Anda di halaman 1dari 25

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet sebagai Solusi Penataan Ruang

di Kuningan Kota, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat


Kuningan Kota, Kabupaten Kuningan

Koperasi Peternak dan Petani Organik (KOPPOR) Kuningan

Ketua : Anang, S.Ag.

Sekretaris : Agus Andi Nursalim


Ketua Dewan Pengawas : Dede Mariadi ; Anggota : Ujang Mashuri

Anggota : Masroni Singaisdam

Jl. Olah Raga, Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur

Kuningan 45552 – Jawa Barat


0232 8881485, Hp 081222095666 ; 081316315968

koppor_kng@ymail.com
Daftar Isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar Koperasi Peternak dan
Petani Organik - Kuningan

DAFTAR ISI

Kesimpulan ................................................................................................................ i
Daftar Isi................................................. ................................................................... iii
Daftar Tabel................................................................................................................ Iv
Daftar Gambar .................. ....................................................................................... v
I. PENDAHULUAN........................................... ………………………………………….. I - 1
I.1. LATAR BELAKANG .................................................................................... I - 1
I.2. PERMASALAHAN....................................................................................... I - 3
I.3. PEMECAHAN MASALAH............................................................................ I - 7
I.4 TUJUAN PEMBUATAN PROPOSAL ........................................................... I - 8
I.5 MANFAAT PEMBUATAN PROPOSAL......................................................... I - 8
II. STRATEGI DAN RENCANA KERJA..................................................................... II - 1
II.1. WALET ESTATE......................................................................................... II - 2
II.2. CORPORATE FARMING............................................................................ II - 3
II.3. TAHAPAN KEGIATAN ................................................................................ II - 6
II.4. JADUAL KEGIATAN ................................................................................... II - 8
II.5. ORGANISASI CORPORATE FARMING...................................................... II - 8
II.6. PRODUK AKHIR ........................................................................................ II - 9
II.7. KEBERLANJUTAN KEGIATAN ................................................................... II - 9
III. RENCANA ANGGARAN....................................................................................... III - 1

1 iii
Daftar Isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar Koperasi Peternak dan
Petani Organik - Kuningan

DAFTAR TABEL

Tabel II.1. Jadual Pembangunan Ternak Estate......................................................... II - 8


Tabel III.1. Rencana Anggaran Biaya Ternak Estate ................................................... III - 1

1 iv
Daftar Isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar Koperasi Peternak dan
Petani Organik - Kuningan

DAFTAR GAMBAR

Gambar I.1. Peta Lokasi Kabupaten Kuningan di Jawa Barat.................................. I - 1


Gambar I.2. Peta Lokasi Kecamatan Cigugur di Kabupaten Kuningan ..................... I - 1
Gambar I.3. Rumah Walet di Tengah Pemukiman Penduduk, di Jl. Syeh Maulana Akbar,
Kuningan, Kab. Kuningan ................................................................... I - 3
Gambar I.4. Beberapa Lokasi Rumah Walet di Tengah Pemukiman Penduduk, di Kuningan Kota,
Kab. Kuningan ................................................................................... I - 4
Gambar I.5. Populasi Rumah Walet di beberapa Kota di Pulau Bangka ................... I - 5
Gambar II.1. Diagram Strategi Pemecahan Masalah............................................... II - 1
Gambar II.2. Siklus Budidaya Walet dengan Skema Walet Estate, di Kab. Kuningan II - 3
Gambar II.3. Struktur Pengelolaan Walet Estate, di Kabupaten Kuningan ................. II - 5
Gambar II.4. Rencana Lokasi Walet Estate, di Kabupaten Kuningan ........................ II - 5
Gambar II.5. Struktur organisasi Corporate Farming................................................ II - 8

1v
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Kabupaten Kuningan terletak di titik koordinat 108°23' - 108°47' Bujur Timur dan 6°47' - 7°12'
Lintang Selatan. Dilihat dari posisi geografisnya Kuningan terletak di bagian Timur Jawa Barat
berada pada lintasan jalan regional yang menghubungkan Kota Cirebon dengan wilayah
Priangan Timur dan sebagai jalan alternatif jalur
tengah yang menghubungkan Jawa Barat dengan
Jawa Tengah.

Gambar I.1. Peta Lokasi Kabupaten


Kuningan di Jawa Barat.

Secara administratif Kabupaten Kuningan terdiri


dari 32 kecamatan, 13 kelurahan dan 357 desa dan Kab. Kuningan

berbatasan dengan :

· Sebelah Utara : Kabupaten Cirebon


· Sebelah Timur : Kabupaten Brebes (Jawa Tengah)
· Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Cilacap (Jawa Tengah)
· Sebelah Barat : Kabupaten Majalengka

Gambar I.2. Peta Lokasi Kuningan


Kota di Kabupaten Kuningan
Kuningan.

Kuningan Kota sebagai ibukota


Kabupaten Kuningan berada di kaki
Gunung Ciremai dan terletak di titik
koordinat 6°45' - 7°50' Lintang
Selatan dan 105°20' - 108°40'
Bujur Timur. Kondisi geografis
Kuningan sebagaimana daerah

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-1
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

lainnya yang terletak di kaki Gunung Ciremai, berbukit-bukit dan ketinggiannya bervariasi mulai
dari 630 m dpl (di atas permukaan laut) sampai dengan 700 m dpl. Kuningan Kota sebagai
ibukota Kabupaten Kuningan mencakup 13 (sembilan belas) kelurahan yang berada di dua
kecamatan, yaitu Kecamatan Kuningan ( 8 kelurahan) dan Kecamatan Cigugur (5 kelurahan).

Sesuai dengan kondisi geografisnya, Kabupaten Kuningan mempunyai potensi besar di bidang
pertanian. Oleh karena itu, sejalan dengan era Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah
Kabupaten Kuningan bersama unsur masyarakat diantaranya adalah Koperasi Peternak dan
Petani Organik (KOPPOR) Kuningan merasa perlu untuk menggali sumber daya bidang
petanian untuk mendukung kehidupan masyarakatnya. Salah satu sumberdaya pertanian yang
bisa dikembangkan adalah burung walet.

Dari pengamatan, di beberapa wilayah Kabupaten Kuningan terlihat banyak burung Walet
penghasil “sarang burung” beterbangan, dan di beberapa kawasan pemukiman sudah terlihat
ada rumah Walet yang didirikan. Dari tersebarnya tempat Walet mencari pakan diduga kuat
Kabupaten Kunigan merupakan salah satu habitat yang cukup baik untuk mengembangkan
budidaya Walet. Hal ini dapat dilihat juga dari adanya rumah-rumah walet yang telah dibangun
yang letaknya tersebar di beberapa kelurahan di Kuningan Kota.

Memperhatikan perkembangan beberapa “pusat” rumah Walet di pulau Jawa dan Sumatera
seperti di Indramayu, Karawang, Sungailiat, Pangkalpinang dan Kisaran yang
pertumbuhannya tidak dikendalikan sehingga produktivitasnya tidak optimal bahkan cenderung
hanya mencemari llingkungan. Banyak rumah-rumah walet dibangun dengan tanpa
mengindahkan kaidah-kaidah pengelolaan lingkungan hidup, penataan ruang, kemajuan
teknologi dan potensi ketersediaan pakan. Lokasi rumah-rumah walet di kota-kota tersebut di
atas banyak berada di lingkungan pemukiman yang bercampur baur dengan tempat tinggal
penduduk, bahkan banyak rumah walet yang didirikan berada di pusat keramaian kota.

Oleh karena itu sebelum ledakan rumah Walet di Kabupaten Kuningan, khususnya di Kuningan
Kota, benar-benar terjadi, maka perlu pengaturan tata ruang kawasan budidaya Walet yang
merupakan bagian dari tata ruang umum Kabupaten Kuningan. Dengan adanya tata ruang
beserta beberapa peraturan pendukungnya diharapkan Walet di Kabupaten Kuningan menjadi
sumberdaya alam yang dapat diandalkan dan ramah lingkungan. Untuk itu diperlukan suatu

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-2
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

penataan ruang yang lebih difokuskan pada kajian mengenai pemilihan atau penentuan lokasi
pengembangan usaha rumah walet dalam bentuk kawasan budidaya atau ‘walet estate’ sesuai
dengan potensi dan daya dukung lingkungannya.

I.2. PERMASALAHAN

Sarang walet yang dihasilkan oleh burung walet telah lama dikenal mempunyai nilai ekonomi
tinggi dan merupakan komoditas ekspor. Dibandingkan komoditas lainnya sarang walet memiliki
beberapa keunggulan, yaitu :

1. Sarang walet mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga dapat dijadikan sumber
pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah.

2. Sarang walet merupakan komoditas ekspor, sehingga mampu mendatangkan devisa bagi
negara.

3. Sarang walet merupakan sumber daya alam yang bersifat renewable, sehingga pasokannya
dapat dipertahankan secara kontinyu.

Nilai ekonomi sarang burung walet yang cukup tinggi serta potensi pasar yang baik, merupakan
faktor yang menarik minat masyarakat untuk membangunan rumah walet tanpa mengindahkan
kelestarian lingkungan. Tidak mengherankan jika sebagian kecil masyarakat Kuningan Kota
yang bermodal kuat tergiur untuk mendirikan rumah walet atau mengkonversi bangunan rumah
/ bangunan ruko menjadi rumah walet. Hingga saat ini di
Kuningan Kota diperkirakan tidak kurang dari 20 (dua
puluh) rumah walet yang sudah beroperasi, baik
bangunan khusus yang didirikan untuk rumah walet
ataupun bangunan konversi dari bangunan lainnya.

Gambar I.3. Rumah Walet di Tengah Pemukiman


Penduduk, di Jl. Syeh Maulana
Akbar, Kuningan, Kab. Kuningan.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-3
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

Gambar I.4. Beberapa Lokasi Rumah Walet di Tengah Pemukiman Penduduk, di


Kuningan Kota, Kab. Kuningan.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-4
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

Lahan yang digunakan untuk bangunan rumah-rumah walet tersebut terkonsentrasi pada
daerah perkotaan dan kawasan pemukiman. Hal ini menyebabkan timbul masalah konflik
kepentingan seperti dengan upaya penataan perkotaan dan kesehatan masyarakat. Konflik
sosial akibat kecemburuan, juga berpotensi terjadi karena sebenarnya sumberdaya alan
merupakan hak semua masyarakat.

Masalah yang ditimbulkan oleh keberadaan rumah-rumah walet di perkotaan sebenarnya juga
menjadi masalah diberbagai kota di Indonesia, seperti Kota Pangkalpinang, Sungailiat, Kisaran,
Indramayu, Karawang, Bogor, Bekasi dan masih banyak kota lainnya. Di Kota Pangkalpinang,
sekeliling kota sudah dipenuhi oleh bangunan-bangunan rumah walet berhimpitan dengan
rumah penduduk yang jumlahnya lebih dari 100 rumah walet. Tidak jauh dari Kota
Pangkalpinang, di pusat kota Sungailiat (Ibukota Kabupaten Bangka) juga banyak ditemukan
rumah-rumah walet. Kuningan, sebagai Ibukota Kabupaten Kuningan tentunya tidak ingin
bernasib sama dengan kota-kota tersebut, sehingga perlu dicarikan solusinya.

120

100
Jumlah Rumah Walet

80

60

40

20

0
Pangkal
Mentok Jebus Tempilang Beliny u Sungailiat Koba Toboali
Pinang

Rumah Walet 31 35 54 36 34 105 24 60

Kecamatan
Sumber : Drs. M. Noerdjito

Gambar I.5. Populasi Rumah Walet di beberapa Kota di Pulau Bangka

Bila kondisi di atas tidak segera diantisipasi dan dicarikan jalan keluarnya, maka dikhawatirkan
akan menimbulkan beberapa permasalahan diantaranya adalah :

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-5
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

1. Penurunan kualitas lingkungan, seperti estetika atau arsitektur lingkungan dan


kesehatan lingkungan.

2. Pemanfaatan sumberdaya alam tidak optimal, karena pakan yang tersedia secara alami
tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

3. Peluang peningkatan pendapatan penduduk, lapangan kerja dan pendapatan asli daerah
dari sektor sumberdaya alam hayati (walet) tidak termanfaatkan.

Di dalam dunia kesehatan, kita mengetahi bahwa penyakit cacar yang menyerang manusia
pada awalnya hanya merupakan penyakit pada sapi. Penularan penyakit cacar dari sapi
kepada manusia terjadi karena kontak langsung antara sapi perah dengan pemerahnya.
Penyakit cacar akhirnya bahwa tidak hanya dapat ditularkan dari sapi kepada manusia tetapi
dapat juga ditularkan dari manusia kepada sapi. Hal serupa berlaku pula pada penyakit
Anthrax yang selain dapat ditularkan oleh beberapa jenis ternak maupun satwa liar kepada
manusia juga dapat ditularkan dari manusia kepada ternak ataupun satwa liar. Penyakit yang
bersifat demikian kemudian digolongkan sebagai anthropo-zoonosis. Dalam kaitan anthropo-
zoonosis, kadang-kadang satwa yang tertular tidak menunjukkan gejala sakit; satwa ini hanya
bersifat membawa penyakit atau carrier.

Penyakit anthropo-zoonosis bukan hanya monopoli hewan ternak, tetapi berbagai jenis unggas
umumnya dapat juga terkena penyakit ini; tidak terkecuali burung walet. Semakin banyak jenis
satwa yang dapat tertulari penyakit ini menunjukkan keberhasilan penyakit bersangkutan untuk
mempertahankan kelestarian jenisnya.

Saling tertularnya penyakit antara manusia dengan satwa ataupun ternak tidak hanya dapat
terjadi akibat kontak langsung sebagaimana pemerah susu dengan sapi perahnya. Saling tular
antara satwa ataupun ternak dengan manusia dapat juga melalui udara, melalui gigitan
nyamuk, melalui makanan, melalui air yang tercemar bibit penyakit bersangkutan, dipindahkan
oleh lalat, dsb.

Beberapa contoh penyakit yang dapat saling ditularkan antara unggas (burung) dengan
manusia adalah:

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-6
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

1. Botulisme, yang disebabkan oleh toksin bakteri Clostridium botulinum, penyakit ini
ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi.
2. Klamodosis, disebabkan oleh Chlamidya psittaci, penyakit ini ditularkan dengan cara
menghirup udara yang terkontaminasi debu kotoran burung walet.
3. Ensefalitis B, disebabkan oleh virus ensefalitis, penyakit ini ditularkan melalui gigitan
nyamuk, yaitu manusia digigit oleh nyamuk yang sebelumnya menggigit seekor burung yang
terinfeksi virus ensefalitis ini.
4. Inveksi kemerova, disebabkan oleh virus kemerova (reoviridae), penyakit ini ditularkan
dengan gigitan kutu, yaitu manusia digigit oleh kutu yang sebelumnya menggigit seekor
burung yang terinfeksi virus kemerova ini.
5. Listeriosis, disebabkan oleh bakteri listeria monocytogenes, penyakit ini ditularkan melalui
makanan yang terkontaminasi.
6. Demam Sindbis, disebabkan oleh virus sindbis (togaviridae), penyakit ini ditularkan melalui
gigitan nyamuk.
7. Infeksi mikrobakterial, disebabkan oleh m.avium, penyakit ini ditularkan melalui gigitan
nyamuk.
8. Newcastle disease, disebabkan oleh virus paramyxovidae, penyakit ini ditularkan dengan
cara menghirup udara yang terkontaminasi debu kotoran burung.

Walet, yang juga termasuk ke dalam kelompok unggas atau burung juga memiliki potensi untuk
saling menulari dengan manusia. Walaupun penelitian yang bersifat khusus perihal anthropo-
zoonosis antara walet dengan manusia belum banyak dilakukan karena faktor keterbatasan
biaya serta prioritas tetapi untuk keselamatan masyarakat pada umumnya perlu melakukan
usaha pencegahan.

I.3. PEMECAHAN MASALAH

Usaha budidaya walet melalui pendirian rumah-rumah walet disatu sisi merupakan mata
pencaharian masyarakat dan sumber devisa yang cukup menggiurkan. Tetapi pada sisi yang
lain usaha budidaya rumah walet juga menimbulkan masalah yang tidak kecil. Pencemaran
lingkungan yang ditimbulkannya merupakan masalah serius yang harus diantisipasi. Dampak
negatif yang lebih besar seperti potensi konflik sosial antar warga masyarakat dan ini juga

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-7
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

menjadi kekhawatiran semua pihak, bisa dicegah sedini mungkin. Oleh karena itu, dalam
proposal ini kami dari Koperasi Peternak dan Petani Organik Kuningan (KOPPOR)
mengajukan solusi atas permasalahan yang dihadapi dalam memanfaatkan potensi walet, yaitu
dengan membuat kawasan budidaya walet pada daerah yang ideal dengan tidak menimbulkan
konflik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta didukung dari aspek legal
formalnya.

I.4. TUJUAN PEMBUATAN PROPOSAL

Dengan mempertimbangkan potensi sumberdaya alam yang ada di Kabupaten Kuningan, yang
sesuai untuk pengembangan potensi budidaya walet, tujuan pengajuan proposal ini adalah
untuk mendapatkan pembiayaan bagi pembuatan kawasan budidaya walet (Walet Estate)
secara terkonsentrasi sebagai bentuk penataan ruang untuk memanfaatkan sumberdaya alam
secara optimal dan ramah lingkungan menuju Kuningan sebagai Kota Lestari.

Kami berpendapat bahwa sumberdaya alam harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan
memperhatikan kaidah kelestarian lingkungan dan pemanfaatannya memperhatikan keadilan
bagi masyarakat. Dengan terbentuknya walet estate, rasa keadilan masyarakat dalam
memperoleh hasil sumberdaya alam dapat dirasakan. Selama ini sumber pakan walet berupa
serangga yang kelestariannya didukung oleh kehadiran lahan-lahan pertanian, hanya dinikmati
oleh sebagian kecil masyarakat pemodal kuat. Walet estate merupakan solusi untuk penataan
ruang dan sekaligus juga solusi bagi pemerataan pembangunan.

I.5. MANFAAT PEMBUATAN PROPOSAL

Bilamana solusi tersebut di atas dapat dijalankan dengan baik, maka tidak saja pencemaran
lingkungan dapat diatasi, tetapi juga usaha budidaya walet dapat dikembangkan secara optimal
dan berkeadilan karena pada dasarnya potensi sumber daya alam adalah untuk kesejahteraan
bersama. Walet Estate dapat dijadikan model untuk pemecahan masalah yang sama di daerah
lain yang kondisinya sudah jauh lebih kompleks seperti di Karawang, Indramayu, Kota
Pangkalpinang, Kota Sungai Liat, Kota Kisaran dan kota-kota lainnya.

Kami dari Koperasi Peternak dan Petani Organik (KOPPOR) Kuningan berharap sekali dapat
mewujudkan kawasan budidaya walet ini untuk mencapai masyarakat yang lebih sejahtera

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-8
Bab I – Pendahuluan Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

dengan lingkungan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang. Sumber pakan walet yaitu
serangga yang selama ini tersedia secara gratis dari alam, sebenarnya secara tidak langsung
disediakan oleh para petani yang sebagian merupakan anggota koperasi KOPPOR. Menurut
ahli burung walet dari LIPI (Drs. Noerdjito) lahan pertanian beririgasi tetap merupakan area
yang paling banyak menghasilkan serangga untuk pakan walet.

Tidaklah berlebihan bila kawasan budidaya walet ini terwujud yang akan dikelola oleh para
petani yang diwakili oleh KOPPOR, maka kesejahteraan petani juga terangkat. Berbeda
dengan sistem yang selama ini berjalan, dimana pemilik rumah walet adalah para pemodal
kaya, sedangkan penyedia pakan waletnya sebenarnya adalah para petani. Dengan demikian,
bila kawasan budidaya walet ini terwujud maka bentuk keadilan pemanfaatan sumberdaya alam
yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat
dapat dibuktikan secara nyata.

Secara ringkas bila proposal yang kami ajukan ini disetujui, maka manfaat yang dapat diperoleh
masyarakat Kuningan adalah sebagai berikut :

1. Pencemaran lingkungan terutama terhadap kesehatan masyarakat akibat usaha rumah


walet yang sporadis dapat dicegah, karena lokasi rumah walet sesuai dengan
peruntukannya dan jauh dari pemukiman penduduk.

2. Konflik sosial antar warga yang berpotensi terjadi terutama kecemburuan sosial dapat
dicegah dan diganti dengan kehidupan yang harmonis dan hidup berdampingan secara
damai dengan alam yang lestari.

3. Kota Kunigan terhindar menjadi hutan beton (rumah walet terbuat dari bangunan tembok
semua) yang dapat mengganggu keindahan kota.

4. Pemanfaatan sumber daya alam tidak hanya untuk segelintir orang atau pemodal kaya saja
tetapi dapat dikelola secara optimal dan dipergunakan untuk kemakmuran sebesar-besar
masyarakat.

5. Pembelajaran untuk masyarakat akan pentingnya penataan ruang dan mematuhi tataruang
yang sudah disepakati bersama.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1I-9
Bab II – Strategi dan Rencana Kerja Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

BAB II
STRATEGI DAN RENCANA KERJA

Walet Estate merupakan solusi yang kami tawarkan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi
masyarakat Kuningan Kota dalam memanfaatkan sumberdaya alam secara optimal dan berkeadilan
untuk mewujudkan Kuningan sebagai Kota Lestari. Walet Estate hanya dapat diwujudkan dengan
manajemen yang handal yang mampu mengelola segala aspek kebutuhan suatu usaha budidaya
walet yang terpadu.

1. Pencemaran Udara
MASALAH 2. Pencemaran Estetika
3. Pencemaran Lingkungan
Pemukiman
4. Potensi Konflik Sosial

SOLUSI
SOLUSI

Pembuatan Kawasan Relokasi Rumah Walet dari


Budidaya Walet Kawasan Pemukiman ke lokasi
WALET ESTATE yang sesuai dengan Zoning yang
berlaku (Walet Estate) dengan
menerapkan sistem
CORPORATE FARMING

Gambar II.1.Diagram Strategi Pemecahan Masalah

II.1. WALET ESTATE

Sesuai dengan Undang Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Kawasan
Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas
dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 II - 1
Bab II – Strategi dan Rencana Kerja Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

Dalam hal ini, potensi sumber daya alam yang dimaksudkan selaras dengan undang-undang
tersebut adalah walet. Dengan demikian Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet adalah
area atau kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama sebagai budidaya walet.

Untuk menetapkan suatu daerah dapat dijadikan sebagai kawasan budidaya walet, harus
memenuhi persyaratan-persyaratan teknis tertentu, yaitu :

1. Mempunyai potensi pakan (dalam hal ini serangga) yang cukup untuk makanan walet

2. Sesuai dengan peruntukkan yang sudah ditetapkan yaitu kawasan pertanian

3. Mempunyai akesibilitas yang baik atau mudah dijangkau

4. Jauh dari sumber pencemaran udara seperti industri yang menghasilkan limbah ke udara

5. Dekat infrastruktur yang dibutuhkan seperti jaringan listrik dan sumber air.

Khusus untuk persyaratan pertama, suatu daerah dikatakan mempunyai potensi pakan yang
cukup, menurut ahli burung dari LIPI, Drs. M. Noerdjito harus memenuhi persyaratan :

1. Keragaman Jenis Tumbuhan

Semakin beragam jenis tumbuhan yang ada dapat diharapkan bahwa sepanjang tahun
serangga pakan walet akan selalu tersedia.

2. Kesuburan Lahan

Semakin subur suatu kawasan maka semakin tinggi produktivitas serangga pakan
waletnya.

3. Pola Hujan

Semakin tinggi beda ayunan curah hujan sepanjang tahun akan semakin besar fluktuasi
ketersediaan pakan. Meningkatnya ketersediaan serangga pakan dalam waktu yang
relatif lama merupakan picu bagi perkembangbiakan walet.

4. Tingkat Pengolahan Lahan

Lahan yang baru diolah umumnya menghasilkan serangga pakan yang relatif banyak.

5. Tipe Habitat

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 II - 2
Bab II – Strategi dan Rencana Kerja Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

Pada musim kemarau, hutan kerangas akan menghasilkan serangga pakan walet yang
sangat sedikit, sedangkan rawa yang tidak pernah kering menghasilkan serangga pakan
dalam jumlah sedang tetapi umumnya berkelanjutan sepanjang tahun.

Kawasan Sarang Walet


.
Burung ‘Budidaya’
.
Walet Walet
. Goa & Penjualan Proses Export
….
….…. Rumah
.. ... ... .
. …. Serangga
.. .... .. .. ….….
. . ….
...... … .. ...... .
.. . ….
... ... . .. .. .. .. ..
….. . ...... …
. .
… . ..
.. ... ....
…. ….. .
….
Persawahan ..
…. Optimalisasi
Perkebunan
Pengelolaan
Hutan
SDA
Peningkatan Pendapatan
Koperasi Masyarakat dan P.A.D
KOPPOR

Gambar II.2.Siklus Budidaya Wlaet dengan Skema Walet Estate, di Kabupaten Kuningan.

II.2. CORPORATE FARMING

Corporate Farming (CF) adalah salah satu bentuk kerjasama agribisnis dari sekelompok
peternak / petani sewilayah melalui kosolidasi pengelolaan terpusat dalam bentuk Walet Estate
dengan menjamin kepemilikannya pada masing-masing peternak / petani. Manajemen usaha
dilakukan dalam satu tim yang dipimpin oleh seorang manajer yang legimate dan professional.
Corporate Farming mempunyai ciri-ciri :

1) Kelompok peternak / petani sewilayah mempercayakan pengelolaan usahanya (on farm


dan atau off farm) kepada satu lembaga professional dengan suatu perjanjian kerjasama,
di mana peternak bertindak selaku pemegang saham.

Para peternak / pemilik rumah walet yang selama ini melakukan kegiatan usaha waletnya
di kawasan pemukiman, akan mempercayakan pengelolaan usahanya pada Koperasi yang

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 II - 3
Bab II – Strategi dan Rencana Kerja Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

akan bertindak sebagai estate manager. Koperasi sebagai estate manager akan
merelokasi dan memusatkan kegiatan usaha budidaya walet pada satu lokasi yang sudah
ditentukan dan memenuhi syarat-syarat teknis dan sesuai dengan peruntukkannya. Para
peternak sebagai pemilik usaha bididaya walet bertindak selaku pemegang saham dalam
Walet Estate ini sesuai jumlah komposisi kepemilikan.

2) CF dibentuk melalui musyawarah dan mufakat

Corporate Farming dibentuk berdasarkan azas musyawarah dan mufakat sebagaimana


yang dikembangkan selama ini di organisasi koperasi.

3) Skala optimal; sesuai dengan kondisi dan kapasitas sumberdaya setempat

Sangat ideal bilamana semua peternak / pemilik rumah walet dapat semua bergabung
dengan walet estate. Namun demikian pada tahap awal diharapkan bisa bergabung
sebanyak 5 pemilik rumah walet dari sekitar 10 pemilik yang ada di Kuningan Kota.

4) Dikelola oleh manager professional yang dipilih oleh peternak

Estate Manager akan dilaksanakam oleh Koperasi dengan bantuan teknis dari para ahli
yang selama ini telah membantu mewujudkan integrated farming. Koperasi menyeleksi
dan mengangkat para pelaksana yang handal di bidang walet estate dengan arahan tim
ahli. Pengurus inti koperasi tidak diperkenankan untuk rangkap jabatan di estate manager,
agar supaya kegiatan bisa lebih terfokus.

5) Petani dapat bekerja pada CF

Para petani / peternak yang menjadi anggota koperasi selain sebagai pemilik walet estate,
dapat bekerja pada walet estate sesuai kebutuhan tenaga kerja yang telah dirancang oleh
estate manager. Kebutuhan tenaga kerja sedapat mungkin akan dicukupi dari para
peternak / petani sendiri yang masuk sebagai anggota walet estate.

6) Bertumpu pada komoditas unggulan

Rumah walet selama ini sudah berjalan cukup lama di Kuningan Kota. Jadi budidaya walet
merupakan salah komoditas yang dapat dijadikan unggulan dari Kabupaten Kuningan.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 II - 4
Bab II – Strategi dan Rencana Kerja Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

KOPPOR sebagai koperasi yang selama ini menjadi naungan usaha peternak akan menjadi
manajemen Ternak Estate.

ESTATE
MANGEMENT

KOPERASI
RUMAH WALET
PETERNAK dan PETANI
TERKONSENTRASI PADA
ORGANIK
KAWASAN BUDIDAYA
(KOPPOR)
YANG DIKELOLA OLEH
KOPERASI

WALET ESTATE

Gambar II.3.Struktur Pengelolaan Walet Estate, di Kabupaten Kuningan.

Rencana Lokasi Walet Estate

Gambar II.4. Rencana Lokasi Walet Estate, di Kabupaten Kuningan.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 II - 5
Bab II – Strategi dan Rencana Kerja Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

II.3. TAHAPAN KEGIATAN

Berdasarkan strategi pemecahan masalah seperti yang dijelaskan di atas, tahapan kegiatan
Walet Estate, yaitu :

1. Sosialisasi

Sosialisasi kepada peternak walet dan petani anggota koperasi tentang rencana relokasi
rumah walet yang ada di pemukiman ke lokasi Walet Estate dengan sistem pengelolaan
Corporate Farming. Pada tahap ini sosialisasi lebih ditujukan untuk mendapat umpan balik
dari para tokoh dan masyarakat. Pelaksanaan sosialisasi corporate farming dan Walet
Estae juga dibagi menjadi dua tahapan, yaitu pertama kepada para tokoh masyarakat baik
tokoh formal maupun informal. Dan kedua, kepada masyarakat peternak dan petani baik
yang menjadi anggota koperasi maupun bukan anggota. Waktu sosialisasi dilakukan pada
malam hari ba’da Isya dimana para petani dan peternak yang juga merangkap sebagai
petani sudah selesai melakukan segala aktivitas harian.

2. Survey Lokasi Walet Estate

Penentuan lokasi Walet Estate harus memenuhi kriteria dari aspek teknis, ekonomi, sosial
dan lingkungan. Lokasi Walet Estate juga harus sesuai dengan tata ruang yang ada dan
peruntukkan penggunaan tanah sesuai peraturan yang berlaku. Lokasi rumah walet yang
sekarang ini berada di kawasan pemukiman penduduk harus menjadi pelajaran berharga
bagi masyarakat dan tidak terulang lagi.

3. Penyusunan Masterplan Walet Estate

Berdasarkan umpan balik dari hasil sosialisasi, maka disusun masterplan Walet Estate
meliputi layout, rencana anggaran, pelaksanaan pembangunan dan manajemen
pengelolaan termasuk didalamnya aturan main bisnis antara pengelola dan masyarakat
peternak.

4. Sosialisasi Lanjutan

Setelah masterplan tersusun, dilakukan sosialisasi lanjutan untuk mendapat persetujuan


atau mufakat dari masyarakat. Mufakat ini sangat penting karena masyarakat peternak

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 II - 6
Bab II – Strategi dan Rencana Kerja Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

dalam sistem Walet Estate ditempatkan sebagai pemilik usaha. Salah satu keberhasilan
usaha adalah manajemen yang profesional. Oleh karena itu, dalam musyawarah untuk
mufakat (sosialisasi) ini dibahas juga organisasi pelaksana Walet Estate baik struktur
organisasi, tugas dan tanggungjawab serta personil yang akan terlibat.

5. Pelaksanaan Pembangunan Walet Estate

Sesuai dengan prinsip dasar koperasi, pelaksanaan pembangunan Walet Estate dilakukan
secara gotong royong diantara para anggota masyarakat. Supervisi akan dilakukan
bekerjasama dengan tim ahli.

6. Pengelolaan Walet Estate

KOPPOR akan bertindak sebagai estate manager yang tentunya akan dibantu oleh
tenaga-tenaga profesional di bidangnya. Pengelolaan Walet Estate tidak serentak
dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap sesuai dengan kemampuan koperasi dan
warga masyarakat. Pada tahap awal, Walet Estate direncanakan mempunyai kapasitas 5
rumah walet pada satu lokasi. Bila telah berjalan dengan baik, diharapkan seluruh rumah
walet yang berada di pemukiman dapat dikelola di Walet Estate. Pengembangan walet
estate dapat dilakukan pada lokasi lainnya, sehingga di Kabupaten Kuningan sedikitnya
dapat dibangun 5 lokasi walet estate yang masing-masing dapat menampung 5 – 10 rumah
walet.

Dengan cara penyebaran lokasi walet estate menjadi 5 wilayah, maka sumberdaya alam
dapat dimanfaatkan secara optimal dan masyarakat terutama petani mendapat keadilan
dalam pemerataan sumberdaya alam.

7. Integrasi dengan Kegiatan Lain

Walet Estate merupakan salah satu kegiatan dalam suatu siklus yang dinamakan
Integrated Farming. Jadi Walet Estate bukan merupakan kegiatan yang berdiri sendiri
tetapi terkait dengan kegiatan usaha tani lainnya. Walet menghasilkan kotoran / limbah
yang dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Tanaman menghasilkan bunga dan buah
sebagai habitat serangga yang dapat diajadikan sebagai pakan utama walet.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 II - 7
Bab II – Strategi dan Rencana Kerja Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

II.6. PRODUK AKHIR

Dengan segenap kemampuan koperasi bersama-sama masyarakat terutama anggota koperasi


dan dukungan pendanaan dari pihak luar, diharapkan Walet Estate dengan sistem pengelolaan
Corporate Farming dapat segera diwujudkan. Bila ini terjadi dan harus terjadi, maka rumah-
rumah walet yang berada di lokasi pemukiman penduduk yang dikhawatirkan akan menjadi
masalah besar di kemudian hari, dapat segera diatasi. Limbah walet berupa kotoran yang ada
di dalam rumah akan menjadi berkah dan bukan membuat masalah. Hutan beton yang sudah
terjadi di kota-kota lain tidak akan terjadi di Kuningan dan estetika lingkungan dapat terjaga
dengan abik. Salah satu bahaya yang mengancam kelestarian Kota Kuningan dapat
dihindarkan dan upaya menuju Kuningan sebagai Kota Lestari semakin dekat. Ini merupakan
sumbangsih kecil para petani terhadap ekskistensi, keindahan dan kelestarian ibukotanya.

II.7. KEBERLANJUTAN KEGIATAN

Walet Estate akan terus dilanjutkan hingga terbentuk sedikitnya 5 (lima) lokasi di seluruh
Kabupaten Kuningan . Walet Estate diharapkan akan terus berlanjut, karena ini merupakan
sumberdaya alam yang belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesejahteraan dan keadilan
masyarakat dalam memperoleh mata pencaharian. Sebagaimana dijelaskan pada awal
proposal, bahwa usaha walet estate adalah salah satu bagian dari kegiatan Integrated
Farming yang sedang digiatkan oleh koperasi. Jadi Ternak Estate yang ramah lingkungan
sudah menjadi bagian program koperasi. Kami menyadari bahwa hanya dengan Integrated
Farming yang ramah lingkungan, kesejahteraan petani dan peternak dapat ditingkatkan dan
jaminan kesejahteraan untuk masa depan generasi mendatang.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 II - 9
Bab III – Rencana Anggaran Koperasi Petani dan
Peternak Organik - Kuningan

BAB III
RENCANA ANGGARAN

Komponen utama biaya pembangunan Walet Estate terdiri biaya jasa penentuan lokasi rumah walet
(survey lokasi). Keberhasilan suatu Walet Estate sangat ditentukan oleh keakuratan penentuan
lokasi. Salah dalam penentuan lokasi berarti kegagalan dalam Walet Estate. Penentuan lokasi
memerlukan studi yang komprehensip dan melibatkan berbagai keahlian seperti ahli entomologi
(serangga), ahli ekologi (walet), ahli botani, ahli planologi, ahli hidrologi dan ahli iklim.

Komponen lainnya yang juga memerlukan biaya cukup besar adalah pengadaan tanah. Tanah ini agak
sulit untuk disediakan oleh petani atau anggota koperasi karena tanah untuk lokasi Walet Estate tidak
bisa ditentukan sejak awal tetapi tergantung hasil survey lokasi yang akan ditentukan oleh para ahli.
Tetapi harga tanah dapat diperkirakan tidak akan mahal karena lokasinya terletak jauh dari
pemukiman yang biasanya nilai tanahnya relatif rendah.

Tabel III.1. Rencana Anggaran Biaya Walet Estate


Volume Harga Satuan Biaya
No Keterangan
Bahan / Upah Rp
I Survey Lokasi 37.500.000
1 Ahli Ekologi (ketua) (manmonth) 2,0 7.500.000 15.000.000
2 Ahli Entomologi 1,5 5.000.000 7.500.000
3 Ahli Botani 1 5.000.000 5.000.000
4 Ahli Hidrologi 1 5.000.000 5.000.000
5 Ahli Planologi 1 5.000.000 5.000.000
II Pengadaan Lahan (m2) 5.000 25.000 125.000.000
III Penyiapan Lahan (m2) 5.000 5.000 25.000.000
IV Upah 3.000.000
Pembantu -
Tukang 60 50.000 3.000.000
V Sosialisasi 2 2.000.000 4.000.000
VI Lain-lain Ls - 5.000.000
Total Biaya 199.500.000
Total Biaya (dibulatkan) 200.000.000

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 III - 1
Kesimpulan Koperasi Peternak dan
Petani Organik - Kuningan

KESIMPULAN

1. Memperhatikan perkembangan beberapa “pusat” rumah walet seperti di Indramayu,


Karawang, Kota Sungailiat, Kota Pangkalpinang dan Kota Kisaran yang pertumbuhannya tidak
dikendalikan sehingga cenderung mencemari llingkungan, Kabupaten Kuningan yang juga
mempunyai potensi besar di bidang pengembangan budidaya walet tidak ingin mengalami nasib
yang sama dengan daerah-daerah tersebut. Beberapa rumah walet yang sudah berdiri di
kawasan pemukiman penduduk di Kota Kuningan perlu di tata ulang sehingga tidak
menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Potensi sumberdaya
alam walet perlu dikelola dengan baik sehingga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat
secara berkeadilan.

2. Usaha budidaya walet melalui pendirian rumah-rumah walet disatu sisi merupakan mata
pencaharian masyarakat dan sumber devisa yang cukup menggiurkan. Tetapi pada sisi yang
lain usaha budidaya rumah walet yang berada di kawasan pemukiman penduduk juga
menimbulkan masalah yang tidak kecil. Pencemaran lingkungan yang ditimbulkannya
merupakan masalah serius yang harus diantisipasi.

3. Koperasi Peternak dan Petani Organik (KOPPO) Kuningan menawarkan solusi bagi
pemanfaatan sumberdaya alam walet secara berkelanjutan dengan membuat kawasan
budidaya walet atau Walet Estate. Mengacu pada Undang Undang No. 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang, Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet adalah area atau kawasan yang
ditetapkan dengan fungsi utama sebagai budidaya walet.

Bilamana solusi tersebut di atas dapat dijalankan dengan baik, maka tidak saja pencemaran
lingkungan dapat diatasi, tetapi juga usaha budidaya walet dapat dikembangkan secara optimal
dan berkeadilan karena pada dasarnya potensi sumber daya alam adalah untuk kesejahteraan
bersama. Walet Estate dapat dijadikan model untuk pemecahan masalah yang sama di daerah
lain yang kondisinya sudah jauh lebih kompleks seperti di Karawang, Indramayu, Kota
Pangkalpinang, Kota Sungai Liat, Kota Kisaran dan kota-kota lainnya.

4. Beberapa manfaat yang dapat dipetik oleh masyarakat dengan solusi yang kami tawarkan
diantaranya adalah 1) Pencemaran lingkungan terutama terhadap kesehatan masyarakat

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1i
Kesimpulan Koperasi Peternak dan
Petani Organik - Kuningan

akibat usaha rumah walet yang sporadis dapat dicegah, karena lokasi rumah walet sesuai
dengan peruntukannya dan jauh dari pemukiman penduduk, 2) Kota Kunigan terhindar menjadi
hutan beton (rumah walet terbuat dari bangunan tembok semua) yang dapat mengganggu
keindahan kota 3) Konflik sosial antar warga yang berpotensi terjadi terutama kecemburuan
sosial dapat dicegah dan diganti dengan kehidupan yang harmonis dan hidup berdampingan
secara damai dengan alam yang lestari 4) Pemanfaatan sumber daya alam tidak hanya untuk
segelintir orang atau pemodal kaya saja tetapi dapat dikelola secara optimal dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran masyarakat dan 5) Pembelajaran untuk masyarakat akan
pentingnya penataan ruang dan mematuhi tataruang yang sudah disepakati bersama.

Walet Estate atau Kawasan Budidaya Walet Sebagai Solusi Penataan Ruang di Kuningan Kota, Kab. Kuningan 1 ii