Anda di halaman 1dari 29

undefined

ABSTRAK
Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari reaksi kimia aldehid dan keton serta
penggunaan aldehid dan keton untuk indentifikasi senyawa.
Pada uji tollens menggunakan larutan AgNO
3
dan NaOH. Untuk uji iodoform
menggunakan I
2
dalam KI dan NaOH. Pengujian pembentukan damar digunakan NaOH
pekat. Uji natrium Bisulfit menggunakan Natrium bisulfit jenuh sebagai reagennya. Reaksi
asam karboksilat menggunakan KMnO
4
dan asam sulfat pekat. Reaksi pembentukan
fenilhidrazin menggunakan fenilhidrazin.
Pada uji tollens, reaksi positif akan ditandai dengan adanya endapan cermin perak. Uji
iodoform akan ditandai dengan adanya perubahan warna larutan menjadi kuning dan
terbentuk endapan. Uji pembentukan damar ditandai dengan warna larutan berubah menjadi
kuning hingga coklat. Uji adisi natrium bisulfit ditandai dengan adanya gumpalan putih.
Reaksi pembentukan asam karboksilat untuk membuktikan apakah aldehid atau keton dapat
dioksidasi dengan KMnO
4
encer. Reaksi pembentukan fenilhidrazin ditandai dengan
terbentuknya kristal.

Kata kunci: aldehid, keton, tollens, fenilhidrazin.








4.1. Pendahuluan
4.1.1. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah:
1. Mempelajari reaksi kimia aldehid dan keton
2. Penggunaan aldehid dan keton untuk identifikasi senyawa

4.1.2. Latar Belakang
Aldehid dan keton adalah contoh senyawa-senyawa karbonil yang banyak ditemukan di
alam bebas. Aldehid adalah senyawa organik yang karbon karbonilnya selalu berikatan
dengan paling sedikit satu atom hidrogen. Sedangkan keton adalah senyawa organik yang
karbon karbonilnya dihubungkan dengan 2 karbon lain.
Aldehid dan keton memiliki banyak manfaat. Contoh senyawa aldehid adalah formalin
yang sering digunakan dalam pengawetan zat organik. Sedangkan contoh senyawa keton
adalah aseton yang dapat digunakan untuk pembersih kuteks.
Dalam industri kimia, keton digunakan sebagai pelarut dan zat antara. Dengan
banyaknya manfaat dari aldehid dan keton serta eratnya hubungan dengan teknik kimia, maka
percobaan ini penting untuk dilakukan. Kemahiran dalam menguji suatu senyawa juga
sangat diperlukan dalam sebuah industri. Hal ini juga melatarbelakangi pentingnya dilakukan
percobaan aldehid dan keton ini.









4.2. Dasar Teori
Gugus karbonil ialah satu atom karbon dan sato atom oksigen yang dihubungkan dengan
ikatan ganda dua. Gugus ini merupakan salah satu gugus fungsi yang paling lazim di alam
dan terdapat dalam karbohidrat, lemak, protein, dan steroid. Gugus fungsi ini dijumpai dalam
senyawa aldehid dan keton (Wilbraham dan Matta, 1992: 82).
Aldehida adalah persenyawaan dimana gugu karbonil diikat oleh satu gugus alkil/aril.
O
||
R CH
Rumus ini sering disebut RCOH
Keton adalah persenyawaan dimana gugus karbonil diikat oleh dua gugus alkil/aril.
R C R

O
Rumus ini sering disingkat RCOR (Respati,1986: 183).
Perhatikan kemiripan strukturnya. Karena keduanya mengandung gugus karbonil, sifat
kimia aldehid dan keton serupa. Baik aldehid maupun keton sangat reaktif, tetapi aldehida
biasanya lebih reaktif dibanding keton (Wilbraham dan Matta, 1992: 83).
Aldehid berbeda dengan keton karena aldehid memiliki sebuah atom hidrogen yang
terikat pada gugus karbonilnya. Hal tersebut menyebabkan aldehid sangat mudah
teroksidasi. Sebagai sontoh, etanal, CH
3
CHO, sangat mudah dioksidasi menjadi etanoat,
CH
3
COOH, atau ion etanoat, CH
3
COO
-
. Sedangkan keton tidak memiliki atom hidrogen
tersebut sehingga tidak mudah dioksidasi. Keton hanya bisa dioksidasi dengan menggunakan
agen pengoksidasi kuat yang memilki kemampuan untuk memutus ikatan-ikatan karbon
(Anonim
2
,2008).
Aldehid dan keton lazim didapat dalam sistem makhluk hidup. Gula ribosa dan hormon
betina progesteron merupakan dua contohaldehid dan keton yang penting secara biologis.
Banyak aldehid dan keton mempunyai bau yang khas yang memperbedakan umumnya
aldehid berbau merangsang dan keton berbau harum. Misalnya, trans-sinamaldehid adalah
komponen utama minyak kayu manis dan enantiomer-enentiomer, karbon yang menimbulkan
bau jintan dan tumbuhan permen (Fessenden dan Fessenden, 1986: 1).
Formaldehid, suatu gas tak berwarna, mudah larut dalam air. Larutan 40% dalam air
dinamakan formalin, yang digunakan dalam pengawetan cairan dan jaringan-jaringan.
Formaldehid juga digunakan dalam pembuatan resin sintetik. Polimer dari formaldehida,
yang disebut paraformaldehida, digunakan sebagai antiseptik dan insektisida. Asetaldehid
adalah bahan baku penting dalam pembuatan asam asetat, anhidrida asetat dan esternya, yaitu
etil asetat (Petrucci, 1993: 273).
Aseton adalah keton yang paling penting. Ia merupakan cairan volatil (titik didih 56
o
C)
dan mudah terbakar. Aseton adalah pelarut yang baik untuk macam-macam senyawa
organik, banyak digunakan sebagai pelarut pernis, lak dan plastik. Tidak seperti kebanyakan
pelarut organik lain, aseton bercampur dengan air dalam segala perbandingan. Sifat ini
digabungkan dengan volatilitasnya membuat aseton sering digunakan sebagai pengering alat-
alat gelas laboratorium. Alat-alat gelas laboratorium yang masih basah dibilas dengan
mudah (Petrucci, 1993: 272).
Aldehid dan keton banyak terdapat di alam. Beberapa contohnya adalah:
H H
C=CCHO


Sinamaldehida (sinamon)





OH
CH3

CH3



O
Testosteron (hormon seks jantan)
(Petrucci, 1993: 272).
Reaksi-reaksi yang terjadi pada aldehid dan keton antara lain:
1. Reaksi Oksidasi
Keberadaan atom hidrogen tersebut menjadikan aldehid sangat mudah teroksidasi. Atau
dengan kata lain, aldehid adalah agen pereduksi yang kuat.







Karena keton tidak memiliki atom hidrogen istimewa ini, maka keton sangat sulit dioksidasi.
Hanya agen pengoksidasi sangat kuat seperti larutan kalium manganat(VII) (larutan kalium
permanganat) yang bisa mengoksidasi keton itupun dengan mekanisme yang tidak rapi,
dengan memutus ikatan-ikatan C-C.
2. Reaksi Adisi
Reaksi adisi natrium bisulfit atau natriun hodrogensulfit ini hanya berlangsug dengan baik
untuk aldehid. Untuk keton, salah satu gugus hidrokarbon yang terikat pada gugus karbonil
harus berupa gugus metil. Gugus-gugus besar yang terikat pada gugus karbonil terlibat dalam
proses reaksi yang berlangsung.
Aldehid atau keton dikocok dengan sebuah larutan jenuh dari natrium hidrogensulfit dalam
air. Jika produk telah terbentuk, produk tersebut akan terpisah sebagai kristal putih.
Untuk etanol, persamaan reaksinya adalah:

dan untuk propanon, persamaan reaksinya adalah:

Reaksi Iodoform
Reaksi iodoform bisa digunakan untuk mengidentifikasi keneradaan sebuah gugus CH
3
CO
dalam aldehid dan keton.

(Anonim
1
, 2007).












4.3. Metodologi Percobaan
4.3.1. Alat dan Deskripsi Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
- Tabung reaksi
- Tutup tabung reaksi
- Rak tabung reaksi
- Gelas beker 500 mL dal 1 L
- Kompor listrik
- Pipet tetes
- Penjepit tabung raksi

1

2

3

Keterangan:
1. Pipet tetes
2. Tabung reaksi
3. Rak tabung reaksi



Gambar 4.1. Rangkaian Alat Uji Aldehid dan Keton



2

1

3

4


Gambar 4.2. Rangkaian Alat Pemanasan
4.3.2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:


- Propanon
- Sikloheksanon
- Asetaldehid
- Benzandehil
- Eter
- Dietil eter
- Es batu
- Aquadest
- Amoniak 10 %
- Natrium bisulfit
- AgNO
3
5 %
- NaOH 10 %
- NaOH 6 M
- Fenilhidrazin
- KI
- KMnO
4


Keterangan:
1. Tutup tabung raksi
2. Tabung reaksi
3. Beker gelas
4. Kompor listrik

- H
2
SO
4
pekat


4.3.3. Prosedur Percobaan
4.3.3.1. Uji Tollens (Uji Cermin Perak)
1. Memasukkan 10 tetes AgNO
3
5 % ke dalam tabung reaksi.
2. Menambahkan 2 tetes NaOH 10 % dan 2 tetes Amoniak 10 % lalu mengocok.
3. Menambahkan 10 tetes propanon, mengocok dan membiarkan selama 5 menit.
4. Memanaskan jika tidak ada reaksi.
5. Mengamati perubahan yang terjadi.
6. Mengulangi prosedur di atas untuk sampel sikloheksanon, benzaldehid, asetaldehid, eter
dan dietil eter.

4.3.3.2. Uji Iodoform
1. Memasukkan 10 tetes propanon dan 10 tetes KI ke dalam tabung reaksi.
2. Menambahkan NaOH 6M tets demi tetes sampai larutan iodin berwarna kuning muda.
3. Mendiamkan selama 5 menit, memanaskan jika tidak ada perubahan lalu mengamati
perubahan yang terjadi.
4. Mengulangi prosedur untuk sampel sikloheksano, benzaldehid, asetaldehid, eter, dan dietil
eter.

4.3.3.3. Pembentukan Damar
1. Memasukkan 10 tetes propanon ke dalam tabung reaksi.
2. Menambahkan 10 tetes NaOH 6M lalu memanaskannya.
3. Mengamati perubahan yang terjadi.
4. Mengulangi prosedur untuk sampel sikloheksano, benzaldehid, asetaldehid, eter, dan dietil
eter.

4.3.3.4. Uji Adisi Natrim Bisulfit
1. Menyiapkan 2 tabung reaksi.
2. Mengisi tabung 1 dengan 10 tetes Na-bisulfit
3. Menambahkan 10 tetes propanon lalu mengocok.
4. Mengamati perubahan yang terjadi.
5. Mencelupkan tabung reaksi 2 ke dalam bak es.
6. Mengisi tabung dengan 10 tetes propanon dan 10 tetes Na-bisulfit.
7. Mengocok lalu mengamati perubahan yang terjadi.
8. Mengulangi prosedur untuk sampel sikloheksano, benzaldehid, asetaldehid, eter, dan dietil
eter.

4.3.3.5. Reaksi Pembentukan Asam Karboksilat
1. Memasukkan 10 tetes propanon, 10 tetes KMnO
4
, dan 4 tetes H
2
SO
4
pekat ke dalam tabung
reaksi, lalu mengocok.
2. Mamanaskan lalu mengamati perubahan bau yang terjadi.
3. Mengulangi prosedur untuk sampel sikloheksano, benzaldehid, asetaldehid, eter, dan dietil
eter.

4.3.3.6. Reaksi Pembentukan Fenilhidrazin
1. Memasukkan 10 tetes propanon dan 10 tetes reagen fenilhidrazin ke dalam tabung reaksi,
lalu mengocok.
2. Mengamati perubahan yang terjadi.
3. Mengulangi prosedur untuk sampel sikloheksano, benzaldehid, asetaldehid, eter, dan dietil
eter.

4.4. Hasil dan Pembahasan
4.4.1. Data Hasil Pengamatan
Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Uji Tollens
No Langkah Kerja Hasil
1


2






3
Memasukkan 10 tetes AgNO
3
5 %, 2 tetes
NaOH 10 %, 2 tetes Amoniak 10 % ke
dalam tabung reaksi
Menambahakan 10 tetes sampel:
- Propanon
- Sikoloheksanon
- Benzaldehid
- Asetaldehid
- Eter
- Dietil eter
Memanaskan larutan selama 5 menit
- Propanon
- Sikoloheksanon
- Eter
- Dietil eter
Larutan berwarna bening
dengan endapan berwarna
hitam.

Larutan berwarna hitam keruh
Larutan berwarna hitam keruh
Terbentuk cermin perak
Terbentuk cermin perak
Larutan berwarna hitam keruh
Larutan berwarna hitam keruh

Terbentuk cermin perak
Terbentuk cermin perak
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan

Tabel 4.2. Hasil Pengamatan Uji Iodoform
No Langkah Kerja Hasil
1


2
Mencampurkan 10 tetes sampel, 10 tetes KI
dan tetes demi tetes NaOH 6M ke dalam
tabung reaksi
Memanaskan selama 5 menit:
- Propanon
- Sikoloheksanon

- Benzaldehid

- Asetaldehid

- Eter
- Dietil eter
Larutan berwarna kuning



Tidak ada perubahan
Terbentuk 2 lapisan
berwarna kuning
Terbentuk 2 lapisan
berwarna bening
Terbentuk 2 lapisan; atas:
kuning, bawah: jingga
Berwarna kuning muda
Berwarna kuning muda

Tabel 4.3. Hasil Pengamatan Pembantukan Damar
No Langkah Kerja Hasil
1

2
Memasukkan 10 tetes sampel dan 10 tetes
NaOH 6M
Memanaskan selama 5 menit:
- Propanon
- Sikoloheksanon
- Benzaldehid

- Asetaldehid
Larutan berwarna bening


Tidak ada perubahan
Berwarna kuning keruh
Terbentuk 2 lapisan; atas:
keruh, bawah: bening
Terbentuk 2 lapisan; atas:



- Eter
- Dietil eter
kuning, bawah: coklat.
Diantaranya terdapat garis
berwarna coklat.
Berwarna kuning tua
Berwarna kuning muda

Tabel 4.4. Hasil Pengamatan Uji Adisi Na-bisulfit
No Langkah Kerja
Hasil
Tabung 1
(suhu ruangan)
Tabung 2
(suhu rendah)
1

2
Memasukkan 10 tetes sampel
dalam tabung
Menambahkan 10 tetes Na-
bisulfit, mengocok:
- Propanon
- Sikoloheksanon
- Benzaldehid


- Asetaldehid



- Eter

- Dietil eter

Larutan berwarna
bening


Tetap
Tetap
Terbentuk gumpalan
berwarna putih susu
Terbentuk gumpalan
sepertijelly berwarna
putih susu
Larutan tidak
bercampur
Larutan tidak
bercampur
Larutan berwarna
bening


Tetap
Berbuih
Terbentuk 2
lapisan; lapisan
bawah cembung
Larutan mengental



Larutan tidak
bercampur
Larutan tidak
bercampur

Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Pembentukan Asam Karboksilat
No Langkah Kerja Hasil
1

2
Memasukkan 10 tetes KMnO
4
, 4 tetes
H
2
SO
4
ke dalam tabung reaksi
Menambahkan 10 tetes sampel lalu
memanaskan selama 5 menit:
- Propanon

- Sikoloheksanon

- Benzaldehid

- Asetaldehid

- Eter

- Dietil eter

Larutan berwarna ungu



Berwarna coklat keruh
Berbau asam
Berwarna kuning keruh
Berbau asam
Berwarna coklat tua
Berbau asam
Berwarna kuning
Berbau asam
Berwarna coklat tua
Tidak berbau asam
Berwarna coklat tua
Tidak berbau asam

Tabel 4.6. Hasil Pengamatan Pembentukan Fenilhidrazin
No Langkah Kerja Hasil
1

2
Memasukkan 10 teets fenilhidrazin ke dalam
tabung reaksi
Menambahkan 10 tetes sampel:
- Propanon
- Sikoloheksanon
- Benzaldehid

- Asetaldehid
- Eter
- Dietil eter
Larutan berwarna bening


Tidak terjadi perubahan
Tidak terjadi perubahan
Terbentuk 2 lapisan; atas:
bening, bawah: keruh
Larutan berwarna kuning
Tidak bereaksi
Tidak bereaksi
4.4.2. Pembahasan
4.4.2.1.Uji Tollens (Uji Cermin Perak)
Pada percobaan ini dilakukan uji tollenz yang bertujuan untuk mengetahui tingkat
oksidasi pada aldehid dan keton untuk membentuk asam karboksilat. Reagen tollens
merupakan campuran dari perak, ammonium hihdroksida, dan basa kuat. Ion kompleks dan
perak ammonium terbentuk dari reaksi AgNO
3
dan NaOH 10 % akan mudah dioksidasi oleh
aldehid yang digunakan sehingga akan mengendap pada permukaan dan membentuk cermin
yang disebut cermin perak.
Dari pengamatan yang telah dilakukan, sampel aldehid yaitubenzaldehid dan
asetaldehid langsung terbentuk cermin perak. Hal ini dikarenakan tollens yang bereaksi
berdasarkan oksidasi suatu aldehid dengan ion (Ag
+
) dalam basa amonia, suatu oksidator
lemah, hsailnya adalah suatu karboksilat dan logam-logam peraknya akan membentuk
endapan, yaitu cermin perak.
Suatu senyawa keton susah untuk dioksidasi. Senyawa ini hanya mampu dioksidasi
pada kondisi reaksi yang lebih keras. Oleh karena itulah pada percobaan ini dilakukan
pemanasan, untuk sampel sikloheksanon dan propanon terbentuk cermin perak ketika
dipanaskan. Pada sampel eter dan dietil eter tidak terbentuk cermin perak bahkan ketika
dipanaskan. Hal ini dikarenakan sifat senyawa eter yang tidak dapat dioksidasi.
Reaksi yang terjadi adalah:
Propanon
O
CH
3
CCH
3
+ 2 [Ag(NH
3
)
2
OH] + 2OH
-

[O]
tidak ada pers. Reaksi
Sikloheksanon
O
C + 2 [Ag(NH
3
)
2
OH] + 2OH
-

[O]
tidak ada pers. Reaksi

Benzaldehid
O O
C + 2 [Ag(NH
3
)
2
OH] + 2OH
-
C + 2Ag +
H NH
4
+

3NH
3
+ H
2
O
Asetaldehid
O O
CH
3
C + 2 [Ag(NH
3
)
2
OH] + 2OH
-
CH
3
C + 2Ag + 3NH
3
+ H
2
O
H H

Eter
R-O-R + 2 [Ag(NH
3
)
2
OH] + 2OH
-

[O]

Dietil eter
C2H5-O-C2H5 + 2 [Ag(NH
3
)
2
OH] + 2OH
-

[O]



4.4.2.2.Uji Iodoform
Reaksi iodoform digunakan untuk mengdentifikasi keberadaan sebuah gugus metil
keton (CH
3
CO) dalam aldehid dan keton, yang ditandai dengan terbentuknya endapan
berwarna kuning. Propanon dan asetaldehid adalah senyawa yang memiliki gugus metil
keton (CH
3
CO), namun ketika sampel ini direaksikan dengan I
2
dan NaOH, hanya sampel
asetaldehid yang terbentuk endapan. Hal ini dikarenakan aldehid memiliki kereaktifan pada
nukleofil yang lebih tinggi daripada keton. Pada sampel sikloheksanon, benzaldehid, eter,
dan dietil eter tidak terbentuk endapan, hanya warna larutan yang berubah menjadi kuning.
Hal ini dikarenakan pada senyawa sikloheksanon, benzaldehid, eter, dan dietil eter tidak
terdapat gugus metil keton. Sedangkan warna kuning pada larutan terjadi karena sampel
yang bereaksi dengan iodin yang berwarna kuning.
Reaksi yang terjadi adalah:
Propanon
O
||
CH
3
C CH
3
+ 3 I
2
+ OH
-

Sikloheksanon

= O + 3 I
2
+ OH
-


Asetaldehid
O O
||
-OH
- ||
CH
3
C H + 3 I
2
CH3C O
-
+ CHI
3


- H
2
O

Benzandehid
O
||
CH + 3 I
2
+ OH
-


Eter
R O R + 3 I
2
+ OH
-

Dietil eter
CH
3
CH
2
O CH
2
CH
3
+ 3 I
2
+ OH
-




4.4.2.3.Pembentukan Damar
Uji pembentukan damar ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya halogenasi
alfa pada sampel. Damar terbentuk karena adanya aldol yang mempunyai gugus alddehid-
alkohol. Pembentukan tersebut ditandai dengan warna larutan yang berubah menjadi kuning
dan terbentuk endapan.
Reaksi pembentukan damar terjadi pada golongan aldehid karena karbonilnya
mengikat langsung pada atom H. Dari hasil pengamatan, hanya sampel asetaldehid yang
menunjukkan reaksi positif. Meskipun benzaldehid juga termasuk senyawa aldehid, namun
tidak ada endapan pada saat direaksikan dengan NaOH. Hal ini disebabkan karena struktur
benzaldehid yang siklik sehingga ketika direaksikan dengan NaOH senyawa ini membentuk
kondensasi aldol yang kompleks dan cenderung sulit untuk memutus ikatannya sehingga
tidak terbentuk endapan. Sedangkan pada sampel keton dan eter tidak terjadi reaksi positif
karena senyawa keton dan eter tidak memiliki gugus karbonil yang mengikat langsung atom
H.
Reaksi yang terjadi adalah:
Propanon
O
||
CH
3
C CH
3
+ NaOH
Sikloheksanon


= O + NaOH

Asetaldehid
O O
|| ||
CH
3
C H + NaOH CH
3
C ONa + CH
3
OH
Benzandehid
O
||
CH + NaOH


Eter
R O R + NaOH
Dietil eter
CH
3
CH
2
O CH
2
CH
3
+ NaOH


4.4.2.4.Uji Adisi Natrium Bisulfit
Pada percobaan ini dilakukan dua tahap pengujian, yaitu pengujian pada suhu ruangan
dan pengujian pada suhu rendah. Tujuan dari dilakukannya dua tahap pengujian ini adalah
untuk membandingkan hasil pengujiannya. Umumnya reaksi pada suhu rendah berlangsung
lambat.
Reagen yang digunakan adalah reagen natrium bisulfit. Uji positif untuk reagen ini
ditandai dengan terbentuknya kristal-kristal. Reaksi adisi natrium bisulfit ini hanya
berlangsung baik pada senyawa aldehid. Sedangkan pada senyawa keton, reaksi adisi






natrium bisulfit akan berlangsung jika salah satu gugus hidrokarbon yang terikat pada gugus
karbonil berupa gugus metil.
Dari percobaan yang dilakukan, reaksi positif ditunjukkan oleh sampel aldehid, baik
pada suhu ruangan maupun pada suhu rendah. Untuk sampel propanon, meskipun ia
memiliki gugus metil yang terikat pada gugus karbonilnya, namun tidak ada reaksi ketika
dicampur dengan reagen natrium bisulfit, baik pada suhu ruangan maupun pada suhu rendah.
Hal ini disebabkan keton memiliki kereaktifan yang rendah terhadap serangan nukleofil.
Sampel sikloheksanon yang diuji pada suhu rendah terbentuk buih-buih. Buih-buih ini
terbentuk karena terperangkapnya atom hidrogen yang akan menguap, yang terjadi karena
reaksi dengan reagen natrium bisulfit. Untuk sampel eter, baik pada pengujian pada suhu
ruangan maupun suhu rendah tidak terjadi reaksi. Hal ini disebabkan oleh eter yang tidak
memiliki gugus metil keton.




Reaksi yang terjadi adalah:
Propanon
O
||
CH
3
C CH
3
+ NaHSO
3

Sikloheksanon
= O + NaHSO
3

Asetaldehid
O O
|| |
CH
3
C H + NaHSO
3
CH
3
C SO
3
-
Na
+

H
Benzandehid
O OH
||
CH + NaHSO
3
CH

SO
3
-
Na
+


Eter
R O R + NaHSO
3

Dietil eter
CH
3
CH
2
O CH
2
CH
3
+ NaHSO
3



4.4.2.5.Pembentukan Asam Karboksilat
Pada percobaan ini dilakukan pengujian untuk mengetahui senyawa apa saja yang
dapat dioksidasi dengan menggunakan kalium permanganat. Pada sampel ditambahkan
larutan kalium permanganat dan asam sulfat. Penambahan asama sulfat disini berfungsi
sebagai katalisator dalam suasana asam.
Senyawa aldehid mudah dioksidasi, sehingga ketika dilakukan pengujian, pada
sampel asetaldehid dan benzaldehid tercium bau asam yang menunjukkan bahwa terbentuk
asam karboksilat. Sedangkan pada senyawa keton, pada dasarnya tidak mudah dioksidasi,
tetapi dari hasil percobaan terciuam bau asam. Hal ini dapat disebabkan karena tercampurnya
larutan dengan suatu zat pengoksidasi kuat hingga terjadilah oksidasi yang membuat
terciumnya bau asam. Pada sampet eter, tidak ada bau asam yang tercium, karena eter tidak
dapat teroksidasi.
Reaksi yang terjadi adalah:
Propanon
O O
|| MnO4
-
, H
+
||
CH
3
C CH
3
+ X
2

kalor
CH
3
COH + CH
3
X
2

Sikloheksanon
MnO4
-
, H
+

= O + X
2

kalor
tidak ada persamaan reaksi

Asetaldehid
O O
|| MnO4
-
, H
+
||
CH
3
C H CH
3
C OH
Kalor
Benzandehid
O O
|| MnO4
-
, H
+
||
CH
kalor
COH

Eter
MnO4
-
, H
+

R O R

kalor

Dietil eter
MnO4
-
, H
+

CH
3
CH
2
O CH
2
CH
3

kalor



4.4.2.6.Reaksi Fenilhidrazin
Fenilhidrazin merupakan senyawa nitrogen yang mengandung amina. Reaksi
fenilhidrazin merupakan mekanisme dari reaksi adisi dan eliminasi. Ketika reagen
fenilhidrazin direaksikan dengan sampel aldehid, keton dan eter, hanya sampel asetaldehid
yang menunjukkan reaksi positif, yang ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi
berwarna kuning. Aldehid bersifat dapat direaksikan dengan suatu senyawa nitrogen bertipa
NH
2
- NH
2
. Walaupun benzaldehid termasuk senyawa aldehid, tetapi saat direaksikan dengan
suatu senyawa aldehid, tetapi saat pengujian tidak ada reaksi yang terjadi. Hal ini disebabkan
oleh terlalu sedikitnya penambahan reagen sehingga reaksi berjalan lambat dan ketika
pengambilan data, sampel masih belum bereaksi dengan reaksi reagen. Untuk sampel eter,
tidak ada reaksi yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh terlalu sedikitnya penambahan reagen
sehingga reaksi berjalan lambat dan ketika pengambilan data, sampel masih belum bereaksi
dengan reagen. Untuk sampel eter, tidak ada reaksi yang terjadi. Hal ini dikarenakan sifat
senyawa eter yang tidak bereaksi dengan senyawa nitrogen bertipa NH
2
- NH
2
. Begitu pula
halnya dengan senyawa keton yang tidak ada reaksi ketika dilakukan pengujian.
Reaksi yang terjadi adalah:
Propanon
O
H
+

CH
3
CCH
3
+ NH
2
-NH- -H
2
O
Sikloheksanon
H
+

= O + NH
2
-NH- -H
2
O

Asetaldehid
O
|| H
+

CH
3
C H + NH
2
-NH- CH
3
CH2-N-NH-
-H
2
O
Benzandehid
O
|| H
+

CH + NH
2
-NH- -H
2
O



Eter
H
+

R O R

+ NH
2
-NH-

-H
2
O

Dietil eter
H
+

C
2
H
5
O C
2
H
5

+ NH
2
-NH-

-H
2
O











4.5. Penutup
4.5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah:
1. Aldehid lebih mudah dioksidasi daripada keton yang ditandai dengan langsung
terbentuknya cermin perak pada uji tollens.
2. Uji positif iodoform ditandai dengan terbentuknyaendapan berwarna kuning yang
menandakan adanya gugus metil keton. Pada uji ini, hanya sampel asetaldehid yang
menunjukkan hasil positif.
3. Pembentukan damar ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi kuning dan
terbentuknya endapan. Pada uji ini hanya sampel asetaldehid yang menunjukkan reaksi
positif.
4. Reaksi fenilhidrazin merupakan mekanisme dari adisi dan eliminasi dimana hanya sampel
asetaldehid yang menunjukkan hasil yang positif.
5. Reaksi adisi natrium bisulfit pada aldehid dan keton digunkan dalam pemurnian aldehid
dan keton. Baik pada suhu ruangan maupun suhu rendah, sampel aldehid menunjukkan
reaksi positif. Sampel slikloheksanon bereaksi hanya pada suhu rendah.
6. reaksi pembentukan asama karboksilat tidak lain adalah reaksi oksidasi pada aldehid dan
keton. Pada sampel aldehid dan keton tercium bau asam, sedangkan pada sampel eter tidak
ada tercium bau asam.

4.5.2. Saran
Saran untuk percobaan ini adalah:
1. Praktikan hendaknya teliti ketika mengamati perubahan yang terjadi.
2. Praktikan sebaiknya mempelajari perubaha-perubahan yang akan terjadi terlebih dahulu.














BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Aldehida dan keton adalah dua dari berbagai jenis senyawa yang mengandung gugus
karbonil. Reaksi yang terjadi karena adanya karbonil kelompok termasuk reaksi adisi
nukleofilik dan Kondensasi katalis basa. Aldehida juga mudah teroksidasi, yang menyediakan
cara mudah untuk membedakan mereka dari keton. Grup karbonil dalam aldehida dan keton
sangat terpolarisasi; yang karbon karbonil dikenakan biaya parsial positif yang substansial
dan rentan terhadap serangan nukleofilik. Selanjutnya, karena hibridisasi sp2 relatif terbuka
untuk serangan. Karena karbonil tidak mengandung gugus lepas yang baik, selain terjadi
daripada substitusi. Aldehida dan keton adalah senyawa polar, namun yang murni senyawa
tidak mengalami ikatan hidrogen sebagai alkohol lakukan. Jadi titik didih aledehydes dan
keton lebih rendah dari alkohol, tetapi lebih tinggi dari alkana atau eter. berat senyawa
karbonil molekul rendah yang larut dalam air.
Struktur umum aldehida yaitu R-CHO. Struktur umum keton yaitu R-CO-R. aldehida dan
keton banyak terdapat dalam sistem makhluk hidup. Seperti gula ribosa dan hormon
progesteron yang merupakan contoh aldehida dan keton. Aldehida dan keton mempunyai bau
yang khas, yang pada umumnya aldehida berbau merangsang sedangkan keton berbau harum.
Aldehida dan keton sangat reaktif, tetapi biasanya aldehida lebih reaktif dibanding keton.
Reaksi yang menyebabkan penjenuhan pada ikatan rangkap di sebut reaksi adisi (reaksi
penjenuhan). Pada reaksi adisi, satu ikatan rangkap menjadi terbuka. Sementara itu pereaksi
yang mengadisi terputus menjadi dua gugus yang kemudian terikat pada ikatan rangkap yang
terbuka tersebut. Apabila pereaksi yang mengadisi bersifat polar gugus yang lebih positif
terikat pada oksigen, sedangkan gugus yang lebih negatif terikat pada karbon. Titik pusat
reaktivitas dalam aldehida dan keton ialah ikatan pi dari gugus karbonilnya. Seperti alkena,
aldehida dan keton mengalami adisi reagensia kepada ikatan pi-nya.
1.2. TUJUAN
Dari percobaan ini diharapkan mahsiswa dapat mengetahui sifat aldehid dan keton alifatik
terhadap beberapa pereaksi.

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1. DASAR TEORI
Salah satu gugus fungsi yang kita yaitu aldehid. Aldehid adalah suatu senyawa yang
mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen.
Nama IUPEC dari aldehida diturunkan dari alkana dengan mengganti akhiran ana dengan
al. Nama umumnya didasarkan nama asam karboksilat ditambahkan dengan akhiran dehida
(Petrucci, 1987).
Aldehid dinamakan menurut nama asam yang mempunyai jumlah atom C sama pada nama
alkana yang mempunyai jumlah atom sama. Pembuatan aldehida adalah sebagai berikut:
oksidasi alkohol primer, reduksi klorida asam, dari glikol, hidroformilasi alkana, reaksi
Stephens dan untuk pembuatan aldehida aromatik (Fessenden, 1997).
Salah satu reaksi untuk pembuatan aldehid adalah oksidasi dari alkohol primer. Kebanyakan
oksidator tak dapat dipakai karena akan mengoksidasi aldehidnya menjadi asam karboksilat.
Oksidasi khrompiridin komplek seperti piridinium khlor kromat adalah oksidator yang dapat
merubah alkohol primer menjadi aldehid tanpa merubahnya menjadi asam karboksilat
(Petrucci, 1987).
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada
dua gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil. Keton juga dapat dikatakan senyawa
organik yang karbon karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lainnya. Keton tidak
mengandung atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil (Wilbraham, 1992).
Pembuatan keton ynag paling umum adalah oksidasi dari alkohol sekunder. Hampir semua
oksidator dapat dipakai. Pereaksi yang khas antara lain khromium oksida (CrO3), phiridinium
khlor kromat, natrium bikhromat (Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4) (Respati,
1986).
Reaksi-reaksi pada aldehida dan keton adalah reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Reaksi
oksidasi untuk membedakan aldehida dan keton. Aldehid mudah sekali dioksidasi, sedangkan
keton tahan terhadap oksidator. Aldehida dapat dioksidasi dengan oksidator yang sangat
lemah. Sedangkan reaksi reduksi terbagi menjadi tiga bagian yaitu reduksi menjadi alkohol,
reduksi menjadi hidrokarbon dan reduksi pinakol (Wilbraham, 1992).
Sifat-sifat fisik aldehid dan keton, karena aldehid dan keton tidak mengandung hidrogen yang
terikat pada oksigen, maka tidak dapat terjadi ikatan hidrogen seperti pada alkohol.
Sebaliknya aldehid dan keton adalah polar dan dapat membentuk gaya tarik menarik
elektrostatik yang relatif kuat antara molekulnya, bagian positif dari sebuah molekul akan
tertarik pada bagian negatif dari yang lain (Fessenden, 1997).
Senyawa aldehida dan keton yaitu atom karbon yang dihubungkan dengan atom oksigen oleh
ikatan ganda dua (gugus karbonil). Aldehida adalah senyawa organic yang karbon
karbonilnya (karbon yang terikat pada oksigen) selalu berikatan dengan paling sedikit satu
hydrogen.
Keton adalah senyawa organic yang karbon karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon
lain.
Aldehida dan keton sangat reaktif, tetapi biasanya aldehida lebih reaktif dibanding keton.
Reaksi yang menyebabkan penjenuhan pada ikatan rangkap disebut reaksi adisi (reaksi
penjenuhan). Pada reaksi adisi, satu ikatan rangkap menjadi terbuka. Sementara itu pereaksi
yang mengadisi terputus menjadi dua gugus yang kemudian terikat pada ikatan rangkap yang
terbuka tersebut. Apabila pereaksi yang mengadisi bersifat polar gugus yang lebih positif
terikat pada oksigen, sedangkan gugus yang lebih negatif terikat pada karbon.
Titik pusat reaktivitas dalam aldehida dan keton ialah ikatan pi dari gugus karbonilnya.
Seperti alkena, aldehid dan keton mengalami adisi reagensia kepada ikatan pi-nya.
Reaktivitas relatif aldehida dan keton dalam reaksi adisi sebagian dapat disebabkan oleh
banyaknya muatan positif pada karbon karbonilnya, makin besar muatan itu akan makin
reaktif. Bila muatan positif parsial ini tersebar ke seluruh ,olekul, maka senyawaan karbonil
itu kurang reaktif dan lebih stabil. Gugus karbonil distabilkan oleh gugus alkil di dekatnya
yang bersifat melepaskan elektron. Suaru keton dengan gugus R lebih stabil dibandingkan
suatu aldehida yang hanya memiliki satu gugus R.

Aldehida dan keton bereaksi dengan berbagai senyawa, tetapi pada umumnya aldehida lebih
reaktif dibanding keton. Kimiawan memanfaatkan kemudahan oksidasi aldehida dengan
mengembangkan beberapa uji untuk mendeteksi gugus fungsi ini (Willbraham,1992). Uji
Tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan mana yang termasuk
senyawa aldehida dan mana yang termasuk senyawa keton. Selain dengan menggunakan uji
tollens untuk membedakan senyawa aldehida dan keton dapat juga menggunakan Uji Fehling
dan Uji Benedict. Aldehida lebih mudah di oksidasi dibanding keton. Oksidasi aldehida
menghasilkan asam dengan jumlah atom karbon yang sama (Hart, 1990). Hampir setiap
reagensia yang mengoksidasi alkohol juga dapat suatu aldehida.
Pereaksi Tollens, pengoksidasi ringan yang digunakan dalam uji ini, adalah larutan basa
dariperak nitrat. Larutannya jernih dan tidak berwarrna. Untuk mencegah pengendapan ion
perak sebagai oksida pada suhu tinggi, maka ditambahkan beberapa tetes larutan amoniak.
Amoniak membentuk kompleks larut air dengan ion perak (Willbraham,1992).
Aldehida di oksidasi menjadi anion karboksilat, ion Ag+ dalam reagensia Tollens direduksi
menjadi logam Ag. Uji poitif ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding dalam
tabung reaksi. Reaksi dengaan pereaksi tollens mampu mengubah ikatan C-H pada aldehida
menjadi ikatan C-O. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton selanjutnya keton
tidak dapat di oksidasi lagi menggunakan pereaksi tollens. Hal ini disebabkan karena keton
tidak mempunyai atom hidrogen yang menempel pada atom karbonil. Keton hanya dapat
dioksidasi dengan keadaan reaksi yang lebih keras dibandingkan dengan aldehida. Ikatan
antara karbon karbonil dan salah satu karbonnya putus, memberikan hasil-hasil oksidasi
dengan jumlah atom karbon yang lebih sedikit daripada bahan keton asalnya. Kekecualian
dalam oksidasi keton, karena jumlah atom karbonnya tetap sama. Misalnya sikloheksanon
dioksidasi secara besar=besaran menjadi asam dipat, bahan kimia yang sangat penting dalam
pembuatan nylon.
Reaksi-reaksi pada aldehida dan keton yaitu :
Oksidasi Aldehid dan Keton
Anda akan mengingat dari pembahasan lain di topik aldehid keton bahwa perbedaan antara
aldehid dan keton adalah keberadaan sebuah atom hidrogen yang terikat pada ikatan rangkap
C=O dalam aldehid, sedangkan pada keton tidak ditemukan hidrogen seperti ini.

Keberadaan atom hidrogen tersebut menjadikan aldehid sangat mudah teroksidasi. Atau
dengan kata lain, aldehid adalah agen pereduksi yang kuat. Karena keton tidak memiliki atom
hidrogen istimewa ini, maka keton sangat sulit dioksidasi. Hanya agen pengoksidasi sangat
kuat seperti larutan kalium manganat(VII) (larutan kalium permanganat) yang bisa
mengoksidasi keton itupun dengan mekanisme yang tidak rapi, dengan memutus ikatan-
ikatan C-C.
Dengan tidak memperhitungkan agen pengoksidasi yang kuat ini, anda bisa dengan mudah
menjelaskan perbedaan antara sebuah aldehid dengan sebuah keton. Aldehid dapat dioksidasi
dengan mudah menggunakan semua jenis agen pengoksidasi; sedangkan keton tidak.
Hasil yang terbentuk tergantung pada apakah reaksi dilakukan pada kondisi asam atau basa.
Pada kondisi asam, aldehid dioksidasi menjadi sebuah asam karboksilat. Pada kondisi basa,
asam karboksilat tidak bisa terbentuk karena dapat bereaksi dengan logam alkali. Olehnya itu
yang terbentuk adalah garam dari asam karboksilat.
.
Persamaan setengah reaksi untuk oksidasi aldehid berbeda-beda tergantung pada kondisi
reaksi (apakah asam atau basa).
Pada kondisi asam, persamaan setengah reaksinya adalah:

dan pada kondisi basa:

Persamaan-persamaan setengah reaksi ini selanjutnya digabungkan dengan persamaan
setengah reaksi dari agen pengoksidasi yang digunakan. Pada masing-masing contoh berikut,
kami berasumsi bahwa anda telah mengetahui apakah yang terbentuk adalah aldehid atau
keton. Ada banyak hal lain yang juga dapat memberikan hasil positif. Dengan
mengasumsikan bahwa anda mengetahui apa yang harus terbentuk (aldehid atau keton), pada
masing-masing contoh, keton tidak memberikan hasil positif. Hanya aldehid yang
memberikan hasil positif.
2.2. KARAKTERISTIK BAHAN
Alkohol
Senyawa alkohol atau alkanol dapat dikatakan senyawa alkana yang satu atom Hnya diganti
dengan gugus OH (hidroksil). Rumus umum senyawa alkohol adalah ROH dimana R
adalah gugus alkil. Untuk itu rumus umum
golongan senyawa alkohol juga dapat ditulis CnH2n+1 OH.
Berdasarkan perbedaan letak terikatnya gugus OH pada atom C. Alkohol dibedakan menjadi
tiga yatiu :
Alkohol primer yaitu jika gugus OH terikat pada atom C primer (atom C yang mengikat 1
atom C yang lain secara langsung )
Contoh :
CH3 CH2 CH2 CH2 OH
n-Butanol
Alkohol sekunder yaitu jika gugus OH terikat pada atom C sekunder (atom C yang
mengikat secara langsung dua atom C yang lain).
Contoh :
CH3 CH2 CH CH3
OH
2-Butanol
Alkojol tersier yaitu jika gugus OH terikat pada atom C tersier ( atom C yang mengikat
secara langsung tiga buah atom C yang langsung )
Contoh :
CH3
CH3 CH CH2 CH3
OH
2-metil-2-butanol
Etanol
Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja, adalah
sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol
yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat
psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol
adalah salah satu obat rekreasi yang paling tua.
Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus
empiris C2H6O. Ia merupakan isomer konstitusional dari dimetil eter. Etanol sering disingkat
menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5).
Fermentasi gula menjadi etanol merupakan salah satu reaksi organik paling awal yang pernah
dilakukan manusia. Efek dari konsumsi etanol yang memabukkan juga telah diketahui sejak
dulu. Pada zaman modern, etanol yang ditujukan untuk kegunaan industri dihasilkan dari
produk sampingan pengilangan minyak bumi.
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang ditujukan untuk
konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan,
dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok
umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan
sebagai bahan bakar.
Etanol telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah sebagai bahan pemabuk dalam
minuman beralkohol. Residu yang ditemukan pada peninggalan keramik yang berumur 9000
tahun dari Cina bagian utara menunjukkan bahwa minuman beralkohol telah digunakan oleh
manusia prasejarah dari masa Neolitik.
Etanol dan alkohol membentuk larutan azeotrop. Karena itu pemurnian etanol yang
mengandung air dengan cara penyulingan biasa hanya mampu menghasilkan etanol dengan
kemurnian 96%. Etanol murni (absolut) dihasilkan pertama kali pada tahun 1796 oleh Johan
Tobias Lowitz yaitu dengan cara menyaring alkohol hasil distilasi melalui arang.
Asam asetat glasial
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal
sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris
C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau
CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak
berwarna, dan memiliki titik beku 16.7C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format.
Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi
sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan
baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti
polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan
kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah
tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun,
kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun
diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari
sumber hayati.
Singkatan yang paling sering digunakan, dan merupakat singkatan resmi bagi asam asetat
adalah AcOH atau HOAc dimana Ac berarti gugus asetil, CH3C(=O). Pada konteks asam-
basa, asam asetat juga sering disingkat HAc, meskipun banyak yang menganggap singkatan
ini tidak benar. Ac juga tidak boleh disalahartikan dengan lambang unsur Aktinium (Ac).
Sifat : cair, TL 17oC, TD 118oC, larut dalam H2O dengan sempurna. Penggunaan : sintesis
anhidrat asam asetat, ester, garam, zat warna, zat wangi, bahan farmasi, plastik, serat buatan,
selulosa dan sebagai penambah makanan.


Aseton
Aseton memiliki Sifat-sifat : berupa cairan tak berwarna, mudah menguap, pelarut yang baik.
Penggunaan : sebagai pelarut
Amoniak
Amoniak adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati berupa
gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia). Walaupun amonia memiliki
sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di bumi, amonia sendiri adalah senyawa kaustik
dan dapat merusak kesehatan. Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Pekerjaan Amerika
Serikat memberikan batas 15 menit bagi kontak dengan amonia dalam gas berkonsentrasi 35
ppm volum, atau 8 jam untuk 25 ppm volum.[5] Kontak dengan gas amonia berkonsentrasi
tinggi dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan kematian.[5] Sekalipun amonia
di AS diatur sebagai gas tak mudah terbakar, amonia masih digolongkan sebagai bahan
beracun jika terhirup, dan pengangkutan amonia berjumlah lebih besar dari 3.500 galon
(13,248 L) harus disertai surat izin.[6]
Amonia yang digunakan secara komersial dinamakan amonia anhidrat. Istilah ini
menunjukkan tidak adanya air pada bahan tersebut. Karena amonia mendidih di suhu -33 C,
cairan amonia harus disimpan dalam tekanan tinggi atau temperatur amat rendah. Walaupun
begitu, kalor penguapannya amat tinggi sehingga dapat ditangani dengan tabung reaksi biasa
di dalam sungkup asap. "Amonia rumah" atau amonium hidroksida adalah larutan NH3
dalam air. Konsentrasi larutan tersebut diukur dalam satuan baum. Produk larutan komersial
amonia berkonsentrasi tinggi biasanya memiliki konsentrasi 26 derajat baum (sekitar 30
persen berat amonia pada 15.5 C).[7] Amonia yang berada di rumah biasanya memiliki
konsentrasi 5 hingga 10 persen berat amonia.
Amonia umumnya bersifat basa (pKb=4.75), namun dapat juga bertindak sebagai asam yang
amat lemah (pKa=9.25).



Sifat-sifat
Massa jenis and fase
0.6942 g/L, gas.[3]

Kelarutan dalam air
89.9 g/100 ml pada 0 C.

Titik lebur
-77.73 C (195.42 K)

Temperatur autosulutan
651 C
Titik didih
-33.34 C (239.81 K)
Keasaman (pKa)
9.25
Kebasaan (pKb)
4.75
Pereaksi Tollens
Pereaksi Tollens sering disebut sebagai perak amoniakal, merupakan campuran dari AgNO3
dan amonia berlebihan. Gugus aktif pada pereaksi tollens adalah Ag2O yang bila tereduksi
akan menghasilakan endapan perak. Endapan perak ini akan menempel pada tabung reaksi
yang akan menjadi cermin perak. Oleh karena itu Pereaksi Tollens sering juga disebut
pereaksi cermin perak.
Pereaksi Fehling
Larutan Fehling dan larutan Benedict adalah varian dari larutan yang secara ensensial sama.
Keduanya mengandung ion-ion tembaga(II) yang dikompleks dalam sebuah larutan
basa.Larutan Fehling mengandung ion tembaga(II) yang dikompleks dengan ion tartrat dalam
larutan natrium hidroksida. Pengompleksan ion tembaga(II) dengan ion tartrat dapat
mencegah terjadinya endapan tembaga(II) hidroksida.Larutan Benedict mengandung ion-ion
tembaga(II) yang membentuk kompleks dengan ion-ion sitrat dalam larutan natrium
karbonat.
Naftol
Senyawa naftol dibuat dengan cara yang serupa dengan pembuatan fenol, melalui peleburan
dengan alkali pada senyawa asam natalena sulfonat. Di samping dengan cara tersebut di atas,
naftol dapat juga dapat dibuat dari naftilamina dengan car hidrolisis dalam lingkungan asam,
dengan suhu dan tekanan tertentu. Untuk membuat senyawa senyawa naftalen yang
tersubtitusi pada posisi alfa, cara yang dilakukan adalah serangkaian reaksi yang
menggunakan senyawa awal @-nitronaftalen.
BAB III
METODE
3.1. ALAT DAN BAHAN




Gelas ukur Pipet tetes Tabung reaksi dan rak






Cawan penguapan Gelas kimia Penangas air
Bahan-bahan yang di gunakan :
1. asetaldehida
2. aseton
3. NaOH 10%
4. alkohol
5. @-naftol
6. HCl pekat
7. formaldehida
8. Etanol 5%
9. Amoniak pekat
10. Asam asetat glacial
11. Reagen tolens
12. Reagen fehling (benedict)
3.2. PROSEDUR KERJA
a. Reagen Tollens



- Menambahkan beberapa tetes larutan formaldehida
- Memanaskan perlahan-lahan
- Jika tabung reaksi tidak bersih tidak akan diperoleh cermin perak tetapi akan diperoleh
endapan hitam logam perak
- Dilakukan juga pekerjaan diatas untuk 1 tetes aseton atau sikloheksanon




b. Reagen fehling



- Di masukkan dalam tabung reaksi masing-masing 10 ml
Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3
+ formaldehida + asetaldehida + aseton
- Di didihkan
- Di amati




c. Uji sodium hidroksida



- Di masukkan dalam tabung reaksi masing-masing 5 ml
Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3
+ formaldehida + asetaldehida + aseton
- Di didihkan
- Di amati






4. Uji amoniak



- Di masukkan dalam cawan penguapan
- Di tambahkan larutan amoniak pekat berlebih
- Di uapkan
- Di ulangi untuk 1ml asetaldehida dan 1ml aseton





5. uji @-naftol


- Di masukkan dalam tabung reaksi yang berisi 2 ml asam asetat dan 2 tetes HCl pekat
- Di tambahkan 1 tetes asetaldehida
- Di kocok
- Di panaskan
- Di didihkan
- Di dinginkan
- Di kocok
- Di tambahkan 1 tetes etil alkohol















BAB IV
HASIL PENGAMATAN

4.1. HASIL PENGAMATAN
1. Uji sodium hidrooksida
Perlakuan Pengamatan
Tabung 1
NaOH + Formaldehid
dipanaskan
Larutan bening
Larutan bening (tidak ada perubahan)
Tabung 2
NaOH + asetaldehid
dipanaskan
Larutan berwarna kuning
Larutan berubah menjadi coklat dan terdapat endapan
Tabung 3
NaOH + aseton
dipanaskan
Larutan bening
Larutan bening

2. Uji Fehling
Perlakuan Pengamatan
Tabung 1
10 mL fehling + formaldehid
dipanaskan
larutan berwarna biru
larutan berwarna biru
Tabung 2
10 mL fehling + asetaldihid

dipanaskan
Larutan berwarna biru dan terdapat biru dan terdapat endapan
Larutan berwarna hijau dan terdapat endapan merah bata
Tabung 3
10 mL fehling + aseton
dipanaskan
larutan berwarna biru
larutan tidak ada perubahan









3. Uji - naftol
Perlakuan Pengamatan
Larutan -naftol 0,2 gr + 2 mL asam asetat glacial + HCl pekat + 1 tetes astaldehida.

Campuran diatas dikocok dan dimasukkan dalam tabung reaksi.

Campuran dipanaskan selama 5 menit pada suhu 60oC.
Larutan berwarna merah muda

Selanjutnya campuran didinginkan dan dikocok agar terbentuik kristal Setelah didinginkan
terbentuk kristal warna hitam

4. Uji Tollens
Perlakuan Pengamatan
5 mL pereaksi tollens ditambahkan 3 tetes asetaldehida.
Larutan berwarna silver
Larutan dipanaskan.

Terbentuk cermin perak

Untuk formaldehida ditambahkan 6 mL pereaksi tollens, lalu dipanaskan
Terbentuk cermin perak

Aseton + 5 mL pereaksi tollens lalu dipanaskan Terbentuk cermin perak


5. Uji Amoniak
Perlakuan Pengamatan
1 mL formaldehida dimasukkan kedalam cawan penguapan + NH3 pekat

Dipanaskan campuran dan diuapkan pada cawan penguapan sampai kering
Terbentuk Kristal putih

1 mL aseton dimasukkan kedalam cawan penguapan + NH3 pekat
Dipanaskan sampai kering
Terbentuk Kristal kekuning kuningan

1 mL asetaldehida dimasukkan kedalam cawan penguapan + NH3 pekat
Dipanaskan campuran tersebut sampai kering Terbentuk Kristal merah bata

4.2. PEMBAHASAN
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada
sebuah atau dua buah atom hidrogen. Nama IUPAC dari aldehida diturunkan dari alkana
dengan mengganti akhiran ana dengan al. Nama umumnya didasarkan nama asam
karboksilat ditambahkan dengan akhiran dehida.
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada
dua gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil. Keton juga dapat dikatakan senyawa
organik yang karbon karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lainnya. Keton tidak
mengandung atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil.
Aldehida dan keton bereaksi dengan berbagai senyawa, tetapi pada umumnya aldehida lebih
reaktif dibanding keton. Kimiawan memanfaatkan kemudahan oksidasi aldehida dengan
mengembangkan beberapa uji untuk mendeteksi gugus fungsi ini (Willbraham,1992). Uji
Tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan mana yang termasuk
senyawa aldehida dan mana yang termasuk senyawa keton. Selain dengan menggunakan uji
tollens untuk membedakan senyawa aldehida dan keton dapat juga menggunakan Uji Fehling
dan Uji Benedict. Aldehida lebih mudah di oksidasi dibanding keton. Oksidasi aldehida
menghasilkan asam dengan jumlah atom karbon yang sama (Hart, 1990). Hampir setiap
reagensia yang mengoksidasi alkohol juga dapat suatu aldehida.
a. Uji Tollens
Pereaksi Tollens, pengoksidasi ringan yang digunakan dalam uji ini, adalah larutan basa
dariperak nitrat. Larutannya jernih dan tidak berwarrna. Untuk mencegah pengendapan ion
perak sebagai oksida pada suhu tinggi, maka ditambahkan beberapa tetes larutan amoniak.
Amoniak membentuk kompleks larut air dengan ion perak (Willbraham,1992).
Pada percobaan ini langkah pertama yang kita lakukan adalah membuat reagen tollens.
Kemudian menambahkan 5 mL reagen tollens dengan beberapa tetes larutan formaldehid,
selanjutnya dipanaskan secara perlahan-lahan selama beberapa menit. Setelah dipanaskan
ternyata terjadi perubahan warna pada larutan yaitu terbentuk cermin perak atau terdapat
endapan logam perak. Hal yang sama pula ketika reagen tollens ditambahkan dengan
asetaldehid dan aseton terjadi perubahan warna pada larutan yaitu endapan logam perak. Uji
tollens ini merupakan uji untuk membedakan larutan apakah yang terkandung didalam
campuran apakah aldehid atau keton. Dan dari percobaan ini yaitu terbentuknya cermin perak
dapat membuktikan bahwa pada campuran larutan tersebut adalah positif mengandung
senyawa aldehid yaitu formaldehid. Begitu pula pada uji tollens untuk asetaldehid dan aseton,
kedua-duanya terbentuk cermin perak maka pada campuran tersebut positif mengandung
aldehid (asetaldehid) dan keton (aseton). Namun ketika kita mendapatkan endapan hitam
logam perak setelah dipanaskan berarti tabung reaksi yang kita gunakan tidak bersih,
sehingga kita tidak mendapan endapan cermin perak.
b. Uji Fehling
Langkah awal pada percobaan ini yaitu memasukkan 10 mL reagen fehling yang warnanya
bening kedalam masing-masing tabung reaksi yang baru dan bersih. Kemudian pada tabung 1
menambahkan beberapa tetes larutan formaldehid, setelah ditambahkan terjadi perubahan
warna pada campuran larutan yaitu warna biru. Dan ketika dipanaskan tidak terjadi
perubahan warna. Warna biru ini menunjukkan bahwa pada larutan tersebut positif
mengandung senyawa aldehid. Pada tabung 2 kita juga menambahkan beberapa tetes larutan
asetaldehid setelah ditambahkan warna berubah menjadi warna biru dan terdapat endapan dan
ketika dipanaskan terjadi perubahan warna yaitu warna hijau dan terdapat endapan merah
bata, berarti pada tabung 2 juga positif mengandung aldehid. Dan pada tabung terakhir ketika
ditambahkan dengan aseton terjadi perubahan warna seperti pada tabung sebelumnya yaitu
warna biru. Sehingga dari hasil akhir ini tabung 3 juga positif mengandung senyawa aseton.
Pada percobaan ini kita juga dapat menggunakan larutan benedict. Karena pada dasarnya
larutan fehling dan larutan benedict adalah varian dari larutan yang secara ensensial sama.
Keduanya mengandung ion-ion tembaga(II) yang dikompleks dalam sebuah larutan basa.
Larutan Fehling mengandung ion tembaga(II) yang dikompleks dengan ion tartrat dalam
larutan natrium hidroksida. Pengompleksan ion tembaga(II) dengan ion tartrat dapat
mencegah terjadinya endapan tembaga(II) hidroksida.Larutan Benedict mengandung ion-ion
tembaga(II) yang membentuk kompleks dengan ion-ion sitrat dalam larutan natrium
karbonat. Lagi-lagi, pengompleksan ion-ion tembaga(II) dapat mencegah terbentuknya
sebuah endapan kali ini endapan tembaga(II) karbonat.



c. Uji Sodium Hidroksida
Langkah pertama yang kita lakukan adalah memasukkan 5 mL larutan NaOH yang warnanya
bening kedalam masing-masing 3 tabung reaksi. Kemudian pada tabung pertama kita
menambahkan beberapa teres larutan formaldehid. Setelah ditambahkan tidak terjadi
perubahan warna pada larutan, warna tetap bening. Dan setelah dipanaskan juga tidak terjadi
perubahan warna. Pada tabung kedua setelah ditambahkan dengan asetaldehid beberapa tetes
terjadi perubahan warna yaitu larutan menjadi warna kuning, dan setelah dipanaskan warna
berubah menjadi coklat dan terbentuk endapan. Pada tabung terakhir setelah ditambahkan
dengan aseton beberapa tetes tidak terjadi perubahan warna yaitu warna tetap bening, begitu
pula setelah dipanaskan.
d. Uji Amoniak
Pada percobaan ini langkah awal yang kita lakukan adalah memasukkan 1 mL larutan
formaldehid kedalam cawan penguapan. Selanjutnya menambahkan larutan amoniak pekat
sebanyak 2 mL. Kemudian menguapkan sampai kering pada penangas air. Setelah diuapkan
terbentuk kristal putih padat. Kristal putih ini adalah heksametiletanatetramina. Selanjutnya
kita mengulangi percobaan ini dengan menambahkan 1 mL larutan formaldehid dengan 2 mL
larutan amoniak pekat, setelah diuapkan terbentuk kristal kuning kekuning-kuningan.
Kemudian kita menambahkan 1 mL larutan aseton dengan 2 mL larutan amoniak pekat.
Setelah diuapkan ternyata terbentuk kristal merah bata.
e. Uji -naftol
Pada percobaan ini langkah pertama yang kita lakukan adalah menambahkan 0,2 gr -naftol
dengan 2 mL asam asetat glasial dan 2 tetes HCl pekat dan dimasukkan kedalam tabung
reaksi. Selanjutnya kita menambahkan 1 tetes asetaldehid, kemudian dikocok. Setelah itu
memanaskannya selama 5 menit pada 60C. Setalah dipanaskan larutan berubah menjadi
warna merah muda. Selanjutnya campuran larutan tersebut didinginkan sambil dikocok,
setelah dikocok selama beberapa menit ternyata secara perlahan-lahan terbentuk kristal warna
hitam.



BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN
Dari percobaan yang kita lakukan maka dapat diperoleh beebrapa kesimpulan antara lain :
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada
sebuah atau dua buah atom hidrogen. Dan keton suatu senyawa organik yang mempunyai
sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil. Keton
juga dapat dikatakan senyawa organik yang karbon karbonilnya dihubungkan dengan dua
karbon lainnya. Keton tidak mengandung atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil.
Uji Tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan mana yang
termasuk senyawa aldehida dan mana yang termasuk senyawa keton. Selain dengan
menggunakan uji tollens untuk membedakan senyawa aldehida dan keton dapat juga
menggunakan Uji Fehling dan Uji Benedict.
Pada percobaan ini kita membedakan senyawa aldehid dan keton melalui beberapa uji.
Dimana pada masing-masing senyawa ini berbeda hasil yang diperoleh ketika direaksikan
dengan reagen-reagen. Dan perbedaan inilah yang merupakan ciri khas dari masing-masing
senyawa tersebut.
Ternyata kurang bersihnya alat yang kita gunakan dapat menyebabkan kurang validnya data
atau hasil yang kita peroleh. Contohnya pada uji tollens ketika tabung reaksi tidak bersih
dapat menyebabkan endapan logam yang kita peroleh menjadi warna hitam.
5.2. KEMUNGKINAN KESALAHAN
Kesalahan dalam merangkai alat sehingga menyebabkan kesalahan pula dalam hasil
akhirnya. Dan juga kesalahan dalam membersihkan alat yang digunakan yang mengakibatkan
kurang validnya hasil yang diperoleh.
Kurang telitinya praktikkan dalam mengamti perubahan warna yang terjadi pada saat
pencampuran.
Kurang telitinya praktikkan dalam mencampurkan larutan sebagaimana prosedur kerja,
sehingga mengakibatkan kurang akuratnya hasil diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA

Team Teaching Kimia Organik. 2010. Modul Praktikum. Gorontalo:UNG
Fessenden & Fessenden, 1982. Kimia Organik Edisi ketiga jilid 1 dan 2. jakarta : Erlangga.
Drs Parlan M.Si 2003. Kimia Organik I. Malang JICA
http://www.cliffsnotes.com/study_guide/Reactions-of-Aldehydes-and-
Ketones.topicArticleId-23297,articleId-23281.html
http://faculty.swosu.edu/william.kelly/pdf/ketone.pdf

Anda mungkin juga menyukai