Anda di halaman 1dari 38

LBM 5 SGD 12

STEP 1
Bebat mata :
Mix injection : konjg.inj dan siliaris inj.
STEP 2
1. Mengapa pandangan kabur, merah, berair, nyeri setelah terpercik pembersih lantai?
2. Mengapa pada pemeriksaan opthalmologis didapatkan vod 3/60 mix inj positif, udem
kornea, erosi kornea?
3. Mengapa dokter jaga melakukan irigasi dg aquabidest, salep antibiotik, bebat mata?
4. Apa kandungan pembersih lantai? Dan pengaruhnya bila terkena mata?
5. DD? Pemeriksaan? Tatalaksana?
6. Klasifikasi trauma kimia? Dan pengaruhnya?
7. Macam2 trauma mata?
8. Komplikasi trauma kimia pada mata?
9. Salep antibiotic apa yang cocok pada pasien tsb? Indikasi dan kontraindikasinya?
10. Prognosis trauma kimia?

STEP 3
1. Apa kandungan pembersih lantai? Dan pengaruhnya bila terkena mata?
Trauma Basa

Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan basa
memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat untuk
penetrasi sel membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina.Trauma
basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Namun, apabila
dilihat pada bagian dalam mata, trauma basa ini mengakibatkan suatu
kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, kamera okuli anterior sampai retina
dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada trauma basa akan terjadi
penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan
terjadi proses safonifikasi, disertai dengan dehidrasi.5

Gambar Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Basa/Alkali9


Gambar Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Basa/Alkali9
Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. Pada pH
yang tinggi alkali akan mengakibatkansafonifikasi disertai dengan disosiasi asam lemak
membrane sel. Akibat safonifikasi membran sel akan mempermudah penetrasi lebih
lanjut zat alkali. Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi
penggumpalan sel kornea atau keratosis. Serat kolagen kornea akan bengkak dan
stroma kornea akan mati. Akibat edema kornea akan terdapat serbukan sel
polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukan sel ini cenderung disertai dengan
pembentukan pembuluh darah baru atau neovaskularisasi. Akibat membran sel basal
epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru
terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui plasminogen
aktivator. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivator dilepas juga kolagenase
yang akan merusak kolagen kornea. Akibatnya akan terjadi gangguan penyembuhan
epitel yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan dapat terjadi perforasi kornea.
Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknya terdapat pada hari
ke 12-21. Biasanya ulkus pada kornea mulai terbentuk 2 minggu setelah trauma kimia.
Pembentukan ulkus berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap atau vaskularisasi
telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik mata
depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan mata susunannya akan
berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang. Kedua unsur ini
memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan kornea.5

Bahan kimia bersifat basa: NaOH, CaOH, amoniak, Freon/bahan pendingin lemari es,
sabun, shampo, kapur gamping, semen, tiner, lem, cairan pembersih dalam rumah
tangga, soda kuat.6,9

Asam hydrogen dan anion hydrogen merusak ph kalau anion denaturasi protein
dan koagulasi kekeruhan koagulasi mencegah asam yang lain untuk masuk

Basa hydrofilik dan lipofilik dugunakan untuk pembersih karena mengikat air
dan minyak saponifikasi jika membrane sel rusak basa mudah masuk ke dalam
sel.

Kalau pembersih toilet Sulfuric acid basa


2. Mengapa pandangan kabur, merah, berair, nyeri setelah terpercik pembersih lantai?
Pandangan kabur terkena agen kimia kalau asam kuat terjadi koagulasi protein
pada kornea bias juga terjadi koagulasi konjungtiva bulbi sel. Kornea bias
terkelupas erosi kornea warna kelabu infiltrasi ke dalam sel kornea (indeks bias
terganggu) biar asam itu larut .
Pandangan kabur udem kornea koagulasi protein di kornea menyebabkan
kekeruhan kornea kornea lebih cembung lebih panjang indeks bias meningkat
sama kayak myopi erosi (epitel2 rusak) cahaya yang masuk tidak dibiaskan.


Asam lemah Regenerasi epitel 24 jam bias sembuh sendiri

Mata merah: bahan kimia reaksi inflamasi kena di konjungtiva mata merah.
Ada bahan kimiamasuk membantu mengeluarkan/membilas dengan lakrimasi
Nyeri : kena kornea sensitisasi nervus trigeminus (serabut sarraf bebas)

3. Mengapa pada pemeriksaan opthalmologis didapatkan vod 3/60 mix inj positif, udem
kornea, erosi kornea?
Vod 3/60 dalam hitungan jari 3 meter pasien dan 60 meter mata normal
Kelainan media refrakta erosi kekeruhan dll.
Udem kornea inflamasi kornea mata kabur 3/60
Perforasi ada robekan sampe membrane descemet gak seimbang keluar dan
masuknya meningkatkan TIO

Erosi Bahan dari pembersih lantai merusak epitel kornea aslinya bias bermigrasi dr
epitel yang sehat (proliferasi) ke yang sakit utnuk menutupi erosi tp butuh waktu (
SISTEM PERTAHANAN)

4. Mengapa dokter jaga melakukan irigasi dg aquabidest, salep antibiotik, bebat mata?
Untuk menghindari timbulnya penyulit.
Untuk mengencerkan, melarutkan, dan membersihkan bahan kimia, biasanya dilakukan
selama 15-30 menit.
Pada trauma kimia bagian terapi terpenting adalah dilakukan irigasi mata segera dengan
air bersih dalam jumlah banyak. Selain itu bagian bawah kelopak mata atas dan bawah
juga harus diirigasi untuk melepaskan partikel solid, misal butiran kapur.

Ilmu penyakit mata. Prof. dr. H. Sidarta Ilyas, Spm. 2004

Penatalaksanaan
Trauma Asam
l irigasi jaringan yang terkena-kena secepat
mungkin
l dengan menggunakan garam fisiologis atau
air selama 15-30 menit
l dapat diberikan anastesi topikal, larutan
natrium bikarbonat 3%, dan antibiotik
l Trauma asam pada dasarnya akan kembali
Normal

Penatalaksanaan
Trauma Basa
l Irigasi
l Cek pH dengan kertas lakmus
l Bersihkan bila ada corpus alineum
l Bila penyebabnya adalah CaOH,
dapat diberi EDTA
l Pemberian antibiotika
l Pemberian sikloplegik
l Pemberian Anti glaukoma
l Pemberian Steroid secara berhati-hati
l Pemberian Vitamin C

Pada awal tahun 1890, konsep ikatan metal (metal-ligand binding) dikemukakan oleh Alfred Werner.
Kemudian Morgan dan Drew membandingkannya dengan cara ikatan heterocyclic ring structure dengan
metal, inilah konsep pertama chelation 1920. Chelator yang kita kenal sebagai EDTA pertama kali
disynthesized oleh F. Munz, seorang pakar keilmuan dari German yang dipatenkan di eropa. EDTA
dipatenkan di USA tahun 1945.
"EDTA adalah asam amino yang dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion logam
berat, termasuk kalsium, dari dalam jaringan tubuh." EDTA dalam terapi ini berupa garam natrium (Na)
berbentuk kristal putih, mudah larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol, bersifat lemah, dan dapat
mengikat ion logam sesuai aktivitasnya. "Pemberian EDTA secara intravena dapat mengikat atau
menjepit logam berat yang berada pada posisi patologis"

5. Salep antibiotic apa yang cocok pada pasien tsb? Indikasi dan kontraindikasinya?

Salep antibiotic biar tahan lama di mata

Gentamycin gram negative
Broadspectrum contohnya staphylococcus dan streptococcus gram (+)
Corynebacterium

Contoh : ciprofloksasin , klotrimoksazol, amoxisilin (broad) , ceftriakson gram (+)

Indikasi dan kontraindikasi salep antibiotiknya:
- Untuk keratitis jamur gak boleh dikasih antibiotic
-
6. Macam2 trauma mata?
Etiologi
- Fisik trauma tumpul (kena pukul kena kock), trauma tajam ( tususkan,
percikan kaca), trauma peluru
- Kimiawi bahan asam HCl dan basa (ammonium hidroksida)
- Termal (sinar UV, percikan las ) dan radioaktif ( infrared)

7. Klasifikasi trauma kimia? Dan pengaruhnya?
Kimiawi bahan asam HCl dan basa (ammonium hidroksida)
Asam hydrogen dan anion hydrogen merusak ph kalau anion denaturasi protein
dan koagulasi kekeruhan koagulasi mencegah asam yang lain untuk masuk

Basa hydrofilik dan lipofilik dugunakan untuk pembersih karena mengikat air
dan minyak saponifikasi jika membrane sel rusak basa mudah masuk ke dalam
sel.

8. DD? Pemeriksaan? Tatalaksana?
Trauma pada mata
- Fisik trauma tumpul (kena pukul kena kock), trauma tajam ( tususkan,
percikan kaca), trauma peluru

Trauma tumpul :
Edem konjungtiva, edem kornea, hematoma kelopak,
Bias disebabkan benda benda tumpul hifema ( perdarahan di COA)
diakibatkan 2 penyebab primer( spontan) dan sekunder (muncul lagi)
Grade I : kurang dr 1/3 COA
Grade II : 1/3 COA
Grade III ; - 2/3 COA
Grade IV : mengenai semua COA

Tatalaksana trauma tumpul : ada gumpalan darah posisi kepala harus lebih
tinggi 60 deraja (tirah baring) ,aktifitas mata dibatasi, steroid
Pengguanaan asam amino kalproad mengurang perdarahan berulang
Kalau terjadi peningkatan TIO dikasih timolol dan asetazolamid Kalau gak
bias operatif.

Kock, ketonjok,

Diberikan kompres dingin kompres hangat

Trauma tajam : jelas matanya rusak

- Kimiawi bahan asam HCl dan basa (ammonium hidroksida)

- Termal (sinar UV, percikan las ) dan radioaktif ( infrared)

Pemeriksaan : fluoresen, keratoskop plasido, visus, slitlamp,

9. Komplikasi trauma kimia pada mata?
Komplikasi : ada 3
Simblefaron: perlekatan konj. Bulbi dg konj.palpebra

Ankyloblefaron: perlekatan tepi pal.atas dan tepi palp.bawah

Iridosiklitis : radang iris dan korpus siliar akibat merembesnya bahan kimia tsb

Kebutaan ; karena bs sampe ke retina bila sampe retina

Ptisis bulbi ; mengempisnya bola mata

Katarak : karena kekeruhan lensa

10. Prognosis trauma kimia?
Tergantung seberapa berat mata korneanya mengalami kerusakan
- Ringan : prosgnosis baik erosi epitel dan keruh biasa korneanya tak terjadi
iskemik dan nekrosis
- Sedang : prognosis baik kekeruhan kornea shg susah melihat iris dan pupil
- Berat : kebutaan buruk, konj dan sclera pucat ada iskemik

11. Pertolongan pertama pada pasien yang terkena trauma kimia? Dan trauma mata!
Irigasi selama mungkin 15-30 menit
Pake garam fisiologi, aquabidest, dll

12. Teknik irigasi dan tujuan ?
TUJUAN
Untuk membersihkan dan atau mengeluarkan benda asing dari dalam mata.

Peralatan
1. Handschoen bersih
2. Anestesi topikal (bila perlu)
3. Cairan irigasi steril ( biasanya normal saline) dengan kanula
4. Plester katun
5. Retraktor desmares (bila ada)
6. Kasa secukupnya
7. Bengkok
8. Handuk atau laken untuk menutupi pakaian pasien

LANGKAH-LANGKAH
1. Siapkan peralatan
2. Identifikasi pasien
3. Jelaskan prosedur tindakan pada pasien
4. Pakai sarung tangan
5. Tutupi pasien dengan handuk atau laken
6. Miringkan pasien ke arah lateral mata yang akan di irigasi, pasang bengkok.
7. Bila diperlukan teteskan anestesi topikal, gunakan retraktor desmares untuk
membuka kelopak mata. Jika tidak ada, kelopak mata harus ditahan agar tetap terbuka,
gunakan kasa.
8. Untuk menahan kelopak mata tetap terbuka, berikan tekanan pada tulang
prominen pada alis dan pipi, tidak pada bola mata.
9. Arahkan jatuhnya aliran irigasi langsung di atas celah kelopak mata bagian nasal
(kantus), dari dalam kantus kearah luar kantus
10. Biasanya digunakan 1 lt cairan dengan cepat untuk cedera mata karena asam.
11. Biasanya digunakan 2 lt cairan untuk cedera karena alkali pada mata.
12. Keringkan bagian luar dari mata dan daerah sekitarnya setelah melakukan irigasi.

Tindak lanjut
1. Periksa efektifitas irigasi, ukur pH forniks konjuntiva dengan indikator pH.
2. pH normal mata adalah 7,4 dan, bila hasil pengukurannya abnormal, lanjutkan
irigasi.
3. Bila pH hasil pengukuran menunjuken angka yang normal, periksa kembali
setelah 20 menit untuk memastikan bahwa hal ini normal.
4. Kaji rasa nyaman pasien.

13. Teknik bebat mata ? dan tujuan apa? Indikasi kasus apa?

14. Pertolongan pertama untuk semua jenis trauma mata apa?
15. Klasifikasi dicari yang lengkapDicari etiologi, mekanisme trauma kimia kasus apa?
Bahan bahan apa? Manfis apa? Gejala dan tanda ? tatalaksana (terapi definitive) ?
prognosis? Dan kompetensi tatalaksana dokter umum sejauh apa?

DEFINISI


Trauma kimia pada mata merupakan salah satu keadaan
kedaruratanoftalmologi karena dapat menyebabkan cedera pada mata, baik ringan,
berat bahkan sampai kehilangan penglihatan. Trauma kimia pada mata merupakan
trauma yang mengenai bola mata akibat terpaparnya bahan kimia baik yang bersifat
asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata tersebut.
5


Trauma kimia diakibatkan oleh zat asam dengan pH < 7 ataupun zatbasa pH > 7 yang
dapat menyebabkan kerusakan struktur bola mata. Tingkat keparahan trauma
dikaitkan dengan jenis, volume, konsentrasi, durasi pajanan, dan derajat penetrasi
dari zat kimiatersebut. Mekanisme cedera antara asam dan basa sedikit berbeda.
5

Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi dalam laboratorium,
industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian, dan peperangan
memakai bahan kimia serta paparan bahan kimia dari alat-alat rumah tangga. Setiap
trauma kimia pada mata memerlukan tindakan segera. Irigasi daerah yang terkena
trauma kimia merupakan tindakan yang harus segera dilakukan.
3



EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan data CDC tahun 2000 sekitar 1 juta orang di Amerika Serikat mengalami
gangguan penglihatan akibat trauma.75% dari kelompok tersebut buta pada satu
mata, dan sekitar 50.000 menderita cedera serius yang mengancam penglihatan setiap
tahunnya. Setiap hari lebih dari 2000 pekerja di amerika Serikat menerima
pengobatan medis karena trauma mata pada saat bekerja. Lebih dari 800.000 kasus
trauma mata yang berhubungan dengan pekerjaan terjadi setiap tahunnya.
1,2


Dibandingkan dengan wanita, laki-laki memiliki rasio terkena trauma mata 4 kali lebih
besar. Dari data WHO tahun 1998 trauma okular berakibat kebutaan unilateral
sebanyak 19 juta orang, 2,3 juta mengalami penurunan visus bilateral, dan 1,6 juta
mengalami kebutaan bilateral akibat cedera mata. Sebagian besar (84%) merupakan
trauma kimia. Rasio frekuensi bervariasi trauma asam:basa antara 1:1 sampai
1:4. Secara international, 80% dari trauma kimiawi dikarenakan oleh pajanan karena
pekerjaan. Menurut United States Eye Injury Registry (USEIR), frekuensi di Amerika
Serikat mencapai 16 % dan meningkat di lokasi kerja dibandingkan dengan di rumah.
Lebih banyak pada laki-laki (93 %) dengan umur rata-rata 31 tahun.
2


ETIOLOGI

Trauma kimia biasanya disebabkan bahan-bahan yang tersemprot atau terpercik pada
wajah. Trauma pada mata yang disebabkan oleh bahan kimia disebabkan oleh 2
macam bahan yaitu bahan kimia yang bersifat asam dan bahan kimia yang bersifat
basa. Bahan kimia dikatakan bersifat asam bila mempunyai pH < 7 dan dikatakan
bersifat basa bila mempunyai pH > 7.
6


Trauma Asam

Asam dipisahkan dalam dua mekanisme, yaitu ion hidrogen dan anion dalam kornea.
Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah pH, sementara anion
merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi dan koagulasi. Koagulasi protein
umumnya mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari zat asam, dan menyebabkan
tampilan ground glass dari stroma korneal yang mengikuti trauma akibat asam.
Sehingga trauma pada mata yang disebabkan oleh zat kimia asam cenderung lebih
ringan daripada trauma yang diakibatkan oleh zat kimia basa.
5


Asam hidroflorida adalah satu pengecualian. Asam lemah ini secara cepat melewati
membran sel, seperti alkali. Ion fluoride dilepaskan ke dalam sel, dan memungkinkan
menghambat enzim glikolitik dan bergabung dengan kalsium dan magnesium
membentuk insoluble complexes. Nyeri local yang ekstrim bisa terjadi sebagai hasil
dari immobilisasi ion kalsium, yang berujung pada stimulasi saraf dengan pemindahan
ion potassium. Fluorinosis akut bisa terjadi ketika ion fluoride memasuki sistem
sirkulasi, dan memberikan gambaran gejala pada jantung, pernafasan,
gastrointestinal, dan neurologik.
5


Bahan kimia asam yang mengenai jaringan akan mengadakan denaturasi dan
presipitasi dengan jaringan protein disekitarnya, karena adanya daya buffer dari
jaringan terhadap bahan asam serta adanya presipitasi protein maka kerusakannya
cenderung terlokalisir. Bahan asam yang mengenai kornea juga mengadakan
presipitasi sehingga terjadi koagulasi, kadang-kadang seluruh epitel kornea terlepas.
Bahan asam tidak menyebabkan hilangnya bahan proteoglikan di kornea. Bila trauma
diakibatkan asam keras maka reaksinya mirip dengan trauma basa.
7


Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi koagulasi protein epitel
kornea yang mengakibatkan kekeruhan pada kornea, sehingga bila konsentrasi tidak
tinggi maka tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Biasanya kerusakan
hanya pada bagian superfisial saja. Koagulasi protein ini terbatas pada daerah kontak
bahan asam dengan jaringan. Koagulasi protein ini dapat mengenai jaringan yang
lebih dalam.
8



Gambar Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Asam


Gambar Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Asam
Bahan kimia bersifat asam : asam sulfat, air accu, asam sulfit,
asam hidrklorida, zat pemutih, asam asetat, asam nitrat, asam kromat, asam
hidroflorida. Akibat ledakan baterai mobil, yang menyebabkan luka bakar asam sulfat,
mungkin merupakan penyebab tersering dari luka bakar kimia pada
mata. Asam Hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada cairan penghilang karat,
pengkilap aluminum, dan cairan pembersih yang kuat.
6,9


Bahan kimia bersifat asam : asam sulfat, air accu, asam sulfit,
asam hidrklorida, zat pemutih, asam asetat, asam nitrat, asam kromat, asam
hidroflorida. Akibat ledakan baterai mobil, yang menyebabkan luka bakar asam sulfat,
mungkin merupakan penyebab tersering dari luka bakar kimia pada
mata. Asam Hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada cairan penghilang karat,
pengkilap aluminum, dan cairan pembersih yang kuat.
6,9


Trauma Basa

Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan basa
memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat untuk
penetrasi sel membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina.Trauma
basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Namun,
apabila dilihat pada bagian dalam mata, trauma basa ini mengakibatkan suatu
kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, kamera okuli anterior sampai retina
dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada trauma basa akan terjadi
penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan
terjadi proses safonifikasi, disertai dengan dehidrasi.
5


Gambar Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Basa/Alkali
9



Gambar Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Basa/Alkali
9

Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. Pada pH
yang tinggi alkali akan mengakibatkansafonifikasi disertai dengan disosiasi asam lemak
membrane sel. Akibat safonifikasi membran sel akan mempermudah penetrasi lebih
lanjut zat alkali. Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi
penggumpalan sel kornea atau keratosis. Serat kolagen kornea akan bengkak dan
stroma kornea akan mati. Akibat edema kornea akan terdapat serbukan sel
polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukan sel ini cenderung disertai dengan
pembentukan pembuluh darah baru atau neovaskularisasi. Akibat membran sel basal
epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru
terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui
plasminogen aktivator. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivator dilepas
juga kolagenase yang akan merusak kolagen kornea. Akibatnya akan terjadi gangguan
penyembuhan epitel yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan dapat terjadi
perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknya
terdapat pada hari ke 12-21. Biasanya ulkus pada kornea mulai terbentuk 2 minggu
setelah trauma kimia. Pembentukan ulkus berhenti hanya bila terjadi epitelisasi
lengkap atau vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah
masuk ke dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar.
Cairan mata susunannya akan berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat
yang berkurang. Kedua unsur ini memegang peranan penting dalam pembentukan
jaringan kornea.
5


Bahan kimia bersifat basa: NaOH, CaOH, amoniak, Freon/bahan pendingin lemari es,
sabun, shampo, kapur gamping, semen, tiner, lem, cairan pembersih dalam rumah
tangga, soda kuat.
6,9


PATOFISIOLOGI

Proses perjalanan penyakit pada trauma kimia ditandai oleh 2 fase, yaitu fase
kerusakan yang timbul setelah terpapar bahan kimia serta fase penyembuhan:
Kerusakan yang terjadi pada trauma kimia yang berat dapat diikuti oleh hal-hal
sebagai berikut:
Terjadi nekrosis pada epitel kornea dan konjungtiva disertai gangguan dan
oklusi pembuluh darah pada limbus.
Hilangnya stem cell limbus dapat berdampak pada vaskularisasi dan
konjungtivalisasi permukaan kornea atau menyebabkan kerusakan persisten
pada epitel kornea dengan perforasi dan ulkus kornea bersih.
Penetrasi yang dalam dari suatu zat kimia dapat menyebabkan kerusakan dan
presipitasi glikosaminoglikan dan opasifikasi kornea.
Penetrasi zat kimia sampai ke kamera okuli anterior dapat menyebabkan
kerusakan iris dan lensa.
Kerusakan epitel siliar dapat mengganggu sekresi askorbat yang dibutuhkan
untuk memproduksi kolagen dan memperbaiki kornea.
Hipotoni dan phthisis bulbi sangat mungkin terjadi.
Penyembuhan epitel kornea dan stroma diikuti oleh proses-proses berikut:
Terjadi penyembuhan jaringan epitelium berupa migrasi atau pergeseran dari
sel-sel epitelial yang berasal dari stem cell limbus
Kerusakan kolagen stroma akan difagositosis oleh keratosit terjadi sintesis
kolagen yang baru.
10

KLASIFIKASI

Trauma kimia pada mata dapat diklasifikasikan sesuai dengan derajat keparahan yang
ditimbulkan akibat bahan kimia penyebab trauma. Klasifikasi ini juga bertujuan untuk
penatalaksaan yang sesuai dengan kerusakan yang muncul serta indikasi penentuan
prognosis. Klasifikasi ditetapkan berdasarkan tingkat kejernihan kornea dan
keparahan iskemik limbus. Selain itu klasifikasi ini juga untuk menilai patensi dari
pembuluh darah limbus (superfisial dan profunda).
10

Derajat 1: kornea jernih dan tidak ada iskemik limbus (prognosis sangat baik)
Derajat 2: kornea berkabut dengan gambaran iris yang masih terlihat dan terdapat
kurang dari 1/3 iskemik limbus (prognosis baik)
Derajat 3: epitel kornea hilang total, stroma berkabut dengan gambaran iris tidak
jelas dan sudah terdapat iskemik limbus (prognosis kurang)
Derajat 4: kornea opak dan sudah terdapat iskemik lebih dari limbus (prognosis
sangat buruk)
11

Kriteria lain yang perlu dinilai adalah seberapa luas hilangnya epitel pada kornea dan
konjungtiva, perubahan iris, keberadaan lensa, dan tekanan intra okular.

Gambar Klasifikasi Trauma Kimia, (a) derajat 1, (b) derajat 2, (c) derajat 3, (d) derajat 4
10


DIAGNOSIS

Diagnosis pada trauma mata dapat ditegakkan melalui gejala klinis, anamnesis dan
pemeriksaan fisik dan penunjang. Namun hal ini tidaklah mutlak dilakukan
dikarenakan trauma kimia pada mata merupakan kasus gawat darurat sehingga hanya
diperlukan anamnesa singkat.

Gejala Klinis

Terdapat gejala klinis utama yang muncul pada trauma kimia yaitu, epifora,
blefarospasme, dan nyeri berat. Trauma akibat bahan yang bersifat asam biasanya
dapat segera terjadi penurunan penglihatan akibat nekrosis superfisial kornea.
Sedangkan pada trauma basa, kehilangan penglihatan sering bermanifestasi beberapa
hari sesudah kejadian. Namun sebenarnya kerusakan yang terjadi pada trauma basa
lebih berat dibanding trauma asam.
8


Anamnesis

Pada anamnesis sering sekali pasien menceritakan telah tersiram cairan atau
tersemprot gas pada mata atau partikel-partikelnya masuk ke dalam mata. Perlu
diketahui apa persisnya zat kimia dan bagaimana terjadinya trauma tersebut
(misalnya tersiram sekali atau akibat ledakan dengan kecepatan tinggi) serta kapan
terjadinya trauma tersebut.
6,12


Perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera
terjadi. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi
secara tiba tiba. Nyeri, lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum
trauma. Dan harus dicurigai adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat
salah satunya apabila trauma terjadi akibat ledakan.
8


Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan yang seksama sebaiknya ditunda sampai mata yang terkena
zat kimia sudah terigasi dengan air dan pH permukaan bola mata sudah netral. Obat
anestesi topikal atau lokal sangat membantu agar pasien tenang, lebih nyaman dan
kooperatif sebelum dilakukan pemeriksaan. Setelah dilakukan irigasi, pemeriksaan
dilakukan dengan perhatian khusus untuk memeriksa kejernihan dan keutuhan kornea,
derajat iskemik limbus, tekanan intra okular, konjungtivalisasi pada kornea,
neovaskularisasi, peradangan kronik dan defek epitel yang menetap dan berulang.
7,12


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dalam kasus trauma kimia mata adalah pemeriksaan pH bola
mata secara berkala dengan kertas lakmus. Irigasi pada mata harus dilakukan sampai
tercapai pH normal. Pemeriksaan bagian anterior mata dengan lup atau slit
lamp bertujuan untuk mengetahui lokasi luka. Pemeriksaan oftalmoskopi direk dan
indirek juga dapat dilakukan. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri
untuk mengetahui tekanan intraocular.
7,12


Gambar 5 Kertas Lakmus untuk Pemeriksaan pH
7


DIAGNOSIS BANDING

Beberapa penyakit yang menjadi diagnosis banding trauma kimia pada mata, terutama
yang disebabkan oleh basa atau alkali antara lain konjungtivitis, konjugtivitis
hemoragik akut, keratokunjugtivitis sicca, ulkus kornea, dan lain-lain.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya trauma ataupun
jenis trauma itu sendiri. Namun demikian ada empat tujuan utama dalam mengatasi
kasus trauma okular adalah memperbaiki penglihatan, mencegah terjadinya infeksi,
mempertahankan struktur dan anatomi mata, mencegah sekuele jangka
panjang. Trauma kimia merupakan satu-satunya jenis trauma yang tidak
membutuhkan anamnesa dan pemeriksaan secara teliti. Tatalaksana trauma kimia
mencakup:

Penatalaksanaan Emergency
10


Irigasi merupakan hal yang krusial untuk meminimalkan durasi kontak mata dengan
bahan kimia dan untuk menormalisasi pH pada saccus konjungtiva yang harus
dilakukan sesegera mungkin. Larutan normal saline (atau yang setara) harus digunakan
untuk mengirigasi mata selama 15-30 menit samapi pH mata menjadi normal (7,3).
Pada trauma basa hendaknya dilakukan irigasi lebih lama, paling sedikit 2000 ml
dalam 30 menit. Makin lama makin baik. Jika perlu dapat diberikan
anastesi topikal,larutan natrium bikarbonat 3%, dan antibiotik. Irigasi dalam waktu
yang lama lebih baik menggunakan irigasi dengan kontak lensa (lensa yang terhubung
dengan sebuah kanul untuk mengirigasi mata dengan aliran yang konstan.

Double eversi pada kelopak mata dilakukan untuk memindahkan material yang
terdapat pada bola mata. Selain itu tindakan ini dapat menghindarkan
terjadinya perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi, dan
konjungtiva forniks.

Debridemen pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga dapat
terjadi re-epitelisasi pada kornea.

Selanjutnya diberikan bebat (verban) pada mata, lensa kontak lembek dan artificial
tear (air mata buatan).

Penatalaksanaan Medikamentosa

Trauma kimia ringan (derajat 1 dan 2) dapat diterapi dengan pemberian obat-obatan
seperti steroid topikal, sikloplegik, dan antibiotik profilaksis selama 7 hari. Sedangkan
pada trauma kimia berat, pemberian obat-obatan bertujuan untuk mengurangi
inflamasi, membantu regenerasi epitel dan mencegah terjadinya ulkus kornea.
8,10


Steroid bertujuan untuk mengurangi inflamasi dan infiltrasi neutofil. Namun
pemberian steroid dapat menghambat penyembuhan stroma dengan menurunkan
sintesis kolagen dan menghambat migrasi fibroblas. Untuk itu steroid hanya diberikan
secara inisial dan di tappering off setelah 7-10 hari. Dexametason 0,1% ED dan
Prednisolon 0,1% ED diberikan setiap 2 jam. Bila diperlukan dapat diberikan
Prednisolon IV 50-200 mg

Sikloplegik untuk mengistirahatkan iris, mencegah iritis dan sinekia posterior. Atropin
1% ED atau Scopolamin 0,25% diberikan 2 kali sehari.

Asam askorbat mengembalikan keadaan jaringan scorbutik dan meningkatkan
penyembuhan luka dengan membantu pembentukan kolagen matur oleh fibroblas
kornea. Natrium askorbat 10% topikal diberikan setiap 2 jam. Untuk dosis sitemik
dapat diberikan sampai dosis 2 gr.

Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor untuk menurunkan tekanan intra okular
dan mengurangi resiko terjadinya glaukoma sekunder. Diberikan secara oral
asetazolamid (diamox) 500 mg.

Antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis. Tetrasiklin
efektif untuk menghambat kolagenase, menghambat aktifitas netrofil dan mengurangi
pembentukan ulkus. Dapat diberikan bersamaan antara topikal dan sistemik
(doksisiklin 100 mg).

Asam hyaluronik untuk membantu proses re-epitelisasi kornea dan menstabilkan
barier fisiologis. Asam Sitrat menghambat aktivitas netrofil dan mengurangi respon
inflamasi. Natrium sitrat 10% topikal diberikan setiap 2 jam selama 10 hari. Tujuannya
untuk mengeliminasi fagosit fase kedua yang terjadi 7 hari setelah trauma.

Pembedahan
10



Pembedahan Segera yang sifatnya segera dibutuhkan untuk revaskularisasi limbus,
mengembalikan populasi sel limbus dan mengembalikan kedudukan forniks. Prosedur
berikut dapat digunakan untuk pembedahan:

Pengembangan kapsul Tenon dan penjahitan limbus bertujuan untuk mengembalikan
vaskularisasi limbus juga mencegah perkembangan ulkus kornea.
Transplantasi stem sel limbus dari mata pasien yang lain (autograft) atau dar donor
(allograft) bertujuan untuk mengembalikan epitel kornea menjadi normal.
Graft membran amnion untuk membantu epitelisasi dan menekan fibrosis
Pembedahan Lanjut pada tahap lanjut dapat menggunakan metode berikut:

Pemisahan bagian-bagian yang menyatu pada kasus conjungtival bands dan
simblefaron.
Pemasangan graft membran mukosa atau konjungtiva.
Koreksi apabila terdapat deformitas pada kelopak mata.
Keratoplasti dapat ditunda sampai 6 bulan. Makin lama makin baik, hal ini untuk
memaksimalkan resolusi dari proses inflamasi.
Keratoprosthesis bisa dilakukan pada kerusakan mata yang sangat berat dikarenakan
hasil dari graft konvensional sangat buruk.

KOMPLIKASI

Komplikasi dari trauma mata juga bergantung pada berat ringannya trauma, dan jenis
trauma yang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus trauma basa pada
mata antara lain:
10



1. Simblefaron, adalah. Dengan gejala gerak mata terganggu, diplopia, lagoftalmus,
sehingga kornea dan penglihatan terganggu.
2. Kornea keruh, edema, neovaskuler
3. Sindroma mata kering
4. Katarak traumatik, trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak.
Komponen basa yang mengenai mata menyebabkan peningkatan pH cairan akuos dan
menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi akut ataupun perlahan-
lahan. Trauma kimia asam sukar masuk ke bagian dalam mata maka jarang terjadi
katarak traumatik.
5. Glaukoma sudut tertutup
6. Entropion dan phthisis bulbi


Gambar Simblefaron


Gambar Phthisis bulbi

PROGNOSIS

Prognosis trauma kimia pada mata sangat ditentukan oleh bahan penyebab trauma
tersebut. Derajat iskemik pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva merupakan
salah satu indikator keparahan trauma dan prognosis penyembuhan. Iskemik yang
paling luas pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva memberikan prognosa yang
buruk. Bentuk paling berat pada trauma kimia ditunjukkan dengan gambaran cooked
fish eye dimana prognosisnya adalah yang paling buruk, dapat terjadi kebutaan.
8


Trauma kimia sedang samapai berat pada konjungtiva bulbi dan palpebra dapat
menyebabkan simblefaron (adhesi anatara palpebra dan konjungtiva bulbi). Reaksi
inflamasi pada kamera okuli anterior dapat menyebabkan terjadinya glaukoma
sekunder.
8


Gambar Cooked Fish Eye Appearance
8



DAFTAR PUSTAKA


1. Vaughan DG, Taylor A, and Paul RE. Oftalmologi Umum.Widya medika. Jakarta. 2000.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Work-related Eye Injuries diunduh pada
tanggal 2 Agustus 2011.http://www.cdc.gov/features/dsworkPlaceEye/
3. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2008.
4. Arthur Lim Siew Ming and Ian J. Constable. Color Atlat of Ophthalmology Third
Edition. Washington. 2005.
5. Randleman, J.B. Bansal, A. S. Burns Chemical. eMedicine Journal. 2009.
6. American College of Emergency Phycisians. Management of Ocular Complaints.
Diunduh tanggal 4 Agustus 2011.http://www.acep.org/content.aspx?id=26712
7. Eye Teachers of American Foundation. Eye Trauma. Diunduh pada tanggal 2 Agustus
2011http://www.ophthobook.com/videos/eye-trauma-video
8. Gerhard K. Lang. Ophthalmology A Pocket Textbook Atlas 2
nd
. Stuttgart New York.
2006.
9. American Academy of Ophthalmology. Chemical Burn. Diunduh pada
2 Agustus 2011.http://www.aao.org/theeyeshaveit/trauma/chemical-burn.cfm
10. Kanski, JJ. Chemical Injuries. Clinical Opthalmology. Edisi keenam. Philadelphia:
Elseiver Limited. 2000.
11. Trudo, Edward W dan William Rimm. Chemical Injuries of the Eye. Washington. 2008.
12. Cohlmia Eye Center. Chemical Eye Burns Emergency Care. Diunduh pada tanggal 2
Agustus 20011.http://www.samcohlmia.com/wichita-chemical-eye-burns.php

16. Patofis dan pathogen Rx.kimia yang terjadi itu apa ? yang terjadi pada trauma kimia?
17. Komplikasi trauma kimia apa saja? Bahan kimia apa saja yang bias trauma mata?
Strateginya bagaimana? Bila kita tdk tahu itu asam dan basa
Komplikasi:
l Simblefaron
l Kornea keruh, edema, neovaskuler
l Katarak traumatik
l Glaukoma sekunder

Penyulit
a. Penyulit yang dapat timbul trauma alkali adalah
i. Ssimblefaron,
ii. Kekeruhan kornea,
iii. Edema dan neovaskularisasi kornea,
iv. Katarak, disertai dengan terjadi ftisis bola
mata.

18. Trauma mekanik?hal2 apa saja yang dapat terjadi pada trauma mekanik dari depan
sampe belakang? Pembagian trauma mekanik?
19. Trauma tajam dan tumpul? hal2 apa saja yang dapat terjadi pada trauma tajam dan
tumpul dari depan sampe belakang? Pembagian trauma tajam dan tumpul?
TRAUMA MATA



A. Definisi
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan mata.
Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata, dan dapat juga sebagai kasus polisi.
Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan
kehilangan mata. Alat rumah tangga sering menimbulkan perlukaan atau trauma mata.
Macam-macam bentuk trauma antara lain :
1. Truama Fisik atau mekanik meliputi trauma tumpul dan trauma tajam
2. Trauma Khemis meliputi trauma khemis basa, cuka, asam-asam dilaboratorium dan gas air
mata.
3. Trauma Fisis meliputi trauma termal dan trauma bahan radioaktif.
(dcolz, 2010, 1,2, http://dcolz.wordpress.com, diperoleh 23 Januari 2010)

B. Trauma Fisik atau Mekanik
Trauma mekanik pada mata sering menyebabkan kebutaan unilateral pada anak-anak dan
orang dewasa muda. Pada kelompok inilah trauma pada mata sering terjadi (50%) yaitu umur
kurang dari 18 tahun (di USA).
Meskipun mata telah mendapat perlindungan dari rongga orbita, rima orbita, alis, tulang pipi
dan hidung, lemak orbita, reflex mengedip, bulu mata, sekresi kelenjar kelopak mata dan
konjungtiva, juga dengan telah dibuatnya macam-macam alat untuk melindungi mata, tetapi
frekwensi kecelakaan masih tinggi. Terlebih - lebih dengan bertambah banyaknya kawasan
industri, kecelakaan akibat pekerjaan bertambah banyak pula, juga dengan bertambah
ramainya lalu lintas, kecelakaan di jalan raya bertambah pula, belum terhitung kecelakaan
akibat perkelahian, yang juga mengenai mata. Pada anak-anak kecelakaan mata biasanya
terjadi akibat main panahan, ketepel, senapan angin atau akibat lemparan, tusukan dari gagang
mainan.
Sebaiknya bila ada trauma mekanik mata segera dilakukan pemeriksaan dan pertolongan
karena kemungkinan fungsi penglihatan masih dapat dipertahankan. Adapun pemeriksaan -
pemeriksaan yang diperlukan :
Anamnesa: Kapan, dimana, ada saksi atau tidak, bagaimana visus sebelum trauma, penderita
memakai kacamata atau tidak, kalau memakai kacamata pecah atau tidak,apakah ada benda
asing masuk pada mata atau tidak.
Status Lokalis : Dilakukan pemeriksaan pada setiap jaringan mata secara teliti dan cermat serta
keadaan sekitar mata. Trauma mekanik pada mata dibedakan ada 2 macam yaitu : trauma
mekanik tumpul dan trauma mekanik tajam.
1. Trauma Mekanik Tumpul
Gelombang tekanan akibat trauma menyebabkann tekanan yang sangat tinggi dalam waktu
singkat didalam bola mata. Tekanan dalan bola mata ini akan menyebar antara cairan vitreus
dan sclera yang tidak elastis. Akibatnya terjadi peregangan dan robeknya jaringan pada tempat
dimana ada perbedaan elastisitas, misal daerah limbus, sudut iridocorneal, ligamentum zinni
dan corpus ciliaris.
Respon jaringan akibat trauma menimbulkan : 1). Gangguan molekuler. Dengan adanya
perubahan patologi akan menyebabkan kromatolisis sel. 2). Reaksi Pembuluh darah. Reaksi
pembuluh darah ini berupa vasoparalisa sehingga aliran darah menjadi lambat, sel endotel
rusak, cairan keluar dari pembuluh darah maka terjadi edema. 3). Reaksi Jaringan. Reaksi
Jaringan ini biasanya berupa robekan pada cornea, sclera dan sebagainya.
a. Palpebra
1) Perdarahan Kornea = ecchymosis, black eye
Pada perdarahan hebat, palpebra menjadi bengkak dan berwarna kebiru-biruan, karena
jaringan ikat palpebra halus, perdarahan ini dapat menjalar ke jaringan lain di muka, juga dapat
menyeberang melalui pangkal hidung ke mata yang lain menimbulkan hematom kacamata (bril
hematom) atau menjalar ke belakang menyebabkan eksofthalmos. Bila ecchymosisi tampak
segera sesudah trauma, menunjukkan bahwa traumanya hebat, oleh karenanya harus dilakukan
pemeriksaan seksama dari bagian mata yang lainnya. Juga perlu pemeriksaan foto rontgen
tengkorak.
Bila tak terdapat kelainan mata lainnya dapat diberikan kompres dingin dan 24 jam kemudian
kompres hangat untuk mempercepat resorpsi, disamping obat koagulansia. Bila perdarahan
timbul 24 jam setelah trauma, menunjukkan adanya fraktura dari dasar tengkorak. Dari waktu
antara trauma terjadi sampai timbulnya ecchymosis dapat diketahui kurang lebih letak fraktura
tesebut. Kalau perdarahannya timbul 3 - 4 hari setelah trauma, maka frakturanya terletak di
belakang sekali.
2) Emfisema Palpebra
Menunjukkan adanya fraktura dari dinding orbita, sehingga timbul hubungan langsung antara
ruang orbita denga ruangan hidung atau sinus- sinus sekeliling orbita. Sering mengenai lamina
papyricea os ethmoidalis, yang merupakan dinding medial dari rongga orbita, karena dinding ini
tipis.
Pengobatan : berikan balutan yang kuat untuk mempercepat hilangnya udara dari palpebra dan
dinasehatkan jangan bersin atau membuang ingus karena dapat memperhebat emfisemanya.
Kemudian disusul dengan pengobatan dari frakturanya.
3) Luka Laerasi dipalpebra
Bila luka ini hebat dan disertai dengan edema yang hebat pula, jangan segera dijahit, tetapi
bersihkanlah lukanya dan tutup dengan pembalut basah yang steril. Bila pembengkakannya
telah berkurang, baru dijahit. Jangan membuang banyak jaringan, bila tidak perlu. Bila luka
hebat, sehingga perlu skingraft, yang dapat diambil dari kulit retroaurikuler, brachial dan
supraklavikuler.
4) Ptosis
Kausa :
- Parese atau paralise m. palpebra superior (N. III.)
- Pseudoptosis, oleh karena edema palpebra
- Bila ptosisnya setelah 6 bulan pengobatan denga kortikosteroid dan neurotropik tetap
tak menunjukka perbaikan, mak dilakukan operasi.
b. Konjungtiva
1) Perdarahan Sub Konjungtiva
Tampak sebagai bercak merah muda atau tua, besar, kecil tanpa atau dsertai peradangan mata.
Pengobatannya, simptomatis dengan Sulfazinci, antibiotika bila taku terkena infeksi.
Perdarahannya sendiri dapat diabsorbsi dalam 1 2 minggu, yang dapat dipercepat dengan
pemberian kompres hangat selam 10 menit setiap kali. Kompres hangat jangan diberikan pada
hari pertama, karena dapat memperhebat perdarahannya, pada waktu ini sebaiknya diberikan
kompres dingin.
2) Edema
Bila masif dan terletak sentral dapat mengganggu visus. Kondisi ini dapat diatasi dengan jalan
reposisi konjungtiva atau menusuk konjungtiva sehingga terjadi jalan untuk mengurangi edema
tersebut. Dapat juga dibantu dengan cairan saline yang hipertonik untuk mempercepat
penyerapan.
3) Laserasi
Bila laserasi sedikit ( < 1 cm) dapat diberi antibiotika untuk membatasi kerusakan. Daya
regenerasi epitel konjungtiva yang tinggi sehingga akan tumbuh dalam beberapa hari. Bila > 1
cm dijahit dan diberikan antibiotika.
c. Kornea
1) Erosi Kornea
Bila pennderita mengeluh nyeri, photofobi, epifora, blefarospasme, perlu kita lakukan
pemeriksaan pengecatan fluorescein. Bila (+) berarti sebagian kornea tampak hijau yang berarti
ada suatu lesi atau erosi kornea. Pengobatan dengan bebat mata dan diharapkan 1 - 2 hari
terjadi penyembuhan. Bila erosi luas maka perlu tambahan antibiotika.
2) Edema Kornea
Dapat berupa edema yang datar atau edema yang melipat dan menekuk ke dalam masuk ke
membran bowman dan descemet. Pengobatan dengan bebat mata dan antibiotika, kadang-
kadang diperlukan lensa kontak untuk melindungi kornea pada fase penyembuhan.


d. Bilik Mata Depan : terjadi Hifema
Perdarahan ini berasal dari iris atau badan siliar. Merupakan keadaan yang gawat. Sebainya
dirawat, Karena takut timbul perdarahan sekunder yang lebih hebat daripada perdaran primer,
yang biasanya timbul hari kelima setelah trauma. Perdarahan sekunder ini terjadi karena
bekuan darah terlalu cepat diserap, sehingga pembuluh darah tak mendapat waktu cukup
untuk regenerasi kembali, dan menimbulkan perdarahan lagi. Adanya darah di dalam bilik mata
depan, dapat menghambat aliran aquos ke dalam trabekula, sehingga dapat menimnbulkan
galukoma sekunder. Hifema dapat pula menyebabkan uveitis. Darah dapat terurai dalam
bentuk hemosiderin, yang dapat meresap masuk ke dalam kornea, menyebabkan kornea
berwarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisio kornea. Jadi penyulit yang harus
diperhatikan pada hifema adalah : glaucoma sekunder, uveitis dan hemosiderosis atau imbibisio
kornea. Hifema dapat sedikit dapat pula banyak. Bila sedikit ketajaman penglihatan mungkin
masih baik dan tekanan intraokuler normal. Perdarahan yang mengisi setengah bilik mata
depan, dapat menyebabkan gangguan visus dan kenaikan tekanan intraokuler, sehingga mata
terasa sakit oleh glaukomanya. Jika hifemanya mengisi seluruh bilik mata depan rasa sakit
bertambah dan visus lebih menurun lagi, karena tekanan intraokulernya bertambah pula.
Pengobatan: Harus masuk rumah sakit. Istirahat ditempat tidur dengan elevasi kepala 30 45
derajat. Kepala difiksasi dengan bantal pasir dikedua sisi, supaya tak bergerak. Keadaan ini
harus dipertahankan minimal 5 hari. Pada anak-anak mungkin harus diikat tangan dan kakinya
ditempat tidur. Kedua mata ditutup, atau dapat pula mata yang sakit saja yang ditutup. Beri
salep mata, koagulansia. Bila terisi darah segar, berikan antifibrinolitik, supaya bekuan darah
tak terlalu cepat diserap, untuk memberi kesempatan pembuluh darah menyembuh, supaya tak
terjadi perdarahan sekunder. Pemberiannya tak boleh melewati 1 minggu, karena dapat
mengganggu aliran humor aquos, menimbulkan glaucoma dan imbibisio kornea. Dapat
diberikan 4 kali 250 mg transamic acid. Selama dirawat yang perlu dipehatikan adlah hifema
penuh atau tidak, tekanan intraokuler naik atau tidak, fundus terlihat atau tidak.Hifema yang
penuh dengan kenaika intra okuler, perlu pemberian diamox, gliserin yang harus dinilai dalam
24 jam. Jika tekanan intraokuler tetap tinggi atau turun, tetapi tetap diatas normal, dilakukan
parasentese. Jika tekanan menjadi normal, diamox tetap diberikan dan dinilai setiap hari. Bila
tekanan ini tetap normal dan darah masih terdapat sampai hari ke 5 9,dilakukan parasentese.
Bila terdapat glaukoma yang tak dapat dikontol dengan cara diatas, maka dilakukan
iridenkleisis, dengan merobek iris, yang kemudian diselipkan diantara insisi korneo skleral,
sehingga pupil tampak sebagai lubang kunci yang terbalik.
e. Iris
1) Iridoplegi
Merupakan kelumpuhan otot sfinter pupil sehingga pupil menjadi midriasis. Iridoplegi ini dapat
berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Pengobatan sebaiknya istirahat untuk
mencegah terjadi kelelahan sfinter dan pemberian roboransia.
2) Iridodialisis
Merupakan robekan pada akar iris, sehingga pupil agak kepinggir letaknya, pada pemeriksaan
biasa teerdapat warna gelap selain pada pupil, tetapi juga pada dasar iris tempat iridodialisa.
Pada pemerisaan oftalmoskop terdapat warna merah pada pupil dan juga pada tempat
iridodialisa, yang merupakan reflek fundus.Pengobatan dapat dicoba dengan midriatika,
sehingga pupil menjadi lebar dan menekan pada akarnya. Istirahat ditempat tidur. Mata
ditutup. Bila menimbulkan diplopia, dilakukan reposisi, dimana iris dikaitkan pada sclera.
f. Pupil : terjadi Midriasis
Disebabkan iriodoplegi, akibat parese serabut saraf yang mengurus otot sfingter pupil.
Iridoplegi ini dapat terjadi temporer 2 3 minggu, dapat juga permanen, tergantung adanya
parese atau paralise dari otot tersebut. Dalam waktu ini mata terasa silau. Pengobatan
sebaiknya istirahat untuk mencegah terjadi kelelahan sfingter dan pemberian roboransia.
g. Lensa
1) Dislokasi Lensa
Dislokasi lensa terjadi karena ruptura dari zonula zinni. Dapat sebagian (subluksasi), dapat pula
total (luksasi). Lepasnya dapat kedepan dapat pula ke belakang. Bila tak menimbulkan penyulit
glaucoma atau uveitis, dibiarkan saja, dengan memberi koreksi keadaan refraksinya. Baru
dilakukan ekstraksi lensa bila kemudian timbul penyulit glaucoma, uveitis dan katarak, setelah
glaucoma dan uveitisnya diredakan dahulu.
2) Katarak Traumatika
Katarak ini timbul karena gangguan nutrisi. Ada macam-macam katarak traumatika yaitu vosius
ring, berbentuk roset(bintang), dengan kapsula lensa yang keriput. Pengobatan tergantung saat
terjadinya. Bila terjadi pada anak sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya
ambliopia. Untuk mencegah ambliopia dapat dipasang lensa intraokuler primer atau sekunder.
Pada katarak trauma bila tidak terjadi penyulit dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang.
Bila terjadi penyulit seperti glaucoma, uveitis dan lai sebagainya maka segera dilakukan
ekstraksi lensa.


h. Badan Kaca : terjadi Perdarahan Badan Kaca
Darah berasal dari badan siliar, koroid dan retina. Karenanya bila terdapat perdarahan didalam
badan kaca, sebaiknya dilakukan pemeriksaan ultrasonografi, untuk mengetahui keadaan
dibagian posterior mata.
Pengobatan dapat diberikan koagulansia per oral atau parenteral disamping istirahat di tempat
tidur. Tindakan operatif vitrektomi, baru dilakukan bila setelah 6 bulan dilakukan pengobatan,
masih terdapat kekeruhan, untuk memperbaiki tajam penglihatan.
i. Retina
1) Edema Retina
Edema retina biasanya didaerah polus posterior dekat macula atau di perifer. Tampak retina
dilapisi susu. Bila terjadi di macula, visus sentral terganggu dengan skotoma sentralis. Dengan
istirahat, edema dapat diserap dan refleks fovea tampak kembali. Untuk mempercepat
penyerapan dapat disuntikkan kortison subkonjungtiva 0,5 cc 2 kali seminggu.
2) Ruptura Retina
Robekan pada retina menyebabkan ablasi retina = retinal detachment. Umumnya robekan
berupa huruf V didapatkan di daerah temporal atas. Melalui robekan ini, cairan badan kaca
masuk ke celah potensial di antara sel epitel pigmen dan lapisan batang dan kerucut, sehingga
visus dapat menurun, lapang pandang mengecil, yang sering berakhir kebutaan, bila terdapat
ablasi total.
Pengobatan harus dilakukan segera, dimana prinsipnya dilakukan pengeluaran cairan subretina,
koagulasi ruptura dengan diatermi.
3) Perdarahan Retina
Dapat timbul bila trauma tumpul menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Bentuk perdarahan
tergantung lokalisasinya. Bila terdapat dilapisan serabut saraf tampak sebagai bulu ayam, bila
tampak lebih keluar tampak sebagai bercak yang berbatas tegas, perdarahan di depan retina
mempunyai permukaan yang datar di bagian atas dan cembung di bagian bawah. Darahnya
dapat pula masuk ke badan kaca. Penderita mengeluh terdapat bayangan-bayangan hitam di
lapangan penglihatannya, kalau banyak masuk kedalam badan kaca dapat menutup jalannya
cahaya, sehingga visus terganggu.
Pengobatan dengan istirahat di tempat tidur, istirahat mata, di beri koagulansia, bila masuk ke
badan kaca diobati sebagai perdarahan badan kaca.
j. Sklera : terjadi Robekan Sklera
Kalau robekannya kecil, sekitar robekan didiatermi dan robekannya dijahit. Pada robekan yang
besar lebih baik dilakukan enukleasi bulbi, untuk hindarkan oftalmia simpatika. Robekan ini
biasanya terletak di bagian atas.

k. Nervus Optikus
1) Avulsi Papil Saraf Optik
Pada trauma tumpul dapat terjadi saraf optik terlepas dari pangkalnya di dalam bola mata.
Keadaan ini akan mengakibatkan turunnya tajam penglihatan yang berat dan sering berakhir
dengan kebutaan.Penderita ini perlu dinilai kelainan fungsi retina dan saraf optiknya.
2) Optik Neuropati Traumatik
Trauma tumpul dapat mengakibatkan kompresi pada saraf optik, demikian pula perdarahan
dan edema sekitar saraf optik.
Penglihatan akan berkurang setelah cedera mata. Terdapat reaksi defek aferen pupil tanpa
adanya kelainan nyata pada retina. Tanda lain yang dapat ditemukan adalah gangguan
penglihatan warna dan lapangan pandang. Papil saraf optik dapat normal dalam beberapa
minggu sebelum menjadi pucat.
Pengobatan adalah dengan merawat penderita pada waktu akut dengan memberi steroid. Bila
penglihatan memburuk setelah steroid maka perlu dipertimbangkan untuk pembedahan.
l. Enoftalmus
Disebabkan robekan besar pada kapsula tenon yang menyelubungi bola mata di luar sclera atau
disebabkan fraktura dasar orbita. Oleh karena itu harus dibuat foto rontgen dari tulang
tengkorak. Seringkali enoftalmus tidak terlihat selama masih terdapat edema. Gejalanya :
penderita merasa sakit, mual, terdapat diplopi pada pergerakan mata keatas dan ke bawah.
Saraf infra orbita sering rusak dan penderita mengeluh anesthesia pada kelopak mata atas dan
ginggiva.
Pengobatan : operasi, dimana dasar orbita dijembatani dengan graft tulang kartilago atau
badan aloplastik.
m. Eksoftalmus
Biasanya disebabkan perdarahan retrobulber berasal dari A. Oftalmika beserta cabang-
cabangnya. Dengan istirahat di tempat tidur perdarahan diserap kembali, juga diber
koagulansia. Bila eksoftalmus disertai pulsasi dan souffles, berarti ada aneurisma antara arteri
karotis interna dan sinus kavernosus.
Pengobatan : pengikatan pada a. karotis sisi yang sama (dcolz, 2010, 1-15,
http://dcolz.wordpress.com, diperoleh 23 Januari 2010).
o Patofisiologi Trauma Tumpul
(terlampir)

2. Trauma Mekanik Tajam
Pada trauma mekanik tajam ada baiknya diberi anestesi lokal, supaya pemeriksaan dapat
dilakukan dengan teliti dan pada luka-luka yang hebat, yang dapat menimbulkan prolaps dari isi
bola mata. Serum antitetanus harus diberikan pada setiap luka akibat benda tajam.
a. Palpebra
Kalau pinggiran palpebra luka dan tak diperbaiki, dapat menimbulkan koloboma palpebra
akwisita. Bila besar dapat akibatkan kerusakan kornea oleh karena mata tak dapat menutup
dengan sempurna. Oleh karena itu tindakan harus dilakukan secepatnya. Kalau tidak kotor
dapat ditunggu sampai 24 jam. Pada tindakan tersebut harus diperbaiki kontinuitas margo
palpebra dan kedudukan bulu mata. Jangan sampai menimbulkan trikiasis. Bila robekan
mengenai margo inferior bagian nasal, dapat memotong kanalikuli lakrimal inferior, sehingga
air mata tak dapat melalui jalan yang seharusnya dan mengakibatkan epifora. Rekanalisasi
dapat dikerjakan secepatnya, bila ditunggu 1 2 hari sukar untuk mencari ujung-ujunng
kanalikuli tersebut.
b. Konjungtiva
1) Perdarahan : Penatalaksanaan sama dengan rudapaksa mata mekanis tumpul.
2) Robekan
Bila kurang dari 1 cm tidak dijahit, diberikan anestesi lokal. Bila lebih dari 1 cm dijahit denga
benang cut gut atau sutera berjarak 0,5 cm antara tiap-tiap jahitan. Diberikan antibiotika lokal
selam 5 hari dan bebat mata untuk 1 - 2 hari.
c. Kornea
1) Erosi Kornea : Penatalaksanaan seperti rudapaksa tumpul.
2) Luka Tembus Kornea
Dari anamnesa didapatkan teraba nyeri, epifora, photofobi dan blefarospasme. Pada
pemeriksaan didapat tes fluorescein (+).
Pengobatan: tanpa mengingat jarak waktu antara kecelakaan dan pemeriksaan, tiap luka
terbuka kornea yang masih menunjukkan tanda-tanda adanya kebocoran harus diusahakan
dijahit. Jaringa intraokuler yang keluar dari luka, missal: badan kaca, prolap iris sebaiknya
dipotong sebelum luka dijahit. Janganlah sekali-kali dimasukkan dalam bolamata. Jahitan
kornea dilakukan secara lamellar untuk menghindari terjadinya fistel melalui bekas jahitan.
Luka sesudah dijahit dapat ditutup lembaran konjungtiva yang terdekat. Tindakan ini dapat
dianggap dapat mempercepat epitelialisasi. Diberikan antibiotika lokal dalam bentuk salep,
tetes atau subkonjungtiva. Atropin tetes 0,5 1% tiap hari. Dosis dikurangi bila pupil sudah
cukup lebar. Bila ada tanda-tanda glaucoma sekunder dapat diberikan tablet. Analgetik,
antiinflamasi, koagulasi dapat diberika bila perlu.
3) Ulkus Kornea
Sebagian besar disebabkan oleh trauma yang mengalami infeksi sekunder. Dari anamnesa
teraba nyeri, epifora, photofobi, dan blefarospasme. Dari pemeriksaan nampak kornea yang
edema dan keruh dan tes flurescein (+).
Pengobatan dapat diberikan antibiotika lokal tetes, salep atau subkonjuntiva, scraping atau
pembersihan jaringan nekrotik secara hati-hati bagian dari ulkus yang nampak kotor, aplikasi
panas, cryo terapi.
d. Sklera : Luka Terbuka atau tembus
Luka ini lekas tertutup oleh konjungtiva sehingga kadang sukar diketahui. Luka tembus sclera
harus dipertimbangkan apabila dibawah konjungtiva nampak jaringan hitam (koroid).
Pengobatan: sama dengan luka tembus pada kornea. Bila luka sangat besar dan diragukan
bahwa mata tersebut masih dapat berfungsi untuk melihat, maka sebaiknya dienukleasi untuk
menghindarkan timbulnya oftalmia simpatika pada mata yang sehat.
e. Badan Siliar : terjadi luka pada badan siliar
Luka disini mempunyai prognosis yang buruk, karena kemungkinan terbesar dapat
menimbulkan endoftalmitis, panoftalmitis, yang dapat berakhir dengan ptisis bulbi pada mata
yang terkena trauma, sedang pada mata yang sehat dapat timbul oftalmia simpatika. Oleh
karena itu bila lukanya besar, disertai prolaps isi bola mata sehingga mata mungkin tak dapat
melihat lagi, sebaiknya dilakukan enukleasi bulbi supaya mata yang sehat masih tetap baik.
f. Bilik Mata Depan : Penatalaksanaan sama denga trauma tumpul.
g. Iris : terjadi Iritis
Sering akibat dari trauma. Dari anamnese didapatkan keluhan nyeri, epifora, photofobi, dan
blefarospasme. Dari pemeriksaan didapatkan pupil miosis, reflek pupil menurun dan sinekia
posterior.
Pengobatan dapat diberikan Atropin tetes 0,5 1% 1 - 2 kali selama sinekia belum lepas dan
antibiotika. Diberikan diamox bila ada komplikasi glaukoma.
h. Lensa
1) Dislokasi Lensa : Penatalaksanaan sama dengan trauma mekanik tumpul.
2) Katarak : Penatalaksanaan sama dengan trauma mekanik tumpul.
i. Segmen Posterior : Penatalaksanaan sama dengan trauma mekanik tumpul
j. Luka dengan benda asing (Corpus Alienum)
Pemeriksaan yang teliti secara sistimatis sangat diperlukan untuk dapat menentukan adanya,
macamnya, lokalisasi dari benda tersebut.
1) Anamnese :
Terutama pada penderita yang bekerja di perusahaan, dimana benda logam memegang
peranan. Harus ditanyakan apa pekerjaannya dan benda asing apakah kiranya yang masuk ke
dalam mata.
2) Pemeriksaan :
Benda asing tersebut harus dicari secara teliti maemakai penerangan yang cukup mulai dari
palpebra, konjungtiva, fornixis, kornea, bilik mata depan.Bila mungkin benda tersebut berada
dalam lensa, badan kaca diman perlu pemeriksaan tambahan berupa funduskopi, foto rontgen,
ultrasonografi, pemerisaan dengan magnet, dan coronal CT Scan. MRI merupakan kontra
indikasi untuk benda logam yang mengandung magnet.
Benda asing yang dapat masuk ke dalam mata dibagi dalam beberapa kelompok:
- Benda logam, seperti emas, perak, platina, timah hitam, besi tembaga.
Terbagi menjadi benda logam magnit dan bukan magnit.
- Benda bukan logam, seperti batu, kaca, bahan tumbuh-tumbuhan, bahan pakaian.
- Benda inert, yaitu benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak menimbulkan reaksi
jaringan mata, kalau terjadi reaksipun hanya ringan saja dan tidak mengganggu fungsi mata.
Contoh: emas, platina batu, kaca, dan porselin.
- Benda reaktif : terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi jaringan mata
sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam, seng, nikel, aluminium, tembaga,
bulu ulat.
Pengobatan yaitu dengan mengeluarkan benda asing tersebut. Bila lokalisasi di palpebra dan
konjungtiva, kornea maka dengan mudah dapat dilepaskan setelah pemberian anestesi
lokal.Untuk mengeluarkan perlu kapas lidi atau jarum suntik tumpul atau tajam.Arah
pengambilan adalah dari tengah ke tepi.Bila benda bersifat magnetik maka dapat dikeluarkan
dengan magnet portable atau giant magnet. Kemudian diberi antibiotika lokal, sikloplegik dan
mata dibebat. Pecahan besi yan terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi di limbus,
melalui luka ini ujaung dari magnit dimasukkan untuk menarik benda tersebut, bila tidak
berhasil dapat dilakukan iridektomi dari iris yang mengandung benda asing tersebut. Pecahan
besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan dengan magnit pula seperti
pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik denga magnit, sesudah dibuat sayatan di
limbus kornea, jika tidak berhasil dapat dilakukan pengeluaran lensa denga cara ekstraksi linier
pada orang muda dan ekstraksi ekstra kapsuler atau intrakapsuler pada orang yang lebih tua.
Bila lokalisasinya di dalam badan kaca dapat dilakukan pengeluaran dengan magnit raksasa,
setelah dibuat sayatan dari skera. Bila tidak berhasil atau benda asing itu tidak magnetik dapat
dikeluarkan dengan opersai viterektomi. Bila benda asing itu tidak dapat diambil harus
dilakukan enukleasi bulbi untuk mencegah timbulnya oftalmia simpatika pada mata sebelahnya
(Edy, 2010, 1-20, http://urangcijati.com, diperoleh 23 Januari 2010).
o Patofisiologi Trauma Tajam
(terlampir)
C. Trauma Kimia
Truma Kimia dibagi menjadi : trauma kimia asam dan trauma kimia basa
1. Trauma Kimia Asam pada Mata
a. Pengertian
Trauma asam merupakan salah satu jenis trauma kimia mata dan termasuk kegawatdaruratan
mata yang disebabkan zat kimia bersifat asam dengan pH < 7
b. Etiologi
Trauma kimiawi biasanya disebabkan akibat bahan-bahan yang tersemprot atau terpercik pada
wajah.
- Bahan kimia asam
Asam sulfat, sulfurous acid, asam hidroklorida, asam nitrat, asam asetat, asam kromat,
danasam hidroflorida.
- Ledakan
Baterai mobil, yang menyebabkan luka bakar asam sulfat, mungkin merupakan penyebab
tersering dari luka bakar kimiawi
- Asam
Hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada cairan penghilang karat, pengkilap aluminum,
dan cairan pembersih yang kuat. Industri (pembersih dinding, glass etching (pengukiran pada
kaca dengan cairan kimia), electropolishing, dan penyamakan kulit., fermentasi pada
pengolahan bir).
Cairan atau gas
c. Patofisiologi
Bahan kimia asam

Asam cenderung berikatan dengan protein

Menyebabkan koagulasi protein plasma

Koagulasi protein ini, sebagai barrier yang membatasi penetrasi dan
kerusakan lebih lanjut

Luka hanya terbatas pada permukaan luar saja.

Pengecualian terjadi pada asam hidroflorida. Bahan ini merupakan suatu asam lemah yang
dengan cepat menembus membran sel .

d. Penatalaksanaan
- Irigasi jaringan yang terkena secepat-cepatnya, selama mungkin untuk menghilangkan
dan melarutkan bahan yang mengakibatkan trauma.
Irigasi dapat dilakukan dengan garam fisiologi atau air bersih lainnya paling sedikit 15-30 menit.
Anestesi topikal (blefarospasme berat)
- Penetralisir ---> natrium bikarbonat 3%.
- Antibiotik---> bila perlu
- Biasanya trauma akibat asam akan normal kembali,
- sehingga tajam penglihatan tidak banyak terganggu

2. Trauma Kimia Basa pada Mata
a. Pengertian
- Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan akibat yang sangat gawat pada
mata.
- Alkali akan menembus dengan cepat kornea, bilik mata depan, dan sampai pada
jaringan retina
b. Etiologi
- Semen
- Soda Kuat
- Amonia
- NaOH
- CaOH
- Cairan Pembersih dalam Rumah Tangga
c. Patofisiologi
Bahan kimia alkali

Pecah atau rusaknya sel jaringan dan Persabunan disertai disosiasi asam lemak
membran sel -----> penetrasi lebih lanjut




Mukopolisakarida jaringan menghilang & terjadi penggumpalan sel kornea

Serat kolagen kornea akan membengkak & kornea akan mati

Edema -----> terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma,
cenderung disertai masuknya pemb.darah (Neovaskularisasi)

Dilepaskan plasminogen aktivator & kolagenase (merusak kolagen kornea)

Terjadi gangguan penyembuhan epitel




Berkelanjutan menjadi ulkus kornea atau perforasi ke lapisan yang lebih dalam







d. Penatalaksanaan
- Irigasi dengan garam fisiologik selama mngkn (2000 ml selama 30 menit)
- Pemeriksaan kertas lakmus.
- Bila penyebab CaOH -----> diberi EDTA (bereaksi dengan basa pada jaringan)
- Antibiotik -----> mencegah infeksi.
- Siklopegi -----> mengistirahatkan irir, mengatasi iritis.
- Anti glaucoma -----> mencegah glaukoma sekunder.
- Steroid (7 hari pertama) -----> anti inflmasi.
- Kolagenase inhibitor (sistein, 1 minggu) -----> menghilangi efek kolagenase.
- Vitamin C -----> membentuk jaringan kolagen.
- Bebat (perban) pada mata, lensa kontak lembek dan tetes air mata buatan.
Operasi keratoplasti -----> bila kekeruhan kornea sangat mengganggupenglihatan.
(Soemarmo, 2010, 1-7, http://www.scribd.com, diperoleh tanggal 25 Januari 2010)

D. Trauma Fisis
Trauma fisis dibagi menjadi 2 yaitu
1. Trauma Termik
Trauma ini disebabkan seperti panas, umpamanya percikan besi cair, diperlukan sama seperti
trauma kimia
2. Trauma Radiasi
Trauma radiasi disebabkan oleh inframerah dan ultraviolet. Trauma ini berjalan lambat dan
kecenderungan terjadi dalam waktu lama. Seseorang akan mengalami keluhan dan datang
berobat karena marasa matanya sakit, matanya kabur, mata lelah dll (Bayu, 2010, 3,
http://www.bayusatria.web.id, diperoleh tanggal 25 Januari 2010)
20. Perbedaan trauma fisik dan mekanik? Bagaimana tatalaksana korpus alienum pada
mata?
21. Pemeriksaan penunjang pada kasus trauma?
















STEP 4








radioterapi kimia Fisik dan mekanik
Trauma mata
Benda asing