Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Prinsip Percobaan
Dengan penyuntikan secara subkutan karagenan pada telapak kaki belakang
tikus menyebabkan udem yang dapat diinhibisi oleh obat antiinflamasi yang
diberikan sebelumnya.

1.2 Tujuan percobaan
1. Mampu memahami azas dasar percobaan aktivitas antiinflamasi dan
memperoleh petunjuk-petunjuk yang praktis
2. Dapat menunjukkan beberapa kemungkinan dan batasan yang merupakan
sifat teknik percobaan



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Inflamasi
Radang adalah reaksi setempat dari jaringan hidup atau sel terhadap suatu
rangsang atau injury. Radang terbagi dalam dua golongan, yaitu:
1. Benda mati:
a. Rangsang fisis; contohnya, trauma, benda asing, rangsang panas atau dingin
yang berlebihan, tekanan, listrik, sinar matahari, sinar rontgen, dan radiasi.
b. Rangsang kimia; contohnya, asam dan basa yang kuat dan juga keracunan
obat.
2. Benda hidup. Contohnya; kuman patogen, bakteri, parasit, dan virus. Selain itu
juga ada reaksi imunologi dan gangguan vaskular serta hormonal yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan (Sudiono, J., 2003).
Tanda utama radang yang ditetapkan oleh Cornelius Celsus antara lain:
Rubor (merah), disebabkan karena adanya hiperemia aktif karena bertambah
banyaknya vaskularisasi di daerah cedera tersebut.
Kalor (panas), disebabkan karena hiperemia aktif.
Tumor (bengkak), sebagian disebabkan karena hiperemia aktif dan sebagian lagi
disebabkan karena edema setempat serta stasis darah.
Dolor (sakit), disebabkan karena terangsangnya serabut saraf pada daerah radang.
Belum jelas apakah karena adanya edema ataukah karena iritasi zat kimia yang
terlepas, misalnya asetilkolin dan histamin. Tetapi sesungguhnya rasa nyeri ini
mendahului proses radang. Hal ini mungkin karena terbentuknya suatu zat oleh
sel mast. Zat ini berguna untuk meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh
darah. Bahan lain yang berperan penting adalah bradikinin, di mana jika
seseorang disuntik bradikinin tidak murni, zat ini menyebabkan rasa nyeri pada
permukaan kulit sebelum terjadi migrasi sel darah putih.
Kemudian oleh Galen, ditambahkan fungtio laesa, yaitu berkurangnya fungsi
karena adanya rasa sakit akibat saraf yang terangsang sehingga bagian organ
tubuh tidak berfungsi. Penyebab lain penurunan fungsi tubuh adalah edema
(Sudiono, J., 2003).
Radang merupakan respon fisiologi lokal terhadap cedera jaringan. Radang
bukan suatu penyakit, melainkan suatu manifestasi terhadap suatu penyakit. Radang
dapat mempunyai pengaruh yang menguntungkan, seperti penghancuran
mikroorganisme yang masuk dan pembuatan dinding pada rongga abses, sehingga
akan mencegah penyebaran infeksi. Secara seimbang, radang juga memproduksi
penyakit, misalnya abses otak akan bertindak sebagai lesi ruangan yang menekan
bangunan vital di sekitarnya, atau fibrosis akibat radang kronis dapat mengakibatkan
terjadinya distorsi jaringan yang permanen dan menyebabkan gangguan fungsinya
Radang biasanya diklasifikasikan berdasarkan waktu kejadiannya, sebagai: Radang
akut, reaksi jaringan yang segera dan hanya dalam waktu yang tidak lama, terhadap
cedera jaringan. Radang kronis, reaksi jaringan selanjutnya yang diperlama
mengikuti respons awal (Underwood, J.C.E., 1999).
Radang adalah rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang
mengalami cedera, seperti karena terbakar, atau terinfeksi.
Bagian tubuh yang mengalami peradangan memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
tumor atau membengkak
calor atau menghangat
dolor atau nyeri
rubor atau memerah
functio laesa atau daya pergerakan menurun (www.wikipedia.com)
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan
yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak atau zat-zat
mikrobiologik. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau merusak
organisme yang menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur derajat
perbaikan jaringan. Jika penyembuhan lengkap, proses peradangan bisanya reda.
Namun, kadang-kadang inflamasi tidak bisa dicetuskan oleh suatu zat yang tidak
berbahaya seperti tepung sari atau oleh suatu respon imun seperti asma atau artritis
rematoid. Pada kasus seperti ini, reaksi pertahanan mereka sendiri mungkin
menyebabkan luka jaringan progresif dan obat-obat antiinflamasi atau imunosupresi
mungkin diperlukan untuk memodulasi proses peradangan (Mary J. Mycek, 2001).
Inflamasi merupakan proses yang sangat kompleks yang meliputi ikut
sertanya aktifitas banyak tipe sel dan mediator. Secara normal cidera jaringan atau
adanya bahan asing menjadi pemicu kejadian yang mengikut sertakan partisipasi dari
enzim, mediator, cairan ekstravasasi, migrasi sel, kerusakan jaringan dan mekanisme
penyembuhan. Hal tersebut menimbulkan tanda inflamasi berupa: kemerahan,
pembengkakan, panas, nyeri dan hilangnya fungsi. Rangsangan yang menimbulkan
inflamasi sangat berbeda-beda tetapi prosesnya diperantarai oleh sejumlah mediator,
termasuk: prostaglandin, leukotrien, interleukin, oksigen radikal bebas dan oksidan
lain (nitric oxide, kloramin, asam hipoklorus) yang secara langsung dapat
menimbulkan kerusakan jaringan, inaktifasi dari inhibitor protease, misalnya: a1-
antitrypsin, inhibitor spesifik dari elastase neutrofil, dapat merusak matriks jaringan
ikat. Bahan-bahan tersebut dihasilkan oleh sel inflamasi yang meliputi
polymorphonuclear leucocytes (neutrofils, easinofils, basofils), sel endotel, sel mast,
makrofag (monosit dan limfosit). Rangsangan lain untuk terjadinya inflamasi
termasuk histamin, kejadian imunologik, faktor kemotaktik, dan lain-lain. Prostanoid
termasuk prostaglandin, thromboxanes dan leukotriens merupakan mediator lipid
yang disalurkan lewat membran fosfolipid oleh kerja beberapa enzim antara lain
fosfolipase A2, cyclooxygenase, lipoxygenase dan enzim spesifik untuk sintesis
prostanoid tertentu. Prostaglandin hasil dari jalur cyclooxygenase merubah asam
arakidonat menjadi autocoid melibatkan fase proses inflamasi, reaksi panas dan nyeri
dan fungsi fisiologis termasuk mobilitas intestinal, agregasi platelet, tonus vaskular,
fungsi renal, sekresi lambung, integritas mukosa lambung.
Respon inflamasi terjadi dalam 3 fase yang berbeda sesuai mekanisme yang berbeda:
1. Fase akut transien: vasodilatasi lokal dan meningkatnya permeabilitas kapiler.
2. Fase sub-akut lambat: infiltrasi lekosit dan sel fagosit
3. Fase kronik proliferatif: degenerasi jaringan dan fibrosis
( Retno Laksminingsih Subagyo, 2004 ).
Inflamasi (radang) biasanya dibagi dalam tiga fase :
1. Inflamasi Akut.
Inflamasi akut meupakan respon awal terhadap cedera jaringan ; hal tersebut
terjadi melalui mediarilisnya aulacoid serta pada umumnya didahului oleh
pembentukan respon imun.
2. Respons Imun.
Respon imun terjadi bila sejumlah sel yang mampu menimbulkan kekebalan
diaktifkan untuk merespons organisme asing atau substansi anti genik yang terlepas
selam respon terhadap inflamasi akut seeta kronis. Akibat dari respons imun bagi
tuan rumah mungkin menguntungkan seperti bilamana ia menyebabkan organisme
penyerang menjadi di-fagositosis atau dinetralisir. Sebaliknya, akibat tersebut juga
dapat bersifat merusak bila menjuus kepada inflamasi kronis tanpa penguraian dari
proses cedera yang mendasarinya.
3. Inflamasi Kronis
Inflamasi kronis melibatkan keluarnya sejumlah mediator yang tidak
menonjol dalam respons akut ( Donald G.Payan, 1998 ).

2.2 Obat antiinflamasi
Obat-obat anti-inflamasi nonsteroid (AINS) merupakan suatu group obat
yang secara kimiawi tidak sama, yang berbeda aktivitas antipiretik, anlgesik dan anti-
inflamsinya. Obat-obat ini terutama bekerja dengan jalan menghambat enzim
siklooksigenase tetapi tidak enzim lipoksigenase. Aspirin adalah prototip dari group
ini, yang paling umum digunakan dan merupakan obat yang dibandingkan dengan
semua obat anti-inflamasi. Namun, sekitar 15 % penderita menunjukkan tidak
tolerran terhadap aspirin. Karena itu, obat-obat AINS lain bagi individu ini. Selain
itu, pada penderita tertentu, beberapa obat AINS baru lebih superior daripada aspirin,
karena aktivitas anti-inflamasinya lebih besar dan atau menyebabkan lebih sedikit
iritasi lambung, atau lebih mahal daripada aspirin, beberapa telah terbukti lebih
toksik ( Mary J. Mycek, 2001 ).
Banyak obat anti-inflamsi nonsteroid (AINS) bekerja dengan jalan
menghambat sintesis prostaglandin. Jadi, pemahaman akan obat AINS memerlukan
pengertian kerja dan biosintesis prostaglandin turunan asam lemak tak jenuh
mengandung 20 karbon yang meliputi suatu cincin siklik( Mary J. Mycek, 2001 ).
NSAIDs berkhasiat analgetis, antipiretis, serta antiradang (antiflogistis), dan
sering sekali digunakan untuk menghalau gejala penyakit rema, seperti A.R., artrosis,
dan spondylosis. Obat ini efektif untuk peradangan lain akibat trauma (pukulan,
benturan, kecelakaan), juga misalnya setelah pembedahan, atau pada memar akibat
olahraga. Obat ini dipakai pula untuk mencegah pembengkakan bila diminum sedini
mungkin dalam dosis yang cukup tinggi. Selanjutnya NSAIDs juga digunakan untuk
kolik saluran empedu dan kemih, serta keluhan tulang pinggang dan nyeri haid
(dysmenorroe). Akhirnya NSAIDs juga berguna untuk nyeri kanker akibat metastase
tulang. Yang banyak digunakan untuk kasus ini adalah zat-zat dengan efek samping
relatif sedikit, yakni ibuprofen, naproksen, dan diklofenak (Tan, 2002).
Secara kimiawi, obat-obat anti inflamasi non steroid ini biasanya dibagi
dalam beberapa kelompok, yaitu :
a. Salisilat : asetosal, benorilat, dan diflusinal. Dosis anti radangnya terletak 2 3
kali lebih tinggi daripada dosis analgetisnya. Berhubung resiko efek sampingnya,
maka jarang digunakan pada rema.
b.Asetat : alklofenac, diklofenac, indometasin, dan sulindac. Alcofenac jarang
digunakan lagi karena sering menimbulkan reaksi kulit. Indometasin termasuk
obat yang terkuat daya antiradangnya, tetapi jauh sering menyebabkan keluhan
lambung usus.
c. Propionat : ibuprofen, ketoprofen, flurbiprofen, naproksen, tiaprofenat dan
fenoprofen.
d.Oksikam : piroksikam, tenoksikam, meloxicam
e. D.antranilat : mefenaminat, nifluminat, dan meclofenamic acid
f. Pirazolon : (oxy) fenilbutazon dan azapropazon
g.Lainnya : nabometon, benzidamin krem 3%, bufexamac krem 5 % berkhasit
sebagai antiradang agak kuat, tetapi kurang efektif pada gangguan rematik
( Tan Hoan Tjay & Kirana Rahardja, 2002).
Obat anti-nyeri dan peradangan (obat anti-inflamasi nonsteroid: OAINS)
merupakan golongan obat yang paling banyak dipergunakan mengobati nyeri radang
sendi maupun nyeri oleh sebab lain. Umumnya dengan OAINS yang ada sekarang,
rasa nyeri dapat segera diatasi. Namun, kenyataan menunjukkan, sebagian besar
keluhan bersifat menahun sehingga penderita memerlukan OAINS dalam jangka
panjang. Karena banyak orang memakai OAINS dalam waktu relatif lama, maka di
samping kemanjurannya tingkat keamanan atau timbulnya efek samping OAINS
harus dipahami dengan baik. OAINS banyak dijual bebas dan kebiasaan penderita
yang ingin memperoleh hasil cepat dengan mencampur beberapa OAINS atau
menambah dosis di luar anjuran dokter. Efek samping OAINS mencakup gangguan
di saluran cerna, fungsi jantung dan ginjal, perdarahan, dan efek samping lain yang
lebih ringan seperti gatal-gatal, pusing, dan kembung. Sebagian besar gejala efek
samping OAINS pada saluran cerna adalah ringan seperti mual, kembung, nyeri
perut, mencret, nafsu makan turun, dan nyeri ulu hati. Akan tetapi, OAINS memicu
erosi pada permukaan lambung yang dapat berkembang menjadi luka lambung dan
menimbulkan banyak perdarahan (muntah darah). Penderita sering tak menunjukkan
gejala awal, sehingga terlambat masuk ke rumah sakit. Diperkirakan total 10-20
persen penderita yang menggunakan OAINS secara teratur dalam satu tahun, 2-4
persen akan menderita luka lambung dengan komplikasi perdarahan, sumbatan atau
kebocoran lambung. Diperkirakan lebih daripada 100.000 penderita masuk rumah
sakit dan 16.500 penderita meninggal karena efek samping OAINS setiap tahun di
Amerika Serikat saja. Timbulnya efek samping OAINS pada saluran cerna semakin
meningkat pada penderita yang sudah tua, berpenyakit rematik berat, gangguan
jantung koroner dan lambung sebelumnya, merokok, memakai obat antikoagulan dan
kortikosteroid, dan penyakit lain yang berat

2.3 Mekanisme Anti Inflamasi
Sampai sekarang fenomen inflamasi pada tingkat bioselular masih belum
dapat dijelaskan secara rinci. Walaupun demikian banyak hal yang telah diketahui
dan disepakati. Fenomen inflamasi ini meliputi kerusakan mikrovaskular,
meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala
proses inflamasi yang sudah dikenal adalah kalor, rubor, tumor, dolor, dan functio
laesa. Selama berlangsungnya fenomen inflamasi banyak mediator kimiawi yang
dilepaskan secara lokal antara lain histamin, 5-hidroksitriptamin (5HT), faktor
kemotaktik, bradikinin, leukotrien, dan PG. Penelitian terakhir menunjukkan
autakoid lipid PAF (Platelet activating factor) juga merupakan mediator inflamasi.
Dengan migrasi sel fagosit ke daerah ini, terjadi lisis membran lisozim dan lepasnya
enzim pemecah. Obat mirip aspirin dapat dikatakan tidak berefek terhadap mediator-
mediator kimiawi tersebut kecuali PG. (Wilmana, P.F., 1995)
Zat antiradang diyakini bekerja dengan memutuskan rangkaian asam
arakidonat. Obat golongan ini banyak dipakai untuk mengobati rasa nyeri lemah dan
juga untuk mengobati edema dan kerusakan jaringan akibat artritis. Beberapa di
antaranya adalah antipiretika (mengurangi demam) di samping mempunyai kerja
analgetik dan antiradang. Steroid adrenal mungkin bekerja dengan merintangi
fosfolipase A2, yaitu enzim yang membebaskan asam arakhidonat dari fosfolipid.
Steroid ini juga menghambat kolagonase, yaitu enzim yang menyebabkan kerusakan
jaringan tulang rawan pada persendian yang terkena penyakit arthritis. Zat antiradang
nonsteroid menghambat siklooksigenase yang mengubah asam arakidonat menjadi
PGG2 dan PGH2. Karena senyawa endoperoksida siklik merupakan prazat semua
senyawa prostaglandin, maka sintesis prostaglandn terhenti. Prostaglandin E1
dikenal sebagai pirosgen kuat (zat penyebab demam), dan PGE2 menimbulkan rasa
nyei, edema eritema (kulit memerah), dan demam. Senyawa prostaglandin (PGG2
dan PGH2) dapat juga menimbulkan rasa nyei, jadi penghambatan sintesisnya
merupakan akibat kerja zat antiradang nonsteroid. (Nogrady, T., 1992).
Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya
permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan gejala kalor,
rubor, tumor, dolor dan functiolasea. Mediator yang depaskan antara lain histamin,
bradikinin, leukotrin, PG dan PAF ( Goodman and Gilmans, 2001).
Mediator inflamasi tidak hanya PG saja, bahwa inflamasi melibatkan multimediator
(multifaktorial), misalnya bradikinin, leukotrin, cytokin, interleukin, histamin serta
radikal bebas. Efektifitas NSAID sebagai analgesik, anti piretik ataupun anti
inflamasi akan dipengaruhi juga oleh spectrum penghambatan pada mediator
inflamasi ( Goodman and Gilmans, 2001).
Rasa nyeri dipengaruhi oleh PG yang akan menyebabkan keadan hiperalgesia
kemudian bradikinin dan histamin akan merangsang dan menimbulkan nyeri yang
nyata.Demam (peningkatan suhu) diawali pelepasan zat pirogen endogen atau sitokin
(IL-1 dan IL-8) yang akan memacu pelepasan PG di hypothalamus (letak alat
pengatur suhu tubuh). NSAID ideal yaitu yang cepat dan kuat sebagai obat analgesik,
anti inflamasi dan anti piretik adalah obat yang harus menghambat semua mediator
inflamasi atau bekerja secara multifaktorial atau multimediator (Goodman and
Gilmans, 2001).
Salah satu dari kondisi yang paling penting yang melibatkan mediator-
mediator ini ialah artritis reumatoid, dimana inflamasi kronis menyebabkan sakit dan
kerusakan pada tulang dan tulang rawan yang bisa menjurus kepada
ketidakmampuan untuk bergerak dimana terjadi perubahan-perubahan sistemik yang
bisa memperpendek umur. Jalur cylooxygenase metabolisme arachidonate
menghasilkan prostagladin mempunyai berbagai efek pada pembuluh darah, ujung-
ujung saraf sel-sel yang terlibat dalam inf;lamasi. Penemuan isoform-isoform ( COX-
1 dan COX-2 ) menjurus kepada konsep bahwa isoform COX-1 yang ( bersifat
pokok, selalu ada ) cenderung menjadi homoestatis dalam sedangkan COX-2
diinduksi selama inflamasi dan digunakan mempasilitasi respons inflamasi. Atas
dasar ini penghambat COX-2 yang selektif telah dikembangkan dan dipasarkan
dengan asumsi bahwa penghambat selaktif semacam itu akan lebih aman daripada
penghambat COX-1 yang nonselektif tetapi tentunya tanpa kemanjurannya (efikasi ).
Jalur lipoxygenase dari metabolisme menghasilkan leukotrine yang mempunyai efek
kemotaksis yang eusinofil, neutrofil, dan makrofag serta meningkatkan bronkok
perubahan-perubahan dalam permeabilitas pembuluh darah( Donald G.Payan, 1998 ).
Asam arakidonat, suatu asam lemak 20-karbon, adalah prekussor utama
prostaglandin dan senyawa yang berkaitan. Asam arakidonat terdapat dalam
komponen fosfolipid membran sel, terutama fosfatidil inositol dan kompleks lipid
lainnya. Asam arakidonat bebas dilepaskan dari jaringan fosfolipid oleh kerja
fosfolipase A
2
dan asil hidrolase lainnya, melalui suatu proses yang dikontrol oleh
hormon dan rangsangan lain.
1. Jalan siklo-oksigenase : semua eikosanoid berstruktur cincin sehingga,
prostaglandin, tromboksan, dan protosiklin disintesis melalui siklo-oksigenase. Telah
diteliti dua siklo-oksigenase : COX-1 dan COX-2. yang pertama bersifat ada dimana-
mana dan pembentuk, sedangkan yang kedua diinduksi dalam respons terhadap
rangsangan inflamasi.
2. Jalan Lipoksigenase : jalan lain, beberapa lipoksigenase dapat bekerja pada asam
arakidonat untuk membentuk 5-HPETE, 12-HPETE dan 15-HPETE yang merupakan
turunan peroksidasi tidak stabil yang dikonversi menjadi turunan hidroksilasi yang
sesuai (HETES), atau menjadi leukotrien atau lipoksin ( Mary J. Mycek, 2001 ).
Sejumlah besar zat yang disebut mediator radang dibentuk dan dilepaskan,
dapat sekaligus atau dalam waktu yang berurutan pada tempat luka dari berbagai
sumber berupa sel sebagai respons terhadap faktor etiologi. Berbagai sel berisi
sejumlah mediator yang kuat dan dalam beberapa hal berisi inhibitor respons
peradangan. Sumber-sumber berupa sel ini mungkin mencakup netrofil (leukosit
netrofil berinti polimorf), basofil sel mast, platelet, makrofag, dan limfosit. Sejumlah
mediator radang yang turut dalam proses peradangan dan diuraikan oleh sel tadi
meliputi histamin, serotonin, leukokinin, zat anfilaksis yang bereaksi lambat (slow
reacting substance of anaphylazis (SRS-A), enzim lisosom, limfokin, dan
prostaglandin. Obat antiradang merubah respon peradangan menjadi penyakit, tapi
tidak menyembuhkan ataupun meghilangkan penyebab penyakit itu sendiri. Obat
antiradang yang ideal harus bekerja terhadap radang yang tak terkendalikan dan
merusak, serta tidak mempengaruhi respons peradangan yang normal yang
merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang vital terhadap
mikroorganisme yang menyerang dan pengaruh buruk lingkungan yang lain. Uji
utama yang sering dipakai dalam menapis zat antiradang nonsteroid baru, mengukur
kemampuan suatu senyawa untuk mengurangi edema lokal pada cengkeraman tikus
yang disebabkan oleh suntikan zat pengiritasi karagenan, yaitu suatu
mukopolisakarida yang diperoleh dari lumut laut Irlandia, Chondrus crispus. Zat
antiradang yang paling banyak digunakan di klinik untuk menekan edema macam
ini. Sifat antiradang indometasin, yaitu zat antiradang nonsteroid yang banyak
dipakai, pada mulanya ditentukan oleh uji karagenan. Urutan peristiwa dalam edema
akibat karagenan pada cengkeraman tikus telah dirancang. Mediator edema yang
pertama-tama yaitu histamin dan serotonin, diikuti oleh fase kedua, yaitu pelepasan
kinin yang mempertahankan peningkatan kepermeabelan pembuluh darah. Ini
diikuti oleh fase ketiga, yaitu pelepasan prostaglandin yang bersamaan dengan
migrasi leukosit ke lokasi radang. Zat antiradang nonsteroid menekan migrsi ini.
Pengaktifan dan pelepasan semua mediator yang telah disebutkan di atas, tergantung
pada sistem komplemen yang utuh. (Hamor, G.H., 1996)
Dua isoenzim cyclooxygenase yang unik namun berkaitan telah ditemukan
dan mampu mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin endoperoksid. PGH
synthase-1 (COX-1) ekspresinya constitutive, yaitu selalu ada. Sebaliknya PGH
synthase-2 (COX-2) dapat diinduksi (inducible) dan keberadaannya sangat bervariasi
tergantung pada stimulus. Dua isoenzim ini juga berbeda dalam fungsi: COX-1
terdistribusi secara luas dengan fungsi sebagai pemelihara misalnya sitoproteksi
lambung. Peningkatan dua sampai empat kali dapat terjadi pada stimulasi hormonal.
Sebaliknya, COX-2 adalah produk gen yang cepat terjadi sebagai respons awal
dalam inflamasi dan sel imun serta dapat distimulasi 10 sampai dengan 18 kali oleh
faktor pertumbuhan, promotor tumor, dan cytokine. Lipopolisakarida (endotoksin)
sangat kuat dalam hubungan tersebut. Synthase-synthase tersebut penting karena
pada tahapan inilah obat-obat antiinflamasi nonsteroid menunjukkan efek terapinya.
Indometasin dan sulindak terutama bekerja pada COX-1 dan 2, sedangkan celecoxib
dan rofecoxib secara istimewa menghambat COX-2. Obat-obat antiinflamasi steroid
seperti deksametason dapat menghambat ekspresi gen COX-2. Penghambat COX-2
yang selektif, lebih sedikit menyebabkan gangguan lambung bila dibandingkan
dengan penghambat COX-1 dan menjadi populer untuk pengobatan inflamasi kronik.
Aspirin mengasetilasi dan menghambat kedua enzim dengan tingkat yang berbeda.
(Foegh, M.L., dan Ramwell, P.W., 2001)
Synthase-synthase tersebut penting karena pada tahapan inilah obat-obat
antiinflamasi nonsteroid menunjukkan efek terapinya. Indometasin dan sulindak
terutama bekerja pada COX-1 dan 2, sedangkan celecoxib dan rofecoxib secara
istimewa menghambat COX-2. Obat-obat antiinflamasi steroid seperti deksametason
dapat menghambat ekspresi gen COX-2. Penghambat COX-2 yang selektif, lebih
sedikit menyebabkan gangguan lambung bila dibandingkan dengan penghambat
COX-1 dan menjadi populer untuk pengobatan inflamasi kronik. Aspirin
mengasetilasi dan menghambat kedua enzim dengan tingkat yang berbeda (Foegh,
M.L., dan Ramwell, P.W., 2001).
Uji utama yang sering dipakai dalam menapis zat antiradang nonsteroid baru,
mengukur kemampuan suatu senyawa untuk mengurangi edema lokal pada
cengkeraman tikus yang disebabkan oleh suntikan zat pengiritasi karagenan, yaitu
suatu mukop karagenan rumput laut ini sangat besar peranannya terutama sebagai
stabilisator (pengatur keseimbangan), thickener (bahan pengental), gelling agent
(pembentuk gel), pengemulsi, dan lain-lain. Karagenan adalah hasil ekstraksi dari
rumput laut yang tergolong Rhodophyceae dengan menggunakan air atau alkali.
Karagenan tersusun dari perulangan unit-unit galaktosa dan 3,6-anhidro-galaktosa
(3,6-AG), keduanya baik yang berikatan dengan sulfat maupun tidak, dihubungkan
dengan ikatan glikosidik -1,3 dan -1,4 secara bergantian (http://www.lipi.go.id).
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat yang digunakan :
1. Plethysmometer air raksa
2. Jarum suntik 1 mL

3.2 Bahan yang digunakan
1. Larutan Karagenan 1% dalam air suling (Dibuat sehari sebelum percobaan)
2. Larutan gom arab 3%
3. Indometazin 10 mg/kg BB
4. Fenilbutazon 10 mg/kg BB
5. Asetosal 150 mg/kg BB

5.2. Prosedur Percobaan
Sebelum percobaan dimulai, masing-masing tikus dikelompokkan dan
ditimbang bobot badannya kemudian diberikan tanda pengenal. Kemudian
diberikan tanda batas pada kaki belakang kiri untuk setiap tikus dengan spidol,
agar pemasukkan kaki ke dalam air raksa setiap kali selalu sama. Pada tahap
pendahuluan volume kaki tikus diukur dan dinyatakan sebagai volum dasar.
Pada setiap kali pengukuran volume, tinggi cairan air raksa diperiksa dan dicatat
sebelum dan sesudah pengukuran, usahakan jangan sampai ada air raksa yang
tertumpah. Tikus diberi obat atau larutan control secara i.p atau oral. Satu jam
kemudian telapak kaki kanan diukur volume pembengkakan dengan alat
plethysmometer dengan mencatat kenaikan air raksa pada alat tersebut (V
0
).
Selanjutnya 0,05 mL larutan karagenan diberikan pada telapak kaki kiri tikus
secara subkutan. Volume kaki yang diberi karagenan diukur setiap 1 jam sampai
jam ke-5. Perbedaan volume kaki untuk setiap jam pengukuran dicatat sebagai
V
t
. Hasil pengamatan dicantumkan dalam table setiap kelompok. Tabel berisi
persentasi kenaikan volume kaki setiap jam untuk masing- masing tikus.
Perhitungan persentasi kenaikan volume kaki dilakukan dengan
membandingkannya terhadap volume dasar sebelum menyuntikkan karagenan.
Selanjutnya untuk setiap kelompok dihitung persentase rata-rata dan bandingkan
persentase yang diperoleh kelompok yang diberi obat terhadap control pada jam
yang sama.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Perhitungan
Perhitungan Dosis

Tikus Berat Badan
I 205,8 gram
II 194,2 gram

Perhitungan volume obat yang harus diberikan kepada setiap tikus
Dosis Indometazin = 100 mg x 0,018 = 1,8 mg








100mg/100 ml = 1 ml









Tabel Pengamatan
Kelompok
Volume Kaki Tikus (mL)
V
0
30 menit 60 menit 90 menit
Tikus
1 0,25 ml 0,25 ml 0,4 ml 0,7 ml
2 0,25 ml 0,25 ml 0,3 ml 0,5 ml
0,25 ml 0,25 ml 0,35 ml 0,6 ml
Pada t= 60 menit (Tikus 1)



Pada t = 60 menit (Tikus 2)



Pada t = 90 menit (Tikus 1)


Pada t = 90 menit (Tikus 2)



4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan dapat diamati bahwa tikus yang diperlakukan
sebagai kontrol mengalami pembengkakan (radang) pada kakinya yang disuntikkan
dengan karagenan. Radang yang ditandai dengan bertambahnya volume kaki tikus
setelah pemberian karagenan (udem). Karagenan merupakan suatu zat asing (antigen)
yang bila masuk kedalam tubuh akan merangsang pelepasan mediator radang seperti
histamin sehingga menimbulkan radang akibat antibodi tubuh bereaksi terhadap
antigen tersebut untuk melawan pengaruhnya.
Pemberian Na-Diklofenak sebagai anti inflamasi dapat menurunkan aktifitas
peradangan yang disebabkan karagenan tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada tikus 2
dan 3. Pada tikus 2 diberikan karagenan secara intraplantar sehingga mengalami
peradangan yang ditandai dengan pembengkakan pada kaki tikus dilihat pada menit
ke-60, namun dengan pemberian Na-Dikofenat 2% dosis 15mg/kg BB secara oral
terlihat peradangan menurun pada menit ke-90. Pada tikus ke 3 dengan pemberian
Na Dikofenat 2% dosis 20mg/kg BB secara oral terlihat aktivitas peradangan pada
menit ke-30 dan menurun pada menit ke-60. Begitu pula tikus 4 dan 5 yang diberikan
deksametason 0,01 % berturut-turut dengan dosis 0,1 dan 0,3 mg/kg BB.
Bila dibandingkan antara tikus 2 dan 3 terlihat bahwa efek antiinflamasi Na-
diklofenak dosis 20 mg/kg BB lebih cepat daripada dosis 15 mg/kg BB. Sedangkan
perbandingan antara tikus 4 dan 5 terlihat bahwa efek antiinflamasi Deksametason
0,01% dengan dosis 0,3mg/kgBB lebih efektif daripada dosis 0,1mg/kgBB. Hal ini
tepat jika dikaitkan dengan semakin banyaknya jumlah zat aktif yang bekerja
menekan inflamasi.
Menurut P. Freddy Wilmana (1995), absorpsi Na diklofenak berlangsung
cepat dan lengkap. Obat ini terikat 99% pada protein plasma dan mengalami first-
pass effect sebesar 40-50%. Menurut Kartasasmita (2002), obat anti radang bukan
steroida atau yang lazim dinamakan non steroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs)
adalah golongan obat yang terutama bekerja perifer, memiliki aktifitas menghambat
radang dengan mekanisme kerjanya menghambat biosintesis prostaglandin melalui
penghambatan aktivitas enzim siklooksigenase.


BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
- Efek yang ditimbulkan akibat pemberian karagenan pada hewan percobaan
adalah terjadinya udem, yang terlihat dari bertambahnya volume kaki tikus
setelah diukur dengan plestimometer.
- Indometasin memberikan efek antiinflamasi, mengurangi udem pada kaki tikus
akibat pemberian karagenan.
- Inflamasi terjadi karena reaksi antara antigen dengan antibodi yang dapat
merangsang pelepasan mediator radang sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh
kapiler dan migrasi fagosit ke daerah radang, yang mengakibatkan hiperemia
dan udem pada daerah terjadinya inflamasi.


DAFTAR PUSTAKA

Dharma, Surya, (2005), PENGARUH PEMAKAIAN INDOMETASIN DAN
RESERPIN TERHADAP PEMBENTUKAN TUKAK PADA LAMBUNG
DAN DUODENUM DENGAN PEMBERIAN SECARA ORAL DAN
INTRAMUSKULAR KEPADA TIKUS PUTIN WISTAR BETINA,
Bandung: /Top / S2-Thesis / 1986 / jbptitbfa-gdl-s2-1986-suryadharm-17,
www.ganesha.go.id
Foegh, M.L., dan Ramwell, P.W., (2001), EICOSANOID, PROSTAGLANDIN,
THROMBOXANE, LEUKOTRIENE, DAN SENYAWA BERKAITAN,
dalam Katzung, B.G., (Editor), FARMAKOLOGI DASAR DAN KLINIK,
Buku I, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Penerbit Salemba Medika, halaman
547-548
Hamor, G.H., (1996), ZAT ANTIRADANG NONSTEROID, dalam Foye, W.O.,
(Editor), PRINSIP-PRINSIP KIMIA MEDISINAL, Jilid II, Edisi Kedua,
Jogjakarta: Gajah Mada University Press, halaman 1096-1097
Nogrady, T.,(1992), KIMIA MEDISINAL PENDEKATAN SECARA
BIOKIMIA, Terbitan Kedua, Bandung: Penerbit ITB, halaman 410-412
Sudiono, J., (2003), ILMU PATOLOGI, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,
halaman, 81-81.
Tan, H., T., dan Rahardja, (2002), OBAT-OBAT PENTING, KHASIAT,
PENGGUNAAN, DAN EFEK-EFEK SAMPINGNYA, Cetakan Kedua,
Edisi Kelima, Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo, halaman 308
Underwood, J.C.E., (1999), PATOLOGI UMUM DAN SISTEMATIK, Edisi
Kedua, Volume 1, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, halaman 232
Wilmana, P.F., (1995), ANALGESIK-ANTIPIRETIK, ANTIINFLAMASI
NONSTEROID DAN OBAT PIRAI, dalam Ganiswarna, S.G., (Editor),
FARMAKOLOGI DAN TERAPI, Edisi Keempat, Jakarta: Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, halaman 207-208


GAMBAR HEWAN / ALAT




Tikus Timbangan elektrik Beaker
Glass




Erlenmeyer Oral Sonde 2,5 ml Spuit/Alat Suntik
1 ml













Stopwatch

Anda mungkin juga menyukai