Anda di halaman 1dari 3

Mendesain Suatu Rencana Pemantauan Terapi Obat

Menetapkan parameter farmakoterapi


Suatu rencana pemantauan harus menguraikan parameter yang akan berguna dalam
penetapan keefektifan suatu terapi dan penetapan terjadinya masalah yang berkaitan dengan
obat atau efek merugikan dari terapi. Apoteker perlu membuat rencana pemantauan tiap obat
yang diterima pasien.
Suatu rencana pemantauan terdiri dari gabungan parameter objektif dan subjektif.
a. Parameter objektif, mencakup berbagai faktor yang dapat diukur oleh uji laboratorium,
tanda-tanda vital, laporan pemeriksaan sinar X, dan konsentrasi obat dalam darah.
b. Parameter subjektif, mencakup berbagai faktor yang tidak dapat diukur dan memerlukan
suatu peertimbangan nilai, seperti penampilan umum atau pengkajian pasien sendiri tentang
kemajuannya.
Titik mula dalam suatu rencana pemantauan adalah menyeleksi parameter,
baik kuantitatif dan kualitatif yang memabntu untuk menetapkan pemenuhan/pencapaian
sasaran farmakoterapi atau hasil terapi yang diinginkan. Parameter kuantitatif meliputi
pengukuran tekanan darah, denyut nadi, suhu, bobot badan dan glukosa serum. Adapun
parameter kualitatif contohnya pengurangan kesakitan, berkurangnya pembengkakan dan
pengurangan mual.
Hal-hal yang harus dipertimbangakan apoteker dalam menyeleksi parameter meliputi:
1. Karakteristik obat
Karakteristik obat yang dapat memengaruhi seleksi parameter pemantauan mencakup
antara lain: kemungkinan pengukuran dari konsentrasi obat dalam serum, dan penetapan
hubungan antara konsentrasi dan efikasi atau toksisitas.
2. Efikasi terapi dan efek merugikan dari regimen
Dalam menyeleksi parameter terapi,apoteker harus juga mempertimbangkan keefektifan
terapi dan efek merugikan yang mungkin dari regimen terapi obat. Misalnya untuk
pasien diabates maka parameter yang dapat diseleksi adalah A1c dan kadar glukosa
darah untuk memantau efikasi terapi dan peristiwa merugikan hipoglikemi.
3. Perubahan fisiologi pasien
Perubahan fisiologi pasien dipertimbangkan adalah perubahan fisiologi yang dapat
mengubah farmakokinetik obat. Misal pada pasien dengan gangguan ginjal yang
menerima fenitoin memiliki kira-kira setengah ikatan protein plasma daripada pasien
dengan fungsi ginjal normal. Untuk pasien seperti ini pemantauan feniotin akan
dipengaruhi oleh perubahan dalam karakteristik ikatan protein.
4. Kepraktisan, ketersediaan dan biaya pemantauan
apoteker sebaiknya juga menyeleksi parameter berdasarkan pada kepraktisan,
ketersediaan, dan biaya pemantauan. Parameter yang tidak relevan, tidak saja mahal
tetapi juga tidak memberi kegunaan dalam perawatan pasien. contohnya, pengukuran
asam urat serum pada seorang pasien yang diobati dengan hidroklortiazid. Jika asam urat
serum meningkat, pasien dapat menerima terapi hiperuresemia dan kemudian
pengukuran asam urat padahal biasanya peningkatan asam urat diimbas obat tidak
memerlukan pengobatan.
Penetapan titik akhir farmakoterapi
Suatu titik akhir menandakan pencapaian sasaran atau penyelesaian dari proses.
langkah selanjutnya dari rencana pemantauan adalah penetapan titik akhir yang
diinginkan baik terukur atau dapat diamati tiap parameter.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan apoteker dalam menentukan titik akhir yang
diinginkan:
1. Faktor khusus pasien
Faktor khusus pasien misalnya umur. Titik akhir pengobatan hipertensi (tekanan
darah yang diinginkan) akan berbeda pada pasien lanjut usia daripada pasien yang
lebih muda usia. Faktor lain misalnya jenis penyakit, toleransi sakit.
2. Karakteristik obat
Karakteristik obat mempengaruhi titik akhir terapi apabila harus
mempertimbangkan kemampuan obat memengaruhi penyakit yang sedang diobati.
Misal, perbedaan konsentrasi puncak aminoglikosdia yang diinginkan untuk
pengobatan pneumonia berbeda dengan untuk pengobatan bakteremia (bakteri
dalam darah)
3. Efikasi dan toksisitas
akhirnya, apabila menetapakan titik akhir, apoteker harus mempertimbangkan
efikasi dan toksisitas obat. Suatu titik akhir dari konsentrasi serum 5 mcg/ml
untuk gentamisin adalah tidak praktis bagi seorang pasien yang gagal memberikan
respon.
Penetapan frekuensi pemantauan
Langkah terakhir dalam rencana pemantauan adalah menetapkan frekuensi
pemantauan. Berbagai faktor yang mempengaruhi frekuensi pemantauan termasuk:
1. Kebutuhan khusus pasien
Kebutuhan pasien itu seperti status penyakit pasien. misal, pasien hipertensi
dengan tekanan darah 200/120 mmHg memerlukan pemantauan lebih sering
daripada pasien dengan tekanan darah 145/95 mmHg.
2. Rincian terapi obat
Beberapa obat menimbulkan efek merugikan yang memerlukan pemantauan lebih
sering, misalnya pada pasien yang menerima tiklopidin (aritmia jantung.) obat ini
berkaitan dengan neutropenia (penuruan jumlah neutrofil darah) pada kira-kira 2
% pasien, sehingga diperlukan pengukuran jumlah butir sel darah putih tiap dua
minggu dalam tiga bulan pertama terapi. Jika jumlahnya tetap di atas 3500 /mm
setelah waktu tiga bulan tersebut, pasien dipantau hanya untuk tanda dan gejala
infeksi yang menimbulkan kesan neutropenia misalnya kerongkongan sakit dan
demam.
3. Biaya dan kepraktisan pemantauan
Meminta pasien kembali ke dokter, klinik dan IFRS untuk pasien rawat jalan
terlalu sering menunjukkan ketidaktepatan pemantauan dan pemborosan.
Pengkajian kembali dalam jarak waktu yang sering adalah tidak praktis.
4. Keinginan profesional kesehatan lain
Setelah apoteker mengembangkan suatu rencana pemantauan, pasien atau dokter
mungkin tidak menerimanya. Apoteker perlu mengerti alasan penolakan tersebut.
Salah satu alasan utama kemungkinan frekuensi pemantauan. Pasien rawat tinggal
dapat dipantau paling sedikit setiap hari, tetapi pasien rawat jalan dipantau kurang
sering.