Anda di halaman 1dari 18

1 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pencernaan makanan sangat penting sebelum makanan diabsorbsi atau diserap
oleh dinding saluran pencernaan. Zat-zat makanan tidak dapat diserap dalam bentuk alami dan
tidak berguna sebagai zat nutrisi sebelum proses pencernaan awal. Zat makanan akan
dipersiapkan untuk diabsorbsi melelui proses proses tertentu dengan bantuan enzim-enzim
tertentu dalam saluran pencernaan. Hasil dari proses tersebut kemudian disebarkan keseluruh
otot menjadi enetgi untuk beraktivitas.
Asam nukleat tersusun atas monomer-monomer berupa nukleotida, yang masing-masing
terdiri atas sebuah gugus fosfat, sebuah gula pentosa, dan sebuah basa N. Nukleotida Purin
terdiri atas AMP (Adenosin Monofosfat) dan GMP (Guanosin Monofosfat). Nukleotida
Pirimidin terdiri atas UMP (Uridin Monofosfat), CTP (Cytosin Triphospat), dan TMP
(Tymidine Monofosfat). Tahapan sintesis Asam Nukleat berturut-turut dimulai dari nukleosida,
nukleotida, dan kemudian asam nukleat DNA atau RNA. Tahapan degradasi asam nukleat
dalam tubuh berturut-turut menghasilkan nukleotida, nukleosida, basa purin dan pirimidin, serta
asam urat.
WHO mengartikan ilmu gizi sebagai ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada
organisme hidup.Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi.Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor
risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian.Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status
gizi memberikan hasil yang lebih tepat dan objektif daripada menilai konsumsi pangan dan
pemeriksaan lain. Pemeriksaan yang sering digunakan adalah teknik pengukuran kandungan
berbagai gizi dan substansi kimia lain dalam darah dan urine.

B. Rumusan Masalah
1. Penjelasan tentang pencernaan makanan pada manusia
2. Penjelasan tentang nukleotida
3. Penjelasan tentang pengantar gizi pada biokimia

C. Tujuan
1. Mengetahui penjelasan tentang pencernaan makanan pada manusia
2. Mengetahui penjelasan tentang nukleotida
3. Mengetahui penjelasan tentang pengantar gizi pada biokimia


2 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

BAB II
PEMBAHASAN

SISTEM PENCERNAAN MANUSIA
A. MAKANAN DAN FUNGSINYA BAGI MANUSIA
Setiap makhluk hidup memerlukan makanan untuk dirinya, lebih-lebih pada anak yang
masih dalam pertumbuhan, sangat memerlukan banyak makanan yang bergizi. Makanan
diperlukan sebagai:
1. Bahan pembentuk tubuh yaitu untuk pembentukan dan pertumbuhan sel-sel baru,
menggantikan sel-sel yang rusak,
2. Bahan penambah cairan tubuh,
3. Bahan penghasil energi.
Jika makanan yang dimakn berlebih, sedang energi yang dikelurkan sedikit maka
kelebihan itu dapat disimpa dalam bentuk lemak, tempat penyimpannya antara lain di bawah
kulit, di dalam rongga perut dan di sela-sela usus. Agar dapat diserap oleh darah, perlu di ubah
menjadi sari makanan yang halus. Sisa makanan yang tidak dapap diserap, dikeluarkan sebagai
kotoran. Makin banyak kita mengeluarkan energi, makin banyak pula kita memerlukan
makanan. Sebagian makanan yang masuk ke dalam tubuh berguna sebagai bahan pembakar
tubuh dalam kegiatan hidup manusia.
Pencernaan makanan di dalam tubuh manusia melalui 6 tahap yaitu:
1. Ingesti : pemasukan makanan ke dalam tubuh melalui mulut.
2. Mastikasi: proses mengunyah makanan oleh gigi.
3. Deglutisi: proses menelan makanan di kerongkongan.
4. Digesti: pengubahan makanan menjadi molekul yang lebih sederhana dengan bantuan
enzim, terdapat di lambung.
5. Absorbsi: proses penyerapan, terjadi di usus halus.
6. Defekasi: pengeluaran sisa makanan yang sudah tidak berguna untuk tubuh melalui
anus.
Sistem pencernaan pada manusia terdiri dari:
1. Saluran pencernaan (organ pencernaan yang dilewati oleh bahan makanan), yaitu mulut,
kerongkongan, lambung, usus halus, dan usus besar.
2. Kelenjar pencernaan (organ pencernaan yang berfungsi menghasilkan getah/enzim
pencernaan), yaitu mulut, lambung, usus halus, hati, dan pankreas.



3 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

Berdasarkan prosesnya, pencernaan dibagi menjadi:
1. Pencernaan mekanis, yaitu pencernaan yang menyebabkan perubahan bentuk dan
ukuran makanan, contohnya pencernaan oleh gigi.
2. Pencernaan kimiawai, perubahan zat makanan dari senyawa kompleks menjadi senyawa
yang lebih sederhana dengan bantuan enzim (senyawa kimia).
Banyak faktor yang mempengaruhipertumbuhan dan perkembangan manusia,
diantaranya adalah makanan. Makanan mempunyai peranan yang sangat penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan manusia. Melalui mkanan, manusia dapat memperoleh nutrisi
yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Nutrisi tersebut berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin,
dan garam mineral.
1. Karbohidrat
Karbohidrat terdapat dalam beras, jagung, gandum, kentang, ubi-ubian, buah-buahan,
dan madu. Karbohidrat digunakan sebagai sumber energi bagi tubuh kita. Setiap satu gram
karbohidrat dapat menghasilkan energi sekitar 4 kilokalori. Kalau kita konversikan I kalori =
4,2 joule, maka 1 gram karbohidrat menghasilkanenergi sebesar 16,8 kilojoule.
Selama proses pencernaan, karbohidrat akan dipecah menjadi molekul gula sederhana
seperti glukosa. Bentuk gula sederhana inilah yang diserap oleh tubuh. Jika manusia
mengonsumsi karbohidrat melebihi kebutuhan energi, maka karbohidrat akan disimpan dalam
bentuk glikogen dan lemak. Glikogen akan disimpan di hati dan otot. Lemak akan disimpan
disekitar perut, ginjal, dan bawah kulit. Kekurangan karbohidrat akan menyebabkan badan
lemah, kurus, semangat kerja atau belajar menurun, dan daya tahan terhadap penyakit
berkurang.
2. Protein
Sumber protein dapat berasal dari hewan dan disebut protein hewani, misalnya lemak,
daging, susu, ikan, telur dan keju. Sumber protein yang berasal dari tumbuhan disebut protein
nabati. Contohnya adalah kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau.
Protein berfungsi sebagai komponen struktural dan fungsional. Fungsi structural
berhubungan dengan fungsi pembangun tubuh dan pengganti sel-sel yang rusak. Fungsi
fungsional berkaitan dengan fungsinya sebagai komponen proses-proses biokimia sel seperti
hormon dan enzim.
Selama proses pencernaan, protein akan diubah menjadi pepton dengan bantuan enzim
pepsin di dalam lambung. Kemudian pepton akan diubah menjadi asam amino dengan bantuan
enzim tripsin di dalam usus halus. Asam amino inilah yang akan diserap oleh tubuh. Sama
seperti karbohidrat, setiap 1 gram protein dapat menghasilkan energi sebesar 17 kilojoule.
Kekurangan protein dapat menyebabkan busung lapar.

4 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

3. Lemak
Sumber lemak dapat berasal darihewan dan disebut dengan lemak hewani, misalnya
lemak daging, mentega, susu, ikan basah, telur dan minyak ikan. Sumber lemak yang bersal
dari tumbuhan disebut lemak nabati. Contohnya adalah kelapa, kemiri, kacang-kacangan, dan
alpukat.
Lemak berfungsi sebagai cadangan energi dan pelarut vitamin A, D, E, dan K. Lemak
disimpan dalam jaringan bawah kulit. Setiap satu gram lemak dapat menghasilkan energisekitar
9 kilokalori atau 38 kilojoule.
4. Vitamin
Vitamin berfungsi sebagai kompenen organic enzim yang disebut sebagai co-enzim.
Terdapat dua kelompok vitamin yang larut dalam air dan lemak. Vitamin larut dalam lemak
mempunyai sifat dapat disimpan lama. Bila jumlah yang tersedia lebih banyak dari yang
diperlukan tubuh, akan disimpan di dalam lemak dalam waktu yang cukup lama. Berbeda
halnya dengan vitamin yang larut dalam air, bila jumlahnya melebihi yang diperlukan oleh
tubuh, kelebihan akan dibuang ke luar tubuh melalui urin. Kekurangan vitamin akan
menyebabkan penyakit avitaminosis.
5. Garam mineral
Garam mineral dibutruhkan secara sendiri-sendiri maupun kelompok. Masing-masing
mempunyai peranan tertentu dalam tubuh. Sebagai contoh, kalsium, sumbernya berasal dari
susu, keju, daging, sayur-sayuran. Berfungsi pembentukan darah, kontraksi otot, pembentukan
tulang, dan gigi, dsb.

B. SISTEM PENCERNAAN MANUSIA
Sistem pencernaan manusia terdiri atas saluran dan kelenjar pencernaan. Saluran
pencernaan merupakan saluran yang dilalui bahan makanan. Kelenjar pencernaan adalah bagian
yang mengeluarkan enzim untuk membantu mencerna makanan. Saluran pencernaanantara lain
sebagai berikut.
1. Mulut
Di dalam rongga mulut, terdapat gigi, lidah, dan kelenjar air liur (saliva). Gigi terbentuk
dari tulang gigi yang disebut dentin. Struktur gigi terdiri atas mahkotagigi yang terletak diatas
gusi, leher yang dikelilingi oleh gusi, dan akar gigi yang tertanamdalam kekuatan-kekuatan
rahang. Mahkota gigi dilapisi email yang berwarna putih. Kalsium, fluoride, dan fosfat
merupakan bagian penyusun email. Untuk perkembangan dan pemeliharaan gigi yang bai, zat-
zat tersebut harus ada di dalam makanan dalam jumlah yang cukup. Akar dilapisi semenyang
melekatkan akar pada gusi.

5 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

Ada tiga macam gigi manusia, yaitu gigi seri (insisor) yang berguna untuk memotong
makanan, gigi taring (caninus) untuk mengoyak makanan, dan gigi geraham (molar) untuk
mengunyah makanan. Dan terdapat pula tiga buahkelenjar saliva pada mulut, yaitu kelenjar
parotis, sublingualis, dan submandibularis. Kelenjar saliva mengeluarkan air liur yang
mengandung enzim ptialinatau amilase, berguna untuk mengubah amilum menjadi maltosa.
Pencernaan yang dibantu oleh enzim disebut pencernaan kimiawi. Di dalam rongga mulut,
lidah menempatkan makanan di antara gigi sehingga mudah dikunyah dan bercampur dengan
air liur. Makanan ini kemudian dibentuk menjadi lembek dan bulat yang disebut bolus.
Kemudian bolus dengan bantuan lidah, didorong menuju faring.
2. Faring dan esofagus
Setelah melalui rongga mulut, makanan yang berbentuk bolus akan masuk kedalam
tekak )faring). Faring adalah saluran yang memanjang dari bagian belakang rongga mulut
sampai ke permukaan kerongkongan (esophagus). Pada pangkal faring terdapat katup
pernapasan yang disebut epiglottis. Epiglotis berfungsi untuk menutup ujung saluran
pernapasan (laring) agar makanan tidak masuk ke saluran pernapasan. Setelah melalui faring,
bolus menuju ke esophagus; suatu organ berbentuk tabung lurus, berotot lurik, dan berdidnding
tebal. Otot kerongkongan berkontraksi sehingga menimbulkan gerakan meremas yang
mendorong bolus ke dalam lambung. Gerakan otot kerongkongan ini disebut gerakan
peristaltik.
3. Lambung
Otot lambung berkontraksi mengaduk-aduk bolus, memecahnya secara mekanis, dan
mencampurnya dengan getah lambung. Getah lambung mengandung HCl, enzim pepsin, dan
renin. HCl berfungsi untuk membunuh kuman-kuman yang masuk berasama bolus akan
mengaktifkan enzim pepsin. Pepsin berfungsi untukmengubah protein menjadi peptone. Renin
berfungsi untuk menggumpalkan protein susu. Setelah melalui pencernaan kimiawi di dalam
lambung, bolus menjadi bahan kekuningan yang disebut kimus (bubur usus). Kimus akan
masuk sedikit demi sedikit ke dalam usus halus.
4. Usus halus
Usus halus memiliki tiga bagian yaitu, usus dua belas jari (duodenum), usus tengah
(jejunum), dan usus penyerapan (ileum). Suatu lubang pada dinding
duodenummenghubungkan usus 12 jari dengan saluran getah pancreas dan saluran empedu.
Pankreas menghasilkan enzim tripsin, amilase, dan lipase yang disalurkan menuju duodenum.
Tripsin berfungsi merombak protein menjadi asam amino. Amilasemengubah amilum menjadi
maltosa. Lipasemengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Getah empedu dihasilkan

6 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

oleh hati dan ditampung dalam kantung empedu. Getah empedu disalurkan ke duodenum.
Getah empedu berfungsi untuk menguraikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Selanjutnya pencernaan makanan dilanjutkan di jejunum. Pada bagian ini terjadi
pencernaan terakhir sebelum zat-zat makanan diserap. Zat-zat makanan setelah melalui jejunum
menjadi bentuk yang siap diserap. Penyerapan zat-zat makanan terjadi di ileum. Glukosa,
vitamin yang larut dalam air, asam amino, dan mineral setelah diserap oleh vili usus halus; akan
dibawa oleh pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Asam lemak, gliserol, dan
vitamin yang larut dalam lemak setelah diserap oleh vili usus halus; akan dibawa oleh
pembuluh getah bening dan akhirnya masuk ke dalam pembuluh darah.
5. Usus besar
Bahan makanan yang sudah melalui usus halus akhirnya masuk ke dalam usus besar.
Usus besar terdiri atas usus buntu (appendiks), bagian yang menaik (ascending colon), bagian
yang mendatar (transverse colon), bagian yang menurun (descending colon), dan berakhir pada
anus. Bahan makanan yang sampai pada usus besar dapat dikatakan sebagai bahan sisa. Sisa
tersebut terdiri atas sejumlah besar air dan bahan makanan yang tidak dapat tercerna, misalnya
selulosa.
Usus besar berfungsi mengatur kadar air pada sisa makanan. Bila kadar iar pada sisa
makanan terlalu banyak, maka dinding usus besar akan menyerap kelebihan air tersebut.
Sebaliknya bila sisa makanan kekurangan air, maka dinding usus besar akan mengeluarkan air
dan mengirimnya ke sisa makanan. Di dalam usus besar terdapat banyak sekali mikroorganisme
yang membantu membusukkan sisa-sisa makanan tersebut. Sisa makanan yang tidak terpakai
oleh tubuh beserta gas-gas yang berbau disebut tinja (feses) dan dikeluarkan melalui anus.

C. . KELAINAN DAN PENYAKIT PADA SISTEM PENCERNAAN MANUSIA
Beberapa kelainan dan penyakit yang dapat terjadi pada alat-alat sistem
pencernaan antara lain:
1. Parotitis
Penyakit gondong yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang kelenjar
air ludah di bagianbawah telinga, akibatnya kelenjar ludah menjadi bengkak atau membesar.
2. Xerostomia
Xerostomia adalah istilah bagi penyakit pada rongga mulut yang ditandai dengan
rendahnya produksi air ludah.Kondisi mulut yang kering membuat makanan kurang tercerna
dengan baik.



7 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

3. Tukak Lambung
Tukak lambung terjadi karena adanya luka pada dinding lambung bagian dalam. Maka
secara teratur sangat dianjurkan untuk mengurangi resiko timbulnya tukak lambung.
4. Appendiksitis
Appendiksitis atau infeksi usus buntu, dapat merembet ke usus besar dan menyebabkan
radang selaput rongga perut.
5. Diare
Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri maupun protozoa pada usus
besar. Karena infeksi tersebut, proses penyerapan air di usus besar terganggu, akibatnya feses
menjadi encer.
6. Konstipasi
Konstipasi atau sembelit terjadi akibat penyerapan air yang berlebihan pada sisa
makanan di dalam usus besar. Akibatnya, feses menjadi sangat padat dan keras sehingga sulit
dikeluarkan. Untuk mencegah sembelit dianjurkan untuk buang air besar teratur tiap hari dan
banyak makan sayuran atau buah-buahan.




NUKLEOTIDA
1. DEFINISI NUKLEOTIDA
Asam nukleat adalah suatu polimer nukleotida yang berperan dalam penyimpanan serta
pemindahan informasi genetik (polinukleotida). Asam nukleat terdiri dari Asam
deoksiribonukleat (DNA) dan Asam ribonukleat (RNA).
Nukleotida adalah komponen organik yang memegang peranan penting dalam metabolisme.

2. KOMPONEN PENYUSUN ASAM NUKLEAT
a. Basa nitrogen heterosiklik
Basa nitrogen heterosiklik yang merupakan penyusun asam nukleat adalah turunan
Purina dan pirimidina.
Purina dan turunannya
Purina atau purin adalah senyawa heterosiklik majemuk yang mempunyai lingkar
pirimidina dan imidazol yang berimit. Turunan purina yang merupakan penyusun asam nukleat
adalah adenine atau 6-aminopurina dan guanine atau 2-amino-6-oksipurina.


8 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

Pirimidina dan turun-turunannya
Pirimidina atau pirimidin termasuk senyawa heterosiklik sederhana lingkar 6, dengan 2
atom nitrogen sebagai heteroatomnya. Turunan-turunan pirimidina yang meupakan penyusun
asam nukleat adalah sitosin atau 2-oksi-4-aminopirimidina yang disingkat C, timin atau 2, 4-
dioksi-5-metilpirimidina yang disingkat T dan urasil atau 2, 4-dioksipirimidina yang disingkat
U.
b. Pentosa atau gula penyusun
Pentose yang menyusun asam nukleotida adalah ribose dan 2-deoksiribosa. Dalam
struktur kimia asam nukleat, kedua pentose tersebut terdapat dalam bentuk lingkar furanosa.
Ribose merupakan penyusun RNA dan 2-deoksiribosa merupakan penyusun DNA.
c. Fosfat penyusun
Fosfat penyusun asam nukleat adalah asam fosfat atau asam ortofosfat. Fosfat ini berupa
kristal berbentuk orto-rombik, tak stabil dan melebur pada suhu 42,350C. Fosfat ini tergolong
asam lemah atau sedang dan bervalensi tiga jenis garam natrium. Garam natrium tersebut dapat
terbentuk pada suhu kamar yaitu, Natrium fosfat Na3PO4, Natrium hidrogen fosfat Na2HPO4,
dan Natrium dihidrogen fosfat NaH2PO4.

3. NUKLEOTIDA DAN NUKLEOSIDA
Suatu basa yang terikat pada satu gugus gula disebut nukleosida, sedangkan nukleotida
adalah satu nukleosida yang berikatan dengan gugus fosfat. Di dalam molekul DNA atau RNA,
nukleotida berikatan dengan nukleotida yang lain melalui ikatan fosfodiester.
Basa purin dan pirimidin tidak berikatan secara kovalen satu sama lain. Oleh karena itu,
suatu polinukleotida tersusun atas kerangka gula-fosfat yang berselang seling dan mempunyai
ujung 5-P dan 3-OH. Monomer nukleotida dapat berikatan satu sama lain melalui ikatan
fosfodiester antara -OH di atom C nomor 3nya dengan gugus fosfat dari nukleotida berikutnya.
Kedua ujung poli- atau oligonukleotida yang dihasilkan menyisakan gugus fosfat di atom
karbon nomor 5' nukleotida pertama dan gugus hidroksil di atom karbon nomor 3' nukleotida
terakhir.
Sebuah nukleosida terdiri dari basa purin dan pirimidin yang berikatan dengan gula.
Keempat unit nukleosida dalam DNA disebut deoksiadenosin, deoksi guanosin, deoksitimidin,
dan deoksitidin.
Dalam sebuah deoksiribonukleosida (gambar 6.4), N-9 dalam purin atau N-1 dalam
pirimidin terikat pada C-1 deoksiribosa. Konfigurasi ikatan N-glikosida ni adalah ikatan
(basanya terletak di atas bidang gulanya).

9 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

Suatu nukleotida merupakan suatu ester fosfat dari suatu nukleosida. Tempat
esterifikasi yang paling umum dalam nukleotida yang terdapat secara alamiah adalah gugus
hidroksil C-5 pada gula. Senyawa seperti ini disebut nukleosida 5-fosfat atau 5-nukleotida.
Misalnya dATP merupakan prekursor yang diaktifkan pada sintesis DNA; nukleotida ini
diaktifkan kalau ada dua ikatan fosfoanhidra dalam unit trifosfatnya. Bilangan dengan tanda
menunjukkan atom pada gula, sedangkan bilangan tanpa tanda menunjukkan atom pada cincin
purin atau pirimidin. Awalan d dalam dATP menunjukkan bahwa gulanya berupa deoksiribosa
untuk membedakan senyawa ini dari ATP gula dalam bentuk ribose.

4. GULA
DNA merupakan polimer unit-unit deoksiribonukleotida. Suatu molekul terdiri dari
sebuah basa nitrogen, sebuah gula dan satu atau lebih gugus fosfat. Gula dalam
deoksiribonukleotida merupakan deoksiribosa. Awalan deoksi menunjukkan bahwa gula ini
kekurangan satu atom oksigen yang ada pada ribosa, senyawa induknya.
Basa Nitrogen merupakan derivat purin dan pirimidin, purin dalam DNA adalah adenin
(A) dan guanin (G) dan pirimidinnya adalah timin (T) dan sitosin (S).

5. STRUKTUR DNA DAN RNA
Tulang punggung DNA, yang bersifat tetap disepanjang molekul , terdiri dari
deoksiribosa yang berikatan dengan gugus-gugus fosfat, khususnya 3-hidroksil pada bagian
gula sebuah deoksiribonukleotida dihubungkan pada 5-hidroksil gula yang berdekatan melalui
jembatan fosfidiester. Bagian yang bervariasi pada DNA adalah urutan keempat macam basa
(A,G, C, dan T). Unit-unit nukleotida tersebut dinamakan deoksiadenilat, deoksiguanilat,
deoksisitidilat, dan deoksitimidilat

6. DOUBLE HELIX DNA
Pada tahun 1953, James Watson dan Francis Crick menggambarkan struktur tiga
dimensi DNA dan menyimpulkan mekanisme replikasinya. Watson dan Crick melakukan
analisis gambaran difraksi sinar-X serat-serat DNA yang dibuat oleh Rosalind Franklin dan
Maurice Wilkins dan menetapkan suatu model struktural yang pada dasarnya dapat dibuktikan.
Ciri-ciri model DNA adalah:
a. Dua rantai heliks polinukleotida melingkar menglilingi satu sumbu. Kedua rantai
mempunyai arah yang berlawanan.
b. Basa purin dan pirimidin terdapat di bagian heliks, sedangkan unit-unit fosfat dan
deoksiribosa terdapat dibagian luar.

10 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

c. Diameter heliks adalah 20 A. Jarak antara basa yang bersebelahan ialah 3,4 A pada
poros heliks dengan sudut rotasi sebesar 360. Dengan demikian, perputaran heliks
berulang setelah 10 residu pada setiap rantai, yakni pada interval 34 A.
d. Kedua rantai saling berhubungan melalui ikatan hidrogen antara pasangan-pasangan
basa. Adenin selalu berpasangan dengan timin, guanin selalu berpasangan dengan
sitosin

7. STRUKTUR RNA
RNA digolongkan menjadi tiga macam yakni RNA transfer (tRNA), RNA ribosom
(rRNA) dan RNA kurir (mRNA) yang masing-masing mempunyai komposisi basa dan berat
molekul yang khas dan terdiri dari rantai poliribonukleotida tunggal
RNA kurir (mRNA) terdiri dari basa A, G, S, dan U, dan disitensis di dalam inti sel
dalam proses transkripsi yakni proses penurunan urutan basa dari salah satu untaian DNA pada
kromosom dengan perantara enzim menjadi bentuk rantai tunggal mRNA. Basa mRNA yang
terjadim ini merupakan komplemen urutan basa dalam DNA tersebut.
Setelah proses transkripsi, mRNA keluar dari inti sel bergerak ke ribosom, dan
bersama-sama dengan ribosom memulai proses biosintesisi polipeptida, urutan triplet
nukleotida adalah kodon yang terdapat sepanjang rantai mRNA yang menentukan urutan residu
asam amino yang membentuk rantai polipeptida.tRNA berfungsi sebagai pembawa asam amino
spesifik dalam proses biosintesis protein pada ribosom.
Dalam proses biosintesis protein, gugus amino akan dibawa ke ribosom dan dipindahkan
ke rantai polipeptida yang sedang bertumbuh dalam proses pemanjangannya. rRNA membentuk
65 % berat ribosom.
a. Struktur DNA
DNA adalah suatu molekul rangkap di mana dua rantai polinukleotida saling berikatan
satu sama lain melalui pasangan basa purin dan pirimidin. Adenin dalam suatu rantai
membentuk ikatan hydrogen dengan timin dalam untaian lainnya dan guanine berpasangan
dengan sitosin dalam untaian lainnya. Kedua rantai ini dikatakan dalam keadaan komplementer.
b. Sifat sifat asam nukleat
Stabilitas asam nukleat
Ketika melihat struktur tangga berpilin molekul DNA atau struktur sekunder RNA,
sepintas akan terlihat bahwa struktur tersebut menjadi stabil karena adanya ikatan hidrogen.
Ikatan hidrogen di antara pasangan-pasangan basa hanya akan sama kuatnya dengan ikatan
hidrogen antara basa dan molekul air apabila DNA berada dalam bentuk rantai tunggal. Jadi,

11 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

ikatan hidrogen jelas tidak berpengaruh terhadap stabilitas struktur asam nukleat, tetapi hanya
sekedar menentukan spesifitas perpasangan basa.
Penentu stabilitas struktur asam nukleat terletak pada interaksipenempatan (stacking
interactions) antara pasangan-pasangan basa. Permukaan basa yang bersifat hidrofobik
menyebabkan molekul-molekul air dikeluarkan dari sela-sela perpasangan basa sehingga
perpasangan tersebut menjadi kuat.
Pengaruh asam
Di dalam asam pekat dan suhu tinggi, misalnya HClO4 dengan suhu lebih dari 100C,
asam nukleat akan mengalami hidrolisis sempurna menjadi komponen-komponennya. Namun,
di dalam asam mineral yang lebih encer, hanya ikatan glikosidik antara gula dan basa purin saja
yang putus sehingga asam nukleat dikatakan bersifat apurinik
Pengaruh alkali
Pengaruh alkali terhadap asam nukleat mengakibatkan terjadinya perubahan status
tautomerik basa. Sebagai contoh, peningkatan pH akan menyebabkan perubahan struktur
guanin dari bentuk keto menjadi bentuk enolat karena molekul tersebut kehilangan sebuah
proton. Selanjutnya, perubahan ini akan menyebabkan terputusnya sejumlah ikatan hidrogen
sehingga pada akhirnya rantai ganda DNA mengalami denaturasi. Hal yang sama terjadi pula
pada RNA. Bahkan pada pH netral sekalipun, RNA jauh lebih rentan terhadap hidrolisis bila
dibadingkan dengan DNA karena adanya gugus OH pada atom C nomor 2 di dalam gula
ribosanya.
Denaturasi kimia
Sejumlah bahan kimia diketahui dapat menyebabkan denaturasi asam nukleat pada pH
netral. Contoh yang paling dikenal adalah urea (CO(NH2)2) dan formamid (COHNH2). Pada
konsentrasi yang relatif tinggi, senyawa-senyawa tersebut dapat merusak ikatan hidrogen.
Artinya, stabilitas struktur sekunder asam nukleat menjadi berkurang dan rantai ganda
mengalami denaturasi.
Viskositas
DNA kromosom dikatakan mempunyai nisbah aksial yang sangat tinggi karena
diameternya hanya sekitar 2 nm, tetapi panjangnya dapat mencapai beberapa sentimeter.
Dengan demikian, DNA tersebut berbentuk tipis memanjang. Selain itu, DNA merupakan
molekul yang relatif kaku sehingga larutan DNA akan mempunyai viskositas yang tinggi.
Karena sifatnya itulah molekul DNA menjadi sangat rentan terhadap fragmentasi fisik. Hal ini
menimbulkan masalah tersendiri ketika kita hendak melakukan isolasi DNA yang utuh.



12 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

Kerapatan apung
Analisis dan pemurnian DNA dapat dilakukan sesuai dengan kerapatan apung (bouyant
density)-nya. Di dalam larutan yang mengandung garam pekat dengan berat molekul tinggi,
misalnya sesium klorid (CsCl) 8M, DNA mempunyai kerapatan yang sama dengan larutan
tersebut, yakni sekitar 1,7 g/cm3. Jika larutan ini disentrifugasi dengan kecepatan yang sangat
tinggi, maka garam CsCl yang pekat akan bermigrasi ke dasar tabung dengan membentuk
gradien kerapatan. Begitu juga, sampel DNA akan bermigrasi menuju posisi gradien yang
sesuai dengan kerapatannya. Teknik ini dikenal sebagai sentrifugasi seimbang dalam tingkat
kerapatan (equilibrium density gradient centrifugation) atau sentrifugasi isopiknik.
Oleh karena dengan teknik sentrifugasi tersebut pelet RNA akan berada di dasar tabung dan
protein akan mengapung, maka DNA dapat dimurnikan baik dari RNA maupun dari protein.
Selain itu, teknik tersebut juga berguna untuk keperluan analisis DNA karena kerapatan apung
DNA () merupakan fungsi linier bagi kandungan GC-nya. Dalam hal ini, = 1,66 + 0,098%
(G + C).




PENGANTAR GIZI
A. PENGERTIAN GIZI
Istilah gizi dan ilmu gizi di Indonesia baru dikenal sekitar tahun 1952-1955 sebagai
terjemahan kata bahasa Inggris nutrition. Kata gizi berasal dari bahasa Arab ghidza yang
berarti makanan. Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca gizi. Selain itu sebagian orang
menterjemahkan nutrition dengan mengejanya sebagai nutrisi. Terjemahan ini terdapat
dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain tahun 1994.
WHO mengartikan ilmu gizi sebagai ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada
organisme hidup. Proses tersebut mencakup pengambilan dan pengolahan zat padat dan cair
dari makanan yang diperlukan untuk memelihara kehidupan, pertumbuhan, berfungsinya organ
tubuh dan menghasilkan energi.
Zat gizi (nutrien) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur
proses-proses kehidupan. Makanan setelah dikonsumsi mengalami proses pencernaan. Bahan
makanan diuraikan menjadi zat gizi atau nutrien. Zat tersebut selanjutnya diserap melalui
dinding usus dan masuk kedalam cairan tubuh.


13 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

B. PENGERTIAN STATUS GIZI
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan
zat-zat gizi.Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk
terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik bagi seseorang akan berkontribusi
terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi
masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif
maupun kualitatif.
Menurut Depkes (2002), status gizi merupakan tanda-tanda penampilan seseorang
akibat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari pangan yang
dikonsumsi pada suatu saat berdasarkan pada kategori dan indikator yang digunakan.
Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut
reference. Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia adalah World Health
Organization National Centre for Health Statistic (WHO-NCHS). Berdasarkan baku WHO -
NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizilebih untuk over weight, termasuk
kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk
under weight yang mencakup milddan moderat, PCM(Protein Calori Malnutrition). Keempat,
Gizi buruk untuk severePCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor.
Status gizi ditentukan oleh ketersediaan semua zat gizi dalam jumlah dan kombinasi
yang cukup serta waktu yang tepat. Dua hal yang penting adalah terpenuhi semua zat gizi yang
dibutuhkan tubuh dan faktor-faktor yang menentukan kebutuhan, penyerapan dan penggunaan
zat gizi tersebut.

C. HUBUNGAN BIOKIMIA DENGAN STATUS GIZI
Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil yang lebih tepat
dan objektif daripada menilai konsumsi pangan dan pemeriksaan lain. Pemeriksaan yang sering
digunakan adalah teknik pengukuran kandungan berbagai gizi dan substansi kimia lain dalam
darah dan urine. Adanya parasit dapat diketahui melalui pemeriksaan feses, urine, dan darah
(Ningtyias, 2010).
1. Pengertian Penentuan Status Gizi Secara Biokimia
Penentuan status gizi secara biokimia/laboratorium terdiri dari pemeriksaan status
biokimia dalam tubuh dan tes fungsional/fisiologis. Pada pemeriksaan status biokimia dalam
tubuh diukur kandungan nutrien dalam cairan dan jaringan tubuh. Tes yang dipilih
merefleksikan nutrien total dalam tubuh atau ukuran jaringan dalam tubuh (Ningtyias, 2010).
Tes fungsional/fisiologis bertujuan untuk mengukur fungsi spesifik organ tubuh yang
terganggu karena kekurangan nutrien. Tes ini lebih signifikasi jika dibandingkan dengan

14 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

pemeriksaan status biokimia dalam tubuh. Tes fungsional/fisiologis dibagi menjadi tes fungsi
biokimia dan tes psikologis (Ningtyias, 2010).
2. Tujuan Penentuan Status Gizi Secara Biokimia
Mengetahui tingkatan status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan status
biokimia pada jaringan dan cairan tubuh dan tes fungsional (Ningtyias, 2010).
3. Macam pengukuran dalam penentuan status gizi secara biokimia
Pengukuran dalam penentuan status gizi secara biokimia dilakukan dengan pemeriksaan
status biokimia tubuh yaitu cairan dan jaringan tubuh serta tes fungsional. Pemeriksaan status
biokimia tubuh pada cairan tubuh yaitu memeriksa konsentrasi nutrien pada smpel darah, ludah,
keringat dan Air Susu Ibu, sedangkan untuk pemeriksaan pada jaringan tubuh yang diperlukan
adalah rambut, kuku, jaringan adiposa, hati dan tulang. Selain itu ada juga tes fungsional yang
mengukur konsekuensi fungsional pada organ atau jaringan tubuh karena defisiensi nutrien
dalam tubuh (Ningtyias, 2010).

D. MANFAAT BIOKIMIA
Sebagia disiplin ilmu, biokimia mengalami kemajuan berkat penelitian yang telah
dilakukan oleh para ahli biokimia. Manfaat yang diperoleh tampak pada penerapan hasil-hasil
penelitian tersebut.
Pada dasarnya penerapan biokimia banyak terdapat dalam bidang pertanian dan
kedokteran. Sebagai contoh biokimia mempunyai peranan penting dalam memecahkan masalah
gizi, penyakit-penyakit akibat kekurangan gizi terutama pada anak-anak. Biokimia juga dapat
menjelaskan hal-hal dalam bidang farmakologi dan toksikologi karena dua bidang tersebut
berhubungan dengan pengaruh bahan kimia dari luar terhadap metabolisme (Poedjiadi, 2007).
Manfaat mempelajari biokimia untuk kita adalah untuk mengetahui tentang reaksi-
reaksi kimia penting yang terjadi dalam sel sehingga kita dapat memahami proses-proses yang
terjadi dalam tubuh kita. Dengan demikian diharapkan kita dapat menghindari hal-hal dari luar
tubuh yang mempengaruhi proses dalam sel-sel tubuh, misalnya kita dapat mengatur makanan
yang akan kita makan sehingga kita dapat memperoleh manfaat makanan secara optimal
(Poedjiadi, 2007).

E. KURANG ENERGI PROTEIN
Kurang Energi Protein (KEP) diberi nama internasional Calori Protein Malnutrition
(CPM) dan kemudian diganti dengan Protein Energy Malnutrition (PEM). Kurang Energi
Protein adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi
dan protein dalam makanan sehari-hari dan atau gangguan penyakit tertentu.Manifestasi KEP

15 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

dari diri penderitanya ditentukan dengan mengukur status gizi anak atau orang yang menderita
KEP.
KEP pada balita sangat berbeda sifatnya dengan KEP orang dewasa. Pada balita, KEP
dapat menghambat pertumbuhan, rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi, kematian
anak dan mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan. Pada orang dewasa, KEP menurunkan
produktivitas kerja dan derajad kesehatan sehingga menyebabkan rentan terhadap
penyakit.Diperkirakan bahwa Indonesia kehilangan 220 juta IQ poin akibat kekurangan gizi dan
penurunan produktivitas diperkirakan antara 20% - 30%.
Salah satu gejala dari penderita KEP ialah hepatomegali, yaitu pembesaran hepar yang
terlihat sebagai pembuncitan perut. Anak yang menderita tersebut sering pula terkena infeksi
cacing. Kedua gejala pembuncitan perut dan infeksi cacing ini diasosiasikan dalam pendapat
oleh para ibu-ibu di Indonesia bahwa anak yang perutnya buncit menderita penyakit cacingan
dan bukan karena kurang energi protein.
Dalam pandangan ahli gizi KEP dibedakan gambaran penyakit kwashiorkor, marasmus
dan marasmus kwashiorkor. Kwashiorkor adalah penyakit KEP dengan kekurangan protein
sebagai penyebab dominan, marasmus adalah gambaran KEP dengan defisiensi energi yang
kronis dan marasmus kwashiorkor adalah kombinasi defisiensi kalori dan protein pada berbagai
variasi.
Upaya terhadap penanggulangan KEP merupakan tindakan-tindakan preventif.
Pencegahan dan penanggulangan KEP tidak cukup ditinjau dari aspek pangan atau makananya.
Di masyarakat sering terdapat anggapan bahwa masalah kurang gizi adalah sama dengan
kekurangan pangan. Upaya yang langsung ke sasaran berupa pelayanan dasar gizi, kesehatan
dan pendidikan. Sedangkan upaya tidak langsung meliputi : a) jaminan ketahan pangan, b)
memperluas kesempatan kerja untuk meningkatkan daya beli, dan c) membangun dan
meningkatkan industri kecil dan menengah untuk memberikan kesemapatan pada penduduk
miskin meningkatkan pendapatan.

F. PENCEGAHAN MASALAH GIZI
1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat pertama mencakup promosi kesehatan dan perlindungan khusus
dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat terhadap hal-hal yang
dapat mencegah terjadinya kekurangan gizi. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat
pertama :



16 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

a. Hanya memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan.
b. Memberikan MP-ASI setelah umur 6 bulan.
c. Menyusui diteruskan sampai umur 2 tahun.
d. Menggunakan garam beryodium
e. Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A, tablet Fe) kepada anak balita.
f. Pemberian imunisasi dasar lengkap.
2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat kedua lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan dan deteksi
dini untuk menemukan kasus gizi kurang di dalam populasi. Pencegahan tingkat kedua
bertujuan untuk menghentikan perkembangan kasus gizi kurang menuju suatu perkembangan
ke arah kerusakan atau ketidakmampuan. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat
kedua :
a. Pemberian makanan tambahan pemulihan (MP-ASI) kepada balita gakin yang berat
badannya tidak naik atau gizi kurang.
b. Deteksi dini (penemuan kasus baru gizi kurang) melalui bulan penimbangan balita di
posyandu.
c. Pelaksanaan pemantauan wilayah setempat gizi (PWS-Gizi).
d. Pelaksanaan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi buruk.
e. Pemantauan Status Gizi (PSG)
3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan tingkat ketiga ditujukan untuk membatasi atau menghalangi
ketidakmampuan, kondisi atau gangguan sehingga tidak berkembang ke arah lanjut yang
membutuhkan perawatan intensif. Pencegahan tingkat ketiga juga mencakup pembatasan
terhadap segala ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat masalah gizi sudah
terjadi dan menimbulkan kerusakan. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat ketiga:
a. Konseling kepada ibu-ibu yang anaknya mempunyai gangguan pertumbuhan.
b. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada
anak.
c. Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan puskesmas dan rumah sakit.
d. Pemberdayaan keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi.
e. Melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan koordinasi lintas program dan lintas sektor
dengan cara memberikan bantuan pangan, pengobatan penyakit, penyediaan air bersih, dan
memberikan penyuluhan gizi.



17 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari pembahasan diatas adalah sebagai berikut.
1. SISTEM PENCERNAAN
Proses pencernaan makanan sangat penting sebelum makanan diabsorbsi atau diserap
oleh dinding saluran pencernaan. Zat-zat makanan tidak dapat diserap dalam bentuk alami dan
tidak berguna sebagai zat nutrisi sebelum proses pencernaan awal. Zat makanan akan
dipersiapkan untuk diabsorbsi melelui proses proses tertentu dengan bantuan enzim-enzim
tertentu dalam saluran pencernaan. Hasil dari proses tersebut kemudian disebarkan keseluruh
otot menjadi enetgi untuk beraktivitas.
2. NUKLEOTIDA
a. Asam nukleat tersusun atas monomer-monomer berupa nukleotida, yang masing-masing
terdiri atas sebuah gugus fosfat, sebuah gula pentosa, dan sebuah basa N.
b. Nukleotida Purin terdiri atas AMP (Adenosin Monofosfat) dan GMP (Guanosin
Monofosfat).
c. Nukleotida Pirimidin terdiri atas UMP (Uridin Monofosfat), CTP (Cytosin Triphospat),
dan TMP (Tymidine Monofosfat).
d. Tahapan sintesis Asam Nukleat berturut-turut dimulai dari nukleosida, nukleotida, dan
kemudian asam nukleat DNA atau RNA.
e. Tahapan degradasi asam nukleat dalam tubuh berturut-turut menghasilkan nukleotida,
nukleosida, basa purin dan pirimidin, serta asam urat.
3. PENGANTAR GIZI
WHO mengartikan ilmu gizi sebagai ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada
organisme hidup.Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi.Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor
risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian.Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status
gizi memberikan hasil yang lebih tepat dan objektif daripada menilai konsumsi pangan dan
pemeriksaan lain. Pemeriksaan yang sering digunakan adalah teknik pengukuran kandungan
berbagai gizi dan substansi kimia lain dalam darah dan urine.






18 | 1 2 0 2 9 0 6 6 _ H A N I F F A T K H U R R O C H M A N _ U A D _ Y O G Y A K A R T A

DAFTAR PUSTAKA

Girindra, A. 2006. Biokimia 1. Gramedia. Jakarta.
Kuchel, P., G. B. Ralston. 2006. Biokimia. Schaum. Terjemahan. Erlangga. Jakarta.
Ngili, Yohanis. 2009. Biokimia : Struktur dan Fungsi Biomolekul. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Nur, M. A. 2003. Konsep Modern Biokimia I. PAU-Ilmu Hayat IPB. Bogor.
Poedjiadi, A., F.M. T. Supriyanti. 2006. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakaerta.
Stryer, L. 2003. Biokimia. Vol 2. Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Wirahadikusumah, M. 2001. Biokimia : Proteina, Enzima & Asam Nukleat. ITB. Bandung.