Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
Henti jantung, renjatan (syok), dan gagal jantung akut adalah penyulit yang
menyebabkan angka kematian yang tinggi pada penderita sindrom koroner akut, khususnya
infark miokard akut. Kematian ini bisa terjadi di luar rumah sakit maupun setelah masuk
perawatan di rumah sakit. Antisipasi dan tindakan yang cepat yang tepat dalam menit-menit
pertama oleh tenaga-tenaga terlatih akan mengurangi kemungkinan terjadinya henti jantung,
renjatan, dan gagal jantung akut.
Organ yang paling cepat mengalami kerusakan adalah otak, karena otak hanya akan
mampu bertahan jika ada asupan glukosa dan oksigen. Jika dalam waktu lebih dari 10 menit
otak tidak mendapat asupan oksigen dan glukosa maka otak akan mengalami kematian secara
permanen. Kematian otak berarti pula kematian si korban. Oleh karena itu GOLDEN
PERIOD (waktu emas) pada korban yang mengalami henti napas dan henti jantung adalah
dibawah 10 menit. Artinya dalam watu kurang dari 10 menit penderita yang mengalami henti
napas dan henti jantung harus sudah mulai mendapatkan pertolongan. Jika tidak, maka
harapan hidup si korban sangat kecil.
AHA di dalam Jurnal Circulation yang diterbitkan pada tanggal 2 November 2010,
mempublikasikan Pedoman Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dan Perawatan Darurat
Kardiovaskular 2010. Seperti kita ketahui, para ilmuwan dan praktisi kesehatan terus
mengevaluasi CPR atau yang lebih kita kenal dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) ini dan
mempublikasikannya setiap 5 tahun.
Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup urutan dan prioritas langkah-
langkah CPR dan disesuaikan dengan kemajuan ilmiah saat ini untuk mengidentifikasi faktor
yang mempunyai dampak terbesar pada kelangsungan hidup. Atas dasar kekuatan bukti yang
tersedia, mereka mengembangkan rekomendasi yang hasilnya menunjukkan paling
menjanjikan.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Resusitasi jantung paru (RJP) adalah upaya mengembalikan fungsi nafas dan atau
sirkulasi yang berhenti oleh berbagai sebab dan membantu memulihkan kembali kedua fungsi
jantung dan paru ke keadaan normal.
RJP merupakan suatu tindakan gawat darurat akibat kegagalan sirkulasi dan
pernafasan, bertujuan untuk mengembalikan ke fungsi optimal guna mencegah kematian
biologis.
2.2 Komponen Utama
RJP dapat diklasifikasikan menjadi 2 komponen utama yaitu :
1. Bantuan Hidup Dasar/ Basic Life Support
Adalah usaha yang dilakukan untuk menjaga jalan nafas (airway) tetap terbuka,
menunjang pernafasan dan sirkulasi dan tanpa menggunakan alat-alat bantu. Usaha ini
harus dimulai dengan mengenali secara tepat keadaan henti jantung atau henti nafas dan
segera memberikan bantuan sirkulasi dan ventilasi. Tujuan dari usaha bantuan hidup
dasar ini adalah dengan cepat mempertahankan pasokan oksigen ke otak, jantung dan
alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan. Pengalaman menunjukkan
bahwa resusitasi jantung paru akan berhasil terutama pada keadaan "henti jantung" yang
disaksikan (witnessed) dimana resusitasi segera dilakukan oleh orang yang berada di
sekitar korban.
2. Bantuan Hidup Lanjut/ Advanced Cardiovascular Life Support
Yang dimaksud dengan bantuan hidup lanjut adalah usaha yang dilakukan setelah
dilakukan usaha bantuan hidup dasar dengan memberikan obat-obatan yang dapat
memperpanjang hidup pasien.
3

2.3 Tujuan
1. Mengembalikan fungsi pernafasan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest)
atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana fungsi tersebut gagal total oleh
suatu sebab.
2. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.
3. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (fungsi jantung) dan ventilasi (fungsi
pernafasan/paru) pada pasien/korban yang mengalami henti jantung atau henti nafas
melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP).
2.4 Tahapan RJP
Rekomendasi
Komponen Dewasa Anak Bayi
Pengenalan awal Tidak sadarkan diri
Tidak ada napas
atau bernapas tidak
normal (misalnya
gasping)
Tidak bernapas atau gasping.
Tidak teraba nadi dalam 10 detik (hanya dilakukan oleh tenaga
kesehatan)
Urutan BHD CAB CAB CAB
Frekuensi Kompresi Minimal 100 kali per menit
Kedalaman
kompresi
Minimal 5 cm (2
inch)
Minimal 1/3 diameter
anteroposterior
dinding dada (sekitar
5 cm/2 inch)
Minimal 1/3 diameter
anteroposterior
dinding dada (sekitar
4 cm/ 1.5 inch)
Recoil dinding dada Recoil sempurna dinding dada setelah setiap kompresi. Untuk
penolong terlatih, pergantian posisi kompresor setiap 2 menit.
Interupsi kompresi Interupsi kompresi seminimal mungkin.
Interupsi terhadap kompresi tidak lebih 10 detik.
Jalan napas Head tilt chin lift.
(jaw thrust pada kecurigaan trauma leher hanya oleh tenaga
kesehatan).
4

Kompresi 30 : 2
(1 atau 2 penolong)
30 : 2 (1 penolong)
15 : 2 (2 penolong)
30 : 2 (1 penolong)
15 : 2 (2 penolong)
Ventilasi Jika penolong tidak terlatih, kompresi saja.
Pada penolong terlatih tanpa alat bantu jalan napas lanjutan berikan
2 kali napas buatan setelah 30 kompresi. Bila terpasang alat bantu
jalan napas lanjutan berikan napas setiap 6-8 detik (8-10 kali per
menit).
Penderita ROSC, napas diberikan setiap 5-6 detik (10-12 kali per
menit)
Defibrilasi Pasang dan tempelkan AED sesegera mungkin.
Interupsi kompresi minimal, baik sebelum atau sesudah kejut listrik.
Lanjutkan RJP, diawali dengan kompresi segera setelah kejut listrik.

2.5 Rantai Harapan Hidup
Keberhasilan resusitasi membutuhkan integrasi koordinasi jalur chain of survival.
Jalur ini meliputi:
Pengenalan segera akan henti jantung dan aktivasi sistem respons darurat (emergency
response system)
RJP dini dengan penekanan pada kompresi dada
Defibrilasi cepat
Advance life support yang efektif
Post-cardiac arrest care (perawatan pasca henti jantung) yang terintegrasi






5

2.6 Bantuan Hidup Dasar

Algoritma Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support) dewasa adalah kerangka kerja
konseptual bagi semua tingkatan penyelamat pada semua keadaan. Di dalamnya ditekankan
hal-hal yang harus dilakukan semua penyelamat.

6

Ketika menemui korban henti jantung dewasa yang bersifat mendadak, seorang
penolong pertama kali harus mengenali henti jantung itu, dari unresponsiveness dan tidak
adanya pernafasan normal. Setelah mengenali, penolong harus segera mengaktifkan sistem
respons gawat darurat, mengambil defibrilator/AED, jika ada, dan memulai RJP dengan
kompresi dada. Jika AED tidak tersedia, penolong harus memulai RJP langsung. Jika ada
penolong lain, penolong pertama harus memerintahkan dia untuk mengaktifkan sistem
respons gawat darurat dan mengambil AED/defibrilator sambil dia langsung memulai RJP.
Ketika AED/defibrilator datang, pasang pad, jika memungkinkan, tanpa memotong
kompresi dada yang sedang dilakukan, dan nyalakan AED. AED akan menganalisis ritme dan
menunjukkan apakah akan melakukan kejutan (defibrilasi) atau melanjutkan RJP.
Jika AED/defibrilator tidak tersedia, lanjutkan RJP tanpa interupsi hingga ditangani
oleh penolong yang lebih berpengalaman/ahli.
Pengenalan dan aktivasi respons gawat darurat
Seorang korban henti jantung biasanya tidak bereaksi. Tidak bernafas atau bernafas
tetapi tidak normal. Deteksi nadi saja biasanya tidak dapat diandalkan, walaupun dilakukan
oleh penolong yang terlatih, dan membutuhkan waktu tambahan. Karenanya, penolong harus
memulai RJP segera setelah mendapati bahwa korban tidak bereaksi dan tidak bernafas atau
bernafas secara tidak normal (terengah-engah). Petunjuk look, listen and feel for breathing
tidak lagi direkomendasikan. Petugas evakuasi harus membantu assessment dan memulai
RJP.
Kompresi dada (circulation)
Memulai dengan segera kompresi dada adalah aspek mendasar dalam resusitasi. RJP
memperbaiki kesempatan korban untuk hidup dengan menyediakan sirkulasi bagi jantung dan
otak. Diawali dengan mengecek pulsasi carotis selama 5-10 detik. Jika tidak didapatkan
pulsasi dalam 10 detik, segera mulai kompresi dada yang berkualitas baik:
kecepatan yang cukup (setidaknya 100/menit)
7

kedalaman yang cukup (dewasa: setidaknya 2 inchi/5 cm, bayi dan anak-anak:
setidaknya sepertiga diameter anteroposterior (AP) dada atau seitar 1,5 inchi/4 cm
pada bayi dan sekitar 2 inchi/5 cm pada anak-anak)
menunggu dada mengembang sempurna setelah setiap kompresi
meminimalisir interupsi selama kompresi
jika ada lebih dari satu penolong, mereka harus bergantian setiap 2 menit untuk
mencegah kelelahan
menghindari ventilasi yang berlebihan
Jalan nafas (airway) dan ventilasi
Membuka jalan nafas (dengan head tilt, chin lift atau jaw thrust) yang diikuti nafas
bantuan dapat meningkatkan oksigenasi dan ventilasi. Tetapi manuver ini dapat menjadi sulit
dan mengakibatkan tertundanya kompresi dada, terutama pada penolong yang sendirian dan
tidak terlatih. Karenanya, penolong yang sendirian dan tidak terlatih hanya melakukan
kompresi dada saja tanpa ventilasi. Ventilasi harus diberikan jika korban cenderung
disebabkan oleh asfiksia (contohnya pada bayi, anak-anak atau korban tenggelam).
Begitu alat bantu nafas tersedia, penolong harus memberikan ventilasi dalam
kecepatan yang tetap 1 nafas setiap 6-8 detik (8-10 nafas/menit) dan kompresi dada tetap
diberikan tanpa terputus.
Defibrilasi
Kesempatan korban untuk selamat menurun seiring jeda waktu antara henti jantung
dan defibrilasi. Karenanya defibrilasi tetap menjadi dasar tatalaksana untuk fibrilasi ventrikel
(VF ventricular fibrillation) dan pulseless ventricular tachycardia. Strategi bersama antara
masyarakat dan rumah sakit harus ditujukan untuk mengurangi jeda waktu ini.
Satu penentu defibrilasi yang berhasil adalah efektifitas kompresi dada. Defiibrilasi lebih
berhasil jika interupsi pada kompresi dada sedikit.
8


9





10

2.7 Bantuan Hidup Lanjut


11

RJP 2 menit
-Amiodaron
-Atasi penyebab yang
reversibel - Jika tidak ada tanda-tanda kembalinya sirkulasi spontan
(ROSC), ke kotak 10 atau 11
- Jika terjadi ROSC, ke Perawatan Pasca Henti Jantung
Henti Jantung
MInta tolong/aktifkan sistem emergensi
























Mulai RJP
- Beri oksigen
- Pasang monitor/defibrator
Irama shockable?
VF/VT Asistol/PEA
RJP 2 menit
-Pasang akses IV/IO
RJP 2 menit
-Pasang akses IV/IO
-Epinefrin tiap 3-5 menit
-Pertimbangkan alat bantu jalan
napas lanjut, capnography
RJP 2 menit
-Epinefrin tiap 3-5 menit
-Pertimbangkan alat bantu jalan
napas lanjut, capnography
Irama shockable?
RJP 2 menit
-Atasi penyebab yang
reversibel
Ke 5 atau 7
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
1
1
2
ya
ya
Irama shockable?
ya
Irama shockable?
ya
ya
tidak
tidak
Irama shockable?
tidak
shock
shock
shock
tidak
tidak
12

2.8 Perubahan Pedoman RJP
1. Mengganti ABC dengan CAB
AHA 2010 (new)
A change in the 2010 AHA Guidelines for CPR and ECC is to recommend the initiation of
chest compression before ventilation.
AHA 2005 (old)
The sequence of adult CPR began with opening of the airway, checking for normal
breathing, and then delivering 2 rescue breaths followed by cycles of 30 chest compressions
and 2 breaths.
Sebelumnya dalam pedoman pertolongan pertama, kita mengenal ABC: Airway,
Breathing, Circulation (Chest Compression) yaitu buka jalan nafas, bantuan pernafasan, dan
kompresi dada. Dalam pedoman CPR 2010, prioritas utama adalah Circulation baru setelah
itu tatalaksana difokuskan pada Airway dan selanjutnya Breathing. Satu-satunya
pengecualian adalah hanya untuk bayi baru lahir (neonatus), karena penyebab tersering pada
bayi baru lahir yang tidak sadarkan diri dan tidak bernafas adalah karena masalah jalan nafas
(asfiksia).
Sedangkan untuk yang lainnya, termasuk RJP pada bayi, anak, ataupun orang dewasa
biasanya adalah masalah Circulation kecuali bila kita menyaksikan sendiri korban tidak
sadarkan diri karena masalah selain Circulation harus menerima kompresi dada sebelum kita
berpikir memberikan bantuan jalan nafas.
2. Tidak ada lagi Look, Listen, and Feel
AHA 2010 (new)
Look, listen, and feel for breathing was removed from the sequence for assessment of
breathing after opening the airway. The healthcare provider briefly checks for breathing when
checking responsiveness to detect signs of cardiac arrest. After delivery of 30 compressions,
the home rescuer opens the victims airway and delivers 2 breaths.
AHA 2005 (old)
13

Look, listen, and feel for breathing was used to assess breathing after the airway was
opened.
Alasannya: kunci utama menyelamatkan seseorang dengan henti jantung adalah
Bertindak bukan Menilai. Telepon ambulan segera saat kita melihat korban tidak sadar dan
tidak bernafas dengan baik (gasping). Percayalah pada nyali Anda. Jika Anda mencoba
menilai korban bernapas atau tidak dengan mendekatkan pipi Anda pada mulut korban, itu
boleh-boleh saja. Tapi tetap saja sang korban tidak bernafas dan tindakan look listen and feel
ini hanya akan menghabiskan waktu.
3. Tidak ada lagi Rescue Breath
AHA 2010 (new)
Beginning CPR with 30 compressions rather than 2 ventilations leads to a shorter delay to
first compression
Alasan: Rescue breath adalah tindakan pemberian napas buatan sebanyak dua kali
setelah kita mengetahui bahwa korban henti napas (setelah Look, Listen, and Feel). Pada
AHA 2010, hal ini sudah dihilangkan karena terbukti menyita waktu yang cukup banyak
sehingga terjadi penundaan pemberian kompresi dada.
4. Kompresi dada lebih dalam lagi
AHA 2010 (new)
The adult sternum should be depressed at least 2 inches (5 cm)
AHA 2005 (old)
The adult sternum should be depressed 11/2 to 2 inches (approximately 4 to 5 cm).
Pada pedoman RJP sebelumnya, kedalaman kompresi dada adalah 1 2 inchi (4
5 cm), namun sekarang AHA merekomendasikan untuk melakukan kompresi dada dengan
kedalaman minimal 2 inchi (5 cm).
5. Kompresi dada lebih cepat lagi
14

AHA 2010 (new)
It is reasonable for lay rescuers and healthcare providers to perform chest compressions at a
rate of at least 100x/min.
AHA 2005 (old)
Compress at a rate of about 100x/min.
AHA mengganti redaksi kalimat sebelumnya yang tertulis: tekan dada sekitar 100
kompresi/menit. Sekarang AHA merekomendasikan kita untuk kompresi dada minimal 100
kompresi/ menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi membutuhkan waktu 18 detik.
6. Hands only CPR
AHA 2010 (new)
Hands-Only (compression-only) bystander CPR substantially improves survival following
adult out-of-hospital cardiac arrests compared with no bystander CPR.
AHA mendorong RJP seperti ini pada tahun 2008. Dan pada pedoman tahun 2010 pun
AHA masih menginginkan agar penolong yang tidak terlatih melakukan Hands Only CPR
pada korban dewasa yang pingsan di depan mereka.
Pertanyaan terbesar adalah: apa yang harus dilakukan seorang penolong yang tidak
terlatih pada korban yang pingsan di depan mereka dan bukan orang dewasa? AHA memang
tidak memberikan jawaban tentang hal ini, namun ada saran sederhana disini: berikan Hands
Only CPR, karena berbuat sesuatu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali.
7. Pengaktivasian Emergency Response System (ERS)
AHA 2010 (new)
Check for response while looking at the patient to determine if breathing is absent or not
normal. Suspect cardiac arrest if victim is not breathing or only gasping.
AHA 2005 (old)
Activated the emergency response system after finding an unresponsive victim, then
returned to the victim and opened the airway and checked for breathing or abnormal
breathing.
15

Pada pedoman AHA yang baru, pengaktivasian ERS seperti meminta pertolongan
orang di sekitar, menelepon ambulans, ataupun menyuruh orang untuk memanggil bantuan
tetap menjadi prioritas, akan tetapi sebelumnya terlebih dahulu lakukan pemeriksaan
kesadaran dan ada tidaknya nafas (terlihat tidak ada nafas/ gasping) secara simultan dan
cepat.
8. Jangan berhenti melakukan kompresi sampai korban batuk
AHA 2010 (new)
The preponderance of efficacy data suggests that limiting the frequency and duration of
interruptions in chest compressions may improve clinically meaningful outcomes in cardiac
arrest patients.
Setiap penghentian kompresi dada berarti menghentikan aliran darah ke otak yang
mengakibatkan kematian jaringan otak jika aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan
beberapa kompresi dada untuk mengalurkan darah kembali. AHA menghendaki kita untuk
terus melakukan kompresi selama kita bisa atau sampai alat defibrilator otomatis datang dan
siap untuk menilai keadaan jantung korban. Jika sudah tiba waktunya untuk pernapasan dari
mulut ke mulut, lakukan segera dan segera kembali melakukan kompresi dada. Prinsip Push
Hard, Push Fast, Allow complete chest recoil, and Minimize Interruption masih ditekankan
disini. Ditambahkan dengan Avoiding excessive ventilation.







16

BAB III
KESIMPULAN
Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk
mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. Pertolongan ini
dilakukan untuk mengatasi henti nafas dan henti jantung. Sehingga RJP merupakan gabungan
penyelamatan pernapasan (bantuan napas) dengan kompresi dada eksternal. RJP dibedakan
menjadi bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut.
Bantuan hidup dasar/ Basic Life Support adalah usaha yang dilakukan untuk menjaga
jalan nafas (airway) tetap terbuka, menunjang pernafasan dan sirkulasi dan tanpa
menggunakan alat-alat bantu. Usaha ini harus dimulai dengan mengenali secara tepat keadaan
henti jantung atau henti nafas dan segera memberikan bantuan sirkulasi dan ventilasi. Tujuan
dari usaha bantuan hidup dasar ini adalah dengan cepat mempertahankan pasokan oksigen ke
otak, jantung dan alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan.
Bantuan hidup lanjut/ Advanced Cardiovascular Life Support adalah usaha yang
dilakukan setelah dilakukan usaha bantuan hidup dasar dengan memberikan obat-obatan yang
dapat memperpanjang hidup pasien.







17

DAFTAR PUSTAKA
http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/01/paradigma-baru-resusitasi-jantung-paru-cpr-
cardiopulmonary-resuscitation--585845.html
http://circ.ahajournals.org/content/122/18_suppl_3/S685.full?sid=1d65df66-b619-4181-ad44-
0c2dcea66f02