Anda di halaman 1dari 5

Tugas Analisis Kebijakan Kesehatan

Oleh :
Tsuwaibatul Islamiyah 131111034
Yosephin Nova E 131111036



Meningkatnya angka kematian ibu di indonesia pada tahun 2012 sebesar 359 per 100.000
KH (SDKI, 2012) sangat mengejutkan, padahal pemerintah pusat sudah sangat mendukung dan
meningkatkan upaya untuk menurunkan AKI dalam pencapaian target MDG's 2015 sebesar 102
per 100.000 KH, dengan berbagai upaya dan telah menghabiskan dana yang tidak sedikit.
Namun AKI tidak menurun malah meningkat. Banyak analisis-analisis mengenai mengapa AKI
ini meningkat mulai dari analisis kebijakan kebijakan AKI yang telah ada hingga analisis pada
teknik dan cara pengambilan sampel yang berbeda pada SDKI 2007 dan SDKI 2012. Kami
berdua juga tertarik untuk mencari tahu ada dimana letak masalahnya. Sebenarnya terlalu dini
mengkaitkan antara kebijakan jampersal dengan fenomena kenaikan AKI ini, ya kami setuju
karena jampersal baru berjalan sekitar setengah tahun dari pengambilan sampel SDKI 2012, dan
juga data SDKI tidak cocok untuk dijadikan sebagai indikator MDG's. Namun seharusnya
dengan adanya kebijakan jampersal paling tidak akan mengurangi AKI walaupun sedikit atau
tetap, bukan malah membuat AKI meningkat tinggi. Disini kami sedijkit menganalisis mengenai
kebijakan jampersal. Sebenarnya, kebijakan jampersal dari pusat sudah ada, namun memang
tidak ada kebijakan lanjutan pada tingkat daerah / kabupaten.
1. Analisis isi kebijakan jampersal
Isi kebijakan kurang detail dan juga pada jampersal semua kelahiran dijamin, tidak
dibatasi pada kelahiran keberapa sehingga secara tidak langsung meningkatkan angka kelahiran
(TFR), TFR yang meningkat akan meningkatkan angka kematian ibu jika fasilitas (provider,
sarana prasarana) tidak memadai dan mendukung. Kebijakan ini untuk tidak membatasi jumlah
kelahiran tidak masalah asal dalam pelaksanaannya jampersal sudah bisa menjamin peluang
seorang ibu untuk meninggal ketika melahirkan sangat kecil.
2. Analisis aktor
Aktor/pelaku pada tingkat pusat sangat mendukung kebijakan jampersal, ada Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/Xii/2011 tentang
juknis(petunjuk teknis) jampersal. Namun pada tingkat daerah dan kabupaten, tidak ada juknis
sebagai aturan turunannya.
Yang bahkan terjadi sepertinya pemda kurang peduli dengan angka kematian ibu.
Provider atau petugas lapangan (bidan) yang kurang termotivasi karena kecilnya intensif/
bayaran jasa pelayanan, tidak sesuai juknis tingkat pusat, ini mungkin karena adanya salah
persepsi atau miss communication pada pusat dan daerah. Terkadang bidan menjadi enggan
karena kecilnya jasa pelayanan dan lamanya pencairan dana juga harus membuat berbagai
berkas. Sehingga lama-kelamaan hal ini akan menurunkan kualitas pelayanan pada pasien
jampersal, dan pada ujungnya akan merujuk pasien ke RS. Hal ini terjadi karena pemerintah
daerah yang kurang mengerti betapa besarnya pengaruh mereka memangkas bayaran jasa
pelayanan untuk bidan pada pkm dengan hilangnya nyawa beberapa orang ibu. Hal ini juga
dampak dari desentralisasi, dan sayangnya tidak semua pemda akan perhatian pada contohnya
AKI ini. Aktor yang terlibat dalam upaya menurunkan MMR dan IMR tidak lain adalah Dinas
Kesehatan;Pemerintah Daerah; BKKBN dan SKPD lintas sektor yang terkait; SDM tenaga
kesehatan (bidan, dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya); LSM, dll
3. Analisis konteks
Selama ini pemerintah dan petugas dilapangan hanya terfokus untuk mengurangi angka
kematian ibu sebagai suatu target yang harus dicapai, ya hanya sebatas target program. Jika kita
lebih memperhatikan fenomena kematian ibu sebagai suatu nilai kemanusiaan, kepedulian,
simpati dan empati, sebagaimana sehat dan hidup merupakan hak azazi manusia, rasa tolong
menolong kita akan sangat tinggi untuk tidak membiarkan satu orang ibu pun meninggal dunia
baik karena kehamilan atau persalinan, yang mana sebenarnya sebagian besar penyebab
kematian ibu tersebut dapat dicegah. Kurangnya pencerdasan pada anggota keluarga dan ibu
hamil mengenai bahaya-bahaya kehamilan dan persalinan. Keluarga adalah orang yang paling
dekat yang paling mungkin untuk tidak membiarkan anak/istrinya meninggal karena hamil atau
melahirkan sehingga keluarga harus diberikan pencerdasan dan pengetahuan yang lebih
mengenai pencegahan kematian ibu, pertolongan pertama, apa yang benar dan yang salah untuk
dilakukan, teknik rujukan dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sehingga dapat
dihindari.
4. Analisis proses
Proses pembuatan kebijakan jampersal karena adanya komitmen pencapaian target
MDG's 2015 yaitu pada target nomor 4 dan 5, menurunkan angka kematian anak dan
meningkatkan kesehatan ibu. Dapat dikatakan munculnya karena pengaruh dari isu luar negeri.
PBB dan WHO yang gencar dengan kematian ibu, namun daerah belum menganggap kematian
ibu adalah masalah dirinya. Ibu yang meninggal dianggap sebagai takdir, yang padahal hal ini
sebenarnya dapat dicegah apalagi dengan teknologi yang sudah semakin canggih seperti saat ini.
Dari analisis di atas yang dapat dilakukan salah satunya dengan meningkatkan advokasi
pada tingkat pemerintah daerah provinsi dan kabupaten tentang betapa besarnya pengaruh
kematian ibu ini dengan indeks pembangunan manusia masa depan di daerahnya. baik advokasi
pada besar biaya jasa pelayanan dan community empowerment. Meningkatkan kerja sama lintas
sektoral dalam rangka penurunan AKI (hulu). Komitmen bersama dari tingkat pusat hingga pkm
di daerah. Dan reformasi seharusnya tidak dilakukan pada regulasi dan pembiayaan saja, namun
juga pembayaran, pelayanan, pemberdayaan masyarakat, sumberdaya obat dan alat kesehatan
dari tingkat pusat hingga kabupaten.
Program Jampersal sebenarnya cukup bagus, hanya saja perlu dicari solusi untuk
mengatasi berbagai hambatan dalam implementasinya. Perlu dibuat regulasi yang lebih detail
dalam implementasi Jampersal, keseimbangan antara jasa dengan tarif, kesesuaian tarif umum
dan tarif Jampersal. Bukan hanya masalah tarif, masalah kesiapan sumber daya manusia seperti
bidan desa, bidan praktek swasta, dokter spesialis, perawat. Kesiapan fasilitas kesehatan dan
masih banyak hambatan lainnya yang perlu dievaluasi.
Disamping itu, paket policy brief adalah suatu bentuk paket kebijakan yang sangat
diperlukan untuk menekan tingginya angka kematian ibu dan anak, artinya bahwa
pengimplementasian program kebijakan KIA tidak bisa dipotong-potong, semua harus seimbang
baik pendekatan kebijakan di hulu (pemberdayaan masyarakat, promosi kesehatan, perencanaan
lintas sektor, perbaikan gizi dan pencegahan penyakit malaria pada ibu hamil) maupun
pendekatan kebijakan di hilir (penurunan kematian bayi, strategi penurunan jumlah kematian ibu
dan bayi, penggunaan data kematian absolut, dsb). Dari hasil SDKI 2012 ada beberapa usaha
yang sangat perlu ditingkatkan seperti keberadaan fasilitas kesehatan, akses ke fasilitas
kesehatan, dan petugas kesehatan baik dalam jumlah dan kualitas. Sehingga perlu adanya
kerjasama atau koordinasi lintas sektor mulai dari DPRD, pemerintah daerah melalui SKPD
terkait seperti Dinas Kesehatan, Kantor Pemberdayaan Perempuan, Badan Pemberdayaan
Masyarakat, BKKBN, dan masyarakat sipil dalam upaya perbaikan program dan peningkatan
derajat kesehatan ibu dan anak.
Alternatif solusi yang diharapkan dapat menurunkan I nfant Mortality Rate (IMR)
dan Maternal Mortality Ratio (MMR) antara lain :
a) Menambah alokasi anggaran kesehatan untuk program UKM bidang KIA, terutama
mengenai klaim Jampersal. Penambahan nominal klaim dan penggantian klaim tidak
terlambat diserahkan kepada para bidan.
b) Mempererat kerja sama lintas sektoral dan antar SKPD baik di tingkat kabupaten/ kota
maupun tingkat provinsi
c) Regulasi sitem rujukan dari bidan ke Rumah Sakit.
d) Diberikan beberapa pembatasan tertentu bagi pemanfaatan Jampersal, sehingga
pemanfaatannya tidak overload dan tidak menciptakan kerugian di aspek lain.
e) Mengadakan pelatihan dan pembinaan kepada petugas kesehatan mengeni mekanisme
persalinan dan pembiayaan persalinan melalui Jampersal
f) Mengadakan sosialisasi program Jampersal kepada masyarakat dengan melibatkan kader-
kader kesehatan setempat
g) Melibatkan peran aktif masyarakat dalam menurunkan MMR dan IMR, salah satunya
adanya kemitraan bidan-dukun dalam pertolongan persalinan


FAKTOR KONTEKSTUAL YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN JAMPERSAL
A) Faktor situasional :
Kebijakan KIA dari pemerintah pusat yang dijalankan di provinsi sedikit terhambat
oleh kondisi dan situasi yang ada di masing-masing provinsi. Permasalahan yang muncul
adalah berhubungan dengan sumber daya manusia dan fasilitas untuk pelayanan kesehatan.
Tiap provinsi (sebagian besar) memiliki rasio bidan 1 : 1190 orang yang idelnya adalah 1 :
1000 orang, serta jumlah dokter spesialis kandungan di provinsi rat-rata hanya 31 orang
dengan jumlah penduduk yang sangat padat dan tersebar di wilayah yang sangat luas.
Fasilitas pelayanan kesehatan juga menjadi hal yang harus diperhatikan dalam penerapan
kebijakan KIA tersebut, dimana jumlah fasilitas pelayanan kesehatan di provinsi masih
belum cukup terutama untuk daerah dengan kondisi geografis tertentu. Masih banyak fasilitas
pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau oleh masyarakat karena jarak dan permasalahan
transportasi. Kondisi lain yang memperburuk keadaan adalah kompetensi bidan di daerah
dianggap masih rendah, sehingga pelayanan kesehatan yang berstandar tidak mudah
didapatkan oleh masyarakat. Situasi politik dan budaya juga tidak dapat dipisahkan, alasan
suatu daerah bukan merupakan basis dari pemegang kekuasaan sehingga masyarakatnya
harus dikorbankan dengan tidak mendapatkan suatu pelayanan dan perhatian yang maksimal.
B) Faktor struktural
Kebijakan KIA yang dijalankan di daerah merupakan kebijakan yang diturunkan
langsung dari pemerintah pusat, sehingga apapun yang berhubungan dengan proses kebijakan
mengikuti prosedur dan aturan yang ditertapkan dari pusat. Mulai dari proses penyusunan,
diterapkannya, pengawasan kebijakan hingga evaluasi dari kebijakan dilakukan dengan
aturan baku dari pusat. Selama ini kebijakan KIA sering ditetapkan secara top-down dari
pemerintah pusat sehingga kebijakan yang berasal dari daerah belum banyak muncul.
C) Faktor budaya
Kita tahu bersama bahwa belum semua daerah memenuhi kebutuhan tenaga
kesehatan, dengan demikian kerjasama dengan kader posyandu akan mendukung
pelaksanaan program KIA di daerah. Di daerah yang kurang berhasil menurunkan angka
kematian ibu dan anak, kegiatan kemitraan dilakukan dengan tenaga yang bukan
berlatarbelakang pendidikan kesehatan namun membantu persalinan di daerah. Karena di
beberapa daerah masih ada kepercayaan masyarakat kepada tenaga tersebut. Selain itu, lebih
murahnya jasa yang harus dibayar ibu kepada dukun beranak juga lebih rendah daripada
bidan tanpa jampersal.
Demikian sedikit analisis kami, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kami. Terimakasih.