Anda di halaman 1dari 13

Perkembangan Penelitian Geologi Kelautan

Geologi berasal dari bahasa yunani, yaitu geos yang berarti bumi dan logos yang
berarti ilmu. secara umum geologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi,
termasuk material bumi secara menyeluruh, mulai dari asal mula, struktur, penyusun kerak
bumi, proses - proses yang berlangsung selama dan atau setelah pembentukannya, dan yang
sedang berlangsung, hingga bumi terlihat seperti saat ini.
Salah satu cabang ilmu geologi adalah Geologi Kelautan yang mempelajari fenomena
geologi laut, genesis, potensi ekonomi, lingkungan, bencana dan konsep eksplorasi.
Dipelajari juga dasar-dasar oceanografi dalam kaitannya proses geologi dengan morfologi
pantai dan dasar laut, geologi lereng laut dan laut dalam serta potensinya, dsb.
Geologi kelautan sendiri secara prinsip hampir sama dengan geologi dipermukaan
atau didaratan, baik itu proses-proses geologinya dan lain sebagainya, hanya saja
permukaannya tertutupi suatu massa air. Dalam Geologi kelautan seperti juga kita
mempelajari geologi di daratan, akan menampakkan juga suatu kenampakkan geomorfologi,
hanya saja sekali lagi kenampakkan itu tertutup oleh massa air. Dalam mempelajari Geologi
kelautan, ada beberapa istilah kenampakkan geomorfologi seperti halnya kenampakkan
geomorfologi didarat, beberapa diantaranya yaitu :
Coastal Plain : Suatu perbatasan antara daratan dan lautan yang masih dipengaruhi
oleh proses-proses di daratan dan lautan
Continental shelf : Terbentuk ke arah lautan, kemiringan bertambah ke arah lautan,
kedalaman rata-rata 3000 -6000 m, lebar 200 300 km
Continental Slope : Pada tepian paparan kedalaman bertambah secara tiba-tiba, 100, 200 m
, 1500 m, 3500 m, kemiringan terjal, terdapat gawir sesar
Continental Rise : Terletak antara slope (lereng) dan Ocean basin, kemiringan tidak terjal,
relief rendah, terbentuk akibat akumulasi sedimen, berasosiasi dengan lantai samudra dalam
Abysal plain : Diketemukan oleh ekspedisi MAR (1947), berbentuk dataran bawah
laut
Oceanic ridge : Terdiri dari pematang, dan rekahan, menyebar hampir di seluruh
samudra, total panjang 80.000km, kedalaman rata-rata 2500m, terbentuk di bagian tengah
lautan, topografi kasar, lembah sejajar dengan sumbu kadang-kadang terpotong oleh zona
rekahan, tinggi 1000-3000km, lebar 1000m, sedimentasi berkembang jauh di bawah puncak
Ocean basin floor : Terdiri dari abyssal floor (lantai tubir), oceanic rise (tonjolan dasar laut
dan sea mount (gunung api dasar laut)
Rekahan : Berbentuk linier, berbentuk gawir, seamount, melebar dan memotong
ridge
Abyssal hill : Berbentuk relatif sempit dan tajam, tingginya tidak lebih 1000m.
Dimensi bervariasi antara 1-15km, kemiringan 1-15 derajat, terbentuk secara mengelompok ,
bentuk tergantung batuan dasar
Sea mount : Tingginya mencapai lebih kurang 1000m, tersebar pada dasar laut
dalam secara terpencar, kemiringan berkisar antara 5 sampai 15 derajat dan berbentuk
kerucut
Marginal trench : Berbentuk sempit dan sejajar dengan tepian benua, pada umumnya
tersebar di samudra pasifik, kerak dibawahnya bersifat continental, kedalaman rumpang
paparan rata-rata 130 m, lebar 400 km(rata-rata 78km), kadang-kadang berbentuk teras,
dipengaruhi oleh proses erosi dan sedimentasi.
Selain daripada aspek geomorfologi, dalam kerangka geologi kelautan seperti halnya
proses geologi yang terjadi di darat, juga terdapat pengaruh sedimentasi, baik itu sedimen di
daerah dekat pantai (Nearshore) ataupun di perairan laut dalam (Deepsea). Sedimentasi di
laut sangat penting artinya dalam kerangka geologi kelautan, diantaranya adalah karena
morfologi permukaan dasar laut juga ikut dikontrol oleh pengaruh supply sedimen, juga
batas-batas antar bagian-bagian morfologi dasar laut juga ikut dikontrol oleh
sedimentasi. Disamping itu proses sedimentasi di laut juga akan mempengaruhi proses-
proses di bagian lainnya, sebagai contoh sedimen di daerah dekat pantai dan paparan
merupakan kunci bagi sedimen di laut dalam dan dipengaruhi oleh:
perubahan muka air laut
proses penurunan dasar laut
proses dinamika (oseanografi)
Pada sedimentasi dilaut tentunya juga terdapat material yang tersedimentasi, beberapa
sumber-sumber material yang mempengaruhi sedimentasi di laut diantaranya adalah :
Material yang berasal dari sungai, meliputi sekitar 85% 90%
Material hasil glasiasi, meliputi sekitar 7%
Material air tanah, meliputi sekitar 1,2%
dan material yang terangkut oleh angin sekitar 1%
Dimana sekitar 80 % dari produk yang dihasilkan sumber material tersebut merupakan
bentuk larutan.
Selain daripada aspek morfologi dan sedimentologi di laut, juga perlu ditinjau aspek
tektoniknya. Tektonik sangat berpengaruh bukan saja di laut, didaratpun sangat berpengaruh.
Implikasi dari proses tektonik baik didarat ataupun dilaut diantaranya adalah dapat merubah
tatanan yang sudah terbentuk, diantaranya akibat proses sedimentasi. Faktor utama penyebab
tektonik jika dipandang dari sudut pandang ilmu geologi tentu saja dapat dijelaskan dengan
baik oleh teori tektonik lempeng. Teori tektonik lempeng sangat familiar dikalangan
komunitas geologi, karena sampai saat ini semua peristiwa yang menyangkut segala proses
geologi yang berasal dari dalam bumi, terutama tektonisme sangat baik dijelaskan dalam teori
ini. Dapat dipastikan bahwa semua komunitas geologi mengerti dan paham akan teori ini,
oleh karena itu detailnya tidak akan dibahas dalam tulisan ini. Tetapi yang perlu dijadikan
perhatin khusus adalah implikasinya.
Beberapa penjelasan tentang geologi kelautan diatas, yang meliputi aspek morfologi,
sedimentologi, dan tektonik dilaut, kiranya dapat memberikan sedikit pengetahuan geologi
kelautan yang selanjutnya akan dimanfaatkan untuk menerapkan implikasinya untuk
Indonesia yang notabene merupakan negara yang memiliki laut, yang dimanfaatkan untuk
berbagai macam keperluan.
Diantaranya, implikasi aspek geologi kelautan yang saat ini banyak diperbincangkan
adalah mengenai penerapannya dalam batas wilayah. Dalam penentuan batas wilayah sendiri
seperti kita ketahui regulasi nya yang dikeluarkan oleh pemerintah. Penentuan batas wilayah
ini sangat penting artinya bagi Indonesia. Dan aspek geologi kelautan disini memegang
peranan penting dalam penentuannya. Hubungannya dengan geologi kelautan tentu saja,
disamping menyamngkut morfologi dasar laut yang dijadikan pertimbangan penentuan batas
wilayah, disamping itu dari sudut pandang geologinya, sangat memegang peranan penting,
yang menyangkut tentang sumberdaya alam.
Sumberdaya alam sangat penting artinya bagi semua negara, karena menyangkut
kelangsungan dan kemakmuran suatu negara, atau bisa dikatakan sangat vital. Sumberdaya
alam itu sendiri tentu saja dapat dikuasai oleh suatu negara asalkan dalam wilayah
kekuasaannya. Seorang ahli geologi disini sangat memegang peranan penting, karena
pendapatnya akan sangat diperhatikan.
Seperti kita ketahui bahwa penentuan batas wilayah sendiri sangat didorong oleh
keterdapatan sumberaya mineral, hal ini sangat membuat setiap negara ingin menguasai
kekayaan alam tersebut, caranya secara tidak langsung adalah melebarkan batas wilayahnya,
agar dapat diakui bahwa kekayaan alam tersebut adalah milik negara tersebut.
Salah satu jenis teknologi yang digunakan untuk penelitian geologi lingkungan laut
adalah teknologi sonar. Berikut adalah penerapan teknologi akustik bawah air untuk
eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya non-hayati laut, berikut ini merupakan bagian dari
peranan sonar yaitu :
1) Pengukuran Kedalaman Dasar Laut (Bathymetry)
Pengukuran kedalaman dasar laut dapat dilakukan dengan Conventional Depth Echo Sounder
dimana kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu antara pengiriman dan
penerimaan pulsa suara. Dengan pertimbangan sistim Side-Scan Sonar pada saat ini,
pengukuran kedalaman dasar laut (bathymetry) dapat dilaksanakan bersama-sama dengan
pemetaan dasar laut (Sea Bed Mapping) dan pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen
dibawah dasar laut (subbottom profilers).
2) Pengidentifikasian Jenis-jenis Lapisan Sedimen Dasar Laut (Subbottom Profilers)
Seperti telah disebutkan diatas bahwa dengan teknologi akustik bawah air, peralatan side-
scan sonar yang mutahir dilengkapi dengan subbottom profilers dengan menggunakan
prekuensi yang lebih rendah dan sinyal impulsif yang bertenaga tinggi yang digunakan untuk
penetrasi kedalam lapisan-lapisan sedimen dibawah dasar laut. Dengan adanya klasifikasi
lapisan sedimen dasar laut dapat menunjang dalam menentukkan kandungan mineral dasar
laut dalam. Dengan demikian teknologi akustik bawah air dapat menunjang esplorasi
sumberdaya non hayati laut.
3) Pemetaan Dasar Laut (Sea bed Mapping)
Dengan teknologi side-scan sonar dalam pemetaan dasar laut, dapat menghasilkan tampilan
peta dasar laut dalam tiga dimensi. Dengan teknologi akustik bawah air yang canggih ini dan
dikombinasikan dengan data dari subbottom profilers, akan diperoleh peta dasar laut yang
lengkap dan rinci. Peta dasar laut yang lengkap dan rinci ini dapat digunakan untuk
menunjang penginterpretasian struktur geologi bawah dasar laut dan kemudian dapat
digunakan untuk mencari mineral bawah dasar laut.
4) Pencarian kapal-kapal karam didasar laut
Pencarian kapal-kapal karam dapat ditunjang dengan teknologi side-scan sonar baik untuk
untuk kapal yang sebagian terbenam di dasar laut ataupun untuk kapal yang keseluruhannya
terbenam dibawah dasar laut. Dengan teknologi ini, lokasi kapal karam dapat ditentukan
dengan tepat. Teknologi akustik bawah air ini dapat menunjang eksplorasi dan eksploitasi
dalam bidang Arkeologi bawah air (Underwater archeology) dengan tujuan untuk
mengangkat dan mengidentifikasikan kepermukaan laut benda-benda yang dianggap
bersejarah.
5) Penentuan jalur pipa dan kabel dibawah dasar laut.
Dengan diperolehnya peta dasar laut secara tiga dimensi dan ditunjang dengan data
subbottom profiler, jalur pipa dan kabel sebagai sarana utama atau penunjang dapat
ditentrukan dengan optimal dengan mengacu kepada peta geologi dasar laut. Jalur pipa dan
kabel tersebut harus melalui jalur yang secara geologi stabil, karena sarana-sarana tersebut
sebagai penunjang dalam eksplorasi dan eksploitasi di Laut.
6) Analisa Dampak Lingkungan di Dasar Laut
Teknologi akustik bawah air Side-Scan Sonar ini dapat juga menunjang analisa dampak
lingkungan di dasar laut. Sebagai contoh adalah setelah eksplorasi dan ekploitasi sumber
daya hayati di dasar laut dapat dilakukan, Side-Scan Sonar dapat digunakan untuk memonitor
perubahan-perubahan yang terjadi disekitar daerah eksplorasi tersebut. Pemetaan dasar laut
yang dilakukan setelah eksplorasi sumber daya non-hayati tersebut, dapat menunjang analisa
dampak lingkungan yang telah terjadi yang akan terjadi.


Perkembangan Penelian Geologi Keautan

Sejarah Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) dimulai
dengan dibentuknya Seksi Geologi Marin dan Seksi Geofisika Marin pada Pusat Penelitian
dan Pengembangan Geologi (P3G) tahun 1979. Pada tanggal 6 Maret 1984 kedua Seksi
tersebut kemudian ditingkatkan menjadi Pusat Pengembangan Geologi Kelautan (PPGL) di
bawah Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral berdasarkan SK Menteri
Pertambangan dan Energi No. 1092 Tahun 1984.
Pada awal berdirinya, PPGL didukung oleh empat bidang teknis, yaitu : Bidang
Geologi Kelautan, Bidang Geofisika Kelautan, Bidang Sarana Operasi Kelautan, Bidang
Manajemen Informasi dan Bagian Umum, dengan jumlah sumber daya manusia 164 orang.
Sarana dan prasarana yang dimiliki sebagian berasal dari P3G. Dalam perjalanannya, PPGL
telah membangun Kapal Peneliti Geomarin I dan memiliki berbagai peralatan survei pantai.
Kapal Peneliti Geomarin I diopeasikan untuk mendukung kegiatan pemetaan geologi
kelautan bersistem skala 1:250.000 di perariran dangkal. Peralatan survei pantai dioperasikan
untuk mendukung kajian geologi kelautan tematik di kawasan pesisir. Selanjutnya
berdasarkan SK Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 150 Tahun 2001, PPGL
dimekarkan menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) di
bawah Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral.
Pada era tersebut PPPGL berkembang dengan semangat menuju kemandirian,
sejalan dengan lingkungan strategis globalisasi, AFTA, perkembangan industri kelautan yang
pesat, Otonomi Daerah dan kemitraan. Peraturan Menteri ESDM No. 0030 Tahun 2005
mengukuhkan kembali PPPGL sebagai penunjang dalam upaya meningkatkan investasi
sektor ESDM terutama penyediaan data klaim atas wilayah landas kontinen, dan peningkatan
status cekungan migas di laut. Sesuai dengan tugas dan fungsinya, PPPGL mempunyai tugas
melaksanakan litbang bidang geologi kelautan di seluruh wilayah Laut Indonesia dalam
rangka menunjang pembangunan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral.
Untuk melaksanakan tugas tersebut prioritas pokok kegiatan adalah melakukan
pengembangan litbang di kawasan pantai dan laut, pengembangan kelembagaan menuju
kemandirian dan pengembangan pelayanan jasa riset dan teknologi.Penyelidikan dan
pemetaan geologi kelautan pada dekade terakhir ini makin ditingkatkan terutama pada
pencarian sumber daya mineral yang bernilai strategis dan ekonomis dalam menunjang
pembangunan nasional. Hal ini sehubungan dengan makin terbatasnya sumber daya mineral
dan energi di darat. Kegiatan tersebut merupakan perwujudan akan tanggung jawab
pemerintah dan negara dalam menggali potensi sumber daya mineral dan energi yang
terdapat di dasar laut, mulai kawasan pantai, perairan pantai hingga ke batas terluar Landas
Kontinen termasuk Zona Ekonomi Eksklusif.


Sumber:
http://hendar08.blogspot.com/2011/04/teknik-eksplorasi-kelautan-dengan.html
http://ojanmaul.wordpress.com/category/geologi-laut/
http://prillygeography.blogspot.com/2010/12/pengertian-geologi.html























TUGAS GEOLOGI KELAUTAN
PERKEMBANGAN PENELITIAN GEOLOGI KELAUTAN







Disusun oleh:
FIKRI APRI ZENANDA
270110110036
GEOLOGI D







FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013




Lampiran

Geologi Kelautan
Filed under: geologi laut Tinggalkan Komentar
Oktober 5, 2010
Geologi Kelautan
Seperti kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, yang sebagian besar
wilayahnya adalah berupa lautan. Sejumlah 17.508 pulau, baik pulau besar dan kecil terdapat
di Indonesia, dengan panjang garis pantai 81.000 km, yang merupakan terpanjang ke 2 di
dunia, dan luas wilayah 21 juta km
2
, Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya. Luas
dalam arti sangat besar wilayahnya dan keanekaragaman wilayahnya mulai dari daratan,
kepulauan, sampai lautannya. Serta kaya dalam artian sangat berpotensi mempunyai
kekayaan alam di wilayah yang sangat luas yang dimilikinya, baik di daratan maupun di
lautan, karena seperti kita ketahui sebagai seorang ahli geologi, yang telah memahami proses-
proses geologi, seperti tektonik lempeng dan lain sebagainya, bahwa Indonesia berada di
zona yang sangat berpotensi terdapatnya sumberdaya alam yang berlimpah.
Geologi kelautan sendiri secara prinsip hampir sama dengan geologi dipermukaan atau
didaratan, baik itu proses-proses geologinya dan lain sebagainya, hanya saja permukaannya
tertutupi suatu massa air. Dalam Geologi kelautan seperti juga kita mempelajari geologi di
daratan, akan menampakkan juga suatu kenampakkan geomorfologi, hanya saja sekali lagi
kenampakkan itu tertutup oleh massa air. Dalam mempelajari Geologi kelautan, ada
beberapa istilah kenampakkan geomorfologi seperti halnya kenampakkan geomorfologi
didarat, beberapa diantaranya yaitu :
Coastal Plain : Suatu perbatasan antara daratan dan lautan yang masih dipengaruhi
oleh proses-proses di daratan dan lautan
Continental shelf : Terbentuk ke arah lautan, kemiringan bertambah ke arah lautan,
kedalaman rata-rata 3000 -6000 m, lebar 200 300 km
Continental Slope : Pada tepian paparan kedalaman bertambah secara tiba-tiba, 100, 200 m
, 1500 m, 3500 m, kemiringan terjal, terdapat gawir sesar
Continental Rise : Terletak antara slope (lereng) dan Ocean basin, kemiringan tidak terjal,
relief rendah, terbentuk akibat akumulasi sedimen, berasosiasi dengan lantai samudra dalam
Abysal plain : Diketemukan oleh ekspedisi MAR (1947), berbentuk dataran bawah
laut
Oceanic ridge : Terdiri dari pematang, dan rekahan, menyebar hampir di seluruh
samudra, total panjang 80.000km, kedalaman rata-rata 2500m, terbentuk di bagian tengah
lautan, topografi kasar, lembah sejajar dengan sumbu kadang-kadang terpotong oleh zona
rekahan, tinggi 1000-3000km, lebar 1000m, sedimentasi berkembang jauh di bawah puncak
Ocean basin floor : Terdiri dari abyssal floor (lantai tubir), oceanic rise (tonjolan dasar laut
dan sea mount (gunung api dasar laut)
Rekahan : Berbentuk linier, berbentuk gawir, seamount, melebar dan memotong
ridge
Abyssal hill : Berbentuk relatif sempit dan tajam, tingginya tidak lebih 1000m.
Dimensi bervariasi antara 1-15km, kemiringan 1-15 derajat, terbentuk secara mengelompok ,
bentuk tergantung batuan dasar
Sea mount : Tingginya mencapai lebih kurang 1000m, tersebar pada dasar laut
dalam secara terpencar, kemiringan berkisar antara 5 sampai 15 derajat dan berbentuk
kerucut
Marginal trench : Berbentuk sempit dan sejajar dengan tepian benua, pada umumnya
tersebar di samudra pasifik, kerak dibawahnya bersifat continental, kedalaman rumpang
paparan rata-rata 130 m, lebar 400 km(rata-rata 78km), kadang-kadang berbentuk teras,
dipengaruhi oleh proses erosi dan sedimentasi.
Istilah-istilah diatas menjelaskan kepada kita tentang kenampakan morfologi dasar laut yang
tidak selalu akan kita lihat seperti halnya kita melihat kenampakkan morfologi didarat, tentu
saja karena morfologi dasar laut ditutupi oleh massa air diatasnya.
Selain daripada aspek geomorfologi, dalam kerangka geologi kelautan seperti halnya proses
geologi yang terjadi di darat, juga terdapat pengaruh sedimentasi, baik itu sedimen di daerah
dekat pantai (Nearshore) ataupun di perairan laut dalam (Deepsea). Sedimentasi di laut
sangat penting artinya dalam kerangka geologi kelautan, diantaranya adalah karena morfologi
permukaan dasar laut juga ikut dikontrol oleh pengaruh supply sedimen, juga batas-batas
antar bagian-bagian morfologi dasar laut juga ikut dikontrol oleh sedimentasi. Disamping itu
proses sedimentasi di laut juga akan mempengaruhi proses-proses di bagian lainnya, sebagai
contoh sedimen di daerah dekat pantai dan paparan merupakan kunci bagi sedimen di laut
dalam dan dipengaruhi oleh:
perubahan muka air laut
proses penurunan dasar laut
proses dinamika (oseanografi)
Pada sedimentasi dilaut tentunya juga terdapat material yang tersedimentasi, beberapa
sumber-sumber material yang mempengaruhi sedimentasi di laut diantaranya adalah :
Material yang berasal dari sungai, meliputi sekitar 85% 90%
Material hasil glasiasi, meliputi sekitar 7%
Material air tanah, meliputi sekitar 1,2%
dan material yang terangkut oleh angin sekitar 1%
Dimana sekitar 80 % dari produk yang dihasilkan sumber material tersebut merupakan
bentuk larutan.
Selain daripada aspek morfologi dan sedimentologi di laut, juga perlu ditinjau aspek
tektoniknya. Tektonik sangat berpengaruh bukan saja di laut, didaratpun sangat berpengaruh.
Implikasi dari proses tektonik baik didarat ataupun dilaut diantaranya adalah dapat merubah
tatanan yang sudah terbentuk, diantaranya akibat proses sedimentasi. Faktor utama penyebab
tektonik jika dipandang dari sudut pandang ilmu geologi tentu saja dapat dijelaskan dengan
baik oleh teori tektonik lempeng. Teori tektonik lempeng sangat familiar dikalangan
komunitas geologi, karena sampai saat ini semua peristiwa yang menyangkut segala proses
geologi yang berasal dari dalam bumi, terutama tektonisme sangat baik dijelaskan dalam teori
ini. Dapat dipastikan bahwa semua komunitas geologi mengerti dan paham akan teori ini,
oleh karena itu detailnya tidak akan dibahas dalam tulisan ini. Tetapi yang perlu dijadikan
perhatin khusus adalah implikasinya.
Beberapa penjelasan tentang geologi kelautan diatas, yang meliputi aspek morfologi,
sedimentologi, dan tektonik dilaut, kiranya dapat memberikan sedikit pengetahuan geologi
kelautan yang selanjutnya akan dimanfaatkan untuk menerapkan implikasinya untuk
Indonesia yang notabene merupakan negara yang memiliki laut, yang dimanfaatkan untuk
berbagai macam keperluan.
Diantaranya, implikasi aspek geologi kelautan yang saat ini banyak diperbincangkan adalah
mengenai penerapannya dalam batas wilayah. Dalam penentuan batas wilayah sendiri seperti
kita ketahui regulasi nya yang dikeluarkan oleh pemerintah. Penentuan batas wilayah ini
sangat penting artinya bagi Indonesia. Dan aspek geologi kelautan disini memegang peranan
penting dalam penentuannya. Hubungannya dengan geologi kelautan tentu saja, disamping
menyamngkut morfologi dasar laut yang dijadikan pertimbangan penentuan batas wilayah,
disamping itu dari sudut pandang geologinya, sangat memegang peranan penting, yang
menyangkut tentang sumberdaya alam.
Sumberdaya alam sangat penting artinya bagi semua negara, karena menyangkut
kelangsungan dan kemakmuran suatu negara, atau bisa dikatakan sangat vital. Sumberdaya
alam itu sendiri tentu saja dapat dikuasai oleh suatu negara asalkan dalam wilayah
kekuasaannya. Seorang ahli geologi disini sangat memegang peranan penting, karena
pendapatnya akan sangat diperhatikan.
Seperti kita ketahui bahwa penentuan batas wilayah sendiri sangat didorong oleh
keterdapatan sumberaya mineral, hal ini sangat membuat setiap negara ingin menguasai
kekayaan alam tersebut, caranya secara tidak langsung adalah melebarkan batas wilayahnya,
agar dapat diakui bahwa kekayaan alam tersebut adalah milik negara tersebut.
Mengingat begitu pentingnya tinjauan geologi kelautan dalam penentuan batas wilayah yang
selanjutnya berimplikasi terhadap penguasaan sumberdaya mineral. Maka, kita sebagai
seorang ahli geologi tentunya berusaha untuk mempelajari sebaik-baiknya, dan
menerapkannya untuk kemakmuran bangsa Indonesia.

Sejarah Puslitbang Geologi Kelautan
Sejarah Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) dimulai dengan
dibentuknya Seksi Geologi Marin dan Seksi Geofisika Marin pada Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi (P3G) tahun 1979. Pada tanggal 6 Maret 1984 kedua Seksi tersebut
kemudian ditingkatkan menjadi Pusat Pengembangan Geologi Kelautan (PPGL) di bawah
Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral berdasarkan SK Menteri
Pertambangan dan Energi No. 1092 Tahun 1984.
Pada awal berdirinya, PPGL didukung oleh empat bidang teknis, yaitu : Bidang Geologi
Kelautan, Bidang Geofisika Kelautan, Bidang Sarana Operasi Kelautan, Bidang Manajemen
Informasi dan Bagian Umum, dengan jumlah sumber daya manusia 164 orang. Sarana dan
prasarana yang dimiliki sebagian berasal dari P3G. Dalam perjalanannya, PPGL telah
membangun Kapal Peneliti Geomarin I dan memiliki berbagai peralatan survei pantai. Kapal
Peneliti Geomarin I diopeasikan untuk mendukung kegiatan pemetaan geologi kelautan
bersistem skala 1:250.000 di perariran dangkal. Peralatan survei pantai dioperasikan untuk
mendukung kajian geologi kelautan tematik di kawasan pesisir. Selanjutnya berdasarkan SK
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 150 Tahun 2001, PPGL dimekarkan menjadi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) di bawah Badan Litbang
Energi dan Sumber Daya Mineral.
Pada era tersebut PPPGL berkembang dengan semangat menuju kemandirian, sejalan dengan
lingkungan strategis globalisasi, AFTA, perkembangan industri kelautan yang pesat, Otonomi
Daerah dan kemitraan. Peraturan Menteri ESDM No. 0030 Tahun 2005 mengukuhkan
kembali PPPGL sebagai penunjang dalam upaya meningkatkan investasi sektor ESDM
terutama penyediaan data klaim atas wilayah landas kontinen, dan peningkatan status
cekungan migas di laut. Sesuai dengan tugas dan fungsinya, PPPGL mempunyai tugas
melaksanakan litbang bidang geologi kelautan di seluruh wilayah Laut Indonesia dalam
rangka menunjang pembangunan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral.
Untuk melaksanakan tugas tersebut prioritas pokok kegiatan adalah melakukan
pengembangan litbang di kawasan pantai dan laut, pengembangan kelembagaan menuju
kemandirian dan pengembangan pelayanan jasa riset dan teknologi.Penyelidikan dan
pemetaan geologi kelautan pada dekade terakhir ini makin ditingkatkan terutama pada
pencarian sumber daya mineral yang bernilai strategis dan ekonomis dalam menunjang
pembangunan nasional. Hal ini sehubungan dengan makin terbatasnya sumber daya mineral
dan energi di darat. Kegiatan tersebut merupakan perwujudan akan tanggung jawab
pemerintah dan negara dalam menggali potensi sumber daya mineral dan energi yang
terdapat di dasar laut, mulai kawasan pantai, perairan pantai hingga ke batas terluar Landas
Kontinen termasuk Zona Ekonomi Eksklusif.
Sejarah Eksplorasi Kelautan

Eksplorasi Geologi Kelautan di Indonesia
Perioda 1930 - 1980 :
Belanda (Ekspedisi Snellius, Ekspedisi Vening - Meinesz).
AS - LDEO (R/V Robert Conrad, R/V Vema, R/V Maurice Ewing).
AS - SIO (R/V Thomas Washington: Sio Rama, INDOPAC; R/V Atlantis).
Perioda 1980 - 2004:
Belanda - NIOZ (R/V Tyro: Ekspedisi Snellius II).
Perancis - Ifremer (R/V Coriolis: CORINDON, GEOINDON; R/V Jean
Charcot: Krakatau; R/V Baruna Jaya; R/V Marion Dufresne)
Jerman (R/V Sonne: Ginco I).
Jepang - Jamstec (R/V Natsushima-Shinkai).
Perioda 2005 - kini:
Multinasional (R/V Sonne: SeaCause I & II, SO-189; HMS Scott).