan dengan materi yang diperlukan untuk penulisan
skripsinya;
5. Surat pernyataan keaslian skripsi.
Surat ini dibuat dan ditandatangani oleh penulis di atas materai Rp. 6.000,-
(enam ribu rupiah) yang menerangkan bahwa skripsi tersebut benar-benar
dibuat sendiri oleh penulis (bukan menjiplak karya tulis orang lain secara
menyeluruh/plagiat).
6. Surat pernyataan persetujuan publikasi karya ilmiah.
Surat ini dibuat dan ditandatangani oleh penulis diatas materai Rp. 6.000,-
(enam ribu rupiah) yang menyetujui untuk memberikan kepada Universitas
Trisakti Hak Bebas Royalti Noneksklusif atas karya penulis.


























11




BAGIAN 4
TATA CARA PENULISAN SKRIPSI


A. BAHASA
1. Skripsi ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang telah dibakukan,
baik kata-kata maupun ejaannya.
2. Menggunakan istilah dalam Bahasa Indonesia atau yang sudah dialihbahasakan
ke dalam Bahasa Indonesia. Jika menggunakan istilah dalam bahasa asing yang
tidak ada padanan kata dalam Bahasa Indonesia, maka kata tersebut ditulis
dengan huruf miring.
3. Awal kalimat tidak boleh menggunakan kata penghubung seperti: sehingga,
dan, yang, namun demikian, oleh karena itu, dan sedangkan.
4. Kalimat harus jelas maksud dan artinya serta disusun secara singkat dan jelas.
5. Tanda baca harus dipergunakan dengan tepat.


B. RUJUKAN
Bahan rujukan yang digunakan dalam penulisan skripsi harus memenuhi ketentuan
berikut:
1. Paling sedikit menggunakan 10 (sepuluh) buku di luar peraturan perundang-
undangan, kamus, artikel dalam jurnal, dan sumber on-line.
2. Merupakan pustaka yang terkini.


C. KONVENSI NASKAH
1. Naskah diketik dengan huruf Arial ukuran 12, di atas kertas HVS warna putih
ukuran A4 (21,5 cm x 28 cm) berat 80 gr/m
2
dalam satu muka, dengan jumlah
halaman sekurang-kurangnya 70 halaman.
2. Jarak antar baris adalah 1,5 spasi, kecuali untuk kutipan langsung yang lebih dari
empat baris, catatan kaki, halaman sampul, abstrak dan daftar pustaka, jaraknya
satu spasi.
3. Pengetikan naskah harus memperhatikan ketentuan sebagai berikut:
a. dari tepi atas kertas : 4 Cm
kecuali judul bab : 6 Cm
b. dari tepi bawah kertas : 3 Cm
c. dari tepi kanan kertas : 3 Cm
d. dari tepi kiri kertas : 4 Cm
4. Semua ruangan naskah harus diisi penuh, artinya pengetikan kecuali alinea
baru dan hal khusus dimulai dari kiri dan berakhir pada tepi kanan. Alinea
baru dimulai ketukan ke enam dari tepi.
5. Penomoran halaman
a. Bagian Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Tabel, Abstrak dimulai dengan
nomor angka Romawi kecil (i, ii, iii, iv, dan seterusnya), diketik dua spasi
di bawah teks pada tengah halaman.

12
b. Bagian pokok dimulai dengan nomor 1, 2, 3, 4, dan seterusnya, diketik di
sudut kanan atas halaman. Untuk halaman awal bab maka nomor
halaman diketik pada bagian bawah halaman secara simetris sumbu
vertikal (tengah).
c. Bagian akhir tidak diberi penomoran halaman.

6. Penomoran pada Bab, Sub.Bab dan seterusnya.
a. Angka Romawi : I, II, III dan seterusnya
b. Huruf Kapital : A, B, C, D dan seterusnya
c. Angka Arab : 1, 2, 3 dan seterusnya
d. Huruf Kecil : a, b, c, d, dan seterusnya
e. Angka Arab dalam
kurung tutup : 1), 2), 3) dan seterusnya
f. Huruf Kecil
dalam kurung tutup : a), b), c) dan seterusnya
g. Angka Arab
dalam tanda kurung : (1), (2), (3) dan seterusnya
h. Huruf Kecil
dalam tanda kurung : (a), (b), (c) dan seterusnya


Peletakannya dalam naskah adalah sebagai berikut:

I. .
A. ..................................................................................
1 ......................................................................................
a ...................................................................................
1) ..............................................................................
a) ...........................................................................
(1) .......................................................................
(a) .................................................................



D. PENULISAN KUTIPAN

1. Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang pengarang,
atau ucapan seseorang yang terkenal, baik terdapat dalam buku-buku
maupun literatur lainnya.
2. Dalam mengambil sebuah kutipan, hendaknya kutipan itu jangan terlalu
panjang, misalnya satu halaman atau lebih. Bila penulis menganggap perlu
memasukkan kutipan yang panjang, maka dapat memasukkannya dalam
bagian Apendiks atau Lampiran.
3. Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan atas kutipan langsung (kutipan
isi) dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat
dengan mengambil secara lengkap kata demi kata, kalimat demi kalimat dari
sebuah teks asli. Sebaliknya, kutipan tidak langsung adalah pinjaman
pendapat seorang pengarang atau tokoh terkenal berupa intisari atau ikhtisar
dari pendapat tersebut.
4. Prinsip-prinsip mengutip:
a. Tidak merubah naskah asli

13
Pada waktu mengadakan kutipan langsung, pengarang tidak boleh
mengubah kata-kata atau teknik dari teks aslinya.
b. Bila ada kesalahan
Bila dalam kutipan terdapat kesalahan atau keganjilan, entah dalam
persoalan ejaan maupun dalam soal-soal ketatabahasaan, penulis tidak
boleh memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Ia hanya mengutip
sebagaimana adanya. Demikian pula halnya kalau penulis tidak setuju
dengan suatu bagian dari kutipan itu.
c. Menghilangkan bagian kutipan
Dalam mengutip diperkenankan pula menghilangkan bagian-bagian
tertentu dengan syarat bahwa penghilangan bagian itu tidak boleh
mengakibatkan perubahan makna aslinya atau makna keseluruhan.
Penghilangan itu biasanya dinyatakan dengan menggunakan tiga titik
spasi (. . . )

5. Cara-cara mengutip
a. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris
Sebuah kutipan langsung yang panjangnya tidak lebih dari empat baris
ketikan, dimasukkan dalam teks dengan cara-cara berikut:
1) Diintegrasikan langsung dengan teks;
2) Jarak antar baris dengan baris 1,5 spasi;
3) Kutipan diapit dengan tanda kutip;
4) Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah
spasi ke atas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat
pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan
itu.

b. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris
Bila sebuah kutipan terdiri dari lima baris atau lebih, maka seluruh kutipan
itu harus ditulis sebagai berikut:
1) Dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi;
2) Jarak antar baris dengan baris kutipan 1 spasi;
3) Kutipan diapit dengan tanda kutip;
4) Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukkan setengah
spasi ke atas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat
pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan
itu;
5) Seluruh kutipan diketik masuk sebanyak 6 ketukan (karakter), bila
ketikan itu dimulai dengan alinea baru, maka baris pertama dari
kutipan itu, masuk 6 ketukan (karakter) lagi.

c. Kutipan tidak langsung
Dalam kutipan tidak langsung, biasanya inti atau sari pendapat yang
dikemukakan, oleh sebab itu tidak boleh menggunakan tanda kutip.
Syarat yang harus diperhatikan untuk membuat kutipan tidak langsung
adalah :
1) Diintegrasikan dengan teks;
2) Jarak antar baris 1,5 spasi;
3) Kutipan tidak diapit dengan tanda kutip;
4) Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukkan setengah
spasi ke atas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat

14
pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan
itu.

E. CATATAN KAKI
1. Catatan kaki adalah keterangan-keterangan atau teks karangan yang
ditempatkan pada kaki halaman karangan yang bersangkutan.
2. Catatan kaki terdiri dari dua bagian, yaitu pertama, angka penunjukkan yang
ditempatkan agak ke atas setengah spasi (upper case), dan kedua, isi dari
catatan kaki.
3. Catatan kaki terdiri dari tiga macam, yakni, catatan penunjukan sumber
(referensi), catatan penjelas, dan catatan gabungan sumber dan penjelas.
4. Catatan penunjukan sumber dibuat jika:
a. Menggunakan kutipan langsung atau tidak langsung.
b. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri apa yang telah dibaca.
c. Meminjam sebuah tabel, peta atau diagram dari suatu sumber.
d. Menyusun sebuah diagram berdasarkan data-data yang diperoleh dari
suatu sumber atau beberapa sumber.
e. Menyajikan sebuah data pendukung khusus yang tidak dianggap sebagai
pengetahuan umum.
f. Menunjuk kembali pada bagian lain dari karangan itu.
5. Catatan penjelas, yaitu catatan kaki yang dibuat dengan tujuan untuk
membatasi suatu pengertian atau menerangkan dan memberi komentar
terhadap suatu pernyataan atau pendapat yang dimuat dalam teks.
6. Catatan gabungan sumber dan penjelas, adalah gabungan dari kedua
macam catatan, yaitu pertama menunjuk sumber dimana dapat diperoleh
bahan-bahan dalam teks, kedua memberi komentar atau penjelasan
seperlunya tentang pendapat atau pernyataan yang dikutip, atau keterangan-
keterangan tambahan yang ada hubungan dengan sumber itu.
7. Nama pengarang ditulis dengan urutan sebagai berikut: nama kecil, nama
keluarga, jika ada. Pada penunjukan yang kedua dan selanjutnya cukup
dipergunakan nama kecil.
8. Bila terdapat satu sampai tiga pengarang, maka semua nama pengarang
dicantumkan. Jika lebih dari tiga, maka cukup nama pengarang pertama
yang dicantumkan, sedangkan nama-nama lainnya diganti dengan singkatan
et.al. (et alii = dan lain-lain).
9. Penunjukan kepada sebuah kumpulan karangan (bunga rampai atau
antologi) ditambahkan dengan penulisan nama editor yang diikuti dengan
singkatan ed. Singkatan dapat diletakkan dalam tanda kurung atau
dipisahkan dengan tanda koma.
10. Jika tidak ada nama pengarang atau editor, maka catatan kaki dimulai
dengan judul buku atau judul artikel.
11. Judul buku, judul majalah, harian atau ensiklopedi, dicetak miring. Judul
artikel ditempatkan dalam tanda kutip.
12. Sesudah catatan kaki pertama, maka pada penyebutan kedua dan
seterusnya atas sumber yang sama, judul buku dan sebagainya, tidak perlu
disebut lagi dan digantikan dengan singkatan: Ibid, Op. Cit. atau Loc. Cit.
13. Sesudah penunjukan pertama sebuah artikel dalam majalah atau harian,
maka selanjutnya cukup dipergunakan judul majalah atau harian tanpa judul
artikel. Bila ada lebih dari satu nomor yang dipergunakan, maka cara di atas
tidak bisa dipergunakan.

15
14. Data publikasi bagi sebuah majalah tidak perlu memuat nama tempat dan
penerbit, tetapi harus mencantumkan nomor jilid dan nomor halaman,
tanggal, bulan dan tahun.
15. Data publikasi bagi artikel dalam suatu harian, ditulis dengan urutan sebagai
berikut: nama harian (dicetak miring), bulan, hari, tanggal, tahun dan nomor
halaman. Penulisan tanggal tidak boleh ditempatkan dalam tanda kurung.
16. Penulisan halaman digunakan dengan singkatan h.
17. Jika sebuah buku terdiri dari beberapa jilid, maka harus dicantumkan nomor
jilid dan nomor halaman. Nomor jilid dipergunakan angka romawi.
18. Jenis huruf yang digunakan dalam catatan kaki adalah Arial dengan ukuran
huruf 10.
19. Penulisan baris pertama, diberi jarak 6 ketuk (karakter) dari marjin kiri,
sedangkan baris kedua dan seterusnya dimulai dari marjin kiri.

Contoh penulisan catatan kaki:
1. Buku
a. Ditulis oleh seorang pengarang

1
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Jakarta: Prenada
Media Group, 2005), h. 52.


2
Malcolm N. Shaw, International Law (6
th
ed) (London: Cambridge
University Press, 2008), h. 436.

3
Amartya Sen, The Idea of Justice (New York: Penguin Books,
2009), h. 281-282.


4
Ian J. Lloyd, Information Technology Law

(New York: Oxford
University Press, 2008), h. 301.

5
Stephen Law, The Great Philosophers, The Lives And Ideas Of
Historys Greatest Thinkers (London: Quercus, 2007), h. 45.

6
Pandji Setijo, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar (Jakarta: Universitas
Trisakti, 2011), h. 3.

7
Ramelan, Hukum Acara Pidana, Teori Dan Implementasi (Jakarta:
Sumber Ilmu Jaya, 2006), h. 10.

8
Handbook On The Peaceful Settlement Of Dispute Between States
(United Nations, 1992), h. 27-29.


b. Ditulis oleh dua atau tiga pengarang

2
Jawahir Thontowi, Pranoto Iskandar, Hukum Internasional
Kontemporer (Bandung: Refika Aditama, 2006), h. 77.

3
Patricia Birnie, Alan Boyle, Catherine Redgwell, International Law
And The Environment (3
rd
ed) (New York: Oxford University Press,
2009), h. 108.

16

4
Catherine Elliot, Frances Quinn, English Legal System (11
th
ed)
(Harlow: Pearson, 2010), h. 611.

5
Michael Salter, Julie Mason, Writing Law Dissertations, An
Introduction And Guide To The Conduct Of Legal Research (Harlow:
Pearson, 2007), h. 201.

6
Stuart Bell, Donald McGillivray, Environmental Law (7
th
ed) (New
York:

Oxford University Press, 2008), h. 671.


c. Ditulis oleh lebih dari tiga pengarang

3
Philipus M. Hadjon, et. al. Pengantar Hukum Administrasi
Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1997), h. 124-
125.


d. Kumpulan Karangan

4
Lukman Ali, ed. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia Sebagai
Cermin Manusia Indonesia Baru (Jakarta: Bina Cipta, 1967),
h. 84-85.
atau

5
Harimurti Kridalaksana, Pembentukan Istilah Ilmiah dalam
Bahasa Indonesia. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia, sebagai
Cermin Manusia Indonesia Baru, ed. Lukman Ali (Jakarta: UI Press,
1967), h. 84-85.

6
Aziz Syamsuddin, Proses Dan Teknik Penyusunan Undang-
Undang, ed. Anis Fuadi (Jakarta: 2010), h. 99.


Catatan:
1) Bila yang lebih diutamakan adalah editor, maka nama editor yang
dicantumkan lebih dahulu; bila penulis artikel atau karya yang
diutamakan, maka nama pengarang didahulukan.
2) Bila nama pengarang didahulukan, maka harus disertakan judul
artikel dan judul buku, kemudian singkatan ed., dan nama editor.
3) Jika editor lebih dari seorang, maka cara penulisan sama seperti
sub b dan c.


e. Ensiklopedia dan Kamus

5
Subekti dan Tjitrosoedibjo, Conditio Sine Causa, Kamus Hukum
(Jakarta: Pradnja Paramita, 1969), h. 26.



17
6
Vaccination, Encyclopaedia Britanica, (14
th
ed), XXII, h.921-923.



Catatan:
Bila nama pengarang tidak diketahui, maka judul artikel yang
didahulukan.


f. Terjemahan

7
Peter de Cruz, Perbandingan Sistem Hukum, Common Law, Civil
Law dan Socialist Law, terjemahan Narulita Yusron (Bandung: Nusa
Media, 2010), h. 150.

8
Hans Kelsen, Pengantar Teori Hukum, terjemahan Siwi
Purwandari (Bandung: Nusa Media, 2010), h. 112.


g. Referensi dari Sumber Kedua

8
Sunaryati Hartono, Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia
(Jakarta: Binacipta, 1982), h. 21, mengutip Roscoe Pound. An
Introduction to The Philosophy of Law (New Haven: Yale University
Press, 1954) h. 47.
atau

9
Roscoe Pound, An Introduction to The Philosophy of Law (New
Haven: Yale University Press, 1954) h. 47, dikutip oleh Sunaryati
Hartono. Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia (Jakarta:
Binacipta, 1982), h. 21.


Catatan:
Bila karangan Roscoe Pound yang lebih dipentingkan, maka dipakai
cara yang kedua, tetapi sebaliknya bila tulisan Sunaryati Hartono
yang lebih penting, maka digunakan cara yang pertama.


2. Artikel Majalah atau Harian



9
Maria Sylvia E. Wangga, Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Perempuan Dan Anak Di Indonesia. Jurnal Hukum
Prioris, Vol. 2 No. 4 (Pebruari 2010), h. 242-243.



10
Hikmahanto Juwana, Serangan Koalisi Atas Libya. Kompas, 1
April 2011, h. 4.



18

11
Hukum. Tempo, 14 Oktober 1989, h. 84.


Catatan:
a. Bila nama pengarang jelas, maka catatan kaki itu dimulai dengan
nama pengarang yang menulis artikel tersebut.
b. Dalam hal-hal lain cukup ditulis jenis rubrik (topik) yang ada dalam
majalah/harian tersebut, misalnya: berita ekonomi, tajuk rencana, dan
sebagainya.


3. Naskah Ilmiah (makalah, skripsi, tesis atau disertasi) yang tidak
dipublikasikan

12
Andi Hamzah, Kesiapan Instrumen Hukum dalam Penegakan
Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Asasi Manusia. (Makalah yang
disampaikan pada Seminar Nasional tentang Penegakan Hukum
Terhadap Pelanggaran Hak Asasi Manusia Pada Era Reformasi, yang
diselenggarakan oleh Universitas Trisakti, Jakarta, 9 November 2000).


13
Endang Pandamdari, Dinamika Hukum Pengakuan Eksistensi Hak
Ulayat Masyarakat Hukum Adat. (Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum
Universitas Trisakti, Jakarta, 2011), h. 25.


Catatan:
a. Judul Makalah, Skripsi, Tesis atau Disertasi ditempatkan dalam tanda
kutip.
b. Keterangan tentang jenis karya itu, nama fakultas/universitas atau
kesempatan karya tersebut disampaikan beserta tempat dan tahun
ditempatkan dalam tanda kurung.


4. Peraturan Perundang-undangan dan Konvensi Internasional

14
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas, Pasal 24 ayat (1).


15
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah, Pasal 2.


16
The 1958 New York Convention, The Convention on the
Recognition and Enforcement of Foreign Arbital Awards, Artikel IX.






19



5. Wawancara atau Surat

17
Wahyana Darmabrata, wawancara dengan penulis, Hotel Le
Meridien, Jakarta, 9 Agustus 2010.


18
Rusdi Malik, wawancara dengan penulis, rekaman kaset, Jakarta,
10 Juli 2011.


19
Anto Ismu Budianto, surat kepada penulis, 14 Desember 2010.


20
Bambang Widjojanto, e-mail kepada penulis, 27 Oktober 2010.


6. On-Line Information Via Internet

20
Sejarah Majelis Permusyawaratan Rakyat (On-line), tersedia di:
http://mpr.wasantara.net.id/sejarah.htm (9 Juli 2001).


21
A. Tony Prasetiantono, Perlu Solusi Utang Yang Non
Konvensional (On-line), tersedia di: http://www.kompas.com/kompas-
cetak/0108/06/UTAMA/ anal 01.htm (6 Agustus 2001).


7. Catatan Penjelas

a. Tanpa penunjuk sumber referensi tertentu.
Catatan kaki dapat pula dimaksudkan untuk memberi komentar atau
menjelaskan yang diuraikan dalam naskah skripsi. Contoh di bawah
ini memperlihatkan catatan kaki yang berisikan penjelasan tanpa
penunjukkan kepada sumber tertentu.


22
Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia (1948) dan Dua Perjanjian
(Covenant) yang diterima di PBB pada tahun 1966, menunjukkan
bahwa hak-hak asasi tidak hanya terbatas pada hak-hak di bidang
sipil dan politik, tetapi juga mencakup hak-hak di bidang ekonomi,
sosial dan budaya.

b. Dengan menunjuk sumber referensi tertentu.
Catatan berikut adalah catatan kaki dengan menunjuk kepada sumber
tertentu ditambah penjelasan atau komentar-komentar.


23
J. Mallincrodt, Het Adatrecht van Borneo (Leiden: M.
Dubbeldeman, 1928), h. 50. Demikianlah Mallincrodt memberi
pengertian yang lain sama sekali kepada istilah magic, dari misalnya

20
J.G. Frazer atau sebagian besar dari sarjana Ilmu Antropologi Budaya
akan mengartikannya. Menurut Mallincrodt, kekuatan magic itu adalah
kekuatan sakti, menurut Frazer, magic adalah ilmu gaib.
E. SINGKATAN-SINGKATAN DALAM CATATAN KAKI

1. Ibid
Singkatan ini berasal dari kata lain Ibidem yang berarti pada tempat yang
sama. Singkatan ini digunakan bila catatan kaki tersebut menunjuk pada
karya atau artikel yang telah disebut dalam catatan nomor sebelumnya. Bila
halamannya sama, maka hanya dipergunakan singkatan Ibid. Bila
halamannya berbeda maka sesudah singkatan Ibid, ditunjukkan halaman
yang dimaksud.

2. Op.Cit
Singkatan ini berasal dari kata Latin Opere Citato yang berarti pada karya
yang telah dikutip. Singkatan ini digunakan bila catatan itu menunjuk kembali
kepada sumber yang telah disebut terdahulu, tetapi diselingi oleh sumber
lain. Dalam hal ini sesudah nama pengarang (biasanya nama keluarga atau
nama singkat) terus dicantumkan singkatan op.cit. Bila menunjuk pada
halaman atau jilid dan halaman, maka halaman atau jilid dan halaman
ditempatkan sesudah singkatan op.cit.

3. Loc.Cit
Singkatan ini berasal dari bahasa Latin Loco Citato yang berarti pada tempat
yang telah dikutip. Singkatan ini dipergunakan bila catatan itu menunjuk pada
halaman yang sama dari sumber yang telah disebut sebelumnya, tetapi
diselingi oleh sumber lainnya.

4. Supra
Adalah penunjukkan nomor rujukan yang sama dengan nomor sebelumnya.
Sebagai contoh, Supra catatan kaki nomor 12 berarti keterangan catatan kaki
nomor tersebut sama dengan keterangan yang tertulis dalam catatan kaki
nomor 12 sebagaimana dicantumkan penulis itu sebelumnya.

5. Infra
Adalah penunjukkan nomor rujukan yang sama dengan nomor di bawahnya.
Sebagai contoh, Infra catatan kaki nomor 12 berarti keterangan catatan kaki
nomor tersebut sama dengan keterangan yang tertulis dalam catatan kaki
nomor 12 yang akan datang.

6. Et.al
Adalah singkatan dari et alii yang berarti lain-lain atau dan kawan-kawan.
Singkatan ini dipergunakan untuk mengiringi nama pengarang/penyunting
suatu karya tulis yang lebih dari tiga orang. Setelah nama penulis/penyunting
utama dicantumkan, kemudian ditambahkan singkatan et al. ini. Penulisan et
al. tidak perlu dicetak miring.

7. Et seq atau Et seqq.
Adalah singkatan dari et sequens atau et sequentes yang berarti dan
halaman-halaman berikutnya. Singkatan ini dipakai sesudah menyebut
nomor halaman, misalnya: h. 205 et seq. berarti halaman 205 dan 206; h.

21
205 et seqq. berarti halaman 205, 206 dan 207 dan seterusnya. Penulisan et
seq. atau et seqq. tidak perlu dicetak miring.

8. [Sic!]
Adalah singkatan yang berarti seperti aslinya. Tanda ini dipakai dalam
kutipan apabila si pengutip tersebut merasa ada kekeliruan atau kurang yakin
atas kebenaran kutipannya, namun ia terpaksa harus menulis persis seperti
naskah asli tersebut. Singkatan ini diletakkan persis setelah kata dalam kutip
yang diragukan kebenarannya itu.

Catatan:
Penulisan Ibid., Op.Cit., Loc.Cit., Supra, Infra, Et.seq atau Et.seqq ditulis dengan
huruf miring.


Contoh penggunaan singkatan dalam catatan kaki:

23
Infra catatan kaki nomor 25.

24
Hikmahanto Juwana, Serangan Koalisi Atas Libya. Kompas, 1 April
2011, h. 4.
25
Pandji Setijo, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar (Jakarta: Universitas
Trisakti, 2011), h. 3.
26
Jawahir Thontowi, Pranoto Iskandar, Hukum Internasional Kontemporer
(Bandung: Refika Aditama, 2006), h. 77.
27
Ibid.
28
Peter de Cruz, Perbandingan Sistem Hukum, Common Law, Civil Law
dan Socialist Law, terjemahan Narulita Yusron (Bandung: Nusa Media, 2010),
h. 150.
29
Ibid. h. 151 et seq.
30
Pandji Setijo, Op.Cit. h. 5-6.
31
Jawahir Thontowi, Pranoto Iskandar, Loc.Cit.
32
Supra catatan kaki nomor 27.


F. DAFTAR PUSTAKA
1. Yang dimaksud dengan daftar pustaka (Bibliografi) adalah sebuah daftar
yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan
lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan atau sebagian
dari karangan yang sedang dikerjakan.
2. Fungsi daftar pustaka adalah memberikan deskripsi yang penting tentang
buku, majalah, harian secara keseluruhan, yang dirujuk dalam skripsi.
3. Unsur-unsur daftar pustaka:
a. Nama pengarang dikutip secara lengkap;
b. Judul buku;
c. Data publikasi: tempat terbit, penerbit, tahun terbit, cetakan, nomor jilid;
d. Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan,
nama majalah, jilid, nomor dan tahun.
4. Ketentuan-ketentuan penulisan daftar pustaka:
a. Nama pengarang ditulis tanpa gelar akademik.
b. Nama pengarang diurutkan menurut urutan alfabet.

22
c. Nama yang dipakai dalam urutan adalah Nama Keluarga. Jika tidak ada
nama keluarga, maka nama pengarang tidak perlu dibalik. Nama yang
dibalik diberi tanda koma antara nama keluarga dan nama pengarang
sendiri, sedangkan nama yang tidak dibalik tidak perlu diberi tanda
koma.
d. Bila tidak ada pengarang, maka judul buku atau artikel yang dimasukkan
dalam urutan alfabet.
e. Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan referensi,
maka untuk referensi yang kedua dan seterusnya, nama pengarang tidak
perlu ditulis lagi, tetapi diganti dengan garis sepanjang 7 (tujuh) ketukan.
f. Jarak antara baris dengan baris dalam satu referensi adalah 1 spasi,
tetapi jarak antara referensi yang satu dengan yang lainnya adalah 2
spasi.
g. Baris pertama dimulai dari marjin kiri. Baris kedua dan seterusnya dalam
satu referensi diberi jarak 6 ketuk (karakter) dari marjin kiri.


Contoh:

A. Tony Prasetiantono. Perlu Solusi Utang Yang Non Konvensional.
(On-line), tersedia di: http://www.kompas.com/kompas-
cetak/0108/06/UTAMA/ anal 01.htm (6 Agustus 2001).

Bridges, L. et.al. Evaluation Of The Public Defender Service In England
and Wales. London: Stationery Office, 2007.

Elliot, Catherine and Frances Quinn. English Legal System (11
th
ed).
Harlow: Pearson, 2010.

Erwin Kallo. Perspektif Hukum Dalam Dunia Properti. Jakarta: Minerva
Athena Pressindo, 2008.

-------. Panduan Hukum Untuk Pemilik/Penghuni Rumah Susun,
Kondominium, Apartemen, Dan Rusunami. Jakarta: Minerva Athena
Pressindo, 2009.

Gorys Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa (cet. XIII). Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2002.

Hutagalung, Arie Sukanti dan Markus Gunawan. Kewenangan
Pemerintah Di Bidang Tanah. Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2008.

Lieke Lianadevi Tukgali. Fungsi Sosial Hak Atas Tanah Dalam
Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Jakarta: Kertas Putih
Communication, 2010.

P. Wignjosumarto. Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum
(Rechtvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) pada Era
Reformasi Dan Transformasi. Majalah Hukum Varia Peradilan,
Nomor 251, Oktober 2006.

23


Philipus M. Hadjon. Tanggung Gugat Lembaga Penjamin Simpanan
Sebagai Badan hukum Menurut Undang-Undang No. 24 Tahun
2004, Seminar Nasional LPS Sebagai Wahana Perlindungan Dana
Simpanan Nasabah, Fakultas Hukum Unair Surabaya, 1 Juli 2006.

Sutan Remy Sjahdeini. Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata
Hukum Perbankan Indonesia (cet. I). Jakarta: Pustaka Utama
Grafiti, 1999.


24
BAGIAN 5
UJIAN SKRIPSI


A. KETENTUAN UJIAN SKRIPSI
1. Penguji
a. Penguji terdiri dari 3 (tiga) orang yang terdiri dari 1 (satu) Ketua, dan 2 (dua)
Penguji, yang salah satu diantaranya adalah Pembimbing Skripsi.
b. Dalam hal terdapat 2 (dua) pembimbing skripsi (Pembimbing Utama dan
Asisten Pembimbing) maka Tim Penguji dapat terdiri dari 4 (empat) orang.
c. Penguji sekurang-kurangnya mempunyai Jabatan Akademik sesuai SK
Rektor No. 267/USAKTI/SKR/VIII/2005 tentang Pedoman Pendidikan
Program Sarjana Universitas Trisakti, yaitu Dosen Biasa dan/atau Dosen
Luar Biasa yang memiliki jabatan akademik paling rendah Lektor Muda bagi
yang berpendidikan Sarjana (S1), dan Asisten Ahli bagi yang berpendidikan
Magister (S2) dan berpendidikan Doktor (S3).

2. Panitera Ujian Skripsi
Panitera ujian skripsi dilakukan oleh Dosen Biasa yang belum memenuhi syarat
sebagai penguji skripsi atau Tenaga Penunjang yang berpendidikan Sarjana
(S1).

3. Persyaratan Ujian Skripsi
a. Telah menyelesaikan skripsi, dibuktikan dengan persetujuan pembimbing
skripsi pada lembar persetujuan skripsi.
b. Memenuhi syarat administrasi keuangan.
c. Menandatangani surat pernyataan keaslian tulisan (materi skripsi).

4. Prosedur Ujian Skripsi
a. Mengambil formulir ujian sekaligus melakukan pembayaran biaya ujian
skripsi di Sub Bagian Administrasi Umum dan Keuangan.
b. Menyerahkan skripsi (soft cover) sebanyak 3 (tiga) eksemplar, buku
bimbingan skripsi, dan mengisi formulir ujian kepada Sekretaris Bagian.

5. Pelaksanaan Ujian Skripsi
a. Ujian Skripsi mahasiswa dilaksanakan oleh Tim Penguji yang terdiri dari 3
(tiga) orang yang diusulkan oleh Ketua Bagian dan disetujui Dekan, kecuali
sebagaimana dimaksud dalam butir 1 huruf b.
b. Ujian skripsi berlangsung dalam rentang waktu satu sampai satu setengah
jam.
c. Komposisi Penguji adalah 2 (dua) orang Dosen yang berkaitan dengan
isi/materi skripsi dan 1 (satu) orang Dosen dari luar bidang isi/materi skripsi.
d. Dalam hal adanya pergantian Tim Penguji, harus mendapat persetujuan dari
Ketua Bagian.
d. Bagi anggota Tim Penguji yang tidak dapat melaksanakan tugasnya pada
hari/tanggal/waktu yang telah ditetapkan, wajib memberitahukan 1 (satu) hari
sebelumnya kepada Ketua Bagian.

25
e. Apabila ada anggota Tim Penguji yang tidak hadir 30 menit sebelum
pelaksanaan ujian dilaksanakan, maka Ketua Bagian dapat menunjuk penguji
pengganti.

6. Tata Tertib Ujian
a. Hadir 30 (tiga puluh) menit sebelum ujian dimulai.
b. Berpakaian rapih dan sopan (kemeja putih berlengan panjang dengan dasi
hitam dan celana formal warna hitam bagi laki-laki, kemeja putih berlengan
panjang dengan rok formal warna hitam bagi perempuan).
c. Menggunakan sepatu formal warna hitam.


B. PENILAIAN UJIAN SKRIPSI
1. Penilaian
Unsur Penilaian Skripsi terdiri dari:
a. Komponen Utama
1) Kemampuan menjawab (ketepatan jawaban atas pertanyaan penguji)
dengan bobot nilai 45 %.
2) Mutu skripsi (dengan memperhatikan ketaatan kepada Norma Penulisan
Karya Ilmiah) dengan bobot nilai 35 %.
3) Penyajian skripsi (kemampuan mahasiswa dalam mempresentasikan
skripsinya) dengan bobot nilai 15 %.

b. Komponen Penunjang
Sikap (perilaku, tutur kata dan penampilan pada saat ujian), dengan bobot
nilai 5%.

c. Rentang Nilai Ujian Skripsi

HURUF BOBOT ANGKA
A 4,00 80 n 100
A- 3,75 77 n < 80
B+ 3,50 74 n < 77
B 3,00 68 n < 74
B- 2,75 65 n < 68
C+ 2,50 62 n < 65
C 2,00 56 n < 62
D 1,00 45 n < 56
E 0 N < 45

2. Cara Penilaian
a. Penilaian dilakukan secara individual oleh masing-masing Penguji dan
dinyatakan dalam bentuk angka dengan rentang 0-100.
b. Dalam memberikan penilaian mengenai kemampuan menjawab, harus
diperhatikan pula kemampuan mahasiswa dalam menjawab pertanyaan dari
Penguji lain.
c. Toleransi selisih nilai angka antara Tim Penguji tidak boleh lebih dari 20 (dua
puluh) point.

26
d. Dalam hal terjadi selisih lebih dari 20 (dua puluh) point maka harus
dirundingkan diantara Tim Penguji.
e. Hasil penilaian akhir merupakan gabungan nilai dari masing-masing Penguji,
kemudian dibagi sesuai dengan jumlah penguji untuk kemudian dikonversi
dalam bentuk huruf.

3. Lulus Dengan Perbaikan
a. Mahasiswa yang dinyatakan lulus dengan kewajiban untuk memperbaiki
skripsi, harus menyerahkan perbaikan tersebut dalam jangka waktu paling
lama 14 (empat belas) hari kerja.
b. Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi, maka mahasiswa yang bersangkutan
dinyatakan tidak lulus, dan wajib menempuh ujian ulang.

4. Tidak Lulus Ujian Skripsi
a. Mahasiswa dinyatakan tidak lulus ujian skripsi apabila mendapat nilai D atau
E.
b. Bagi mahasiswa yang dinyatakan tidak lulus, diberi kesempatan satu kali
untuk diuji ulang.
c. Ketidaklulusan yang disebabkan kurangnya kemampuan menjawab, maka
kepada mahasiswa yang bersangkutan diberi kesempatan ujian ulang dalam
jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak ujian
dilaksanakan.
d. Ketidaklulusan yang disebabkan kurangnya mutu skripsi, kepada mahasiswa
yang bersangkutan diberi kesempatan untuk memperbaiki skripsi dalam
jangka waktu maksimal 30 (tiga puluh) hari kerja sejak ujian dilaksanakan.
e. Jika ujian ulang atau perbaikan/ penyerahan skripsi melampaui batas waktu
yang ditentukan, maka yang bersangkutan tidak dapat mendaftar yudisium
pada tahun berjalan.


5. Perbaikan Nilai Ujian Skripsi
a. Perbaikan nilai ujian skripsi dapat dilakukan oleh mahasiswa yang
memperoleh nilai C, C+,B-, B dan B+.
b. Perbaikan dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak nilai
diumumkan.

6. Prosedur Ujian Ulang dan Perbaikan Nilai Skripsi
Persyaratan untuk perbaikan ujian skripsi adalah sebagai berikut:
a. Menyelesaikan administrasi keuangan untuk perbaikan nilai ujian skripsi.
b. Melakukan proses bimbingan ulang pada Pembimbing Skripsi.
c. Memperbaiki materi skripsi.


C. KEWAJIBAN MENYERAHKAN SKRIPSI
1. Mahasiswa wajib menyerahkan skripsi dalam bentuk hardcopy maupun softcopy
yang telah mendapat persetujuan dan pengesahan paling lama 14 (empat belas)
hari kerja setelah tanggal ujian.
2. Skripsi dalam bentuk hard copy sesuai dengan ketentuan konvensi naskah.
3. Skripsi dalam bentuk soft copy disimpan dalam bentuk file dengan program PDF,
yang tidak dapat diubah, disalin dan dicetak.

27
4. Karya ilmiah hasil skripsi dengan program PDF untuk dipublikasikan dalam jurnal
nasional.
5. Skripsi harus diserahkan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari
kerja setelah ujian skripsi.
6. Kewajiban menyerahkan skripsi merupakan prasyarat untuk mengikuti yudisium.


D. SANKSI
1. Skripsi yang tidak memenuhi persyaratan administrasi tidak dapat diproses.
2. Skripsi yang secara substantif tidak memenuhi ketentuan dalam buku pedoman
ini dinyatakan batal.
3. Skripsi yang terbukti merupakan hasil plagiat dinyatakan batal dan yang
bersangkutan dinyatakan Drop Out (DO).
4. Skripsi yang tidak diserahkan sebagaimana diatur dalam huruf C angka 4, maka
nilai yang telah diperoleh dinyatakan batal dan harus menyusun skripsi kembali,
sepanjang masa studinya masih memungkinkan.

E. KETENTUAN KHUSUS
Hal-hal yang belum diatur atau yang memerlukan pengaturan khusus ditetapkan
oleh Dekan berdasarkan hasil Rapat Pimpinan Fakultas.