Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

Imperfections in Solids (Cacat Kristal)



Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Sifat dan Struktur Bahan

Dosen Pengampu : Agus Jauhari, Drs, M.Si






Disusun oleh,
Agus Faizal Muarif : 1104927
Romi Nugraha : 1100461

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014

IMPERFECTION IN SOLIDS
i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpah curahkan kepada Nabi
besar kita yakni Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya, para sahabatnya,
tabiin-tabiatnya, dan kepada kita semua selaku umatnya.
Adapun makalah yang dibuat berjudul Imperfections in Solids (Cacat
Kristal), diajukkan untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah Sifat dan
Struktur Bahan dan mudah-mudahan laporan ini bisa memberi manfaat umumnya
untuk semua pembaca dan khusunya untuk saya selaku penyusun dari laporan.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa
makalah ini tersusun bukan semata-mata hasil usaha sendiri, melainkan berkat
bimbingan,bantuan, masukan dan motivasi dari semua pihak. Untuk itu pada
kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Agus Jauhari, Drs, M.Si , selaku Dosen mata kuliah Pendahuluan Fisika
Zat Padat yang telah membimbing dan menugaskan melalui perkuliahan, sehingga
pengetahuan dan keterampilan penulis bertambah dalam membuat sebuah
makalah.
2. Kepada kedua orang tua, teman-teman dan rekan-rekan seangkatan
yang telah memotivasi penulis dalam menyusun makalah ini.
3. semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
segi isi maupun redaksinya dikarenakan keterbatasan yang penulis miliki, maka
dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak, agar dikemudian hari saya selaku penulis dapat menyusun makalah atau
karya tulis kembali dengan lebih baik. Akhir kata, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua. Amin
Bandung, Maret 2014
Penulis



IMPERFECTION IN SOLIDS
ii

DAFTAR ISI




























IMPERFECTION IN SOLIDS
iii


IMPERFECTION IN SOLIDS
1

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejauh ini diasumsikan bahwa material Kristal dalam skala atomic
tersusun secara sempurna. Kenyataanya, kristal ideal yang sempurna tidak
ada, setiap kristal akan memiliki sejumlah variasi cacat kristal. Meskipun
begitu cacat kristal tidak hanya merugikan, cacat kristal terkadang sengaja di
buat untuk mendapatkan sifat tertentu dari suatu material sesuai kebutuhan.
Sifat material sangat dipengaruhi oleh adanya ketidaksempurnaan /cacat
Kristal. Akibatnya, sangat penting mempelajari tipe-tipe cacat Kristal dan
pengaruh cacat Kristal terhadap sifat material. Contoh, sifat mekanik logam
murni berubah ketika menjadi alloy. Seperti pada sterling silver (92,5 % silver
dan 7,5% tembaga) lebih keras dan kuat daripada silver murni.
Mengingat pentingnya bahasan tentang cacat kristal dalam keilmuan
material science, maka makalah ini di susun.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dan untuk memfokuskan pembahasan,
maka kami merumuskan masalah dalam makalah ini mencakup hal-hal
berikut :
1. Bagaimanakah penjelasan cacat kristal kekosongan (Vacancy) dan sisipan
(Self-Interstitial) ? dan Bagaimanakah cara enghitung jumlah
kesetimbangan cacat kekosongan (Vacancy) dari material pada temperatur
tertentu ?
2. Bagaimanakah ketakmurnian dan larutan material solid (solid solution) ?
3. Bagaimana cara menghitung massa dan berat atomik dari dua atau lebih
element pada alloy logam dan menghitung persen berat dan persen atomik
untuk setiap elemen ?
4. Untuk masing-masing dislokasi sisi, ulir, dan campuran:
a. Bagaimanakah penjelasan dan penggambaran dislokasi ?
b. Dimanakah lokasi garis dislokasi ?
c. Bagaimana cara mengindikasi arah dari garis dislokasi ?
5. Bagaimana penjelasan Interfacial defect (cacat permukaan) ?
6. Bagimanakah penjelasan bulk atau volume defect (cacat volume)?
7. Bagaimanakah microskop examination dan bagaimana teknik microskop
bekerja ?
8. Bagaimana menghitung ukuran bulir (grain size determination) ?

IMPERFECTION IN SOLIDS
2

1.3 Tujuan
Dari rumusan dan batasan masalah yang sudah dikemukakan di atas, maka tujuan
penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui penjelasan cacat kristal kekosongan (Vacancy) dan sisipan
(Self-Interstitial) dan cara enghitung jumlah kesetimbangan cacat
kekosongan (Vacancy) dari material pada temperatur tertentu.
2. Mengetahui ketakmurnian dan larutan material solid (solid solution).
3. Mengetahui cara menghitung massa dan berat atomik dari dua atau
lebih elemen pada alloy logam dan menghitung persen berat dan
persen atomik untuk setiap elemen.
4. Untuk masing-masing dislokasi sisi, ulir, dan campuran:
5. Mengetahui penjelasan dan penggambaran dislokasi.
6. Mengetahui lokasi garis dislokasi.
7. Mengetahui cara mengindikasi arah dari garis dislokasi.
8. Mengetahui Interfacial defect (cacat permukaan).
9. Mengetahui bulk atau volume defect (cacat volume).
10. Mengetahui Microskop examination dan bagaimana teknik microskop
bekerja.
11. Mengetahui cara menghitung ukuran bulir (grain size determination).
1.4 Manfaat
Adapaun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu :
1. menambah ilmu tentang cacat Kristal, utamanya untuk mahasiswa
pendidikan fisika KBK material.
2. Memahami cacat Kristal lebih dalam sebagai bekal untuk tugas akhir.
1.5 Metode Pengkajian
Makalah ini disusun dengan menggunkan metode study literature, yaitu
penulis membaca teori mengenai fenomena cacat kristal dari buku sumber yaitu
Material Science and engineering oleh William D. Callister, Jr. kemudian
mendiskusikannya secara kelompok dan menyajikannya dalam makalah ini.










IMPERFECTION IN SOLIDS
3



BAB II ISI

2.1 Cacat Kristal Kekosongan (Vacancies) dan sisipan celah (self-interstitial)
Vacancy adalah cacat Kristal yang paling sederhana yang terjadi karena
atom yang seharusnya terdapat pada kisi hilang. Semua material Kristal
memiliki vacancy, tidak mungkin menciptakan Kristal yang tidak memiliki
cacat jenis ini. Terdapatnya cacat titik dijelaskan dengan termodinamika dan
cacat titik ini akan meningkatkan entropi dari Kristal. Persamaan yang
menyatakan number keseimbangan (equilibrium number) cacat titik.

)

N = jumlah atomic sites total
Q
v
= energy yang diperlukan untuk pembentukan vacancy
K = konstanta Boltzmann (1,38 x 10
-23
J/atom-K atau 8,62 x 10
-5
eV/atom-
K)
T = temperature (K)
Dari persamaan ini, diketahui bahwa jumlah vacancy meningkat secara
eksponensial terhadap temperature. Untuk kebanyakan logam, fraksi vacancy
Nv/N pada suhu dibawah titik leleh sekitar orde 10
-4
, sehingga dalam kisi ada
satu yang kosong dari 10.000 atom.

Sisipan celah (self-interstitial) adalah masuknya atom dari Kristal pada
daerah sempit (interstitial site) yang biasanya kosong (tidak ditempati atom).
Dalam logam, sisipan celah membuat distorsi yang besar pada kisi karena atom
pengisi lebih besar dari luasan celah itu sendiri. Jenis cacat ini sangat kecil
porsinya yang jauh lebih kecil dari vacancy.
2.2 Impurities in solids (ketakmurnian dalam bahan solid) dan Solid Solution
(larutan Padat)
2.2.1 Impurities in solids (ketakmurnian dalam bahan solid)
IMPERFECTION IN SOLIDS
4

Tidak ada logam murni yang hanya terdiri dari satu jenis atom saja,
ketakmurnian oleh atom lain (pengotor) akan selalu ada dan bisa menjadi cacat
titik Kristal. Dengan teknik canggih pun, sangat sulit menyuling logam hingga
kemurniannya mencapai 99,9999%. Sekitar 10
22
-10
23
ketakmurnian atom akan
ada dalam 1 m
3
material. Logam yang tak murni, dimana atom unsur lain
sengaja disispkan disebut alloy. Alloy biasanya digunakan untuk meningkatkan
kekuatan kekuatan mekanik dan daya tahan terhadap korosi. Contohnya
sterling silver (92,5 % silver dan 7,5% tembaga). Perak murni bersifat tahan
korosi tetapi sangat lembek. Penambahan unsur tembaga meningkatkan
kekuatan mekaniknya dengan menurunkan sedikit daya tahannya terhadap
korosi.
Penambahan ketakmurnian atom pada metal akan menhasilkan bentuk
solid solution atau second phase bergantung dari jenis atom asingnya
(pengotor) . Istilahistilah dalam ketakmurnian dan solid solution.
Solute adalah elemen atau campuran yang jumlahnya sedikit.
Solvent / host atoms adalah elemen atau campuran yang jumlahnya
besar/banyak.
2.2.2 Solid Solution (larutan Padat)
Larutan Padat terbentuk ketika atom solute dimasukan pada solvent /
host material. Dalam larutan padat tidak ada perubahan struktur Kristal dan
tidak terbentuk struktur yang baru. Seperti ketika mencampur air dengan
alcohol akan terbentuk molekul campuran dan komposisinya homogen.
Larutan padat juga bersifat homogen dimana atom pengotor secara acak
tersebar merata dalam material padat.
Ketakmurnian cacat titik dalam larutan padat ada dua jenis,
substitutional dan interstitial. Pada cacat titik substitutional , solute atau
pengotor akan mengganti/mensubstitusi host atoms.

Faktor-faktor dari atom pengotor dan pelarut yang menentukan derajat
dissolve (ketidak larutan) :
1. Factor Ukuran atom (Atomic Size Factor), larutan padat akan dapat
mengakomodasi solute dalam jumlah besar jika perbedaan atomic
radii Antara solute dan solvent kurang dari 15%.
IMPERFECTION IN SOLIDS
5

2. Struktur kristal, struktur kristal solute dan solvent harus sama agar
keteralrutanya tinggi.
3. Elektronegativitas, semakin elektropositif satu bagian dan
elektronegatif bagian lainya maka semakin besar kemungkinan
terbentuk campuran intermetalik dari substitutional larutan padat.
4. Valensi, logam yang valensinya lebih tinggi akan sukar larut
sedangkan yang valensinya kecil akan mudah terlarut.
Contoh larutan padat antara tembaga dan nikel. Dua material ini saling
melarutkan satu sama lain dalam semua proporsi. Atomic radii untuk tembaga
dan nikel secara berurutan sebesar 0,128 nm dan 0,125 nm. keduanya
memiliki struktur Kristal FCC dan elektronegatifitasnya 1,9 dan 1,8 serta
electron valensinya untuk tembaga +1 (terkadang +2) dan untuk nikel +2.
Untuk interstitial larutan solid, atom pengotor mengisi kekosongan atau
celah pada host atom. Pada logam yang memiliki atomic packing factor besar,
posisi interstitial (luas celah) akan kecil. Akibatnya, diameter atom pengotor
(impurity interstitial) harus lebih kecil daripada host atom. Normalnya,
konsentrasi maksimum dari atom pengotor (interstitial impurity atoms) yang
diijinkan rendah ( kurang dari 10%). Contoh carbon adalah interstitial larutan
padat ketika ditambahkan kedalam besi. Maksimum konsentrasi karbon sekitar
2%, atomic radius carbon (0,071 nm) lebih kecil dari besi (0,124 nm).
2.3 Specification of composition
Sangat penting menyatakan elemen utama alloy dalam composition
atau konsentrasi. Untuk itu, terdapat dua cara menyatakan yaitu weigt (or
mass) percent (persen berat) dan persen atom. Persen berat (wt%) adalah berat
elemen utama relative terhadap berat total alloy. Untuk alloy yang berisi dua
atom , atom 1 dan atom 2, wt% untuk atom 1 dinyatakan
C1 =

x 100%
m
1
dan m
2
adalah massa atau berat elemen 1 dan 2. Persentase
atom (at%) adalah jumlah mol dari elemen terhadap total mol dari elemen
dalam alloy. Jumlah mole elemen 1 n
m1
dirumuskan

dan A1 adalah massa (gram) dan berat atom elemen 1.


Konsentrasi persen atom elemen 1 alloy yang terdiri dari elemen 1 dan 2
dirumuskan

x 100%

IMPERFECTION IN SOLIDS
6

Composition conversions
Hubungan Antara berat atom ( C1 dan C2) terhadap persen atom (

dan

)
dan berat atom A1 dan A2 dinyatakan dengan

x 100%

x 100%
C1 =

x 100%
C2 =

x 100%
Dari persamaan ini bisa kita ketahui bahwa
C1 + C2 = 100

= 100
Konversi dari persen berat ke persen per volume (wt% to kg/m3)


Kerapatan alloy


Berat atomic rata-rata


2.4 Dislokasi Garis, Ulir, dan Campuran
2.4.1 Dislokasi Cacat Garis (Linear defects)
IMPERFECTION IN SOLIDS
7

Dislokasi adalah linear atau cacat satu dimensi yang terlihat dari
atom atom yang misalign (tidak lurus). Seperti pada gambar 4.3 terdapat
bagian tambahan bidang atom, atau setengah bidang, di ujung yang
menjadi akhir Kristal. Cacat seperti ini disebut edge dislocation yaitu cacat
linear yang berpusat disekitar garis sepanjang ujung setengah bidang
tambahan atom . kadang-kadang disebut juga garis dislokasi (dislocation
line) yang tegak lurus pada bidang.
Disekitar daerah dislokasi garis, terdapat distorsi kisi . Atom-atom diatas
garis dislokasi akan menekan bersamaan dan atom-atom di bawahnya akan
tertarik sebagian; hal ini menyatakan lengkungan kecil untuk bidang
vertical atom seperti mereka menekuk disekitar setengah bidang
tambahan. Besar distorsi ini menurun seiring penambahan jarak dari garis
dislokasi, semakin jauh akan tak terlihat dan kisi seperti sempurna. Edge
dislokasi dilambangkan yang juga menandakan posisi dislokasi garis.
Edge dislokasi juga dibentuk oleh setengah-bidang tambahan atom yang
ditandai T .
Tipe dislokasi lainya adalah screw dislocation (dislokasi ulir) yang
terbentuk karena adanya shear stress yang menyebabkan distorsi seperti
pada gambar.
IMPERFECTION IN SOLIDS
8


Bagian atas Kristal bergeser satu atom kekanan relative terhadap bagian bawah.
Distorsi atomic yang berasosiasi dengan dislokasi ulir juga linier sepanjang garis
dislokasi, seperti garis A-B pada gambar 4.4b. nama dislokasi ulir diambil dari
jalur spiral atau helix atau jejak melandai disekitar garis dislokasi oleh bidang
atom. Juga dilambangkan dengan .
Kebanyakan dislokasi dalam Kristal berupa campuran edge dislocation dan screw
dislocation yang disebut mixed dislocation. Tiga tipe dislokasi ini ditampilkan
dalam gambar 4.5.
IMPERFECTION IN SOLIDS
9


Besar dan arah kisi distorsi berhubungan dengan dislokasi dinyatakan dengan
Burgers vector dilambangkan b. dislokasi edge,screw dan mixed didefinisikan
oleh orientasi garis dislokasi dan burgers vector. Undutk dislokasi edge, vector
burgernya tegak lurus (gambar 4.3), untuk dislokasi screw vector burgersnya
parallel (gamabar 4.4) dan taka ada (neither) untuk mixed. Meskipun dislokasi
berubah arah dan kristalnya juga (missal dari edge menjadi mixed menjadi screw),
vector burgernya akan sama pada semua titik sepanjang garis. Pada material
logam, vector burger dislokasi akan ditandai oleh close-packed crystallographic
direction dan besarnya sama dengan jarak interatomic.
Dislokasi bisa diamati dengan mikroskop electron. Pada gambar 4.6 garis gelap
adalah dislokasi

IMPERFECTION IN SOLIDS
10

Dislokasi dalam material Kristal disebabkan oleh beberapa hal ; proses
pengerasan (solidification), proses deformasi plastis, juga konsekuensi dari
tekanan thermal akibat pendinginan yang cepat.
2.5 Interfacial defect (cacat permukaan)
Cacat permukaan adalah batas dua dimensi berupa daerah pembatas antara
material yang berbeda struktur kristalnya dan/atau orientasi kristalografi. Cacat
permukaan diantaranya :
a. External Surfaces (permukaan luar)
Salah satu batas paling jelas adalah external surface yang berada di ujung
Kristal. Atom di permukaan tidak diikat oleh maksimal jumlah atom terdekat
sehingga keadaan energinya lebih tinggi daripada atom yang berada di dalam.
Energinya dinyatakan dalam J/m
2
atau erg/cm
2
. Untuk mengurangi energy ini,
ukuran material harus diperkecil sehingga area permukaannya lebih kecil.
Contoh liquid memiliki minimum surface, karena tetesannya menjadi
lingkaran.
b. Grain Boundaries (batas bulir)
Grain boundary memisahkan dua bulir kecil atau Kristal yang memiliki
perbedaan orientasi Kristal dalam material polikristal. Contohnya pada gambar
4.7. didalam daerah perbatasan, yang lebarnya hanya beberapa atom, terdapat
beberapa atom yang mismatch dalam transisi orientasi Kristal dari bulir yang
satu pada bulir lain yang saling berdekatan.

Derajat variasi misalignment Kristal diantara bulir berdekatan adalah mungkin.
Ketika mismatch orientasi kecil, ordenya hanya beberapa derajat, maka sudut
kecil batas bulir berlaku. Batas ini bisa digambarkan berupa dislokasi array. Sudut
kecil batas bulir dibentuk ketika ujung dislokasi lurus seperti gambar 4.8. tipe ini
disebut tilt boundary ; sudut misorientasi . Ketika sudut misorientasi parallel
terhadap batas, dihasilkan twist boundary yang bisa digambarkan oleh susunan
dislokasi screw.
IMPERFECTION IN SOLIDS
11


Atom terikat lemah sepanjang batas bulir dan akibatnya terdapat interfacial atau
batas bulir energy seperti energy permukaan. Besar energy ini adalah fungsi dari
derjat misorientasi, makin besar untuk sudut batas yang besar. Batas bulir lebih
reaktif secara kimia daripada bulir itu sendiri akibat batas energy. Ketakmurnian
atom sering memisahkan sepanjang batas karena energy mereka lebih besar. Total
energy interfasial lebih kecil pada bulir kasar daripada bulir lembut karena total
area batas makin kecil. Bulir meningkat seiring peningkatan temperature untuk
mengurangi total energy batas.
Meskipun susunan atom tidak teratur dan sedikit ikatan regular sepanjang batas
bulir, material polikristal masih sangat kuat, karena ada gaya kohesif didalam dan
menyebrangi batas. Terlebih lagi, rapat specimen polikristal identic untuk single
Kristal dari material yang sama.
1. Twin boundaries (batas kembar)
Batas kembar adalah batas grain dimana terdapat pencerminan simetri kisi
; atom pada satu sisi batas bertempat di titik pencerminan(mirror-image)
dari atom disisi lainya. Region diantara batas ini kembar. Kisi kembar
dihasilkan dari perpindahan atom akibat penerapan mechanical shear
forces (mechanical twins), dan juga selama perlakuan annealing heat yang
diikuti deformasi. Kembar terjadi pada bidang Kristal dan pada arah
spesifik yang keduanya bergantung pada struktur Kristal. Annealing twins
ditemukan pada logam berstruktur FCC dan mechanical twins diamati
pada logam BCC dan HCP . the twins berhubungan dengan region yang
memiliki sisi lurus dan kembar dan berbeda visual contastnya daripada
region tidak kembar dari bulir.
2. Miscellaneous interfacial defects
Cacat Kristal lainya adalah stacking fault, phase boundaries, dan
ferromagnetic domain walls. Stacking fault ditemukan pada logam FCC
ketika terdapat penyela diantara ABCABCABC. Rentetan tumpukan
IMPERFECTION IN SOLIDS
12

bidang close-packed. Phase boundaries terdapat pada material multiphase ;
terdapat perubahan karakteristik fisik dan/atau kimia secara mendadak.
Untuk ferromagnetic dan ferrimagnetik material, batas yang memisahkan
daerah yang berbeda arah magnetisasi disebut domain wall.
Energy interfacial bergatung pada tipe batas yang akan bervariasi untuk setiap
material. Normalnya, energy interfacial external surface terbesar dan yang terkecil
domain walls.
2.6 Bulk atau Volume Defect
Yang termasuk cacat volume adalah pores (lubang), cracks (retakan),
foreign inclusions (masuknya benda asing), dan other phase (fase lainya). Cacat
ini disebabkan selama pemrosesan dan fabrikasi.
2.7 Microskop Examination
Pada saat diperlukan atau diinginkan untuk memeriksa struktur elemen dan
cacat yang mempengaruhi sifat-sifat material. Beberapa struktur elemen yang
berdimensi makroskopik; yaitu, mereka cukup besar untuk diamati dengan mata
biasa. Sebagai contoh, bentuk dan rata-rata ukuran atau diameter butir untuk
spesimen polikristalin adalah karakteristik struktural yang penting. Butir
makroskopik sering terbukti pada tiang aluminium lampu jalan dan juga pada
jalan Raya penjaga rel. Butir yang relatif besar yang memiliki tekstur yang
berbeda dan terlihat jelas pada permukaan bagian lead yang ditunjukkan dalam
gambar 4.12. Namun, kebanyakan butiran material unsur utama adalah dimensi
mikroskopis, memiliki diameter yang mungkin berorde mikron, dan detailnya
harus diselidiki menggunakan beberapa jenis mikroskop. Ukuran butir dan bentuk
hanya dua fitur apa yang disebut mikrostruktur; ini dan karakteristik
microstructural lain akan dibahas dalam bab berikutnya
optik electron, dan pemindaian pemeriksaan mikroskop(scaning probe
microscope) yang umumnya digunakan dalam microskop. Instrumen ini
membantu dalam penyelidikan dari microstructural fitur dari semua jenis bahan.
Beberapa teknik ini menggunakan peralatan fotografi dalam hubungannya dengan
mikroskop; foto di mana gambar yang direkam disebut photomicrograph. Selain
itu, banyak gambar microstructural gambar yang dihasilkan komputer.
Pemeriksaan mikroskopis adalah alat yang sangat berguna dalam mempelajari
karakterisasi dari bahan. Beberapa aplikasi penting pemeriksaan mikrostruktural
adalah sebagai berikut: untuk memastikan bahwa gabungan antara sifat dan
struktur (dan Cacat) dimengerti dengan baik, untuk memprediksi sifat-sifat materi
setelah hubungan ini telah ditetapkan, untuk mendesain campuran dengan
kombinasi properti baru, untuk menentukan apakah bahan sudah mempunyai
perawatan panas yang tepat, dan untuk memastikan cara patahan mekanis.
IMPERFECTION IN SOLIDS
13

Beberapa teknik yang sering digunakan dalam penyelidikan tersebut dibahas
berikutnya.


Teknik mikroskopik
Optical Microscopy
Dengan mikroskop optik,mikroskop cahaya digunakan untuk mempelajari
microstructure; optik dan sistem penerangan adalah elemen dasar. Untuk bahan
yang buram dengan cahaya tampak ( semua logam dan banyak keramik dan
polimer ), hanya permukaan yang menjadi pokok pada pengamatan, dan
mikroskop cahaya yang harus digunakan dalam sebuah cara mencerminkan.
Kontras di gambar yang dihasilkan akibat dari perbedaan dalam pandunya dari
berbagai wilayah microstructure. Penyelidikan jenis ini sering disebut
metallographic, sejak logam yang pertama diperiksa menggunakan teknik ini.
Biasanya, berhati-hati dan permukaan teliti perlu dipersiapkan untuk mengungkap
rincian penting dari microstructure. Spesimen permukaan harus menjadi dasar dan
dipoles dengan halus dan selesai seperti kaca. Hal ini dilakukan dengan
menggunakannyakertas ampelas dan bubukyang sangat halus secara berturut-
turut. microstructure ini diungkapkan oleh perlakuan permukaan menggunakan
sebuah bahan reaksi kimia yang tepat dalam prosedur yang disebut etsa.
Kereaktifan kimia dari butiran beberapa bahan satu fasa yang tergantung pada
orientasi crystallographic. Akibatnya, dalam sebuah spesimen polycrystalline,
karakteristik etsanya bervariasi dari butir ke butir. Gambar 4.13b menunjukkan
bagaimana biasanya insiden cahaya dipantulkan oleh tiga terukir permukaan butir,
masing-masing memiliki orientasi berbeda. Gambar 4.13a menggambarkan
permukaan struktur seperti ini mungkin muncul ketika dilihat dengan mikroskop;
kilauan atau tekstur setiap butir bergantung pada sifat pantulannya. Sebuah
photomicrograph dari sebuah polycrystalline spesimen menunjukkan ciri-ciri yang
ditampilkan pada gambar. 4.13.
IMPERFECTION IN SOLIDS
14

Juga, bentuk alur kecil sepanjang batas-batas butir akibat etching. Karena atom
sepanjang wilayah batas butir lebih kimia aktif, mereka larut pada tingkat yang
lebih besar daripada dalam butir yang lain. Alur ini menjadi terlihat ketika
melihat di bawah mikroskop karena mereka mencerminkan cahaya pada sudut
yang berbeda dari butiran-butirannya sendiri; Efek ini akan ditampilkan dalam
gambar 4.14a. Gambar 4.14b adalah photomicrograph dari spesimen polikristalin
di mana alur batas butir ini jelas terlihat sebagai garis gelap.
Ketika mikrostruktur dari paduan dua fasa diperiksa, sebuah etsa sering dipilih
yang menghasilkan tekstur yang berbeda untuk setiap tahap sehingga fasa-fasa
berlainan dapat dibedakan dari satu sama lain.
Mikroskop Elektron
Batas atas untuk pembesaran mungkin dengan sebuah optik mikroskop adalah
sekitar 2000 kali. Akibatnya, beberapa elemen struktural terlalu halus atau kecil
untuk memungkinkan pengamatan dengan menggunakan mikroskop optik. Dalam
situasi seperti mikroskop elektron yang mampu jauh lebih tinggi perbesarannya,
dapat digunakan.
Sebuah gambar struktur dalam penyelidikan dibentuk menggunakan sinar cahaya
elektron bukan radiasi. Menurut mekanika kuantum, sebuah elektron kecepatan
tinggi akan menjadi seperti gelombang, memiliki panjang gelombang yang
berbanding terbalik dengan kecepatan. Ketika dipercepat ditegangan tinggi,
elektron dapat dibuat untuk memiliki panjang gelombang di orde 0.003 nm ( 3 pm
). Pembesaran tinggi dan kekuatan menyelesaikan mikroskop ini adalah
konsekuensi dari panjang gelombang pendek berkas elektron. Berkas elektron
difokuskan dan gambar yang dibentuk dengan lensa magnet; sebaliknya geometri
komponen mikroskop yang pada dasarnya sama dengan sistem optik. Kedua
transmisi dan refleksi mode beam adalah operasi yang mungkin bagi mikroskop
elektron.

IMPERFECTION IN SOLIDS
15


Transmission Electron Microscopy
Gambar yang dilihat dengan mikroskop elektron transmisi (TEM) dibentuk oleh
berkas elektron yang melewati spesimen. Rincian fitur microstructural internal
dapat diakses oleh pengamatan; kontras di gambar diproduksi oleh perbedaan
dalam berkas hamburan atau Difraksi yang diproduksi antara berbagai unsur
mikrostruktur atau cacat. Karena bahan padat sangat absorptif untuk berkas
elektron, sebuah spesimen harus diperiksa dan harus dipersiapkan dalam bentuk
lembaranl sangat tipis;


Ini memastikan transmisi melalui spesimen dari fraksi yang cukup besar dari
kejadian beam. transmisikan beam ini diproyeksikan ke layar neon atau film
fotografi sehingga gambar dapat dilihat. Perbesarannya mendekati 1.000.000x
yang mungkin dengan transmisi mikroskop elektron , yang sering digunakan
dalam studi dislokasi.
IMPERFECTION IN SOLIDS
16

Scanning Electron Microscopy
Alat investigasi yang lebih baru dan sangat berguna adalah mikroskop elektron
scanning scaning electron microscoft (SEM). Permukaan spesimen harus
diperiksa dan dipindai dengan berkas elektron, dan pantulan (atau tersebar
kembali) berkas elektronnya dikumpulkan, maka ditampilkan pada tingkat
pemindaian yang sama pada tabung sinar katoda (mirip dengan layar televisi
CRT).Gambar pada layar, yang mungkin difoto, mewakili fitur permukaan
spesimen. Permukaan mungkin atau tidak mungkin menjadi halus dan tergores,
tapi harus menjadi konduktif secara elektrik; lapisan permukaan metal sangat tipis
harus diterapkan ke bahan-bahan nonconductive. Perbesaran berkisar 10 sampai
lebih dari 50.000 kali, seperti kedalaman bidang yang juga sangat besar. Peralatan
ini memungkinkan Analisis kualitatif dan analisis semikuantitatif dari komposisi
unsur pada area permukaan yang sangat lokal.
Scanning Probe Microscopy
Dalam satu setengah dekade, bidang mikroskop telah mengalami revolusi dengan
pembentukan keluarga baru yaitu scaning probe microscopes. scaning probe
microscopes ini (SPM), ada beberapa varietas, berbeda dari mikroskop optik dan
elektron yang baik ringan maupun elektron digunakan untuk membentuk sebuah
gambar. Sebaliknya, mikroskop menghasilkan peta topografi, pada skala atom,
yang merupakan representasi dari fitur permukaan dan karakteristik dari spesimen
yang sedang diperiksa. Beberapa fitur yang membedakan SPM dari teknik
mikroskopis lain adalah sebagai berikut

Pemeriksaan pada skala nanometer mungkin di sebanyak besaran setinggi
10^9x yang mungkin; resolusi jauh lebih baik yang dapat dicapai dari pada
dengan teknik mikroskopis lain.
Perbesaran gambar tiga dimensi yang dihasilkan memberikan topografi
informasi tentang fitur yang menarik.
Beberapa SPMs dapat dioperasikan di berbagai lingkungan (misalnya,
vakum, udara, cair); dengan demikian, spesimen tertentu dapat diteliti di
dalam lingkungan yang paling cocok.
scaning probe microscopes menggunakan pemeriksa kecil dengan ujung yang
sangat tajam yang dibawa ke dalam jarak yang sangat dekat (dengan kata lain,
dalam urutan nanometer) dari permukaan spesimen. Pemeriksaan ini kemudian
diteliti melewati permukaan bidang. Selama pemindaian, pengalaman
pemeriksaan pembelokan pada bidang tegak lurus ini, dalam merespon elektronik
atau interaksi lainny antara permukaan probe dan spesimen.
IMPERFECTION IN SOLIDS
17

Gerakan di permukaan dalam bidang dan dipermukaan luar bidang probe
dikendalikan oleh komponen keramik piezoelektrik (bagian 18.25) yang memiliki
resolusi nanometer. Selain itu, gerakan-gerakan probe ini dipantau secara
elektronik, ditransfer dan disimpan di komputer, yang kemudian menghasilkan
permukaan gambar tiga dimensi.
Spesifik scaning probe microscopes teknik berbeda dari satu sama lain dengan
jenis interaksi yang dipantau. Sebuah gaya atom Mikrograf yang mungkin diamati
pada struktur atom pada permukaan spesimen emas yng ditunjukan pada halaman
10.
SPMs baru ini, memungkinkan pemeriksaan permukaan bahan pada tingkat atom
dan molekul, telah memberikan banyak informasi tentang berbagai bahan, dari
sirkuit terpadu chip untuk biologi molekul. Memang, munculnya SPMs telah
membantu untuk mengantarkan era bahan nanomaterials, material yang sifatnya
dirancang oleh teknik struktur atom dan molekul.
2.8 Grain Size Determination
Ukuran butir sering ditentukan ketika sifat material polikristalin berada di
bawah perhatian. Dalam hal ini, ada beberapa teknik yang ukuran yang ditentukan
dalam hal volume rata-rata butir, diameter atau daerah. Ukuran butir dapat
diperkirakan dengan menggunakan metode intercept, digambarkan sebagai
berikut. Semua garis lurus yang sama panjang diambil melalui beberapa
photomicrographs yang menunjukkan struktur butir. Butir yang disilang disetiap
segmen garis yang dihitung; panjang garis kemudian dibagi dengan rata-rata
jumlah butir dipotong, mengambil alih semua segmen garis. Butir yang rata-rata
diameter ditemukan dengan membagi hasil ini dengan garis perbesaran
photomicrographs.
Mungkin metode yang paling umum digunakan, bagaimanapun, adalah
bahwa dicipta oleh American Society untuk pengujian dan material (ASTM). The
ASTM telah menyiapkan beberapa grafik perbandingan standar, semua memiliki
rata-rata ukuran butir yang berbeda-beda. Untuk masing-masing diberi nomor
mulai dari 1 sampai 10, yang dipanggil jumlah ukuran butir (grain size number).
Spesimen harus disiapkan dengan benar untuk mengungkapkan struktur butir,
yang difoto pada pembesaran 100x. Ukuran butir dinyatakan sebagai jumlah
ukuran butir dengan grafik yang paling hampir cocok dengan butir di mikrograf.
Dengan demikian, penetapan visual relatif sederhana dan sesuai jumlah ukuran
butir yang mungkin. Jumlah ukuran butir digunakan secara ekstensif dalam
spesifikasi baja.
Alasan di balik penugasan jumlah ukuran butir untuk berbagai grafik ini adalah
sebagai berikut. Biarkan n mewakili jumlah ukuran butir, dan N rata-rata jumlah
IMPERFECTION IN SOLIDS
18

butir per inci persegi pada pembesaran 100x. Kedua parameter yang berhubungan
dengan satu sama lain ini diekspresikan melalui:

BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari pembahasan makalah ini, dapat disimpulkan beberapa hal berikut :
a. Vacancies dan Self-interstitial
Kristal ideal yang sempurna tidak ada, setiap kristal akan memiliki
sejumlah variasi cacat Kristal. Pengelompokan cacat Kristal didasarkan pada
geometri dan ukuranya. Cacat Kristal yang berhubungan dengan satu atau dua
posisi atom terdiri dari vacancies (kekosongan), self-interstitial (sisipan celah)
dan ketakmurnian atom (pengotor).
b. Impurities in Solids (ketakmurnian dalam atom)
Solid solution (larutan padat) terbentuk ketika atom ketakmurnian dimasukan
dalam material solid, tetapi tidak merubah struktur asli Kristal dan tidak ada fase
baru yang terbentuk. Pada larutan padat, kelarutan akan besar jika antara solute
dan solvent memiliki diameter, keelektronegatifan, struktur kristal yang sama
juga jika atom ketakmurnian memiliki electron valensi yang sama atau lebih kecil
dari host material.
For substi- tutional solid solutions, impurity atoms substitute for host atoms,
c. Specification of Composition
Komposisi atom dalam alloy dinyatakan oleh weight percent (persen berat) atau
atom percent (persen atom). Persen berat dihitung oleh perbandingan berat
atom constituent terhadap berat total alloy. Present atom dihitung dengan
membandingkan jumlah mole setiap constituent terhadap mol total semua
elemen dalam alloy.
d. DislocationsLinear Defects (Dislokasi cacat garis)
Dislokasi adlah cacat Kristal satu dimensi yang terdiri dari dua tipe : edge (ujung)
dan screw (ulir). Cacat edge (ujung) berupa distorsi kisi di ujung setengah bidang
atom tambahan. Cacat screw (ulir) berupa jalur datar berbentuk heliks. Dislokasi
mixed (campuran) terdiri dari cacat edge dan screw. Besar dan arah distorsi kisi
yang berasosiasi dengan dislokasi dinyatakan dengan vector burger. Orientasi
vector Burger dan dislokasi garis berbentuk 1) tegak lurus untuk cacat edge
(ujung) , 2) parallel untuk cacat screw (ulir) 3) tidak tegak lurus maupun parallel
untuk mixed (cacat campuran).
e. Interfacial Defects Bulk or Volume Defects Atomic Vibrations
Jenis cacat Kristal lainya berupa cacat interfacial ( external surface (permukaan
luar), grain boundaries (batas bulir), batas kembar ), cacat volume (retak, pori-
pori) dan vibrasi atom.
f. Microscopic Techniques
IMPERFECTION IN SOLIDS
19

Cacat Kristal dan struktur elemen material berukuran mikroskopis dan perlu
bantuan mikroskop. Mikroskop yang digunakan berupa mikroskop optic dan
mikroskop electron, mikroskop electron terdiri dari TEM dan SEM.
g. Grain Size Determination
Ukuran bulir material polikristal sering diukur dengan teknik photomicro-grafic.
3.2 Saran
Adapun saran :
1. Baiknya ditambah referensi terpercaya lain, untuk melengkapi materi.
2. Diperlukan pengkajian lebih dalam agar pemahaman lebih jelas.






















IMPERFECTION IN SOLIDS
20

Daftar Pustaka
Callister, William Jr. 2007. Material Science and Engineering , an Introduction. John
Wiley and Sons : United states of America