Anda di halaman 1dari 20

BETA BLOCKER

Reseptor Beta
Obat-obat penyekat reseptor beta ( blocker) bekerja pada reseptor beta yang
merupakan kelompok reseptor adrenergik. Reseptor ini merupakan reseptor yang terkait
dengan protein G sehingga disebut G protein-coupled receptors (GPCRs). Protein reseptor
memiliki ujung N (nitrogen) yang berada di luar sel, melintasi membran 7 kali (bagian
transmembran) sehingga membentuk 3 lengkungan di dalam dan 3 lengkungan di luar
membran, dan memiliki ujung karboksil yang terdapat di dalam sel. Masing-masing protein G
terdiri atas 3 protein (heterotrimer) yaitu sub-unit , , dan . Molekul efektor protein G pada
reseptor beta adrenergik ( Gs) adalah enzim adenilil siklase. Mekanisme kerja obat pada
reseptor beta adalah pertama dengan berikatan dengan reseptor beta, hal ini akan
mengaktifkan protein G . Subunit pada protein G akan melepaskan diri kemudian berikatan
dengan enzim adenilil siklase. Ikatan sub unit alfa dengan adenilil siklase akan mengaktifkan
enzim ini dan selanjutnya akan dihasilkan siklik AMP (cAMP). Senyawa cAMP merupakan
suatu caraka kedua (second messenger) yang salah satu aksinya adalah menyebabkan
pembukaan kanal kalsium sehingga meningkatkan laju dan kekuatan kontraksi dari miokard
(inotropik positif) dan meningkatkan reuptake kalsium ke dalam reticulum sitoplasma (efek
relaksasi atau lusitropik). Pada nodus sinus, arus listrik pace maker meningkat (kronotropik
positif), sementara laju konduksi juga meningkat (dromotropik). Efek pemberian penyekat
beta tergantung bagaimana dia diabsorpsi, ikatan dengan protein plasma, pembentukan
metabolit, dan seberapa luas dia dapat menghambat reseptor beta.
Reseptor beta terdiri atas 3 klas yaitu 1, 2 dan 3. Reseptor 1 terdapat di jantung dan
sel jukstaglomerular ginjal bekerja dengan cara meningkatkan kontraksi otot jantung dan
meningkatkan laju kontraksi jantung. Sementara itu di ginjal reseptor ini bekerja
meningkatkan pelepasan rennin di sel jukstaglomerular ginjal. Reseptor 2 terdapat pada otot
polos saluran nafas, uterus, dan pembuluh darah. Stimulasi reseptor ini akan menyebabkan
relaksasi otot polos. Reseptor 3 terdapat pada sel-sel lemak dan stimulasinya akan
menyebabkan terjadinya lipolysis.
Respon tekanan darah terhadap agonis beta reseptor tergantung kepada efeknya yang
bertolak belakang pada jantung dan pembuluh darah. Stimulasi reseptor beta pada jantung
meningkatkan cardiac output dengan cara merangsang kontraktilitas dan dengan cara
stimulasi langsung nodus SA untuk meningkatkan laju denyut jantung. Agonis beta juga
menurunkan resistensi perifer dengan cara mengaktifkan reseptor 2, sehingga terjadi
vasodilatasi pada pembuluh darah tertentu. Isoproterenol adalah suatu agonis yang non
selektif, ia mengaktifkan baik reseptor 1 maupun 2. Efek bersih dari stimulasi ini adalah
mempertahankan atau sedikit meningkatkan tekanan sistolik dan menurunkan tekanan
diastolik sehingga tekanan darah rata-rata menjadi menurun.
Pada jantung, efek langsung stimulasi reseptor beta ditentukan oleh reseptor 1,
meskipun reseptor 2 dan juga terlibat. Stimulasi reseptor akan menyebabkan
peningkatan masuknya kalsium ke dalam sel jantung. Hal ini akan memberikan konsekuensi
elektrik maupun mekanik. Aktivitas pacu jantung (pace maker) baik normal (nodus SA)
maupun abnormal (misalnya serabut purkinye) ditingkatkan (efek kronotropik positif).
Kecepatan konduktivitas nodus atrioventrikular (AV) meningkat (efek dromotropik positif)
dan periode refrakter menurun. Kontraktilitas intrinsik meningkat dan masa relaksasi
dipercepat. Sehingga pada jantung akan terjadi peningkatan tekanan intraventrikuler yang
kemudian turun secara cepat, dan waktu ejeksi yang menurun. Efek langsung ini akan mudah
terlihat pada keadaan tidak adanya refleks yang dihasilkan oleh perubahan tekanan darah
seperti pada pasien yang menjalani pemblokiran ganglionik. Pada kondisi adanya aktivitas
refleks normal, efek langsung pada frekuensi jantung dapat didominasi oleh oleh respons
refleks terhadap perubahan tekanan darah. Stimulasi fisiologik jantung oleh katekolamin
cenderung meningkatkan aliran darah koroner.

Reseptor adrenergik dan reseptor adrenergik. Reseptor ini bekerja melalui pengaktifan
protein G yang kemudian mengaktifkan enzim adenil siklase. Pengaktifan adenil
siklase selanjutnya akan menyebabkan efek biologis pada sel.
Obat-obat Penyekat reseptor beta adrenergik
Obat-obat penyekat reseptor memiliki ciri utama yaitu melawan efek katekolamin
pada adrenoseptor . Obat-obatan ini menempati reseptor dan secara kompetitif menurunkan
jumlah pengikatan reseptor ini oleh katekolamin dan agonis yang lain. Sebagian besar
penyekat murni sebagai antagonis, yang mana dengan menempati reseptor menyebabkan
hilangnya aktivitas reseptor. Namun demikian, beberapa dari obat-obat ini bersifat agonis
parsial yang mana obat ini menyebabkan aktivasi parsial yang lebih lemah dibandingkan
epinefrin atau isoproterenol. Karakteristik beta blocker berdasarkan farmakologinya dapat
dilihat pada table dibawah.


Selektifitas relatif antagonis adrenoseptor
RhYmxlPjx0YWJs

selektifitas Aktivitas
agonis
parsial
Kerja
anestetik
lokal
Kelarutan
dalam
lipid
Waktu
paruh
Bioavailibilitas
(%)
Acebutolol
Atenolol
Betaxolol
bisoprolol
Carteolol
Carvedilol
1

Celiprolol
Esmolol
Labetalol
1

Metoprolol
Nadolol
Nebivolol
Penbutolol
Pindolol
Propanolol
Sotalol
Timolol
1
1
1
1
tidak
tidak
1
1
tidak
1
tidak
1
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

ya
tidak
tidak
tidak
ya
tidak
ya
tidak
ya
tidak
tidak
?
2

ya
ya
tidak
tidak
tidak
ya
tidak
ringan
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
ya
ya
tidak
tidak
tidak
ya
ya
tidak
tidak
rendah
rendah
rendah
rendah
rendah
sedang
rendah
rendah
rendah
sedang
rendah
rendah
tinggi
sedang
tinggi
rendah
sedang
3-4 jam
6-9 jam
14-22
jam
9-12
jam
6 jam
7-10
jam
4-5 jam
10 menit
5 jam
3-4 jam
14-24
jam
11-30
jam
5 jam
3-4 jam
3,5-6
50
40
90
80
85
25-35
70
0
30
50
33
NF
3

>90
90
30
4

90
50
jam
12 jam
4-5 jam
Keterangan:
1
Juga menyebabkan blokade reseptor 1
2
Tidak ditentukan
3
Tidak ditemukan
4
Biavailibilitas tergantung dosis



Seperti telah diutarakan sebelumnya bahwa agonis parsial menghambat aktivasi
reseptor pada kondisi kadar katekolamin tinggi namun agak mengaktifkan reseptor bila dalam
kondisi tidak ada agonis parsial. Akhirnya bukti-bukti menunjukkan bahwa beberapa beta
blocker tertentu (seperti: betaxolol, metoprolol) merupakan suatu agonis terbalik yaitu obat
yang menurunkan aktivitas konstitutif reseptor pada beberapa jaringan. Namun demikian
kemaknaan klinik dari sifat ini belum diketahui. Obat-obat penyekat reseptor berbeda dalam
hal afinitas relatifnya untuk 1 atau 2, dan selektifitas ini dapat memiliki implikasi klinik.
Disebabkan tak satupun antagonis reseptor yang tersedia yang memiliki sifat spesifik mutlak
terhadap reseptor 1, selektifitas tersebut berhubungan dengan dosis, dan cenderung
menghilang pada kadar obat tinggi. Perbedaan utama yang lain diantara antagonis
berhubungan dengan sifat farmakokinetik dan efek stabilisasi-membran anestetik lokal.

Absorpsi.
Sebagian besar obat-obatan ini dapat diabsorpsi dengan baik diusus, puncak kadar di dalam
plasma tercapai sekitar 1-3 jam. Saat ini juga tersedia beberapa sediaan lepas lambat dari
jenis propanolol dan metoprolol.

Bioavalibilitas
Propanolol di dalam hati menjalani metabolisme yang ekstensif oleh karena itu
bioavailabilitasnya menjadi relatif rendah. Proporsi obat yang mencapai sirkulasi meningkat
sesuai peningkatan dosis, hal ini menunjukkan bahwa mekanis ekstraksi hati dapat menjadi
jenuh. Konsekuensi utama dari rendahnya bioavailabilitas propanolol setelah pemberian oral
adalah kadar obat ini pada pemberian oral dapat sangat kecil dibandingkan dengan pemberian
intravena. Namun demikian terdapat variasi individual dalam hal kadar plasma yang dapat
dicapai setelah pemberian oral.

Distribusi dan Pembersihan
Obat-obat antagonis didistribusikan secara cepat dan memiliki volume distribusi
yang besar. Propanolol dan penbutolol merupakan obat yang agak lipofilik dan dapat
melintasi sawar otak. Sebagian besar antagonis memiliki waktu paruh 3-10 jam. Sebuah
pengecualian adalah esmolol, yang mana cepat mengalami hidrolisis dan memiliki waktu
paruh yang sangat pendek (10 menit). Propanolol dan metoprolol mengalami metabolism hati
yang luas, dengan sedikit obat dapat ditemukan di dalam urin. Genotipe sitokrom P450 2D6
(CYP2D6) merupakan penentu utama adanya perbedaan antar individu dalam hal bersihan
plasma metoprolol. Individu yang kurang memetabolisms obat ini menunjukkan 3 -10 kali
lipat lebih kadar plasma obat dibandingkan dengan pada pasien dengan kemampuan
metabolisme luas. Atenolol, celiprolol dan pindolol merupakan obat-obat yang dimetabolisir
kurang lengkap. Nadolol disekresikan tanpa ada perubahan di urin dan memiliki waktu paruh
terpanjang dari sediaan yang ada (lebih dari 24 jam). Waktu paruh nadolol mengalami
pemanjangan pada gagal ginjal. Eliminasi obat-obat seperti propanolol dapat mengalami
pemanjangan pada pasien penyakit hati, berkurangnya aliran darah hati atau inhibisi enzim
hepatik. Sebagai catatan bahwa efek farmakodinamik dari obat-obat ini terkadang
memanjang di atas waktu yang diprediksi dari data waktu paruh.

Efek kardiovaskuler blocker
Obat golongan blocker mulanya didisain oleh pemenang hadiah nobel Sir James
Black untuk melawan efek samping kardial dari stimulasi adrenergik karena meningkatkan
kebutuhan oksigen dan memperburuk angina. Hasil risetnya menghasilkan prototype beta
blocker yaitu propanolol. Penemu ini menunjukkan bahwa dengan menyekat reseptor beta
jantung, obat ini dapat menginduksi efek inhibisi terhadap nodus sinoatrial, nodus
atrioventrikular dan kontraksi miokard. Ini yang kemudian secara berurutan dikenal dengan
kronotropik negative, dromotropik negative, dan ionotropik negative.

Efek kardiak obat-obat penyekat reseptor pada tingkat nodus SA, AV
dan miokard.

Meskipun obat-obat penghambat reseptor beta ini menyebabkan vasokontriksi
koroner melalui peningkatan resistensi vaskuler koroner. Namun pemanjangan waktu
pengisian diastolik yang diakibatkan oleh obat ini menyebabkan penurunan denyut jantung
pada waktu olahraga, sehingga menyebabkan perfusi miokard yang lebih baik. Sehingga
secara umum memberikan manfaat terapi terhadap myokard.

Interaksi obat dengan beta blocker
Interaksi farmakodinamik dapat diprediksi dan terjadi pada saat obat beta blocker
dikombinasikan dengan obat yang menekan nodus SA atau AV atau dengan obat yang
memiliki kerja inotropik negative lain. Interaksi farmakokinetik umumnya terjadi pada
tingkat metabolism di hati. Simetidin menurunkan aliran darah ke hati dan meningkatkan
kadar beta blocker di dalam darah, terutamanya untuk yang dimetabolisme di dalam hati
yaitu propanolol. Verapamil dapat menghambat pemecahan metoprolol dan propanolol, dan
juga beta blocker lain yang dimetabolisme di hati. Untuk menghindari interaksi ini, secara
sederhana dapat digunakan beta blocker yang tidak dimetabolisme di hati. Beta blocker juga
dapat menekan aliran darah hati sehingga kadar lidokain di dalam darah akan meningkat
sehingga dapat meningkatkan toksisitas terhadap lidokain.

Kontraindikasi penggunaan beta blocker
Kontraindikasi absolute beta blocker dapat disimpulkan berdasarkan profil
farmakologis efek dan efek samping beta blocker. Kontraindikasi absolut jantung meliputi
bradikardi berat, AV block derajat tinggi, sindroma sinus sick, kegagalan ventrikel kiri yang
nyata, kecuali bila ditangani secara konvensional dan stabil. Sementara itu kontraindikasi
paru adalah asma yang jelas, bronkospasme berat, tergantung dari beratnya penyakit dan
kardioselektivitas beta blocker yang digunakan, hal ini dapat menjadi kontraindikasi absolute
atau relatif. Kontraindikasi system saraf pusat adalah depresi berat (khususnya propanolol).
Secara terperinci kontraindikasi beta blocker dapat dilihat pada tabel berikut.

Kontraindikasi dan Perhatian pada Penggunaan Beta blocker
Jantung
Absolut:
Bradikardi berat, block jantung derajat tinggi, syok kardiogenik, gagal ventrikel kiri yang
tidak dalam pengobatan.
Relatif:
Kontraindikasi dan Perhatian pada Penggunaan Beta blocker-lanjutan

Angina Prinzmetal, pengobatan yang menekan nodus SA dan AV dosis tinggi (verapamil,
diltiazem, digoksin, agen antiaritmik): pada angina hindari penghentian mendadak.
Paru
Absolut:
Asma berat dan bronkospasme. Tak seorangpun dapat diberikan beta blocker tanpa
anamnesis tentang riwayat asma. Pengabaian terhadap aturan ini dapat berakibat fatal.
Relatif:
Asma, bronkospasme atau penyakit saluran nafas ringan. Berikanlah obat-obat selektif yang
disertai stimulan 2 (inhalasi)



Sistem saraf pusat
Absolut:
Depresi berat (hindari propanolol)
Relatif:
Gangguan mimpi: hindari agen yang larut dalam lemak dan pindolol; hindari pemberian di
malam hari. Halusinasi visual: beralih dari propanolol. Fatigue (semua agen). Apabila low
cardiac output adalah penyebab fatigue, coba betablocker vasodilator. Impotensia dapat
terjadi (cek penggunaan diuretik; pertimbangkan untuk beralih ke ACE inhibitor atau ARB).
Obat-obat psikotropika (yang dapat meningkatkan adrenergik) dapat berinteraksi dengan
beta-blocker.

Pembuluh darah perifer, fenomena Rainaud
Absolut:
Penyakit aktif: ganggren, nekrosis kulit, klaudikasio berat atau memburuk, nyeri pada saat
istirahat.
Relatif:
Ekstremitas dingin, pulsasi yang menghilang, fenomena Raynaud. Hindari agen nonselektif
(propanolol, sotalol, nadolol); pilihlah agen vasodilator.

Diabetes melitus
Relatif;
Diabetes yang membutuhkan insulin: agen nonselektif menurunkan reaksi terhadap
hipoglikemi; gunakan agen yang selektif. Sebagai catatan terdapat penggunaan yang berhasil
dari atenolol pada pasien DM tipe 2 pada uji klinis yang dilakukan di UK.

Sindroma Metabolik
Beta blocker dapat meningkatkan kadar gula darah 1.0-1,5 mmol/L dan mengganggu
sensitifitas insulin khususnya pada yang disertai dengan diuretik, maka perlu dilakukan
kontrol gula darah dan hindari kombinasi.

Gagal ginjal
Relatif:
Apabila ditemukan penurunan aliran darah ke ginjal, kurangi dosis obat yang dihancurkan di
ginjal.

Penyakit Hati
Relatif:
Hindari agen yang banyak dibersihkan dihati (propanolol, carvedilol, timolol, acebutolol,
metoprolol). Gunakan agen yang sedikit mengalami pembersihan di hati (atenolol, nadolol,
sotalol). Apabila protein plasma menurun, kurangi dosis agen yang banyak terikat protein
(pindolol, propanolol, bisoprolol).

Hipertensi pada Kehamilan
Penggunaan beta blocker mengalami peningkatan namun mungkin dapat menekan tanda-
tanda vital neonatus dan menyebabkan vasokontriksi rahim. Labetolol dan atenolol adalah
obat yang diujicoba dengan sangat baik. Obat yang lebih dianjurkan adalah metildopa.

Operasi pembedahan
Lebih dianjurkan penggunaan esmolol. Gunakan atropine untuk bradikardi dan beta agonis
untuk hipotensi berat.












DAFTAR PUSTAKA


1. Flaherty JD, Bax JJ, Luca LD, et al. Acute Heart Failure Syndromes in Patients With
Coronary Artery Disease Early Assessment and Treatment. J Am Coll Cardiol 2009;
53:25463.
2. Ezekowitz JA, Hernandez AF, Starling RC, et al. Standardizing care for acute
decompensated heart failure in a large megatrial: The approach for the Acute Studies of
Clinical Effectiveness of Nesiritide in Subjects with Decompensated Heart Failure
(ASCEND-HF). Am Heart J 2009;157:219-28.
3. Laothavorn P, Hengrussamee, K, Kanjanavanit, R, et al. Thai Acute Decompensated Heart
Failure Registry (Thai ADHERE). CVD Prevention and Control 2010; 5: 8995.
4. Hollister A, Neubauer S, Richard D, et al. Use of beta blocker in heart failure. Medicines
Advisory Committee. Oxford Radcliffe Hospitals 2002;3(5): 1-2.
5. Jondeau G, Neuder Y, Eicher JC, et al. B-CONVINCED: Beta-blocker CONtinuation
Vs.interruption in patients with Congestive heart failure hospitalizED for a
decompensation episode. European Heart Journal 2009; 30: 2186-92.
6. Biaggioni I, Robertson D. Adrenoceptor agonist & sympathomimetic drugs.In: Katzung
BG, Master SB , Trevor AJ, editor. Basic and clinical pharmacology, 11th ed . McGraw
Hill: 2009; 127-148.
7. Opie LH, Wilson PAP. Beta blocking agent. In: Opie LH, Gersh BJ, editors. Drug of the
heart, 6th ed. Elsivier: 2006; 1-32
8. Robertson D, Biaggioni I. Adrenoceptor antagonist drugs. In: Katzung BG, Masters SB,
Trevor AJ, editors. Basic and clinical pharmacology. McGraw Hill Medical: 2009; 149-
66.
9. Teerlink JR. Diagnosis and management of acute heart failure. In: Libby P, editor.
Braunwalds's Heart Disease. WB Saunders Elsevier: 2008; 583-610.
10. Nieminen MS, Bohm M, Chowie MR, et al. Guidelines on diagnosis and treatment of
acute heart failure. The European Society of Cardiology, 2005.
11. Khan SS, Gheorghiade M, Dunn JD, et al. Managed Care Interventions for Improving
Outcomes in Acute Heart Failure Syndromes. Am J Manag Care. 2008; (supl) 14: S273-
86.
12. Abraham WT, Adams KF, Fonarow GC, et al. In-Hospital Mortality in Patients With
Acute Decompensated Heart Failure Requiring Intravenous Vasoactive Medications: An
Analysis From the Acute Decompensated Heart Failure National Registry (ADHERE). J
Am Coll Cardio 2005; 46: 57-64.
13. Manurung D. Gagal Jantung Akut. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, editor. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam . Penerbit FKUI: 2006; 1505-10.
14. Fuster V, Rourke RA, Wilson PP, et al. Hurst's the heart, 12 ed. Philadelphia: McGraw
Hill; 2008.
15. Vahanian A, Camm J, Dean V, et al. ESC guideline desk reference. London: Lippincott
William & Wilkins; 2008.
16. Domanski MJ, , Steinrauf HK, Massie BM, et al. A Comparative Analysis of the Results
From 4 Trials of b-Blocker Therapy for Heart Failure: BEST, CIBIS-II,MERIT-HF, and
COPERNICUS. J of Cardiac Failure, 2003: 9;354-63.
17. Vielma LL, Mendoza HC, Donis JH, et al. Acutely decompensated systolic heart failure:
Effects of frequent doses of furosemide vs a single dose plus carvedilol on clinical status,
neurohormonal activation and ventricular arrhythmias. ijcard 2009: 28; 302-4.
18. Fonarow GC, Abraham WT, Albert NM, et al. Influence of Beta-Blocker Continuation
or Withdrawal on Outcomes in Patients Hospitalized With Heart Failure. J of the Am Coll
Cardiol 2008;52(3):190-9.
19. Swedberg K. b-Blockers in worsening heart failure. European Heart Journal 2009;
30;2177-79.




Blocker

Adrenoseptor dibagi menjadi dua tipe utama, yaitu reseptor dan reseptor .
Reseptor memperantarai efek eksitasi dari amina simpatomimetik, sementaraefek
inhibisinya secara umum diperantarai oleh reseptor (kecuali pada otot polos usus, dimana
stimulasi merupakan inhibisi dan pada jantung, dimana stimulasi merupakan eksitasi).
Adrenoseptor tidak bersifat homogen, sebagai contoh norepinefrin merupakan stimulan
yang efektif untuk reseptor pada jantung, tetapi hanya sedikit berpengaruh atau tidak
berpengaruh sama sekali pada resptor yang memperantarai vasodilatasi.
Obat-obat yang menghalangi pengikatan norepinefrin dan epinefrin (adrenalin) pada
reseptornya di syaraf simpatis, khususnya reseptor disebut juga dengan blocker. Hal ini
menghambat efek simpatik normal yang bertindak melalui reseptor tersebut. blocker
bersifat mengurangi atau menghilangkan efek stimulasi pada reseptor beta oleh katekolamin
(noradrenalin dan adrenalin) yang dihasilkan pada ujung postganglion saraf simpatik dan
pada medula suprarenalis. Oleh karena itu blocker termasuk obat simpatolitik. blocker
disebut juga dengan -adrenergic blocking agents. Pemakaian blocker dapat
memperlambat atau menurunkan frekuensi denyut jantung, mengurangi kontraksi otot
jantung, menurunkan kontraksi pembuluh darah di jantung, otak, serta dapat mengurangi
produksi zat berbahaya yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respon terhadap gagal jantung.
blocker mengurangi produksi dari aqueous humor dalam mata dan oleh karenanya digunakan
untuk mengurangi tekanan dalam mata yang disebabkan oleh glukoma.
blocker dapat diberikan pada pasien dengan aritmia jantung, takikardia dan irama
jantung yang tidak teratur, seperti denyut prematur ventrikel. Juga dapat digunakan untuk
mengobati angina karena dapat menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung. Angina pectoris
terjadi ketika kebutuhan jantung akan oksigen lebih besar dari pasokan yang tersedia. Beta-
blocker juga digunakan untuk mencegah sakit kepala migrain dan beberapa golongan
penyakit tremor.
Berdasarkan dari jenis reseptor beta yang dihalangi dan efek yang ditimbulkan, beta-
bloker dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
1. Non-selektif beta bloker cotohnya propanolol (Inderal), yang fungsinya
menghalangi beta-1 dan beta-2 reseptor. Efek yang ditimbulkan akan
mempengaruhi jantung, pembuluh-pembuluh darah, dan saluran-saluran
pernafasan.
Diciptakan oleh Sir James W. Black pada akhir 1950-an, Propranolol merupakan
beta bloker penggunaan klinis pertama, itu merevolusi pengelolaan medis angina
pektoris dan dianggap sebagai salah satu kontribusi paling penting klinis
Kedokteran dan farmakologi abad ke-20.
2. Selektif beta bloker contohnya metoprolol (Lopressor, Toprol XL) yang
memiliki fungsi menghalangi beta-1 reseptor dan oleh karenanya kebanyakan
mempengaruhi jantung dan tidak mempengaruhi saluran-saluran pernafasan.
3. Dan beberapa beta bloker contohnya pindolo (Visken) mempunyai Intrinsic
Sympahtomimetic Activity (ISA), yang berarti meniru efek-efek dari epinefrin
dan norepinefrin serta dapat menyebabkan peningkatan dalam tekanan darah dan
denyut jantung. Beta-bloker dengan ISA mempunyai efek-efek yang lebih kecil
pada denyut jantung daripada agen-agen yang tidak mempunyai ISA.
4. Labetalol dan carvedilol menghalangi beta dan alfa-1 reseptor. Menghalangi alfa
reseptor menambah pada pembuluh darah efek yang melebarkan.




Macam-macam beta-blocker
Kardioselektif dengan sifat ISA : Practolol
Tanpa sifat ISA : Metoprolol
Atenolol
Bevantolol

Non-kardioselektif dengan sifat ISA : Oxprenolol
Alprenolol
Pindolol
Tanpa sifat ISA : Propanolol
Timolol

Beta blocker bervariasi dalam hal kelarutan dalam lemak dan kardioselektifitasnya.
Akan tetapi, kesemuanya memblok reseptor beta-1 dan sama efektifnya dalam menurunkan
tekanan darah dan mencegah angina. Obat yang lebih larut lemak akan lebih cepat diabsorbsi
dalam usus, lebih banyak mengalami metabolisme lintas pertama dalam hati, dan lebih cepat
dieliminasi. Obat tersebut juga lebih mungkin menembus otak dan menyebabkan efek sentral
(misalnya mimpi-mimpi buruk). Kardioselektifitasnya relatif dan berkurang dengan
peningkatan dosis. Akan tetapi, blokade beta-1 selektif sendenrung menyebabkan
vasokonstriksi perifer yang lebih ringan dan tidak mengurangi respons hipoglikemia yang
diinduksi oleh olahraga. Obat kardioselektif bisa mempunyai aktifitas beta-2 yang cukup
untuk mempresipitasi bronkospasme berat pada pasien asma dan mereka harus menghindari
penggunaan beta bloker.
Generasi pertama dari beta-blocker merupakan non-selektif beta-blocker, yang berarti
bahwa mereka diblokir baik oleh 1 dan 2 adrenoseptor. Generasi kedua beta-blocker lebih
cardioselective yang artinya relatif selektif untuk 1 adrenoseptor. Dengan catatan bahwa
selektivitas relatif ini dapat hilang pada dosis obat yang lebih tinggi. Akhirnya, generasi
ketiga beta-blocker adalah obat yang juga memiliki tindakan vasodilator melalui blokade
pembuluh darah alpha-adrenoseptor.
Mekanisme kerja blocker tidak dimengerti dengan jelas. Yang sekarang diketahui
adalah obat ini menyebabkan penurunan curah jantung, dengan refleks baroreseptor tidak
mengompensasi secara penuh, dan kemudian reseptor barorefleks ini diatur kembali, dan
dengan demikian resistensi perifer turun. Hipotesis lainnya adalah obat blocker memiliki
efek sentral, yang mengubah tonus simpatis atau dengan menghambat pelepasan renin dari
ginjal.
Efek samping dari beta-bloker dapat mencakup, antara lain:
1. Bronko spasme, beta-bloker non-kardioselektif dan tanpa mengandung sifat AIS
sering menyebabkan spasme bronkhus pasa pasien dengan riwayat asma bronkial
atau penyakit paru-paru kronik.
2. Bradikardi, semua beta-bloker terutama yang tidak mengandung sifat AIS
menyebabkan penurunan denyut jantung kira-kira 10-15%.
3. Payah jantung, beta-bloker non-kardioselektif dan tanpa mengandung AIS dapat
menyebabkan payah jantung pada pasien yang sudah menderita gangguan faal
jantung.
4. Gangguan susunan saraf pusat, beta-bloker yang larut lemak seperti propanolol
dapat menyebabkan gangguan susunan saraf pusat seperti agitasi, insomnia, dan
depresi
5. Gangguan saluran pencernaan, semua beta-bloker menyebabkan iritasi lambung,
diare atau konstipasi pada pasien tertentu, indvidual.


Penggunaan Pada Angina Pectoris
Angina pectoris merupakan gejala yang terjadi karena ketidak seimbangan antara
kebutuhan oksigen miokard dengan penyediaan oksigen, umumnya oleh karena berkurangnya
aliran darah melalui sistem koroner, karena meningkatnya kerja ventrikel kiri maka
kebutuhan oksigen akan meningkat. Beta-bloker mengurangi kerja ventrikel kiri dengan cara
mengurangi kekuatan kontraksi miokard, mengurangi kecepatan denyut ventrikel, serta
mengurangi tahanan sistole ventrikel kiri. Pada keadaan angina yang disertai dengan
kegagalan jantung yang membahayakan, dapat diberikan digitalis kombinasikan dengan beta-
bloker.

Penggunaan Pada Hipertensi
Para peneliti telah sependapat bahwa beta-bloker efektif menurunkan tekanan darah
pada hipertensi esensial. Aspek lain peranan beta-bloker untuk terapi hipertensi, disinyalir
beta bloker dapat mencegah penyulit-penyulit vaskuler stroke atau infark miokard. Golongan
beta-bloker merupakan salah satu obat antihipertensi yang diduga dapat menekan plasma
renin. Blokade reseptor beta-1 dalam sel jukstaglomerolus ginjal mungkin terlibat, tetapi
beta-bloker hanya efektif pada pasien dengan kadar renin normal atau bahkan rendah.

Mekanisme Beta-bloker Pada Pasien Asma
bloker non selektif bekerja dengan cara memblok seluruh reseptor yang terdapat
pada otot polos. Reseptor berdasarkan perbedaan selektivitas berbagai agonis dan
antagonisnya masih dibedakan lagi menjadi 2 subtipe yang disebut 1 dan 2. Reseptor 1
terdapat di jantung dan sel-sel jukstaglomeruler, sedangkan reseptor 2 pada bronkus,
pembuluh darah, saluran cerna dan saluran kemih-kelamin, selain itu juga terdapat di otot
rangka dan hati. Aktivasi reseptor 1 menimbulkan perangsangan jantung dan peningkatan
sekresi renin dari sel jukstaglomerular. Sedangkan aktivasi 2 menimbulkan relaksasi otot
polos dan glikogenesis dalam otot rangka dan hati.Dari tabel tersebut, dapat dilihat bahwa
adanya perangsangan adrenergik pada reseptor dapat menyebabkan denyut jantung
meningkat, kontraktilitas otot jantung meningkat, dan dilatasi pada ateriola dan vena. Selain
itu juga dapat mengakibatkan bronkodilatasi, penurunan sekresi dari kelenjar bronkus dan
penurunan pelepasan mediator inflamasi (sel mast). Perangsangan adrenergik tersebut terjadi
apabila sel efektor distimulasi oleh agonis adrenergiknya. Melalui perangsangan/stimulus
reseptor beta (khususnya 2) pada bronkus menyebabkan aktivasi adenilsikliklase. Enzim ini
mengubah ATP (adenosintriphosphat) menjadi cAMP (cyclic adenosine monophosphat)
dengan membebaskan energi yang digunakanuntuk proses-proses dalam sel. Meningkatnya
kadar cAMP dalam sel menghasilkan efek bronkodilatasi.
Efek dari agonis pada reseptor ini bertentangan dengan efek antagonisnya (
bloker). Jika reseptor 2 dari sistem adrenergis terhambat oleh antagonisnya maka sistem
kolinergis akan mendominasi dan menyebabkan terjadinya bronkokonstriksi.Stimulasi saraf
parasimpatis, menyebabkan pelepasan asetilkolin. Asetilkolin pada reseptor muskarinik dari
saraf-saraf kolinergis di otot polos bronki akan mengaktivasi enzim guanisiklase untuk
mengubah GTP (guanosine triphosphat) menjadi cGMP (cyclic guanosine monophosphat).
Fosfodiesterase kemudian memecah cGMP menjadi GMP (guanosine monophosphat).
Peningkatan kadar GMP ini akan mengakibatkan bronkokonstriksi.


Daftar Pustaka
http://medic-care.blogspot.com/2008/12/artikel-kontraindikasi-penggunaan.html
http://www.cvpharmacology.com/cardioinhibitory/beta-blockers.htm
Neal, Michael J, 2006, Medical Pharmacology at a Glance Edisi V, Erlangga, Jakarta
Prawirakusumah, Abidin A. dr., 1980, Penggunaan Beta-Bloker Pada Pasien Kardiovaskuler,
Cermin Dunia Kedokteran, Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma,
Jakarta.
Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK Universitas Sriwijaya, 2004, Kumpulan Kuliah
Farmakologi Edisi 2, Pnerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Sukandar, Enday. dr., 1980, Hipertensi Esensial: Petogenesa, Patofisiologi & Peranan Beta-
Blocker, Cermin Dunia Kedokteran, Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe
Farma, Jakarta



















Bagaimana farmakodinamik obat enalapril?
EFEK SAMPING

1%-10 % : - Kardiovaskuler : hipotensi 0,9%-6,7%, Chest pain (2%), syncope (0,5%-2%),
orthostasis (2%), orthostatic hypotension (2%). - CNS : sakit kepala (2%-5%),
pusing/dizzines (4%-8%), fatigue (2%-3%) - Dermatologic : rash (1,5%) - Gastrointestinal :
abnormal taste, sakit perut, muntah, mual, diare, anoreksia, konstipasi. - Neuromuscular &
skeletal : weakness. - Ginjal : peningkatan serum kreatinin (0,2%-20%), memburuknya fungsi
ginjal (pada pasien dengan bilateral renal artery stenosis atau hipovolemia). - Respiratory (1
% - 2 %) : bronchitis, batuk, dyspnea. < 1 % (limited to important or life-threatening ) :
agranulositosis, alopecia, angina pectoris, angioedema, ataxia, bronchospasme, cardiac arrest,
cerebral vascular accident, depresi, erythema multiforme, exfoliative dermatitis, halusinasi,
hemolisis pada pasien G6PD, psikosis, odem paru, Stevens Johnson syndrome, SLE, toksis
epidermal necrolysis, vertigo dan lainlain 5.

INTERAKSI OBAT

Interaksi enalapril dengan obat lain : Efek Cytochrome P450 : substatre of CYP34A (major)
Efek meningkat / toksisitas : suplemen kalium, kotrimoksazol (dosis tinggi), angiotensin II
reseptor antagonist (contoh candesartan, losartan, irbesartan) atau diuretik hemat kalium
(amiloride, spironolakton, triamterene) dapat menghasilkan kadar kalium dalam darah bila
dikombinasi dengan enalapril. Efek ACE inhibitor dapat ditingkatkan oleh phenothiazine atau
probenecid (kadar kaptopril meningkat). ACE inhibitor dapat meningkatkan konsentrasi
dalam serum obat lithium. Diuretik dapat meningkatkan efek hipotensi dengan ACE
inhibitor, dan meningkatkan hipovolimia yang potensial menimbulkan adverse renal effects
dari ACE inhibitor. Pada pasien dengan compromised renal fuction pemberian bersamaan
dengan NSAIDs dapat memperburuk fungsi ginjal. Allopurinal dan ACE inhibitor dapat
meningkatkan resiko hipersensitivitas bila digunakan bersamaan. Efek menurun : Aspirin
(dosis tinggi) dapat menurunkan efek terapi ACE inhibitor; pada dosis rendah efek ini tidak
signifikan. Antasid dapat mengurangi bioavailabilitas ACE inhibitor; berikan terpisah dengan
selang waktu 12 jam. NSAIDs dapat menurunkan efek hipotensi ACE inhibitor. CYP3A4
inducer dapat menurunkan kadar atau efek enalapril; contoh inducer termasuk amino
glutethimide, karbamazepin, nafcillin, nevirapine, phenobarbital, phenytoin, rifampisin5.

DAFTAR PUSTAKA

AHFS Drug Information 2005, hal. 18631874. 2. AHFS Drug Information 2008 (e-book) 3.
ASHP Patient Information, reviewed Jan 2007. 4. British National Formulary, 56th ed.,
September 2008, hal. 101. 5. Drug Information Handbook, 15th ed., 2007-2008, hal. 578-581.
6. Drug Information Handbook, 12th ed., 2004-2005, hal. 7. Handbook on injectable Drug,
12th ed, 2003, hal. 511-516 8. ISO Indonesia vol. 43, 2008 , hal 253, 255, 259--260. 9.
Martindale : The Complate Drug Reference, 35 th ed., 2007 (e-book). 10. MIMS Indonesia
109th ed. 2008, hal 54, 66, 68, 99. 11. USP Drug Information, 2005, Thomson Micromedex,
hal. 197-198.