Anda di halaman 1dari 54

Academic Research in

Market-Based Accounting
Dr. Zaenal Fanani, SE., MSA., Ak.
S1, S2, S3 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya Malang


Email: fanani_unair@yahoo.com, facebook: zaenal_ppsub@yaho.com, Hp: 08125296854
Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
ARAH RISET AKUNTANSI
Beaver (1996); Market Based Accounting
Research
faktor-faktor internal (endogenous factors);
tersedianya jurnal-jurnal riset ilmiah, working
paper, skripsi, tesis, dan disertasi serta
simposium-simposium riset Akuntansi (SNA)
faktor-faktor eksternal (exogenous factors) ;
pengaruh dari displin ilmu lain, seperti misalnya
ilmu finansial, psikologi, matematik,
ekonometrik, dan statistik

Faktor Internal
Jurnal internasional dapat diakses melalui: proquest,
spingerlink, sciencedirect, ebsco, sagepub, emeraldinsight;
seperti: JAR (Journal of Accounting Research) yang banyak
memberikan topik-topik Penelitian metodologi, JAE (Journal
of Accounting and Economics) yang banyak memberikan
topik-topik penelitian akuntansi positif, AR (The Accounting
Review) yang banyak memberikan topik-topik penelitian
akuntansi secara unum.
jurnal Indonesia yang terakreditasi melalui:
http://jurnal.pdii.lipi.go.id/, seperti JRAI (Jurnal Riset
Akuntansi Indonesia), JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia), Gadjah Mada IJB (International Journal of
Bussiness), Jurnal Akuntansi Indonesia (JAKI).
Working paper (www.ssrn.com)
skripsi, tesis, dan disertasi melalui (http://garuda.dikti.go.id/)
Simposium penelitian akuntansi (SNA 1-13)
Faktor eksternal
Perkembangan ilmu;
Disiplin ilmu psikologi; keprilakuan akuntansi,
Psylogical finance dan behavorial finance
ilmu matematik memungkinkan peneliti untuk
mendapatkan topik di area riset analitikal yang
membuktikan hipotesis dengan matematik
Disiplin ilmu ekonometrik dan statistik
memungkinkan mendapatkan topik-topik baru di
bidang riset metodologi, seperti perbaikan metodologi
riset akuntansi dengan menggunakan metode baru,
fenomena nonlinear dan lain sebagainya.
Lanjutan
ketersediaan basis data secara elektronik
Amerika Serikat ,Center for Research and Security Prices,
Euromonitor (www.euromonitor.com), datastream
(http://extranet.datastream.com), http://finance.yahoo.com/,
www.datafinancial.com/
di Indonesia terbantu oleh www.idx.co.id, pusat data dan bisnis
ekonomi UGM (pdbe.feb.ugm.ac.id ), pusat data ekonomi dan
bisnis UI (http://pdeb.fe.ui.ac.id/pdeb/pdeb/page.php)

lingkungan pelaporan keuangan.
Perubahan Iingkungan ini biasanya di ikuti oleh munculnya standar
akuntansi yang baru untuk mengantisipasi perubahan ini ; krisis
moneter di tahun 1997 yang menyebabkan banyak perusahaan
mengalami kerugian transaksi nilai mata uang asing. IAI dengan
PSAK nya mengantisipasi dengan mengeluarkan standar untuk
mengijinkan mengkapitalisasi kerugiannya jika berhubungan dengan
pembelian aktiva, tetapi harus diperlakukan sebagai biaya jika
kerugian transaksi kurs adalah bukan dari transaksi aktiva
Riset Akuntansi Berbasis Pasar Modal
Efisiensi Pasar (Market Efficiency)
Model Valuasi (Valuation Models)
Kandungan Informasi Akuntansi
Analisis Fundamental
Koefisien Respon Laba (Earning Response Coefficient/)
Kualitas Laba
kos kapital (Cost of Capital)
Konsekuensi Ekonomi
Transfer Informasi
Kandungan Informasi Selain Laba


Efisiensi Pasar (Market Efficiency)
Fama (1970) mendefinisikan efisiensi pasar sebagai
harga sekuritas merefleksikan secara penuh semua
informasi yang tersedia. (CRSP)
Implikasinya terhadap riset akuntansi
Jika pasar yang efisien, maka keuntungan (laba) dari
analisa fundamental manfaatnya sangat terbatas. Dengan
kata lain, akuntansi tidak memberikan nilai tambah karena
bukan merupakan sumber informasi yang tepat waktu
Sebaliknya, jika harga sekuritas bereaksi terhadap
informasi akuntansi yang baru, maka informasi akuntansi
berguna.
Efisiensi Pasar (lanjutan)
Tida jenis pengujian: Efisiensi pasar secara informasi, Operasional
dan keputusan.
Pengujian efisiensi pasar secara informasi ada 3, yaitu efisiensi pasar
bentuk lemah, setengah kuat, dan kuat
Efisiensi pasar bentuk lemah jika harga-harga sekuritas mencerminkan secara
penuh informasi masa lalu, teknik pengujiannya dengan menggunakan
pengujian terhadap pendugaan return
Contoh: Fama (1965) menguji runtun perubahan harga saham, Ball dan Watts (1972)
menguji runtun perubahan harga akuntansi
Efisiensi Pasar bentuk setengah kuat jika harga sekuritas secara penuh
mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan termasuk informasi
yang berada dalam laporan keuangan,. Ada dua metode pengujiannya; yaitu
kandungan informasi dan Studi Peristiwa.
Kandungan informasi , tujuannya melihat kandungan informasi dari suatu
peristiwa yang terjadi
Contoh Copeland (1979) kandungan informasi stock split, Miller dan Modigliani (1961)
tentang pengumuman dividen (tidak relevan dalam menentukan nilai perusahaan)
Studi Peristiwa yaitu menguji reaksi pasar terhadap peristiwa yang
informasinya dipublikasikan ke pasar
Contoh: Fama et al. (1969) tentang stock split, Ritter (1988) tentang IPO, Aharony dan
Swary (1980) tentang pengumuman dividen, Salinger (1992) tentang merger
Efisiensi Pasar (lanjutan)
Efisiensi pasar bentuk kuat jika harga-harga sekuritas mencerminkan secara
penuh semua informasi yang tersedia termasuk informasi privat. Harga
sekuritas mencerminkan data masa lalu, data sekarang yang sedang
didistribusikan, dan data privat. Metode pengujiannya dengan menggunakan
pengujian terhadap informasi privat. Informasi privat yang akan diuji tidak
dapat diobservasi secara langsung, sehingga menggunakan 2 proksi yaitu
return dari corporate insider dan return dari portofolio reksadana.
Insider Trading, perdagangan sekuritas yang dilakukan oleh corporate
insider. Corporate insider adalah pejabat perusahaan, manajemen, direksi
dan pemegang saham mayositas
Contoh Saffe (1974) tentang membeli suatu sekuritas yang banyak dijual oleh insider dapat
menghasilkan abnormal return yang tinggi, Finnerty (1976) tentang data populasi kegiatan
transaksi yang dilakukan oleh insider
Return dari Reksadana. Jika reksadana dapat menghasilkan return yang
tinggi , kemungkinan manajer reksadana mendapatkan informasi privat
yang tidak dipublikasikan
Contoh:Sharpe (1966) dan Jensen (1968) bahwa reksadana tidak mendapatkan abnormal
return yang berlebihan
Efisiensi Pasar (lanjutan)
Pengujian efisiensi pasar secara operasional, yaitu kondisi harga
ekuritas yang benar menunjukkan biaya transaksi yang efisien
(murah), atau kemampuan pasar modal untuk menyediakan
likuiditas, eksekusi transaksi dengan cepat, dan biaya perdagangan
yang rendah. Cara mengujinya dengan menggunakan bid-ask spread
Bid-ask spread mengukur informasi yang tidak simetris antara dealer dengan
investor
Contoh: Glosten dan Milgrom (1985) serta Venkatesh dan Chiang (1986)
hasilnya ketika dealer merasa tingkat informasi tidak simetris meningkat, mereka
melebarkan bid-ask spread untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari
pedagang yang mempunyai informasi.
Efisiensi Pasar (lanjutan)
Pengujian efisiensi pasar secara keputusan, yaitu
mempertimbangkan ketersediaan informasi dan kecanggihan pelaku
pasar. Empat faktor yang dipertimbangkan dalam pengujian efisiensi
pasar secara keputusan yaitu abnormal return, kecepatan reaksi, nilai
ekonomis, ketepatan reaksi.
Hipotesis mekanistik. Adanya hubungan antara laba perusahaan dengan
aliran kasnya.
Contoh: Watts dan Zimmerman (1986) perubahan metode akuntansi yang dilakukan oleh
perusahaan berargumentasi bahwa manajer perusahaan mengubah prosedur akuntansi untuk
meningkatkan laba perusahaan dengan tujuan mengangkat sahamnya
Hipotesis no-effect. Tidak ada perubahan harga sekuritas yang disebabkan
oleh suatu peristiwa.
Pasar dikatakan efisien secara keputusan jika hipotesis no-effect terjadi untuk peristiwa yang
tidak mempengaruhi laba serta aliran kas dan tidak tidak efisien jika hipotesis no-effect
terjadi untuk peristiwa yang tidak mempengaruhi laba tetapi mempengaruhi aliran kas.
Efisiensi Pasar (lanjutan)
Anomali Pasar. Yaitu suatu fenomena yang terjadi berulang-ulang
dan secara konsisten menyimpang dari kondisi pasar yag efisien
secara informasi. Ada beberapa bentuk anomali yaitu
Price Earning Ratio (PER) rendah.
Sekuritas PER rendah mengalahkan sekuritas PER tinggi (Basu, 1977)
EfekUkuran Perusahaan Kecil
Perusahaan-perusahaan berukuran kecil memberikan return yang lebih besar dibandingkan
dengan return yang diberikan perusahaan besar (Banz, 1981)
Efek Kalender
Waktu tertentu menghasilkan return lebih tinggi secara sistematis dan konsisten
dibandingkan waktu yang lain
Efek Waktu dalam hari
Harga saham NYSE meningkat 30 menit sebelum pasar modal ditutup dan 45 menit
pertama setelah pasar dibuka untuk hari senin (Haris, 1986)
Efek Hari dalam minggu
Hari-hari tertentu dalam satu minggu secra sistematis memberikan return yang lebih
tinggi dibandingkan dengan return yang dihasilkan pada hari-hari yang lain. Senin
cenderung rendah, Jumat cenderung tinggi
Bulan dalam tahun
Bulan tertentu (januari) dalam satu tahun secra sistematis memberikan return yang lebih
tinggi dibandingkan dengan return yang dihasilkan pada bulan yang lain.
Efisiensi Pasar (lanjutan)
Efek Return Jangka Panjang.
Adanya penurunan dan peningkatan return jangka panjang
IPO dan SEO
Return jangka panjang negatif (Loughram dan Ritter ,1995)
Merjer
Return jangka panjang negatif (Asquith ,1983)
Pemecahan Saham
Return jangka panjang positif (Desai dan Jain, 1997)
Pembelian Kembali Saham
Return jangka panjang positif (Lakonnishok dan Vermaelen, 1990)
New Listing
Return jangka panjang negatif (Dharan dan Ikenberry, 1995)
Inisiasi Dividen
Return jangka panjang positif (Michaely et al., 1995)
Penghapusan Dividen
Return jangka panjang negatif (Michaely et al., 1995)
Penjualan anak perusahaan
Return jangka panjang positif (Cusatis et al., 1993)
Kontes Proksi
Return jangka panjang negatif (Ikenberry dan Lakonnishok, 1993)
Model Valuasi (Valuation Models)
Model atau teori yang menghitung nilai perusahaan.
Nilai Perusahaan adalah nilai sekarang dari aliran
kas bersih yang akan diterima perusahaan tersebut
pada masa mendatang.
Sebuah Perusahaan memiliki nilai bagi pemiliknya
karena aset bersih perusahaan merupakan akumulasi
kesejahteraan yang dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan
Model Valuasi (lanjutan)
Hubungan antara nilai perusahaan dan dividen


NP=nilai perusahaan, E=Ekspektasi, D=Dividen, RF= suku bunga bebas risiko
Model Valuasi Teori Surplus Bersih. Asumsinya
investor memiliki keyakinan dan preferensi yang
homogen, kedua adanya hubungan surplus bersih
antara ekuitas dan laba


NB=Nilai buku, LA= Laba abnormal

Kelemahan: Penentuan
nilai akhir laba
abnormal secara ad hoc
Model Valuasi (lanjutan)
Model Valuasi Tertutup (Ohlson, 1995). Laba
abnormal memiliki perilaku runtut waktu tertentu
sehingga nilai perusahaan dapat dihitung
berdasarkan data akuntansi sekarang dan satu
periode ke depan.






NP=nilai perusahaan, NB=Nilai Buku, LA=laba abnormal, VL= dampak variabel lain (non
akuntansi)


Kelemahan: hasil
valuasi lebih rendah
dari harga pasar
Model Valuasi
Model Feltham and Ohlson (1995)
Nilai perusahaan adalah sebesar nilai buku ditambah laba operasi
abnormal,saldo aset operasi, variabel lain 1, variabel lain 2









NSB=Nilai Perusahaan, NB=Nilai Buku, LOA=Laba operasi abnormal, (laba operasi tahun ini,
705) AO=aset operasi, VL1= variabel lain 1, VL2= Variabel alian 2
Kelebihan: memperhitungkan
konservatisme laporan keuangan
dan pertumbuhan serta variabel
lain
Kandungan Informasi Akuntansi
Efisiensi pasar lanjutan punya gagasan bahwa variabel
akuntansi memiliki kandungan informasi untuk pasar
sekuritas
Riset pertama akuntansi yang menguji manfaat data akuntansi
di pasar modal dilakukan oleh Ball and Brown (1968). Riset
ini manguji apakah laba akuntansi mengandung informasi
sehingga berguna di pasar modal. Riset sejenis ini dikenal
sebagai riset tentang kandungan informasi (information
content) dari laba
Laba Akuntansi = Aliran kas + Akuntansi akrual
Komponen mana yang paling informatif? (Dechow 1994,
Sloan 1996)
Kandungan Informasi Akuntansi
(lanjutan)
Terdapat dua pengujian yaitu studi peristiwa dan
studi asosiasi
Studi peristiwa:Apakah peristiwa (seperti pengumuman
laba) menyampaikan informasi baru untuk pelaku pasar
yang tercermin dalam perubahan tingkat atau variabilitas
harga saham atau volume perdagangan selama periode
waktu yang singkat sekitar acara tersebut
Studi asosiasi: Pengujian korelasi positif antara ukuran
kinerja akuntansi (misalnya, laba atau arus kas dari
operasi) dan return saham, baik diukur atas jangka
panjang, periode waktu kontemporer, misalnya, satu tahun
Does not assume accounting reports are only source of information
to market
No causal connection is inferred
Kandungan Informasi Akuntansi
(lanjutan)
Bukti: Masalah Akuntansi
Hubungan laba kejutan dengan return saham (Ball and Brown 1968)
Volatilitas return dan volume perdagangan (bukti aliran informasi ke
pasar) meningkat selama pengumuman laba (Beaver 1968)
Informasi akuntansi tidak tepat waktu (harga saham laba
mempengaruhi laba) (Beaver et al., 1980)
Laba tidak informatif terhadap harga saham mendatang (atau mungkin
pasar tidak efisien), tetapi harga saham informatif terhadap laba
mendatang.
Respon pasar terhadap informasi laba sifatnya asimetris (kabar baik
dimasukkan ke dalam harga lebih cepat daripada berita buruk)
(Bernard and Thomas 1989, 1990)
Laba berkorelasi lebih tinggi dengan return saham daripada arus kas
(Wilson 1986, 1987; Dechow 1994)
Analisis Fundamental (AF)
Fokus utama analisis fundamental adalah mengidentifikasi
sekuritas harga yang salah (Graham & Dodds 1934 Security
Analysis)
Analisis fundamental digunakan untuk menentukan nilai
intrinsik perusahaan, riset ini berusaha mengevaluasi
kesalahan penentuan harga saham yang berhubungan dengan
penilaian fundamental dan ramalan analis. AF memerlukan
penggunaan informasi dalam F/S saat ini dan masa lalu,
dalam hubungannya dengan industri dan data makroekonomi
ke dalam nilai intrinsik perusahaan
Contoh: Ou and Penman (1989) tentang hubungan harga
dengan laba mendatang, Lev and Thiagarajan (1993) tentang
kinerja perusahaan dengan laba mendatang dan variabel
makroekonomi
Koefisien Respon Laba (Earning Response
Coefficient/ERC)
Yaitu tingkat sensitifitas return tidak normal dalam merespon
perubahan laba yang tidak diekspektasi (Scott, 2010).
Studi tentang kandungan informasi laba menunjukkan bahwa
laba akuntansi mengandung informasi dan digunakan di pasar
modal Kandungan informasi ini ditunjukkan dengan adanya
reaksi pasar berupa abnormal return akibat dari pengumuman
laba.
Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah faktor apa yang
dapat mempengaruhi reaksi pasar terhadap pengumuman laba
tersebut. Peneliti kemudian mencoba meregresikan laba tidak
diekspektasi dengan abnormal return. Koefisien hasil regresi
ini disebut dengan koefisien respon laba (earnings response
coefficients atau ERC), Rumusnya CAR=f(UE).

Koefisien Respon Laba (lanjutan)
Terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu faktor-faktor yang
mempengaruhi ERC, dan faktor-faktor yang berhubungan
dengan keinformatifan ERC.
Literatur sebelumnya telah mengidentifikasi empat faktor
penentu (Kormendi and Lipe 1987; Easton and Zmijewski
1989; and Collins and Kothari 1989)
Persistensi (+), pertumbuhan (+), beta (-), & suku bunga (-)
Faktor-faktor yang berhubungan dengan keinformatifan ERC
Contoh: Lipe (1986) ERC relatif stabil, Easton dan
zmijewski (1989) respon pasar terhadap laba bervariasi
tergantung jenis perusahaan dan rentang waktu

Kualitas laba
kualitas laba sendiri tidak memberikan makna dan digunakan dengan
interpretasi berbeda
Schipper dan Vincent (2003) memandang kualitas laba terkait dengan konsep
pendapatan Hicks yaitu sebagai kondisi ketika laporan laba merepresentasikan
pendapatan
Hodge (2003) mendefinisikan kualitas laba sebagai kondisi ketika laporan
pendapatan bersih berbeda dari laba sebenarnya
Chan et al. (2004) melihat kualitas laba sebagai kondisi ketika laporan laba
mencerminkan hal dasar
Mikhail et al. (2003) menggunakan definisi lain yaitu kondisi ketika laba masa
lalu perusahaan berkaitan dengan arus kas masa depan
Richardson et al. (2001) kualitas laba adalah kondisi ketika kinerja laba bertahan
sampai periode selanjutnya
kualitas laba didefiniskan sebagai representasi akurasi dari kinerja keseluruhan
perusahaan dan kinerja pasar modal yang diwujudkan dalam bentuk imbalan
Kualitas Laba
Kualitas laba
Kategori pertama
menggunakan konsep
persistensi, variabilitas dan
prediktabilitas
Kategori kedua dihasilkan
dari hubungan antara kas,
akrual, dan pendapatan
Kategori ketiga
menghubungkannya dengan
konsep kualitatif dalam kerangka
konseptual FASB. (relevansi,
reliabilitas, dan komparabilitas/
konsistensi)
Kategori keempat
implementasi
keputusan
Schipper dan Vincent (2003)
Kualitas Laba (lanjutan)
No Proksi kualitas laba Pengukuran Peneliti
1 Kualitas akrual Nilai Absolut residual yang diestimasi dari model arus kas operasi
sekarang kedalam arus kas masa lalu, piutang dagang, persediaan,
utang dagang, depresiasi dan akrual yang lain
Barth et al. (2001)
Standar deviasi residual yang diestimasi dari model arus kas operasi
sekarang kedalam arus kas masa lalu, piutang dagang, persediaan,
utang dagang, depresiasi dan akrual yang lain
Barth et al. (2001)
Nilai Absolut Residual yang diestimasi dari kapital kerja sekarang
kedalam arus kas operasi masa lalu, sekarang, mendatang, penjualan
dan aktiva tetap
Dechow and Dichev (2002),
Standar deviasi residual yang diestimasi dari kapital kerja sekarang
kedalam arus kas operasi masa lalu, sekarang, mendatang, penjualan
dan aktiva tetap
Dechow dan Dichev (2002); McNichols (2002), Chambers
(2003); Aboody et al. (2003); Francis et al. (2004, 2005);
Pagalung (2006)
2 Persistensi Koefisien dari regresi earnings sekarang terhadap earnings mendatang
(Model AR1)
Lev (1983); Sloan (1996);
Penman dan Zhang (2002); Revsine et al. (2002);
Richardson (2003); Francis et al. (2004); Pagalung (2006)
3 Prediktabilita Deviasi standar kesalahan model AR1 Lipe (1990); Brown dan Sivakumar (2001); Francis et al.
(2004); Pagalung (2006)
4 Peratalabaan Rasio variabilitas laba terhadap variabilitas arus kas dan Koefisien
variasi perubahan laba dibagi dengan koefisien variasi perubahan
penjualan
Eckel (1981); Thomas dan Zhang (2002); Sugiri (2003);
Francis et al. (2004); Pagalung, (2006)
5 Relevansi nilai Kekuatan eksplanasi regresi imbalan terhadap laba Joos dan Lang (1994); Collins et al. (1997); Francis dan
Schipper (1999); Lev dan Zarowin (1999) Brown dan
Sivakumar (2001) ; Francis et al. (2004)
6 Ketepatwaktuan Kekuatan eksplanasi regresi reversal laba terhadap imbalan Ball et al. (2000); Francis et al. (2004)
7 Konservatisma Rasio koefisien regresi reversal terhadap imbalan negatif pada
koefisien imbalan positif
Francis et al. (2004)
Pendapatan bersih sebelum item-item luar biasa dan depresiasi
dikurangi cash flow operasi
Givoly dan Hayn (2000)
Rasio nilai buku terhadap nilai pasar Ahmed et al. (2002)
8 Indeks kualitas laba Kombinasi perubahan dalarn skor konservatisma dan perbandingan
skor konservatisma pada median industri perusahaan
Penman dan Zhang (2002)
9 Kandungan informasi Kekuatan eksplanasi koefisien regresi laba (ERC) Brown dan Sivakumar (2001)
10 Akrual Abnornal Total Akrual terhadap pendapatan dan aktiva tetap Jones (1991); Aboody et al. (2003); Francis et al. (2004)
11 kualitas laba faktorial Hasil anlisis faktor dari Kualitas akrual, Prediktabilita, dan
Peratalabaan
Pagalung (2006)
Kualitas Laba (lanjutan)
Latar Belakang Penelitian Kualitas Informasi Pelaporan Keuangan:
Faktor-Faktor Penentu dan Konsekuensi Ekonomik
Faktor-Faktor Penentu Kualitas Informasi Pelaporan Keuangan Konsekuensi Ekonomik
Kualitas Informasi Pelaporan
Keuangan Faktorial second order
(akuntansi dan pasar)

Kualitas Informasi Pelaporan
Keuangan Faktorial berbasis
akuntansi
Kualitas akrual
Persistensi
Prediktabilita
Peratalabaan

Kualitas Informasi Pelaporan
Keuangan Faktorial Berbasis Pasar
Relevansi nilai
Ketepatwaktuan
Konservatisme

Dinamis :
Siklus Operasi
Volatilitas penjualan
Statis
Ukuran Perusahaan
Umur Perusahaan
Proporsi Kerugian
Proporsi laba/rugi
Risiko Institusi
Likuiditas
Leverage
Risiko lingkungan
Klasifikasi industri
Struktur Kepemilikan
Kepemilikan manajerial
Kepemilikan institusional
Pangsa Pasar
Konsentrasi pasar
Kualitas Auditor
Kualitas audito
Investasi
Pertumbuhan
Ukuran Perusahaan
Leverage
Beta

Konsekuensi Ekonomik
Asimetri informasi
Kos Kapital
Kepercayaan Investor
Kontrol Uji Sensitifitas
Kos Kapital (Cost of Capital)
Kos Kapital adalah tingkat pendapatan yang
dapat diperoleh suatu bisnis bila bisnis itu
memilih investasi lain dengan risiko yang
ekuivalen, dengan kata lain, biaya kesempatan
yang hilang dari dana yang digunakan sebagai
akibat dari suatu keputusan investasi

Pengukuran Peneliti
Pendekatan Premi Risiko Botosan (1997); Ibbotson (1998); Ohlson and
Juttner-Nauroth (2000); Easton (2004); Ohlson
and Juttner-Nauroth (2005)
Model penilaian pertumbuhan Dividen konstan Gordon (1962)
Pendekatan Capital asset Pricing Model (CAPM) Sharpe (1964); Komalasari dan Baridwan
(2001)
Model tiga faktor dari Fama French Fama and French (1993)
Valuasi pendapatan residual Gebhardt, Lee and Swaminathan (2001); Claus
and Thomas (2001)
Kos Kapital (lanjutan)
Studi Konsekuensi Ekonomis (Economic
Consequence Study)
Di mulai dari awal tahun 1970an, studi tentang
konsekuensi ekonomis mulai banyak dilakukan
di Amerika Serikat. Studi ini ingin melihat
konsekuensi ekonomis yaitu efek terhadap
harga saham untuk perbedaan-perbedaan dan
perubahan-perubahan dari metode dan prosedur
akuntansi. Efek dari harga saham akibat metode
atau prosedur akuntansi yang berbeda
tergantung dari ada atau tidak efeknya terhadap
pajak dan arus kas (Lev and Ohlson, 1982).
Konsekuensi Ekonomi (Lanjutan)
Beaver & Dukes (1973); tidak menemukan perbedaan reaksi harga
saham untuk perusahaan-perusahaan yang menggunakan metode
akuntansi depresiasi dipercepat untuk keperluan pajak dan metode
depresiasi dipercepat.atau garis lurus untuk keperluan pelaporan
Archibald (1972) dan Kaplan & Roll (1972) yang tidak
menemukan reaksi harga saham selama bulan pengumuman laba
untuk perusahaan-perusahan yang merubah dari metode dipercepat
ke metode garis lurus tetapi tidak merubah metodenya untuk
keperluan pajaknya.
Sunder (1975) menguji perusahaan-perusahaan yang berpindah ke
metode persediaan LIFO. Untuk masa inflasi, perubahan ini akan
mengakibatkan penurunan laba yang dilaporkan tetapi
meningkatkan arus kas. Sunder menemukan positip excess return
seIama 12 bulan setelah pengumuman perubahan tersebut
Konsekuensi dari Regulasi
Beberapa pihak meregulasi pelaporan akuntansi di
Amerika Serikat, yaitu SEC dan FASB dengan FAS
dan APB opinion-nya. Regulasi ini mempunyai
konsekuensi dari biaya pelaporan akuntansi. Karena
mengandung biaya, efektifitas dari regulasi perlu
diperiksa. Riset tentang konsekuensi dari regulasi pada
dasarnya adalah menguji efektivitas dari regulasi yang
harus ditaati oleh perusahaan.
Contoh regulasi; SEC,1978 tentang keharusan
pengungkapan untuk perusahaan yang mengganti
auditornya dan pengungkapan terhadap tanggung jawab
sosial.

Relevansi Nilai
Kieso et al. (2007:33) agar memiliki relevansi nilai,
informasi akuntansi harus mampu membuat sebuah
keputusan. Jika tidak mempengaruhi keputusan, maka
informasi tersebut dikatakan tidak relevan terhadap
keputusan yang diambil.
Penelitian relevansi nilai menguji asosiasi antara harga
saham sebagai variabel dependen dan variabel
akuntansi. Angka akuntansi diistilahkan dengan
relevansi nilai jika berhubungan secara signifikan
dengan variabel dependen atau berhubungan dengan
nilai pasar ekuitas (Ohlson, 1995; dan Barth, 2000)

Signaling theory (Teori Sinyal)
Wolk, et al. (2001) teori sinyal menjelaskan alasan
perusahaan menyajikan informasi untuk pasar modal
Teori sinyal menunjukkan adanya asimetri informasi
antara manajemen perusahaan dan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan informasi tersebut. Teori sinyal
mengemukakan tentang bagaimana seharusnya
perusahaan memberikan sinyal-sinyal pada pengguna
laporan keuangan.


Signaling
Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana
seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal
kepada pengguna laporan keuangan.
Teori sinyal menjelaskan bahwa pemberian sinyal
dilakukan oleh manajer untuk mengurangi asimetri
informasi. Manajer memberikan informasi melalui
laporan keuangan bahwa mereka menerapkan
kebijakan akuntansi konservatisme yang menghasilkan
laba yang lebih berkualitas karena prinsip ini mencegah
perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan
laba dan membantu pengguna laporan keuangan
dengan menyajikan laba dan aktiva yang tidak
overstate.
.

Pengungkapan (Disclosure)
Pengungkapan (disclosure) didefinisikan sebagai
penyediaan sejumlah informasi yang dibutuhkan untuk
pengoperasian secara optimal pasar modal yang efisien
Hendikson, Breda, (1992).
Dalam interpretasi yang lebih luas, pengungkapan
terkait dengan informasi yang terdapat dalam laporan
keuangan maupun informasi tambahan (supplementary
communications) yang terdiri dari catatan kaki,
informasi tentang kejadian setelah tanggal pelaporan,
analisis manajemen tentang operasi perusahaan di masa
yang mendatang, prakiraan keuangan dan operasi, serta
informasi lainnya Wolk dan Tearney, (1997)

Transfer Informasi
Riset di area ini menginvestigasi respon harga saham
suatu perusahaan akibat pengungkapan atau
pengumuman informasi dari perusahaan lain. Bukti
yang ada menujukkan bahwa walaupun transfer
informasi antar perusahaan di industri yang sama
(intraindustry information transfers) terjadi tetapi
efeknya masih lemah. Contoh riset transfer informasi
adalah tentang pengumuman laba (Foster, 1981),
tentang peramalan laba oleh manajemen (Baginski,
1987; dan Han, Wild, and Ramesh, 1989) dan tentang
pengungkapan sukarela (Pownall and Waymire, 1989)
Kandungan Informasi Selain dari Laba
Laporan keuangan tidak hanya terdiri
dari laba akuntansi saja, tetapi terdiri dari
banyak informasi yang lainnya seperti
informasi arus kas dan komponen-
komponennya, informasi dividen dan
rasio-rasio keuangan dan lain sebagainya.
Pilihan Manajemen
Teori Akuntansi Positif (Kontrak)
Pengungkapan Sukarela (Voluntary Disclosure)
Konservatism dan Akuntansi
Manajemen Laba
Corporate Governance
Kepemilikan Manajerial/Insider Trading
Data Akuntansi Selain Laba sebagai
Pengukuran
Teori Akuntansi Positif (kontrak)
Teori Akuntansi Positif (PAT) (Watts and
Zimmerman 1978) memprediksi bahwa
penggunaan angka akuntansi dalam kontrak
kompensasi dan hutang serta proses politik
mempengaruhi pilihan akuntansi suatu
Contoh studi tentang kontrak kompensasi manajer untuk meminimalisir biaya-biaya
agensi (Smith dan Watts, 1982), pilihan akuntansi dapat memengaruhi kekayaan (Watts
dan Zimmerman, 1978), Biaya-biaya politik (Stigler, 1971; Peltzman, 1976), metode
akuntansi memengaruhi biaya-biaya organisasional (Watts, 1974, 1977)
Teori Akuntansi Positif (kontrak)
Watts and Zimmerman (1986) mengusulkan dua
buah hipotesis yang berhubungan dengan perspektif
di dalam teori akuntansi positifnya;
Hipotesis utang/ekuitas (debt/equity hypothesis)
Hipotesis ukuran perusahaan (size hypothesis) atau
disebut juga dengan hipotesis kos politik (political cost
hypothesis).
Hipotesis utang/ekuitas
Hipotesis utang/ekuitas menyatakan bahwa
perusahaan cenderung untuk menurunkan rasio
utang/ekuitas dengan cara meningkatkan laba
sekarang dengan menggeser dari laba-laba
periode besok
Motivasi perusahaan melakukan ini adalah
untuk menghindari kedekatan terhadap
kovenan utang dan untuk mendapatkan suku
bunga pinjaman yang lebih rendah, karena
semakin rendah rasio utang/ekuitas semakin
rendah risiko kebangkrutan perusahaan.
Hipotesis ukuran perusahaan
Hipotesis ukuran perusahaan atau hipotesis kos politik menyatakan
bahwa perusahaan cenderung untuk menurunkan laba sekarang
dengan menggeser ke laba-laba periode besok. Motivasi
perusahaan melakukan ini misalnya adalah untuk menghindari
tekanan politik seperti menghindari tuduhan monopoli dengan
menunjukkan bahwa laba perusahaan tidak berlebihan seperti yang
dicurigai
Ini juga digunakan untuk melobi ke konggres untuk memproteksi
industri dari barang impor yang menyebabkan keuntungan industri
merosot, menghindari tuntutan serikat kerja dengan menunjukkan
bahwa laba perusahaan menurun dan lain sebagainya
Motivasi lain perusahaan melakukan earnings management adalah
untuk perataan laba (income smoothing).
Tujuan dari perataan laba ini adalah untuk membuat risiko
perusahaan lebih kecil dengan membuat fluktuasi laba menjadi
rendah.
Pengungkapan Sukarela
Pengakuan versus Pengungkapan (mungkin tidak
sukarela)
Peramalan manajemen panduan ekpektasi pasar
investor, analis, dll.)
Kabar buruk biasanya diungkapkan segera (Skinner
1994)
Mengurangi ancaman litigasi
Kabar baik mungkin disimpan untuk laba kejutan
(Soffer et al. 2000)
Mengurangi biaya pengungkapan
Waktu mungkin termotivasi oleh insider trading (Noe
1999)
Laba Pro Forma (Doyle et al., 2003)
Konservatisme dan Akuntansi
Apakah F/S menjadi lebih informatif terkait
pendapatan ekonomi saat ini (yaitu, perubahan nilai
pasar) jika GAAP diubah untuk mengizinkan
manajer dapat memanfaatkan pengeluaran R & D?
Perlakuan akuntansinya
pengakuan kerugian segera, sementara menunda
keuntungan
Pilihan yang menghasilkan lebih rendah laba bersih dan /
atau aset
Example: Ahmed et al. (2002) dengan rumus Rasio nilai buku terhadap nilai pasar, Givoly
dan Hayn (2000) dengan cara pendapatan bersih sebelum item-item luar biasa dan depresiasi
dikurangi cash flow operasi
Manajemen Laba
Schipper (1989) mendefinisikan manajemen
laba sebagai "intervensi terarah dalam proses
pelaporan eksternal dengan maksud
memperoleh beberapa keuntungan pribadi
kepada manajer atau pemegang saham."
(perataan)
Dapat berupa peningkatan-penurunan laba
(Healy 1985)
Manajemen Laba (lanjutan)
Penggunaan model discretionary accruals untuk
proksi manajemen laba
Tidak ada model terbaik untuk discretionary
accruals (Jones 1991, Dechow et al 1995)
Berhubungan dengan kinerja dan pertumbuhan
Bias item non transitory (Collins and Hribar 2000)
Diperbaiki dengan model terbaru

Tata Kelola Perusahaan
(Corporate Governance)
Apakah perbedaan dalam struktur tata kelola
perusahaan mempengaruhi tingkat asimetri
informasi di pasar modal dan, pada gilirannya,
mempengaruhi waktu dan kekuatan hubungan
antara return sekuritas dan informasi laba?
Tidak ada pengukuran terbaik
Hak pemegang saham (Gompers et al., 2003)
Karakteristik Dewan (Klein 1998)
Kepemilikan Manajerial/Insider Trading
Apakah kepemilikan manajerial
mempengaruhi keinformatifan angka
akuntansi karena pemisahan kepemilikan
perusahaan dan kontrol?
Warfield, Wild and Wild (1995) menunjukkan
kepemilikan manajerial secara positif
berhubungan dengan kekuatan penjelas laba
untuk return dan berbanding terbalik dengan
besarnya penyesuaian akuntansi akrual
Data Akuntansi Selain Laba sebagai
Pengukuran
Beberapa riset menguji data akuntansi selain laba
"bottom line" dalam hubungannya dengan kinerja
perusahaan. Data akuntansi ini misalnya adalah data
arus kas yang digunakan untuk memprediksi laba di
masa mendatang. Data akuntansi lainnya yang banyak
digunakan adalah dalam bentuk rasio. Altman (1968)
menggunakan rasio-rasio keuangan untuk
memprediksi kebangkrutan perusahaan.
Peneliti lainnya menggunakan rasio-rasio akuntansi,
misalnya leverage sebagai proksi kedekatan dengan
kovenan. Data akuntansi lain yang digunakan sebagai
alternatif laba yang mulai banyak diteliti adalah EVA
(economic value added).

Analis Informasi Akuntansi
Penggunaan informasi yang lebih luas dari
sekadar mengatur angka akuntansi untuk
meramalkan kinerja masa depan
Model ekspektasi untuk laba mendatang
Lebih akurat dibandingkan dengan model time
series (Brown et al., 1987)
Konsensus: Rata-rata versus penyebaran
Urutan revisi (Trueman 1994)

Analis Informasi Akuntansi (Lanjutan)
Kelemahan-sebelumnya berpikir bahwa
optimisme dalam prakiraan analis karena
kontrak kompensasi (McNichols and OBrien
1997)
Analis belajar dari bukti bias masa lalu (Clement,
1999)
Insentif telah berubah Incentives have changed
Kualitas data peramalan analisis telah meningkat
Standar Akuntansi/Regulasi
FASB, IASB, SEC, Sarbanes Oxley
Isu: laporan keuangan multi-tujua
Perspektif Informasi vs Stewardship
Pertanyaan riset-
Apakah angka F/S telah dibuat menurut standar baru dan
menyampaikan informasi baru ke pasar?
Apakah angka F/S disusun berdasarkan standar baru yang lebih tinggi
terkait dengan return saham dan harga?
Apa konsekuensi ekonomi penerbitan standar baru?
Memfasilitasi perbandingan antar standar (IFRS vs lokal GAAP)
Topik-topik Metodologi

Beberapa isu metodologi mulai muncul di
tahun 1980-an untuk perbaikan metodologi
yang ada. Isu-isu metodologi ini diambil dari
Beaver (1982), Bernard (1989) dan Kothari
(2001). isu-isu metodologi dapat
dikelompokkan kedalam empat hal, yaitu:
Isu di spesifikasi model
isu peningkatan power of the test di studi peristiwa.
Isu tentang properti time series dari laba.
Isu tentang bias di statistik.