Anda di halaman 1dari 9

Bab 1

Induksi Matematika
1.1 Pendahuluan
Banyak formula atau pernyataan matematika yang berlaku untuk semua bilangan bulat positif
(atau bilangan asli), misalnya formula

n
k=1
k =
n(n+1)
2
berlaku untuk semua n bilangan bulat
positif. Lalu, bagaimana kita membuktikan formula ini memang berlaku untuk semua bilangan
bulat positif? Tentu saja kita tidak mungkin mensubstitusikan setiap bilangan bulat positif un-
tuk menunjukkan kebenarannya. Dalam kasus ini, prinsip induksi matematika dapat digunakan
untuk membuktikan kebenaran formula ini. Prinsip ini diawali dengan membuktikan formula
benar untuk suatu bilangan awal, misal bilangan 1. Selanjutnya dibuktikan bahwa jika formula
benar untuk bilangan bulat positif k, maka formula juga benar untuk bilangan k + 1. Pembuk-
tian ini telah menunjukkan bahwa formula benar untuk semua bilangan bulat positif. Mungkin
ada yang masih belum bisa sepenuhnya memahami bagaimana prinsip ini bisa mencakup seluruh
bilangan asli. Prinsip ini dapat dijelaskan berikut ini.
Ide dan cara kerja prinsip induksi matenmatika dapat diilustrasikan sebagai berikut. Bayangkan
kita ingin memanjat tangga yang secara teoritis tingginya tak hingga. Dapatkah kita memanjat
tangga ini sampai tuntas? Tentu kita maklum bahwa untuk memanjat tangga, kita harus men-
capai anak tangga pertama terlebih dahulu. Sekali kita mencapai anak tangga pertama, dengan
mudah kita akan mampu mencapai anak tangga kedua, ketiga, dan seterusnya sehingga secara
teoritis berapapun tinggi tangga, kita selalu dapat memanjatnya sampai tuntas. Jika anak-anak
1
Teori Bilangan 2
tangga ini diasosiasikan dengan bilangan bulat positif, ini menunjukkan bahwa jika kita berhasil
mencapai bilangan satu (yakni menunjukkan kebenaran formula untuk bilangan satu), maka
kita bisa mencapai semua bilangan bulat positif (yang berarti menunjukkan kebenaran formula
untuk semua bilangan bulat positif).
Ilustrasi ini secara formal dapat dirumuskan dalam teorema berikut yang merupakan dasar
bagi prinsip induksi matematika.
Teorema 1.0.1. Misalkan S himpunan bagian dari N yang memenuhi sifat berikut:
(1) 1 S.
(2) Jika k bilangan bulat positif sembarang dan k S, maka k + 1 S.
Maka S = N.
Bukti. Misalkan S = N. Misalkan S

menyatakan himpunan bilangan bulat positif dalam N


tapi tidak dalam S. Karena S

= , menurut prinsip terurut rapi, S

memuat elemen terkecil,


sebut m. Maka m > 1 berdasarkan sifat (1). Karena m adalah elemen terkecil dalam S

, berarti
m 1 / S

sehingga m 1 S. Akibatnya (m 1) + 1 = m S menurut sifat (2). Ini


memberikan kontradiksi sehingga teorema terbukti.
1.1 Induksi Matematika
Prinsip induksi matematika adalah teknik pembuktian penting yang digunakan untuk mem-
buktikan pernyataan matematika yang melibatkan bilangan asli. Beberapa contoh pernyataan
matematika yang dibuktikan dengan induksi matematika adalah
jika n bilangan bulat positif, maka
1 + 2 + 3 + +n =
n(n + 1)
2
.
untuk setiap bilangan bulat n 4, 2
n
< n!.
jika a
1
= 1, a
2
= 3, a
k
= a
k2
+ 2a
k1
, k 2, maka untuk setiap n 1, a
n
adalah ganjil.
2014 Universitas Pendidikan Ganesha
Teori Bilangan 3
Perlu dicatat bahwa induksi matematika hanya digunakan untuk membuktikan kebenaran
hasil yang telah diperoleh dengan cara lain, induksi matematika bukan alat untuk menemukan
formula atau teorema.
Ada dua jenis induksi, yaitu (1) induksi matematika (juga disebut induksi lemah atau induksi
saja) dan (2) induksi matematika kuat. Dua pernyataan pertama dalam contoh di atas dibuk-
tikan dengan induksi sedangkan pernyataan ketiga dibuktikan dengan induksi kuat. Perbedaan
kedua induksi ini terletak pada banyaknya informasi terkait nilai awal dan berapa banyaknya
elemen digunakan dalam langkah induktif.
Prinsip Induksi Matematika
Misal P(n) adalah pernyataan yang terdenisi untuk n N dan memenuhi kondisi berikut:
1. P(n) benar untuk suatu bilangan asli n = n
0
.
2. Jika P(k) benar untuk sembarang bilangan asli k n
0
, maka P(k + 1) juga benar.
Maka P(n) benar untuk semua bilangan asli n n
0
.
Bukti. Prinsip ini diturunkan dari sifat terurut rapi (well-ordering property) dari bilangan asli.
Sifat ini menyatakan bahwa setiap himpunan bagian tak kosong dari himpunan bilangan asli
mempunyai elemen terkecil. Misalkan P(1) benar dan proposisi P(k) P(k + 1) benar untuk
semua bilangan asli k 1. Misalkan S adalah himpunan semua bilangan asli n 1 sedemikian
sehingga P(n) benar dan T himpunan semua bilangan asli k > 1 sedemikian sehingga P(k)
salah.
Misalkan T himpunan tak kosong. Berdasarkan sifat terurut rapi, T mempunyai elemen
terkecil, sebut m. Kita tahu bahwa m tidak sama dengan 1, sebab P(1) benar. Karena m > 1,
berarti m1 S sehingga P(m1) benar. Karena m1 1, kita tahu bahwa P(m1) P(m).
Ini menunjukkan bahwa P(m) benar. Ini kontradiksi dengan asumsi bahwa m T. Kontradiksi
terjadi karena asumsi bahwa T tak kosong. Jadi, T = dan S = {n N|n 1}. Dengan
demikian, P(n) benar untuk setiap bilangan asli n.
Pembuktian dengan induksi terdiri atas dua langkah, yaitu
Basis induksi (base step): Menunjukkan bahwa P(n
0
) benar.
2014 Universitas Pendidikan Ganesha
Teori Bilangan 4
Langkah induksi (inductive step): Asumsikan P(k) benar untuk sembarang bilangan asli
k n
0
. Ini adalah hipotesis induktif (inductive hypothesis).
Lalu tunjukkan bahwa P(k + 1) juga benar.
Contoh 1.1.1. Tunjukkan bahwa untuk bilangan asli n 4, 2
n
< n!.
Solusi.
Basis Induksi. Untuk n = 4, diperoleh 2
4
= 16 < 24 = 4!. Jadi, pernyataan benar untuk
n = 4.
Langkah Induksi. Asumsikan pernyataan benar untuk n = k, jadi 2
k
< k! (hipotesis induksi).
Akan ditunjukkan bahwa 2
k+1
< (k + 1)! harus juga benar.
2
k+1
= 2 2
k
< 2 k! berdasarkan hipotesis induksi
< (k + 1) k! karena k 4
= (k + 1)!
Dengan demikian, berdasarkan induksi matematika, disimpulkan bahwa 2
n
< n! untuk n 4.
Contoh 1.1.2. Bilangan harmonik H
j
, j = 1, 2, 3, . . . didenisikan oleh
H
j
= 1 +
1
2
+
1
3
+
1
4
+ +
1
j
.
Tunjukkan bahwa untuk bilangan bulat nonnegatif n,
H
2
n 1 +
n
2
. (1.1.1)
Solusi.
Basis Induksi. Untuk n = 0, diperoleh H
2
0 = H
1
= 1 1 +
0
2
. Jadi, proposisi (1.1.1) benar
untuk n = 0.
Langkah Induksi. Asumsikan pernyataan (1.1.1) benar untuk n = k, jadi H
2
k 1 +
k
2
(hipotesis induksi). Akan ditunjukkan bahwa H
2
k+1 1 +
k+1
2
juga benar. Menggunakan
2014 Universitas Pendidikan Ganesha
Teori Bilangan 5
hipotesis induksi didapat
H
2
k+1 = 1 +
1
2
+
1
3
+ +
1
2
k
+
1
2
k
+ 1
+ +
1
2
k+1
= H
2
k +
1
2
k
+ 1
+ +
1
2
k+1

1 +
k
2

+
1
2
k
+ 1
+ +
1
2
k+1

1 +
k
2

+ 2
k

1
2
k+1

1 +
k
2

+
1
2
= 1 +
k + 1
2
Jadi, dengan induksi matematika proposisi (1.1.1) berlaku untuk semua bilangan bulat non-
negatif n.
Induksi Kuat
Berikut ini dipaparkan bentuk lain dari induksi matematika yang disebut induksi kuat (strong
induction). Basis induksi untuk induksi kuat sama dengan basis induksi untuk matematika in-
duksi. Perbedaan kedua jenis induksi ini terletak pada langkah induksi. Untuk induksi matem-
atika, langkah induksi menunjukkan bahwa jika hipotesis induksi P(k) benar, maka P(k + 1)
juga benar. Untuk induksi kuat, langkah induksi menunjukkan bahwa jika P(m) benar untuk
semua bilangan asli yang tidak melebihi k, maka P(k + 1) benar. Dengan kata, pada induksi
kuat, untuk langkah induksi diasumsikan bahwa P(m) benar untuk m = 1, 2, . . . , k.
Prinsip Induksi Kuat
Misal P(n) pernyataan yang terdenisi untuk n N dan memenuhi kondisi berikut.
1. P(n
0
) benar untuk suatu bilangan asli n
0
.
2. Jika k sembarang bilangan asli dengan k n
0
sedemikian sehingga P(n
0
), P(n
0
+1), . . . , P(k)
benar, maka P(k + 1) juga benar.
Maka P(n) benar untuk semua bilangan asli n n
0
.
Induksi matematika sering digunakan untuk membuktikan klaim terkait dengan barisan yang
didenisikan secara rekursif. Salah satu barisan demikian yang terkenal adalah barisan Fi-
2014 Universitas Pendidikan Ganesha
Teori Bilangan 6
bonacci: 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13,. . . . Barisan Fibonacci didenisikan secara rekursif sebagai berikut:
f
1
= 1, f
2
= 1, f
n+2
= f
n
+f
n+1
, n 1.
Formula yang mendenisikan suku umum f
n+2
disebut relasi rekurens. Dari relasi ini jelas
bahwa nilai f
n+2
ditentukan oleh nilai dari dua suku sebelumnya, yaitu f
n
dan f
n+1
. Dengan
formula ini, dapat dituliskan barisan Fibonacci:
f
1
= 1
f
2
= 1
f
3
= f
1
+f
2
= 1 + 1 = 2
f
4
= f
2
+f
3
= 1 + 2 = 3
f
5
= f
3
+f
4
= 2 + 3 = 5
f
6
= f
4
+f
5
= 3 + 5 = 8
Barisan lain yang mirip dengan barisan Fibonacci adalah barisan Lucas: 1,3,4,7,11,18,29,47,76,. . . .
Setiap suku, kecuali dua suku pertama, dari barisan ini merupakan jumlah dari dua suku se-
belumnya sehingga barisan dapat didensikan secara rekursif oleh
a
1
= 1, a
2
= 3, a
n
= a
n1
+a
n2
, n 3.
Klaim matematika yang terkait dengan barisan dapat dibuktikan dengan induksi kuat.
Contoh 1.1.3. Untuk barisan Lucas, tunjukkan bahwa
a
n
< (7/4)
n
(1.1.2)
untuk semua bilangan asli n.
Solusi. Untuk basis induksi, ambil n = 1 dan n = 2 sehingga
a
1
= 1 < (7/4)
1
= 7/4, a
2
= 3 < (7/4)
2
= 49/16.
Untuk langkah induksi, pilih bilangan asli k 3 dan asumsikan bahwa (1.1.2) valid untuk
n = 1, 2, . . . , k 1. Kita mempunyai
a
k1
< (7/4)
k1
, a
k2
< (7/4)
k2
.
2014 Universitas Pendidikan Ganesha
Teori Bilangan 7
Berdasarkan cara membentuk barisan Lucas, didapat
a
k
= a
k1
+a
k2
< (7/4)
k1
+ (7/4)
k2
= (7/4)
k2
(7/4 + 1)
= (7/4)
k2
(11/4)
< (7/4)
k2
(7/4)
2
= (7/4)
k
Karena pertaksamaan (1.1.2) benar untuk n = k bilamana pertaksamaan ini benar untuk
1, 2, . . . , k 1, kita simpulkan dengan induksi kuat bahwa a
n
< (7/4)
n
untuk semua n 1.
2014 Universitas Pendidikan Ganesha
Teori Bilangan 8
1.2 Problem
1. Bilangan Fibonacci didenisikan secara rekursif oleh aturan berikut:
F
0
= 1, F
1
= 1, F
n+1
= F
n
+F
n1
, n 1.
Buktikan bahwa untuk setiap bilangan bulat n 1,
F
n1
F
n+1
= F
2
n
+ (1)
n+1
.
2. Buktikan bahwa 3 + 3 5 + 3 5
2
+ + 3 5
n
= 3(5
n+1
1)/4 untuk bilangan bulat
nonnegatif.
3. Tentukan formula untuk jumlah berikut
1
1 2
+
1
2 3
+ +
1
n(n + 1)
,
lalu buktikan formula tersebut.
4. Buktikan bahwa 1 1! + 2 2! + +n n! = (n + 1)! 1 untuk n bilangan asli.
5. Untuk n bilangan asli lebih dari 1, tunjukkan bahwa n! < n
n
.
6. Untuk n bilangan asli lebih dari 1, tunjukkan bahwa
1 +
1
4
+
1
9
+ +
1
n
2
< 2
1
n
.
7. Buktikan bahwa
n

k=1
1

k
< 2

n.
8. Jika n bilangan bulat nonnegatif, maka tunjukkan bahwa 5 membagi n
5
n.
9. Tentukan bilangan bulat nonnegatif n yang memenuhi 2n + 3 2
n
. Buktikan jawaban
anda.
10. Apa yang salah dengan bukti dari teorema berikut?
Teorema. Untuk setiap bilangan asli n, berlaku

n
i=1
i = (n +
1
2
)
2
/2
Basis induksi: Rumus tersebut benar untuk n = 1.
2014 Universitas Pendidikan Ganesha
Teori Bilangan 9
Langkah induksi: Misalkan

n
i=1
i = (n +
1
2
)
2
/2. Maka

n+1
i=1
i = (

n
i=1
i) + (n + 1).
Berdasarkan hipotesis induksi,

n+1
i=1
i = (n +
1
2
)
2
/2 +(n +1) = (n
2
+n +
1
4
)/2 +n +1 =
(n
2
+ 3n +
9
4
)/2 = (n +
3
2
)
2
/2 = ((n + 1) +
1
2
)
2
/2. Jadi, rumus tersebut berlaku untuk
semua bilangan asli.
11. Apa yang salah dengan bukti dari teorema berikut? Teorema. Untuk setiap bilan-
gan asli n, jika x dan y bilangan asli dengan max(x, y) = n, maka x = y.
Basis induksi: Ambil n = 1. Jika max(x, y) = 1 serta x dan y bilangan asli, maka x = 1
dan y = 1.
Langkah induksi: Misal k bilangan asli. Asumsikan bahwa bila max(x, y) = k serta x dan
y bilangan asli, maka x = y. Misalkan max(x, y) = k + 1 dengan x dan y bilangan asli.
Maka max(x 1, y 1) = k sehingga berdasarkan hipotesis induksi, x 1 = y 1. Ini
memberikan x = y dan langkah induksi selesai.
12. Problem berikut terkait dengan bilangan harmonik H.
(a) Tunjukkan bahwa H
2
n 1 +n untuk n bilangan bulat nonnegatif.
(b) Buktikan bahwa H
1
+H
2
+ +H
n
= (n+1)H
n
n untuk n bilangan bulat nonnegatif.
13. Misalkan a
1
, a
2
, . . . , a
n
dan b
1
, b
2
, . . . , b
n
bilangan riil positif. Untuk setiap i, misalkan m
i
dan M
i
masing-masing menyatakan minimum dan maksimum dari dua bilangan a
i
dan b
i
.
Buktikan bahwa m
1
m
2
. . . m
n
+M
1
M
2
. . . M
n
a
1
a
2
. . . a
n
+b
1
b
2
. . . b
n
.
14. Dapatkan formula untuk
n

i=1

1
4
(2i 1)
2

.
Buktikan formula tersebut.
15. Buktikan formula Abel
n

k=1
a
k
b
k
= A
n
b
n

n1

k=1
A
k
(b
k+1
b
k
)
untuk n 2 dengan A
k
=
k

i=1
a
i
.
2014 Universitas Pendidikan Ganesha