Anda di halaman 1dari 42

PENGUNGKAPAN & TRANSPARANSI

A. OECD Principle 5: Disclosure and Transparency (Pengungkapan & Transparansi)


Kerangka tata kelola perusahaan harus memastikan bahwa pengungkapan yang tepat waktu dan
akurat dibuat pada semua hal material mengenai perusahaan, termasuk situasi keuangan,
kinerja, kepemilikan, dan tata kelola perusahaan.
a) Pengungkapan harus mencakup informasi material tentang:
1. Hasil keuangan dan operasi perusahaan.
2. Tujuan perusahaan.
3. Kepemilikan saham mayoritas dan hak suara.
4. Kebijakan remunerasi bagi anggota dewan dan eksekutif, dan informasi tentang anggota
dewan, termasuk kualifikasi mereka, proses seleksi, direktur perusahaan lain dan apakah
mereka dianggap independen oleh dewan.
5. Transaksi dengan pihak terkait.
6. Faktor risiko mendatang.
7. Isu mengenai karyawan dan stakeholders lainnya.
8. Struktur dan kebijakan tata kelola, khususnya isi kebijakan tata kelola perusahaan dan
proses yang diimplementasikan.
b) Informasi harus disiapkan dan diungkapkan sesuai dengan standar kualitas akuntansi yang
tinggi dan pengungkapan keuangan dan non-keuangan.
c) Audit tahunan harus dilakukan oleh auditor independen, kompeten dan berkualitas dalam
rangka memberikan jaminan eksternal dan obyektif kepada dewan dan pemegang saham
bahwa laporan keuangan cukup mewakili posisi keuangan dan kinerja perusahaan dalam
semua hal yang material.
d) Auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan berkewajiban
kepada perusahaan untuk melakukan kerja profesional dalam melakukan audit.
e) Saluran untuk menyebarkan informasi harus memberikan akses yang adil, tepat waktu, dan
akses yang hemat biaya kepada informasi yang relevan oleh pengguna.
f) Kerangka CG harus dilengkapi dengan pendekatan yang efektif yang membahas dan
mempromosikan penyediaan analisis atau nasihat oleh analis, broker, lembaga pemeringkat
dsb, yang relevan dengan keputusan oleh investor, bebas dari konflik kepentingan material
yang mungkin meragukan integritas analisis atau nasihat mereka.
B. CG, Disclosure and Its Evidence in Indonesia (Part 1+2)
Artikel ini ditulis oleh Profesor Siddharta Utama, salah satu staf pengajar Akuntansi di FEUI.
Beliau membagi artikel ini menjadi dua bagian, dan keduanya pernah dimuat di majalah
Manajemen Usahawan edisi April dan Mei 2003. Berikut ini adalah rangkuman artikel tsb.
PART 1
Pendahuluan
Isu CG mulai populer sejak krisis ekonomi 1997, karena salah satu alasan terjadinya krisis
ekonomi di Indonesia adalah kurangnya penerapan GCG.
Menurut The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) (2000), definisi
corporate governance adalah proses dan struktur yang diterapkan dalam menjalankan
perusahaan dengan tujuan utama untuk meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka
panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya.
Isu CG timbul karena ada pemisahan antara kepemilikan dan control. Pemisahan tugas ini
bisa menimbulkan konflik kepentingan (agency problem) di antara pihak-pihak tertentu,
misalnya antara manajemen, pemegang saham, kreditor, dsb.
Manfaat yang dapat diperoleh dengan implementasi GCG adalah:
Mengurangi biaya agensi (agency costs), dengan mengendalikan konflik kepentingan antara
pemilik (principal) dan manajer (agent).
Mengurangi biaya modal (cost of capital), dengan memberi sinyal positif bagi penyedia
modal.
Meningkatkan reputasi perusahaan.
Menambah nilai perusahaan, yang dihasilkan dari pengurangan biaya modal (cost of capital),
peningkatan kinerja finansial, dan peningkatan persepsi stakeholders tentang kinerja
perusahaan di masa depan.
Menurut OECD, ada lima prinsip CG (1999)*
1. The rights of shareholders
2. The equitable treatment of shareholders
3. The role of stakeholders in corporate governance
4. Disclosure and transparency
5. The responsibilities of the board
*Artikel ini masih mengacu pada prinsip OECD versi lama.
Prinsip OECD kemudian direvisi menjadi enam prinsip (2004).
Terkait dengan prinsip ke-4 yaitu pengungkapan dan transparansi, Fujinuma (2000) menyatakan
factor pendorong perkembangan prinsip ini:
1. Peningkatan focus oleh regulator tentang kualitas audit.
2. Peningkatan permintaan informasi oleh pengguna (stakeholders).
3. Peningkatan harapan untuk peran akuntan dalam memerangi korupsi.
Asimetri informasi dan pentingnya prinsip pengungkapan
GCG mutlak diperlukan jika ada potensi konflik kepentingan di antara pihak tertentu. Hal ini
terjadi karena adanya asimetri informasi (information asymmetry), yaitu keadaan di mana salah
satu pihak memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki pihak lain.
Ada dua tipe utama asimetri informasi:
Adverse selection: satu pihak atau lebih yang melangsungkan transaksi usaha potensial
memiliki informasi lebih atas pihak-pihak lain. Contoh: informasi internal perusahaan
kepada investor yang dibatasi oleh manajer.
Moral hazard: satu pihak atau lebih tidak dapat mengamati tindakan pihak lain, padahal
tindakan tsb mempengaruhi kepentingan semua pihak dalam transaksi tsb. Contoh:
memotivasi usaha manajer (terkait dengan pemisahan tugas).
Cara mengatasi:
Adverse selection: bisa diatasi dengan menerapkan prinsip pengungkapan menyeluruh
(full-disclosure principle), yaitu dengan mengkonversi informasi internal menjadi
informasi eksternal. Contoh: laporan keuangan untuk penilaian investor.
Moral hazard: laporan keuangan dan laba bersih (net income) bisa menjadi control yang
baik, karena bisa menjadi ukuran (proxy) kinerja manajerial.
Biaya pengungkapan:
Out-of-pocket costs: biaya administrasi, bahan baku, dsb.
Indirect costs: biaya untuk mengungkapkan informasi kepada kompetitor (potensial).
Perusahaan akan meningkatkan jumlah pengungkapan selama manfaat pengungkapan melebihi
biaya yang dikeluarkan.
Menurut penelitian dan bukti empiris, terdapat asosiasi negative antara:
Tingkat pengungkapan dan cost of equity capital. Ada dua penjelasan:
o Peningkatan pengungkapan meningkatkan likuiditas pasar saham dan mengurangi cost of
equity capital, bisa melalui pengurangan biaya transaksi atau peningkatan permintaan
untuk saham perusahaan.
o Peningkatan pengungkapan mengurangi risiko estimasi yang disebabkan estimasi
investor tentang parameter return asset.
Tingkat pengungkapan dan cost of debt. Alasan: lenders dan underwriters
mempertimbangkan kebijakan pengungkapan perusahaan dalam estimasi mereka tentang
default risk.
Menurut Andrew Sheng (2000), manfaat pengungkapan adalah: untuk memelihara integritas dan
untuk berfungsi secara adil dan efisien, pasar perlu informasi berkualitas tinggi, pengungkapan
tepat waktu, dan akses efisien untuk informasi tsb. Para investor butuh informasi ini untuk
membuat keputusan investasi dan untuk berdagang.
Sebenarnya tanpa regulasi pun, perusahaan memiliki insentif pribadi untuk melakukan
pengungkapan informasi. Alasan:
Perusahaan mengadakan kontrak dengan berbagai pihak. Kontrak ini perlu informasi
untuk mengawasi apakah hak dan kewajiban tiap pihak sudah terpenuhi.
Tekanan pasar (pasar modal dan tenaga kerja). Manajer yang berkinerja baik akan dinilai
tinggi oleh pasar, apalagi jika manajer bisa meningkatkan nilai perusahaan.
Praktik pengungkapan di negara Asia Timur
Ada dua penelitian yang berusaha menyelidiki praktik pengungkapan di negara Asia Timur.
Penelitian pertama dilakukan oleh OECD.
Tujuan penelitian: mengevaluasi peran CG di lima negara yang paling dipengaruhi oleh krisis
ekonomi Asia (Indonesia, Korea, Malaysia, Filipina, Thailand).
Temuan: negara tsb memiliki transparansi buruk dan praktik pengungkapan tidak memadai. Ada
beberapa factor penyebab:
Tidak ada tradisi pengungkapan di antara pihak internal perusahaan, yang umumnya
terdiri dari keluarga.
Standar akuntansi yang tidak memadai dan implementasi lemah, termasuk kegagalan
untuk menerapkan penalti / hukuman untuk pelaporan keuangan palsu / curang.
Saran / rekomendasi:
Membuat entitas pengawasan untuk mengatur praktik akuntansi, auditing, dan pelaporan
keuangan dan untuk menegakkan standar.
Mewajibkan semua perusahaan public yang listed menunjuk direktur independen dan
subkomite audit eksternal dan memberi mandate fungsi dan tanggung jawab mereka
kepada investor public.
Penerapan penalty / hukuman yang setimpal untuk fraud reporting.
Penelitian kedua: M Zubaidur Rahman (2000), The Role of Accounting Disclosure in the East
Asian Financial Crisis: Lessons Learned?
Penelitian ini menunjukkan perbandingan antara praktik pengungkapan saat ini di beberapa bank
dan perusahaan terbesar di enam negara (Korea, Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan
Jepang) dengan praktik akuntansi yang diterima secara internasional.
Ada enam area laporan keuangan yang diinvestigasi:
1. Related party lending and borrowing
2. Foreign currency debt
3. Derivative financial instruments
4. Segment information
5. Contingent liabilities
6. Additional disclosure in bank financial statements
Hasil: sebagian besar perusahaan dan bank di lima negara (kecuali Jepang) tidak mengikuti
International Accounting Standards (IAS) dalam mengungkapkan area yang diinvestigasi.
Skor yang didapat untuk kepatuhan rata-rata di semua area adalah 40%
Derivative financial instruments = di bawah 20%
Foreign currency debt = sekitar 35%
Penelitian ini berargumen bahwa kurangnya pengungkapan mempengaruhi pengguna laporan
keuangan dalam mendeteksi kondisi finansial yang memburuk sebelum krisis ekonomi terjadi di
negara tsb.
Penelitian ketiga: SM Saudagaran & JG Diga (1997), Financial Reporting in Emerging Capital
Markets: Characteristics and Policy Issues
Karakteristik laporan keuangan di Emerging Capital Markets (ECMs), yaitu pasar modal di
ekonomi yang kurang berkembang dan masih dalam masa transisi.
Kriteria untuk mengevaluasi dan membandingkan laporan keuangan adalah:
Information availability
Reliability
Comparability
Kesimpulannya, semua penelitian ini menemukan bahwa semua negara Asia Timur (termasuk
Indonesia) memiliki praktik pengungkapan yang buruk.
Efektivitas mekanisme insentif pribadi dan pasar untuk mengurangi asimetri informasi di
Indonesia
Di Indonesia, merupakan hal yang umum untuk menemukan perusahaan yang memiliki
struktur kepemilikan yang dikuasai oleh keluarga atau pemegang saham terbatas.
Menurut Claessens et al (2000), 67.3% perusahaan terbuka dikuasai oleh keluarga,
sedangkan hanya 6.6% yang dimiliki oleh umum. Konsentrasi dalam kepemilikan dan control ini
menimbulkan asimetri informasi antara pemegang saham mayoritas dan minoritas.
Mekanisme partisipasi pemegang saham minoritas dalam pengambilan keputusan perusahaan
bisanya lemah, partisipasi pemegang saham pasif, dan perlindungan hukum bagi mereka tidak
memadai.
OECD (2000) menyatakan bahwa dominasi pemegang saham pengendali oleh keluarga
menyebabkan dewan direksi menjadi mekanisme pengawasan yang tidak efektif untuk
kepentingan semua pemegang saham. Faktanya sering terjadi bahwa ketua dewan direksi juga
merangkap ketua tim manajemen.
IAI (2000) menyatakan bahwa karena umumnya keluarga mengendalikan perusahaan, maka
tidak ada pemisahan tugas antara kepemilikan dan manajemen sehingga bisa menyebabkan
manajemen hanya menguntungkan pemegang saham mayoritas saja.
Utang, terutama pinjaman bank merupakan sumber pendanaan terbesar di Indonesia.
Meskipun begitu, menurut OECD (2000), bank sebagai kreditor di Indonesia umumnya hampir
tidak pernah ikut campur dalam manajemen dan keputusan perusahaan, dan peran pengawasan
mereka lemah. Ada beberapa alasan:
1. Tata kelola kreditor yang buruk, internal control lemah, dan kerangka peraturan institusi
keuangan yang tidak memadai.
2. Kurangnya kompetisi di antara para kreditor, ditambah dengan fakta bahwa banyak di
antaranya dimiliki konglomerat atau keluarga yang sama dengan perusahaan.
3. Jaminan pinjaman pemerintah secara implisit dan eksplisit, sehingga menyebabkan
insentif kreditor untuk mengawasi non-performing loan (NPL) menjadi lemah.
Hal-hal tsb di atas menunjukkan bahwa insentif pribadi dalam mengungkapkan informasi
melalui kontrak telah gagal untuk menghasilkan pengungkapan yang memadai untuk
mengendalikan efek negative asimetri informasi.
Analisis tentang peran pasar dalam meningkatkan pengungkapan di Indonesia:
Pasar modal di mayoritas negara Asia Timur tidak berkembang baik, termasuk di
Indonesia. Hal ini juga yang menyebabkan banyak perusahaan lebih bergantung pada
utang bank. Pasar modal di Indonesia tidak efisien dibandingkan negara lainnya dalam
hal informasi relevan yang dinyatakan dalam harga saham.
Pasar tenaga kerja juga kurang berkembang di Indonesia. Pengawasan kinerja manajer
menjadi tidak efektif karena manajer adalah bagian dari keluarga pemilik. Hal ini
menyebabkan disinsentif bagi manajer untuk dinilai baik di pasar tenaga kerja.
Pasar untuk corporate control termasuk tidak aktif di Indonesia. Hal ini sebagian adalah
fungsi kebijakan pemerintah, dan juga merefleksikan kesulitan untuk ambil bagian ketika
stuktur kepemilikan sangat terkonsentrasi.
Seluruh kondisi ini menghambat efektivitas mekanisme pasar dalam menyediakan insentif bagi
perusahaan untuk melakukan pengungkapan memadai. Karena semua hal ini termasuk masalah
serius, otoritas pusat wajib ikut campur dan mengatur pengungkapan informasi.
Tingkat Pengungkapan Perusahaan Terbuka di Indonesia
Penelitian pertama: Juniati Gunawan (2000), Analisis Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan
pada Perusahaan yang Terdaftar di BEJ, Thesis, Master FEUI Akuntansi
Penelitian ini menggunakan disclosure score yang dikembangkan oleh Botosan (1997).
Penilaiannya mencakup pengungkapan di laporan tahunan untuk informasi wajib (mandatory)
dan sukarela (voluntary). Sampel yang digunakan adalah 104 dari 274 perusahaan yang terdaftar
di BEJ tahun 1998 dan laporan tahunan yang diteliti adalah untuk tahun 1998.
Ada lima hal yang perlu pengungkapan, berikut hasilnya tertera di table:
Skor pengungkapan untuk sample perusahaan yang terdaftar di BEJ*
No. Description Actual / max score (%)
1 Informasi latar belakang 44.25
2 Ikhtisar kinerja finansial 84.9
3 Informasi non-finansial 17.7
4 Proyeksi / perkiraan (forecast) 4.4
5 Analisis dan pembahasan umum oleh manajemen 55.7
Overall score 41.9
*Diproses dari J. Gunawan, Table IV.3, hal. 45-46
Kesimpulan: perusahaan terbuka di Indonesia cenderung hanya mengungkapkan informasi wajib
(mandatory), dan bahkan untuk informasi jenis ini, beberapa hal tidak diungkapkan.
Tingkat pengungkapan berbanding positif dengan ukuran perusahaan dan financial leverage.
Perusahaan skala besar memiliki insentif pribadi lebih tinggi untuk mengungkapkan
informasi karena mereka membuat kontrak dengan berbagai pihak.
Perusahaan dengan leverage lebih tinggi menghasilkan biaya agensi lebih tinggi dan
untuk mengendalikan biaya ini, mereka dipaksa untuk mengungkapkan lebih banyak.
Kronologi Kasus Praktik Insider Trading Transaksi Saham PT PGN
Pada tanggal 8 Januari 2007 telah terjadi suatu transaksi yang tidak wajar atas saham PT
Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk di mana dalam harga pembukaan perdagangan Rp.
10.850,- per lembar saham, dan pada harga penutupan perdagangan jatuh ke harga Rp. 7.400,-
per lembar sahamnya (31,8 %).
Kemudian pada tanggal 11 Januari 2007, transaksi harga perdagangan dibuka pada Rp. 9.650,-
per lembar saham dan pada harga penutupan perdagangan jatuh kembali ke posisi Rp. 7.400,- per
lembar sahamnya atau terjadi lagi penurunan sebesar (23,36 %). Pemicunya ternyata PT
Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk terlambat memberitahukan kepada publik tentang
penyelesaian proyek pipanisasi South Sumatera West Java (SSWJ), akibatnya terjadi panic
selling yang melanda investor asing maupun lokal. Faktor penurunan harga saham PGAS
tersebut erat kaitannya dengan koreksi atas rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan,
yaitu mulai dari (paling sedikit) 150 MMSCFD menjadi 30 MMSCFD. Selain itu, juga
dinyatakan bahwa tertundanya gas in (dalam rangka komersialisasi) yang semula akan dilakukan
pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007. Informasi yang diberitahukan kepada
publik tersebut, sebenarnya sudah diketahui oleh manajemen PGAS sejak tanggal 12 September
2006 (informasi tentang penurunan volume gas) serta sejak tanggal 18 Desember 2006
(informasi tertundanya gas in).
Atas kejadian tersebut, Bursa Efek Jakarta (BEJ) mencurigai adanya sesuatu yang tidak benar
dari transaksi tersebut sehingga BEJ men-suspend atau menghentikan sementara perdagangan
saham tersebut pada tanggal 15 Januari 2007, suspensi dilakukan karena melihat penurunan
saham PGAS yang sangat tajam hingga 23,36% dan melaporkannya kepada Bapepam-LK selaku
pengawas pasar modal.
Kemudian pada tanggal 1 Februari 2007, Bapepam-LK telah menginformasikan kepada publik
mengenai perkembangan pemeriksaan terhadap PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk terkait
dengan penurunan harga saham PGAS yang signifikan dan telah melakukan review atas
dokumen-dokumen serta melakukan pemeriksaan terhadap jajaran direksi PT Perusahaan Gas
Negara (Persero) Tbk, akuntan publik dari PGAS, dan koordinator pelaksana proyek dan manajer
proyek SSWJ. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan tersebut, Bapepam-LK telah
memperoleh cukup bukti bahwa PGAS telah melakukan pelanggaran terhadap Ketentuan
Undang-Undang Pasar Modal dan Peraturan Nomor X.K.1. tentang Keterbukaan Informasi Yang
Harus Segera Diumumkan Kepada Publik dan Bapepam-LK juga melakukan pemeriksaan atas
transaksi saham PGAS yang dilakukan oleh Perusahaan Efek Anggota Bursa.
Berdasarkan keterangan pers yang dikeluarkan oleh Ketua Bapepam-LK, Bapak Fuad Rahmany,
Bapepam-LK telah menjatuhkan sanksi administrative berupa denda kepada PT Perusahaan Gas
Negara (Persero) Tbk sebesar Rp. 35.000.000,00 (tiga puluh lima juta rupiah) atas keterlambatan
penyampaian keterbukaan informasi terkait penundaan pipanisasi SSWJ selama 35 (tiga puluh
lima) hari atas pelanggaran Pasal 86 Undang-Undang Pasar Modal Jo. Peraturan Bapepam
Nomor X.K.1. tentang Keterbukaan Informasi Yang Harus Segera Diumumkan Kepada publik.
Di samping itu, Bapepam-LK juga memberikan sanksi denda sebesar Rp. 5.000.000.000,00 (lima
miliar rupiah) kepada direksi dan mantan direksi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk yang
menjabat pada periode Juli 2006 sampai dengan Maret 2007 atas pelanggaran tentang pemberian
keterangan yang secara material tidak benar, yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93
Undang-Undang Pasar Modal.
Selanjutnya Bapepam-LK telah menemukan titik terang terhadap kasus anjloknya harga saham
PGAS, titik terang ini diperoleh, setelah Pejabat Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bapepam-LK
memeriksa direksi PGAS dan beberapa staf PGAS. Hasilnya dugaan adanya insider trading
dalam kasus anjloknya saham PGAS semakin menguat. Dugaan ini disampaikan Kepala Biro
Pemeriksaan dan Penyidikan (PP) Bapepam-LK, Bapak Wahyu Hidayat. Adanya dugaan insider
trading ini dikatahui setelah mendapatkan laporan dari Biro Transaksi Lembaga Efek (TLE)
Bapepam-LK. Dalam menangani kasus PGAS ini, Bapepam-LK telah membentuk 2 (dua) tim
pemeriksa. Tim pemeriksa pertama bertugas untuk memeriksa dugaan pelanggaran yang
dilakukan oleh direksi PGAS, khususnya mengenai keterbukaan informasi dan pelanggaran
lainnya. Tim ini juga bertugas untuk mencari bukti adanya dugaan insider trading. Sedangkan
tim pemeriksa kedua bertugas untuk melakukan pemeriksaan terhadap adanya dugaan
perdagangan saham yang dilakukan oleh orang dalam.
Keterangan dari Kepala Biro Perundang-Undangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK, Bapak
Robinson Simbolon, bahwa untuk mengungkapkan kasus insider trading tidak mudah apalagi
kalau melibatkan investor dan sekuritas asing. Hal senada dikemukakan pula oleh Ketua
Bapepam-LK bahwa sistem hukum Indonesia saat ini belum mengakui data elektronik sebagai
bukti hukum di pengadilan sehingga untuk melakukan pembuktian tentang terjadinya praktek
insider trading di pasar modal terbentur dengan sistem pembuktian yang ada sekarang ini.
Adapun informasi material yang terlambat disampaikan oleh PT Perusahaan Gas Negara
(Persero) Tbk kepada publik / masyarakat yang dapat mempengaruhi harga saham di bursa efek
berdasarkan pemeriksaan Bapepam-LK adalah pertama, mengenai terjadinya koreksi atas
rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150
MMSCFD menjadi 30 MMSCFD dan, kedua, mengenai tertundanya gas in (dalam rangka
komersialisasi) yang semula akan dilakukan pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret
2007. Informasi yang diberitahukan kepada publik tersebut, sebenarnya sudah diketahui oleh
manajemen PGAS sejak tanggal 12 September 2006 (informasi tentang penurunan volume gas)
serta sejak tanggal 18 Desember 2006 (informasi tertundanya gas in). Kedua informasi tersebut
di atas dikategorikan sebagai informasi yang material dan dapat mempengaruhi harga saham di
bursa efek. Hal tersebut tercermin dari penurunan harga saham PGAS pada tanggal 12 Januari
2007.
Orang dalam perusahaan dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk yang melakukan
transaksi saham PGAS pada periode 12 September 2006 sampai dengan 11 Januari 2007, yaitu
Adil Abas (mantan direktur pengembangan), Nursubagjo Prijono, WMP Simanjuntak (mantan
Direktur Utama dan sekarang Komisaris), Widyatmiko Bapang (mantan sekretaris perusahaan),
Iwan Heriawan, Djoko Saputro, Hari Pratoyo, Rosichin, dan Thohir Nur Ilhami.
Masing-masing dari orang dalam perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
tersebut telah dijatuhi sanksi administratif dari Bapepam-LK berupa sanksi denda yang besarnya
berbeda-beda antara satu orang dengan orang dalam lainnya. Sanksi denda yang terendah sebesar
Rp. 9.000.000,00 (sembilan juta rupiah) dan sanksi denda yang tertinggi adalah sebesar Rp.
2.330.000.000,00 (dua miliar tiga ratus tiga puluh juta rupiah), dengan total keseluruhan denda
sebesar Rp. 2.800.000.000,00 (dua miliar delapan ratus juta rupiah). Sanksi denda tersebut
ditetapkan oleh Bapepam-LK dengan mempertimbangkan pola transaksi dan akses yang
bersangkutan terhadap informasi orang dalam.
Insider Trading
Insider trading merupakan istilah teknis yang hanya dikenal dalam pasar modal. Istilah
tersebut mengacu kepada praktek di mana orang dalam (corporate insider), melakukan transaksi
sekuritas dengan menggunakan informasi eksklusif yang mereka miliki yang belum tersedia bagi
masyarakat atau investor.
Praktek insider trading bertentangan dengan prinsip keterbukaan. Keterbukaan
merupakan suatu kewajiban bagi setiap perusahaan yang menjual sahamnya melalui bursa efek.
Prinsip keterbukaan (disclosure principle) merupakan sesuatu yang harus ada, baik untuk
kepentingan pengelola bursa (BEJ), pengawas (Bapepam), dan calon investor.
Oleh karena itu, dapat ditentukan bahwa perdagangan efek dapat tergolong sebagai praktek
insider trading apabila memenuhi tiga unsur minimal yaitu:
a. Adanya orang dalam (insider);
b. Informasi material yang belum tersedia bagi masyarakat atau belum di-disclosed
(unpublished inside information);
c. Orang dalam melakukan transaksi dengan menggunakan informasi material yang belum
tersedia untuk umum tersebut (insider trading).
Insider trading berbahaya bagi mekanisme pasar yang fair dan efisien.
Dampak negative insider trading adalah:
a. Pembentukan harga yang tidak fair. Pembentukan harga tersebut disebabkan kurangnya
informasi yang merata yang dimiliki para pelaku bursa, artinya hanya dimiliki oleh orang
dalam atau sekelompok orang tertentu yang mempunyai akses terhadap orang dalam.
b. Berbahaya bagi kelangsungan hidup pasar modal. Hilangnya kepercayaan investor terhadap
bursa akan menyebabkan perubahan kebijakan investasinya dan akhirnya bursa tidak lagi
dianggap sebagai alternatif sumber pembiayaan yang menguntungkan.
c. Menurunkan kepercayaan investor atas pasar saham karena ambiguitas dan rendahnya
reliabilitas informasi yang mengemuka, sehingga menghambat perkembangan pasar modal
yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi karena menurunnya minat
investasi
d. Memperburuk citra emiten. Hilangnya kepercayaan investor terhadap emiten merupakan
salah satu penyebab hilangnya image positif investor, dan apabila hal tersebut terjadi maka
sulit bagi emiten merebut kembali simpati masyarakat. Hal ini berdampak negatif secara luas
dari aspek ekonomis, sumber daya serta pangsa pasar yang ada.
e. Kerugian bagi investor. Kerugian tersebut disebabkan karena investor membeli efek pada
harga yang mahal dan menjualnya pada harga yang murah, sehingga investor merasa
dirugikan dan tidak mendapatkan perlindungan.
f. Menurunkan nilai perusahaan yang tercermin dari turunnya harga
g. Mencegah pembeli potensial dari better deal on the stock
h. Menurunkan likuiditas saham maupun likuiditas pasar
Kualitas Pelaporan Keuangan dan Peran Auditor Eksternal dalam GCG
Ada tiga alasan buruknya akuntansi (poor accounting), yaitu:
1. Subversion of sound accounting principles Banyak praktik-praktik saat ini, seperti
front-end revenue recognition, cookie jar reserving, off-balance-sheet financing yang
merupakan pelanggaran-pelanggaran dari berbagai prinsip yang ada (seperti
pengakuan pendapatan, expense matching, dan pengakuan kewajiban), bukan
merupakan kegagalan prinsip. Hal ini disebabkan konflik kepentingan (pada bagian
dari directors, auditor, pembuat kebijakan, dan politikus) yang mendorong terjadinya
praktik pelanggaran.
2. Bentuk dari regulasi akuntansi Penulis mengacu pada rekomendasi bright line
yang mendorong bentuk mengungguli substansi, pelaksanaan regulasi daripada
menangkap ekonomi. Perdebatan tentang benar dan wajar mengesampingkan
pembicaraan tentang isu ini. Bentuk regulasi akuntansi memiliki kelemahan yang
mendukung poor accounting itu sendiri.
3. Pemanfaatan regulasi yang buruk itu sendiri, yang dipermainkan oleh pihak-pihak
yang telah berpikiran buruk untuk memanfaatkan celah regulasi akuntansi yang ada
Praktik-praktik yang diduga keliru diberikan sanksi oleh GAAP yang mengacu
pada Kerangka Konseptual. Banya praktik telah terasosiasi dengan nama kualitas,
seperti IBM, Microsoft. Aktor yang terlibat mungkin berkonflik tetapi adakah
kesalahan kegagalan berpikir tentang bagaimana akuntansi yang baik seharusnya?
The Quality of Earnings
Penulis berpandangan bahwa pemegang saham membeli earnings sehingga kualitas
earnings merupakan fitur penting dari produk laporan keuangan Pemegang saham
membeli perusahaan untuk menghasilkan uang, dan earnings merupakan jawaban atas
pertanyaan Apa yang telah saya hasilkan tahun ini?. Analis memperkirakan earnings
sebagai sebuah indikasi seberapa besar sebuah saham tersebut berharga.
Investor tentu saja tidak membeli earnings saat ini. Sehingga kualitas earnings
merupakan, hal pertama dan utama, sebuah pertanyaan mengenai kualitas earnings
berikutnya.
Jika kita memperkirakan GAAP earnings maka kita akan salah menilai perusahaan
karena GAAP earnings tidak mencukupi/kurang baik Earnings saat ini merupakan
input bagi perkiraan earnings pada masa mendatang. Adanya kontroversi terhadap pro
forma earnings. Angka dalam pro forma telah diketahui lebih dahulu untuk perkiraan (as
in First Call) dan untuk laporan hasil aktual (in press releases). Banyak angka dalam pro
forma telah dikritisi sebagai angka earnings dengan kualitas rendah. Tetapi orang
cenderung fokus pada angka pro forma jika GAAP earnings berkualitas buruk.
Pengalaman dalam bubble baru-baru ini menyarankan sebuah standar untuk menjawab
pertanyaan ini: earnings tidak bisa digunakan dalam sebuah skema piramida untuk
mendorong anggapan spekulatif (dan mendorong bubbles). Skema piramida bekerja
dengan dua cara, yaitu (1) momentum earnings dapat dibuat dalam mekanisme alami
dimana pendapatan secara agresif diakui atau beban diabaikan (2) memoentum dapat
diangkat (levered up) dengan menagajak manajemen dalam aktivitas untuk meningkatkan
angka piramida tersebut, untuk merugikan investor yang tak awas. Angka pro forma
seperti EBIT dan skema pembiayaan off-balance-sheet (mendorong skema piramida dan
skema peminjaman) serta EBITDA (mendorong subtitusi modal untuk tenaga kerja yang
menghasilkan kapasitas berlebih serta menyediakan insentif untuk mengkapitalisasi
beban.
A Loose Anchor: The Poor Quality of GAAP Earnings
GAAP melanggar shareholder perspective karena memberi celah untuk melakukan
pyramiding (Cara meningkatkan posisi keuangan menggunakan profit yang masih
unrealized dari perdagangan untuk meningkatkan margin).
Sehingga pembeli earnings (para pemegang saham) harus berhati-hati dan para analis
fundamental yang berdedikasi harus membuat penyesuaian atas hal tersebut.
The Quality of Financial Reporting
GAAP is Forward-Looking
Penggunaan paling penting dari pelaporan keuangan adalah untuk membantu investor
mencari tahu pendapatan di masa depan dan perbedaannya dari pendapatan yang sekarang.
Dengan demikian, laporan keuangan diharapkan menyajikan sesuatu yang lebih dari current
earning. Walaupun pendapatan sekarang dapat digunakan sebagai indikator pendapatan di
masa depan dengan menggunakan analisis laporan keuangan yang lebih luas, namun itu
masih dirasakan kurang cukup untuk memprediksi laba akuntansi dalam beberapa tahun.
Analisis laporan keuangan membantu peramalan ke depan karena struktur dari model
pelaporan keuangan. Berfokus pada pendapatan operasi, bila pendapatannya komprehensif,
yaitu: Operating income = free cash flow + change in net operating assets
Peraturan Bapepam LK
KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal
Bab X Pelaporan dan Keterbukaan Informasi
Pasal 86
Pelaporan keuangan merupakan kewajiban bagi perusahaan publik yang terdaftar di bursa efek.
Kewajiban tersebut berupa:
a. menyampaikan laporan secara berkala kepada Bapepam dan mengumumkan laporan tersebut
kepada masyarakat; dan
b. menyampaikan laporan kepada Bapepam dan mengumumkan kepada masyarakat tentang
peristiwa material yang dapat mempengaruhi harga Efek selambat-lambatnya pada akhir hari
kerja ke-2 (kedua) setelah terjadinya peristiwa tersebut.
Selanjutnya pada ayat 2 dinyatakan bahwa Emiten atau Perusahaan Publik yang Pernyataan
Pendaftarannya telah menjadi efektif dapat dikecualikan dari kewajiban untuk menyampaikan
laporan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Bapepam. Ketentuan ini dimaksudkan untuk
memberikan kewenangan kepada Bapepam untuk menetapkan persyaratan tertentu di mana
Emiten atau Perusahaan Publik yang Pernyataan Pendaftarannya telah menjadi efektif tidak
diwajibkan menyampaikan laporan. Persyaratan dimaksud, antara lain, berupa penentuan
maksimal jumlah pemegang saham dan modal disetor Perusahaan Publik yang tidak diwajibkan
untuk menyampaikan laporan. Ketentuan ini tidak berarti bahwa Perusahaan Publik yang
Pernyataan Pendaftarannya telah menjadi efektif tidak wajib menyampaikan laporan meskipun
tidak memenuhi persyaratan sebagai Perusahaan Publik.
AUDITOR EKSTERNAL
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal
Pasal 68
Akuntan yang terdaftar pada Bapepam yang memeriksa laporan keuangan Emiten, Bursa Efek,
Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, dan Pihak lain
yang melakukan kegiatan di bidang Pasar Modal wajib menyampaikan pemberitahuan yang
sifatnya rahasia kepada Bapepam selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kerja sejak
ditemukan adanya hal-hal sebagai berikut :
a. pelanggaran yang dilakukan terhadap ketentuan dalam Undang-undang ini dan atau peraturan
pelaksanaannya; atau
b. hal-hal yang dapat membahayakan keadaan keuangan lembaga dimaksud atau kepentingan
para nasabahnya.
Pasal 69
Laporan keuangan yang disampaikan kepada Bapepam wajib disusun berdasarkan prinsip
akuntansi yang berlaku umum. Yang dimaksud dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
adalah Standar Akuntansi Keuangan yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan praktik
akuntansi lainnya yang lazim berlaku di Pasar Modal.
Tanpa mengurangi ketentuan, Bapepam dapat menentukan ketentuan akuntansi di bidang Pasar
Modal. Meskipun pengaturan suatu hal tertentu sudah diatur dalam Standar Akuntansi
Keuangan, tetapi apabila belum mencakup hal-hal yang dibutuhkan di Pasar Modal seperti dalam
rangka memenuhi asas keterbukaan, Bapepam dapat menetapkan ketentuan mengenai hal
tersebut secara khusus untuk melindungi kepentingan publik.
Peraturan Bapepam no. VIII.A.1 tentang Pendaftaran Akuntan yang Melakukan Kegiatan di
Pasar Modal
Peraturan ini mengatur tentang persyaratan dan berkas yang harus dipenuhi oleh Akuntan Publik
yang ingin melakukan kegiatan di Pasar Modal. Peraturan ini untuk mencegah masuknya
Akuntan Publik yang kurang kompeten dalam mengaudit perusahaan yang listing di BEI.
Peraturan Bapepam no. VIII.A.2 tentang Independensi Akuntan yang Memberikan Jasa di
Pasar Modal
Ketentuan mengenai independensi Akuntan yang memberikan jasa di Pasar Modal, diatur dalam
Peraturan Nomor VIII.A.2 sebagaimana dimuat dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini
berlaku sekaligus mencabut Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-310/BL/2008
tanggal 1 Agustus 2008 tentang Independensi Akuntan yang Memberikan Jasa di Pasar Modal
dan dinyatakan tidak berlaku. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal 28 Februari 2011.
Dalam memberikan jasa profesional, khususnya dalam memberikan opini, Akuntan wajib
mempertahankan sikap independen. Akuntan tidak independen apabila selama Periode Audit dan
selama Periode Penugasan Profesionalnya, baik Akuntan, Kantor Akuntan Publik, maupun
Orang Dalam Kantor Akuntan Publik:
a. mempunyai kepentingan keuangan langsung atau tidak langsung yang material pada klien,
seperti:
1) investasi pada klien; atau
2) kepentingan keuangan lain pada klien yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.
b. mempunyai hubungan pekerjaan dengan klien, seperti:
1) merangkap sebagai Karyawan Kunci pada klien;
2) memiliki Anggota Keluarga Dekat yang bekerja pada klien sebagai Karyawan Kunci
dalam bidang akuntansi atau keuangan;
3) mempunyai mantan rekan atau karyawan profesional dari Kantor Akuntan Publik yang
bekerja pada klien sebagai Karyawan Kunci dalam bidang akuntansi atau keuangan,
kecuali setelah lebih dari satu tahun tidak bekerja lagi pada Kantor Akuntan Publik yang
bersangkutan; atau
4) mempunyai rekan atau karyawan profesional dari Kantor Akuntan Publik yang
sebelumnya pernah bekerja pada klien sebagai Karyawan Kunci dalam bidang akuntansi
atau keuangan, kecuali yang bersangkutan tidak ikut melaksanakan audit terhadap klien
tersebut dalam Periode Audit.
c. mempunyai hubungan usaha secara langsung atau tidak langsung yang material dengan klien,
atau dengan Karyawan Kunci yang bekerja pada klien, atau dengan pemegang saham utama
klien. Hubungan usaha dalam butir ini tidak termasuk hubungan usaha dalam hal Akuntan,
Kantor Akuntan Publik, atau Orang Dalam Kantor Akuntan Publik memberikan jasa audit,
review, atestasi lainnya, dan/atau non atestasi kepada klien, atau merupakan konsumen dari
produk barang atau jasa klien dalam rangka menunjang kegiatan rutin.
d. memberikan jasa non atestasi kepada klien seperti:
1) pembukuan atau jasa lain yang berhubungan dengan catatan akuntansi klien atau laporan
keuangan;
2) desain sistem informasi keuangan dan implementasi;
3) audit internal;
4) konsultasi manajemen;
5) konsultasi sumber daya manusia;
6) penasihat keuangan;
7) jasa perpajakan, kecuali telah memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Komite Audit.
Persetujuan Komite Audit tersebut tidak termasuk jasa perpajakan untuk mewakili klien
di dalam maupun di luar pengadilan perpajakan dan/atau bertindak untuk dan atas nama
klien dalam perhitungan dan pelaporan perpajakan; atau
8) jasa-jasa lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.
e. memberikan jasa atau produk kepada klien dengan dasar Fee Kontinjen atau komisi, atau
menerima Fee Kontinjen atau komisi dari klien, kecuali Fee Kontinjen ditetapkan oleh
pengadilan sebagai hasil penyelesaian hukum, temuan badan pengatur dan/atau perpajakan.
f. memiliki sengketa hukum dengan klien.
Kantor Akuntan Publik wajib mempunyai sistem pengendalian mutu dengan tingkat keyakinan
yang memadai bahwa Kantor Akuntan Publik atau karyawannya dapat menjaga sikap
independen dengan mempertimbangkan ukuran dan sifat praktik dari Kantor Akuntan Publik
tersebut.
Pembatasan Penugasan Audit
a. Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan klien hanya dapat dilakukan oleh Kantor
Akuntan Publik paling lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang
Akuntan paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut.
b. Kantor Akuntan Publik dan Akuntan dapat menerima penugasan audit kembali untuk klien
tersebut setelah satu tahun buku tidak mengaudit klien tersebut.
c. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b tidak berlaku bagi laporan
keuangan interim yang diaudit untuk kepentingan Penawaran Umum.
d. Kantor Akuntan Publik yang memberikan jasa di Pasar Modal yang melakukan perubahan
komposisi Akuntan sehingga jumlah Akuntannya 50% (lima puluh perseratus) atau lebih
berasal dari Kantor Akuntan Publik yang telah memberikan jasa di Pasar Modal,
diberlakukan sebagai kelanjutan Kantor Akuntan Publik asal Akuntan yang bersangkutan dan
tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit atas laporan keuangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a.
Dalam penerimaan penugasan profesional, Akuntan wajib mempertimbangkan secara profesional
dan memiliki independensi yang dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana diatur dalam
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP).
Dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan pidana di bidang Pasar Modal, Bapepam dan LK
dapat mengenakan sanksi terhadap setiap pelanggaran ketentuan Peraturan ini, termasuk kepada
Pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut.
Peraturan Bapepam no X.J.1 tentang Laporan Kepada Bapepam oleh Akuntan
Akuntan yang memeriksa Laporan Keuangan Emiten, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan
Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, dan Pihak lain yang melakukan kegiatan
di Pasar Modal wajib menyampaikan pemberitahuan yang sifatnya rahasia (sampai ditetapkan
lebih lanjut oleh Bapepam) kepada Bapepam selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kerja
sejak ditemukan adanya hal-hal sebagai berikut:
a. pelanggaran yang dilakukan terhadap ketentuan dalam Undang-undang Pasar Modal dan
atau peraturan pelaksanaannya;
b. hal-hal yang dapat membahayakan keadaan keuangan lembaga dimaksud atau
kepentingan para nasabahnya.
Kasus Telkom
Kasus laporan keuangan Telkom bermula dari adanya penolakan laporan keuangan PT Telkom
oleh Komisi Sekuritas dan Bursa AS (US SEC). PT Telkom ialah sebuah perusahaan besar yang
sahamnya dual listed di bursa efek Indonesia dan di NYSE (New York Stock Exchange), hal ini
menyebabkan PT Telkom harus mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh SEC dimana PT
Telkom diwajibkan mengirimkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh Auditor yang diakui
oleh SEC, dan SEC memiliki otoritas dalam memberikan keputusan terkait permasalahan PT
Telkom.
Penolakan SEC atas filling Laporan Keuangan yang dilakukan oleh PT Telkom disebabkan
beberapa asalan, antara lain yaitu :
1. SEC merasa bahwa KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Telkom, yaitu KAP Eddy
Pianto tidak memenuhi salah satu peraturan Standar Audit di US yaitu (AU 543). Standar
ini mengatur tentang referensi auditor terhadap opini auditor lain yang telah mengaudit
laporan keuangan anak perusahaan yang akan di konsolidasikan kedalam laporan
keuangan perusahaan induk yang diaudit. Dalam hal ini PT Telkom memiliki anak
perusahaan yaitu PT Telkomsel yang mana Laporan Keuangannya diaudit oleh PwC.
2. Masih terkait dengan permasalahan tersebut, PwC tidak mengijinkan KAP Eddy Pianto
untuk menggunakan opininya atas LK 2002 (audited) Telkomsel untuk dijadikan acuan
dalam LK 2002 (audited) Telkom. Lebih lanjut, PwC dan SEC serta KAP Eddy Pianto
mengalami salah tafsir masing-masing atas AU 543 tersebut, dimana PwC dan SEC
mengacu pada standar audit tersebut bahwa KAP Eddy Pianto perlu meminta izin kepada
PwC jika ingin menggunakan opini atas LK 2002 (audited) Telkomsel dalam Form 20 F
dari LK Telkom 2002. Sedangkan KAP Eddy Pianto menafsirkan bahwa ia tidak perlu
meminta izin kepada PwC, cukup menginformasikan saja bahwa ia akan menggunakan
hasil audit dan opini PwC dalam audit yang ia laksanakan. Misleading AU 543 oleh SEC
inilah yang menyebabkan SEC menolak Form 20 F LK Telkom 2002 Sehingga
menyimpulkan LK Telkom 2002 unaudited.
Untuk lebih lengkapnya berikut korespondensi antar KAP dan SEC untuk permasalahan
ini :
20 Januari 2003: EP mengirim Audit Instructions kepada HS, yang mencakup
ketentuan-ketentuan AU 543 atau PSA 543. HS memberi konfirmasi tertulis bahwa Audit
Instructions telah diterima;
19 Februari 2003: HS mengirimkan laporan yang diminta EP sesuai Audit Instructions,
termasuk dokumen yang menyatakan bahwa HS independen;
17 Maret 2003: EP mengirim surat ke HS akan melakukan reference terhadap audit yang
dilakukan HS di Telkomsel. Laporan audit (Telkom) direncanakan keluar pada tanggal 25
Maret 2003;
24 Maret 2003: HS membalas surat ke EP 17 Maret 2003. HS menyatakan, tidak
memberi izin kepada EP untuk menggunakan opininya atas LK 2002 (audited) Telkomsel
untuk dijadikan acuan dalam LK 2002 (audited) Telkom;
25 Maret 2003: HS mengirimkan copy dari audit report Telkomsel untuk
dikonsolidasikan ke Telkom. Dalam surat pengantarnya, HS menyatakan, At the date of
this letter, we fully stand behind our opinion as far as they relate to the financial
statements of Telkomsel for the year ended December 31, 2002.
31 Maret 2003: HS kembali mengingatkan EP bahwa HS tidak mengizinkan EP
menggunakan opini atas LK 2002 (audited) Telkomsel dalam Form 20 F dari LK Telkom
2002.
9 April 2003: HS mengirim surat ke Preskom dan Ketua Komite Audit Telkomsel,
menjelaskan keputusannya tidak memberi izin kepada EP menggunakan opini audit LK
2002 Telkomsel. Bahwa tindakan itu telah sesuai dengan AU 543.
Pada 22 Mei 2003: SEC menyetujui dilakukannya credentialling review terhadap EP
sehubungan pelaksanaan AU 543. Heinz & Associates LLP dari Denver, Colorado, AS
ditunjuk sebagai pelaksana.. Kesimpulan Heinz & Associates LLP adalah: We found the
firms (KAP Eddy Pianto) conclusion in connection with this matter (US GAAS AU
Section 543) to have merit and generally consistent with practices we have observed by
other auditing firm.
5 Juni 2003: SEC mengirim surat kepada Telkom. SEC menyatakan, EP tidak
mendemonstrasikan kompetensinya dalam menerapkan US GAAS, dan karenanya SEC
menolak laporan 20-F Telkom.
21 Juni 2003: EP mengirim surat ke SEC untuk menjelaskan mengenai interpretasi yang
benar atas AU 543.
25 Juni 2003: EP melakukan teleconference dengan SEC, juga untuk menjelaskan
mengenai interpretasi yang benar atas AU 543. Dalam diskusi itu, tidak ada sanggahan
dari SEC mengenai interpretasi yang disampaikan Eddy Pianto.
Berikut standar audit US 543 yang dimaksud :
para 10 (c) (i), yang menjadi dasar penolakan HS memberi izin kepada EP. Aturan SEC
itu berbunyi, (10) Whether or not the principal auditor decides to make reference to the
audit of the other auditor, he should make inquiries.... These inquiries and other measures
may include such as the following: (c) Ascertain through communication with the other
auditor: (i) that he is aware that the financial statements of the components he is auditing
are to be included in the financial statements on which the principal auditor will report
and that the other auditors report will be relied upon (and referred to) by the principal
auditor.
Adanya misleading PwC dan SEC dengan KAP Eddy Pianto dengan standar ini lantas
memunculkan isu baru, bahwa ada konspirasi tingkat tinggi yang dimainkan PwC dan
SEC agar menggagalkan audit yang dilakukan oleh KAP Eddy pianto, dimana isu
tersebut didukung fakta bahwa Pejabat SEC yang menangani Telkom adalah Craig C.
Olinger, Deputy Chief Accountant SEC. Dia adalah bekas anak buah Wayne Carnall,
yang kini menjadi Senior Executive PwC. Apalagi setelah permasalahan ini terjadi PT
Telkom menunjuk PwC agar melakukan review atas audit yang dilakukan oleh KAP
Eddy Pianto
Karena Sikap PwC ini, maka KAP Eddy Pianto melaporkan PwC ke IAI, dan dilakukan
pengusutan atas masalah ini, dan fakta didapat berdasarkan keputusan KPPU bahwa PwC
bersalah dan wajib membayar denda 20 Milyar rupiah ke kas negara.
3. Penyebab lainnya atas penolakan SEC terkait dengan permasalahan ini ialah adanya
pencabutan dukungan oleh GT Internasional auditing firm di US terhadap kerja audit
yang dilakukan oleh KAP Eddy pianto yang berafiliasi kepada PT GTI indonesia yang
merupakan partner dari GT Internasional, yang mana GT Internasional menyatakan
bahwa ia tidak akan bertanggung jawab atas hasil audit yang dilakukan oleh KAP Eddy
Pianto. Karena pencabutan dukungan dari GT International itu pula, LK TLKM akhirnya
ditolak oleh US SEC. Sebagaimana yang diketahui bahwa GT Internasional merupakan
Auditing firm yang diakui di US, dan atas dasar partner dan afiliasi dengan GT
Internasional itulah KAP Eddy Pianto boleh melakukan Audit atas LK Telkom 2002,
maka apabila GT internasional mengatakan bahwa ia tidak akan bertanggung jawab atas
hasil Audit KAP Eddy Pianto, maka dalam hal ini SEC mengambil tindakan bahwa KAP
Eddy Pianto tidak boleh melakukan audit atas LK Telkom 2002.
Analisis
Terkait dengan kasus TLKM dan persaingan CPA Firms dalam proses audit LK, terdapat
kelalaian manajemen dalam pemilihan CPA Firms. TLKM yang merupakan perusahaan besar
dua listing membutuhkan treatment khusus terkait pelaporan keuangan mengingat informasi
perusahaan sangat penting dalam proses perumusan kepentingan investor. TLKM (dual listing)
memiliki persyaratan yang lebih rumit terkait penerbitan LK, diantaranya terkait dengan
pemilihan CPA Firms. KAP Eddy Pianto memenangkan tender, dengan payung GT dan
bermodal 15 staff audit. Setalah penyelidikan, terdapat hubungan antara Eddy Pianto dan Arief
Arryman, ketua komite audit TLKM. Disamping TLKM sedang sibuk dengan lobi terkait tarif,
hal seperti ini disinyalir terdapat penyalahan aturan open tender. Eddy Pianto seharusnya
profesional, karena kompetensi masih kurang terkait pencabutan kemitraan dengan GT
International.
Selain kelalain manajemen dalam pemilihan CPA Firms, terdapat pula penyelewengan
penerapan kebijakan akuntansi dan audit. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan hasil audit EP dan
HS berkisar antara 4% - 20% dengan empat hal pokok, yaitu:
1. Biaya untuk penghargaan kepada karyawan berdasarkan lama masa kerja sebagai
pencadangan. Pada masa-masa sebelumnya, laporan keuangan Telkom tidak pernah
memasukkan biaya untuk penghargaan karyawan berdasarkan lama masa kerja tersebut sebagai
pencadangan. Namun, auditor dari kantor akuntan publik PricewaterhouseCoopers (PwC) yang
melakukan audit ulang laporan keuangan tahun 2002 tersebut, memasukkannya sebagai
pencadangan.
2. Biaya perawatan kesehatan karyawan berdasarkan asumsi. Dalam hal biaya ini, telah dibuat
kecenderungan biaya sejak dari tahun 2000, 2001, dan 2002. Kecenderungan tersebut dibuat
berdasarkan asumsi-asumsi sehingga ketika auditor menggunakan asumsi berbeda, harus
dilakukan penyesuaian.
3. Pajak yang ditangguhkan. Sebelumnya, Telkom telah melakukan transaksi-transaksi material
seperti kepemilikan silang dengan Indosat dan penjualan Telkomsel. Karena waktu audit
sebelumnya transaksi tersebut masih berlangsung dan belum selesai, oleh kantor akuntan publik
Eddy Pianto kewajiban pajak tersebut belum dimasukkan dalam laporan keuangan yang dibuat,
dan ditangguhkan menjadi masuk kewajiban tahun berikutnya. Ketika audit ulang dilakukan
PwC, transaksi material itu sudah selesai sehingga pajak yang tadinya ditangguhkan tersebut
dimasukkan dalam laporan keuangan 2002.
4. Transaksi pembelian kembali seluruh kontrak dari beberapa mitra kerja sama operasi (KSO)
Pada tahun 2002, Telkom tengah menyelesaikan pembelian PT Pramindo Ikat Nusantara yang
mengelola Divisi Regional I Sumatera dan PT Aria West International yang mengelola Divisi
Regional III Jawa Barat dan Banten.
Terdapat juga permasalahan pada kompetensi atas CPA Firm. Kompetisi antar CPA Firms yang
ketat menyebabkan munculnya sikap ambisius dalam CPA Firms dalam memenangkan tender.
Lobbying terhadap client terkait cost yang ditawarkan EP kepada TLKM merupakan
pelanggaran integritas auditor. Selain itu, quality control yang sulit dilakukan oleh GTI terhadap
EP menyebabkan pencabutan kemitraan pada awal tahun 2003.
Terkait pelaporan keuangan, LK TLKM tidak cukup reliable karena kualitas CPA Firms yang
kurang settle. Dampaknya, penerbitan laporan keuangan tersendat dan kontan menyebabkan
saham TLKM di bursa turun. Penalti dari Bapepam LK kepada EP berupa larangan audit
perusahaan di lantai bursa. Namun, dari sisi persaingan usaha. Terdapat indikasi monopoli usaha
dari HS dengan konspirasi hubungan Deputy Chief Accountant SEC dan Senior Chief Executive
PwC. HS mendapat penalti KPPU berupa denda 20 Miliar Rupiah.
Dalam kasus TLKM terkait proses pelaporan keuangan, terdapat beberapa langkah yang perlu
diambil sebagai preventive act. Diantaranya
# Pengkajian menyeluruh oleh manajemen TLKM dalam menciptakan proses pelaporan
keuangan yang sehat
# Upaya complience terhadap aturan akuntansi
# Integritas yang harus diterapkan oleh EP dalam proses penilaian client
# Etos Persaingan usaha yang sehat oleh HS
Masalah Korupsi di Indonesia terkait Good Public Governance : Kasus Jaksa
Urip dan PT Agung Podomoro Land, Tbk
2.1 World Bank Institute, New empirical frontiers in fighting corruption and improving
governance a few selected issues, February 2001
2.1.1 Whats The Issue?
Paper yang disampaikan oleh Daniel Kaufmann di Brussels pada 30-31 Januari
2011 untuk OSCE Economic Forum ini secara umum mengusung tiga isu utama, yakni:
a.Apakah korupsi, apa penyebabnya dan apa konsekuensinya (dari korupsi tersebut)?
b. Apakah tata kelola, dan kapan (tata kelola) dinyatakan baik?
c.Apakah strategi untuk menurunkan tingkat korupsi dan menaikkan tata kelola?
Sebelum menjelaskan lebih lanjut di papernya, Kaufmann mendefinisikan keyword
pokok dari papernya, yakni:
a. Korupsi adalah penyalahgunaan hak milik publik untuk keuntungan pribadi.
b. Tata kelola mencakup proses memilih, memonitor, dan mengganti pemerintah. Tata
kelola juga mencakup kemampuan untuk memformulasikan dan mengimplementasikan
kebijakan, dengan asumsi terdapat kepatuhan dari para rakyatnya.
Dengan melihat definisi diatas, maka Kaufmann memecah konsep government
menjadi enam aspek, dan mengembangkan ukuran yang berlaku secara internasional untuk
masing-masing aspeknya. Aspek-aspek tersebut adalah:
a. Suara dan akuntabilitas; mencakup kebebasan penduduk sipil dan kemerdekaan pers
b. Efektivitas pemerintah; mencakup kualitas dari pembuatan kebijakan dan penyampaian
jasa untuk publik
c. Kualitas dari regulasi;
d. Peraturan hukum; mencakup perlindungan terhadap hak intelektual dan peradilan yang
independen
e. Kontrol terhadap korupsi.
Bisa dilihat, korupsi merupakan satu dari enam komponen penting dalam pemerintahan.
Namun, efek yang mampu ditimbulkan sangat besar sehingga pemerintah merasa perlu
mengambil tindakan serius untuk setiap dugaan korupsi.
2.1.2 The evidence
Berdasarkan bukti yang telah didapatkan World Bank, dapat ditarik kesimpulan
bahwa negara yang memiliki pemerintahan yang transparan dan baik dapat diasosiasikan
dengan tingginya pertumbuhan pendapatan dan GDP. Hal ini dapat dilihat dari negara
industri seperti Polandia, Slovenia, dan Bostwana serta bukti-bukti sejak 20 tahun lalu dari
Singapura dan Spanyol.
Terlebih lagi, bukti tersebut menantang argumen yang menyatakan bahwa hanya
negara yang memiliki tingkat perekonomian tinggi saja yang mampu menerapkan tata kelola
yang baik. Sebaliknya, bukti penelitian tersebut menyarankan bahwa tata kelola yang baiklah
yang dapat meningkatkan perekonomian suatu negara. Sebagai perumpamaan, jika Rusia
mampu mengontrol tindak korupsinya seperti Republik Czech dan Indonesia mampu
mengontrol tindak korupsinya seperti Korea, peningkatan perekonomian yang mungkin
terjadi adalah kenaikan GDP per kapita sebesar 3 kali lipat, penurunan tingkat kematian bayi
sebesar 3 kali lipat, dan penurunan angka buta huruf sebesar 20% dalam jangka panjang.
Korupsi dan tata kelola yang tidak baik sangat merugikan bagi warga negara
miskin karena mereka hanya menerima sedikit jasa sosial seperti kesehatan dan pendidikan,
dan memiliki sumber daya yang minim untuk membayar sogok dan denda yang seringkali
diminta oleh berbagai pihak. Rezim korupsi kerap menggagalkan kontrak untuk membuat
klinik dan sekolah di area kumuh. Tentu saja hal ini membuat akses ke barang-barang publik
hanya tersedia di kota-kota besar. Di Ekuador, rakyat miskin harus membayar 3 kali lipat dari
penduduk normal untuk mendapatkan akses barang-barang publik karena mereka harus
menyogok untuk mendapatkan barang tersebut.
2.1.3 Who Benefits From The Bribery?
Bukti-bukti terkini menunjukkan bahwa perusahaan yang melangsungkan praktek
sogok menyogok (misal: dalam memperoleh lisensi) sebenarnya tidak mendapat keuntungan
sama sekali. Demikian juga untuk komunitas bisnis dan masyarakat secara umum.
Sebaliknya, biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan bisnis yang sarat korupsi
sangatlah besar. Sebuah survei menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi sistem
perekonomian transisi (dari komunis ke nonkomunis) yang memiliki tingkat korupsi cukup
tinggi memiiki tingkat pertumbuhan dan investasi yang lebih rendah, dan keamanan dari hak
intelektualnya pun tidak baik. Sebaliknya, perusahaan yang mengadopsi sistem pemerintahan
hukum parlementer, dekrit presiden, dan pengaruh di bank sentral mendapat keuntungan di
jangka pendek; walau korupsi yang mengakar itu telah menciptakan permasalahan yang
merusak untuk perkembangan perusahaan itu sendiri.
2.1.4 Causes of Corruption
Studi empiris terkait penyebab korupsi masih tergolong langka, namun bukti-
bukti mengarah bahwa penyebabnya adalah gejala dari lemahnya kontrol institusional.
Korupsi timbul karena rendah dan lemahnya hak-hak politik, termasuk pemilihan
umum yang demokratis, adanya pihak legislatif, partai oposisi, dan lemahnya kebebasan
warga sipil yang juga mencakup hak untuk bersuara, media yang independen, dan
kebebasan berbicara. Peningkatan bukti-bukti menghubungkan antara pemberdayaan
masyarakat sipil dengan strategi efektif dalam mengetahui penyebab korupsi. Bukti survei
perusahaan dari ekonomi transisi menyarankan bahwa penangkapan oleh polisi dan jerat
hukum untuk perusahaan tersebut terasosiasi dengan tidak adanya kemerdekaan penuh untuk
rakyat sipil. Bukti empiris lain (yang berlaku di seluruh dunia) menunjukkan bahwa
penyertaan perempuan baik itu dalam jumlah di parlemen maupun hak-hak sosial berjalan
searah dengan semakin kuatnya penduduk sipil. Devolusi, seperti desentralisasi fiskal, juga
mampu membantu dalam mengontrol korupsi.
Korupsi banyak terjadi di negara yang memiliki tingkat kepemilikan tinggi di
ekonomi, peraturan bisnis dan pajak yang berlebihan, pengaplikasian peraturan yang
sewenang-wenang, dan hambatan perdagangan. Ekonomi yang dimonopolisasi juga memiliki
kecenderungan terjadinya korupsi.
Tenaga sipil yang professional, baik dalam pelatihan, perekrutan, dan promosi,
juga kerap diasosiasikan dengan tingkat korupsi yang lebih rendah. Berbanding terbalik
dengan kepercayaan konvensional, bukti yang ada justru ambigu bahwa gaji pegawai sipil
yang rendah mengakibatkan korupsi. Karena, kenaikan tingkat gaji pun tidak menyebabkan
penurunan yang signifikan dalam korupsi.
2.1.5 The Need For A Multifaceted Anticorruption Strategy Which Tackles The
Fundamental Incentives and Prevention
Dengan banyaknya faktor penentu tata kelola yang baik dan korupsi,
sesungguhnya program apa sajakah yang dapat berdampak positif? Terdapat beberapa
program, yakni:
a. Menerapkan mekanisme check and balances dalam masyarakat
b. Mempromosikan suara dan partisipasi masyarakat,
c. Mengurangi insentif bagi elit perusahaan utnuk bergabung dalam state capture,
d. Menegakkan hukum.
2.1.6 Details and Priorities In A Multifaceted Strategy Will Vary From Country To
Country
a. Entry And Competition
Strategi yang harus diterapkan adalah meningkatkan kompetisi. Dalam negara transisi dan
berkembang, sumber korupsi adalah terkonsentrasinya ekonomi dalam monopoli yang
mencakup pengaruh politik dalam pemerintahan untuk kepentingan pribadi. Hal ini
banyak dijumpai di negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, seperti gas alam,
minyak, dan alumunium. Demonopolisasi, deregulasi, fasilitas untuk masuk dan keluar
(melalui likuidasi asset dan prosedur kebangkrutan yang efektif) dan promosi kompetisi
menjadi hal yang sangat penting untuk mengurangi korupsi.
b. Political Leadership Accountability
Beberapa negara dapat melakukan hal berikut untuk meningkatkan akuntabilitas
politiknya:
a. Memberitahukan ke publik mengenai jumlah suara di parlemen
b. Mencabut imunitas parlemen
c. Memberitahukan ke publik mengenai sumber dan jumlah keuangan partai politik
d. Memberitahukan ke publik mengenai pendapatan dan aset dari senior public officials
dan pihak-pihak yang terkait
e. Peraturan yang bertentangan dengan konflik kepentingan public officials
f. Proteksi untuk whistleblower
c. Professionalization Of The Civil Service
Reformasi di bidang ini mencakup pembentukan pegawai sipil yang independen,
professional, dan memperkenalkan sistem performa manajemen yang menghubungkan
gaji dan promosi dengan performa. Selain itu, keuntungan non-tunai dan hal-hal sejenis
sebaiknya disimplifikasi dan dibuat secara transparan.
d. The Budget, Public Expenditures, And Procurement
Untuk merealisasikan hal ini, diperlukan anggaran yang komprehensif, proses
penganggaran yang telah dikonsultasikan, tranparansi dalam penggunaan anggaran
negara, usaha mendapat pengakuan publik yang kompetitif, dan audit eksternal yang
independen.
e. The Power of Empirics: In-depth Governance Diagnostic Surveys
Dalam berbagai negara, survei dapat membantu untuk memberdayakan masyarakat sipil
dalam menyediakan diagnostik yang bermanfaat terhadap pemerintah. Instrumen survei
dapat mengumpulkan data perilaku bahkan di negara yang memiliki pemerintahan yang
disfungsi sekalipun.
f. The Importance of Civil Liberties and Voice
Bukti dari lebih 1500 finance project yang diadakan World Bank menunjukkan bahwa
kebebasan warga sipil dan partisipasi rakyat merupakan hal penting untuk development
outcomes. Bergantung dengan ukuran kebebasan masyarakat sipil yang digunakan, jika
suatu negara meningkatkan kebebasan warga sipil dari buruk menjadi sangat baik,
maka economic rate of return dari project tersebut akan meningkat sebesar 22.5%
Tata kelola lebih dari sekedar memerangi korupsi. Meningkatkan tata kelola perlu dilihat
sebagai proses integrasi tiga komponen vital, yakni:
a. Pengetahuan, dengan data yang teliti dan analisis empiris, termasuk in-country
diagnostic dan diseminasi, dengan menggunakan teknologi yang terkini
b. Kepemimpinan dalam politik, masyarakat sipil, dan arena internasional,
c. Aksi kolektif melalui partisipasi sistematis dan pendekatan concensus-building
dengan stakeholder kunci di masyarakat.
Tidak semua negara bisa mengaplikasikan ini, namun untuk meningkatkan tata kelola,
hal ini bisa menjadi jalan yang dapat diterapkan.
2.2 Transparency International, Coruption Perception Index
Transparancy International (TI) merupakan sebuah organisasi non-pemerintah
internasional yang banyak berusaha untuk mendorong pemberantasan korupsi, membawa
orang secara bersama-sama dalam koalisi yang kuat di seluruh dunia untuk mengakhiri
dampak buruk dari korupsi pada pria, wanita, dan anak-anak di seluruh dunia. TI juga
merupakan sebuah jaringan global NGO anti korupsi yang mempromosikan transparansi dan
akuntabilitas kepada lembaga-lembaga negara, partai politik, bisnis, dan masyarakat sipil.
Misi TI adalah untuk menciptakan perubahan menuju dunia yang bebas dari
korupsi. TI juga memiliki jaringan global termasuk lebih dari 90 perwakilan dan badan lokal
didirikan. Perwakilan dan badan lokal ini bertujuan untuk melawan kegiatan-kegiatan
korupsi di area nasional di dalam lingkup mereka dengan berbagai cara. Perwakilan/badan ini
secara bersama-sama dengan pemerintah, masyarakat sipil, bisnis dan media untuk
mempromosikan transparansi dalam pemilihan, administrasi publik, dalam pengadaan, dan
dalam bisnis.
Disisi lain, Transparency International Indonesia (TII) merupakan salah satu
chapter Transparency International. Bersama lebih dari 90 chapter lainnya, TII berjuang
membangun dunia yang bersih dari praktik dan dampak korupsi di seluruh dunia.
TII memadukan kerja-kerja think-tank dan gerakan sosial. Sebagai think-tank, TII
melakukan review kebijakan, mendorong reformasi lembaga penegak hukum, dan secara
konsisten melakukan pengukuran korupsi melalui Indeks Persepsi Korupsi, Crinis project,
dan berbagai publikasi riset lainnya. Di samping itu TII mengembangkan Pakta Integritas
sebagai sistem pencegahan korupsi di birokrasi pemerintah.
2.2.1 Corruption Perception Index
Salah satu produk dari Transparency International adalah Corruption Perceptions
Index. Corruption Perception Index (CPI) adalah sebuah indeks untuk mengukur
tingkat/level korupsi yang dirasakan (perceived) di sektor publik (pemerintahan).
Pengukuran CPI dilakukan oleh sebuah organisasi yang bernama CPI memiliki skor 10
(paling bersih dari korupsi) sampai 0 (paling korup). CPI diukur untuk setiap negara dan
dilakukan perangkingan dari yang paling bersih sampai yang paling korup. CPI diperoleh
dengan melakukan survey opini dan penilaian bisnis yang berbeda oleh institusi yang
bereputasi dan independen. Survey dan penilaian ini berisi pertanyaan tentang peyuapan
pejabat pemerintah, kicback dalam pengadaan barang publik, penggelapan dana publik, dan
pertanyaan terkait kekuatan dan kelemahan usaha sektor publik dalam mengatasi korupsi.
tingkat persepsi korupsi di Indonesia sejak tahun 2001, kemudian 2010, dan terakhir
2011 mengalami peningkatan kearah yang lebih baik. Namun meskipun CPI kian membaik,
masalah korupsi di Indonesia ini masih cukup serius. Tingkat Korupsi di Indonesia sangat
buruk, meskipun lebih baik daripada Vietnam dan Filipina. Indonesia harus mencontoh
keberhasilan pemerintah Singapura dalam menangani Korupsi karena CPI Singapura sangat
tinggi.
Tingginya level korupsi di Indonesia diakibatkan lemahnya penegakan hukum
dan hukuman kepada para koruptor sangatlah ringan bahkan sering mendapatkan remisi.
Selain itu, para pejabat pemerintah yang melakukan korupsi juga dapat dengan mudahnya
menghilangkan jejak ke luar negeri. Kasus penyuapan yang sering terjadi di Indonesia juga
membuat skor CPI Indonesia sangat tinggi. Berikut ini adalah trend CPI Indonesia dari
tahun 2001 s.d 2011 yang dibilang sangat buruk
2.3. KNKG, Pedoman Umum Good Public Governance
Good Public Governance (GPG) merupakan sistem atau aturan perilaku
terkait dengan pengelolaan kewenangan oleh para penyelenggara negara dalam menjalankan
tugasnya secara bertanggung-jawab dan akuntabel. GPG pada dasarnya mengatur pola
hubungan antara penyelenggara negara dan masyarakat dan antara penyelenggara negara
dan lembaga negara serta antar lembaga negara. Penerapaan GPG mempunyai pengaruh
yang sangat besar terhadap perwujudan Good Corporate Governance oleh dunia usaha dan
penyelenggara Negara. Sinergi diantara diharapkan keduanya dapat menciptakan
pemerintahan yang bersih dan berwibawa, yang pada gilirannya mampu meningkatkan
pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat. Pelaksanaan GPG terutama sangat
penting melalui penegakan kepatuhan terhadap hukum sehingga dapat dicegah terjadinya
praktik suap, korupsi dan sejenisnya.
GPG wajib dilaksanakan oleh para penyelenggara negara di setiap lembaga
negara, baik di ranah legislatif, eksekutif maupun yudikatif, bahkan juga di lembaga-
lembaga non struktural. Untuk menciptakan sistem birokrasi yang baik, pemerintah telah
mengambil langkah-langkah agar good governance diterapkan dilingkungan pemerintahan,
khususnya dalam penyelenggarakan pelayanan publik. Upaya pemerintah tersebut tentunya
akan memperoleh hasil yang maksimal apabila didukung pula oleh penerapan good
governance di lembaga-lembaga legislatif dan pengawasan serta yudikatif.
Dalam konteks pemberantasan korupsi, good governance sering diartikan
sebagai penyelenggaraan negara yang bersih dari praktik korupsi. Dalam proses
demokratisasi good governance sering mengilhami para aktivis untuk mewujudkan
penyelenggaraan negara yang memberikan ruang partisipasi bagi pihak diluar
penyelenggaraan itu sendiri, sehingga ada pembagian peran dan kewajiban yang seimbang
dalam arti luas, termasuk peran partai politik, masyarakat sipil, dan para pelaku usaha.
Adanya pembagian peran yang seimbang dan saling melengkapi antara ketiga unsur
tersebut, bukan hanya memungkinkan terciptanya check and balance, tetapi juga
menghasilkan sinergi antar ketiganya dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.
2.4.4 Proses Penanganan Pengaduan
Pengaduan Masyarakat diterima di KPK melalui berbagai cara, yaitu dengan menerima
pelapor langsung, melalui Surat, Faks, e-Mail, Telepon, SMS atau secara online melalui aplikasi
KPK Whistleblower's Sistem di website KPK.
1.1 Kasus Tindak Pidana Korupsi Jaksa Urip
Pemberantasan korupsi di Indonesia menghadapi berbagai tantangan baik secara
internal maupun eksternal. Diungkapkannya berbagai kasus Tipikor tidak serta merta
mengemukakan semua kasus yang masih belum terungkap, ibarat fenomena gunung es yang
baru terapungkan sebagian kecil atas puncaknya. Salah satu kasus yang sempat memperoleh
perhatian publik adalah kasus Tipikor yang melibatkan Jaksa Urip Tri Gunawan.
Jaksa Urip Tri Gunawan merupakan satu di antara 35 jaksa yang ditunjuk sebagai
anggota Tim Jaksa Penyelidik Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), dan
kemudian diangkat sebagai Ketua Tim. Tim Jaksa dibentuk untuk melaksanakan
penyelidikan atas dugaan tindak pidana atas pengaliran dana BLBI senilai Rp 28 trilliun
bagi Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) yang dimiliki pengusaha Sjamsul
Nursalim. Sebagaimana kasus BLBI di institusi perbankan lain, tindak pidana yang
diselidiki berkaitan dengan dugaan penyelewengan dana BLBI oleh para taipan perbankan.
Pengungkapan Tipikor yang dilakukan Jaksa Urip bermula ketika KPK
melaksanakan penggrebekan di kediaman Sjamsul Nursalim, di Jalan Hang Lekir RT 06/
08, Kavling WG, Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran, Jakarta di tanggal 2 Maret 2008.
Saat itu, Jaksa Urip diketemukan tengah mengadakan pertemuan dengan Artalyta Suryani,
disertai oleh keberadaan uang tunai senilai 660.000 USD. Keseluruhan uang kemudian disita
beserta Toyota Kijang bernomor polisi DK 1832 CH untuk dibawa bersama kedua orang
tersebut menuju Kantor KPK. Malam hari di tanggal tersebut, Jaksa Urip ditetapkan sebagai
tersangka. Paska penetapan, Jaksa Urip masih berkilah bahwa uang tersebut diperuntukkan
bagi pembayaran bisnis permata yang dijalaninya.
Berdasarkan hasil penyelidikan, penyidikan, dan pemeriksaan, dibuktikan bahwa
uang tunai yang diketemukan diberikan sebagai bentuk suap atas jasa Jaksa Urip
menghentikan penyelidikan Kasus BLBI di BDNI. Jasa yang diberikan Jaksa Urip sejak
tanggal Februari 2007 meliputi melaksanakan pendekatan kepada Jaksa Hendro Dewanto
dan Pemeriksa Badan pemeriksa Keuangan (BPK) bernama Adi. Sebagai hasil, temuan atas
penyelewengan dana BLBI senilai Rp 4,758 trilliun tidak diungkapkan dalam hasil
penyelidikan. Kasus ini melibatkan pula pejabat teras di lingkungan Kejaksaan Agung seperti
Jaksa Agung Muda (JAM) Pidana Khusus (Pidsus) Kemas Yahya Rahman. JAM Pidsus
Kemas merupakan penentu akhir atas penghentian penyelidikan kepada Jaksa Urip, sehingga
penyelidikan resmi dihentikan per tanggal 29 Februari 2008.
Selama persidangan, Jaksa Urip tetap membantah dakwaan yang dikenakan
terhadapnya, dibumbui penyangkalan Artalyta Suryani bahwa uang diperuntukkan bagi usaha
perbengkelan. Bantahan tersebut menjadi tidak berarti di mata hakim tatkala KPK
menyajikan rekaman hasil penyadapan ke muka persidangan, yang melibatkan pembicaraan
antara Jaksa Urip, JAM Kemas, dan Artalyta Suryani.
Seiring persidangan, diketemukan dugaan Tipikor lain berupa diterimanya uang
senilai Rp 1 milliar dari Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Glenn
Yusuf, melalui Pengacara Reno Iskandarsyah. Penerimaan tersebut diperoleh Jaksa Urip
setelah melalui pemerasan dengan mengancam akan ditetapkannya Glenn Yusuf sebagai
tersangka dalam Kasus BLBI selepas dilaksanakannya pemeriksaan sebanyak 8 kali sejak
bulan November 2007 hingga Januari 2008. Keseluruhan uang tersebut diberikan selama dua
kesempatan, masing masing senilai Rp 110.000.000,00 di tanggal 31 Januari 2008
bertempat di Gedung Bundar Kejaksaan Agung dan senilai 90.000 USD di tanggal 13
Februari 2008 bertempat di Delta Massage and Spa Hotel Grand Wijaya.
Jaksa Urip terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan Tipikor berupa
penerimaan hadiah berkaitan dengan jabatan untuk melaksanakan hal yang bertentangan
dengan kewajiban, serta tindakan pemerasan sesuai ketentuan Pasal 12 Huruf b dan e
subsider Pasal 5 Ayat 1 Huruf b dan Pasal 11 UU Pemberantasan Tipikor. Di samping itu,
diketahui pula bahwa Jaksa Urip membocorkan proses penyelidikan dan memberitahukan
cara penghindaran pemanggilan pemeriksaan bagi Sjamsul Nursalim melalui Artalyta
Suryani.
Di akhir pemeriksaan di Pengadilan Tipikor PN Jakarta, per tanggal 4 September
2008 Jaksa Urip dinyatakan bersalah dan dipidana penjara selama 20 tahun dan denda Rp
500.000.000,00 subsider 1 tahun kurungan. Vonis tersebut notabene lebih berat dari tuntutan
JPU selama 15 tahun penjara dan denda Rp 250.000.000,00 subsider 6 bulan kurungan.
Penguatan atas Putusan Tingkat Pertama diberikan setelah dikeluarkannya Putusan Banding
per tanggal 27 November 2008 dan Putusan Kasasi per bulan Maret 2009. Eksekusi
kemudian dilaksanakan per bulan Mei 2009 yang memindahkan penahanan Jaksa Urip dari
Rumah Tahanan (Rutan) brimob Kelapa Dua ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang.
Berlainan dengan pidana yang diterima Jaksa Urip, JAM Pidsus Kemas kemudian
hanya dikenai sanksi berupa penghentian jabatan berdasarkan PP Nomor 30 Tahun 1980
Tentang Disiplin PNS.
4.1.3 Kaitan kasus Jaksa Urip dengan pendoman Good Public Governance (KNKG) dan
Undang Undang terkait tindak Pidana Korupsi
Jika kasus ini ditelaah dengan pedoman Umum GPG, kasus ini memiliki
keterkaitan dengan implementasi konsep GPG dan Undang-undang terkait tindak pidana
korupsi yaitu pada beberapa aspek, yaitu aspek kewajiban negara yaitu aspek
kepengawasan internal lembaga yudikatif, gratifikasi, dan aspek kerahasiaan informasi
1. Aktualisasi GPG dalam Penyelenggaraan Negara
Sesuai dengan GPG, negara berkewajiban memberikan perlindungan dan
pelayanan kepada semua pemangku kepentingan dengan memperhatikan keberlanjutan
negara. Antara negara dengan pemangku kepentingan harus terjalin hubungan yang
didasarkan pada asas good public governance dan sesuai dengan peraaturan perundang-
undangan yang berlaku.
Begitu juga dengan jaksa yang merupakan salah satu pemangku kepentingan yang
merupakan warga negara dan juga pejabat publik. Mengingat jaksa berkedudukan sebagai
Pegawai Negeri Sipil (PNS), maka penetapan gaji pokok jaksa secara rerata tidak berbeda
secara signifikan dengan PNS di lingkungan kementerian atau lembaga lain. Demikian
pula, atas tunjangan jabatan struktural berlaku nilai yang setara berdasarkan Peraturan
Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Struktural.
Jika dilihat dari tunjangan diatas, terlihat tidak begitu signifikan antara tunjangan
jaksa dan hakim. Perbedaan muncul saat hakim ditugaskan ditingkat banding. Mereka
memperolehkenaikan tunjangan fungsional sedangkan jaksa yang dtingkatan yang sederajat
tidak memperoleh kenaikan tunjangan jabatan. Hal ini menimbulkan kecemburuan yang
menyebabkan kemungkinan terjadinya tipikor.
Jaksa Urip pernah menduduki jabatan Kepala Kejaksaan Negeri Klungkung, Bali.
Hal ini memungkinkan dia untuk mengetahui adanya ketidaksempurnaan dalam struktur
remunerasi sebagaimana yang telah ditampilkan diatas sehingga menyebabkan adanya
kecemburuan dan rasa ketidak adilan pada sistem tersebut
2. Penyelenggaran Fungsi Yudikatif
Berdasarkan fungsinya, penyelenggaraan negara dilaksanakan oleh tiga ranah
(domain) yaitu legislatif dan pengawasan, eksekutif serta yudikatif. Dalam
perkembangannya, disamping ketiga fungsi tersebut terdapat lembaga-lembaga non
struktural yang dapat pula dikategorikan sebagai -bagian dari penyelenggaraan Negara.
Untuk jaksa urip sendiri termasuk dalam ranah yudikatif. Ranah Yudikatif terdiri
atas Mahkamah Konstitusi (MK), Mahkamah Agung (MA) beserta-Pengadilan Tinggi dan
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan Pengadilan Agama serta
Komisi Yudisial (KY) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Kejaksaan Agung tidak dibebasakan dari ketentuan umum yang mewajibkan
institusi penyelenggara negara untuk memiliki Satuan Pengawas Internal (SPI) yang
diakomodasi untuk dapat berperan secara efektif. Bedasarkan Organisasi dan Tata Kerja
Kejaksaan menurut Perpres Nomor 38 Tahun 2010, Jaksa Agung dibantu oleh seorang
Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) yang bertanggungjawab atas
pelaksanaan kepengawasan internal Kejaksaan Agung. Secara rinci, ruang lingkup tugas
Jamwas meliputi perumusan kebijakan, pelaksanaan, dan pengendalian pengawasan
internal Kejaksaan Agung melalui aktivitas audit, reviu, evaluasi, atau pemantauan
Begitu juga dengan Jaksa Urip. Saat melakukan tugas sebagai Ketua tim
penyelidik kasus BLBI, Jaksa Urip diawasi oleh Inspektur Muda Intelijen dan Tindak
Pidana Khusus di satu di antara kelima Inspektorat. Meski demikian, kelemahan secara
struktural terletak pada pembagian kewenangan yang tidak tegas antara lima Inspektorat
yang berada di bawah Jamwas. Hal ini mengingat bahwa kegiatan di Kejaksaan Agung,
termasuk kinerja Tim Penyelidikan Kasus BLBI dapat berada di bawah kepengawasan
Inspektur Muda Intelijen dan Tindak Pidana Khusus yang berada di Inspektorat I, II, III, IV
ataupun V. Kemungkinan yang terburuk adalah saat tidak satupun Inspektorat
merencanakan kepengawasan kinerja Tim Penyelidikan Kasus BLBI.
Ketika melihat hal ini, efektivitas dari pengendalian sendiri terlihat belum efektif.
Fungsi control dari pihak pengawas belum efektif.
Jaksa Urip juga melanggar asas akuntabilitas dan budaya hukum . Yaitu
menerima pemberian dari pihak lain dalam bentuk uang dan melaksanakan fungsi dan
tugasnya secara tidak professional yang terkena praktek korupsi, kolusi,dan nepotisme.
Disini Jaksa Urip menerima uang sebesar lebih kurang 660.000 USD dan 1 milyar dari
beberapa pihak yaitu artalyta dan glenn.
3. Gratifikasi
Sesuai dengan etika penyelenggaraan negara, setiap penyelenggara negara tidak
diperkenankan meminta atau menerima sesuatu, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dalam bentuk apapun apabila berpotensi menimbulkan benturan kepentingan,
termasuk atas perihal yang diperoleh sebagai ucapan terima kasih atas jasa
penyelenggaraan negara. Setiap penerimaan oleh penyelenggara negara wajib dilaporkan
kepada KPK untuk ditentukan status kepemilikiannnya, apakah sebagai milik pribadi atau
dirampas oleh negara, sesuai ketentuan UU KPK.
Jaksa Urip seharusnya melakukan pelaporan atas pemberian uang yang telah
diberikan oleh Reno Iskandarsyah (Pengacara Glen) dan Artalyta. Karena sesuai aturan UU
KPK setiap pemberian ke penyelenggara negara wajib dilaporkan ke KPK. Dan juga Jaksa
Urip juga memiliki kewajiban untuk melaporkan kekayaannya melalui LHKPN yang akan
diperiksa oleh KPKPN.
Dan atas adanya suap tersebut Jaksa urip terbukti telah melakukan tipikor sesuai
dengan Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001. Terkena sanksi pasal 12B
ayat (2) UU no. 31/1999 jo UU No. 20/2001. Pidana penjara seumur hidup atau penjara
paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200
juta dan paling banyak Rp 1 miliar.
4. Kerahasiaan Informasi
Dalam GPG, penyelenggara negara harus memiliki nilai Professional,
Mengutamakan Kepentingan Masyarakat dan Negara, serta Berwawasan Ke Depan. Salah
satu implementasinya yaitu tidak diperkenankan menyalahgunakan informasi yang ada
untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Pada kasus Jaksa Urip, Jaksa Urip membeberkan rencana penyelidikan kepada
Artalyta Suryani yang memungkinkan disusunnya langkah penyikapan pendahuluan. UU
KIP menggolongkan informasi yang dapat menghambat penegakan hukum sebagai
Informasi yang Dikecualikan. Oleh sebab itu, tidak seharusnya Jaksa Urip mengemukakan
informasi tersebut kepada pihak ketiga, apalagi ketika dimaksudkan untuk memperoleh
keuntungan bagi diri sendiri. UU KIP menetapkan bahwa penyampaian Informasi yang
dikecualikan diancam pidana penjara maksimal 2 tahun dan denda maksimal Rp
10.000.000,00.
Kasus Jaksa Urip merupakan contoh pelanggaran yang melibatkan sendiri
penegak hukum sebagai sebuah institusi yang seharusnya mengadili para koruptor.
Kepercayaan publik terhadap institusi penegak hokum pun menjadi menurun sehingga publik
pun kurang mempunyai keyakinan penuh lagi terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia
pada saat itu.
Etika Bisnis dan Profesi
KNKG (2006) Bab III : Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku
KNKG Bab III tahun 2006 ini buat bertujuan untuk menjadi pedoman bagi setiap perusahaan
yang terdiri dari dewan komisaris, direksi dan seluruh karyawan dalam melakukan kegiatan usaha
perusahaan. Dalam KNKG Bab III tahun 2006 terdiri atas dua poin penting pedoman etika bisnis dan
perilaku bagi perusahaan yaitu prinsip dasar, dan pedoman pokok pelaksanaan.
Prinsip Dasar
Untuk mencapai keberhasilan dalam jangka panjang, pelaksanaan GCG perlu dilandasi oleh
integritas yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pedoman perilaku yang dapat menjadi acuan bagi organ
perusahaan dan semua karyawan dalam menerapkan nilai-nilai (values) dan etika bisnis sehingga menjadi
bagian dari budaya perusahaan.
Prinsip-prinsip dasar yang harus dimiliki oleh perusahaan adalah:
1. Setiap perusahaan harus memiliki nilai-nilai perusahaan yang menggambarkan sikap moral
perusahaan dalam pelaksanaan usahanya.
2. Untuk dapat merealisasikan sikap moral dalam pelaksanaan usahanya, perusahaan harus memiliki
rumusan etika bisnis yang disepakati oleh organ perusahaan dan semua karyawan. Pelaksanaan
etika bisnis yang berkesinambungan akan membentuk budaya perusahaan yang merupakan
manifestasi dari nilai-nilai perusahaan.
3. Nilai-nilai dan rumusan etika bisnis perusahaan perlu dituangkan dan dijabarkan lebih lanjut
dalam pedoman perilaku agar dapat dipahami dan diterapkan.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Nilai-Nilai Perusahaan
1. Nilai-nilai perusahaan merupakan landasan moral dalam mencapai visi dan misi
perusahaan. Oleh karena itu, sebelum merumuskan nilai-nilai perusahaan, perlu
dirumuskan visi dan misi perusahaan.
2. Walaupun nilai-nilai perusahaan pada dasarnya universal, namun dalam merumuskannya
perlu disesuaikan dengan sektor usaha serta karakter dan letak geografis dari masing-
masing perusahaan.
3. Nilai-nilai perusahaan yang universal antara lain adalah terpercaya, adil dan jujur.
2. Etika Bisnis
1. Etika bisnis adalah acuan bagi perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha termasuk
dalam berinteraksi dengan pemangku kepentingan.
2. Penerapan nilai-nilai perusahaan dan etika bisnis secara berkesinambungan mendukung
terciptanya budaya perusahaan.
3. Setiap perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yang disepakati bersama dan
dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku.
Beberapa dampak buruk dari kegagalan etika dalam komunitas bisnis mengakibatkan :
Hancurnya beberapa perusahaan terbesar di dunia (WorldCom, Adelphia, Tyco, Xerox, dan lain-
lain) serta hilangnya miliaran dolar kekayaan pemegang saham.
Pemutusan hubungan kerja massal tanpa adanya peringatan atau pesangon.
Hilangnya kepercayaan terhadap laporan keuangan dan sistem pasar modal.
Merusak reputasi dari orang-orang yang bekerja dengan integritas dan kejujuran di pasar modal.
Masalah ini menjadi lebih berbahaya karena masyarakat secara keseluruhan di berbagai sektor
dan secara global mengalami kehancuran etika. Adapun ciri-ciri umum kegagalan ini adalah adanya
perilaku tidak etis (unethical behavior) dan kurangnya sifat integritas.
How did we get in this mess?
Beberapa factor yang mungkin menjadi penyebab krisis etika : kemunduran agama, dampak
dari kerusakan struktur tradisional keluarga, kemerosotan system pendidikan, pengaruh buruk dari
industri hiburan, dan lain-lain. Dibalik itu semua yang lebih penting adalah bagaimana menghadapi krisis
ini, salah satu cara adalah jika setiap sektor dapat fokus pada masalahnya masing-masing. Komunitas
akademis memiliki peranan penting dalam membangun kembali profesi, dalam hal ini akuntan dan audit,
karena mereka berperan tidak hanya sebagai instruktur tapi juga peneliti. Sebagai instruktur akademisi
membentuk sumber daya manusia yang baru memasuki profesi. Sebagai peneliti, akademisi
menyumbangkan analisis dan bukti empiris mengenai suatu permasalahan dan sumbangan ini diperlukan
untuk membuat keputusan yang tepat.
Improving ethics by influencing individuals
Untuk memperbaiki masalah mengenai etika pertama kita harus memahami bahwa tidak ada
jalan pintas untuk menyelesaikannya, kemudian kita harus melihat peranan tiap institusi (pemerintah,
pembuat kebijakan, perusahaan, dewan komisaris dan direksi, audit firms, dan universitas) dalam
menyelesaikan masalah etika. Semua institusi ini memiliki tanggung jawab yang sama, yakni
mempengaruhi individu baik di dalam institusi tersebut maupun secara luas di masyarakat.
Bagi para pembuat kebijakan, dan pemerintah melakukan usaha dan yang paling trkenal
mengeluarkan Sarbanes Oxley Act, meskipun beberapa aspeknya seperti pembatasan lingkup jasa yang
ditawarkan kurang tepat sasaran. Secara garis besar institusi ini dengan menggunakan perangkat-
perangkatnya juga berperan dalam melakukan penegakan peraturan dan menindaklanjutinya, dalam hal
inimenimbulkan efek jera dan menjadi contoh agar pelanggaran di satu perusahaan tidak diikuti oleh
perusahaan lainnya. Tindakan yang diambil para reformis untuk menambah partisipasi investor juga
memiliki kekurangan karena metode yang mereka anggap sebagai praktik terbaik masih belum teruji.
Kepemimpinan dan perilaku pribadi manajemen sangat penting dalam membangun budaya
perusahaan yang etis, selain itu perusahaan juga dapat memberikan pendidikan etika yang esensial
dilengkapi dengan metode penilaian yang wajib diikuti oleh pegawai. Selain itu juga perusahaan membuat
akses untuk menampung informasi mengenai potensi pelanggaran etika ataupun pelanggaran hukum baik
melalui sistem perusahaan sendiri atau memakai jasa pihak ketiga.
Selanjutnya peranan audit firm dalam membangun perilaku etis di lingkungan profesi. Dalam
aspek ini para petinggi memiliki tanggung jawab untuk menetapkan pola perilaku dan menjadi contoh
teladan. Struktur organisasi, evaluasi, promosi, dan kompensasi harus didesain untuk mendukung dan
mendorong kinerja yang kompeten dan etis baik oleh partner maupun professional yang bekerja di audit
firm. Struktur diharapkan dapat membantu mengurangi bias dan hilangnya objektivitas karena hubungan
dekat antara klien dengan audit firm. Para professional juga harus berani merepresentasikan kepentingan
public meskipun terkadang harus menanggung akibatnya secara individu.
Mengenai pengajaran etika di universitas, meskipun lebih baik untuk diajarkan dari usia dini
dan ada banyak kontroversi mengenai etika yang bagaimana yang benar untuk diajarkan namun
universitas tetap bisa mengajarkan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, sikap hormat, taat hukum, dan
sebagainya. Adapun tiga cara pengajaran etika : membuka kelas khusus, mengintegrasikannya ke dalam
materi subjek utama pembelajaran, atau menggabungkan kedua metode tersebut.
Influencing others through leadership
Intinya semua pemimpin dituntut untuk tidak hanya menetapkan corak organisasi dan
menjadi contoh bagi bawahannya namun juga bertingkah sesuai dengan corak yang mereka tetapkan
sendiri, tidak hanya menuntut bawahan untuk bersikap etis tapi juga mereka harus bersikap etis dalam
menghadapi setiap masalah. Beberapa contoh masalah adalah berkeras menggunakan metode pencatatan
yang benar meski dapat kehilangan klien, memecat pegawai yang memiliki kinerja tinggi namun memiliki
sikap yang tidak sesuai dengan nilai perusahaan, juga mungkin harus menghadapi regulator yang
membuat kebijakan yang salah. Keputusan yang etis dapat berdampak negatif, tetapi hal itu merupakan
harga untuk integritas dan karakter.
PEMBAHASAN KASUS ENRON DAN WORLDCOM
A. KASUS ENRON
Enron merupakan perusahaan dari penggabungan antara InterNorth (penyalur gas alam melalui
pipa) dengan Houston Natural Gas. Kedua perusahaan ini bergabung pada tahun 1985. Bisnis inti Enron
bergerak dalam industri energi, kemudian melakukan diversifikasi usaha yang sangat luas bahkan sampai
pada bidang yang tidak ada kaitannya dengan industri energi. Diversifikasi usaha tersebut, antara lain
meliputi future transaction, trading commodity non energy dan kegiatan bisnis keuangan.Kasus Enron
mulai terungkap pada bulan Desember tahun 2001 dan terus menggelinding pada tahun 2002 berimplikasi
sangat luas terhadap pasar keuangan global yang di tandai dengan menurunnya harga saham secara drastis
berbagai bursa efek di belahan dunia, mulai dari Amerika, Eropa, sampai ke Asia. Enron, suatu
perusahaan yang menduduki ranking tujuh dari lima ratus perusahaan terkemuka di Amerika Serikat dan
merupakan perusahaan energi terbesar di AS jatuh bangkrut dengan meninggalkan hutang hampir sebesar
US $ 31.2 milyar.
Dalam kasus Enron diketahui terjadinya perilaku moral hazard, diantaranya manipulasi laporan
keuangan dengan mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS padahal perusahaan mengalami kerugian.
Manipulasi keuntungan disebabkan keinginan perusahaan agar saham tetap diminati investor, kasus
memalukan ini konon ikut melibatkan orang dalam gedung putih, termasuk wakil presiden Amerika
Serikat. Kronologis, fakta, data dan informasi dari berbagai sumber yang berkaitan dengan hancurnya
Enron adalah sebagai berikut:
1. Board of Director (dewan direktur, direktur eksekutif dan direktur non eksekutif)
membiarkan kegitan-kegitan bisnis tertentu mengandung unsur konflik kepentingan dan
mengijinkan terjadinya transaksi-transaksi berdasarkan informasi yang hanya bisa di akses
oleh Pihak dalam perusahaan (insider trading), termasuk praktek akuntansi dan bisnis tidak
sehat sebelum hal tersebut terungkap kepada publik.
2. Enron merupakan salah satu perusahaan besar pertama yang melakukan outsourcing secara
total atas fungsi internal audit perusahaan.
a. Mantan Chief Audit Executif Enron (Kepala internal audit) semula
adalah partner KAP Andersen yang di tunjuk sebagai akuntan publik perusahaan.
b. Direktur keuangan Enron berasal dari KAP Andersen.
c. Sebagian besar staf akunting Enron berasal dari KAP Andersen.
3. Pada awal tahun 2001 partner KAP Andersen melakukan evaluasi terhadap kemungkinan
mempertahankan atau melepaskan Enron sebagai klien perusahaan, mengingat resiko yang
sangat tinggi berkaitan dengan praktek akuntansi dan bisnis enron. Dari hasil evaluasi
diputuskan untuk tetap mempertahankan Enron sebagai klien KAP Andersen.
4. Salah seorang eksekutif Enron dilaporkan telah mempertanyakan praktek akunting
perusahaan yang dinilai tidak sehat dan mengungkapkan kekhawatiran berkaitan dengan hal
tersebut kepada CEO dan partner KAP Andersen pada pertengahan 2001. CEO Enron
menugaskan penasehat hukum perusahaan untuk melakukan investigasi atas kekhawatiran
tersebut tetapi tidak memperkenankan penasehat hukum untuk mempertanyakan
pertimbangan yang melatarbelakangi akuntansi yang dipersoalkan. Hasil investigasi oleh
penasehat hukum tersebut menyimpulkan bahwa tidak ada hal-hal yang serius yang perlu
diperhatikan.
5. Pada tanggal 16 Oktober 2001, Enron menerbitkan laporan keuangan triwulan ketiga. Dalam
laporan itu disebutkan bahwa laba bersih Enron telah meningkat menjadi $393 juta, naik
$100 juta dibandingkan periode sebelumnya. CEO Enron, Kenneth Lay, menyebutkan bahwa
Enron secara berkesinambungan memberikan prospek yang sangat baik. Ia juga tidak
menjelaskan secara rinci tentang pembebanan biaya akuntansi khusus (special accounting
charge/expense) sebesar $1 miliar yang sesungguhnya menyebabkan hasil aktual pada
periode tersebut menjadi rugi $644 juta. Para analis dan reporter kemudian mencari tahu
lebih jauh mengenai beban $1 miliar tersebut, dan ternyata berasal dari transaksi yang
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh CFO Enron.
6. Pada tanggal 2 Desember 2001 Enron mendaftarkan kebangkrutan perusahaan ke pengadilan
dan memecat 5000 pegawai. Pada saat itu terungkap bahwa terdapat hutang perusahaan yang
tidak di laporkan senilai lebih dari satu milyar dolar. Dengan pengungkapan ini nilai
investasi dan laba yang ditahan (retained earning) berkurang dalam jumlah yang sama.
7. Enron dan KAP Andersen dituduh telah melakukan kriminal dalam bentuk penghancuran
dokumen yang berkaitan dengan investigasi atas kebangkrutan Enron (penghambatan
terhadap proses peradilan.
8. Dana pensiun Enron sebagian besar diinvestasikan dalam bentuk saham Enron. Sementara
itu harga saham Enron terus menurun sampai hampir tidak ada nilainya.
9. KAP Andersen diberhentikan sebagai auditor enron pada pertengahan juni 2002. sementara
KAP Andersen menyatakan bahwa penugasan Audit oleh Enron telah berakhir pada saat
Enron mengajukan proses kebangkrutan pada 2 Desember 2001.
10. CEO Enron, Kenneth Lay mengundurkan diri pada tanggal 2 Januari 2002 akan tetapi masih
dipertahankan posisinya di dewan direktur perusahaan. Pada tanggal 4 Februari Mr. Lay
mengundurkan diri dari dewan direktur perusahaan.
11. Pada 28 Februari 2002 KAP Andersen menawarkan ganti rugi 750 Juta US dollar untuk
menyelesaikan berbagai gugatan hukum yang diajukan kepada KAP Andersen.
12. Pemerintahan Amerika (The US General Services Administration) melarang Enron dan KAP
Andersen untuk melakukan kontrak pekerjaan dengan lembaga pemerintahan di Amerika.
13. Tanggal 14 Maret 2002 departemen kehakiman Amerika memvonis KAP Andersen bersalah
atas tuduhan melakukan penghambatan dalam proses peradilan karena telah menghancurkan
dokumen-dokumen yang sedang di selidiki.
14. KAP Andersen terus menerima konsekuensi negatif dari kasus Enron berupa kehilangan
klien, pembelotan afiliasi yang bergabung dengan KAP yang lain dan pengungkapan yang
meningkat mengenai keterlibatan pegawai KAP Andersen dalam kasus Enron.
15. Pada tanggal 22 Maret 2002 mantan ketua Federal Reserve, Paul Volkcer, yang direkrut
untuk melakukan revisi terhadap praktek audit dan meningkatkan kembali citra KAP
Andersen, mengusulkan agar manajemen KAP Andersen yang ada diberhentikan dan
membentuk suatu komite yang diketuai oleh Paul sendiri untuk menyusun manajemen baru.
16. Tanggal 26 Maret 2002 CEO Andersen Joseph Berandino mengundurkan diri dari
jabatannya.
17. Tanggal 8 April 2002 seorang partner KAP Andersen, David Duncan, yang bertindak
sebagai penanggungjawab audit Enron mengaku bersalah atas tuduhan melakukan hambatan
proses peradilan dan setuju untuk menjadi saksi kunci dipengadilan bagi kasus KAP
Andersen dan Enron.
18. 9 April 2002 Jeffrey McMahon mengumumkan pengunduran diri sebagai presiden dan Chief
Operating Officer Enron yang berlaku efektif 1 Juni 2002.
19. 15 Juni 2002 juri federal di Houston menyatakan KAP Andersen bersalah telah melakukan
hambatan terhadap proses peradilan.
Pembahasan Masalah
Etika bisnis dan profesi memegang peranan penting yang memicu kasus ini berkembang menjadi
sangat berdampak besar bagi dunia. Kasus ini juga berdampak terhadap aturan dan regulasi terkait
profesi, khususnya akuntan dan auditor. Hal-hal terkait etika bisnis dan profesi yang memicu,
mendukung, dan menjadi penyebab kasus ini antara lain:
1. Enron menggunakan outsourcing untuk seluruh fungsi internal audit perusahaan. Dalam hal ini,
kepala internal audit, direktur keuangan, serta sebagian besar staf accounting Enron berasal dari
KAP yang mengaudit Enron yaitu KAP Andersen.
2. Itikad kurang baik dari jajaran eksekutif Enron. Hal ini dilihat salah satunya dari CEO Enron
yang tidak menjelaskan secara rinci tentang pembebanan biaya akuntansi khusus (special
accounting charge/expense) sebesar $1 miliar yang dapat mengakibatkan dampak signifikan bagi
pengambilan keputusan stakeholders, karena beban tersebut dapat menyebabkan hasil aktual pada
tahun 2001 menjadi rugi $644 juta; sedangkan laporan yang dipublikasi pada tahun tersebut
menyatakan Enron memperoleh keuntungan. Hal ini menimbulkan indikasi penutupan kesalahan
dan manipulasi laporan keuangan demi dapat menarik investor untuk berinvestasi di Enron.
3. Enron dan KAP Andersen dituduh melakukan penghancuran dokumen yang berkaitan dengan
investigasi atas kebangkrutan Enron, tindakan kerja sama yang menyulitkan proses investigasi
sehingga menimbulkan indikasi bahwa kedua pihak bekerja sama untuk dapat melarikan diri dari
tanggung jawab dan sanksi yang mengancam mereka.
4. Pihak manajemen Enron telah melakukan berbagaimacam pelanggaran praktik bisnis yang sehat
dengan melakukan deception, discrimination of information, coercion, bribery dan juga telah
melanggar prinsip good corporate governance.
Kasus Enron dilihat dari tinjauan Bahan Kode Etik Profesi Akuntan Publik, KNKG Bab 3, dan
jurnal Copeland:
1. Kode Etik Profesi Akuntan Publik
Kasus Enron, berdasarkan kode etik akuntan, telah melanggar beberapa prinsip:
a. Integritas. Auditor, dalam kasus ini Arthur Andersen, seharusnya bersikap terus terang dan jujur
serta melakukan praktik secara adil dan sebenar-benarnya. Jika Andersen mengetahui ada suatu hal
yang merugikan dan material, seharusnya ia melaporkan atau membuka hal tersebut. hal ini
dimaksudkan agar perusahaan mempelajari kesalahannya sendiri dan dijadikan contoh bagi
perusahaan lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
b. Objektivitas. Andersen seharusnya tidak boleh berkompromi dalam memberikan pertimbangan
profesionalnya. Ia juga tidak diperbolehkan membantu perusahaan tersebut untuk menutupi kesalahan
yang ada. Andersen seharusnya tidak menggantungkan kehidupannya kepada Enron lebih daripada
sepuluh persen dari total pendapatannya. Jika lebih dari jumlah itu, ada dugaan kuat bahwa Andersen
sudah tidak bisa lagi bersikap netral.
c. Confidentiality. Pada prinsip ini yang melanggar adalah para insider trading yang memanfaatkan
informasi yang ia ketahui dari dalam untuk kemudian dijual ke pihak eksternal.
d. Professional behavior. Andersen, selaku auditor eksternal dari Enron, seharusnya menahan diri
dari setiap perilaku yang akan mendiskreditkan profesinya. Andersen tidak seharusnya membesar-
besarkan atau menutupi kekurangan yang ada pada laporan keuangan Enron, menghancurkan
dokumen-dokumen yang telah diteliti oleh tim investigasi.
Dengan ini dapat disimpulkan bahwan Arthur Andersen tidak independen dalam menjalankan
profesinya sebagai seorang akuntan publik. Andersen terlalu dekat dan timbul rasa ketergantungan
pada Enron, sehingga ia ikut menutupi kesalahan yang dibuat oleh internal Enron.
2. KNKG Bab III
Dalam kasus Enron, perusahaan tidak memiliki nilai-nilai yang cukup untuk menggambarkan sikap
moral perusahaan yang baik dalam pelaksanaan usahanya. Enron belum memiliki rumusan etika
bisnis yang disepakati oleh seluruh organ perusahaan berserta seluruh jajaran dibawahnya. Kedua hal
tersebut terbukti dengan sikap Board of Directors yang membiarkan kegiatan-kegitan bisnis tertentu
mengandung unsur konflik kepentingan dan mengijinkan terjadinya transaksi-transaksi insider
trading, termasuk praktek akuntansi dan bisnis tidak sehat sebelum hal tersebut terungkap kepada
publik. Seandainya Enron sudah menerapkan moral yang baik dan rumusan etika bisnis tersebut
disetujui oleh seluruh organ perusahaan, maka mau tidak mau seluruh bagian dari perusahaan harus
mengikuti aturan main yang telah disepakati bersama tersebut.
Enron juga seharusnya melakukan induksi terhadap karyawan baru, melakukan pendidikan dan
pelatihan mengenai etika, menjalankan sistem reward and punishment bagi seluruh bagian
perusahaan tanpa memandang siapa atau apa jabatan yang tengah diduduki saat ini. Selain itu, Enron
harus terus melakukan pemantauan atas pelaksanaan etika bisnis perusahaan tersebut dan melakukan
benchmarking dengan perusahaan lain yang sepadan, agar lebih mudah dalam membandingkan setiap
masalah yang ada serta cara mengatasinya.
3. Copeland
Pemerintah Amerika Serikat sebaiknya menekankan peraturan mengenai etika (terlebih untuk
pelaksanannya) dan isu-isu pelaporan keuangan. Manajemen perusahaan juga seharusnya menerapkan
budaya kepemimpinan yang penuh etika dalam perusahaan. Sehubung dalam kasus Enron manajemen
perusahaan tidak memiliki intergritas yang cukup, maka sebaiknya manajemen perusahaan juga ikut
diganti dengan yang lebih baik. Penggunaan jasa KAP yang bergilir. Setiap tiga tahun sekali, KAP
yang mengaudit suatu perusahaan harus diganti dengan partner yang baru. Partner lama boleh
kembali mengaudit atau bergabung menjadi salah satu bagian dari perusahaan tersebut setelah
melewati masa cooling down selama minimal satu tahun. KAP juga memiliki peran yang sama untuk
mendorong perilaku beretika untuk para auditornya. Namun yang terpenting adalah semua pihak
memusatkan perhatiannya mulai dari universitas dengan membentuk individu yang nantinya akan
terjun ke dalam profesi akuntansi dan audit memiliki pondasi etika dan moral.
Menurut teori fraud ada 3 komponen utama yang menyebabkan orang melakukan kecurangan,
menipulasi, korupsi dan sebangsanya (prilaku tidak etis), yaitu opportunity; pressure; dan rationalization,
ketiga hal tersebut akan dapat kita hindari melalui meningkatkan moral, akhlak, etika, perilaku, dan lain
sebagainya, karena kita meyakini bahwa tindakan yang bermoral akan memberikan implikasi terhadap
kepercayaan publik (public trust). Praktik bisnis Enron yang menjadikannya bangkrut dan hancur serta
berimplikasi negatif bagi banyak pihak. Pihak yang dirugikan dari kasus ini tidak hanya investor Enron
saja, tetapi terutama karyawan Enron yang menginvestasikan dana pensiunnya dalam saham perusahaan
serta investor di pasar modal pada umumnya (social impact). Milyaran dolar kekayaan investor terhapus
seketika dengan meluncurnya harga saham berbagai perusahaaan di bursa efek.
Jika dilihat dari Agency Theory, Andersen sebagai KAP telah menciderai kepercayaan dari pihak
stock holder atau principal untuk memberikan suatu fairrness information mengenai pertanggungjawaban
dari pihak agent dalam mengemban amanah dari principal. Pihak agent dalam hal ini manajemen Enron
telah bertindak secara rasional untuk kepentingan dirinya (self interest oriented) dengan melupakan
norma dan etika bisnis yang sehat. Enron dan KAP melakukan sebuah ketidakjujuran, kebohongan dan
praktik bisnis yang tidak etis sehingga menyebabkan sebuah kehancuran yang menyisakan penderitaan
bagi banyak pihak disamping proses peradilan dan tuntutan hukum.
Dampak Akibat Kasus Enron dan KAP Andersen
Kasus ini memberikan dampak di Amerika bahkan di Indonesia.
Kasus ini mempunyai implikasi terhadap pembaharuan tatanan kondisi maupun regulasi praktik bisnis di
Amerika Serikat antara lain :
1. Pemerintah AS menerbitkan Sarbanes-Oxley Act (SOX) untuk melindungi para investor
dengan cara meningkatkan akurasi dan reabilitas pengungkapan yang dilakukan perusahaan
publik. Selain itu, dibentuk pula PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board)
yang bertugas:
Mendaftar KAP yang mengaudit perusahaan publik
Menetapkan atau mengadopsi standar audit, pengendalian
mutu, etika, independensi dan standar lain yang berkaitan dengan audit perusahaan
publik
Menyelidiki KAP dan karyawannya, melakukan disciplinary hearings, dan mengenakan
sanksi jika perlu
Melaksanakan kewajiban lain yang diperlukan untuk meningkatkan standar professional
di KAP
Meningkatkan ketaatan terhadap SOX, peraturan-peraturan PCAOB, standar
professional, peraturan pasar modal yang berkaitan dengan audit perusahaan publik.
2. Perubahan-perubahan yang ditentukan dalam Sarbanes-Oxley Act
a.Untuk menjamin independensi auditor, maka KAP dilarang
memberikan jasa non audit kepada perusahaan yang diaudit. Berikut ini adalah sejumlah
jasa non audit yang dilarang :
oPembukuan dan jasa lain yang berkaitan.
oDesain dan implementasi sistem informasi keuangan.
oJasa appraisal dan valuation
oOpini fairness
oFungsi-fungsi berkaitan dengan jasa manajemen
oBroker, dealer, dan penasihat investasi
Membutuhkan persetujuan dari audit committee perusahaan
sebelum melakukan audit. Setiap perusahaan memiliki audit committee ini
karena definisinya diperluas, yaitu jika tidak ada, maka seluruh dewan
komisaris menjadi audit committee.
Melarang KAP memberikan jasa audit jika audit partnernya telah
memberikan jasa audit tersebut selama lima tahun berturut-turut kepada klien
tersebut.
KAP harus segera membuat laporan kepada audit committee
yang menunjukkan kebijakan akuntansi yang penting yang digunakan,
alternatif perlakuan-perlakuan akuntansi yang sesuai standar dan telah
dibicarakan dengan manajemen perusahaan, pemilihannya oleh manajemen
dan preferensi auditor.
KAP dilarang memberikan jasa audit jika CEO, CFO, chief
accounting officer, controller klien sebelumnya bekerja di KAP
tersebut dan mengaudit klien tersebut setahun sebelumnya.
3. SOX melarang pemusnahan atau manipulasi dokumen yang dapat menghalangi investigasi
pemerintah kepada perusahaan yang menyatakan bangkrut. Selain itu, kini CEO dan CFO
harus membuat surat pernyataan bahwa laporan keuangan yang mereka laporkan adalah
sesuai dengan peraturan SEC dan semua informasi yang dilaporkan adalah wajar dan tidak
ada kesalahan material. Sebagai tambahan, menjadi semakin banyak ancaman pidana bagi
mereka yang melakukan pelanggaran ini.
4. International Federation Accountants (IFAC), pada akhir tahun 2001 merevisi kode etik bagi
para akuntan yang bekerja agar menjadi whitstleblower sebagai berikut para profesional
dituntut bukan hanya bersikap profesional dalam kaidah-kaidah aturan profesi saja tetapi
profesional juga dalam menyatakan kebenaran pada saat masyarakat akan dirugikan atau ada
tindakan-tindakan perusahaan yang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku.
5. AICPA dan The Big Five KAP di Amerika mendukung inisiatif Reform yang melarang KAP
untuk menawarkan jasa internal audit dan jasa konsultasi lainnya kepada perusahaan yang
menjadi klien audit KAP yang bersangkutan.
6. Jhon Whitehead dan Ira Millstein, ketua bersama Blue Ribbon Committe SEC,mengeluarkan
rekomendasi tentang perlunya kongres menyusun Undang-Undang yang mengharuskan
perusahaan Go Public melaksanakan dan melaporkan ketaatanyan terhadap pedoman
corporate governance.
7. Securities Exchange Commission (SEC) dan New York Stock Exchange (NYSE),
menyerukan bahwa auditor internal harus lebih mempertajam peran dalam pemeriksaan
ketaatan, mengelola resiko, dan mengembangkan operasi bisnis, dan setiap perusahaan
diwajibkan untuk memiliki fungsi audit intern (James : 2003).
Adapun dampak lain dari kasus ini , dikutip dari sebuah artikel yang berjudul Audit Eksternal
dan Hubungannya dengan Komite Audit
(Oleh IKAI). Dalam artikel tersebut dijelaskan menurut Agus Kretarto-Anggota Komite Audit PT Bank
BII, Tbk dalam pembahasannya tentang Kriteria Pemilihan Auditor Eksternal bahwa profesi akuntan
publik saat ini sedang mendapatkan sorotan tajam bahkan sinis dari masyarakat umum akibat terjadinya
skandal-skandal besar di negara maju seperti AS yaitu kasus Enron dan WorldCom. Akibat kasus-kasus
tersebut kini kredibilitas akuntan publik menjadi jatuh terutama disebabkan oleh keterlibatan Arthur
Andersen salah satu KAP terbesar di dunia di dalam skandal tersebut. Akuntan Publik tidak lagi
dipandang sebagai profesi yang unik melainkan sebagai industri yang tidak lepas dari kepentingan bisnis
yang sempit.
Fenomena ini telah mendorong berbagai upaya untuk memulihkan kepercayaan masyarakat
terhadap profesi akuntan publik. Contoh yang paling nyata adalah inisiatif Sarbanes-Oxley yang
merekomendasikan pembentukan badan pengawas akuntan publik di pasar modal. Indonesia sendiri tidak
terlepas dari pengaruh skandal tersebut sehingga berbagai pihak seperti IAI dan BAPEPAM kini tengah
membahas pengawasan kompetensi dari Akuntan publik terutama yang terlibat di pasar modal Indonesia.
Bagi perusahaan di Indonesia sendiri, pelajaran dari AS tersebut harus menjadi acuan agar tidak sampai
terulang di Indonesia. Untuk itu di dalam menunjuk auditor eksternalnya perusahaan harus memiliki
kriteria yang mampu meminimalkan resiko manipulasi audit.
Kesimpulan
Dari kasus tersebut dapat simpulkan bahwa Enron dan KAP Arthur Andersen sudah melanggar
kode etik yang seharusnya menjadi pedoman dalam melaksanakan tugasnya dan bukan untuk dilanggar.
Mungkin saja pelanggaran tersebut awalnya mendatangkan keuntungan bagi Enron, tetapi akhirnya dapat
menjatuhkan kredibilitas bahkan menghancurkan Enron dan KAP Arthur Andersen. Dalam kasus ini,
KAP yang seharusnya bisa bersikap independen tidak dilakukan oleh KAP Arthur Andersen. Karena
perbuatan mereka inilah, kedua-duanya menuai kehancuran dimana Enron bangkrut dengan
meninggalkan hutang milyaran dolar. KAP Arthur Andersen sendiri kehilangan keindependensian dan
kepercayaan dari masyarakat terhadap KAP tersebut, juga berdampak pada karyawan yang bekerja di
KAP Arthur Andersen dimana mereka menjadi sulit untuk mendapatkan pekerjaan akibat kasus ini.
B. KASUS WORLDCOM
WorldCom merupakan salah satu perusahaan besar dalam bidang telekomunikasi di Amerika Serikat dan
merupakan perusahaan penyedia layanan telepon jarak jauh. Selama tahun 1990-an WorldCom
melakukan beberapa akuisisi terhadap perusahaan telekomunikasi lainnya seperti MCI serta membeli
UUNet, Compuserve, dan jaringan data AOL. Hal tersebut kemudian meningkatkan pendapatannya dari
$152 juta pada tahun 1990 menjadi $392 milyar pada tahun 2001.
Sayangnya pada tahun 2002,WorldCom terjerat kasus skandal keuangan. Auditor internal perusahaan,
Cynthia Cooper, menemukan perlakuan akuntansi yang tidak wajar atas beban sebesar $3,8 milyar selama
lima kuartal. Salah saji tersebut menyebabkan hingga 33.000 orang pekerja WorldCom diberhentikan
sampai dengan tahun 2006. Sementara harga saham WorldCom menurun drastic dari kisaran mencapai
hampir $60 hingga menjadi 20 sen per lembarnya.
Hal ini bermula dari CEO WorldCom yakni Bernard Ebbers yang mempengaruhi bawahannya agar
melakukan fraud dengan memanipulasi akun akrual perusahaan dan mengakui operating expense sebagai
capital expenditures. Prinsip akuntansi tersebutlah yang dilanggar oleh WorldCom. CFO WorldCom,
Scott Sullivan memindahkan milyaran dollar operating expenses dari akun yang seharusnya dan
mengalokasikannya ke dalam akun property yang merupakan tipikal akun capital expense. Hal ini
membuat WorldCom dapat membebankan operating expenses tersebut secara perlahan dan dalam jumlah
yang lebih kecil per periode. Dampaknya adalah akun beban operasional yang dicatat lebih rendah dari
seharusnya dan akun aset menjadi lebih tinggi karena beban kapitalisasi dijadikan sebagai beban
investasi. Sehingga di tahun 2001, WorldCom melaporkan laba sebesar $1,4 milyar. Faktanya bila fraud
tersebut tidak dilakukan, WorldCom mengalami kerugian di tahun 2001 dan kuartal pertama tahun 2002.
Setelah fraud tersebut dibongkar oleh Cynthia Cooper kepada kepala komite audit Max Bobbit pada bulan
Juni, Bobbit langsung meminta KPMG selaku auditor eksternal saat itu untuk melakukan investigasi lebih
lanjut. Scott Sullivan dipecat karena masalah ini dan David F. Myers, controller WorldCom saat itu
langsung mengundurkan diri. Sebelumnya, KAP Arthur Andersen selaku auditor eksternal WorldCom
KPMG, mengaku bahwa Sullivan tidak pernah mengkonsultasikan penyajian tersebut kepada Arthur
Andersen.
Pihak berwenang di Amerika Serikat menyatakan bahwa berdasarkan dokumen-dokumen internal dan e-
mail WorldCom diketahui adanya indikasi bahwa eksekutif-eksekutif WorldCom sudah mengetahui
adanya salah saji material tersebut sejak awal musim panas tahun 2000. Yang juga menjadi perhatian
masyarakat adalah dugaan bahwa Arthur Andersen juga melakukan pembiaran atas salah saji tersebut
namun tidak diketahui alasannya mengapa Arthur Andersen tidak mengungkapkannya.
Pembahasan
Menurut James E. Copeland dalam jurnalnya, Ethics as an Imperative, menekankan bahwa ada beberapa
faktor yang dapat menyebabkan auditor ataupun akuntan melakukan pelanggaran etika. Dalam kasus
Worldcom, faktor-faktor yang dapat mendorong pelanggaran etika tersebut di antaranya:
Adanya tekanan untuk memenuhi ekspektasi dari superior internal manajemen ataupun pihak
eksternal seperti para investor dan pemegang saham.
Kondisi keuangan WorldCom yang melemah pada awal tahun 2000-an karena adanya resesi
ekonomi dan berdampak pada pendapatan yang berkurang sementara masih ada biaya-biaya yang
harus ditanggung, mendorong WorldCom untuk melakukan manipulasi pada laporan
keuangannya.
Baik akuntan dan auditor yang mengetahui adanya salah saji tersebut tidak memiliki keberanian
untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dan melawan intimidasi dari manajemen
senior.
Dari segi etika bisnis dan profesi akuntan, WorldCom telah melakukan malpraktek antara lain:
Adanya kesalahan dan penyesatan dalam pengungkapan informasi (deception of information)
yang dilakukan oleh manajemen WorldCom. Karena sesungguhnya pihak eksekutif ditengarai
mengetahui tentang praktek akuntansi yang tidak benar tersebut. Namun praktek yang salah
tersebut tetap dijalankan untuk melaporkan adanya laba yang seharusnya adalah rugi pada tahun
2001 dan 2002.
Auditor eksternal pada saat itu, Arthur Andersen, juga telah melanggar kode etik akuntan publik
karena Arthur Andersen bertanggungjawab untuk mengaudit kesalahan dalam pelaporan
keuangan semacam itu, terlebih lagi kesalahan yang terjadi sangatlah material. Arthur Andersen
telah melanggar prinsip integritas, prinsip perilaku profesional, dan prinsip kompetensi serta
sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional seperti yang dinyatakan dalam Kode Etik
Akuntan Publik.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak terkait untuk mencegah skandal
semacam WorldCom ini terulang kembali adalah:
Auditor seharusnya melakukan audit sesuai dengan kode etik profesi akuntan publik dan GAAP.
Selain itu auditor juga harus lebih peka dan kritis atas segala kemungkinan fraud yang dapat
terjadi dalam perusahaan.
Regulator seperti SEC harus memenuhi tanggungjawabnya dalam mengawasi perusahaan serta
kepatuhannya terhadap undang-undang dan peraturan terkait CG.
Para pelaku pasar modal seharusnya melakukan analisis dan investigasi atas laporan keuangan
secara lebih mendalam dan tidak hanya mengandalkan pada hasil audit semata.
Manajemen perusahaan harus menanamkan budaya profesionalisme dan perilaku beretika pada
setiap karyawannya. Selain itu manajemen juga harus menerapkan tata kelola perusahaan yang
baik di mana semua komponen internal perusahaan baik auditor internal, komite audit, ataupun
direksi saling bekerjasama dan melakukan tanggungjawabnya masing-masing. Hal ini untuk
menekankan pentingnya etika serta tata kelola perusahaan yang baik dalam setiap kegiatan
perusahaan sehingga fraud semacam ini tidak terulang kembali.
KESIMPULAN KASUS ENRON WORLD COM
Dalam konteks kasus Enron dan Worldcom tersebut, keduanya tertuju pada akibat negatif dari praktek
kedua perusahaan tersebut di dalam masyarakat. Hal mendasar yang terkait dengan kasus tersebut adalah
akuntabilitas perusahaan, etika bisnis dan profesi, serta tanggung jawab sosial perusahaan. Terlihat jelas,
walaupun sudah ada peraturan yang mengatur sistem akuntansi, namun apabila manusia yang
mengelolanya tidak bermoral dan beretika maka mereka akan memanfaatkan setiap celah yang ada untuk
kepentingan pribadi dan golongan. Paradigma baru perusahaan dalam kaitannya dengan tanggung jawab
sosial tidak hanya terkait bagaimana memaksimalkan keuntungan pemegang sama dalam jangka pendek,
tetapi juga mendatangkan manfaat kepada masyarakat dan perusahaan itu sendiri dalam jangka panjang.
Berkaca dari kasus di atas, etika dan bisnis merupakan suatu yang berbeda, namun keduanya
tidak dapat dipisahkan. Beretika dalam bisnis memang tidak akan memberikan keuntungan dalam waktu
singkat, sehingga para pelakunya dituntut untuk melihat prospek di masa mendatang. Reputasi sebuah
perusahaan menjadi sangat penting dalam hal ini, dengan memegang teguh integritas dan kepercayaan
pihak lain. Perilaku tidak etis yang berkaitan dengan skandal keuangan akan memberikan efek negatif
bagi aktivitas dan kepercayaan investor terhadap bursa saham yang berujung pada merosotnya harga-
harga saham. Oleh karena itu, para pelaku bisnis dan profesi harus mempertimbangkan standar etika demi
kebaikan dan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang
Dampak kasus Enron dan WorldCom tidak sebatas kerugian yang dialami pihak terkait dan
stakeholders lainnya. Dipicu oleh kasus ini, muncul beberapa pedoman dan bentukan untuk
meminimalisisr terjadinya kasus serupa. Salah satunya adalah Sarbanes-Oaxley Act (SOX) untuk
melindungi para investor dengan cara meningkatkan akurasi dan reabilitas pengungkapan yang dilakukan
perusahaan publik. Terbitnya SOX sangat berpengaruh dan membawa banyak perubahan yang cukup
signifikan bagi pelaksanaan bisnis dan profesi. SOX mengatur berbagai hal yang meminimalisir
terjadinya pelanggaran atau kecurangan yang berpotensi merugikan shareholders atau membawa
keuntungan bagi pihak tertentu, serta meminimalisir kemungkinan terjadinya kerja sama yang berpotensi
menimbulkan tindakan curang atau fraud antara KAP selaku eksternal auditor dengan kliennya.
Isu Dan Riset Kontemporer Tatakelola Perusahaan
2.1 ROSC Corporate Governance 2010
Tata kelola perusahaan telah diadopsi sebagai salah satu dari dua belas standar praktik terbaik
oleh komunitas keuangan internasional. Bank Dunia adalah institusi yang melakukan peninjauan
untuk aplikasi daro OECD Principle dari tata kelola perusahaan. Assessment adalah bagian dari
program Bank Dunia serta IMF untuk Reports on The Observance of Standards and Codes
(ROSC).
Tujuan dari inisiatif ROSC adalah untuk mengidentifikasikan kelemahan yang bisa berkontribusi
pada ekonomi sebuah negara dan kerentanan dari keuangan negara tersebut. Masing-masing
penilaian tata kelola ROSC berpatokan pada standar hukum dan peraturan dasar dari sebuah
negara, praktek kerja dan ketetapan perusahaan perseroan.
Penilaian ROSC ini terstandarisasi dan sistematis, dan mencakup rekomendasi peraturan dan
model rencana kerja sebuah negara. Penilaian ini berfokus pada tata kelola perusahaan yang
terdaftar dalam bursa efek dan menginisiasi dari reformasi peraturan, hukum, dan institusional
tata kelola perusahaan. Penilaian ini dapat diperbaharui dari waktu ke waktu dan negara yang
berpartisipasi pada proses penilaian ini serta publikasi dari laporan akhirnya adalah bersifat
sukarela. Pada akhir Jui 2010, 75 penilaian telah selesai dibuat pada 59 negara diseluruh dunia.
PRAKTEK DEWAN DAN PENGAWASAN PERUSAHAAN
Peran Dewan
Perusahaan Indonesia memiliki struktur dua tingkatan dewan: dewan komisaris (BOC) dan
direksi (BOD). Dewan Komisaris seharusnya mengawasi dan menasehati Direksi, yang pada
gilirannya melaksanakan operasi sehari-hari perusahaan. Di luar mandat umum, ada beberapa
tanggung jawab yang eksplisit untuk dua papan dalam hukum. Di masa lalu, Dewan Komisaris di
banyak perusahaan memainkan peran yang terbatas dengan hampir semua kekuasaan berada di
tangan Direksi (dan pemegang saham pengendali).
Namun baru-baru ini, beberapa Dewan Komisaris telah menjadi lebih aktif dalam mengawasi
perusahaan, berkat pelatihan, peningkatan kesadaran dan baru-baru ini hukum dan perubahan
peraturan, termasuk persyaratan untuk memiliki komite audit dan independen komisaris dan
pengenalan kewajiban anggota dewan. Dewan Komisaris tidak memilih CEO (Presiden Direktur)
atau manajemen puncak lainnya. Di bawah Undang- Undang PT, baik Dewan Komisaris dan
Direksi yang dipilih langsung oleh pemegang saham dalam RUPS. Dewan Komisaris dapat
menangguhkan seorang direktur, tetapi keputusan ini harus dikonfirmasi oleh RUPS dalam 30
hari.
Dewan Independensi dan Objektivitas
Kedua struktur dewan lapis memastikan bahwa semua komisaris adalah non-eksekutif. Mereka
masih mungkin menjadi pemegang saham utama atau memiliki koneksi lain pemegang saham
pengendali dan manajemen. Daftar aturan mengharuskan perusahaan publik untuk memiliki 30
persen komisaris harus"independen". Independen definisinya secara lebih mendalam dapat
dilihat dalam peraturan Bapepam-LK. Dalam prakteknya, kebanyakan perusahaan memiliki dan
mengidentifikasi komisaris ini, tapi jangan melebihi persyaratan hukum. Semua perusahaan
publik wajib memiliki komite audit yang diketuai oleh independen komisaris. Komite Audit juga
harus memiliki ahli dari luar yang tidak berada pada Dewan Komisaris atau BOD sebagai
anggota. Bank juga wajib memiliki nominasi dan komite remunerasi, dan CGCG mendorong
perusahaan lain untuk memiliki komite ini. Nominasi Bank dan komite remunerasi harus terdiri
dari satu komisaris independen (yang bertindak sebagai kursi), satu komisaris lainnya, dan satu
pejabat eksekutif (yang bertanggung jawab atas sumber daya manusia, atau perwakilan
karyawan) yang harus memiliki pengetahuan tentang remunerasi dan / atau nominasi sistem dan
rencana suksesi bank. Mereka juga bisa memiliki ahli dari luar sebagai anggota.
Komite audit memiliki mandat untuk meninjau pelaporan keuangan, memastikan kepatuhan
terhadap hukum dan regulasi, mengawasi audit internal, dan laporan tentang risiko dan
manajemen risiko kepada Dewan Komisaris. Peraturan tidak memberikan komite audit mandat
untuk meninjau pekerjaan eksternal auditor sehingga tidak memiliki peran eksplisit dalam
mengelola konflik kepentingan.
Rekomendasi oleh ROSC
Indonesia telah melakukan reformasi penting dalam beberapa tahun terakhir. Namun, untuk lebih
menekan potensi secara penuh pada pasar modal dan board yang lebih bersifat profesional dan
manajemen menekankan dan mengharuskan reformasi terus berlanjut. Tata kelola perusahaan
yang baik memastikan bahwa perusahaan menggunakan sumber daya mereka secara lebih efisien
dan mengarah untuk lebih hubungan dengan karyawan, kreditur, dan stakeholder lainnya. Ini
merupakan prasyarat penting untuk menarik sumber dana(modal) investor yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan.
Reformasi utama meliputi:
> Memperbaiki peraturan terkait pengungkapan kepemilikan dan pengungkapan non keuangan
lainnya;
> Mewajibkan hak pemegang saham kunci dimasukkan ke dalam artikel perusahaan;
> Memanfaatkan secara lebih efektif fungsi kerja dari komisaris independen dan komite audit;
> Mengubah hukum perusahaan untuk melindungi pemegang saham yang lebih baik;
> Menggabungkan dan memperluas kekuasaan anggota dewan dalam hukum perusahaan dan
CGCG tersebut;
> Mengharuskan perusahaan mengungkapkan kepatuhan mereka dengan CGCG tersebut;
* Memberikan pemegang saham minoritas mempunyai hak suara yang lebih besar daripada saat
ini pada pemilihan anggota dewan
* Meningkatkan kemampuan Bapepam-LK untuk mengawasi pengungkapan perusahaan dan
area penting lainnya;
* Mendorong kinerja dewan dan pelatihan media.
Rekomendasi diatas dapat disederhanakan dalam tiga bagian: reformasi kerangka hukum dan
peraturan(Termasuk rekomendasi khusus untuk melindungi investor, menjamin transparansi
yang lebih besar, dan meningkatkan efektivitas pengawasan perusahaan), reformasi untuk
membangun kapasitas regulasi, dan rekomendasi untuk studi lebih lanjut di beberapa daerah
tambahan reformasi.
Reformasi untuk Membangun Kapasitas Pengaturan Hukum
Bapepam-LK harus mengembangkan seperangkat pedoman, sebuah manual operasi, dan
program pelatihan untuk pengawasan keterbukaan dan topik tata kelola perusahaan penting
lainnya, dalam rangka untuk benar-benar menegakkan ada dan masa depan regulasi. Manual
harus mencakup (a) keterangan mengapa pengungkapan begitu penting, (b) deskripsi praktek
yang baik di setiap daerah, dan (c) pedoman yang jelas tentang jenis pengungkapan dan perilaku
yang tidak dapat diterima.
Topik minimal harus mencakup :
> Melakukan rapat pemegang saham.
> Kajian dan persetujuan transaksi dengan pihak yang signifikan / terkait.
> Pengungkapan kepemilikan dan kontrol.
> Interpretasi laporan tata kelola perusahaan perusahaan.
Bapepam-LK juga harus berusaha untuk meningkatkan kapasitasnya untuk meninjau laporan
keuangan. Bapepam-LK harus melibatkan akuntan profesional yang berkualitas dan
berpengalaman tambahan dan melatih staf yang ada untuk lebih meningkatkan efektivitas
laporan keuangan pengulas di Corporate Finance Biro untuk mendeteksi manipulasi canggih
pelaporan akuntansi dan keuangan. Bapepam-LK juga harus berusaha untuk merekrut staf lain
dari sektor swasta, dan kebijakan pada remunerasi dan pelatihan harus ditinjau untuk
memfasilitasi ini. Bapepam-LK juga harus menciptakan penghalang yang kuat terkait
penggunaan penipuan sekuritas pelanggan dengan hati-hati mengambil tindakan terhadap broker
dan perantara pasar lainnya dalam hal itu terjadi.
Rekomendasi untuk Studi Lanjut
Ada beberapa aspek dari kerangka hukum dan peraturan saat ini yang muncul untuk overregulate
atau di bawah-mengatur pasar, dengan alasan tidak jelas. Bapepam-LK harus melakukan studi
khusus dalam bidang berikut untuk menentukan yang tepat langkah selanjutnya yang harus
diambil untuk meninjau peraturan biaya dan manfaat:
Kurangnya delisting / akan aturan pribadi. Bapepam-LK tampaknya telah membuat lebih sulit
bagi perusahaan untuk delisting secara sukarela atau "go private" pada tahun 2008. Sementara di
beberapa hal ini tidak bekerja untuk melindungi pemegang saham (karena hak-hak mereka tidak
bisa dilanggar selama transaksi delisting jika tidak diperbolehkan), juga mengurangi insentif bagi
pemegang saham pengendali untuk daftar di tempat pertama, karena menghilangkan opsi untuk
meninggalkan bursa jika mereka tidak lagi melihat manfaat untuk sisa terdaftar yang ada.
Bapepam-LK harus mempelajari dampak dari aturan baru, dan berusaha untuk memastikan saat
ini dampak.
Pelaksanaan pemungutan suara elektronik. Bapepam-LK harus mempelajari hukum, prosedur,
dan teknis rintangan untuk melaksanakan pemungutan suara elektronik pada rapat pemegang
saham. Meskipun kemajuan signifikan telah dibuat dengan BUMN pemerintahan, Kementerian
BUMN Usaha harus mempertimbangkan tambahan, fokus diagnostik pada BUMN yang bisa
menjadi dasar untuk meningkatkan kebijakan kepemilikan mereka secara keseluruhan dan
meningkatkan tata kelola perusahaan di kunci
2.3 Recent Development in Corporate Governance An Overview
Stuart L Gillian
Paper ini menerangkan kepada kita pandangan yang lebih luas dari Corporate Governance
dengan merangkum berbagai paper lain yang mempunyai pandangan juga sama luasnya dengan
yang ada pada paper ini.
Jika biasanya kita melihat corporate governance adalah interaksi dari unsur-unsur internal dan
eksternal perusahaan yang seperti dalam gambar dia bawah ini dimana keterikatan CG hanya
dilihat secara internal yang terditi dari tingkatan manajemen, eksekutif, dan komisaris nya dan
dengan hanya memasukkan dua pihak eksternal yaitu shareholders dan debtholders. Maka
sekarang kita diajak untuk melihat bahwa CG tidak hanya sebatas interaksi antar pihak-pihak
tersebut.
Entitas tidak hanya sebatas manager, board, pemegang saham, kreditur. Pelanggan, pegawai dan
suplier juga termasuk dalam struktur CG dari perusahaan yang masing-masing juga mempunyai
dampak terhadap CG dari perusahaan walaupun kecil.
Dengan mengikutkan komunitas dimanan perusahaan beroperasi, keadaan politik, hukum dan
peraturan, dan secara lebih luas lagi pasar dimana perusahaan terlibat seperti figur di atas maka
akan didapat gambaran secara menyeluruh tentang bagaimana perusahaan beroperasi. Semua
yang termasuk dalam figur itu mempunyai pengaruh terhadap CG dari perusahaan. Sebagai
contoh adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah mungkin dapat mempengaruhi struktur CG
dari perusahan, dalam kasus lain politik, komunitas, dan kebudayaan sekitar juga dapat
mempengaruhi struktur CG perusahaan.
Dalam pandangan tradisional, banyak aspek dari sudut pandang yang lebih luas dari CG
perusahaan ini dipandang bukan bagian dari CG perusahaan. Akan tetapi dalam pandangan
moderen segala sesuatu yang memiliki dampak walaupun seminimal apapun terhadap CG
perusahaan dapat dipandang sebagai bagian dari CG itu sendiri.
Pengaturan utama dibagi menjadi dua yaitu pengaturan internal dan pengaturan eksternal seperti
pada figur di bawah. Dari setiapnya dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan pihak yang
berkaitan.
Pada sisi internal perusahaan maka pembagian dari aspek-aspek CG adalah sebagai berikut:
a) Board of Directors (and their role, structure, and incentives)
b) Insentif manajerial
c) Struktur permodalan
d) Bylaw and Charter Provisions
e) Sistem kontrol Internal
Sementara itu, pembagian dari aspek-aspek eksternal CG adalah sebagai berikut:
a) Hukum dan Peraturan
b) Markets 1 (pasar modal, the market for corporate control, pasar tenaga kerja, dan pasar
produk)
c) Markets 2, menekankan pada penyedia informasi pada pasar modal (analis pada tingkat
kredit, permodalan, dan tatakelola)
d) Markets 3 , memfokuskan pada jasa akuntansi, keuangan, dan kelegalan dari pihak
eksternal terhadap entitas(including auditing, directors and officers liability insurance,
and investment banking advice termasuk diantaranya auditor, saran investasi perbankan,
dan jaminan asuransi pegawai)
e) Sumber dari pandangan eksternal, sebagai contohnya media.