Anda di halaman 1dari 19

PEMBUATAN MEDIA DAN LARUTAN PENGENCER

Disusun Oleh :

TUGI SANTOSO

NIM 0803035019








PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008
Pendahuluan



Larutan dapat didefinisikan sebagai perpaduan antara zat terlarut (solut) dan zat pelarut (solven).
Biasanya jumlah zat terlarut lebih kecil dari jumlah pelarutnya. Berdasarkan parameter fasa, larutan
dikenal dengan larutan sefasa (homogen) dan tidak sefasa (hetrogen). Berdasarkan jumlah zat terlarut
dalam larutan, larutan terdiri atas larutan encer dan laruta pekat. Berdasarkan derajat keasaman dan
kebasaan larutan digolongkan atas larutan asam, larutan netral dan larutan basa, dan masih banyak
penggolongan larutan lain berdasarkan parameter yang lain pula.

Jumlah zat terlarut dalam sejumlah pelarut dikenaldengan konsentrasi atau dapat pula sebagai jumlah
zat terlarut relatif terhadap jumlah total larutan. Ada beberapa metode atau cara untuk menyatakan
konssentrasi larutan yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas,normalitas, persen, formalitas, dan ppm
(bagian per sejuta), yang secara umum dijelaskan sebagai berikut:

1. Molaritas adalah banyaknya mol zat terlarut per liter larutan.

2. Molalitas adalah banyaknya mol zat terlarut per kilogram pelarut.

3. Normalitas adalah banyaknya ekuivalen zat terlarut per liter larutan: untuk ekuivalen dapat
didefinisikan sebagai berikut:

a. Satu ekuivalen asam adalah massa asam yang diperlukan untuk melepaskan satu mol H+.

b. Satu ekuivalen basa adalah massa basa yang diperlukan untuk melepaskan satu mol OH-, atau
menerima satu mol H+.

4. Fraksi mol adalah perbandingan jumlah mol suatu komponen dengan jumlah total mol larutannya.

5. Formalitas adalah jumlah mol formula zat terlarut per liter larutan.

6. Persen adalah jumlah massa atau volume zat terlarut per 100 satuan massa atau volume pelarut
dengan catatan satuan masa dan volume harus seragam.

7. Bagian per sejuta (ppm = part per million) adalah satuan konsentrasi untuk larutan encer seperti
polutan dalam udara, logam dalam batuan dll. Pengertian ppm adalah misalnya 1 gram zat tertentu per
106 gram pelarutnya atau dalam satuan volume dll.

Larutan asam, basa dan garam yang sudah dibuat dapat diketahui apabila diidentifikasikan dengan
berbagai pereaksi. Identifikasi dapat berupa perubahan warna, pH, kelarutan, suhu, tekanan, volume
dan timbulnya gas. Reaktifitas larutan jika ditambahkan zat tertentu berbeda-beda, misalnya untuk
golongan IA dan IIA, basa golongan IA lebih kuat dari basa golongan IIA artinya kereaktifan basa
golongan IIA lebih tinggi dari golongan IA. Hidroksida golongan IIA hanya sedikit larut dalam air dan
kelarutannya bertambah dari atas ke bawah. Sebaliknya kelarutan garam sulfatnya dari atas ke bawah
dalam golongannya semakin kecil. Untuk identifikasi zat dapat digunakan kertas lakmus, Ph universal,
indikator dll.


Dasar Teori


Larutan adalah campuran yang homogen dari dua zat atau lebih.Dua kata yang berkaitan dengan larutan
adalah solven (zat pelarut) dan solut (zat terlarut).Dalam kehidupan sehari-hari,kita biasa memanfaatkan
asam untuk makanan,misalnya asam cuka,asam jeruk atau asam-asam lain yang berasal dari buah-
buahan.Di dalam lambung juga terdapat asam lambung,yaitu asam klorida yang berguna untuk
mencernakan makanan dan membunuh mikro organisme yang masuk melalui makanan.Teori-teori
tentang asam antara lain dikemukakan oleh para pakar berikut ini.
Antoine Lavoisier (1770-1780) menyatakan bahwa asam mengandung oksigen.Kesimpulan ini
diperolehberdasarkan percobaan pembakaran karbon,belerang,dan nitrogen yang menghasilkan
oksida.Oksida itu dalam air membentuk asam.
Humphrey Davy (1816) menyatakan bahwa semua asam mengandung hidrogen,seperti asam klorida
yang terdiri dari hidrogen dan klorin.Asam klorida tidak mengandung oksigen.
Justus von Liebig (1838) menyatakan bahwa asam adalah zat yang mengandung hidrogen.Hidrogen itu
dapat digantikan dengan logam.
Svante August Arrhenius (1887) bahwa asam adalah zat yang dapat menghasilkan ion hydrogen positif
(H+).


Dalam perkembangan teori-teori asam,pakar kimia menggunakan model-model untuk menjelaskan
fakta.Model merupakan penjelasan dari apa yang dapat diamati langsung atau tak langsung.Suatu
model dapat diubah untuk disesuaikan dengan fakta.Suatu model yang baik dapat menjelaskan berbagai
fakta yang ditemukan dalam percobaan.Dalam mempelajari larutan asam dan basa berbagai model
dipelajari untuk menjelaskan perilaku asam dan basa.


Pada tahun 1880-1890 Wilhelm Ostwald dan Arrhenius mengembangkan teori asam dan basa
berdasarkan atas disosiasielektrolit.Selanjutnya teori asam dan basa lebih dikenal dengan teori
Arrhenius.Teori itu mengatakan bahwa asam adalah zat yang dalam air menghasilkan ion H+ dan ion lain
yang bermuatan negatif.Teori Arrthenius berlaku untuk larutan dalam pelarut air.

Dari kehidupan sehari-hari diketahui bahwa asam mempunyai rasa masam,walaupun kadar asamnya
berbeda-beda,misalnya rasa masam dari jeruk,belmbing dan asam jawa.Di laboratorium dapat dijumpai
asam klorida,asam sulfat,asam nitrat,dan asam fosfat.Sifat lain dari asamdapat bereaksi dengan logam
menghasilkan hidrogen.Pengionan asam dalam air dapat dituliskan sebagai berikut.



HCl(g) H+(aq) + Cl-(aq)


HNO3 (l) H+aq) + NO3- (aq)


Kereaktifan asam terhadap logam disebut sifat korosif asam.Reaksi asam dengan logam dapat dituliskan
sebagai berikut.



Mg(s) + 2HCl(aq) MgCl2(aq) + H2(g)

atau

Mg(s) + 2H+(aq) Mg2+(aq) + H2(g)


Fe(s) + H2SO4(l) FeSO4(aq) + H2(g)

atau


Fe(s) + 2H+(aq) Fe2+(aq) + H2(g)






Tujuan Percobaan


a. Mempelajari beberapa aspek yang terkait dengan larutan termasuk proses pembuatan, penentuan
konsentrasi dan karakterisasi sifat-sifatnya.

b. Setelah mrnyelesaikan percobaan membuat larutan dan analisisnya mahasiswa akan dapat membuat
larutan, menentukan konsentrasi larutan dan sifat- sifatnya.

c. Jika diberikan bahan zat padat, zat cair, pereaksi dan beberapa persamaan M, N, F dan sebagainya,
mahasiswa akan dapat membuat larutan, menentukan konsentrasi dan sifat-sifat larutan minimal 99%
benar.


Alat dan Bahan


Alat : botol timbang kering, labu takar 100 mL, pipet ukur.

Bahan : air suling, NaOH, H2SO4 Urea.


Cara Kerja



1. Pembuatan Larutan

Pembuatan larutan dengan zat terlarut bahan padat

a. Sediakan botol timbang/gelas piala keringdan bersih dalam keadaan kosong.

b. Tambahkan (timbang) dengan teliti 4 gram NaOH padat (pelet), kemudian larutkan dengan air suling
75 mL.

c. Masukkan ke dalam labu ukur 100 mL, kemudian penuhkan labu ukur dengan air suling sampai tanda
tera. Perhatikan miniskus (permukaan cekung dari at cair) harus tepat menyinggung tanda tera labu
ukur.

d. Kocok hingga homogen dan diberi label konsentrasinya (konsentrasi dihitung dalam satuan M, N, F, X,
dan m)

e. Ulangi percobaan a-d dengan mengganti NaOH dengan 5 gram urea. Perhatikan perubahan
temperature larutan. Apakah terjadi reaksi eksotermis atau endotermis?


2. Pengenceran

Untuk membuat larutan standar kadang-kadang dilakukan dengan mengencerkan larutan standar NaOH
0,1 N dari larutan NaOH 1 N. Tentukan dulu berapa banyak larutan standar yang akan dibuat dan
dihitung, berapa banyak larutan asli yang harus diencerkan dengan persamaan:


V1 . N1 = V2. N2 V1 = V2.N2

N1

V1 = volume larutan asli yang digunakan/diperlukan

N1 = normalitas asli

N2 = volume larutan standar yang akan dibuat

V2 = normalitas larutan standar yang akan dibuat


A. Pengenceran dengan Labu Ukur

a. Ambil 20 mL laruta NaOH yang telah dibuat pada percobaan pembuatan larutan sebelumnya,
masukkan ke dakam labu ukur 100mL.

b. Tambahkan air suling sampai permukaan cekung larutan tepat menyinggung tanda tera labu ukur.

c. Kocok sampai larutan homogen.

d. Hitung konsentrasi hasil pengenceran berdasarkan rumus V1 . N1 = V2. N2

V1, V2 = volume larutan sebelum dan sesudah diencerkan

N1, N2 = konsentrasi larutan sebelum dan sesudah diencerkan

e. Hitung konsentrasi dalam satuan M, N, F, X, dan m.

B. Pengenceran H2SO4

Untk zat-zat yang menunjukkan reaksi eksotermis pada pengenceran seperti H2SO4 pekat, maka
pengenceran dilakukan dengan cara menambahkan sedkit demi sedikit H2SO4 ke dalam pelarut.

a. Ambil 7 mL air suling dengan menggunakan geles ukur, tuangkan ke dalam tabung reaksi.

b. Ambil 3 mL H2SO4 pekat dengan menggunakan pipet tetes yang bersih, isikan ke dalam gelas ukur
hingga volume 3 mL.

c. Tuangkan H2SO4 pekat ini ke dalam tabung reaksi yang diisi air suling tadi. Ingat, penuangan harus
dilakukan dengan sangat hati-hati. Perhatikan/rasakan perubahan panas sebelum dan sesudah H2SO4
dituang kedalam tabung reaksi.



F. Data Pengamatan

A. Pembutan Larutan

Tabel Hasil Pengamatan
Senyawa

Kimia
Konsentrasi larutan
Sifat reaksi

M
N
F
X
M
Endoterm
Eksoterm

NaOH
0,001
1
0.04
0,997
1
-
X

Urea





X
-



B. Pengenceran dengan labu ukur

Normalitas NaOH awal (N1)= 0,1 N

Volume NaOH awal (V1) = 20 mL

Volume NaOH akhir (V2) = 100 ML

Normalitas NaOH akhir (setelah di encerkan)

N2= V1.N1 = 20x0,1 =0,02 N

V2 100

C. Pengenceran H2SO4 pekat

Volume air suling = 7 mL

Volume H2SO4 = 3 mL

Perubahan panas:

Sebelum reaksi = Normal

Sesudah reaksi = Panas



G. Pembahasan


A. Konsentrasi Larutan Dalam Berbagai Satuan

Dalam ilmu kimia, kepekatan suatu larutan disebut konsentrasi. Konsentrasi suatul larutan dapat
dinyatakan dengan berbagai satuan, anatara lain, kemolaran, kemolalan, kenormalan, persen massa,
dan persen volume. Pada pembahasan ini kita akan membahas, Kemolaran, Kemolalan, Normalitas dan
Fraksi mol.

- Kemolaran

Konsentrasi suatu larutan dapast dinyatakan dalam sutau molar (M). Kemolaran suatu larutan
menyatakan banyak mol zat terlarut dalam satu liter larutan. Suatu larutan yang mengandung 0,5 mol
HCl per liter larutkan dikatakan mempunyai kemolaran 0,5 mol L-1 atau dituliskan 0,5 M.


Kemolaran (M) = mol zat terlarut

Liter larutan



- Kemolalan

Satuan konsentrasi dalam kemolaran dan kenormalan digunakan untuk perhitungan stoikiometri reaksi
yang menyangkut larutan, sedangkan untuk perhitungan yang menyangkut sifat larutan ( sifat koligatif )
digunakan satuan seperti kemolalan dan fraksi mol. Kemolalan menyatakan jumlah mol zat terlarut
dalam 1 kg zat terlarut.


Kemolalan (m) = jumlah mol zat terlarut

Kg zat pelarut



- Normalitas (N)

Normalitas suatu larutan menatakan jumlah gram ekuivalen yang terdapat dalam setiap liter larutan.
Gram ekuivalen (grek) merupakan sejumlah massa yang dapat menghasilkan 1 mol ion H+ dari suatu
asam atau 1 mol ion OH- dari suatu basa. Di dalam reaksi redoks,1 gram ekuivalen adalah sejumlah
massa dari suatu oksidator atua reduktor yang dapat melapas atau mengikat 1 mol elektron.


- Fraksi Mol (X)

Fraksi mol menyatakan perbandingan banyak mol suatu komponen zat terhadap jumlah mol semua
komponen zat terhadap dalam suatu larutan. Bila dalam suatu larutan terdapat zat A, B, dan C dengan
masing-masing nA mol, nB mol, nC mol, maka.

NA


XA=




nA + nB + nC







H. Kesimpulan


Setelah melakukan percobaan pembuatan dan pengenceran larutan NaOH dan H2SO4, Kami dapat
mengambil kesimpulan bahwa :


1) Padatan NaOH dan H2SO4 setelah dilarutkan menggunakan air suling merupakan larutan homogen,
terbukti pada saat pelarutan garam tersebut bercampur rata dengan air.

2) Padatan NaOH setelah direaksikan dengan air suling bersifat eksotermis (reaksii yang disertai dengan
perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan) sehingga jika memegang labu ukur akan terasa panas.
Sedangkan padatan Urea, bersifat endotermis (reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari
lingkungan ke sistem) sehingga bila kita memegang labu ukur akan terasa dingin.

3) Normalitas NaOH akhir (N2) setelah melalui tahap pengeceran akan berubah menjadi lebih kecil dari
normalitas awal (N1).

4) Setelah melalui tahap pengenceran suhu dari H2SO4 pekat berubah dari kondisi normal menjadi
panas.






I. Daftar Pustaka


Prabawa H. Jayaprana S dan Naim N. 1996. IImu Kimia untuk SMU Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Djamal, Indra. 1989. Ilmu Kimia. Jakarta: Erlangga

Anshory, Irfan. 2000. Acuan Pelajaran Kimia. Jakarta: Erlangga

Purnawan C, Krisna. 2006. Kimia Dasar 1. Samarinda: Faperta Unmul

Sudarmo, Unggul. 2004. Kimia untuk SMA kelas XII. Jakarta: Erlangga

Sudarmo, Unggul. 2004. Kimia untuk SMA kelas XI. Jakarta: Erlangga

Purba, Michael.2003. Kimia 2000 Jilid 3A untuk SMU Kelas 3 Semester 1. Jakarta: Erlangga

Wahyuni, Sri. 2003. Master Kimia SMA. Jakarta: Erlanga


LARUTAN PENGENCER
By Asyhar






1 Votes


Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh yang disesuaikan dengan
lingkungan hidupnya. Media kultur berdasarkan konsistensinya dibedakan atas tiga macam, yaitu:

a) Media cair (liquid medium) adalah medium berbentuk cair yang dapat digunakan untuk tujuan
menumbuhkan atau membiakan mikroba, penelaah fermentasi, uji-uji lain

Contohnya : Nutrient Broth (NB), Lactose Broth (LB) dan kaldu sapi.

b) Media semi padat (semi solid medium), biasanya digunakan untuk uji mortalitas (pergerakan)
mikroorganisme dan kemampuan fermentasi,

Contohnya : Agar dengan konsentrasi rendah 0,5%.

c) Media padat (solid medium) adalah medium yang berbentuk padat yang dapat digunakan untuk
menumbuhkan mikroba dipermukaan sehingga membentuk koloni yang dapat dilihat, dihitung dan
diisolasi.

Contohnya: Nutrient Agar (NA), Plate Count Agar (PCA), Potato Dextrose Agar (PDA), gelatin, silika gel
dan beberapa limbah pertanian berbentuk padat.

Media berdasarkan fungsinya, yaitu:

a) Media diperkaya (enriched medium) adalah medium yang ditambah zat-zat tertentu (serum, darah,
ekstrak tumbuhan dan lain-lain), digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof.

b) Media selektif (selective medium) adalah media yang ditambah zat kimia tertentu yang bersifat
selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain sehingga dapat mengisolasi mikroba tertentu,
misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu, dapat mencegah pertumbuhan
bakteri gram positif tanpa mempengaruhi bakteri gram negatif.

Contohnya : Endo Agar, EMB(Eosin Metilena Biru) Agar

SSA (Salmonella Shygella Agar)

VRB (Violet Red Bile Agar)

c) Media diferensial (deferential medium) adalah media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang
menyebabkan mikroba membentuk pertumbuham atau mengadakan perubahan tertentu hingga dapat
membedakan tipenya.

Contohnya : TSIA (Triple Sugar Iron Agar)

d) Media penguji (assay medium) adalah media dengan susunan tertentu digunakan untuk pengujian-
pengujian vitamin, asam amino, antibiotik dan lain-lain.

e) Media untuk perhitungan jumlah adalah media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah
mikroba

Contohnya : Plate Count agar (PCA).

Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan


Larutan pengencer/ larutan fisiologis adalah larutan yang digunakan untuk mengencerkan contoh pada
analisis mikrobiologi. Pengenceran dilakukan untuk memperoleh contoh dengan jumlah mikroba terbaik
untuk dapat dihitung yaitu antara 30 sampai 300 sel mikroba per ml. Pengenceran biasanya dilakukan
1:10, 1:100, 1:1000, dan seterusnya.

Anda mungkin juga menyukai