Anda di halaman 1dari 15

HUKUM BOYLE

Hukum Boyle adalah salah satu dari banyak hukum kimia dan merupakan kasus
khusus dari hukum kimia ideal. Hukum Boyle mendeskripsikan kebalikan hubungan
proporsi antara tekanan absolut dan volume udara, jika suhu tetap konstan dalam
sistem tertutup. Hukum ini dinamakan setelah kimiawan dan fisikawan Robert Boyle
yang menerbitkan hukum aslinya pada tahun 1662. Bunyi Hukum Boyle yaitu "Untuk
jumlah tetap gas ideal tetap di suhu yang sama, P (tekanan) dan V (volume) merupakan
proporsional terbalik (dimana yang satu ganda, yang satunya setengahnya)."
Dalam hal ini yang disebut gas ideal adalah gas yang memenuhi asumsi-asumsi
sebagai berikut :
1. Terdiri atas partikel dalam jumlah yang banyak dan tidak ada gaya tarik-menarik
antarpatikel
2. Setiap partikel gas selalu bergerak dengan arah acak (sembarang)
3. Ukuran partikel diabaikan terhadap ukuran wadah
4. Setiap tumbukan yang terjadi secara lenting sempurna.
5. Partikel-partikel gas terdistribusi merata pada seluruh ruang dalam wadah.
6. Gerak partikel gas memenuhi hukum newton tentang gerak.

Robert Boyle menyatakan tentang sifat gas bahwa massa gas (jumlah mol) dan
temperatur suatu gas dijaga konstan, sementara volume gas diubah.... ternyata,
tekanan yang dikeluarkan gas juga berubah sedemikian hingga perkalian antara
tekanan (P) dan volume (V) , selalu mendekati konstan. Dengan demikian suatu kondisi
bahwa gas tersebut adalah gas sempurna (ideal).

Kemudian hukum ini dikenal dengan Hukum Boyle dengan persamaan :

P1.V1 = selalu konstan

Atau , jika P1 dan V1 adalah tekanan awal dan volume awal, sedangkan P2 dan V2
adalah tekanan dan volume akhir, maka :

P1.V1 = P2.V2 = konstan

Syarat berlakunya hukum Boyle adalah bila gas berada dalam keadaan ideal (gas
sempurna), yaitu gas yang terdiri dari satu atau lebih atom-atom dan dianggap identik
satu sama lain. Setiap molekul tersebut bergerak secara acak, bebas dan merata serta
memenuhi persamaan gerak Newton. Yang dimaksud gas sempurna (ideal) dapat
didefinisikan bahwa gas yang perbangdingannya PV/nT nya dapat didefinisikan sama
dengan R pada setiap besar tekanan. Dengan kata lain, gas sempurna pada tiap besar
tekanan bertabiat sama seperti gas sejati pada tekanan rendah.

Persaman gas sempurna :
P.V = n.R.T
Keterangan :
P : tekanan gas (n / m2 atau pa)
V : volume gas (m3)
n : jumlah mol gas
T : temperatur mutlak (Kelvin)
R : konstanta gas universal (0,082liter.atm.mol-1.K-1)

Pernyataan lain dari hukum boyle adalah bahwa hasil kali antara tekanan dan volum
akan bernilai konstan selama massa dan suhu gas dijaga konstan.
Secara matematis dapat di tulis:
P.V = C
Keterangan:
P = tekanan gas (n / m2 atau pa)
V = volum gas (m3)
c = tetapan berdimensi usaha

Contoh soal
dalam suatu wadah terdapat 4 liter gas dengan tekanan 4 atm dan suhu 470c. kemudian tekanan
gas menjadi 1/4 dari tekanan semula dan suhu gas dijaga konstan. berapakah volum gas
sekarang?
pembahasan :
p1 = 4 atm dari hukum boyle, pada suhu tetap hubungan yang
p2 = p1 = 1 atm berlaku adalah : p1.v1 = p2.v2
t = 470c
v1 = 4l
v2 =.? jadi, volum gas sekarang adalah 16 liter.

HUKUM CHARLES
hukum charles berbunyi volum gas berbanding lurus dengan suhu mutlak, selama massa dan
tekanan gas dijaga konstan, dikemukakan oleh jacques charles tahun 1787. dengan demikian
volum dan suhu suatu gas pada tekanan konstan adalah berbanding lurus dan secara matematis
kesebandingan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.

v = kt, dengan k adalah konstanta

kemudian untuk gas dalam suatu wadah yang mengalami perubahan volum dan suhu dari
keadaan 1 ke keadaan 2 saat tekanan dan massa dijaga konstan, dapat dirumuskan berikut :

dengan v1 = volum gas mula-mula (m3)
v2 = volum gas akhir (m3)
t1 = suhu gas mula-mula (k)
t2 = suhu gas akhir (k)


contoh soal
gas dalam ruang tertutup memiliki volum 1 liter pada tekanan 10 atm dan suhu 470c. gas
dipanaskan pada tekanan tetap sehingga suhunya menjadi 770c. berapakah volum gas sekarang?
pembahasan
p = 10 atm pada tekanan tetap berlaku hubungan seperti berikut.

v1 = 1l
t1 = 470c = 320 k
t2 = 770c = 350 k jadi, volum gas sekarang adalah 1,094 liter


hukum gay lussac
pada volume konstan, tekanan gas berbanding lurus dengan suhu mutlak gas. hubungan ini
dikenal dengan julukan hukum gay-lussac, dinyatakan oleh joseph gey lussac (1778-1850).
secara matematis ditulis sebagai berikut :




untuk gas dalam suatu wadah yang mengalami pemanasan dengan volum dijaga tetap, pada
proses 1 dan 2 hukum gey lussac dapat ditulis seperti berikut :

dengan p1 = tekanan mula-mula (atm)
p2 = tekanan akhir (atm)
t1 = suhu mutlak mula-mula (k)
t2 = suhu akhir (k)

Contoh soal
gas dalam ruang tertutup memiliki volum 2,5 liter, tekanan 2 atm, dan suhu 270c. berapakah
tekanan gas tersebut jika suhu dinaikan menjadi 670c pada volum tetap?
pembahasan :
v = 2,5 l pada volum tetap berlaku hukum gey lussac,

p1 = 2 atm
t1 = 270c = 300k p2 = 2.27 atm
t2 = 670c = 340k jadi, tekanan gas pada suhu 670c adalah 2,27 atm


Hukum boyle-gay lussac
suatu rumus turunan dari perkembangan dari hukum boyle dan gay lussac yaitu persamaan
keadaan gas yang lebih umum yang menghubungkan besaran tekanan, volum, dan suhu dalam
berbagai keadaaa, sehingga memperoleh persamaan berikut :


apabila dalam dua keadaan maka dapat ditulis dengan


keterangan
p1 = tekanan gas mula-mula (n/m2)
v1 = volum gas mula-mula (m3)
t1 = suhu mutlak gas mula-mula (k)
p2 = tekanan gas akhir (n/m2)
v2 = volum gas akhir (m3)
t2 = suhu mutlak gas akhir (k)

Contoh soal
massa jenis suatu gas pada suhu t dan tekanan p adalah p. jika tekanan gas tersebut dijadikan 2p
dan suhunya diturunkan menjadi 0,5 t. tentukanlah massa jenis akhir?
pembahasan :
p1 = p
p2 = 2p
t1 = t
t2 = 0,5t


E. Hukum Avogadro
Kuantitas atom, molekul dan ion dalam suatu zat dinyatakan dalam satuan mol. Misalnya, untuk
mendapatkan 18 gram air maka 2 gram gas hidrogen direaksikan dengan 16 gram gas oksigen.
2H2O + O2 2H2O
Dalam 18 gram air terdapat 6,0231023 molekul air. Karena jumlah partikel ini sangat besar
maka tidak praktis untuk memakai angka dalam jumlah yang besar. Sehingga iistilah mol
diperkenalkan untuk menyatakan kuantitas ini. Satu mol adalah jumlah zat yang mangandung
partikel (atom, molekul, ion) sebanyak atom yang terdapat dalam 12 gram karbon dengan nomor
massa 12 (karbon-12, C-12). Jumlah atom yang terdapat dalam 12 gram karbon-12 sebanyak
6,021023 atom C-12. tetapan ini disebut tetapan Avogadro.
Tetapan Avogadro (L) = 6,021023 partikel/mol
Lambang L menyatakan huruf pertama dari Loschmidt, seorang ilmuwan austria yang pada
tahun 1865 dapat menentukan besarnya tetapan Avogadro dengan tepat. Sehingga,
1 mol zat X = L buah partikel zat X
Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel
Jumlah partikel = n x L

Massa Molar
Telah diketahui bahwa satu mol adalah jumlah zat yang mengandung partikel (atom, molekul,
ion) sebanyak atom yang terdapat dalam 12 gram karbon dengan nomor massa 12 (karbon-12, C-
12). Sehingga terlihat bahwa massa 1 mol C-12 adalah 12 gram. Massa 1 mol zat disebut massa
molar. Massa molar sama dengan massa molekul relatif (Mr) atau massa atom relatif (Ar) suatu
zat yang dinyatakan dalam gram.
Massa molar = Mr atau Ar suatu zat (gram)
Massa dan Jumlah Mol Atom/Molekul
Hubungan mol dan massa dengan massa molekul relatif (Mr) atau massa atom relatif (Ar) suatu
zat dapat dicari dengan
Gram = mol x Mr atau Ar
Volume Molar
Avogadro mendapatkan hasil dari percobaannya bahwa pada suhu 0C (273 K) dan tekanan 1
atmosfir (76cmHg) didapatkan tepat 1 liter oksigen dengan massa 1,3286 gram. Maka,
1 mol oksigen sama dengan 22,4 liter
Pengukuran dengan kondisi 0C (273 K) dan tekanan 1 atmosfir (76cmHg) disebut juga keadaan
STP(Standard Temperature and Pressure). Pada keadaan STP, 1 mol gas oksigen sama dengan
22,3 liter.
Avogadro yang menyata-kan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang bervolume
sama mengandung jumlah molekul yang sama. Apabila jumlah molekul sama maka jumlah
molnya akan sma. Sehingga, pada suhu dan tekanan yang sama, apabila jumlah mol gas sama
maka volumenyapun akan sama. Keadaan standar pada suhu dan tekanan yang sma (STP) maka
volume 1 mol gas apasaja/sembarang berharga sama yaitu 22,3 liter. Volume 1 mol gas disebut
sebagai volume molar gas (STP) yaitu 22,3 liter/mol.
Volume Gas Tidak Standar
Persamaan gas ideal
Persamaan gas ideal dinyatakan dengan:
PV=nRT
keterangan:
P; tekanan gas (atm)
V; volume gas (liter)
N; jumlah mol gas
R; tetapan gas ideal (0,082 liter atm/mol K) T; temperatur mutlak (Kelvin)
Gas Pada Suhu dan Tekanan Sama
Avogadro melalui percobaannya menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas
yang bervolume sama mengandung jumlah molekul yang sama. Apabila jumlah molekulnya
sama maka jumlah molnya sama. Jadi pada suhu dan tekanan yang sama perbandingan mol gas
sama dengan perbandingan volume gas. Maka,
Molaritas
Larutan merupakan campuran antara pelarut dan zat terlarut. Jumlah zat terlarut dalam larutan
dinyatakan dalam konsentrasi. Salah satu cara untuk menyatakan konsentrasi dan umumnya
digunakan adlah dengan molaritas (M). molaritas merupakan ukuran banyaknya mol zat terlarut
dalam 1 liter larutan.
pengenceran dilakukan apabila larutan terlalu pekat. Pengenceran dilakukan dengan penambahan
air. Pengenceran tidak merubah jumlah mol zat terlarut. Sehingga,
V1M1 = V2M2
keterangan:
V1 = volume sebelum pengenceran
M1 = molaritas sebelum pengenceran
V2 = volume sesudah pengenceran
M2 = molaritas sesudah pengenceran
Berikut ini diberikan beberapa contoh soal serta penyelesaian perhitungan kimia yang
menggunakan hukum-hukum dasar kimia :
1. Serbuk kalsium sejumlah 20 gram (Ar Ca = 40) direaksikan dengan 20 gram belerang (Ar S =
32) sesuai dengan persamaan reaksi Ca + S CaS. Zat apakah yang tersisa setelah reaksi
selesai?Berapa massa zat yang tersisa setelah reaksi selesai?
Penyelesaian :
Perbandingan mol Ca terhadap S adalah 1 : 1. Hal ini berarti, setiap 40 gram Ca tepat bereaksi
dengan 32 gram S membentuk 72 gram CaS. Perbandingan massa Ca terhadap S adalah 40 : 32 =
5 : 4.
Jika 20 gram S tepat habis bereaksi, dibutuhkan (5/4) x 20 = 25 gram Ca, untuk membentuk 45
gram CaS. Sayangnya, jumlah Ca yang disediakan tidak mencukupi.
Oleh karena itu, 20 gram Ca akan tepat habis bereaksi. Massa S yang diperlukan sebesar (4/5) x
20 gram = 16 gram. Dengan demikian, zat yang tersisa adalah belerang (S). Massa belerang yang
tersisa adalah 20-16=4 gram.
2. Gas A
2
sebanyak 10 mL tepat habis bereaksi dengan 15 mL gas B
2
membentuk 10 mL gas
A
x
B
y
pada suhu dan tekanan yang sama. Berapakah nilai x dan y?
Penyelesaian :
Perbandingan volume gas A
2
terhadap gas B
2
dan gas A
x
B
y
adalah 10 mL : 15 mL : 10 mL = 2 :
3 : 2. Perbandingan volume gas sama dengan perbandingan koefisien reaksinya. Dengan
demikian, persamaan reaksi menjadi :
2 A
2(g)
+ 3 B
2(g)
2 A
x
B
y

Nilai x = 2 dan nilai y = 3.
3. Gas amonia dapat dibuat dengan mereaksikan 100 mL gas nitrogen dan 150 mL gas hidrogen
dengan reaksi N
2(g)
+ 3 H
2(g)
2 NH
3(g)
. Hitunglah volume gas amonia yang dihasilkan pada
akhir reaksi!
Penyelesaian :
Perbandingan volume gas N
2
terhadap gas H
2
dan NH
3
sama dengan perbandingan koefisien
reaksinya, yaitu 1 : 3 : 2.
Jika 100 ml gas N
2
tepat habis bereaksi, dibutuhkan 300 mL gas H
2
. Sayangnya, jumlah gas H
2
yang disediakan tidak mencukupi.
Dengan demikian, 150 mL H
2
lah yang tepat habis bereaksi. Volume gas N
2
yang dibutuhkan
sebesar (1/3) x 150 mL = 50 mL. Setelah reaksi selesai, masih tersisa 50 mL gas N
2
. Volume gas
NH
3
yang dihasilkan adalah sebesar (2/3) x 150 mL = 100 mL.
4. Pada suhu dan tekanan tertentu, sebanyak 0,5 L gas hidrogen (Ar H = 1) memiliki massa
sebesar 0,05 gram. Berapakah volume gas oksigen yang dapat dihasilkan jika sebanyak 12,25
gram padatan KClO
3
dipanaskan? (Mr KClO
3
= 122,5)
Penyelesaian :
mol H
2
= gram / Mr = 0,05 / 2 = 0,025 mol
Persamaan reaksi pemanasan KClO
3
adalah sebagai berikut :
KClO
3(s)
KCl
(s)
+ 3/2 O
2(g)

mol KClO
3
= gram / Mr = 12,25 / 122,5 = 0,1 mol
Dengan demikian, mol O
2
= (3/2) x 0,1 mol = 0,15 mol
Pada suhu dan tekanan yang sama, Hukum Avogadro berlaku pada sistem gas. Perbandingan
mol gas sama dengan perbandingan volume gas. Dengan demikian :
mol H
2
: mol O
2
= volume H
2
: volume O
2

0,025 : 0,15 = 0,5 : volume O
2

Volume O
2
= ( 0,15 x 0,5) / 0,025 = 3 L
5. Suatu campuran gas terdiri atas 2 mol gas N
2
O
3
dan 4 mol gas NO. Jika campuran gas ini
terurai sempurna menjadi gas nitrogen dan gas oksigen, berapakah perbandingan volume gas
nitrogen terhadap gas hidrogen dalam campuran tersebut?
Penyelesaian :
Persamaan reaksi penguraian masing-masing gas adalah sebagai berikut :
N
2
O
3(g)
N
2(g)
+ 3/2 O
2(g)

NO
(g)
N
2(g)
+ O
2(g)

Sebanyak 2 mol gas N
2
O
3
akan terurai dan menghasilkan 2 mol gas N
2
dan 3 mol gas O
2
.
Sementara itu, sebanyak 4 mol gas NO akan terurai dan menghasilkan 2 mol gas N
2
dan 2 mol
gas O
2
.
Dengan demikian, mol total gas N
2
yang terbentuk adalah 2 + 2 = 4 mol N
2
. Mol total gas O
2
yang terbentuk adalah 3 + 2 = 5 mol O
2
. Perbandingan mol gas sama dengan perbandingan
volume gas. Jadi, perbandingan volume gas nitrogen terhadap gas hidrogen dalam campuran
tersebut adalah 4 : 5.

Hukum gas ideal
molekul tunggal adalah contoh yang baik kebergantungan sifat makroskopik pada struktur
mikroskopik.
Gas merupakan satu dari tiga wujud zat dan walaupun wujud ini merupakan bagian tak
terpisahkan dari studi kimia, bab ini terutama hanya akan membahasa hubungan antara volume,
temperatur dan tekanan baik dalam gas ideal maupun dalam gas nyata, dan teori kinetik
molekular gas, dan tidak secara langsung kimia. Bahasan utamanya terutama tentang perubahan
fisika, dan reaksi kimianya tidak didisuksikan. Namun, sifat fisik gas bergantung pada struktur
molekul gasnya dan sifat kimia gas juga bergantung pada strukturnya. Perilaku gas yang ada
sebagai
a. Sifat gas
Sifat-sifat gas dapat dirangkumkan sebagai berikut.
1. Gas bersifat transparan.
2. Gas terdistribusi merata dalam ruang apapun bentuk ruangnya.
3. Gas dalam ruang akan memberikan tekanan ke dinding.
4. Volume sejumlah gas sama dengan volume wadahnya. Bila gas tidak diwadahi, volume
gas akan menjadi tak hingga besarnya, dan tekanannya akan menjadi tak hingga
kecilnya.
5. Gas berdifusi ke segala arah tidak peduli ada atau tidak tekanan luar.
6. Bila dua atau lebih gas bercampur, gas-gas itu akan terdistribusi merata.
7. Gas dapat ditekan dengan tekanan luar. Bila tekanan luar dikurangi, gas akan
mengembang.
8. Bila dipanaskan gas akan mengembang, bila didinginkan akan mengkerut.
Dari berbagai sifat di atas, yang paling penting adalah tekanan gas. Misalkan suatu cairan
memenuhi wadah. Bila cairan didinginkan dan volumenya berkurang, cairan itu tidak akan
memenuhi wadah lagi. Namun, gas selalu akan memenuhi ruang tidak peduli berapapun
suhunya. Yang akan berubah adalah tekanannya.
Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan gas adalah manometer. Prototipe alat pengukur
tekanan atmosfer, barometer, diciptakan oleh Torricelli.
Tekanan didefinisikan gaya per satuan luas, jadi tekanan = gaya/luas.
Dalam SI, satuan gaya adalah Newton (N), satuan luas m
2
, dan satuan tekanan adalah Pascal
(Pa). 1 atm kira-kira sama dengan tekanan 1013 hPa.
1 atm = 1,01325 x 10
5
Pa = 1013,25 hPa
Namun, dalam satuan non-SI unit, Torr, kira-kira 1/760 dari 1 atm, sering digunakan untuk
mengukur perubahan tekanan dalam reaksi kimia.
b. Volume dan tekanan
Fakta bahwa volume gas berubah bila tekanannya berubah telah diamati sejak abad 17 oleh
Torricelli dan filsuf /saintis Perancis Blase Pascal (1623-1662). Boyle mengamati bahwa dengan
mengenakan tekanan dengan sejumlah volume tertentu merkuri, volume gas, yang terjebak
dalam tabung delas yang tertutup di salah satu ujungnya, akan berkurang. Dalam percobaan ini,
volume gas diukur pada tekanan lebih besar dari 1 atm.
Boyle membuat pompa vakum menggunakan teknik tercangih yang ada waktu itu, dan ia
mengamati bahwa gas pada tekanan di bawah 1 atm akan mengembang. Setelah ia melakukan
banyak percobaan, Boyle mengusulkan persamaan (6.1) untuk menggambarkan hubungan antara
volume V dan tekanan P gas. Hubungan ini disebut dengan hukum Boyle.
PV = k (suatu tetapan) (6.1)
Penampilan grafis dari percobaan Boyle dapat dilakukan dengan dua cara. Bila P diplot sebagai
ordinat dan V sebagai absis, didapatkan hiperbola (Gambar 6.1(a)). Kedua bila V diplot terhadap
1/P, akan didapatkan garis lurus (Gambar 6.1(b)).

(a) Plot hasil percobaan; tekanan vs. volume
(b) Plot hasil percobaan; volume vs 1/tekanan. Catat bahwa kemiringan k tetap.
Volume dan temperatur
Setelah lebih dari satu abad penemuan Boyle ilmuwan mulai tertarik pada hubungan antara
volume dan temperatur gas. Mungkin karena balon termal menjadi topik pembicaraan di
kotakota waktu itu. Kimiawan Perancis Jacques Alexandre Csar Charles (1746-1823), seorang
navigator balon yang terkenal pada waktu itu, mengenali bahwa, pada tekanan tetap, volume gas
akan meningkat bila temperaturnya dinaikkan. Hubungan ini disebut dengan hukum Charles,
walaupun datanya sebenarnya tidak kuantitatif. Gay-Lussac lah yang kemudian memplotkan
volume gas terhadap temperatur dan mendapatkan garis lurus (Gambar 6.2). Karena alasan ini
hukum Charles sering dinamakan hukum Gay-Lussac. Baik hukum Charles dan hukum Gay-
Lussac kira-kira diikuti oleh semua gas selama tidak terjadi pengembunan.

Pembahasan menarik dapat dilakukan dengan hukum Charles. Dengan mengekstrapolasikan plot
volume gas terhadap temperatur, volumes menjadi nol pada temperatur tertentu. Menarik bahwa
temperatur saat volumenya menjadi nol sekiatar -273C (nilai tepatnya adalah -273.2 C) untuk
semua gas. Ini mengindikasikan bahwa pada tekanan tetap, dua garis lurus yang didapatkan dari
pengeplotan volume V
1
dan V
2
dua gas 1 dan 2 terhadap temperatur akan berpotongan di V = 0.
Fisikawan Inggris Lord Kelvin (William Thomson (1824-1907)) megusulkan pada temperatur ini
temperatur molekul gas menjadi setara dengan molekul tanpa gerakan dan dengan demikian
volumenya menjadi dapat diabaikan dibandingkan dengan volumenya pada temperatur kamar,
dan ia mengusulkan skala temperatur baru, skala temperatur Kelvin, yang didefinisikan dengan
persamaan berikut.
273,2 + C = K (6.2)
Kini temperatur Kelvin K disebut dengan temperatur absolut, dan 0 K disebut dengan titik nol
absolut. Dengan menggunakan skala temperatur absolut, hukum Charles dapat diungkapkan
dengan persamaan sederhana
V = bT (K) (6.3)
dengan b adalah konstanta yang tidak bergantung jenis gas.
Menurut Kelvin, temperatur adalah ukuran gerakan molekular. Dari sudut pandang ini, nol
absolut khususnya menarik karena pada temperatur ini, gerakan molekular gas akan berhenti.
Nol absolut tidak pernah dicapai dengan percobaan. Temperatur terendah yang pernah dicapai
adalah sekitar 0,000001 K.
Avogadro menyatakan bahwa gas-gas bervolume sama, pada temperatur dan tekanan yang sama,
akan mengandung jumlah molekul yang sama (hukum Avogadro; Bab 1.2(b)). Hal ini sama
dengan menyatakan bahwa volume real gas apapun sangat kecil dibandingkan dengan volume
yang ditempatinya. Bila anggapan ini benar, volume gas sebanding dengan jumlah molekul gas
dalam ruang tersebut. Jadi, massa relatif, yakni massa molekul atau massa atom gas, dengan
mudah didapat.
d. Persamaan gas ideal
Esensi ketiga hukum gas di atas dirangkumkan di bawah ini. Menurut tiga hukum ini, hubungan
antara temperatur T, tekanan P dan volume V sejumlah n mol gas dengan terlihat.
Tiga hukum Gas
Hukum Boyle: V = a/P (pada T, n tetap)
Hukum Charles: V = b.T (pada P, n tetap)
Hukum Avogadro: V = c.n (pada T, P tetap)
Jadi, V sebanding dengan T dan n, dan berbanding terbalik pada P. Hubungan ini dapat
digabungkan menjadi satu persamaan:
V = RTn/P (6.4)
atau
PV = nRT (6.5)
R adalah tetapan baru. Persamaan di atas disebut dengan persamaan keadaan gas ideal atau
lebih sederhana persamaan gas ideal.
Nilai R bila n = 1 disebut dengan konstanta gas, yang merupakan satu dari konstanta
fundamental fisika. Nilai R beragam bergantung pada satuan yang digunakan. Dalam sistem
metrik, R = 8,2056 x10
2
dm
3
atm mol
-1
K
-1
. Kini, nilai R = 8,3145 J mol
-1
K
-1
lebih sering
digunakan.
Latihan 6.1 Persamaan gas ideal
Sampel metana bermassa 0,06 g memiliki volume 950 cm
3
pada temperatur 25C. Tentukan
tekanan gas dalam Pa atau atm).
Jawab: Karena massa molekul CH
4
adalah 16,04, jumlah zat n diberikan sebagai n = 0,60
g/16,04 g mol
-1
= 3,74 x 10
-2
mol. Maka, P = nRT/V = (3,74 x10
-2
mol)(8,314 J mol
-1
K
-1
) (298
K)/ 950 x 10
-6
m
3
)= 9,75 x 10
4
J m
-3
= 9,75 x 10
4
N m
-2
= 9,75 x 10
4
Pa = 0,962 atm
Dengan bantuan tetapan gas, massa molekul relatif gas dapat dengan mudah ditentukan bila
massa w, volume V dan tekanan P diketahui nilainya. Bila massa molar gas adalah M (g mol
-1
),
akan diperoleh persamaan (6.6) karena n = w/M.
PV = wRT/M (6.6)
maka
M = wRT/PV (6.7)
Latihan 6.2 Massa molekular gas
Massa wadah tertutup dengan volume 0,500 dm
3
adalah 38,7340 g, dan massanya meningkat
menjadi 39,3135 g setelah wadah diisi dengan udara pada temperatur 24 C dan tekanan 1 atm.
Dengan menganggap gas ideal (berlaku persamaan (6.5)), hitung "seolah" massa molekul udara.
Jawab: 28,2. Karena ini sangat mudah detail penyelesaiannya tidak diberikan. Anda dapat
mendapatkan nilai yang sama dari komposisi udara (kira-kira N
2
:O
2
= 4:1).
e. Hukum tekanan parsial
Dalam banyak kasus Anda tidak akan berhadapan dengan gas murni tetapi dengan campuran
gas yang mengandung dua atau lebih gas. Dalton tertarik dengan masalah kelembaban dan
dengan demikian tertarik pada udara basah, yakni campuran udara dengan uap air. Ia
menurunkan hubungan berikut dengan menganggap masing-masing gas dalam campuran
berperilaku independen satu sama lain.
Anggap satu campuran dua jenis gas A (n
A
mol) dan B (n
B
mol) memiliki volume V pada
temperatur T. Persamaan berikut dapat diberikan untuk masing-masing gas.
p
A
= n
A
RT/V (6.8)
p
B
= n
B
RT/V (6.9)
p
A
dan p
B
disebut dengan tekanan parsial gas A dan gas B. Tekanan parsial adalah tekanan
yang akan diberikan oleh gas tertentu dalam campuran seandainya gas tersebut sepenuhnya
mengisi wadah.
Dalton meyatakan hukum tekanan parsial yang menyatakan tekanan total P gas sama dengan
jumlah tekanan parsial kedua gas. Jadi,
P = p
A
+ p
B
= (n
A
+ n
B
)RT/V (6.10)
Hukum ini mengindikasikan bahwa dalam campuran gas masing-masing komponen memberikan
tekanan yang independen satu sama lain. Walaupun ada beberapa gas dalam wadah yang sama,
tekanan yang diberikan masing-masing tidak dipengaruhi oleh kehadiran gas lain.
Bila fraksi molar gas A, x
A
, dalam campuran x
A
= n
A
/(n
A
+ n
B
), maka p
A
dapat juga dinyatakan
dengan x
A
.
p
A
= [n
A
/(n
A
+ n
B
)]P (6.11)
Dengan kata lain, tekanan parsial setiap komponen gas adalah hasil kali fraksi mol, x
A
, dan
tekanan total P.
Tekanan uap jenuh (atau dengan singkat disebut tekanan jenuh) air disefinisikan sebagai
tekanan parsial maksimum yang dapat diberikan oleh uap air pada temperatur tertentu dalam
campuran air dan uap air. Bila terdapat lebih banyak uap air, semua air tidak dapat bertahan di
uap dan sebagian akan mengembun.
Latihan 6.3 Hukum tekanan parsial
Sebuah wadah bervolume 3,0 dm
3
mengandung karbon dioksida CO
2
pada tekanan 200 kPa,
dansatu lagi wadah bervolume 1,0 dm
3
mengandung N
2
pada tekanan 300 kPa. Bila kedua gas
dipindahkan ke wadah 1,5 dm
3
. Hitung tekanan total campuran gas. Temperatur dipertahankan
tetap selama percobaan.
Jawab: Tekanan parsial CO
2
akan menjadi 400 kPa karena volume wadah baru 1/2 volume
wadah sementara tekanan N
2
adalah 300 x (2/3) = 200 kPa karena volumenya kini hanya 2/3
volume awalnya. Maka tekanan totalnya 400 + 200 = 600 kPa.

Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton)

Pada saat mengajukan hukum ini, rumus kimia senyawa belum diketahui. Hukum ini diajukan
John Dalton, ahli kimia Inggris sekaligus penemu teori atom modern. Hukum ini menyebutkan
bahwa jika massa salah satu unsur dalam dua senyawa sama, maka perbandingan massa unsur
lainnya merupakan bilangan bulat dan sederhana.

Contohnya, perbandingan unsur karbon (C) dan oksigen (O) pada karbon monoksida dan karbon
dioksida berurutan adalah 3:4 dan 3:8. Jika massa C adalah sama, maka perbandingan massa O
pada karbon monoksida dan karbon dioksida adalah 4:8 atau 1:2.Komposisi kimia ditunjukkan
oleh rumus kimianya. Dalam senyawa, seperti air, dua unsur bergabung masing-masing
menyumbangkan sejumlah atom tertentu untuk membentuk suatu senyawa. Dari dua unsur dapat
dibentuk beberapa senyawa dengan perbandingan berbeda-beda. Misalnya, belerang dengan
oksigen dapat membentuk senyawa SO2 dan SO3. Dari unsur hidrogen dan oksigen dapat
dibentuk senyawa H2O dan H2O2.
Perlu dicatat, bahwa hukum ini adalah pengembangan dari hukum Proust, walaupun ditemukan
sebelum hukum Proust sendiri. Hukum ini juga menyatakan bahwa atom tidak dapat berbentuk
pecahan seperti setengah, harus bilangan bulat. Hukum ini kuat karena didukung teori
atom.Dalton menyelidiki perbandingan unsur-unsur tersebut pada setiap senyawa dan didapatkan
suatu pola keteraturan. Pola tersebut dinyatakan sebagai hukum Perbandingan
Bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, dimana massa salah satu unsur
tersebut tetap (sama), maka perbandingan massa unsur yang lain dalam senyawa-senyawa
tersebut merupakan bilangan bulat dan sederhan