Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

PENGENALAN MUTAN

Tanggal praktikum : 12 September 2014
Tangga pengumpulan : 19 September 2014

disusun oleh:
Jessica Esther
10613067
Kelompok 5

Asisten:
Mia Audina (10611026)



PROGRAM STUDI BIOLOGI
SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Mutasi adalah perubahan materi genetik (DNA dan RNA) dan proses yang
menyebabkan terjadinya perubahan tersebut. Sedangkan mutan adalah organisme
yang menunjukkan fenotip baru sebagai hasil terjadinya mutasi. Dampak utama
dari mutasi adalah munculnya keragaman. Keragaman itulah yang akan menjadi
sumber variasi. Variasi akibat mutasi dapat memberikan beberapa dampak bagi
kehidupan. Seperti misalnya munculnya alel letal yang menyebabkan kematian
pada organisme sebelum dilahirkan atau sebelum dewasa. (Nusantari, 2011)
Mutasi tidak selamanya akan membawa dampak buruk bagi kehidupan
manusia. Ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan dari adanya mutasi. Seperti
misalnya dalam pemuliaan tanaman. Secara umum, untuk mendapatkan sifat yang
lebih baik pada tanaman dilakukan persilangan secara konvensional. Namun
dengan adanya mutasi dan kemajuan teknologi saat ini, dengan sinar-X dapat
dihasilkan mutan apel yang lebih baik dari induknya (Soedjono, 2003)
Pada praktikum ini, pengenalan mutan akan dilakukan dengan
menggunakan mutan Drosophila melanogaster. Untuk dapat melakukan
pengamatan dengan baik, maka diperlukan pengetahuan akan mutasi-mutasi yang
terjadi pada mutan Drosophila melanogaster. Mutan pada Drosophila
melanogaster cukup banyak variasinya sehingga cukup baik sebagai sarana
pembelajaran pengenalan mutasi. Pembelajaran mengenai mutasi pada
Drosophila melanogaster dapat mengembangkan penelitian terhadap gen dan
mutasinya pada sepesies lain, khususnya manusia (Campbell, 2011).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini antara lain :
1. Menentukan beberapa jenis mutan Drosophila melanogaster
2. Menentukan ciri-ciri fenotip mutan Drosophila melanogaster dibandingkan
dengan wild-type

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur dan ciri-ciri Drosophila melanogaster
Drosophila melanogaster atau yang lebih dikenal dengan lalat buah
merupakan spesies dari genus Drosophila. Seperti kebanyakan spesies dari
genus Drosophila, Drosophila melanogaster membutuhkan kelembapan, suhu
kamar (tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin), dan nutrisi. Nutrisi pada
genus Drosophila bergantung pada spesiesnya (Kohler, 1994).
Drosophila melanogaster normal (wild type) memiliki mata majemuk
berwarna merah dengan bentuk bulat agak elips. Pada bagian atas kepala
terdapat mata oceli dan sungut yang bercabang. Kepala berbentuk elips dan
toraks berbulu dengan warna dasar putih. Sayap Drosophila melanogaster
normal berwarna transparan, ukurannya panjang (melebihi abdomen), dan sayap
bermula dari bagian toraks. Abdomennya memiliki segmen garis-garis hitam.

Gambar 2.1 Morfologi Drosophila melanogaster
(www.exploratorium.edu)
Drosophila melanogaster jantan dan betina memiliki morfologi yang
berbeda yang dapat diamati. Pada lalat jantan, ujung bagian abdomen berwarna
lebih gelap dibandingkan dengan lalat betina. Selain itu, ujung abdomen jantan
berbentuk lebih bulat dibandingkan dengan lalat betina. Umumnya lalat betina
berukuran lebih besar dengan 7 segmen abdomen dibandingkan dengan lalat
jantan yang hanya memiliki 5 segmen abdomen. Pada gambar 2.1 dapat dilihat
perbedaan lalat betina (sebelah kiri) dengan lalat jantan (sebelah kanan).

2.2 Mutasi dan Jenis-Jenisnya
Mutasi adalah perubahan pada materi genetik suatu makhluk yang terjadi
secara tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisme
hidup yang bersifat terwariskan (heritable). Mutasi juga dapat diartikan sebagai
perubahan struktural atau komposisi genom suatu jasad yang dapat terjadi
karena faktor luar (mutagen) atau karena kesalahan replikasi. Peristiwa
terjadinya mutasi disebut mutagenesis. Makhluk hidup yang mengalami mutasi
disebut mutan dan faktor penyebabnya disebut mutagen. Mutasi dapat
mempengaruhi DNA maupun kromosom.

2.2.1 Jenis-jenis Mutasi
Menurut proses terjadinya, mutasi dapat dibedakan menjadi mutasi
spontan (spontaneous mutation) dan induksi (induced mutation). Mutasi
spontan adalah mutasi yang terjadi akibat adanya sesuatu pengaruh langsung
(tanpa sadar) yang tidak tidak diketahui asalnya, baik dari lingkungan luar
maupun dari internal organisme itu sendiri. Sedangkan mutasi induksi adalah
mutasi yang terjadi akibat paparan dari sesuatu yang diketahui sumber
mutagennya, seperti sinar-X atau sinar UV.
Berdasarkan jenis sel yang mengalami mutasi, mutasi dibedakan atas
mutasi gametik atau germinal dan somatik. Mutasi gametik atau germinal
adalah mutasi yang terjadi pada sel gamet. Karena mutasi ini terjadi pada sel
gamet, mutasi tersebut akan diwariskan kepada keturunannya. Mutasi somatik
adalah mutasi yang terjadi pada sel-sel somatik. Mutasi somatik memiliki
kemungkinan untuk dapat diturunkan dan dapat pula tidak diturunkan kepada
keturunan selanjutnya.
Jenis mutasi selanjutnya dibedakan berdasarkan bagian yang bermutasi.
Mutasi dibedakan menjadi mutasi DNA, mutasi gen dan mutasi kromosom.
a. Mutasi DNA
Mutasi yang terjadi pada tingkat DNA. Ada beberapa tipe mutasi DNA,
yaitu :
- Transisi : pergantian suatu pasangan basa purin-pirimidin dengan
pasangan purin-pirimidin lain.
- Transversi : pergantian purin dan pirimidin dengan posisi yang sama
- Insersi : penambahan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu gen
- Delesi : pengurangan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu gen.
b. Mutasi Gen
Mutasi gen merupakan perubahan yang terjadi pada tingkatan gen. Dalam
mutasi gen ini, ada nukleutida DNA yang membawa suatu gen tertentu
mengalami mutasi. Mutasi gen pada dasarnya merupakan mutasi titik
(point mutation). Peristiwa yang terjadi pada mutasi gen adalah
perubahan urutan-urutan DNA. Jenis-jenis mutasi gen antara lain :
- Mutasi salah arti : perubahan suatu kode genetic yang kemudian
mengakibatkan asam amino yang terbentuk berbeda (bukan yang
seharusnya). Perubahan pada asam amino dapat menghasilkan fenotip
yang berbeda (mutan).
- Mutasi diam : perubahan suatu pasangan basa yang menimbulkan
perubahan satu kode genetik tetapi tidak mengubah asam amino yang
dihasilkan.
- Mutasi tanpa arti : perubahan kodon asam amino menjadi kodon stop.
Hal ini dapat menyebabkan adanya protein yang tidak aktif sehingga
menghasilkan fenotip mutan.
- Mutasi perubahan rangka baca : terjadi karena delesi atau insersi satu
atau lebih pasangan basa nitrogen dalam satu gen. Ribosom akan
membaca kodon berbeda dari yang semestinya dan akibatnya akan
menghasilkan fenotip mutan.
c. Mutasi kromosom
Mutasi kromosom merupakan mutasi yang terjadi karena perubahan
struktur atau jumlah kromosom. Umumnya perubahan kromosom yang
dapat diamati dikenal sebagai variasi kromosom atau mutasi besar (gross
mutation). Ada dua macam jenis mutasi kromosom, yaitu :
- Mutasi yang terjadi karena adanya perubahan jumlah kromosom
melibatkan kehilangan atau penambahan perangkat kromosom. Misalnya
adalah kasus poliploidi, aneuploidi, dan lain-lain.
- Mutasi karena perubahan atau rusaknya struktur kromosom. Mutasi ini
disebut juga dengan istilah aberasi. Macam-macam aberasi antara lain
delesi atau defisiensi, duplikasi, translokasi, inversi, dan katenasi.

2.3 Efek mutasi pada fungsi gen dan DNA
Efek mutasi berbeda-beda bergantung dari jenis-jenis mutasi yang terjadi
seperti yang telah dijelaskan pada poin 2.2. Namun, secara umum mutasi dapat
menyebabkan fungsi dari suatu gen menjadi berubah. Perubahan pada tingkat
nukleotida akan berpengaruh pada tingkatan selanjutnya dan mempengaruhi
transkripsi dan translasi dari gen untuk ekspresi protein. Jika ekspresi protein
yang dihasilkan salah, dapat mengakibatkan gen atau DNA tidak menjalankan
fungsinya yang seharusnya. Bahkan walaupun mutasi hanya mengubah satu basa
nitrogen secara berurutan akan menyebabkan sifat yang muncul menjadi sangat
berbeda karena perubahan basa nitrogennya dapat mengubah pula protein yang
terbentuk (Scoville, 2012).

2.4 Jenis-jenis mutasi Drosophila melanogaster
Selain keadaan normal atau wildtype, Drosophila melanogaster memiliki
beberapa mutan. Perbedaan utama terkait dengan mtuasi pada warna mata, bentuk
mata, dan bentuk sayap. Ada beberapa jenis mutasi pada Drosophila
melanogaster yang dapat dilihat dari fenotipnya. Berdasarkan hal itu, maka
dikenal berbagai mutan dari D. melanogaster, yaitu : w (white), cl (clot), se
(sepia), eym (eyemissing), cu (curled), tx (taxi), m (miniature), dp (dumpy), dan
Vg (vestiglial).
Perbedaan-perbedaan fenotip pada Drosophila melanogaster tersebut
disebabkan karena telah terjadi perubahan pada genotip dengan keadaan
normalnya. Perbedaan tersebut disebut sebagai perbedaan ciri instrasepesifik atau
sering disebut dengan sebutan strain. Perbedaan-perbedaan pada genotip tersebut
selain memberikan dampak perbedaan pada perubahan fenotip juga akan
menyebabkan beberapa perbedaan dalam hal fisiologis (Karmana, 2010).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
Tabel 3.1 Alat dan Bahan
Alat Bahan
Mikroskop stereo Eter
Botol pembius (etherizer) Drosophila melanogaster normal
Cawan petri dengan kapas pada
bagian dalam tutupnya
Drosophila melanogaster mutan pada
warna mata, bentuk mata, bentuk sayap,
dan warna tubuh Kuas

3.2 Cara Kerja
Drosophila melanogaster mutan dipilih tiga dari masing-masing keompok
mutan. Kemudian D. melanogaster dibius dengan eter agar dapat dipindahkan ke
cawan petri (reetherizer). Warna tubuh, bentuk mata, dan bentuk sayap mutan
diamati dibawah mikroskop kemudian dibandingkan dengan lalat normal. Selain
diamati dengan mikroskop, mutan D. melanogaster diamati lagi dengan mata
telanjang. Jika saat pengamatan lalat mulai bergerak, lalat dibius kembali dengan
meneteskan eter di atas tutup reetherizer.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Hasil pengamatan mutan Drosophila melanogaster
No Jenis Mutan Gambar Ciri-ciri
1 Sepia

Mutasi pada warna
mata. Warna mata
menjadi coklat-
kehitaman.
2 Curled

Mutasi pada bentuk
sayap. Sayap selalu
terangkat ke atas. Tidak
pernah pada posisi rata
di atas abdomen.
3 White

Mutasi warna mata.
Warna mata menjadi
putih.
4 Black

Mutasi warna tubuh.
Warna tubuh lalat
menjadi hitam
seluruhnya. Seharusnya
hanya berwarna hitam
pada segmennya.
5 Dumpy

Mutasi pada bentuk
sayap. Panjang sayap
hanya 2/3 dari sayap
normal.
6 Miniature

Mutasi pada bentuk
sayap. Panjang sayap
hanya mencapai ujung
abdomen.
7 Ebony

Mutasi pada warna
tubuh. Warna tubuh
lebih mengilap
dibandingkan lalat
normal dan ruas-ruas
tubuhnya berwarna
hitam.
8 Claret

Mutasi pada warna
mata. Warna mata
merah menyala, lebih
terang dari lalat normal.
9 Taxi

Mutasi pada bentuk
sayap. Sayap terangkat
ke atas dengan sudut
75.
10 Clot

Mutasi warna mata.
Warna mata menjadi
merah-bata menuju
coklat.
11 Eyemissing

Mutasi pada bentuk
mata. Mata mengecil
menjadi berbentuk titik.
Sehingga terlihat seperti
tidak memiliki mata.
12 Wildtype

Lalat normal yang tidak
mengalami mutasi.
Digunakan sebagai
kontrol/pembanding
dengan mutan.

4.2 Pembahasan
Berdasarkan praktikum dan hasil pengamatan, terdapat empat jenis mutasi
yang diamati pada Drosophila melanogaster. Keempat jenis mutasi tersebut
adalah mutasi bentuk sayap, mutasi warna mata, mutasi bentuk mata, dan mutasi
warna tubuh. Ada empat macam bentuk mutasi sayap, yaitu miniature, dumpy,
taxi, dan curled. Untuk mutasi warna mata ada empat macam, antara lain white,
claret, sepia, dan clot. Sedangkan mutasi bentuk mata hanya ada satu macam
yaitu eyemissing. Dan mutasi warna tubuh ada dua macam, yaitu black dan ebony.
Mutan miniature disebabkan oleh adanya mutasi pada kromosom 1 lokus
36 pada D. melanogaster. Mutasi pada kromosom tersebut menyebabkan mutan
miniature memiliki bentuk sayap yang tidak normal. Sayapnya lebih kecil dari
normal, hanya mencapai ujung abdomen.
Mutan dumpy terjadi karena mutasi pada kromosom 2 lokus 13. Pengaruh
dari mutasi pada kromosom tersebut menyebabkan panjang sayapnya terdegradasi
hingga hanya 2/3 dari ukuran sayap normal. Selain itu, bentuk sayapnya juga
tumpul dan berlekuk.
Bentuk sayap dari mutan taxi adalah selalu terangkat ke atas sebesar 75
dari sumbu badan. Berbeda dengan sayap normal yang tetap terletak pada sumbu
badan pada keadaan diam. Bentuk mutan ini disebabkan oleh adanya mutasi di
kromosom 3 lokus 91.
Mutasi bentuk sayap yang terakhir yaitu curled. Mutan curled terjadi
karena adanya mutasi pada kromosom 3 lokus 50. Bentuk mutan ini hampir
menyerupai taxi. Perbedaannya adalah, sayap pada curled melekuk ke atas namun
tidak membentuk sudut 75 seperti pada mutan taxi.
White merupakan mutan karena adanya mutasi warna mata. Mutasi pada
mutan ini terjadi pada kromosom 1 lokus 1,5. Warna mata menjadi putih dan
oselinya tidak berwarna.
Warna mata yang merah menyala merupakan mutasi pada warna mata.
Mutasi ini terjadi pada mutan claret. Perubahan atau mutasi terjadi pada
kromosom 3 lokus 100,7. Mutasi tersebut menyebabkan berlebihnya sekresi dari
pigmen drosopterin yang menghasilkan warna mata merah pada D. melanogaster.
Drosopterin yang berlebih menyebabkan mata lalat yang seharusnya merah
menjadi merah menyala. Lebih terang dibandingkan dengan mata lalat normal.
Mutasi warna mata yang lainnya adalah sepia. Sepia terjadi karena adanya
mutasi pada kromosom 3 lokus 26. Mutasi ini menyebabkan pigmen drosopterin
tidak aktif. Pigmen yang aktif adalah pigmen omokrom yang menghasilkan warna
coklat pada mata. Sehingga akhirnya warna mata mutan berubah menjadi coklat-
tua-kehitaman.
Jenis terakhir dari mutasi warna adalah clot. Mutasi terjadi pada kromosom
2 lokus 16,5. Mutan clot memiliki warna mata merah-bata-kecoklatan bukan
merah seperti lalat normal. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas pigmen
omokrom yang lebih dominan dibandingkan dengan pigmen drosopterin.
Eyemissing merupakan mutan dengan perubahan pada bentuk mata. Bentuk
mata jauh lebih kecil dibandingkan bentuk mata lalat normal. Mata pada mutan
eyemissing berbentuk titik kecil sehingga terlihat seperti tidak mempunyai mata.
Mutasi pada mutan ini terjadi pada kromosom 3 lokus 67,9.
Black merupakan bentuk mutasi warna tubuh. Mutan black memiliki warna
tubuh keseluruhan berwarna hitam. Kaki dan urat sayapnya juga berwarna hitam.
Black mengalami mutasi di kormosom 2 lokus 48,5.
Jenis mutan yang terakhir adalah ebony. Ebony memiliki mutasi pada
warna tubuhnya. Tubuh mutan berwarna hitam mengilap, lebih terang
dibandingkan dengan lalat normal. Mutasi terjadi pada kromosom 3 lokus 70,7
BAB V
KESIMPULAN

1. Ada empat jenis mutan Drosophila melanogaster, yaitu mutan bentuk sayap,
mutan warna mata, mutan bentuk mata, dan mutan warna tubuh
2. Ciri-ciri fenotip mutan Drosophila melanogaster dibandingkan dengan wildtype
antara lain :
a. Mutan miniature : sayapnya lebih kecil dari normal, hanya mencapai ujung
abdomen.
b. Mutan dumpy : panjang sayapnya terdegradasi hingga hanya 2/3 dari ukuran
sayap normal. Selain itu, bentuk sayapnya juga tumpul dan berlekuk.
c. Mutan taxi : sayap selalu terangkat ke atas sebesar 75 dari sumbu badan.
Berbeda dengan sayap normal yang tetap terletak pada sumbu badan pada
keadaan diam.
d. Mutan curled : sayap pada curled melekuk ke atas namun tidak membentuk
sudut 75 seperti pada mutan taxi.
e. Mutan white : warna mata menjadi putih dan oselinya tidak berwarna.
f. Mutan curled : warna mata merah menyala, lebih terang dibandingkan dengan
mata lalat normal.
g. Mutan sepia : warna mata mutan berubah menjadi coklat-tua-kehitaman.
h. Mutan clot : warna mata merah-bata-kecoklatan bukan merah seperti lalat
normal.
i. Mutan eyemissing : mata berbentuk titik kecil sehingga terlihat seperti tidak
mempunyai mata.
j. Mutan black : warna tubuh keseluruhan berwarna hitam. Kaki dan urat
sayapnya juga berwarna hitam.
k. Mutan ebony : Tubuh mutan berwarna hitam mengilap, lebih terang
dibandingkan dengan lalat normal.

DAFTAR PUSTAKA

Flagg, Raymon O. 1998. Carolina Drosophila Manual. Carolina Biological Supply
Co. : Burlington, NC
Karmana, I Wayan. 2010.PENGARUH MACAM STRAIN DAN UMUR BETINA
TERHADAP JUMLAH TURUNAN LALAT BUAH (Drosophila
melanogaster) GanecSwara. 4 (2) : 1-6
Kohler, Robert E. 1994. Lords of the fly : Drosophila genetics and the experimental
life. University of Chicago : Chicago, USA.
Nusantari, Elya. 2011. Analisis dan Penyebab Miskonsepsi pada Materi Genetika
Buku SMA Kelas XII BIOEDUKASI. 4 (2) : 72-85
Soedjono, Soertini. 2003. APLIKASI MUTASI INDUKSI DAN VARIASI
SOMAKLONAL DALAM PEMULIAAN TANAMAN Jurnal Litbang
Pertanian. 22 (2): 1-3
Warianto, Chaidar. 2011. Mutasi. http://skp.unair.ac.id/repository/Guru-
Indonesia/Mutasi_ChaidarWarianto_17.pdf (diakses pada 17/09/2014).