Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Didalam dunia geologi dan pertambangan untuk mengidentifikasi
suatu jenis ataupun lokasi bahan galian tidak bisa terlepas dari kemampuan
untuk memahami ganesa suatu bahan galian. Dengan pengetahuan akan
ganesa dari suatu bahan galian akan sangat membantu dalam suatu proses
pencarian/eksplorasi suatu bahan galian. Didalam ganesa bahan galian
sendiri terdapat beberapa proses pengendapan bahan galian, yaitu : endapan
primer, endapan sekunder, endapan sedimenter dan endapan metamorf.
Endapan sekunder itu sendiri adalah endapan-endapan bijih yang
tidak berasosiasi langsung dengan aktivitas magma, tetapi merupakan hasil
dari proses pelapukan-transfortasi-sedimentasi, yang merupakan proses
kimia, fisika atau gabungan dari kedua proses tersebut. Biasanya ketika
deposit mineral tersingkap kepermukaan, maka proses konsentrasi sekunder
dipermukaan mulai bekerja. Terkhusunya di Indonesia endapan sekunder
tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan , Papua.
Pada makalah kali ini yang akan dibahas adalah mengenai endapan
sekunder terutama sebaran beberapa bahan galian yang merupakan endapan
sekunder yang terdapat di Kalimantan Tengah. Endapan sekunder itu sendiri
terdiri dari endapan konsentrasi residu dan endapan konsentrasi mekanis.

2




1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, tim penulis memaparkan
beberapa rumusan masalah yang akan menjadi pokok bahasan, yaitu :
Apa yang dimaksud dengan endapan sekunder ?
Terdiri dari apa saja endapan sekunder ?
Apa saja contoh bahan galian endapan sekunder dan sebaranya di
Kalimantan Tengah ?
1.3 Tujuan penulisan
Menjeleskan mengenai apa itu endapan sekunder
Menjelaskan macam macam endapan sekunder
Mendeskripsikan bahan galian yang merupakan hasil dari endapan
sekunder?
Memberi gambaran mengenai beberapa sebaran bahan galian hasil
proses endapan sekunder ?
1.4 Manfaat Penulisan
Dengan mempelajari mengenai endapan sekunder kita bisa lebih
mengetahui mengenai proses suatu bahan galian bisa terbentuk dan juga
bisa membantu kita untuk mengidentifikasi suatu bahan galian ketika
sedang melakukan kegiatan eksplorasi dilapangan.



3



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Endapan Sekunder
Endapan sekunder adalah endapan-endapan bijih yang tidak
berasosiasi langsung dengan aktivitas magma, tetapi merupakan hasil dari
proses pelapukan-transfortasi-sedimentasi, yang merupakan proses kimia,
fisika atau gabungan dari kedua proses tersebut. Setelah suatu deposit
mineral tersingkap kepermukaan, maka proses konsentrasi sekunder
dipermukaan mulai bekerja. Pelapukan melepaskan mineral berharga dari
batuan asal (scarce rock) membentuk endapan residual atau memicu
terjadinya redistribusi elemen-elemen berharga dalam proses pengayaan
supergen. Sebagian lagi tertransportasi secara mekanik membentuk endapan
placer atau sebagian larutan yang terbawa hingga kesuatu cekungan dan
terbentuk sebagai endapan sedimen konvensional. Proses terakhir bukan
hanya menghasilkan batuan sedimen, tapi juga endapan logam dan berbagai
material industri yang bersifat ekonomik. Unsurunsur yang mudah larut
dalam air terakumulasi pada suatu lingkungan yang tertutup dimana unsure-
unsur tersebut terkonsentrasi sebagai endapan evaporasi.
Proses organik juga memegang peranan yang cukup penting, baik
sebagai katalisator maupun sebagai sumber bahan organik misalnya dalam
pembentukan endapan hidrokarbon. Proses non-magmatik lain yang
berperan dalam pembentukan deposit bahan galian adalah proses
4



metamorfisme yang tidak hanya merubah bentuk dan tekstur deposit mineral
yang sudah ada sebelumnya, tapi juga membuat deposit mineral yang baru.
Di bawah pengaruh tekanan dan temperatur yang tinggi, ditambah air pada
sejumlah kasus, mineral metamorfik yang stabil pada lingkungan yang baru
terbentuk. Perubahan bukan hanya berupa rekristalisasi, tapi juga berupa
rekombinasi material yang menghasilkan mineral baru.

Proses pelapukan yang terjadi:
Disintegrasi
Oksidasi
Hidrasi
Reaksi antara larutan dengan larutan
Reaksi antara larutan dengan gas
Reaksi antara larutan dengan zat padat
Penguapan
Atau gabungan dari beberapa hal diatas.
Umumnya proses pelapukan merupakan gabungan dari kedua proses
tersebut (kimia + mekanis) Pelapukan mekanis banyak terjadi di daerah
yang kering (padang pasir) atau arid region dimana perbedaan panas dan
dingin sangat besar, juga didaerah kutub. Sedangkan pelapukan kimia dapat
berjalan dengan baik didaerah yang lembab atau daerah tropis. Agen-agen
yang mempercepat dekomosisi adalah : air, oksigen, CO2, panas, asam-
asam, alkali-alkali, vegetasi, bakteri. Hasil daripada pelapukan batuan dapat
berupa sisa-sisa pelapukan yang berupa mineral-mineral yang stabil (sukar
larut) dan mudah larut, yang sukar larut bisa menjadi endapan konsentrasi
residu atau endapan-endapan placer, sedangkan yang mudah larut akan
5



mengendap lagi ditempat yang lebih jauh (membentuk mineral-mineral
baru) .

2.2 Jenis Jenis Endapan Sekunder
A. Endapan konsentrasi residu
Endapan konsentrasi residu merupakan hasil dari pengumpulan
mineral-mineral berharga setelah mineral-mineral tidak berharga
tersingkirkan oleh proses pelapukan. Contoh endapan konsentrasi residu
adalah bijih besi yang terkandung dalam gamping murni dalam bentuk
besi karbonat, oleh proses pelarutan (pelapukan kimia) gampingnya
akan larut dan besinya tertinggal.
Untuk dapat terbentuknya endapan-endapan jenis ini diperlukan
sarat-sarat:
1. Terdapat batuan asal atau endapan-endapan yang
mengandung mineral / unsur-unsur mineral berharga,
disana mineral berharga sukar larut dan gangue mineralnya
mudah larut pada kondisi atmorfis.
2. Kondisi/ iklim yang memungkinkan terjadinya proses-
proses kimia.
3. Morfologi yang landai / tidak terlalu curam sehingga
mineral-mineral region tidak tercuci habis oleh erosi
(pelapukan kimia lebih kuat daripada erosi pada daerah
tersebut)
4. Kestabilan permukaan yang continue dan dalam waktu
lama (tidak ada pengangkatan / penurunan) sehingga bisa
terjadi pengumpulan mineral-mineral baerharga yang cukup
besar.

Endapan yang berbentuk dari konsentrasi residual adalah
endapan yang terakumulasi atau terkonsetrasi di dekat atau di atas
6



batuan sumbernya melalui proses pelapukan. Endapan residual hanya
dapat terbentuk pada permukaan yang relatif datar, bila permukaan
berubah menjadi miring, maka endapan tersebut akan mengalami
transportasi dan membentuk endapan placer eluvial.
Pelapukan sebagai proses yang memegang peranan penting
dalam konsentrasi residual merupakan suatu kejadian komplek dan
meliputi berbagai proses yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau bersama-
sama dengan proses yang lain. Misalnya pelapukan batuan bisa terjadi
dalam bentuk desintegrasi mekanik atau dekomposisi kimiawi atau
kedua-duanya. Mineral yang tidak stabil pada saat pelapukan
berlangsung akan larut dan terbawa ketempat lain, sedangkan mineral
stabil menjadi residu dan kemudian terakumulasi membentuk
konsentrasi residual.
Pelapukan (weathering) dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal
seperti air, angin, perubahan temperatur, tumbuhan dan bakteri.
Pelapukan adalah tahapan awal dari proses denudasi, dimana hasil
lapukan biasanya tidak langsung mengalami transportasi. Pelapukan
dapat dibagi menjadi :
a. Pelapukan mekanik yang menyebabkan terjadinya
desintegrasi/penghancuran batuan terutama disebabkan oleh ekspansi
air dalam pori atau kekar batuan akibat perubahan temperatur.
Ekspansi air ini dikenal dengan istilah Frost Action. Pelapukan
mekanik tidak menghasilkan mineral baru, tapi aksinya yang
mereduksi ukuran dan memperluas permukaan partikel
menyebabkan pelapukan kimiawi dapat bekerja lebih efektif.
Desintegrasi mekanik umumnya terbentuk pada daerah kering.
b. Pelapukan kimiawi yang menyebabkan terjadinya perubahan
komposisi oleh aksi unsur-unsur yang terbawa dalam air hujan.
Pelapukan kimiawi ini sangat aktif terutama pada daerah beriklim
tropis atau lembab dimana air hujan lebih banyak mengandung CO
2
.
7



Syarat utama pembentukan deposit mineral dari konsentrasi residual
adalah :
1. kehadiran batuan yang mengandung mineral berharga yang
resisten, sedang unsur-unsur yang tidak berharga mudah larut
pada saat pelapukan erlangsung.
2. kondisi iklim yang memungkinkan berlangsungnya
pelapukan kimiawi; dalam hal ini iklim tropik dan subtropik
adalah kondisi yang sangat tepat untuk pembentukan endapan
residual.
3. kemiringan lereng relatif landai
4. stabilitas lahan yang cukup lama sehingga residu yang
terkumpul tidak terganggu oleh erosi.
Deposit berharga yang dapat terbentuk dari suatu proses
konsentrasi residual diantaranya adalah :
1. Endapan bauksit residual; merupakan endapan laterit
didominasi oleh alumunium hidroksida (bauksit) yang
merupakan bijih alumunium utama.
2. Endapan nikel residual; endapan nikel (garnierit) residual
terbentuk oleh pelapukan intensif di daerah tropis pada
batuan basa-ultrabasa.
3. Endapan besi residual; batuan asal endapan ini adalah
batugamping yang mengandung endapan mineral besi dan
bebas alumunium dan silika, atau batuan beku basa dengan
kandungan Fe jauh lebih besar daripada Al. Kebanyakan
laterit pembawa besi memiliki kandungan yang rendah dan
tidak menguntungkan secara ekonomi.
4. Endapan mangan residual; kelarutan Mn lebih besar
dibanding Fe atau Al, terutama pada daerah aktifitas organik.
Mn cenderung bergerak kebagian bawah dan terakumulasi di
dasar zona pelapukan pada batuan basa dan ultrabasa (pH
tinggi).
8



5. Lempung (kaolin) residual; Hydrous aluminomsilicate,
kaolin, terbentuk dari pelapukan aluminumsilicate, terutama
feldspar

Residu brown iron, East Texas Clubhause mine, Batesville Arkansas


Bauxite bed, Arkansas
JEBAKAN KONSENTRASI RESIDU




FAKTOR TRANFORMASI DAN TEMPAT PENGENDAPAN
DARI PLACER DEPOS



9



B. Endapan konsentrasi mekanis
Konsentrasi mekanik adalah pemisahan mineral berat dari
mineral ringan karena pengaruh gaya gravitasi secara alami (natural
gravity separation) pada saat terbawa oleh air atau media transportasi
lainnya. Pemisahan tersebut menghasilkan suatu konsentrasi mineral
berat yang disebut endapan placer. Pembentukan endapan placer
meliputi dua proses, yaitu :
1. proses pembebasan mineral stabil dari matriksnya selama
pelapukan berlangsung
2. proses konsentrasi mineral stabil tersebut.
Mineral-mineral yang memiliki sifat-sifat tersebut di atas dan
banyak ditemukan dalam endapan placer adalah emas, platinum,
tinstone, magnetite, chromite, ilmenit, rutile, native copper, gemstone,
zircon, monazite, phosphate, dan kadang quicksilver. Pyrite dan
uraninite dijumpai pula pada beberapa endapan Prokambrium.
Untuk dapat terbentuknya endapan-endapan jenis ini diperlukan
sarat-sarat:
1. Mempunyai berat jenis yang tinggi
2. Tahan Terhadap pelapukan kimia
3. Mempunyai kekerasan yang tinggi
Transportasi mineral dari tempatnya semula terutama
dipengaruhi oleh gravitasi dan media transportasi yang bekerja berupa
air (sungai dan laut), angin atau es. Transportasi material hasil lapukan
biasanya dalam bentuk :
a. Suspention, dan
b. Bottom Traction, rolling and soltation
Jarak dan proses transportasi sangat mempengaruhi tekstur
endapan mineral yang terbentuk. Transportasi akan terus berlangsung
selama energi media transport lebih besar dari gaya gravitasi yang
bekerja. Jika gaya gravitasi lebih besar dari energi media, pengendapan
mulai berlangsung dengan mengikuti berbagai kriteria, misalnya :
1
0


1. Mineral yang lebih berat akan terendap lebih dulu dibanding
mineral yang lebih ringan pada ukuran yang sama.
2. Mineral yang lebih kecil akan terendap lebih dulu dibanding
mineral yang lebih besar jika berat kedua mineral sama.
3. Mineral berbentuk bulat terendapkan lebih cepat dibanding mineral
pipih.

C. Oksidasi dan pengayaan supergene
Jika suatu endapan bijih (vein, stock work dll) terexpose
dipermukaan oleh erosi, maka mereka akan mengalami proses
pelapukan, air permukaan akan mengoksidasi mineral-mineral dan
menghasilkan larutan, akan melarutkan pula mineral-mineral lainnya.
Daerah dimana oksidasi ini berlangsung disebut zone oksidasi, tetapi
akibat dari proses oksidasi ini dapat pula didaerah-daerah yang terdapat
dibawahnya. Larutan hasil oksidasi yang turun kebagian bawah ini akan
membentuk suatu zone yang disebut zone pengkayaan (enriched zone),
yang mempunyai kadar logam tinggi (lebih tinggi dari sebelumnya) dan
sebagian yang paling jauh terdapat zone primer/ supergene. Faktor-
faktor yang membatasi oksidasi:
1. Muka air tanah
Diatas muka air tanah proses oksidasi akan berjalan dengan
lancar karena banyak terdapat oksigen, sedangkan di bawah muka air
tanah tidak terdapat/ sedikit oksigen yang bebas sehingga tidak / sukar
terjadi reaksi karena muka air tanah umumnya sejajar dengan muka
tanah maka dasar dari zone oksidasi juga sejajar dengan muka air tanah,
terutama didaerah datar.

1
1


2. Morfologi
Daerah pegunungan, sirkulasi air tanah lebih cepat sehingga
didaerah ini didapat suatu dasar zone oksidasi yang tidak rata
(bergerigi). Hal ini terjadi karena cepatnya sirkulasi air maka ada
oksigen-oksigen bebas yang terbawa oleh air kebagian yang lebih
dalam sehingga bisa terjadi oksidasi
3. Perubahan muka air tanah
Posisi daripada muka air tanah adalah tidak tetap, sehingga
mempengaruhi proses oksidasi. Penurunan muka air tanah ini bisa
terjadi karena erosi maupun berubahnya iklim dari daerah yang lembab
menjadi kering.
4. Waktu
Waktu juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan
endapan-endapan dengan cara ini. Umumnya endapan-endapan
terbentuk pada jaman tersier sedangkan pada post glacial hampir tidak
ada.
5. Batuan
Batuan-batuan yang bersifat poreus/ permeable lebih mudah
mengalami oksidasi daripada batuan yang kompak/ masif. Juga pada
batuan-batuan yang brittle mudah karena banyak mempunyai crack-
crack didalamnya.
6. Struktur
Struktur juga banyak berpengaruh terhadap erosi, misalnya :
Pada daerah patahan akan terkumpul air sehingga proses
oksidasi dapat berlangsung dengan kedalaman yang sangat
dalam.
Pada patahan yang impermeable maka oksidasi yang efektif
terjadi pada bagian hanging wall.
1
2


2.3 Bahan Galian Endapan Sekunder
2.3.1 Emas (Au)
Emas merupakan elemen yang
dikenal sebagai logam mulia dan
komoditas yang sangat berharga sepanjang
sejarah manusia. Elemen ini memiliki
nomor atom 79 dan nama kimia aurum atau
Au. Emas terbentuk dari proses
magmatisme atau pengkonsentrasian di
permukaan.



Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme
kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara
mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas
dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan endapan plaser.
Emas terdapat di alam dalam dua tipe deposit, pertama
sebagai urat (vein) dalam batuan beku, kaya besi dan berasosiasi
dengan urat kuarsa. Lainnya yaitu endapan atau placer deposit,
dimana emas dari batuan asal yang tererosi terangkut oleh aliran
sungai dan terendapkan karena berat jenis yang tinggi. Emas native
terbentuk karena adanya kegiatan vulkanisma, bergerak berdasarkan
adanya thermal atau adanya panas di dalam bumi, tempat
tembentukan emas primer, sedangkan sekudernya merupakan hasil
transportasi dari endapan primer umum disebut dengan emas
endapan flaser, sedangkan asosiasi emas atau emas bersamaan hadir
dengan mineral silikat, perak, platina, pirit dan lainnya.
Kenampakan fisik bijih emas hampir mirip dengan pirit,
markasit, dan kalkopirit dilihat dari warnanya, namun dapat
dibedakan dari sifatnya yang lunak, berat jenis tinggi, dan ceratnya
yang keemasan. Emas berasosiasi dengan kuarsa, pirit, arsenopirit,
dan perak.
1
3


Sifat fisik unsur ini sangat stabil, tidak korosif ataupun lapuk
dan jarang bersenyawa dengan unsur kimia lain. Konduktivitas
elektrik dan termalnya sangat baik, malleable sehingga dapat
dibentuk dan juga bersifat ductile. Emas adalah logam yang paling
tinggi densitasnya.
Potensi endapan emas terdapat di wilayah Kalimantan
Tengah berada di beberapa Kabupaten yaitu : Kab. Murung Raya,
Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Katingan, Kab. Kapuas dan
Kab. Gunung Mas. ( Peta sebaran emas terdapat pada lampiran )
Potensi Kandungan Emas di Provinsi Kalimantan Tengah sebesar
51.183.014 Ton dan banyak di temukan di Kabupaten Murung Raya.
Pertambangan Emas di Kabupaten Murung Raya Terdapat di
Kecamatan Uut Murung, Kecamatan Seribu Riam, Kecamatan Permata
Intan, Kecamatan Siang Selatan, Kecamatan Laung Tuhup, dan Kecamatan
Murung.


1
4


2.3.2 Kaolin



Kaolin atau kaolinite berasal dari
kata Kao Ling dari bahasa cina
merupakan suatu tempat yang berada di
china yang memiliki banyak mineral
lempung jenis Kaolin.

Kaolin merupakan masa batuan yang
tersusun dari material lempung dengan
kandungan besi yang rendah, dan
umumnya berwarna putih atau agak
keputihan. Kaolin mempunyai komposisi
hidrous alumunium silikat
(2H2O.Al2O3.2SiO2), dengan disertai
mineral penyerta.
Proses pembentukan kaolin (kaolinisasi) dapat terjadi melalui proses
pelapukan dan proses hidrotermal alterasi pada batuan beku felspartik.
Endapan kaolin ada dua macam, yaitu: endapan residual dan sedimentasi.
Sifat-sifat mineral kaolin antara lain, yaitu: kekerasan 2 2,5, berat jenis 2,6
2,63, plastis, mempunyai daya hantar panas dan listrik yang rendah, serta pH
bervariasi.Mineral yang termasuk dalam kelompok kaolin adalah kaolinit,
nakrit, dikrit, dan halloysit (Al2(OH)4SiO5.2H2O), yang mempunyai
kandungan air lebih besar dan umumnya membentuk endapan tersendiri.Kaolin
dapat digunakan sebagai sumber SiO2 untuk pembuatan katalis Ni/SiO2. Sifat-
sifat mineral kaolin antara lain, yaitu: kekerasan 2 2,5, berat jenis 2,6 2,63,
plastis, mempunyai daya hantar panas dan listrik yang rendah, serta pH
bervariasi.Potensi dan cadangan kaolin terdapat di Palangka Raya,
Kabupaten Kotawaringin Barat, Sukamara, Katingan, Kotawaringin
Timur, Kapuas, Barito Selatan. (Peta sebaran dalam lampiran)


1
5


2.3.3 Bijih Besi (Fe)


Besi (Fe) merupakan material penyusun utama kerak bumi
kedua terbanyak yaitu sekitar 5 %. Secara geokimia merupakan
logam yang melimpah di alam. Konsentrasi besi yang melimpah di
suatu tempat disebut sebagai bijih besi.
Bijih besi biasanya tersusun oleh mineral magnetit (FeO
Fe2O3) yang mengandung 72,4 % Fe, ilmenit (FeO TiO2) 36,8% Fe,
hematit (Fe2O3) 69,94% Fe, goethit (FeO OH) 62% Fe, siderit
(FeCO3) 48,2% Fe. Mineral lain yang mengandung besi seperti pirit
(FeS2) 46,5% Fe, pirhotit (FeS) 63,5% Fe, tidak dapat dianggap
sebagai sumber utama besi, karena kesulitan-kesulitan teknis
pengolahannya.
Magnetit sering diikuti oleh unsur-unsur lain seperti titanium,
mangaan, magnesium dan vanadium. Endapan ini kadang-kadang
mengandung emas dan platina, jika batuan pembawanya berasosiasi
dengan batuan-batuan basa-ultrabasa.
Bijih besi dapat digunakan untuk peleburan logam, sebagai
ahan baku untuk industri baja dan industri alat-alat rumah tangga.
Hasil industri besi yang cukup terkenal disebut sebagai besi gubal
(pig iron). Di beberapa negara produsen baja, belakangan ini telah
terjadi peningkatan permintaan akan bijih besi. Negara-negara
1
6


konsumen bijih besi terbesar di dunia adalah seperti China, Amerika
Serikat dan Jepang.
Kadar paling rendah dari endapan bijih besi yang dapat
ditambang atau dikenal dengan istilah cut-off grade adalah sekitar
32% Fe, namun sekarang ini paling tidak sekitar 60% Fe baru dapat
dikatakan layak untuk ditambang.
Bijih Besi di Kalimantan Tengah dijumpai Kab.Katingan,
Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Lamandau,
Sukamara, Barito Timur, Barito Selatan, Gunug Mas dan
Seruyan yang tersebar di beberapa lokasi baik dalam bentuk
perlapisan maupun sebagai bongkahan-bongkahan. (Peta sebaran
dalam lampiran)
Sumberdaya tereka endapan batubesi didaerah ini adalah
berjumlah sekitar 370.477.024 juta ton.

1
7


BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Berdasarkan materi yang telah tim penulis paparkan pada makalah
ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
Endapan sekunder merupakan endapan-endapan bijih yang tidak
berasosiasi langsung dengan aktivitas magma, tetapi merupakan
hasil dari proses pelapukan-transfortasi-sedimentasi, yang
merupakan proses kimia, fisika atau gabungan dari kedua proses
tersebut.
Endapan sekunder terdiri dari endapan konsentrasi residu dan
konsentrasi mekanis, dimana kedua macam endapan tersebut
memiliki syarat tersendiri agar suatu endapan sekunder dapat
dikategorikan sebagai salah satu dari kedua endapan tersebut.
Endapan konsentrasi residu merupakan hasil dari pengumpulan
mineral-mineral berharga setelah mineral-mineral tidak berharga
tersingkirkan oleh proses pelapukan. Sementara konsentrasi mekanik
adalah pemisahan mineral berat dari mineral ringan karena pengaruh
gaya gravitasi secara alami (natural gravity separation) pada saat
terbawa oleh air atau media transportasi lainnya.
1
8


Terdapat beberapa sebaran bahan galian endapan sekunder yang
terbentuk di wilayah Kaliman Tengah dimana yang penulis paparkan
yaitu : Emas (Au) , Kaolin , dan Bijih besi (Fe).

3.2 Saran
Dengan adanya begitu banyak sebaran bahan galian yang masuk
kedalam kategori endapan sekunder di wilayah Kalimantan Tengah ini
bisa lebih di optimalkan lagi dan bisa membantu menopang per-
ekonomian masyarakat Indonesia terutama warga Kalimantan Tengah
didalam sektor pertambangan. Dan juga sebaiknya lebih banyak di eksplor
lagi endapan-endapan bahan galian yang mungkin berpotensi di wilayah
Kalimantan Tengah.












1
9


DAFTAR PUSTAKA

http://hadiwijayatambang.blogspot.com/2011/05/endapan-mineral.html
http://herydictus.wordpress.com/2013/01/21/endapan-mineral/
http://ssbelajar.blogspot.com/2013/01/jenis-jenis-dan-klasifikasi-bahan-
galian.html
http://syawal88.wordpress.com/2010/08/12/proses-pembentukan-endapan-
mineral/
http://dearthurjr.blogspot.com/2013/05/endapan-mineral.html
http://valentinomalau31.blogspot.com/2010/12/endapan-mineral.html
http://n-pangestu.blogspot.com/2014/03/makalah-bijih-besi-mangan-dan-
gips.html
http://www.mineraltambang.com/cebakan-sekunder.html
http://www.najibpanjah.com/2011/12/proses-pembentukan-endapan-bahan-
galian.html
http://www.slideshare.net/elvirawea/genesa-bahan-galian
http://www.sayangemas.com/apa-itu-emas.html
http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Kaolin/ulasan.asp?xdir=Kaolin&commI
d=19&comm=Kaolin

Bantuan Referensi Data Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan
Tengah.