Anda di halaman 1dari 14

1

Ombak
(adaptasi dari naskah siklus karya irman, vivi, ali, farida)
Suara angin malam menderu-deru dan suara binatang malam yang berisik
menjadi alunan melodi yang menambah malam itu semakin pilu. Seorang
gadis duduk sendiri di sebuah lincak depan sebuah warung sederhana.
Dengan penerangan yang remang-remang dan bau menyengat ikan asin dari
sebuah gubuk penyimpanan dan tempat setor ikan.
BABAK I
Lampu menyorot pada erin yang terdiam merenung, sedang mengingat masa
lalu. Kemudian meredup kembali masih menampakkan sosok erin,
dibelakangnya muncul siluet yang menggambarkan kejadian yang lalu itu.
SILUET
SEORANG PEREMPUAN MASUK KAMAR, DISUSUL OLEH LELAKI.
TERLIHAT DUA ORANG ITU SEDANG TAWAR-MENAWAR. SETELAH
SEPAKAT, LELAKI ITU MULAI MEMBUKA BAJU PEREMPUAN.
PEREMPUAN SEDIKIT MENOLAK, NAMUN AKHIRNYA PASRAH JUGA.
Purwa : ( datang membuyarkan lamunan erin) rin... (erin menoleh) ini obat
untuk ibumu.
Erin : (melangkah kedalam membawa obat) oh ya... mau minum apa?


2
Purwa : ndak usah repot-repot air putih saja rin...
Erin : (kedalam menaruh obat, kemudian keluar membawa minuman) ini
mas minumnya
Purwa : (memperhatikan erin) kamu ndak apa-apa tho rin? Kok wajahmu
pucat ?
Erin : aku ndak apa-apa kok mas, Cuma sedikit capek.
Purwa : gimana keadaan ibumu sekarang, sudah membaik apa belum?
Erin : ibu sudah baikan daripada tadi siang
Purwa : bapakmu sudah tau kondisii ibumu sekarang?
Erin : ndak usah sebut dia lagi !
Purwa : kenapa ? kamu masih marah sama dia? Bukankah dia bapakmu ?
Erin : masih pantaskah dia disebut bapak, karena sudah menelantarkan
dan menyakiti keluarganya?
Purwa : (purwa menghela napas) sudahlah rin....
LAMPU PADAM
BABAK II
Terdengar nyanyian purwa . perlahan lampu menyorot gubuk karti.
Purwa : (menyanyi dipanggung) (masih dalam pencarian)


3
Karti : pur.... ini ikannya di jemur mumpung panas..
Purwa : iya lek....(masuk kedalam)
Karti : (keluar setelah purwa sambil membawa catatan) duh gusti.... ndak
bisa di stor ke menik lagi hari ini. (menghelai nafas) Ikannya Cuma
dapat sedikit tok...
Purwa : yo mesti tho lek.... kan ombak lagi besar mana ada nelayan yang
berani ke laut.. . paling-paling kalau ada itu hanya nelayan yang nekat
saja .
Karti : iya pur.... aku jadi ingat mendiang suamiku dan ayahmu yang
meninggal karena tergulung ombak sampai perahunya terbalik
Purwa : sudahlah lek ndak usah diingat-ingat....itu kan sudah tiga tahun
yang lalu, namanya saja musibah lek... Takdir
Karti : aku salut sama kamu lho pur....
Purwa : salut kenapa lek.....?
Karti : sejak kamu lahir kamu sudah ditinggal mati ibumu, terus kamu
ndak lulus SMP demi membantu bapakmu, dan tiga tahun yang lalu
bapakmu pun meninggal diterjang ombak, karena nekat melaut disaat
kondisi alam yang sama seperti saat ini .
Purwa : ya kita ndak bisa sedih terus-terusan lek, kita manusia hanya bisa
mengikuti takdir..., kita hanya bisa berusaha


4
Karti : iya pur.... (mengecek kembali ikan- ikan yang ada di gubuknya)
tolong beli es batu di warung mei... biar ikan yang baru datang tadi
tidak busuk
Purwa : iya lek...., (pergi ke warungnya mei, memanggil yang punya
warung), dhe....
Mei : (keluar dari rumah, dengan mimik muka yang sedih) ono opo tho
pur...?
Purwa : meh tuku es batu dhe.... (menyodorkan uang)
Mei : iyo sek tak jupukno.... (mei masuk mengambil es batu, keluar
membawa plastik yang berisi es batu) ini pur.... (sembari duduk dan
memegang dadanya karena sesak nafas)
purwa : kenapa tho dhe ?
mei : biasalah pur....
purwa : ndak di periksain ke rumah sakit tho dhe? Atau beli obat biar
cepat sembuh.
Mei : uang dari mana tho pur... berobat kerumah sakit sekarang juga
mahal, obat untuk penyakitku pun harganya juga ndak murah. Dapat
uang untuk beli makan saja sudah syukur pur....
Erin : (datang dari pasar) eh ada mas purwa....?
Purwa : lho kamu sudah pulang rin?, kapan sampai sini?


5
Erin : iya mas... tadi jam 3 pagi baru nyampe...
Purwa : oalah....
Karti : (berteriak sambil keluar dari gubuk) Pur...., owalah.. malah pacaran,
es batunya sudah tak tunggu dari tadi, selak bosok iwakke.
Purwa : hehehe.... nggeh lek (berlari memberikan es batu).
(mei dan erin masuk ke rumah, purwa sibuk memberi es batu pada ikan
dan karti sibuk mencatat)
Purwa : lek....
Karti : hem.. (masih fokus pada catatannya)
Purwa : lek lek...
Karti : opo tho pur...?
Purwa : ini tanggal berapa ya lek...?
Karti : tanggal 9, kenopo tho pur ?
Purwa : aku tho ora nduwe duit... apalagi ini mau bayar listrik lek...
Karti : oooo ngono tho? Sesok ya.... aku durung rampung ngitung...
(purwa menghela napas, lalu pergi kedalam, membawa ikan yang sudah
kering)


6
Menik : (berjalan dengan gaya sok kayanya menuju gubuk karti) lagi opo
yu....?
Karti : owalah menik.... ini lho lagi nyateti hasil ikan hari ini.... ada apa
tho? Kok tumben kesini?
Menik : meh dolan.... aku cari kerumah, kata anakmu kamu disini. Lagian
udah lama juga mbak yu ndak stor ikan
Karti : iya gimana mau stor tho nik...? kamu lihat sendiri, stor dari
nelayan pun hanya segini, lagipula ombak di laut pun sedang tinggi.
Menik : iyo sih yu.... suamiku saja baru pulang, dan hasil tangkapannya
pun hanya sedikit. Yo wes yu... aku meh balik sek, meh nyiapke
mangan untuk suamiku..
Karti : oh iyo... ini lho ada gereh untuk suami mu.... (menik pergi setelah
menerima gereh dari karti)
LAMPU PADAM
BABAK III
Purwa : lek... tanganku tho rasane gatel...
Karti : nek gatel kuwi yo dikukur tho...?
Purwa : (menghela napas) perasaan tho wes tanggal 10..., masak ndak
ingat tho?


7
Karti : ni lho... (memberikan uang untuk purwa)
Purwa : heheh....(sambil menerima uang)
Karti : hitung dulu, nanti kurang lho...
Purwa : kayaknya kurang lek... heheh
Karti : kurang apalagi tho pur....
Purwa : kurang banyak....
Karti : owalah pur... kurang banyak apanya tho... rak ngrasakke dapat
uang itu susah begini og...(diam sejenak sambil melamun) coba
sumiku masih hidup... pasti aku ndak bakal seperti ini..., (menghela
napas)
Purwa : kenapa tho lek ? aku kan Cuma bercanda... kok malah jadi sedih,
aku jadi ndak enak malah
Karti : bukan begitu pur, aku hanya ingat... dulu ketika bapaknya asti
masih hidup, keluargaku hidup berkecukupan, aku ndak usah repot-
repot kerja kayak begini. Tapi... semenjak bapaknya asti ndak ada...
semua terbalik pur... apalagi sekarang asti sudah kelas 3 SMA dan
membutuhkan biaya banyak untuk sekolahnya. Aku harus banting
tulang untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah asti. Untung ada
menik, dua tahun lalu dia memberiku modal untuk membuka usaha ini


8
pur... ya Alhamdulillah walaupun hasilnya sedikit, aku masih bisa
memenuhi kebutuhan.
Purwa : dan menggaji aku yo lek.... iya tho heheh (menghibur karti)
Karti : tumbek kamu pinter pur....
Purwa : cah kene omahe kono kok lek...
Karti : kamu ini ngomong apa tho pur....
(menik datang ke gubuk karti)
Menik : (dengan gaya lenjehnya) mbak yu....
Karti : senengane kok ngageti wong...
Purwa : (sambil masuk) Mak Lampir teko....!
Menik : he! Ngomong apa kamu, ?
Purwa : ini lho... mbak menik yang paling cantik sudah datang....
Karti : sudah tho nik... guyon kuwi nik... biasalah, kayak ndak tahu purwo
saja... dulu kan dia juga pernah jadi anak buahmu tho.
Menik : iyo sih yu.... , eh yu tahu ndak, di kampung kita tho ada yang
jadi Lonte Kapal..
Karti : heh ! Kamu itu ngomong apa? Ndak usah asl bicara, ngerti dari
mana? Kok kamu bisa bicara seperti itu


9
Menik : aku ndak asal bicara yu... aku dapat informasi dari sumber
yang terpercaya yu....
Karti : memangnya dari mana tho ?
Menik : dari suamiku yu, yang baru pulang melaut kemarin.
Mei : (membuka warung)
Karti : sudah sehat yu...?
Mei : ya, udah agak mendingan kar...
Menik : (dengan suara yang agak dikeraskan) heh yu.... kae lho...? yang
katanya mau jadi TKI? Eh... malah dadi lonte kapal.
Karti : Lonte kapal ?
Menik : iya... lonte yang ada di kapal... yang sering dipake nelayan.
Karti : maksudmu kui opo tho nik ?
(mei mendengrkan sambil membuka warung)
Menik : kae lho mbak yu.... bapake lungo rak jelas neng ngendi, ibunya
penyakitan, ee.. anak siji-sijine malah dadi lonte Jijik yu... (sambil
melirik mei)
Mei : ya Allah.... nduwe lambe kok ora dijogo. Pagi-pagi sudah nyebar
fitnah
Menik : aku ini ndak fitnah.. tapi fakta...


10
Mei : sebelum ngoomongin orang mbok ya ngaca dulu tho...
Menik : yang seharusnya ngaca itu kamu..., wong kere penyakitan nduwe
anak lonte...mending kuwe mati wae.
Karti : Hus... kamu itu ngomong apa tho nik...
Menik : ya aku kan memberi saran tho yu... daripada sakit-sakitan, nanggung
malu mending mati wae tho....?
Mei : (mulai emosi) mbok ya lambene sampeyan kuwi di jogo... apa
mulutnya itu ndak pernah disekolahkan tho?
Menik : yang seharusnya di omongin seperti itu kamu..., anakmu itu lho di
sekolahin biar jadi orang bener ndak jadi lonte, oh ya... aku lupa
kamu kan kere... hahah ndak seperti aku yang punya banyak uang.
Karti : wes nik... wes.. tho...., seng sabar yu... ndak usah di dngerin
omongannya menik.
Menik : mbak yu iki piye tho... malah ndak belain aku...
Erin : (datang) ini ada tho buk..?
Menik : nah.... kuwi lontene teko..!
Erin : (mimik wajahnya rak enak)
Mei : sudah ndok ndak usah didengerin omongannya orang gila itu..


11
Menik : yo.... ora usah ngurusi orang gila yang kaya ini... urusi saja laki-
laki hidung belang... cari uang yang banyak untuk beli obat ibumu
yang penyakitan itu... atau minta uang saja sama bapakmu...!
oh..bapakmu kan hilang, atau mungkin sudah menikah lagi karena
ndak betah punya istri penyakitan sama punya anak lonte ?
Erin : (mendekati menik dan melempar belanjaannya ke menik) mbak...
sampeyan sudah tua... punya anak juga 2 kenapa sombong tho?
Inget mbak yang kaya itu suamimu... lambene koyo lambemu koyo
tong sampah rak pernah yang ndak pernah dibuang sampahnya,
busuk!
Menik : opo! Lambeku koyo sampah? Lambemu koyo iwaak bosok... sopan
sitik karo wong tuwo.. cakem Lonte...! (sambil menuding-nuding wajah
erin).
Purwa : (keluar dari gubuk) iki ono opo tho... kenapa pada ribut tho?
Menik : heh tak kandani yo pur... ndak usah deket-deket sama lonte ini
lagi, ketularan penyakit nanti...
Erin : (melempar barang ke menik)
Menik : (menampar erin) berani-beraninya kamu melempar barang itu ke
kepalaku
Erin : mbak menik sudah keterlaluan, jadi mbak pantas mendapatkan
lemparan itu...


12
Menik : dasar Lonte ASU...
Erin : heh mbak bojomu kuwi seng Asu... aku jadi seperti ini juga karena
suamimu yang Asu itu...
(menik menampar erin lagi, kemudian terjadi perseteruan antara menik dan
erin)
Purwo : (memisah erin dan menik, dibantu yu karti)
Karti : heh.. mandek nik... wes... sadar...
Menik : dasar anakke pemabuk,ibu nya penyakitan. Anaknya orang ndak
bener, pantes jadi lonte...!
Erin : wong sugeh rak nduwe utek... matamu wes bawur gara-gara
bondo? Cangkem rak iso di jogo, tuwo sisan Pantes bojone rak
betah dadine golek wadon liyo..., lha awak wes kendor ngono kabek
kok (tertawa menghina)
(menik mau menampar erin lagi tapi dipegangin lagi)
Erin : kenapa? Mau nampar? Tampar saja nyoh... (menyodorkan pipinya),
Karti : wes nik... istigfar.. ayo muleh....
Menik : (berjalan pulang) lonte Asu... kakekane...(mengeluarkan kata-kta
kotor)


13
Erin : kuwe seng Asu... takon kono karo bojomu, Asu. (suasana hening
sejenak)
Mei : rin...., apa benar apa yang dikatakan menik tadi?
Erin : (diam dan menangis)
Mei : apa benar kamu tidak berangkat jadi TKI ndok?... apa kamu benar-
benar jadi pelacur?
Erin : (semakin menangis),
Mei : ya Allah rin..... kenapa kamu lakukan ini tho ndok.. gusti... aku
salah apa? Sehingga menghukum anakku seperti ini? (suara semakin
lirih, dadanya mulai sesak kemudian pingsan)
Erin : ibu....
(purwa dengan sigap membawa ibu erin dan menidurkannya dia atas lincak,
erin mengambilkan minum)
Purwa : kenapa kamu lakukan itu rin ?
Erin : (hanya menangis merasa bersalah), maaf pur... aku minta maaf...
Purwa : tapi kenapa rin?
Erin : kamu inget waktu mau jadi TKI, aku berangkat hanya bermodalkan
tekat tanpa uang sepersenpun pur... aku ndak tahu kemana. Dan pak
karyadi suami mbak menik, berjanji akan mengurus semuanya, tapi


14
ternyata waktu sudah ditengah laut, bajingan itu meminta imbalan
sejumlah uang padaku. Tapia aku ndak punya apa-apa dan dia
memanfaatkan hal itu, untuk bisa meniduriku. Aku hanya bisa pasrah
karena yang hanya di benakku adalah mendapatkan uang untuk
pengobatan ibuku. Maafkan aku pur....
Purwa : sudah lah rin...., mungkin itu sudah menjadi takdir kita, mungkin
Tuhan memiliki rencana lain yang terbaik untuk makhluknya.
Erin : apa kamu masih mau menerimaku pur....?, mungkin aku juga
sudah tertular penyakit sialan itu...
Purwa : Sttttt....
Sudah selesai