Anda di halaman 1dari 8

PERCOBAAN III DAN IV

WAKTU KOAGULASI DARAH DAN ANTIHIPERTENSI



I. TUJUAN
1. Mampu melakukan percobaan farmakologi untuk melihat efek antikoagulansia
terhadap waktu koagulasi darah (penjedalan darah, blood cotting)
2. Mampu melakukan percobaan dengan hewan laboratorium untuk melihat efek
obat-obat-obat yang dapat menurunkan tekanan darah secara in vivo

II. DASAR TEORI
a. Waktu Koagulasi Darah
Dalam sistem sirkulasi darah merupakan bagian penting yaitu dalam transport
oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair yaitu berupa plasma
darah dan serum. Bagian padatnya yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit), dan keping darah (trombosit). Volume darah secara keseluruhan adalah
satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter. Sekitar 55% adalah plasma
darah, sedang 45% sisanya terdiri dari sel darah (Pearce, 2006)
Darah mempunyai banyak fungsi dalam tubuh. Fungsi utama darah dalam
sirkulasi adalah sebagai media transportasi, pengaturan suhu, pemeliharaan
keseimbangan cairan, serta keseimbangan basa eritrosit selama hidupnya tetap berada
dalam tubuh. Sel darah merah mampu mengangkut secara efektif tanpa meninggalkan
fungsinya di dalam jaringan, sedang keberadaannya dalam darah, hanya melintas saja
(Kimball, 1983).
Bila pembuluh darah dipotong atau dirobek, sangat penting untuk
menghentikan keluarnya darah dari sistem sebelum berakhir dengan kegoncangan
atau kematian. Pemadatan atau pembekuan darah mampu menghentikan semua
perdarahan ini kecuali pada pembuluh darah yang rusak, keping darah melekat pada
permukaan dalam dinding pembuluh tersebut. Pembuluh darah dan sel-sel darah rusak
di daerah ini melepaskan bahan bersifat lemak yang diaktifkan oleh protein-protein
tertentu (faktor pembekuan) di dalam darah membentuk tromboplastin. Dengan
adanya ion kalsium dan faktor pembeku tambahan protombin (suatu globulin serum
yang di buat terus menerus oleh hati) menjadi trombin (Kimball, 1983).
Peristiwa penjedalan daah (koagulasi darah) adalah sebuah proses yang
normal terjadi yang merupakan bagian dari mekanisme proses homeostasis
(mempertahankan keadaan tubuh dalam normal). Koagulasi darah dapat terjadi
apabila ada perlukaan, yang berarti apabila darah berkoagulasi maka perdarahan yang
terjadi akan berhenti. Akan tetapi koagulasi darah juga terjadi secara spontan sewaktu
darah mengalir di dalam pembuluh darah dengan sebab yang belum dapat dijelaskan.
Pada keadaan yang terakhir ini, jendalan darah yang terbentuk disebut thrombus
(thrombi), dapat menyumbat aliran darah apabila terjadi pada arteriola atau venula
(pembuluh darah yang sempit). Penyumbatan aliran darah tersebut akan menjadi
persoalan yang serius apabila menyangkut pasokan darah pada organ-organ vital
seperti otak (terjadi stroke) dan otot jantung (infarct miocard). Atas dasar kondisi
patologis tersebut maka pemakaian antikoagulan dalam terapi menjadi sangat
bermakna.
Koagulasi darah sendiri merupakan proses yang berjalan melalui berbagai
tahap (cascade) dan melibatkan berbagai factor indogen. Faktor-faktor tersebut antara
lain faktor VII, IX, X dan protrombin (faktor II). Disamping faktor-faktor tersebut
yang umumnya protein atau polipeptida dibutuhkan pula vitamin K dan ion Ca.


Faktor-faktor pembekuan darah
Berikut ini adalah faktor-faktor pembekuan pada darah :
Faktor I : fibrinogen
Faktor II : protrombin
Faktor III : tromboplastin
Faktor IV : Kalsium
Faktor V : proaccelerin labile factor
Faktor VII : proconvertin
Faktor VIII : faktor antihemofili
FaktorIX : komponenplasma tromboplastin
Faktor X : faktor stuart
Faktor XI : faktor antihemofili C
Faktor XII : faktor Hageman
Faktor XIII : faktor fibrin-stabilizing (Guyton, 2006)
Pembentukan bekuan darah
a. Mekanisme ekstrinsik
Pembekuan darah dimulai dari faktor eksternal pembuluh darah itu sendiri.
1. Tromboplastin (membran lipoprotein) yang dilepas oleh sel-sel jaringan yang rusak
mengaktivasi protrombin (protein plasma) dengan bantuan ion kalsium untuk
mengubah trombin
2. Trombin mengubah fibrinogen yang dapat larut, menjadi fibrin yang tidak dapat larut.
Benang-benang fibrin membentuk bekuan atau jaring-jaring fibrin yang menangkap
sel darah merah dan trombosit serta menutup aliran darah melalui pembuluh yang
rusak.
b. Mekanisme intrinsik untuk pembekuan darah berlangsung dengan cara yang
sederhana daripada cara yang dijelaskan di atas. Mekanisme ini melibatkan 13 faktor
pembekuan yang hanya ditemukan dalam plasma darah. Setiap faktor protein berada
dalam kondisi tidak aktif, bila salah satu diaktifkan, aktivitas enzimnya akan
mengaktivasi faktor selanjutnya dalam rangkaian. Dengan demikian akan terjadi suatu
rangkaian reaksi (cascade of reaction) untuk membentuk bekuan (Sloane, 1995).













(Tjay dan Rahardja, 2007)
Ada beberapa kelompok senyawa/obat yang mempengaruhi koagulasi daag
dengan beberapa mekanisme bebeda. Kelompok senyawa yang pertama disebut
dengan antikoagulansia. Antikoagulansia adalah zat-zat yang dapat mencegah
pembekuan darah dengan jalan menghambat pembentukan fibrin (Tjay dan Rahardja,
2007). Kelompok senyawa ini diwakili oleh heparin dan warfarin. Heparin adalah
sebuah glikosaminoglikan yang bersifat asam, dapat menghambat koagulasi darah
dengan meningkatkan pembentukan kompleks antitrombin III (sebuah inhibitor
protease) dengan trombin, sehingga trombin tidak mampu mengubah fibrinogen
menjadi fibrin. Heparin aktif secara in vivo maupun in vitro, tetapi durasi aksinya
sangat pendek. Warfarin adalah derivat kumarin dan strukturnya mirip vitamin K.
Warfarin mampu mencegah koagulasi darah dengan menghambat reduktase vitamin
K sehingga -karboksilasi residu glutamate dari protrombin terhambat dan
menghasilkan faktor VII, IX, X dan protrombin yang inaktif. Warfain hanya aktif
secara in vivo.
Kelompok senyawa yang kedua adalah senyawa-senyawa yang bersifat
fibrinolitik (melisis fibrin). Obat-obat ini berdaya melarutkan gumpalan darah yang
terbentuk beberapa jam sebelumnya. Caranya ialah dengan mengaktivasi sistem
fibrinolitis tubuh melalui stimulasi perubahan plasminogen menjadi plasmin. Plasmin
ini memecahkan jaringan fibrin dari trombus (Tjay dan Rahardja, 2007). Contoh dari
kelompok senyawa ini adalah streptokinase, alteplase, dan reteplase. Streptokinase
bukan sebuah enzim, mampu membentuk kompleks dengan plasminogen dan
kompleks ini mengaktifkan plasminogen menjadi plasmin. Alteplase adalah aktivator
plasminogen hasil rekombinasi DNA (recombinant-tissue plasminogen activator = rt-
PA). Selektvitas kelompok senyawa ini dalam menghambat koagulasi darah adalah
berdasarkan perbedaan keberadaan inhibitor plasmin di dalam sirkulasi dengan yang
ada di dalam trombi. Di dalam sirkulasi, kadar inhibitor plasmin sangat tinggi sedang
di dalam trombi kadar inhibitor plasmin sangat rendah.
Kelompok senyawa penghambat koagulasi yang ketiga adalah kelompok yang
disebut antiplatelet seperti aspirin, klopidogrel, tirofiban, aptifibatide, abciximab, dan
dipyridamole. Zat-zat ini berkhasiat menghindarkan terbentuk dan berkembangnya
Mekanisme pembekuan darah
trombi dengan jalan menghambat penggumpalannya (Tjay dan Rahardja, 2007).
Senyawa ini efektif mencegah terjadinya trombosis di arteri. Sedang antikoagulan
tidak efektif mengatasi trombosis di arteri. Hal ini dikarenakan trombi yang terbentuk
pada darah yang mengalir cepat, seperti di arteri, tersusun atas banyak platelet dan
sedikit fibrin. Di dalam arteri yang atheromatous, plak yang terbentuk memiliki inti
besar yang kaya lipid dan dibungkus kapsul berserabut tipis. Kapsul ini gampang
pecah dan apabila pecah maka kolagen subendotelial akan terbuka dan mengaktifkan
platelet dan beragregasi. Pecahnya kapsul plak dan terbukanya kolagen subendotelial
ini akan melepaskan tromboksan A2 (TXA2), ADP, dan 5-hidroksitriptamin (5-HT)
yang akan memacu lebih agregasi platelet. TXA2 ini adalah induktor kuat terjadinya
agregasi platelet. Klopidogrel mencegah agregasi platelet dengan cara memblok
secara irreversible efek ADP pada platelet.Aspirin merupakan bagian dari kelompok
obat nonsteroidal antiinflamatory drugs (NSAID). Aspirin juga mempunyai efek
antiplatelet dengan menghambat sintesis TXA2 oleh enzim siklooksigenase.
Dalam dunia pengobatan, senyawa/obat yang mampu menghambat koagulasi
darah ini sering digunakan pada pasien-pasien yang dalam masa recovery dari
serangan stroke, atau pada pasien-pasien yang mempunyai risiko infarct myocard
karena terjadinya trombus pada arteri yang memasok darah ke otak atau ke otot
jantung. Heparin biasanya diberikan secara injeksi sub kutan atau intravena. Efek
samping utama dari heparin adalah pendarahan. Oleh karena durasi efeknya yang
singkat, perdarahan yang terjadi dapat diatasi dengan menghentikan pemberian
heparin. Bila dianggap perlu, dapat dinetralkan efeknya degan injeksi intavena
protamin, sebuah peptida basa. Warfarin dapat diberikan peroral karena dapat
diabsorbsi dengan baik di saluran pencernaan. Onsetnya lambat, tetapi juga
mempunyai waktu paro biologik yang panjang (40 jam) dan membutuhkan waktu
hingga 5 hari untuk nilai prothrombine time kembali normal setelah pemberian
warfarin dihentikan.

b. Antihipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah arteri rata-ratanya lebih besar dari kisaran atas
normal yang telah ditetapkan. Tekanan darah arteri rata-rata lebih besar 110 mmHg
(normal adalah sekitar 90 mmHg) dikategorikan hipertensif. Tingkat tekanan darah
arteri rata-rata ini terjadi jika tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg dan tekanan
sistolik lebih dari 135 mmHg. Pada hipertensi parah, tekanan darah arteri rata-rata
dapat mencapai 150 170 mmHg, dengan tekanan diastolik setinggi 130 mmHg, dan
tekanan sistolik mencapai 250 mmHg (Guyton, 2006). Secara umum, batasan nilai-
nilai ini berlaku untuk orang dewasa yang berumur antara 20-65 tahun. Pada anak
kecil, peningkatan tekanan darah sampai 160/110 mmHg (misalnya pada
glumerulonefitis akut) dapat menyebabkan hipertensi dipercepat. Sebaliknya, pada
individu yang berumur 70-an kemungkinan besar tidak ada kerusakan arteriol yang
nyata dengan tekanan darah 220/1120 mmHg.
Hipertensi dibagi menjadi dua kategori yaitu hipertensi primer (esensial) dan
sekunder. Sekitar 90-95% kasus dikategorikan sebagai hipertensi primer yang berarti
tekanan darah tinggi tanpa penyebab pasti. Hipertensi primer merupakan hasil dari
interaksi kompleks gen dan faktor lingkungan. Sisanya 5-10% dikategorikan sebagai
hipertensi sekunder yang disebabkan kondisi lain yang mempengaruhi ginjal, hati,
arteri dan sistem endokrin. Penyakit pada ginjal merupakan penyebab hipertensi
sekunder yang paling banyak ditemui (OBrien, 2007).
Secara farmakologis, pengobatan hipertensi berdasarkan pada tiga tujuan
utama ialah mengurangi volume cairan tubuh dan sekaligus mengurangi volume
darah, mengurangi tahanan pembuluh darah perifer, dan menurunkan curah jantung
(cardiac output). Senyawa obat yang mampu menurunkan tekanan darah biasanya
digunakan untuk pengobatan hipertensi.
Obat-obat yang mampu mengurangi volume cairan tubuh adalah golongan
diuretika. Diuretika menghasilkan peningkatan aliran urin (diuresis) dengan
menghambat reabsorpsi natrium dan air dari tubulus ginjal. Hal ini menyebabkan
penurunan volume cairan dan menurunkan tekanan darah. Enam kategori yang efektif
untuk menghilangkan air dan natrium adalah (1) tiasid dan seperti-tiasid, (2) diuretik
kuat, (3) hemat kalium, (4) penghambat anhidrase karbonik, (5) osmotik, dan (6)
merkurial. Diuretik kuat dan hemat kalium merupakan diuretik yang paling sering
diresepkan untuk penyakit hipertensi dan payah jantung kongestif. Contoh dari obat
golongan ini adalah furosemid, klortiazid, dan lain-lain (Kee, 1993).
Obat-obat yang mampu mengurangi tahanan pembuluh daah perifer biasanya
mengakibatkan vasodilatasi pembuluh darah tersebut. Oleh sebab itu, golongan obat
ini sering disebut sebagai vasodilatator. Terdapat tiga cara kerja vasodilatator.
Golongan pertama adalah obat-obat yang mampu menghambat kanal ion kalsium (Ca)
atau sering disebut Calcium Channel Blocker (CCB). CCB menghambat masuknya
kalsium ke dalam sel. Obat-obat ini menyebabkan penurunan afterload. Tonus dan
kontraksi vaskular sebagian besar ditentukan oleh ketersediaan kalsium ekstrasel. Bila
masuknya kalsium ke dalam sel-sel otot polos arteri dihambat, pembuluh akan
berdilatasi. Kategori obat antihipertensi ini disebut juga antagonis kalsium. Ini akan
membatasi penyempitan arteri, memungkinkan aliran darah yang lebih lancar untuk
menurunkan golongan darah (Stringer, 2006). Contoh obat dari golongan ini adalah
nifedipin dan amlodipin.
Golongan kedua vasodilatator adalah yang bekerja menghambat enzim
pengubah angiotensin atau Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI).
Angiotensin Converting Enzyme (ACE) yang dikenal juga sebagai peptidildipeptida
hidrolase atau peptidil dipeptidase, mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II
yang merupakan suatu vasokonstriktor poten dan stimulator sekresi aldosteron.
Aldosteron meningkatkan retensi natrium dan air serta ekskresi kalium. Hal ini
menyebabkan peningkatan volume vaskular dan peningkatan resistensi vaskular
perifer. Pemblokan sistem angiotensin II menyebabkan penurunan kadar
vasokonstriktor ini dalam sirkulasi, yang menyebabkan penurunan tekanan darah
(yaitu afterload). ACEI juga mengurangi aldosteron, yang menyebabkan kehilangan
air net. Hal ini menambah penurunan afterload (Stringer, 2006). Contoh obat dari
golongan ini adalah captopril dan lisinopril.
Obat-obat golongan inhibitor ACE terutama berguna untuk penanganan
hipertensi yang disebabkan oleh kenaikan kadar renin. Karena tidak mempengaruhi
kadar glukosa, Inhibitor ACE juga berguna untuk pengobatan penderita diabetes yang
mengalami hipertensi. Efek samping obat-obatan ini adalah sakit kepala, pusing, nyeri
abdomen, kebingungan, gagal ginjal, dan impotensi. Inhibitor ACE juga dapat
menyebabkan batuk karena mendegradasi bradikinin (Stringer, 2006).



Sistem renin-angiotensin-aldosteron. (Stringer, 2006)
Golongan ketiga vasodilatator adalah obat yang mampu memblok reseptor
angiotensin. Obat golongan ini merupakan obat golongan baru yang menganggu
pengikatan angiotensin II pada reseptor angiotensin II. Obat-obat ini memblok
pengikatan angiotensin II pada reseptor AT
1
. Hal ini menghalangi angiotensin II
untuk mengeluarkan sifat vasokonstriksi dan eksresi aldosteron. Hasil dari aksi ini
akan menurunkan tekanan darah. Oleh karena itu, kerjanya sangat mirip dengan kerja
inhibitor ACE yang memblok pembentukan angiotensin II. Senyawa golongan ini
tidak menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II ataupun
menyebabkan perusakan bradikinin sehingga tidak menimbulkan batuk (Stringer,
2006). Contoh obat dari golongan ketiga ini adalah losartan dan valsartan.
Golongan obat lain yang sering digunakan adalah golongan penghambat
adrenergik. Obat-obat ini dapat bekerja sentral di pusat vasomotor pada batang otak,
di perifer pada pelapasan katekolamin neuron, atau menyekat reseptor atau atau
keduanya (Gray, 2002). Agonis menyebabkan vasokonstriksi dan antagonis
menyebabkan vasodilatasi. Penggunaan blocker menyebabkan hipotensi postural,
terutama setelah dosis pertama. Antagonis mampu mengurangi curah jantung
dengan cara menghambat reseptor -adrenergik, terutama reseptor 1. Penghambat
( blocker) berkompetisi dengan katekolamin untuk dua reseptor -adrenergik.
Reseptor 1 terutama berlokasi di miokardium dan mempengaruhi kecepatan nodus
sinioatrial dan kecepatan konduksi nodus atrioventricular, dan reseptor 2 terutama
berada di bronkus dan otot polos pembuluh darah. Penghambat beraksi pada sistem
kardiovaskular untuk memperlambat denyut jantung, mengurangi tekanan darah, dan
mengurangi kontraktilitas jantung mengakibatkan berkurangnya beban kerja jantung,
konsumsi oksigen miokard, serta memperpanjang waktu pengisian diastolik dan
perfusi koroner (Jeremias, 2010). Bloker sangat berguna untuk penderita angina
atau penderita migrain. Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah propranolol,
acebutolol, metoprolol, dan praktolol. Diantara obat-obat penekan reseptor -
adrenergik ini ada yang tidak/kurang selektif karena dapat menekan reseptor 1
maupun reseptor 2.
Propranolol merupakan -blocker nonkardioselektrif dan tidak memiliki
aktivitas simpatik intrinsik. Nonkardioselektif berarti obat tersebut menghambat baik
reseptor 1 maupun reseptor 2. Oleh karena itu, obat -blocker nonkardioselektif
akan menghambat bronkodilatasi dan menghambat glikolisis dan glukoneogenesis
yang seharusnya terjadi pada saat hipoglikemia. Obat -blocker nonkardioselektif
tidak boleh diberikan pada orang penderita asma bronkial. Obat-obat -blocker yang
kardioselektif adalah metoprolol, acebutolol, atenolol, dan bisoprolol.