Anda di halaman 1dari 37

STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN VOLUME CAIRAN PADA AN.F DENGAN GASTROENTERITIS AKUT (GEA)

DI RUANG MELATI RSUD KARANGANYAR

GASTROENTERITIS AKUT (GEA) DI RUANG MELATI RSUD KARANGANYAR DI SUSUN OLEH : ESTANTI NURUL ARINI NIM.P.09074

DI SUSUN OLEH :

ESTANTI NURUL ARINI

NIM.P.09074

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

SURAKARTA

2012

STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN VOLUME CAIRAN PADA AN.F DENGAN GASTROENTERITIS AKU T (GEA)

DI RUANG MELATI RSUD KARANGANYAR

KaryaTulisIlmiah UntukMemenuhi Salah SatuPersyaratan DalamMenyelesaikan Program Diploma III Keperawatan

DalamMenyelesaikan Program Diploma III Keperawatan DI SUSUN OLEH : ESTANTI NURUL ARINI NIM.P.09074 PROGRAM

DI SUSUN OLEH :

ESTANTI NURUL ARINI

NIM.P.09074

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2012

i

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama

: ESTANTI NURUL ARINI

NIM

: P.09074

Program Studi

: DIII KEPERAWATAN

Judul Karya Tulis Ilmiah

:ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN

KEBUTUHAN VOLUME CAIRAN PADA

AN.F DENGAN GASTROENTERITIS AKUT

(GEA) DI RUANG MELATI RSUD

KARANGANYAR

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini

benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan

atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabiladi kemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah

hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai

dengan ketentuan akademik yang berlaku.

hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.

HALAMAN PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :

Nama

: ESTANTI NURUL ARINI

 

NIM

: P.09074

Program Studi

: DIII KEPERAWATAN

 

Judul

:ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN

KEBUTUHAN

VOLUME

CAIRAN

PADA

AN.F

DENGAN

GASTROENTERITIS AKUT (GEA) DI RUANG MELATI

RSUD KARANGANYAR

Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi

DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di : STIKes Kusuma Husada

Hari/ Tanggal : Jum’at, 27 April 2012

Pembimbing: MushlihahMulianaUtami, S.Kep.,Ns(

NIK.201187086

)
)

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :

Nama

: ESTANTI NURUL ARINI

NIM

: P.09074

Program Studi

: DIII KEPERAWATAN

Judul :ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN

VOLUME CAIRAN PADA AN.F DENGAN

GASTROENTERITIS AKUT (GEA) DI RUANG MELATI

RSUD KARANGANYAR

Telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah

Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di : STIKes Kusuma Husada

Hari/Tanggal : Jum’at 4 Mei 2012

DEWAN PENGUJI

Penguji I

: Mushlihah Muliana Utami, S.Kep.,Ns

NIK.201187086

Penguji II :Diyah Ekarini, S.Kep.,Ns

NIK.20017900

Penguji III :Tyas Ardi Suminarsis, S.Kep.,Ns

NIK.201185077

(

(

(

)

)

)

Mengetahui, Ketua Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Setiyawan, S.Kep.,Ns

NIK.201084050

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena

berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya

Tulis

Ilmiah

dengan

judul

“ASUHAN

KEPERAWATAN

PEMENUHAN

KEBUTUHAN

VOLUME

CAIRAN

PADA

AN.

FDENGAN

GASTROENTERITIS AKUT (GEA) DI RSUD KARANGANYAR”.

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat

bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini

penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya

kepada :

1. Setiyawan, S.Kep.,Ns, selaku Ketua Program studi DIII Keperawatan yang

telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes

Kusuma Husada Surakarta.

2. Erlina Windyastuti, S.Kep.,Ns, selaku Sekretaris Ketua Program studi DII

Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta.

3. Muliana

Mushlihah

Utami,

S.Kep.,Ns,

selaku

dosen

pembimbing

sekaligus

sebagai

penguji

yang

telah

membimbing

dengan

cermat,

memberikan

masukan-masukan,

inspirasi,

perasaan

nyaman

dalam

bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.

4. Diyah Ekarini, S.Kep.,Ns selaku dosen pengujiyang telah membimbing

dengan

cermat,

memberikan

masukan-masukan,

v

inspirasi,

perasaan

nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi

kasus ini.

5. Tyas

Ardi

Suminarsis,

S.Kep.,Ns

selaku

dosen

pengujiyang

telah

membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi,

perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya

studi kasus ini.

6. Semua dosen Program studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada

Surakarta

yang

telah

memberikan

bimbingan

dengan

wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.

sabar

dan

7. Kedua orangtuaku tercinta, yang selalu menjadi inspirasi, memberikan

dukungan, semangat, dan do’a untuk menyelesaikan pendidikan.

8. Dekki Kustiyanto yang selalu memberikan dukungan, semangat dan do’a

untuk menyelesaikan studi kasus ini.

9. Teman-teman

Mahasiswa

Program

studi

DIII

Keperawatan

STIKes

Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan

satu-persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.

Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu

keperawatan dan kesehatan. Amin

vi

Surakarta, April 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME

ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

iii

HALAMAN

PENGESAHAN

iv

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR

LAMPIRAN

ix

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Tujuan Penulisan

5

C. Manfaat Penulisan

6

BAB II : LAPORAN KASUS

A. Identitas Klien

8

B. Pengkajian

9

C. Perumusan Masalah Keperawatan

12

D. Perencanaan Keperawatan

12

E. Implementasi Keperawatan

13

F. Evaluasi Keperawatan

15

BAB III : PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

A.

Pembahasan

17

vii

B. Simpulan

22

C. Saran

23

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Asuhan Keperawatan

Lampiran 2

: Log Book

Lampiran 3

: Format pendelegasian pasien

Lampiran 4

: Surat keterangan selesai pengambilan data

Lampiran 4

: Lembar konsultasi karya tulis ilmiah

ix

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare masih banyak terjadi di dunia dan menyebabkan

4

%

kematian anak pada tahun 2009, Di Indonesia angka morbiditas diare pada

anak mencapai 60 % sampai 80 % dan setiap anak mengalami diare rata-

rata 1,6 sampai 2 kali setahun dengan kematian rata-rata 3,4 per mil per

tahun pada balita dan 12,7 per mil per tahun pada bayi. Kasus diare pada

bayi menduduki tempat kedua atau 11 % setelah infeksi saluran pernafasan

akut (ISPA) sebagai penyebab kematian (Ishak, 2005 : 156).

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan.

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan terbesar di Indonesia

karena masih buruknya kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik merupakan

salah satu penyakit infeksi dan penyebab utama kesakitan dan kematian

pada anak balita (Rahmawati, 2008 : 111).

Hasil penelitian menunjukkan umur anak balita merupakan faktor

resiko diare. Hal ini sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu yang

menyatakan sebagian besar diare terjadi pada anak di bawah usia 2 tahun.

Apabila dirinci lebih lanjut angka tertinggi terdapat pada usia 6 sampai 11

bulan kemudian anak usia 18 sampai 23 bulan (Ghani, 2011 : 4).

Dari pencatatan dan pelaporan yang ada, baru sekitar 1,5 sampai

2 juta penderita peyakit diare yang berobat rawat jalan ke sarana kesehatan

1

2

pemerintah. Jumlah ini adalah sekitar 10 % dari jumlah penderita yang

datang berobat untuk seluruh penyakit, sedangkan jika ditinjau dari hasil

survey rumah tangga diantara 8 penyakit utama, prosentase peyakit diare

yang berobat sangat tinggi, yaitu 72 % dibandingkan 56 % untuk rata-rata

penderita

seluruh

penyakit

(Suraatmaja, 2007 : 1).

yang

memperoleh

pengobatan

Gastroenteritis atau sering dikenal dengan diare merupakan suatu

keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya,

ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi lebih dari

3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa

lendir darah (Alimul, 2006 : 12).

Penyebab tersering diare pada anak adalah infeksi saluran cerna

dan data epidemologi memperlihatkan bahwa rotavirus dan bakteri adalah

penyebab tersering. Rotavirus ditemukan pada 60 % anak dan bakteri

(E.coli dan salmonella) pada 20 % anak berumur di bawah 3 tahun dengan

diare akut tanpa dehidrasi dan dehidrasi ringan sedang (Gunardi, 2011 :

64).

Gambaran klinis dari diare, mula-mula pasien cengeng, gelisah,

suhu tubuh naik, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul

diare.Tinja cair mungkin disertai lendir atau lendir dan darah.Warna tinja

makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan

empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi

dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam

3

laktat yag berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama

diare. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit maka

gejala dehidrasi mulai timbul (Ngastiyah, 2005 : 225).

Pendekatan awal diare akut adalah menentukan derajat dehidrasi.

Sedangkan tujuan utama terapi adalah mencegah dehidrasi, mengoreksi

kekurangan

cairan

dan elektrolit

secara

cepat (terapi

rehidrasi),

dan

mencegah gangguan nutrisi (Gunardi, 2008 : 66).

Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dehidrasi dapat di

katagorikan menjadi 3 antara lain tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan sedang,

dehidrasi berat. Pada diare tanpa dehidrasi, anak tampak sadar, kelopak

mata tidak cekung, bibir dan lidah basah, turgor kulit kembali dengan

cepat, dalam hal ini dapat diberikan larutan oralit sebanyak 5 sampai 10ml

per kgBB. Pada dehidrasi ringan sedang ditemukan tanda mata cekung,

anak gelisah atau rewel, haus minum dengan lahap, cubitan kulit perut

kembali dengan lambat. Pada keadaan ini anak harus mendapatkan larutan

oralit sebanyak 75 ml per kgBB yang diberikan selama 3 jam dengan

memantau kemajuan hidrasi. Pada dehidrasi berat, anak terlihat tidak

sadar, mata cekung, tidak bisa minum atau malas minum, cubitan kulit

perut kembalinya sangat lambat. Pada keadaan ini anak harus dirawat di

rumah sakit dan mendapatkan cairan 100cc/kgBB selama 6 jam pada bayi

berumur di bawah 12 bulan dan 3 jam pada anak berumur di atas 12 bulan.

(Suraatmaja, 2007 : 8).

4

Agar

dapat

mempertahankan

kesehatan

dan

kehidupannya,

manusia membutuhkan cairan dan elektrolit dalam jumlah dan proporsi

yang tepat di berbagai jaringan tubuh.Air menempati proporsi yang besar

dalam tubuh. Air menyusun 75 % berat badan bayi, 70 % berat badan pria

dewasa, dan 55 % tubuh pria lanjut usia, 10 % dalam tubuh wanita (Iqbal,

2008 : 70).

Pada bayi cairan total tubuh adalah 80% berat badan, pada usia 3

tahun cairan total tubuh adalah 65 % berat badan, dan pada usia 15 tahun

cairan total tubuh adalah 60 % berat badan. Cairan total tubuh terdiri atas

cairan dan elektrolit yang didistribusikan diantara kompartemen cairan

ekstraseluler dan intraselular. Cairan intraselular (CIS) mencakup seluruh

cairan didalam dinding sel, kalium merupakan elektrolit utama CIS.

Cairan ekstraseluler

(CES) mencakup semua cairan yang berada di luar

dinding sel (misal: plasma, limfe, dan cairan serebrospinal) natrium

merupakan elektrolit utama CES (Mary, E, 2005 : 107).

Gangguan

keseimbangan

cairan

dapat

berupa

defisit

volume

cairan, dalam hal ini merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan yang

ditandai dengan defisiensi cairan dan elektrolit di ruang ekstrasel, namun

proporsi antara keduanya (cairan dan elektrolit) mendekati normal.Kondisi

ini

dikenal

mengalami

dengan

hipovolemia.Pada

perubahan

sehingga

cairan

keadaan

ini,

interstisial

tekanan

osmotic

masuk

ke

ruang

intravaskuler. Akibatnya ruang interstisial menjadi kosong dan cairan

5

intrasel masuk ke ruang interstisial sehingga mengganggu kehidupan sel

(Iqbal, 2008 : 77).

Kehilangan cairan ekstrasel secara berlebihan dapat menimbulkan

beberapa

perubahan.Diantaranya

adalah

penurunan

volume

ekstrasel

(hipovolemia) dan perubahan hematokrit. Pada dasarnya kondisi ini bisa

disebabkan oleh banyak faktor seperti kurangnya asupan cairan, tingginya

asupan pelarut (protein dan klorida atau natrium) yang dapat menyebabkan

ekskresi urine berlebih, berkeringat banyak dalam waktu yang lama

(Iqbal, 2008 : 77).

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis

tertarik

untuk

melakukan

studi

kasus

tentang

pemenuhan

kebutuhan

volume cairan pada An.F dengan gastroenteritis akut atau diare di bangsal

Melati Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Melaporkan kasus pemenuhan kebutuhan volume cairan pada An.F

dengan

gastroenteritis

akut

Karanganyar.

2. Tujuan Khusus

a.

Penulis

mampu

melakukan

di

Rumah

pengkajian

Sakit

Umum

Daerah

pemenuhan

kebutuhan

volume cairan pada pasien dengan gastroenteritis akut di Rumah

Sakit Umum Daerah Karanganyar.

6

b. Penulis

mampu

merumuskan

diagosa

keperawatan

pemenuhan

kebutuhan volume cairan pada pasien dengan gastroeteritis akut di

Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.

c. Penulis

mampu

menyusun

pemenuhan

kebutuhan

volume

rencana

cairan

asuhan

keperawatan

pada

pasien

dengan

gastroenteritis akut di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.

d. Penulis mampu melakukan implementasi keperawatan pemenuhan

kebutuhan volume cairan pada pasien dengan gastroenteritis akut

di Rumah Sakit Umum Daerah Karanranyar.

e. Penulis

mampu

melakukan

evaluasi

keperawatan

pemenuhan

kebutuhan volume cairan pada pasien dengan gastroenteritis akut

di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.

f. Penulis

mampu

menganalisa

kondisi

pemenuhan

kebutuhan

volume cairan yang terjadi pada pasien dengan gastroenteritis akut

di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.

C. Manfaat Penulisan

1. Bagi Penulis

Mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan stadart asuhan

keperawatan

untuk

pengembangan

praktik

keperawatan

dan

pemecahan masalah khususya dalam bidang/profesi keperawatan.

7

2. Bagi Institusi

Sebagai bahan kepustakaan dan perbandingan pada penanganan

kasus pemenuhan kebutuhan volume cairan di lapangan dan dalam

teori.

3. Bagi Pelayanan Kesehatan

Agar dapat mengaplikasikan teori keperawatan ke dalam praktik

pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Bab

ini

penulis

BAB II LAPORAN KASUS

akan

membahas

proses

keperawatan

pada

asuhan

keperawatan yang dilakukan pada tanggal 2 April 2012 di ruang Melati RSUD

Karanganyar. Prinsip dari pembahasan ini dengan memperhatikan teori proses

keperawatan yang terdiri dari tahap pengkajian, diagnosa keperawatan yang

menjadi prioritas,

perencanaan,

masalah yang menjadi prioritas.

A. Identitas Pasien

pelaksanan

dan

evaluasi

keperawatan

untuk

Hasil pengkajian pada tanggal 2 April 2012 jam 10.00 WIB, pada

kasus

ini

diperoleh

dengan

caraalloanamneses

dan

autoanamnese,

mengadakan pengamatan dan observasi langsung, pemeriksaan fisik, catatan

medis dan catatan perawatan. Hasil pengkajian tersebut didapatkan data

identitas pasien, bahwa pasien bernama An.F, umur 9 bulan, alamat Badran,

Asri, Koripan, Matesih, Karanganyar, agama Islam, jenis kelamin laki-laki,

yang dirawat di Ruang Melati, di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar.

Pasien dirawat sejak tanggal 31 maret 2012 dengan diagnosa Gastroenteritis

Akut. Penanggung jawab pasien adalahNy.F, umur 25 tahun, agama Islam,

pendidikan

SLTA,

pekerjaan

dengan pasien sebagai ibu.

ibu

sebagai ibu rumah

8

tangga,

hubungan

9

B. Pengkajian

Pengkajiantanggal 2 April 2012 jam 10.00 WIB, keluhan utama yang

ada pada pasien saat dikaji adalah diare. Riwayat kesehatan saat ini keluarga

mengatakan pada tanggal 30 Maret 2012 An.F mengalami diare, dengan

buang air besar cair lebih dari 20 kali, bercampur lendir dan darah. Oleh

orangtuanya, An.F dibawa ke bidan terdekat, tetapi diare pada An.F belum

sembuh, kemudian An.F dibawa ke puskesmas dan dari puskesmas An.F

dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar dan mendapatkan terapi

infus RL 15 tetes yang terpasang pada tangan kiri, cefotaxim 150 mg per 8

jam, L-bio 2 x 1 mg, zinc 1 x 1 mg kemudian An.F dipindahkan ke bangsal

melati.

Riwayat kesehatan masa lalu, An.F lahir tanggal 6 juni 2011, dan

saat mengandung Ny.F tidak mengkonsumsi obat, An.F merupakan anak

pertama, Ny.F baru melahirkan anak yang pertama dan tidak pernah aborsi.

Tipe

kelahirannya

secara

spotan,

lama

kelahiran

kira-kira

2

jam

dan

bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar. Pada saat lahir,

ditemukan data dari An.Fbahwa berat badan lahir 2600 gram,panjang baru

lahir 50 cm dan tidak terdapat kelainan bawaan. Pada An.F belum pernah

cidera atau melakukan operasi. Pengobatan saat ini yang diberikan adalah

infus RL 15 tetes, cefotaxim 15 mg per 8jam, L-bio 2 x 1 mg, zinc 1 x 1 mg.

An.F mempunyai alergi terhadap antibiotik amoxilin pada waktu

masih bayi yang ditandai dengan mata merah, tetapi pada saat ini An.F sudah

tidak lagi alergi terhadap amoxilin.Selain itu An.F alergi pada cuaca panas

10

yang ditandai dengan bentol-bentol. Pada An.F sudah dilakukan imunisasi:

polio,BCG,DPT,hepatitis,tetapi

belum

dilakukan

imunisasi

campak.

Pertumbuhan dan perkembangan saat ini pada An.F dapat dilihat berdasarkan

Berat badan lahir 2600 gram, saat usia 6 bulan 7 kg, Berat badan saat ini 7.8

kg, sudah tumbuh gigi 2 buah dan pasien belum bisa merangkak atau pun

duduk sendiri. Pasien mempuyai kebiasaan, jika diberi mainan, maka mainan

itu dimasukkan kedalam mulut.

Pemeriksaan fisik ditemukan data bahwa tinggi badan 72 cm, berat

badan 7.8 kg, lingkar kepala 46 cm, lingkar dada 46 cm, dan pada lingkar

lengan tidak terukur dikarenakan An.F menangis. Pada pemeriksaa tanda-

tanda

vital didapatkan

data

tanggal

2

April 2012

suhu

tubuh

36.6 o C,

pernafasan 20 kali per menit, denyut nadi 104 per menit.Pada tanggal 3 April

2012 suhu tubuh 36.6 o C, pernafasan 20 kali per menit, denyut nadi 108 kali

per menit. Pada tanggal 4 april 2012 suhu tubuh 36.6 o C, pernafasan 16 kali

per menit, denyut nadi 98 kali per menit ( Alimul, 2006 : 117)

Pemeriksaan umum didapatkan data bahwa status kesehatan An.F

nampak lemas dan sering menangis.Kulit bersih, tidak ada jaundick,turgor

kulit

lambat

(kurang

dari

2

detik).Kepala

mesosephal,

tidak

ada

pembesaran.Rambut tipis,pendek dan bersih.Mata normal, penglihatanbaik,

simetris kanan dan kiri,konjungtiva anemis,sklera putih,pupil isokor.Hidung

normal,simetris, tidak ada polip,tidak ada epitaksis.Mulut tidak terdapat

stomatitis,mukosa bibir kering,gigi sudah tumbuh 2 buah.Leher tidak terdapat

kaku kuduk dan tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid.

11

Pemeriksaan fisik dada (paru-paru) : inspeksi dada simetris kanan

dan kiri, palpasi vokal premitus kanan dan kiri sama, pengembangan dada

kanan dan kiri baik, perkusi sonor di paru, Auskultasi vesikuler. Dada

(jantung) : inspeksi ictus cordis tidak tampak, palpasi ictus cordis teraba di

Inter Costa V, perkusi pekak, Auskultasi bunyi jantung 1 sama dengan bunyi

jantung 2 (normal). Pada pemeriksaan abdomen inspeksi simetris, Auskultasi

bising usus

42

kali per menit,

palpasi tidak ada

nyeri

tekan,

perkusi

hypertimpani. Respirasi 20 kali per menit, pasien belum pernah trasfusi,

muntah 3 sampai 4 kali per shift, feses cair bercampur lendir dan darah,

warna kehijauan dengan frekuensi kurang lebih 8 kali per shift, balance

cairan 38 cc, pasien tampak pucat dan sering menangis, hemoglobin 10,9

gr/dl, turgor kulit lambat ( kurang dari 2 detik ), conjungtiva anemis, tidak

mengalami nyeri saat berkemih, tidak mengalami kaku punggung, kram,

ataupun kesleo, pasien tidak mengalami kejang, pasien mengalami keringat

berlebih saat perubahan cuaca. Di daerah genetalia tidak ada kelainan dan

pasien berjenis kelamin laki-laki.Pada bokong terlihat kemerahan.

Hasil pemeriksaan penunjang dengan hasil laboratorium didapatkan

hasil hemoglobin 10,9 gr/dl, leukosit 15,6 kali 10 3 µ/L, hematokrit 33,8 %,

trombosit 368000 U/L. Pada pengkajian system pencernaan, pada bagian

nutrisi diperoleh data WAZ -1,4 tergolong gizi normal, HAZ -0,12 tergolong

normal, WHZ -1,6 tergolong normal, selama sakit pasien diberikan diit

bubur. Dalam pemberian ASI frekuensinya kurang lebih 4 sampai 7 kali per

shieft dan lama pemberiannya 10 sampai 15 menit.

12

Pengkajian riwayat kesehatan keluarga didapatkan data bahwa An.F

merupakan anak pertama dari pasangan Bp.K dan Ny.F, Dalam keluarga

tidak terdapat penyakit keturunan atau pun kongenital.Paman dan kakek dari

An.F mempunyai kebiasaan merokok.Letak geografis terletak pada daerah

pemukiman penduduk di dataran tinggi, jauh dari pabrik dan lingkungan

bersih.

C. Perumusan Masalah Keperawatan

Data fokus yang didapat pada An.F tanggal 2 April 2012, adalah

secara subjektif ibu An.F mengatakan An.F diare dan frekuensi buang air

besar kurang lebih 8 kali per shift, cair, berlendir, bercampur darah, warna

kehijauan dan muntah 3 sampai 4 kali per shift. Secara objektif pasien

tampak pucat, sering menangis, turgor kulit lambat (kurang dari 2 detik),

balance cairan 38 cc, Hemoglobin 10,9 gr/dl, conjungtiva anemis. Maka

dapat diambil diagnosa keperawatan kurang volume cairan berhubungan

dengan kehilangan cairan aktif (Herdman, 2011 : 97).

D. Perencanaan Keperawatan

Tujuan

yang

dibuat

penulis

adalah

setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan selama 3 kali 24 jam, diharapkan kekurangan volume cairan

dapat teratasi dengan kriteria hasil :keseimbangan elektrolit asam-basa dapat

tercapai, hidrasi yang adekuat, status nutrisi yang adekuat, konjungtiva tidak

anemis.

13

Intervensi atau rencana tindakan (Wilkinson, 2007 : 177-178) dengan

rasional (Doengoes, 2000 : 428-476). Intervensi yang akan dilakukan yaitu

pantau warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan cairan, rasional membantu

membedakan penyakit individu dan mengkaji beratnya episode. Pantau status

hidrasi

(kelembaban,

membrane

mukosa,

keadekuatan

nadi),

rasional

hipovolemia, perpindahan cairan dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor

kulit

dan

menambah

menghindarkan

iritan

edema

jaringan.Kaji

intake

pada

pasien,

rasional

meningkatkan

istirahat

usus.Laporkan

dan

catat

haluaran kurang dan lebih, rasional menunjukkan status hidrasi keseluruhan.

Tentukan jumlah cairan yang masuk dalam 24 jam hitung asupan yang

diinginkan,

rasional

pasien

tidak

mengkonsumsi

cairan

sama

sekali

mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang

berdampak pada keseimbangan elektrolit. Kolaborasi dengan dokter dalam

pemberian

terapi,

rasional

cefotaxim

untuk

antibiotik,

L-Bio

untuk

memelihara fungsi pencernaan, zinc untuk mengatasi dehidrasi.

E. Implementasi Keperawatan

Tindakan keperawatan yang dilakukan pada hari senin, 2 April 2012

pada jam 10.00 WIB memantau jumlah, warna, dan frekuensi kehilangan

cairan. Respon subyektif, ibu An. F mengatakan klien buang air besar kurang

lebih 8 kali per shief dengan jumlah sedikit kurang lebih 10 cc, warna

kehijauan, bercampur lendir dan darah. Respon obyektifnya pasien nampak

pucat, sering menangis, hemoglobin 10,9 gr/dl, conjungtiva anemis, balance

14

cairan 38 cc, klien muntah. Tindakan yang kedua pada jam 10.30 WIB adalah

menginjeksi cefotaxim 300 mg. Respon subyektifnya ibu An.F menyetujui.

Respon obyektifnya An.F menangis, injeksi cefotaxim 300 mg sudah masuk

melalui IV.

Tindakan keperawatan yang dilakukan pada hari Selasa, 3 April 2012

pada jam 09.00 WIB adalah memberikan L-Bio. Respon subyektifnya ibu

An.F menyetujui, Respon obyektif An.F menangis. Tindakan yang kedua pada

jam 11.15 WIB

adalah mengkaji intake

pada pasien,

tidak ada

respon

subyektif dari pasien, respon obyektif makan hanya 2 sendok (10 cc) minum

250 cc, infus 200 cc. Tindakan yang ketiga pada jam 11.30 WIB memberikan

injeksi cefotaxim 300 mg. Respon subyektif ibu An.F mengatakan bersedia

jika anaknya diberi obat, respon obyektif An.F menolak, injeksi cefotaxim 300

mg sudah masuk melalui IV. Tindakan yang keempat pada jam 13.30 WIB

memantau warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan cairan. Respon subyektif

ibu An.F mengatakan klien buang air besar kurang lebih 12 kali, warna

kehijauan, encer, berlendir dan ada darah, respon obyektif balance cairan -49

cc, tidak muntah, An.F menangis.

Tindakan keperawatan yang dilakukan pada hari Rabu, 4 April 2012

pada

jam

10.00

WIB

adalah

memantau

warna,

jumlah,

dan

frekuensi

kehilangan cairan. Respon subyektif ibu An.F mengatakan pasien buang air

besar kurang lebih 5 kali sampai jam 10.00 WIB. dan sampai jam 14.00 WIB

An.F sudah buang air besar 5 kali jadi total buang air besar pada tanggal 4

April 2012 sebanyak 10 kali, dengan

warna kehijauan, encer, berlendir dan

15

ada darah, respon obyektif An.F sering menangis, buang air besar masih

terdapat lendir dan darah, balance cairan -79 cc. Tindakan yang kedua pada

jam 10.30 wib adalah menginjeksi cefotaxim 300 mg. Respon subyektif ibu

An.F menyetujui pasien untuk diinjeksi, respon obyektif An.F menangis,

injeksi cefotaxim 300 mg sudah masuk melalui IV.

F. Evaluasi Keperawatan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, hasil evaluasi dilakukan

pada tanggal 2 April 2012 jam 14.00 WIB, dengan menggunakan metode

SOAP, hasil dari subjektif (S) ibu An.F mengatakan An.F buang air besar

kurang lebih 8 kali per shift dengan jumlah 10 cc setiap buang air besar, warna

kehijauan, cair, lendir dan bercampur darah. Objektif (O) klien tampak lemas,

rewel dan menangis, muntah 3 sampai 4 kali per shift, Hb 10,9 gr/dl, balance

cairan

38

cc.

Analisa

(A) masalah

belum teratasi,

dengan

Planing

(P)

intervensi dilanjutkan: pantau warna, frekuensi, jumlah kehilangan cairan,

kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, hasil evaluasi dilakukan

pada tanggal 3 April 2012 jam 14.00 WIB, dengan menggunakan metode

SOAP, hasil Subjektif (S) ibu An.F mengatakan An.F buang air besar kurang

lebih 12 kali dengan konsistensi masih encer, berlendir bercampur darah dan

warna kehijauan. Obyektif (O) An.F menangis, sudah tidak muntah, balance

cairan -49 cc. Analisa (A) masalah belum teratasi, dengan Planning (P)

16

intervensi dilanjutkan: pantau warna, jumlah, frekuensi kehilangan cairan,

pantau status hidrasi, kaji intake pada pasien.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, hasil evaluasi dilakukan

pada tanggal 4 April 2012 jam 14.00 WIB, dengan menggunakan metode

SOAP, hasil Subjektif (S) ibu An.F mengatakan An.F buang air besar 10 kali

dengan buang air besar masih encer, lendir, bercampur darah dan warna

kehijauan. Obyektif (O) An.F Nampak rewel dan menangis, balance cairan -

79 cc. Analisa (A) masalah belum teratasi, Planning (P) intervensi dilanjutkan:

pantau warna, jumlah, frekuensi kehilangan cairan, pantau status hidrasi,

laporkan dan catat haluaran kurang dan lebih, kolaborasi dengan dokter dalam

pemberian terapi.

BAB III

PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

A. Pembahasan

Bab

ini

penulisakan

membahas

tentang

“Asuhan

Keperawatan

Pemenuhan Kebutuhan Volume Cairan An.F dengan Gastroenteritis Akut di

Ruang

Melati

Rumah

Sakit

Umum

Daerah

Karanganyar”.

Prinsip

dari

pembahasan ini dengan memfokuskan kebutuhan dasar manusia di dalam

asuhan keperawatan.

Gastroenteritis Akut atau sering dikenal dengan diare akut adalah

buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan

berlangsung kurang dari 1 minggu (Pusponegoro, 2004 : 49). Diare adalah

penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari

biasanya (lebih dari 3 kali per hari) disertai perubahan konsistensi tinja

(menjadi cair), dengan / tanpa darah dan / lendir (Suraatmaja, 2007 : 1).

Penyebab

utama

gastroenteritis

akut

adalah

virus

(rotavirus,

adenovirus enterik, Norwalk-virus, dan lain-lain), bakteri atau toksinnya

(Compyclobacter, Salmonella, Shigella, Escericia colli, Yersinia) (Wong,

2004 : 492). Serta parasit (Giardia lamblia, Cryptosporidium)

Patogen-

patogen ini menimbulkan penyakit dengan menginfeksi sel-sel (Cecily L.betz,

2002 : 155). Selain itu diare dapat juga disebabkan oleh malabsorbsi makanan,

keracunan makanan (Harianto, 2004 : 28).

17

18

Pasien dengan diare akan timbul gejala mula-mula pasien cengeng,

gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian

timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir atau lendir dan darah.Warna

tinja

makin

lama

berubah

menjadi

kehijau-hijauan.

Anus

dan

daerah

sekitarnya timbul lecet (Ngastiyah, 2005 : 225). Bila pasien telah banyak

kehilangan cairan dan elektrolit maka gejala dehidrasi mulai timbul: membran

mukosa kering, turgor kurang, ubun-ubun besar dan cekung ( Pusponegoro,

2004 : 50).

Gejala diare yang timbul pada An.F adalah tinja cair yang disertai

dengan lendir dan darah, menunjukkan adanya disentri basiller, jadi di dalam

tinja

terdapat infeksi bakteri golongan Shigella yang menjadi penyebab

disentri basiler (Anonim, 2012).Melihat hal tersebut seharusnya dilakukan

pemeriksaan tinja, tetapi selama penulis melakukan pengkajian 3 hari tidak

dilakukan pemeriksaan tinja dari pihak rumah sakit. Selain yang disebutkan di

atas gejala diare yang muncul pada An.F adalah warna tinja kehijauan dengan

frekuensi buang air besar kurang lebih 8 kali per shift, muntah 3 sampai 4 kali

per shift, membran mukosa kering, An.F terlihat menangis, conjungtiva

anemis, hemoglobin 10,9 gr/dl.

Dari

hasil

pengkajian

pasien,

penulis

merumuskan

masalah

keperawatan kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

aktif.

Masalah

keperawatan

kurang

volume

cairan

tersebut

lebih

diprioritaskan penulis dari beberapa masalah keperawatan yang muncul pada

pasien. Alasan penulis memprioritaskan masalah kurang volume cairan karena

19

kurang volume cairan yang dirasakan pasien merupakan salah satu masalah

kebutuhan

dasar

manusia,

dimana

kurang

volume

cairan

tersebut

lebih

terdahulu untuk diatasi, jika tidak segera diatasi akan menyebabkan kematian

yang dikarenakan tubuh banyak kehilangan air yang disebut dengan dehidrasi.

Dehidrasi yang sering terjadi pada penderita diare karena usus bekeja tidak

sempurna sehingga sebagian besar air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya

dibuang bersama tinja sampai akhirnya tubuh kekurangan cairan (Harianto,

2004 : 28). Pada dasarnya kurang volume cairan adalah suatu gejala subyektif

yang kompleks berupa status dehidrasi yang tidak menyenangkan.

Menurut (Iqbal, 2008 : 70) air menyusun 75 % dari berat badan bayi

dan cairan total tubuh pada bayi adalah 80 % (Mary, E, 2005 : 107). Rumus

kebutuhan cairan pada bayi dengan berat badan kurang dari 10 kg, cairan

tubuh yang diperlukan adalah 100 ml per kgbb.Bayi dengan berat badan 10

sampai 20 kg maka kebutuhan cairan tubuh adalah 1000 ml per kgbb. Bayi

dengan berat badan lebih dari 20 kg maka kebutuhan cairan tubuh 1500 ml per

kgbb pada 20 kg pertama. Jadi, kebutuhan cairan pada pasien dengan berat

badan 7.8 kg adalah 780 ml. Cairan sangat diperlukan oleh tubuh. Dari kasus

diare banyak ditemukan bahwa output lebih besar daripada input sehingga

hasilnya negatife. Tubuh akan mengalami kekurangan volume cairan dan

dapat menyebabkan dehidrasi, oleh karena itu dalam kasus diare memerlukan

pemantauan atau observasi yag maximal. Melihat hal tersebut maka penulis

melakukan pemantauan

selama 3 kali 24 jam dalam intervensi keperawatan

untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan volume cairan. Hal ini dilakukan

20

untuk mengurangi angka kejadian dehidrasi yang akan menyebabkan pada

kematian.

Dengan ditegakkannya diagnosa keperawatan kurang volume cairan,

penulis merencanakan tindakan untuk mengatasi kurang volume cairan pada

pasien yaitu pantau warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan cairan, pantau

status hidrasi (kelembaban, membrane mukosa, keadekuatan nadi), kaji intake

pada pasien, laporkan dan catat haluaran kurang dan lebih, tentukan jumlah

cairan yang masuk dalam 24 jam hitung asupan yang diinginkan, Kolaborasi

dengan dokter dalam pemberian terapi obat. Penulis melakukan tindakan

keperawatan

masih

belum

sesuai

dengan

rencana

yang

telah

disusun

sebelumnya untuk menangani masalah kurang volume cairan pada pasien

sehingga

pemenuhan

kebutuhan

volume

cairan

pasien

belum

terpenuhi.

Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan oleh penulis adalah memantau

jumlah, warna, dan frekuensi kehilangan cairan, mengkaji intake pada pasien,

memberikan terapi obat sesuai dengan advis dokter.

Penulis

tidak

mencantumkan

3

intervensi

yang

seharusnya

di

masukkan dalam implementasi yang telah disusun sebelumnya. Intervensi

tersebut adalah tentukan jumlah cairan yang masuk dalam 24 jam hitung

asupan yang diinginkan, alasan intervensi ini tidak dimasukkan ke dalam

implementasi karena penulis dalam melakukan pengkajian hanya dalam waktu

8 jam ( shift pagi ) sehingga jika dipantau dalam 24 jam tidak sesuai dengan

waktu pengkajian dan tidak akan mendapatkan data yang valid, oleh karena itu

harus dibutuhkan observasi untuk pendelegasian kepada pihak rumah sakit.

21

Intervensi yang kedua adalah laporkan dan catat haluaran kurang dan lebih,

alasan intervensi ini tidak dimasukkan dalam implementasi karena dalam hal

ini penulis lebih memfokuskan pada perhitungan balance cairan, sehingga

penulis mengutamakan implementasi yang berkaitan dengan pemantauan

jumlah, warna, dan frekuensi kehilangan cairan.Intervensi ketiga yang tidak

dilakukan adalah pantau status hidrasi seperti kelembaban, membran mukosa,

keadekuatan nadi, alasan intervensi ini tidak dimasukkan dalam implementasi

adalah keterbatasan penulis dalam melakukan pendokumentasian keperawatan

sesuai dengan teori yang ada.

Setelah melakukan tindakan keperawatan selama tiga hari, penulis

mengevaluasi keadaan pasien setiap hari dan hasilnya kurang volume cairan

pada pasien belum teratasi, karena dalam waktu pengkajian selama tiga hari

pasien masih menunjukkan buang air besar kurang lebih 10 kali dan tinja

masih terdapat darah dan lendir.

Penulis berharap karya tulis ilmiah ini dapat memberikan informasi

kepada pihak lain sehingga dapat memperluas pengetahuan tentang penyakit

gastroenteritis akut. Penulis menyadari masih mempunyai banyak kekurangan,

tetapi dengan kekurangan tersebut penulis mendapatkan masukan dari pihak

lain sehingga penulis mampu melengkapinya dan menjadikan lebih sempurna

serta dapat dijadikan pembelajaran bagi penulis.

22

B. Simpulan

Berdasarkan apa yang telah penulis dapatkan dalam laporan kasus

dan pembahasan pada asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan volume

cairan pada An.F dengan Gastroenteritis Akut di Rumah Sakit Umum

Daerah Karanganyar, maka penulis mengambil kesimpulan :

Pengkajian yang didapat pada An.F

pada tanggal 2 April 2012

secara subjektif ibu An.F mengatakan An.F diare dan frekuensi buang air

besar kurang lebih 8 kali per shift, cair, berlendir, bercampur darah, warna

kehijauan dan muntah 3 sampai 4 kali per shift. Secara objektif pasien

tampak pucat, sering menangis, turgor kulit lambat (kurang dari 2 detik),

balance cairan 38 cc, Hemoglobin 10,9 gr/dl, conjungtiva anemis. Maka

penulis

mengambil

diagnosa

keperawatan

kurang

volume

cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif .

Intervensi keperawatan untuk diagnosa kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif adalah pantau warna, jumlah,

dan frekuensi kehilangan cairan, kaji intake pada pasien, kolaborasi dengan

dokter dalam pemberian terapi.Implementasi yang sudah dilakukan oleh

penulis adalah memantau warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan cairan,

mengkaji

intake

pada

pasien,

mengkolaborasi

dengan

dokter

dalam

pemberian obat seperti cefotaxim, L-Bio, dan zinc.

Evaluasi hari terakhir pada tanggal 4 April 2012 didapatkan data

Subjektif

(S) ibu An.F mengatakan An.F buang air besar 10 kali dengan

buang air besar masih encer, lendir, bercampur darah dan warna kehijauan.

23

Obyektif (O) An.F menangis, balance cairan -79 cc. Analisa (A) masalah

belum teratasi, Planning (P) intervensi dilanjutkan: pantau warna, jumlah,

frekuensi kehilangan cairan, pantau status hidrasi, laporkan dan catat

haluaran kurang dan lebih, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian

terapi.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis menyampaikan saran antara

lain :

a.

Bagi Institusi pelayanan kesehatan

Diharapkan

untuk

lebih

meningkatkan

pelayanan

kesehatan,

khususnya pada pasien dengan pemenuhan kebutuhan volume cairan.

b.

Bagi Tenaga kesehatan khususnya perawat

 

Diharapkan selalu berkoordinasi dengan tim kesehatan lainnya

dalam

memberikan

asuhan

keperawatan

pada

pasien

agar

lebih

maximal

khususnya

pada

pasein

dengan

pemenuhan

kebutuhan

volume cairan agar melakukan observasi maximal pada pemeriksaan

fisik seperti turgor kulit diperut untuk melihat tanda dan gejala dari

dehidrasi.

c.

Bagi Institusi pendidikan

Diharapkan dengan mengetahui kasus pemenuhan kebutuhan

volume cairan dapat dijadikan refrensi dan daftar kepustakaan.

24

Anonim,

DAFTAR PUSTAKA

2012.Penyakit

Disentri.

http://obatpropolis.com/penyakit-disentri

akses tanggal 25 April 2012

Di

Betz, Cecily L. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC

Doengoes, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

Gunardi Hartono, Tehuteru Edi S, Kurniati Nia. dkk. 2011. Kumpulan Tips Pediatrik. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia

Lannywati, ghani. 2011. Faktor-faktor risiko diare persisten pada anak balita.

http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/lannywati_ghani.pdf

Di akses tanggal 9 April 2012

Harianto. 2004. Penyuluhan Penggunaan Oralit Untuk Menanggulangi Diare Di Masyarakat. Departement Farmasi. FMIPA Universitas

Indonesia.Jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/2004/v0in0i/Harianto010104.pdf

Di akses tanggal 13 April 2012

Herdman, T Heather. 2011. Diagnosis Keperawatan 2009-2011. Jakarta: EGC

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Buku 2. Jakarta:

Salemba Medika

Ishak Syafie, Ismail Djauhar, Wilopo Siswanto Agus. 2005. Berita Kedokteran Masyarakat.Yogyakarta

Kasim, Fauzi.2010/2011.ISO INDONESIA Volume 45. Jakarta: PT.ISFI

Mubarak, Wahid Iqbal. 2008. Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan elektrolit. Jakarta: EGC

Muscari, Mary E. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik.Jakarta : EGC

Ngastiyah. 2002. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta: EGC

Pusponegoro Hardiono D, Hadinegoro Sri Rezeki S, Firmanda Dody. 2004. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1.Jakarta: Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia

Rahmawati Elfi, Padmawati Ratna Siwi, Widyatama Rendra. 2008. Analisis Kebutuhan Program Pencegahan Diare Pada Anak Berusia Di Bawah Dua Tahun Volume 24.Yogyakarta

Suraatmaja, Sudrajat. 2007. Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: CV Sagung Seto

Wilkonson, Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 7.Jakarta.:

EGC

Wong Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC