Anda di halaman 1dari 7

RISET KEPERAWATAN

LATAR BELAKANG DAN DAFTAR PUSTAKA


HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PENGENDALIAN
STRES PADA LANSIA DI WILAYAH BINAAN KECAMATAN
NANGGALO SITEBA PADANG



OLEH
FEBRI ERIZON
TINGKAT IIIA


Dosen Pembimbing :Lenni Sastra



STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
S1-KEPERAWATAN
2014




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin
meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan meningkatnya usia
harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk usia lanjut semakin
meningkat dari tahun ke tahun. Lanjut usia merupakan suatu anugerah.
Menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya, pasti akan dialami seseorang
bila ia panjang umur. Di Indonesia, istilah untuk kelompok usia lanjut ini
belum baku, orang memiliki sebutan yang berbeda-beda. Ada yang
menggunakan istilah usia lanjut dan ada pula yang lanjut usia. Atau jompo
dengan padanan kata dalam bahasa inggris biasa disebut the aged, the olders,
older adult, serta senior citizen. Kapan seseorang dikatakan berusia lanjut.
Para ahli membedakannya menjadi dua macam usia, yaitu: usia kronologis
dan usia biologis (Setiawan, 2002,22).
Usia kronologis dihitung dengan tahun kalender. Di Indonesia, dengan
usia pensiun 56 tahun, barangkali dapat dipandang sebagai batas seseorang
mulai memasuki usia lanjut, namun dalam perkembangan selanjutnya,
menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 dinyatakan bahwa usia 60
keatas adalah yang paling layak disebut usia lanjut. Sementara usia biologis
adalah usia yang sebenarnya. Di mana biasanya diterapkan kondisi
pematangan jaringan sebagai indeks usia biologis (Setiawan, 2002,23).




Pada masa usia lanjut, terjadi penurunan kondisi fisik/biologis, kondisi
psikologis, serta perubahan kondisi sosial. Para lanjut usia, bahkan juga
masyarakat menganggap seakan tugas-tugasnya sudah selesai, mereka
berhenti bekerja dan semakin mengundurkan diri dari pergaulan
bermasyarakat yang merupakan salah satu ciri fase ini. Dalam fase ini,
biasanya usia lanjut merenungkan hakikat hidupnya dengan lebih intensif
serta mencoba mendekatkan dirinya pada Tuhan.(Tamher, 2011, 2)
Data Sensus Penduduk tahun 2011 menunjukkan bahwa Indonesia
termasuk lima besar negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbanyak di
dunia yakni mencapai 18,1 juta jiwa pada tahun 2010 atau 9,6 persen dari
jumlah penduduk. Jumlah lanjut usia di Provinsi Sumatera Barat tercatat
sebanyak 37.379 jiwa dari jumlah penduduk 4.956.274 jiwa.(Badan pusat
Statistik, 2011).
Stress adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap kebutuhan
tubuh yang terganggu, dimana terdapat suatu kekuatan yang memaksa
seseorang untuk berubah, bertumbuh, berjuang, beradaptasi atau mendapat
keuntungan. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan beban pekerjaan,
ekonomi, serta karakteristik personal. (Susilo & Wulandari, 2011:56).
Menurut Hans Selye, Stress memberi dampak secara total pada individu yaitu
terhadap fisik, psikologis, intelektual, sosial dan spiritual. Stress dapat
mengancam keseimbangan fisiologis. Stress emosi dapat menimbulkan
perasaan negatif dan destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain. Stres
intelektual akan menggangu persepsi dan kemampuan seseorang dalam
menyelesaikan masalah, stress sosial akan mengganggu hubungan individu



terhadap kehidupan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk
mengendalikan stres antara lain: Meditasi dan pernafasan, relaksasi,
meningkatkan keimanan, kesediaan berbagi dengan orang lain dan
berolahraga. (Dadang Hawari,2008:33).
Menurut Green dalam Notoatmodjo (2012), seseorang dapat melakukan
upaya atau prilaku yang sesuai dengan anjuran dipengaruhi oleh pengetahuan
dan sikap sebagai faktor predisposisi, disamping ketersediaan sebagai faktor
pendukung, dan dukungan sosial sebagai faktor pendorong. Pengetahuan
yang memadai terhadap suatu prilaku sehat akan memberikan pemahaman
terhadap cara, dan manfaat prilaku tersebut diadopsi, serta akan
mempengaruhi sikap seseorang dalam dalam mengambil suatu keputusan,
termasuk upaya yang dilakukan untuk pengendalian stres pada lansia.
Perawat memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan
pengetahuan dalam menurunkan resiko terjadinya stress pada lansia, dengan
memberikan pendidikan kesehatan di tingkat individu, keluarga, kelompok
maupun komunitas, termasuk pada lansia yang tinggal di panti.
Adapun kegiatan terkait upaya penanggulangan stres adalah dengan
melaksanakan pengajian ataupun pertemuan rutin setiap minggu, disamping
itu lansia juga terlihat saling bercerita sesama teman sebaya nya untuk
menghilangkan stres akibat kejenuhan tinggal jauh dari keluarga bahkan ada
yang senhgaja di titipkan oleh anngota keluarganya di panti-panti, dimana
anggota kelompok wilayah binaan saling memberi dan menerima umpan
balik dan dukungan positif dalam menjalani proses perawatan.



Namun hubungan pengetahuan dan sikap dengan pengendalian stres
belum pernah di evaluasi melalui sebuah penelitian.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang
hubungan pengetahuan dan sikap dengan pengendalian stres pada lansia di
wilayah binaan kecamatan Nanggalo siteba padang.





















DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2011. Data Lansia di Indonesia.
Hawari, Dadang. 2008. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta:FKUI
Setiawan. 2002. Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta : EGC.
Susilo & Wulandhari. 2011.Cara Jitu mengatasi Hipertensi. Yogyakarta : Andi.
Tamher, S .2011 .Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuahan
Keperawatan. Jakarta : Medika Salemba.

The Comment;