Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN TUTORIAL

MINGGU 1
SENIN, 29 NOVEMBER 2010
KELOMPOK A.5

KETUA:
ANITA YULISTIANI
SEKRETARIS :
1. MAHMUDAH
2. EGA PURNAMASARI RD
ANGGOTA:
1. BAGUS SEDAYU
2. HADI OKTAFIANO
3. HARRIS PUTRA REZA
4. MERISYA
5. MIFTAHUL JANNAH AFDHAL
6. NAILATUL FADHILAH
7.NUR SYAZWANI ABU BAKAR

TUTOR
Dra. HASMIWATI, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
TA. 2010-2011 ANDALAS

MODUL 5
SKENARIO :





Langkah 1: Mengklarifikasi Terminologi dan Konsep
1. Thorax : Rongga dada tertutup kedap udara di sekeliling paru-paru.
Bagian tubuh antara leher dan diafragma yang dibungkus oleh iga.
2. Respirasi : Pertukaran O
2
dan CO
2
antara atmosfer dan sel tubuh.
3. Paru : Organ pernapasan di rongga dada yang berguna untuk aerasi darah.
4. Kista : Tumor inak yang berisi cairan
Pertumbuhan abnormal berupa pengisian kantong oleh cairan, seperti
nanah.
5. Rontgen : Proses penyinaran sinar-X atau sinar guna melihat organ di dalam
tubuh.
6. Morfologi : Cabang ilmu biologi yang mempelajari susunan bentuk yang tampak
dari makhluk hidup.
7. Respiratorius : Sistem pernapasan yang mencakup beberapa organ pernapasan.

Langkah 2: Menentukan Masalah
1. Apa sajakah komponen-komponen yang terlibat dalam sistem pernapasan?
2. Bagaimanakah pergerakan paru dalam rongga thoraks pada sistem respirasi?
3. Apa saja lapisan dinding sistem respirasi?
4. Apa saja jenis kelainan kongenital pada paru?
5. Bagaimanakah embriologi sistem respirasi?
6. Bagaimanakah morfologi susunan respiratorius?
7. Apa penyebab timbulnya kista?
8. Apa saja cara mendiagnosa kelainan paru?
9. Bagaimanakah anatomi sistem respirasi?
Langkah 3: Menganalisis Masalah Melalui Brainstoming dengan Menggunakan Prior
Knowledge
1. Komponen-komponen yang terlibat dalam sistem pernapasan, diantaranya :
Hidung
Cavum nasi
Faring
Laring
Trachea
Bronkus
Bronkiolus
Paru-paru
Alveolus
Diafragma

2. Pergerakan paru dalam rongga thoraks pada sistem respirasi :
a. Pada masa janin ?????
b. Pada saat sudah dewasa
Inspirasi
Costa naik, kemudian diafragma turun, dan rongga thoraks membesar.
Paru-paru tampak turun, dengan proyeksinya:
Mid clavicula : Paru-paru turun dari costa 6 8
Midaxilaris : Paru-paru turun dari costa 8 10
Midscapula : Paru-paru turun dari vertebra 10 12
Ekspirasi
Terjadi retraksi, yaitu berelaksasinya otot dan serat-serat elastin yang ada di paru
setelah kontraksi.

3. Lapisan dinding sistem respirasi :
a. Rongga hidung Cavum nasi, terdiri dari mukosa respirasi dan mukosa olfaktori.
b. Faring, terdiri dari epitel, jaringan ikat, dan jaringan limfoid.
c. Sinus paranesalis, terdiri dari epitel dan jaringan ikat.
d. Laring, terdiri dari epitel berlapis, jaringan ikat, tulang rawan, otot, pita suara,
epiglottis,sinus laring.
e. Trakhea, terdiri dari epitel, jaringan ikat, tulang rawan hialin.
f. Bronkus, terdiri dari epitel, jaringan ikat, tulang rawan hialin.
g. Bronkiolus regular, epitel, jaringan ikat.
h. Bronkiolus terminal, terdiri dari jaringan ikat dan epitel bersilia.

4. Kelainan congenital paru :
1. Tracheomalacia : Pelunakan trachea
2. Hyalin membrane disease : Paru-paru bayi terisi cairan amnion. Penyakit ini yang
membuat terjadinya kista paru, ada yang besar, dan ada yang kecil-kecil tapi banyak
seperti sarang lebah.
3. Congenital diaphragmatic hernia : masuknya organ abdomen dalam rongga thoraks.
Bokdalek : lubang usus masuk lewat bagian belakang.
Morgagni : lubang usus masuk lewat bagian depan.
4. Hipoklasia : perkembangan organ atau jaringan baru tidak sempurna.
5. Fistula arterio venosus pulmonal : masih adanya hubungan antara arteri dan vena
pulmonalis, sehingga menyebabkan sianosis.
6. Atresia esophagus : bagian atas esophagus berakhir dalam kantung buntu, dan
penyakit ini memiliki hubungan dengan kelainan jantung.

5. Embriologi sistem respirasi :

6. Morfologi susunan respiratorius :
Hidung, terdapat bulu hiding dan lendir yang berfungsi untuk menyaring kotoran
yang masuk bersama udara.
Trakhea, juga terdapat silia atau rambut halus yang fungsinya juga untuk
menyaring kotoran yang masuk bersama udara yang tidak tersaring oleh bulu
hidung dan lendir.

7. Penyebab kista :
a. Faktor keturunan; bila ada salah seorang dari anggota keluarga ada yang terkena kista,
maka anggota keluarga yang lain memiliki bakat kista pula. Tetapi hal ini belum
teruji secara klinis.
b. Respon paru
c. Infeksi bahan kimia
d. Pencemaran udara oleh zat dioksi
Penyebab kista paru, yaitu dilatasi pada bronkus terminalis.

8. Cara mendiagnosa kelainan paru :
a. Rontgen, dengan bantuan sinar-X atau sinar .
b. Memasukan alat endoscopy, berupa selang khusus dimasukkan ke dalam trachea.
c. Cityscan, cara mendiagnosa kelainan paru yang lebih teliti daripada rontgen, karena
tubuh dibagi secara detail
d. Inspeksi paru, dengan cara melihat pergerakan paru saat inspirasi. Paru-paru yang
normal akan simetris kiri dan kanan saat inspirasi. Tetapi apabila terdapat kelainan,
maka paru-paru tidak bergerak simetris.
e. Inspeksi trachea, dengan cara melihat keadaan trachea. Trakea lurus, menandakan
paru-paru normal. Apabila trachea tertarik ke kiri ataupun ke kanan maka
menandakan terdapat kelainan pada paru kiri ataupun paru kanan.
f. Spirometri, dengan cara mengukur kapasitas paru.
g. Perkusi

9. Anatomi sistem respirasi
Secara fungsional :
Conducting : hidung, cavum nasi, faring, laring, trakhea, bronkus,
bronkiolus.
Respiratory : bronkiolus respiratorius, alveoli.
Secara Anatomi
Traktus respiratorius bagian atas : hidung, cavum nasi, sinus paranarsal,
faring.
Traktus respiratorius bagian bawah : laring, trakhea, bronkus, bronkiolus
terminalis, bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, alveolus.











Langkah 4: Membuat sistematik dari berbagai penjelasan pada langkah 3











Langkah 5: Learning Objective
1. Mahasiswa mampu menjelaskan embriologi sistem respirasi.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi sistem respirasi.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan histologi sistem respirasi.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan kelainan kongenital sistem respirasi.
5. Mahasiswa mampu mengetahui korelasi klinis kelainan sistem respirasi.
Sistem Respirasi
Embriologi
Anatomi Histologi
Korelasi Klinis
Kelainan Kongenital