Anda di halaman 1dari 16

PAPER

ANOMALI GIGI





Pembimbing :
Drg.Luciana Maria K.D.





Disusun oleh :
Paramitha Setiadi (1015171)







Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut
Rumah Sakit Immanuel
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha
Bandung
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Gigi geligi adalah bagian dari wajah sehingga bila ada kelainan dalam
susunannya akan memengaruhi penampilan wajah secara keseluruhan, sebab
susunan gigi geligi dan hubungan rahang memengaruhi kedudukan dan otot-
otot disekitar mulut (Nurbayati S., 2011).
Anomali gigi adalah penyimpangan dari bentuk normal akibat
gangguan pada stadium pertumbuhan dan perkembangan (Agina, 2013).
Anomali gigi yang sering terjadi antara lain bentuk gigi yang abnormal, gigi
kembar (fused anterior teeth), kelebihan jumlah gigi, dan anodonia
(Universitas Gadjah Mada, 2011).
Anomali gigi dapat terjadi sebagai akibat dari faktor genetik dan
lingkungan. Sementara kelainan yang paling sering disebabkan oleh kalainan
pada gen-gen tertentu, kondisi prenatal dan postnatal juga telah terlibat dalam
anomali gigi (Akcam, M. Okan; Evirgen, Sehrazat, 2010).
Berdasarkan penyebabnya, anomaly gigi terbagi menjadi gangguan
formatif, kelainan bentuk dan ukuran, gangguan di dalam struktur jaringan,
dan anomali tambahan (Universitas Gadjah Mada, 2011).
Karena anomali gigi melibatkan banyak faktor pada gigi serta
perawatan ortodontik maka pemeriksaan rinci untuk menentukan adanya
anomali diperlukan sebelum memulai koreksi ortodontik (Akcam, M. Okan;
Evirgen, Sehrazat, 2010).




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Anomali Gigi
Anomali gigi adalah penyimpangan dari bentuk normal akibat
gangguan pada stadium pertumbuhan dan perkembangan (Agina, 2013).

2.2. Faktor-faktor Penyebab Anomali Gigi
Bentuk gigi desidui sudah mulai berkembang pada usia 4 bulan dalam
kandungan. Pertumbuhan dan perkembangan gigi melalui beberapa tahap,
yaitu tahap inisiasi, proliferasi, histodiferensiasi, morfodiferensiasi, aposisi,
kalsifikasi dan erupsi. Pada masing-masing tahap dapat terjadi kelainan yang
menyebabkan anomali dalam jumlah gigi, ukuran gigi, bentuk gigi, struktur
gigi, warna gigi, dan gangguan erupsi gigi. Struktur gigi secara mikroskopis
terdiri dari jaringan keras dan jaringan lunak. Jaringan keras adalah jaringan
yang mengandung kapur yang terdiri dari enamel, dentin, dan sementum.
Jaringan lunak yaitu jaringan yang terdapat dalam rongga pulpa sampai
foramen apical (Universitas Sumatera Utara).
Faktor-faktor yang menyebabkan anomali gigi antara lain gangguan
metabolism, factor herediter (genetik), dan gangguan pada waktu
pertumbuhan dan perkembangan gigi (Universitas Gadjah Mada, 2011).

2.3. Anomali Gigi Akibat Gangguan Formatif
2.3.1. Kelainan Numerik
Jumlah gigi manusia yang normal adalah 20 gigi susu (dentes decidui) dan
32 gigi tetap (dentes permanents), tetapi dapat dijumpai jumlah yang lebih
atau kurang dari jumlah tersebut. Kelainan jumlah gigi adalah kelainan gigi
yang berlebih karena benih berlebih atau penyebab lain dan kekurangan
jumlah gigi disebabkan karena benih gigi yang tidak ada atau kurang
(Universitas Sumatera Utara).
1. Hipodonsia
Hipodosia adalah jumlah gigi kurang karena tidak tumbuh satu atau lebih
elemen gigi secara normal akibat agenesis gigi, yaitu tidak dibentuknya atau
tidak tumbuhnya benih gigi, antara lain :
Agenesis soliter : tidak terbentuknya satu atau beberapa elemen.
Oligodonsia : multi agenesis/ reduksi multiple jumlah elemen gigi.
Anodonsia : sedikit atau sama sekali tidak mempunyai gigi.
(Universitas Gadjah Mada, 2011).

Gambar 2.1. Hipodontia
Ada dua maca anodonsia, yaitu :
a. Anodonsia lengkap, sering karena penyakit herediter (sex linked genetic
trait), jarang sekali terjadi (Universitas Gadjah Mada, 2011).

Gambar 2.2. Anodonsia Lengkap
b. Anodonsia sebagian, yaitu kehilangan satu atau beberapa gigi di dalam
raha meskipun belum terbukti karena herediter, tetapi tendensi untuk
tidak ada gigi yang sama pada suatu keluarga seing dijumpai
(Universitas Gadjah Mada, 2011).

Gambar 2.3. Anodonsia Sebagian
2. Hiperdonsia (Supernumerary Teeth)
Hiperdonsia adalah adanya satu atau lebih elemen gigi melebihi jumlah
gigi yang normal. Dapat berupa elemen-elemen tambahan atipis (tidak dapat
dideterminasikan) atau elemen-elemen tambahan eutipis (dapat dikenali
sebagai salah satu elemen) (Universitas Gadjah Mada, 2011).

Gambar 2.4. Hiperdonsia
Berdasarkan lokasinya gigi berlebih dapat dibagi, yaitu :
a. Mesiodens
Lokasinya didekat garis median diantara kedua gigi insisivus sentralis
terutama pada gigi tetap rahang atas. Jika gigi ini erupsi biasanya ditemukan di
palatal atau diantara gigi-gigi insisivus sentralis dan paling sering
menyebabkan susunan yang tidak teratur dari gigi-gigi insisivus sentralis. Gigi
ini dapat juga tidak erupsi sehingga menyebabkan erupsi gigi insisivus satu
tetap terlambat, malposisi atau resobsi akar gigi insisivus didekatnya.

Gambar 2.5. Mesiodens
b. Laterodens
Laterodens berada didaerah interproksimal atau bukal dari gigi-gigi selain
insisivus sentralis.
c. Distomolar
Lokasinya di sebelah distal gigi molar tiga.
(Universitas Sumatera Utara).

3. Fusion Teeth
Pertumbuhan menjadi satu dentin dan email dari dua elemen menjadi satu
elemen selama pembentukan. Lebih sering ditemukan pada gigi anterior dan
sebagian akibat dari bersatunya dua benih gigi. Biasanya gigi ini masing-
masing mempunyai akar dan rongga pulpa terpisah. Gigi susu lebih banyak
daripada gigi tetap dan pada rahang atas lebih sering daripada rahang bawah.
Terbentuk karena adanya tekanan waktu pembentukan akar. Kebanyakan
didapat fusion dan gigi lebih dengan gigi yang berdekatan dengannya. Sebagai
contoh M
3
bawah fusion dengan M
4
bawah (jarang sekali terjadi), I
2
atas fusion
dengan gigi lebih anterior, dua gigi P
1
bawah fusion (Universitas Gadjah Mada,
2011).

Gambar 2.6. Fusion Teeth
2.3.2. Kelainan Bentuk dan Ukuran
a. Dens vaginatus : anomali pertumbuhan terdiri dari tonjol ekstra yang
langsing sering runcing pada permukaan oklusi terutama pertama
bawah (evaginasi memiliki tanduk dijumpai pada gigi premolar pulpa
yang mendekati email).
b. Dens invaginatus/ dens in dente : anomali pertumbuhan yang
mengakibatkan elemen berbentuk sangat jelek. Secara kilnis terlihat
sebagai tonjolan di daerah cingulum gigi incisor. Sering terlihat gigi I
2

atas, bisa pada I
2
bawah. Perkembangan anomali ini akibat
terselubungnya organ enamel diantara mahkota gigi.
c. Dilaserasi/ pembengkokan akar abnormal : elemen gigi yang gagal
terbentuk karena aksi trauma mekanis pada benih gigi yaitu berupa
pembengkokan ekstrem suatu elemen, mahkota menekuk di atas akar
atau akarnya menunjukkan satu atau lebih tekukan, akar dan mahkota
gigi membentuk sudut 45
o
sampai lebih dan 90. Dilaceratio (latin)
berarti penyobekan. Dapat diakibatkan karena trauma mekanis pada
mahkota gigi yang telah mengalami pembentukan sehingga tersobek
dan akarnya. Sering terjadi pada kasus M3 bawah.

Gambar 2.7. Dilaserasi
d. Flexion : akar gigi yang bengkok kurang dari 90
o
atau rotasi .
e. Tonjol ekstra dan rigi email : jumlah tonjolan yang lebih banyak
daripada normal dan adanya rigi email, contohnya gigi incisivus
bentuk sekop, bentuk bintang, T, dan Y. Talon (tonjolan ekstra pada
tuberculum dentis gigi incisivus). Tuberculum Carabelli pada
mesiolingual gigi molar atas pertama. Tuberculum paramolar (tonjolan
ekstra pada mebukal gigi molar atas dan bawah terutama gigi molar
kedua dan ketiga).
f. Makrodonsia : ukuran gigi yang pelampaui batas nilai normal pada satu
atau lebih ukuran dan satu sampai semua elemen gigi. Pada umumnya
tidak ada penyimpangan bentuk lainnya.

Gambar 2.8. Makrodosia & Fusion Teeth
g. Mikrodonsia/ dwarfism : kebalikan makrodonsia tetapi dapat juga
terjadi reduksi sampai gigi-gigi berbentuk kerucut.

Gambar 2.9. Mikrodonsia
h. Taurodonsia : suatu anomali dengan rongga pulpa yang sangat
membesar.

Gambar 2.10. Taurodonsia
i. Penambahan akar gigi : jumlah akar gigi yang lebih banyak daripada
normal pada suatu elemen bisa karena pembelahan akar gigi atau
penambahan akar gigi.
j. Mahkota bentuk pasak : molar ketiga atas mempunyai bentuk mahkota
paling bervariasi dari seluruh gigi tetap, kemudian M
3
bawah.
Perubahan bentuk dan mahkota berbentuk pasak (peg shaped) sampai
mahkota yang mempunyai cuspis ganda, bentuk mahkotanya seperti
mahkota M
1
atau M
2
.
k. Dwarfed root : gigi-gigi atas sering memperlihatkan mahkota gigi
dengan ukuran normal tetapi dengan akar yang pendek.
l. Segmented root : akar gigi terpisah menjadi dua bagian, diperkirakan
sebagai akibat luka traumatis pada waktu pembentukan akar.
(Universitas Gadjah Mada, 2011)
2.3.3. Kelainan didalam Struktur Jaringan
Gangguan struktur email bisa disebabkan oleh sebab-sebab per dan
postnatal, penyakit infeksi pascanatal, kekurangan di dalam diet, gangguan
endokrin, bahan-bahan kimiawi atau obat-obatan, trauma, dan lain-lain
(Universitas Gadjah Mada, 2011).
Gangguan struktur dentin dapat diakibatkan oleh displasia dentin,
dentinogenesis imperfekta, odontoplasia, dan rakitis vitamin D refrakter
(hipofosfatremi) (Universitas Gadjah Mada, 2011).
a. Enamel hypoplasia : gangguan pada ameloblast ketika pembentukan enamel
matrik. Penyebab pembentukan enamel yang tidak sempurna antara lain
defisiensi makanan, pengobatan tetrasiklin, measles disease, dan konsumsi
makanan yang terlalu banyak mengandung florida pada waktu perkembangan
atau pembentukan gigi.

Gambar 2.11. Enamel Hypoplasia
b. Enamel hypocalsification : gangguan pada waktu pematangan enamel
matrik.
c. Enamel dysplasia : perkembangan enamel yang abnormal. Penyebab
11ypoplasi enamel antara lain gagguan lokal (trauma, infeksi periapikal),
sistemik (minuman, infeksi, kekurangan nutrisi), dan keturunan (amelogenesis
imperfekta, Hutchinsons teeth).
d. Amelogenesis imperfect : penyakit turunan yang terjadi pada saat
pembentukan enamel pada gigi susu dan tetap. Kekurangan jaringan enamel
sebagian atau seluruhnya mengakibatkan mahkota kasar, berwarna kuning
sampai coklat yang cenderung rusak.
Ada 3 tipe yaitu:
1. Hipoplastik : terjadi akibat kerusakan pada pembentukan matriks enamel.
2. Hipokalsifikasi :erjadi akibat kerusakan pada mineralisasi deposit matriks
enamel.
3. Hipomaturasi :terjadi akibat adanya gangguan pada perkembangan atau
pematangan enamel.

Gambar 2.12. Amelogenesis Imperfekta Tipe Hipomaturasi

e. Fluorosis : secara klinis terlihar semua gigi tetap warnanya berubah dari putih
kekuningan, coklat bintik-bintik dan atau perubahan morfologis enamel
berubah menjadi berlubang-lubang.
f. High fever : pada gigi ini enamel berbintik-bintik pada gigi tetap. Sering
sebagai akibat demam pada masa kanak-kanak dan penyakit campak.
g. Dentin dysplasia : yaitu anomali dentin, baik yang disebabkan oleh turunan
atau oleh penyakit/ sistemis.
h. Dentinogenesis imperfect : secara klinis semua gigi susu/ tetap berwarna biru
keabu-abuan sampai kuning. Kadang-kadang bertukar warna. Secara
radiologis menunjukkan saluran akar dan ruang pulpa sebagian atau sama
sekali tidak ada. Gigi ini lemah karena kurang dukungan dan jaringan dentin.

Gambar 2.13. Dentinogenesis Imperfekta
i. Tetracycline stain : obat 12ypoplasia ttetrasiklin yang dimakan/ diminum
oleh wanita hamil atau anak-anak melebur dalam dentin yang berkembang.
Warnanya tergantung dan dosis dan diminum pada usia berapa, dari warna
kuning sampai coklat abu-abu.
(Universitas Gadjah Mada, 2011).

2.3. Anomali Gigi Akibat Gangguan Erupsi
a. Natal Teeth
Gigi natal adalah gigi yang telah erupsi/ telah ada dalam mulut pada waktu
bayi dilahirkan. Definisi gigi neonatal adalah gigi yang erupsi selama masa
neonatal, yaitu dari lahir sampai bayi berusia 30 hari. Erupsi normal gigi susu
incisivus bawah dimulai pada usia 6 bulan, jika gigi susu erupsi semasa 3-6 bulan
kehidupan disebut gigi predesidui (Universitas Sumatera Utara).
Natal teeth dapat disebabkan oleh posisi benih yang superfisial (dekat ke
permukaan), bertambahnya proses erupsi gigi selama atau setelah anak mengalami
demam, keturunan, akibat sifilis kongenital, gangguan kelenjar endokrin, dan
defisiensi makanan (Universitas Sumatera Utara).
Gambaran klinis menunjukkan perkembangan yang kurang, ukuran kecil,
bentuk konikal, warna kuning (bahkan ada yang coklat) disertai 13ypoplasia email
dan dentin serta kurangnya atau tidak ada perkembangan akar. Akibat tidak
mempunyai akar atau kurangnya perkembangan akar, maka gigi tersebut hanya
melekat pada leher gingiva, tidak kuat sehingga memungkinkan gigi tersebut
dapat bergerak ke segala arah (Universitas Sumatera Utara).

Gambar 2.14. Natal Teeth


b. Teething
Teething yaitu suatu proses fisiologis dari waktu erupsi gigi yang terjadi
pada masa bayi, anak, dan remaja (sewaktu gigi molar tiga akan erupsi) yang
diikuti dengan gejala lokal maupun sistemik . Teething lebih sering timbul pada
erupsi gigi sulung, terutama erupsi gigi molar yang relatif besar, sedangkan gigi
incisivus sulung yang ukurannya relatif lebih kecil dapat erupsi tanpa mengalami
gangguan, walaupun gejala lokal dan sistemik dapat juga menyertainya. Erupsi
gigi pada anak secara umum diketahui dapat menimbulkan gejala (Universitas
Sumatera Utara).
Gejala klinis yang dapat terlihata antara lain, pada rongga mulut terlihat
warna kemerahan atau pembengkakkan gingiva pada regio yang akan erupsi,
konsistensinya keras, berkilat, dan konturnya sangat cembung, terjadi
hipersalivasi dan konsistensinya kental, disekeliling gigi yang akan erupsi terlihat
daerah keputih-putihan. Pada wajah terdapat eritema, yaitu ruam pada pipi tepi
mulut dari regio yang akan erupsi, hal ini disebabkan aliran saliva yang terus
menerus. terlihat asimetris wajah atau pembengkakan (Universitas Sumatera
Utara).
Gejala sistemik yang dapat terjadi, antara lain bayi akan gelisah,
menangis, tidak dapat tidur, kehilangan nafsu makan, rasa haus yang meningkat,
bahkan dapat disertai diare yang berat (Universitas Sumatera Utara).

c. Kista Erupsi
Kista erupsi adalah suatu kista yang terjadi akibat rongga folikuler di
sekitar mahkota gigi susu/ tetap yang akan erupsi mengembang karena
penumpukan cairan dari jaringan atau darah (Universitas Sumatera Utara).
Gambaran klinis diawali dengan terlihatnya daerah kebiru-biruan pada gigi
yang akan erupsi kemudian terjadi pembengkakan mukosa yang disertai warna
kemerahan. Akibat pembengkakan ini dapat menyebabkan tergigit oleh gigi
antagonisnya sehingga menimbulkan rasa tidak enak atau rasa sakit (Universitas
Sumatera Utara).

d. Gigi Molar Sulung yang Terpendam
Disebut juga dengan submerged teeth, yaitu suatu gangguan erupsi yang
menunjukkan gagalnya gigi molar sulung mempertahankan posisinya akibat
perkembangan gigi disebelahnya sehingga gigi molar sulung tersebut berubah
posisi menjadi di bawah permukaan oklusal (Universitas Sumatera Utara).

e. Erupsi Ektopik Gigi Molar Pertama Gigi Tetap
Yaitu erupsinya gigi molar pertama gigi tetap yang keluar dari posisinya di
lengkung rahang, mendorong molar dua sulung sehingga terjadi resorpsi sebagian
atau seluruhnya dari molar dua sulung. Resorpsi terjadi di sebelah distal molar
sulung (Universitas Sumatera Utara).

f. Erupsi Gigi Tetap yang Tertunda
Meskipun keterlambatan erupsi gigi dapat dihubungkan dengan keadaan
tertentu misalnya down sindrome, keterlambatan erupsi gigi yang terlokalisir lebih
sering pada gigi tetap dibandingkan gigi sulung (Universitas Sumatera Utara).

2.4. Anomali Gigi Akibat Gangguan Pasca Pembentukan
a. Kanies
b. Erosi (chemis) : asam (diet, pekerjaan, endogen), idiopatik.
c. Abrasi (mekanis)
d. Atrisi (terpakai untuk mengunyah)
e. Hipersementosis dan kelainan sementum lainnya
f. Hipersementosis : merupakan pembentukan jaringan sementum yang
berlebihan disekitar akar gigi sesudah gigi erupsi. Dapat disebabkan oleh
trauma, gangguan metabolisme, atau infeksi periapikal.
g. Sementoblastoma
h. Sementoblastoma bentuk raksasa
i. Resorbsi elemen gigi (interna dan eksterna)
j. Keausan dan gejala tua lainnya akibat pengunyahan (atrisi), penyikatan
gigi (abrasi), penyakit gigi, dan lain-lain.
k. Trauma
l. Perubahan warna : perubahan warna infiltratif, perubahan warna formatif
perubahan warna semu.
m. Sindroma dengan anomali gigi geligi
n. Akar tambahan : dapat disebabkan oleh trauma, gangguan metabolisme
atau tekanan. Biasanya terjadi pada gigi yang akarnya terbentuk sesudah
individu lahir. Misalnya pada gigi C dan P bawah serta M
3
.
(Universitas Gadjah Mada, 2011).





DAFTAR PUSTAKA

Akcam, M. Okan; Evirgen, Sehrazat. (2010). Dental Anomalies in
Andividuals with Cleft Lip and/or Palate. European Journal of Orthodontics .
Oxford, Europe: Oxford Journals.
Agina, P. (2013, September 18). Anomali Gigi. Indonesia.
Universitas Gadjah Mada. (2011). Kelainan Gigi. Retrieved April 27, 2014,
from
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&ved=0
CFUQFjAI&url=http%3A%2F%2Felisa.ugm.ac.id%2Fuser%2Farchive%2Fdown
load%2F40826%2Ff7f398571e2c77eef191fe11086299ba&ei=z7dcU73JIaT_iAfy
1YHICg&usg=AFQjCNE-
AkqKn_qjI67MtloNU4gcPq1yFA&bvm=bv.65397613,d.aGc.
Nurbayati S. (2011). Universitas Sumatra Utara. Retrieved April 27, 2014,
from http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29328/4/Chapter%20II.pdf
Universitas Sumatera Utara. (n.d.). Pedodonsia Dasar. Retrieved April 27,
2014, from http://ocw.usu.ac.id/course/download/611-PEDODONSIA-
DASAR/kgm-
427_slide_kelainan_gigi_akibat_gangguan_pertumbuhan_dan_perkembangan.pdf