Anda di halaman 1dari 5

1

BAB I
PENDAHULUAN
Banyak peninggalan dari ajaran Hindhu Budha bahkan di Indonesia
kaya akan budaya yang masih menganut ajaran tersebut, salah satunya
adalah budaya jawa terutama masyarakat pesisir yang kental akan
sesaji atau yang lainnya. Setiap daerah pasti mempunyai cara tersendiri
atau cerita sendiri saat merayakan sedekah laut. Salah satunya yaitu di
Desa Bendar Juwana Pati yang setiap tahun pasti
menyelenggarakannya. Sehingga penulis merumuskan beberapa
masalah yaitu,
1. Kapan sedekah laut itu dilaksanakan?
2. Bagaimana pelaksanaan larung sesaji?
3. Bagaimana pendapat warga sekitar tentang prosesi larung sesaji?
Dari rumusan masalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Masyarakat dan Kebudayaan Indonesia, serta memberikan
gambaran bagaimana budaya pesisir terutama saat prosesi larung sesaji
khususnya pada kecamatan Juwana di Desa Bendar.











2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi cerita
Pada bulan syawal tepatnya seminggu setelah Idul fitri pasti akan
di adakan acara sedekah Laut, yang biasanya akan diselenggarakan pada
hari minggu kecuali minggu wage. Budaya ini adalah sebuah kebiasaan,
traktat dan adat peninggalan jaman Hindu Budha, contoh sajen (sesaji).
Saat sedekah laut warga pun membuatkan sajen untuk di larungkan ke
laut.
Sekitar tahun 1990, setiap warga yang mempunyai alat tangkap
pasti membuang sajennya masing- masing, yang berisi telur dan kembang
telon yang lengkap dengan maejan. Akan tetapi acara tersebut sekarang di
formalkan dengan mengadakan larung sesaji, dimana semua sajen warga
akan di wakilkan menjadi satu Larung sesaji di wujudkan oleh pemerintah
desa yang dikemas dalam bentuk jodang sesaji berisi ndas kebo atau ndas
wedhus (kepala kerbau atau kepala sapi) beserta 4 kakinya, kembang telon
lengkap dengan maejan, serta degan yang dikrowoki (dilubangi)
sedangkan dalamnya diisi dengan gula jawa. Ada dua Jodang yang di
buat, jodang pertama untuk di larungkann kelaut dan yang kedua di kirab
bersama hiburan-hiburan misalnya drum band. Tanggapan (tontonan atau
hiburan) yang wajib saat sedekah laut ada tiga yaitu Barongan, Ketoprak,
dan lomban. Sajen yang kedua setelah di kirab, akan di jadikan batas akhir
dari lomban, maksudnya adu balap perahu untuk memperebutkan entok,
siapa yang paling banyak mendapatkannya maka itu pemenangnya.
Bahkan kata orang lomban itu di saksikan langsung oleh Nyi Roro Kidul.
Lomban di laksanakan di sungai juwana yang di kenal sebagai
Bengawan Silugonggo. Masyarakat menyebut seperti itu karena sungai
Silugonggo tidak pernah kering, sebenarnya Bengawan itu memiliki
larangan, yaitu tidak boleh dikilani (di ukur) dan disombongkan karena itu
akan menimbulkan peristiwa yang tidak diinginkan. Contoh dulu pernah
diselenggarakan lomba menyebrangi bengawan silugonggo dengan tali

3

yang diikat dari etan sampai kulon kali (timur sampai barat sungai) dan
akhirnya tali tersangkut di tiang sehingga banyak korban yang berjatuhan
itu dikarenakan sudah berani ngilani bengawan tersebut. Peristiwa itu tepat
pada hari minggu wage, itu alasan kenapa sedekah laut tidak boleh
dilakukan pada minggu wage.
Karena tidak ada tokoh atau patokan yang jelas maka acara itu
selalu berkembang, seperti halnya kirab sesaji yang terus berkembang
dengan menyertakan drum band sedangkan orang yang mengikuti prosesi
mengenakan pakaian adat pati.
Antusias warga sangatlah besar bahkan bukan hanya warga Desa
Bendar saja, banyak warga dari desa lain berbondong-bondong ikut
merayakan dan menikmati acara yang berada di Bendar. Saat terlontar
pertanyaan jika Sedekah Laut tidak ada bagaimana pendapat kalian...?,
maka banyak warga ya ng menjawab acara itu harus ada karena itu sudah
di adakan sejak zaman dahulu. Berarti dapat di simpulkan bahwa
masyarakat Desa Bendar Juwana Pati mempunyai ketakutan tersendiri jika
Sedekah Laut di hapus dari desa mereka.
B. Analisis Cerita
Cerita itu mengandung sebuah mitos tentang penguasa lautan,
dimana banyak kepercayaan yang datang dari lautan separti melarungkan
sesaji untuk para pemberi rizki lautan. Dengan menganggap apa yang
mereka larungkan adalah hal yang di sukai oleh penguasa lautan. Warga
merasa ketakutan jika apa yang telah di kirimkan selama bertahun-tahun
harus hilang. Berarti kepercayaan masyarakat dengan hal-hal semacam itu
masih kental.





4

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ajaran Hindhu Budha di daerah pesisir masih kental dan masih
sering dilakukan, akan tetapi dengan cara yang berbeda dan penuh
perbaikan untuk menyesuaikan dengan Agama yang dianut sekarang,
contoh, mengislamkan tata cara dalam pelaksanaannya.
Setiap sendi masyarakat pasti membawa budaya dari nenek
moyang dan mempuncai cara-cara tersendiri untuk mengerjakannya. Juga
mempunyai kepercayaan yang harus di jalani. Walaupun itu hanya sebuah
kebiasaan yang berkembang menjadi kebudayaan yang terus dijaga dan
dinantikan.
B. Saran
Walau ini adalah sebuah kebudayaan jangan sampai budaya ini terdapat
unsur syirik. Teguhkan niat bukan untuk menyembah pada selain yang
menciptakan kita.











5


Lampiran
FOTO SEDEKAH LAUT DESA BENDAR